BlogMinangkabau’s Weblog

Buya Masoed Abidin

  • 09:06:47 am on Juli 3, 2008 | # |

    Alam Takambang jadi Guru

    Oleh H. Mas’oed Abidin

     

    Nilai dan hubungan kekerabatan dapat dideteksi dari berbagai adagium (pribahasa; pepatah; petitih; bidal), yang bersumber dari alam antara lain, sebagai contoh :  di cancang pua - ta garik andilau; (di cencang puar, tergerak -tergoyang, tersinggung - andilau);

                   1.  pua; puar; sejenis kapulaga (banyak variasinya), di beberapa nagari disebut salo.

    2. andilau atau endilau; pohon dengan nama latinnya Commersonis bartramia MERR.

    Maksudnya adalah bila seorang anggota kaum dijadikan gunjiang (disebut-sebut secara negatif; gosip) oleh pihak lain (misalnya dalam tingkat kecamatan), maka seluruh anggota kaumnya, bahkan kaum ayahnya dan anak pisangnya, termasuk orang senagarinya akan merasa digunjing dan beroleh malu. Orang dari suku lain pun sudah berhak memberikan teguran. Bila digunjing dalam nagari, orang sesuku walau tidak sekaum dan sepusaka dengannya akan tersinggung sehinga menumbuhkan hak melakukan teguran.

    Radius atau lingkaran yang merasa tersinggung akan meluas atau menyempit, tergantung tingkat apa sosok atau tokoh yang digunjing. Jika sudah jadi tokoh nasional, maka yang akan merasa malu adalah semua orang Minang atau yang merasa turunan Minang. Kini bisa juga orang se Sumatera Baratnya.

    Sebaliknya, ketika ada orang yang tiba-tiba menjadi buah mulut, idola dan tumpuan harapan banyak orang, ternyata adalah orang Minang meskipun lahir di perantauan atau anak pisang dari orang Minang yang sudah lama hilang menjadi Sutan Batawi, Rajo Medan atau Rajo Palembang dsb.nya, akan menumbuhkan rasa bangga meskipun dalam kadar yang berbeda di antara sesama orang Minang. Tergantung hubungan jauh dekatnya dengan sumber gunjingan.

    Juga tergambar dalam pepatah:  ilalang nan ta baka - si cerek ta bao rendong; (hilalang yang terbakar, sicerek terbawa rendong);

    Sicerek (clausena cxavata); nama pohon kecil, daunnya biasanya dijadikan obat tradisional;

    Maksudnya, bila sesosok orang berbuat ulah. baik secara hukum nasional (melakukan kejahatan) atau secara moral (melompat pagar, menempuh rusuk jalan), maka seluruh kerabat atau sanak famili yang bersangkutan pun merasa mendapat hukuman, meskipun dalam bentuk menanggung malu. Namun perlulah diungkapkan, bahwa maksud pepatah ini hamper sama dengan peringatan Allah SWT,   

    (#qà)¨?$#ur ZpuZ÷FÏù žw ¨ûtù‹ÅÁè? tûïÏ%©!$# (#qßJn=sß öNä3YÏB Zp¢¹!%s{ (

    (Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya secara khusus menimpa mereka yang zalim (pelaku kejahatan) saja dari kalangan (sekitar) kamu  (Q.S. 8-al Anfal/25).

     

     

Leave a Comment