Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Mukaddimah
Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya, atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an). Dan, jangan menjadi kelompok keempat, yang tidak memiliki aktifitias keilmuan sama sekali. Yakni, tidak mengajar, tidak pula belajar, serta enggan untuk mendengar”.
Peran Guru di tengah umat dan anak didiknya, adalah sesuatu pengabdian mulia, dan tugas sangat berat. Mereka adalah pelopor pembangunan (agent of changes). Bekal utamanya adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT, hidup beradat, berakhlaq mulia. Inilah, yang menjadi program utama di dalam pendidikan anak usia dini (PAUD).
Tugas itu berat. Umat hanya mungkin dibentuk melalui satu proses pembelajaran, dengan pengulangan terus menerus (kontiniutas), pencontohan (uswah) yang baik. Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dan semangat yang prima.
Kemuliaan seorang guru (pendidik) terpancar dari keikhlasan membentuk umat dan anak manusia menjadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, mengamalkan ilmunya, untuk kebaikan diri sendiri, keluarga, dan kemaslahatan umat, di kelilingnya, serta mempunyai ibadah yang teratur, shaleh pribadi, dan shaleh social, dengan tauhid yang istiqamah.
Keberhasilan murabbi (guru) akan banyak didukung oleh kearifan, yang dibangun oleh kedalaman pengertian, pengalaman dalam membaca situasi, serta upaya dan kondisi yang kondusif di sekitarnya.
tantangan di abad ke 21
Alaf Baru ditandai oleh, (a). mobilitas serba cepat dan modern, (b). persaingan keras dan kompetitif, (c). komunikasi serba efektif, dalam satu global village, dan (d). Akibatnya, banyak ditemui limbah budaya kebaratan (westernisasi).
Alaf baru ini hadir dengan cabaran global yang menuntut keteguhan, dalam menghadapi tantangan yang berjibun banyaknya, di antaranya infiltrasi budaya sekularis yang menjajah mentalitas manusia, the globalization life style meniru sikap yahudi, suburnya budaya lucah (sensate culture), menjauh dari adat budaya luhur, pemujaan nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sensual, erotik, seronok, ganas semata mengejar kesenangan badani, kebiasaan miras, pergaulan bebas, kecanduan madat dan narkoba.
Menghadapi tantangan ini, semua elemen masyarakat berkewajiban mempersiapkan generasi yang siap bersaing dalam era global tersebut, dengan sibghah yang nyata, melalui pendidikan anak pada usia dini.
Penyimpangan perilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak. Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja.
Penyebab utama di antaranya, rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan, hilangnya tokoh panutan, berkembangnya kejahatan di kalangan orang tua, luputnya tanggung jawab lingkungan dan masyarakat, impotensi di kalangan pemangku adat, hilangnya wibawa ulama, dan suluah bendang di nagari, bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis, dan profesi da’i, guru, dan suluah bendang, dilecehkan.
Perilaku umat juga berubah
Interaksi dan ekspansi kebudayaan dari luar, bergerak secara meluas. Pengaruh budaya asing berkembang pesat, seperti pengagungan materia secara berlebihan (materialistik), pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik), pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik).
Perilaku di atas merupakan penyimpangan sangat jauh dari budaya luhur. Pada akhirnya, melahirkan Kriminalitas, perilaku Sadisme, dan Krisis moral, secara meluas.
Perubahan dalam hidup beradat juga telah merambah Minangkabau.
Adat ndak dipacik arek, agamo ndak dipagang taguah.
Fakta menunjukkan bahwa adat tidak berdampak banyak terhadap generasi muda. Tempat bertanya tidak ada, Sudah banyak yang tidak mengerti adat. Karena itu, generasi muda di Nagari mulai kebingungan.
Manakala problematika sosial ini lupa mengantisipasi melalui gerakan dakwah, melalui Pendidikan Anak Usia Dini berbasis aqidah, maka arus globalisasi ini membawa perubahan yang negatif.
Terutama pada perilaku generasi, akan menjadi dzurriyatan dhi’afan, atau menjadi “X-G” the loses generation, yang hilang keseimbangan.
Hilangnya keseimbangan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, yang menyebabkan timbulnya berbagai krisis.
Perilaku luhur akan bergeser, dan menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat. Maka sekolah atau pendidikan berbasis aqidah, mesti menjadi cerminan idealitas masyarakat yang mempertahankan pembelajaran budi akhlak.
Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi, aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.
Salah satu solusi untuk mengatasi problematika keumatan ini, adalah dengan melaksanakan pendidikan aqidah pada anak usia dini (PAUD), dengan menambah ilmu, menguatkan amal, menanamkan akhlak, menjaga ibadah dan karakter umat, dengan berpedoman wahyu Allah SWT.
Pendidikan aqidah dan akhlaq, membawa umat kepada bertaqwa. Janji Allah SWT sangat tepat, ” apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi.“
“ Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.7,al-A’raf:96).

Menghidupkan Antisipasi Umat
Umat mesti diajak mengantisipasi perkembangan global agar tidak menjadi kalah.
Dalam persaingan dimaksud, beberapa upaya mesti disejalankan dengan ;
a. Memantapkan watak terbuka,
b. Pendidikan aqidah tauhid,
c. Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar,
d. Integrasi moral yang kuat,
e. Memiliki penghormatan terhadap orang tua,
f. Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan,
g. Pendalaman ajaran agama tafaqquh fid-diin, berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam yang universal tafaqquh fin-naas.
h. Perhatian besar terhadap masalah sosial atau umatisasi,
i. Memacu penguasaan ilmu pengetahuan,
j. Kaya dimensi dalam pergaulan rahmatan lil ‘alamin,
k. Iman dan ibadah, menjadi awal dari ketahanan bangsa.
Ketahanan umat dan bangsa, pada umumnya terletak pada kekuatan ruhaniyah,
keyakinan agama dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan.
Intinya adalah tauhid. Implementasinya akhlaq.
Program pendidikan anak usia dini (PAUD) dapat dilakukan dengan nuansa surau.
Surau adalah suatu institusi yang khas dalam masyarakat Minangkabau. Fungsinya bukan sekedar tempat sholat. Juga sebagai tempat pendidikan dan tempat mendapat pengajaran bagi anak muda.
Banyak tokoh-tokoh besar di Minangkabau lahir dari surau.
Pengelolaan pendidikan bernuansa surau, pada masa sekarang bisa dihidupkan kembali.
Esensi dan semangatnya lewat menggerakkan kebersamaan anak Nagari.
Para pendidik mesti tampil mengambil peran, karena ada gejala, adat tidak memberi pengaruh yang banyak terhadap generasi muda di Minangkabau, dan adanya tendensi bahwa generasi tua, terlihat kurang pula memberikan suri teladan.
Akibatnya, generasi muda jadi bersikap apatis terhadap adat itu sendiri.
Peran para pendidik mesti membentuk watak Generasi Sumatera Barat, sesuai petatah yang berbunyi, “Indak nan merah pado kundi, indak nan bulek pado sago, Indak nan indah pado budi, indak nan elok pado baso. Anak ikan dimakan ikan, gadang di tabek anak tanggiri, ameh bukan pangkaik pun bukan, budi sabuah nan diharagoi. Dulang ameh baok balaie, batang bodi baok pananti, utang ameh buliah bababie, utang budi dibaok mati.”
Ada enam unsur yang diperlukan untuk membentuk masyarakat yang mandiri dan berprestasi, melalui harakah dakwah, dalam pendidikan bernuansa surau ;
1. IMAN, 2. ILMU, 3. Kerukunan, Ukhuwah dan Interaksi, 4. Akhlaq, Moralitas sebagai Kekuatan Ruhiyah, 5. Badunsanak, sikap Gotong royong (Ta’awun), 6. Menjaga Lingkungan sebagai Social Capital, menerapkan Eko Teknologi.
Kegiatan Pendidikan Anak Usia DINI (PAUD), mesti dijadikan upaya pembinaan karakter anak, dengan berbasis nilai-nilai agama, yang akan menjadi pagar adat dan syarak, dalam menghadapi krisis identitas, sebagai akibat dari perubahan dalam nilai – nilai adat.
mengajak, mendidik, dan mengamalkan Islam
Peran Guru atau Murabbi dalam mendidik anak sejak usia dini adalah ibarat Suluah Bendang di tengah umat, yang dilaksanakan dengan keikhlasan sebagai satu pengabdian mulia dan tugas berat.
Keikhlasan membentuk umat jadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, beramal baik, membina diri, kemashlahatan umat, dan keluarga, menjadi panutan dan ikutan, ibadahnya teratur, shaleh peribadi dan sosial, beraqidah tauhid yang shahih dan istiqamah.
Pendidikan anak sejak usia dini ini, tidak terlepas dari upaya menyiapkan satu generasi yang beradab, berakhlaq, berakidah dan berprestasi, melalui ;
Ø Membudayakan Wahyu Al Quran dalam memakaikan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah, melalui pendidikan dan pelatihan-pelatihan,
Ø Implementasinya, dalam perilaku anak berakidah, dan berakhlaq, dalam kerangka lebih luas, menghidupkan dakwah membangun negeri.
Perintah untuk melaksanakan tugas-tugas da’wah itu, secara kontinyu atau terus menerus, dan sambung bersambung.
Pelaksana Dakwah adalah setiap Muslim
Setiap mukmin adalah umat da’wah pelanjut Risalah Rasulullah yakni Risalah Islam. Umat dan para murabbi (pendidik) mesti berupaya sekuat tenaga untuk meneladani pribadi Muhammad SAW, dalam membentuk effectif leader dengan mengamalkan inti dan isi Agama Islam, yakni akhlaq Islami, Aqidah tauhid yang shahih, kesalehan, dan keyakinan kepada hari akhirat, ”Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab, 33 : 21).
Islam Mendidikkan Kepribadian
Uswah atau contoh tauladan terpuji, melukiskan kesan positif dalam mayarakat. Alat canggih teknologi modern tidak dapat mengambilalih peran orang tua dalam uswah. Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap pribadi seseorang anak, sejak usia dini, dengan menanamkan laku perangai (syahsiah), yang mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seorang[3]
Sahsiyah Murabbi membawa Keberhasilan Pendidikan ISLAM
Tidak diragukan lagi bahwa guru – murabbi, muallim, – yang punya kepribadian baik serta uswah hidup yang terpuji akan mampu melukiskan kesan positif dalam diri anak didik mereka.
Alat teknologi modern walau bagaimanapun canggihnya tidak akan dapat mengambil alih peranan guru. Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pembentukan dan pematangan sikap pribadi para anak didik dan menanamkan laku perangai — syahsiah — murid. Tegasnya sahsiah mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang [4]
Ciri Utama atau Syahsiah (شخصية) itu bermakna pribadi atau personality, yang menggambarkan sifat individu yang merangkum padanya gaya hidup, kepercayaan, harapan, nilai, motif, pemikiran, perasaan, budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak seseorang.[5]
Banyak kajian telah dibuat tentang sifat-sifat yang perlu ada pada seorang guru (murabbi, mu’allim) yang baik dan akan menghasilkan kesan mendalam pada proses pengajaran yang mereka sampaikan.[6] Karena itu, sifat dan ciri guru muslim hendaklah merangkum :
A. Sifat Ruhaniah dan Akidah
1. Keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna
2. Keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, hari berbangkit dan hari pembalasan
3. Kepercayaan kepada seluruh para Rasul di iringi dengan sifat dan asas keimanan (arkan al iman) yang lain.
B. Sifat-Sifat Akhlak
1. Benar dan jujur
2. Menepati janji dan Amanah
3. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan
4. Merendah diri – tawadhu’ –
5. Sabar, tabah dan cekatan
6. Lapang dada – hilm –, Pemaaf dan toleransi
7. Menyayangi murid, mengutamakan kepentingan orang banyak dengan sikap pemurah, zuhud dan berani bertindak.
C. Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani
1. Sikap Mental
· Cerdas (Kepintaran teori, amali dan sosial), menguasai mata anak didikan takhassus
· Luas pengetahuan umum dan ilmiah yang sehat
· Mengenal ciri, watak, kecenderungan dan keperluan murid, fasih, bijak dan cakap di dalam penyampaian
2. Sifat Kejiwaan
· Tenang dengan emosi mantap terkendali, optimistik dalam hidup, penuh harap kepada Allah dan tenang jiwa bila mengingatiNya.
· Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat, lemah lembut dan baik dalam pergaulan
· Berfikiran luas dan mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat
3. Sifat Fisik
· Sehat tubuh dan badan dari penyakit menular
· Berperawakan menarik, bersih, rapi (kemas) dan menyejukkan.
Berapa penilitian di beberapa negara maju terdapat daftar sikap yang diinginkan ada pada para murabbi (guru) :
· Berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), mampu menguraikan anak didikan dengan jelas, berdisiplin, amanah dan menunaikan janji,
· Mempunyai sahsiah yang dihormati, berkemauan yang kuat, berbakat kepimpinan yang tinggi, berpengetahuan umum yang luas, bersikap menarik dan bersuara yang merangkul dan mendidik,
· Pandai memberi nasihat, simpati terhadap kelemahan murid, pandai memilih kata-kata, tanggap dengan suasana murid di rumah, dan mengujudkan sikap kerjasama, serta bersemangat riadah dan kedisiplinan
Guru muslim (murabbi) yang mempunyai sahsiah yang baik ialah guru yang mengamalkan etika keguruan Islam yang standard dan mempunyai personaliti yang baik.
Etika Guru Muslim
Etika pendidik Islam yang profesial, memiliki beberapa tanggung jawab yang dapat diawali oleh kemauan dari dalam diri guru dan kemudian dapat ditukuk tambah oleh khalayak pendidik dan dihayati sebagai suatu etika profesi keguruan, antara lain ;
1. Tanggungjawab Terhadap Allah
Etika guru muslim terhadap Allah ialah :
1. Senantiasa memantapkan keyakinan kepada Allah dengan ibadah.
2. Bersifat istiqamah, dengan semangat berbakti dan beramal soleh.
3. Wajib menghayati rasa khusyuk, takut dan harap kepada Allah, dan selalu bersyukur kepada Allah di samping selalu berdoa kepadaNya dengan membaca ayat-ayat Allah dan merendahkan diri kehadratNya.
2. Tanggungjawab Terhadap Diri
1. Guru muslim hendaklah memastikan keselamatan diri sendiri, mencakup aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih diri, pakaian, dan tempat tinggal.
2. Memahami kekuatan dan kelemahan diri untuk boleh dimanfaatkan serta ditingkatkan dari segenap aspek dan dapat berkhidmat sebanyak mungkin kepada Allah, masyarakat dan negara.
3. Melibatkan diri dengan program dan agenda yang dapat meningkatkan kualiti profesi seorang guru.
3. Tanggungjawab Terhadap Ilmu
1. Memastikan penguasaan ilmu takhassus secara mantap dan mendalam, bercita dan berbuat — iltizam — dengan amanah ilmiah.
2. Sunguh-sungguh mengamalkan ilmu yang dimiliki dan mengembangkan untuk dianak didiki, dan selalu mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan terbaru dalam rangkaian pembelajaran ilmu berkaitan.
3. Sepanjang masa menelusuri sudut atau dimensi spirituality Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan.
4. Tanggungjawab terhadap Profesi
1. Seorang guru tidaklah boleh bertingkah laku yang mencemarkan sifat profesinya yang berakibat kurangnya kepercayaan orang ramai terhadap profesi perguruan.
2. Guru bertugas sebagai pengganti ibu bapa dalam usaha membentuk tingkah laku anak didiknya ke arah sikap perangai yang diterima oleh masyarakat, dan menumpukan perhatian terhadap keperluan setiap anak didiknya.
3. Dia haruslah mendidik dan mengambil tindakan secara adil terhadap semua anak didik, tanpa membedakan tempat asal keluarga, intelek, akademik dan status-status lain.
5. Tanggungjawab Terhadap anak didik
1. Guru muslim hendaklah lebih mengutamakan kebajikan dan keselamatan anak didiknya.
2. Bersikap adil terhadap, tanpa membedakan faktor-faktor jasmani, mental, emosi, politik, ekonomi, sosial, keturunan dan agama anak didiknya.
3. Menampilkan suatu cara pakaian, pertuturan dan tingkah laku yang dapat memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya.
6. Tangungjawab Terhadap Rekan Sejawat
1. Guru muslim senantiasa berusaha dengan sepenuhnya menunaikan tanggungjawab dengan rajin dan bersungguh-sungguh dan mengekalkan kemajuan ikhtisas dan sosial.
2. Senantiasa bersedia membantu rekan sejawat terutamanya mereka yang baru dalam profesi perguruan.
3. Mawas diri dan tidak mencemarkan nama baik profesi pendidik.
7. Tanggungjawab terhadap masyarakat dan Negara
1. Mengelakkan diri daripada meyebarkan sesuatu ajaran yang dapat merusak kepentingan anak didik, masyarakat atau negara, ataupun yang dapat bertentangan dengan aturan bernegara.
2. Memupuk dalam diri setiap anak didik sikap dan nilai yang dapat membantu dan membimbing mereka untuk menjadi warga negara yang taat setia, bertanggungjawab dan berguna, menghormati orang-orang yang lebih tua dan menghormati adanya perbedaan kebudayaan, keturunan dan agama.
3. Menghormati masyarakat tempat mereka berkhidmat dan memenuhi segala tanggungjawab sebagai seorang warganegara dan senantiasa sanggup mengambil bahagian dalam sebarang kegiatan masyarakat. Berpegang kepada tingkah laku yang sopan yang diterima oleh masyarakat dan menjalani kehidupan harian dengan baik.
8. Tanggungjawab Terhadap Ibu Bapa dan rumah tangga
1. Menghormati tanggungjawab utama ibu bapa terhadap anak-anak mereka.
2. Berusaha mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.
3. Menganggap semua maklumat yang diberikan oleh ibu bapa mengenai keadaan rumahtangga atau anak mereka sebagai sulit dan tidak akan membocorkannya kepada sesiapa kecuali kepada mereka yang berhak mengetahuinya.
Keberhasilan Pendidikan Islam
Meskipun ciri dan sahsiah guru yang baik telah dicapai namun itu tidak pula bermakna pengajaran mereka dengan sendirinya berkesan.
Pengajaran yang disampaikan oleh guru akan berkesan atau tidak, amat bergantung kepada beberapa faktor yang berkaitan degan proses belajar dan mengajar yang menjadi hubungan erat antara guru dan anak didiknya.
Tantangan yang dihadapi oleh para guru dalam mengajar murid-murid zaman ini bukanlah suatu yang mudah.
Guru berhadapan dengan kenakalan remaja yang semakin serius.
Ibu bapa harus ikut serta dalam memudahkan kerja guru-guru di sekolah.
Masyarakat juga wajib memainkan peranan sebagai pendukung keberhasilan guru dalam pembelajaran terhadap murid-murid mereka. Tanpa kerjasama semua pihak proses pendidikan tidak akan berjaya menghasilkan generasi yang baik.
Membentuk Generasi Masa Depan
Perkembangan kedepan banyak ditentukan oleh peranan generasi penerus dengan ruang interaksi yang jelas. Pendidik harus menjadi agen sosialisasi yang menggerakkan kehidupan masa depan lebih baik. Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap;
a. individu yang berakhlak, berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, daya kreatif dan innovatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.
b. memahami nilai‑nilai budaya luhur, punya jati diri yang jelas, generasi yang menjaga destiny, motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan,
c. memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, mempunyai motivasi dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.

Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.
Pendidikan anak usia dini, akan berperan membentuk mental umat – dengan FAST -, satu ranah ruhani yang memiliki kekuatan ;
q Fathanah (Ilmiah),
q Amanah (jujur),
q Amaliyah (transparan),
q Shiddiq (lurus),
q Shaleh (Yakin terhadap akhirat),
q Setia (ukhuwah mendalam),
q Tabligh (Dialogis),
q Tauhid (Percaya kepada Allah),
q Taat (Disiplin),
Generasi baru harus mampu mencipta, menjadi syarat utama keunggulan. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.
Generasi muda harus dibina menjadi umat dakwah, dengan memiliki budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi, yakni nilai-nilai agama Islam.
Generasi masa depan (era globalisasi) mesti Memiliki ; budaya luhur (tamaddun), berpaksikan tauhidik, kreatif dan dinamik, memiliki utilitarian ilmu berasaskan epistemologi Islam yang jelas, tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan).

Pendidikan dikembangkan sejak usia dini si anak, dengan menekankan pada pendidikan akhlak, budi pekerti, dengan tujuan yang jelas ;
ü Menghambat gerakan-gerakan yang merusak Islam.
ü Menimbulkan keinsafan tentang perlunya adil sesuai syara’ Islam.
ü Melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya satu sama lain.
ü Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan. Akhlak karimah adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah dalam menerima ilmu lainnya, dan membimbing umat kearah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh (baik).
Akhlak, adalah jiwa pendidikan, Inti ajaran Agama, dan buah keimanan.
Bahasa Dakwah adalah Bahasa Kehidupan
Mendidik tidak dapat dipisah dari satu gerakan dakwah. Menggalang saling pengertian, koordinasi sesamanya mempertajam faktor-faktor pendukungnya, membuka pintu dialog persaudaraan (hiwar akhawi), untuk membentuk efektif leader, mencontoh peribadi Rasulullah SAW, menjadi satu kunci keberhasilan da’wah Risalah.
Aktualisasi dari nilai-nilai Al-Qur’an itu, hanya bisa diwujudkan dengan gerakan amal nyata yang berkesinambungan (kontinyu), dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia, melalui kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (da’wah) , merapatkan potensi barisan (shaff), mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama (jamaah).
Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu dan kepada lingkunganmu” (Al Hadist), dan perbaikan kualitas lingkungan, keluarga, hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang berkesinambungan.
Pendidikan usia dini ini tidak akan berhenti dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang senantiasa berubah, dengan tujuan utama membentuk generasi pintar, berilmu, dan berbudaya dengan akhlaq karimah.
Pemberdayaan masyarakat menuntut adanya manajemen pendidikan yang lebih accountable, terorganisir, sehingga menjadi viable (dapat hidup terus, berjalan, bergairah, aktif dan giat) dan juga durable (dapat tahan lama) sesuai perubahan dan tantangan zaman.
Pengembangan pendidikan berkualitas (quality oriented), akan mendorong lahirnya umat yang mempunyai ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama plus keterampilan, dengan aqidah tauhid yang istiqamah.
Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber-sumber belajar di dalam masyarakat menjadi bagian integral dari masyarakat Muslim secara keseluruhan.

Dengan pengembangan dakwah ini, maka surau dan masjid, dapat menjadi core, atau inti, mata dan pusat dari learning society, masyarakat belajar. Sasarannya, agar lahir umat dakwah yang terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah masyarakatnya.
Setiap Muslim harus ‘arif, dalam menangkap setiap pergeseran yang terjadi karena perubahan zaman ini, juga menjanjikan peluang‑peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77).
Kekuatan Tauhid
Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid (yang mengabdi kepada Allah) dalam arti luas mampu melaksanakan ajaran syar’iy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, menjadi manusia mandiri (self help), sesuai eksistensi manusia itu di jadikan.[7] Manusia pengabdi (‘abid) adalah manusia yang tumbuh dengan aqidah Islamiyah yang kokoh.
Aqidah Islamiah adalah sendi fundamental dinul Islam, Aqidah adalah langkah awal untuk menjadi muslim. Aqidah adalah keyakinan bulat, tanpa ragu dan bimbang, Aqidah membentuk watak manusia Patuh dan taat, sebagai bukti penyerahan total kepada Allah.
Aqidah menuntun hati manusia kepada pembenaran kekuasaan tunggal Allah secara absolut. Aqidah ini membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.[8]
Manusia berjiwa bersih (muthmainnah) selalu memenuhi janjinya terhadap Allah, dan melaksanakan semua perintah Allah secara konsekwen.[9]
Konsistensi, atau ke-istiqamah-an membentuk manusia patuh dan taat dalam mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus ibarat akar dengan pohonnya.[10] Maka hakikinya tanpa aqidah tidak ada artinya seorang muslim. Aqidah Islamiyah ialah Iman kepada Allah dengan mengakui eksistensiNya (wujudNya).
Ibadah bermakna secara konsisten penuh keikhlasan melaksanakan perintah-perintah Allah tanpa reserve. Konsistensi aqidah tauhid bersedia meninggalkan apa saja bentuk larangan dari Allah, dengan sikap ketaatan dan disiplin diri, karena mencari redha Allah.
Sikap tawakkal adalah konsekwensi dari ikhtiar dan usaha sesuai keyakinan tauhid.
Tawakkal dan ikhtiar usaha selalu jalan seiring.
Keduanya berjalin berkulindan merupakan mekanisme terpadu dalam kerangka kekuasaan Allah Yang Maha Agung.
Keyakinan tauhid mengajarkan kesadaran mendalam bahwa Allah selalu ada di samping manusia.
Keyakinan tauhid mampu menepis rasa takut dan menghapus gentar dalam menghadapi resiko hidup. Hilangnya aqidah tauhid melahirkan fatalistis atau bersikap apatis dan pesimis.
Keyakinan tauhid, adalah kekuatan besar dari energi ruhaniah yang mendorong manusia untuk hidup inovatif.
Membangun SDM menjadi SDU
Kita berkewajiban membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi Sumber Daya Umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas.
Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para pendidik, seperti ; pemurnian wawasan fikir, kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang, dan pendalaman spiritual religi.

Menguatkan solidaritas beralaspijak kepada iman dan adat istiadat luhur, “nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.
Khatimah
1. Menetapkan langkah kedepan ;
a. pembinaan human capital dengan keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan,
b. pembinaan generasi yang memiliki jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif.
c. mengasaskan agama dan akhlak sebagai dasar pendidikan pada anak sejak usia dini.
d. mencetak anak-anak muslim berilmu yang benar, beriman taqwa.
e. membina wawasan yang menyatu dengan akidah, budaya bangsa, dan bahasa.
f. mewujudkan masyarakat yang berasas keadilan sosial yang jelas.
2. Mengokohkan pegangan umat dengan keyakinan dasar Islam sebagai suatu cara hidup yang komprehensif.
3. Menyebarkan budaya wahyu di atas kemampuan akal.
4. Meyakini Peran krusial Ajaran Islam, bahwa kemenangan hanya disisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.8, Al-Anfal : 9-10).
5. Generasi penerus harus taat hukum, dapat dilakukan dengan cara ;
a. memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga,
b. memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ,
c. pemeranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif,
d. memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung jawab patah tumbuh hilang berganti
e. menanamkan aqidah shahih (tauhid), dan istiqamah pada agama yang dianut,
f. menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.
g. menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah
h. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam
i. melazimkan musyawarah dengan disiplin, sebagai nilai puncak budaya Islam yang benar.
Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya. Sesuatu akan selalu indah selama benar. Demikianlah semoga Allah senantiasa Meridhai.
Kayu Tanam, September
[1] Disampaikan dalam Pelatihan Pendidikan PAUD se Sumatera Barat, pada tanggal 9 s/d. 13 Januari 2008, di Gedung Pusdiklat Bhakti Bunda Sumatera Barat, di Jl. Asahan No.2, Komplek GOR H. Agus Salim, Padang., Sumatera Barat.
[2] Ketua Umum BAZ Sumbar, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar, Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar, dalam Pelatihan Pendidikan PAUD di Sumatera Barat, pada tanggal 1 s/d. 4 September 2007, di Kompleks Sekolah ITI/INS Kayu Tanam 1926, di Jl. Raya Padang Bukit Tinggi, Km.53, Kayutanam – 25585, Sumatera Barat.
[3] Sahsiah mempunyai tiga ciri utama. Pertama ialah keunikan dengan maksud tersendiri. Kedua kebolehan atau kemampuannya untuk berubah dan diubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman. Ketiga ialah organisasi. Dengan perkataan lain ia bukan sekadar himpunan tingkahlaku sebaliknya ia melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.
[4] Sahsiah mempunyai tiga ciri utama. Pertama ialah keunikan dengan maksud tersendiri. Kedua kebolehan atau kemampuannya untuk berubah dan diubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman. Ketiga ialah organisasi. Dengan perkataan lain ia bukan sekadar himpunan tingkahlaku sebaliknya ia melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.
[5] G.W Allport dalam bukunya ”Pattern and Growth in Personality”, mendifinisikan sahsiah sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psikofisikal di dalam diri seorang individu yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus. Sistem psikofisikal merangkumi segala-gala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh badan, urat saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang ( Mok Soon Sang, 1994:1).
[6] Menurut Prof Omar al-Toumi al-Syibani
[7] Lihat QS.adz-Dzariat, : 57.
[8] Lihat QS.89:27, dan QS.13:20-24
[9] Sesuai bimbingan dalam QS.6:82.
[10] Lihat QS.14:24-25.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Ikhlas dan Thaat adalah Jihad Besar
Ramadhan adalah bulan sabar, dan sabar itu balasannya adalah Jannah. Sesungguhnya mengamalkan sabar bukanlah pekerjaan ringan dan menjadi bagian dari upaya jihad.
JIHAD adalah satu keberanian dan kemampuan dalam mengendalikan diri. Rasulullah SAW bersabda; “Seseorang tidak dikatakan pemberani karena melompati musuh di medan laga. Tetapi orang yang berani berjihad itu adalah yang mampu menahan diri ( artinya,memiliki ke‑sabaran)” (Al Hadist).
Berani dengan perhitungan (iman dan ihtisab) adalah bukti sebuah kesabaran. Perhitungan matang di topang oleh ketabahan dan kemampuan menahan diri akan membawa seseorang untuk bertindak benar.
Berpegang teguh kepada kebenaran (haq dari Allah) akan membuahkan keberanian dalam bertindak dan akhirnya bersedia untuk berjuang mempertahankan kebenaran itu.
Kesabaran adalah kemampuan mengendalikan diri dan semestinya menjadi pakaian perilaku para pimpinan dalam mengemban tugas-tugasanya. Menumbuhkan kesabaran adalah kerja besar dan berat, suatu “jihad akbar”, atau “perjuangan yang berat”.
Sejarah mencatat peristiwa besar di bulan Ramadhan dari Perang Badar di mana banyak para syuhada menjadi syahid. Rasulullah SAW mengatakan ketika itu, “Kita baru saja keluar dari jihad (perang) yang kecil dan akan memasuki jihad (perang) yang lebih besar lagi” (Al Hadist).
Pernyataan Rasulullah SAW ini menimbulkan tanya keheranan para sahabat pengikut Rassulullah yang mohon di jelaskan; “MANA LAGI PERANG (JIHAD) YANG BESAR ITU, WAHAI BAGINDA RASUL?”.
Mengingat banyaknya korban ini para sahabat yang mengalami sendiri perang itu menilai sebagai satu perang paling akbar yang pernah mereka rasakan. Tapi Rasulullah SAW menyebutnya sebagai perang kecil saja. Baginda Rasulullah SAW merumuskan “JIHADUL AKBAR, JIHADUN NAFSI”(Al Hadist), artinya “Jihad (perang) yang besar itu, adalah perang mengalahkan nafsu”, maknanya kemampuan mengendalikan diri.
Pengendalian diri dalam arti mendalam adalah kemampuan suatu bangsa tegak pada prinsip kebangsaan yang telah disepakati bersama, teguh bertindak dengan sikap patriotisme yang mendalam berakar pada kemampuan untuk mandiri dan tidak banyak tergantung dari kendali orang luar. Di sinilah suatu jihadul akbar yang berawal dari perjuangan mengendalikan diri.
Arena latihannya adalah ibadah shaum atau ibadah puasa. Shaum atau puasa itu, di awali dan di akhiri oleh “pengendalian diri”. Di mulai sejak sahur sampai datangnya waktu berbuka dengan imsak atau menahan. Kerelaan menahan sampai datang waktu dibolehkan berbuka merupakan latihan disiplin yang tinggi. Inilah bagian dari pengendalian diri yang utuh.
Sebuah latihan, hanya bisa dilihat hasilnya setelah masa latihan terlewati.
Keberhasilan melaksanakan puasa (shaum) terlihat berbekas, jika mampu melahirkan sifat‑sifat disiplin dalam mengendalikan diri, baik selama atau sesudah Ramadhan pergi. Makin tinggi nilai latihan makin lama bekasnya di dalam diri.
Masa depan sangat memerlukan manusia yang berkualitas. Memiliki disiplin yang tinggi dalam setiap kondisi. Kita amat memerlukan bangsa yang tangguh dan ampuh dalam menjalankan misi pembangunan di segala bidang. Diperlukan sumber daya manusia yang rela menahan diri, berhemat, sanggup memikul beban bersama dan memiliki rasa solidaritas (ukhuwah) yang mendalam.
Semuanya hanya bisa diciptakan, melalui latihan kebersamaan dan disiplin yang terus menerus. Kesempatan ini dibukaan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melalui ibadah puasa (shaum) di bulan Ramadhan ini.
Semoga kita jadikan Ramadhan ini menjadi bulan membentuk diri kita, ikhlas, kuat dan taat. Amin.
Wassalamu ‘alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh,
Buya H. Masoed Abidin
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Globalisasi, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Politik, Surau, Tauhidik
Oleh Buya H Mas’oed Abidin
Di antara sifat Ibadurrahman adalah Murah Hati dan Kaya Kalbu ketika bergaul sesama manusia. Tidak pernah menganggap rendah orang jahil dan bodoh. Sifat itu disebutkan Allah SWT dalam firmanNya,
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا
“… dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, maka mereka mengucapkan kata-kata yang baik (yang mengandung keselamatan),” (Q.S. Al Furqan: 63)
Mengucapkan kata-kata yang baik artinya membebaskan diri dari kata-kata yang mengandung dosa Kata-kata yang baik tidak mengandung celaan, fitnah dan rasa dendam. Seseorang yang mempunyai murah hati, tidak mudah membalas keburukan dengan keburukan yang sama, meskipun itu sanggup dia lakukan Walaupun dia sebenarnya mempunyai hak untuk membalasnya. Allah SWT memuji sikap itu di dalam firman Nya,
وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ
“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling dari padanya dan mereka berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang jahil.” (Q.S Al-Qashash: 55)
Ketika orang-orang jahil menyapa, maka Ibadurrahman mengucapkan perkataan yang baik Ibadurrahman tidak melumuri lidahnya dengan kata-kata yang sia-sia Mereka tidak meladeni dengan kata-kata carut marut dan selalu menghindar darinya.

Ibadurrahman tidak mau waktu mereka terbuang untuk melayani sesuatu yang tidak bermanfaat. Ibadarurrahman senantiasa menjaga lidah, waktu dan umur Mereka melindungi catatan kebaikan yang sudah ada dan menambah selalu dengan kebaikan-kebaikan yang lain.
Hamba Allah yang terpuji selalu menghindari keburukan di mana jua mereka berada. Memang tidaklah sama yang buruk dengan yang baik. Begitu Allah SWT menyebut di dalam firman Nya.
وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Q.S. Fushilat: 34)
Nabi Isa alahis-salam pernah berjalan melewati sekumpulan orang-orang Yahudi yang melontarkan kata-kata tidak senonoh kepada beliau. Beliau berupaya menanggapi perkataan mereka dengan kebaikan.
Ketika itu, ada beberapa bertanya kepada beliau, “Orang-orang itu telah melontarkan kata-kata tidak senonoh kepadamu, namun engkau justru mengatakan yang baik kepada mereka.” Beliau menjawab, “Segala sesuatu keluar dari apa yang ada di dalamnya.” Kalimat hikmah ini memiliki arti yang cukup dalam. Bahwa kalimat yang diucapkan seseorang memberi gambaran tentang kualitas diri orang yang berkata itu.
Anas bin Malik radhiallahu-anhu pernah berkata; “Jika ada yang mengucapkan kata-kata kasar kepadamu, misalnya dengan ungkapan, “Wahai orang zalim, fasik, pendusta, pembohong”, atau kata-kata lain yang tidak senonoh, maka hadapilah ia dengan berkata, “Kalau memang engkau berkata bahwa aku ini seperti yang engkau katakan, semoga Allah mengampuni kesalahanku. Jika engkau dusta atau mengada-ada atau memfitnah dengan kata-katamu itu, semoga Allah mengampuni kedustaanmu.”
Sebuah ungkapan bijak, bagaimana perkataan dapat meredam terjadinya pertengkaran. Di saat sekarang ini, rasanya sudah semakin langka didapai orang yang mampu berkata lemah lembut, dengan kaya perbendaharaan kalbu dan murah hati.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Membangun Dunia Akhirat
Di dalam Islam, setip insan didorong agar memiliki ilmu pengetahuan yang cukup dan memadai. “Sesiapa saja yang menginginkan dunia dia akan peroleh dengan ilmu, sesiapa pula yang inginkan (kebahagiaan) akhirat, maka dia akan merebutnya dengan ilmu, bahkan yang menginginkan keduanya, juga hanya dengan ilmu”.(Al Hadist). Menuntut ilmu pengetahuan adalah hak asasi bagi setiap Muslim, sesuai anjuran Rasulullah Shallallahu alihi wa salam. Di antara sabda beliau menyatakan,“Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga ke liang lahat”. (Al Hadist). Nilai ajaran Islam, tiada lain berintikan kewajiban belajar sepanjang hayat, sepanjang usia. Orang Minang sejak dahulu memulainya dari rumah tangga, kemudian kehidupan bersurau, sekolah, serta madrasah.
Menambah ilmu pengetahuan tidak hanya terbatas pada batas wilayah negeri saja. Malah dianjurkan jika perlu dinegeri lain. “Tuntutlah ilmu walau di negeri Cina“. Begitu bimbingan Islam. Dorongan menuntut ilmu ini telah dicatat oleh sejarah di dunia. Agama Islam sejak awalnya telah mengubah sikap manusia melaluyi ilmu pengetahuan. Dari apatis, statis menjadi pribadi‑pribadi yang optimis dan dinamis. Hingga akhirnya, tidak dapat dipungkiri, Islam telah mendatangkan perubahan sikap bagi manusia yang setia menganut ajaran agamanya, mereka akan menjadi pintar, dinamis, kreatif, taat berdisiplin, yang sangat berguna untuk meraih kemajuan di dunia dan di akhirat.
Dorongan kuat menuntut ilmu, yang diajarkan Islam, telah melahirkan pakar ilmu pengetahuan, seperti Avicienna (Ibnu Sina), Avierroes (Ibnu Rusyid), Al Khawarizmi (yang meninggalkan warisan teori tentang logaritma), dan lainnya. Ilmu pengetahuan saja sebenarnya belum mempunyai arti yang besar, sebelum ada usaha untuk mengamalkannya. Setinggi apapun ilmu pengetahuan belum mendatangkan manfaat, sebelum diaplikasi di dalam kenyataan hidup manusia. Ilmu hanyalah alat semata untuk mendapatkan atau menciptakan kebahagiaan hidup.
Dalam realitas hidup, ilmu dan amal itu melahirkan hikmah. Allah SWT mencela seseorang yang berilmu tetapi tak mau mengamalkan ilmunya. Ancaman Allah sangat keras, “Wahai orang‑orang yang beriman! Mengapa kamu ucapakan apa‑apa yang tiada kamu perbuat? Sangat dibenci oleh Allah, bahwa kamu ucapkan apa‑apa yang tiada kamu perbuat“. (QS. Ash Shaaf, 61 : 2‑3). Ayat ini bermakna bahwa ilmu tanpa amal akan mengundang bencana dan kutukan. Kualitas suatu ummat dilihat dari kemampuannya menerapkan ilmu pengetahuan mereka, atau pendayagunaan ilmu itu, dalam mengelola alam keliling hingga lebih bermanfaat dan bernilai guna. Juga ilmu yang diamalkan sangat berguna untuk menciptakan kesejahteraan ummat manusia secara umum, dengan amal usaha mereka sendiri.
Kualitas ummat akan menurun jika mereka ditimpa penyakit enggan dan malas. Suatu indikasi yang mulai menggejala di tengah generasi kini, keengganan itu ternyata ada. Hingga mengundang under employment (pengangguran tek kentara) di tengah masyarakat. Gejala itu lahir karena enggan membaca, enggan mendengar, enggan berkarya, dan enggan memanfaatkan waktu dan tenaga, akhirnya enggan mengolah alam keliling. Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan firmanNya. ”Allah tidak akan mengubah apa‑apa (keadaan, nasib, tingkat kehidupan) suatu kaum, hingga (lebih dahulu) kaum itu mengubah apa‑apa (yang ada) di dalam diri mereka. (QS. Ar Ra’du, 13 : 11). Mudah‑mudahan kita semua dapat meningkatkan pendayagunaan ilmu, alam, amal kita berdasarkan iman serta hidup berkualitas, dengan datangnya bulan Ramadhan ini. Insyaallah.
Wassalam, Buya H. Mas’oed Abidin
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Komentar, Minangkabau, Surau, Tauhidik
Musibah Datang karena lengah
Firman Allah, “ Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami musibah melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami…” (Q.S. At Taubah: 51). Musibah adalah ujian yang datang dari Allah SWT. Pada hakikatnya setiap manusia tidak menginginkan datangnya musibah, baik musibah hilangnya harta benda, kecelakaan, ataupun kematian. Baik musibah itu berupa ujian besar maupun kecil belaka. Akan tetapi, maklumilah bahwa ujian itu senantiasa akan datang kepada semua manusia bimana waktu saja. Walau manusia berupaya lari daripada musibah itu, namun iapun akan tetap jua datang menghampirinya.
Buya Di Depan Bab Fahd Masjidil Haram
Ditinjau dari ketentuan dari Allah (taqdir), musibah terjadi atas izin dan ketentuan Allah semata. Tanpa izin dan ketentuan-Nya tidak mungkin musibah terjadi. Dipandang dari sisi kemanusiaan atau hukum kausalitas (sebab akibat), ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan Allah SWT mendatangkan musibah kepada makhluknya.
Pertama, karena manusia kurang peduli. Tidak mau bersedekah karena terlalu sayang terhadap hartanya Berkembangnya kebiasaan hidup kikir. Bersedekah sesungguhnya akan membawa keberkahan, dan menyebabkan terhindar dari musibah. Tidak dapat dimungkiri bahwa seorang yang senang bersedekah akan dicintai dan didukung oleh masyarakat kelilingnya. Seorang yang cekil kedekut atau kikir, dengan harta maupun dengan tenaga, akan dijauhi oleh lingkungannya. Kebakhilan akan membuka jalan bagi datangnya musibah. Berkaitan dengan anjuran bersedekah ini Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah itu akan menutup tujuh puluh pintu keburukan (musibah).” (HR. Ath Thabrani). Allah SWT berfirman: “Apa saja yang telah kalian nafkahkan (infaqkan) Allah akan menggantinya”. (Q.S. As Saba’: 39)
Kedua, kurangnya bersilaturrahim atau malas menyambung tali persaudaraan. Silaturrahim adalah amal yang diwajibkan dalam ajaran Islam. Silaturahim mesti masuk ke dalam agenda hidup Silaturahim menumbuhkan kasih sayang di antara ummat. Dengan kasih sayang persaudaraan dan persatuan dapat dibina. Kedengkian dan kebencian dapat diobati dengan silaturahim. Segala macam bencana dapat dihindari dengan kuatnya persaudaraan. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezkinya dan dipanjangkan umurnya maka hubungkanlah tali silaturrahmi (persaudaraan).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketiga, musibah datang karena melupakan Allah dan lalai atas perintah-perintah-Nya. Melupakan Allah, cepat ataupun lambat akan mengundang datangnya musibah. Allah SWT berfirman “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa.” (Q.S. Al An’am: 44) Na’udzubillah.
Keempat, bencana terjadi karena ulah tangan manusia belaka, seperti berbuat kerusakan, seperti penebangan hutan dan lain-lain. Ulah tangan manusia jua akan mengundang banjir, tanah longsor, bumi runtuh, ozon menipis. Peringatan Allah SWT dalam Al Quran-ul Karim pada surat Ar-Rum ayat 14 sedahlah jelas sekali.
Di dalam menghadapi musibah ini manusia terbagi kepada beberapa golongan. Ada golongan yang selalu dilindungi oleh Allah SWT. Golongan ini senantiasa berjalan lurus meniti jalan Allah, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Bahkan di setiap keadaan senantiasa berusaha bersama dengan Allah. Meyakini bahwa tiada daya dan upaya melainkan hanya dengan izin Allah SWT. Golongan ini akan mendapatkan perlindungan Allah dari semua musibah yang datang.
Ada kelompok yang manakala dalam keadaan sehat, senang dan lapang lupa kepada Allah. Ketika dikepung cobaan, mereka bersujud kembali bertaubat kepada Allah, dengan sadar, dengan memasrahkan diri bertaubat nashuha dan menyesali kelalaian mereka selama ini. Insya Allah akan mendapat keampunan dari Allah Azza wa Jalla.
Ada pula kelompok yang melupakan Allah SWT tatkala senang dan mengingatnya tatkala susah saja. Manakala kesusahan telah berlalu mereka kembali ke kesesatan. Melupakan sama sekali apa-apa yang pernah berlaku sebelumnya. Kelompok ini termasuk ke dalam orang-orang musyrik, sebagaimana dijelaskan Allah dalam Al Quran surat Yunus (10), ayat 22 dan 23.
Ada kelompok paling buruk. Hatinya mengeras seperti batu. Walaupun berbagai bencana dan musibah telah datang, namun mereka tidak hendak bermohon ampun kepada Tuhannya. Mereka malas berkata, “ Wahai Rabb-ku ! ”. Mereka tidak mau mengambil pelajaran dari musibah yang ditimpakan. Mereka menganggap semuanya ini semata karena pergantian masa dan perputaran alam sahaja Mereka menganggap semua yang terjadi tidak ada campur tangan Allah padanya. Kelompok ini adalah orang kafir.
Yakinilah bahwa musibah yang datang dapat menjadi teguran, dan bisa pula menjadi azab dari Allah. Musibah sebenarnya untuk menyadarkan manusia akan kelalaiannya dan memberi ingat manusia agar kembali dan segera sadar ke jalan Allah. Marilah kita senantiasa hindari semua musibah dengan mendekatkan diri dan taat kepada Allah SWT.
Bulan Ramadhan adalah bulan latihan bagi manusia beriman untuk mengamalkan keikhlasan di dalam mengendalikan nafsu syahwat, makan dan minum, semata-mata karena mengharapkan redha Allah saja. Allahu a’lam bissawab
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh,
Buya H. Mas’oed Abidin



















