Membangun Generasi Utama yang Unggul yang beriman dan berakhlak dan selalu siap memimpin umat dan bangsa

Membangun Generasi Utama yang Unggul

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

A.    Generasi Unggul

Generasi Muda adalah kelompok besar di tengah satu bangsa semestinya dibentuk menjadi Generasi Unggul (khaira Ummah) yang akan memikul amanah peran pelopor perubahan (agent of changes) berbekal keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT selalu melaksanakan misi amar makruf nahyun anil munkar.

Fitman Allah menyebutkan ; “  kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.Ali Imran : 110)

Generasi Unggul harus tumbuh  menjadi kelompok  muda yang penuh dengan keimanan kepada Allah dan Allah lengkapkan mereka lagi dengan hidayah. (QS.al Kahfi).

Generasi Unggul memiliki akal budi yang jernih, sehingga berkem,ampuan menghadapi berbagai tantangan global. Mereka memiliki  jati diri sesuai fitrah anugerah Allah, yakni Beriman serta selalu mengajak kepada kebaikan serta melarang dari kemungkaran.

Tantangan masa kini  antara lain infiltrasi dan penetrasi budaya sekular yang menjajah mentalitas manusia, seperti the globalization life style serta suburnya budaya lucah yang menonjolkan keindahan sebatas yang dilihat, didengar, dirasa, disentuh, sensual, erotik, seronok atau sikap hedonis, kadang-kadang ganas (anarkis), dengan kebiasaan menengggak miras, pergaulan bebas dan kecanduan madat dan narkoba. Hal sedemikian terjadi karena mengabaikan batasan-batasan perilaku luhur yang telah menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan dalam menata kehidupan bersama.

Pranata sosial Masyarakat Beragama yang Madani di Sumatera Barat, semestinya berpedoman kepada bimbingan wahyu Allah (Alquran) dalam menata adat perilaku bermasyarakatnya. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Peran amar ma’ruf nahi munkar menjadi wujud penciptaan tatanan masyarakat yang rukun, damai, aman sentosa penuh keharmonisan dan sopan santun penduduknya. Tidak dapat diabaikan dan mesti digerakkan dengan terarah dan terpadu, gerakan da’wah  akhlaqul Karimah  dengan tujuan untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

Hilangnya Akhlak , umumnya disebabkan   Agama tidak diamalkan, Ibadah lalai, nilai etika budaya terabaikan,  akibatnya masyarakat akan hancur.

Sabda Rasul Allâh SAW mengingatkan, Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri (‘ujub).” (HR. al-Tirmidziy).

 

B.    Upaya Membangun Generasi Unggul Berprestasi.

Dapat dilakukan melalui pendidikan berkarakter,

  1. Membudayakan Wahyu Al Quran,
  2. Memakaikan adat  budaya luhur yang berpedoman kepada syari’at Islam  dengan akhlaq  Qurani, sebagai aplikasi dari ABSSBK itu. 

Ada kiat untuk meraih keberhasilan, “Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju, dek ameh sagalo kameh, artinya perlu kesepakatan  dalam tujuan bersama pencapaian cita-cita bersama,  “hasanah fid dunya wa hasanah fil akhirah”

Amat diharapkan berkembangnya pendidikan menjadi pengawal pusat kebudayaan berkarakter (memiliki marwah).  Perilaku luhur akan bergeser ketika menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat.  Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, kegemaran membuang waktu (korupsi), aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Generasi Unggul  wajib lahir dengan budaya luhur (tamaddun) yang berpaksikan tauhidik. Artinya generasi yang memiliki daya inovasi dan daya kreasi yang tinggi, ditupang oleh tamaddun yang luhur. Cahaya akal mesti diletakkan di bawah naungan wahyu agar berpadu kepintaran dengan kebijaksanaan, pengetahuan dengan hidayah, sehingga rahmat dan barakah dapat diraih. Ihsan dan kasih sayang dapat dicapai.

Dengan ilmu yang berteraskan iman, para pemimpin dan aktivis Generasi Unggul (khaira ummah) akan dapat merumus fikrah harakiah untuk merancang gerak membangun kehidupan yang diredhai Allah Azza wa Jalala.

  1.  Islam tidak mengenal  ada “pengabdian kepada benda”. Pengabdian kepada benda apapun selain Allah adalah sikap munafik dan musyrik. Konsekwensnya seorang muslim dituntut semata-mata mengabdi (menyembah) hanya kepada Allah saja. (Lihat QS.24:56, 18:110, 1:5).
  2. Ajaran Islam adalah Monotheisme berarti setiap Muslim menolak pengamalan semua bentuk ideologi dan falsafah di luar konsepsi tauhid. Allah adalah al Ma’bud  artinya sesuatu yang disembah, secara maknawi adalah pengabdian hanya kepada Allah dan kepada Allah seorang hamba minta pertolongan  (lihat QS.1:5). Dalam tatanan masyarakat Sumatera Barat dengan ciri adat Minangkabau dirakitkan keyakinan tauhid itu kedalam filosofi hidup anak nagarinya dengan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.
  3. Konsepsi Tauhid Uluhiyah adalah konsepsi tertinggi dalam ajaran ke-Tuhanan. Tanpa konsistensi (istiqamah) secara gagasan maupun gerak akan dinyatakan sebagai  musyrik (Lihat QS.6:106, 41:6,7).
  4. Seluruh Rasul diutus dengan Misi Tauhid. Apabila syari’at telah menetapkan (syarak mengata),  mestinya adat memakai. Perpaduan Adat dan Syarak di Minangkabau masa dulu itu menjadi undang-undang nagari. Undang-undang tersebut dilaksanakan dengan sempurna. Kehidupan bermasyarakat terjamin aman dan tenteram.
  5. Apabila kedua sarana ini telah berperan sempurna, maka akan didapati dikelilingnya masyarakat yang hidup dengan memiliki akhlaq perangai yang terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) sesuai bimbingan syarak.  “Pariangan manjadi tampuak tangkai,  Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo luhak rang mangatokan. Adat jo syarak jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban.” 

C.     Generasi Unggul adalah Generasi Dinamik

Generasi yang dinamik tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti. Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,  Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo  basi. Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi, Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiakkan budi.”  Dinamika kehidupan hanya dapat dibangun dengan akal yang jernih serta budi pekerti yang luhur. Apabila generasi kini dibiarkan terlena dan lupa membenah diri dengan kekuatan ijtima’i (kebersamaan), tentulah mereka akan dijadikan jarum kelindan oleh orang lain di dalam satu pertarungan gazwul fikri.

Generasi Unggul wajib meningkatkan kualitas kepimpinan dengan kemahiran tanzim Islami. Teguh ubudiyyah dan zikrullah. Mahir merancang dan mengurus, seiring dengan melatih dan membimbing. Memelihara kesinambungan proses  pembelajaran bagi generasi yang terdidik dengan paksi Islam, mampu menilai teknologi informasi, mahir bergaul dan berkomunikasi, sebagai bekal di dalam menyelesai konflik, yang kesudahannya menarik minat dan dukungan umat banyak, serta mahir berpolitik, menguasai bahasa, falsafah dan sejarah.

Generasi muda di Sumatra Barat memiliki tanggung jawab masa lalu yakni kewajiban terhadap budaya luhur (cultural base). Mempunyai tanggung jawab masa kini yaitu kewajiban terhadap diri dan masyarakat dengan menata kehidupan berlandaskan norma-norma adat dan syarak (religious base). Memiliki kewajiban masa depan yang hanya dapat diraih dengan keberhasilan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge base). Ketiga asas (basis) tersebut tampak dalam kualitas kepribadian generasi unggul di Sumatera Barat dalam mendidik dan melatih kader pimpinan. Mengatasi kurenah dan perbedaan pendapat untuk memenangkan pertarungan menumpas kebatilan. Generasi Muda berprestasi terlihat pada iltizam harakah atau gerakan saciok bak ayam sa danciang bak basi. Mengedepankan manhaj haraki yakni lazim dipakai dengan program bulek aie dek pambuluah bulek kato kamupakaik. Mengamalkan budaya amal  jama’i  yaitu kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua, tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan. 

 

D.    Gerakan Masyarakat Bersama

Pendekatan social movement menangani isu perubahan global, mesti dilaksanakan dengan tanggungjawab bersama nan elok dipakai, nan buruak dibuang. Kepemimpinan adalah amanah dan tanggungjawab didalam Manyuruah babuek baik, malarang babuek jahek,Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo. Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado karuik nan tak salasai.  Satu gerakan masyarakat bersama untuk mengangkat umat mencapai kejayaan hidup sesuai syari’at Islam. Kreativiti dan inovasi selalu berkait rapat dengan berbagai gerakan dakwah mencakupi pengurusan sumber daya manusia, komunikasi, kinerja, sinerji dan sebagainya. Akhirnya, kreativitas didukung keikhlasan mencari redha Allah.

Generasi muda masa kini mesti memiliki ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas, dalam kata adat disebutkan, Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah, padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak buliah barubah”. Generasi masa datang mesti memiliki pemahaman luas dengan tasawwur (world view). Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi unggul (khaira ummah) itu selalu awas dan berhati-hati, Bakato sapatah dipikiri, Bajalan salangkah maliek suruik,  Mulik tadorong ameh timbangannyo, Kaki tataruang inai padahannya, Urang pandorong gadang kanai, Urang pandareh ilang aka.”

Dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan tata nilai dan pergaualan dunia, generasi Muda berkualtias khususnya di Sumatera Barat yang hidup dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mesti istiqamah (konsisten) selalu, sebagai fatwa adat menyebutkan, Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kajo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”. Para aktivis generasi unggulan perlu meningkatkan kreativitas. Sudah sampai masanya menampilkan wawasan dan perspektif Islam dalam berbagai bidang informasi, TV dan Radio Internet, adalah contoh mutakhir dalam usaha mengatasi halangan dalam menyampaikan informasi alternatif kepada masyarakat dengan lebih efektif dan bersifat global.

 

E.     Pembangunan Karakter Khayra Ummah

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan (affective component), hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur  yang tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan  menjadikan cerdas budaya serta memperhalus kecerdasan emosional  dengan dipertajam oleh kemampuan periksa  (evaluasi positif  dan negatif)  atau kecerdasan rasional intelektual  serta dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni bagi kebanyakan masyarakat Sumatera Barat atau Indonesia adalah hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) akan melahirkan tindakan terpuji dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas). Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan kewajiban mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian serta membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Pengenalan akidah Islam (tauhidiyah) di iringi oleh pengamalan ibadah (syari’at) akan mendorong setiap muslim memahami tentang arti kehidupannya.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. (Al-Baqarah, 257).

Berjalan menuju Allah (rihlah  ilaa Allah)  dicapai dengan al-qalb al-salim yakni  hati yang salim, tenteram dan sejahtera. Kebaikan hati awal langkah untuk mencapai kebaikan jiwa dan jasad,

ان فى الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله  واذا فسدت فسد الجسد كله, ألا وهي القلب

Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal mudhghah (benda darah), jika ia sehat  maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia fasad maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (Hadith riwayat Bukhari).

Kebaikan hati, titik tolak kehidupan dalam  Islam. Bersih hati adalah pintu menerima perintah Allah dengan sempurna. Generasi Unggul selalu membersihkan diri dari perangai kufur jahiliyyah dan munafik. Wajib mengikis habis sifat jahil, engkar, bohong, memfitnah, zalim, tamak dan membelakangkan dasar politik musyawarah (demokratik), sehingga hati tetap bersih.   Jiwa yang bersih menerima hidayah dengan  mengenali  yang baik untuk diamalkan dan mengenali perkara buruk untuk dijauhi.

Imam al-Ghazali menjelaskan maksud النفس  ialah  nafsu jauhari النفس الجوهري   yang bercahaya, brilliant dan dapat mengetahui serta memahami, yang menggerakkan atau memdorong kepada motivasi. Allah berfirman :  وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا —  فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا  Dan demi jiwa serta penyempurna-an ciptaanNya.  Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) jahat (untuk dijauhkan) dan (jalan) kebaikkan (untuk diamalkan).

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا.   وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا  Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. As-Syams, 7-10).

 

F.     Menanam Akhlaq melalui Pendidikan

Seorang dapat dikatakan “orang baik” apabila pergaulannya dan hubungan  dengan tetangga yang berada di lingkungannya baik. Jika sikap, tingkah laku dan prilakunya selalu meresahkan tetangganya, sehingga para tetangganya terganggu dan tidak nyaman, maka orang itu sangat dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT.  Rasulullah SAW menegaskan dalam hadits beliau, ….  لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارَهُ بِوَائِقَهُ  .. “Tidak dapat masuk sorga orang yang tetangganya tidak merasa  aman dari gangguannya”. (H.R. Muslim).

Bila wasiat-wasiat Rasulullah berkenaan dengan masalah tetangga ini terwujud dalam kehidupan bermasyarakat, niscaya komunitas masyarakat tersebut akan menjadi sebuah keluarga yang selalu komit dalam melaksanakan pesan-pesan ajaran Islam, yang saling tolong-menolong bahu membahu dalam kebaikan dan taqwa.

Kita memahami, Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah iqra (bacalah)  menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif  dan dari diam kepada  gerak  dengan sadar memahami informasi simbolik menimba ilmu, menggali pengetahuan dan potensi alam.  Berkembangnya budaya dan peradaban manusia di semua zaman selalu mengalami perubahan drastis. Tuntutan hidup dalam segala aspek makin tinggi.  Keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan, dan telah menjadi prasyarat imperatif  bagi perkembangan zaman dan inovasi peradaban.

PENDIDIKAN dan BELAJAR dapat mengantarkan manusia pada kemajuan berkualitas dengan iman dan taqwa, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, beradat dan berakhlak. Generasi kedepan mesti tumbuh dengan Iman yang kokoh.  Kemajuan materi dipacu oleh akhlak manusia yang menggenggam materi tersebut. Rapuhnya akhlak generasi akan merusak bangunan  kehidupan.

Sebuah pertanyaan, “ Mengapa Minangkabau di Masa Lampau  Mampu ‘Melahirkan’ Tokoh-tokoh Besar Nasional ?” .. Salah satu jawabannya adalah, “Akhlak mulia berperan mendorong lahirnya generasi berkemajuan dan bermartabat dengan minat  terarah  guna memelihara sumber kehidupan yang  terbimbing  menjadi insan-insan yang pandai  bersyukur.” Tantangan Pendidikan Generasi ke depan sangat berat. Hanya dapat diringankan dengan hubungan kekerabatan  yang harmonis  dan baik, dimulai dari rumah tangga, lingkungan sekolah, lingkungan kehidupan masyarakat, dapat menjadi modal utama mengawal pendidikan berkarakter di Sumatera Barat.

Ada perasaan malu, bila tidak membina hubungan dengan baik. Selalu terjaga kaidah, ” nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang”. Dengan demikian nilai-nilai ideal kehidupan itu akan terlihat pada ;

  1. adanya rasa memiliki bersama,
  2. kesadaran terhadap hak milik,
  3. kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku,
  4. kesediaan untuk pengabdian,
  5. terjaga  hubungan positif  akibat hubungan pernikahan,  hubungan semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan .

 

G.    Tanamkan Rasa Selalu diawasi oleh Allah.

Mukmin sejati dalam berbagai bidang kehidupannya selalu berkaitan dengan akidah, ibadah. Semua hubungan sosial, kekeluargaan, moral maupun yang berkaitan dengan sifat emosional, intelektual, profesional dan sifat-sifat jasadi (fisik), selalu disadari dan dirasakan bernilai aqidah dan penghayatannya didalam kehidupan menjadi satu yang difardhukan.  Akhlaq Qurani menjadi bukti mendarah dagingnya Islam didalam diri.

Sunnah telah memberikan perhatian mendalam kepada masalah nilai aqidah ini.

ذاق طعام الا يمان من رضي بالله ربا وبا لا سلا م دينا وبمحمد رسولا

Yang merasakan lazatnya iman adalah orang yang redha terhadap Allah sebagai Tuhannya, dan redha terhadap Islam sebagai agamanya dan redha terhadap Muhammad sebagai Rasul. (Hadith riwayat Muslim dan Tarmizi.)

Etika Profesional Generasi Unggul adalah selalu bertanggung jawab dalam setiap geraknya. Tanggung jawab tersebut mencakup ;

  1. Tanggungjawab Kepada Allah.
  2. Tanggungjawab Kepada Diri,
  3. Tanggungjawab Kepada Ilmu,
  4. Tanggungjawab Kepada Profesi,
  5. Tanggungjawab Kepada Masyarakat,
  6. Tanggungjawab Kepada Sejawat,
  7. Tanggungjawab Kepada Keluarga.  

Disebabkan hal sedemikian, maka menumbuhkan mahabbah (rasa cinta dan kasih sayang) dengan berpedoman kepada sabda Rasulullah SAW :

ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان  : من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما,   ومن احب عبدا لا يحبه الا الله,  ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه كما يكره ان يلقى فى النار

 Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat pada dirinya, maka dia akan merasakan lazatnya keimanan : Orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan orang yang benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilempar ke dalam  neraka. (Hadith riwayat Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa^i).

 

Seorang Mukmin wajib memiliki rasa takut, kasih dan sayang kepada Allah, yang dibuktikan dengan setia terhadap agamaNya.  Seorang muslim yang beriman mesti mempunyai perasaan yakin, percaya, harap, tawakkal dan pasrah kepada ketentuan Allah. Membiasakan  secara terus menerus zikrullah, yakni mengingati Allah dengan tauhid uluhiyah.  Tauhid menumbuhkan rasa takut kepada keagungan Allah karena meyakini sepenuhnya bahwa Allah mengawasinya. Tauhid itu melahirkan mahabbah atau rasa kasih serta rindu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi makin canggih, tidak dapat dibantah bahwa makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan dan  tidak mudah dapat diselesaikan.

 

Wassalam.

Padang, 22 Oktober 2012

 

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s