Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Hari Besar Islam, Komentar, Minangkabau, Ramadhan, Suluah Bendang di Nagari, Surau, Tauhidik, Tulisan Buya
Selamat Datang Ramadhan Pembawa nikmat Allah.
Kesempatan untuk bisa menunaikan ibadah secara khusyuk dan tertib, merupakan nikmat Allah yang besar. Ibadah bernilai spiritual menjadi akar pembentukan sikap terpuji seperti; disiplin waktu, cinta kebersihan, sehat fisik, taat aturan, tuma’ninah (teratur), memiliki kesadaran prima (kontroling), bersikap hati-hati, tabah dan setia. Sikap-sikap yang diperlukan mengarungi kehidupan kini dan menatap keberhasilan masa depan (dunia dan akhirat).
Teranglah orang yang lalai dalam ibadahnya, cenderung akan melalaikan tugas-tugas yang ada didepannya, dan amat mudah untuk mengkhianati amanah yang dipetaruhkan padanya.
Ramadhan adalah bulan mulia yang selalu dinanti secara khusus dan penuh kegembiraan. Bulan ibadah dan bulan pengampunan. Penyambutannya membekas pada adat kebiasaan anak negeri, khususnya di beberapa daerah yang masih kokoh dengan budayanya di Minangkabau.
Ramadhan adalah penghulu sekalian bulan. Orang Minang menyebutnya “bulan basaha” (saha = sahur, satu bentuk Sunnah Rasul yang diujudkan dalam makan parak siang sebelum terbitnya fajar, menurut bimbingan ibadah shaum (puasa) mendahului imsak).
Tatkala Ramadhan datang menjelang, Rasulullah SAW menyambut dengan ucapan marhaban bil-muthahhir, artinya, “selamat datang wahai pembersih”. Sahabat bertanya,”Wa mal muthahhiru ya Rasulullah?, (siapa yang di maksud pembersih itu, wahai Rasulullah?)”. Rasulullah SAW menjawab “al-muthahhiru syahru Ramadhana, yuthahhiruna min dzunubii wal ma’ashiy (pembersih itu adalah Ramadhan, dia membersihkan kita dari dosa dan ma’shiyat)”.
Marhaban adalah kata yang kerap dipakai untuk menyambut dan menghormat tamu yang mulia. Bermakna ungkapan selamat datang. Ucapan itu tersirat makna yang dalam Kegembiraan menyambut bulan basaha itu, diiringi kesiapan dan kelapangan waktu, keluasan tempat untuk melakukan tindakan yang berkaitan dengan mengasuh dan mengasah jiwa menuju kebersihan bersamanya.
Bersihnya diri adalah bukti ketaqwaan seseorang. Puasa (shaum) sebagai satu ibadah khusus di bulan Ramadhan, berperan membersihkan diri pelakunya. Sesuai firman Allah :”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu (pengikut Taurat dan Injil) agar kamu bertaqwa (tetap terpelihara, bersih dari dosa dan makshiayat)”. (QS.2, al Baqarah,ayat 183).
Ramadhan adalah bulan turunnya Al Quran yang berisi petunjuk, bimbingan, pembeda antara benar dan salah, penjelasan tentang paradigma hidup manusia. Memasuki bulan Ramadhan wajib melaksanakan ibadah shaum (puasa). Meski sakit sekalipun, kewajiban puasa tidak gugur. Allah memberikan keringanan( rukhsah), berupa keizinan untuk mengganti puasa Ramadhan dengan berpuasa dihari (bulan) lainnya. Kalaupun masih tidak sanggup, karena sakit menahun, yang menyebabkan tidak bisa berpuasa, maka dapat digantikan dengan membayar fidyah (memberi makan orang miskin). Kondisi ini berlaku terhadap orang sakit (tua),yang tidak sanggup untuk berpuasa. Ketentuan Allah ini merupakan kemudahan bagi manusia.
Ajaran agama (Islam) sama sekali tidak memberatkan. Sehingga tidak ada alasan seseorang menolak melaksanakannya jika ia sebenar-benar mempercayai (mukmin). Pada hakekatnya puasa adalah ibadah khas yang membuktikan seorang benar-benar beriman (mukmin) serta mampu bersyukur (berterima kasih) kepada Allah yang telah menjadikan dirinya dan memberikan segala sesuatu keperluan yang diperoleh dalam hidup ini (jelasnya baca: Al Quran,Surat Al Baqarah (2) ayat 184-187).
Selamat menunaikan ibadah Ramadhan.
Wassalam Buya H. Masoed Abidin
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Globalisasi, Komentar, Surau, Tauhidik
Dari jabar bin Abdillah, Rasulullah saw bersabda:
أَكْرَمُوْا العُلَمَاءَ ِلأَنـَّهُمْ وَ رَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، فَمَنْ أَكْرَمَهُمْ فَقَدْ أَكْرَمَ الله وَ رَسُوْلَهُ
“Muliakanlah para ulama, karena sesungguhnya mereka itu adalah ahli waris para Nabi. Barangsiapa memuliakan mereka, berarti telah memuliakan Allah dan Rasul-Nya”. (H.R. Al-Khatib)
Islam telah mengangkat derajat para ulama dalam kedudukan yang tinggi dan mulia, karena mereka adalah penerus dan pengemban amanah para Rasul, selama mereka tidak menjadikan tujuan hidupnya untuk mendapatkan kesenangan duniawi. Disamping itu, Allah SWT telah menjanjikan bahwa setiap orang yang beriman dan senantiasa menggali ilmu yang Allah hamparkan bagi mereka sehingga dengannya tampaklah nyata kekuasaan dan ke-esa-an Allah SWT, maka Allah akan angkat derajat mereka di sisi Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman:
“…Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derjat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadalah: 11)
Dalam pandangan Islam, ‘alim ialah orang yang memiliki ilmu dan mengamalkannya. Orang yang di dalam jiwanya benar-benar meyakini bahwa ia memperoleh ilmu bukan hanya karena kemampuan otak dan usahanya, tetapi kemantapan langkahnya dalam menuntut ilmu semata-mata datang dari Allah. Ia dianugerahi-Nya hal itu karena keikhlasan, kebenaran dan keteguhan jiwanya.
‘Alim adalah orang yang mengenal Allah dengan sebenar-benarnya (Al-‘Arif Billah). Yang mengamalkan semua ilmu yang mereka miliki serta menyampaikannya kepada siapa saja yang ingin mempelajari darinya.
Tidaklah dapat dikatakan ‘alim, seorang yang memiliki ilmu dan pengetahuan namun menyembunyikannya atau tidak mengamalkannya.
Ulama adalah pewaris para Nabi dalam menyebar-luaskan ilmu-ilmu agama, menunjukkan jalan yang haq dan diridhai Allah serta menerangkan mana yang haq dan mana yang bathil. Berkat perjuangan para ulama, kita dapat terhindar dari kesesatan dan dapat menikmati kebahagiaan di dunia dan akhirat. Para ulama ibarat lampu yang dapat menerangi hati yang gelap. Sekiranya tidak ada ulama pastilah manusia hidup dalam kegelapan serta bergelimang dalam dosa dan kemaksiatan, serta tumbuh dan suburlah kezaliman. Mereka yang kuat menguasia yang lemah dan mereka yang kaya menguasai yang miskin tanpa mempedulikan rasa kemanusiaan. Itu semua dapat terjadi karena tidak adanya bimbingan para ulama atau tidak digubrisnya bimbingan ulama.
Ada hal yang sangat memprihatinkan masyarakat muslim saat ini, yaitu ketika meyaksikan kepergian ulama satu demi satu, yang selama ini menjadi tumpuan, panutan dan tempat mereka bertanya tentang agama dan kehidupan mereka, sementara penggantinya tak kunjung ada, sehingga terjadilah apa yang disebut krisis ulama. Ironis memang, apalagi hal itu terjadi di negeri yang nota bene moyoritas penduduknya muslim. Atau di sebuah dareah yang penduduknya dikenal “agamis”.
Ditambah lagi dengan tuntutan zaman, dimana ulama sekarang sangat dituntut untuk dapt memahami perkembangan zaman dan situasi yang terus berkembang dan terjadi dalam masyarakat. Bahwa umat sekarang berada dalam kehidupan yang serba modern, zaman globalisasi yang salah satunya ditandai dengan terjadinya tranformasi budaya di tengah-tengah masyarakat. Karenanya seorang ulama tidak hanya dapt sekedar memahami literatur klasik an sich – apalagi jika pengetahuan itu hanya bersipat hafalan yang statis. Karena untuk menjawab tantangan dan berbagai macam problematika yang dihadapi oleh umat, diperlukan penguasaan ilmu-ilmu keislaman yang lengkap dan dinamis (komprehensif), sehingga tidak tertinggal atau terjerat karena pemahaman yang statis dan berwawasan sempit.
Dapat disaksikan di abad serba canggih ini, bahwa banyak di kalangan masyarakat muslim menganggap bahwa mempelajari ilmu agama bukanlah suatu keniscayaan yang wajib dilakukan setiap individu muslim. Karenanya mereka menganggap bahwa ilmu agama adalah ilmu tambahan yang hanya diperlukan saat-saat tertentu atau dipelajari jika ada waktu dan kesempatan. Karena menurut asumsi mereka, menuntut ilmu agama adalah pekerjaan khusus bagi mereka yang ingin menjadi ustaz (guru agama/pengajar di lembaga pendidikan Islam), ulama atau bekerja khusus dalam bidang agama (di kantor-kantor pemerintah yang khusus mengurus masalah keagamaan). Sehingga hanya ditemukan dalam keluarga muslim, dimana tak satupun diantara anggota keluarganya yang mengetahui secara benar hukum-hukm syar’i atau hukum fiqih sekalipun. Yang pada hakikatnya ilmu itu itulah yang mengantarkan dan membimbing mereka dalam melaksanakan kewajiban secara benar.
Dalam melaksanakan kewajiban shalat misalnya, mereka sudah biasa melaksanakannya, namun sangat disayang tidak ada satupun diantara mereka dalam satu keluarga itu yang mengetahui tentang hukum yang ada dalam melaksanakan shalat. Misalnya hukum syarat, rukun dan wajib dalam shalat. Belum lagi hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan syari’at Islam lainnya. Seperti hukum mu’amalah (perdata), hukum jinayat (pidana) dan sebagainya.
Ini sangat meprihatikan kita kita semua. Penyebab semua ini tak lain adalah dikarenakan kurangnya perhatian kaum muslim terhadap ilmu-ilmu agama yang mana hukum mempelajarinya adalah wajib/fardhu ‘ain bagi setiap muslim. Hal inilah barangkali yang menjadi salah satu sebab mengapa sekarang terjadi kelangkaan/krisi ulama di masyarakat muslim. Padahal Rasulullah SAW telah memperingatkan kepada umatnya, agar menggunakan waktu untuk beribadah dan menuntut ilmu. Dan kerugian yang besarlah bagi siapa saja yang memiliki kesempatan untuk menuntut ilmu tapi menyia-nyiakannya atau tidak menuntutnya.
Sudah saatnya sekarang, pertama, setiap individu muslim harus menyadari bahwa menuntut ilmu agama adalah wajib atas dirinya dan bukan suatu beban yang diwajibkan atas orang-orang tertentu. Kedua, lembaga yang telah diberi amanah baik oleh pemerintah maupun masyarakat/umat hendaknya segera melaksanakan program pengkaderan ulama. Kalau in tidak dilakukan sejak dini, na’uzubillah, bukan hal yang tak mungkin terjadi, umat ini kehilangan ulamanya. Dan entahlah, siapa lagi yang akan membimbing mereka menuju jalan yang diridhai Allah SWT. Ilaa sabilil haq … Allahu a’lam.
Wassalam,
Buya H. Masoed Abidin
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Globalisasi, Komentar, Surau, Tauhidik
Al-Qur’an Pedoman Hidup Muslim
هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini” (Q.S. Al- Jaatsiyah: 20)
Al-Qur’an adalah kitab suci sebagai Kalam Ilahi yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu rahmat yang tiada taranya bagi alam semesta. Di dalamnya terkumpul Wahyu Ilahi yang menjadi petunjuk, pedoman dan pelajaran bagi yang meyakini, mempelajari dan mengamalkannya.
Al-Qur’an adalah bak lautan yang luas, tenang, jernih dan suci. Kedalaman makna kandungannya hanya dapat dimengerti dan dipahami oleh mereka yang berhati suci pula. Al-Qur’an adalah sumber hidayah, bagaikan serat yang membentuk tenunan kehidupan orang mukmin, dan ayat-ayatnya bagaikan benang yang menjadi rajutan jiwanya. Al-Qur’an adalah ruh yang memberikan kehidupan hakiki bagi mereka yang berpedoman kepadanya. Al-Qur’an adalah syifa’, obat penawar segala macam penyakit rohani manusia. Al-Qur’an adalah Nuur, yang memberi cahaya bagi mereka yang berkelana di padang pasir kegalauan, meraba-raba dalam kegelapan. Al-Qur’an adalah Al-Huda, petunjuk jalan menuju Hidayah Allah, jalan yang lurus dan terang menderang bagi yang mengarungi samudera Ma’rifah menuju hakekat Uluhiyah dan Rububiyah. Dan Al-Qur’an adalah rahmat dan nikmat bagi hamba-hamba Allah yang bertualang mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلا تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya telah Kami turunkan sebuah kitab (Al-Qur’an) kepadamu, yang didalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu, apakah kamu tiada memahaminya?” (Q.S. Al-Anbiya: 10)
Rasulullah bersabda:
إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا القُرْآنِ أِقْوَامًاوَ يَضَعُ آخَرِيْنَ
“Allah akan mengangkat (kedudukan) beberapa kaum dengan Al-Qur’an ini, dan Allah akan meletakkan (merendahkan) kedudukan sebagian yang lain. (H.R. Muslim)
Karena itu, kaum muslimin harus benar-benar yakin bahwa hanya dnegan Al-Qur’an-lah umat silam dapat maju ke arah kesempurnaan. Kuat atau lemahnya, maju atau mundurnya umat Islam tergantung kepada sikapnya dan pemahamannya terhadap Al-Qur’an. Syekh Muhammad Al-Ghazali, seorang ulama kharismatik dari Mesir dalam bukunya “Kaifa nata’ammal Ma’al Qur’an” mengatakan “Sikap sekarang terhadap Al-Qur’an sangat memprihatinkan, seolah-olah Al-Qur’an dibicarakan kepada mereka dari tempat yang yang sangat jauh, dan sangat sulit menemukan orang yang benar-benar berpegang teguh kepada Al-Qur’an . Ini adalah masalah besar yang tidak boleh dibiarkan berlarut begitu saja, bila kita tidak menginginkan keterasingan dari agama dan dari keterasingan Al Qur’an sebagai pedoman hidup”.
Dalam Al-Qur’an telah dicceritakan tentang orang-orang yang meninggalkan/acuh tak acuh terhadap Al-Qur’an, dimana mereka yang menolak dan meninggalkan Al-Qur’an itu diadukan oleh Nabi Muhammad SA|W kepada Allah SWT. Sebagaiman yang tergambar dlam firman Allah SWT Surat Al-Furqan, ayat: 30
وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا
“Berkatalah Rasul: “Ya Rabbi, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ni sesuatu yang tidak diacuhkan” (Q.S. Al-Furqan: 30)
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an, ataukah hati mereka yang terkunci?”. (Q.S. Muhammad: 24)
Secara garis besar, pengamalan Al-Qur’an itu meliputi dua hal, yaitu pengamalan membaca Al-Qur’an dan pengamalan isi kandungan Al-Qur’an.
Membaca Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an merupan suatu kewajiban bagi setiap muslim. Karena hal itu merupakan wujud ibadah dalam rangka mempelajari, memahami serta mengungkap hukum-hukum Allah yang terkandung di dalamnya. Sehingga Al-Qur’an tidak hanya menjadi “pajangan” dan “jimat” serta “lembaran-lembaran pengusir syeitan” belaka. Memelihara dan menghidupkan kebiasaan membaca Al-Qur’an seyogyanya dimulai dari rumah tangga, kemudian di lingkungan masyarakat, terutama di Mesjid dan Mushalla serta di tempat pengajian umum lainnya. Kemudian adab dan aturn dlam membaca Al-Qur’an harus pula diperhatikan, terutama dalam hal hukum bacaannya (Tajwid). Fungsi Al-Qur’an bukan hanya sebatas untuk dibaca, apalagi sekedar diperlombakan bacaannya. Kaum muslimun harus kembali mengkaji Al-Qur’an tanpa harus mengesampingkan pentingnya membaca Al-Qur’an.
Pengamalan Isi Kandungan Al-Qur’an
Pengamalan isi kandungan al-Qur’an berarti berfikir, berprilaku, dan berakhlak dengan berlandaskan Al-Qur’an. Seorang muslim harus selalu mengacu atau berpedoman kepada Al-Qur’an, dan gaya hidup yang bertentangan dengan Al-Qur’an harus ditinggalkan dan dibuang jauh-jauh dai kehidupan seorang muslim. Raruslullah SAW pemilik budi pekerti yang paling luhur, menjadi tauladan bagi umat manusia, ternyat aakhlak beliau adalah Al-Qur’an, sebagaimana terungkap dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Sayyidah Aisyah r.a
Pengamalan AL-Qur’an adalah lebih merupakan komitmen moral sebagai seorang muslim, dan pengamalan Al-Qur’an dalam arti berfikir , bertindak serta berprilaku yang Qur’ani harus timbul berdasarkan kesadaran yang mendalam dari setiap individu muslim.
Pengamalan Al-Qur’an sebagai ketaatan terhadap hukum Allah, pada dasarnya lebih bersifat pribadi, ia timbul semata-mata berdasarkan dorongan iman dan taqwa kepada Allah SWT.
AL-Qur’an adalah “Jamuan Tuhan”. Rugilah yang tidak menghadiri jamuan-Nya. Dan lebih rugi lagi yang hadir, tetapi tidak menyantapnya. Karena itu, bacalah Al-Qur’an, seakan-akan ia diturunkan kepadamu.
Allahu A’lam bis-shawwab.
Wassalam Buya H.Masoed Abidin
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Globalisasi, Komentar, Minangkabau, Surau, Tauhidik
إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ الإِسْلاَمِ
Sesungguhnya agama (yang diridhoi) disisi Allah Hanyalah Islam” (Q.S. Ali Imran: 19)
Manusia sangat membutuhkan kepada bimbingan dan petunjuk yang benar yang bernilai mutlak untuk kebahagiaan di dunia dan di alam sesudah mati (akhirat). Sesuatu yang mutlak sudah barang tentu harus berasal dari pada yang mutlak pula, yaitu Allah SWT Tuhan seru sekalian alam. Untuk itulah Tuhan yang bersifat Pengasih dan Penyayang memberikan suatu anugerah kepada manusia bernama Agama.
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu , maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Q.S. Al-Baqarah: 132)
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam. Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S. Ali Imran: 85)
Dalam agama Islam inilah dibentang konsep yang tegas tentang apa sesungguhnya hidup dan kehidupan itu, kemana arah tujuannya, siapa yang bernama makhluk manusia itu?.
Islam telah mengukur dan membimbing manusia dalam kehidupan, baik hubungan manusia dengan Tuhan-nya maupun yang menyangkut hubungan manusia dengan manusia lainnya, alam dan lingkungan sekitarnya.
Di dalam agama ini, ada tiga pilar yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya dan yang tidak mungkin dipisah. Ketiga pilar tersebut adalah Islam, Iman dan Ihsan. Atau dikenal dengan istilah Aqidah, Syari’ah, dan Akhlaq.
Marilah kita simak sabda Rasulullah SAW berikut ini: Dari Umar bin Khaththab r.a yang berkata, “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk di dekat Rasulullah SAW, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian putih bersih dan rambut hitam pekat, tidak tampak dalam dirinya tanda-tanda sehabis perjalanan dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Maka duduklah orang itu disisi Rasulullah, lalu ia sandarkan lututnya kepada lutut beliau dan meletakkan tangannya di atas paha beliau, kemudian berkata: “Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam!”
Rasulullah SAW menjawab, “Islam itu adalah, hendaknya engkau bersyahadat, bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; hendaklah engkau tegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika engkau mampu.”
Orang itu berkata, “Engkau benar!” kami heran, ia bertanya dan ia pula yang membenarkannya. Orang itu berkata, “Terangkan kepadaku tentang iman!”
Rasulullah SAW menjawab, “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan pada hari akhirat serta hendaklah engkau beriman pada takdir yang baik atau buruk!” Orang itu berkata, “Engkau benar!” seraya berkata, “Terangkan kepadaku tentang ihsan!”
Rasulullah SAW bersabda, “(Ihsan adalah) hendaklah engkau beribadah kepada Allah, seolah-olah engkau melihat-Nya. Maka, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.” Ia berkata, “Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat”.
Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.” Selanjutnya ia bertanya, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.”
Rasulullah SAW menjawab, “(Tanda-tandanya diantaranya adalah), jika seorang hamba sahaya melahirkan majikannya, jika engkau melihat orang miskin dan papa, berpakaian compang camping dan bergembala kambing, namun berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan.”
Kemudian, orang yang bertanya itu berlalu. Aku terdiam sejenak, kemudian Rasulullah bertanya kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapakah yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”.
Rasulullah bersabda, “orang itu adalah Jibril, ia datang kepadamu untuk mengajarkan tentang agamamu”. (H.R. Muslim)
Hadits shahih dari Rasulullah ini adalah hadits komprehensif yang memuat seluruh bab tentang Islam, Iman, Ihsan dan tanda-tanda hari kiamat. Jibril telah datang kepada Rasulullah SAW untuk mengajarkan globalitas permasalahan agama kepada mereka yang sedang duduk-duduk saat itu dan kepada umat Muhammad yang datang setelahnya.
Islam dimulai dengan ikrar Syahadatain. Maksudnya adalah – sebagaimana yang dikomentari oleh seorang ulama muslimah dan mujahidah berkebangsaan Mesir yang bernama Zainab al-Ghazali – hendaklah anda melakukan pencerahan total dengan segenab jiwa, akal, perasaan dan keinginan kuat (aziimah), semuanya untuk Allah semata. Sehingga jadilah Allah sebagai Dzat yang mengurus anda dengan segenab titah dan perkara-Nya. Titah dan perkara yang bisa anda kenali dari Kitab Allah dan Kalam-kalam Rasul-Nya SAW. Islam adalah, hendaknya anda meyakini keesaan Allah (wahdaniyatullah). Karena Islamlah yang mengatur strategi perjalanan hidup anda agar menjadi manusia sempurna di tengah-tengah komunitas kemanusiaan. Islamlah yang menentukan titian asas yang seharusnya anda lalui, yakni syahadat, “bahwa tiada Tuhan kecuali Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya”.
Syahadat ini hendaknya dijadikan hakim, pengendali dan tolok ukur dalam kehidupan anda. Jika demikian, syahadat ini akan menjadi undang-undang dalam kehidupan anda. Undang-undang dalam perkara halal dan haram. Undang-undang dalam hal, “lakukan, atau, jangan lakukan!” undang-undang dalam hal interaksi sosial (mu’amalat) antara kaum muslimin dengan non muslimin, antara seorang dengan sahabatnya, seseorang dengan tetangganya. Karena itu tidak satupun selain Allah yang mengatur dan menghukumi perjalanan hidup kita.
Shadaqallahu al’adhim, Allah A’lam As-Shawwab.



