Diarsipkan di bawah: ABS-SBK, Buya Masoed Abidin, Khotbah, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Pendidikan, Suluah Bendang di Nagari, Sumatera Barat, Surau
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
“Dan pada sebagian malam hari, (shalat) tahajjudlah sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhamu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”
(Q.S. Al Israa: 79)
Sifat Ibadurrahman yang ketiga: Shalat Malam
Pada malam hari Ibadurrahman berada dalam keadaan antara sujud dan berdiri, yang berarti mereka sedang mendirian shalat (Qiyamullail).
Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Q.S. Al Furqan: 64)
Mereka diberi sifat sujud, karena mereka meletakkan kening di atas tanah, menghadap Allah. Dan mereka juga berdiri, membaca Kalamullah.
Ibadurrahman melakukannya bukan mencari kehormatan di mata manusia, bukan untuk mencari ketenaran dan pujian, tapi mereka melakukannya karena mengharap ridha Allah dan rahmat-Nya serta karena takut akan azab-Nya.
Di dalam riwayat banyak sekali yang menceritakan tentang keadaan Rasulullah SAW dalam melewati waktu malamnya.
Salah satunya diriwayatkan bahwa suatu hari Ubaid bin Umair dan Atha’ bin Abu Rabbah mendatangi rumsh Sayyidah Aisyah r.a lalu mereka bertanya,
“Beritahukanlah kepada kami sesutau yang paling menakjubkan yang engkau lihat pada diri Rasulullah SAW!” Setelah diam beberapa saat,
Aisyah menjawab, “Suatu malam beliau berkata kepadaku, ‘Hai Aisyah, biarkan aku malam ini beribadah kepada Rabbku.” Aku berkata, “Demi Allah, aku suka selalu dekat dengan engkau, namun aku juga suka apa yang membuat engkau senang.”
Maka beliau bangkit, bersuci, lalu berdiri untuk mengerjakan shalat. Beliau terus menerus menangis, lalu beliau duduk dan masih tetap menangis hingga janggut beliau basah oleh air mata. Lalu beliau berdiri dan terus menangis hingga tanah di dekat beliau basah. Kemudian Bilal datang mengumandangkan Azan Subuh.
Ketika melihat beliau menagis, Bilal menghampiri beliau seraya berkata,
“Wahai Rasulullah, engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lampau dan dosa-dosamu yang akan datang.”
Beliau menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?”
Begitulah waktu malam yang dilalui oleh Rasulullah SAW, dan begitu juga yang dilakukan oleh para sahabat beliau.
Al Hasan bin Shaleh – salah salah seorang fuqaha salaf – pernah memberikan seorang pembantu perempuan kepada sekumpulan orang.
Ketika memasuki sepertiga terakhir dari waktu malam, perempuan pembantu itu bangun dan menyeru mereka, “shalat, shalat!”
Mereka bertanya-tanya, “Apakah sudah subuh? Apakah fajar sudah terbit?”
Perempuan pembantu itu balik bertanya,
“Apakah kalian tidak shalat kecuali subuh saja?”
Mereka menjawab,
“Memang, kami hanya biasa mengerjakan shalat fardhu.”
Maka perempuan pembantu itu menemui Al Hasan dan memohon kepadanya dengan berkata,
“Tuan telah menyerahkan aku kepada sekumpulan orang yang tidak mendapatkan bagian apapun dari waktu malam mereka. Demi Allah aku memohon agar tuan mengambil aku kembali.”
Barangsiapa yang tidak mau melakukan shalat malam, maka hendaklah ia mendirikan shalat fardhu tepat pada waktunya dan tidak mengulur-ulur shalat subuh sehingga matahari hampir terbit pula karena kesukaan tidur atau lebih suka tidur daripada mengabdi kepada Tuhannya.
Yusuf Al Qardhawy mengatakan,
“Pola hidup manusia sudah banyak yang rusak. Dulu mereka suka tidur lebih cepat dan bengun lebih cepat pula. Ketika berbagai macam perangkat dan fasilitas modern, media massa, TV, film, Video ada di mana-mana, maka mereka belum tidur hingga tengah malam, dan mereka pun kesulitan bangun lebih dini.”
“Disebutkan dari Nabi SAW, bahwa ada seseorang yang tidur sepanjang malam hingga pagi hari. Maka beliau bersabda, “Itulah orang yang dikencingi syeithan di bagian telinganya.” (H.R. Bukhari & Muslim)
Rasulullah SAW bersabda:
“Syeithan membuat tiga simpul tali di bagian belakang kepala salah seorang di antara kalian, yang pada setiap simpul tali ia bubuhkan stempel, ‘Malam masih panjang, maka tidurlah lagi’, Jika ia bangun dan menyebut nama Allah, maka simpul itupun terburai.
Jika ia wudhu’, maka satu simpul lagi terburai,
Jika ia mendirikan shalat, maka seluruh simpul terburai, sehingga dia menjadi bersemangat dan tentram jiwanya. Jika tidak, maka tertekanlah jiwanya dan (timbullah) malas.”
(H.R. Bukhari)
Simpul tali syeithan itu senantiasa ada di kepala setiap orang.
Karena itu Rasulullah SAW bersabda;
“Lepaskanlah simpul tali syeithan itu meskipun dengan dua rakaat.” (H.R. Ibnu Khuzaimah)
Syaikh DR. Yusuf Al Qardhawy mengatakan,
“Shalat malam dapat dikerjakan seusai shalat Isya hingga waktu fajar.
Kita bisa memilih bagian dari bentangangan waktu itu.
Shalatlah menurut kesanggupan, bisa dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat, hingga dua belas rakaat, dan akhirilah dengan shalat witir, karena sesungguhnya akhir shalat malam itu dipersaksikan.
Tuntunan yang paling sederhana dari setiap muslim ialah melaksanakan shalat fardhu.
Tapi Allah mensifati Ibadurrahman, bahwa mereka adalah orang-orang yang sujud dan berdiri melaksanakan shalat di waktu malam (Qiyamullail), dan tidak mensifati mereka sebagai orang-orang yang hanya memelihara dan mendirikan shalat fardhu.
Memang memelihara shalat fardhu merupakan satu tingkatan, tapi itu bukan tingkatan Ibadurrahman. Artinya, Ibadurrahman memiliki tingkatan yang lebih tinggi lagi.”
Abdullah bin Sallam berkata,
“Ketika pertama kali Rasulullah SAW menginjakkan kaki di Madinah, maka orang-orang berkerumun mengelilingi beliau, dan aku termasuk mereka yang ikut berkerumun.
Setelah aku amati kuperhatikan wajah beliau, maka aku tahu bahwa wajah itu bukanlah wajah pendusta. Perkataan yang pertama kali aku dengar dari beliau adalah :
“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalinlah hubungan persaudaraan dan shalatlah pada malam setelah manusia tidur, niscaya kalian akan masuk sorga dengan sejahtera.” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)
Allahi A’lam bi as Shawab
Wassalam,
Buya H. Masoed Abidin
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
gelar ‘Abdulloh adalah makhluk yang selalu beribadah, dan tidak pernah sombong, sedangkan gelar ibnulloh (mengaku keturunan anak tuhan) adalah gelar yang selalu sombong di muka bumi dan selalu berbuat angkara murka, karena paham menjadi Dewa, menjadi Anak Dewa atau paham menjadi tuhan. Maka tidak heran bila mereka yang dekat dengan anak tuhan bertingkah laku seperti Fir’aun.
Komentar oleh sulaiman April 10, 2009 @ 9:09 amMaka amatlah jelas ajakan Allah menyuruh kita membina diri menjadi Ibadurrahman, menjadi hamma Allah… Bukan menjadi Ibnullah atau anak tuhan .. yang menjadi penyebab hancurnya manusia dari harkat kemanusiaan menuju istidraj (peluncuran) sebagai layaknya Fir’aun penguasa bersilantas angan, Hamman sang jenderal perkasa yang angkuh, atau Qarun orang kaya yang sombong itu. Na’udzubillah.
Komentar oleh Buya Masoed Abidin April 10, 2009 @ 10:56 amDownload Software AL-QUR’AN Pro Ver. 3.0
Komentar oleh Frida Lidwina April 17, 2009 @ 8:31 amAl-Qur’an lengkap 30 juz ( 114 Surat + teks & terjemahan (Arab/English/Indonesia))
Tafsir Quran Lengkap, Penunjuk waktu sholat, 21 bahasa terjemahan Al-Quran, Al-Qur’an Audio with Voice of Shaikh Sudaish (Imam Mecca).
Download Gratis Sekarang . Link Download http://www.ziddu.com/download/3082887/Al-QuranProVer.3.0.exe.html