Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Cinta, Education, Kesatuan Bangsa, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, PAUD, Pendidikan, Suluah Bendang di Nagari, Sumatera Barat
Peranan Guru Taman Kanak-kanak
Dalam Membangun Generasi Islami
Oleh : H. Mas’oed Abidin
Muqaddimah.
Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya, atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an). Dan sekali jangan menjadi kelompok keempat, yang tidak memiliki aktifitias keilmuan sama sekali. Yakni tidak mengajar, tidak pula belajar, serta enggan untuk mendengar”.
Peran Guru adalah sesuatu pengabdian mulia dan tugas sangat berat.
Kemuliaannya terpancar dari keikhlasan membentuk anak manusia menjadi pintar, berilmu dan mampu mengamalkan ilmunya, untuk kebaikan diri sendiri, kerluarga, dan kemaslahatan umat dikelilingnya.
Tugas itu berat, karena umat hanya mungkin dibuat melalui satu proses pembelajaran dengan pengulangan terus menerus (kontiniutas) serta pencontohan (uswah) yang baik. Maka, tidak dapat tidak pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dan semangat yang prima.
Keberhasilan akan banyak ditopang oleh kearifan yang dibangun oleh kedalaman pengertian serta pengalaman dalam membaca situasi serta upaya membentuk kondisi yang kondusif (mendukung) disekitar kita. Pemahaman ini sangat perlu ditanamkan tatkala kita mulai melangkah ke alaf baru.
Alaf Baru.
Alaf Baru, atau Millenium Baru yang diawali dengan abad keduapuluh satu, ditandai :
(a). mobilitas serba cepat dan modern,
(b). persaingan keras dan kompetitif,
(c). komunikasi serba efektif, dunia tak ada jarak seakan global village,
(d). akan banyak ditemui limbah budaya kebaratan westernisasi.
Alaf baru ini diyakini hadir dengan tantangan global yang tidak bisa di cegah. Pertanyaan yang segera meminta jawaban adalah, “Sudahkah kita siap menghadapi perubahan zaman yang cepat dan penuh tantangan ini?”
Semua elemen masyarakat sangat berkewajiban mempersiapkan generasi baru yang siap bersaing dalam era global tersebut.
Globalisasi membawa banyak tantangan (sosial, budaya, ekonomi, politik dan bahkan menyangkut setiap aspek kehidupan kemanusiaan.
Globalisasi menjanjikan pula harapan dan kemajuan seperti pertumbuhan ekonomi yang pesat, menjadi alat menciptakan kemakmuran. Masyarakat. Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara, sebelum terjadinya krisis ekonomi 1997, dampaknya masih terasa hingga hingga sekarang, selama tiga dasawarsa 1967-1997 pernah mengalami pertumbuhan ekonomi yang semu secara pesat.
Bank Dunia memasukkan kedalam “The Eight East Asian Miracle”, menjadi macan Asia bersama: Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong, Thailand, Singapura, Malaysia.[1]
Globalisasi membawa perubahan prilaku, terutama pada generasi muda (para remaja). Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih yang terhempas dipantai menjadi dzurriyatan dhi’afan. Generasi buih adalah suatu generasi yang berpeluang menjadi “X-G” the loses generation, tidak berani ikut serta didalam berlomba melawan gelombang samudera globalisasi.
Penyimpangan prilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak.
Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja. Penyebab utama karena;
· rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan.
· diperparah oleh hilangnya tokoh panutan,
· berkembangnya kejahatan orang tua,
· luputnya tanggung jawab lingkungan masyarakat,
· impotensi dikalangan pemangku adat,
· hilangnya wibawa ulama,
· bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis,
· profesi guru dilecehkan.
Prilaku umat juga berubah.
Interaksi dan ekspansi kebudayaan asing bergerak secara meluas.
Pengaruh budaya asing berkembang pesat, seperti ;
a. pengagungan materia secara berlebihan (materialistik),
b. pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik),
c. pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik).
Ketiga perangai dimaksud merupakan penyimpangan sangat jauh dari budaya luhur, yang pada akhirnya berpeluang besar melahirkan Kriminalitas, perilaku Sadisme, dan Krisis moral secara meluas.
Hilangnya keseimbangan moral (dis-equilibrium) dalam tatanan kehidupan bermasyarakat menyebabkan krisis-krisis, diantaranya ;
a. Krisis nilai. Akhlaq, etika individu dan moral sosial berubah drastik. Prilaku luhur bergeser kencang kearah tidak acuh. Kadang-kadang sudah mentolerir sesuatu yang sebelumnya disebut maksiat.
b. Krisis konsep pergeseran pandang (view) cara hidup, dan ukuran nilai jadi kabur. Sekolahan yang merupakan cerminan idealitas masyarakat tidak bisa dipertahankan.
c. Krisis kridebilitas dengan erosi kepercayaan. Pergaulan orang tua, guru dan muballig dimimbar kehidupan mengalami kegoncangan wibawa.
d. Krisis beban institusi pendidikan terlalu besar.Tuntutan tanggung jawab moral sosial kultural dikekang oleh sisitim dan aturan birokrasi. Kesudahannya, membelenggu dinamika institusi, akhirnya impoten memikul beban tanggung jawab. Krisis relevansi program pendidikan mendukung kepentingan elitis non-populis, tidak demokratis. Orientasi pendidikan beranjak dari mempertahankan prestasi kepada orientasi prestise, keijazahan.
e. Krisis solidaritas, dan membesarnya kesenjangan miskin kaya, dan kesempatan mendapatkan pendidikan tidak merata, kurangnya idealisme generasi remaja tentang peran dimasa datang.
Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai agama telah melahirkan tatanan hidup berpenyakit sosial kronis, antara lain ;
a. kegemaran berkorupsi.
b. Aqidah masyarakat bertauhid namun akhlak tidak mencerminkan akhlak Islami.
c. Melalaikan ibadah.
Antisipasi.
Umat mesti mengantisipasi dengan penyesuaian-penyesuaian agar tidak menjadi kalah. Dalam persaingan dimaksud, beberapa upaya semestinya disejalankan dengan ;
a. Memantapkan watak terbuka,
b. Pendidikan moral berpaksikan tauhid, mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar seperti tertera dalam QS.31, Lukman:13-17.
c. Integrasi moral yang kuat, berakhlak dan memiliki penghormatan terhadap orang tua, mempunyai adab percakapan ditengah pergaulan,
d. Pendalaman ajaran agama tafaqquh fid-diin, dan berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam yang universal, tafaqquh fin-naas.
e. Perhatian besar terhadap masalah sosial atau umatisasi, teguh memilih kepentingan bersama dengan ukuran moralitas taqwa, responsif dan kritis terhadap perkembangan zaman,
f. Mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan, memacu penguasaan ilmu pengetahuan,
g. Kaya dimensi dalam pergaulan mencercahkan rahmatan lil ‘alamin menampilkan kecerahan bagi seluruh alam.
h. Iman dan ibadah, menjadi awal dari ketahanan bangsa.
Ketahanan umat bangsa terletak pada kekuatan ruhaniyah keyakinan agama dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan.
Intinya adalah tauhid. Implementasinya akhlaq.
Maka umat masa kini hanya akan menjadi baik dan kembali berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu dikembalikan. Bertindak atas dasar mengajak orang lain untuk menganutnya. “Memulai dari diri sendiri, mencontohkannya kepada masyarakat lain”, (Al Hadist). Inilah cara yang tepat.
Bila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi (QS.7,al-A’raf:96).
Dakwah Risalah.
Ajakan kepada umat itu, tidak lain adalah seruan kepada Islam. Yaitu agama yang diberikan Khaliq untuk manusia, yang sangat sesuai dengan fithrah manusia itu. Islam adalah agama Risalah, yang ditugaskan kepada Rasul, dan penyebaran serta penyiarannya dilanjutkan oleh da’wah, untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia [2].
Perintah untuk melaksanakan tugas-tugas da’wah itu, secara kontinyu diturunkan oleh Allah SWT seperti,
a) Supaya menyeru kejalan Allah, dengan petunjuk yang lurus (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-46).
b) Seruan untuk menyembah Allah, kepada seluruh manusia . Perintah untuk menyeru Allah, tidak boleh musyrik, supaya meminta kepadaNya dan persiapan diri untuk kembali kepada-Nya (QS.Al Qashash, 28 : 87).
Pelaksananya setiap muslim.
Setiap mukmin adalah umat da’wah pelanjut Risalah Rasulullah yakni Risalah Islam. Umat yang menjadi harapan masyarakat dunia, semestinya meniru watak-watak, yang ditunjukkan oleh penda’wah pertama, Rasulullah SAW [3]
Untuk itu diperlukan setiap saat meneladani pribadi Muhammad SAW yang berguna sekali membentuk effectif leader di Medan Da’wah. Da’wah itu, menuju kepada inti dan isi Agama Islam (QS. Al Ahzab, 33 : 21).
Keberhasilan suatu upaya da’wah (gerak da’wah) memerlukan pengorganisasian (nidzam) (Al Hadist).[4]
Perangkat dalam organisasi selain dari orang-orang, adalah juga peralatan.
Satu dari peralatan terpenting adalah penguasaan kondisi umat, tingkat sosialnya dan juga budaya mereka ini bisa terbaca dalam peta da’wah (Yusuf Qardhawi, 1990). Peta da’wah, bagaimanapun kecilnya, memuat data-data tentang keadaan umat yang akan diajak tersebut.
Generasi Handal.
Perkembangan kedepan banyak ditentukan oleh peranan remaja sebagai generasi penerus dan pewaris dengan kepemilikan ruang interaksi yang jelas menjadi agen sosialisasi guna menggerakkan kelanjutan survival kehidupan kedepan.
Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap;
a. daya kreatif dan innovatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin,
b. kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi,
c. tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.
d. memahami nilai‑nilai budaya luhur,
e. siap bersaing dalam knowledge based society,
f. punya jati diri yang jelas, hakekatnya adalah generasi yang menjaga destiny,
g. individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa,
h. motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan,
i. memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, yang memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.
Semestinya dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat.
Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.
Generasi baru yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.
Generasi muda akan menjadi aktor utama dalam pentas kesejagatan di alaf (millenium) baru. Karena itu, generasi muda (remaja) harus dibina dengan budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi.
Generasi masa depan (era globalisasi) yang diminta lahir dengan
a. budaya luhur (tamaddun),
b. berpaksikan tauhidik,
c. kreatif dan dinamik,
d. memiliki utilitarian ilmu berasaskan epistemologi Islam yang jelas,
e. tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan).
Sumbangan Ummat Islam.
Prakarsa umat Islam di Indonesia terhadap perguruan Islam, lazimnya disebut Madrasah atau Pesantren, sangat signifikan bahkan sangat dominan. Sepanjang sejarah pendidikan Islam di Indonesia, khususnya di Minangkabau sejak lama, dalam pendirian, pengembangan, pemberdayaan pendidikan madrasah sangat besar.
Buktinya bertebaran pada setiap daerah, bahkan sampai kepelosok kampung-kampung. Sumatera Thawalib, Madrasah Diniyah Islamiyah, baik tingkat awaliyah, tsanawiyah, bahkan ‘aliyah, sudah dikenal sejak lama. Sebagai contohnya ditemui dimana-mana.[5]
Pendidikan yang akan dikembangkan adalah pendidikan akhlak, budi pekerti.
Maka akhlak karimah (budi pekerti sempurna) adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah diri dalam menerima ilmu-ilmu lainnya.
Ilmu yang benar membimbing umat kearah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh (baik).
Dapat diyakini bahwa Akhlak merupakan,
- jiwa pendidikan,
- inti ajaran agama,
- buah dari keimanan.
Pendidikan dan Dakwah
Mendidik tidak dapat dipisah dari satu gerakan dakwah.
Menggalang saling pengertian, koordinasi sesamanya mempertajam faktor-faktor pendukungnya, membuka pintu dialog persaudaraan (hiwar akhawi). Ada baiknya di pelajari pembentukan efektif leader dari Rasulullah SAW dan ini merupakan salah satu kunci keberhasilan da’wah Rasulullah.
Aktualisasi dari nilai-nilai Al-Qur’an itu, hanya bisa diselesaikan dengan satu gerak amal nyata yang berkesinambungan (kontinyu), berkapasitas terhadap seluruh aktivitas kehidupan manusia, melalui ;
kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik,
mengajak (da’wah) , merapatkan potensi barisan (shaff),
mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama (jamaah),
Gerakan ini membuahkan agama yang mendunia (globalisasi agama). Usaha ini akan menjadi gerakan antisipatif terhadap arus globalisasi negatif pada abad-abad mendatang. Al-Qur’an telah mendeskripsikan peran agama Allah (Islam) sebagai agama yang kamal (sempurna) dan nikmat yang utuh, serta agama yang diridhai (QS.Al Maidah, 5 : 3).
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah secara ikhlas, yakni orang Muslim, merekapun mengerjakan kebaikan-kebaikan” (QS. An Nisak, 4 : 125).
Karena itu setiap Muslim, dengan nilai-nilai Al Qur’an wajib mengemban missi yang berat dan mulia (mission sacre), yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran. Inilah yang dimaksud secara hakiki “perjalanan kepada kemajuan (al madaniyah, modernitas)”.
Semuanya berkehendak kepada gerak yang kontinyu, utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin diraih dengan kerja sambilan. Karena buah yang dipetik adalah sesuai dengan bibit yang ditanam. Begitu suatu natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami).
Dalam langkah da’wah Ila-Allah, setiap muslim berkewajiban menapak tugas tabligh (menyampaikan), kemudian mengajak (da’wah) kemudian mengwujudkan kehidupan agama yang mendunia (dinul-harakah al-alamiyyah). Inilah tugas dan peran “umat da’wah” menurut nilai-nilai Al-Qur’an (QS. Ali Imran, 3 : 104 ).
“Perjalanan kepada kemajuan” ini tidak perlu ditunggu waktu sampai besok, kerjakan dari sekarang mana yang bisa dikerjakan,dan mulailah dengan apa yang ada, karena yang ada itu sebenarnya sudah amat cukup untuk memulai. Begitu mabda’ (prinsip) satu gerak amal yang disebut “harakah Islamiyah” di masa persaingan ketat sekarang.
Setiap Muslim harus memulai melakukan perbaikan (ishlah). Dimulai dengan,
(1). Ishlahun-nafsi, yaitu perbaikan kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu dan kepada lingkunganmu” (Al Hadist).
(2) Islahul-ghairi yaitu perbaikan kualitas terhadap lingkungan menyangkut masalah keluarga, hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang dikenal sebagai pembangunan yang bersifat sustainable development atau pengembangan pembangunan yang berkesinambungan.
Da’wah ini tidak akan berhenti dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang senantiasa berubah. Jumlah pendidikan Islam (madrasah, taman kanak-kanak Islam) berkembang atas inisiatif masyarakat Muslim ditengah komunitasnya. Ekspansi ormas Islam seperti Muhammadiyah, Perti dan lainnya gesit sekali. Fenomena diakhir abad keduapuluh menggambarkan telah terjadi stagnasi yang signifikan.[6]
Jika kondisinya demikian, peran serta bagaimana yang dituntut kepada masyarakat ? Rasanya tidak adil kalau pihak pemerintah menuntut lebih banyak dari masyarakat, khususnya dalam bidang dana dan daya (tenaga pengajar).
· Langkah awal menanamkan kesadaran tinggi (to create the high level awareness), kesadaran tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Langkahnya perlu dengan penggarapan secara sistematik dan pen-dekatan proaktif mendorong terbangunnya proses pengupayaan (the process of empowerment).
· Langkah kedua melakukan tahapan perencanaan dengan rangka kerja yang terarah, terencana mewujudkan keseimbangan dan minat (motivasi) dan gita kepada iptek, keterampilan dan pemantapan siyasah. Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam peng-upayaan. Konsep-konsep visi, misi, selalu terbentur dalam pencapaian oleh karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya.
· Langkah ketiga memantapkan tahapan pelaksanaan aktualisasi secara sistematis (the level of actualization). Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus disamping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu pembentukan kualita pendidik (murabbi) yang sedari awal mendapatkan pembinaan. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik dan bukan utopis.
Pemberdayaan Ummat.
- Dalam pemberdayaan manajemen pendidikan, yakni dalam peningkatan managemen yang lebih accountable, baik dari segi keuangan maupun organisasi. Melalui peningkatan ini, sumber finansial masyarakat dapat dipertanggung jawabkan secara lebih efisien dan peningkatan kualitas pendidikan dapat dicapai. Segi organisasi lebih menjadi viable (dapat hidup terus, berjalan, bergairah, aktif dan giat) dan juga durable (dapat tahan lama) sesuai perubahan dan tantangan zaman.
- Peran serta masyarakat dalam pengembangan dengan quality oriented., berkualitas unggulan, sehingga mendorong madrasah menjadi lembaga center of exellence, yang menghasilkan anak didik berparadigma ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama plus keterampilan.
Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber sumber belajar yang terdapat didalam masyarakat sehingga sistim pendidikan Islam tidak terpisah dan menjadi bagian integral dari masyarakat Muslim keseluruhan.
Melalui pengembangan ini madrasah bisa menjadi core, inti, mata dan pusar dari learning society, masyarakat belajar. Sasarannya, membuat anak didik menjadi terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated ditengah masyarakatnya.
Setiap Muslim harus jeli (‘arif) dalam menangkap setiap pergeseran yang terjadi karena perubahan zaman ini. Harus mampu menjaring peluang‑peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan. “Laa tansa nashibaka minaddunya”, artinya “jangan sampai kamu melupakan nasib/peranan kamu dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77).
Membentuk Sumber Daya Ummat.
Kita berkewajiban membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi Sumber Daya Umat (SDU) yang bercirikan kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong”, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas.
Untuk itu, beberapa model perlu dikembangkan dikalangan para pendidik.
· pemurnian wawasan fikir disertai kekuatan zikir,
· penajaman visi,
· perubahan melalui ishlah atau perbaikan,
· mengembangkan keteladanan uswah hasanah,
· sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi.
· Menguatkan solidaritas beralaskan pijakan iman dan adat istiadat luhur, “nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”
Intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.
Langkah Kedepan.
a. pembinaan human capital melalui keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan,
b. pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualiti, memiliki jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif.
c. Mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan generasi muda.
d. Langkah drastik mencetak ilmuan Muslim yang benar-benar beriman taqwa.
e. Pembinaan minat dan wawasan generasi muda kedepan yang bersatu dengan akidah, budaya dan bahasa bangsa.
f. Secara sungguh-sungguh mewujudkan masyarakat madani yang berteras kepada prinsip keadilan (equity) sosial yang terang.
Sungguh suatu nikmat yang wajib disyukuri. “Lain syakartum la adzidannakum“, bila kamu mampu menjaga nikmat Allah (syukur), niscaya nikmat itu akan ditambah.
Khatimah.
a. Kemenangan hanya disisi Allah. Sesuai Firman Allah yang artinya, “(Ingatlah!), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankan-Nya bagimu : “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang dating berturut-turut”. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirimkan bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.8, Al-Anfal : 9-10).
b. Allah akan menolong setiap orang yang membantunya. Firman Allah menyebutkan : Artinya, “Jika Allah menolong kamu, maka tidak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberikan pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu selain dari Allah sesudah itu ? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakkal” (QS.3, Ali “Imran : 160).
c. Kuatkan hati, karena Allah selalu beserta orang yang beriman. Sesuai Firman Allah Artinya, “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, yaitu ketika orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Muhammad dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.9, at-Taubah : 40).
Upaya ini dapat dilakukan dengan cara ;
· memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga,
· memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ,
· fungsionalisasi peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif,
· memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung jawab patah tumbuh hilang berganti
· menanamkan aqidah shahih (tauhid), dan istiqamah pada agama yang dianaut,
· menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur (Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlaq akan melahirkan saintis tak bermoral agama, konsekwensinya ilmu banyak dengan sedikit kepedulian )
· Menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah
· penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam
· melazimkan musyawarah dengan disiplin dan teguh politik, kukuh ekonomi
· bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya Islam yang benar. Sesuatu akan selalu indah selama benar.
Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.
Demikianlah, semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan Hidayah-Nya, amin.
[1] Dalam bidang ekonomi ini, negara‑negara Asean menikmati pertumbuhan rata‑rata 7‑8 % pertahun, sementara Amerika dan Uni Eropa hanya berkesempatan menikmati tingkat pertumbuhan ekonomi rata‑rata 2,5 sampai 3 % pertahun. Populasi Asean sekarang 350 juta, diperkirakan tahun 2003 saat memasuki AFTA, populasi ini akan mencapai 500 juta (Adi Sasono, Cides, 1997).
Sayang sekali, pertumbuhan ekonomi ini tidak dapat dipelihara. Maka scenario pertumbuhan untuk tahun 2019, atau APEC, dimana termimpikan kawasan ini akan menguasai 50,7 % kekayaan dunia, Amerika dan Uni Eropa hanya 39,3% dan selebihnya 10 % dikuasai Afrika dan Amerika Latin (Data Deutsche Bank, 1994), tampaknya jauh panggang dari api.
Bila mimpi ini menjadi kenyataan, apa artinya semua ini? Kita akan menjadi pasar raksasa yang akan diperebutkan oleh orang‑orang di sekeliling. Bangsa kita akan dihadapkan pada “Global Capitalism”. Kalau kita tidak hati‑hati keadaan akan bergeser menjadi “Capitalism Imperialism” menggantikan “Colonialism Imperialis” yang sudah kita halau 50 tahun silam. Dengan “Capitalism Imperialism” kita akan terjajah di negeri sendiri tanpa kehadiran fisik si penjajah.
[2] Tugas seperti ini, menjadi tugas para Rasul sebelumnya. Menjadi sempurna dan lengkap dengan keutusan Muhammad. Maka, manusia (umat) menjadi penerus dan pelaksana da’wah itu terus menerus sepanjang masa (QS. Ar-Ra’d, 13 : 35). Ditegaskan dalam kalimat sederhana tapi padat, bahwa da’wah kita adalah Da’wah Ila-Allah (QS. Ali Imran, 3 : 104).
[3] (Mohammad Natsir, Tausiyah 24 tahun Dewan Dakwah, Media Dakwah, Jakarta 1992, Da’wah kita adalah Da’wah Ila-Allah).
[4] Menurut bimbingan Rasulullah bahwa al haqqu bi-laa nizham yaghlibuhu al baathil bin-nizam bermakna bahwa yang hak sekalipun, tetapi tidak mengindahkan pengaturan (organisasi) senantiasa akan di kalahkan oleh yang bathil tetapi dijalankan terorganisir. Allah menghendaki, kelestarian Agama ini dengan kemampuan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak bersifat bersitegang.
[5] Para thalabah lulusan madrasah dan pendidikan sistim surau, umumnya berkiprah dikampung halaman setelah selesai menuntut ilmu, dengan mendirikan sekolah-sekolah agama, bersama-sama dengan masyarakat, memulainya dari akar rumput. Pemberdayaan potensi masyarakat digerakkan secara maksimal dan terpadu untuk menghidupkan pendidikan Islam, untuk mencerdaskan umat dan menanamkan budi pekerti (akhlak Islami), seiring dengan berlakunya kaedah adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Semuanya didorong oleh pengamalan Firman Allah, “Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS.IX, at Taubah, ayat 122).
[6] Merosotnya peran kelembagaan pendidikan madrasah di Minangkabau dalam bentuk surau, mendorong para elit untuk mengadopsi istilah pondok pesantren yang semula nyaris diidentikkan dengan perguruan tradisional di Jawa.
Diarsipkan di bawah: ABS-SBK, Bahasa Minang, Buya Masoed Abidin, Kesatuan Bangsa, Masyarakat Adat, Minangkabau, Pergaulan, Pesan Rang Gaek, Suluah Bendang di Nagari, Sumatera Barat
Pasan Rang Gaek
Tau di nan ampek
Diulang-ulang baliek dek :
Buya H.Mas’oed Abidin
Di ranah bundo Minangkabau ko ado ampek macam kato-kato, atau caro manyampaikan parundiangan.
Ado namonyo kato mandaki, dari bawah ka ateh, aratinyo dari anak-anak ka urang tuo, dari kamanakan ka mamak, nan samustino mamakai caro-caro sopan santun.
Talabiah-labiah bakeh urang tuo (bapak mandeh) nan alah malahiakan kito, manggadangkan jo maaja awak.
Sasuai bana jo ajaran agamo Islam, kok mangecek ka mandeh nantun bapakaikan qaulan kariman, aratino kato-kato nan lamah lambuik, kato-kato nan panuah ka muliaan.
Ado pulo namono kato malereang, nan panuah ba isi kieh jo bandiang, baisi patunjuak jo pangaja, biasonyo di pakai dalam pambicaraan antaro urang arih bijaksano.
Ado lo tampek malatakkanno.
Indak hanyo sakadar mambaco apo nan tampak, tu.
Inyo indak mangecek apo nan takana, tapi labiah dahulu mangana-ngana apo nan ka di kecekkan.
Buah tutua nyo [anuah baisi hikmah pangaja.
Kadang-kadang batingkah jo pituah jo papatah.
Aluih tasamek di dalam bana, ta latak di dalam hati, sajuak di kiro-kiro.
Ado lo namono kato mandata, kato bajawab gayuang basambuik samo gadang.
Kadang baisi galuik jo garah, paningkah lamakno pagaulan.
Indak manyingguang suok kida, panguek buhua rang mudo-mudo, abih tingkah dalam garah, kato palanta dek rang saisuk, nan elok ka pangaja, nan buruak samo di tingga-an.
Ingek-maingekkan adaik hiduik dek nan mudo, indak mampabia kawan tatungkuik, indak manuhuak kawan sairing, indak mangguntiang dalam lipatan.
Baitu adaik samo gadang, disinan iduik mangkono sero.
Ado lo namono kato manurun.
Dari nan gadang ka nan ketek, baisi nasihaik jo pitunjuak, ka jadi padoman dek nan ketek.
Panuah ba isi kasih jo sayang, manjadi suri jo tauladan.
Jarang ba-isi kato bangih, jauh nan dari hariak jo berang, indak pulo mahantak kaki, jauh dari manampiak dado.
Baitulah, kalau kato nan ampek ko lai tatap jadi paratian kito, Insya Allah di dalam hiduik di dunia nan fana ko kito ka salamaik, dan di akiraik tantu kita ka bahagia pulo.
Salanjuikno kito bisa pulo maninggakan katurunan (genrerasi, kato rang kini) nan arih-bijaksano, nan bisa manjadi pamimpin di tangah-tangah kahidupan urang banyak.
Buruak sabuik di ranah bundo, kalau rang minang indak tau lai di nan ampek ko. Indak tau di nan bana, indak lo tau di nan salah. Indak tau di nan di suruah. Indak lo tau jo nan di tagah.
Alamaik sansaro badan jadino.
Urang nan bijaksano, hanyolah nan tau di alamaik maso lalu, tau di tujuan maso datang, tau di jalan nan sadang batampuah, tau lo di tampek parantian.
Baitulah handakno hiduik nangko.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala salalu mambimbiang kito kapado ka arifan nan alah di ajakan dek alam ta kambang nan jadi guru ko.
Insya Allah.
Diarsipkan di bawah: ABS-SBK, Buya Masoed Abidin, Kesatuan Bangsa, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Pergaulan, Pesan Rang Gaek, Politik, Suluah Bendang di Nagari, Sumatera Barat
Pituah Rang Gaek
Tau di jalan kapulang,
Raso di baok naiak, Pareso di bao turun)
Diulang-ulang dek
Buya H. Mas’oed Abidin
Di dalam Agamo Islam, kito (manusia) nan hiduik di dunia nanko, dijadikan untuak mamikua baban nan mulia, sabagai khalifah Tuhan di muko bumi.
Nan kamambangun, kamampaeloki, kamanjago apo nan ado goh. Karano tu, baban tu manjadi sangaik mulia, sasuai bana jo kajadian kito sebagai makhluk Allah nan tapiliah. Itulah fitrah awak.
Firman Allah di dalam Al Quranul Karim manyabuikan, “ wa laqad karramnaa banii Adam” , araatinyo, “sungguh Kami alah mamuliakan bani Adam, (yaitu anak cucu Adam) yaitu kito nan banamo manusia ko” (lieklah Al Quran, surat 17, ayat 70).
Balain bana jo makhluk Allah nan lain.
Apokoh itu malaekaik, flora atau fauna nan ado, nampaknyo kito ko indak bisa disamoan jo mareka doh.
Kalabiahan kito sabagai makhluk Allah itu, indak sajo dari rupo jo bantuak nan elok, tapi diagiahnyo kito dek Allah “kacerdasan aka pikiran” nan indak dipunyoi dek makhluk nan lain.
Salain tu kito dibari pulo dek Allah nan Maha Mulia tu, “kacerdasan ati atau parasaan”.
Sahinggo kito tau raso jo pareso.
Raso dibao naiak, pareso dibao turun. Raso dari ati ka kapalo, pareso dari kapalo ka alam nyato.
Nan pangabisan ko jaleh-jaleh hanyo dipunjoi dek makhluk nan banamo manusia.
Barangkali, kaduo bantuak kacerdasan ko lah nan kini dek urang-urang nan ba-ilimu di sabuik jo bahaso urang disinan sebagai “intelektual inteligensia” dan “emosional inteligensia” tu.
Kok nyampang kaduo kecerdasan ko indak kito punyoi, tantulah hiduik kito indak manantu.
Indak tau ereng jo gendeang, indak tahu rantiang nan ka malatiang, indak jaleh batu nan ka manaruang, doh.
Nan labiah padiehnyo, disabuik urang kito
indak tau diuntuang.
Labiah jauh barangkali, kito indak ka mangarati nan paralu, nan musiti di dahulukan, atau nan patuik dikudiankan.
Alhamdulillah, kito dijadikan Allah makhluk nan sangaik elok dalam rupo, sangat cadiek jo pikiran, sangat haluih jo parasaan.
Tapi kok nyampang kaduo anugerah Allah nan sangat mulia ko indak kito paliharo elok-elok, aratinyo pikiran kito indak di asah jo ilmu pangatahuan nan paguno, dan hati atau kalbu kito indak dibari ingek jo nan baik dan patuik-patuik, mako indak dapek indak, kito ka jatuah maluncua jadinyo.
“Sanasadrijuhum min haitsu laa ya’lamuun”.
Aratinyo, kalau kito indak bahati-hati mampagunokan hati kito masiang-masiang, nanti Allah kan maluncua-kan kito sakalian pado tampek nan kito indak manyadarinyo.
Baitulah paringatan Allah kapado kito basamo.
Pakaro manuntuik ilmu, untuk ma asah utak, iyolah jaleh di awak basamo, bahaso itu manjadi kawajiban satiok urang nan ba-iman (uthlubul-’ilma faridhatan ‘alaa kulli muslimin wa muslimah), aratinyo “manuntuik ilmu tu wajib bagi muslim laki-laki jo padusi”.
Bahkan manuntuik ilmu ko indak sakadar di nagari awak sajo, di suruah jauh-jauh ka nagari urang (kalau paralu kanagari urang bamato sipik, nagari Cino, asal indak marantau cino see lah). Kok dapek pintak jo pinto, kana-kana juo kampuang tampek pulang.
Kampuang tampek pulang tu aratino duo macam.
Paratamo iolah kampuang mandeh, tanah tumpah darah, saroman papatah nan kito baco sahari-hari, sungguahpun ujan ameh di rantau urang, kampuang halaman dikana juo.
Sa jauah-jauah tabang bangau nan tampek hinggokno, bancah baraia di kana juo.
Nan kaduo, tampek kumbali adolah kampuang akiraik (yaumil aakhir), nan indak dapek indak musti ka kito jalang suatu katiko nanti. Bahaso Agamo awak manyabuik-kan “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”.
Mukasuiknyo; dari Allah awak ko datang, kapado Allah pulo kito ka babaliak.
Urang nan indak tau tampek babaliak, biasonya sasek di tangah jalan.
Di situ lah sabananyo talatak cerdas (pintar, pandai) tu.
Urang awak di ranahbundo manyabuikkan, urang nan cadiak tu iolah urang nan tau tampek babaliak.
Urang nan mangarati tampek pulang.
Jan di paturuikan sajo kato hati. Mangarajokan nama nan taraso, manuruik nama nan tampak, atau maniru nama nan di karajo kan urang, indak tau barih jo balabeh tu namonyo.
Buruak cando kato rang banyak.
Urang nan saroman nantun di dalam ciloteh urang banyak di katokan: urang nan barajo di hati, nan basutan di mato.
Karano indak jaleh tampek pulang, mako,
di kacak batih yo lah bak batih, di kacak langan lah bak langan, di kacak pinggang iyolah bak pinggang, di agiah pitih sapitih manggaritih, dapek pitih sakupang inyo manggaretang.
Disiko lah kalabiahan kito sabagai urang Minangkabau, nan iduik jo adaik, di tuntun dek agamo (Islam).
Sakitu dulu pangajian awak, kok ado wakatu dilain maso kito sambuang pulo. Insya Allah.
Mudah-mudahan kito dapek maambiak palajaran nan dalam untuk manampuah galombang hiduik nangko.
Amin.
Diarsipkan di bawah: Adat istiadat, Bahasa Minang, Buya Masoed Abidin, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Pesan Rang Gaek, Sumatera Barat
Pituah Rang Gaek (5).
Hiduik ba-radaik jo ba-ugamo
Diulang-ulang baliek dek :
Buya H.Mas’oed Abidin
Indak salah urang tuo-tuo kita mangecek-an bahaso tando urang Minang tu baradaik, dan tando urang baradaik tu ba-agamo.
Memang sanyatonyo, sa jaek-jaek urang Minang tu lai kajadi indak mangarajokan syariat agak sakali, tapi kalau di ingekkan padonyo tantang iduik ko kamati, capek inyo babaliak ka nan baik.
Kecerdasan hati (raso) itu talatak pado duo hal nan sangaik jaleh.
Nan Paratamo, iyolah pandai “ba syukur nikmat”.
Taraso bahaso nan ado di tangan awak ko adolah pambarian (nikmat anugerah) dari Allah nan Maha Menjadikan kito. Indak mungkin kito sampai pado tingkek saroman kini ko kalau indak ateh izin dari Allah.
Karano tu sangat paralu bana kito mamaliharo apo nan kita punyo kiniko (apo itu kesehatan, ukatu nan baiak, kasampatan nan ado, harato nan kito punyo, umua nan tasiso kiniko) di pakaikan kapado nan sabana-bana di sukoi Nyo.
Insya Allah, kito kana bana janji Allah tuh, “lain syakartum la-azidan-nakum, wa lain kafartum, inna ‘adzaabi lasyadiid” aratino, “kalau lai pandai mansyukuri nikmaik Allah ka di tambah-tambah nikmaik tu, tapi kalau di kufuri (aratino di pagunokan ka pado nan indak di katujui), sungguah azab den (kato Allah) padiah sakali.
Sahubuangan jo ayaik Allah ko, ado pasan Rang Gaek awak,
ingek-ingek sabalum kanai, kulimek sabalun abih.
Sasa dahulu pandapatan, sasa kudian yo indak adoh kaguno-nyo.
Nan kaduo, adolah “sanggup atau bisa ba-saba”, atau kato urang kini adolah tabah, kuek pandirian, indak takuik dilamun ombak, pandai batenggang di nan susah, pandai bahemat kutiko lai, indak basipaik cando (sarupo) caciang kapanehan, indak pulo gaduak saroman kacang di abuih ciek, tahu pabilo masonyo galak, tau pulo bilo kutiko baranti manangih, dan indak laruik dek kaadaan.
Ado papatah urang tuo-tuo awak saisuak.
Bapadi si jintan-jintan, kok ujan kaka-kakakan,
kok paneh lingkuik-lingkuikkan.
Padi ditanam beko patang, kadi sabik kalamari,
sacotok haram dek ayam, lah habih baru dimakan.
Baitulah pituah Rang Gaek kito.
Ado palajaran agamo di surau-surau dulu, mak kito ingek-kan baliak “man lam yardhaa bi qadhaa-i , walam yashbir ‘alaa balaa-i, fal yath-lub rabban si waa-i” aratino “kalau indak karedha kabakeh katantuan Allah, kalau indak kasaba kabakeh cubaan Allah, co lah cari Tuhan nan lain salain Allah tu”.
Tantu indak ka dapek dek awak tuhan nan lain, nan sa panyayang, sa baik pambarian Allah ka bakeh awak tu doh.
Kaji ko sabana nyo indak kaji baru bagai doh.
Tapi paralu kito ingek-ingek baliak, karena dek lamo lupo.
Lanca kaji dek lai ba-ulang, pasa jalan dek batampuah.
Kini, sakitu sajo dahulu. Kalau ado wakatu, nanti kito sambuang pulo.
Marilah kito samo-samo mandoa, samoga Allah salalu maagiahkan rahmat nan balipek gando, sehat nan ka paguno, harato nan ka panopang hiduik, panjalin hari isuak, jan hanyo di agiahkan dek Tuhan harato nan hanyo ka abih kini, atau hanyo sakadar nan ka busuak, nan ka lapuak.
Mudah-mudahan pulo kito mandapekan harato banyak nan paguno pulo dek awak untuk hari isuak. Pintak buliah , ka-andak balaku , mukasuik sampai , nan di ama pacah, umua panjang, rasaki murah, bala pun takuak handakno.
Biaitulah pintak jo pinto kiti basamo. Amin Ya Rabbal Alamin.
Diarsipkan di bawah: Adat istiadat, Buya Masoed Abidin, Globalisasi, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Politik, Sumatera Barat, Surau, Tauhidik
LANGKAH MEMILIH PEMIMPIN
Berpedoman kepada Bimbingan Agama Islam
Oleh : H. Mas’oed Abidin
Firman Allah SWT menyebutkan, “ORANG‑ORANG YANG BERIMAN dan tidak mencampurkan keimanannya dengan keaniayaan (kedzaliman), untuk mereka KEAMANAN, dan mereka (golongan) yang memproleh PETUNJUK (hidayah) ALLAH“. (Q.S VI‑Al An’aam, ayat 82).
Berjuang di jalan Allah itu harus bersatu secara kokoh kuat, terorganisir sehingga tumbuhlah potensi umat yang kuat pula.. Menghimpun kembali potensi haruslah dengan kerja keras dengan tahap kegiatan :
I. KEGIATAN KONSERVASI
Mengajak semua tokoh dan pemimpin umat dari seluruh tingkat, tidak boleh terhenti sampai selesai. Agar tidak terjadi proses “pembusukan” atau fragmentasi, yang menggejala pada keinginan menyelamatkan diri sendiri.
II. KEGIATAN RE-INTEGRASI
Konservasi pasif, supaya dilanjutkan dengan usaha re-integrasi aktif, yaitu menghimpun kembali yang berserakan, meliputi tiga bidang :
1. Bidang re-integrasi umat ;
2. Bidang re-integrasi pemimpin ;
3. Bidang re-integrasi kader.
A. Re-integrasi umat :
Akibat korban politik orbala (baru dan lama), yang paling dirasakan oleh umat adalah penderitaan kehidupan rohani. Disamping kehidupan materi namun penderitaan kehidupan rohani terasa semakin parah. Sehingga usaha untuk membangunkan potensi umat semakin berat.
Kemana obatnya mau dicari? Tidak usah dicari kemana-mana. Karena salah satu obat penderitaan rohani adalah dengan meluruskan niat.
B. Re-integrasi pemimpin :
Pemimpin umat masih banyak. Tetapi yang langka itu adalah pemimpin panutan. Ulama tidak langka, yang langka adalah kharismatik. Kharisma seorang ulama atau pemimpin antara lain ditentukan oleh :
· Satu kata dengan perbuatan,
· Punya prinsip/pendirian hidup,
· Selalu berorientasi kepada kebenaran,
· Selalu memikirkan nasib umat.
Pemimpin yang dibutuhkan di zaman ini ialah yang mampu melakukan re-integrasi umat dan berkemampuan tampil sebagai : Konseptor, Organisator, Administrator, Penyandang/Pengumpul dana.
Ini yang penting menjadi ukuran dalam menentukan pemilihan kepala daerah dimana saja. Oleh karena itu yang dibutuhkan sekarang adalah pimpinan kolektif, bukan pimpinan yang terletak pada satu tangan.
C. Re-integrasi kader :
Pada setiap zaman ada rijalnya (pemimpinnya). Bagaikan pertunjukan seni pentas, babak demi babak akan beralih, pemain bisa berganti, bahan cerita selalu bertukar, namun khittah (pedoman dan cita membangun umat) tidak boleh berobah. Mempersiapkan kader sebagai pemain di pentas sejarah, antara lain perlu dilakukan :
1. Mempersiapkan jiwa kader (sejak dini).
2. Melengkapkan pengalaman mereka.
3. Mencetuskan cita-cita.
4. Menggerakkan dinamika.
5. Menghidupkan self disiplin berlandaskan iman dan taqwa.
Menggarap lima point tersebut bukanlah pekerjaan sambilan. Mesti dihadapi secara serius dengan meneyediakan waktu yang cukup memadai. Untuk mengwujudkannya perlu diperhatikan,
Jangan menghalalkan segala cara. Sekali-kali tidak boleh ditolerir setiap sikap yang melecehkan iman dan taqwa. Jangan sampai panji-panji itu terinjak oleh kaki orang yang membawanya. Bila panji sudah terinjak, yakinlah bahwa panji itu tidak akan pernah berkibar untuk selamanya.
1. Pandai membaca buku masyarakat. Kita butuh kepada teori namun yang lebih dibutuhkan lagi adalah kemampuan berkecimpung ditengah-tengah umat, sehingga umat mengaggap bahwa yang berkecimpung itu adalah anak kandungnya.
Membaca kitab masyarakat tidak dijumpai di bangku kuliah.
Para pemimpin harus memahami denyut jantung masyarakat. Pada gilirannya akan berurat di hati masyarakat.
Jangan salah memilih pemimpin, karena yang akan dapat mencetuskan api adalah batu api, bukan batu apung. Maka ditengah-tengah dinamika masyarakat tersebut lakukanlah serah terima antara generasi yang akan pergi dengan generasi pelanjut. Patah tumbuh hilang barganti
III. KEGIATAN KONSOLIDASI DAN POLARISASI
Terhadap kepada kelompok-kelompok masyarakat (umat, pemimpin dan kader) yang sudah terintegrasi mesti segera di lanjutkan dengan usaha konsolidasi (menyatukan yang sudah terkumpul).
Ditingkatkan dengan usaha polarisasi (saling mengkutub bagaikan magnet). Antara pemimpin dengan masyarakat yang dipimpinnnya. Antara yang memilih dan yang dipilih.
Terakhir lakukanlah usaha koordinasi bagi kegiatan yang sejenis (membangun daerah). Satukan paham dan langkah. Atur pembagian pekerjaan, dengan wijhah (programming), khitthah (asas) dan strategi yang satu. Sehingga accu (jiwa) umat tidak pernah kosong.
Selama accu umat selalu terisi, itulah yang dinamakan umat yang berpotensi.
Dalam menggarap semua kegiatan tersebut diatas jangan lupa bahwa :
1. Re-integrasi merupakan aktivitas awal yang harus dipersiapkan secara matang.
2. Setiap aktivitas perlu bimbingan.
3. Bimbingan selalu berpedoman kepada rencana yang sudah dipersiapkan.
4. Rencana atau program mengandung fakta dan data yang akurat.
Setiap akan memulai suatu pekerjaan apalagi kerja besar, perlu diingat pesan Yang sulit kerjakan sekarang; Yang tidak mungkin kerjakan besok, Insya Allah. Yang mudah serahkan kepada orang lain. Yang berat kerjakan bersama.
Sastrawan berkata,
Kejayaan juga yang kau idamkan,
Jalan mencapainya kau tempuh tidak,
Betapakah kapal akan berlayar di tanah kering ???
Rusaknya Nilai Kehidupan
Hampir pada setiap sudut dunia terjadi kemelut. Kadang‑kadang juga terjadi di samping kita. Kemelut yang selalu berakhir dengan terinjaknya martabat kemanusiaan. Hilangnya keamanan dan rusaknya nilai‑nilai kehidupan, yang manusiawi. Dalam setiap keadaan terjadi kedzaliman atau keaniayaan. Dalam berbagai bentuk. Dia tampil ke permukaan bertepatan dengan saat‑saat manusia meninggalkan aturan‑aturan. Atau dikala orang mencecerkan hukum‑hukum Allah dan syari’at Agama‑NYA (Syari’at Islam). Peringatan Allah Subhanahu wa ta’ala, menyebutkan “ Senantiasa orang‑orang kafir (orang‑orang yang meninggalkan hukum‑hukum Allah) itu, ditimpa bahaya, sebab perbuatan mereka sendiri, bahkan tiba bahaya itu dekat rumah mereka (dalam negeri sendiri), sehingga datang janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak pernah memungkiri janji” (Q.S. XIII‑Ar‑Ra’ad, ayat 31).
Janji Allah, berupa munculnya rasa takut karena ulah manusia jua. Hilangnya tauhid bertukar syirik, merupakan salah satu penyebabnya.
Hilangnya aman lantaran tumbuhnya kufur. Terbangnya iman dari lubuk hati, sirnalah aman dari kehidupan. Merajalelanya kedzaliman disebabkan lupa kepada hukum‑hukum Allah (hududallah).
Kebahagiaan manusia dan lingkungan yang aman terancam punah.
Tanaman kehidupan yang baik tak kunjung menjadi kenyataan. Semuanya terjadi karena kesalahan manusia semata. Ukuran “benar‑nya suatu kebenaran sering diukur dari kualitas pelakunya. Kualitas kebenaran terabaikan. Kualitas kebenaran, ukurannya adalah syari’at (aturan‑aturan) Agama Allah (Islam).
Asasnya adalah iman dan taqwa kepada Allah semata
Realisasi taqwa adalah kerelaan melaksanakan hukum Allah Yang Maha Kuasa. Suka atau tidak. Di dalam syari’at itu, tercakup semua aturan, yang menyangkut harkat kemanusiaan. Semua kaedahnya tertera dengan jelas, didalam syariat Islam. Iman, tidak berarti hanya sekedar percaya kepada adanya Allah, tanpa diikuti perilaku. Perilaku itu berupa amal‑shaleh. Unsurnya adalah ikhlas, bersih dan lurus. Ukurannya, sesuai dengan kehendak Allah.
Amal, merupakan konsekwensi logis dari iman. Aktivitas sedemikian, melahirkan ibadah‑ibadah yang benar. Teguh dan kokoh pada setiap perintah Allah. Terjauh dari semua unsur keaniayaan. Baik itu menyangkut hubungan individu, atau hubungan yang luas, hubungan masyarakat. Sampai kepada suatu tatanan kehidupan yang menyeluruh. Suatu aturan (syari’at), ruang lingkungannya universal. Tidak membedakan pangkat dan derajat. Tidak mengenal perbedaan bangsa dan bahasa. Pelaksanaan aturan‑aturannya tidak hanya terbatas pada kedudukan elit, juga tidak pada perbedaan kulit.
Dengan penerapan iman secara benar dan utuh ini, muncullah suatu sistem keadilan yang indah.
Terpatri dalam sejarah, tentang kisah Al Makhzumiy, sosok seorang pembesar (Quraisy) yang terpandang.
Dikala ia melakukan tindak pencurian, korupsi dan manipulasi pada jabatannya masa-masa lalu, dia ditangkap. Diadili dan dijatuhi hukuman. Hukuman potong tangan. Beberapa pemuka Quraisy berpendapat, sebaiknya diajukan saja permohonan ampunan (grasi) kepada Muhammad Rasulullah SAW. Mengingat Al‑Makhzumiyah termasuk seorang anggota keluarga Quraisy yang disegani. Lagi pula Muhammad Rasulullah SAW, juga seorang putra Quraisy yang “terbaik” dan mulia. Jadi ada rencana kolusi. “Kita coba memanfaatkan situasi ini…,” demikian usulan pemimpin Quraisy yang lainnya.
Diutuslah seorang shahabat yang dikenal dekat dengan Muhammad SAW, sebagai perantara. Usamah bin Zaid, pilihan yang tepat.Usamah dipilih menjadi utusan menghadap Rasulullah SAW untuk mengajukan permohonan “maaf” dari sang koruptor al Makhzumiyah ini. Hubungan “kekerabatan” ditampilkan. Tatkala permohonan seperti itu disampaikan oleh Usamah bin Zaid kepada Rasulullah SAW, muka Beliau berubah merah padam. Beliau menjadi marah.
Lantas Beliau balik bertanya, dengan satu pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban, Rasulullah SAW bersabda: “Adakah kalian meminta keringanan dari suatu ketetapan dari satu keputusan yang telah ditetapkan oleh Allah….???” Usamah bin Zaid, dan juga para sahabat lainnya menjadi terdiam dan kecut.
Rasulullah SAW menyampaikan pidato dihadapan orang banyak.
Tentang cara‑cara menumbuhkan aman. Tentang penyebab hilangnya stabilitas. Tentang penerapan nilai‑nilai keadilan dalam mencapai kemakmuran. Tentang kemakmuran yang adil, yang didambakan setiap insan.
Tegakkan Keadilan yang Adil
Amanat Rasulullah SAW ini didambakan manusia setiap kurun sepanjang masa. Sabda Beliau ini pendek dan padat.Jelas lagi bernas.
Jika diterapkan tidak akan ada lagi para pencoleng. Tidak akan ditemui lagi para koruptor dan pencuri, yang bisa berlindung dengan aman.
Karena tak terjangkau tangan‑tangan hukum.
Rasulullah SAW bersabda, “Kehancuran yang telah menimpa ummat sebelum kamu, hanya (karena) ketimpangan penerapan hukum. Andaikata yang melakukan kesalahan (pencurian) atau korupsi, adalah orang‑orang terpandang di kalangan mereka, kalian telah membebaskannya (mereka kalian beri kekebalan hukum).
Tetapi kalau yang melakukan pencurian (korupsi) adalah orang‑orang yang lemah (rakyat kebanyakan saja) diantara kamu, disaat itu (serta merta) kamu terapkan (kamu tegakkan) hukum dengan pasti. (Terjadilah apa yang terjadi, pudarnya kepastian hukum, dan hilanglah sumber keadilan).
Demi kemuliaan Allah, andaikata Fathimah Binti Muhammad (putri Rasulullah sendiri) melakukan pencurian, pasti akan aku potong juga tangannya“. (Al Hadist).
Terlihat di sini bagaimana halus dan tegasnya Syari’at agama Islam.
Suatu kepastian hukum, tanpa membedakan pelakunya.
Keadilan yang tidak mengenal perbedaan peradilan. Pernilaian tidak dititik beratkan kepada siapa pelakunya, tetapi kepada apa yang dilakukannya. Dari sini lahirlah keadilan. Dari sini pula tercipta keamanan yang kemudian menelorkan kebahagiaan.
Setiap orang tidak cemas akan perkosaan haknya.
Setiap pemerkosa hak, tidak akan merasa aman dari tangan‑tangan hukum karena merasa memiliki hak‑hak istimewa.
“Kepastian hukum” yang diterapkan oleh Syari’at akan melahirkan “kesejahteraan” secara individu atau pun bermasyarakat. Tumbuh pulalah satu perlombaan yang sehat. Saling memelihara tegaknya aturan.
Sama‑sama terpelihara karena tegaknya aturan‑aturan itu.
Sama‑sama bahagia dalam membangun.
Sama‑sama pula dalam membangun kebahagiaan.
Mulai langkah dengan nasehat.
Nasihat itu ditujukan untuk seluruh manusia.
Mencakup seluruh segi kehidupan. Sumbernya pun jelas. Nasihat yang berpangkal dari Allah (Al Qur’an).
Merujuk kepada contoh dan petunjuk pelaksanaan dari Muhammad Rasulullah SAW, yang dikenal sebagai Sunnah Rasul.
Mematuhi Allah berarti mematuhi sunnah Rasulullah. Satu sama lainnya tidak bisa dipisahkan. Tidak bisa diingkari atau ditolak.
Ad‑dien (Syari’at agama Islam) itu adalah nasehat. (Mau’izhah Hasanah). Kami bertanya, atas dasar apa wahai Rasulullah?” .
Dengan tegas Rasulullah SAW menjawab ..” dari Allah dan dengan Kitabullah (Al‑Qur’an), dan Sunnah Rasul. Kemudian dengan kesepakatn pimpinan‑pimpinan ummat (dalam setiap urusan mereka‑dunia dan akhirat‑berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Nabi” (Al Hadist).
Dengan patokan ini, para Shahabat berbaiat kepada Rasulullah agar tegaknya Syari’at Islam dengan tepat memilih pemimpin dengan sempurna.
Diantara isinya, para Shahabat tidak akan menjadi syirik, atau tidak mempersekutukan Allah.
Tidak melakukan pencurian, menjauhkan diri dari perbuatan korupsi, manipulasi dalam bentuk dan kesempatan apapun.
Tidak berzina, yang melingkupi kepada pergaulan bebas, sehingga kaburnya batas‑batas antara yang boleh dan yang tidak. Terutama dalam hubungan manusia berlainan jenis.
Tidak membunuh anak, baik itu secara penanaman nilai‑nilai fikrah yang tidak agamis.
Semuanya dijalankan melalui jalur Nasihat Agama, mencakup syari’at Islam.(lihat QS.S.Mumtahanah, ayat 12)
Inilah syarat pemimpin yang akan dipilih menurut bimbingan agama Islam.
Wallahu a’lamu bis-shawaab.
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Globalisasi, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Politik, Sumatera Barat, Surau, Tauhidik
MASA DEPAN
OLEH: H.MAS’OED ABIDIN
Betapapun krisis tengah melanda Indonesia sebagai bahagian dari kawasan Asia Tenggara, namun sebagai bangsa yang besar semestinya bersikap optimis dengan dorongan semangat besar bahwa bangsa (kawasan) ini akan menjadi pusat kegiatan masa datang, baik dalam penguasaan ekonomi ataupun intelektual menghadapi percaturan abad ke duapuluh satu.
Suatu kenyataan, instalasi kekuatan ekonomi terpegang oleh bahagian terkecil (selected minority) dengan penguasaan kebutuhan mayoritas penduduk di pedesaan. Namun, bila kekuatan kecil ini mampu membangkitkan peran penguasaan kebutuhan terbesar masyarakat, adalah suatu keniscayaan semata bangsa ini akan dapat bergerak secara pasti menjadi umat yang di perhitungkan.
Sulit untuk di elakkan, adanya suatu keharusan memelihara gerak pertumbuhan dari bawah (bottom-up). Usaha nyata perlu dikembangkan melalui ekonomi keluarga dan pemungsian kekuatan ekonomi pasar dari pedesaan. Karena, yang akan memimpin orang banyak adalah yang bisa berbuat banyak untuk orang banyak itu.
Peranan generasi mendatang harus di siapkan pada dasar kesepahaman memelihara destiny sendiri, dengan menanamkan kebebasan terarah untuk menumbuh kembangkan tanggung jawab bersama, dalam upaya meningkatkan daya saing dan menghasilkan hal-hal yang produktif, pada gilirannya akan membuahkan beragam hasil usaha yang dinikmati bersama.
Memang ada satu kecemasan bahwa sebahagian generasi yang bangkit kurang menyadari tempat berpijak. Sebenarnya suatu kelaziman belaka pada kawasan yang tengah berkembang tampilan kolektivitas lebih mengedepan dari pada aktivitas individu. Dalam hubungan ini diperlukan penyatuan gerak langkah memelihara sikap-sikap yang harmonis dengan menghindari adanya tindakan eksploitasi dalam hubungan bermasyarakat. Penguatan daya implementasi konsep-konsep aktual menjadi sangat penting, melalui research dan pengembangan serta kualita dalam membentuk kondisi.
Pemberdayaan institusi (lembaga) kemasyarakatan yang ada (adat, agama, perguruan tinggi), dalam mencapai ujud keberhasilan, mesti disejalankan dengan kelompok umara’ (penguasa) yang adil (kena pada tempatnya).
Ketersambungan pendapat ilmuan dan para pengamat melalui dialog, dan penekanan amanah pada pemegang-pemegang kendali ekonomi, serta penyatuan gerak seluruh masyarakat yang ujud dalam do’a (harapan) berpadu pada usaha (kenyataan), merupakan pekerjaan mendesak dalam meniti suatu pengembangan pembangunan (development).
Pemeranan seni mengajak secara aktif (dakwah) akan menyokong mempertahankan apa yang kita miliki dan membuat apa yang belum kita miliki.
Akhlak mulia adalah suatu kemestian bagi mendorong tumbuhnya pro-aktif dalam gerak pembangunan fisik dan non-fisik.
Suatu kecemasan bahwa diantara generasi yang tengah berkembang belum siap memerankan tugas di masa depan, memang beralasan. Gejala itu terlihat dari banyaknya generasi bangsa yang masih terdidik dalam bidang non-science (seperti, kecenderungan terhadap yang berbau mistik, paranormal, pedukunan, penguasaan kekuatan jin, budaya lucah, pergaulan bebas, kecanduan ectacy,dan konsumsi penanyangan pornografi) ditengah berkembangnya iptek. Gejala ini tampil pada permukaan tata pergaulan yang dipermudah oleh penayangan informasi produk cyber space.
Keinginan yang tidak selektif, peniruan gaya hidup yang tidak berukuran, sesungguhnya akan lebih banyak menghambat kesiapan menatap masa depan. Kemungkinan ini bisa terjadi karena kurangnya interest terhadap agama dan mulai meninggalkan puncak-puncak budaya yang diwarisi, diperberat oleh tindakan para pemimpin formal dan non-formal yang kebanyakannya masih terpaut pada pengamatan tradisional dan non-science.
Problematika ini akan teratasi dengan usaha berketerusan dalam memelihara kemurnian aqidah (tauhid) supaya tidak terjadi pemahaman dan pengamalan keseharian agama yang campur aduk, serta usaha berkesinambungan dalam menjaga agar tidak terjerumus dalam kehidupan materialis.
Upaya yang intensif ini semestinya berkemampuan menggiring Sumber Daya Umat tetap bertumpu kepada science dengan nilai agama dan budaya. Tugas ini perlu di emban secara terpadu.
Padang, Maret 1998.
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Conspiracy, Globalisasi, HAM, Komentar, Minangkabau, Pluralitas, Politik, Sumatera Barat, Tauhidik
Konspirasi Internasional.
Oleh: H.Mas’oed Abidin
Asas agama sering dijadikan salah satu ujud sasaran tembak dalam pertentangan-pertentangan di antara pemegang kekuasaan dunia, percaturan politik sejagat yang mengarah persekongkolan kekuatan anti agama. Persekongkolan kekuatan ini sering bergulir menjadi konspirasi internasional. Kebenaran bimbingan wahyu Allah dapat disimak dengan sangat jelas dalam percaturan memperebutkan umat diantara kalangan Salibiyah (Christ society) dan Yahudiyah (Lobi Zionis Internasional).
Dua kelompok yang tidak pernah berdiam diri, untuk mempengaruhi paham dan pikiran manusia, sampai semua orang bisa mengikuti ajaran (millah) nya. Sasaran utama lebih di arahkan kepada kelompok Muslim sejagat. Sasaran utama ditujukan untuk melumpuhkan kekuatan Islam secara sistematik. Berkembangnya citra (imaj) bahwa paham-ajaran Islam adalah musuh bagi kehidupan manusia dan tatanan dunia, merupakan bukti dari hasil uopaya gerakan Salibiy Yahudi ini.
Penerapannya sering terlihat dalam bingkai ethnic cleansing, Tuduhan-tuduhan teroris kepada gerakan dakwah Islam, fundamentalis, radikalisme, keterbelakangan, tuduhan tidak sesuai dengan kemajuan zaman. Sasaran akhirnya umat Islam menjadi enggan menerima ajaran Islam dalam kehidupan kesehariannya.
Konsepsi Islam dilihat mereka hanya sebatas ritual dan seremonial. Konsepsi ajaran Islam dianggap tidak cocok untuk menata kehidupan sosial ekonomi dan politik. bangsa-bangsa. Hubungan manusia secara internasional dinilai tidak pantas di kover oleh ajaran agama Islam. Pemahaman picik bahwa ajaran agama hanya bisa di terapkan untuk kehidupan akhirat, bukan untuk tatanan masa kini, merupakan gejala lain dari kehidupan sekuler materialisma. Begitulah suatu tadzkirah (warning dan peringatan) wahyu, bila mampu dipahami secara jelas tertera dalam Al Quran (lihat QS. Al-Baqarah 120).
Diniyah atau laa diniyah. Pertentangan pemahaman dalam menerapkan ajaran Islam bermuara kepada memecah umat manusia (firaq) yang pada mulanya telah di ikat oleh kewajiban kerja sama (ta’awun) menjadi dua pihak (diniyah dan laa diniyah). Satu sama lain, atau kedua-duanya seakan harus berhadapan dalam satu satuan perang yang dipertentangkan secara bengis dan ganas, penuh kecurigaan dan intimidasi, akhirnya memungkiri segala keuatamaan budi manusia.
Bertalian dengan agama lain, semestinya pula umat Islam berpedoman kepada (QS.al-Baqarah 256). Bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Iman diperoleh sebagai rahmat dan karunia Ilahi bukan melalui pemaksaan Umat Islam berkewajiban menolak pemahaman kepada adanya permusuhan antara golongan dalam masyarakat yang terkam menerkam serta terlepas dari tali Allah.
Hak asasi manusia. Hak asasi ini akan selalu terpelihara dan terjamin, selagi kemerdekaan itu selalu bertumpu kepada terpeliharanya kesopanan umum dan ketertiban negeri.
Hak asasi manusia secara pribadi tetap akan terlindungi bila setiap orang memandang dengan sadar bahwa setiap orang memiliki hak untuk tidak berbuat sesuka hati. Bila sesorang dalam mempertahankan hak asasinya mulai bertindak dengan tidak mengindahkan hak-hak orang lain disampingnya, maka pada saat yang sama semua hak asasi itu tidak terlindungi lagi.
Kewajiban asasi untuk tidak melanggar kehormatan orang lain akan memberikan penghormatan kepada kemerdekaan orang lain, senyatanya adalah bingkai dari hak asasi manusia yang sebenarnya.
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Globalisasi, Kemajemukan, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Pluralitas, Politik, Suluah Bendang di Nagari, Sumatera Barat, Surau, Tauhidik
Ta’aalau ilaa Kalimatin Sawaa’
(Kembali Kepada Kata Persamaan)
Oleh H. Mas’oed Abidin
1). Keadaan dunia di masa kini menurut suara-suara ramai, dan melihat kepada kejadian-kejadian di beberapa negeri, sangat mengkhawatirkan.
Dengan nyata sekali dalam perhubungan internasional, yaitu antara negara-negara, tampak ada perbedaan antara dua kelompok besar, satu sama lain ada pertentangan, antara Barat dan Timur, sosialis dan materialis, diniyah atau laa-diniyah; masing-masing dengan sekutunya dan pengikut-pengikutnya dan daerah-daerah pengaruhnya.
Kedua pihak, saling berebut pengaruh dengan saling mengakui memperjuangkan terwujudnya cita-cita perdamaian dan kemerdekaan, saling menyebut diri pencipta kesejahteraan dan mewujudkan kebehagiaan hidup diseluruh dunia.
Namun masing-masing, menuduh bahwa pihak yang satu sedang menjalankan tipu muslihat dengan mengerahkan semua upaya kekuasaan dan daya kekayaan dan kekuatan ancaman guna menguasai dan melemahkan pihak lainnya.
Pengaruh yang bertentangan itu menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam tiap-tiap negeri, di medan ekonomi berkenaan dengan rebutan rezeki, di medan politik berkenaan dengan kekuatan dan kekuasaan (daulah wa as-siyaasah), di medan kultur berkenaan dengan faham dan fikiran (ghazwul fikry) termasuk juga adab sopan santun dan seni kebudayaan, di medan sosial berkenaan dengan hubungan antar golongan-golongan masyarakat (strukturisasi), pendeknya dalam segala lapangan kehidupan negara, pemerintahan, daerah, negeri dan penduduk (demokratisasi, humanisasi, dalam kemasan kesejagatan).
Menyikapi kondisi dunia yang berpecah itu, maka seharusnya umat Islam tidak terbelah dan wajib memiliki wijhah yang jelas dengan selalu berpegang teguh kepada bimbingan Allah (QS.ar Rum, ayat 30) “fa aqim wajhaka liddiini haniifan …, fithratallah allati fatharannaasa ‘alaiha …, laa tabdiila likhalqillahi … dst”, yang pertama adalah perintah kepada kita untuk menghadapkan muka tegak-tegak kepada agama Allah dengan tidak ragu-ragu sedikitpun, lurus (hanif) tanpa mencampur aduk (tidak sinkretik), dan berketetapan hati melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah melalui mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah dengan taqwa (melaksanakan seluruh perintah dan meningalkan seluruh larangannya), dan memantapkan pelaksanaan ibadah perorangan dan jamaah, dan yang paling utama adalah tidak pernah akan menuhankan yang lain selain Allah (tauhidic weltanschaung). Golongan yang berpecah akan berkembang menjadi kelompok-kelompok sektarian dengan kebanggaan kelompok masing-masing dan bisa membelah bangsa (disintegrasi).
2). Di negeri kitapun, sebagaimana di negeri-negeri lainnya di dunia, kita merasakan dan menderitakan akibat-akibat pengaruh itu, berupa kekacauan-kekacauan dalam kalangan perusahaan (ekonomi) di seluruh sektor, dibidang penghasilan disertai pemogokan, dilapangan perkebunan didampingi perampasan hak-hak, disektor perdagangan dan politik berakhir dengan hilangnya kepercayaan.
Tampilan huru hara, unjuk rasa, unjuk kekuatan dimana-mana berbungkus kejahilan, telah mendera lapis-lapis kehidupan masyarakat, dari kota hingga desa, dari pasar negeri hingga kepusat negara, selalu berakibat hilangnya nyawa dan musnahnya harta. Derita derita lain, hilangnya tertib lahirnya teror, sementara perjalanan hukum terseok-seok berbimbingan tumbuhnya kekacauan menjadi-jadi.
Yang paling merasakan adalah rakyat banyak yang selalu hidup dalam ketakutan disaat hilangnya kepastian dan menjauhnya keamanan.
3). Tidak dapat tidak, kekacauan yang bertambah lama dan luas itu, berangsur-angsur akan menimbulkan, di kalangan yang bertambah lama bertambah besar, satu psygose atau perasaan putus asa dan akhirnya tunduk kepada paham yang dominan dengan menyerahkan nasib tanpa ada keinginan berbuat sama sekali.
Perasaan ini semestinya dimengerti akan berakibat binasanya suatu umat yang kuat bergeser menjadi lemah tak berdaya, dan yang besar akan menjadi kecil, tidak dimasukkan dalam perhitungan, tetapi bergerak menjadi sibuk menghitung kekuatan orang luar.
Mungkin sekali tampil sesudah itu kelak, masyarakat manusia yang hidup dengan puing reruntuhan kebudayaan yang sudah lenyap, dan dalam keadaan yang lebih celaka lebih sengsara dari leluhur mereka, yang pada masa jayanya pernah disebut sebagai pejuang; karena kehilangan kesadaran siyasiy dan kebingungan akal fikiran manhajiy, walaupun sadar tentang kehilangannya tapi tak berdaya lagi untuk menemukan kembali apa-apa yang telah hilang itu, semata dikarenakan tak pandai berupaya lantaran mengabaikan alat perkakas dan kesempatan yang tersedia, semata hanya enggan mengambil pengalaman kepada masa-masa yang pernah dijalani oleh masyarakat manusianya. Analisa ini harus dijawab segera dengan sii-ruu fil ardhi …. (historis, politis), …. fandzuruu kaifa kaana ‘aqibah …. (sosial, psychologis) nya..,
4). Analisa pertumbuhan umat demikian hingga sekarang, sudah melewati pergantian kurun demi kurun, sejak kaum Nuh, kaum Luth, Tsamud, kaum Shaleh dan lainnya, sebagai nukilan Qurani yang telah diyakini oleh jumlah terbanyak masyarakat ini, bermula dari penentangan terhadap Risalah para Rasul dalam perjalanan panjang sejarah, sejak masa diktatorial orde fir’aun hingga orde bala, kemutlakan otoriter veto zaman Pharaoh hingga Clinton, pelaksanaan politik belah bambunya Hamman hingga Netanyahu, kehidupan materialisme hedonistik konglomerasi Qarun sampai Eddy Tansil.
Analisa pertumbuhan yang telah berulang-ulang di ulangkan oleh Al Quran, menyangkut bangun jatuhnya masyarakat manusia, semata-mata disebabkan karena pengabaian kesadaran secara terang-terangan akan ajaran dan petunjuk dari pesuruh-pesuruh (Rasul) Allah juga.
Masyarakat yang melupakan secara sengaja dan sadar akan ajaran dari pesuruh Allah ini akan bertumbuh dengan pasti menjadi kelompok perusuh. Na’udzubillah.
5). Dalam pada itu, sungguhpun paham persamaan segala manusia dan hak-hak kemerdekaannya berasal dari ajaran Agama, akan tetapi oleh karena kepentingan pihak-pihak imperium feodal, sejak Romawi hingga revolusi Perancis, sampai reformasi demokratisasi humanisasi melanda belahan bumi, dan perang paham isme (millah, lihat QS. Al-Baqarah 120), maka penolakan asas agama menjadi salah satu sasaran tembak dalam pertentangan diantara pemegang kekuasaan dunia politik sejagat (konspirasi internasional).
Pertentangan itu, senyatanya melupakan kepentingan bersama dan merusak perhubungan antar manusia sebagai jamaah agama (gemeente collectiviteit) yang perlu untuk keselamatan dunia dan manusia. Memecah umat manusia (firaq) yang terikat oleh kewajiban kerja sama (ta’awun) menjadi dua pihak (diniyah dan laa diniyah) yang seakan harus berhadapan dalam satu satuan perang yang dipertentangkan secara bengis dan ganas, dengan penuh kecurigaan dan intimidasi, sesungguhnya telah memungkiri segala keuatamaan budi manusia.
Agama Islam yang sangat berperangaruh terhadap budi pekerti dan memberikan semangat kepada segenap bangsa Indonesia dengan bagian terbesar rakyat penduduknya beragama Islam, telah memberikan sumbangan besar dalam menghidupkan kesadaran rasa persamaan dan persaudaraan dalam satu batas kesatuan wilayah Republik Indonesia. Maka tidak dapat tidak, kebanyakan partai politik yang tidak berdasarkan agama itu, akan berisikan penganut agama Islam juga, yang secara pasti tetap akan bersetuju melaksanakan perintah-aturan agamannya, karena tidak akan ditemui adanya satu nilai yang mampu diletakkan diluar asas ajaran agamanya.
Dengan terpenuhinya syarat-syarat itu, niscaya negeri dan bangsa kita ini akan selalu terpelihara dari kecelaan dan kenistaan serta terhinmdar dari bencana pertentangan paham-paham yang didunia (Barat) telah menimbulkan kesulitan-kesulitan yang berbahaya. Insya Allah.
Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan kedaulatannya oleh setiap warga negara Indonesia dengan kesadaran mendalam bahwa kemerdekaan negara kesatuan ini adalah merupakan rahmat dan karunia Allah terhadap hasil perjuangan jihad seluruh bangsa Indonesia atas dasar “kalimatin sawa”, kata persamaan untuk segenap golongan bangsa.
6). Kita, umat Islam di Indonesia merupakan bagian terbanyak mesti siap memikul tanggung jawab terbesar dan sedia menyandang beban terberat terhadap keselamatan dan pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam menuju negara yang berkebajikan, berkeadilan, yang diliputi oleh ridha Allah, dimana terlaksananya ajaran Islam dalam kehidupan orang perorangan, dalam bermasyarakat dan dalam bernegara.
Perjuangan ini memiliki kemestian menyusun lapis tenaga umat dengan tertib, dengan membangunkan peri kehidupan lahir bathin melalui menanamkan pengertian dan akhlaq umat, dengan cara mendidik sifat, menyusun kekuatan dan perpaduan kecakapan guna memperoleh segala syarat mendukung dan mengembangkan cita-cita Islam sebagai tata cara hidup yang memberikan Rahmat bahagia bagi segenap makhluk (rahmatan lil-‘alamin).
7). Cita-cita yang luhur ini, hanya dapat ditumbuhkan dalam alam ketertiban dan keamanan.
Kekacauan mengakibatkan pemborosan tenaga, penghamburan harta dan pengorbanan jiwa percuma dan tidak dapat dipertanggung jawabkan. Kekacauan juga akan membawa usaha dan ikhtiar kejalan buntu dan keruntuhan. Semestinya umat Islam menolak tiap-tiap usaha dari pihak manapun juga yang mengakibatkan kekacauan dan kelumpuhan negara serta alat-alatnya.
Mengingat bahwa menurut ajaran Islam, untuk menjaga dan memelihara keselamatan dan mengatur tertib keamanan dimestikan adanya ulil amri, yaitu pemerintahan yang memegang kekuasaan menurut hukum dan musyawarah, maka semestinya umat Islam tidak boleh membenarkan adanya satu orang ataupun golongan tertentu dari dalam maupun dari luar yang menggunakan kekuasaannya secara paksa untuk melakukan perkosaan atas sesuatu pihak yang lain dalam mencapai maksudnya.
Kesewenangan kekuasaan yang menghimpun ditangannya segala kekuatan ancaman dan paksaan kekerasan dalam menjalankan hak pemerintahan, dengan dalih apapun, tidak akan dapat menghasilkan kepuasan dan tidak mampu mewujudkan kebahagiaan sebagai syarat pertama mengisi kemerdekaan.
Maka Islam menuntun manusia kepada satu susunan masyarakat dengan kewajiban mengadakan ulil amri yang dikuasakan memerintah dengan bijaksana penuh hikmah dengan prinsip musyawarah dalam menjalankan hukum keadilan sesuai dengan yang diturunkan Allah dalam kitab suci dalam Al Quran dengan berpedoman kepada cara-cara Rasulullah SAW melaksanakan perintah-perintah dan peraturan dengan mengingat keadaan dan masa (elastis).
8). Perjuangan harus ditempuh melalui jalan dan cara yang sah, sebagaimana telah dibuka jalannya menurut undang-undang dan peraturan-peraturan yang berlaku dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan kedaulatan rakyat melalui saluran yang lazim dalam negara demokrasi.
Didalam menyikapi partai-partai dan perserikatan-perserikatan lain, semestinya umat Islam mempedomani ayat Allah (QS.2,al Baqarah,148), “al haqq min rabbika falaa takunanna minal mumtarin…, wa likulli wijhah huwa muwallihaa…, fastabiq al-khairaat”.Yang menyatakan bahwa setiap seseorang ada tujuan yang dipentingkannya. Maka, Allah SWT memerintahkan kita untuk berlomba membuat kebajikan dengan menyerahkan diri secara bulat tanpa ragu dengan kebenaran yang telah diturunkan Allah, dan yang pasti bahwa kebajikan-kebajikan itu akan menghimpun untuk kepentingan seluruh umat manusia.
9). Bertalian dengan agama lain, semestinya pula umat Islam berpedoman kepada (QS.al-Baqarah 256), “laa ikraha fid-diin…, dst”.
Bahwa tidak ada paksaan dalam agama, karena Iman diperoleh sebagai rahmat dan karunia Ilahi bukan melalui pemaksaan; dan dalam pergaulan hidup serta tatanan bernegara harus diakui kemerdekaan beragama tiap-tiap orang, selagi kemerdekaan itu selalu bertumpu kepada terpeliharanya kesopanan umum dan ketertiban negeri dengan tidak melanggar kehormatan orang lain serta penghormatan kepada kemerdekaan orang lain.
Sungguh jalan yang benar itu sudah nyata dari jalan yang sesat, yang membebankan tanggung jawab bersama untuk selalu memimpin umat selalu setia kepada kebenaran; dan siapa yang tidak mempercayai thaghut, dengan meninggalkan tindakan penipuan, kemudian selalu berpegang teguh kepada hukum-hukum Allah sesungguhnya dia sudah berpegang kepada sekuat-kuat pegangan yang tidak pernah patah; dan Allah Maha Mendengar lagi Maha mengetahui.
Ditengah dunia yang pecah belah dibalut pemaksaan kehendak dan penyebaran faham-faham (individualisme, sekularistik), serta berjangkitnya dorongan nafsu kebendaaan (materialisme,hedonisme) yang membuta tuli sedang menuju kearah malapetaka besar kemanusiaan, sudah sewajarnya umat Islam yang jumlahnya banyak ini menyerukan kepada keluarga bangsa yang kebetulan tidak sealiran agama, bahwa umat Islam itu memegang amanatnya sebagai umat yang menjunjung tinggi kemerdekaan beragama, bahkan memperjuangkan kemerdekaan agama dari tekanan dan tindasan siapapun (QS.al Hajj, 39-40).
Maka, marilah kita kembali kepada “kalimatan sawaa’ “ antara sesama kita, yaitu tentunya tidak akan ada diantara kita yang mau meninggalkan penyembahan kepada Allah Yang Maha Esa. Untuk itu, umat Islam di wajibkan berpegang teguh hanya kepada tali Allah.
Umat Islam berkewajiban menolak pemahaman secara tunduk kepada adanya permusuhan antara golongan dalam masyarakat yang terkam menerkam serta terlepas dari tali Allah.
Umat Islam berkewajiban pula memelihara hubungan horizontal, dalam bentuk pemeliharaan solidaritas sesama manusia, atas dasar ajaran bahwa seluruh manusia adalah kelauarga Allah, dan paling disayangNya adalah yang paling bermanfaat sesama hidup diantara manusia itu.
Dalam kaedah tatanan bermasyarakat, agama Islam menetapkan kepada setiap diri umatnya untuk wajib memelihara rukun serta mempertahankan damai dalam suasana kedamaian serta membukakan selalu pintu untuk penyelesaian setiap permasalahan sengketa secara damai pula.
Maka umat Islam di Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa mereka mempunyai tugas sebagai pendukung risalah yang patut dan pantas membulatkan semua tenaga dan mengerahkan semua benda serta menyatukan pemikirannya untuk kemashalahatan umat banyak.
Dari itu jangan salah mendasarkan sikap.
Bahwa umat Islam telah dipilih dan dijadikan sebagai umat pertengahan (ummatan wasathan), yang memiliki kewajiban terhadap persatuan dan persaudaraan dunia serta perikemanusiaan. Karena itu, umat Islam memiliki kewajiban terlebih dahulu untuk menciptakannya dengan memulai dari diri sendiri.
Kewajiban mesti harus lebih dahulu di tunaikan sebelum hak menjadi tuntutan.
Allahu Akbar,
Diarsipkan di bawah: Adat istiadat, Buya Masoed Abidin, Kemajemukan, Masyarakat Adat, Minangkabau, Politik, Suluah Bendang di Nagari, Sumatera Barat, Surau, Tauhidik
Harakah Da’wah Ila-Allah
Oleh H.Mas’oed Abidin
Peran da’wah
Di Ranah Minang di Sumatera Barat ini, peran dakwah ialah menyadarkan masyarakat akan peran mereka dalam membentuk dan meningkatkan harkat diri mereka sendiri. “Sesungguhnya Allah tidak akan merobah nasib satu kaum, hingga kaum itu sendiri yang berusaha merobah sikap mereka sendiri.”
Kenyataan sosial penduduk Minangkabau, mestilah dengan mengakui keberadaannya. Menjunjung tinggi puncak-puncak kebudayaan mereka. Menyadarkan masyarakat Minang akan potensi besar yang dimiliki. Mendorong masyarakatnya kepada satu bentuk kehidupan yang bertanggung jawab.
Sangat salah memberikan penilaian kepada masyarakat dakwah sebagai “makhluk terbelakang” yang tidak perlu diikut sertakan dalam segala kegiatan-kegiatan bersama. Seakan masyarakatnya senantiasa mesti hidup dibawah rasa belas kasihan. Tetapi yang benar adalah, masyarakat mesti dipacu menyadari keberadaan mereka. Ke arah ini da’wah harus ditujukan.
Menyiapkan penduduk untuk siap menerima setiap perubahan yang memang perlu mereka peroleh. Menjadikan masyarakat Minangkabau bermartabat dengan nilai-nilai budaya mereka yang luhur itu. Kemudian mengikat mereka dengan satu keyakinan agama yang hanif kuat dan dinamis.
Inilah tuntutan terhadap Da’wah Ila-Allah.
Da’wah adalah satu kata, didalam untaian kalimat-kalimat yang ditemui di dalam Al-Qur’an. Bermakna ajakan atau seruan. Itulah yang lazim diartikan selama ini. Seruan atau ajakan itu, tidak lain adalah seruan kepada Islam. Yaitu agama hanif yang diberikan Khaliq untuk manusia, dan sangat sesuai dengan fithrah manusia itu.
Islam adalah agama Risalah. Allah SWT menugaskan kepada Rasul menyebarkannya dan penyiarannya dilanjutkan oleh da’wah. Tujuannya, untuk menciptakan keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.
“Risalah merintis, da’wah melanjutkan“[1]) Risalah yang menjadi tugas rasul itu, berisi khabar gembira dan peringatan. Ditujukan untuk seluruh ummat manusia [2]). Risalah itu cocok untuk semua zaman. Maksudnya untuk Rahmat seluruh alam.
Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa Muhammad Rasulullah S.A.W, adalah da’i pertama, yang ditetapkan oleh Allah.[3])
Tugasnya adalah mengajak manusia dengan ilmu, hikmah dan akhlaq.
Perintah untuk melaksanakan tugas-tugas da’wah itu, secara kontinyu diturunkan oleh Allah SWT seperti,
a) Supaya menyeru kejalan Allah, dengan petunjuk yang lurus [4])
b) Seruan untuk menyembah Allah, kepada seluruh manusia . Perintah untuk menyeru Allah, tidak boleh musyrik, supaya meminta kepadaNya dan persiapan diri untuk kembali kepadaNya [5])
Tugas seperti ini, telah menjadi tugas para Rasul sebelumnya. Menjadi sempurna dan lengkap dengan keutusan Muhammad. Maka, manusia (ummat) menjadi penerus dan pelaksana da’wah itu terus menerus sepanjang masa [6]).
Ditegaskan dalam kalimat sederhana tapi padat, bahwa da’wah kita adalah Da’wah Ila-Allah[7])
Peralatan Da’wah
Manhaj-nya adalah Alquran dan Sunnah Rasul
Pelaksananya setiap muslim, setiap mukmin adalah ummat da’wah pelanjut Risalah Rasulullah yakni Risalah Islam. Ummat yang menjadi harapan masyarakat dunia.
Diperlukan watak-watak, yang ditunjukkan oleh penda’wah pertama, yakni Rasulullah SAW [8])
Setiap Da’i wajib meneladani pribadi Muhammad SAW yang berguna sekali membentuk effectif leader di Medan Da’wah
Da’wah itu, menuju kepada inti dan isi Agama Islam[9]).
Intinya adalah tauhid. Implementasinya akhlaq.
Maka umat masa kini hanya akan menjadi baik dan kembali berjaya, bila sebab-sebab kejayaan ummat terdahulu dikembalikan. Kita mesti bertindak atas dasarnya, dan mengajak orang lain untuk menganutnya. “Memulai dari diri da’i, mencontohkannya kepada masyarakat lain“, (Al Hadist). Inilah cara yang tepat.
Keberhasilan suatu upaya da’wah (gerak da’wah) banyak ditentukan oleh kerapian pengorganisasian (nidzam) (Al Hadist). Perangkat dalam organisasi itu, selain dari orang-orang, adalah juga peralatan.
Satu dari peralatan da’wah itu adalah penguasaan kondisi ummat, tingkat sosialnya dan juga budaya mereka ini bisa terbaca dalam peta da’wah [10]).
Peta da’wah, bagaimanapun kecilnya, memuat data-data tentang keadaan ummat yang akan diajak tersebut [11]). Allah menghendaki, kelestarian Agama ini dengan kemampuan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak bersifat bersitegang. Bahasa da’wah adalah bahasa kehidupan.
Peta da’wah, akan berhasil digunakan di lapangan da’wah dengan terjalinnya kesepakatan pelaksana-pelaksananya. Atau adanya kesatuan visi dan pandangan. Menggalang saling pengertian, koordinasi sesamanya mempertajam faktor-faktor pendukungnya, membuka pintu dialog persaudaraan (hiwar akhawi). Ada baiknya di pelajari pembentukan efektif leader dariRasulullah SAW dan ini merupakan salah satu kunci keberhasilan da’wah Rasulullah.
Aktualisasi dari nilai-nilai Al-Qur’an
Hanya bisa terselesaikan dan ujud dalam satu gerak amal nyata yang berkesinambungan (kontinyu). Kapasitas mencakup seluruh aktivitas kehidupan manusia. Bisa dilakukan melalui kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (da’wah), merapatkan potensi barisan (shaff) dalam mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama (jamaah). Sehingga dapat membuahkan agama yang mendunia, dan gerakannya secara global. Usaha ini akan menjadi gerakan antisipatif terhadap arus globalisasi negatif pada abad-abad mendatang.
Al-Qur’an telah mendeskripsikan peran agama Allah (Islam) sebagai agama yang kamal (sempurna) dan nikmat yang utuh. Dan lebih utama adalah sebagai agama yang diridhai [12])
Islam telah ditetapkan sebagai satu-satunya Agama yang diterima disisi Allah.[13])
Konsekuensinya adalah yang mencari manhaj atau tatanan selain Islam, tidak akan diridhoi.[14])
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah secara ikhlas (Yakni orang Muslim) sedang merekapun mengerjakan kebaikan-kebaikan“ [15]).
Karena itu setiap Muslim, dengan nilai-nilai Al Qur’an wajib mengemban missi yang berat dan mulia (mission sacre) ini. Merombak kekeliruan ke arah kebenaran. Inilah yang dimaksud dakwah secara hakiki.
“Perjalanan kepada kemajuan (al madaniyah, modernitas)”.
Berkehendak kepada gerak yang kontinyu, utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin diraih dengan kerja sambilan. Karena buah yang dipetik adalah sesuai dengan bibit yang ditanam. Begitu suatu natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami).
Dalam langkah da’wah Ila-Allah, setiap muslim berkewajiban menapak tugas tabligh (menyampaikan), kemudian mengajak (da’wah) kemudian mengwujudkan kehidupan agama yang mendunia (dinul-harakah al-alamiyyah).
Inilah tugas dan peran “ummat da’wah” menurut nilai-nilai Al-Qur’an [16])
“Perjalanan kepada kemajuan” ini tidak perlu ditunggu waktu sampai besok. Kerjakan dari sekarang mana yang bisa dikerjakan. Mulailah dengan apa yang ada, karena yang ada itu sebenarnya sudah amat cukup untuk memulai. Begitu mabda’ (prinsip) satu gerak amal yang disebut “harakah Islamiyah” di masa persaingan ketat sekarang.
Gerakan Ishlah
Setiap Muslim harus memulai melakukan perbaikan (ishlah). Dimulai dengan
(1). Ishlahun-nafsi, yaitu perbaikan kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu dan kepada lingkunganmu” (Al Hadist).
(2) Islahulghairi yaitu perbaikan kualitas terhadap lingkungan menyangkut masalah keluarga, hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang dikenal sebagai pembangunan yang bersifat sustainable development atau pengembangan pembangunan yang berkesinambungan.
Hal ini diperlukan dalam pembentukan kualitas ummat dalam kaitan hasanah fiddunya dan hasanah fil-akhirah.
Khusus untuk Minangkabau islahul-ghairi mencakup masalah-masalah yang bertalian dengan pengembangan sumber daya manusia serta pemanfaatan natural resources.
Satu tindakan yang amat perlu adalah pemantapan hubungan bermasyarakat di tengah susunan lingkungan kecil (suku) untuk kemudian dikembangkan pada kehidupan luas (wilayah, desa, kecamatan) yang semestinya diawali dengan program pembangunan pendidikan.
Disinilah peran da’wah Ila-Allah di Minangkabau yang menjadi program utama masyarakatnya.Da’wah ini tidak akan berhenti dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang senantiasa berubah. Di bawah konsep mencari ridha Allah.
Catatan Akhir
[1]) Kesalahan penilaian tentang sikap penduduk asli Mentawai seringkali salah. Kepala-kepala suku acapkali dalam kondisi buta huruf sering tertinggalkan, mereka menghindar dari masalah-masalah besar pembangunan, hanya karena kurang dimengerti. Kondisi sedemikian sering ditafsirkan salah, dan dianggap menolak program yang dijalankan. Maka karena terikat kepada penjadwalan proyek, yang terjadi adalah seolah-olah pemaksaan dan terbentanglah jurang yang lebar.
[2]) Natsir, 1978
[3]) QS. Saba’, 34 : 28
[4]) QS. Al Ahzab, 33 : 45-46
[5]) QS. Al Qashash, 28 : 87
[6]) QS. Ar Ra’d, 13 : 35
[7]) QS. ALi Imran, 3 : 104
[8]) Mohammad Natsir, Tausiyah pada 24 tahun Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Jakarta, Media Dakwah 1992, Da’wah kita adalah Da’wah Ila-Allah
[9]) QS. Al Ahzab, 33 : 21
[10]) Qardhwai, 1990
[11]) Menurut bimbingan Rasulullah bahwa AL HAQQU BILLANIZAM YAGHLIBUHU AL BATHIL BIN NIZAM bermakna bahwa yang hak sekalipun, tetapi tidak mengindahkan pengaturan (organisasi) senantiasa akan di kalahkan oleh yang bathil tetapi dijalankan terorganisir
[12]) QS. Al Maidah, 5 : 3
[13]) QS. Ali Imran, 3 : 19
[14]) QS. Ali Imran, 3 : 85
[15]) QS. An Nisa’, 4 : 125
[16]) QS. AIi Imran, 3 : 104
Diarsipkan di bawah: Adat istiadat, Buya Masoed Abidin, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Politik
Masyarakat yang Mati Jiwa sulit diajak berpartisipasi
Oleh H Mas’oed Abidin
Di nagari kita di Minangkabau semestinya ditanamkan komitmen fungsional bermutu tinggi. Memiliki kemampuan penyatuan konsep-konsep, alokasi sumber dana, perencanaan kerja secara komprehensif, mendorong terbinanya center of excelences. Pada ujungnya, tentulah tidak dapat ditolak suatu realita objektif bahwa, “Siapa yang paling banyak bisa menyelesaikan persoalan masyarakat, pastilah akan berpeluang banyak untuk mengatur masyarakat itu.”
Rusaknya dakwah dalam pengalaman selama ini karena melaksanakan pesan sponsor diluar ketentuan wahyu agama. Kemunduran dakwah selalu dibarengi oleh kelemahan klasik kekurangan dana, tenaga, dan hilangnya kebebasan gerak.
Akhirnya, dapatlah dibuktikan bahwa kerjasama lebih baik dari sendiri. Mengikut sertakan seluruh potensi umat, sangat mendukung gagasan dan gerak dakwah dalam mengawal umat agar jiwanya tidak mati.
Masyarakat yang mati jiwa akan sulit diajak berpartisipasi dan akan kehilangan semangat kolektifitas. Bahaya akan menimpa tatkala jiwa umat mati di tangan pemimpin.
Tugas kitalah menghidupkan umat. Umat yang berada ditangan pemimpin otoriter dengan meninggalkan prinsip musyawarah sama halnya dengan menyerahkan mayat ketangan orang yang memandikannya. Karena itu, hidupkan lembaga dakwah sebagai institusi penting dalam masyarakat.
Memelihara sikap-sikap harmonis dengan menjauhi tindakan eksploitasi hubungan bermasyarakat. Penguatan lembaga kemasyarakatan yang ada (adat, agama, perguruan tinggi), dalam mencapai ujud keberhasilan, mesti disejalankan dengan kelompok umara’ (penguasa) yang adil, agar dapat dirasakan spirit reformasi.
Mengembalikan Minangkabau keakarnya ya’ni Islam tidak boleh dibiar terlalai. Karena akibatnya akan terlahir bencana. Acap kali kita di abaikan oleh dorongan hendak menghidupkan toleransi padahal tasamuh itu memiliki batas-batas tertentu pula.
Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek,
Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek
Dan kata-kata bidal selanjutnya,
Nak urang Koto Hilalang, nak lalu ka pakan baso,
malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso,
Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai,
Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali,
Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso,
Handak pandai rajin balaja.
Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju,
Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo
manjadi.
“Ka lauik riak mahampeh, Ka karang rancam ma-aruih, Ka pantai ombak mamacah.
Jiko mangauik kameh-kameh, Jiko mencancang, putuih – putuih, Lah salasai mangko-nyo sudah”.