BlogMinangkabau’s Weblog

Buya Masoed Abidin

  • 09:12:59 am on Juli 3, 2008 | # |

    Walimah al ‘urusy Rumah Tangga Sorga

     

    Rasa syukur sesungguhnya dipersembahkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa lagi Kuasa, beriring salam dan shalawat kepada Junjungan alam, Baginda Nabi Muhammad SAW.

    Ucapan Selamat Datang, kepada seluruh hadirin dan hadirat, serta para undangan yang telah berkenan datang meringankan langkah mengayunkan kaki, memenuhi undangan dari silang nan ba pangka karajo nan ba pokok. Kehadiran seluruh hadirin yang dimuliakan, sangat besar maknanya membesarkan dan memeriahkan walimah al ‘urusy, resepsi pernikahan anak kemenakan kita,

    Semua kita berharap kiranya doa restru kita bersama, akan memudahkan bagi kedua mempelai untuk meraih sasaran pernikahan mereka, di dalam mendapatkan kedamaian, kenyamanan dan ketenangan.

    Tentulah kita amat menyadari, bahwa rasa damai hanya dapat dicapai dengan saling menyintai, saling menguatkan rasa harga menghargai, dan saling pengertian antara keduanya, yang kemudian dikuatkan oleh saling menghormati dan mengayomi antara kedua keluarga.

    Kita berdoa, dan kami mengharapkan doa restu dari kita semua, kiranya keluarga baru ini memiliki kemampuan meraih tujuan pernikahan mereka. Amin ya Mujibas-Saa-ilin.

    Di samping itu, Ucapan Selamat sangat pantas kita sampaikan kepada kedua orang tua ayah dan bunda, yang berbahagia dari kedua mempelai kita, karena telah menyelesaikan tugas dan tanggung jawab sebagai ibu dan bapak dengan sempurna.

    Di dalam tatanan adat yang bersendikan syari’at agama menurut Sunnah dan Kitabullah, adalah tugas ayah-bunda itu, di antaranya, mengazankan dan memberi nama yang baik di kala si anak lahir, kemudian memberi makanan, pakaian dan pelajaran/pendidikan secara cukup, baik dan halal, kemudian yang terakhir mengantarkan anaknya sampai ketangga pelaminan.

    Hal itu, Alhamdulillah, saat ini telah terbukti dengan baik, dan semoga senantiasa diberkati Allah Azza wa Jalla.

    Demikian pula kepada Engku-engku, ninik mamak pangulu andiko nan gadang basa batuah, alim ulama cerdik pandai suluah bendang suluh benderang - di nagari, bundo kandung limpapeh hiasan - rumah nan gadang, rang mudo parik paga parit pagar penjaga keindahan dan keamanan - di nagari yang di dalam kehidupan sehari-hari telah menyumbangkan contoh tuladan yang baik.

    Kita menyadari, bahwa dengan suri teladan itu telah tumbuh dengan itu generasi yang baik dan teguh memegang adatnya. Alhamdulillah, ketika ini, kita ikut menyaksikan dengan gembira, bahwa kedua anak-kemenakan kita ini, telah melaksanakan satu acara ibadah, yang disunnahkan Rasulullah SAW, “an- nikahu sunnati, man raghiba ‘an sunnati falaisa minni”,  artinya, “ nikah itu sunnahku, dan yang tidak mau mengikuti sunnahku, maka tidaklah termasuk umatku”.

    Dan saat ini, kita bersama telah menyaksikan pula keduaanya bersanding di pelaminan, didampingi kedua orang tua, dan sanak keluarga yang berbahagia.

    Kita semuanya berharap kiranya rumah tangga mereka menjadi penghimpun yang terserak di antara keduanya, pembuka pintu hikmah dan ilmu, menjadi jembatan rasa mawaddah wa rahmah, yang memberikan rasa aman bagi umat serta kesejahteraan di tengah kampung halaman. Amin Ya Mujibas Sailina.

    Mulai saat ini, kedua pasangan telah mulai mengayuhkan bahtera rumah tangga mereka, di tengah samudera kehidupan, yang pasti saja ada riakj dan gelombang, dan Insya Allah, selama keduanya tetap hati-hati di tengah pelayarannya, sama amanah memegang kemudi, menjaga haluan tidak berpaling, niscaya akan terjejak tanah tepi, akan di capai pulau bahagia.

    Tentu tidak lama lagi, ananda putri akan menjadi seorang IBU artinya Ikutan Bagi Umat, menjadi pemayung kasih sayang anak turunan.

    Pesan Rasulullah SAW, an nisak ‘imadul bilaad, artinya kaum ibu itu adalah tiang utama dalam nagari, kalau mereka baik akan baiklah seluruh nagari, dan kalau mereka rusak maka binasalah seluruh nagari.

    Maka, tugas seorang ibu rumah tangga tidak sekedar menyiapkan makanan dan minuman. Akan tetapi menjadi sumber dari sakinah yakni bahagia dan ketenangan. Karena itu sangat dituntut bersifat kreatif, ulet, tabah, sabar dan mampu menghidangkan keindahan dalam rumah tangga.

    Selanjutnya, kepada mereka berdua kita doakan pula, moga-moga mereka pandai-pandai hidup bermasyarakat. Agama maupun adat  mengajarkan, hormati ysng tua-tua, sayangi yang kecil.

    Akhirnya, seumpama sebuah pelayaran, maka kami lepas ananda berdua mengharungi bahtera kehidupan berbekal budi luhur. Ibarat kata orang,

    Kok pergi anak merantau, me nyauk di hilir-hilir, berunding se patah di pikiri, di ingat ranting yang akan menyangkut, gemuk tak usah membuang lemak, cerdik jangan membuang kawan, besar jangan melenda, dan tinggi jangan menghimpit.

    Artinya, hasibuu anfusakum qabla an tuha sabuu, wa zinuu a’malakum qabl;a an tuuzana ‘alaikum, maknanya, hitung-hitun diri, ukur bayang-bayang se panjang badan, sebelum di hitung oleh yang lain, timbang-timbang amal perbuatan – karena kelak Allah akan melakukan timbangan atas dirimu – sebelum engkau mengadakan penilaian terhadap amalan orang-orang lainnya. (Atsar Shahabat).

    Kami mengharapkan semua kita mendoakan, kiranya kedua anak kita ini senantiasa memelihara prinsip hidup dengan akidah yang benar dan istiqamah (konsisten). Karena, di sini terletak ’izzah martabat diri. Di dalam menegakkan kebenaran, biar dipancung leher putus, setapak tidak boleh surut,  yang benar di anjak jangan. Di sini terpatri muruah kita. Selalu berpegang kepada kebenaran. Dahulukan kepentingan negeri (negara) di atas  dari kepentingan diri. Walau nyawa menjadi  tantangannya.

    Tanah se bingkah telah berpunya,

    Rumput sehelai telah bermilik,

    malu yang belum di bagi,

    suku dan bangsa tak boleh di anjak.

    Kebahagian hidup bermasyarakat itu akan terasa apabila kita ada orang merasa bertambah dan bila kita pergi orang merasa kehilangan, karena itu hiduplah dengan saling mengingatkan  kepada hidayah Allah.

    Kebenaran (al-haq min rabbika), datangnya dari Tuhanmu, artinya yang di gariskan oleh syari’at agama Islam wajib kita menjalankannya. Demikian pula, kepada ananda putri, sebagai seorang perempuan muslimah hendaknya mengetahui kewajiban-kewajibannya.

    Di antaranya kewajiban kepada Rabb, Tuhan Yang Maha Menjadikan, dan kewajiban kepada orang tuanya, kewajiban kepada suaminya, kewajiban terhadap anaknya, kewajiban terhadap kaum kerabatnya, kewajiban terhadap tetangga, kewajiban terhadap saudara dan temannya, dan kewajiban terhadap masyarakatnya.

    Perempuan muslimah harus mendirikan shalat lima waktu tepat pada waktunya. Tidak melalaikan waktu-waktu shalat tersebut karena disibukkan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, atau tugas sebagai ibu dan istri. Shalat merupakan tiang agama, siapa yang menegakkannya berarti dia menegakkan agama, dan siapa yang meninggalkan-nya berarti dia telah merobohkan agama.

    Shalat merupakan amal yang paling utama. Diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud RA, dia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, apakah amal yang paling utama?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya, kemudian apa lagi? Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua.” Aku bertanya, kemudian apa lagi? Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (Muttafaq Alaih).

    Perempuan muslimah yang taat tidak merasa cukup hanya melaksanakan shalat wajib lima waktu, tetapi juga melaksanakan shalat-shalat sunnah rawatib dan nawafil (sunnah secara mutlak), sesuai dengan kesempatan dan kesanggupannya, seperti shalat dhuha dan shalat tahajud. Sebab shalat-shalat sunah ini dapat mendekatkan hamba kepada Rabb-nya, mendatangkan kecintaan Allah dan ridhaNya, menjadikannya termasuk orang-orang yang shalih, taat dan beruntung.

    Sabda Rasulullah saw dalam sebuah hadist qudsy Allah berfirman, Hambaku senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan melaksanakan shalat-shalat nafilah hingga Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya, dengan Aku dia mendengar, Aku menjadi penglihatannya, dengan Aku dia melihat, Aku menjadi tangannya, dengan Aku dia bertindak, Aku menjadi kakinya, dengan Aku dia berjalan. Jika dia memohon kepadaKu maka Aku benar-benar akan memberinya dan Jika dia meminta perlindungan kepadaKu maka Aku benar-benar akan melindunginya. (HR.Al-Bukhari). Dan jangan lupa selalu memohon taufiq dfan hidayah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

    Di atas segala penghormatan kepada tatanan masyarakat, maka mufakat sangatlah di utamakan.

    Mufakat bertujuan hanya untuk menegakkan kebenaran dengan pedoman tunggalnya adalah hidayah dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “siapapun yang membawa seseorang kepada petunjuk hidayah Allah – kemudian di ikutinya petunjuk itu –,  maka dia akan mendapatkan balasan sebagaimana balasan yang diterima oleh orang yang mengikutnya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh” (H.R. Imam Muslim dan Ash-habus-Sunan).

    Bismillah, dengan pedoman hidup ini layarkanlah bahtera hidup, hati-hati memegang kemudi, Insya Allah terjejak tanah tepi.

    Kami bersama mendoakan, Semoga Allah akan senantiasa melimpahkan berkah yang banyak kepada ananda berdua yang telah mengumpulkan ananada berdua ke dalam kebaikan. Amin Ya Mujibas Sailina.

    Wabillahittaufiq wal hidayah,

    Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh,

     

     

Leave a Comment