BlogMinangkabau’s Weblog


Pengembangan Moral dan Nilai- Nilai Agama Dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
September 26, 2008, 3:10 am
Diarsipkan di bawah: Uncategorized

Pengembangan Moral dan Nilai- Nilai Agama

Dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)


H. Mas’oed Abidin

Mukaddimah

Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya, atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an). Dan, jangan menjadi kelompok keempat, yang tidak memiliki aktifitias keilmuan sama sekali. Yakni, tidak mengajar, tidak pula belajar, serta enggan untuk mendengar”.

Peran Guru di tengah umat dan anak didiknya, adalah sesuatu pengabdian mulia, dan tugas sangat berat. Mereka adalah pelopor pembangunan (agent of changes). Bekal utamanya adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT, hidup beradat, berakhlaq mulia. Inilah, yang menjadi program utama di dalam pendidikan anak usia dini (PAUD).

Tugas itu berat. Umat hanya mungkin dibentuk melalui satu proses pembelajaran, dengan pengulangan terus menerus (kontiniutas), pencontohan (uswah) yang baik. Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dan semangat yang prima.

Kemuliaan seorang guru (pendidik) terpancar dari keikhlasan membentuk umat dan anak manusia menjadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, mengamalkan ilmunya, untuk kebaikan diri sendiri, keluarga, dan kemaslahatan umat, di kelilingnya, serta mempunyai ibadah yang teratur, shaleh pribadi, dan shaleh social, dengan tauhid yang istiqamah.

Keberhasilan murabbi (guru) akan banyak didukung oleh kearifan, yang dibangun oleh kedalaman pengertian, pengalaman dalam membaca situasi, serta upaya dan kondisi yang kondusif di sekitarnya.

tantangan di abad ke 21

Alaf Baru ditandai oleh, (a). mobilitas serba cepat dan modern, (b). persaingan keras dan kompetitif, (c). komunikasi serba efektif, dalam satu global village, dan (d). Akibatnya, banyak ditemui limbah budaya kebaratan (westernisasi).

Alaf baru ini hadir dengan cabaran global yang menuntut keteguhan, dalam menghadapi tantangan yang berjibun banyaknya, di antaranya infiltrasi budaya sekularis yang menjajah mentalitas manusia, the globalization life style meniru sikap yahudi, suburnya budaya lucah (sensate culture), menjauh dari adat budaya luhur, pemujaan nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sensual, erotik, seronok, ganas semata mengejar kesenangan badani, kebiasaan miras, pergaulan bebas, kecanduan madat dan narkoba.

Menghadapi tantangan ini, semua elemen masyarakat berkewajiban memper­siapkan generasi yang siap bersaing dalam era global terse­but, dengan sibghah yang nyata, melalui pendidikan anak pada usia dini.

Penyimpangan perilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak. Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja.

Penyebab utama di antaranya, rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan, hilangnya tokoh panutan, berkembangnya kejahatan di kalangan orang tua, luputnya tanggung jawab lingkungan dan masyarakat, impotensi di kalangan pemangku adat, hilangnya wibawa ulama, dan suluah bendang di nagari, bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis, dan profesi da’i, guru, dan suluah bendang, dilecehkan.

Perilaku umat juga berubah

Interaksi dan ekspansi kebudayaan dari luar, bergerak secara meluas. Pengaruh budaya asing berkembang pesat, seperti pengagungan materia secara berlebihan (materialistik), pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik), pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik).

Perilaku di atas merupakan penyimpangan sangat jauh dari budaya luhur. Pada akhirnya, melahirkan Kriminalitas, perilaku Sadisme, dan Krisis moral, secara meluas.

Perubahan dalam hidup beradat juga telah merambah Minangkabau.

Adat ndak dipacik arek, agamo ndak dipagang taguah.

Fakta menunjukkan bahwa adat tidak berdampak banyak terhadap generasi muda. Tempat bertanya tidak ada, Sudah banyak yang tidak mengerti adat. Karena itu, generasi muda di Nagari mulai kebingungan.

Manakala problematika sosial ini lupa mengantisipasi melalui gerakan dakwah, melalui Pendidikan Anak Usia Dini berbasis aqidah, maka arus globalisasi ini membawa perubahan yang negatif.

Terutama pada perilaku generasi, akan menjadi dzurriyatan dhi’afan, atau menjadi “X-G” the loses generation, yang hilang keseimbangan.

Hilangnya keseimbangan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, yang menyebabkan timbulnya berbagai krisis.

Perilaku luhur akan bergeser, dan menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat. Maka sekolah atau pendidikan berbasis aqidah, mesti menjadi cerminan idealitas masyarakat yang mempertahankan pembelajaran budi akhlak.

Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi, aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Salah satu solusi untuk mengatasi problematika keumatan ini, adalah dengan melaksanakan pendidikan aqidah pada anak usia dini (PAUD), dengan menambah ilmu, menguatkan amal, menanamkan akhlak, menjaga ibadah dan karakter umat, dengan berpedoman wahyu Allah SWT.

Pendidikan aqidah dan akhlaq, membawa umat kepada bertaqwa. Janji Allah SWT sangat tepat, ” apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi.

“ Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.7,al-A’raf:96).

Menghidupkan Antisipasi Umat

Umat mesti diajak mengantisipasi perkembangan global agar tidak menjadi kalah.

Dalam persaingan dimaksud, beberapa upaya mesti disejalankan dengan ;

a. Memantapkan watak terbuka,

b. Pendidikan aqidah tauhid,

c. Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar,

d. Integrasi moral yang kuat,

e. Memiliki penghormatan terhadap orang tua,

f. Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan,

g. Pendalaman ajaran agama tafaqquh fid-diin, berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam yang universal tafaqquh fin-naas.

h. Perhatian besar terhadap masalah sosial atau umatisasi,

i. Memacu penguasaan ilmu pengetahuan,

j. Kaya dimensi dalam pergaulan rahmatan lil ‘alamin,

k. Iman dan ibadah, menjadi awal dari ketahanan bangsa.

Ketahanan umat dan bangsa, pada umumnya terletak pada kekuatan ruhaniyah,

keyakinan agama dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan.

Intinya adalah tauhid. Implementasinya akhlaq.

Program pendidikan anak usia dini (PAUD) dapat dilakukan dengan nuansa surau.

Surau adalah suatu institusi yang khas dalam masyarakat Minangkabau. Fungsinya bukan sekedar tempat sholat. Juga sebagai tempat pendidikan dan tempat mendapat pengajaran bagi anak muda.

Banyak tokoh-tokoh besar di Minangkabau lahir dari surau.

Pengelolaan pendidikan bernuansa surau, pada masa sekarang bisa dihidupkan kembali.

Esensi dan semangatnya lewat menggerakkan kebersamaan anak Nagari.

Para pendidik mesti tampil mengambil peran, karena ada gejala, adat tidak memberi pengaruh yang banyak terhadap generasi muda di Minangkabau, dan adanya tendensi bahwa generasi tua, terlihat kurang pula memberikan suri teladan.

Akibatnya, generasi muda jadi bersikap apatis terhadap adat itu sendiri.

Peran para pendidik mesti membentuk watak Generasi Sumatera Barat, sesuai petatah yang berbunyi, “Indak nan merah pado kundi, indak nan bulek pado sago, Indak nan indah pado budi, indak nan elok pado baso. Anak ikan dimakan ikan, gadang di tabek anak tanggiri, ameh bukan pangkaik pun bukan, budi sabuah nan diharagoi. Dulang ameh baok balaie, batang bodi baok pananti, utang ameh buliah bababie, utang budi dibaok mati.”

Ada enam unsur yang diperlukan untuk membentuk masyarakat yang mandiri dan berprestasi, melalui harakah dakwah, dalam pendidikan bernuansa surau ;

1. IMAN, 2. ILMU, 3. Kerukunan, Ukhuwah dan Interaksi, 4. Akhlaq, Moralitas sebagai Kekuatan Ruhiyah, 5. Badunsanak, sikap Gotong royong (Ta’awun), 6. Menjaga Lingkungan sebagai Social Capital, menerapkan Eko Teknologi.

Kegiatan Pendidikan Anak Usia DINI (PAUD), mesti dijadikan upaya pembinaan karakter anak, dengan berbasis nilai-nilai agama, yang akan menjadi pagar adat dan syarak, dalam menghadapi krisis identitas, sebagai akibat dari perubahan dalam nilai – nilai adat.

mengajak, mendidik, dan mengamalkan Islam

Peran Guru atau Murabbi dalam mendidik anak sejak usia dini adalah ibarat Suluah Bendang di tengah umat, yang dilaksanakan dengan keikhlasan sebagai satu pengabdian mulia dan tugas berat.

Keikhlasan membentuk umat jadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, beramal baik, membina diri, kemashlahatan umat, dan keluarga, menjadi panutan dan ikutan, ibadahnya teratur, shaleh peribadi dan sosial, beraqidah tauhid yang shahih dan istiqamah.

Pendidikan anak sejak usia dini ini, tidak terlepas dari upaya menyiapkan satu generasi yang beradab, berakhlaq, berakidah dan berprestasi, melalui ;

Ø Membudayakan Wahyu Al Quran dalam memakaikan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah, melalui pendidikan dan pelatihan-pelatihan,

Ø Implementasinya, dalam perilaku anak berakidah, dan berakhlaq, dalam kerangka lebih luas, menghidupkan dakwah membangun negeri.

Perintah untuk melaksanakan tugas-tugas da’wah itu, secara kontinyu atau terus menerus, dan sambung bersambung.

Pelaksana Dakwah adalah setiap Muslim

Setiap mukmin adalah umat da’wah pelanjut Risalah Rasulullah yakni Risalah Islam. Umat dan para murabbi (pendidik) mesti berupaya sekuat tenaga untuk meneladani pribadi Muhammad SAW, dalam membentuk effectif leader dengan mengamalkan inti dan isi Agama Islam, yakni akhlaq Islami, Aqidah tauhid yang shahih, kesalehan, dan keyakinan kepada hari akhirat, ”Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab, 33 : 21).

Islam Mendidikkan Kepribadian

Uswah atau contoh tauladan terpuji, melukiskan kesan positif dalam mayarakat. Alat canggih teknologi modern tidak dapat mengambilalih peran orang tua dalam uswah. Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap pribadi seseorang anak, sejak usia dini, dengan menanamkan laku perangai (syahsiah), yang mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seorang[3]

Sahsiyah Murabbi membawa Keberhasilan Pendidikan ISLAM

Tidak diragukan lagi bahwa guru – murabbi, muallim, – yang punya kepribadian baik serta uswah hidup yang terpuji akan mampu melukiskan kesan positif dalam diri anak didik mereka.

Alat teknologi modern walau bagaimanapun canggihnya tidak akan dapat mengambil alih peranan guru. Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pembentukan dan pematangan sikap pribadi para anak didik dan menanamkan laku perangai — syahsiah — murid. Tegasnya sahsiah mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang [4]

Ciri Utama atau Syahsiah (شخصية) itu bermakna pribadi atau personality, yang menggambarkan sifat individu yang merangkum padanya gaya hidup, kepercayaan, harapan, nilai, motif, pemikiran, perasaan, budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak seseorang.[5]

Banyak kajian telah dibuat tentang sifat-sifat yang perlu ada pada seorang guru (murabbi, mu’allim) yang baik dan akan menghasilkan kesan mendalam pada proses pengajaran yang mereka sampaikan.[6] Karena itu, sifat dan ciri guru muslim hendaklah merangkum :

A. Sifat Ruhaniah dan Akidah

1. Keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna

2. Keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, hari berbangkit dan hari pembalasan

3. Kepercayaan kepada seluruh para Rasul di iringi dengan sifat dan asas keimanan (arkan al iman) yang lain.

B. Sifat-Sifat Akhlak

1. Benar dan jujur

2. Menepati janji dan Amanah

3. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan

4. Merendah diri – tawadhu’ –

5. Sabar, tabah dan cekatan

6. Lapang dada – hilm –, Pemaaf dan toleransi

7. Menyayangi murid, mengutamakan kepentingan orang banyak dengan sikap pemurah, zuhud dan berani bertindak.

C. Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani

1. Sikap Mental

· Cerdas (Kepintaran teori, amali dan sosial), menguasai mata anak didikan takhassus

· Luas pengetahuan umum dan ilmiah yang sehat

· Mengenal ciri, watak, kecenderungan dan keperluan murid, fasih, bijak dan cakap di dalam penyampaian

2. Sifat Kejiwaan

· Tenang dengan emosi mantap terkendali, optimistik dalam hidup, penuh harap kepada Allah dan tenang jiwa bila mengingatiNya.

· Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat, lemah lembut dan baik dalam pergaulan

· Berfikiran luas dan mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat

3. Sifat Fisik

· Sehat tubuh dan badan dari penyakit menular

· Berperawakan menarik, bersih, rapi (kemas) dan menyejukkan.

Berapa penilitian di beberapa negara maju terdapat daftar sikap yang diinginkan ada pada para murabbi (guru) :

· Berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), mampu menguraikan anak didikan dengan jelas, berdisiplin, amanah dan menunaikan janji,

· Mempunyai sahsiah yang dihormati, berkemauan yang kuat, berbakat kepimpinan yang tinggi, berpengetahuan umum yang luas, bersikap menarik dan bersuara yang merangkul dan mendidik,

· Pandai memberi nasihat, simpati terhadap kelemahan murid, pandai memilih kata-kata, tanggap dengan suasana murid di rumah, dan mengujudkan sikap kerjasama, serta bersemangat riadah dan kedisiplinan

Guru muslim (murabbi) yang mempunyai sahsiah yang baik ialah guru yang mengamalkan etika keguruan Islam yang standard dan mempunyai personaliti yang baik.

Etika Guru Muslim

Etika pendidik Islam yang profesial, memiliki beberapa tanggung jawab yang dapat diawali oleh kemauan dari dalam diri guru dan kemudian dapat ditukuk tambah oleh khalayak pendidik dan dihayati sebagai suatu etika profesi keguruan, antara lain ;

1. Tanggungjawab Terhadap Allah

Etika guru muslim terhadap Allah ialah :

1. Senantiasa memantapkan keyakinan kepada Allah dengan ibadah.

2. Bersifat istiqamah, dengan semangat berbakti dan beramal soleh.

3. Wajib menghayati rasa khusyuk, takut dan harap kepada Allah, dan selalu bersyukur kepada Allah di samping selalu berdoa kepadaNya dengan membaca ayat-ayat Allah dan merendahkan diri kehadratNya.

2. Tanggungjawab Terhadap Diri

1. Guru muslim hendaklah memastikan keselamatan diri sendiri, mencakup aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih diri, pakaian, dan tempat tinggal.

2. Memahami kekuatan dan kelemahan diri untuk boleh dimanfaatkan serta ditingkatkan dari segenap aspek dan dapat berkhidmat sebanyak mungkin kepada Allah, masyarakat dan negara.

3. Melibatkan diri dengan program dan agenda yang dapat meningkatkan kualiti profesi seorang guru.

3. Tanggungjawab Terhadap Ilmu

1. Memastikan penguasaan ilmu takhassus secara mantap dan mendalam, bercita dan berbuat — iltizam — dengan amanah ilmiah.

2. Sunguh-sungguh mengamalkan ilmu yang dimiliki dan mengembangkan untuk dianak didiki, dan selalu mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan terbaru dalam rangkaian pembelajaran ilmu berkaitan.

3. Sepanjang masa menelusuri sudut atau dimensi spirituality Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan.

4. Tanggungjawab terhadap Profesi

1. Seorang guru tidaklah boleh bertingkah laku yang mencemarkan sifat profesinya yang berakibat kurangnya kepercayaan orang ramai terhadap profesi perguruan.

2. Guru bertugas sebagai pengganti ibu bapa dalam usaha membentuk tingkah laku anak didiknya ke arah sikap perangai yang diterima oleh masyarakat, dan menumpukan perhatian terhadap keperluan setiap anak didiknya.

3. Dia haruslah mendidik dan mengambil tindakan secara adil terhadap semua anak didik, tanpa membedakan tempat asal keluarga, intelek, akademik dan status-status lain.

5. Tanggungjawab Terhadap anak didik

1. Guru muslim hendaklah lebih mengutamakan kebajikan dan keselamatan anak didiknya.

2. Bersikap adil terhadap, tanpa membedakan faktor-faktor jasmani, mental, emosi, politik, ekonomi, sosial, keturunan dan agama anak didiknya.

3. Menampilkan suatu cara pakaian, pertuturan dan tingkah laku yang dapat memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya.

6. Tangungjawab Terhadap Rekan Sejawat

1. Guru muslim senantiasa berusaha dengan sepenuhnya menunaikan tanggungjawab dengan rajin dan bersungguh-sungguh dan mengekalkan kemajuan ikhtisas dan sosial.

2. Senantiasa bersedia membantu rekan sejawat terutamanya mereka yang baru dalam profesi perguruan.

3. Mawas diri dan tidak mencemarkan nama baik profesi pendidik.

7. Tanggungjawab terhadap masyarakat dan Negara

1. Mengelakkan diri daripada meyebarkan sesuatu ajaran yang dapat merusak kepentingan anak didik, masyarakat atau negara, ataupun yang dapat bertentangan dengan aturan bernegara.

2. Memupuk dalam diri setiap anak didik sikap dan nilai yang dapat membantu dan membimbing mereka untuk menjadi warga negara yang taat setia, bertanggungjawab dan berguna, menghormati orang-orang yang lebih tua dan menghormati adanya perbedaan kebudayaan, keturunan dan agama.

3. Menghormati masyarakat tempat mereka berkhidmat dan memenuhi segala tanggungjawab sebagai seorang warganegara dan senantiasa sanggup mengambil bahagian dalam sebarang kegiatan masyarakat. Berpegang kepada tingkah laku yang sopan yang diterima oleh masyarakat dan menjalani kehidupan harian dengan baik.

8. Tanggungjawab Terhadap Ibu Bapa dan rumah tangga

1. Menghormati tanggungjawab utama ibu bapa terhadap anak-anak mereka.

2. Berusaha mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

3. Menganggap semua maklumat yang diberikan oleh ibu bapa mengenai keadaan rumahtangga atau anak mereka sebagai sulit dan tidak akan membocorkannya kepada sesiapa kecuali kepada mereka yang berhak mengetahuinya.

Keberhasilan Pendidikan Islam

Meskipun ciri dan sahsiah guru yang baik telah dicapai namun itu tidak pula bermakna pengajaran mereka dengan sendirinya berkesan.

Pengajaran yang disampaikan oleh guru akan berkesan atau tidak, amat bergantung kepada beberapa faktor yang berkaitan degan proses belajar dan mengajar yang menjadi hubungan erat antara guru dan anak didiknya.

Tantangan yang dihadapi oleh para guru dalam mengajar murid-murid zaman ini bukanlah suatu yang mudah.

Guru berhadapan dengan kenakalan remaja yang semakin serius.

Ibu bapa harus ikut serta dalam memudahkan kerja guru-guru di sekolah.

Masyarakat juga wajib memainkan peranan sebagai pendukung keberhasilan guru dalam pembelajaran terhadap murid-murid mereka. Tanpa kerjasama semua pihak proses pendidikan tidak akan berjaya menghasilkan generasi yang baik.

Membentuk Generasi Masa Depan

Perkembangan kedepan banyak ditentukan oleh peranan generasi penerus dengan ruang interaksi yang jelas. Pendidik harus menjadi agen sosialisasi yang menggerakkan kehidupan masa depan lebih baik. Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap;

a. individu yang berakhlak, berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, daya kreatif dan inno­vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.

b. memahami nilai‑nilai budaya luhur, punya jati diri yang jelas, generasi yang menjaga destiny, motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan,

c. memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, mempunyai motivasi dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.

Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.

Pendidikan anak usia dini, akan berperan membentuk mental umat – dengan FAST -, satu ranah ruhani yang memiliki kekuatan ;

q Fathanah (Ilmiah),

q Amanah (jujur),

q Amaliyah (transparan),

q Shiddiq (lurus),

q Shaleh (Yakin terhadap akhirat),

q Setia (ukhuwah mendalam),

q Tabligh (Dialogis),

q Tauhid (Percaya kepada Allah),

q Taat (Disiplin),

Generasi baru harus mampu mencipta, menjadi syarat utama keunggulan. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi muda harus dibina menjadi umat dakwah, dengan memiliki budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi, yakni nilai-nilai agama Islam.

Generasi masa depan (era globalisasi) mesti Memiliki ; budaya luhur (tamaddun), berpaksikan tauhidik, kreatif dan dinamik, memiliki utilitarian ilmu berasaskan epistemologi Islam yang jelas, tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan).

Pendidikan dikembangkan sejak usia dini si anak, dengan menekankan pada pendidikan akhlak, budi pekerti, dengan tujuan yang jelas ;

ü Menghambat gerakan-gerakan yang merusak Islam.

ü Menimbulkan keinsafan tentang perlunya adil sesuai syara’ Islam.

ü Melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya satu sama lain.

ü Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan. Akhlak karimah adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah dalam menerima ilmu lainnya, dan membimbing umat kearah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh (baik).

Akhlak, adalah jiwa pendidikan, Inti ajaran Agama, dan buah keimanan.

Bahasa Dakwah adalah Bahasa Kehidupan

Mendidik tidak dapat dipisah dari satu gerakan dakwah. Menggalang saling pengertian, koordinasi sesamanya mempertajam faktor-faktor pendukungnya, membuka pintu dialog persaudaraan (hiwar akhawi), untuk membentuk efektif leader, mencontoh peribadi Rasulullah SAW, menjadi satu kunci keberhasilan da’wah Risalah.

Aktualisasi dari nilai-nilai Al-Qur’an itu, hanya bisa diwujudkan dengan gerakan amal nyata yang berkesinambungan (kontinyu), dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia, melalui kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (da’wah) , merapatkan potensi barisan (shaff), mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama (jamaah).

Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu dan kepada lingkunganmu” (Al Hadist), dan perbaikan kualitas lingkungan, keluarga, hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang berkesinambungan.

Pendidikan usia dini ini tidak akan berhenti dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang senantiasa berubah, dengan tujuan utama membentuk generasi pintar, berilmu, dan berbudaya dengan akhlaq karimah.

Pemberdayaan masyarakat menuntut adanya manajemen pendidikan yang lebih accountable, terorganisir, sehingga menjadi viable (dapat hidup terus, berjalan, bergairah, aktif dan giat) dan juga durable (dapat tahan lama) sesuai perubahan dan tantangan zaman.

Pengembangan pendidikan berkualitas (quality oriented), akan mendorong lahirnya umat yang mempunyai ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama plus keterampilan, dengan aqidah tauhid yang istiqamah.

Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber-sumber belajar di dalam masyarakat menjadi bagian integral dari masyarakat Muslim secara keseluruhan.

Dengan pengembangan dakwah ini, maka surau dan masjid, dapat menjadi core, atau inti, mata dan pusat dari learning society, masyarakat belajar. Sasarannya, agar lahir umat dakwah yang terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah masyarakatnya.

Setiap Muslim harus ‘arif, dalam menangkap setiap pergeser­an yang terjadi karena perubahan zaman ini, juga menjanjikan peluang‑peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77).

Kekuatan Tauhid

Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid (yang mengabdi kepada Allah) dalam arti luas mampu melaksanakan ajaran syar’iy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, menjadi manusia mandiri (self help), sesuai eksistensi manusia itu di jadikan.[7] Manusia pengabdi (‘abid) adalah manusia yang tumbuh dengan aqidah Islamiyah yang kokoh.

Aqidah Islamiah adalah sendi fundamental dinul Islam, Aqidah adalah langkah awal untuk menjadi muslim. Aqidah adalah keyakinan bulat, tanpa ragu dan bimbang, Aqidah membentuk watak manusia Patuh dan taat, sebagai bukti penyerahan total kepada Allah.

Aqidah menuntun hati manusia kepada pembenaran kekuasaan tunggal Allah secara absolut. Aqidah ini membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.[8]

Manusia berjiwa bersih (muthmainnah) selalu memenuhi janjinya terhadap Allah, dan melaksanakan semua perintah Allah secara konsekwen.[9]

Konsistensi, atau ke-istiqamah-an membentuk manusia patuh dan taat dalam mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus ibarat akar dengan pohonnya.[10] Maka hakikinya tanpa aqidah tidak ada artinya seorang muslim. Aqidah Islamiyah ialah Iman kepada Allah dengan mengakui eksistensiNya (wujudNya).

Ibadah bermakna secara konsisten penuh keikhlasan melaksanakan perintah-perintah Allah tanpa reserve. Konsistensi aqidah tauhid bersedia meninggalkan apa saja bentuk larangan dari Allah, dengan sikap ketaatan dan disiplin diri, karena mencari redha Allah.

Sikap tawakkal adalah konsekwensi dari ikhtiar dan usaha sesuai keyakinan tauhid.

Tawakkal dan ikhtiar usaha selalu jalan seiring.

Keduanya berjalin berkulindan merupakan mekanisme terpadu dalam kerangka kekuasaan Allah Yang Maha Agung.

Keyakinan tauhid mengajarkan kesadaran mendalam bahwa Allah selalu ada di samping manusia.

Keyakinan tauhid mampu menepis rasa takut dan menghapus gentar dalam menghadapi resiko hidup. Hilangnya aqidah tauhid melahirkan fatalistis atau bersikap apatis dan pesimis.

Keyakinan tauhid, adalah kekuatan besar dari energi ruhaniah yang mendorong manusia untuk hidup inovatif.

Membangun SDM menjadi SDU

Kita berkewajiban membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi Sumber Daya Umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas.

Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para pendidik, seperti ; pemurnian wawasan fikir, kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang, dan pendalaman spiritual religi.

Menguatkan solidaritas beralaspijak kepada iman dan adat istiadat luhur, “nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Khatimah

1. Menetapkan langkah kedepan ;

a. pembinaan human capital dengan keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan,

b. pembinaan generasi yang memiliki jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif.

c. mengasaskan agama dan akhlak sebagai dasar pendidikan pada anak sejak usia dini.

d. mencetak anak-anak muslim berilmu yang benar, beriman taqwa.

e. membina wawasan yang menyatu dengan akidah, budaya bangsa, dan bahasa.

f. mewujudkan masyarakat yang berasas keadilan sosial yang jelas.

2. Mengokohkan pegangan umat dengan keyakinan dasar Islam sebagai suatu cara hidup yang komprehensif.

3. Menyebarkan budaya wahyu di atas kemampuan akal.

4. Meyakini Peran krusial Ajaran Islam, bahwa kemenangan hanya disisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.8, Al-Anfal : 9-10).

5. Generasi penerus harus taat hukum, dapat dilakukan dengan cara ;

a. memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga,

b. memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ,

c. pemeranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif,

d. memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung jawab patah tumbuh hilang berganti

e. menanamkan aqidah shahih (tauhid), dan istiqamah pada agama yang dianut,

f. menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.

g. menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah

h. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam

i. melazimkan musyawarah dengan disiplin, sebagai nilai puncak budaya Islam yang benar.

Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya. Sesuatu akan selalu indah selama benar. Demikianlah semoga Allah senantiasa Meridhai.

Kayu Tanam, September


[1] Disampaikan dalam Pelatihan Pendidikan PAUD se Sumatera Barat, pada tanggal 9 s/d. 13 Januari 2008, di Gedung Pusdiklat Bhakti Bunda Sumatera Barat, di Jl. Asahan No.2, Komplek GOR H. Agus Salim, Padang., Sumatera Barat.

[2] Ketua Umum BAZ Sumbar, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar, Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar, dalam Pelatihan Pendidikan PAUD di Sumatera Barat, pada tanggal 1 s/d. 4 September 2007, di Kompleks Sekolah ITI/INS Kayu Tanam 1926, di Jl. Raya Padang Bukit Tinggi, Km.53, Kayutanam – 25585, Sumatera Barat.

[3] Sahsiah mempunyai tiga ciri utama. Pertama ialah keunikan dengan maksud tersendiri. Kedua kebolehan atau kemampuannya untuk berubah dan diubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman. Ketiga ialah organisasi. Dengan perkataan lain ia bukan sekadar himpunan tingkahlaku sebaliknya ia melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

[4] Sahsiah mempunyai tiga ciri utama. Pertama ialah keunikan dengan maksud tersendiri. Kedua kebolehan atau kemampuannya untuk berubah dan diubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman. Ketiga ialah organisasi. Dengan perkataan lain ia bukan sekadar himpunan tingkahlaku sebaliknya ia melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

[5] G.W Allport dalam bukunya ”Pattern and Growth in Personality”, mendifinisikan sahsiah sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psikofisikal di dalam diri seorang individu yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus. Sistem psikofisikal merangkumi segala-gala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh badan, urat saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang ( Mok Soon Sang, 1994:1).

[6] Menurut Prof Omar al-Toumi al-Syibani

[7] Lihat QS.adz-Dzariat, : 57.

[8] Lihat QS.89:27, dan QS.13:20-24

[9] Sesuai bimbingan dalam QS.6:82.

[10] Lihat QS.14:24-25.



membentengi ancaman terhadap kaum Perempuan terutama di Minangkabau selalu menjadi sasaran pemurtadan dan pendangkalan akidah

Membentengi ancaman terhadap kaum Perempuan terutama di Minangkabau, yang selalu menjadi sasaran pemurtadan dan pendangkalan akidah

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Pendahuluan

pengertian yang di kandung oleh kata-kata Perempuan (Kawi) menyimpan arti pemimpin (raja), orang pilihan, ahli, yang pandai, pintar dengan segala sifat keutamaan yang lain (lihat:KUBI).[1] Dari sini, banyak fihak berkeinginan menguasainya, sejak dulu hingga kini.

Alquran menyebut perempuan dengan Annisa’ atau Ummahat sama dengan ibu, atau “Ikutan Bagi Umat” dan tiang suatu negeri.[2]

Sunnah Nabi menyebutkan khair mata’iha al mar’ah shalihah artinya perhiasan paling indah adalah perempuan saleh (artinya perempuan yang tetap pada peran dan konsekwen dengan citranya). Tafsir Islam tentang kedudukan perempuan menjadi konsep utama keyakinan Muslim bermu’amalah. Alquran mendudukkan perempuan pada derajat sama dengan jenis laki‑laki di posisi azwajan atau pasangan hidup (lihat Q.S.16:72, 30:21, 42:11).

Mande Rubiah, Profil Bundo Kanduang dari Lunang

Mande Rubiah, Profil Bundo Kanduang dari Lunang

Perempuan dalam budaya Minangkabau

Dalam adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah” menempatkan perempuan pada posisi peran. Kadangkala dijuluki dengan sebutan;

orang rumah (hiduik batampek, mati bakubua, kuburan hiduik dirumah gadang, kuburan mati ditangah padang),

induak bareh (nan lamah di tueh, nan condong di tungkek, ayam barinduak, siriah bajunjuang),

pemimpin (tahu di mudharat jo manfaat, mangana labo jo rugi, mangatahui sumbang jo salah, tahu di unak kamanyangkuik, tahu di rantiang ka mancucuak, ingek di dahan ka mahimpok, tahu di angin nan basiruik, arih di ombak nan basabuang, tahu di alamat kato sampai),

Pemahaman lebih jauh sesungguhnya berarti bahwa perempuan Minangkabau, semestinya sangat arif, mengerti dan tahu dengan yang pantas dan patut, menjadi asas utama kepemipinan ditengah masyarakat.

Anak Minangkabau memanggil ibunya dengan bundo karena perempuan Minangkabau umumnya menjaga martabat,

1. Hati-hati (watak Islam khauf), ingek dan jago pado adat, ingek di adat nan ka rusak, jago limbago nan kasumbiang,

2. Yakin kepada Allah (iman bertauhid), jantaruah bak katidiang, jan baserak bak amjalai, kok ado rundiang ba nan batin, patuik baduo jan batigo, nak jan lahie di danga urang.

3. Perangai berpatutan (uswah istiqamah), maha tak dapek di bali, murah tak dapek dimintak, takuik di paham ka tagadai, takuik di budi katajua,

4. Kaya hati (Ghinaun nafs), sopan santun hemat dan khidmat,

5. Tabah (redha), haniang ulu bicaro, naniang saribu aka, dek saba bana mandatang,

6. Jimek (hemat tidak mubazir), dikana labo jo rugi, dalam awal akia membayang, ingek di paham katagadai, ingek di budi katajua, mamakai malu dengan sopan.

KEARIFAN PEREMPUAN MINANGKABAU

Dalam ungkapan sehari-hari, perempuan Minang disebut pula padusi artinya padu isi dengan lima sifat utama; (a). benar, (b).jujur lahir batin, (c). cerdik pandai, (d). fasih mendidik dan terdidik, (e). bersifat malu (Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek.

Selanjutnya Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso), artinya didalam kebenaran Islam, al hayak nisful iman = malu adalah paruhan dari Iman.

Falsafah hidup beradat mendudukkan perempuan Minang pada sebutan bundo kandung menjadi limpapeh rumah nan gadang, umbun puro pegangan kunci, umbun puruak aluang bunian, hiasan di dalam kampuang, sumarak dalam nagari, nan gadang basa batauah, kok hiduik tampek ba nasa, kalau mati tampek ba niaik, ka unduang-unduang ka madinah, ka payuang panji ka sarugo.

Ungkapan ini sesungguhnya amat jelas mendudukkan betapa kokohnya perempuan Minang pada posisi sentral, menjadi pemilik seluruh kekayaan, rumah, anak, suku bahkan kaum, dan kalangan awam di nagari dan taratak menggelarinya dengan “biaiy, mandeh”, menempatkan laki-laki pada peran pelindung, pemelihara dan penjaga harta dari perempuan-nya dan anak turunannya.

Dalam siklus ini generasi Minangkabau lahir bernasab ayah (laki-laki), bersuku ibu (perempuan), bergelar mamak (garis matrilineal), memperlihatkan egaliternya suatu persenyawaan budaya dan syarak yang indah.(2)

Kebenaran Agama Islam

Islam menempatkan perempuan (ibu) mitra setara (partisipatif) dan lelaki menjadi pelindung wanita (qawwamuuna ‘alan‑nisaa’), karena kelebihan pada kekuatan, badan, fikiran, keluasaan, penalaran, kemampuan, ekonomi, kecerdasan, ketabahan, kesigapan dan anugerah (QS. An Nisa’ 34).

Perempuan dibina menjadi mar’ah shalihah (= perempuan shaleh yang ceria (hangat/warm) dan lembut, menjaga diri, memelihara kehormatan, patuh (qanitaat) kepada Allah, hafidzaatun lil ghaibi bimaa hafidzallahu (= memelihara kesucian faraj di belakang pasangannya, karena Allah menempatkan faraj dan rahim perempuan terjaga, maka tidak ada keindahan yang bisa melebihi perhiasan atau tampilan “indahnya wanita shaleh” (Al Hadist).

Kodrat wanita memiliki peran ganda; penyejuk hati dan pendidik utama, menempatkan sorga terhampar dibawah telapak kaki perempuan (ibu, ummahat).

Di bawah naungan konsep Islam, perempuan berkepribadian sempurna, bergaul ma’ruf dan ihsan, kasih sayang dan cinta, lembut dan lindung, berkehormatan, berpadu hak dan kewajiban.

Tidak punya arti sesuatu kalau pasangannya tidak ada dan tidak jelas eksistensi sesuatu kalau tidak ada yang setara di sampingnya, inilah kata yang lebih tepat untuk azwajan itu.[3]

IKUTAN BAGI UMAT

Secara moral, perempuan punya hak utuh menjadi Ikutan Bagi Umat.

Masyarakat baik lahir dari relasi kemasyarakatan pemelihara tetangga, perekat silaturrahim dan tumbuh dengan pribadi kokoh (exist), karakter teguh (istiqamah, konsisten) dan tegar (shabar, optimis) menapak hidup. Rohaninya (rasa, fikiran, dan kemauan) dibimbing keyakinan hidayah iman. Jasmaninya (gerak, amal perbuatan) dibina oleh aturan syari’at Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

شَرَعَ لَكُمْ مِنْ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِه إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ِأَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهَِ

“Allah telah menyari’atkan dasar hidup “ad-din” bagi kamu seperti telah diwasiatkanNya kepada Nuh, dan telah dipesankan kepadamu (Muhammad). Agama yang telah dipesankan kepada Ibrahim, Musa, Isa dengan perintah agar kalian semua mendaulatkan agama ini dan jangan kalian berpecah dari mengikutinya…” (QS.Syura : 13).

Perilaku kehidupan menurut mabda’ (konsep) Alquran, bahwa makhluk diciptakan dalam rangka pengabdian kepada Khaliq (QS. 51, Adz Dzariyaat : 56), memberi warning peringatan agar tidak terperangkap kebodohan dan kelalaian sepanjang masa. Manusia adalah makhluk pelupa (Al Hadist).[4]

Tegasnya, seorang Muslim berkewajiban untuk menda’wahkan Islam, menerapkan amar ma’ruf dan nahi munkar (QS. Ali ‘Imran :104), dimulai dari diri sendiri, agar terhindar dari celaan (QS. Al Baqarah :44 dan QS. Ash‑Shaf :3).

Amar ma’ruf nahi munkar adalah tiang kemashlahatan hidup umat manusia, di dasari dengan Iman billah (QS. Ali ‘Imran :110) agar tercipta satu bangunan umat yang berkualitas (khaira ummah).

Maka posisi perempuan didalam Islam ada dalam bingkai (frame) ini.

Busana Pelindung Dan Sarana Pendidikan Utama

Perubahan zaman disertai penetrasi budaya seringkali menampilkan ketimpangan didalam meraih kesempatan yang sangat menyolok pada fasilitas pendidikan, lapangan kerja, hiburan, penyiaran mass‑media, antara di kota dan kampung, akhirnya mengganggu pertumbuhan masyarakat.

Apabila kearifan dan keseimbangan peranan memelihara budaya dan generasi tercerabut pula, maka tidak dapat tidak akan ikut menyum­bang lahirnya “Generasi Rapuh Budaya”.[5]

Generasi berbudaya memiliki prinsip teguh, elastis dan toleran bergaul, lemah lembut bertutur kata, tegas dan keras melawan kejahatan, kokoh menghadapi setiap percabaran budaya, tegar menghadapi percaturan kehidupan, sanggup menghindari ekses buruk, membuat lingkungan sehat, bijak menata pergaulan baik, penuh kenyamanan, tahu diri, hemat, dan tidak malas, akan terbentuk dengan keteladanan.

Konsepsi Rasulullah SAW;”Jauhilah hidup ber-senang-senang (foya-foya), karena hamba-hamba Allah bukanlah orang yang hidup bermewah-mewah (malas dan lalai)” (HR.Ahmad).

Tidak dapat dimungkiri bahwa kaum perempuan harus memaksimalkan perannya menjadi pendidik di tengah bangsa menampilkan citra perempuan mandiri, memastikan terpenuhi hak dan terlaksananya kewajiban, salah satunya melalui cara berbusana. Dari pandangan Islam disimpulkan bahwa tidak mengindahkan hak-hak kaum perempuan sebenarnya kurang mengamalkan ajaran agama Islam.

Di Minangkabau perempuan berada pada lini materilineal akan hilang marwahnya tersebab menipisnya kepatuhan orang beradat, karena hakikat adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah adalah aplikatif, bukan simbolis.

Khulasah Gerakan Pemurtadan

1. Renungkanlah kalimat seorang penginjil “Terdapat sikap permusuhan yang tajam antara Kristen dan Islam. Sebab ketika Islam tersebar pada abad pertengahan, agama ini telah membangun sebuah benteng pertahanan yang kokoh ditengah-tengah upaya penyebaran Kristen. Kemudian Islam tersebar keberbagai negara yang sebelumnya pernah bertekuk lutut di bawah kekuasaan Kristen” (orientalis Jerman dan pendeta Kristen Mibez).

2. Kristenisasi pada hakekatnya bertujuan memantapkan pengaruh Kristen barat di negara Islam. Kristenisasi merupakan awal dan landasan kokoh bagi penjajahan.

3. Penyebab langsung terhadap lumpuh dan lemahnya potensi umat Islam.

4. Kristenisasi tersiar dinegara ketiga. Kristenisasi mendapat dukungan internasional yang melimpah.

5. Kristenisasi mengerahkan segala daya dan kemampuannya secara intensif di dunia Islam.

6. Kristenisasi saat ini terfokus di Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Pakistan dan Afrika Selatan.

KESIMPULAN :

Setiap orang yang beriman semestinya mampu memanfaatkan segala perubahan yang berhu­bungan dengan kehidupan dunia luar dan disekitarnya.

Sikap dinamik sangat diperlukan untuk mengantisipasi selemah‑lemah iman, dan sikap dinamik pula yang menjadi kata‑kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi.

Dinamika hidup sebagai buah ajaran Islam itu tampak dalam tiga cara hidup yakni,

· bantu dirimu sendiri (self help),

· bantu orang lain (self less help),

· saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help),

Ketiga konsep hidup ini mengandung ajaran untuk setiap orang supaya tidak selalu tergantung kepada orang lain.

Bahaya pemurtadan selalu mengancam setiap gerak kaum perempuan terutama di Minangkabau, maka usaha untuk menghambatnya adalah dengan penerapan nilai-nilai agama Islam di dalam kehidupan serta penguatan adat istiadat Minangkabau di dalam tatanan pergaulan.

Ketergantungan menempat­kan orang terbawa kemana‑mana Tujuan yang jelas mesti berada dalam kerangka ibadah dan pembentengan aqidah.

Ketika berada dalam jihad menghadapi rongrongan gerakan kelompok Salibiyah yang kian hari terasa makin pesat, maka “Jangan berhenti tangan mendayung, supaya arus tidak membawa hanyut” (Pesan Pak M. Natsir, yang menuntut setiap diri dari Islamic Youth di manapun senantiasa berperan aktif dengan giat berjihad membentengi diri dan umat kelilingnya).

“Jangan di ganggu identitas kami !!!.” Begitu pesan DR. Mohammad Natsir yang kedua kalinya. Apakah kalimat ini masih berlaku kalau identitas kita sudah tiada ???

Konsekwensinya, setiap mujahid Islam berpegang kuat dengan peringatan Firman Allah, “walan tardha ‘anka al yahudu wa lan-nshara hatta tatabi’a millatahum”.

Satu peringatan keras supaya selalu menjaga keutuhan, akidah Imaniyah tauhidiyah yang benar, ukhuwah Islamiyah risalah Rasulullah SAW setiap saat.

Objektifitas keyakinan Islam, mampu memberikan jalan keluar (solu­si) problematika sosial umat manusia.

Ajaran Islam tertanamkan dalam hati manusia yang mampu menangkap tanda‑tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi di sekitarnya. Mereka yang mampu menangkap tanda tanda‑tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut, adalah orang‑orang yang beriman.

Apatisme politik, menjadi “pengamat diam” , tanpa ada keinginan dan usaha berperan aktif dalam setiap perubahan sosial, politik dan ekonomi adalah mereka yang memiliki selemah‑lemah iman (adh’aful iman).

Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi hanya dihilangkan dengan sikap jelas, mengerjakan segala sesuatu yang bisa dikerjakan, dan jangan fikirkan sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan, mulai dengan apa yang ada dan jangan berpangku tangan dan menghitung orang yang lalu.

Keempat kata‑kata kunci ini adalah amanat ajaran agama Islam untuk tidak menunggu setiap perubahan, baik bidang sosial, politik dan ekonomi dalam hidup Karena itu berbuatlah.

Akbar, wallahu a’lamu bis-shawaab.


Catatan Akhir

[1] Pada masa dahulu memang sangat banyak penulisan cerita (dongeng) tentang wanita yang melahirkan anggapan bahwa perempuan hanya seje­nis komoditi penggembira, penghibur, teman bercanda, pengisi harem, peramaikan istana dan pesta, sehingga peran perempuan disepelekan seakan segelas air pelepas dahaga. Akan tetapi, kehadiran Islam memberikan kepada perempuan kedudukan mulia.

[2] Bila Annisa’‑nya baik, baiklah negeri itu, dan kalau sudah rusak, celakalah negeri itu (Al Hadits). Kaidah Alqurani menyebutkan, Nisa’‑nisa’ kamu adalah perladangan (persemaian) untukmu, kamupun (para lelaki) menjadi benih bagi Nisa’‑nisa’ kamu. Kamu dapat mendatan­gi ladang‑ladangmu darimana (kapan saja). Karena itu kamu berkew­ajiban menjaga anfus (diri, eksistensi dan identitas) sesuai perintah Qaddimu li anfusikum, dengan selalu bertaqwa kepada Allah (Q.S.2:23).

[3] Dalam Ajaran Islam, penghormatan kepada Ibu menempati urutan kedua sesudah iman kepada Allah (konsep tauhidullah). Bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Ibu, diwasiatkan sejalan untuk seluruh manusia. Penghormatan kepada Ibu (perempuan) menjadi disiplin hidup yang tidak boleh diabaikan. Disiplin ini tidak dibatas oleh adanya perbedaan anutan keyakinan. Hubungan hidup duniawi wajib dipelihara baik dengan jalinan ihsan (lihat QS. 31, Luqman : 14-15). Universalitas (syumuliyah) Alquran menjawab tantangan zaman (QS. Al Baqarah, 2 dan 23) dengan menerima petunjuk berasas taqwa (memelihara diri), tidak ragu kepada Alquran menjiwai hidayah, karena Allahul Khaliqul ‘alam telah menciptakan alam semesta amat sempurna, tidak ditemui mislijk kesiasiaan (QS. 3, Ali ‘Imran, ayat 191), diatur dengan lurus (hanif) sesuai fithrah yang tetap (QS. 30, Ar Rum, ayat 30) dalam perangkat natuur‑wet atau sunnatullah yang tidak berjalan sendiri, saling terkait agar satu sama lain tidak berbenturan. Kandungan nilai pendidikan dan filosofi ini terikat kokoh kasih sayang, hakikinya semua datang dan terjadi karena Rahman dan RahimNya dan akan berakhir dengan menghadapNya, maka kewajiban asasi insani menjaga diri dan keluarga dari bencana (QS. At Tahrim :6) dengan memakai hidayah religi Alqurani.

[4]Ibu (an-Nisak) adalah tiang negeri” (al Hadist). Jika kaum perempuan suatu negeri (bangsa) berkelakuan baik (shalihah), niscaya akan sejahtera negeri itu. Sebaliknya, bila berperangai fasad akibatnya negeri itu akan binasa seluruhnya. Banyak hadist Nabi menyatakan pentingnya pemeliharaan hubungan bertetangga, menanamkan sikap peduli, berprilaku mulia, solidaritas tinggi dalam kehidupan keliling dan memelihara citra diri. “Demi Allah, dia tidak beriman”, “Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”. (Hadist diriwayatkan Asy-Syaikhan). Pentingnya pendidikan akhlak Islam, “Satu bangsa akan tegak kokoh dengan akhlak (moralitas budaya dan ajaran agama yang benar)”. Tata krama pergaulan dimulai dari penghormatan kepada perempuan (ibu) dan rumah tangga, dikembangkan kelingkungan tetangga dan ketengah pergaulan warga masyarakat (bangsa), sesuai QS.41, Fush-shilat, ayat 34.

[5] Generasi yang tumbuh tanpa aturan, jauh dari moralitas, cendrung meninggalkan tamaddun budayanya. Disinilah pentingnya peran bebusana untuk memelihara pertumbuhan budaya dan mendidik generasi bangsa. Inilah dharma bakti yang sebenarnya.

Di Depan Kantor BAZ Sumbar, Masjid Agung Nurul Iman Padang

Di Depan Kantor BAZ Sumbar, Masjid Agung Nurul Iman Padang

RIWAYAT DIRI dari H. Mas’oed Abidin ,

TEMPAT/TANGGAL LAHIR: Koto Gadang Bukittinggi, 11 Agustus 1935.

AYAH dan IBU: H.Zainal Abidin bin Abdul Jabbar Imam Mudo dan Khadijah binti Idriss.

RIWAYAT PENDIDIKAN : Surau (madrasah) Rahmatun Niswan Koto Gadang, Sumatra Thawalib dipimpin oleh Syeikh H. Abdul Mu’in Lambah, Thawalib Parabek, SR Kotogadang, SMP II Neg. Bukittinggi, SMA A/C Bukittinggi (1957), dan FKIP UNITA Padangsidempuan, IKIP Medan (1963).

Pengalaman Organisasi : Sekum Komda PII Tapsel (1961-1963), Ketua Cabang HMI Sidempuan (1963-1966) dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (1967- sekarang). Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar (2000-2008), Ketua MUI Sumbar Membidangi Dakwah (2001-2007), Sekretaris Dewan Pembina ICMI Orwil Sumbar (sd.2007), Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM) (2001-2007).

JABATAN SEKARANG : Ketua Dewan Pembina MUI Simbar (2008-sekarang), Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Prov.Sumbar (2007-2012).

ALAMAT SEKARANG :

§ Jalan Pesisir Selatan V/496 Siteba Padang (KP – 25146), Fax/Telepon 0751 7052898, Tel: 0751 7058401.

LAIN-LAIN:

Personal Web-site : http://masoedabidin.wordpress.com

Grup diskusi di Mailinglist  : http://groups.yahoo.com/group/buyamasoedabidin/files

Email: buyamasoedabidin@gmail.com

masoedabidin@yahoo.com



Amal Shaleh yang Kaffah
September 23, 2008, 2:34 am
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Komentar, Minangkabau, Ramadhan, Sumatera Barat, Surau, Tauhidik

Senin, 2008 September 22

Amal Saleh yang Kaffah

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Q.S. Al Bayyinah: 7).

Ayat Al Qur’an yang mendekatkan kata-kata iman dengan kata amal shaleh, sering dijumpai.

Penggandengan kosa iman dan kata amal saleh sudah pasti mengandung pengertian amat dalam. Bahwa iman tidak dapat dipisah dari perilaku amal shaleh.

Orang-orang yang sungguh beriman akan selalu mengerjakan amal shaleh, dan selanjutnya amal saleh akan lahir dengan mudah karena adanya iman.

Dalam beberapa hadis Rasulullah SAW menerangkan amal saleh dari orang yang beriman di antaranya ;

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menghormati tamunya”. (H.R. Muslim)

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya (HR. Bukhari dan Muslim)

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik-baik atau diam (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga peringatan Rasulullah SAW ini mengungkapkan bahwa tanpa amal shaleh, iman seseorang tidak sempurna. Iman tidak hanya ucapan lisan sahaja, akan tetapi mesti diyakini dalam hati, serta diujudkan dengan perbuatan amal shaleh.

Pada ayat ke 2 dan 3 dari Surat Al Baqarah dijelaskan bahwa orang yang bertaqwa adalah mereka yang beriman kepada Yang Ghaib (Allah), mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Allah berikan kepada mereka.

Perbuatan amal shaleh seperti shalat sebagai hubungan persembahan kepada Allah, dan menafkahkan harta sebagai bentuk hubungan dengan sesama manusia,akan terlaksana dengan sempurna ketika seseorang beriman kepada Yang Ghaib yakni Allah SWT.

Iman adalah landasan pertama dari amal shaleh. Baik itu menyangkut amal saleh yang bentuknya ibadah mahdhah atau hablun minallah, seperti shalat, puasa dan haji.

Begitu pula amal shaleh yang menyangkut mu‘amalah sesama manusia atau hablun minannas, seperti kepedulian sosial, menyantuni anak yatim dan fakir miskin, suka menolong, mengayomi masyarakat dan sebagainya.

Kedua bentuk ibadah ini lahir semata karena iman kepada Allah SWT.

Sesungguhnya Allah SWT tidak membedakan dengan tegas tentang hablum minallah dengan hablun minannas ini. Karena kedua amal shaleh ini sesungguhnya amat perlu dijaga keseimbangan antara keduanya.

Agama Islam tidak menyenangi sekelompok orang yang tekun beribadah serta hidup dalam kezuhudan semata, tetapi tidak peduli akan keadaan masyarakat dan nasib saudara sesama muslim yang ada di sekelilingnya, atau mengabaikan amar ma’ruf-nahi munkar.

Sebaliknya, agama Islam tidaak menyukai sekelompok orang yang memiliki kepedulian yang besar terhadap masalah umat, bahkan selalu memperhatikan hak-hak sesamanya, serta berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan sosial, tetapi mengabaikan ibadah mahdhah (ritual) nya.

Keharmonisan sikap kedua bentuk ibadah ini yakni antara hablum minannas dan hablum minallah mesti sejalan dan seiring.

Tidak bermakna hablum minannas yang tidak didasari oleh hamblum minallah.

Demikian juga ibadah hablum minallah tidak bermakna manakala tiodak memperhatikan hubungan sesama manusia.

Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam bukunya I’dad al Shabirin wa dzakirat al Syakirin, mengingatkan suatu kelompok jangan terlalu berbangga dengan ibadah dan amal shaleh yang mereka kerjakan, serta menggaggap diri mereka paling utama dalam menjalankan sunnah Nabi ketimbang kelompok lain yang dianggap lebih rendah dari diri mereka.

“Jika para mujahid dan orang-orang yang terjun ke medan perang berhujjah bahwa merekalah kelompok yang paling utama, maka kelompok orang-orang yang berilmu juga berhak untuk berhujjah seperti itu.

Jika orang-orang yang berzuhud dan meninggalkan keduniawian berhujjah bahwa inilah kelebihan Rasul yang mereka teladani, maka orang-orang yang aktif menekuni keduniaan, mengurusi masyarakat dan pemerintahan, memimpin rakyat dengan melaksanakan perintah Allah dalam menegakkan agama-Nya juga berhak untuk berhujjah yang sama.

Jika orang miskin yang sabar berhujjah bahwa mereka mengikuti sifat mulia Nabi Muhammad SAW, maka orang kaya yang bersyukur juga berhak untuk berhujjah seperti itu…”

Sehingga Ibnu Qayyim berkata. “Yang paling berhak atas diri Rasulullah dalam meneladaninya adalah orang yang paling mengetahui sunnah beliau dan kemudian mengamalkannya”.

Ungkapan Ibnu Qayyim ini amat jelas, bahwa ibadah dan amal shaleh bukan sekedar mu‘amalah ma‘al Khaliq semata, tetapi mesti dibarengi dengan mu’amalah ma‘an-nas.

Amaliah yang totalitas (kaaffah) penyembahan terhadap Allah dan pengabdian kepada sesama makhluk terjalin komplit, meliputi keshalehan ritual (Hablun Minallah) dan keshalehan sosial (Hablun Minannas).

Contoh nyata dari keshalehan yang kaaffah tampak pada ibadah shalat yang dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar. Demikian pula dengan ibadah puasa yang mendidik seseorang untuk bersikap toleran dan peduli terhadap sesama.

Maka Shalat dan shaum (puasa) mengandung kedua aspek keshalehan baik ritual maupun sosial.

Selayaknya setiap muslim meraih keshalehan yang kaffah ini. Tidak semata shaleh secara ritual, dalam artian taat beribadah mahdah kepada Allah saja. Tetapi juga shaleh secara sosial, mampu menciptakan kemaslahatan bagi sesama manusia.

Seorang mukmin yang baik mampu menasehati diri sendiri dengan berperipekerti terpuji dan juga mampu menasehati orang lain dengan beramar makruf nahi munkar. ­

Allah SWT berfirman: “Mereka diliputi kehinaan di mana saja rnereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah (Hablun Minallah) dan tali perjanjian dengan manusia (Hablun Minannas)…”
(Q.S. Ali Imran: 112).

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua kepada hidayah-Nya.

Amin.



Ikhlas dan Thaat buah dari amaliah Ramadhan
September 20, 2008, 1:09 pm
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Thawaf keliling Ka'bah, Labbaika Allahumma Labbaika ....

Thawaf mengeliling Ka

Ikhlas dan Thaat adalah Jihad Besar

Ramadhan adalah bulan sabar, dan sabar itu balasannya adalah Jannah. Sesungguhnya mengamalkan sabar bukanlah pekerjaan ringan dan menjadi bagian dari upaya jihad.

JIHAD adalah satu keberanian dan kemampuan dalam mengendalikan diri. Rasulullah SAW bersabda; “Seseorang tidak dikatakan pemberani karena melompati musuh di medan laga. Tetapi orang yang berani berjihad itu adalah yang mampu menahan diri ( artinya,memiliki ke‑sabaran)” (Al Hadist).

Berani dengan perhitungan (iman dan ihtisab) adalah bukti sebuah kesabaran. Perhitungan matang di topang oleh ketabahan dan kemampuan menahan diri akan membawa seseorang untuk bertindak benar.

Berpegang teguh kepada kebenaran (haq dari Allah) akan membuahkan keberanian dalam bertindak dan akhirnya bersedia untuk berjuang mempertahankan kebenaran itu.

Kesabaran adalah kemampuan mengendalikan diri dan semestinya menjadi pakaian  perilaku para pimpinan dalam mengemban tugas-tugasanya. Menumbuhkan kesabaran adalah kerja besar dan berat, suatu  “jihad akbar”, atau “perjuangan yang berat”.

Sejarah mencatat peristiwa besar di bulan Ramadhan dari Perang Badar di mana banyak para syuhada menjadi syahid. Rasulullah SAW mengatakan ketika itu, “Kita baru saja keluar dari jihad (perang) yang kecil dan akan memasuki jihad (perang) yang lebih besar lagi” (Al Hadist).

Pernyataan Rasulullah SAW ini menimbulkan tanya keheranan para sahabat pengikut Rassulullah yang mohon di jelaskan; “MANA LAGI PERANG (JIHAD) YANG BESAR ITU, WAHAI BAGINDA RASUL?”.

Mengingat banyaknya korban ini para sahabat yang mengalami sendiri perang  itu menilai sebagai satu perang paling akbar yang pernah mereka rasakan. Tapi Rasulullah SAW menyebutnya sebagai perang kecil saja. Baginda Rasulullah SAW merumuskan  “JIHADUL AKBAR, JIHADUN NAFSI”(Al Hadist), artinya “Jihad (perang) yang besar itu, adalah perang mengalahkan nafsu”, maknanya kemampuan mengendalikan diri.

Pengendalian diri dalam arti mendalam adalah kemampuan suatu bangsa tegak pada prinsip kebangsaan yang telah disepakati bersama, teguh bertindak dengan sikap patriotisme yang mendalam berakar pada kemampuan untuk mandiri dan tidak banyak tergantung dari kendali orang luar. Di sinilah suatu jihadul akbar yang berawal dari  perjuangan mengendalikan diri.

Sesudut Masjidil Haram

Sesudut Masjidil Haram

Arena latihannya adalah ibadah shaum atau ibadah puasa. Shaum atau puasa itu, di awali dan di akhiri oleh “pengendalian diri”. Di mulai sejak sahur sampai datangnya waktu berbuka dengan imsak atau menahan.  Kerelaan menahan sampai datang waktu dibolehkan berbuka merupakan latihan disiplin yang tinggi. Inilah bagian dari pengendalian diri yang utuh.

Sebuah latihan, hanya bisa dilihat hasilnya setelah masa latihan terlewati.

Keberhasilan melaksanakan puasa (shaum) terlihat berbekas, jika mampu melahirkan sifat‑sifat disiplin dalam mengendalikan diri, baik selama atau sesudah Ramadhan pergi. Makin tinggi nilai latihan makin lama bekasnya di dalam diri.

Masa depan sangat memerlukan manusia yang berkualitas. Memiliki disiplin yang tinggi dalam setiap kondisi. Kita amat memerlukan bangsa yang tangguh dan ampuh dalam menjalankan misi pembangunan di segala bidang. Diperlukan sumber daya manusia yang rela menahan diri, berhemat, sanggup memikul beban bersama dan memiliki rasa solidaritas (ukhuwah) yang mendalam.

Semuanya hanya bisa diciptakan, melalui latihan kebersamaan dan disiplin yang terus menerus. Kesempatan ini dibukaan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melalui ibadah puasa (shaum) di bulan Ramadhan ini.

Semoga kita jadikan Ramadhan ini menjadi bulan membentuk diri kita, ikhlas, kuat dan taat. Amin.

Wassalamu ‘alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh,

Buya H. Masoed Abidin



Sifat Sifat Terpuji Hamba Allah yang terpilih atau IBADURRAHMAN, pokok-pokok akhlak Qurani….

Sabtu, 2008 September 20

IBADURRAHMAN

Ibadurrahman, Hamba Allah yang Rahman

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

Allah SWT berfirman ;
“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang (Ibadurrahman) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (mengandung) keselamatan.
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.
Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami …Anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami, penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.
Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam sorga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan-ucapan selamat di dalamnya.”

(Q.S. Al Furqan: 63-75)

Ibadurrahman adalah hamba-hamba Allah yang selalu berada dalam lingkup rahmat Allah. Mereka adalah orang-orang yang menyadari kekuasaan Allah dan memenuhi hak-hak Allah dan memurnikan agama karena Allah. Mereka dinisbatkan kepada Allah Yang Maha Rahman.

Ibadurrahman mempunyai sifat dan tanda-tanda yang disebutkan Allah di dalam ayat-ayat di atas, dengan jelas memiliki sifat-sifat seperti ;

1. Tawadhu’ dan rendah hati

2. Pemurah dan lembut hati,

3. Suka mendirikan shalat malam (Qiyamullail),

4. Sangat takut akan bahaya neraka,

5. Sederhana dalam membelanjakan harta,

6. Memiliki Tauhid yang istiqamah,

7. Menjauhi tindak pembunuhan dengan memuliakan kehidupan,

8. Menjauhi perbuatan zina, dan suka bertaubat Nasuha,

9. Tidak mau bersumpah palsu,

10. Meninggalkan pekerjaan yang tidak bermanfaat,

11. Mendalami ayat-ayat Allah, dan

12. Memohon kebaikan bagi istri dan keluarganya

Dengan demikian dapat dipahami bahwa selain hamba Allah yang Rahman, tentu akan ada golongan-golongan hamba-hamba atau budak-budak yang lainnya. Seperti hamba (budak) syeitan, hamba taghut, hamba syahwat, hamba uang, hamba khamar, hamba narkoba, hamba birahi, hamba harta, hamba tahta, hamba wanita. Mereka pasti tidak mempunyai keduabelas sifat utama ini.

Moga kita semua dapat memiliki keduabelas sifat utama ini untuk meraih predikat Ibadur-Rahman. Amin.



Pandai Bergaul sesama Manusia.
September 20, 2008, 7:42 am
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Globalisasi, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Politik, Surau, Tauhidik
Pandai Bergaul sesama Manusia.

Oleh Buya H Mas’oed Abidin


Di antara sifat Ibadurrahman adalah Murah Hati dan Kaya Kalbu ketika bergaul sesama manusia. Tidak pernah menganggap rendah orang jahil dan bodoh. Sifat itu disebutkan Allah SWT dalam firmanNya,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا

“… dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, maka mereka mengucapkan kata-kata yang baik (yang mengandung keselamatan),” (Q.S. Al Furqan: 63)

Mengucapkan kata-kata yang baik artinya membebaskan diri dari kata-kata yang mengandung dosa Kata-kata yang baik tidak mengandung celaan, fitnah dan rasa dendam. Seseorang yang mempunyai murah hati, tidak mudah membalas keburukan dengan keburukan yang sama, meskipun itu sanggup dia lakukan Walaupun dia sebenarnya mempunyai hak untuk membalasnya. Allah SWT memuji sikap itu di dalam firman Nya,

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling dari padanya dan mereka berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang jahil.” (Q.S Al-Qashash: 55)

Ketika orang-orang jahil menyapa, maka Ibadurrahman mengucapkan perkataan yang baik Ibadurrahman tidak melumuri lidahnya dengan kata-kata yang sia-sia Mereka tidak meladeni dengan kata-kata carut marut dan selalu menghindar darinya.


Ibadurrahman tidak mau waktu mereka terbuang untuk melayani sesuatu yang tidak bermanfaat. Ibadarurrahman senantiasa menjaga lidah, waktu dan umur Mereka melindungi catatan kebaikan yang sudah ada dan menambah selalu dengan kebaikan-kebaikan yang lain.

Hamba Allah yang terpuji selalu menghindari keburukan di mana jua mereka berada. Memang tidaklah sama yang buruk dengan yang baik. Begitu Allah SWT menyebut di dalam firman Nya.

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Q.S. Fushilat: 34)

Nabi Isa alahis-salam pernah berjalan melewati sekumpulan orang-orang Yahudi yang melontarkan kata-kata tidak senonoh kepada beliau. Beliau berupaya menanggapi perkataan mereka dengan kebaikan.

Ketika itu, ada beberapa bertanya kepada beliau, “Orang-orang itu telah melontarkan kata-kata tidak senonoh kepadamu, namun engkau justru mengatakan yang baik kepada mereka.” Beliau menjawab, “Segala sesuatu keluar dari apa yang ada di dalamnya.” Kalimat hikmah ini memiliki arti yang cukup dalam. Bahwa kalimat yang diucapkan seseorang memberi gambaran tentang kualitas diri orang yang berkata itu.

Anas bin Malik radhiallahu-anhu pernah berkata; “Jika ada yang mengucapkan kata-kata kasar kepadamu, misalnya dengan ungkapan, “Wahai orang zalim, fasik, pendusta, pembohong”, atau kata-kata lain yang tidak senonoh, maka hadapilah ia dengan berkata, “Kalau memang engkau berkata bahwa aku ini seperti yang engkau katakan, semoga Allah mengampuni kesalahanku. Jika engkau dusta atau mengada-ada atau memfitnah dengan kata-katamu itu, semoga Allah mengampuni kedustaanmu.”

Sebuah ungkapan bijak, bagaimana perkataan dapat meredam terjadinya pertengkaran. Di saat sekarang ini, rasanya sudah semakin langka didapai orang yang mampu berkata lemah lembut, dengan kaya perbendaharaan kalbu dan murah hati.



Beriktikaf pada Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan, Meraih Redha Allah Menjemput Lailatul Qadar
September 20, 2008, 4:34 am
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Masyarakat Adat, Minangkabau, Sumatera Barat, Surau, Tauhidik

I’tikaf di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan,

Meraih Redha Allah, Menjemput Lailatul Qadar

Oleh Buya H Mas’oed Abidin

“Diriwayatkan dari Anas ra ,ia berkata Rasulullah SAW biasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan. Kemudian beliau pernah tidak beri’tikaf pada suatu tahun, lalu pada tahun berikutnya beliau beri’tikaf selama dua puluh hari“ (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Bulan Ramadhan adalah bulan ibadah. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah didasari dengan iman kepada Allah semata. Maka Allah SWT akan mengampuninya.

I’tikaf adalah salah satu ibadah yang dapat dilakukan pada bulan Ramadhan. I’tikaf adalah salah satu sistem peribadatan dalam Islam, dengan berdiam diri di Masjid untuk sementara waktu dengan niat ibadah.

I’tikaf biasanya diisi dengan ibadah sunah, misalnya memperbanyak shalat sunah, membaca Al Quran dan berzikir Dapat juga dimanfaatkan untuk memperdalam tsaqafah (wawasan) keislaman.

Hakikatnya, I’tikaf adalah memisahkan diri untuk sementara waktu dari hiru biru kemelut kehidupan beragam di tengah masyarakat dan membenamkan diri dalam kehidupan beragama yang focus, dan dilakukan dengan berdiam diri di Masjid. Intinya adalah konsentrasi meningkatkan ketaqwaan.

Ketika ketaqwaan umat Islam mulai lemah dan sirna oleh peristiwa yang menekan atau himpitan jiwa yang tak terpenuhi dalam kehidupan berbagai tuntutan dalam sosial masyarakat, maka salah satu solusinya adalah i’tikaf. Lamanya waktu i’tikaf tergantung pada pengembalian taqwa itu. Minimal masa yang diperlukan dalam berdiam diri di masjid itu selama waktu tuma’ninah (waktu selama ruku’ dalam raka’at).

Bagaimana Rasulullah beri’tikaf? Siti Aisyah berkata. “Nabi Muhammad SAW. apabila hendak beri’tikaf beliau shalat subuh lalu masuk ke tempat i’tikaf” (Muttafaqunlaih).

Rasulullah SAW. tidak pulang pergi ketika beri’tikaf kecuali apabila ada keperluan. Siti Aisyah r.a mengatakan, “Rasulullah SAW. mengulurkan kepalanya kepada saya, sedang beliau berada di masjid, kemudian saya menyisir rambutnya, dan beliau tidak masuk rumah apabila sedang beri’tikaf, kecuali beliau ada keperluan”. (HR. Bukhari)

Mengenai bila masa i’tikaf itu dilaksanakan, sebaik-baik waktunya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, berdasarkan contoh tauladan yang telah diberikan oleh Rasulullah SAW. Merujuk penuturan Aisyah Radhiallahu ‘anha, beliau berkata, “adalah Rasulultah SAW. apabila telah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dibangunkanlah keluarganya dan senantiasa mengencangkan ikat pinggang” (Muttafaqunalaih).

Pada bulan Ramadhan yang penuh berkah mari kita kunjungi Masjid untuk beri’tikaf. Meluangkan sedikit waktu dalam hidup kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Khaliq. Memuji kebesaran-Nya dan merenungi ke mahakuasaan-Nya. Memohon ampunan atas segala aktivitas kita yang telah banyak melalaikan sebagian seruan-seruan-Nya. Berdo’a agar umat Islam di manapun berada diberi kesabaran, ketabahan, serta kekuatan dalam memecahkan segala permasalahan hidupnya yang sangat kompleks.

I’tikaf pada dasarnya dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu berapa lama yang disediakan. Imam Syafi’i menyebutkan bahwa i’tikaf sudah tercapai dengan cara berdiam di Masjid beberapa saat dengan niat yang suci dan tulus ikhlas karena Allah SWT.

Di dalam peri hidup Rasulullah SAW. diceritakan bahwa baginda Rasulullah SAW selalu melakukan i’tikaf pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan Ramadhan. Ketika itu baginda Rasulullah SAW memperbanyak membaca Alquran, serta berdoa kepada Allah SWT.

Anjuran i’tikaf di malam-malam akhir Ramadhan ini berkaitan erat dengan datangnya Lailatulqadar yaitu malam kemuliaan, karena beribadah pada malam itu dinilai lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah SAW bersabda: “Carilah (malam qadar) itu pada sepuluh akhir dari bulan Ramadhan” (HR. Ahmad dan Bukhari)

Malam qadar itu wajar saja di tunggu-tunggu oleh setiap muslim yang mendambakan kebaikan dan kebahagiaan dalam hidup di dunia dan akhirat. Namun perlu diingat bahwa Lailatulqadar hanya akan datang mengunjungi seseorang pada tingkat kesucian akhlak dan spritualitas yang terjaga baik.

Di lihat dari waktu datangnya lailatul qadar itu bukan di awal, melainkan di akhir Ramadhan. Didapat pelajaran besar bagi umat Islam bahwa menjelang berakhirnya puasa Ramadhan, tentu umat akan mencapai tingkat kematangan dan kesempurnaan jiwa, melalui ibadah puasa yang telah dilakukan. Umat muslim memiliki kesiapan mental untuk menerima kehadiran malam kemuliaan yang agung itu.

Dari sisi tempat penyambutannya adalah di Masjid dengan melakukan i’tikaf sebagai kegiatan ibadah menyambut datangnya lailatul qadar itu. Masjid adalah tempat suci yang diungkap dengan sebutan Bait Allah (rumah Allah) sebagai tempat dilakukan berbagai kebajikan. Masjid adalah tempat melepaskan diri dari berbagai hiruk-pikuk kehidupan dunia yang menyesakkan, dan meraih pencerahan iman dan rohani umat muslimin.

Sesungguhnya ibadah puasa dengan i’tikaf yang intensif pada sepuluh hari terakhir Ramadhan akan dapat mengantar umat Islam meraih lailatul qadar itu. Makna terkandung dalam lailatul qadar adalah perubahan hidup dari kegelapan menuju kehidupan yang terang-benderang di bawah petunjuk hidayah Allah SWT.

Melaksanakan i’tikaf adalah suatu ibadah sangat terpuji. Rasulullah SAW. bersabda: “Siapa yang beri’tikaf sehari demi mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala semata, maka Allah benkenan membuat antara dia dan api (neraka) tiga buah parit, tiap parit lebih jauh dari masyriq dan maghrib” (HR. Thabrani).

Semoga kita diberi peluang untuk melaksanakan i’tikaf di bulan suci Ramadhan penuh berkah ini, dengan harapan semoga Allah SWT memasukkan kita ke dalam golongan para muttaqien.

Amin ya mujiib as-sa iliina.



Membangun Dunia Akhirat
September 15, 2008, 9:50 pm
Diarsipkan di bawah: Uncategorized

Membangun Dunia Akhirat

 

Di dalam Islam, setip insan didorong agar memiliki ilmu pengetahuan yang cukup dan memadai. “Sesiapa saja yang menginginkan dunia dia akan peroleh dengan ilmu, sesiapa pula yang inginkan (kebahagiaan) akhirat, maka dia akan merebutnya dengan ilmu, bahkan yang menginginkan keduanya, juga hanya dengan ilmu”.(Al Hadist).     Menuntut ilmu pengetahuan adalah hak asasi bagi setiap Muslim, sesuai anjuran Rasulullah Shallallahu alihi wa salam. Di antara sabda beliau menyatakan,“Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga ke liang lahat”. (Al Hadist). Nilai ajaran Islam, tiada lain berintikan kewajiban belajar sepanjang hayat, sepanjang usia. Orang Minang sejak dahulu memulainya dari rumah tangga, kemudian kehidupan bersurau, sekolah, serta madrasah.

            Menambah ilmu pengetahuan tidak hanya terbatas pada batas wilayah negeri saja. Malah dianjurkan jika perlu dinegeri lain. “Tuntutlah ilmu walau di negeri Cina“. Begitu bimbingan Islam. Dorongan menuntut ilmu ini telah dicatat oleh sejarah di dunia. Agama Islam sejak awalnya telah mengubah sikap manusia melaluyi ilmu pengetahuan. Dari apatis, statis menjadi pribadi‑pribadi yang optimis dan dinamis. Hingga akhirnya, tidak dapat dipungkiri, Islam telah mendatangkan perubahan sikap bagi manusia yang setia menganut ajaran agamanya, mereka akan menjadi pintar, dinamis, kreatif, taat berdisiplin, yang sangat berguna untuk meraih kemajuan di dunia dan di akhirat.  

Dorongan kuat menuntut ilmu, yang diajarkan Islam, telah melahirkan pakar ilmu pengetahuan, seperti Avicienna (Ibnu Sina), Avierroes (Ibnu Rusyid), Al Khawarizmi (yang meninggalkan warisan teori tentang logaritma), dan lainnya. Ilmu pengetahuan saja sebenarnya belum mempunyai arti yang besar, sebelum ada usaha untuk mengamalkannya. Setinggi apapun ilmu pengetahuan belum mendatangkan manfaat, sebelum diaplikasi di dalam kenyataan hidup manusia. Ilmu hanyalah alat semata untuk mendapatkan atau menciptakan kebahagiaan hidup.

           

Dalam realitas hidup, ilmu dan amal itu melahirkan hikmah. Allah SWT mencela seseorang yang berilmu tetapi tak mau mengamalkan ilmunya. Ancaman Allah sangat keras, “Wahai orang‑orang yang beriman! Mengapa kamu ucapakan apa‑apa yang tiada kamu perbuat? Sangat dibenci oleh Allah, bahwa kamu ucapkan apa‑apa yang tiada kamu perbuat“. (QS. Ash Shaaf, 61 : 2‑3). Ayat ini bermakna bahwa ilmu tanpa amal akan mengundang bencana dan kutukan. Kualitas suatu ummat dilihat dari kemampuannya menerapkan ilmu pengetahuan mereka, atau pendayagunaan ilmu itu, dalam mengelola alam keliling hingga lebih bermanfaat dan bernilai guna. Juga ilmu yang diamalkan sangat berguna untuk menciptakan kesejahteraan ummat manusia secara umum, dengan amal usaha mereka sendiri.

            Kualitas ummat akan menurun jika mereka ditimpa penyakit enggan dan malas.         Suatu indikasi yang mulai menggejala di tengah generasi kini, keengganan itu ternyata ada. Hingga mengundang under employment (pengangguran tek kentara) di tengah masyarakat. Gejala itu lahir karena enggan membaca, enggan mendengar, enggan berkarya, dan enggan memanfaatkan waktu dan tenaga, akhirnya enggan mengolah alam keliling. Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan firmanNya. ”Allah tidak akan mengubah apa‑apa (keadaan, nasib, tingkat kehidupan) suatu kaum, hingga (lebih dahulu) kaum itu mengubah apa‑apa (yang ada) di dalam diri mereka. (QS. Ar Ra’du, 13 : 11). Mudah‑mudahan kita semua dapat meningkatkan pendayagunaan ilmu, alam, amal kita berdasarkan iman serta hidup berkualitas, dengan datangnya bulan Ramadhan ini. Insyaallah.

           Wassalam, Buya H. Mas’oed Abidin



Marhaban Ya Ramadhan
September 15, 2008, 9:39 pm
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Komentar, Sumatera Barat, Surau, Tauhidik

Marhaban Yaa Ramadhan

Selamat Datang Ramadhan

 

عَنْ سَلْمَانُ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قال: خَطَبَنَا رسول الله صلعم فِى آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شِعْبَانَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلُّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ مُبَارَكٌ شَهْرٌ فَيْهَ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مَنْ أَلْفِ شَهْرٍ شَهْرٌ جَعَلَ اللهُ صَيَامَهُ فَريِْضَةٌ وَ قَيَامَ لَيْلَهِ تَطَوُّعًا مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِى مَا سَوَاهُ وَ مَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فَيْهَ كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِى مَا سِوَاهُ وَ هُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ وَ الصَّبْرُ صَوَابُهُ الْجَنَّةُ وَ شَهْرُ المَوَاسَاةِ و َشَهْرُ يُزَادُ فَى رِزْقِ المُؤْمِنِ فَيْهَ مَنْ فَطَّرَ فِيْهَ صَائِمٍ كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنوُبْهِ وَ عِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ وَ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقَصَ مَنْ أَجْرِهَ شَيْءٌ قَالُوْا يَا رسول الله: لَيْسَ ُكلُّنَا يَجِدُ مَا يُفَطِّرُ صَائِمًا. فقال رسول الله: يُعْطِى الله هَذاَ الثوّاَبَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى ثَمْرَةٍ أو شَرْبَةٍ مَاءٍ أو مَذْقَةٍ لَبَنٍ. وَ هُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَ أَوْسَطُهٌ مَغْفِرَةٌ و آخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ فِيْهِ غَفِرَ اللهُ لَهُ وَ اعْتَقَهُ  مِنَ النَّارِ               وَ اسْتَكْثَرُوْا فِيهِ مِنْ أَرْبَعِ ِخصَالٍ: خَصْلَتَيْنِ  تَرْضُوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ خَصْلَتَيْنِ لاَ غِنَاءَ بِكُمْ عُنْهُمَا. فَأَمَّا الخَصْلتَـَانِ اللِّسَانِ تُرْضُوْنَ ِبِهمَا رَبَّكُمْ فَشَهَادَةُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إلا اللهُ وَ تَسْتَغْفِرُوْنَهُ وَ أَمَّا الخِصْلَتَانَ اللَّتَانِ  لاَ غِنَاءَ بكُِمْ عَنْهُمَا فَسْئَلُوْنَ الله الجَنَّةَ وَ تعَوُْدُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ وَ مَنْ سَقَى صَائِمًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ خَوْضِى شَرْبَةً لاَ يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الجَنَّةَ.

Diriwayatkan dari Salman r.a, dia berkata, “Rasulullah SAW. telah memberi khutbah kepada kami pada akhir bulan Sya’ban, kemudian beliau bersabda,

“Wahai manusia, sungguh telah dinaungi bulan yang agung lagi penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik pada seribu bulan. Bulan yang di dalamnya Allah telah menjadikan puasa sebagai fradhu dan bangun malam sebagai sunnat.

Barangsiapa yang mendekatkan diri di dalamnya dengan melakukan amalan sunnah maka (pahalanya) sepreti orang yang melakukan amalan fardhu pada bulan lainnya. Dan barangsiapa yang melakukan amalan fardhu di dalamnya, maka (pahalanya) seperti orang yang melakukan tujuh puluh amalan fardhu pada bulan lainnya.

Inilah bulan kesabaran dan pahala sabar adalah surga. Inilah bulan kasih sayang, bulan saat rezeki seorang mukmin ditambahkan.

Barangsiapa pada bulan tersebut memberi perbukaan kepada orang yang berpuasa maka ia akan menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapatkan pahala yang sama tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang itu.

Mereka berkata “Wahai Rasuluhan, tidak setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan untuk kepada orang yang berbuka puasa”.

Beliau bersabda, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi perbukaan puasa meskipun dengan sebutir kurma, seteguh air, atau sesisip (secuil) susu.

Inilah bulan yang awalnya penuh ramat, pertengahannya penuh ampunan, dan akhirnya penuh kebebasan dari api neraka.

Barangsiapa yang meringankan beban pembantunya pada bulan itu maka Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka.

Perbanyaklah pada bulan itu melakukan empat hal, dua di antaranya dapat membuat Tuhanmu Ridha, dan dua hal lainnya kamu pasti berhajat kepada-Nya.

Dua hal dapat membuat Tuhanmu ridha adalah bersaksi tiada tuhan selain Allah dan kamu mohon ampun kepada-Nya. Dua hal lagi pasti kamu berhajat padanya yaitu kamu mohon surga kepada Allah dan berlindung dari neraka.

Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum seteguk air di mana ia tidak akan merasa haus hingga masuk surga” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

 

عن أبى هُريرةَ رضى الله عنه أن رسول الله صلعم قال: الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثُ وَلاَ يَجْهَلُ و إنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنّىِ صَائِمٌ. وَ الذِي نَفْسِى بِيَدِهِ لَحُلُوْفٌ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ الله تعَاَلىَ مِنْ رِيْحِ الِمسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامهُ و شَرَابَهُ و شَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى، الصِّيَامِ لِى وَ أَتَا أَجْزِى بِهِ، وَ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a Bahwasanya Rasulullah SAW. pernah bersabda: “Puasa adalah perisai (dari api neraka). Maka, orang yang berpuasa janganlah berhubungan badan dengan istrinya atau berbuat jahil, dan apabila seseorang memaki atau mengajak berkelahi, katakanlah kepadanya, “aku sedang berpuasa”.

Nabi SAW menambahkan, “Demi dia yang menggenggam jiwaku, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari bau misk.

(Dan inilah perkatan Allah terhadap orang yang sedang berpuasa), ia tidak makan dan minum dan meninggalkan nafsunya karena Aku. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya, dan setiap kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat. (HR. Bukhari).

 

عن سَهْلٍ رضى الله عنه عن النبى صلعم قال: إِنَّ فِى الجَنَّةِ بَابًا يُفَالُ له الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ. يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ؟ فَيَقُوْمُوْنَ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا اُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

Diriwayatkan dari Sahl r.a Nabi SAW. pernah bersabda, “Ada sebuah pintu gerbang surga yang disebut Ar Rayyan, dan orang-orang yang berpuasa kelak pada hari kiamat akan masuk ke dalam surga melalui gerbang itu.

Ia (Ar Rayyan) akan berseru,

“Mana orang-orang yang berpuasa?”

Mereka (orang-orang yang berpuasa) pun bangkit dan semuanya masuk (ke dalam surga) melalui gerbang itu. Setelah mereka semua masuk, gerbang itu akan tertutup dan tidak ada seorangpun yang melaluinya lagi” (HR. Bukhari)

 



Musibah Datang Karena Lalai
September 15, 2008, 9:37 pm
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Komentar, Minangkabau, Surau, Tauhidik

Musibah Datang karena lengah

Firman Allah, “ Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami musibah melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami…” (Q.S. At Taubah: 51). Musibah adalah ujian yang datang dari Allah SWT. Pada hakikatnya setiap manusia tidak menginginkan datangnya musibah, baik musibah hilangnya harta benda, kecelakaan, ataupun kematian. Baik musibah itu berupa ujian besar maupun kecil belaka. Akan tetapi, maklumilah bahwa ujian itu senantiasa akan datang kepada semua manusia bimana waktu saja. Walau manusia berupaya lari daripada musibah itu, namun iapun akan tetap jua datang menghampirinya.

Buya Di Depan Bab Fahd Masjidil Haram

Ditinjau dari ketentuan dari Allah (taqdir), musibah terjadi atas izin dan ketentuan Allah semata. Tanpa izin dan ketentuan-Nya tidak mungkin musibah terjadi. Dipandang dari sisi kemanusiaan atau hukum kausalitas (sebab akibat), ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan Allah SWT mendatangkan musibah kepada makhluknya.

Pertama, karena manusia kurang peduli. Tidak mau bersedekah karena terlalu sayang terhadap hartanya Berkembangnya kebiasaan hidup kikir. Bersedekah sesungguhnya akan membawa keberkahan, dan menyebabkan terhindar dari musibah. Tidak dapat dimungkiri bahwa seorang yang senang bersedekah  akan dicintai dan didukung oleh masyarakat kelilingnya. Seorang yang cekil kedekut atau kikir, dengan harta maupun dengan tenaga, akan dijauhi oleh lingkungannya. Kebakhilan akan membuka jalan bagi datangnya musibah. Berkaitan dengan anjuran bersedekah ini Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah itu akan menutup tujuh puluh pintu keburukan (musibah).” (HR. Ath Thabrani). Allah SWT berfirman: “Apa saja yang telah kalian nafkahkan (infaqkan) Allah akan menggantinya”. (Q.S. As Saba’: 39)

Kedua, kurangnya bersilaturrahim atau malas menyambung tali persaudaraan. Silaturrahim adalah amal yang diwajibkan dalam ajaran Islam. Silaturahim mesti masuk ke dalam agenda hidup Silaturahim menumbuhkan kasih sayang di antara ummat. Dengan kasih sayang persaudaraan dan persatuan dapat dibina. Kedengkian dan kebencian dapat diobati dengan silaturahim. Segala macam bencana dapat dihindari dengan kuatnya persaudaraan. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezkinya dan dipanjangkan umurnya maka hubungkanlah tali silaturrahmi (persaudaraan).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, musibah datang karena melupakan Allah dan lalai atas perintah-perintah-Nya. Melupakan Allah, cepat ataupun lambat akan mengundang datangnya musibah. Allah SWT berfirman “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa.” (Q.S. Al An’am: 44) Na’udzubillah.

Keempat, bencana terjadi karena ulah tangan manusia belaka, seperti berbuat kerusakan, seperti penebangan hutan dan lain-lain. Ulah tangan manusia jua akan mengundang banjir, tanah longsor, bumi runtuh, ozon menipis. Peringatan Allah SWT dalam Al Quran-ul Karim pada surat Ar-Rum ayat 14 sedahlah jelas sekali.

Di dalam menghadapi musibah ini manusia terbagi kepada beberapa golongan. Ada  golongan yang selalu dilindungi oleh Allah SWT. Golongan ini senantiasa berjalan lurus meniti jalan Allah, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Bahkan di setiap keadaan senantiasa berusaha bersama dengan Allah. Meyakini bahwa tiada daya dan upaya melainkan hanya dengan izin Allah SWT. Golongan ini akan mendapatkan perlindungan Allah dari semua musibah yang datang.

Ada kelompok yang manakala dalam keadaan sehat, senang dan lapang lupa kepada Allah. Ketika dikepung cobaan, mereka bersujud kembali bertaubat kepada Allah, dengan sadar, dengan memasrahkan diri bertaubat nashuha dan menyesali kelalaian mereka selama ini. Insya Allah akan mendapat keampunan dari Allah Azza wa Jalla.

Ada pula kelompok yang melupakan Allah SWT tatkala senang dan mengingatnya tatkala susah saja. Manakala kesusahan telah berlalu mereka kembali ke kesesatan.  Melupakan sama sekali apa-apa yang pernah berlaku sebelumnya. Kelompok ini termasuk ke dalam orang-orang musyrik, sebagaimana dijelaskan Allah dalam Al Quran surat Yunus (10), ayat 22 dan 23.

Ada kelompok paling buruk. Hatinya mengeras seperti batu. Walaupun berbagai bencana dan musibah telah datang, namun mereka tidak hendak bermohon ampun kepada Tuhannya. Mereka malas berkata, “ Wahai Rabb-ku ! ”. Mereka tidak mau mengambil pelajaran dari musibah yang ditimpakan. Mereka menganggap semuanya ini semata karena pergantian masa dan perputaran alam sahaja Mereka menganggap semua yang terjadi tidak ada campur tangan Allah padanya. Kelompok ini adalah orang kafir.

Yakinilah bahwa musibah yang datang dapat menjadi teguran, dan bisa pula menjadi azab dari Allah. Musibah sebenarnya  untuk menyadarkan manusia akan kelalaiannya dan memberi ingat manusia agar kembali dan segera sadar ke jalan Allah. Marilah kita senantiasa hindari semua musibah dengan mendekatkan diri dan taat kepada Allah SWT.

Bulan Ramadhan adalah bulan latihan bagi manusia beriman untuk mengamalkan keikhlasan di dalam mengendalikan nafsu syahwat, makan dan minum, semata-mata karena mengharapkan redha Allah saja. Allahu a’lam bissawab

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh,

Buya H. Mas’oed Abidin