Hikmah Israk Mikraj Sangat Bermanfaat dalam Pembentukan Karakter Bangsa

Propinsi | Rabu, 30/07/2008 19:50 WIB

Peringatan Isra Mi’raj Jadikan Momentum Pembinaan Karakter Bangsa

Padang, (ANTARA) – Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1429 H, hendaknya dijadikan momentum pembinaan karakter bangsa, karena dalam peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW diawali dengan pembersihan jiwa dan dibekali dengan Iman, Ilmu dan Akhlaq untuk menjadi pemimpin yang rahmatan lil’alamin.

“Secara kebangsaan tidak mungkin maju tanpa tiga kekuatan itu, Iman (Religi), Ilmu (Iptek) dan Akhlaq (kultur, adat dan prilaku,” kata Wakil Ketua Penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar, Buya H. Mas’oed Abidin, di Padang, Rabu.

Menurut dia, tiga modal yang mengisi jiwa Nabi Muhammad SAW pada awal perjalanan Isra Mi’raj, merupakan hal yang sangat substansial dalam pembinaan karakter bangsa.

Penetapan pimpinan bangsa mulai dari tingkat bawah hingga yang lebih tinggi, maka tiga kekuatan itu menjadi penentu. (SA)

Sedangkan Mi’raj atau naik ke atas, kata Mas’oed, satu bentuk hubungan vertikal dengan Allah SWT, tentunya melalui ibadah teratur, tertib, disiplin, taat sebagaimana diajarkan dalam shalat.

“Shalat adalah perintah pertama dalam Islam, tanpa shalat tak ada artinya Agama Islam,” katanya dan menambahkan, shalat mengajarkan pengawasan yang melekat antara makhluk manusia dengan khalik-Nya.

Menurut dia, pemimpin bangsa yang shalat tidak akan tergiur korupsi dan bangsa akan makmur, adil, sejahtera, bersih dan menghargai waktu.

Sejarah perjalanan Nabi dalam Isra’ mulai dari Masjidil Haram, Makkah, hingga ke Masjidil Aqsho di Palestina, sementara Mi’raj menceritakan perjalanan Nabi Muhammad SAW mulai dari Masjidil Aqsho hingga Sidratul Muntaha.

Jadi untuk konteks kekinian bahwa Isra Mi’raj tidak hanya input rasio saja, dua peristiwa itu mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai bukti kerasulan.

Hikmah dibalik bukti kerasulan Nabi itu, kata Buya Mas’oed, agar tak ada lagi orang mendakwakan diri jadi Rasul palsu dan tidak ada lagi manusia yang diperbodoh oleh kepalsuan.

Ia menambahkan, banyak sekali hikmah yang terkandung dalam peristiwa Isra Mi’raj, maka perlu dikaji lebih mendalam sehingga dapat dibentuk karakter bangsa yang beragama dan bukan hanya liberal tanpa arah.

Leonardy Datuak Bandaharo : “Rang Minang Baralek Gadang” jo rang kampuang rapek balapak

Senin, 21 Juli 2008
Padang, Padek– Rakyat Sumbar akan menyelenggarakan iven akbar bertajuk “Rang Minang Baralek Gadang” di Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam pada akhir Agustus mendatang.  Acara yang melibatkan seluruh tokoh dan komponen masyarakat Sumbar di tingkat nasional sampai nagari itu, menurut rencana dibuka Wapres RI Jusuf Kalla
serta dihadiri CEO Jawa Pos Dahlan Iskan dan Dirut PT Telkom Tbk Rinaldi Firmansyah. Ketua panitia pelaksana Syaharman Zanhar mengatakan, pihaknya sudah melakukan survei terhadap lokasi yang akan dijadikan lokasi acara yang bakal dihadiri 1.500 undangan dari ranah dan rantau serta ribuan masyarakat Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi itu.

Pada iven tersebut, kata Syaharman, di antaranya digelar Kongres I Rang Minang, Musyawarah Duduak Barapak, launching Padang TV dan Padang Today (Grup Padang Ekspres), Nagari Cyber, Manggulai 1001 Itiak Hijau, Cerdas Cermat tingkat SMA, pameran dan promosi produk nagari serta bursa tenaga kerja.

“Pada acara ini juga direncanakan peresmian rumah pahlawan H Agus Salim di Koto Gadang menjadi museum, dan rumah Rohana Kudus sebagai museum pers nasional,” tambah Syaharman. Ketua DPRD Sumbar yang juga Ketua Umum Acara Rang Minang Baralek Gadang Leonardy Harmainy didampingi Sekretaris Umum St Zaili Asril menyebutkan, kegiatan kerakyatan tersebut merupakan gagasan besar yang perlu didukung secara penuh seluruh masyarakat Sumbar.

“Yang baralek gadang ini rakyat. Sebagai Ketua DPRD Sumbar, saya mendukung gagasan besar dan bagus ini,” ungkap Leonardy saat menghadiri ekspos persiapan panitia pelaksana acara ”Rang Minang Baralek Gadang” di rumah dinasnya, Sabtu (19/7).

Pada kesempatan yang dihadiri Pemred Padang Ekspres Oktaveri itu, Leonardy menambahkan, pada acara ini yang tampil adalah rakyat bersama DPRD dan pemerintah kabupaten/kota didukung stakeholders serta komponen warga rantau.Sample Image

Acara memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional ini, kata Leonardy sangat tepat dijadikan sarana untuk memotivasi putra-putri Sumbar di ranah dan rantau agar kembali bangkit dan mencintai Minangkabau. Punya orientasi ke depan, menyumbangkan pemikiran, tenaga dan materi untuk pembangunan daerahnya ke arah yang lebih baik.

 

Ekspos : Ketua pelaksana Syaharman Zanhar (berdiri) saat melaksanakan ekspos acara “Rang Minang Baralek Gadang” di rumah dinas DPRD Sumbar, Sabtu (19/7). Tampak hadir, Pemimpin Umum Harian Pagi Padang Ekspres, Sutan Zaili Asril (dua kiri)

Leonardy juga menekankan pentingnya kegiatan ini dijadikan momentum kebangkitan pendidikan dan pemuda Sumbar, yang sejak abad ke-19 sudah memiliki kemampuan SDM teruji. Berjuang dengan pemikiran dan pena mereka sehingga menjadi tokoh (intelektual) di tingkat nasional dan internasional.

“Jadi, tokoh-tokoh dari Sumbar tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi mereka berjuang dengan pemikiran dan pena mereka sehingga mampu menjadi yang terbaik. Ini yang perlu kita bangkitkan kembali,” tegas Leonardy. Pada kesempatan yang sama, St Zaili Asril St Zaili Asril mengatakan, Kongres I Rang Minang yang diadakan pada kegiatan ”Rang Minang Baralek Gadang” ini merupakan silaturahmi besar rakyat Minang di ranah dan rantau. (esg)

Barang Peninggalan Sejarah Damasraya sudah banyak yang di jual.

SEJARAH…….
Oleh: Syofiardi Bachyul Jb/PadangKini.com 

LOKASI bekas Kerajaan Dharmasraya yang eksis pada 1286 hingga 1347 Masehi di daerah aliran sungai Batang Hari di sekitar Kenagarian Siguntur, Kabupaten Dharmasraya sekarang meninggalkan banyak benda purbakala.

Benda-benda tersebut selain terkubur di situs candi, juga di dalam sungai Batang Hari, dan tersimpan secara turun-temurun di beberapa pewaris kerajaan, salah satunya Kerajaan Siguntur. Namun benda-benda itu tanpa perlindungan dan sebagian jatuh ke tangan penadah barang antik.

“Dulu banyak dari keluarga kami yang tidak sadar arti benda bersejarah, kalau datang penadah barang antik dirayu dengan sehelei atau sekodi kain saja, mereka jual apa saja barang lama yang ada di rumah, seperti keramik dan barang-barang tembaga,” kata Tuan Putri Marhasnida, salah seorang pewaris Kerajaan Siguntur.

Apalagi ada anggota keluarga Kerajaan yang suka menjual barang. Intan penghias gagang keris Gajah Menong yang gagang dan sarungnya berbalut emas murni yang diduga berasal dari zaman Dharmasraya (Zaman Majapahit), pun dicopoti untuk dijual, sehingga tinggal sebagian.

“Ada pula mahkota tanduk yang dijual salah seorang raja Kerajaan Siguntur yang juga waktu itu menjadi wali nagari zaman Kolonial Belanda karena terbelit utang,” katanya.

Masyarakat di sana pun banyak yang tidak sadar arti penting peninggalan bersejarah. Pada 1998 seorang pemukat menemukan sebuah patung seorang wanita bertangan tiga pasang dari kuningan sebesar paha. Patung itu sudah diperiksa ahli purbakala dan ternyata bernama Patung Maisasuri Mahdini.

“Tapi ketika petugas Museum Kepurbakalaan berpesan agar patung itu disimpan, ternyata orang yang menemukan sudah menjualnya ke orang lain seharga tak lebih Rp1 juta, kami melacaknya namun sia-sia, kabarnya dijual ke Malaysia,” kata Marhasnida.

Tiga Stempel Kerajaan

Kini Kerajaan Siguntur menyimpan sejumlah benda kuno, termasuk tiga stempel yang satu diduga dari Kerajaan Dharmasraya dan dua lainnya dari Kerajaan Siguntur setelah Islam.

“Dengan surat berstempel Kerajaan Siguntur kami bisa masuk tanpa paspor ke Malaysia, karena raja Malaysia dulunya berasal dari Dharmasraya,” kata Marhasnida.

Benda lainnya yang baru ditemukan di Situs Pulau Sawah adalah bagian bawah patung emas sebesar balpoin. Patung emas ini mirip dengan arca emas Awalokiteswara bergaya India yang juga ditemukan utuh di bekas Kerajaan Malayu Muara Jambi di muara sungai Batang Hari, Provinsi Jambi.

Namun, benda-benda peninggalan banyak hilang ketika rumah penyimpan sementara ketika rumah gadang dipugar pada 1974.

Kini Marhasnida yang juga guru kesenian di SMP Negeri 2 Pulau Punjung, Dharmasraya sedang melobi pemerintah membangun sebuah museum mini untuk menyimpan benda-benda tersebut dan sekaligus sebagai pusat informasi peninggalan Kerajaan Dharmasraya dan Kerajaan Siguntur.

“Kami juga mengusulkan kepada pemerintah untuk membuat duplikat Patung Bhairawa dan Patung Amoghapasa dan memindahkan semua penemuan di Dharmasraya yang kini tersimpan di Museum Adityawarman Padang dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, Batusangkar ke museum mini yang baru kalau sudah terwujud,” katanya.

Nurmatias, Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang yang membawahi Sumatra Barat, Bengkulu, dan Sumatra Selatan setuju dengan rencana pihak Kerajaan Siguntur.

“Dharmasraya tak hanya kekayaan arkeologis Sumatra Barat, tapi Indonesia, pendirian museum di Kabupaten Dharmasraya ini bagus agar harta kerajaan yang tersimpan di masing-masing kerajaan tidak hilang, sebab dikhawatirkan kalau disimpan sendiri-sendiri lama-lama hilang,” ujarnya.

Selain Kerajaan Siguntur, juga ada kerajaan kecil setelah Islam yang juga mengaku berhubungan dengan Kerajaan Dharmasraya pra-Islam. Kerajaan-kerajaan itu adalah Kerajaan Koto Besar, Kerajaan Pulau Punjung, Kerajaan Padang Laweh, dan Kerajaan Sungai Kambut yang masing-masing juga memiliki sejumlah peninggalan kuno.**

Pesan Mestika Zed untuk Meluruskan Sejarah

SEJARAH………
 

Oleh: Syofiardi Bachyul Jb/PadangKini.com

Upaya ‘meluruskan’ peran penting Sumatera, khususnya Sumatera Barat, dalam sejarah Indonesia adalah salah satu usaha Metika Zed. Usaha lainnya adalah selalu mengingatkan bangsa ini terhadap sejarah yang selalu mudah dilupakan, dan ikut memberantas korupsi.

Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dan sejarah Giyugun Sumatera, merupakan tiga peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang berpusat di Bukittinggi dan Padang (Sumatera Barat) yang diabaikan dan bahkan mendapat tempat tak terhormat dalam sejarah Indonesia.

Ketiga peristiwa ini, menurut Mestika, adalah bentuk nyata pengabaian Jakarta terhadap peran historis daerah.

Melalui penelitian yang kemudian dibukukan, Somewhere in the Jungle, Sejarah PDRI, Sebuah Matarantai Sejarah yang Terlupakan (Grafiti Press: 1997), doktor sejarah lulusan Vrije Universiteit, Amsterdam pada 1991 ini menyimpulkan; negara dan pemerintahan Indonesia tidak akan ada tanpa PDRI.

PDRI adalah pemerintah darurat yang dipimpin Sjafruddin Prawiranegara selama delapan bulan hingga 13 Juli 1949 yang berpusat di Bukittinggi. Ia mendapat mandat langsung dari Soekarno-Hatta setelah Republik Indonesia jatuh ke tangan Belanda dalam Angresi II dan menjalankan PDRI dengan bergerilya di hutan Sumatera.

“PDRI adalah bentuk kesuksesan orang daerah menyelamatkan negara ini dari ancaman disintegrasi bangsa dan kembali menyerahkan tampuk kekuasaan setelah tugasnya selesai, tetapi kemudian matarantai sejarah ini dilupakan,” kata Mestika yang mendapat penghargaan dari IKAPI Jakarta sebagai penulis buku terbaik nasional untuk bidang ilmu-ilmu sosial atas bukunya ini pada 1999.

Hal yang sama, menurut Mestika, juga terjadi dalam sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI). Melalui bukunya, Giyugun, Cikal-bakal Tentara Nasional di Sumatera (LP3ES: 2005), Mestika memaparkan bahwa tak hanya Giyugun Jawa atau Tentara PETA (Pembela Tanah Air) yang menjadi cikal-bakal TNI. Tetapi juga Gyugun Sumatera yang berpusat di Bukittinggi yang merupakan cikap-bakal TNI di Sumatera.

Namun peran penting Giyugun Sumatera ini menghilang dalam berbagai peristiwa. Selain karena berbagai pembonsaian pasukan dengan melebur ke dalam TNI di Jawa, juga karena peristiwa ketidakpuasan para perwiranya kepada Jakarta yang berpuncak pada peristiwa PRRI.

Salah Tafsir PRRI

PRRI adalah peristiwa yang menurut Mestika disalahtafsirkan oleh Jakarta atau sejarah. Hingga kini dalam sejarah Indonesia peristiwa PRRI yang berpusat di Padang pada 1958 disamakan dengan gerakan separatisme yang marak pada 1950 dan 1960-an atau sama dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

“Padahal sebenarnya beda, PRRI bukanlah gerakan kudeta, tetapi upaya untuk menurunkan rezim, di ruangan pemimpinnya masih terpasang foto Soekarno, dan sama seperti gerakan reformasi, jika direlevansikan sekarang, PRRI adalah embrio dari ide-ide reformasi, tetapi gerakan itu ditangani oleh Jakarta dengan operasi militer,” katanya.

Mestika saat ini sedang menyiapkan penulisan sejarah tentang peristiwa PRRI yang lebih lengkap dari buku yang ada sekarang.

Terkait dengan usahanya meneliti dan menuliskan ketiga peristiwa tersebut, Mestika sebenarnya keberatan disebut sebagai upaya meluruskan sejarah. Meskipun ia akui, salah satu penyebab kesalahtafsiran itu akibat Jawasentris dalam penulisan sejarah Indonesia, karena minimnya sejarawan di luar Jawa pada masa lalu.

“Sejarah tidak kuasa diluruskan oleh siapapun, saya melakukan penulisan sejarah bangsa ini untuk menjadi rujukan yang lebih jernih, objektif, dan bukan ditarik kiri-kanan oleh kepentingan-kepentingan tertentu, tapi untuk kepentingan bangsa secara keseluruhan,” kata mantan   Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Sumatera Barat ini.

 

Mengganyang Koruptor

Mestika Zed tak hanya seorang intelektual ‘yang berumah di atas angin’, tetapi juga terlibat dalam kegiatan praktis mengubah keadaan. Ia menjadi motor penggerak bersama Saldi Isra dan kawan-kawan melaporkan kasus korupsi anggota DPRD Sumatera Barat pada 2002, hingga 33 anggota (kini mantan) dewan tersebut divonis bersalah mengkorupsi uang APBD Rp5,9 miliar.

Mestika Zed menjadi koordinator pertama Forum Peduli Sumatera Barat (FPSB), lembaga yang didirikan sejumlah aktivis NGO dan akademisi di Padang yang melaporkan kasus korupsi itu dan sejumlah kasus korupsi lainnya di Sumatera Barat.

“Terlibat di FPSB adalah bagian dari ketidaksabaran saya untuk ikut mengubah keadaan bangsa ini ke arah yang lebih baik, saya juga tidak ingin menjadi intelektual yang bersarang di awang-awang,” katanya.

Namun berbicara mengenai pemberantasan korupsi di Indonesia, Mestika mengaku sangat kecewa, termasuk kepada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

“Pemberantasan korupsi tidak sesuai yang diharapkan, aparat hukum belum commited dengan pemberantasan korupsi, saya bisa menyimpulkan perangai birokrasi masih belum berubah dari zaman Orde Baru, bukti nyata dalam penanganan eksekusi 33 mantan DPRD Sumatera Barat yang sudah divonis bersalah dalam putusan kasasi Mahkamah Agung, tapi tak kunjung dihukum,” ujarnya.

‘Cetak Biru’ Perilaku Kolonial

Dari pandangan sejarawan, Mestika sangat mengkhawatirkan arah perjalanan bangsa ini. Ia menilai, orang-orang di pemerintahan maupun elit politik cenderung terjebak mengulangi ‘cetak biru’ perilaku kolonial.

“Cara menangani beberapa kasus seperti Abepura, Poso, kenaikan Tarif Dasar Listrik, kenaikan Bahan Bakar Minyak, dan sebagainya disalin persis dari cara zaman Orde Baru yang juga tak beda dari Zaman Kolonial, pemerintah sibuk mencari kambing hitam tanpa menyelesaikannya berdasarkan persoalan di akar rumput, mendengar hati nurani rakyat, dan detak jantung mereka,” katanya.

Menurut Mestika, mestinya saat ini para pengambil keputusan belajar banyak dan berkaca kepada sejarah masa lalu, agar tidak terjerumus kepada persoalan yang sama yang pernah dialami sebelumnya. Mereka harus mengedepankan kepekaan historis dalam mengambil keputusan.

Mestika Zed lahir di Batuhampar, Payakumbuh, 19 September 1955. Setelah meraih sarjana strata satu di Jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada 1980, ia melanjutkan ke Vrije Universiteit, Amsterdam dan meraih gelar MA pada 1983. Lalu mengikuti program penyetaraan S2 di Jurusan Sejarah Universitas Indonesia pada 1984. Ia kemudian mendapatkan gelar Ph. D dalam bidang sejarah di Vrije Universiteit pada 1991.

Selain staf pengajar di Fakultas Ilmu-ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang, ia juga Ketua Pusat Kajian Sosial-Budaya dan Ekonomi (PKSBE) di kampungnya.**

Temuan Ulli Kozok, peneliti Jerman tentang naskah Melayu tertua di dunia

SEJARAH………

Oleh: Syofiardi Bachyul Jb/PadangKini.com

ULI Kozok, doktor filologi asal Jerman, telah mengejutkan dunia penelitian bahasa dan sejarah kuno Indonesia. Lewat temuan sebuah naskah Malayu kuno di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi yang ia lihat pertama kali di tangan penduduk pada 2002, ia membantah sejumlah pendapat yang telah menjadi pengetahuan umum selama ini.

Pendapat pertama, selama ini orang beranggapan naskah Malayu hanya ada setelah era Islam dan tidak ada tradisi naskah Malayu pra-Islam. Artinya, dunia tulis-baca orang Malayu diidentikkan dengan masuknya agama Islam di nusantara yang dimulai pada abad ke-14.

“Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah” yang ditemukan Kozok merupakan naskah pertama yang menggunakan aksara Pasca-Palawa dan memiliki kata-kata tanpa ada satupun serapan ‘berbau’ Islam.

Berdasar uji radio karbon di Wellington, Inggris naskah ini diperkirakan dibuat pada zaman Kerajaan Adityawarman di Suruaso (Tanah Datar, Sumatera Barat) antara 1345 hingga 1377. Naskah ini dibuat di Kerajaan Dharmasraya yang waktu itu berada di bawah Kerajaan Malayu yang berpusat di Suruaso. Karena itu Kozok mengumumkan naskah tersebut sebagai naskah Malayu tertua di dunia yang pernah ditemukan.

“Ada pakar sastra dan aksara menganggap tidak ada tradisi naskah Malayu sebelum kedatangan Islam, ada yang beranggapan Islam yang membawa tradisi itu ke Indonesia, dengan ditemukannya naskah ini teori itu runtuh,” kata Kozok yang bertemu Padangkini.com di Siguntur, Kabupaten Dharmasraya pengujung Desember 2007.

Aksara Sumatera Kuno

Pendapat kedua, seperti halnya Jawa, Sumatera sebenarnya juga memiliki aksara sendiri yang merupakan turunan dari aksara Palawa dari India Selatan atau aksara Pasca-Palawa. Selama ini aksara di sejumlah prasasti di Sumatera, seperti sejumlah prasasti-prasasti Adityawarman, disebut para ahli sebagai aksara Jawa-Kuno.

Padahal, menurut Kozok, aksara itu berbeda. Seperti halnya di Jawa, di Sumatera juga berkembang aksara Pasca-Palawa dengan modifikasi sendiri dan berbeda dengan di jawa yang juga bisa disebut Aksara Sumatera-Kuno.

Prasasti-prasasti peninggalan Adityawarman di Sumatera Barat, menurutnya, sebenarnya aksara Pasca-Palawa Sumatera-Kuno, termasuk yang digunakan pada Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah dengan perbedaan satu-dua huruf. Namun selama ini prasasti-prasasti itu disebut ahli yang umumnya berasal dari Jawa sebagai aksara Jawa-Kuno.

“Mereka punya persepsi bahwa Sumatera itu masih primitif dan orang Jawa yang membawa peradaban, begitulah gambaran secara kasar yang ada dibenak mereka, karena mereka peneliti Jawa, sehingga ketika mereka datang ke Sumatera dan melihat aksaranya, menganggap aksara Sumatera pasti berasal dari Jawa, nah sekarang kita tahu bahwa kemungkinan aksara itu duluan ada di Sumatera daripada di Jawa,” katanya.

Pendapat ketiga, kerajaan Malayu tua pada zaman Adityawarman telah memiliki undang-undang tertulis yang detail. Undang-undang ini dikirimkan kepada raja-raja di bawahnya. Selama ini belum pernah ada hasil penelitian yang menyebutkan Kerajaan Malayu Kuno memiliki undang-undang tertulis.

Pendapat keempat, dengan ditemukannya “Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah” selangkah lagi terkuak informasi mengenai Kerajaan Dharmasraya, Adityawarman, dan Kerajaan Malayu yang beribukota di Suruaso (Tanah Datar). Naskah tersebut menyebutkan bahwa Kerajaan Malayu beribukota Suruaso yang dipimpin oleh Maharaja Diraja, di bawahnya Dharmasraya yang dipimpin Maharaja, dan di bawah Dharmasraya adalah Kerinci yang dipimpin Raja.

“Meski begitu saya yakin kekuasaan Suruaso dan Dharmasraya terhadap Kerinci hanya secara ‘de jure’ (hukum-red) dan bukan ‘de facto’ (kekuasaan), sebab Kerinci waktu itu tetap memiliki kedaulatannya sendiri, hubungannya lebih kepada perekonomian karena Kerinci penghasil emas dan pertanian,” kata Kozok.

Terkenang Kebaikan Bupati Kerinci

Uli Kozok (nama lengkapnya Ulrich Kozok) lahir di Hildesheim, Niedersachsen, Jerman pada 26 Mei 1959. Lelaki berkebangsaan Jerman dan permanent resident di New Zealand dan USA ini, pernah menjadi dosen di Universitas Auckland pada 1994-2001. Kini sejak 2001 menjadi Assosiate Professor, Department of Hawaiian and Indo-Pacific Languages an Literatures di University of Hawai’I di Manoa, USA.

Sebelum meneliti naskah kuno Kerinci, Kozok yang fasih bahasa Indonesia dan Batak ini bertahun-tahun mempelajari bahasa, budaya, dan sastra Batak. Bahkan lelaki yang kawin dengan dengan perempuan asal Batak Karo dan memiliki dua anak ini, meraih meraih gelar MA pada 1989 dan PhD pada 1994 dari University of Hamburg dengan tesis dan disertasi tentang bahasa Batak.

Tiga bukunya dalam bahasa Indonesia tentang bahasa Batak pernah diterbitkan tiga penerbit di Indonesia pada 1999 dan 2005.

Pengalaman di Kerinci menyimpan kenangan tersendiri bagi Kozok atas keramahan pejabat dan masyarakatnya. Seorang koleganya di Universitas Auckland memperkenalkan dengan seorang tokoh masyarakat Kerinci mantan anggota DPRD bernama Sutan Kari.

Ketika pada 1999 Kozok berkunjung ke Kerinci dan dipertemukan dengan Bupati Fauzi Siin untuk tujuan penelitian aksara Kerinci, sang bupati mengatakan penelitian itu sangat penting dan membantunya sepenuh hati.

“Ia menanyakan persiapan saya di Kerinci, di mana menginap dan bagaimana transportasinya karena mesti ke kampung-kampung, saya katakan belum saya pikirkan, lalu diambilnya kunci mobilnya di saku dan dilemparkan ke saya, ini mobilnya, katanya, Bupati juga membayar penginapan, saya sangat mendapat sambutan yang luar biasa,” kenang Kozok.

Pada 2002 ia kembali ke Kerinci untuk melanjutkan penelitian terhadap naskah-naskah lama yang ditulis dalam aksara Kerinci. Ketika hendak pulang dari melihat naskah yang disimpan masyarakat di Sungai Penuh, ibu Kabupaten Kerinci, ia mengatakan kepada Sutan Kari selama di Kerinci tidak pernah melihat naskah dari kulit kayu yang umumnya di Batak. Sutan Kari mengatakan ada satu di Tanjung Tanah, sebuah desa di tepi Danau Kerinci.

“Hari itu karena sudah sore, kami ke sana dan kebetulan yang menyimpan naskah itu seorang guru sekolah, walaupun melihat naskah itu harus ada syarat segala macam, dia turunkan dan diperlihatkan kepada saya, saya buat foto,” katanya.

Naskah yang ditulis di kertas yang terbuat dari kayu daluang itu disimpan dalam periuk dari tanah yang juga mungkin usianya sudah ratusan tahun. Di dalam periuk itu masih ada kain dan baju yang sudah sangat kuno. Benda yang dijadikan pusaka itu dibalut dengan kain, dimasukkan dalam periuk, periuk disimpan dalam kardus dan ditaruh di loteng.

Banyak yang Tak Percaya

Bermula dari situ, Kozok menelitinya. Kemudian mengirim email kepada beberapa kolega mengatakan kemungkinan naskah tersebut berasal dari abad ke-14.

“Mereka semua menjawab; lupaklanlah, itu mustahil, tidak mungkin ada bahan yang bisa bertahan begitu lama, jadi mereka itu sangat tidak percaya, ada yang percaya tetapi kebanyakan tidak percaya,” katanya.

Karena sangat yakin, Kozok kembali ke Kerinci selama Mei 2003, lalu meminta sedikit sampel kertas kulit kayu sebanyak tersebut untuk dikirim ke Rafter Radiocarbon Laboratory di Wellington. Lembaga ini kemudian memberitahukan bahwa umur naskah Tanjung Tanah lebih dari 600 tahun.

“Sesuai data sejarah yang saya kumpulkan, saya sampai pada kesimpulan bahwa kemungkianan besar naskah itu berasal dari paruh kedua abad ke-14, dan hasil radiokarbon itu pas sekali, perkiraan saya tidak meleset, itu aksara kuno yang bentuknya masih mirip aksara Palawa dari India Selatan tapi sudah sangat Sumatera, aksara itu hampir sama yang digunakan di Minitujuh Aceh, sampai ke Lampung, aksara itu digunakan pada abad itu,” katanya.

Sebenarnya naskah Tanjung Tanah pernah dicatat sebagai salah satu daftar naskah kuno Kerinci oleh Petrus Voorhoeve, pegawai bahasa Zaman Kolonial Belanda pada 1941 sebagai tambo Kerinci dan disimpan di perpustakaan Koninklijk Instituut voor de Taal, Land, en Volkenkunde (KILV) di Leiden, Belanda.

Di perpustakaan itu ada foto naskah tersebut tapi kurang baik. Voorhoeve menuliskan laporan tentang naskah yang disebutnya sebagian beraksara rencong, dan halaman lainnya beraksara Jawa Kuno. Namun tidak sampai pada kesimpulan.

Undang-Undang dari Dharmasraya

Transliterasi dan terjemahan naskah 34 halaman itu dilakukan sejumlah ahli yang dikoordinasi oleh Yayasan Naskah Nusantara (Yanassa). Ternyata naskah tersebut berisi undang-undang yang dibuat di Dharmasraya (sekarang tepatnya di tepi Sungai Batanghari di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat) yang diberikan kepada masyarakat Kerinci.

Dharmasraya waktu itu adalah pusat Kerajaan Malayu beragama Hindu-Buddha di bawah pemerintahan tertinggi di Saruaso (Tanah Datar) dengan raja Adityawarman. Tulisan tentang naskah kuno ini telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia berjudul Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah, Naskah Malayu yang Tertua (Yayasan Obor Indonesia: 2006). Edisi sebelumnya dalam bahasa Inggris The Tanjung Tanah Code of Law: The Oldest Extant Malay Manuscript ( Cambridge: St Catharine’s College and the University Press: 2004).

Uli Kozok pernah mengikutkan kopian Naskah Tanjung Tanah pada pameran di Singapura 18 Januari hingga 30 Juni 2007 dalam pameran bertajuk “Aksara: The Passage of Malay Scrips-Menjejaki Tulisan Melayu“.

Sebelumnya di Malaysia Naskah Tanjung Tanah diseminarkan di University of Malaya, Kuala Lumpur dalam acara Tuanku Abdul Rahman Conference, 14-16 September 2004. Saat itu Uli Kozok menyerahkan buku Tanjung Tanah Code of Law terbitan Cambridge University kepada Perdana Menteri Malaysia.

“Mereka (Bupati dan masyarakat Kerinci-red) sudah sangat baik budi kepada saya, dan sekarang… ya mudah-mudahan saya bisa membantu Kerinci sedikit, mempopulerkan daerahnya, sebagaimana orang Malayu bilang… untuk membalas budi, sekarang perhatian ilmuwan dari mancanegara sudah banyak terhadap Kerinci sebagai daerah ditemukan naskah malayu yang tertua,” katanya.***

Implementasi Koperasi Syariah

<strong><strong>IMPLEMENTASI EKONOMI SYARI’AH PADA KOPERASI</strong></strong>

OLEH : H. MAS’OED ABIDIN
(1).  <strong>Kegiatan ekonomi, pada mula diciptakan oleh manusia untuk menyejahterakan kehidupannya.</strong>
<a href=”http://bp1.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SH1A_zHbh8I/AAAAAAAACTI/TO0bejIxuzo/s1600-h/Buya+dan+H.Rustam+Madinah.jpg”><img style=”float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;” src=”http://bp1.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SH1A_zHbh8I/AAAAAAAACTI/TO0bejIxuzo/s320/Buya+dan+H.Rustam+Madinah.jpg” border=”0″ alt=””id=”BLOGGER_PHOTO_ID_5223402607616952258″ /></a>

Kegiatan ekonomi berkembang menjadi pemenuhan kebutuhan rumah tangga, antar rumah tangga, kelompok, lintas negara, bahkan hingga melintas benua, dan telah membuat manusia terdorong untuk berproduksi, memperluas pasar, dan menimbulkan rasa kepemilikan, yang kadangkala sangat berlebihan, dan ketika itu, manusia manusia terjebak, sebagai hamba sahaya yang menyerahkan diri kepada kegiatan ekonomi itu, dan berperilaku seperti budak ekonomi, dan mengabaikan ketauhidan.

Diperlukan penyelarasan yang mengembalikan manusia kepada fitrahnya, dengan mengedepankan spritualitas, sebagai nilai alamiah makhluk yang berketuhanan, dengan meyakini bahwa kepemilikan yang hakiki ada di tangan Allah SWT semata.
(2).  <strong>Model perdagangan syariah yang dilakukan oleh Muhammad Rasulullah SAW adalah berbasis akhlak, menjunjung tinggi kejujuran dan menjaga kredibilitas atau kepercayaan.</strong>

Ketika bisnis terlepas dari kaedah syariah, maka banyak manusia yang melanggar etika bisnis yang jujur, dengan menimbun barang untuk meraup keuntungan berlipat, dengan spekulasi berlebihan, melakukan kebohongan publik, pengrusakan alam, menyengsarakan buruh, terlibat riba, bersikap hedonistis, melakukan kerusakan di muka bumi, serta gerakan imperialisasi berkedok globalisasi, dan melakukan berbagai kecurangan, seperti menakar tidak sama berat, mengukur tidak sama panjang, yang sangat dilarang dan dicela oleh agama Islam, dengan ancaman dosa, sebagai berikut ;

<em>“ Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam ?.” </em>(QS.83, al Muthaffifiin : 1-6).
Maraknya kecurangan bisnis, mengakibatkan terjadinya transformasi nilai untuk kembali kepada fitrah manusia.

Ada pergeseran dari nilai intelektual ke emosional dan kemudian ke spiritual.   Agama Islam telah mengajarkan kepemilikan mutlak ada di tangan Allah.

Semua kegiatan perekonomian atau bisnis, mesti dilakukan dengan sikap hati-hati, bersih, dan berasas kejujuran.
Kejujuran adalah kekuatan dan akhlak resources, yang amat menentukan bagi perusahaan, dan termasuk langka didapat, pada hakikatnya menjadi sumber keunggulan bersaing, yang sangat kuat bagi setiap usaha.
(3).  <strong>Islam mengakui fungsi produksi sebagai gerbang kehidupan ekonomi.</strong>
Allah menganugerahkan sumber daya alam yang banyak, dan terbatas, agar manusia bisa mendayagunakannya. Di arahkan perhatian kepada alam sekeliling yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Di arahkan pandangan dan penelitian kepada alam tumbuh-tumbuh yang indah, berbagai warna, menghasilkan buah bermacam rasa.
<em>” Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.” </em>(QS.14, Ibrahim : 32).
<strong>Di arahkan perhatian manusia kepada alam, hewan, dan ternak serba guna</strong> dapat dijadikan kendaraan pengangkutan barang berat, dagingnya dapat dimakan, kulitnya dapat dipakai sebagai sandang.
 

<em>”Dia telah menciptakan binatang ternak untukmu, padanya ada bulu (kulit) yang menghangatkan, dan berbagai-bagai manfa’at, dan sebagian, kamu makan”</em> (QS.16, An Nahl : 5).
<strong>Juga, diajak melihat peluang pada perbendaharaan bumi</strong>, yang berisi logam, dan mineral, yang mempunyai kekuatan besar dan banyak manfaat.
<em>”Dan Dia telah menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu dimudahkan untukmu dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang memahaminya.
Dan Dia menundukkan pula apa-apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mau mengambil pelajaran”</em> (QS.16, An Nahl : 12-13).
<strong>Lihatlah pula lautan samudera yang terhampar luas</strong>, berisikan ikan, dan berdaging segar, dan perhiasan yang dapat dipakai, di permukaannya dapat diharungi kapal-kapal, supaya kamu dapat mencari karunia-Nya (karunia Allah).
Tiada lain, supaya manusia pandai  bersyukur.

<em>”Ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan : Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih ”</em> (QS.14, Ibrahim : 7). 

Pandanglah bintang di langit, yang dapat digunakan sebagai petunjuk-petunjuk jalan, penentuan arah bagi musafir”.  Maka, dengan berbagai manfaat alam itu, manusia disuruh mencari nafkah dengan “usaha sendiri”,  dengan cara yang amat sederhana sekalipun adalah “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain.

Pesan agama menyebutkan, “Kamu ambil seutas tali, dan  dengan itu kamu pergi ke hutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual pencukupkan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta”.  (Hadist).
(4).  <strong>Diperingatkan, bahwa membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalah salah.</strong>
“Kefakiran (kemiskinan)  membawa orang kepada kekufuran (keingkaran)”  (Hadist). Kerja merupakan unsur utama produksi untuk memenuhi hak hidup, hak keluarga, dan masyarakat guna mendorong fungsi produksi dalam mengoptimalkan sumberdaya insani yang mengacu full employment.

<strong>Islam menghargai kerja sebelum menghargai produknya</strong>,
sehingga aktivitas produksi yang padat karya lebih disenangi daripada padat modal, karena model ini lebih memberdayakan produsen.

Menjadi pengemis sangat dibenci.
Mencari dan berproduksi selalu diiringkan dengan tawakal.

Tawakkal bukan berarti “hanya menyerahkan nasib” kepada Tuhan, dengan tidak berbuat apa-apa. Menjadikan diri menunggu datangnya rezki dan takdir, tanpa mau berusaha, atau bersikap fatalis, adalah satu kesalahan besar.

<strong>Jangan kamu menadahkan tangan dan hanya bisa berharap,</strong>
<em>”Wahai Tuhanku, berilah aku rezeki, berilah aku rezeki”, sedang kamu tidak berikhtiar apa-apa. Langit tidak menurunkan hujan emas ataupun perak.</em> 

Dan, <em>”Bertawakkallah kamu, seperti burung itu bertawakkal”. Tak ada kebun tempat ia bertanam, tak ada pasar tempat ia berdagang. Tetapi tak kurang, setiap pagi dia terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan setiap sore dia kembali dalam keadaan “kenyang”.</em>
(5).  Dorongan berproduksi dan menghasilkan dalam Islam memiliki nilai tambah dengan adanya fungsi sosial. Produksi yang Islami lebih mempertimbangkan keperluan (needs) orang banyak, dibanding dengan mendapatkan keinginan (wants), yang menjadi kesenangan bagi orang yang berdaya beli kuat.

<strong>Agama Islam membangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu</strong> (space and time consciousness), kepada peredaran bumi, bulan dan matahari, yang menyebabkan pertukaran malam dan siang, dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun. Menyia-nyiakan waktu, dengan pasti akan merugi.

Maka, kehidupan mesti diisi dengan amal berguna.  
“Kami jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk kamu mencari nafkah hidup”. Malam itu disebut sebagai aian, karena malam itu gelap menutupi jagat sebagai aian menutupi tubuh manusia.
 

<em>” dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan ”</em> (QS.78, An Naba’ : 10-11).
<strong>Digugah kesadaran manusia kepada luasnya bumi Allah.</strong>
Dianjurkan, jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil. 
Karena, kalau dihitung segala ni’mat Allah, tak akan mampu manusia menghitungnya.

 
<em>”Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak dapat m,enentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi maha Penyayang”</em> (QS.16, An Nahl : 18).
Diajarkan, bahwa Allah SWT telah menjadikan bumi mudah untuk digunakan. Maka, berjalanlah di atas permukaan bumi, makanlah dari rezekiNya, kepadaNya lah tempat kamu kembali.
<em>”Maka berpencarlah kamu di atas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”.</em>  (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri. Jangan melewati batas, dan berlebihan. Jangan boros.
<em>”Wahai Bani Adam, ailah perhiasanmu, pada tiap-tiap (kamu pergi) ke masjid (melakukan ibadah); dan makanlah dan minumlah, dan jangan melampaui batas; sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.</em> (QS..7, Al A’raf : 31)
(6).  Kalau disimpulkan, alam di tengah-tengah mana manusia berada, tidak diciptakan dengan sia-sia. Di dalamnya terkandung faedah-faedah kekuatan, dan khasiat-khasiat yang diperlukan manusia untuk memperkembang dan mempertinggi mutu hidup jasmaninya. Manusia diharuskan berusaha membanting tulang dan memeras otak, untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya, dan menikmatinya sambil mensyukurinya.

Tuntutan syar’i adalah, beribadah kepada Ilahi. Manusia harus menjaga diri dari perbuatan yang melanggar batas-batas kepatutan dan kepantasan, agar jangan terbawa hanyut oleh materi dan hawa nafsu yang merusak. Semua ini adalah suatu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, yang menghendaki keseimbangan antara kemajuan di bidang rohani dan jasmani. Sikap hidup (attitude towards life) yang demikian, menjadi sumber motivasi bagi kegiatan di bidang ekonomi.

Tujuan terutama untuk keperluan-keperluan jasmani (material needs).  Hasil nyata tergantung kepada dalam dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa, serta tingkat kecerdasan yang dicapai, dan keadaan umum di mana mereka berada.
(7).  Kini orang mulai melirik dan tertarik pada perdagangan berbasis bagi hasil (profit sharing). Selain itu, dipacu juga perkembangan wakaf tunai, dan pengumpulan zakat guna mengangkat perekonomian masyarakat kelas bawah secara produktif. Spritualitas dalam ekonomi sangat dibutuhkan untuk mewarnai aktivitas ekonomi agar tidak mengarah kepada homo homini lupus, manusia menjadi serigala sesamanya, sehingga mengaburkan makna ekonomi yang hakikat dan tujuan akhirnya, untuk kesejahteraan. Bukan sebaliknya seperti yang tengah berlaku sekarang, di mana terjadi sebuah pergulatan ideal dengan realitas.

<a href=”http://bp1.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SH1A_-prdJI/AAAAAAAACTQ/9pOmAJkvtCg/s1600-h/DSC03800.jpg”><img style=”float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;” src=”http://bp1.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SH1A_-prdJI/AAAAAAAACTQ/9pOmAJkvtCg/s320/DSC03800.jpg” border=”0″ alt=””id=”BLOGGER_PHOTO_ID_5223402610713392274″ /></a>

 

<strong>LATAR BELAKANG PEMBIAYAAN SYARIAH</strong>
Pembiayaan Syariah mempunyai latar belakang keagamaan.
Berasas kepada Firman Allah SWT, yang telah diwahyukan, di antaranya dalam Kitab Suci Alquran sebagai berikut ;
<em>“ Orang-orang yang memakan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan, lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) ; “sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba”. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (yakni, sebelum datang larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” </em>(QS.2, Al Baqarah : 275)

  
<em>“ Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”</em> (QS.2, Al Baqarah : 276).

 
<em>“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba  dengan berlipat ganda, dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” </em>(QS.3, Ali Imran : 130).
<em>“ Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba. Padahal, sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” </em>(QS.4, An Nisak : 160-161).

 
<em>“ Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat, yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah, orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” </em>(QS.30, ar Ruum : 39).
Ayat-ayat wahyu di atas, menjelaskan prinsip-prinsip pembiayaan syariah, antara lain ;
1. memakan riba itu menyulitkan kehidupan,
2. berdiri sebagai orang kemasukan setan, sebagaimana layaknya orang gila.
3. Allah telah menghalalkan jual beli, dan mengharamkan riba.
4. Orang yang kembali memakan riba, akan menjadi penghuni neraka.
5. Allah memusnahkan riba, artinya memusnahkan harta itu atau meniadakan berkahnya.
6. Allah telah menyuburkan sedekah, artinya memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipat gandakan berkahnya.
7. Allah SWT tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa (di antaranya, dengan memakan riba).
8. Umat Yahudi dihukum karena menghalalkan yang haram, dan menghalangi orang dari kebaikan, serta suka memakan riba.
9. Riba tidak menambah keberkatan harta.
10. Sadaqah atau zakat dengan mengharap redha Allah, akan melipat gandakan manfaat dari harta itu (pahala dari sisi Allah SWT).
KOPERASI

1).    Koperasi adalah suatu lembaga sosial-ekonomi “untuk menolong diri sendiri secara bersama-sama”, dapat tumbuh dari dalam masyarakat sendiri, muncul kesadaran bersama untuk pemberdayaan diri (self-empowering), dan dapat pula ditumbuhkan dari luar masyarakat, sebagai penguatan oleh agents of development, baik oleh pemerintah, elite masyarakat, atau organisasi kemasyarakatan. Menolong diri sendiri secara bersama-sama, manakala dilembagakan, akan menjadi badan usaha bersama, sebagai “koperasi”. Koperasi adalah wadah utama bagi ekonomi rakyat untuk bersinergi usaha. Koperasi dapat terbentuk sebagai wadah usaha ekonomi, dengan  ;

<a href=”http://bp3.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SH1A_iwqrFI/AAAAAAAACTA/fFSj6nlHY7M/s1600-h/Mohd.+Hatta.jpg”><img style=”float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;” src=”http://bp3.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SH1A_iwqrFI/AAAAAAAACTA/fFSj6nlHY7M/s320/Mohd.+Hatta.jpg” border=”0″ alt=””id=”BLOGGER_PHOTO_ID_5223402603226508370″ /></a>
Bung Hatta Bapak Koperasi Indonesia
1. Ada sekelompok anggota masyarakat, yang ;
a. Sama-sama memiliki “kepentingan bersama”.
b. Sering bertemu secara rutin (sukarela dan terbuka), dapat saja berdasar alasan serukun tempat-tinggal, setempat kerja, seprofesi, sejenis matapencaharian.
c. Bersepakat untuk bersama-sama bekerjasama “menolong diri sendiri, secara bersama-sama”, untuk memenuhi kepentingan bersama, dalam “semangat kebersamaan dan kekeluargaan” atau “semangat ukhuwah”.
d. Kerjasamanya, meliputi kebersamaan dalam berproduksi, berkonsumsi, mencari peluang usaha, menanggung resiko, mencari kredit, menikmati kemajuan dan menanggng beban ataupun kerugian, secara bersama-sama pula.
2. Koperasi sebagai wadah usaha “dimiliki bersama” oleh seluruh anggotanya berdasar kesamaan harkat martabat sebagai sesama manusia.
a. Dalam koperasi berlaku prinsip partisipasi dan emansipasi.
b. Dalam koperasi, yang sering disebut sebagai “kumpulan orang”, artinya di dalam koperasi, manusialah yang diutamakan.
c. Dalam koperasi, setiap orang (individu anggota) dihormati harkat martabatnya secara sama, dalam prinsip “satu orang memiliki satu suara” (one man one vote).
d. Dalam koperasi, berlaku pedoman usaha bahwa anggota koperasi adalah pelanggan dan pemilik sekaligus.
e. Dalam pembentukan koperasi, melalui suatu proses dari bawah ke atas, bukan dari atas ke bawah.
3. Koperasi tidak bertujuan mencari laba (profit) karena ;
a. Koperasi memang milik sendiri dari seluruh anggota,
b. Koperasi tidak sejalan dengan mengeruk keuntungan dari para anggotanya sendiri.
c. Koperasi sebagai wadah (fasilitator) usaha milik bersama,
d. Koperasi bertujuan utama mencari manfaat bagi para anggotanya.
e. Namun, para anggotalah yang mencari laba dari kegiatan usaha mereka masing-masing (terutama koperasi produksi).
f. Koperasi hanya memperoleh “sisa hasil usaha” (SHU),
g. Kemudian dibagikan kepada para anggotanya, sesuai dengan keputusan yang diambil dalam rapat anggota (RAT).
h. Koperasi menyatukan kekuatan-kekuatan ekonomi dan sosial yang kecil-kecil menjadi satu kekuatan besar, sehingga terbentuk kekuatan berganda-ganda (sinergis) yang lebih tangguh.
i. Koperasi melahirkan semangat menolong diri sendiri secara bersama-sama, dan mandiri. Mandiri adalah wujud dari kegiatan pemberdayaan-diri (self-empowerment).
j. Mandiri adalah titik-tolak dan tujuan akhir dari usaha koperasi.

 
2).  Seperti tersurat di dalam UU Koperasi No 12/1967, dengan perkataan “kesadaran berpribadi” (individualita) dan “kesetiakawanan” (kolektivita), menurut istilah Bung Hatta, Bapak Koperasi, menjadi landasan mental bagi para anggota dan pengelola koperasi, yang satu memperkuat yang lain. Dimulai dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan-kepercayaan kepada diri sendiri. Dengan kemauan untuk melaksanakan idea self help, sesuai Firman Ilahi. “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak merobah keadan sesuatu kaum, kecuali mereka mau merubah apa-apa yang ada dalam dirinya masing-masing ….”
Koperasi dapat memulai dari apa yang ada. Kemauan bersama oleh orang bersama-sama. Ada penanaman kesadaran dan upaya membangunkan potensi umat. Di sini kita melihat peranan hakiki dari sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu mengolah dan memelihara alam kurnia Allah untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriyah, dimulai dengan nilai-nilai rohani. Perlu strukturisasi ruhaniyah. Dalam upaya meningkatkan kualitas kelembagaan koperasi, tentulah amat perlu diterapkan beberapa kebijakan, antara lain ;
a. melaksanakan pembinaan anggota koperasi,
b. pengawasan dan penilaian perkoperasian;
c. pelatihan dan pemasyarakatan praktek-praktek koperasi terbaik,
d. bimbingan teknis penerapan akuntabilitas koperasi.
Koperasi adalah sokoguru perekonomian nasional, artinya kegiatan ekonomi rakyat di bawah mendukung perekonomian besar di atasnya (hubungan vertikal). Seperti, koperasi petani sawit, menjadi sokoguru industri minyak sawit, koperasi kopra menjadi sokoguru minyak goreng, dan seterusnya.
Para pedagang kaki lima di sektor informal telah menyediakan harga murah meriah dan terjangkau bagi kehidupan buruh-buruh miskin yang berupah kecil dari perusahaan-perusahaan besar yang kaya dan berkedudukan pengusaha formal yang modern. Maka, sektor informal tadi, telah menjadi sokoguru dari perusahaan-perusahaan besar itu. Maka, ketika kita ingin mewujudkan demokrasi ekonomi dalam Tiga Bersama, terutama pada badan usaha yang kapitalistik sifatnya dapat lebih berwatak kooperatif dengan melaksanakan pemilikan bersama, keputusan bersama dan tanggungjawab bersama.
KOPERASI DAPAT MENJADI INSTRUMEN PEMBIAYAAN SYARIAH DI KALANGAN BAWAH.
(1).  Dari sekian banyak kombinasi pembiayaan syariah ada beberapa contoh instrumen pembiayaan syariah yang sangat cocok dengan semangat modal koperasi, yakni al mudharabah, di mana modal dipunyai seluruh anggota, seperti koperasi simpan pinjam bagi anggotanya, yang tidak ada pembedaan jenis penyertaan modal, karena risiko harus ditanggung oleh semua pihak, dan seluruh keuntungan akan dibagi hasil, dan jika terjadi kerugian akan dibagi rugi setelah di likuidasi, dan investasi pada penyertaannya tidak dapat dicairkan dari usaha yang bersangkutan kecuali dalam keadaan bangkrut atau dialihkan lewat jual beli investasi. Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati.
Karakteristiknya adalah penjual harus memberitahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya. Oleh karena itu, pemberdayaan koperasi syariah menjadi semakin strategis untuk mendukung peningkatan produktivitas, penyediaan lapangan kerja yang lebih luas, dan peningkatan pendapatan bagi masyarakat miskin.
Dalam rangka peningkatan efektivitas penanggulangan kemiskinan dan mendukung peningkatan pendapatan masyarakat berpendapatan rendah, maka penguatan usaha koperasi diutamakan untuk mendorong pertumbuhan yang berpihak pada rakyat miskin, di antaranya ;
a) memperluas jangkauan dan kapasitas pelayanan lembaga koperasi dalam pola syariah (bagi hasil),
b) memberdayakan kaum perempuan sebagai pengusaha dan penghasil barang kerajinan yang laku di pasar,
c) meningkatkan kemampuan dalam aspek manajemen dan teknis produksi,
d) pembinaan sentra-sentra produksi tradisional dan usaha ekonomi produktif lainnya di perdesaan dan daerah terpencil.
Koperasi yang bergerak di bidang jasa keuangan, mirip dengan perbankan syariah dalam skala lebih kecil, dan meliputi anggota koperasi. Maka, sisitim mudharabah, yang sering juga disebut trust financing, yang diberikan kepada usaha anggota yang sudah teruji memegang amanah, dan kelola yang baik, sehingga terhindar dari merugikan satu dan lainnya, serta risiko dapat ditanggung bersama secara adil, oleh sesama anggota koperasi syariah. Dalam pembiayaan syariah, mudharabah mempunyai implementasi spesifik, di mana seluruh keuntungan dan kerugian akan dibagi sesuai nilai penyertaan.
Koperasi jasa keuangan syariah, seperti model simpan pinjam masa lalu, dan unit jasa keuangan syariah diperkenankan menghimpun dana anggota baik berupa tabungan dan simpanan berjangka dengan akad mudharabah dan wadiah, serta menyalurkannya dalam pembiayaan mudharabah, musyarakah, murabahah, salam, istisna, ijarah, dan alqardh, sebagaimana layaknya bank syariah, tapi dalam skala lebih kecil. Selain kegiatan tersebut, koperasi jasa keuangan juga diperkenankan menjalankan kegiatan pengumpulan dan penyaluran dana zakat, infak, dan sedekah termasuk wakaf dengan pengelolaan yang terpisah. Maka audit internal, maupun eksternal diharuskan untuk koperasi syariah tersebut.
Masih banyak produk-produk pembiayaan syariah yang dapat di-implementasikan selain koperasi syariah, seperti juga sudah ada  menjadi cikal bakal pasar modal syariah, selain dari koperasi syariah, juga adalah Perbankan syariah, Asuransi syariah, yang satu dan lainnya bersinerji. Dan kemudian, menumbuhkan perangkat-perangkat Lembaga pasar modal syariah, seperti Venture capital syariah, Securitas syariah, dan profesi penunjang pasar modal syariah seperti, Legal audit syariah, Notaris syariah, dan profesi penunjang lainnya yang diperlukan untuk menggerakan ekonomi syariah itu.

Wassalam.

Hikmah Israk Mikraj, Kuat dalam menghadapi berbagai tantangan

ISRAK MIKRAJ

BELAJAR MENGHADAPI TANTANGAN

 

Sudah lazim, setiap 27 bulan Rajab diperingati. Didalamnya terdapat satu peristiwa kembar (Isra’ dan Mi’raj) Muhammad SAW, pilar penting dalam rentetan Risalah Islam. 

Peristiwa pertama disebut Isra’.

Perjalanan malam hari Rasulullah SAW, berawal dari Masjidil Haram (Makkah) dan berakhir di Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis, Palestina).

Kedua tempat itu telah diberkati sekelilingnya (alladzi barakna haulahu), sebagai tempat diutusnya banyak Nabi dan Rasul-Rasul sejak Ibrahim AS hingga Isa ibni Maryam.

Disekitar Baitulmaqdis telah diturunkan Kitab-Kitab Allah, Taurat, Zabur, Injil, dan beberapa shuhuf, kepada Rasul-Rasul Allah untuk dijadikan pegangan dalam Agama Samawi. Menjadi bimbingan dan pedoman ummat manusia dari masa ke masa.

Dikeliling Masjidil Haram (Makkah dan Madinah) diwahyukan Al Quranul Karim kepada Muhammad SAW, yang menjadi rahmat besar tiada ternilai untuk seluruh penduduk alam ini, sampai akhir masa.

Perjalanan Isra’ merupakan bukti kemuthlakan kekuasaan Allah Maha Pencipta (linuriyahuu min ayatina). Yang Mampu (Al Qawiy-yun) merubah ruang dan waktu. Tidak terpaut kepada dimensi-dimensi menurut batas akal fikiran manusia.

Kecerdasan akal (intelektual inteligensia) manusia sangat terbatas. Mengandalkan semata kemampuan rasio tidak akan mampu mencerna  peristiwa sangat spektakular ini.

Apalagi kalau yang menjadi ukuran bagi pembuktian peristiwa ini hanyalah  jarak, waktu, ruang dan dimensi materi, berdasarkan hukum gerak dalam teori mekanika klasik Isaac Newton, atau mekanika modern Albert Einstein sekalipun. Secara ringkas bisa disebutkan, bahwa suatu kejadian menurut embanan teori realitivitas  dalam dimensi ruang dan waktu, belum  ada satu benda melebihi kecepatan maksimum (kecepatan cahaya). Kecepatan itu bisa dicapai oleh materi yang memiliki massa diam nol, yakni gelombang elektromagnet (seperti sinar gamma, sinar X, dan cahaya). Konsekwensi teori (realitivitas) ini melahirkan suatu kaedah, bahwa materi tidak dapat dimusnahkan, tidak dapat diciptakan, tetapi dapat dikonversi kedalam bentuk atau gelombang.

Perjalanan menempuh jarak antara Masjidil Haram (Makkah) dengan Masjidil Aqsha (Palestina) dengan hasil teknologi transportasi maju hari ini bisa ditempuh kurang dari semalam, memakai kapal terbang, termasuk rumusan mekanika klasik.

Akan tetapi, tingkat  teknologi transportasi satu setengah millenium lalu itu adalah Kuda, Onta, Keledai atau jalan kaki. Ini yang menjadikan ilmuan Quraisy menentangnya. Tidak masuk akal, kata mereka.

Pertanyaan berikutnya, kenderaan apakah yang dipakai Muhammad SAW dalam perjalanan malam (Isra’) itu ???

Bila disebut dengan berkenderaan buraq (berasal dari kata barq artinya kilat). Maka itupun dilihat sebagai suatu yang berlebihan, selanjutnya juga sangat mustahil.

Kilat adalah satu gelombang elektromagnet dengan kecepatan maksimum seperti kecepatan cahaya, sehingga dengannya jarak matahari dan bumi bisa dijelang dalam waktu delapan menit.

Sebenarnya Buraq (barq) tidak sama dengan kilat dalam arti yang lazim. Karena memiliki kecepatan ‘sekejap mata’. Mampu menempuh jarak sejauh mata memandang.

Kenyataan keseharian kita membuktikan bahwa mata tanpa alat bantu bisa memandang bintang dilangit yang jaraknya ribuan kali jarak matahari. Karenanya dapat disimpulkan  buraq bukanlah kilat dalam dimensi pengertian umum dengan kecepatan melampuai cahaya. Bahkan mungkin 18 juta kali kecepatan cahaya.

Sekali lagi, bila Muhammad masih terkungkung pada dimensi ruang dan waktu, mustahil dia bisa bergerak secepat kilat. Kecuali jika telah di ubah menjadi foton (paket energi gelombang elektromagnet, yang kecepatannya sama dengan cahaya). Bila itu yang terjadi, sangat sulit untuk kembali kepada materi semula. Lebih rumit membayangkan terjadi pada diri manusia seperti Muhammad. Kejadian ini diluar jangkauan akal dan indera manusia. Akal tidak mampu menggambar lintasan gerak yang terjadi. Bahkan ilmu pengetahuan tidak mampu menuliskan persamaannnya dalam teori gerak (mekanika) Newton ataupun Einstein. Kedua teori gerak tersebut dalam kasus ini tidak berlaku lagi.

Kata kuncinya terletak pada kata-kata “asraa” (kata kerja transitif yang membutuhkan obyek) dan berasal dari katakerja intransitif “saraa”, berarti telah berjalan malam hari.

Obyek asraa adalah Muhammad. Kata-kata Isra’ diambil dari bentuk mashdar saraa, sehingga secara harfiyah diartikan perjalanan malam hari dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsha.

Sepenuhnya dalam perencanaan sampai pada pelaksanaan perjalanan (baik dalam bentuk sarana, alat yang dipakai, sifat perjalanan, waktu dan kecepatan) semata-mata adalah absolut (muthlak) menjadi ilmu dan kekuasaan Allah, Subhanallah. Secara bijaksana Allah memperlihatkan kekuasaan muthlak itu dengan awalah kalimat “Subhanal-ladzii” dan seterusnya. Maka peristiwa agung ini merupakan wilayah iman (keyakinan). Berurat berakar pada kalbu (hati) manusia. Mampu menumbuhkan kekuatan dalam (inner side) bagi manusia berakal.

4 ¼çm¯RÎ) uqèd ßìŠÏJ¡¡9$# 玍ÅÁt7ø9$#  

”Innahu huwa as-sami’ ul-bashir”,artinya “sungguh Dia (Allah) Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS.17:1).

      Peristiwa kedua adalah Mi’raj (naik ketempat yang paling tinggi). Dibuktikan oleh Allah dalam Firman-Nya,

ô‰s)s9ur çn#uäu‘ »s!÷“tR 3“t÷zé& ÇÊÌÈ   y‰ZÏã Íou‘ô‰Å™ 4‘ygtFZçRùQ$# ÇÊÍÈ   $ydy‰YÏã èp¨Zy_ #“urùpRùQ$# ÇÊÎÈ   øŒÎ) Óy´øótƒ nou‘ô‰Åb¡9$# $tB 4Óy´øótƒ ÇÊÏÈ   $tB sø#y— çŽ|Çt7ø9$# $tBur 4ÓxösÛ ÇÊÐÈ   ô‰s)s9 3“r&u‘ ô`ÏB ÏM»tƒ#uä ÏmÎn/u‘ #“uŽö9ä3ø9$# ÇÊÑÈ    

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Didekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhan-Nya yang paling besar” (QS.53,An-Njm,ayat 13-18).

            Nabi Muhammad SAW melihat Jibril untuk pertama kalinya dalam bentuk asli itu adalah tatkala diturunkan wahyu pertama Surat Al ‘Alaq (96) ayat 1-5. Keabsahan penglihatan Muhammad ini diperkuat oleh Wahyu Allah QS.53,An-Najm, ayat 1-14.

            Peristiwa kedua ini lebih menakjubkan dari peristiwa pertama. Lebih susah membayangkan dan sulit menerimanya, bila hanya mengandalkan kemampuan rasio semata. Namun, sangat mudah diterima bila kemampuan rasio didasari  haqqul-yaqin (keyakinan atas kemuthlakan Allah Yang Maha Kuasa).

Haqqul yaqin, adalah puncak dari ilmul yaqin. Keyakinan ini akan menjadi landasan utama pandangan hidup tauhid (tauhidic weltanschaung). Selanjutnya akan memperkokoh kekuatan  intelektual seseorang. Akan mampu menjalin emotional inteligensia dengan kekuatan rasio. Dan menjadi ukuran kadar kecerdasan. Akhirnya akan menguasai  nilai-nilai keseimbangan (tawazunitas).

 

Ada tiga nilai dasar dalam peristiwa besar ini ;

·       Ujian Iman (nilai aqidah) yang melahirkan pengakuan bahwa kekuasaan yang muthlak hanya ada pada kekuasaan Allah.

·       Kesadaran ilmiah bahwa kemampuan rasio sangat tidak berarti apabila tidak dilandasi oleh keyakinan tauhid.

·       Kekhusyukan ibadah merupakan pembuktian adanya keyakinan tauhid dalam menempuh kehidupan nyata sebagai suatu kepantasan yang sangat rasional.

 

Hikmah dari dua peristiwa spektakular ini

1.    Pengukuhan iman berkaitan dengan pengakuan atas kemuthlakan kekuasaan Allah, yang pada tahap selanjutnya akan menanamkan kesadaran mendalam atas lemahnya kekuatan rasio manusia bila tidak dilandasi aqidah (keyakinan tauhid),dan pada bagian akhirnya akan melahirkan ketaatan penghambaan hanya terhadap Ma’bud (hanya Allah yang berhak disembah).

2.    Bukti atas keutusan Muhammad SAW sebagai Rasul Allah, dengan segala kemuliaan (mukjizat) selaku Khataman Nabiyyin (penutup segala nabi-nabi), dan merupakan pembuktian Al Quranul Karim yang teruji secara ilmiah.

3.    Kerelaan dan ketaatan sebagai bukti kesetiaan kepada Allah, dengan keteguhan mempedomani hidayah Allah (Al Quran) dan mengikuti Sunnah Rasul-Nya.

Pergeseran Nilai

Sekarang, kita menyaksikan satu kondisi terjadinya pergeseran pandangan masyarakat dunia dewasa ini. Maka umat Islam wajib berperan aktif kedepan diabad XXI. Dengan upaya menjadikan firman Allah sebagai aturan kehidupan. Melaksanakan secara murni konsep agama dalam setiap perubahan, agar peradaban kembali gemerlapan.

Berpaling dari sumber kekuatan murni, Kitabullah dan Sunnah Rasul, dengan menanggalkan komitmen prinsip syar’i dan akhlak Islami akan berakibat fatal untuk umat Islam, bahkan penduduk bumi. Pada gilirannya umat Islam akan menjadi santapan konspirasi dari kekuatan asing. Konsekwensinya adalah wilayah yang sudah terpecah akan sangat mudah untuk dikuasai.

Kembali kepada watak Islam  tidak dapat ditawar-tawar lagi. Bila kehidupan manusia ingin diperbaiki. Tuntutannya agar umat lahir kembali dengan iman dan amal nyata.

·         Tatanan masyarakat harus dibangun diatas landasan persatuan (QS.al-Mukminun:52).

·         Mayarakat mesti ditumbuhkan dibawah naungan ukhuwwah (QS.al-Hujurat:10).

·         Anggota masyarakatnya didorong hidup dalam prinsip ta’awunitas (kerjasama) dalam al-birri (format kebaikan) dan ketakwaan (QS.al-Maidah:2).

·         Hubungan bermasyarakat didasarkan atas ikatan mahabbah (cinta kasih), sesuai sabda Rasul: “Tidak beriman seorang kamu sebelum mencintai orang lain seperti menyayangi diri sendiri”.

·         Setiap masalah diselesaikan dengan musyawarah (QS.asy-Syura:38).

·         Tujuan akhirnya, penjelmaan satu tatanan masyarakat yang pantang berpecah belah (QS.Ali Imran:103).

Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” (isti’jal) dalam bertindak. Tidak memetik sebelum ranum. Tidak membiarkan jatuh ketempat yang dicela. Kepastian amalan adanya husnu-dzan (sangka baik) sesama umat. Mengiringi semua itu adalah tawakkal kepada Allah.

Dalam tatanan berpemerintahan, kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi. Ukurannya adalah adil dan tanggap terhadap aspirasi yang berkembang. Takarannya adalah  kemashlahatan umat banyak. Kemasannya adalah jujur secara transparan. Kekuatan hati (dhamir) penduduk (rakyat) terletak pada ditanamkannya kecintaan yang tulus.

Menghidupkan energi ruhanik lebih didahulukan sebelum menggerakkan fisik umat. Titik lemah umat karena hilangnya akhlaq (moralitas) Islami.

Enggan memahami syari’at, berakibat hilangnya kecintaan (kesadaran) terhadap Islam. Lahirnya radikalisme, berlebihan dalam agama, menghapuskan watak Islam. Tidak menghormati hubungan antar manusia, merupakan kebodohan pengertian terhadap prinsip sunnah.

Akibatnya adalah tindakan anarkis (merusak).