PENGARUH KEPERCAYAAN DALAM MASYARAKAT MINANGKABAU

Catatan : H. Mas’oed Abidin

umrah-cairo-al-haram-077

1. Berkepercayaan = Tuntutan Naluriah

Masalah kepercayaan adalah masalah manusia yang banyak berkaitan dengan kehidpannya. Sejarah kehidupan awal dari masyarakat manusia memberi pengetahuan kepada kita bahwa tiada suatu bangsapun yang hidup atau kelompok manusia yang tingghal pada suatu tempat yang tidak mengenal kepercayaan.

Kepercayaan adalah naluriah hidup yang vital, sebab ia timbul bersama dorongan-dorongan lain sebagai perlengkapan hidup manusia umumnya. Semua itu merupakan dorongan rohaniah manusia, yang selalu mengajar mereka untuk berbuat dan menyelesaikannya. Bahkan dari dorongan-dorongan itu timbul masalah demi masalah yang tidak akan henti-hentinya dalam hidup manusia, sehingga hidup pernah diartikan dengan menimbulkan dan menyelesaikan masalah demi masalah. Demikian pula dengan kepercayaan, yaitu sebagai salah satu tuntutan naluri manusia.

Istilah naluri diartikan dengan dorongan hati atau nafsu yang berasal dari pembawaan yang menggerakkan untuk berbuat sesuatu.1) Jadi ekivalen dengan pengertian instink atau fitrah. Karena itu sifatnya tidak dapat tidak akan merupakan suatu keharusan. Dalam ilmu jiwa dorongan hati manusia itu dibedakan antara yang bersifat perasaan biologis dan yang bersifat perasaan rohaniah. Dengan demikian, berkepercayaan adalah salah satu dari perasaan erohaniah yang dalam hal ini disebut juga dengan “perasaan keagamaan”. 2)

Umumnya pengertian naluri diperuntukkan orang bagi dorongan-dorongan atau perasaan-perasaan yang bersifat biologis saja, yaitu berupa dorongan untuk makan, mempertahankan diri, dan untuk melangsungkan keturunan. 3) Dengan istilah lain, adalah kebutuhan jasmani, akan tetapi untuk keperca- yaan di sini, kita memakai pengertian naluri, sebagai dorongan hati yang secara fitrah manusia lebih mutlak adanya daripada yang lain.

Berdasarkan terminologi dan pengertian, maka antara kepercayaan dan keagamaan dapat dibedakan agak nyata, sehingga keduanya mempunyai kedudukan dan daerah masing-masing. Istilah agama berasal dari bahasa Sanskerta (a + gama) yang berati “tidak kacau”, atau “sesuatu yang teratur”. Agama merupakan tuntutan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan dan ketakutan. 4). Dalam agama terdapat suatu ikatan antara manusia dengan kekuatan gaib. Sebab itu agama ekivalen dengan religi (dari kata religius, bahasa Latin yang berarti “mengikat”) yang menuntut adanya pengabdian kepada tenaga gaib itu, baik dalam bentuk kultus maupun dalam sikap hidup keagamaan. 5)

Kepercayaan menyatakan diri sebagai alas dasar dari keagamaan itu, dan ini adalah ekivalen pula dengan “rasa keagamaan” yang dalam diri manusia meminta suatu penghayatan, sehingga berwadah sebagai agama. Sumber utama kepercayaan atau rasa keagamaan ini adalah fitrah manusia yang merupakan anugerah Ilahi, yang akan melengkapi batin manusia dalam melakukan kegiatan hidupnya sebagai makhluk yang lemah.

Dengan demikian betapapun bersahajanya manusia atau kelompok manusia, ternyata kepercayaan itu merupakan kebutuhan naluri manusia. Di satu pihak kepercayaan merupakan salah satu dari perasaan manusia, sedangkan di pihak lain dia meminta bentuk-bentuk nyata pada tindakan manusia itu sendiri. Pada tingkat inilah dia merupakan agama yang dengan sadar manusia mengakui adanya keterikatan dengan tenaga di luar dirinya, di luar alam dan kenyataannya.

Fungsi naluri dari kepercayaan manusia kepada tenaga gaib itu terletak pada keharusan menyatakan diri menjadi bentuk-bentuk pengabdian yang akan mengangkat kepercayaan itu dari statusnya sebagai rasa rohaniah menjadi suatu dorongan yang memerlukan penghayatan dalam berbagai cara keagamaan. Oleh sebab itu, setiap agama adalah kepercayaan, dan tidak ada suatu macam agama yang tidak dimulai dengan kepercayaan.

Di dalam agama Islam, dasar keagamaan disimpulkan atas enam pokok yang harus dipercayai, yang disebut dengan Rukun Iman, yaitu mempecayai adanya Allah, Malaikat, Kitab Suci, Pesuruh Tuhan, Hari Kemudian, dan mempercayai adanya kadar Tuan atas yang baik atau yang buruk.6)

Dengan adanya agama yang mengambil pola dari rasa rohaniah manusia, maka berkepercayaan atau dengan kata lain beragama itu sebenarnya adalah kebutuhan manusia yang harus dipenuhi, disamping kebutuhan pokok lainnya yang bersifat naluri.

Apakah benar bahwa berkepercayaan itu merupakan kebutuhan manusia? Dengan sifat psikologis dari contoh dalam kehidupan sehari-hari agaknya kita dapat menjawab “ya”, dengan mengemukakan contoh seperti berikut:

Kita memperlihatkan semacam benda baru kepada seorang anak kecil, Dia akan menanyakan tentang nama atau guna barang tersebut kepada kita. Sikap anak ini amat mengesankan, dan tentulah didorong oleh rasa ingin tahu, yang nantinya akan berakhir setelah dia mendengar jawaban kita. Masalahnya adalah kenapa anak kecil itu menerima begitu saja keterangan atau penjelasan kita tentang benda tadi? Pertanyaan seperti itu dan selanjutnya akan berhadapan dengan jawaban yang tersedia. Seorang mahasiswa misalnya, menerima penjelasan dosennya. Bila ia tidak puas, maka timbullah usaha untuk mencari lagi, yang akhirnya sampai juga kepada sikap menerima seperti anak kecil tadi.

Bila ia masih belum puas, atau ternyata nanti tidak juga puas, usaha pencarian (keterangan atau informasi) akan diteruskan sampai akhirnya ia menyerah kepada suatu penerimaan. Makin jauh titik akhirnya makin tinggilah kemajuan yang dicapai. Namun pada proses maksimal dan terakhir, kita akan menyerah atau menerima sebagaimana adanya. Hal ini disebabkan pada hakekatnya manusia itu mempunyai dorongan atau naluri berkepercayaan, dan telah merupakan sebagian dari fitrahnya untuk mempercayai apa yang tidak diketahuinya.

Tentang kita sendiri, misalnya pertanyaan: apa betul ibu kita ini yang melahirkan kita? Sebenarnyakah si A itu ayah kita? Sebenarnyakah kita lahir tanggal sekian tahun sekian dan di tempat anu? Semuanya itu hanya kita terima dari orang lain dari diri kita sendiri. Demikianlah kita pada akhirnya tahu dan mengaminkan diri untuk menerimanya saja. Oleh karena kita mempunyai dorongan kepercayaan. Dorongan mempercayai itu selalu timbul sehingga kita sampai pada suatu penerimaan.

Pada alam yang lahir ini unsur kepercayaan tersebut secara sekuler dapat ditandingi oleh usaha pembuktian, sehingga dihayati sebagai kenyataan. Namun pada hakekatnya di ujung pembuktian itu terdapat penerimaan atau kepercayaan. Hal yang demikian disebabkan oleh karena alat perlengkapan kita secara lahiriah dapat dengan mudah berintegrasi dengan dunia lahir. Akan tetapi terhadap alam yang diluar kenyataan dan terhadap hakekat itu sendiri, perlengkapan kita semata-mata bersifat rohaniah, dan pencapaiannya oleh kita baru disadari setelah kita dihadapkan pada keterbenturan.

Bila kegagalan telah datang, maka pada waktu itulah kita banyak menyadari adanya naluri berkepercayaan itu, sehingga jalan keluar dari kesulitan itu kita pasrahkan kepada sesuatu yang sesungguhnya pada awalnya belum kita ketahui. Hal ini dalam bagian lain akan kita perbincangkan lebih lanjut.

Demikianlah bila sejenak kita memikiri, maka naluriah kita terhadap kepercayaan itu semakin nyata, dan karena itulah maka sukar diterima alasan tentang tidak adanya perasaan keagamaan atau naluri berkepercayaan itu bagi manusia. Tidak mempunyai kepercayaan kepada kekuatan gaib dalam pengertian kepada suatu tenaga yang mengatur kehidupan manusia, merupakan suatu pengingkaran terhadap fitrah manusia itu sendiri, yang oleh Tuhan sudah dikaruniai-Nya sebagai suatu alat dalam menempuh kehidupan. Akan tetapi bahwa ada manusia yang mengingkari kefitrahannya ini oleh Tuhan juga sudah diperingatkan dalam Al-Quran: “… Sesungguhnya kami tunjukkan kepadamu (manusia itu) jalan, tetapi adakalanya ia tahu berterima kasih, dan adakalanya ia mengingkarinya…..” 7)

Jalan yang dimaksud itu adalah kesadaran batin, rasa agama atau kepercayaan, akal, pikiran dan perasaan lainnya. 8) Akan tetapi mengingkari adanya perasaan rohaniah itu bukanlah berarti tidak ada pada dirinya, sebab memang tidak seluruh alat perlengkapan dirinya dapat diketahuinya. Namun bagi manusia yang menyadari kemanusiaannya dan kemakhlukan dirinya, tidaklah akan terlanjur mengatakan bahwa dia tidak mempercayai adanya tenaga dan alam gaib itu, apalagi untuk mengatakan tidak adanya Tuhan.

2. Kepercayaan kepada Luar Lahiriah

Istilah luar lahiriah itu adalah pengertian lain dari alam gaib yang secara langsung dianggap mempunyai hubungan dengan kehidupan manusia, sebab diantara alam gaib itu ada juga yang mempunyai pengaruh kepada kehidupan. Seperti sudah disinggung di muka bahwa kepercayaan kepada alam gaib itu sudah merupakan perasaan rohaniah manusia. Dengan demikian bagi masyarakat Minangkabau hal itu tidaklah terkecuali.

Mengapa timbul kepercayaan orang Minangkabau kepada alam gaib, dan kenapa sampai saat ini masih tetap berlangsung? Niettzzsche seorang filosof Jerman menyatakan bahwa kelahiran manusia itu sebagai “insan kekurangan” atau “a shortage animal”, atau binatang yang tidak ditentukan tugasnya lebih dahulu. Datangnya ke alam dunia adalah sebagai binatang yang belum tuntas, dan ia laksana makhluk yang tetap dalam keadaan embrional. 9) Kandatipun demikian, dia diberi alat perlengkapan agar dapat hidup terus dan melakukan daya upaya untuk menghadapi tantangan alam.

Secara garis besar alat perlengkapan manusia itu dibedakan atas dua hal, yaitu yang bersifat jasmaniah dan yang bersifat rohaniah atau batiniah. Dengan mengembangkan kedua jenis alat itu manusia secara berangsur-angsur dapat menaklukkan alam sehingga fungsinya sebagai subyek dari alam dapat dicapainya.

Fungsi manusia sebagai subyek dari alam, oleh Allah telah difirmankan dalam Al-Quran: “Dialah yang menjadikan kamu (manusia) sebagai penguasa di muka bumi dan sebagian kamu ditinggikan beberapa tingkatan dari yang lain, karena Tuhan hendak menguji kamu tentang apa yang telah diberikan-Nya kepadamu sekalian”. 10)

Tentang tugas pokok manusia telah disebut dalam firman-Nya: “Aku ciptakan jin dan manusia itu agar mereka mengabdi kepadaku….” 11). Karena tugasnya yang begitu besarlah, maka manusia itu diberi perlengkapan yang jauh melebihi dari apa yang diberikan kepada makhluk lain. Namun manusia dengan fitrahnya tetaplah merupakan manusia yang kurang, apalagi bila kesadarannya untuk menggunakan alat-alat yang dianugerahkan Tuhan itu belum mampu digunakannya dengan baik.

Semenjak dari nenek moyangnya, semenjak dari purbanya, manusia telah belajar untuk melatih diri menggunakan alat-alat perlengkapan tersebut agar dapat dipakai guna menegakkan kekuasaannya terhadap alam. Apa yang dicapai oleh hasil belajar itu telah kita kenal sebagai kebudayaan. Bila dia telah berhasil dengan sesuatu laku perbuatannya, maka diharapkan oleh Tuhan agar tugas pokoknya dapat terlaksana dengan baik, yaitu mengabdi kepada-Nya.

Namun pengalaman manusia menunjukkan bahwa dia tidaklah sekaligus dapat mengenal tugas pokoknya itu. Kadang-kadang fungsinya untuk menguasai alam lebih menonjol dari pelaksanaan tugas pokok mengabdi. Disinilah manusia itu pada lahirnya kurang melihat dan menghayati alam dalam segala kelebihannya. Hal ini adalah akibat dari kebebasan musuh manusia yaitu “iblis”, sejenis makhluk Tuhan untuk memperdayakan manusia dari tugas pokok tadi, seperti perdayaan yang dilakukan iblis terhadap nenek moyang manusia (Adam dan Hawa).

Iblis berhasil menyesatkan manusia, sehingga akalnya menjadi tumpul ketika berhadapan dengan alam. Allah Subhanahu Watala telah memperingatkan manusia dalam Al-Quran tentang kehendak iblis atau syaitan itu: “Syaitan (iblis) itu hanyalah menyuruh kamu mengerjakan kejahatan dan perbuatan keji dan mengada-adakan hal Tuhan yang tidak kamu ketahui” 12) Demikianlah syaitan itu melalui alam berusaha menjauhkan manusia dari Tuhan sebagai yang harus diabdiinya.

Semuanya itu menghadapkan tantangan kepada manusia dan segalanya itu seakan-akan raksasa yang menghadang. Akan tetapi manusia itu harus hidup, mereka harus pula mengadakan perlawanan terhadap tantangan itu dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Dengan perlengkapan jasmaniah dimulailah usaha mengatasi tantangan itu. Perlengkapan rohaniah yang mungkin dapat membantu jasmani dipakai dengan sebisa-bisanya. Akan tetapi karena alam yang dihadapinya dalam keadaan siap, maka sering kali pula timbul kegagalan dalam usaha untuk menjadikan alam itu guna memenuhi kebutuhannya.

Apa yang dilihatnya hari ini besoknya berubah dan pada saat lain berubah lagi. Matahari yang pagi ini terbit di Timur (di Minangkabau), nanti setelah beberapa waktu lenyap di tempat yang berlawanan. (sebelah Barat). Sungai tempat mereka mandi dan minum kadang-kadang banjir dan kadang-kadang kering. Bahan makanan yang ada di sekitar mereka habis dimakan binatang, atau dilanda banjir, atapun hancur dimakan waktu. Demikianlah kenyataan yang dihadapi mereka, sekaligus alat-alat perlengkapan rohaniah yang belum terlatih itu (akal) tidaka sanggup melakukan tugasnya.

Bukan ini saja tantangan hidup yang dihadapi mereka. Peristiwa-peristiwa alam seperti angin keras, gunung meletus, kematian, sakit dan lain sebagainya merangsang mereka dalam melakukan perjuangan hidup untuk memenuhi kebutuhan lahirnya. Akibatnya timbullah rasa takut dan rasa kesusahan untuk menghadapi segala-galanya itu. Untuk itu maka dicobanyalah menghindarkan diri dengan jalan menenteramkan tubuh dan jiwanya. 13) Karena rasa takut, rasa susah dan kekurang-mampuan untuk mengatasi kenyataan itu membangkitkan perasaan-perasaan rohaniah mereka untuk melakukan usaha, agar alam itu dapat ditundukkan atau setidak-tidaknya jangan sampai membahayakan.

Namun demikian, seluruh upaya rasa rohaniah itu terbentur dan tidak berhasil mengatasi ketakutan, kesusahan dan ketidakmampuan itu. Pada waktu inilah timbul alat yang paling utama bagi manusia yaitu rasa kepercayaan atau rasa keagamaan yang menginformasikan kepadanya bahwa disamping alam lahir ini ada lagi alam di luar lahiriah yang mempunyai hubungan erat dengan alam nyata. Merangkaklah fitrah kepercayaan itu dari sedikit ke sedikit, sehingga setiap dijumpai kedahsyatan alam atau rasa ketakutan dan setiap dijalani kegagalan, maka kepercayaan itu muncul menentramkan tubuh dan jiwa manusia itu.

Demikianlah bermulanya kepercayaan masyarakat kepada luar lahiriah itu, atau tegasnya mulai mereka menyadari akan adanya naluri kepercayaan atau rasa keagamaan yang disebabkan mereka selalu diburu-buru oleh rasa takut dan susah. Dalam banyak hal, kemunculannya disertai bahkan disebabkan oleh ketidak-mampuan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Bagi masyarakat Minangkabau hal ini tidaklah terkecuali, bahkan sampai sekarang dihayati terus menerus, baik yang telah meningkat kepada bentuk agama maupun yang masih berada pada tingkat awal.

Dalam penghayatan kepada luar lahiriah ini, sebagai usaha untuk mendapatkan ketentraman, dibutuhkan pula usaha pemikiran untuk memperolehnya. Hal ini didapatkannya dengan jalan mengadakan hubungan atau kontak dengan luar lahiriah itu sendiri. Karena itu status seseorang atau kelompok masyarakat ini menjadi orang yang meminta, sedangkan kekuatan luar lahiriah tadi menduduki tempat sebagai sipemberi. Si peminta tentulah tidak akan lebih tinggi kedudukannya daripada si pemberi, karena itu si peminta akan bersikap memohon dan bukan memaksa.

Oleh sebab itu, lahiriah bentuk-bentuk perhubungan yang ada kalanya berupa ritus, dengan upacara dan bahasa. Perhubungan yang dilakukan baik bersifat perorangan ataupun kolektif pada masa ini, tidak saja disebabkan oleh kegagalan, tetapi juga karena takut pada kegagalan itu sendiri. Dengan demikian setiap perbuatan yang ada sangkut pautnya dengan alam, selalu dimulai dengan mengadakan kontak terlebih dulu antara perseorangan atau pun kolektif tadi secara bersama-sama dengan alam gaib tersebut.

Kendatipun masyarakat Minangkabau sudah memeluk agama Islam yang pola kepercayaannya menetapkan ke Esa an Yang Maha Penguasa, dan alam gaib yang dipercayainya itu tidak lebih dari makhluk Allah juga yang tidak mungkin berbuat kecuali dengan izin-Nya.14) Namun kepercayaan kepada sifat menentukan kepada alam gaib itu masih ada, sekalipun dalam jumlah yang tidak besar.

3. Kepercayaan dalam Bentuk Agama

Kepercayaan kepada yang gaib (baik alam maupun Penciptanya yang keduanya sama-sama gaib) merupakan pengalas dasar dari agama. Dalam kepercayaan masih belum dituntut keharusan tindakan atau aktifitas jasmani baik berupa upacara ataupun sikap dan perhambaan. Ia baru merupakan embrio yang menunggu campur tangan jasmani. Dalam agama kepercayaan ini telah dirumuskan dan telah ditentukan bagaimana kedudukan manusia terhadap yang dipercayai iiu, dan apa yang harus diperbuat serta bagaimana cara yang seharusnya dilakukan.

Meneliti kembali tentang rasa keagamaan sebagai fitrah manusia, maka timbullah beberapa teori tentang perkembangan agama, sehingga terdapat keaneka-ragaman pendapat. Dalam buku Kuntuaraningrat 15) dapat dilihat beberapa teori tentang asal mula agama itu. K.B Taylor seorang ahli antropologi budaya menjelaskan bahwa agama itu berkembang dari tingkat rendah menurut evolusi tertentu. Pada tingkat pertama berupa animisme, yaitu kepercayaan pada makhluk halus dan roh-roh yang menempati seluruh alam. Kemudian meningkat sesuai dengan perkembangan berpikir manusia, sehingga sampai pada tingkat tertinggi, yaitu monotheisme.

Lepas dari setuju atau tidak setuju dengan teori evolusi agama ini, maka dalam masyarakat Minangkabau (terutama di desa-desa) dapat dikatakan bahwa kepercayaan terhadap makhluk halus itu tetap ada, disamping mereka telah memeluk agama yang menurut teori evolusi telah berada pada tingkat tertinggi, yaitu Islam. Kebenaran ini, akan dijelaskan lagi berdasarkan fakta yang diperoleh dalam penelitian. Namun terlebih dulu akan kita ikuti pandangan Gazalba tentang agama, yang membaginya atas dua jenis, yaitu:

a. Agama sebagai produk manusia yang dapat dimasukkan ke dalam lapangan kebudayaan. Yang masuk kategori ini misalnya agama bersahaja, animisme, dinamisme dan sebagainya. Dia merupakan suatu penjelmaan cara berpikir manusia dalam berhubungan dengan Yang Maha Pencipta.

b. Agama, yang diturunkan oleh Tuhan dengan wahyu kepada Rasul, yang disebut dengan “addinus samawi” atau “agama langit” , tidak termasuk lapangan kebudayaan….”16)

Kedalam kriteria kedua ini termasuk agama yang meng-Esakan Tuhan yang diterima oleh para Rasul Ilahi, seperti Islam, Kristen-murni, dan Yahudi-murni.

Mengenai perbedaan kedua kategori ini, Drs.Moh.Sjafaat mengemukakan bahwa agama jenis pertama yang disebutnya sebagai “agama dunia”, membayangkan pengertian yang serba gaib, pengertian mistik, misrteri, magi, fantasi dan takhyul. Karena itu ia tidak tahan uji, bila pengetahuan manusia telah dapat menyingkapkan tabir kerahasiaannya atau sudah tampak cela dan kekurangannya.

Berbeda dengan agama dunia itu, maka agama langit cocok dengan penalaran (akal) manusia, sebab ia datang dari Yang Maha Pencipta. Kita tentu merasa aneh, karena di kalangan rakyat masih demikian kuatnya berakar kepercayaan pada agama jenis pertama itu, sehingga kendati pun mereka telah memeluk agama Islam, sebagai agama yang benar, namun mereka tetap mempertahankan agama dunia itu. Peresapan yang telah berakar itu disebabkan oleh pengaruh tempat mereka hidup, pendidikan, keturunan, pengalaman masa kecil, dan sebagainya. 17)

Disamping pengaruh lingkungan tempat mereka hidup, pendidikan, dan keturunan yang menyebabkan masyarakat berpegang teguh kepada paham-paham agama produk manusia itu, faktor utamanya adalah perkembangan manusia itu pada tempat tinggal mereka sendiri.

Rasa keagamaan yang mengesakan Tuhan, telah dirahmatkan oleh Ilahi melalui fitrah manusia, sehingga dengan demikian mereka telah menemukan fitrah mereka sendiri sebagai makhluk, kendatipun penemuan fitrah keagamaan ini dibentengi juga oleh syaitan sehingga pengenalan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu masih tetap dikaburkan. Dipandang dari segi agama dan ketaqwaan kita sendiri, sebagai seorang muslim, kepercayaan mereka ini jelas salah, bahkan Islam menghukumkan penganut kepercayaan seperti ini dengan “musyrik” (orang yang memperserikatkan Tuhan). Namun demikian halnya, bila dilihat dari sudut fitrah manusia yang lain, manusia itu memang diciptakan dari bahan-bahan alamiah dan datangnya paling muda dibandingkan dengan terciptanya alam lain. 18) Dengan adanya kepercayaan kepada kekuatan gaib itu yang menurut evolusi K.B Taylor, disebut animisme, dan menurut Gazalba termasuk agama produk manusia atau agama dunia, juga merupakan suatu bukti bahwa manusia itu kodratnya mempunyai naluriah kepercayaan atau rasa keagamaan.

Kendatipun seperti demikian, bagaimana kedudukan kepercayaan berganda, seperti yang dipraktekkan oleh sebagian masyarakat Minangkabau itu? Apakah Tuhan memang memberikan jenjang pertama dengan kepercayaan animisme, baru kemudian dengan agama Tauhid? Agaknya dalam hal ini soal waktu, tempat dan suasanalah yang menimbulkan pengaburan itu. Tuhan sebagai Yang Maha Tahu dan Maha Adil, cukup memberi kemungkinan bagi manusia untuk mendapatkan-Nya. Tetapi oleh karena pengaruh luar, ternyata sebelum agama (yang benar didatangkan) maka di kalangan masyarakat telah menebar kepercayaan yang kabur itu lebih dulu.

Dalam masyarakat Minangkabau, kepercayaan pada kekuatan gaib itu disebabkan juga oleh pandangan mereka kepada alam. Faktor tempat mempengaruhi pula berakar tidaknya kepercayaan itu bagi mereka. Begitu pun cara masuknya agama Islam yang cenderung bersifat kompromi, memungkinkan kepercayaan lama tetap hidup dan tidak dimusnahkan. Lagi pula para penyebar agama Islam waktu itu tidak merasa perlu untuk mengikis habis pola kepercayaan musyrik itu.

Dibalik predikat Islam, kepercayaan itu ternyata masih dapat berlindung pada kebiasaan-kebiasaan lama yang sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat.

Kebernaran tentang agama wahyu juga dipengaruhi oleh waktu dan tempat. Pemeluk agama Islam tidak lagi mengakui kebenaran Agama Kristen dan Yahudi dan lain-lain agama wahyu, oleh karena agama itu sudah dirusak oleh tangan-tangan manusia sendiri. Lagi pula menurut kepercayaan Islam, agama-agama tersebut hanya berlaku pada tempat dan golongan masyarakat serta waktu tertentu saja. Mengenai pendirian Islam bahwa hanya agama Islam lah yang benar di sisi Tuhan, seperti yang dilukiskan dalam firman Ilahi:

“Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Tuhan adalah Islam. Hanyalah orang-orang keturunan Kitab yang berselisih paham sesudah pengetahuan itu datang kepada mereka, disebagkan kedengkian diantara sesama mereka. Dan siapa yang tidak perdcaya kepada keterangan Tuhan itu, sesungguhnya Tuhan amat cepat sekali membuat perhitungan” 19)

Pengertian keturunan Kitab disini adalah pengikut agama wahyu selain Islam. Selanjutnya agama langit atau agama wahyu, tidaklah sama obyeknya. Agama Yahudi misalnya yang dibawa oleh Musa a.s dan a- gama Masehi yang dibawa oleh oleh Isa a.s hanya diperuntukkan bagi “anak-anak (bangsa) Israil” saja. Baik Al-Quran maupun Injil telah menjelaskan hal itu secara gamblang: “Dan sesunguhnya telah Kami berikan kepada Musa, Kitab yang memberi pimpinan dan Kami pusakakan Kitab itu untuk anak-anak Israil”.20)

“Dan dia (Isa a.s) menjadi Rasul bagi anak-anak Israil” 21) Didalam Injil pun ditemui penjelasan Yesus menjawab, katanya “Saya tidak diutus melainkan kepada kambing-ka bing Bani Israil yang sesat”. 22)

Akan tetapi agama Islam ditujukan kepada/untuk seluruh umat manusia, jadi sifatnya universal. Tidaklah terkecuali orang-orang keturunan Kitab sendiri, mereka juga berkewajiban untuk menuruti agama Islam. Hal ini dijelaskan dalam firman Ilahi:

“Dan tidaklah Kami mengurtus engkau (Muhammad) kecuali untuk seluruh manusia.23)

“Dialah yang mnengutus Rasul-Nya (Muhammad) membawa pimpinan yang benar dengan kebenaran, supaya dapat mengatasi agama seluruh nya, biarpun orang-orang yang mempersekutuhan Tuhan itu tidak merasa senang”.24)

Kendatipun agama wahyu yang terdahulu dari Islam itu adalah a- gama tauhid yang mutlak dan benar, namun lantaran tangan beberapa orang manusia menjadi bernoda. Begitulah orang Islam tidak lagi mengakui kebenaran agama Masehi, yaitu setelah wafatnya Isa a.s, te- rutama sesudah Paulus (salah seorang pengikut Isa) memasuki dan memeluk agama ini. Dialah yang menhancurkan haluan-haluan yang benar dari agama itu. 25), sehingga dapatlah kita berkata bahwa hanyalah Islam yang masih terjamin kebenarannya di antara agama wahyu itu.

Faktor akal merupakan hal yang penting bagi kewajiban terhadap agama yang benar ini. Orang yang tidak berakal atau yang belum dewasa (balig), orang gila, orang mabuk dan anak-anak, tiadalah dituntut oleh kewajiban menjalankan agama Islam. Seperti disabdakan oleh Nabi Mu- hammad s.a.w: “Agama itu adalah akal, tiadalah beragama bagi orang yang tidak mempunai akal” (hadist).

Karena keras amalannya itulah maka Islam merupakan penyempurna agama-agama wahyu yang terdahulu. Dan karena pola ke-Tuhan-annya yang jelas serta masuk akal, mengakibatkan batalnya segala agama dan segala bentuk kepercayaan manusia selain dari Islam itu sendiri. Pola kepercayaan Islam adalah meng Esa-kan Tuhan, dan tidak sesuatupun kekuatan yang dapat mengatasi-Nya. Hanya Allah saja yang berhak dipuji dan hanya kepada-Nya saja segala permintaan, permohonan doa dan upacara diperuntukkan:

“Katakanlah (Ya Muhammad)

Tuhan Allah itu Esa

Allah itu tempat meminta

Dia tidak mempunyai putra

Dan Dia tidak dilahirkan

Tidak ada sesuatupun (di antara maakhluk ini, alam lair atau alam gaib)

Yang menyerupai-Nya dalam segala hal” 26)

Memuja saja kekuatan alam yang merupakan hasil renungan manusia, seharusnya sudah hapus dan praktek-praktek mantra yang menuju suatu roh atau jiwa seharusnya tidak ada lagi apabila Islam telah diakui: “Engkau saja yang kami sembah, dan kepada Engkau lah hanya kami minta pertolongan”.27)

Jadi dengan adanya agama Islam, bukanlah berarti bahwa sebelumnya tidak ada kepercayaan yang dianut oleh kelompok-kelompok manusia. Banyak teori mengatakan bahwa sebelum agama Islam datang, mereka telah mempunyai bentuk-bentuk agama, agaknya tidaklah perlu kita sangsikan, sebab kalau sekiranya tidak demikian, tentulah agama (Islam) ini tidak datang untuk membetulkan tauhid yang telah sesat itu.

4. Dari Animisme ke Monotheisme

Telah dijelaskan bahwa kepercayaan pada kekuatan gaib yang dianggap mempunyai kekuasaan pada manusia adalah kemusyrikan yang menyesatkan manusia itu sendiri. Demikian merasuknya kesesatan itu, sehingga tidak dianggap sebagai suatu kesalahan, malah dianggap sebagai suatu hal yang biasa saja dan dapat berkompromi dengan agama Islam.

Memercayai adanya alam gaib tidak bertentangan dengan agama Islam. Akan tetapi menyangka alam gaib itu dapat menentukan hidup manusia, karena itu mereka harus dipuja, berarti mereka sudah dijadikan subyek kepercayaan. Dengan demikian kedudukannya sama dengan Tuhan Yang Maha Esa. Pada tahap inilah hukum kemusyrikan itu jatuh kepada pemeluk agama dunia itu termasuk di dalamnya animisme dan dinamisme. Untuk menghilangkan kemusyrikan itu yang di dalam masyarakat tidak dirasakan atau disadari, termasuk juga tugas agama Islam, yaitu tugas pemeluknya yang mengetahui.

Dalam masyarakat Minangkabau unsur-unsur kepercayaan lama yang bersahaja seperti animis dan dinamisme dengan upacara-upacaranya masih kelihatan sisa-sisanya. Hal ini masih ktia dapat pada sebagian masyarakat di desa-desa. Keadan alam Minangkabau yang umumnya bersifat agraris itu agaknya mempersukar hilangnya kepercayaan itu, kendatipun agama Islam sudah berakar kuat di sini. Kepercayaan animisme, dinamisme dan kini kepercayaan berganda, memang lebih erat hubungannya dengan kehidupan masyarakat agraris itu.

Dalam masyarakat Dobu misalnya di pantai Irian Selatan, mempercayai bahwa ubi sebagai makanan pokok mereka sanggup mempunyai sifat-sifat seperti manusia. Tanaman ubi itu bisa berpindah-pindah dari satu kebun ke kebun lain. Mereka beranggapan bila kebun ubi orang lain kelihatan subur dan hasilnya banyak, maka hal itu disebabkan oleh pencurian magis, bukan karena tanahnya yang subur atau rawatannya yang lebih baik oleh pemiliknya. Mereka tidak hendak memikirkannya sehingga mengerti bahwa orang lain akan sanggup menanam ibi lebih banyak dari pada mereka sendiri. 28)

Demikianlah, setiap benda alam ini, mempunyai sifat atau jiwa seperti manusia dan perbuatan personifikasi semacam itu bagi masyarakat Minangkabau tidaklah terkecuali. Bila sebuah biji padi terpelanting di tengah jalan dan terinjak-injak oleh kaki manusia, maka padi itu dianggap akan sedih dan bukanlah suatu kemustahilan ia akan mengadukan halnya kepada induknya. Akibatnya bagaimana? Boleh jadi sipenganiaya padi tersebut akan mengalami kelaparan terus menerus atau padi yang ada di rumahnya meungkin akan lenyap. Karena itu setiap tampak ada padi yang tercecer kalau tidak akan dipungut, ditegur dengan manis. Bila akan menginjaknya misalnya di dalam lumbung, terlebih dulu haruslah menyebut sesuatu yang merupakan permohonan izin kepadanya, misalnya “Hai si Lansari, bari maoh aku lalu” (Hai si Lansari, beri maaf aku lewat).

Akibat dari anggapan bahwa setiap benda mempunyai jiwa (animisme) maka segala sifat yang ada pada manusia berlaku juga bagi benda-benda itu, yaitu roh halus yang berada padanya. Mereka dapat melihat, mendengar, mencium, merasa, berkata dan sifat-sifat lain dari manusia Karena kepercayaan yang demikian, maka tidaklah aneh, bila kepada padi yang terpelanting tadi diucapkan sesuatu. Bila melakukan sesuatu pekerjaan pada tempat tertentu diminta lebih dulu restu dari roh halus penghuni tempat atau yang menjaga tempat tersebut.

Perbuatan-perbuatan seperti di atas, dalam masyarakat Minangkabau masih dapat kita lihat pada upacara-upacara, misalnya mendirikan rumah menebang kayu di rimba, pergi berburu, turun ke sawah, membuka hutan atau ladang baru, melahirkan, kematian, ketika sakit serta keadaan yang berlaku dalam kegiatan hidup lainnya. Semua itu perlulah di dahului oleh semacam permohonan keselamatan. Bentuk permohonan yang merupakan bahasa kita kenal dengan istilah “mantra” yang didalam masyarakat di sebut “du`a” (Bahasa Arab).

Kepercayaan masyarakat yang semacam itu lebih diperkuat pula oleh pengaruh ajaran Hindu-Budha yang pernah singgah di Minangkabau, sebelum datangnya agama Islam. Hal ini dapat ktia lihat pada bekas-bekas kepercayaan reinkarnasi atau penjelmaan kembali sesudah seseorang meninggal dunia. Penjelmaan tersebut sering di sebut orang dengan “jadi-jadian”, yaitu binatang atau sejenisnya yang disangka berasal dari seorang manusia yang telah meninggal dunia. Dengan demikian dikenal dalam masyarakat istilah, misalnya “harimau jadi-jadian”, atau “kucing jadi-jadian”, bila penjelmaan itu merupakan binatang binatang itu. Begitupun semacam kepercayaan yang masih erat melekat pada masyarakat di desa-desa adalah kepercayaan akan adanya “hantu”. 29) bagi setiap orang yang mati yang merupakan pendekatan terhadap jadi-jadian itu. Dalam percakapan sehari-hari untuk sekadar membedakan antara orang hidup dengan orang mati terdapat pameo (ungkapan) “Urang iduik banyak aka, urang mati banyak hantu” (Orang hidup banyak akal, orang mati banyak hantu).

Dengan masuknya agama Islam paham penjelmaan ini menjadi bercampur aduk, sehingga setiap orang yang telah meninggal dunia, dianggap arwahnya turun ke rumah pada setiap bulan suci. Bulan yang sering dikunjungi oleh arwah-arwah tua (keluarga) itu adalah Rabiul Awal, Rajab, Sya`ban, Ramadhan serta Zulhijah, disamping petang Kamis atau malam Jumat. Oleh karena itu menjadi lumrah di desa-desa orang mengadakan pembacaan doa-doa secara Islam dengan menjamu “urang siak” 30) untuk memintakan atau memanjatkan doa tersebut kepada …… Tuhan.

Cara memanggil bukan menurut Islam, hanyalah doanya yang secara Islam. Memanggil seseorang untuk membacakan doa, agaknya bukan kelaziman agama Islam, karena mendoakan atau memohonkan sesuatu kepada Tuhan lebih afdal atau lebih baik dilakukan oleh kita sendiri daripada dimintakan oleh orang lain.

Memanggil orang berdoa pada setiap petang Kamis itu terkenal dengan istilah “badu`a patang Kamih” (berdo` petang Kamis). Di sini bercampurlah ajaran agama Budha dengan Islam. Pencampuradukkan kedua ajaran itu terletak pada pensublimasian ruh yang hidup itu menurut Islam dengan a- danya penjelmaan kembali menurut Hindu-Budha pada setiap bulan tertentu, kendatipun tidak terlihat. Malah dikatakan bahwa roh si mati itu datang, untuk melihat dari dekat keadaan anak cucu atau keluarga yang ditinggalkannya.

Dewasa ini masih dilakukan cara-cara menghitung hari orang yang telah meninggal, oleh keluarganya yang masih hidup. Yaitu mulai sejak dia meninggal dunia sampai seratus hari. Pada tanggal tertentu, misalnya setiap kelipatan sepuluh hari matinya atau setiap kelipatan tujuh, diadakan upacara mendoa dengan “urang siak” tadi untuk membacakan doa selamat bagi almarhum.

Waktu upacara itu para pamili yang berjauhan datang membawa makanan ke rumah pamili yang menghitung hari mati tadi. Hal ini disebut dengan “maliek kaji”, atau “du`a” (melihat orang mengajikan atau melihat orang mendoakan). Setelah sampai seratrus hari, diadakan ucpacara besar yaitu dengan menjamu seluruh isi kampung dan kembali membacar do`a selamat. Dalam upacara yang terakhir ini, pidato-pidato persembehan, mulai dari permulaan upacara sampai akhirnya memegang peranan penting.

Ketika ini keluarga almarhum biasanya memberikan sedekah kain sarung, kepada seseorang yang disebut “urang manggantian” (orang yang menggantikan) yaitu orang lain yang disenangi oleh pamilinya, yang telah ditetapkan juga dengan mupakat sewaktu kematian, dan ketika “manyaratuih hari” (menyeratus hari, upacara ketika cukup seratus hari almarhum meninggal dunia). Kadang-kadang juga diberi hadiah kain sarung atau handuk mandi. Biasanya diringi pula dengna sebuah payung hujan.

Di sini kelihatan lagi bercampur aduknya kepercayaan yang dianut oleh masyarakat. Pada satu pihak tata cara Islam akan menyelenggakan si mati mulai dari memandikan, mengafani, menyembahyangkan, menguburkan dan mendoakan. Tetapi di pihak lain paham lama (yang telah terpadu dalam kebiasaan) menyelenggarakan pula tata cara sesudah si mati itu ditanamkan. Pembacaan doa setiap tanggal tertentu mungkin dimaksudkan agar jangan orang yang meninggal itu mengalami sebagai sesuatu yang kurang baik. Akan tetapi karena Islam telah memegang peranan dalam hidup mereka, maka diberi judul permohoan langsung *yang dilakukan oleh orang lain” atas kesalahan dan kekhilafannya dapat diampuni Tuhan dan agar dilindungi-Nya di akhirat.

Demikianlah paham kepercayaan masyarakat Minangkabau setelah memeluk agama Islam, mereka amalkan ajaran Islam, tetapi masih enggan melepaskan milik lama yang tampaknya disenangi. Sifat dan gelagat seperti demikian masih dipegang juga sampai sekarang. Mereka tidak memiliki ketegasan dalam kepercayaan, apalagi kepercayaan menurut ajaran Islam yang murni.

Dalam adat Minangkabau yang dijalin dengan kepercayaan itu tampak juga ketidaktegasan mengikuti apa yang dikonsepkan oleh adat itu sendiri. Misalnya dasar: “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato adaik mamakai”. Pada bidang harta warisan misalnya tampak ketidak tegasan itu. Kita tidak menjalankan hal ini karena harta warisan di Minangkabau itu terdapat istilah “panjang bakarek, kok bunta bakapiang” (bila panjang dipotong, bundar dikeping), antara pihak kemenakan dengan pihak anak dari seorang almarhum (laki-laki ) yang ada meninggalkan harta pencaharian.

Cara yang sepeti demikian memperlihatkan juga ketidak tegasan mengikuti ajaran agama yang benar itu. Namun demikian, kita masih dapat berbangga diri, karena adat Minangkabau yang disusun jauh sebelum Islam masuk (yaitu pada masa jayanya kepercayaan animisme, dinamisme dan Budhisme), dapat cocok dengan ajaran Islam sebagai pelurus kepercayaan dan cara bermasyarakat. Kendatipun beberapa hal dari adat itu masih perlu mendapat penelaahan, pemikiran kita bersama.

Memang sebelum Islam, pengaruh Budhisme amat besar di Minangkabau. Hal ini dibuktikan dengan terdapatnya peninggalan-peninggalan kuno di Muara Takus dan beberapa tempat lainnya. Untuk hal ini dijelaskan oleh Drs.Zuber Usman:

“…. Di sini akan kita pakai saja nama Minangkabau purba atau Minangkabau Budha, seperti telah kita kenal dalam sejarah Sriwijaya bahwa Budisme yang lebih berpengaruh atau lebih kuat di Sumatera sebelum ada pengaruh Islam“. 31)

Tentulah dalam pembentukan adat Miangkabau pengaruh animsme dan Budhisme ini tidak dapat ditiadakan, sehingga dalam pencocokan adat dengan ajaran Islam itu ada beberapa hal yang dilenyapkan. Tetapi masih ada juga beberapa hal yang dibiarkan sebagaimana semula seperti yang disebutkan diatas.

Tengang nama “adat” itu sendiri telah mendapat revisi pula. Kata Rudolf berasal dari bahasa Arab “adatun”, artinya “kebiasaan, tata cara atau undang-undang hidup”. Dalam istilah Minangkabau asli disebut dengan istilah “buek” (buat) yang merupakan nama asli dari adat itu. Dari kata “buek” itu saja, ternyatalah bahwa undang-undang hidup itu tidak ditentukan, tetapi dirumuskan bersama dengan mufakat. Itulah sebabnya diberi predikat dengan “tak lapuak dek ujan, indak lakang dek paneh” (tidak lapuk oleh hujan tidak lekang oleh panas), oleh karena adat itu adalah “buek” yang dimufakati.

Kecocokan adat Minangkabau yang telah disusun jauh sebelum Islam masuk, kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam sesuai dengan fungsinya sebagai penyempurna budi pekerti manusia dan memperlurus ketauhidan dalam beragama. Hal ini dijelaskan oleh Prof.Mr.Nasroen:

“Tetapi lain halnya waktu agama Islam masuk masyarakat Minangkabau , adat Minangkabau tidak hancur, sebab sebagaimana telah diterangkan, adat Minangkaau itu adalah berdasarkan pada ketentuan-ketentuan yang terdapat pada alam, yang disabdakan oleh Tuhan dalam Al-Quranul Karim dan oleh sebab itu agama Islam menerima kenyataan adat Minangkabau itu. Malahan kedatangan agama Islam itu masyarakat Minangkabau merupakan sebuah rahmat Allah bagi masyarakat Minangkabau, sebab agama itu telah menyempurnakan adat itu”.32)

Oleh karena sifat menyempurnakan ini, tentulah unsur-unsur lama tidak hilang seluruhnya oleh agama Islam itu. Dengan demikian beberapa materi adat yang merupakan tatacara hidup masyarakat Minangkabau menggambarkan juga unsur-unsur lama, kendatipun unsur-unsur itu bertolak belakang dengan ajaran Islam sendiri.

Adalah tugas generasi sekarang untuk membersihkan semua unsur-unsur yang bertentangan dengan ajaran agama yang hendak ditupangi baik dalam hidup di dunia maupun di akhirat. Terlebih lebih di sektor kepercayaan yang merupakan pandangan hidup bagi seorang Muslim. Unsur-unsur kepercayaan sesat yang telah bebaur dengan bahasa dalam kesusastraan misalnya, dapatlah dianggap seba gai hasil kebudayaan lama untuk dijadikan cermin pemantul untuk melihat keadaan masyarakat lama kita. Bolehlah kita ambil mutiaranya dan kita pupuk mana yang tidak mengganggu kepada ketauhidan dan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu Wataala. Ketauhidan inilah yang menurut hemat kita, rasa dari rasa rohaniah (kepercayaan) itu, yang karena pengaruh kesesatan bervolume sebagai bentuk “s e r b a” dan kita anggap sebagai awal.

Demikianlah pandangan kita sekadarnya tentang kepercayaan masyarakat Minangkabau, dan kalau selanjutnya kita memasuki persoalan bahasa yang berkaitan dengan kepercayaan, maka yang kita maksud adalah kepercayaan yang terdapat di Minangkabau.

5. Monisme sebagai Pengaruh Kepercayaan

Istilah “monisme” berasal dari bahasa Latin “monos” satu atau tunggal. Jadi monisme adalah paham yang serba tunggal, merupakan aliran filsafat yang berpendirian bahwa realitas yang sebenarnya itu hanyalah satu. Lawan dari monisme adala dualisme, yaitu yang menganggap realistas itu dua, atau paham yang serba dua. Misalnya dualisme ini adalah adanya baik dan buruk, hina dan mulia, jasmani dan rohani, alam dan Tuhan atau makhluk dan Khaliknya.

Hubungan monisme dengan kebudayaan manusia dijelaskan oleh Dra.Sabarti Achadiah:

“Di dalam alam yang lama ini atau mikrokosmos manusia adalah termasuk ke dalam susunan mikrokosmos. Pandangan atau pendapat yang mengutarakan bahwa susunan mikrokosmos bersesuaian dengan timbangan susunan makrokosmos sehingga kedua hal ini merupakan suatu keseimbangan, disebut monisme. Segala sesuatu terikat kepada alam, manusia pun merasa terikat dengan alam itu. Alam merupakan segala-galanya. Semuanya yang ada ini masuk kedalam suatu ikatan suci yang maha besar, yaitu makrokosmos. Pandangan seperti ini sudah barang tentu sangat erat hubungannya dengan kepercayaan, sebab di sini manusia hanya dianggap sebagai penjaga keseimbangan dalam dia berbuat, atau bertingkah laku.33).

Masyarakat Minangkabau juga terpengaruh oleh monisme ini. Di daerah Solok misalnya, dahulu menjadi kebiasan kalau hari panas panjang dan lama sekali tidak turun hujan, maka mereka mandi-mandi ke kolam-kolam atau ke sungai atau mata air. Di sana dilakukan simbur-menyimbur dengan menggunakan semacam pompa bambu yang disebut gacik-gacik. Air dipercikkan dengan pompa itu ke atas meniru jatuhnya hujan. Perbuatan ini dilakukan dengan harapan agar alam menurunkan hujan.

Kalau seseorang melakukan perjalanan, misalnya ke luar daerah atau pergi berjualan ke pasar, mereka akan mempunyai perhitungan empat, atau mereka sebut langkah nan ampek (langkah yang empat), yaitu:

* palangkahan = langkah perlangkahan (tepat pekiraan)

* rasaki = langkah rezeki (keberuntungan)

* patamuan = langkah jodoh, dan

* mauik = langkah muat (kesialan)

Keempat langkah ini berlaku menurut peredaran hari yang mereka nilai pada hari Jum`at. Mereka beranggapan, pada langkah maut dilarang berjalan, karena penguasa atau alam gaib ketika itu menetapkan kematian Bila hal ini dilanggar, maka maksud tidak akan sampai. Demikian pula kepercayaan, misalnya kelahiran pada hari-hari Selasa, dianggap kelahiran yang panas, akibatnya si anak yang lahir nanti akan penaik darah dan suka berkelahi kalau sudah dewasa. Berjalan pada hari Jum`at di anggap akan mendapat kegagalan karena melangkahi waktu shalat Jum`at.

Di bidang bahasa pun juga monisme timbul akibat pengaruh kepercayaan. bahwa merupakan jembatan penghubung pada kosmos. Dalam bahasa Minangkabau beberapa kata identik sekali dengan pengertiannya. Bila kita hubungkan dengan monisme maka dapat dikatakan pengertian dari sebuah kata akan merupakan makrokosmos terhadap mikrokosmosnya kata-kata. Hal ini menimbulkan kata pantang, atau tabu terhadap beberapa buah kata.

Nama orang tua atau orang yang telah tua, melambangkan person orang itu baik karerna ketuaannya, maupun karena kekuasaannya. Nama itu terlarang menyebutnya baik berhadapan dengan orangnya, maupun di belakangnya. Kalau ada sesuatu keperluan untuk menyebut nama itu dihikmatkan terlebih dulu dengan suatu pemaafan kepadanya kala dia masih hidup. Dan dimintakan maaf dengan menyebut secara langsung bila ia sudah meingggal dunia. Misalnya dengan perkataan “maaf malaikat beliau akan mendengar”, atau “arwah beliau akan memaafkan”.

Anak-anak terutama kalau ditanyakan kepadanya nama orang tuanya, guna sesuatu kepentingan, mereka tidak berani menyebutkannya. Hanyalah dengan pertolongan orang lain, kita dapat mengetahui nama orang tuanya itu. Teman mereka sendiripun juga merasa enggan menyebutnya, karena di samping terasa kecanggungan karena mengetahui ketabuan, juga takut akan dimarahi oleh teman yang punya orang tua itu.

Tidak jarang sampai anak berumur 7 tahun, mereka belum lagi mengenal nama orang tuanya, apalagi nama kakeknya, kecuali kalau mereka terlibat dalam pertengkaran dengan temannya se usia oleh karena suatu sebab.

Dalam perkelahian atau pertengkaran itu, seringkali mereka saling menyebut nama orang tua, karena menyebut nama orang tua seperti itu dalam suasana perkelahian dianggap sebagai makian. Menyebut nama orang tua seseorang tidak dengan maksud memperoleh keterangan terpenting, di sebuat “mamaki” (memaki).

Panggilan nama orang tua di belakang nama seseorang seperti sekarang umumnya kita lihat, bagi masyarakat Minangkabau jelas merupakan pengaruh asing atau dari luar Minangkabau.

Kelaziman itu barulah muncul ketika banyak pemuda-pemuda memasuki sekolah atau memperluas lingkungan pergaulannya. Bagi beberapa orang tua masih tetap tidak senang dengan penampilan namanya di balakang nama anakanya, apalagi kalau orang tua kita itu digolongkan dengan apa yang disebut “kolot” atau “kuno”.

Hal tersebut memang beralasan, karena orang yang seharusnya menjaga nama baik orang tuanya, sekarang sengaja menghilangkan ketabuan itu, Ini berarti menghilangkan keseimbangan yang harmonis antara mikrokosmos dengan makrokosmos.

Sebagai bawaan dari agama Islam sendiri yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Arab dalam pandangan telah memasuki pula bidang nama ini. Banyak diantara kita yang memakai nama-nama bangsa Arab, atau yang lazim bagi bangsa itu. Tetapi satu hal yang tidak ingin diambil adalah penampilan “anak si….” Atau dalam ungkapan Arab “… bin…” atau “… ibnu…” sesudah nama sendiri. Misalnya seperti nama Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khatab, Amr bin Ash, dan sebagainya. Penyebutan seperti itu dilakukan baik dalam memberitakan maupun dalam berhadapan dengan orangnya.

Tetapi masyarakat Minangkabau tidak meniru hal ini, kecuali kalau diperlukan dalam memberi sesuatu keterangan, seperti untuk surat Nikah, dan sebagainya. Hal ini juga memperlihatkan pengaruh monisme dalam bahasa mereka sendiri.

Panggilan terhadap seseorang yang lebih tua selalu dipilih yang bersifat menghormati atau membesarkan (dengan memakai kata pengganti). Hal ini dilazimkan dengan memberi gelar yang merupakan pusaka turun temurun juga.

Kehadiran gelar bagi seseorang yang telah akil balig atau dewasa, adalah karena namanya telah mulai tabu untuk disebut, terutama oleh orang yang lebih muda dari usianya.

Karena itu bagi seorang laki-laki yang sudah dewasa di Minangkabau merupakan kehormatan memakai gelar bahkan merupakan keharusan pula. Pepatah adatnya menyebutkan: “ketek banamo gadang bagala” (kecil dipanggil nama, bila sudah dewasa dipanggil gelarnya).

Gelar-gelar itu biasanya terdiri dari kata-kata atau ungkapan yang bernilai tinggi dan dianggap mempunyai daya kekuatan, misalnya Datuak Bandaro Putiah, Datuak Sinaro Panjang, Marah Sutan, Malin Batuah, Sutan Malintang Alam, Rajo Indo Bumi, dan sebagainya.

Semuanya itu melambangkan kebesaran serta mempunyai tingkat pemakaian dalam kaum. Karena itu ada yang disebut dengan istilah “gala tuo” (gelar tua), atau “gala mudo” (gelar muda) dan gala sahari-hari (gelar sehari-hari).

Gelar tua dipakai oleh keluarga yang telah tua atau dituakan, biasanya setelah dia memakai gelar kebesaran dalam adat, setelah dipindahkan kepada yang lebih muda dari yang bersangkutan, dipakaikan gelar tua. Gelar muda adalah gelar menjelang gelar kebesaran dan biasanya disesuaikan dengan sikap dan gelagat seseorang.

Misalnya kalau kelihatan ia agak ta`at, maka gelarnya dimulai dengan Malin atau Pakiah. Kalau agak lincah diberi gelar Sutan. Gelar-gelar muda itu adalah merupakan gelar rangkaian dari gelar kebesaran, begitu pula dengan gelar tuanya.

Bagi kaum ibu Minangkabau, bila sudah dewasa juga memakai gelar, lebih-lebih setelah dia berumah tangga, apalagi kalau telah memiliki anak. Oleh karena kegunaan gelar seorang kaum ibu tidak sebanyak kaum bapak, maka gelar itu tidak dikhususkan.

Biasanya dengan panggilan tua kemudian menyertakan nama anak atau cucunya di belakang panggilan itu. Jika seseorang belum mempunyai anak, biasanya digelari dengan panggilan kebiasaan belaka yang sudah tentu untuk setiap daerah berlain-lain., Misalnya digelari dengan ungkapan Nik Kari (kalau nama anaknya Kari atau Bakri). Nik Limbak (jika nama anaknya Limbak). Nde Ani (kalau nama anaknya si Ani dan perempuan ini belum begitu tua). Gelar-gelar dengan panggilan seperti “Kak Udo (kakak muda), Kak Tangah (kakak tengah), Kak Uo (kakak yang lebih tua), Cik Elok (kakak yang baik), Cik Uniang (kakak yang tua berkulit kuning langsat), dan sebagainya.

Akibat dari monisme ini pula, kirana dalam pembicaraan sehari-hari dengan orang yang lebih tua, terselip nilai-nilai kesopanan yang tinggi. Dalam percakapan waktu berhadapan, misalnya adalah kurang sopan bila menyebutkan nama atau gelar orang yang lebih tua dari kita secara langsung, kendati pun dengan menyertainya dengan panggilan kehormatan atau kata ganti kehormatan. Misalnya Pak Amir, Mak Datuak Batuah, Kak Fatimah. Yang dianggap sopan misalnya panggilan: Pak, Bu, Mak, Kak, Nak, Bujang, Cik Elok, yang semuanya itu mengandung unsur pendidikan di bidang sopan santun atau budi pekerti.

Panggilan nama atau panggilan gelar hanya dilakukan bila kita sebaya dalam umur atau tugas kehormatan. Bila kesopanan itu dilanggar, kita dianggap sebagai orang yang lancang, dalam bahasa sehari-hari disebut: “cipeh” atau indak tahu di ampek (tidak tahu pada yang empat), atau dianggap sebagai orang yang kurang.

Dalam hal ini pendapat yang mengemukakan bahwa “guna nama untuk disebut”, dalam masyarakat Minangkabau sebenarnya tidaklah berlaku. Nama merupakan lambang yang mewakili pengertian yang tinggi di luar penghayatan ini. Karena itu adalah kewajiban untuk menghormatinya.

Selain daripada itu, pada beberapa nama binatang juga terdapat kebesaran, keganasan atau bahaya yang akan ditimbulkannya. Karena kita kurang mampu untuk berhadapan dengan tindakannya yang membahayakan itu, maka nama-nama binatang tersebut juga pantang atau tabu untuk disebutkan.

Kalau nama mereka kita sebut secara langsung, atau pun dalam pemberitaan, akan menyebabkan ketidak tentraman. Anggapan yang begini memerlukan pula gelar-gelar kehormatan untuk dihadiahkan kepada binatang-binatang tersebut.

Gelar itu merupakan kata-kata pelembut (eufisme) yang diperkirakan bahwa dengan sebutan itu, binatang-binatang tertentu itu akan senang dan berlalu baik kepada kita.

Demikianlah untuk binatang-binatang: harimau, dupanggil “inyiak, atau rang tuo“. Buaya, dianggap “raja sungai, palimo“, singa dengan panggilan “raja hutan” ular dengan sebutan: aka, rotan, babi dengan sebutan “rang parimbo“, tikus dengan panggilan “puti” dan lain sebagainya.

Dengan penyebutan demikian diharapkan agar binatang itu tidak merusak, atau kalau binatang itu sudah mulai merusak atau bersalah, dia tidak mengulanginya lagi.

Di bidang lain pengaruh monisme dalam bahasa Minankabau ini adalah dengan banyaknya penampilan ungkapan kiasan dalam percakapan. Masyarakat dapat memberikan predikat nilai kurang kepada seseorang yang menyebutkan keadaannya dengan bahasa yang terus terang.

Penyebutan terus terang akan dianggap putusnya hubungan antara kata yang diucapkan itu dengan pengertian yang seharusnya dipupuk dan dijaga terus oleh si pemakainya.

Karena itu bila seseorang tidak mengerti dengan kiasan dan ujung kata yang ditujukan kepadanya, maka ia dipandang sebagai orang “kurang” atau orang yang rendah pikir, sehingga digambarkan dengan ungkapan berikut:

“tak tahu di rundiang kato putuih

tak tahu di kieh kato sampai”

(tak tahu pada rundingan kata putus

tak tahu pada kiasan kata sampai).

Bila kita lihat dari sudut pendidikan, maka agaknya pemakaian gahasa seperti diata adalahgiak, Anak-anak akan terdidik menjadi orang yang pandai dan mengerti cara-cara bergaul dengan orang dewasa dan sanggup menghormati orang tua dalam pergaulan sehari-hari.

Di samping itu anak-anak akan diarahkan pada suatu sikap hidup yang dapat menempatkan diri dalam segala macam pergaulan serta menjadi orang yang arif serta sanggup menyelami isi yang terkandung dalam ucapan orang lain.

Demikianlah secara selintas tentang monisme dalam bahasa Minangkabau sebagai akibat dari pengaruh kepercayaan masyarakat kepada luar lahiriah ini.

Dalam dunia pendidikan sebagai suatu proses yang harus kita kembangkan juga membawa nilai-nilai atau pengaruh positif terhadap anak didik serta masyarakat luas.**

Catatan Kaki

1) W.J.S.Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta 1985, hal.676

2) Jaka, Ringkasan Ilmu Mendidik 1, Mutiara, Jakarta, 1953, hal,42;

3) Dr.P.J.Booman, Sosiologi, Yayasan Kanisius, Semarang, 1960, hal.30

4) Drs.Mohd.Sjafaat, Mengapa Anda Beragama Islam, Wijaya, Jakarta, hal.2;

5) Drs.Sidi Gazalba, Masdjid Pusat Iabadah dan Kebudayan Islam, Antara, Jakarta, 1962, hal.18;

6) Al-Quran, Surat An Nisa`, ayat 146, dan Hadist, Riwayat Muslim;

7) Al-Quran, Surat Al Dahr, ayat 3;

8) H.Zainuddin Hamidy cs, Tafsir Al-Quran, Wijaya, Jakarta 1961, hal.676;

9) Drs.Moh.Sjafaat, op.cit, hal 21;

10) I b I d, Surat Al-Quran, ayat 165;

11) I b I d, Surat Ath Thur, ayat 36;

12) I b I d, Surat Al-Baqarah, ayat 169,

13) Drs.Moh.Sjafaat, Op.cit, hal 2;

14) Al-Quran, Surat Al-Baqarah ayat 102;

15) Dr.Koentjaraningrat, Metode-Metode Antropologi, Univ.Jakarta, 1952, hal.148-158;

16) Drs.Sidi Gazalba, Kebudayaan Sebagai Ilmu, Pustaka Antara, Jakarta, 1963, hal.47-48;

17) Drs.Moh.Sjafaat, Op.cit, hal.11;

18) Dr.Hamka, Revolusi Agama, Pustaka Islam, Jakarta, 1963, hal.28,

19) Al-Quran, Surat Ali Imran, ayat 19;

20) I b I d, Surat Al Mu`min, ayat 49;

21) I b I d, Surat Ali Imran, ayat 49;

22) Injil Matius, Fasal 15, ayat 24;

23) Al-Quran, Surat Saba, ayat 28;

24) I b I d, Surat As Shaf, ayat 0;

25) Prof.Dr.Ahmad Sjalabi, Perbandingan Agama, Bagian Agama Masehi, Djajamurni, Jakarta, 1964, hal.25;

26) Al-Quran, Surat Al-Ikhlas, ayat 1-5;

27) I b I d, Surat Al-Fatihah, ayat 5;

28) Ruth Benedit, Pola-pola Kebudayaan, Pustaka Rakyat, Jakarta, 1960,hal1.31;

29) Istilah hantu, mungkin berasal dari ucapa seruan “ha…tu“, atau “ha …itu“, yang mendapat penyelipan nasal seperti lazimnya terdapat dalam bahasa Nusantara;

30) Sebutan untuk setia orang yang alim dalam agama Islam. Berasal darikata yang menujukkan tempat, uaitu Siak Indragiri yang mungkin orang-orang tersebut berdatangan dari sana;

31) Drs.Zuber Usman, Bahasa Persatuan, Fa Noor, Jakarta, 1964, hal.53;

32) Prof.Mr.Moh.Nasroen, Dasar Falsafah Adat Minangkabau, Pasaman, Jakarta, hal.22 dan 25;

33) Dra.Sabarti Achadiah, Kuliah Ilmu Perbandingan Bahasa, pada IKIP Padang, tgl 24 Oktober 1963;

About these ads

One comment on “PENGARUH KEPERCAYAAN DALAM MASYARAKAT MINANGKABAU

  1. ais mengatakan:

    trus gimana caravya koq bisa nama binatang di pke pada masa itu dan kenapa sekarang udah gag lagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s