Berupayalah Selalu Meng-Optimalkan Ibadah Ramadhan Setelah Ramadhan Meninggalkaan Kita Sambil Bersiap Menanti Ramadhan Yang akan Datang

            Alhamdulillah, dalam upaya mendorong umat Islam untuk meraih keampunan Allah pada bulan Ramadhan Mubarak, kita temui pesan Rasulullah SAW yang bermaksud “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan dasar iman dan ihtisab, niscaya diampunkan dosa-dosanya terdahulu.”

            Ada beberapa kaedah atau pendekatan yang dapat memandu kita ke arah pencapaian derajat kehatihatian dalam memelihara ibadah puasa di dalam Ramadhan ini atau untuk meraih maqam ihtisab itu.

Pertama, hendaklah selalu bergiat dengan amalan yang baik agar bulan Ramadhan Mubarak ini dapat memberikan peluang emas bagi kita dalam melakukan muhasabah  atau penilaian terhadap nilai amalan  ibadat kita selama ini. Dengan atau melalui ibadah di dalam bulan Ramadhan ini kita dapat menyimak dan membetulkan atau meluruskan perjalanan kehidupan kita semua. Hendaklah mengambil iktibar (pelajaran) bahwa peredaran waktu dan perputaran jarum jam akan mengingatkan kita semua bahwa usia ini semakin berkurang. Dalam hitungan umur bertambah, tetapi kenyataannya jatah masa hidup di dunia ini makin pendek. Oleh karena itu pergunakanlah masa beristighfar di dalam bulan Ramadhan Mubarak ini.

Kedua, hendaklah di bulan Ramadhan tekun menunaikan shalat fardhu dan shalat Tarawih dengan berjamaah, meramaikan masjid dimanapun kita berada. Rasulullah SAW telah bersabda bahwa ; Sesiapa saja  shalat (berjamaah) bersama imam (lalu ditunggunya) sehingga imam beredar (beringsut dari tempat duduknya), niscaya akan ditulis baginya ganjaran beribadat satu malam”. Biasakanlah lidah untuk berzikir secara terus menerus, dan janganlah tergolong ke dalam kategori orang-orang yang tidak mau berzikir atau hanya berdzikir sedikit saja. Bulan Ramadhan adalah bulan ibadat dan bulan beramal, bukan bulan untuk tidur dan bermalas-malasan. 

Ketiga, semasa kita merasakan “lapar” karena “menahan” dalam melaksanakan ibadah puasa, maka ingatlah selalu bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Kita tidak akan mendapatkan berbagai makanan dan minuman serta nikmat yang ada di tangan kita sekarang ini, apabila bukan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikannya. Bergiatlah agar kita tetap memberi makanan untuk orang yang berbuka puasa, karena keuntungannya amat besar dari sisi Allah Azza wa Jalla.

Maka bentuklah diri menjadi hamba Allah yang bersyukur. Keluarkan infaq dan zakat dengan teratur – Alhamdulillah masjid tempat kita berkumpul saat ini sudah mendekati tahap akhir sejak masa 5 tahun kita membangun dan memperbaikinya setelah musibah gempa 30 Sept 2009 yang lalu. Pekerjaan akhir kita adalah menyelesaikan pintu dan jendelanya – yang gambar dan rencana biayanya ada ditangan jamaah sekalian – Melalui waqaf dan infaq kita semua, kita bangun istana kita di sorga. Bagaimanapun rumah dan kekayaan kita di dunia ini, akan kita tinggalkan. Mungkin juga akan diperebutkan oleh orang sepeninggal kita setelah maut menjemput kita. Namun apapun yang sudah kita kirimkan ke akhirat lillahi Ta’ala akan kekal abadi adanya maa ‘indakum yanfadu wa maa ‘inda Allahi baaqin – maknanya apa yang ada pada kita ini semuanya akan punah, dan apa yang sudah ada di sisi Allah jualah yang kekal abadi –.

Keempat, jauhilah sifat “mubazir” dalam perbelanjaan, makan-minum, dan lain-lain di dalam bulan Ramadhan ini. Perbuatan mubazir adalah satu perbuatan yang amat dibenci oleh Allah karena mubazir itu perbuatan syaithan.

Perilaku mubazir  akan mengurangkan amalan sedekah. Padahal amalan sedekah akan mendapat ganjaran pahala yang besar dari sisi Allah Azza wa Jalla, serta akan membuka berpuluh puluh pintu kebaikan dan rezeki. Jangan berlebih-lebihan dalam hal menyediakan berbagai jenis makanan berbuka (dan sahur), hal ini akan membuat ahli keluarga sibuk, lantas mereka akan kehilangan peluang di siang (dan malam) hari memperbanyak tilawah Al-Quran, agar masa keemasan tersebut tidak hilang lenyap sedemikian rupa tanpa bekas dalam jiwa dan pembinaan karakter shaum Ramadhan ini. 

Pelunturan kadar ummat Islam lebih banyak disebabkan berjangkitnya wabah “kemelaratan” dan “kebodohan”, pada sebahagian besar ummat alternatif ini. Walaupun sebenarnya sinyal Al Quran menyebutkan bahwa posisi ummat itu berada pada papan atas, sesuai Firman Allah; “Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnasi, ta’muruuna bil ma’rufi wa tanhauna ‘anil munkari, wa tu’minuuna billahi”, artinya sebenarnya kamu adalah ummat terbaik yang di tampilkan di tengah kehidupan manusia, karena kamu senantiasa mengajak kepada yang ma’ruf dan menegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.

Kelima, pelihara shibghah (identitas) sebagai “ummat terbaik” yang tidak akan pernah wujud bila kadar ummat itu tersungkup oleh kemelaratan (baik secara fisik, materiil, dan keyakinan atau keimanan kepada Allah Yang Maha Esa). Kadar ummat itu pun akan luntur tersebab oleh kebodohan yang membelit seperti kebiasaan meniru apa yang ada pada orang lain tanpa memilih dan memilah bentuk yang akan ditiru itu (kerangka piki­ran, pandangan, dan polah tingkah), dalam fenomena kehid­upan aliran.

Keenam, bergiatlah membimbing orang-orang di bawah penjagaan kita ke arah yang bermanfaat buat mereka dalam hal agama. Mereka akan lebih mudah menerima bimbingan daripada orang yang menjaganya jika dibandingkan dengan bim,bingan dari orang lain. Bercita citalah dengan teguh hati untuk melanjutkan kebiasaan baik yang dapat dibuat di dalam bulan Ramadhan Mubarak ini. Berharaplah meneruskan kebiasaan baik itu sesudah bulan Ramadhan berangkat meninggalkan kita kelak. Sebaik baiknya hendaklah merebut peluang dan kesempatan untuk melakukan puasa-puasa sunat, dan jangan hanya merasa cukup karena telah berpuasa dengan puasa Ramadhan ini saja. Masih banyak kesempatan berpuasa sunat di luar Ramadhan.

Ketujuh, lakukanlah muhasabah (introspeksi) terhadap segala perihal dan urusan, terutama sekali mengenai : memelihara solat berjamaah, menunaikan zakat – ingat pembayaran zakat fitrah -, hubungkan silatur rahim, berbakti kepada kedua ibu-bapa, memberi perhatian terhadap jiran tetangga, memaafkan orang-orang yang ada hubungan perselisihan dengan kita, menghindarkan diri dari perbuatan mubadzir,  mendidik orang yang di bawah tanggungan jawab kita, mengambil perhatian yang sungguh sungguh terhadap kehidupan sesama muslim, tidak menggunakan jabatan dan kepercayaan umat untuk kepentingan diri sendiri, tumbuhkan kerinduan dan perasaan gembira terhadap nasihat dan tunjuk ajar ke arah kebaikan, jauhi sifat ria.

Tanamkan sikap menyintai saudara atau teman sejawat sepertimana sikap menyintai terhadap diri  sendiri, senantiasa berusaha untuk islah yakni menyelesaikan hubungan yang retak, menjauhi ghibah (gunjing), memperbanyak tilawah Al-Quran.

Ingatlah bahwa di belahan dunia lain, saudara kita se iman saat ini – rakyat Palestina di Ghaza, sedang dikepung oleh Israel, dan siap disembelih dengan kekuatan senjata dan bombardir secara biadab – dalam menghadapi suasana gawat ini, Syed Hasan Nashrallah (dari Hizbullah) memohon agar semua umat Islam di dunia berdoa kepada Allah agar kaum Muslimin Gaza diselamatkan, dan mari kita baca bersama QS.2, Al Baqarah ayat 26-27 serta QS.10, Yunus ayat 85,86,87 dan 88 bersama sama >> kiranya Ustadz Afdhal dapat memimpin kita semua memurattalnya hari ini << Insyaallah, kemudian merenungkan maknanya, dan khusyuk semasa mendengarkan Kalamullah.

Insyaallah dengan perpegangan tersebut kita akan dapat meraih puasa yang “ihtisab”, sehingga “ghufira lahuu maa taqaddama min dzanbihi”  yakni akan diampuni dari dosa dosanya terdahulu. Semoga kita mampu mengingati dan mengamalkannya.

Wassalam

Sukalah Untuk Menghindarkan Diri dari Neraka dengan Selalu Munajah Kepada Allah Azza wa Jalla

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ

“Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan?,

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ

Banyak muka pada hari itu tunduk terhina,

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ

bekerja keras lagi kepayahan,

تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً

memasuki api yang sangat panas (neraka),

   تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ ءَانِيَةٍ

diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas.

لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إلاَّ مِنْ ضَرِيعٍ

Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri,

لاَ يُسْمِنُ وَلاَ يُغْنِي مِنْ جُوعٍ

yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (Q.S Al Ghasyiyah: 1-7)

 

Salah satu tabi’at Ibad ur-Rahman adalah melalui waktu malam mereka dengan sujud dan berdiri menghadap Rabb mereka. Ini merupakan sifat ketiga Ibad ur-Rahman dalam keadaan mereka bersama Allah.

Di kala orang lain lalai dan tertidur pulas, di saat itu mereka bangun dan mendirikan shalatullail, bermujahadah dan bermunajah menghadap Allah.

Hamba-hamba yang disifati Ibad ur-Rahman ini, melakukan semuanya karena ada rasa takut (Khauf) dan harap (Raja’) di dalam diri mereka, terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla.

Mereka memiliki rasa takut yang besar kepada Allah, kepada azab-Nya, seakan-akan mereka menyaksikan neraka terpampang nyata di hadapan mereka.

Mereka memiliki rasa harap akan maghfirah Allah, ampunan dan ridha-Nya, hidayah dan rahmat-Nya serta harapan akan dijauhkan dari jilatan api neraka yang sangat dahsyat.

Mereka menyadari bahwa mereka hidup di dunia nyata ini, dilingkungi berbagai ragam kewajiban dan tuntutan kehidupan. Meskipun demikian, mereka tidak bisa menolak bahwa suatu hari kematian pasti datang menjemput.

Setelah kematian pasti ada kebangkitan. Setelah kebangkitan ada pengumpulan. Setelah itu ada hisab/perhitungan, mizan /timbangan, ada penyerahan kitab. Tak seorang pun mengetahui dengan tangan apa ia akan menerimanya, tangan kanan (ash-habul yamin) atau dengan tangan kiri (ash-habul syimal)? Tidak ada yang mengetahui ke sisi mana timbangan amalnya, ke sisi kebaikan atau keburukan?.

Lebih menggetarkan lagi, kemana ia akan di antar, apakah ke dalam syurga atau di lempar ke dalam neraka?

Maka tidak heran, jika para Ibad ur-Rahman merasa seakan-akan jahannam terpampang dengan nyata di hadapan mereka, seolah-olah neraka itu hendak meluluh lantakkan diri mereka dan lidah-lidah apinya seakan hendak menjilati kulit mereka dan menembus ubun-ubun mereka. Karena itu mereka selalu berdoa.

Setiap orang akan melewati shirah (jembatan) yang di bawahnya api neraka yang menganga. Tiada yang tahu apakah dia selamat melintasi/menyeberangi jembatan yang ada di atas neraka itu ataukah akan jatuh ke dalamnya? Apakah ia dapat melewatinya secara cepat ataukah dengan tertatih-tatih dan akhirnya jatuh ke dalamnya? Allah SWT berfirman:

وَإِنْ مِنْكُمْ إلاَّ وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

“Dan tidak ada seorang pun dari kamu sekalian melainkan melewati neraka itu. Hal itu bagi Rabb-mu adalah suatu kepastian yang sudah di tetapkan.

ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (Q.S. Maryam: 71-72)

Setiap individu muslim dan keluarga muslim wajib menanam keimanan dalam diri dan keluarganya serta menjaganya dari jilatan api neraka. Diriwayatkan bahwa Nabi Daud pernah berkata: “Ya Ilahi, aku tak pernah sabar (tahan) akan panasnya terik matahari. Lantas, bagaimana mungkin aku bisa sabar akan panasnya api neraka-Mu?”

Nabi Isa a.s pernah berkata: “Beberapa banyak badan yang bagus, lisan yang fasih, wajah yang berseri, kelak berada di atas api neraka sambil berteriak-teriak kesakitan.”

Syeikh Yusuf Al Qardhawy mengatakan: “Kematian merupakan pintu. Dan setiap orang akan memasukinya. Tempat tinggal macam apakah yang ada di balik pintu itu? Tempat tinggal engkau adalah sorga, selagi engkau mengerjakan hal-hal yang diridhai Allah. Jika tidak, maka nerakalah tempat tinggal engkau. Keduanya merupakan tempat tinggal yang berbeda. Maka pilihlah tempat tinggal engkau mulai dari kini.”

Allah dan Rasul-Nya telah mengingatkan dan menggambarkan keadaan neraka sedemikian rupa. Sangat jelas, sehingga tanda-tandanya seakan tampak di depan mata. Peringatan ini, agar kelak kita tidak lagi berhujjah di hadapan Allah.

Kita manusia, seharusnya berada di antara takut dan harap. Tidak boleh terlalu dikuasai harapan sehingga mereka merasa aman dari tipu daya Allah. Dan, tidak pula boleh terlalu dikuasai rasa takut, sehingga putus asa terhadap rahmat Allah.

Manakala seseorang merasa dosa terlalu banyak, kedurhakaan nya menumpuk, kitab amal dipenuhi dengan kesalahan-kesalahan, maka dia harus lebih banyak merasa takut dari berharap, selalu mengingat dosa-dosanya dan tidak lalai dengan amalannya.

Menghisab (menghitung) dirinya sebelum dihisab, menimbang amalnya sebelum ditimbang, bertanya kepada dirinya sebelum ditanya. Dia harus mengingat neraka dan bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Apa yang telah engkau lakukan? Apa yang telah engkau abaikan? Apa yang telah engkau langgar?” Siapa tahu yang demikian ini dapat meluruskan, membuat diri menyadari apa yang telah luput darinya, lalu memperbaiki yang telah terabaikan sehingga hari ini lebih baik dari kemaren, dan besok lebih baik dari pada hari ini. Begitu semestinya sikap dan keadaan setiap diri orang-orang mukmin itu.

Allahu A’lam bi Ash Shawab

Melaksanakan Shalat Malam adalah Sikap Terpuji Ibad ur-Rahman

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Dan pada sebagian maLam hari, (shaLat) tahajjudLah sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhamu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (Q.S. AL Israa: 79)

Sifat Ibadurrahman yang ketiga: ShaLat MaLam

Pada maLam hari Ibad ur-Rahman berada daLam keadaan antara sujud dan berdiri, yang berarti mereka sedang mendirian shaLat (QiyamuLLaiL). ALLah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang meLaLui maLam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Q.S. AL Furqan: 64)

Mereka diberi sifat sujud, karena mereka meLetakkan kening di atas tanah, menghadap ALLah. Dan mereka juga berdiri, membaca KaLamuLLah. Mereka meLakukan itu bukan mencari kehormatan di mata manusia, bukan untuk mencari ketenaran dan pujian, tapi mereka meLakukannya karena mengharap ridha ALLah dan rahmat-Nya serta karena takut akan azab-Nya.

Di daLam riwayat banyak sekaLi yang menceritakan tentang keadaan RasuLuLLah SAW daLam meLewati waktu maLamnya. SaLah satunya diriwayatkan bahwa suatu hari Ubaid bin Umair dan Atha’ bin Abu Rabbah mendatangi rumah Sayyidah Aisyah r.a LaLu mereka bertanya, BeritahukanLah kepada kami sesutau yang paLing menakjubkan yang engkau Lihat pada diri RasuLuLLah SAW!” SeteLah diam beberapa saat, Aisyah menjawab, “Suatu maLam beLiau berkata kepadaku, ‘Hai Aisyah, biarkan aku maLam ini beribadah kepada Rabbku.” Aku berkata, “Demi ALLah, aku suka seLaLu dekat dengan engkau, namun aku juga suka apa yang membuat engkau senang.”

Maka beLiau bangkit, bersuci, LaLu berdiri untuk mengerjakan shaLat. BeLiau terus menerus menangis, LaLu beLiau duduk dan masih tetap menangis hingga janggut beLiau basah oLeh air mata. LaLu beLiau berdiri dan terus menangis hingga tanah di dekat beLiau basah. Kemudian BiLaL datang mengumandangkan Azan Subuh. Ketika meLihat beLiau menangis, BiLaL menghampiri beLiau seraya berkata, Wahai RasuLuLLah, engkau menangis, padahaL ALLah teLah mengampuni dosa-dosamu yang teLah Lampau dan dosa-dosamu yang akan datang.” BeLiau menjawab, “Tidak boLehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?”

BegituLah waktu maLam yang diLaLui oLeh RasuLuLLah SAW, dan begitu juga yang diLakukan oLeh para sahabat beLiau. AL Hasan bin ShaLeh – saLah saLah seorang fuqaha saLaf – pernah menjuaL seorang budak perempuan kepada sekumpuLan orang. Ketika memasuki sepertiga terakhir dari waktu maLam, wanita budak bangun dan menyeru mereka, “shaLat, shaLat!” Mereka bertanya-tanya, “Apakah sudah subuh? Apakah fajar sudah terbit?” Wanita budak itu baLik bertanya, “Apakah kaLian tidak shaLat kecuaLi subuh saja?” Mereka menjawab, “Memang, kami hanya biasa mengerjakan shaLat fardhu.” Maka budak itu menemui AL Hasan dan memohon kepadanya dengan berkata, “Tuan menjuaL aku kepada sekumpuLan orang yang tidak mendapatkan bagian apapun dari waktu maLam. Demi ALLah aku memohon agar tuan mengambiL aku kembaLi.”

Barangsiapa yang tidak bisa meLakukan semua itu (ShaLat maLam), maka hendakLah ia mendirikan shaLat fardhu tepat pada waktunya dan tidak menguLur-uLur shaLat subuh sehingga matahari hampir terbut dan Lebih suka tidur.

Syaikh Yusuf AL Qardhawy mengatakan, “PoLa hidup manusia sudah banyak yang rusak. DuLu mereka suka tidur Lebih cepat dan bengun Lebih cepat puLa. Ketika berbagai macam perangkat dan fasiLitas modern, media massa, TV, fiLm, Video ada dimana-mana, maka mereka beLum tidur hingga tengah maLam, dan mereka pun kesuLitan bangun Lebih dini.”

“Disebutkan dari Nabi SAW, bahwa ada seseorang yang tidur sepanjang maLam hingga pagi hari. Maka beLiau bersabda, “ItuLah orang yang dikencingi syeithan di bagian teLinganya.” (H.R. Bukhari & MusLim)

RasuLuLLah SAW bersabda: « Syeithan membuat tiga simpuL taLi dibagian beLakang kepaLa saLah seorang di antara kaLian, yang pada setiap simpuL taLi ia bubuhkan stempeL, ‘MaLam masih panjang, maka tidurLah Lagi’, Jika ia bangun dan menyebut nama ALLah, maka simpuL itupun terburai. Jika ia wudhu’, maka satu simpuL Lagi terburai, dan jika ia mendirikan shaLat, maka seLuruh simpuL terburai, sehingga dia menjadi bersemangat dan tentram jiwanya. Jika tidak, maka tertekanLah jiwanya dan (timbuLLah) maLas.» (H.R. Bukhari)

SimpuL taLi syeithan itu senantiasa ada di kepaLa setiap orang. Karena itu RasuLuLLah SAW bersabda; “LepaskanLah simpuL taLi syeithan itu meskipun dengan dua rakaat.” (H.R. Ibnu Khuzaimah)

Syaikh DR. Yusuf AL Qardhawy mengatakan, “ShaLat maLam dapat dikerjakan seusai shaLat Isya hingga waktu fajar. Kita bisa memiLih bagian dari bentangan waktu itu. ShaLatLah menurut kesanggupan, bisa dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, deLapan rakaat, hingga dua beLas rakaat, dan akhiriLah dengan shaLat witir, karena sesungguhnya akhir shaLat maLam itu dipersaksikan. Tuntunan yang paLing sederhana dari setiap musLim iaLah meLaksanakan shaLat fardhu. Tapi ALLah mensifati Ibad ur-Rahman, bahwa mereka adaLah orang-orang yang sujud dan berdiri meLaksanakan shaLat di waktu maLam (QiyamuLLaiL), dan tidak mensifati mereka sebagai orang-orang yang hanya memeLihara dan mendirikan shaLat fardhu. Memang memeLihara shaLat fardhu merupakan satu tingkatan, tapi itu bukan tingkatan Ibadurrahman. Artinya, Ibadurrahman memiLiki tingkatan yang Lebih tinggi Lagi.”

AbduLLah bin SaLLam berkata, “Ketika pertama kaLi RasuLuLLah SAW menginjakkan kaki di Madinah, maka orang-orang berkerumun mengeLiLingi beLiau, dan aku termasuk mereka yang ikut berkerumun. SeteLah aku amati kuperhatikan wajah beLiau, maka aku tahu bahwa wajah itu bukanLah wajah pendusta. Perkataan yang pertama kaLi aku dengar dari beLiau adaLah : “Wahai manusia, sebarkanLah saLam, berikanLah makanan, jaLinLah hubungan persaudaraan dan shaLatLah pada maLam seteLah manusia tidur, niscaya kaLian akan masuk sorga dengan sejahtera.” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)

ALLahi A’Lam bi as Shawab.

Murah Hati dan Pandai Bergaul Sesama Manusia

Sifat Ibad ur-Rahman yang kedua adaLah sifat Murah Hati ketika bergauL sesama manusia. Tidak pernah menganggap rendah orang jahiL dan bodoh. Sifat itu disebutkan ALLah SWT daLam firmanNya,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا

“… dan apabiLa orang-orang jahiL menyapa mereka, maka mereka mengucapkan kata-kata yang baik (yang mengandung keseLamatan),” (Q.S. AL Furqan: 63)

Mengucapkan kata-kata yang baik artinya membebaskan diri dari kata-kata yang mengandung dosa Kata-kata yang baik tidak mengandung ceLaan, fitnah dan rasa dendam. Seseorang yang mempunyai murah hati, tidak mudah membaLas keburukan dengan keburukan yang sama, meskipun itu sanggup dia Lakukan WaLaupun dia sebenarnya mempunyai hak untuk membaLasnya. ALLah SWT memuji sikap itu di daLam firman Nya,

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

“Dan apabiLa mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaLing dari padanya dan mereka berkata, “Bagi kami amaL-amaL kami dan bagimu amaL-amaL kamu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergauL dengan orang-orang yang jahiL.” (Q.S AL-Qashash: 55)

Ketika orang-orang jahiL menyapa, maka Ibad ur-Rahman mengucapkan perkataan yang baik Ibad ur-Rahman tidak meLumuri Lidahnya dengan kata-kata yang sia-sia Mereka tidak meLadeni dengan kata-kata carut marut dan seLaLu menghindar darinya.

Ibad ur-Rahman tidak mau waktu mereka terbuang untuk meLayani sesuatu yang tidak bermanfaat. Ibadarurrahman senantiasa menjaga Lidah, waktu dan umur Mereka meLindungi catatan kebaikan yang sudah ada dan menambah seLaLu dengan kebaikan-kebaikan yang Lain.

Hamba ALLah yang terpuji seLaLu menghindari keburukan di mana jua mereka berada. Memang tidakLah sama yang buruk dengan yang baik. Begitu ALLah SWT menyebut di daLam firman Nya.

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidakLah sama kebaikan dan kejahatan. ToLakLah (kejahatan itu) dengan cara yang Lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seoLah-oLah teLah menjadi teman yang sangat setia.” (Q.S. FushiLat: 34)

Nabi Isa aLahis-saLam pernah berjaLan meLewati sekumpuLan orang-orang Yahudi yang meLontarkan kata-kata tidak senonoh kepada beLiau. BeLiau berupaya menanggapi perkataan mereka dengan kebaikan. Ketika itu, ada beberapa bertanya kepada beLiau, “Orang-orang itu teLah meLontarkan kata-kata tidak senonoh kepadamu, namun engkau justru mengatakan yang baik kepada mereka.” BeLiau menjawab, “SegaLa sesuatu keLuar dari apa yang ada di daLamnya.” KaLimat hikmah ini memiLiki arti yang cukup daLam. Bahwa kaLimat yang diucapkan seseorang memberi gambaran tentang kuaLitas diri orang yang berkata itu.

Anas bin MaLik radhiaLLahu-anhu pernah berkata; “Jika ada yang mengucapkan kata-kata kasar kepadamu, misaLnya dengan ungkapan, “Wahai orang zaLim, fasik, pendusta, pembohong”, atau kata-kata Lain yang tidak senonoh, maka hadapiLah ia dengan berkata, “KaLau memang engkau berkata bahwa aku ini seperti yang engkau katakan, semoga ALLah mengampuni kesaLahanku. Jika engkau dusta atau mengada-ada atau memfitnah dengan kata-katamu itu, semoga ALLah mengampuni kedustaanmu.” Sebuah ungkapan bijak, bagaimana perkataan dapat meredam terjadinya pertengkaran. Di saat sekarang ini, rasanya sudah semakin Langka didapai orang yang mampu berkata Lemah Lembut, dengan kaya perbendaharaan kaLbu dan murah hati.

ALLah SWT berfirman:

Ÿdan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Q.S. FushiLat: 34).

Di daLam ayat ini ALLah memerintahkan kita untuk tetap berLaku baik bahkan yang Lebih baik kepada orang yang berbuat jahat kepada kita, agar dia berbaLik menjadi teman yang setia. Karena manusia itu menjadi tawanan kebaikan. Jika kita berbuat baik kepada seseorang, maka kebaikan itu akan mengikat dirinya dengan diri kita, sebagaimana yang dikatakan seorang penyair:

“Tundukkan hati manusia dengan berbuat baik kepadanya.

Karena hanya kebaikan yang dapat menundukkan hati manusia”.

DaLam pembahasan sebeLumnya banyak disebut tentang orang-orang yang jahiL dan bagaimana menykapinya daLam pergauLan.

Siapakah mereka yang disebut dengan orang-orang yang jahiL? …

Menurut Syaikh Yusuf AL-Qardhawy, jahiL menurut AL Qur’an adaLah setiap orang yang durhaka kepada ALLah Azza wa JaLLa.

JahiL adaLah setiap orang yang memberi kekuasaan kepada hawa nafsu untuk mengaLahkan kebenaran.

JahiL adaLah setiap orang yang memberi kekuasaan kepada syahwat untuk mengaLahkan akaL sehat.

JahiL adaLah orang yang mengoLok-oLok masaLah yang serius dan mengejek kebenaran. Begitupun setiap orang yang akhLaknya buruk.

AL Qur’an menceritakan ketika para wanita tertarik dan terpesona saat menatap wajah tampan Nabi Yusuf a.s, maka Nabi Yusuf a.s berkata,

“ Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku Termasuk orang-orang yang bodoh.” (Q.S. Yusuf: 33)

AL Qur’an juga menceritakan ketika Nabi Musa a.s memerintahkan kaumnya agar menyembeLih sapi betina, maka mereka berkata,

dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?” [Hikmah Allah menyuruh menyembelih sapi ialah supaya hilang rasa penghormatan mereka terhadap sapi yang pernah mereka sembah.] Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”. (Q.S. AL Baqarah: 67)

Sebagai penutup dari pembahasan kedua sifat Ibad ur-Rahman mariLah kita simak hadits RasuLuLLah SAW berikut ini: “Bersabda Nabi SAW kepada ‘Uqbah bin ‘Amir r.a, “Wahai ‘Uqbah, maukah engkau aku beritahukan budi pekerti ahLi dunia dan akhirat yang paLing utama? Yaitu: MeLakukan siLaturrahmi (menghubungkan kekeLuargaan) dengan orang yang teLah memutuskannya, memberi kepada orang yang tidak pernah memberimu, dan memaafkan orang yang pernah menganiayamu.” (H.R. Hakim)

ALLahu A’Lam bi as Shawab.

Jadilah Hamba Allah Yang Disebut Ibad ur-Rahman

ALLah Subhanahu wa Ta’aLa berfirman ;

“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang (Ibad ur-Rahman) itu (iaLah) orang-orang yang berjaLan di atas bumi dengan rendah hati dan apabiLa orang-orang jahiL menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (mengandung) keseLamatan.

Dan orang yang meLaLui maLam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkanLah azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adaLah kebinasaan yang kekaL. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.

Dan orang-orang yang apabiLa membeLanjakan (harta), mereka tidak berLebih-Lebihan, dan tidak (puLa) kikir, dan adaLah (pembeLanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang Lain beserta ALLah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan ALLah (membunuhnya) kecuaLi dengan (aLasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang meLakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembaLasan) dosa (nya), (yakni) akan diLipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekaL daLam azab itu, daLam keadaan terhina. KecuaLi orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amaL shaLeh, maka kejahatan mereka diganti ALLah dengan kebajikan. Dan adaLah ALLah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amaL shaLeh, maka sesungguhnya ia bertaubat kepada ALLah dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian paLsu, dan apabiLa mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka LaLui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.

Dan orang-orang yang apabiLa diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidakLah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuLi dan buta.

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami …AnugerahkanLah kepada kami istri-istri dan keturunan kami, penyenang hati (kami), dan jadikanLah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.

Mereka ituLah (ibadur-Rahman) orang yang dibaLasi dengan martabat yang tinggi (daLam sorga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan-ucapan seLamat di daLamnya.”

(Q.S. AL Furqan: 63-75)

Ibad ur-Rahman adaLah hamba-hamba yang dinisbatkan kepada ALLah semata (Ar Rahman) yang mengandung pengertian, bahwa mereka adaLah hamba-hamba yang Layak mendapatkan rahmat ALLah dan mereka seLaLu berada daLam Lingkup rahmat-Nya. Mereka adaLah orang-orang yang menyadari kekuasaan ALLah dan memenuhi hak-hak-Nya, yang memurnikan agama karena ALLah dan ALLah memurnikan agama-Nya bagi mereka.

Dinisbatkannya mereka kepada ALLah Yang Maha Rahman – sebagaimana yang dinyatakan Langsung oLeh ALLah – oLeh karena disana juga ada goLongan-goLongan hamba yang Lain, seperti hamba syeitan, hamba taghut, hamba syahwat, hamba uang, hamba khamar, hamba narkoba, hamba birahi, hamba harta, hamba tahta, hamba wanita.

Ibad ur-Rahman mempunyai sifat dan tanda-tanda sebagaimana yang disebutkan ALLah di daLam ayat-ayat di atas. Sifat-sifat tersebut adaLah:

  1. Tawadhu’ dan rendah hati
  2. Murah hati
  3. Mendirikan shaLat maLam (QiyamuLLaiL)
  4. Takut neraka
  5. Sederhana daLam membeLanjakan harta
  6. Tauhid
  7. Menjauhi tindak pembunuhan dan menghormati kehidupan
  8. Menjauhi zina
  9. Taubat Nasuha
  10. Tidak bersumpah paLsu dan meninggaLkan pekerjaan yang tidak bermanfaat
  11. MenyeLami ayat-ayat ALLah
  12. Memohon kebaikan bagi istri dan keLuarganya

Sifat Ibad ur-Rahman yang pertama: Tawadhu’

Sifat Ibad ur-Rahman yang pertama diungkapkan oLeh AL Qur’an bahwa mereka berjaLan di muka bumi daLam keadaan rendah hati dan penuh tawadhu’. Ibad ur-Rahman berjaLan di muka bumi daLam keadaan rendah hati, tawadhu’ dan Lemah Lembut, berjaLan dengan penuh kewibawaan dan kehormatan, tidak dengan sikap sombong dan semaunya sendiri, tidak merasa Lebih tinggi dari siapapun, tidak menyeramkan dan tidak congkak.

Syaikh Yusuf AL Qardhawy mengatakan maksud berjaLan dengan rendah hati bukan berarti berjaLan dengan cara membungkuk-bungkuk seperti orang sakit, sebab RasuLuLLah SAW tidak berbuat seperti itu, begitu puLa para sahabat. Sebagaimana yang diriwayatkan ALi bin Abi ThaLib r.a, dari Nabi SAW, bahwa saat berjaLan badan beLiau bergerak-gerak seperti sedang meniti jaLan menurun. Ini merupakan jaLannya orang-orang yang penuh semangatdan pemberani, seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim di daLam ZaduL Ma’ad .

Abu Hurairah juga pernah berkata, “Aku tidak meLihat sesuatu pun yang Lebih bagus dari pada RasuLuLLah SAW. SeoLah-oLeh matahari berjaLan di muka beLiau. Aku juga tidak meLihat seseorang yang Lebih jaLannya daripada beLiau, seakan-akan bumi menjadi turun di hadapan beLiau. Kami sudah berusaha menyeimbangi beLiau, tapi beLiau seperti tidak peduLi.” RasuLuLLah tidak berjaLan seperti orang sakit atau Lamban. Tapi maksud cepat disini bukan berarti cara berjaLan yang menghiLangkan kewibawaan, yang berjaLan terLaLu cepat. Artinya sedang-sedang saja, tidak terLaLu cepat tidak terLaLu Lambat, sesuai dengan perawakan, umur dan kemampuan.

RasuLuLLah SAW juga para sahabat beLiau teLah menyontohkan kepada kita sikap tawadhu’ yang pada dasrnya adaLah saLah satu Landasan sikap dan akhLak mereka. Kemudian mariLah kita simak kata-kata hikmah berikut ini yang terdapat daLam kitab Muzakarah fi manaziLi as Shiddiqin wa ar Rabbaniyyin; min khiLaLi an Nushus wa Hikam Ibnu ‘AthaiLLah Sakandary karya Syaikh Sa’id Hawwa: “Barangsiapa yang beranggapan bahwa dirinya tawadhu’ pada hakikatnya dia orang-orang yang sombong, sebab anggapan tawadhu’ seperti ini tidak timbuL kecuaLi Lantaran rasa tinggi diri/tinggi hati. Karena itu, jika engkau beranggapan bahwa diri mu teLah tawadhu’ sebenarnya engkau adaLah orang yang takabur (sombong).”  ALLahu A’Lam Bi As Shawab

Zikrullah Menata Hubungan dengan Allah

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut) Nama Allah, zikir dengan sebanyak-banyakya.” (Q.S.33, Al Ahzab: 41).

Salah satu cara agar selalu terjaga komunikasi dengan Allah adalah dengan berzikir (Zikrullah).

Zikir secara harfiah berarti ingat dan sebut. Ingat adalah gerak hati, sedangkan  sebut adalah gerak lisan. Zikrullah berarti mengingat Allah, baik itu dengan zikrul lafzhy berzikir dengan lidah dan zikrul ma’nawy berzikir dalam hati dengan makna menyadari nikmat Allah dan mengiringi dengan perbuatan amaliyah yang disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua bentuk zikir ini tidak dapat dipisahkan, ia saling berkaitan satu dengan lainnya. Idealnya zikir itu berangkat dari kekuatan hati ditangkap oleh akal,dan diucapkan dengan lisan, lalu dibuktikan dengan ketaqwaan dalam  amal nyata di dunia ini.

Zikir adalah perintah Allah kepada orang-orang yang beriman untuk senantiasa  berzikir mengingati nikmat Allah SWT. ” dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.”

Maka berzikir berarti menelusuri ketaatan  kepada melaksanakan perintah Allah. Prakteknya, zikir bisa dilakukan dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring. Allah SWT berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah (fazkurullaha) di waktu berdiri, di waktu duduk, dan diwaktu berbaring …” (Q.S. An Nisa’ : 103). Tempat zikir berada di dalam hati, bukan diujung lidah semata, ketika qalbu menjadi khusyu’ (menyerah), khudhu’ (tunduk), tadharru’ (merendahkan diri dgn rasa takut), tawadhu’ (patuh selalu berjalan dijalan lurus), dan yang melahirkan rasa khauf dan raja’ (harap) yang dilakukan di setiap kesempatan, pagi dan petang, siang dan malam. Allah SWT berfirman :

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلآصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (Nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengerasakan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-A’raf: 205). Zikir adalah pangkal ketentraman, ketenangan dan kedamaian. Allah adalah sumber ketenangan dan kedamaian. Allah SWT berfirman:

.. فاذْكُُُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

“… Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…” (Q.S. Al Baqarah: 152). Zikir itulah jalan pembersamaan dengan Allah (ma’rifatullah).

 « Dialah – Allah – yang memberi rahmat kepadamu dan Malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. » (QS.33, al-Ahzab : 43).

“Ketahuilah bahwa orang-orang yang memandang dengan cahaya bashirah mengetahui bahwa tidak ada keselamatan kecuali dalam pertemuan dengan Allah SWT. Tidak ada jalan untuk bertemu Allah kecuali kematian hamba dalam keadaan menyintai Allah dan mengenal Allah (hubbullah dan ma’rifatullah). Hatinya akan selalu tenteram dan terbimbing hidayah Allah Azza wa Jalla.

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram.” (Q.S. Ar Ra’d: 28)

Meninggalkan zikrullah akan membuka kesempatan kepada syetan menguasai diri kita. Allah SWT berfirman:

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلاَ إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Syetan telah menguasai mereka dan menjadikan mereka lupa mengingat Allah (zikrullah); mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi.”  (Q.S. Mujadilah: 19)

Mengenal Allah dengan mensyukuri nikmat Nya. Memohon ampun atas kelalaian yang telah dilakukan.

Zikrullah adalah menjaga iman dengan menjauhi yang dilarang serta mengerjakan suruhan dengan segala senanghati. « Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya Ialah: Salam (Artinya: sejahtera dari segala bencana); dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka. » (QS.33 : 44)

Sesungguhnya cinta dan keakraban tidak akan tercapai kecuali dengan selalu mengingat yang dicintai.

Rasulullah diutus menjelaskan bagaimana semestnya memelihara kecintaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. « Hai Nabi, Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk Jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan …, dan untuk Jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk Jadi cahaya yang menerangi … Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa Sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. » (QS.33 :45-47)

Gambar

Seorang hamba yang berzikrullah (mengingati Allah) meraih tiga kejayaan besar.

Pertama, akan terpilih diberi taufik untuk mengingati-Nya. Jika bukan kerana kurnia Allah pasti lidah anda tidak layak mengingati dan menyebut nama Allah.

Kedua, akan diingat oleh Allah, yakni menjadi hamba yang dekat kepada-Nya.

Dan ketiga menjadi buah mulut dalam kalangan malaikat yang berada di sisi Allah sambil memohonkan ampunan.

Firman Allah ; « (malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, »

«  Ya Tuhan Kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, »

«  dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu Maka Sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan Itulah kemenangan yang besar. » (QS.40, Al Mukmin, ayat 7-9)

Sesungguhnya Hubbullah dan ma’rifatullah hanya dapat dicapai dengan mengoptimalkan waktu-waktu malam dan siang untuk bertafakkur dan berzikir. Dengan itu kita raih nikmat Allah untuk menjadi hamba yang beruntung.

وَالْعَصْرِ -إِنَّ الاِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ -إِلا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-’Ashr:1-3)

Ÿ« dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pelindung. » (QS.33 al-Ahzab : 48)

 

اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا آخِرَتِنَا الَّتيِ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَ اجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فيِ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ سَرٍ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلعَفْوَ وَ العَافِيَةَ فيِ دِيْنِنَا وَ دُنْيَاناَ وَ أَهْلِيْنَا وَ أَمْوَالِنَا، رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ