Zikrullah Menata Hubungan dengan Allah

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut) Nama Allah, zikir dengan sebanyak-banyakya.” (Q.S.33, Al Ahzab: 41).

Salah satu cara agar selalu terjaga komunikasi dengan Allah adalah dengan berzikir (Zikrullah).

Zikir secara harfiah berarti ingat dan sebut. Ingat adalah gerak hati, sedangkan  sebut adalah gerak lisan. Zikrullah berarti mengingat Allah, baik itu dengan zikrul lafzhy berzikir dengan lidah dan zikrul ma’nawy berzikir dalam hati dengan makna menyadari nikmat Allah dan mengiringi dengan perbuatan amaliyah yang disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua bentuk zikir ini tidak dapat dipisahkan, ia saling berkaitan satu dengan lainnya. Idealnya zikir itu berangkat dari kekuatan hati ditangkap oleh akal,dan diucapkan dengan lisan, lalu dibuktikan dengan ketaqwaan dalam  amal nyata di dunia ini.

Zikir adalah perintah Allah kepada orang-orang yang beriman untuk senantiasa  berzikir mengingati nikmat Allah SWT. ” dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.”

Maka berzikir berarti menelusuri ketaatan  kepada melaksanakan perintah Allah. Prakteknya, zikir bisa dilakukan dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring. Allah SWT berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah (fazkurullaha) di waktu berdiri, di waktu duduk, dan diwaktu berbaring …” (Q.S. An Nisa’ : 103). Tempat zikir berada di dalam hati, bukan diujung lidah semata, ketika qalbu menjadi khusyu’ (menyerah), khudhu’ (tunduk), tadharru’ (merendahkan diri dgn rasa takut), tawadhu’ (patuh selalu berjalan dijalan lurus), dan yang melahirkan rasa khauf dan raja’ (harap) yang dilakukan di setiap kesempatan, pagi dan petang, siang dan malam. Allah SWT berfirman :

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلآصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (Nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengerasakan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-A’raf: 205). Zikir adalah pangkal ketentraman, ketenangan dan kedamaian. Allah adalah sumber ketenangan dan kedamaian. Allah SWT berfirman:

.. فاذْكُُُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

“… Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…” (Q.S. Al Baqarah: 152). Zikir itulah jalan pembersamaan dengan Allah (ma’rifatullah).

 « Dialah – Allah – yang memberi rahmat kepadamu dan Malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. » (QS.33, al-Ahzab : 43).

“Ketahuilah bahwa orang-orang yang memandang dengan cahaya bashirah mengetahui bahwa tidak ada keselamatan kecuali dalam pertemuan dengan Allah SWT. Tidak ada jalan untuk bertemu Allah kecuali kematian hamba dalam keadaan menyintai Allah dan mengenal Allah (hubbullah dan ma’rifatullah). Hatinya akan selalu tenteram dan terbimbing hidayah Allah Azza wa Jalla.

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram.” (Q.S. Ar Ra’d: 28)

Meninggalkan zikrullah akan membuka kesempatan kepada syetan menguasai diri kita. Allah SWT berfirman:

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلاَ إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Syetan telah menguasai mereka dan menjadikan mereka lupa mengingat Allah (zikrullah); mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi.”  (Q.S. Mujadilah: 19)

Mengenal Allah dengan mensyukuri nikmat Nya. Memohon ampun atas kelalaian yang telah dilakukan.

Zikrullah adalah menjaga iman dengan menjauhi yang dilarang serta mengerjakan suruhan dengan segala senanghati. « Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya Ialah: Salam (Artinya: sejahtera dari segala bencana); dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka. » (QS.33 : 44)

Sesungguhnya cinta dan keakraban tidak akan tercapai kecuali dengan selalu mengingat yang dicintai.

Rasulullah diutus menjelaskan bagaimana semestnya memelihara kecintaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. « Hai Nabi, Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk Jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan …, dan untuk Jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk Jadi cahaya yang menerangi … Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa Sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. » (QS.33 :45-47)

Gambar

Seorang hamba yang berzikrullah (mengingati Allah) meraih tiga kejayaan besar.

Pertama, akan terpilih diberi taufik untuk mengingati-Nya. Jika bukan kerana kurnia Allah pasti lidah anda tidak layak mengingati dan menyebut nama Allah.

Kedua, akan diingat oleh Allah, yakni menjadi hamba yang dekat kepada-Nya.

Dan ketiga menjadi buah mulut dalam kalangan malaikat yang berada di sisi Allah sambil memohonkan ampunan.

Firman Allah ; « (malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, »

«  Ya Tuhan Kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, »

«  dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu Maka Sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan Itulah kemenangan yang besar. » (QS.40, Al Mukmin, ayat 7-9)

Sesungguhnya Hubbullah dan ma’rifatullah hanya dapat dicapai dengan mengoptimalkan waktu-waktu malam dan siang untuk bertafakkur dan berzikir. Dengan itu kita raih nikmat Allah untuk menjadi hamba yang beruntung.

وَالْعَصْرِ -إِنَّ الاِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ -إِلا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-’Ashr:1-3)

Ÿ« dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pelindung. » (QS.33 al-Ahzab : 48)

 

اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا آخِرَتِنَا الَّتيِ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَ اجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فيِ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ سَرٍ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلعَفْوَ وَ العَافِيَةَ فيِ دِيْنِنَا وَ دُنْيَاناَ وَ أَهْلِيْنَا وَ أَمْوَالِنَا، رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER NINIK MAMAK TUNGKU TIGO SAJARANGAN DALAM IMPLEMENTASI FILOSOFI Adat Basandi Syarak (ABS), Sarak Basandi Kitabullah (SBK).

Membangkitkan Kesadaran Kolektif Akan Nilai Agama Islam di dalam Norma Dasar Adat di Minangkabau Membangun Generasi Unggul Tercerahkan

Adat dan Budaya Minangkabau  dibangun  di atas  Peta Realitas

Adat Minangkabau dibangun di  atas ”Peta Realitas”, yakni Adat yang bersendi kepada “Nan Bana”. Dikonstruksikan secara kebahasaan. Direkam terutama lewat bahasa lisan berupa pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun, yang secara keseluruhan dikenal sebagai Kato Pusako. Ditampilkan lewat berbagai upacara Adat serta kehidupan masyarakat se-hari-hari.

Kato Pusako menjadi rujukan di dalam penerapan perilaku di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Pokok pikiran ”alam takambang jadi guru” meletakkan landasan  filosofis Adat Minangkabau atas dasar pemahaman yang mendalam tentang bagaimana bekerjanya alam semesta serta dunia ini termasuk manusia dan masyarakatnya. Mereka telah menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari Nan Bana”.

group-ulama-national-businees-2

Dalam peta realitasnya, terungkap di dalam ”kato” yang menjadi mamangan masyarakatnya, di antaranya di dalam Fatwa adat menyebutkan, “Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kayo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”. 

Dengan perkataan lain, Adat yang bersendi kepada “Nan Bana” sekaligus juga Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan (PPJK) Masyarakat Minangkabau.

Karena itu Membina perilaku beradat dan beragama di Minangkabau menjadi kerja utama setiap individu di dalam nagari hingga dusun dan taratak, sebagaimana diungkapkan ;

Rarak kalikih dek mindalu,  tumbuah sarumpun jo sikasek,  Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek” dan

Nak urang Koto Hilalang,  nak lalu ka pakan baso,  malu jo sopan kalau lah hilang,  habihlah raso jo pareso”.

Merenda Adat Minangkabau

Para pemikir telah mengakui dan memahami keberadaan Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo, termasuk Alam Terkembang Jadi Guru.[1] Selanjutnya menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari Nan Bana” atau ayat kauniyah.

Konsep ”Adaik basandi ka mupakaik, mupakaik  basandi ka alua, alua basandi ka patuik, patuik basandi ka Nan Bana, Nan Bana Badiri Sandirinyo” menunjukkan bahwa sesungguhnya para filsuf dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah mengakui keberadaanNan Bana, Nan Badiri Sandirinyo”. Artinya, kekuasaan dan kebenaran hakiki ada pada kekuasaan Tertinggi. Di dalam ajaran Islam  dipahamkan dan bahwa Nan Bana (al Haqqu) itu berada di tangan Allah Ta’ala semata (wahdaniyah, Sendiri). Ini dapat dimaknai sebagai landasan masyarakat bertauhid.

Kehidupan Masyarakat Minangkabau adalah Beradat Beradab dan Beragama

Kegiatan hidup masyarakat Minangkabau dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (”system”) pada berbagai tataran (struktur). Tatanan Nilai dan norma dasar sosial budaya orang Minang menjadi Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) dari orang Minang.

Tatanan  ini menjadi WARISAN BUDAYA  yang dibangun  berdasar  Petatah Petitih  (klasifikasi), peradaban  (historis),  Peta realitas alam  (inti pemahaman dalam idea) dan Keyakinan  Agama  Islam  (anutan kepercayaan), Warisan Budaya ini jelas sekali tampak pada Aspek Perilaku, pada bentuk-bentuk khusus tabiat, Lagu, rituals, kelembagaan, Struktur masyarakat dan pengorganisasian kegiatan di Minangkabau itu. Disamping itu warisan budaya tersebut terang pula terlihat pada Aspek-Aspek Fisik seperti pada benda bersejarah, peralatan,  senjata, bangunan bersejarah dan hasil  Kerajinan  (Works of art).

Gambar

PDPH Masyarakat Minangkabau terungkap dalam SENI BUDAYA diantaranya pada karya seni masyarakatnya seperti seni musik (saluang, rabab), seni pertunjukan (randai), seni tari (tari piriang), dan seni bela diri (silek dan pamenan). Juga di benda-benda budaya (karih, pakaian pangulu, mawara dll), bangunan (rumah bagonjong), serta artefak lain-lain mewakili ungkapan fisik dari konsep pandangan perilaku Adat Minangkabau. sehingga masing-masing menjadi lambang dengan berbagai makna. Pandangan Hidup ini memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakatnya dalam sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan masyarakat yang menjadi landasan pembentukan pranata sosial budaya, yang melahirkan berbagai  lembaga formal maupun informal (seperti Tungku Tigo Sajarangan, urang nan 4 jinih).

Kesadaran Kolektif Kesepakatan Bersama

Pandangan Hidup beradat menjadi pedoman dan petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri dan bersama-sama.

Konsep dasar Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat) ini menjadi kesadaran kolektif berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) manusia dan  masyarakat Minangkabau.

Konsep PDPH yang merupakan inti Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat) memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan, adat istiadat yang lebih dikenal sebagai Adat nan Diadatkan dan Adat nan Taradat. Adat Nan Sabana Adat adalah Kaedah Alam, sifatnya tidak berubah sepanjang waktu disebut “ indak lakang dek paneh indak lapuak dek hujan “ , inilah yang disebut “ Sunnatullah “ yaitu  Ketentuan Allah Pencipta Alam Semesta, dalam filsafat ilmu disebut fenomena alam.

  1. Alam telah diciptakan sempurna  dengan hukum-hukum yang jelas  sunnatullah (nature wet) hukum alam   لا تبديل لخلق الله
  2. Dipakai sebagai timbangan yang asli (cupak usali) karena begitulah sifat alam (manusia, hewan, tumbuhan, air, tanah, api, angin) diciptakan Allah SWT.
  3. Cupak usali adalah yurisprudensi yaitu pedoman untuk memepat (menara) cupak buatan (hukum yang dibuat manusia), dikenal dengan  alam takambang jadi guru,  dalam bahasa filsafat ilmu disebut “analogi“, dilafalkan dalam pahatan kato (yaitu kalimat pendek luas maknanya), itulah “ kato dahulu  “ ,  nilainya berada pada domain Hakekat.

PERPADUAN ADAT DAN SYARAK.

 Firman Allah menyatakan, “ Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13).

Nabi Muhammad SAW memesankan bahwa “Perbedaan di tengah-tengah umatku adalah rahmat” (Al Hadist). Dan “innaz-zaman qad istadara”, bahwa sesungguhnya zaman berubah masa berganti (Al Hadist).

Fatwa adat di Minangkabau mengungkapkan  “Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”.  

 

ASPEK SIMBOLIS  ABS-SBK sebenarnya adalah Syarak Mangato Adaik Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru.[2]

Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

 اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. (Al-Baqarah, 257).

  • Nilai  Islam mudah mengakar ke dalam kehidupan masyarakat  Minangkabau, sehingga terkenal  kuat agamanya dan kokoh adatnya, pada berbagai lingkungan tatanan (”system”) dan pada berbagai tingkat tataran (structural ).
  • Paling mendasar adalah tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH).
  • Orang yang tidak beradat dan tidak beragama Islam, kedudukannya disebut tidak berbudi pekerti atau indak tahu di nan ampek =  Sama artinya dengan bodoh.

Pranata Sosial Budaya atau batasan-batasan perilaku manusia yang lahir atas dasar kesepakatan bersama menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama. Setelah masuk Islam ke Minangkabau maka batasan perilaku itu bersandikan Syarak dan Kitabullah.

Dok.Buya 095

Sebagai masyarakat beradat dengan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pelajaran strategi dalam penerapannya. Diantaranya “Mengutamakan prinsip hidup keseimbangan.” Islam menghendaki keseimbangan antara rohani dan jasmani. “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist). Keseimbangan tampak di ranah ini, “Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

Nilai nilai Islam mengajarkan “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”  (Hadist). Nilai Islam menanamkan kesadaran bahwa “bumi Allah amatlah luasnya” sehingga mudah untuk digunakan sesuai firman Allah, “Maka berpencarlah kamu diatas bumi, carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”.  (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

Gambar

Kesadaran ini tertancap dalam pada Pranata Sosial Budaya Minangkabau yakni batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama.

Setelah masuk Islam maka pranata social Minangkabau itu bersandikan kepada Syariat Islam dan Kitabullah. Supaya jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit (QS.4, An Nisak : 97) maka wujudlah kearifanKaratau madang dihulu babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu dirumah paguno balun”. Kemudian meng-introdusir tenaga mereka kembali kemasyarakatnya merasakan denyut nadi kehidupan dan berurat pada hati umat itu.  Ditanamkan pentingnya kehati-hatianIngek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”.

Memiliki jati diri, self help dengan tulang delapan kerat walau dengan memakai cara amat sederhana sekalipun “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain. Membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalah salah.Kefakiran (kemiskinan)  membawa orang kepada kekufuran.

Pemesraan Nilai-Nilai Islam kedalam Filosofi Budaya Minangkabau

Sesudah masuknya Islam terjadi semacam lompatan kuantum (”quantum leap”) di dalam budaya Minangkabau. Bertumbuh-kembangnya manusia-manusia unggul dan tercerahkan. Munculnya tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah kehidupan masyarakat adat Minangkabau di kawasan ini. Semata karena nilai yang dibawa oleh ajaran Islam yang mudah mengakar ke dalam kehidupan masyarakat di Minangkabau.

Orang Minangkabau terkenal kuat agamanya dan kokoh adatnya. Seorang anak Minangkabau di mana saja berdiam tidak akan senang di sebut tidak beragama, dan tidak beradat.

Orang yang tidak beradat dan tidak beragama Islam, di samakan kedudukannya dengan orang tidak berbudi pekerti atau indak tahu di nan ampek.[3]

Adat Minangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso (akal, rasio, logika), hasil nyata dari alam takambang jadi guru, makin kokoh dengan keyakinan yang diisi oleh agama Islam yang benar (haq dari Rabb).

Gambar

Bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat nagari, pasti akan menemui di nagari satu iklim (mental climate) yang subur bila pandai menggunakan dengan tepat.

Ada kekuatan agama, tamadun, budaya, adat istiadat, dan budi bahasa yang baik.  Lah masak padi rang Singkarak,  masaknyo ba tangkai-tangkai, sa tangkai jarang nan mudo. Kabek sa balik buhue sintak, payahlah urang nak ma ungkai, tibo nan punyo rarak sajo. Diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku dalam adaik salingka nagari. Alah bakarih samparono, bingkisan rajo Majopaik, Tuah ba sabab ba karano, pandai ba tenggang di nan rumik. Satu realita objektif  adalah ;  Siapa yang paling banyak menyelesaikan persoalan masyarakat ,  pasti akan berpeluang banyak mengatur masyarakat.

Penguatan peran Ninik Mamak dalam Tungku Tigo Sajarangan

Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para ninik mamak Tungku Tigo Sajarangan yang menjadi pendidik masyarakat dikelilingnya (anak kemenakannya). Perlu dikuatkan pemurnian wawasan fikir, kekuatan zikir, penajaman visi, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang dan pendalaman spiritual religi.

Maka Peran Tungku Tigo Sajarangan sesungguhnya adalah ;

  1. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan yang  merusak Sarak (agama Islam).
  2. Menimbulkan keinsafan mendalam di kalangan rakyat anak nagari tentang perlunya penghakiman yang adil sesuai tuntutan sarak dalam syariat Agama Islam.
  3. Meningkatkan program melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya dalam tatanan kekerabatan.
  4. Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan santun sesuai adat basandi sarak, sarak basandi Kitabullah.

Dengan begitu amat diharapkan lahir generasi Minangkabau yang berkualitas mengutamakan manhaj-ukhuwah  ; bulek aie dek pambuluah bulek kato ka mupakaik.” Mengamalkan budaya amal  jama’i  ; kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua,  tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan. Manyuruah babuek baik, Malarang babuek jahek, Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo, Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado kusuik nan tak salasai. Sehingga lahirlah generasi muda yang dapat meniru kehidupan lebah; kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya,  berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, baik hasil usahanya, dapat dinikmati oleh lingkungannya.

Ringkasnya Membangun kembali masyarakat beradat sopan santun, dengan cara ;

  1. Menghidupkan kembali peraturan bagi tiap suku untuk melengkapi kembali perangkat sukunya, dan memerankan kekerabatan kaum.
  2. Memperkuat peran generasi muda dengan kualifikasi keilmuan, kejujuran, kesetiaan kepada negara, serta memiliki keahlian mengelola nagari dalam pemerintahan nagari.
  3. Mengusahakan tumbuhnya kesadaran membantu mengembangkan pembangunan kampung halaman melalui sumbangan pemikiran dan bantuan lainnya,  guna penguatan  perangkat pemerintahan Nagari.

Sama Bekerja dan Bekerja Sama Saciok bak ayam Sadancieng bak basi

Kehidupan  KEBERSAMAAN (ijtima’iy) masyarakat MADANI mempunyai hak dan kewajiban masing-masing, memiliki hati yang tenteram. Tujuan perhimpunan atau perkumpulan seperti adanya lembaga “Tungku Tigo Sajarangan” di nagari nagari adalah membentuk ikatan yang tenteram, bahagia dan berkekalan (sustainability) dalam aturan-aturan dan ketentuan agama (etika religi)  menurut syariat Islam.

Semua orang berkeinginan untuk hidup bahagia, kekal dan langgeng. Perintah Agama Islam menyebutkan, Hendaklah engkau berjamaah.  Dengan  berhimpun bermasyarakat (ijtima’iy) dapat dicapai kesatuan, kekompakan  dan kebahagiaan  dengan cara :

  1. Saling Mengerti antara Sesama, untuk menjalin komunikasi masing-masing.  Tidak akan memaksakan egonya, karena perbedaan suku atau adalah karunia Allah, Kebiasaan masing-masing, Selera, kesukaan atau hobi, Pendidikan,  Karakter/sikap pribadi secara proporsional baik dari masing-masing, maupun dari orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, teman ataupun saudaranya, dan yang relevan dengan ketentuan yang dibenarkan syari`at.
  2. Saling Menerima.  Satu team work akan terbina dengan saling menerima satu sama lain. Satu kesatuan kelompok adalah ibarat satu tubuh dengan beragam kehendak. Dengan keredhaan dan saling pengertian, beragam warna merah dicampur akan menampilkan keindahannya.
  3. Saling Menghargai, dalam Perkataan dan perasaan, Bakat dan keinginan masing-masing. Sikap saling menghargai adalah sebuah jembatan menuju kuatnya satu team work.
  4. Saling Memercayai, akan melahirkan kemerdekaan berfikir, inovasi dan kreasi mencapai kemajuan. Keselarasan akan lebih meningkat, serta hal ini merupakan amanah Allâh.
  5. Saling Menyintai,  akan memunculkan beberapa hal seperti, lemah lembut dalam bicara, selalu menunjukkan perhatian, bijaksana dalam pergaulan, tidak mudah tersinggung, dan perasaan (batin) masing-masing akan selalu tenteram

Pandangan Hidup masyarakat Minangkabau sejak dahulu, telah melahirkan angkatan-angkatan “generasi emas”, dengan mengamalkan tatanan dan nilai adat dan keyakinan yang berjalin berkelindan dengan sebuah adagium “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK), telah menjadi pegangan yang menata seluruh kehidupan masyarakat Minangkabau dalam kenyataan yang sesungguhnya.

Dalam periode keemasan itu, Minangkabau dikenal sebagai lumbung penghasil tokoh dan pemimpin, baik dari kalangan  alim ulama ”suluah bendang anak nagari” maupun ”cadiak pandai” (cendekiawan pemikir dan pemimpin sosial politik), yang berkiprah di tataran nusantara serta dunia internasional. [4]

Memperkuat ikatan Kekerabatan Suku dan Kaum

Kekerabatan yang erat telah menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

Generasi Minangkabau dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mampu bertahan. Wataknya didukung pemahaman nilai-nilai Raso Pareso. Kemudian dikuatkan dengan keyakinan Islam.  Melalui pengamatan ini tidak dapat disangkal bahwa Islam telah berpengaruh kuat di dalam Budaya Minangkabau.

Pranata sosial Masyarakat Beragama yang Madani di Sumatera Barat yang didiami masyarakat adat Minangkabau semestinya berpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Agama Islam yang bersumber kepada Kitabullah (Al Quranul Karim) dan Sunnah Rasulullah  itu, maka pelaksanaan atau pengamalannya tampak atau direkam dalam Praktek Ibadah, Pola Pandang dan Karakter Masyarakatnya, Sikap Umum dalam Ragam Hubungan Sosial penganutnya. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

Masyarakat Ber-Adat Beradab Hanya Mungkin Jika Dilandasi Kitabullah

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan, hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur yang tumbuh mekar dengan  kesadaran kearifan  dalam kecerdasan budaya serta memperhalus kecerdasan emosional  serta dipertajam oleh kemampuan periksa  evaluasi positif dan negatif  atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni hidayah Islam.

Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas).

Secara jujur, kita harus mengakui bahwa adat tidak mungkin lenyap, manakala  memahami fatwa adat, Kayu pulai di Koto alam, Batangnyo sandi ba sandi, Jikok pandai kito di alam, patah tumbuah hilang baganti”.

 Secara alamiah (natuurwet) adat itu akan selalu ada dalam prinsip. Jika patah akan tumbuh (maknanya hidup dan dinamis). Menjadi dominan ketika dikuatsendikan oleh keyakinan agama akidah tauhid, dengan bimbingan kitabullah (Alquran) bahwa yang hilang akan berganti. Apa yang ada di tangan kita akan habis, apa yang ada di sisi Allah akan kekal abadi.

Dilaksanakannya adagium Adat Basandi Syarak Syarak, dan Syarak Bansandi Kitabullah (ABS-SBK) maka tali hubungan antara Adat sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan dibuhul-eratkan dengan ajaran Islam yang menekankan kepada akhlak mulia (karimah).

Rentang sejarah membuktikan bahwa penerapan ABS-SBK telah memberikan lingkungan sosial budaya yang subur bagi seluruh anggota masyarakat dalam mengembangkan segenap potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan.

Walau berada dalam lingkungan yang sulit  penuh tantangan, sejak zaman kolonialisme hingga ke masa-masa perjuangan, budaya Minangkabau dengan ABS-SBK terbukti mampu menciptakan lingkungan yang menghasilkan jumlah yang signifikan tokoh-tokoh yang menjadi pembawa obor peradaban di kawasan ini.

Keunggulannya ada pada falsafah adat yang mencakup isi yang luas. Akhlak karimah berperan dalam kehidupan yang mengutamakan kesopanan dan memakaikan rasa malu, sebab malu jo sopan kalau lah hilang,  habihlah raso jo pareso, dalam terapan ABS-SBK secara “murni dan konsekwen”. (Lihat QS.16, an-Nahl : 96.).

Simpulan Simpulan Budi dan Basabasi

Masyarakat Unggul dan Tercerahkan dicetak dengan Menanamkan Nilai-Nilai Ajaran Islam dan Adat Budaya.

Khusus bagi Masyarakat Adat Minangkabau digali dari Al-Qur’an, membentuk peribadi yang zikir, – yakni hidup dengan penuh kesadaran akan keberadaan Allah Ta’ala dengan segenap aspek hubungan-Nya dengan manusia dan segenap makhluk Ciptaan-Nya , dan berdaya fikir, –

Berarti membuat Peta Kenyataan sesuai Petunjuk Ajaran Allah Ta’ala yang diuraijelaskan Alquran dan ditafsirterapkan oleh Rasul lewat Sunnah sebagai Teladan Utama (Uswatun Hasanah) .

Maka secara batinnya antara adat dan agama saling melengkapi dari yang genap sampai yang ganjil.[5]

Adat Minangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso (akal, rasio, logika), hasil nyata dari alam takambang jadi guru, makin kokoh dengan keyakinan yang diisi oleh agama Islam yang benar (haq dari Rabb).   Sebagai ujud pengamalan Firman Allah:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama (syariat, syarak) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya – kekampung halamannya –, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS.IX, at Taubah, ayat 122).  

Tidak ada yang lebih indah daripada budi dan basabasi. Yang dicari bukan emas dan bukan pula pangkat, akan tetapi budi pekerti yang paling dihargai. Hutang emas dapat di bayar, hutang budi dibawa mati. Agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan basi (budi pekerti yang mulia). Jika ingin pandai rajin belajar, jika ingin tinggi  (mulia), naikkan budi pekerti.

Khulasahnya, penerapan ABS-SBK mengharuskan kehidupan perorangan serta pergaulan masyarakat Minangkabau berakar dari dan berpedoman kepada Al-Quran serta Sunnah Rasullullah. Dengan demikian, ABS-SBK dapat membentuk lingkungan sosial-budaya yang akan melahirkan masyarakat Minangkabau yang unggul tercerahkan dengan kekuatan akidah dan akhlak menurut Kitabullah.

Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”.

Gambar

Dengan melaksanakan ABSSBK lahir sikap cinta ke nagari. Tumbuh sikap positif menjaga batas-batas patut dan pantas. Terbentuk umat yang kuat, sehat fisik, sehat jiwa, sehat pemikiran, dan sehat social, ekonomi, konstruktif (makruf).

Pariangan jadi tampuak tangkai, Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo Luhak rang mangatokan. Adat jo syara’ jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban”

 “Tasindorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki, Adat jo syarak jiko tasusun, Bumi sanang padi manjadi.

Padang, 25 NOVEMBER  2013


CATATAN KAKI ;

[1]  Para filsuf dan pemikir Adat Minangkabau (Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, menurut versi Tambo Alam Minangkabau). Mengungkapkannya ke dalam pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun, yang berisi gagasan-gagasan bijak, sebagai Kato Pusako.

[2]  Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan hasil kesepakatan — Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam – dari  dua arus besar (”main-streams”) Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) Masyarakat Minangkabau yang sempat melewati konflik yang melelahkan. Sejarah membuktikan, kesepakatan yang bijak itu telah memberikan peluang tumbuhnya beberapa angkatan ”generasi emas” selama lebih satu abad berikutnya. Karena itu, Peristiwa sejarah Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam dapat disikapi dan diibaratkan bagaikan “siriah nan kambali ka gagangnyo, pinang  nan kambali ka tampuaknyo, yaitu dari Adat yang pada akhirnya bersendikan kepada Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo, disepakati menjadi  “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK).

[3] Sama artinya dengan bodoh.

[4] Sebagai hasil penelitian sejarah, Dobin menyebutkan bahwa, sejak abad 17 di Minangkabau, surau telah mengajarkan kepada masyarakat… “agar  menerima lima pokok Islam dan hidup sebagai orang Islam yang baik” … dan dinyatakan pula bahwa salah satu fungsi surau adalah mengajarkan silat Melayu … dan seorang guru biasanya mempunyai sejumlah pemuda yang bisa dipersiapkan untuk menghadapi bentrokan … Dan, dengan tindakan (kesiapan) itu, para perampok menjadi takut merampok dan menjual orang-orang tahanan mereka … di antaranya di Ampek Angkek sejak pertengahan 1790 di bawah kepemimpinan surau (Tuanku Nan Tuo) menjadikan negerinya mengalami kemajuan besar dalam pengaturan urusan dagang, yang kemudian dilanjutkan murid beliau yang tersebar, di antaranya Jalaluddin mendirikan surau di Koto Lawas (Koto Laweh) di lereng Gunung Merapi sebagai nagari penghasil akasia dan kopi, untuk “membangun masyarakat muslim” yang sungguh-sungguh …Demikian di tulis oleh Christine Dobin, dalam bukunya “Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi, Minangkabau 1784-1847”, edisi Indonesia, Komunitas Bambu, Maret 2008, ISBN 979-3731-26-5, di halaman 198 – 225.

[5]  Sangat menarik pemakaian angka-angka di Minangkabau, lebih nyata bilangan genap, realistis seperti ”kato nan ampek (4), undang-undang nan duopuluah (20), urang nan ampek jinih, nagari nan ba ampek suku, cupak nan duo (2), cupak usali jo cupak buatan, rumah basandi ganok, tiang panjang jo tonggak tapi, basagi lapan (8) atau sapuluah (10) artinya angka genap. Datang agama Islam, di ajarkan pula pitalo langik nan  tujuah (7), sumbayang nan limo wakatu, rukun Islam nan limo (5), Maka secara batinnya antara adat dan agama saling melengkapi dari yang genap sampai yang ganjil.

DR. Abdullah Ahmad Perintis Pendidikan Modern Berbasis Islam di Nusantara

Syekh DR. Abdullah Ahmad (lahir di Padang Panjang, 1878 – meninggal di Padang, 1933 pada umur 55 tahun) adalah seorang ulama reformis yang mendirikan Sekolah Adabiah (1909) dan PGAI di Padang (1919) serta turut membidani lahirnya perguruan Sumatera Thawalib Padangpanjang (1921 di Surau Jembatan Besi yang telah berdiri sejak 1914) sebagai cikal bakal Sumatera Thawalib di Sumatera Barat,. Beliau adalah anak dari Haji Ahmad, ulama Minangkabau yang juga seorang pedagang, dari seorang ibu yang berasal dari Bengkulu. Ada kebiasaan keluarga Minangkabau di Sumatera West-Kunde pada zamannya yaitu seorang ulama haruslah melahirkan anak ulama pula.  

Gambar 

Abdullah Ahmad menyelesaikan pendidikan dasarnya pada sebuah sekolah pemerintah dan sedari kecil memperoleh pendidikan agama dari ayahnya. Pada tahun 1895, Abdullah Ahmad pergi ke Mekkah dan kembali ke Indonesia pada tahun 1899. Pada masa itu adalah kebanggaan dan harapan kepada anak anak generasi di Minangkabau untuk belajar ke Mekkah ataupun ke Kairo (Mesir). Abdullah Ahmad adalah salah satu dari kebanggaan itu.

GambarPada masa itu pula di Masjidil Haram Makkah banyak berperan para Ulama yang berasal dari dunia Melayu yang sudah berjalan sambung bersambung dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam jarak waktu cukup panjang dan pernah ada yang menjadi imam khatib dalam Mazhab Syafie di Masjid al-Haram Mekah, diantaranya Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani (Patani, Thailad Selatan) dan disusul  seratus tahun kemudian oleh Syeikh Ahmad Khatib al-Minankabawy (lahir Isnin, 6 Zulhijjah 1276 H/26 Juni 1860 M, wafat 9 Jamadilawal 1334 H/13 Maret 1916 M) dan Syeikh Abdul Hamid Muhammad Ali Kudus (lahir 1277 H/1860 M, riwayat lain dinyatakan lahir 1280 H/1863 M, wafat 1334 H/1915 M), yang sangat terkenal dalam pelbagai bidang yang mereka tekuni.

Diantara ketiga Syeikh itu, terlihat murid Syaikh Khatib banyak sekali. Kelak di kemudian hari mereka menjadi ulama-ulama besar di Indonesia, seperti Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) ayah dari Buya Hamka; Syaikh Muhammad Djamil Djambek pendiri Surau Inyik Djambek di Bukittinggi; Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli pendiri MTI Candung, Syaikh Muhammad Jamil Jaho pendiri Madrasah Tarbiyah di Jaho Padang Panjang, Syaikh Abbas Qadhi Ladang Lawas Bukittinggi, Syaikh Abbas Abdullah pendiri Darul Funun Padang Japang Suliki, Syaikh Khatib Ali penggagas Thawalib Padang, Syaikh Ibrahim Moesa pendiri Thawalib Parabek, Syaikh Mustafa Husein pendiri Musthafawiyah Purba Baru, Mandailing, dan Syaikh Hasan Maksum, Medan, K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Ahmad Dahlan, yang mendirikan organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Semua gerakan pendidikan pencerdasan umat itu berumur mendekati satu abad.

GambarUlama zuama bekas murid Ahmad Khatib, mulai membuktikan pemikiran, manakala Islam bermaksud tetap memajukan pengikutnya, maka harus terjadi suatu pembaruan. Setiap periode dalam sejarah peradaban manusia, melahirkan pembaruan pemikiran yang bertujuan memperbaiki pola penghidupan umatnya. Inilah ciri khas alim ulama yang cita-citanya ditemukan kembali dalam agama. Cara berpikir seorang alim ulama Islam bertolak dari anggapan keyakinan, bahwa Islam itu tidak mungkin memusuhi kebudayaan.

Dengan kemajuan cara berpikir orang berusaha menemukan kembali cita-citanya dalam Islam yang meletakkan ilmu pada darjah mulia dan pendidikan adalah upaya meraihnya.

 

Diantara mata rantai itu adalah DR. Haji Abdullah Ahmad (1878 – 1933) yang kemudian menjadi salah seorang di antara para ulama dan zuama, bersama Abdul Karim Amrullah, ia menjadi orang Indonesia terawal yang memperoleh gelar doktor kehormatan (1926) dari Universitas Al-Azhar, yang justeru diterimanya di tengah Kongres Khilafat persidangan akbar ulama ulama Islam sedunia di Kairo (Mesir), yang memberikan penghargaan (Honoris Causa) dibidang pendidikan agama yang mengajar di Padang Panjang, sekembalinya dari Mekkah, serta ikut mendirikan Sumatera Thawalib yang berawal dari pengajian Zuama, di Masjid Jembatan Besi, Padangpanjang, sembari memberantas bid’ah dan tarekat.

Gambar 

Pendidikan Islam sistim halaqah di surau yang kemudian berpindah dengan sisitim kelas telah menggugah pula kaum perempuan Minangkabau untuk ikut aktif dalam bidang pendidikan ini.

DR.Abdullah Ahmad lebih tua dari Ki Hajar Dewantoro atau Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (2 Mei 1889 – 26 April 1959), pendiri Taman Siswa di tahun 1922, telah dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 28 November 1959 dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959.  

Jauh sebelum Taman Siswa itu ada, di Padang telah didirikan oleh Syaikh DR. Haji Abdullah Ahmad sebuah Sekolah Adabiyah pada tahun 1909 dan bersama dengan para Ulama Minangkabau didirikan Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) di Jati, Padang tahun 1919 dan kemudian diakui sebagai satu Perkumpulan Islam yang saat itu disebut dengan Rechts person No.67 thn.1920 tertanggal 7 Juli 1920.

Berarti PGAI tiga tahun lebih tua dari Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa yang didirikan 3 Juli 1922 oleh Ki Hajar Dewantoro aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.

Seorang pembaru lainnya adalah Syekh Taher Djalaluddin (1869-1956), pada masa mudanya dipanggil Muhammad Taher bin Syekh Muhamad, lahir di Ampek Angkek, Bukittinggi, tahun 1869, anak dari Syekh Cangking, cucu dari Faqih Saghir yang bergelar Syekh Djalaluddin Ahmad Tuanku Sami’, pelopor kembali ke ajaran syariat bersama Tuanku Nan Tuo.

Syekh Taher Djalaluddin adalah saudara sepupu dari Ahmad Khatib Al Minangkabawy, karena ibunya adik beradik. Syekh Taher Djalaluddin, berangkat ke Mekah 1880, dan menuntut ilmu selama 15 tahun, kemudian meneruskan ke Al Azhar, di Mesir (1895-1898), karena itu beliau memakai nama Al Azhary dibelakang namanya. Kemudian kembali ke Mekah mengajar sampai tahun 1900.

Gambar

Beliau sangat ahli di bidang ilmu falak, dan muridnya adalah Syekh Muhammad Djamil Djambek. Pada tahun 1900 itu pula, Syekh Taher Djalaluddin pulang dan menetap di Malaya, diangkat menjadi Mufti Kerajaan Perak.

Syekh Taher Djalaluddin merupakan seorang tertua bahkan dianggap sebagai guru oleh kalangan pembaru di Minangkabau. Gerakan pemikiran beliau telah mewarnai para zuama antaranya DR.H.Abdullah Ahmad.

 

Pengaruh Syekh Taher Djalaluddin tersebar pada murid-muridnya melalui majalah Al-Imam dan melalui sekolah Al-Iqbal al-Islamiyah yang didirikannya di Singapura bersama Raja Ali Haji bin Ahmad pada tahun 1908. Sekolah ini kemudian menjadi model Sekolah Adabiyah atau Adabiah School yang didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad di Padang pada 1909 lebih dari 100 tahun yang lalu dengan bantuan Jamaah Adabiah, terutama pedagang pedagang kota Padang yang tergabung dalam Serikat Oesaha pimpinan Taher Marah Sutan[1] berarti 3 (tiga) tahun sebelum HOS Cokroaminoto mendirikan SI (Sarekat Islam) 1912. Pemakaian kata SO =  Serikat Oesaha — menjadi bukti otentik –bahwa para pendiri memiliki pandangan jauh kedepan dalam pengelolaan pendidikan dalam satu Serikat Oesaha – tijaratan tunji kum min ‘adzabin alim – yaitu Iman kepada Allah, sebagai buah dari pengajian Jamaah Adabiah, suatu komunitas pendengar pengajian Syekh DR. Abdullah Ahmad yang diselenggarakan dua kali dalam sepekan sejak beliau pindah dari Padangpanjang ke Padang 1906.

Syekh Abdullah Ahmad adalah motivator dan penggerak amal nyata dalam perannya sebagai ulama besar yang mempelopori banyak pembaruan social sampai akhir hayat beliau meninggal pada 1933 diusia tergolong masih muda 55 tahun. Alfatihah. 

Perguruan Adabiah berkembang dibawah asuhan YSO ADABIAH sampai sekarang ini. Kata “Adab” menyimpan makna mulia. Mencipta generasi dengan karakter beradab, beretika dalam kandungan akhlaqul karimah dengan keimanan dan keikhlasan mem­ben­tuk adab generasi bangsa.

Gambar

Nama Adabiyah telah dipakai oleh DR. Haji Abdullah Ahmad sejak 1906 dan memberikan pengajian di Masjid Ganting dan mengadakan juga Wirid Jamaah Adabiyah yang dibinanya di masa itu diikuti oleh pedagang pedagang kota Padang dua kali sepekan dengan murid atau komunitas pendengarnya mencapai jumlah 300 orang pedagang dan menggerakkan untuk melakukan berbagai bidang amal nyata para aghniyak pedagang di Kota Padang.[2]

Sekolah Adabiah menurut penelitian Mahmud Yunus sebagaimana diulangkan kembali oleh Hasril Caniago adalah Madrasah pertama di Minangkabau bahkan di Indonesia, karena menurut penyelidikannya tidak ada madrasah atau sekolah serupa yang didirikan lebih dulu dari Sekolah Adabiah. [3]

Dalam perkembangannya ditahun 1915 sistim pendidikan diubah menjadi HIS Adabiah yang merupakan sekolah umum pertama yang memasukkan pelajaran agama Islam dan Al Qur’an sebagai mata pelajaran wajib dalam sistim atau kurikulumnya. Inilah yang membedakannya dengan HIS yang didirikan pemerintah Belanda.[4]

Gambar

Disinilah sebenarnya keunggulan kepeloporan DR.Abdullah Ahmad sebagai Perintis Pendidikan Modern Berbasis Islam di Nusantara. Langkah beliau ini diikuti oleh Syekh Haji Muhamad Thaib Umar yang mendirikan Sekolah Agama di Batusangkar pada tahun 1909 itu juga, namun tidak lama bertahan hidup, dan kemudian di tahun 1910 Syekh H.M.Thaib Umar mendirikan sekolah agama di Sungayang Batusangkar dengan nama Madras School (sekolah Agama).[5]

 

Setelah itu, surau surau di Minangkabau yang selama ini menjadi pusat pembinaan anak nagari mengubah pendidikan agama di suraunya dengan cara berkelas seperti yang telah dimasyhurkan oleh DR.Abdullah Ahmad dan DR. Abdul Karim Amarullah.

GambarGerakan itu diikuti oleh Syekh Ibrahim Moesa Parabek dengan mendirikan Sumatera Thawalib Parabek (1921) — sebelumnya sudah ada Surau Inyik Syekh Ibrahim Moesa Parabek yang berdiri sejak 1914 –.

 

GambarKemudian diikuti berdirinya Diniyah School Puteri atau Madrasah Diniyah Puteri di Padangpanjang oleh Rky.Syaikhah Rahmah el Yunusiah pada Nopember 1923 yang merupakan madrasah diniah puteri pertama di Indonesia[6].

Gambar

Diniyah Puteri Bangkaweh

Lengkaplah gerakan pencerdasan umat oleh para pejuang pendidikan melalui sistim pendidikan Thawalib dan Diniah diikuti oleh banyak nagari di Sumatera Barat dan Nasional Indonesia serta Nusantara.

 DR.Abdullah Ahmad dimasa hidupnya dikenal sebagai Da’i, Muballigh, Alim Ulama, Inyik Syaikh DR yang disegani. Beliau juga seorang Wartawan yang memiliki pandangan jauh demi agama bangsa dan negara merdeka.

Gambar  Syekh Haji Muhammad Thaib Umar dari Sungayang (kiri), Syekh DR.Haji Abdullah Ahmad (tengah) dan Syekh H.Abdul Karim Amarullah (kanan)

Dalam memupuk jiwa nasionalisme melalui penyebaran Majalah Bulanan Al-Imam yang memuat artikel tentang pengetahuan popular, komentar kejadian penting di dunia, terutama dunia Islam, dan masalah-masalah agama, bahkan mendorong umat Islam betapa pentingnya memiliki sebuah Negara yang merdeka dan tidak dijajah. Melalui majalah ini Syekh DR. Abdullah Ahmad ikut mendorong agar umat Islam mencapai kemajuan dan berkompetisi dengan dunia barat. Al-Iman sering mengutip pendapat dari Mohammad Abduh dari majalah Al-Mannar di Mesir.

Majalah ini memakai bahasa Melayu dengan tulisan Arab Melayu atau tulisan Jawi, dan disebarkan di Indonesia meliputi tanah Jawa (Betawi, Jakarta, Cianjur, Semarang, dan Surabaya), Kalimantan (Pontianak dan Sambas), Sulawesi (Makassar).

Kemudian di Padang, DR.Abdullah Ahmad pada 1 Rabi’ul Akhir 1329 H/1 April 1911 M menerbitkan majalah Islam pertama di Minangkabau, bahkan pertama di Indonesia dengan nama Al Munir[7] dibantu oleh Syekh Abdul Karim Amarullah dan Syekh H.Muh.Thaib Umar dari Sungayang. Majalah itu telah menggunakan bahasa Indonesia (Melayu) sejak 17 tahun jelang“sumpah pemuda” di ikrarkan 28 Oktober 1928 berbangsa satu bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia, bertanah air satu tanah air Indonesia.

DR.Abdullah Ahmad adalah Cendekiawan Minangkabau dan Bengkulu. Pendidik dari Padangpanjang berasal dari keluarga aghniyak yang disegani dan tampak sewaktu pergi berdakwah dari Padang ke Padang Panjang memakai kenderaan motorfeet yang jarang dipunyai oleh seseorang dizaman itu.

Beliau seorang penyantun, kuat memegang prinsip dan memiliki cita cita tinggi. DR.Abdullah Ahmad adalah Pejuang pendidikan yang tangguh dan rela berbakti dengan harta dan waktu. Buktinya di rasakan nyata hingga masa kini setelah lebih satu abad sepeninggal Beliau di Kota Padang adalah Adabiah dan PGAI di Jati, Padang, yang masih tetap eksis sejak didirikan tahun 1919 lalu.

PGAI didirikan bersama sama oleh ulama Sumbar, antara lain Syekh DR. H. Abdul Karim Amarullah, Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Ibrahim Moesa Parabek, Syekh H.Daud Rasyidi Balingka, Syekh Kadir Muhammad Air Bangis, Syekh Muhammad Zen Imam Batusangkar, Syekh Abdul Majid Karim Padang, Ustadz Zainuddin Labay Yunus Padangpanjang, Haji Ahmad Yunus Padang, Tuanku Imran Limbukan Payakumbuh, Haji Ahmad Kotogadang Bukittinggi, Haji Abdul Rasyid Maninjau, Haji Muhammad Noer Kadli Sumpur, Pakih Makhudum Solok, Haji Sutan Darab Pariaman dengan Presidennya adalah Dr Abdullah Ahmad. Sejak berdirinya PGAI menjadi tempat diskusi dan bertukar pikiran para ulama semacam Islamic Center of Excelent.

Pada tahun 1920, DR.Abdullah Ahmad telah mendirikan panti asuhan Anak Yatim PGAI di Jati Padang, dan pada tahun itu telah mampu membeli dua persil tanah verp. No.1312 dan no.1318 seluas 55.000 m2 yang ada sampai sekarang.[8]  

Namun karena tidak ada sekolah untuk anak-anak tersebut, maka para ulama ini berinisiatif mendirikan sekolah agar anak yatim tetap bisa mengenyam pendidikan seperti anak-anak priyayi di masa itu. Tenaga pengajarnya adalah para ulama, yang menitikberatkan kurikulum pada pendidikan pengetahuan umum berbasis agama Islam.

Kemudian sepuluh tahun setelah itu atau tepat 1930, Normal Islam School resmi berdiri menyaingi sekolah-sekolah umum yang banyak didirikan Belanda. Sekolah ini memfokuskan pada pelajaran agama Islam. Hingga melahirkan banyak mubaligh yang kemudian menyebar ke seluruh nusantara. Salah satu alumninya adalah Imam Zarkasih yang kemudian mendirikan madrasah yang sekarang dikenal dengan nama Pondok Pesantren Modern Gontor di Jawa Timur. Di sekolah sekolah asalnya ataupun yang didirikan oleh alumnus alumnus  tersebut disiplin dilakukan secara ketat. Bahasa pengantar dalam setiap mata pelajaran disampaikan dalam bahasa Inggris, Arab, dan Indonesia. Sehingga pada masanya, PGAI mampu bersaing dengan sekolah-sekolah elit Belanda.

Melihat pesat perkembangan PGAI, menimbulkan kecurigaan pihak Belanda, akhirnya menutup sekolah PGAI beberapa saat sebelum Jepang masuk ke Indonesia.

Namun, sampai sekarang, sesudah Indonesia Merdeka, bangunan masih mepertahankan keaslian bekas gedung Normal Islam School yang bercorak Eropa tetap pada bentuk aslinya, walau dengan renovasi sesuai keperluan dan tuntutan zaman.

GambarGambarMaka, keberadaan Adabiah, PGAI yang telah dirintis oleh DR. Abdullah Ahmad sesungguhnya lahir dari keikhlasan semangat kebangsaan dan kecintaan serta jiwa nasionalisme Indonesia dengan berjuang menentang penjajahan guna merebut kemerdekaan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui jalur pendidikan mencari redha Allah yang tetap hidup dan berkembang hingga hari ini.

 

Wallahu a’lami bis-shawaab.

 

 

Bio Data Penulis ; H. Mas’oed Abidin, Lahir tanggal  :  11 Agustus 1935 di  Kotogadang, Bukittinggi,  Anak dari  : H.Zainal Abidin bin Abdul Jabbar Imam Mudo dan Khadijah binti Idriss. Jabatan sekarang  : Ketua Umum Masjid Raya Al Munawwarah Siteba, Surau Gadang, Kec. Nanggalo, Padang., Ketua Umum Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Prov. Sumbar,  masoedabidin@hotmail.com


[1] Abrar Yusra dalam “Azwar Anas, Teladan dari Ranah Minang”, pengantar Taufik Abdullah, ISBN: 978-979-709-585-7, Penerbit Buku Kompas, Agustus 2011, hal.12. Catatan ; Taher Marah Sutan adalah ayanda dari DR.Tirmidzi Taher pernah menjabat Menteri Agama RI dan Dubes RI dibanyak Negara di Eropah.

[2]  Perlu juga dingat bahwa Organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada 16 Oktober 1905  awalnya merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam,  dengan tujuan awal untuk menghimpun para pedagang pribumi Muslim (khususnya pedagang batik) agar dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar Tionghoa. Menurut asusmsi kita, tahun tahun pergerakan SDI 1905 itu ikut mendorong  giatnya wirid Jamaah Adabiah yang mulai ada 1906 di Padang itu. Wallahu a’lamu.

[3]  Hasril Chaniago, “101 Orang Minang di Pentas Sejarah”, ISBN: 978-979-3478-19-7, Pengantar Prof.DR.Mestika Zed, Penerbit Yayasan.Citra Budaya Indonesia, Padang, Cet.I,Januari 2010,  hal. 132-135.

[4] Ibid. Hasril Chaniago, hal.134.

[5] Prof. H. Mahmud Yunus, “Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia” , Kode Penerbit: 005-I-M, PT Mutiara Sumber Widya, Jakarta Pusat, Cet.I, 1962, hal.63.

[6] Ibid. hal.69

[7]  Ibid.hal.79

[8] Buku Kenang-Kenangan PGA 6 th PGAI, stensilan, Padang 21 September 1968, hal. 10 – 15.

Bacalah Quran dan dalami isinya

Dari Mu’adz Aljuhani radhiAllahu anhu. berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. bersabda, “Barang siapa membaca al Quran dan mengamalkan isi kandungannya, maka kedua orang tuanya akan di pakaikan mahkota pada hari kiamat, yang sinarnya lebih terang dari pada cahaya matahari jika sekiranya matahari itu berada di rumah-rumah kamu di dunia ini. Bagaimana menurut perkiraan kalian mengenai orang yang mengamalkannya sendiri?” (Hr. Ahmad dan Abu Dawud).

 

Dengan keberkahan membaca al Quran dan memgamalkan isinya, maka kedua orang tua si pembaca akan di pakaikan mahkota kemuliaan yang sinarnya dapat melebihi sinar matahari jika matahari itu berada di dalam rumah.

 

Matahari itu letaknya sangat jauh dari tempat kita tetapi cahayanya sangat terang, apalagi jika matahari itu berada dalam rumah kita. Maka pasti luar biasa terangnya. Sedangkan cahaya mahkota yang dipakaikan kepada orang tua si pembaca al Quran adalah lebih terang lagi.

 

Jika kedua orang tuanya saja sudah di berikan kemuliaan begitu banyak, maka pastilah si pembacanya itu sendiri akan mendapat pahala yang berlipat-lipat lagi banyaknya.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya termasuk orang yang paling kucintai di antara kamu dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang-orang yang paling baik akhlaqnya di antara kamu.

Dan sesungguhnya orang yang paling kubenci di antara kamu dan paling jauh tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah ats-tsartsarun (Banyak bicara sia sia), al-mutasyaddiqun (mengganggu), dan al-mutafaihiqun. Para sahabat berkata: “Wahai Rsulullah, kami telah mengetahui al-tsartsarun dan al-mutasyaddiqûn, tetapi apakah al-mutafaihiqûn? Beliau menjawab: “Orang-orang yang sombong”. (HR Tirmidzi, no. 2018).

 

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda ; “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdo’a: “Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.” (H.R. Imam Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar).

Mari kita wudhu dulu sebelum tidur…

 

Apabila bangun dari tidur, maka Rasullallah sallallahu alaihi wasallam membaca doa:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
‘ALHAMDU LILLAAHIL LADZII AHYAANAA BA’DA MAA AMAATANAA WAILAIHINNUSYUURU’ Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami dan hanya kepada-Nyalah tempat kami kembali.’ (HR. Muslim:2711)
Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda:  “Setan mengikat tiga ikatan pada tengkuk salah seorang di antara kalian, pada setiap ikatan ia membisikkan; malam masih panjang, maka tidurlah dengan nyenyak!.” Dan satu kali ia mengatakan: “pada setiap ikatan ia membisikkan kepadanya; malam masih panjang!.”
Beliau berkata:  “jika ia terbangun lalu berdzikir(berdo’a) kepada Allah `Azza wa Jalla maka terurailah satu ikatan,  lalu jika ia berwudhu maka terurailah dua ikatan, dan jika ia melaksanakan shalat maka terurailah ketiga ikatan itu dan ia akan menyongsong esok hari dengan hati yang lapang dan semangat membara,  namun jika ia tidak (melakukan hal itu) maka keesokan harinya ia akan merasakan kesempitan hati dan kemalasan.” (HR. Ahmad 7007).
“Dari ‘Aisyah Radhiallahu Anha ;
 “Nabi Sallalahu ‘Alaihi Wasallam apabila berbaring di tempat tidurnya pada setiap malam Baginda mengangkat kedua tangannya (seperti berdo’a), lalu meniup Dan membaca surah al-Ikhlas, surah al-Falaq, surah an-Nas, kemudian Baginda menyapukan tangannya itu ke seluruh badan yang dapat disapunya mulai dari kepalanya dan mukanya dan bagian depan dari badannya, Baginda melakukannya sebanyak tiga kali.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmizi).
Membaca ayat kursi …
اللَّهُ لآ إِلَهَ إِلأ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لآ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلآ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلأ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلآ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلآ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلآ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيم [البقرة: 255
Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah; Jika kamu beranjak ke tempat tidurmu maka bacalah ayat Al-kursi sampai selesai, karena kamu akan selalu mendapat penjagaan dari Allah, dan syaitan tidak akan mendekatimu sampai pagi. [Sahih Bukhari dan Muslim].
BerDo’a sebelum dan sesudah tidur
بسم الله الرحمن الرحيم
Hudzaifah berkata: Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam jika hendak tidur membaca …
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا
“Dengan nama-Mu ya Allah aku mati dan hidup”.
Dan jika bangun dari tidur membaca …
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya lah tempat kembali”. [Sahih Bukhari].
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca (zikir):
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah Ta’ala), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setan-setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan) seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah Ta’ala)” [HR.Abu Dawud].
Semoga kita senantiasa bisa mengamalkannya, Dan selalu berusaha dan tawakal kepada Allah subhanahu wata’ala, sehingga kita selalu dijaga dan dicukupi oleh Allah Azza wa Jalla.
“Setiap pagi setiap persendian salah seorang diantara kalian harus (membayar) sadaqah, maka setiap tasbih adalah sadhaqah, setiap tahmid adalah sadhaqah, setiap tahlil adalah sadaqah, setiap takbir adalah sadaqah, amar ma’ruf adalah sadaqah, mencegah kemungkaran adalah sadaqah, tetapi dua raka’at dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut” (HR Muslim).
Doa Dhuha ;
“Ya Allah, bahwasanya waktu dhuha itu waktu dhuha (milik) Mu, kecantikan ialah kencantikan (milik) Mu, keindahan itu keindahan (milik) Mu, kekuatan itu kekuatan (milik) Mu, kekuasaan itu kekuasaan (milik) Mu, dan perlindungan itu perlindungan Mu. Ya Allah, jika rizqiku masih diatas langit, turunkanlah, dan jika ada di didalam bumi, keluarkanlah, jika sukar, mudahkanlah, jika haram maka berikanlah yang halal, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba Mu yang shaleh”.
Allah berfirman: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kelurusan.” (Al-Baqarah: 186).
Dan semua do’a, oleh Allah subhanahu wata’ala akan dikabulkan. mengenai kapan itu, kita tidak mengetahuinya…
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda : “Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa kepada Allah dengan satu doa yang tidak ada di dalamnya dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah memberikan kepadanya dengan doa tersebut salah satu dari tiga perkara: Bisa jadi permintaannya disegerakan, bisa jadi permintaannya itu disimpan untuknya di akhirat nanti, dan bisa jadi dipalingkan/dihindarkan kejelekan darinya yang sebanding dengan permintaannya.”.
Ketika mendengar penjelasan seperti itu, para shahabat berkata: “Kalau begitu kita akan memperbanyak doa.”  Nabi Shallalahu ‘alaihi wa Sallam  menjawab: “Allah lebih banyak lagi yang ada di sisi-Nya (atau pemberian-Nya).” (HR. Ahmad ).
Marilah kita berdo’a (meminta) kepada Allah subhanahu wata’ala sebanyak mungkin, Dan kita adukan semua masalah kita, hajat (keperluan) kita, hanya kepada Allah subhanahu wata’ala.
 

 

 

 
 

 

 

Agama adalah Rahmat Allah.

Agama adalah Rahmat Allah.

Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin

Setiap Rasul membawa rahmat bagi ummat manusia. Wahyu yang diterima dari Allah SWT yang mengu­tus Rasul‑Rasul sejak awal hingga Muhammad SAW membawa manusia ke Rahmat Allah. Nabi Muhammad membawa rahmat bagi seluruh ummat manusia. Tidak semata di zaman dia diutus, atau  se masa hidupnya semata. Rahmat yang dibawanya berlaku selalu sepanjang masa Bahkan untuk berabad‑abad mendatang, hingga datangnya kiamat. Ajaran yang dibawanya, yakni Dinul Islam, tidak terba­tas hanya di lingkungan tanah kelahirannya saja. Ajaran Islam yang dibawanya melingkupi seluruh sudut bumi, dan universal.

Kalau diteliti sejarah kemanusiaan, mulai manusia pertama, dan kita bandingkan dengan keadaan manu­sia kita sekarang, maka jumlah manusia masa lalu, tentu lebih sedikit dari manusia masa kini. Perkembangan masa, jumlah manusia selalu bertambah, penduduk bumi semakin padat, dan berjibun problematika dalam kehidupan yang mendunia. Bila kita sadar, menengok ke belakang, mengambil garis balik pendu­duk dunia dari masa ke masa, akan terlihat jumlah penduduk manusia di dunia, angkanya terus menurun, semakin jauh mundur, semakin sedikit jumlah yang dihitung, akhirnya sampai pada hitungan awal, hanya dua orang saja (Adam dan Hawa), sebagai cikal bakalnya. Pertambahan penduduk, merupakan sesuatu yang sangat alami, sesuai dengan hukum alam, terdiri dari dua jenis manusia lelaki dan wanita. Al‑Qur’an menje­laskan lebih rinci, berawal dari kejadian manusia seorang diri (Adam), kemudian dijadikan untuknya seorang pasangan (Hawa), kemudian dari keduanya berkembang-biak manusia, hingga kini, esok dan seterusnya, seperti dinukilkan Alquran Surah ke 4, An‑nisa’, ayat 1.

GambarKejadian manusia sungguh luar biasa. Kita yakin, manusia pertama itu, pasti tidak kera, juga tidak monyet, atau makhluk lain yang tidak sejenis manusia. Tentulah manusia pertama itu, adalah manusia juga, seperti kita. Itu sudah pasti dapat dicerna akal sehat. Hubungan terpendek, adalah ibu dan bapak kita masing‑masing, bersambung terus ke atas, hingga sampai pada manusia asal, manusia pertama. Hukum ini, berterima dalam jalur pikiran manusia.

Sebelum kita ada, kita tidak mengetahui, kita ada dimana, bahkan tidak tahu bagaimana keadaan kita. Alangkah minim­nya ilmu kita tentang diri kita ini, sebelumnya. Namun kita yakin, keberadaan kita melalui satu proses “kelahiran”. Tidak seorang manusia pun, yang keberadaannya di sini, tanpa melalui “rahim ibu”. Walaupun di dalam penciptaan “bayi tabung” sekalipun hingga hari ini. Sungguh luar biasa, penciptaan manusia, yang menge­tengahkan satu proses, dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Tidak kah hal ini mengundang kita untuk merenungkan keberadaan kita sekarang? Dan banyak lagi pertanyaan yang tindih bertindih. Akhirnya, hanya bermuara kepada Maha Suci Allah, Maha Pencipta.

Karena itu, jangan lupa berterima kasih, jangan lengah dari memperhatikan semua ciptaan Allah. Keingi­nan untuk mengucapkan terima kasih, tidak pernah keluar dari diri kita, karena tidak pernah tahu, karena kita tidak mengerti apa yang harus diberi ucapan terima kasih. Akal kita menjadi beku, karena kita tidak berkehendak menyelidiki nikmat Allah. “Dan Dia (Allah) ajarkan kepaa Adam nama‑nama (benda) seluruhnya” (QS. 2  Al‑Baqarah, ayat 31). Peristiwa ini, sudah lama terjadi. Sejak bumi pertama kali didiami manu­sia pertama (Adam). Allah mengajarkan pengertian‑pengertian tentang benda‑benda, memberikan kepada  manusia akal, yang mampu menyerap ilmu, kemudian mengungkapkan dalam berbicara.

Manusia pun dibedakan dengan makhluk lain, di anta­ranya dengan kemampuan mensyukuri ni’mat Allah. Allah mengajarkan pertama kali kepada manusia, ilmu berkata‑kata, melalui pengenalan benda‑benda. Karena itu, bagaimanapun bentuk ilmu pengetahuan pada saat sekarang dan masa datang, Alquran akan tetap menjadi penuntun manusia, agar tidak terjerumus kepada dalamnya jurang kehinaan. Ajaran agama, sangat berbeda dengan ilmu‑ilmu penge­tahuan ciptaan manusia.

Ilmu pengetahuan, mengarah kepada persoalan yang khas duniawi, bersifat mengembangkan teori, mengadakan eksperi­men, tidak mampu merobah watak manusia secara utuh. Ilmu pengetahuan hanya mampu memindahkan “pengetahuan”, kepada siapa yang mempelajarinya. Ilmu pengetahuan kedokteran, hanya mampu mengubah sesuai dengan kepentingan ilmu itu sendiri.

GambarKita telah mengabaikan ilmu, yang merupakan pemberian Allah, hingga kita termasuk juga orang‑orang yang tak berilmu untuk itu. Orang yang tak berilmu, pada hakekatnya adalah orang yang tidak berakal. Orang yang tak berakal, adalah orang yang tak pernah mengucapkan terima kasih.  Agama hanya bagi orang‑orang yang berakal. Ujungnya manusia yang tak pandai berterima kasih kepada Allah Yang Maha Menjadikan manusia itu sendiri, bagaimana bisa dituntut untuk berterima kasih kepada semua manusia sendiri ?

Terima kasih, dibuktikan dengan ketundukkan, penghambaan dan pengabdian. Merasa diri kecil dihadapan Yang Maha Pemberi, Maha Rahman dan Maha Rahim. Pengham­baan, merupakan bukti dari sebuah kecintaan yang luhur, siapapun yang mencintai sesuatu, berarti dianya bersedia memperhambakan diri kepada yang dicintainya. Inilah salah satu tujuan umat bertaqwa dengan ibadah puasa, “la’allakum tasykurun”, agar pandai berterima kasih (syukur) kepada Allah yang telah menjadikan semua-muanya.Wallahu a’lamu bi al-shawaab.***