Pandangan untuk Penjabaran Filosofi Adat Basandi Syarak, Syrak Basandi Kitabullah di Sumatera Barat

[draft,HMA]…

Penjabaran Filosofi

ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH

1. .Apakah ……

A. FILOSOFI ADAT BERSENDI SYARAK, SYARAK BERSENDI KITABULLAH Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” merupakan landasan dari sistem nilai yang menjadikan Islam sebagai sumber utama dalam tata dan pola perilaku serta melembaga dalam masyarakat Minangkabau.

Artinya, Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah adalah kerangka filosofis orang Minangkabau dalam memahami dan memaknai eksistensnya sebagai mahluk Allah. Sesungguhnyalah Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah yang kini menjadi indentitas kultural orang Minangkabau lahir dari kesadaran sejarah masyarakatnya melalui proses dan pergulatan yang panjang.

Semenjak masuknya Islam ke dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, terjadi titik temu dan perpaduan antara ajaran adat dengan Islam sebagai sebuah sistem nilai dan norma dalam kebudayaan Minangkabau yang melahirkan kesepakatan Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Undang-undang alam yang dijadikan oleh Tuhan atau yang disebut sunatullah atau hukum Allah.

Dalam ajaran Islam, alam yang luas ini dengan segala isinya adalah ciptaan Allah swt dan menjadi ayat-ayat Allah (ayat kauniyah) sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya.

Manusia dengan segala potensi akalnya, dapat mengambil pelajaran dari ketentuan-ketentuan pada hukum alam.

Bahwa sesungguhnya Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan proses pergulatan antara Adat, Islam dan Ilmu Pengetahuan adalah kerangka filosofis dalam memaknai ekstensi manusia sebagai Khalifatullah di dunia.

Filosofi Alam Takambang Jadi Guru, suatu konsep nilai ilahiah, insaniah dan semesta adalah permaknaan jalinan yang mengantarkan keberadaan manusia yang tidak terlepas dengan Sang Khalik, Maha Pencipta. Sebagai pandangan terhadap dunia (world vieew) dan pandangan hidup (way of life) perlu mempercepat kesadaran kolektif yang memberi arah dan pegangan pergaulan sosial kemasyarakatan dalam dinamika perubahan zaman Sadar akan perubahan tatanan peradaban terhadap pergeseran sistem nilai dan pola prilaku umat manusia, maka Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato, Adaik Mamakai, menjadi ciri petanda bagi identitas kultural dan otoritas moral sebagai sumber norma tata kehidupan masyarakat Minangkabau dalam memperkokoh semangat Kebangsaan Negara Republik Indonesia.

Adat disebut juga ‘uruf, berarti sesuatu yang dikenal, diketahui dan diulang-ulangi serta menjadi kebiasaan dalam masyarakat.

Adat itu sudah tua usianya, dipakai turun temurun sampai saat ini, yang menjadi jati diri (identitas) dan dianggap bernilai tinggi oleh masyarakat adat itu sendiri.

‘Uruf bagi orang Islam, ada yang baik dan ada yang buruk. Pengukuhan adat yang baik dan penghapusan adat yang buruk, menjadi tugas dan tujuan kedatangan agama dan syariat Islam.

Dalil yang menjadi dasar untuk menganggap adat sebagai sumber hukum ialah ayat al Qur an, Surat al A’raf ayat 199 dan hadits Ibnu Abbas yang artinya “apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka pada sisi Allah juga baik di kalangan ahli fikih (hukum) Islam berlaku kaidah, adat itu adalah hukum.

Oleh karenanya semakin kokoh keyakinan yang diisi oleh agama Islam yang benar, haq dari Rabb untuk membina pribadi anak nagari di ranah Minangkabau.

Hukum adat dan hukum Islam menjadi pedoman hidup masyarakat Minangkabau sehari-hari, sehingga melahirkan filosofi hidup, “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah,” yang melandasi tatanan hidup dalam berinteraksi antar sesama, antar masyarakat itu dan dengan alam sekitarnya, seperti hutan tanah, air, flora, dan fauna.

Filsafah hidup ini dijadikan patokan atau pedoman dalam hidup berkaum, banagari dan bernegara.

Pengaruh Islam terhadap adat Minangkabau tercermin dalam sarana nagari yang terdiri dari balairung (tempat para pemimpin nagari – penghulu dan imam khatib bermusyawarah- dan mesjid – tempat beribadah.

Dalam setiap struktur suku di nagari-nagari terdiri dari perangkat penghulu dan perangkat Imam Khatib atau Malin.

Dalam arti umum, adat itu adalah norma dan budaya.

Norma adalah aturan-aturan dan budaya adalah kebiasaan. Sebagai norma, adat Minangkabau dilihat dari sudut yang baik yang terbentuk sejak adanya masyarakat Minangkabau dan dikembangkan sesuai dengan tantangan zaman.

Pola tingkah laku yang menjadi kebiasaan masyarakat Minangkabau yang disebut limbago.

Dalam pengertian hukum, adat adalah pedoman atau patokan dalam bertingkah laku, bersikap, berbicara, bergaul, dan berpakaian..

Adat atau norma telah berjalan lama sekali dan turun temurun disebut tradisi, adalah tata cara memelihara hubungan baik antar sesama.

Bagi umat Islam, adat dapat menjadi sumber hukum apabila mengandung tiga syarat, yaitu:

a) tidak berlawanan dengan dalil-dalil yang tegas dari al Quran atau hadist,

b) telah menjadi kebiasaan terus menerus berlaku dalam masyarakat,

c) menjadi kebiasaan masyarakat umumnya. Adat Minangkabau yang dinamis, menempatkan raso (hati, kearifan, intuitif) dan pareso (akal, rasio, logika), sebagai hasil dari falsafah, “alam takambang jadi guru.”

Artinya, adat Minangkabau mengandung unsur adat dan ilmu.

Belajar kepada alam berarti mengambil pelajaran dari perjalanan hidup. Dalam pengertian hukum, adat adalah pedoman atau patokan dalam bertingkah laku, bersikap, berbicara, bergaul, dan berpakaian..

Adat atau norma telah berjalan lama sekali dan turun temurun disebut tradisi, adalah tata cara memelihara hubungan baik antar sesama.

2. Siapakah …..

B. INSAN MINANGKABAU Insan Minangkabau adalah orang yang siap menatap masa depan. Siap bergumul dan bergulat dalam zaman yang senantiasa berubah, sesuai ungkapan adat, ”sakali aia gadang, sakali tapian berubah, namun tapian tatap itu juo”.

Sesungguhnya, kesiapan dan keberanian orang Minangkabau menghadapi tantangan zamannya lahir dari kemampuan mereka atas intensitas pembacaan mereka terhadap semesta.

Pembacaan terhadap semesta merupakan sebuah proses yang senantiasa mengalir dalam siklus kehidupan manusia. Alam Takambang Jadi Guru, menjadi titik sentral bagi orang Minangkabau dalam memaknai kehidupannya.

Proses perenungan dan penghayatan terhadap materi-materi kehidupan yang berpijak pada kemampuan dan intensitas pembacaan mereka terhadap alam yang mempunyai makna yang dalam bagi orang Minangkabau. Alam adalah segala-galanya bagi mereka.

Alam bukan saja dimaknai sebagai tempat lahir, tumbuh dan mencari kehidupan, lebih dari itu, alam juga dimaknai sebagai kosmos yang memiliki nilai dan makna filosofis.

Pemaknaan orang Minangkabau terhadap alam terlihat jelas dalam ajaran; pandangan dunia (world view) dan padangan hidup (way of life) yang seringkali mereka nisbahkan melalui pepatah, petitih, mamangan, petuah, yang diserap dari bentuk, sifat, dan kehidupan alam.

Pandangan kosmos ini pada akhirnya membawa mereka melihat keteraturan semesta bukanlah sesuatu yang tiba-tiba, melainkan muncul melalui proses pergulatan antara pertentangan dan keseimbangan. Filsafat ‘Alam Takambang Jadi Guru’ mengandung pengertian bahwa setiap orang ataupun kelompok memiliki kedudukan sama, tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain, baik sebagai individu, maupun sebagai kelompok.

Proses dialektika, pertentangan dan perimbangan oleh orang Minang tidak hanya sebatas pergulatan, tapi proses ini telah membentuk insan Minangkabau sebagai individu yang memiliki karakter, watak dan sikap yang jelas dalam menjalani siklus kehidupan.

Di antara karakter itu adalah;

Pertama, orang Minangkabau selalu menekankan nilai-nilai keadaban, di mana individu dituntut untuk mendasarkan kekuatan budi dalam menjalankan kehidupan.

Kedua, etos kerja. Didorong oleh kekuatan budi, maka setiap individu dituntut untuk selalu melakukan sesuatu yang berarti bagi diri dan komunitasnya. Dan melalui semangat inilah kemudian mereka memiliki etos kerja yang tinggi.

Ketiga, kemandirian. Semangat kerja atau etos kerja dalam rangka melaksanakan amanah sebagai khalifah menjadi kekuatan bagi orang Minangkabau untuk selalu hidup mandiri, tanpa harus bergantung pada orang lain. “Baa di urang, baitu di awak” dan “malawan dunia urang” adalah sebuah filosofi agar individu dituntut untuk mandiri dalam memperjuangkan kehidupan yang layak.

Keempat, serasa, tenggang menenggang dan toleran. Walaupun kompetisi sesuatu yang sah dan dibenarkan untuk mempertinggi harkat dan martabat, namun ada kekuatan rasa yang mengalir dari lubuk budi. Karena invdidu hidup bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan pribadi, melainkan juga berjuang dan memelihara komunitasnya, maka kekuatan rasa menjadi hal yang sangat penting artinya. Hidup dalam pergaulan sosial mesti didasarkan pada kekuatan rasa. Rasa akan melahirkan sikap tenggang menenggang dan toleran terhadap orang lain dengan segala perbedaan yang ada. Bila etos kerja dan semangat kemandirian muncul dari lubuk “pareso”, maka sikap tenggang menenggang dan toleran muncul dari kekuatan “raso”.

Kelima, kebersamaan. Penempatan insan dalam posisi personal/ individu dan komunal memberi ruang kepada orang untuk menjalin hidup secara bersama untuk kebersamaan. Selain penempatan seseorang dalam ranah individu dan masyarakat, kekuatan rasa, tenggang rasa dan toleran memperkuat munculnya kebersamaan dalam masyarakat Minangkabau. Kebersamaan itu sesungguhnya lahir dari pola penempatan seseorang dalam ranah individu dan masyarakat. Meskipun sebagai individu diberi ruang gerak untuk dirinya sendiri, namun ia harus bersikap toleran, saling tenggang menenggang dan menghargai setiap perbedaan yang ada.

Keenam, visioner. Dari kekuatan budi, etos kerja yang tinggi, watak kemandirian, nilai saraso, tenggang menenggang, dan kebersamaan, orang Minang selalu dituntut untuk bergerak maju, dinamis, dan melihat ke depan.

Semangat inilah yang kemudian membuat orang Minang memiliki visi yang jelas dalam menjalani kehidupannya.

Akidah tauhid sebagai ajaran Islam dipupuk melalui baso basi atau budi dalam tata pergaulan di rumah tangga dan di tengah masyarakat.

Demikianlah masyarakat Minangkabau menyikapi cara mereka melihat sistem nilai etika, norma, hukum dan sumber harapan sosial yang mempengaruhi perilaku ideal dari individu dan masyarakat serta melihat alam perubahan yang lahir dari lubuk yang berbeda, antara adat dan Islam.

Kemampuan dan kearifan orang Minangkabau dalam membaca dan memaknai setiap gerak perubahan, antara adat dan Islam, dua hal yang berbeda, akhirnya dapat menyatu dan saling topang menopang membentuk sebuah bangunan kebudayaan Minangkabau melalui Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah.

Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah pada akhirnya terpatri menjadi landasan serta pandangan hidup orang Minangkabau.

Manusia akan dapat mengambil iktibar atau pelajaran yang berharga untuk kehidupan bersama.

Ketentuan-ketentuan alam dijadikan sebagai dasar untuk menata kehidupan masyarakat Minangkabau, baik secara pribadi, bermasyarakat, maupun sebagai pemimpin.

Fenomena alam mengajarkan sikap, agar setiap perbuatan sesuai dengan hukum yang berlaku dan sesuai dengan nilai dasar kemanusiaan, seperti bulek aia di pambuluah, dan bulek kato di mupakat, bulat kata sesuai dengan kesepakatan.

Ajaran adat Minangkabau berlandaskan asas filosofi Alam Takambang Jadi Guru, suatu konsep alam semesta, merupakan sumber “kebenaran” dan kearifan orang Minangkabau.

Alam semesta dipahami orang Minangkabau dari segi fisik dan sebagai sebuah tatanan kosmologis.

Dalam ayat-ayat kauniyah, Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, mengungkapkan beberapa rahasia-Nya melalui alam semesta.

Inilah yang kemudian menjadi titik temu perpaduan antara sistem nilai Adat dengan Islam. Oleh karena itu, tepat kiranya Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah, dikatakan sebagai sebuah kerangka berpikir (paradigma) filosofis budaya Minangkabau yang terpola dalam struktur pengetahuan, sikap dan perilaku sosial masyarakat Minangkabau.

3. Kapan …… ???

4.. Di mana … ???

Teori Taufik Abdullah: tentang dinamika sosial dan intelektual Islam di Indonesia, berawal ketika Islam “lulus dari ujian pemikiran Persia, Helenisme, India. Gelombang ini disebut Taufik Abdullah sebagai “dunia fana yang kosmopolitan”.

Kedua, “Islamisasi realitas”,

ketiga, gelombang akselarasi ortodoksi, khususnya melalui ortodoksi fikih.

Gelombang keempat modernisme dengan intektualisme bercorak politik dan pan islamisme; dan kelima gelombang neo-modernisme kontemporer.

Semenjak masuknya Islam ke dalam masyarakat Minangkabau, sesungguhnya telah terjadi beberapa kali gelombang dinamika sosial dalam kebudayaan Minangkabau yang menjadi titik temu dan perpaduan antara ajaran adat dengan Islam sebagai sistem nilai dan norma.

Gelombang pertama, “Islamisasi realitas”, ketika Minangkabau berkenalan dengan ajaran Islam secara seporadis. Dalam Sejarah Asia Tenggara, mengatakan ada berita yang menyatakan dua orang utusan dari kerajaan Melayu Darmasraya yang bernama Syamsuddin dan Chairuddin ke Cina (abad ke-12).

Sekurangnya ditandai pula dengan pulangnya 11 orang dari Nusantara dari naik haji ke Mekah al Mukarramah pada tahun 1060 Masehi. Sembilan di antaranya berasal dari Minangkabau dan dua di antaranya dari Sulawesi.

Pada saat itu, di daerah Rokan dan Indragiri ajaran Islam telah dianut di kalangan rakyat, namun tidak berkembang karena adanya “counter action” dari dinasti T’ang dari Cina.

Kemudian kerajaan Kuntu Darussalam yang didukung kekuasaan Fatimiyah dari Mesir dapat dialahkan oleh Adityawarman, raja Pagaruyung keturunan Melayu.

Sementara itu pada saat itu penduduk Minangkabau yang sebagian besar telah menganut agama Islam tidak tersentuh oleh ajaran Budha yang dibawa Adityawarman. Setelah itu Islam tumbuh dalam gerakan “Islamisasi realitas” bersentuhan dengan adat Minangkabau.

Dinamika ajaran Islam makin membumi di Minangkabau.

Gelombang ketiga “akselarasi ortodoksi”, khusus melalui ortodoksi fikih”, ketaatan kepada ajaran agama, terutama terhadap fikih. Pada gelombang ketiga itu setelah makin berkembangnya Islam di pedalaman Minangkabau, lahir Gerakan (Kembali) ke Syariat (1784 -1790) oleh Tuanku Nan Tuo diikuti oleh Gerakan Padri (1803-1832) sebagai generasi kedua dari gerakan itu. Muaranya pada rumusan “hukum adat bersendi syarak.

Dalam memahami perkembangan sejarah Minangkabau, setiap gelombang selalu ada usaha memperkuat landasan adat Minangkabau dengan syariat Islam.

Kehadiran Syekh Burhanuddin dari Ulakan bersama penghulu Ulakan kepada Basa Ampek Balai yang melahirkan kesepakatan bahwa adat dan ajaran Islam sama-sama terpakai di Minangkabau.

De Haan dalam TBGKW XXXIX mengulasnya bahwa ulama ini, (Syekh Burhanuddin) telah melibatkan rakyat dalam aksi politik agama, yang dikenal dengan adat bersendi syarak Pada awal Gerakan Pembaruan pada gelombang ketiga, memang terjadi penyerangan terhadap nagari-nagari sekitar Bonjol sehingga Alahan Panjang menjadi basis perjuangan kepemimpinan agama yang disebut “Tuanku Nan Barampek” di bawah pimpinan Tuanku Imam.

Sesekali memang terjadi kerusuhan, penyerangan dan perampasan nagari yang tidak melaksanakan ajaran pembaruan Tuanku Imam sadar atas kekeliruan yang dilancarkan pada awal perang pembaruan agama, terutama sikap yang kurang baik dari para hulubalang setelah mendapat harta rampasan dan tawanan perang di Bonjol.

Hal ini disampaikan Tuanku Imam ketika bermufakat dengan Tuanku Mudo dan Tuanku Kadhi Basa. Tuanku Imam menyatakan bahwa banyak hukum agama yang terlanggar pada saat mengalahkan nagari-nagari. Perampasan, pembakaran dan pembunuhan yang terjadi, merupakan suatu hal yang tak diingini dan dilarang agama Islam terhadap sesama muslim.

Atas kesepakatan itu Tuanku Imam dengan Tuanku Mudo dan Tuanku Kadhi, memutuskan agar mengirim surat kepada Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai untuk bermusyawarah lebih lanjut di Bonjol.

Musyawarah antara Tuanku Imam dengan Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai di Bonjol untuk mencari jalan keluarnya (1811) berkesimpulan perlu dikirim anak kemenakan untuk mempelajari (hukum)– Kitabullah – ke Mekah, terdiri dari orang-orang pandai dan cerdas. Tuanku Tambusai pergi bersama kemenakannya.

Tuanku Imam menunjuk Pakih Muhammad, kemenakannya, Pakih Malano kemenakan Tuanku Kadi, dan Tuanku Sayalu, kemenakan Tuanku Rao. Rombongan mengantar mereka sampai ke Barumun, dan kembali ke Bonjol sambil membawa barang dagangan berupa kain. Setelah rombongan kembali dari Mekah, anak negeri mendapat penjelasan dan pengajaran baru tentang agama Islam.

Segala harta rampasan dikembalikan kepada pemiliknya karena tidak termasuk dalam katagori ghanimah, karena berasal dari sesama penganut agama Islam.

Semenjak itu, Hukum adat bersendi syarak, diterapkan kembali pada tiap-tiap luhak dan nagari di Minangkabau, Rao dan Tambusai.

Kewenangan struktural dan fungsional hakim adat dikembalikan kepada Basa dan penghulu andiko serta segala raja-raja. Artinya, Penghulu dan andiko melaksanakan hukum adat bersendi syarak. Perbantahan dalam hukum syarak- Kitabullah- diserahkan kepada Tuo Malin Nan Barampek yang terdiri dari Imam, Khatib, Malin dan Kadhi..

Rasa keadilan bermasyarakat tumbuh kembali. Penghulu didampingi imam khatib dan bilal di setiap suku di kampong dan nagari.

Secara strategis, untuk membangun masa depan Minangkabau yang sanggup menghadapi tantangan zaman diperlukan pelembagaan dan operasionalisasi dari gerakan yang terencana, terukur dan berkelanjutan, serta mendapat dukungan sepenuhnya dari seluruh kekuatan sosial kemasyarakatan yang difasilitasi oleh Pemerintah.

Keragaman pelaksanaan adat di setiap nagari melahirkan kata-kata: adat salingka nagari dan adat nan sabatang panjang.

Sedangkan nilai adat disebut adat nan babuhua sintak, adat nan babuhua mati, dan adat lamo pusako usang. Hubungan antar suku bangsa dalam masyarakat Indonesia telah menjalin kebudayaan yang bhinneka bentuknya.

Secara strategi hubungan itu berperan guna pembinaan dan pengembangan jati diri kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi ketika berhadapan dengan pengaruh asing yang tidak selaras dengan dasar falsafah hidup bangsa Indonesia, Pancasila. Ajaran adat bersendi syarak, inilah yang menjadi ciri penanda jati diri suku bangsa Minangkabau.

Bertolak dari pandangan filosofis di atas, Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah, harus dijadikan rujukan dalam merumuskan setiap kebijakan terhadap kelangsungan hidup orang Minangkabau yang beriman, beradat, berbudaya, berharkat dan bermartabat.

Dari landasan, prinsip dasar dan nilai operasional Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah tersebut orang Minangkabau harus membangun masa depannya. Oleh karena itu, Minangkabau sekarang adalah Minangkabau yang menuju masa depan, bukan Minangkabau yang kembali ke masa lalu, tetapi tetap dalam prinsip-prinsip nilai yang menjadi identitas kebudayaan Minangkabau yang dinamis dan selalu mengalami perubahan, sesuai dengan ungkapan adat, bakisa di lapiak nan sahalai, baraliah di tanah nan sabingkah, walau baraliah sinan juo.

5. Mengapa …..

C. ILAHIYAH DAN INSANIYAH.

Bila nilai, Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah, diurai satu persatu, maka terlihat gambaran sebenarnya dari kehidupan yang ideal dalam realitas alam Minangkabau, yakni kehidupan yang tidak luput dari nilai-nilai universal yang membentuknya.

Tepat kiranya dikatakan bahwa sesungguhnya Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah adalah ikatan moral yang berpijak pada realitas kultural dan sosial masyarakat Minangkabau.

Allah sebagai Sang Khaliq dengan segala Kehendak (Iradah), dan Kuasa-Nya (Qodrat) telah mengalirkan sifat-sifat ilahiyah ke dalam diri setiap insan.

Penitahan Allah kepada insan sebagai khalifatullah fil arḍ̣i merupakan bukti bahwa insan dan realitas kehidupan ini mesti bertumpu pada Allah.

Dalam mendorong siklus kehidupan yang diridhai oleh Sang Khaliq, amat diperlukan sebuah kesadaran semesta bahwa dimensi ilahiyah adalah sesuatu yang melekat dalam diri insan. Oleh karenanya, insan dalam mengemban amanah sebagai khalifah harus senantiasa mencerminkan nilai-nilai ilahiyah dalam siklus kehidupan ini.

Bila ditilik lebih jauh ke akar budaya Minangkabau, sesungguhnya nilai-nilai ilahiyah dan nilai-nilai insaniyah merupakan mata air tempat mengalirnya nilai-nilai luhur sebagai penggerak kehidupan.

Keberadaan manusia sebagai ciptaan Allah, terletak pada keterikatannya dengan Allah, bahwa segala sesuatu bersumber dan bermuara pada-Nya.

Jika manusia berkehendak mempertahankan tugasnya sebagai khalifatullah di dunia, maka ia harus selalu memperlihatkan bahwa ia merupakan bagian dari struktur sosial yang menopangnya.

6. Bagaimana ……?

Islam masuk ke Minangkabau mendapati suatu kawasan yang tertata rapi dengan apa yang disebut “adat”, yang mengatur segala bidang kehidupan manusia dan menuntut masyarakatnya untuk terikat dan tunduk kepada tatanan adat tersebut.

Landasan pembentukan adat adalah “budi” yang diikuti dengan akal, ilmu, alur dan patut sebagai adalah alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk.

Islam membawa tatanan apa yang harus diyakini oleh umat yang disebut aqidah dan tatanan apa yang harus diamalkan yang disebut syariah atau syarak.

Syariat Islam lahir dari keyakinan Iman, Islam, Hakikat dan Makrifat serta Tauhid. Nilai-nilai ketuhanan, dan insaniyah merupakan landasan filosofi tempat berpijaknya Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah yang mendapat legitimasi dari Adat dan Islam sebagai rujukannya.

Nilai-nilai ketuhanan muncul dari proses pembacaan dan pemaknaan mereka atas semesta “Alam Takambang Jadi Guru”.

Allah, melalui penciptaan alam semesta memperlihatkan Kekuasaan-Nya. Alam dengan segala isinya memberikan tanda-tanda akan diri-Nya agar insan sampai pengenalan kepada Allah yang telah menciptakan dirinya. “Seseorang baru bisa sampai mengenal Allah, apabila ia mampu membaca dan memahami dirinya”, merupakan isyarat bahwa proses pembacaan terhadap alam dan diri merupakan salah satu metode yang menghantarkan insan pada kesadaran akan hubungan dirinya dengan Allah, yang menciptakannya.

Hal ini berhubungan dengan tradisi orang Minangkabau alam semesta dengan segala isinya menjadi guru yang membimbing mereka untuk memahami dirinya dan sekaligus mencari sumber kekuatan dalam hidup.

Suatu konsep pelaksanaan dari adat bersendi syarak, syarak basandi Kitabullah dalam Fatwa adat Minangkabau menyatakan, Nan tuo dihormati, nan ketek disayangi, samo gadang lawan baiyo.

Sopan santun dipahami sebagai sikap agar dapat hidup dengan tenang. Quran memberi petunjuk sopan santun dalam berkomunikasi, bertutur kata dan bertegur sapa, baik terhadap orang tua, yang lebih muda, sama usia dan orang yang dihormati dan disegani. Sopan santun dalam berbicara disebut qaulan ma’rufa, qaulan sadida, qaulan karima, qaulan mansura, qaulan layina dan qaulan husna yang sering dilaksanakan dalam jalan nan ampek, cara berkomunikasi dalam setiap lapisan masyarakat,

1) Sikap sopan terhadap seseorang yang lebih tua yang diharapkan bantuan serta bimbingannya, baik moral maupun materil. Dari seorang anak kepada guru, ulama, mamak, datuk, nenek, kakak atau orang-orang yang dihormati.

Sopan santun dalam jalan mandaki sesuai dengan qaulan maisura, seperti tersebut dalam Surat Al-Israk ayat 28. Dan, jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas, perkataan yang baik agar mereka jangan kecewa. Dalam pada itu kamu berusaha untuk mendapat rezeki dari Tuhanmu, sehingga kamu dapat memberikan kepada mereka hak mereka.

2) Sikap sopan santun kepada seseorang yang lebih muda atau orang yang belum dewasa, seperti dari seorang penghulu kepada kemenakannya, dari ayah atau ibu kepada anaknya atau dari seorang guru kepada murid.

Kepada anak-anak yang belum sempurna pemikirannya berbicara dengan kata ma’rufa, perkataan yang benar yang mengandung arti membimbing dan mengarahkan mereka dengan kata yang jelas dan mudah dimengerti, sehingga membentuk kepribadiannya menjadi manusia dewasa yang beradat dan beragama. Hal ini didapat dalam surat QS 4; 5-9; Annisa’ayat 5 ayat 9. Qaulan sadida atau perkataan yang benar berbicara kepada anak cucu yang sama dengan kato manurun dalam adat Minangkabau. Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu, kaum kerabat, anak yatim dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikan shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali bagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling (QS 2;83).

3) Sikap antara teman sebaya, maupun kepada semua bangsa, semua tingkat dan semua umur dengan ucapan yang baik.

Dalam jalan mandata, pembicaraan dapat lebih bebas, karena sipembicara dan lawan bicaranya berada dalam taraf dan tingkat yang sama. Al-Qur an menganjurkan agar sesama umat Islam, khususnya, terhadap manusia umumnya, harus berkasih sayang dan dilarang bermusuhan. Hidup berkasih sayang harus selalu dibina dan silaturahmi harus ditumbuhkan. (QS 4;5 danQS 4,9), QS 2;83).

4) Sikap terhadap orang yang disegani, dalam kerapatan adat, ucapan orang sumando kepada mamak tunganai, kepada mertua, atau ipar bisan. Orang harus pandai dan mahir dalam berkata-kata dengan ungkapan memperdalam akal pikiran dan perasaan, yang disebut tahu dibayang kato sampai, tahu di angin nan barasa, arif bijaksana. Orang seperti ini tahu ereang jo gendeang atau kata kiasan.

Dalam menghadapi para remaja yang mudah emosional, baik karena akibat minuman keras dan kebiasaan narkoba. Mereka harus dihadapi dengan perkataan layyina atau perkataan lemah lembut, tetapi mengena. Hal ini dapat disamakan dengan kisah perintah Tuhan kepada nabi Musa sewaktu berhadapan dengan Fir’aun, pembangkang.

Keempat sikap itulah”, yakni perlakuan dan pandangan terhadap kelompok lain. yang disebut’ tahu di ampek terdiri dari jalan mendaki, jalan menurun, jalan mendatar dan jalan melereng.

Jalan dimaksud adalah Hidup dalam lingkungan norma-norma adat dan mengikuti pola, acuan, bentuk, model aturan tersebut merupakan “pola” yang diwariskan nenek moyang menjadi “limbago” atau lembaga Sementara itu, menghadapi hubungan dengan kebudayaan asing yang tak terelakkan, bersama dengan pemangku adat lainnya masyarakat Minangkabau berupaya menyumbangkan nilai-nilai ajaran adatnya yang berlandaskan “Alam Takambang Jadi Guru”, suatu konsep krmanusiaan yang egaliter dalam sistem kodrat alam yang dikotomi menurut alurnya yang harmoni.

Pengertian “alur yang harmoni” dalam filsafah alam ialah dinamika dalam sistem musyawarah dan mufakat berdasarkan ‘alur” dan “patut”, yaitu etika hukum yang layak dan benar. Dan sebagai masyarakat yang beragama, maka Kebenaran Yang Benar, berada di Jalan Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Demikianlah masyarakat Minangkabau melihat dirinya dan kiat melihat alam dan perubahan yang terjadi.

Ketika kebajikan, kebenaran, dan keadilan telah menjadi ekspresi insan Minangkabau, maka dapat dipastikan bahwa nilai-nilai ilahiyah dan insaniyah telah mendorong membebaskan insan dari taghut (berhala) dari orang yang mementingkan diri sendiri (individualistik) yang selalu menggerogoti nilai-nilai kebersamaan, kesetaraan, dan toleransi dalam mengembangkan kehidupan sosial masyarakat Minangkabau.

Secara filosofis, antara Allah dengan insan sebagai mahkhluk-Nya, adalah dua hal yang berbeda, namun antara keduanya terdapat garis penghubung. Garis itu adalah “jiwa ketuhanan” yang mengalir dari Allah ke dalam jiwa insan.

Firman Allah dalam Surat Ar-Ruum ayat 30 “Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” menjadi isyarat tentang hubungan ini.

Ayat ini bukan saja menunjukkan adanya hubungan insan dengan Allah, lebih jauh lagi dapat dimaknai bahwa dimensi ilahiyah (fitrah) yang dengannya insan tercipta sesungguhnya teraktualisasi dalam diri insan.

Insan sendiri akan selalu tetap bergerak dalam dimensi ilahiyah melalui proses internalisasi secara terus menerus.

Dari siklus inilah dapat dipahami bahwa dimensi ilahiyah sebenarnya bukan diperuntukkan untuk Allah sendiri, melainkan berujung pada pengembangan kualitas insaniyah.

Tawhid atau keimanan adalah poros segala dimensi ilahiyah, Sementara insan adalah pusat dari insaniyah.

Perpaduan keduanya terlihat dalam bentuk aktifitas amal shaleh yang sebenarnya merupakan pancaran dari keimanannya kepada Allah Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah seyogianya tidak hanya soal idea dan pengertian (konseptual), tetapi bagaimana nilai tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat (realitas sosial), karena sistem nilai selalu berhubungan dengan struktur sosial dan kultural.

Aspek kultural merupakan sesuatu yang bersifat mental yang dapat mempengaruhi dan mengendalikan perilaku dalam ujud fisik tertentu. Sedangkan aspek sosial dengan segala keadaan masyarakat dapat menentukan dan membentuk struktur mental insan yang menjadi anggotanya.

Dengan demikian pelembagaan nilai-nilai yang terkandung dalam Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah akan terlihat nyata dalam pranata sosial, seperti: pola interaksi, pola kepemimpinan, pola demokrasi, pola kepemilikan, pola perkawinan, dan lain sebagainya.

Dengan sendirinya, nilai-nilai Ilahiyah dan insaniyah menjadi satu-satunya landasan nilai Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Nilai ketuhanan (Ilahiyah) dan kemanusiaaan (insaniyah) dalam Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah memiliki prinsip-prinsip dasar sebagai patokan atau ukuran penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Prinsip dasar itu adalah:

Pertama, prinsip kebenaran. Kebenaran sesungguhnya merupakan nilai dasar yang mutlak dalam pergaulan sosial umat manusia.

Kedua, adalah prinsip keadilan. Prinsip dasar kebenaran dan keadilan merupakan nilai abstrak. Tapi dalam prakteknya, tampak sebagai bagian yang menggerakkan kehidupan manusia. Tanpa keadilan kehidupan sosial akan selalu goyah dan jika keadilan terjamin dan ditegakkan maka masyarakat akan sejahtera.

Ketiga, prinsip kebajikan. Jika prinsip kebenaran, ditopang oleh prinsip keadilan, maka kehidupan insan akan lebih bermakna apabila dari dua ranah ini melahirkan kebajikan. Kebenaran, keadilan dan kebajikan merupakan tali tiga sepilin, tungku tiga sejarangan. Bila kebenaran menjadi landasan teologis atau nilai dasar, maka keadilan merupakan nilai operasional.

Ketiga unsur ini merupakan perpaduan yang saling terkait dan terikat. Kebenaran tidak dapat berdiri sendiri tanpa ditopang nilai keadilan. Kebenaran dan keadilan akan bermakna apabila diikuti nilai-nilai kebajikan.

Dalam menerapkankan prinsip kebenaran, keadilan, dan kebajikan yang menjadi patokan dalam menerjemahkan nilai-nilai Ilahiyah dan nilai-nilai insaniyah, Dalam Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah juga terkandung beberapa prinsip dan nilai yang operasional,.

Prinsip dan nilai yang operasional yang melembaga dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau, , di antaranya:

1. adab dan budi; budi adalah inti dari ajaran adat Minangkabau. Budi adalah sebuah dasar untuk dapat melaksanakan prinsi adat. “indak nan indah pado budi, indak nan elok dari baso” (Tidak ada yang indah dari pada budi dan baso basi). Yang dicari bukan emas, bukan pangkat, akan tetapi budi pekerti yang dihargai. Agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan basi (budi pekerti)

2. kebersamaan, terlihat dalam musyawarah, bulek aia ke pambuluah, bulek kato ka mufakat, yang dijabarkan “dalam senteang ba-bilai, singkek ba-uleh” sebagai pancaran iman kepada Allah swt. Di dalam masyarakat yang beradat dan beradab (madani) mempunyai semangat kebersamaam, sa-ciok bak ayam, sadancing bak basi”. Membangun kebersamaan dengan mengikut sertakan ninik mamak, alim ulama, Cadiak pandai dan Bundo Kandung di setiap korong, kampung dan nagari di Minangkabau, semua yang dicita-citakan tidak akan sulit meujudkannya.

3. keragaman, masyarakat yang terdiri dari banyak suku dan asal muasal dari berbagai ranah bersatu dalam kaedah “hinggok mancekam, tabang basitumpu”,mencari ibu dan suku. Mengajukan hubungan baik, saling menghargai, dima bumi dipijak, disatu langit dijunjung”

4. kearifan, mempunyai kemampuan menangkap perubahan yang terjadi, sakali aia gadang, sakali tapian baralieh, sakali tahun baganti, sakali musim batuka,” Perubahan tidak mengganti sifat adat. Perubahan adalah suanatullah.

Dengan kearifan dan optimisme yang tinggi, setiap usaha untuk keluar dari problematika perubahan sosial, politik dan ekonomi. Sebaliknya, menjauhkan fikiran dengan menjauhkan dari hal yang tidak mungkin. Seorang yang arif tidak boleh melarikan diri dari perbedaan pendapat, karena pada hakekatnya perbedaan itu membuka peluang untuk memilih yang lebih baik.

Pedoman menempuh kehidupan dikaitkan dengan kearifan bertindak dan memilih menghadapi tantangan tercakup dalam ungkapan adalah:

a. Hendak kayo berdikit-dikit (hemat)

b. Hendak tuah batabua urai (penyantun)

c. Hendak mulia tapek-I janji (amanah)

d. Hendak luruih, rantangkan tali (mematuhi aturan)

e. Hendak buliah, kuat mencari (etos kerja yang tinggi)

f. Hendak namo, tinggakan jaso (berbudi daya)

g. Hendak pandai, rajin belajar (rajin dan berinovasi)

h. Dek sakato mangkonyo ado (rukun dan partisipatif)

i. Dek sakutu makonyo maju (memelihara mitra usaha.)

j. Dek ameh sagalo kameh (perencanaan masa depan)

k. Dek padi sagalo manjadi (pelihara sumber ekonomi)

5. tanggungjawab sosial yang adil, seia sekata menjaga semangat gotong royong. Semua dapat merasakan dan memikul tanggung jawab bersama pula. Sedikit diberi bercecah dan banyak beri berumpuk, Kalau tidak ada, sama-sama giat mencarinya, dan sama pula menikmatinya

6. keseimbangan, Prinsip hidup seimbang rohani dan jsmani yang berujud dalam kemakmuran, Munjilih di tapi aia, mardeso di paruik kanyang Memerangi kemaksiatan, diawali dengan menghapus kemiskinan dan kemelaratan. Rumah gadang gajah maharam, lumbung baririk di halaman, lambang kemakmuran.

7. toleran, seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat Minangkabau diarahkan kepada pandai hidup dengan jiwa toleran, sesuai dengan pesan Rasulullah, bahwa sesungguhnya zaman berubah, masa berganti. Seorang yang arif tidak oleh melarikan diri dari perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat mendorong dan membuka peluang untuk memilih yang lebih baik di antara beberapa kemungkinan yang tersedia. (Hujarat ;13)

8. kesetaraan, timbul dari sikap berusyawarah yang telah hidup subur dalam masyarakat Minangkabau. Sejalan dengan itu diperlukan saling tolong menolong dengan moral dan buah pikir dalam memperbanyak lawan baiyo(musyawarah). Kedudukan pemimpin, didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, dan karenanya perlu melipat gandakan teman berunding. Sikap musyawarah membuka pintu berkah dari langit dan bumi

9. kerjasama, menyayangi dan mengutamakan kepentingan orang banyak dengan sikap pemurah, yang merupakan sikap mental, dan kejiwaan yang tercermin dalam mufakat. Mufakat bertujuan menegakkan kebenaran dengan pedoman tunggal, hidayah dari Allah.

10. sehina semalu, adalah dasar dalam memahami persoalan berdasarkan atas disekeliling masalah seseorang dengan bersama dan bersama dengan seseorang. Mengadakan sistematik dalam adat Minangkabau adalah sulit, sebab sesuatu hal adalah sebagian dari keseluruhan, yang satu bersangkut paut dengan lainnya, semuanya tupang menopang, walau hal sekecil apa pun.

11. tenggang rasa dan saling menghormati, adalah inti dari fatwa adat tentang budi atau akhlaqul karimah.

12. Keterpaduan, “barek sapikua, ringan sajinjiang”, saling meringankan dengan kesediaan memberikan dukungan dalam kehidupan. Kerja baik dipersamakan dengan saling memberi tahu sanak saudara dan jiran. “Karajo baiak baimbauan, karajo buruak baambauan. Apabila musibah menimpa diri seseorang, maka tetangga serta merta menjenguk tanpa diundang.

13. Sikap musyawarah, merupakan konfigurasi kolektivitas. Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mupakat.

Prinsip-prinsip tersebut merupakan prinsip operasional yang melembaga di dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau.

Jiwa ketuhanan merupakan suatu keterikatan yang terpercik dari hakikat tawhid, dan menjadi ‘modal dasar’ dalam setiap jiwa insan yang telah dititahkan Allah sebagai khalifah-Nya.

Sementara hakikat insaniyah sebenarnya terletak pada ikatan insan sebagai hamba dan khalifah Allah. Hanya Allah pusat penghambaan dan seluruh aktifitas kekhalifahan pun juga tidak boleh lepas dari rasa dan hubungannya dengan Allah.

Karena tawhid atau nilai ketuhanan adalah konsep pembebasan insan dari segala bentuk kungkungan dan dominasi, maka jiwa insaniyah sebenarnya adalah esensi penghambaan sekaligus esensi dari pembebasan insan.

Pembebasan di sini bermakna, bagaimana jiwa ketuhanan menjadi pendorong bagi tindakan insan sebagai mahluk Allah yang mempunyai tanggungjawab sebagai khalifah.

Setiap kebijakan, keputusan dan tindakan mesti berorientasi pada kebajikan dan kemashlahatan ummat insan; pengayom bagi yang kecil dan menjadi suluh bagi mayoritas.

Dalam realitasnya, jiwa insaniyah merupakan sebuah komitmen sekaligus aksi kemanusiaan melakukan transformasi sosial. Dan, dalam kerangka inilah selayaknya insan Minangkabau ditempatkan dalam bergerak dan berproses dalam kaedah nilai ketuhanan dan kemanusiaan yang amal shalehnya berorientasi pada kemashalahatan umat.

Orang Minangkabau dalam kehidupan yang nyata mengalirkan kehidupan mereka dalam dimensi makna yang beragam.

Keragaman dimensi makna yang menjadi arah dan tujuan kehidupan bukan sebuah hal yang tidak disengaja. Bahkan hal tersebut merupakan pilihan paling sadar masing-masing orang Minangkabau dalam menentukan hidup dan kehidupan mereka.

Dalam keberagaman makna, pada wilayah yang paling hakiki, sesunguhnya aliran kehidupan itu mengalun dalam jiwa dan nilai yang sama antar satu dengan yang lainnya. Sesuai dengan khittahnya, insan terlahir dalam keadaan fitrah.

Fitrah adalah sebuah potensi dasar dimana insan selalu cenderung kepada kebenaran, keadilan dan kebajikan.

Kebenaran adalah nilai fundamental yang menjadi dasar tempat berpijak, bergerak dan berakhirnya semua kehidupan.

Watak dasar insan yang hanif menuntun mereka untuk selalu berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran, melakukan yang benar dan mengarahkan semua kerja sosialnya pada kebenaran itu sendiri.

Bagi orang Minang kebenaran merupakan sebuah keniscayaan untuk menciptakan tatanan yang adil dalam interaksi antar masyarakat.

Kebenaran atau “nan bana” dalam hubungan sosial bermakna bahwa segala kebijakan, keputusan dan siklus kehidupan sosial harus berlandaskan dan mempunyai kecenderungan pada kebenaran.

Kebenaran merupakan alas dari setiap produk sosial; politik hukum, ekonomi, budaya, sekaligus menjadi harapan dan impian tentang kehidupan yang berharkat dan bermartabat.

Orientasi hidup pada kebenaran yang diatur dalam bentuk kesepakatan tidak tertulis menuntut suatu kearifan tersendiri bahwa manusia dalam kehidupannya mempunyai hak yang sama.

Pengakuan bahwa manusia memiliki hak yang sama adalah hak dasar yang menjadi pilar dari segala aktivitas kemanusiaan. Kebenaran dalam prakteknya tidak berdiri sendiri tapi ia senantiasa harus ditopang oleh nilai-nilai keadilan, dan nilai-nilai kebajikan.

Hakekat kebenaran, keadilan, dan kebajikan adalah sesuatu yang terus-menerus dicari, karena kenyataannya manusia sangat rindu akan tatanan yang adil, dan dijalankan atas prinsip kebenaran, yang digerakkan oleh nilai-nilai kebajikan.

Keadilan adalah sesuatu yang paling penting menopang kehidupan insan Minangkabau.

Tidak ada kehidupan yang sebenarnya bisa luput dari keadilan; keadilan adalah tonggak bagi kehidupan sosial.

Karena itu, semestinya kini ruh keadilan menjadi lokomotif dalam siklus kehidupan masyarakat Minangkabau. Dengan keadilan diharapkan Minangkabau kembali meraih harkat dan martabatnya sebagai sebuah entitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam konteks yang sesungguhnya, kebenaran merupakan sandaran keadilan; orang selalu dituntut untuk selalu mentransformasikan suatu kebenaran dan dengan kebenaran itu pulalah insan menjalankan keadilan. Adil adalah ciri taqwa.

Konsep adil tidak menyangkut ajaran teologis semata melainkan ajaran kemanusiaan yang harmonis yang didambakan oleh siapapun dan bersifat universal.

Sebagai nilai dasar kebenaran, keadilan, dan kebajikan bagi kehidupan masyarakat Minangkabau yang terpancar dari perpaduan antara Adat dan Islam, akan melahirkan gugusan-gugusan nilai-nilai operasional bagi struktur sosial dan kultur Minangkabau. Karena itu menjadi penting menegaskan kembali hakikat dari kebenaran, keadilan dan kebajikan yang nantinya akan mendorong terciptanya kebangkitan Minangkabau berdasarkan internalisasi nilai-nilai Islam dan adat Minangkabau.

Prinsip-prinsip kebenaran, keadilan dan kebajikan yang lahir dari nilai ilahiah dan insaniah ini haruslah menjadi kerangka acuan dalam menentukan arah dan corak kehidupan insan Minangkabau.

Karena Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah adalah kerangka filosofis orang Minangkabau, maka prinsip kebenaran, keadilan dan kebajikan menjadi semangat dan jiwa dalam tindakan, sikap dan watak orang Minangkabau.

Berdasarkan keterikatan insan pada khittahnya “kebenaran, keadilan dan kebajikan” kemudian menggiring masyarakat Minangkabau manganut paham pada falsafah hidup yang tegas dan mengikat berdasarkan Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah Watak dan sikap di atas selain lahir sebagai keniscayaan dari proses hidup yang dilalui dengan pertentangan dan perimbangan, ia juga terpercik dari filosofi ”hiduik baraka, mati bakiro, balik ka Allah jo keimanan”.

”Hidup ba raka” bermakna tidak ada kehidupan yang dilalui tanpa pertimbangan akal. Akal dalam konteks sesungguhnya bermakna ikatan antara ’rasa’ yang timbul dari hati nurani dengan ’pareso’ yang lahir dari kedalaman pikiran.

Ada keseimbangan yang hakiki yang ingin dicapai oleh insan Minangkabau; orang Minangkabau terus melakukan pergulatan dengan akal, dan budi dalam rangka mempercepat pencapaian harkat, martabat dan hakikat kebenaran dalam kehidupan.

Selanjutnya, ”mati ba kiro” yang terjiwai oleh insan Minangkabau merupakan turunan atau malah menjadi sesuatu yang integral dari proses ”hidup ba raka”.

Dalam mempertahankan harga diri harus ditanamkan semangat lebih baik mati dari pada menggadaikan harga diri, baik secara individu, maupun yang sifatnya kolektif. Tidak ada tawar menawar dan tarik ulur meskipun nyawa taruhannya.

Bagi insan Minang ada puncak piramida yang tersirat dari realitas sesungguhnya dalam dunia ini, yaitu realitas Allah Yang Abadi yang mengaliri kehidupan.

Dengan demikian, pilihan puncak dari siklus hidup ”baliak ka Allah jo keimanan” adalah satu-satunya gerbang kebajikan yang sesungguhnya.

Melalui pemaknaan dan penghayatan seperti ini, orang Minangkabau selalu terdorong menciptakan tatanan dinamis, terbuka, dan kuat dalam membangun individu mandiri, dan beradab untuk mewujudkan masyarakat yang memiliki harkat dan martabat yang tinggi. Dengan demikian, insan Minangkabau adalah pribadi yang selalu menuju titik keseimbangan dan menjalin corak hidup dari iman, ilmu, dan amal.

Inilah makna filosofis sesunguhnya dari ”tali tigo sapilin, tungku tigo sa jarangan”.

Dengan penjiwaan ini, orang Minangkabau adalah sosok pribadi dan masyarakat yang tidak gentar, bahkan amat sadar akan tantangan zamannya; mereka selalu menghadap ke depan, dan mereka tidak akan rela menyeret diri kembali ke belakang; mereka selalu terbuka terhadap setiap perubahan ”sakali aia gadang, sakali tapian barubah, namun tapian tatap itu juo”.

Walaupun demikian orang Minangkabau tidak mudah terseret ke dalam arus yang menegaskan kearifan kulturalnya ”walau duduak lah bakisa, tapi bakisa dilapiak nan sahalai, walaupun tagaklah barubah, nan tatap di tanah nan sabingkah”.

Layaknya ”zaman boleh berubah, tapi realitas tidak boleh tercerabut dari akarnya”.

E. POLA INTERAKSI PERGAULAN MASYARAKAT MINANG

Kehidupan setiap orang adalah bagian dari kehidupan orang lain. Hal ini terurai sebagai sunnatullah, yang dibingkai dalam ruang dan waktu. Setiap orang bisa saja berada dalam ruang dan waktu yang berbeda.

Perbedaan atas ruang dan waktu, seyogianya melahirkan kearifan bagi orang Minangkabau dalam memaknai kehidupan, dan menjadi piranti dalam proses dinamika kehidupan yang selalu berubah.

Manusia Minangkabau mengenal dirinya dalam tiga segi hubungan, yakni hubungan bernasab kepada ayah, bersuku kepada ibunya, dan bersako kepada mamaknya.

Prinsip utama dalam kehidupan orang Minangkabau, kehidupan tidak hanya untuk diri sendiri sebagai individu yang tunggal, namun harus mempertimbangkan sebagai bagian kehidupan bersama dan menempatkan dirinya dalam hubungan di mana dia berada.

Dia insyaf akan kedudukannya dalam setiap hubungan tersebut. Itu pulalah yang mendidiknya sadar akan kedudukannya, sehingga ia sanggup menjadi pemimpin kelak bila diperlukan.

Dalam mengatur kehidupan bersama, masyarakat Minangkabau menempatkan diri dalam dimensi nilai yang tertuang dalam kato pusako.

Kato pusako ini telah menjadi pegangan dalam mengatur pola interaksi antara sesama insan dalam kurun waktu yang panjang.

Dalam pergaulannya, orang Minangkabau selalu bertindak dalam jalur moralitas, karena berpantang melakukan hukum rimba dalam pergaulan.

Hidup harus dijalankan dengan semangat kekeluargaan. Karena itu pula, orang Minangkabau selalu harus bersikap adil dan seimbang.

Untuk menata ruang dan waktu dalam semangat keadilan dan berimbang, orang Minangkabau selalu mengembangkan diri dalam dimensi yang luas. Oleh sebab itu pula, orang Minangkabau sangat luwes dalam menjalani kehidupan yang penuh ragam.

Sebagai seorang Minangkabau, mengenal tiga hubungan kekerabatan, yakni bernasab kepada ayah, bersuku kepada ibu dan bersako kepada mamak.

Perbedaan ketiga hubungan kekerabatan tersebut merupakan prinsip dari dinamika kehidupan yang berakar pada pandangan alam takambang jadikan guru.

Dengan semangat kebersamaan, egaliterian bagi orang Minangkabau merupakan dinamika dalam kehidupannya, sehingga ia dapat menempatkan dirinya dalam setiap hubungan kekerabatan tersebut.

Selain menjunjung kebersamaan, orang Minangkabau sangat memahami perbedaan sebagai fitrah manusia, yang perlu dikelola sedemikian rupa sehingga menciptakan harmonisasi dalam tataran kehidupan yang kompleks.

Merupakan sebuah keniscayaan, bahwa perbedaan merupakan suatu keindahan tersendiri bagi masyarakat Minangkabau.

Nilai estetis yang terkandung dalam perbedaan dianggap sebagai ikhtisar untuk saling melengkapi.

Prinsip hidup yang tidak membedakan antara satu sama lain, sehingga menumbuhkan sikap ikhlas menerima perbedaan sebagai kenyataan kehidupan.

Sikap ini kemudian melahirkan kearifan memahami sisi-sisi kehidupan yang beragam.

Di balik kearifan tersebut tersirat berbagai makna kehidupan yang mengalir dalam ruang dan waktu yang selalu berubah.

Hubungan sosial antar orang Minangkabau, diurai secara apik agar terjalin keharmonisan dalam bingkai etika yang mapan. Itu pula sebabnya, orang Minangkabau menempatkan budi sebagai ajaran tertinggi adatnya.

Hanya dengan budi, pertalian yang akrab antar anggota masyarakat dapat diwujudkan. Allah pun menyuruh insan untuk berlemah lembut, tidak boleh berlaku kasar.

Cerminan tersebut antara lain terlihat dari tradisi dialog secara santun dalam bertutur kata dengan semua orang.

Perkataan pun diatur dalam ritme dan intonasi yang berbeda terhadap semua orang sesuai dengan kapasitasnya, pola komunikasi tersebut tetap dibingkai dengan rasa santun dan empati.

Rasa santun dan empati terhadap semua orang melahirkan rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap realitas kemasyarakatan.

Rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap sesama dalam menjalani kehidupan melahirkan sikap yang responsif dalam fluktuasi kehidupan yang digambarkan sebagai roda pedati. Sehingga dengan demikian solidaritas antar sesama melahirkan sikap saling tolong menolong dalam kesulitan.

Dalam kehidupannya, orang Minangkabau selalu berbagi dan saling tolong menolong antara satu sama lain dalam semua kesempatan maupun kesempitan. Dalam hidup semua keuntungan untuk semua orang, dan semua kerugian ditanggung bersama.

Dalam hal tanggungjawab, orang Minangkabau meletakkan sesuatu pada tempat yang tepat pada wilayah eksternal dan memegang teguh prinsip kedisiplinan dan keterbukaan dalam wilayah internal.

Dalam dua dimensi ini sesungguhnya orang Minangkabau menempatkan tanggungjawab dalam memikul beban yang ditompangkan di atas pundak mereka.

Rasa tanggungjawab tetap berkelindan dalam dimensi ruang dan waktu yang termanifestasi dari bagaimana orang Minang mempertanggungjawabkan segala sesuatu terkait dengan dua dimensi tersebut pada wilayah individu dan masyarakat.

Dengan jalinan antara dua dimensi pertanggungjawaban atas amanah yang ditompangkan di atas pundaknya, orang Minangkabau memelihara keseimbangan dalam interaksi sosial kemasyarakatan.

Dan pada ujungnya rasa tanggungjawab bermuara pada harga diri.

Dalam mempertahankan harga diri merupakan prinsip menanamkan semangat lebih baik mati daripada menggadaikan harga diri. Baik itu harga diri secara individu maupun harga diri yang sifatnya kolektif (keluarga, suku dsb).

Selain itu harga diri bagi orang Minangkabau merupakan sesuatu yang tidak dapat ditakar dengan emas berbilang. Sehingga tidak ada tawar menawar dan tarik ulur dalam hal harga diri meskipun nyawa yang menjadi taruhannya.

Untuk mempertahankan harga diri yang merupakan “ruh” untuk bertahan hidup, orang Minangkabau berupaya mengumpulkan “emas berbilang”, dan “nama terbilang”.

Usaha yang dilakukan dalam mendapatkan emas berbilang, nama terbilang, ketulusan dan keikhlasan dalam berusaha menjadi faktor pendukung utama dalam meningkatkan taraf ekonomi agar harkat dan martabat mereka terjaga.

-1- Adat Bersendi Syarak sebagai Landasan Pembangunan Jangka Panjang

-2- Konsep Falsafah Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah

-3- Pandangan Ninik Mamak, Pemangku Adat tentang Adat Bersendi Syarak

-4- Adat Bersendi Syarak sebagai Pedoman Hidup Banagari

-5- Peranan Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Dalam menunjang Program Pembangunan

-6- Program Strategis dan Pengembangan Adat Bersendi Syarak .

Pada dasarnya, hukum dan norma Islam yang bersifat universal diterima oleh setiap lapisan masyarakat Minangkabau, dan disesuaikan pula dengan perkembangan zaman.

Pandangan hidup, adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, diterapkan dalam struktur suku sehingga perangkat suku terdiri dari penghulu (perangkat adat) didampingi imam khatib dan malin sebagai perangkat agama;

Sarana nagari, babalai dan bamunsajik, mempunyai balai-balai dan mesjid. Setiap nagari mempunyai balairung, tempat musyawarah perangkat nagari seperti penghulu, imam khatib dan cerdik pandai (kepemimpinan tungku tigo sajarangan).

Masjid dan mushalla menjadi pusat ibadah dan pendidikan agama bagi anak nagari.

Dalam norma hukum, masyarakat Minangkabau mematuhi hukum adat, hukum syarak, dan Peraturan/dan undang-undang negara.

Perkawinan dilakukan menurut syariat Islam (ijab kabul), peresmiannya secara adat Minangkabau (disebut bersaluk adat) dan pencatatan menurut administrasi pemerintahan.

Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah menjadi ukuran di nagari dan di alam Minangkabau dalam menyelesaikan segala persoalan dunia dan akhirat. Apa yang dikatakan oleh syarak itulah yang dipakai oleh adat, syarak mangato, adat mamakai.

Pengaruh agama Islam melahirkan ungkapan adat, yaitu adat diisi, limbago dituang, syarak nan lazim, adat nan kewi, syarak nan lazim, syarak mandaki, adat manurun.

Kehidupan di Ranah Minang akan aman dan sentosa, bila kedua nilai adat dan syarak sama dilaksanakan oleh masyarakat.

1. Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah diakui sebagai hak asal usul dan susunan asli.

2. Falsafah Alam Takambang Jadi Guru sebagai pencerminan dari ciptaan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa yang menjadi anutan, jika bermain dengan alam, patah tumbuh hilang baganti, pusaka lama tidak berubah. Artinya, setiap yang bersifat instrumental dapat berubah, namun yang bersifat fundamental tak terganti.

3. Ajaran Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah, pengakuan adanya kepemimpinan masyarakat Minangkabau dalam kesatuan Tungku Tigo Sajarangan yang terdiri dari Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cadiak Pandai,

Pedoman hidup masyarakat adat senantiasa didasarkan atas Tigo Sapilin: hukum adat, agama dan undang-undang.

1. Nagari dihormati sebagai hak asal usul dan mempunyai hak-hak istimewanya sebagai wilayah hokum adat. Keberadaan secara hukumdiakui oleh Undang-Undang Dasar 1945.

2. Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cadiak Pandai menerima kenyatan tentang adanya perubahan, namun berupaya tetap adat Minangkabau yang berisikan syariat yang berdasarkan Al Quran dan Sunah Rasul.

3. Ninil Mamak pemangku adat senantiasa mendorong peningkatan kualitas anak kemenakan.

a. di bidang sosial; mendorong pertumbuhan dan perkembangan semangat egaliter dan sikap mandiri yang kosmopolit

b. di bidang pelestarian adat, ajaran Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah menjadi rujukan dari etika bagi seluruh system masyarakat, seperti sistem sosial, sistem politik, sistem hukum, pendidikan , dan lain-lainnya guna peningkatan sumber daya anak kemenakan dalam meningkatkan kemampuan menyerap ilmu dan teknologi, sosial, politik internasional.

c. Di bidang ekonomi, meningkatkan usaha pemilikan modal serta usaha kebersamaan dengan memanfaatkan tanah ulayat sebagai penyertaaan modal pemberdayaan ekonomi kerakyatan dalam semua aspek kehidupan masyarakat yang dituangkan secara konkrit dalam rencana tindakan dan dilaksanakan oleh tenaga-tenaga profesional di bawah badan hukum.

d. Di bidang politik, mengikutsertakan seluruh anak kemenakan sebagai suatu mekanisme yang telah ditentukan dan disepakati. Dalam kaitan kekuasaan maka pemimpin dilihat sebagai orang “yang ditinggikan selangkah, ditinggikan seranting”. Dalam kepemimpinan alurnya adalah, “kemenakan beraja kepada mamak, mamak beraja ke penghulu, penghulu beraja ke mufakat, mufakat beraja kepada Yang Benar; Yang Benar berdiri dengan sendirinya.

e. Di bidang pendidikan; meningkatkan kualitas anak kemenakan yang aktif kreatif dan mempunyai adatasi dalam perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi, dan sikap berdisiplin bagi peningkatan etos kerja berlandaskan pendidikan adat dan agama.

4. Ninik Mamak pemangku Adat Minangkabau berpendapat bahwa nilai Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah berorientasi ke masa depan yang lebih baik, maupun benturan budaya luar yang tidak jelas arahnya, menyebabkan orang Minangkabau telah mengalami erosi nilai dan etika sehingga masa depan yang lebih baik akan menempuh jalan yang panjang dan berliku.

Oleh karena itu diperlukan suatu sikap dan keberanian moral dalam menetapkan garis kebijaksanaan dan peran adat Minangkabau dalam menangkal terjadinya erosi nilai tersebut Adat Bersendi Syarak dipandang potensial sebagai pedoman hidup banagari, antara lain karena:

1. Mengandung etika hukum yang rasional, seperti diungkapkan mamangan, “Hukum adat bersendi alur dan patut serta patut dan mungkin yang dibimbing kebenaran yang mutlak dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.

2. Nilai budaya egaliter mengandung prinsip menghargai orang lain dan lingkungannya, sertam membangkitkan daya juang yang kompetitif tanpa merusak ekstensi di luar diri dan lingkungannya.

3. Sikap masyarakat yang kosmopolit mendorong tingkat mobilitas, juga menyababkan mereka dapat menerima perubahan tanpa kehilangan nilai adatnya yang essensial.

4. Dialektika alam mengajarkan untuk menerima perbedaan pendapat dan tingkat hidup dengan kemampuan berpikir dan berusaha.

5. Alam demokrasi,”duduk sama rendah, tegak sama tinggi” mengajarkan bahwa setiap manusia adalah substansi fungsional menurut kodratnya masing-masing, karena itu setiap orang mempunyai hak yang sesuai dengan harkatnya sebagai manusia.

Nagari, sebagai tempat kediaman mempunyai peraturan, hukum atau undang yang mengatur tingkah laku anggota masyarakatnya.

Undang itu terdiri dari adat, agama (syarak), undang dan cupak. Sebagai norma, adat adalah beberapa ketentuan dan aturan dalam membimbing kehidupan manusia menurut patut dan mungkin. Agama, adalah peraturan yang ditetapkan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa untuk sekalian alam melalui Nabi Muhammad s.a.w.

Undang, peraturan dan pedoman tindakan, maupun kesalahan yang dilakukan masyarakat.

1. Melalui ajaran Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah ditumbuhkan kondisi kehidupan yang dinamis kreatif, baik yang berakar dari salingkar nagari, maupun bersumber nilai-nilai budaya baru.

2. Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah berperan sebagai nilai spiritual dalam mengokohkan jati diri masyarakat Minangkabau yang fundamental sifatnya. Nilai-nilai baru, dari mana sumbernya yang bersifat instrumental dapat memperkaya imaji dan kreativitas adatitu sendiri.

3. Program Kurikulum Muatan Lokal yang terpadu. adat dan agama, di sekolah perlu bagi menumbuhkan keyakinan akan harkat nasionalitas bangsa yang tinggi melalui metode yang aktif dan non verbalistis.

A 1 a. Program strategis secara menyeluruh haruslah mendorong semangat mandiri dan kreativitas yang kompetitif di bidang ilmu dan teknologi, ekonomi dan pengembanga sumber daya.

b. Penyelenggraannya dilaksanakan oleh tenaga-tenaga professional di bawah badan hukum

c. Kontinuitas pelestarian adat bersendi syarak secara menyeluruh di setiap lapisan masyarakat Minangkabau melalui pelatihan, penerbitan dan publikasi.

d. Kontinuitas pemberdayaan ekonomi kerakyatan/ syariah dengan memanfaatkan sumberdaya alam berupa tanah ulyat berlandaskan penyertaaan modal (syariah) yang normative dan koperasi.

e. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui pendidikan, pengajaran, pelatihan dan teknologi pengembangan adat dan kesenian tradisional seerta seni bela diri..

f. Membentuk lembaga studi hukum tanah yang mempelajari data sumberdaya alam yang akurat, status dan pemanfaatannya.

2. Program tersebut adalah upaya memajukan Sumatera Barat dalam semua aspek kehidupan masyarakat banagari yang dituangkan secara konkrit dalam rencana tindakan.

B. Menghadapi tantangan globalisasi, kiranya perlu dilakukan beberapa langkah stategis:

Pertama, mengajak umat mengenal makna yang sebenarnya dari proses globalisasi serta implikasinya bagi kehidupan umat dan bangsa dalam berbagai aspeknya.

Globalisasi sebagai suatu proses pada akhirnya akan membawa seluruh penduduk bumi menjadi suatu “world society” dan “global society” harus dipandang dan dipahami sebagai proses yang tidak terhindarkan yang diakibatkan semakin majunya peradaban manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi.

Kedua, dalam konteks Islam, umat harus diajak menyadari bahwa ajaran Islam dengan tegas dan gamblang sejak awal memandang umat manusia sebagai sutu kesatuan (ummatan waḥidah) yang dalam wacana globalisasi senantiasa merupakan ujungnya.

Kesadaran tentang umat manusia ini pada dasarnya merupakan kelanjutan dari ajaran tauhid tentang asal usul manusia. Umat Islam tidak perlu takut akan proses gloalisasi meskipun memang perlu waspada.

Kewaspadaan harus diujudkan dalam sikap dan peri laku kreatif dengan menggali tak kenal henti sari pati dan hikmah ajaran Islam untuk didakwahkan dan disumbangkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

Ketiga kita harus mengembangkan kehidupan yang “turn in” dengan tuntutan perkembangan di era globalisasi ini. Seiring dengan globalisasi ekonomi maka kekuatan suatu bangsa tidak lagi ditentukan oleh kekayaan alam tetapi akan semakin ditentukan oleh ketangguhan watak dan daya intelektualnya.

Tantangan besar saat ini adalah menata ulang masyarakat dengan nilai ketuhanan (tauhid) dan budaya (tamadun). Kehidupan Islam di tengah peradaban manusia menggiring masyarakat menuju madaniyah, modern, maju dan beradab.

Masyarakat madani menjadi anti tesis terhadap gradasi moral dan peradaban westernisasi. Masyarakat madaniyah memiliki sikap cinta yang menjadi perekat antara pengalaman sejarah dengan batas patut dan pantas.

Umat yang kuat dan sehat fisik, jiwa dan ide (pemikiran), serta sehat sosial, ekonomi, pendidikan dalam ruang lingkup yang integratif; memiliki cara hidup menurut ajaran Islam (syarak) dan pemikiran yng konstruktif (amar makruf) dan meninggalkan pemikiran destruktif.

Syarak mendorong ke arah perbaikan san peningkatan mutu dengan ilmu pengetahuan (knowledge), budaya (culture base) dan agama (religious base). Berdiri sendiri tanpa tergantung pada orang lain (self help), membantu dengan ikhlas karena Allah swt. (selfless help) dan saling kerja sama satu sama lain (mutual help).

[draft.HMA, utk Tim Kompilasi ABSSBK,2008/2009]

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s