Minangkabau (Sumatera Barat) dalam incaran Salibiyah (pemurtadan)

1. BEBERAPA DATA POKOK (tahun 2005) TENTANG
GERAKAN KRISTENISASI DI MINANGKABAU.

2. MENYAYAT HATI DAN MENCIDERAI HARGA DIRI
ORANG SUKU BANGSA MINANGKABAU.
____________________________________________

1. Sudah ada 30-an orang lebih Pendeta Kristen orang ASLI MINANGKABAU. Diantaranya, kita sebut empat orang saja, sebagai berikut:

i. Pdt. AKMAL SANI, asal Kotobaru Pangkalan, Payakumbuh.
Dia tokoh dibalik INJIL berbahasa Minang. Pendiri dan Ketua PKSB, yaitu: Persekutuan Kristen Sumatera Barat.

ii. Pdt. YANUARDI KOTO, asal Lubukbasung, AGAM.
Ketua YAYASAN SUMATERA BARAT berkantor di Jakarta, sebagai lembaga pencari dana dari Luar Negeri dan pengartur MISI/ manajemen pemurtadan. Tokoh yang berada di balik PERISTIWA WAWAH pada tahun 2001. Wawah putri Minang usia 18 tahun, Siswi MAN 2 Padang, diculik, dibius, diperkosa lalu dibaptis.

iii. Pdt. SYOFYAN, asal LINTAU, Batusangkar, Tanah Datar. Pimpinan Sekolah Tinggi Teologia (STT) milik *DWM* Amerika, berada di desa terpencil di bilangan Majalengka, Jawa Barat. Merupakan pusat pendidkan dan pembinaan Pendeta untuk Minangkabau abad ke 21. Paling tidak (DATA 2005) sudah 623 orang anak Minang yang sudah dikristenkan sejak tahun 2000. Mereka disebar di Pulau Jawa, diasramakan, disekolahkan, dikuliahkan, dimodali berdagang, dihidupi, dst.

iv. Pdt. MARDJOHAN RASYID, asal Sawahlunto. Pimpinan PKSB, yaitu: Persekutuan Kristen Sumatera Barat.
___________________________________

2. Pemurtadan atau kristenisasi di Sumatera Barat itu menurut Prof Dr M Din Syamsuddin, Sekjen DPP MUI Pusat, yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah, — bahwa Sumatera Barat menduduki tempat PERTAMA sebagai PENYUMBANG terbanyak para MURTADIN di Indonesia; dan sesudahnya baru: Jawa Barat, Banten, dan Lampung. Pernyataan itu disebut Pak Din Syamsuddin tatkala acara HALAL BI HALAL di Gedung Bagindo Aziz Chan, Padang, pada hari Sabtu tanggal 18 Desember 2004/ 1424 H.

3. Dari 500 orang Minang yang murtad itu (data 2005), termasuk di Jabodetabek, satunya bernama ANITA, mahasiswi IPB Bogor, asal Batusangkar. Terkejutnya kita, bahwa adalah Anita yang lahir dan besar serta tinggal dengan keluarganya di Jakarta itu tak lain CUCU KANDUNG seorang ulama NASIONAL, dan Wakil Ketua PP Muhammadiyah tahun 1960-1985.

4. KASUS WAWAH tahun 2001.
Kita tak akan lupa dengan KASUS WAWAH. Adalah Wawah, putri belia cantik 18 tahun, Siswi MAN 2 Padang itu diculik, dibius, DIPERKOSA, dan dbaptis !! Wawah dikurung di SMA KALAM KUDUS Padang. Lalu dibawa ke Salatiga, Jawa Tengah; dan kemudian ke Malang, Jawa Timur. Dapat dibaca koran: PADANG EKSPRES, 3 April 2001.

5. Kita tak akan lupa, ada 123 orang anak miskin dari pedalaman Minangkabau, dengan iming2 hidup yang sejahtera, disekolahkan, dst., lalu dibawa dengan kapal laut ke Pulau Jawa. Artinya dari data tahun 2005 (lha, 7 tahun yl), sudah ada 623 orang CALON2 Pendeta dan Pembantu Pendeta untuk Minangkabau pada abad ke 21 ini.

6. KASUS PERKOSAAN OLEH DOKTER TerHADAP PASIEN putri belia Minang di RS Yos Sudarso, Padang. Dokter akan bertanggung-jawab kalok si pasien mau masuk kristen. Lha si pasien mauuu !!!

7. Salah satu lembaga ZENDING/ Misionaris ASING yang bekerja untuk proyek kristenisasi di Indonesia bernama *DOULOS WORLD MISSION* (= DWM) yang berpusat di Amerika Serikat.

8. DWM merancang gerakannya yang mereka namakan sebagai PROYEK JERICHO 2000 (untuk Indonesia). Untuk Sumatera mereka menyebut PROYEK ANDALAS.

9. Ada ratusan kasus kristenisasi di Sumatera Barat. Kasus2 itu SANGAT MENYAYAT HATI dan MENCIDERAI HARGA DIRI ORANG SUKU BANGSA MINANGKABAU..!!
__________________________________________________________

Telah banyak buku2 yang membicarakan tentang gerakan kristenisasi atau pemurtadan di Minangkabau atau Sumatera Barat. Satunya adalah buku berikut:

RANAH MINANG DI TENGAH CENGKERAMAN KRISTENISASI

Pangarang: Bakhtiar – Nurman Agus — Murisal.
Penerbit: PT Bumi Aksara bekerjasama dengan
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat.
Kata Pengantar: Dr Mochtar Naim dan DPW MUI Sumbar.
Tahun terbit: Cetakan pertama, — 2005.
__

Untuk mendapatkan/ membeli buku, dapat dihubungi:
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat,
Jalan Bundokanduang No.1. Padang.

C.P.:
1. Bapak HRB Khatib Pahlawan Kayo — Hp. 0812 6764 966
2. Bapak HA Adrian Muis — Hp. 0812 6718 418
3. Bapak HA Syahruji Tanjung — Hp. 0812 8035 822
______________________________________________

## GERAKAN ATEIS MINANG ITU KRISTEN !! ##.
________________________________________________
1. GERAKAN ATEIS MINANG corong nya THE JUSFIQ HADJAR GANG, yang diketuai oleh JusfiQ Hadjar Sutan Maradjo LelO yang mukim di Leiden Negeri Belanda, — adalah kaki tangan asing dalam upaya PERMURTADAN atau KRISTENISASI masyarakat Suku Bangsa Minangkabau, baik yang tinggal di kampuang halaman RANAH Minangabau atau Provinsi Sumatera Barat (5 Juta orang), maupun yang mukim di PERANTAUAN yang mereka menyebar di pelosOk Nusantara, pula Mancanegara (10 Juta orang). Jadi, Orang Suku Bangsa Minangkabau itu SAAT INI berjumlah 15 JUTA ORANG.

2. ATEIS hanya sebagai kedok. ASLI -nya KRISTEN..!!

3. JusfiQ Hadjar gelar SUTAN MARADJO LELO coba melakukan dua hal secara SIMULTAN/ serentak:

PERTAMA:
Gerakan atau upaya PENDANGKALAN AQIDA ISLAMIYYA (keimanan/ kepercayaan Islam) ummat ISLAM Minangkabau, terutama kaum Belia Generasi Muda Minangkabau, dan serentak sebagai LANGKAH *PEMBUKA JALAN* bagi gerakan Kristenisasi asing di IndOnesia, khususnya di Provinsi Sumatera Barat. Salah satu funding/ penyandang dana adalah lembaga Zending/ Missionaris *DOULOS WORLD MISSION* (DWM) yang berpusat di Amerika Serikat. Pula lembaga yang serupa di Eropa sana.

KEDUA:
Page Ateis Minang dan gerakan2 yang mengikuti, a.l. KINI hadir Page/ Group JARINGAN ATEIS MINANG (JAM), — adalah merupakan “tampek mancari pitih” (tempat mencari uang), atau lembaga yang dijadikan alat pengumpul dana dari ‘funding’2/ penyandang2 dana, tak saja untuk memenuhi biaya gerakan, pula biaya hidup para THE JUSFIQ HADJAR GANG itu.

4. Jadi semakin mengerti lah KITA bahwa THE JUSFIQ HADJAR GANG tak akan bakal berani menghina agama KRISTEN, baik Kristen Katolik Roma, maupun Kristen Protestan. Lha wong TITIK SASAR -nya adalah ISLAM dan MINANGKABAU atau Provinsi Sumatera Barat yang penduduknya memeluk AGAMA ISLAM..!!

___________________________________________________

1. ALEX AAN AKAN BEBAS !!

2. SELAMAT DATANG *GERAKAN ATEIS MINANG* DI INDONESIA
PADA DEKADE KEDUA (tahun 2012) ABAD KE 21 INI !!

3. => (SEPULUH BUTIR PERNYATAAN KITA MUSLIM MINANG)
___________________________________________________

Hadirnya JARINGAN ATEIS MINANG (JAM) — setelah page Ateis Minang ini — yang anggotanya langsung banyak itu, dan lalu di PROMOSIKAN pada saat2 PUNCAK perlawanan kita Muslim Minangkabau kepada mereka, menimbulkan banyak TANYA.TERNYATA:

@PERTAMA:
GERAKAN ATEIS MINANG itu *sangat* serius dengan gerakan mereka.

@KEDUA:
Sebagai UJIAN:

1. UJIAN KEPADA Pengadilan Negeri Kabupaten Dharmasraya di MuarO Sijunjung itu.

2. Ujian kepada AJUN KOMISARIS BESAR POLISI (AKBP) CHAIRUL AZIZ, sebagai Kepala Kepolisian RI Resor (KAPOLRES) Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat.

3. Ujian kepada JAKSA PENUNTUT UMUM (JPU) — aku ‘sengaja’ kagak akan sebut nama beliau2 — serta Kejaksaan Negeri Dharmasraya, Sumatera Barat.

4. Ujian kepada Pimpinan MUI, Majelis Ulama Indonesia, Provinsi Sumatera Barat.

5. Ujian kepada Pimpinan LKAAM, Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau, Sumatera Barat.

6. Ujian kepada Pimpinan dan Anggota DPRD Tingkat I dan II Se Sumatera Barat.

7. Ujian kepada Masyarakat Madani, atau Masyarakat Sipil — CIVIL SOCIETY — seperti DDII, Muhammadiyah, ICMI, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Sumatera Barat dan Lembaga2 Advocat yang ada, PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA (PWI) Sumatera Barat dengan jajarannya, MEDIA MASSA (cetak dan elektronik), di Sumatera Barat.

8. Ujian kepada Oom-ku PROF DR HAJI IRWAN PRAYITNO gelar DATUAK RAJO BANDARO BASA sebagai GUBERNUR PROVINSI SUMATERA BARAT.

9. Ujian kepada Bapak HAJI IRMAN GUSMAN, MBA,, — yang beliau SENATOR asal Sumatera Barat yang sekaligus sebagai KETUA SENAT RI atau Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.

@KETIGA:
Bahwa masalah ini (menjadi) masalah internasional iiyaaa..!!
Kita semua sepakat !!

@KEEMPAT:
Kalau pengadilan ini berujung kepada PEMBEBASAN ALEX AAN, maka tamatlah sudah PERJUANGAN dan IBADAH SOSIAL yang kita lakukan dalam setahun terakhir — UNTUK MEMBERIKAN PERLAWANAN — di page ATEIS MINANG ini.

@KELIMA:
ALEX AAN BEBAS ??
Maka kita serentak berucap::
# SELAMAT DATANG *GERAKAN ATEIS MINANG* di INDONESIA !!

@KEENAM:
Sebagai putri BELIA MINANG, aku hanya PASRAH & MENANGIS !!
TAPI aku yakin dengan Allah yang berfirman: Tatkala kita MENOLONG agamaNYA, maka Allah SWT akan menolong KITA.

@KETUJUH:
Jadi ingat apa yang menjadi *TESIS* LEOPOLD WEISS, seorang ORIENTALIS Eropa — yang terkenal itu — yang memeluk agama ISLAM dengan RIANG dan memakai nama baru MOHAMMAD ASSAD itu, halmana pernah menyebut dalam bukunya ROAD TO MECCA (1979).

@KEDELAPAN:
Kata Leopod Weiss alias MOHAMMAD ASSAD:
i. Bahwa kalok tak hati-hati, kalok umat Islam tak berpegang kepada konsep-konsep/ ajaran-ajaran Tuhan dalam al-Qur’an al-Karim untuk menata DUNIA ini, maka ummat Islam akan HANCUR.ii. Islam memang tak akan hilang dari MUKA BUMI ini. Tapi Agama Islam bakal hilang dan lenyap dari wilayah dan negara Anda.

@KESEMBILAN:
Seturut dengan LEOPOLD WEISS alias MOHAMMAD ASSAD itu, aku yakin, ISLAM TAK AKAN PERNAH HILANG DARI MUKA BUMI.
# TAPI (pada waktunya, 30 atau 75 tahun yang akan datang) AGAMA ISLAM AKAN LENYAP DAN HILANG DARI WILAYAH MINANGKABAU.

@KESEPULUH:
Minangkabau yang INDAH,
Minangkabau yang PERMAI,
Minangkabau yang ELOK,
Minangkabau yang BERBUDAYA TINGGI,
Minangkabau yang BERAGAMA ISLAM,
Minangkabau yang merupakan TANAH LELUHUR (motherland) -ku,,
# Memang SANGAT MANIS untuk DIHANCURKAN !!

______________________________________.
INYIK JUSFiQ HADJAR SUTAN MARADJO LELO

DAN *THE JUSFIQ HADJAR GANG*
______________________________________
Sekedar tambahan tentang Inyik kita JusfiQ Hadjar Sutan Maradjo LelO.

1. JUSFIQ HADJAR SUTAN MARADJO LELO, kelahiran tahun 1940 (usia 72 tahun), asal Cingkariang, Sungaipua, Bukittinggi. Tahun 1963 dalam usia 33 tahun beroleh besasiswa dari Presiden Sukarno dan DN Aidit (Waperdam RI), dan Ketua CC PKI. Bersamaan dengan mahasiswa lain yang dikirim ke Eropa Barat dan Eropa Timur, juga Sovyet Rusia. Pula RRT (Republik Rakyat Tiongkok).

2. Inyik JusfiQ kuliah disebuah Universitas di Paris Prancis, Tapi DO (drop oput). Konon tak beroleh gelar Doktor (PhD). Akhirnya menjadi pengangguran dan frustrasi atau kecewa. Paris yang kota megapolitan seperti kita tahu memerlukan biaya hidup yang tinggi, bukankah disana serba mahal?

3. Konon untuk biaya hidup di Paris itu, Sang Inyik kita JusfiQ Hadjar itu aktiv di NGO’s/ LSM2 KIRI. Melanglangbua ke seantero Eropa untuk melakukan kegiatannya sebagai aktivis kiri itu.

4. Terakhir beliau mukim di Leiden dengan isteri (?) nya MARLENE VAN DORN, pegawai LEPAS Universiteit LEIDEN, Negeri Belanda.

5. Lha sebagai AKTIVIS KIRI, dan kaitannya dengan ‘booming’ nya ‘internet’ pada tahun 2011, beliau sangat aktiv di Diunia Maya. Sebagaimana kita tahu, beliau aktiv dan membuka serentak memimpin page/ group PROLETAR dengan teman2nya yang seide yang asal Sumatera Barat/ Minang.

6. Pada tanggal 1 JUNI 2001 lahirlah GERAKAN ATEIS MINANG yang beliau pimpin. Corongnya page ATEIS MINANG, page/ group ATEIS MINANGKABAU, dan (sekarang, baru lahir) page/ group JARINGAN ATEIS MINANG (JAM), Yang anehnya anggota JAM itu langsung menjadi banyak.

7. Organisasinya sering disebut sebagai *THE JUSFIQ HADJAR GANG*. Kaki tangannya di Indonesia dan Sumatera Barat — sekedar menyebut beberapa nama — adalah ‘orang2′ yang menamakan dirinya:

i. IMAM BONJOL alias ZAL BATAM alias ‘Ateis Minang’.

ii. DHA THUTU, pendiri/ admin page JARINGAN ATEIS MINANG.

iii. ALEXANDER AAN, PNS Bappeda Dharmasraya yang sekarang sedang disidang di Pengadilan Negeri MuarO, Sijunjung.

iv. TOMMY CHANIAGO, alias Deni Ajah, alias ULAMA MINANG.

v. Dan banyak lagi.
______

Moga tambahan pOst ini memberikan CLARITY atau kejelasan atas pembuatan/ pemuatan pOst2 aku di page kita ini.

Mohon MAAF,, dan moga bermanfaat..
__________________________
SALAM MINANGKABAU..!!
___________________________
Hillary Lenggo-Geni
~ Aussie.

Dengan semangat Bernagari menjalin kerjasama menuju Nagari Madani

 

Dengan semangat Bernagari  menjalin kerjasama menuju Nagari Madani

Oleh : H. Mas’oed Abidin[1]

Nagari,  adalah satu sistem pemerintahan terendah, dalam struktur masyarakat Minangkabau. Sifatnya multi dimensi dan multi fungsi. Nagari mempunyai aspek formal dan informal.  Secara formal dia adalah bahagian yang integral dari pemerintahan nasional.  Secara informal dia adalah unit kesatuan adat dan budaya Minangkabau.

Wilayah Nagari adalah suatu aset dalam pemerintahan Nagari. Pemerintahan Nagari harus fokus menyiasati babaliak ka Nagari sebagai suatu sistim berpemerintahan dan melaksanakan kehidupan anak Nagari dalam tatanan adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Analisis Nagari yang paling utama adalah pemerintahan.  Bagaimana Nagari diatur dan dibangun. Nagari adalah plural, bukan single, perbedaan sistem Nagari tersebut membuat setiap Nagari mempunyai dinamika tersendiri.  Dari sisi adatnya, adaik salingka nagari.

Konsep pemerintahan harus mampu menaungi masyarakatnya.

Pemerintahan Nagari dibingkai undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Implementasinya di tingkat Kabupaten, ada Perda tentang Pemerintahan Nagari.  Dalam pelaksanaan pemerintahan di tingkat Nagari, hubungan harus berdasarkan adat.  Maka, adat harus benar-benar dikuasai oleh semua aparat pemerintahan Nagari. Adat tidak semata sebagai kekayaan sains (ilmu pengetahuan) ke-Minangkabau-an. Adat harus dapat dilaksanakan dalam kehidupan dan hubungan bermasyarakat.

Termasuk dalam sosialisasi kebijakan pemerintahan, sesuai dengan perkembangan zaman dan pemanfaatan teknologi yang maju, seperti musyawarah dalam perwujudan demokrasi,  penyediaan peluang bagi semua anak Nagari sebagai perwujudan dari hak asasi manusia.

Hakikat berpemerintahan Nagari adalah mematuhi Undang-Undang Negara.

Kemudian, dapat menghidupkan jati diri kehidupan beradat dalam tatanan berNagari. Kebanggaan orang dalam berNagari adalah lahirnya kepeloporan dalam berbagai bidang.

Nagari itu dinamis, senantiasa berubah. Harus diantisipasi dengan musyawarah anak Nagari yang dikuatkan oleh Wali Nagari.  Setiap pemekaran, harus berpedoman kepada pandangan adat dalam Nagari. Nilai kepemimpinan di dalam Nagari, sebagai juga ditemui dalam Keputusan Presiden

  • Seorang Wali Nagari adalah putra terbaik dan penghulu
  • Kesetaraan dan keterwakilan

Nilai kesetaraaan dan keterwakilan  dari ninik mamak, alim ulama,cadiak pandai dan tokoh – tokoh adat di dalam Nagari, mesti diperhitungkan dengan cermat.

Urusan Nagari adalah urusan bersama seluruh warga masyarakat Nagari. Bukan hanya urusan yang muda-muda atau urusan yang tua-tua. Bukan pula urusan ninik mamak semata. Kerjasama antara generasi, muda dan tua, cerdik dan pandai, sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi Nagari.

BAMUS (Badan Musyawarah) Nagari, dipilih oleh Anak Nagari,

Semestinya menjadi perwujudan dari tali tigo sapilin, tungku tigo sajarangan. Implementasinya, terlihat dalam pemahaman adat.   Nagari, akan menjadi pelopor di dalam melaksanakan adat Minangkabau yang berfalsafah Adaik basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah.

BAMUS Nagari adalah bentuk perwujudan dari prinsip demokrasi dalam berpemerintahan, semacam badan legislatif tingkat Nagari, untuk melaksanakan pemerintahan Nagari bersama-sama Wali Nagari (Kepala Nagari). Maka, yang akan duduk di dalam BAMUS Nagari, semestinya hanya beragama Islam. Karena, tidak dapat disebut Minangkabau jika tidak beragama dengan Islam.  Keberadaan BAMUS menjadi bagian upaya mengembalikan unsur adat ke hakikatnya. Mengaktualisasikan fungsi dan peran tungku tigo sajarangan, melalui keteladanan, terutama dalam pelaksananan agama dan adat.

Satu bentuk otonomi penuh pada Nagari untuk mengatur rumah tangga Nagari dengan berpedoman pada peraturan yang ada.  Wali Nagari bersama tokoh masyarakat dalam BAMUS akan menyusun program-program pembangunan Nagari

Keberadaan Kerapatan Adat Nagari haruslah jelas.

KAN di tingkat Nagari adalah badan otonom yang ditetapkan oleh anak Nagari, terikat kaum dalam Nagari, dan memegang asal usul serta kewenangan ulayat Nagari. Keanggotaan KAN seluruhnya terdiri dari penghulu di Nagari, bagian dari tungku tigo sajarangan, dimuliakan oleh anak Nagari, disebut nan gadang basa batuah.

Pertanyaan mengemuka, apakah semua anggota KAN terikat dengan LKAAM sebagai satu organisasi kemasyarakatan yang berjenjang dari tingkat provinsi?  Apakah KAN menjadi bagian dari BAMUS Nagari atau berdiri sendiri ?.  Jalan terbaik adalah menjadikan KAN sebagai bagian dari BAMUS Nagari.  Sewajarnya, tampak nyata hubungan antara adat dan pemerintahan di tingkat Nagari.  Saling topang menopang dan serasi.

Melalui BAMUS Nagari, diharapkan dapat menggerakkan kembali peran dan fungsi ninik mamak, yang selama ini tidak optimal berperan membangun Nagari, yang disebabkan :

  • Kurangnya figure penghulu dan pemangku adat yang sudah banyak merantau.
  • Kurangnya pengkaderan ninik mamak untuk memimpin Nagari.

Semestinya, BAMUS Nagari menjadi upaya mambangkik batang tarandam di tengah pesatnya kemajuan bidang teknologi.  Masalah asal usul dari keanggotaan BAMUS di Nagari, adalah hal yang perlu dipertimbangkan.  Termasuk menginventarisir asset, dan permasalahan Nagari dengan data base Nagari.

Perubahan dalam kehidupan beradat telah merambah Minangkabau.

Adat ndak dipacik arek, agamo ndak dipagang taguah.  Fakta menunjukkan bahwa adat tidak berdampak banyak terhadap generasi muda itu. Ketika buku susah dicari, tempat bertanya juga tidak ada, banyak ninik mamak yang tidak mengerti adat, dan generasi muda di Nagari mulai kebingungan. Solusinya dari generasi muda adalah adanya kegiatan  kembali ke surau berupa pendidikan untuk pembinaan karakter.  Bila diamati, memang sedang terjadi perubahan ;

  • Terjadi krisis identitas pada generasi muda Minagkabau akibat terjadi perubahan dalam nilai – nilai adat Minangkabau tersebut.
  • Adat tidak memberi pengaruh yang terlalu banyak terhadap generasi muda Minangkabau.
  • Generasi tua tidak lagi memberikan suri teladan lagi kepada generasi muda sehingga menimbulkan sikap apatis generasi muda terhadap adat Minangkabau sendiri.
  • Solusi yang ditawarkan adalah kembali ke surau dengan cara membuat suatu pendidikan informal.

Surau adalah suatu institusi yang khas dalam masyarakat Minangkabau.

Fungsinya bukan sekedar tempat sholat. Juga sebagai tempat pendidikan dan tempat mendapat pengajaran bagi anak muda. Banyak tokoh-tokoh besar tanah air dan tokoh Nagari di Minangkabau lahir dari surau.  Pengelolaan surau sekarang bisa dihidupkan kembali.  Esensi dan semangatnya lewat menggerakkan kebersamaan anak Nagari.

Upaya dapat dilakukan dalam menyiapkan Nagari berprestasi, dimulai dengan program kembali ke surau, dengan cara ;

  1. memberikan pendidikan dan pelatihan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah terutama kepada generasi muda di Nagari.
  2. memberikan penyegaran pada tokoh-tokoh masyarakat melalui pelatihan dan workshop tentang adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah.
  3. mengevaluasi struktur kelembagaan dalam Nagari

Maka, pada beberapa Nagari yang sudah berdaya, dirasakan perlu adanya dewan pendidikan nagari yang dilengkapi dengan sarana-sarana untuk memajukan anak Nagari diataranya, ada perpustakaan Nagari, sebagai bagian dari menghidupkan kembali banagari dan basurau melalui menghidupkan semangat menggalakkan kembali pendidikan dan pengajaran bagi anak muda.

Pendidikan dapat dilaksanakan di berbagai tempat di lingkungan ba-korong ba-kampuang, ba-jorong atau ba-kaum.   Karena itu, kegiatan surau dikelola oleh alim ulama dan cerdik pandai yang disebut suluah bendang di dalam Nagari.  Alim Ulama di Nagari adalah bagian seutuhnya dari tali tigo sapilin, di tingkat Nagari itu.  Adanya Majelis Ulama Nagari sebagai suluah bendang adalah benteng agama di Nagari.

 Pertanyaan mengemuka adalah, apakah alim ulama suluah bendang di Nagari yang menjadi bagian dari Majelis Ulama Nagari itu berinduk ke MUI sebagai satu organisasi yang berjenjang sampai ke tingkat provinsi ataupun pusat? Sebagaimana kita ketahui, MUI adalah wadah musyawarah dari ulama dan cendekiawan muslim yang berhimpun dalam ormas-ormas Islam.

Filosofi Hidup Nagari-nagari di Minangkabau bersumber dari alam.

Alam takambang jadi guru dan diberi ruh oleh Islam.  Konsep ABS-SBK adalah kristalisasi ajaran hukum alam yang bersumber dari Islam.  Yang diperlukan sekarang adalah pemantapan dan pengamalan.  Maka, prinsip-prinsip ABS-SBK harus masuk ke dalam seluruh kehidupan secara komprehensif.  Dengan perpaduan yang baik, kebudayaan Minangkabau akan berlaku universal.

Langkah sekarang adalah, menjabarkan ajaran ABS-SBK, secara sistematis dan terprogram ke dalam berbagai sistem kehidupan.   Dimulai dalam pelaksanaan pemerintahan di tingkat Nagari, seperti, kebersamaan, gotong royong, sahino samalu, kekerabatan, dan penghormatan sesama, atau barek sapikue ringan sajinijing, yang menjadi kekuatan di dalam incorporated social responsibility.

Kekusutan dalam masyarakat Minangkabau, khususnya di tingkat Nagari-nagari dapat diatasi dengan komunikasi dengan generasi muda. Persoalan prilaku harus mendapatkan porsi yang besar, selain persoalan kelembagaan. Prilaku orang Minang terutama generasi muda sangat mengkhawatirkan. Selain lemahnya komunikasi, masalah yang muncul di Nagari adalah rapuhnya solidaritas. Diperlukan sosialisasi nilai-nilai budaya Minangkabau.  Selanjutnya, membentuk kembali struktur masyarakat adat di Nagari-nagari.

Hubungan Kerabat di Minangkabau berlangsung harmonis dan terjaga baik. Hal tersebut terjadi karena perasaan kekeluargaan dan perasaan malu kalau tidak membina hubungan dengan keluarganya dengan baik.  Seseorang akan dihargai oleh sukunya atau keluarganya apabila ia berhasil menyatu dengan kaumnya dan tidak membuat malu kaummya.

Hubungan kekerabatan masyarakat Minangkabau yang kompleks senantiasa dijaga dengan baik oleh ninik mamak dan penghulu di Nagari.  Seseorang akan dianggap ada apabila ia berhasil menjadi sosok yang diperlukan di kaumnya dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kelompoknya.

Nilai-nilai ideal dalam kehidupan yang mesti dihidupkan terus dalam menata kehidupan bernagari, antara lain adalah, 1). rasa memiliki bersama, 2). kesadaran terhadap hak milik, 3). kesadaran terhadap suatu ikatan,  4). kesediaan untuk pengabdian,  5). dampak positif dari satu ikatan perkawinan, seperti mengurangi sifat-sifat buruk turunan serta mempererat mata rantai antar kaum.

Pembangunan Nagari-nagari harus memakai pola keseimbangan dan pemerataan. Peningkatan usaha ekonomi masyarakat Nagari dipacu dengan mengkaji potensi Nagari.  Ada Nagari yang lebih baik ekonomi masyarakatnya (seperti, Rao-Rao, Situmbuak, Sumaniak, Limo Koum, Padang Gontiang, Lintau, Batipuah, Pandai Sikek).  Ada pula Nagari yang miskin (seperti Atar, Rambatan, Tanjuang Ameh, Saruaso, Padang Lua dan Tanjuang Alam). Pengalokasian dana hendaknya berimbang.

Kekekrabatan dapat dijaga oleh ninik mamak dan penghulu yang dihimpun dalam KAN ;  a). dibalut dengan satu sistem pandangan banagari,  b). cinta kepada Nagari yang sama dipunyai,  c) . kegiatan pembangunan yang dipersamakan.

Nagari itu disebut orang, sebagai republik-republik kecil.

Nagari-nagari di Minangkabau telah memenuhi unsur-unsur suatu negara. Unsur-unsur Nagari adalah suku (masyarakat/rakyat), wilayah, dan penghulu (pemerintahan), serta kedaulatan (adaik salingka nagari).  Walaupun, struktur Nagari yang sebenarnya itu, sudah tidak ditemukan lagi saat ini,  Pemerintahan Nagari, harus berupaya untuk membangun kembali struktur Nagari ini.

Menghidupkan suasana berpemerintahan Nagari yang diikat dalam satu PERDA tentang Pemerintahan Nagari mesti ditindak-lanjuti dengan ;

  • Membangun kembali masyarakat adat Minangkabau, dengan cara meminta pemerintah Nagari mengeluarkan peraturan bagi tiap suku untuk melengkapi kembali perangkat-perangkatnya.
  • Selanjutnya , yang dipilih menjadi Wali Nagari adalah yang memiliki kekuasaan sebagai penghulu adat di Nagari tersebut, dengan kualifikasi keilmuan, kejujuran, kesetiaan kepada negara, serta keahlian dalam pemerintahan.
  • Selanjutnya, melahirkan peraturan Nagari, bahwa ada kewajiban bagi para perantau satu Nagari untuk membantu mengembangkan kampung halamannya melalui sumbangan, bantuan, pemikiran dan lainnya, termasuk dalam penguatan  perangkat pemerintahan Nagari.

Padang, 22 Pebruari 2012

Biodata :

N a m a                                                            :   H. Mas’oed Abidin

TEMPAT/TANGGAL LAHIR           :  Koto Gadang Bukittinggi, 11 Agustus 1935

AYAH dan IBU                                           H.Zainal Abidin bin Abdul Jabbar Imam Mudo dan Khadijah binti Idriss,

Suku                                                                   :  Piliang

RIWAYAT PENDIDIKAN                     : Surau Lakuak,  Madrasah Rahmatun Niswan Koto Gadang, Thawalib Lambah Syekh Abdul Muin, Thawalib Parabek, SR KGadang, SMP II Bukittinggi,  SMA Bukittinggi, FKIP Medan (1963).

Pengalaman Organisasi                         : Sekum Komda PII Tapsel (1961-1963), Ketum HMI Sidempuan (1963-1966), KAMI Medan (1966-1967), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (1967-sekarang), Sekretaris Dewan Pembina ICMI Orwil Sumbar (2004-2006), Direktur PPIM Sumbar (2003-2006), Ketua MUI Sumbar Bidang Dakwah (2003-2006), Wk.Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar (sekarang).

JABATAN SEKARANG                             :  Ulama Sumbar dan Ketua Umum Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat Prov. Sumbar,

ALAMAT SEKARANG                                :  Jalan Pesisir Selatan V/496 Siteba Padang (KP – 25146), Fax/Telepon 0751-7052898,  Tel:0751-7058401.

LAIN-LAIN:

Personal Web-site/Mailing list            : http://masoedabidin@yahoogroups.com

Email                                                                        masoedabidin@yahoo.com

                                                                                       masoedabidin@hotmail.com

 

BUKU YANG SUDAH DITERBITKAN ;

  1. Islam Dalam Pelukan Muhtadin MENTAWAI, DDII Pusat, Percetakan ABADI, Jakarta – 1997.
  2. Dakwah Awal Abad, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2000.
  3. Problematika Dakwah Hari Ini dan Esok, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2001.
  4. Pernik Pernik Ramadhan, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2001.
  5. Suluah Bendang, Berdakwah di tengah tatanan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Minangkabau, Pustaka Mimbar Minang, Padang  – 2001.
  6. Surau Kito, PPIM – Padang, 2004.
  7. Adat dan Syarak di Minangkabau, PPIM – Padang, 2004.
  8. Implementasi ABSSBK, PPIM – Padang, 2005.
  9. Silabus Surau, PPIM – Padang, 2005.

[1] Disampaikan pada Raker Wali Nagari se Sumatera Barat, tentang Peran dan Fungsi Pemerintahan Terdepan yakni Pemerintahan Nagari dalam implementasi dan pelestarian ABS-SBK di Propinsi Sumatera Barat, bertempat di Aula Wisma Haji di Padang, pada hari Selasa, tangal 20 Maret 2012 jam 08.00 WIB.

Membangun Generasi Utama yang Unggul yang beriman dan berakhlak dan selalu siap memimpin umat dan bangsa

Membangun Generasi Utama yang Unggul

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

A.    Generasi Unggul

Generasi Muda adalah kelompok besar di tengah satu bangsa semestinya dibentuk menjadi Generasi Unggul (khaira Ummah) yang akan memikul amanah peran pelopor perubahan (agent of changes) berbekal keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT selalu melaksanakan misi amar makruf nahyun anil munkar.

Fitman Allah menyebutkan ; “  kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.Ali Imran : 110)

Generasi Unggul harus tumbuh  menjadi kelompok  muda yang penuh dengan keimanan kepada Allah dan Allah lengkapkan mereka lagi dengan hidayah. (QS.al Kahfi).

Generasi Unggul memiliki akal budi yang jernih, sehingga berkem,ampuan menghadapi berbagai tantangan global. Mereka memiliki  jati diri sesuai fitrah anugerah Allah, yakni Beriman serta selalu mengajak kepada kebaikan serta melarang dari kemungkaran.

Tantangan masa kini  antara lain infiltrasi dan penetrasi budaya sekular yang menjajah mentalitas manusia, seperti the globalization life style serta suburnya budaya lucah yang menonjolkan keindahan sebatas yang dilihat, didengar, dirasa, disentuh, sensual, erotik, seronok atau sikap hedonis, kadang-kadang ganas (anarkis), dengan kebiasaan menengggak miras, pergaulan bebas dan kecanduan madat dan narkoba. Hal sedemikian terjadi karena mengabaikan batasan-batasan perilaku luhur yang telah menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan dalam menata kehidupan bersama.

Pranata sosial Masyarakat Beragama yang Madani di Sumatera Barat, semestinya berpedoman kepada bimbingan wahyu Allah (Alquran) dalam menata adat perilaku bermasyarakatnya. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Peran amar ma’ruf nahi munkar menjadi wujud penciptaan tatanan masyarakat yang rukun, damai, aman sentosa penuh keharmonisan dan sopan santun penduduknya. Tidak dapat diabaikan dan mesti digerakkan dengan terarah dan terpadu, gerakan da’wah  akhlaqul Karimah  dengan tujuan untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

Hilangnya Akhlak , umumnya disebabkan   Agama tidak diamalkan, Ibadah lalai, nilai etika budaya terabaikan,  akibatnya masyarakat akan hancur.

Sabda Rasul Allâh SAW mengingatkan, Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri (‘ujub).” (HR. al-Tirmidziy).

 

B.    Upaya Membangun Generasi Unggul Berprestasi.

Dapat dilakukan melalui pendidikan berkarakter,

  1. Membudayakan Wahyu Al Quran,
  2. Memakaikan adat  budaya luhur yang berpedoman kepada syari’at Islam  dengan akhlaq  Qurani, sebagai aplikasi dari ABSSBK itu. 

Ada kiat untuk meraih keberhasilan, “Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju, dek ameh sagalo kameh, artinya perlu kesepakatan  dalam tujuan bersama pencapaian cita-cita bersama,  “hasanah fid dunya wa hasanah fil akhirah”

Amat diharapkan berkembangnya pendidikan menjadi pengawal pusat kebudayaan berkarakter (memiliki marwah).  Perilaku luhur akan bergeser ketika menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat.  Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, kegemaran membuang waktu (korupsi), aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Generasi Unggul  wajib lahir dengan budaya luhur (tamaddun) yang berpaksikan tauhidik. Artinya generasi yang memiliki daya inovasi dan daya kreasi yang tinggi, ditupang oleh tamaddun yang luhur. Cahaya akal mesti diletakkan di bawah naungan wahyu agar berpadu kepintaran dengan kebijaksanaan, pengetahuan dengan hidayah, sehingga rahmat dan barakah dapat diraih. Ihsan dan kasih sayang dapat dicapai.

Dengan ilmu yang berteraskan iman, para pemimpin dan aktivis Generasi Unggul (khaira ummah) akan dapat merumus fikrah harakiah untuk merancang gerak membangun kehidupan yang diredhai Allah Azza wa Jalala.

  1.  Islam tidak mengenal  ada “pengabdian kepada benda”. Pengabdian kepada benda apapun selain Allah adalah sikap munafik dan musyrik. Konsekwensnya seorang muslim dituntut semata-mata mengabdi (menyembah) hanya kepada Allah saja. (Lihat QS.24:56, 18:110, 1:5).
  2. Ajaran Islam adalah Monotheisme berarti setiap Muslim menolak pengamalan semua bentuk ideologi dan falsafah di luar konsepsi tauhid. Allah adalah al Ma’bud  artinya sesuatu yang disembah, secara maknawi adalah pengabdian hanya kepada Allah dan kepada Allah seorang hamba minta pertolongan  (lihat QS.1:5). Dalam tatanan masyarakat Sumatera Barat dengan ciri adat Minangkabau dirakitkan keyakinan tauhid itu kedalam filosofi hidup anak nagarinya dengan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.
  3. Konsepsi Tauhid Uluhiyah adalah konsepsi tertinggi dalam ajaran ke-Tuhanan. Tanpa konsistensi (istiqamah) secara gagasan maupun gerak akan dinyatakan sebagai  musyrik (Lihat QS.6:106, 41:6,7).
  4. Seluruh Rasul diutus dengan Misi Tauhid. Apabila syari’at telah menetapkan (syarak mengata),  mestinya adat memakai. Perpaduan Adat dan Syarak di Minangkabau masa dulu itu menjadi undang-undang nagari. Undang-undang tersebut dilaksanakan dengan sempurna. Kehidupan bermasyarakat terjamin aman dan tenteram.
  5. Apabila kedua sarana ini telah berperan sempurna, maka akan didapati dikelilingnya masyarakat yang hidup dengan memiliki akhlaq perangai yang terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) sesuai bimbingan syarak.  “Pariangan manjadi tampuak tangkai,  Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo luhak rang mangatokan. Adat jo syarak jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban.” 

C.     Generasi Unggul adalah Generasi Dinamik

Generasi yang dinamik tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti. Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,  Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo  basi. Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi, Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiakkan budi.”  Dinamika kehidupan hanya dapat dibangun dengan akal yang jernih serta budi pekerti yang luhur. Apabila generasi kini dibiarkan terlena dan lupa membenah diri dengan kekuatan ijtima’i (kebersamaan), tentulah mereka akan dijadikan jarum kelindan oleh orang lain di dalam satu pertarungan gazwul fikri.

Generasi Unggul wajib meningkatkan kualitas kepimpinan dengan kemahiran tanzim Islami. Teguh ubudiyyah dan zikrullah. Mahir merancang dan mengurus, seiring dengan melatih dan membimbing. Memelihara kesinambungan proses  pembelajaran bagi generasi yang terdidik dengan paksi Islam, mampu menilai teknologi informasi, mahir bergaul dan berkomunikasi, sebagai bekal di dalam menyelesai konflik, yang kesudahannya menarik minat dan dukungan umat banyak, serta mahir berpolitik, menguasai bahasa, falsafah dan sejarah.

Generasi muda di Sumatra Barat memiliki tanggung jawab masa lalu yakni kewajiban terhadap budaya luhur (cultural base). Mempunyai tanggung jawab masa kini yaitu kewajiban terhadap diri dan masyarakat dengan menata kehidupan berlandaskan norma-norma adat dan syarak (religious base). Memiliki kewajiban masa depan yang hanya dapat diraih dengan keberhasilan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge base). Ketiga asas (basis) tersebut tampak dalam kualitas kepribadian generasi unggul di Sumatera Barat dalam mendidik dan melatih kader pimpinan. Mengatasi kurenah dan perbedaan pendapat untuk memenangkan pertarungan menumpas kebatilan. Generasi Muda berprestasi terlihat pada iltizam harakah atau gerakan saciok bak ayam sa danciang bak basi. Mengedepankan manhaj haraki yakni lazim dipakai dengan program bulek aie dek pambuluah bulek kato kamupakaik. Mengamalkan budaya amal  jama’i  yaitu kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua, tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan. 

 

D.    Gerakan Masyarakat Bersama

Pendekatan social movement menangani isu perubahan global, mesti dilaksanakan dengan tanggungjawab bersama nan elok dipakai, nan buruak dibuang. Kepemimpinan adalah amanah dan tanggungjawab didalam Manyuruah babuek baik, malarang babuek jahek,Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo. Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado karuik nan tak salasai.  Satu gerakan masyarakat bersama untuk mengangkat umat mencapai kejayaan hidup sesuai syari’at Islam. Kreativiti dan inovasi selalu berkait rapat dengan berbagai gerakan dakwah mencakupi pengurusan sumber daya manusia, komunikasi, kinerja, sinerji dan sebagainya. Akhirnya, kreativitas didukung keikhlasan mencari redha Allah.

Generasi muda masa kini mesti memiliki ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas, dalam kata adat disebutkan, Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah, padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak buliah barubah”. Generasi masa datang mesti memiliki pemahaman luas dengan tasawwur (world view). Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi unggul (khaira ummah) itu selalu awas dan berhati-hati, Bakato sapatah dipikiri, Bajalan salangkah maliek suruik,  Mulik tadorong ameh timbangannyo, Kaki tataruang inai padahannya, Urang pandorong gadang kanai, Urang pandareh ilang aka.”

Dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan tata nilai dan pergaualan dunia, generasi Muda berkualtias khususnya di Sumatera Barat yang hidup dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mesti istiqamah (konsisten) selalu, sebagai fatwa adat menyebutkan, Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kajo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”. Para aktivis generasi unggulan perlu meningkatkan kreativitas. Sudah sampai masanya menampilkan wawasan dan perspektif Islam dalam berbagai bidang informasi, TV dan Radio Internet, adalah contoh mutakhir dalam usaha mengatasi halangan dalam menyampaikan informasi alternatif kepada masyarakat dengan lebih efektif dan bersifat global.

 

E.     Pembangunan Karakter Khayra Ummah

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan (affective component), hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur  yang tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan  menjadikan cerdas budaya serta memperhalus kecerdasan emosional  dengan dipertajam oleh kemampuan periksa  (evaluasi positif  dan negatif)  atau kecerdasan rasional intelektual  serta dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni bagi kebanyakan masyarakat Sumatera Barat atau Indonesia adalah hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) akan melahirkan tindakan terpuji dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas). Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan kewajiban mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian serta membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Pengenalan akidah Islam (tauhidiyah) di iringi oleh pengamalan ibadah (syari’at) akan mendorong setiap muslim memahami tentang arti kehidupannya.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. (Al-Baqarah, 257).

Berjalan menuju Allah (rihlah  ilaa Allah)  dicapai dengan al-qalb al-salim yakni  hati yang salim, tenteram dan sejahtera. Kebaikan hati awal langkah untuk mencapai kebaikan jiwa dan jasad,

ان فى الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله  واذا فسدت فسد الجسد كله, ألا وهي القلب

Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal mudhghah (benda darah), jika ia sehat  maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia fasad maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (Hadith riwayat Bukhari).

Kebaikan hati, titik tolak kehidupan dalam  Islam. Bersih hati adalah pintu menerima perintah Allah dengan sempurna. Generasi Unggul selalu membersihkan diri dari perangai kufur jahiliyyah dan munafik. Wajib mengikis habis sifat jahil, engkar, bohong, memfitnah, zalim, tamak dan membelakangkan dasar politik musyawarah (demokratik), sehingga hati tetap bersih.   Jiwa yang bersih menerima hidayah dengan  mengenali  yang baik untuk diamalkan dan mengenali perkara buruk untuk dijauhi.

Imam al-Ghazali menjelaskan maksud النفس  ialah  nafsu jauhari النفس الجوهري   yang bercahaya, brilliant dan dapat mengetahui serta memahami, yang menggerakkan atau memdorong kepada motivasi. Allah berfirman :  وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا —  فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا  Dan demi jiwa serta penyempurna-an ciptaanNya.  Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) jahat (untuk dijauhkan) dan (jalan) kebaikkan (untuk diamalkan).

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا.   وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا  Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. As-Syams, 7-10).

 

F.     Menanam Akhlaq melalui Pendidikan

Seorang dapat dikatakan “orang baik” apabila pergaulannya dan hubungan  dengan tetangga yang berada di lingkungannya baik. Jika sikap, tingkah laku dan prilakunya selalu meresahkan tetangganya, sehingga para tetangganya terganggu dan tidak nyaman, maka orang itu sangat dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT.  Rasulullah SAW menegaskan dalam hadits beliau, ….  لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارَهُ بِوَائِقَهُ  .. “Tidak dapat masuk sorga orang yang tetangganya tidak merasa  aman dari gangguannya”. (H.R. Muslim).

Bila wasiat-wasiat Rasulullah berkenaan dengan masalah tetangga ini terwujud dalam kehidupan bermasyarakat, niscaya komunitas masyarakat tersebut akan menjadi sebuah keluarga yang selalu komit dalam melaksanakan pesan-pesan ajaran Islam, yang saling tolong-menolong bahu membahu dalam kebaikan dan taqwa.

Kita memahami, Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah iqra (bacalah)  menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif  dan dari diam kepada  gerak  dengan sadar memahami informasi simbolik menimba ilmu, menggali pengetahuan dan potensi alam.  Berkembangnya budaya dan peradaban manusia di semua zaman selalu mengalami perubahan drastis. Tuntutan hidup dalam segala aspek makin tinggi.  Keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan, dan telah menjadi prasyarat imperatif  bagi perkembangan zaman dan inovasi peradaban.

PENDIDIKAN dan BELAJAR dapat mengantarkan manusia pada kemajuan berkualitas dengan iman dan taqwa, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, beradat dan berakhlak. Generasi kedepan mesti tumbuh dengan Iman yang kokoh.  Kemajuan materi dipacu oleh akhlak manusia yang menggenggam materi tersebut. Rapuhnya akhlak generasi akan merusak bangunan  kehidupan.

Sebuah pertanyaan, “ Mengapa Minangkabau di Masa Lampau  Mampu ‘Melahirkan’ Tokoh-tokoh Besar Nasional ?” .. Salah satu jawabannya adalah, “Akhlak mulia berperan mendorong lahirnya generasi berkemajuan dan bermartabat dengan minat  terarah  guna memelihara sumber kehidupan yang  terbimbing  menjadi insan-insan yang pandai  bersyukur.” Tantangan Pendidikan Generasi ke depan sangat berat. Hanya dapat diringankan dengan hubungan kekerabatan  yang harmonis  dan baik, dimulai dari rumah tangga, lingkungan sekolah, lingkungan kehidupan masyarakat, dapat menjadi modal utama mengawal pendidikan berkarakter di Sumatera Barat.

Ada perasaan malu, bila tidak membina hubungan dengan baik. Selalu terjaga kaidah, ” nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang”. Dengan demikian nilai-nilai ideal kehidupan itu akan terlihat pada ;

  1. adanya rasa memiliki bersama,
  2. kesadaran terhadap hak milik,
  3. kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku,
  4. kesediaan untuk pengabdian,
  5. terjaga  hubungan positif  akibat hubungan pernikahan,  hubungan semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan .

 

G.    Tanamkan Rasa Selalu diawasi oleh Allah.

Mukmin sejati dalam berbagai bidang kehidupannya selalu berkaitan dengan akidah, ibadah. Semua hubungan sosial, kekeluargaan, moral maupun yang berkaitan dengan sifat emosional, intelektual, profesional dan sifat-sifat jasadi (fisik), selalu disadari dan dirasakan bernilai aqidah dan penghayatannya didalam kehidupan menjadi satu yang difardhukan.  Akhlaq Qurani menjadi bukti mendarah dagingnya Islam didalam diri.

Sunnah telah memberikan perhatian mendalam kepada masalah nilai aqidah ini.

ذاق طعام الا يمان من رضي بالله ربا وبا لا سلا م دينا وبمحمد رسولا

Yang merasakan lazatnya iman adalah orang yang redha terhadap Allah sebagai Tuhannya, dan redha terhadap Islam sebagai agamanya dan redha terhadap Muhammad sebagai Rasul. (Hadith riwayat Muslim dan Tarmizi.)

Etika Profesional Generasi Unggul adalah selalu bertanggung jawab dalam setiap geraknya. Tanggung jawab tersebut mencakup ;

  1. Tanggungjawab Kepada Allah.
  2. Tanggungjawab Kepada Diri,
  3. Tanggungjawab Kepada Ilmu,
  4. Tanggungjawab Kepada Profesi,
  5. Tanggungjawab Kepada Masyarakat,
  6. Tanggungjawab Kepada Sejawat,
  7. Tanggungjawab Kepada Keluarga.  

Disebabkan hal sedemikian, maka menumbuhkan mahabbah (rasa cinta dan kasih sayang) dengan berpedoman kepada sabda Rasulullah SAW :

ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان  : من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما,   ومن احب عبدا لا يحبه الا الله,  ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه كما يكره ان يلقى فى النار

 Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat pada dirinya, maka dia akan merasakan lazatnya keimanan : Orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan orang yang benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilempar ke dalam  neraka. (Hadith riwayat Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa^i).

 

Seorang Mukmin wajib memiliki rasa takut, kasih dan sayang kepada Allah, yang dibuktikan dengan setia terhadap agamaNya.  Seorang muslim yang beriman mesti mempunyai perasaan yakin, percaya, harap, tawakkal dan pasrah kepada ketentuan Allah. Membiasakan  secara terus menerus zikrullah, yakni mengingati Allah dengan tauhid uluhiyah.  Tauhid menumbuhkan rasa takut kepada keagungan Allah karena meyakini sepenuhnya bahwa Allah mengawasinya. Tauhid itu melahirkan mahabbah atau rasa kasih serta rindu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi makin canggih, tidak dapat dibantah bahwa makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan dan  tidak mudah dapat diselesaikan.

 

Wassalam.

Padang, 22 Oktober 2012

 

 

Peran dan Fungsi Pemerintahan Terdepan yakni Pemerintahan Nagari di dalam implementasi dan pelestarian “adat bersendi syarak (syariat Islam) – syarak bersendi Kitabullah” disingkat ABS-SBK di Sumatera Barat.

Peran dan Fungsi Pemerintahan Terdepan yakni Pemerintahan Nagari di dalam implementasi dan pelestarian “adat bersendi syarak (syariat Islam) – syarak bersendi Kitabullah” disingkat ABS-SBK di Sumatera Barat.

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Mari kita syukuri nikmat Allah terhadap daerah kita Sumatera Barat yang hidup dalam satu tatanan langgo langgi (struktur) Masyarakat Hukum Adat (MHA) di Minangkabau. Karena dengan keterpaduan hati mensyukurinya di ikuti langkah berkesinambungan akan banyak memberi kontribusi membangun daerah kita khususnya Sumatera Barat dengan kekuatan adat budaya masyarakatnya dalam filosofi Adat Bersendi Syarak (Syariat Islam) dan Syarak Bersendi Kitabullah. Filosofi kehidupan MHA Minangkabau dengan Langgo Langgi perkerabatan nagari, kampuang, suku, kaum, jurai yang bermula dari rumah tangga. Pada semua tingkatan perkerabatan ada pengawalan pada posisi dan peran yang jelas karajo ba umpuak surang surang, urang ba jabatan masieng. Artinya ada pembagian pekerjaan. Filosofi ABSSBK dalam perkerabatan MHA Minangkabau menyatu dengan keyakinan dan syariat Agama Islam bersendikan Kitabullah. Darisini pembentukan watak generasi (pendidikan berkarakter) itu sebenarnya di awali.

Abad ini sedang berlangsung lonjakan perubahan menampilkan hubungan komunikasi informasi dan transportasi cepat yang berpengaruh kepada nilai-nilai tamadun yang sudah ada. Kekuatan Budaya MHA Minangkabau sebenarnya terikat kuat pada penghayatan Islam. Dimasa sangat panjang terbukti menjadi salah satu puncak kebudayaan dunia. Perubahan kini, desa‑desa yang terisolir telah terbuka jadi sentra perkebunan besar (seperti di Pasaman, Sitiung dan Solok Selatan). Gaya hidup panggang lutok (konsumeristis) telah menghipnotis warga hingga kedesa terujung. Malah berpengaruh besar menghilangkan kearifan budaya, tidak lagi mengukur bayang bayang sepanjang badan. Terjadi gadang pasak pado tiang. Pergaulan muda‑mudi tidak mengenal sumbang-salah. Perkerabatan mulai menipis. Peran ninik mamak melemah sebatas seremoni. Peran imam khatib sekedar pengisi ceramah. Surau dan Masjid lengang mati suri. Madrasah di nagari kurang diminati. Kedudukan orang tua hanya memenuhi keperluan materi anakcucunya. Guru‑guru disekolah semata mengajar. Peran sentral pendidikan jadi kabur. Kearifan MHA Minangkabau merancangbangun masyarakat terabaikan. Gaya hedonis materialis dan individualis menghapus nilai nilai utama berat sepikul ringan sejinjing yang dulu jadi penggerak utama kegotong royongan membangun kampong halaman.

Mengatasi semua itu, amat perlu membangun peribadi unggul dengan iman dan taqwa, berlimu pengetahuan, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, bermoral akhlak, beradat dan beragama. Disini Peran dan Fungsi Pemerintahan Terdepan dalam Implementasi dan Pelestarian (nilai dan gerak aplikatif) ABSSBK mestinya berada didepan dan tidak boleh abai.

Perpaduan Adat dan Syarak berpedoman Firman Allah ; “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa) dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13). Perbedaan suku dan jurai adalah kekuatan besar adat di Minangkabau “Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”. Masyarakat Minangkabau dengan filosofi ABSSBK memiliki ciri khas Beradat dan Beradab yang Beragama Islam. ABS-SBK menjadi  konsep dasar Adat Nan Sabana Adat yang diungkap lewat Bahasa sebagai Kato Pusako, yang memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan masyarakat. Kegiatan hidup bermasyarakat dalam kawasan ini selalu dipengaruhi oleh berbagai tatanan (system) dan berbagai tataran (structural levels). Paling mendasar tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya yang membentuk perspektif atau Pandangan  Dunia dan Panduan  Hidup masyarakatnya. Diantaranya ;
  1. memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat nagari, berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan dari masyarakat itu.
  2. menjadi landasan pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yang melahirkan berbagai gerakan, produk budaya yang dikembangkan secara formal ataupun informal.
  3. menjadi  petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
  4. memberi ruang dan batasan-batasan bagi pengembangan kreatif potensi nagari dan penduduknya dalam menghasilkan buah karya sosial budaya dan peningkatan ekonomi anak nagari, serta karya-karya dan keragaman pemikiran intelektual dan tampak sebagai folklore dan akan menjadi mesin pengembangan dan pertumbuhan Sumatera Barat di segala bidang.

Sebagai masyarakat beradat dengan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pelajaran strategis dalam penerapannya.

  1. Mengutamakan prinsip hidupkeseimbangankarena Islam menghendaki keseimbangan antara rohani dan jasmani. Keseimbangan pembinaan “Anak dipangku kamanakan di bimbiang, rang kampuang dipatenggangkan” seiring bimbingan Syariat Islam ; “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”  (Hadist).
  2. Kesadaran akan “luasnya bumi Allah” sehingga mudah digunakan. “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di didalamnya.” (QS.4, An-Nisak : 97), melahirkan budaya Marantau diiringi kemampuan meng-introdusir tenaga perantau merasakan denyut nadi kehidupan masyarakat di nagarinya melalui kebersamaan dan kecintaan kampung halaman sehingga berurat dihati umat dalam membangun kampung dan wilayahnya di mana bumi dipijak disana langit dijunjung.

Sebagai masyarakat beradat dan beragama ditanamkan sikap hati-hati “Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”. Memiliki jati diri tidak mau menjadi beban orang lain. Membiarkan diri hidup miskin adalah salah. “Kefakiran  membawa kepada kekufuran ”  (Hadist).

Nagari tumbuh dengan konsep tata ruang ba-balerong (balai adat) tempat musyawarah, ba-surau (musajik) tempat beribadah. Ba-gelanggang tempat berkumpul. Ba-tapian tempat mandi. Ba-pandam pekuburan. Ba-sawah bapamatang, ba-ladang babintalak, ba-korong bakampung. Tata-ruang adalah asset sangat berharga dalam Idealisme nilai budaya di Minangkabau. Nan lorong tanami tabu,  Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek kaparak, Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan,  Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak. Tata ruang yang jelas memberikan posisi strategis kepada peran pengatur dan pendukung sistim banagari yang telah disepakati terdiri dari orang ampek jinih (ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai, urang mudo, dan bundo kanduang).  Nagari tidak hanya sebatas ulayat hukum adat. Paling utama wilayah kesepakatan antar komponen masyarakat yang menjadi pendukung kegiatan masyarakat di bidang ekonomi dengan sikap tawakkal bekerja dan tidak boros. Hasilnya tergantung dalam dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa masyarakatnya.
S

trategi Membangun Nagari dalam pengamalan ABSSBK dititik beratkan kepada menghormati kesepakatan bersama dalam adaik sa lingka nagari. Perubahan deras arus kesejagatan tidak boleh mencerabutkan masyarakat dari akar budayanya. Perilaku yang mengedepankan perebutan prestise materialistis dan individualis adalah karena penyimpangan implementasi dari nilai nilai budaya ABSSBK.

Kepentingan bersama masyarakat mesti menjadi tugas utama pelestarian ABSSBK. Idealisme kebudayaan Minangkabau yang menjadi sasaran cercaan “usang” mestinya dihadapi dengan penampakan kehidupan beradat dan beragama yang kuat di Sumatera Barat. Upaya pencapaian hasil kebersamaan (kolektif, gotong royong) mesti digiatkan. Disini letak kekuatan Nagari di Minangkabau yang seakan sebuah republik kecil itu. Mini Republik ini punya sistim demokrasi murni, pemerintahan sendiri, asset sendiri, wilayah sendiri, perangkat masyarakat sendiri, sumber penghasilan sendiri. Bahkan hukum dan norma-norma adat sendiri  dalam “adaik sa lingka nagari” dikawal Suku, Sako dan Pusako yang menjadi kekuatan menetapkan Peraturan Nagari.

Membangun nagari muara pertama pada supra struktur pemerintahan nagari. Wali Nagari mestinya berperan sebagai kepala pemerintahan dan pimpinan masyarakat adat di nagarinya. Sebagai kepala pemerintahan terendah di nagari ada hirarki dengan pemerintahan dikecamatan atau kabupaten. Sebagai pimpinan dalam adat mesti berurat kebawah ditengah komunitas adat istiadat yang dijunjung tinggi anak nagari.

Strategi pemerintahan nagari  bermula dari (a). kesediaan rujuk kepada hukum adat (norma yang berlaku di nagari) dan (b). kesetiaan melaksanakan hukum positf (undang-undang negara).

Disamping itu muara kedua, dukungan masyarakat adat (kesepakatan tungku tigo sajarangan yang terdiri dari ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan kalangan rang mudo) dalam satu tatanan sistim pemerintahan (perundang-undangan). Anak nagari amat berkepentingan dalam merumuskan nagarinya. Konsepnya tumbuh dari akar nagari itu. Lah masak padi ‘rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo, Kabek sabalik buhus sintak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo. Perlu orang yang ahli dibidangnya. Mestilah dipahami bahwa masyarakat nagari sesungguhnya tidak terdiri dari satu keturunan (suku) saja. Ada beberapa suku asal muasal dari berbagai daerah di sekeliling ranah bundo. Sungguhpun berbeda, namun dapat bersatu dalam satu kaedah pemahaman masyarakat saling menghargai dan menghormati. Satu bentuk perilaku duduk samo randah tagak samo tinggi sebagai prinsip egaliter inilah prinsip demokrasi yang murni. Otoritas masyarakat sangat independen. Maka langkah strategis yang penting adalah,

1. Menguasai informasi substansial.

2. Mendukung pemerintahan yang menerapkan low-enforcment.

3. Memperkuat kesatuan dan persatuan di nagari-nagari.

4. Muaranya adalah ketahanan masyarakat dan ketahanan diri.

Strategi pengamalan ABSSBK di Nagari adalah menggali potensi dan asset nagari. Mengabaikannya pasti mendatangkan kesengsaraan bagi masyarakat adat itu. Sebab Pranata sosial Masyarakat Beragama semestinya berpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Penerapannya dimulai dengan memanggil potensi unsur manusia yang ada di masyarakat nagari. Kesadaran akan adanya benih kekuatan dalam diri anggota masyarakat hukum adat untuk kemudian digali dan digerakkan melalui penyertaan aktif dalam proses pembangunan nagari. Melalui kegiatan bermasyarakat itu pula observasinya dipertajam. Daya pikirnya ditingkatkan. Daya geraknya didinamiskan. Daya ciptanya  diperhalus.

Daya kemauan masyarakat dikembangkan untuk percaya kepada diri sendiri. Tujuannya sampai kepada taraf yang memungkinkan untuk mampu berdiri sendiri dan membantu nagari tanpa mengharapkan balas jasa atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat dan tatanan kehidupan bersama. Optimisme banagari  mesti selalu dipelihara. Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan hati (qalbin Salim) menghiasi nurani manusia dengan nilai luhur yang tumbuh mekar dengan  kesadaran kearifan dan kecerdasan budaya diperhalus oleh kecerdasan emosional dan dipertajam kemampuan periksa atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan spiritual yakni hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) melahirkan tindakan terpuji dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas). Kelemahan mendasar pada dasarnya karena melemahnya jati diri. Kurangnya komitmen kepada nilai-nilai luhur agama karena tindakan isolasi diri. Kurang menguasai politik, ekonomi, sosial budaya, lemahnya minat menuntut ilmu.

Kelemahan internal akan menutup peluang berperan serta dalam kesejagatan. Semakin parah karena pembiaran tanpa kawalan atau karena dorongan hendak menghidupkan toleransi. Padahal tasamuh itu memiliki batas-batas tertentu pula. Peran tidak boleh dilalaikan mempersiapkan generasi Sumatera Barat yang mempunyai bekal mengenali sejarah, latar belakang masyarakat, kondisi sosial ekonomi,  tamadun, budaya dan adat-istiadat dengan berbudi bahasa yang baik. Diperlukan Kerja Keras Untuk Meningkatkan Mutu SDM anak nagari diantaranya;

1)       Penguatan potensi yang sudah ada (urang ampek jinih, tungku tigo sajarangan) melalui program utama yakni kebersamaan (gotong royong).

2)       Memperkuat SDM bertujuan membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu identitas yang tidak dapat ditolak dalam satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah.

3)        Mengokohkan pemahaman agama, sehingga anak negari menjadi sehat rohani, menjaga terlaksananya dengan baik norma-norma adat, sehingga anak nagari menjadi masyarakat beradat yang beragama (Islam).

4)       Menggali potensi SDA yang ada di nagari selaras dengan perkembangan dan strategi menguatkan ketahanan ekonomi rakyat.

5)       Membangun kesejahteraan bertolak dari pembinaan unsur manusia dari menolong diri sendiri (self help) kepada tolong-menolong (gotong royong atau mutual help) sebagai puncak nilai budaya adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Gotong royong adalah strategi membangun masyarakat adat melalui pembagian pekerjaan atau ber-ta’awun sesuai dengan anjuran Islam.

Strategi membangun masyarakat adat berdasar pemahaman ABSSBK atau taraf ihsan sesuai ajaran Kitabullah dalam agama Islam dengan “memperindah nagari” dengan indikator  utama adalah ;

a)      Pencapaian moral adat.  Nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso. Atau dapat disebut sebagai karakter building.

b)      Efisiensi organisasi pemerintahan nagari dengan mendudukkan kembali  komponen masyarakat pada posisi subyek di nagari. Pemeranan fungsi fungsi elemen masyarakat.

c)       Membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu identitas dalam satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam iklim adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Maka kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing. Untuk membina umat dalam masyarakat desa harus di ketahui pula kekuatan. Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.  

Pengendali kemajuan sebenar adalah agama dan budaya umat (umatisasi). Tercerabutnya agama dari masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat berakibat besar kepada perubahan perilaku dan tatanan masyarakat adatnya. Penerapan filosofi Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah semestinya tampak jelas pada  syarak (agama Islam) mangato (memerintahkan) maka adat mamakai (melaksanakan). Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya di dalam tatanan kehidupan mesti menjadi landasan dasar pengkaderan regenerasi. Mengembalikan Minangkabau keakar Islam tidak boleh dibiar terlalai. Akibatnya akan terlahir bencana.  Pranata sosial Masyarakat di Sumatera Barat yang didiami masyarakat adat Minangkabau semestinya berpedoman kepada Syariat Agama Islam yang bersumber kepada Kitabullah (Al Quranul Karim) dan Sunnah Rasulullah. Indikator pengamalannya terekam dalam Praktek Ibadah, Pola Pandang dan Karakter Masyarakatnya, Sikap Umum dalam Ragam Hubungan Sosial  masyarakatnya serta tutur kata yang baik.

Strategi membangun masyarakat adat akan berhasil manakala selalu kokoh dengan prinsip, qanaah dan istiqamah. Berkualitas dengan iman dan hikmah. Berilmu dan matang dengan visi dan misi. Amar makruf nahyun ‘anil munkar dengan teguh dan professional. Research-oriented berteraskan iman dan ilmu pengetahuan.

Maka peran dan Fungsi Pemerintahan Terdepan adalah menghidupkan lembaga tungku tigo sajarangan sebagai institusi penting dalam masyarakat Minangkabau sejak dulu yang telah berhasil membawa umat dengan informasi dan aktifiti, kepada keadaan yang lebih baik dalam Implementasi dan Pelestarian ABSSBK.  Strateginya dengan menanamkan kearifan bahwa apa yang ada sekarang akan menjadi milik generasi mendatang. Ada kewajiban menularkan warisan luhur budaya kepada generasi pengganti secara lebih baik dan lebih sempurna agar tetap berlangsung proses timbang terima kepemimpinan secara estafetta alamiah. Kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Provinsi Sumatera Barat dengan Filosofi Adat Budaya Minangkabau yaitu ABSSBK mestinya tumbuh dengan komitmen fungsional bermutu tinggi seiring kemampuan penyatuan konsep-konsep dengan alokasi sumber dana. Perencanaan kerja secara komprehensif akan mendorong terbinanya center of excelences.  

KHULASAH

Akan sulitlah dibantah jika masyarakatnya sudah mati jiwa pastilah akan sulit diajak berpartisipasi karena telah kehilangan semangat kolektifitas. Bahaya akan menimpa tatkala jiwa umat mati di tangan pemimpin. Jangan dibiarkan umat digenggam oleh pemimpin otoriter yang meninggalkan prinsip musyawarah. Hal tersebut akan sama dengan menyerahkan mayat ketangan orang yang memandikan. Perankan kembali organisasi formal dan fungsikan peran ninik mamak, alim ulama cerdik pandai “suluah bendang dalam nagari”  dengan sistem komunikasi koor­dinasi antar organisasi pada pola pembinaan kaderisasi pimpinan formal nagari dan suku. Dalam gerak “membangun nagari”  setiap fungsionaris nagari menjadi pengikat umat membentuk masyarakat yang lebih kuat.

Semua fungsionaris formal suku dan kaum senyatanya adalah kekuatan sosial yang efektif. Terbukti bahwa Nagari lebih banyak dibangun dengan kekuatan anak nagari sendiri. Bahkan sedikit sekali yang bergantung kepada APBNasional atau APBDaerah. Maka Nagari semestinya menjadi media pengembangan pemasyarakatan budaya sesuai dengan adagium “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah melalui pendidikan ketauladanan dalam mencapai derajat peribadi taqwa serta melaksanakan kegiatan dakwah Islam terhadap masyarakat anak nagari.

Di nagari mesti di lahirkan media pengembangan minat menyangkut aspek kehidupan ekonomi, sosial, budaya dan politik dalam mengembangkan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera.

Spiritnya adalah (a). Kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi). (b). Keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang). (c). Musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo”. (d). Keimanan yang kuat kepada Allah SWT sebagai pengikat spirit tersebut dengan menjiwai sunnatullah dalam setiap gerak. (e). Mengenal alam keliling “Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”. (f). Kecintaan ke nagari menjadi perekat yang sudah dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman sejarah. (g). Menjaga batas-batas patut dan pantas, jangan terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak.

Begitu semestinya peranan dan fungsi strategis Pemerintahan Terdepan di Nagari bersama sama dengan Ninik Mamak, Alim ulama, Cerdik Pandai dan Bundo Kanduang sebagai suluah bendang di nagari nagari dalam membangun serta menjaga nagari-nagari yang tertata rapi menapak alaf baru di Sumatera Barat (Minangkabau) dalam implementasi dan pelestarian ABS-SBK. Insya Allah.

 Padang, Maret 2012  M / Jumadil Awwal 1433 H

Minangkabau dan Sistim Kekerabatan .. Sumbangan Pikiran untuk Kompilasi ABSSBK, oleh BuyaHMA (Bagian Pertama)

MINANGKABAU DAN SISTIM KEKERABATAN
Hubungan Kekeluargaan Minangkabau, bersuku ke ibu, bersako ke mamak, dan bernasab ke ayah

Oleh : H Mas’oed Abidin

MINANGKABAU DALAM SEJARAH DAN TAMBO
1. Asal usul manusia Minangkabau

Kata Minangkabau mengandung banyak pengertian. Minangkabau dipahamkan sebagai sebuah kawasan budaya, di mana penduduk dan masyarakatnya menganut budaya Minangkabau. Kawasan budaya Minangkabau mempunyai daerah yang luas. Batasan untuk kawasan budaya tidak dibatasi oleh batasan sebuah propinsi. Berarti kawasan budaya Minangkabau berbeda dengan kawasan administratif Sumatera Barat.

Minangkabau dipahamkan pula sebagai sebuah nama dari sebuah suku bangsa, suku Minangkabau. Mempunyai daerah sendiri, bahasa sendiri dan penduduk sendiri.

Minangkabau dipahamkan juga sebagai sebuah nama kerajaan masa lalu, Kerajaan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung.  Sering disebut juga kerajaan Pagaruyung, yang mempunyai masa pemerintahan yang cukup lama, dan bahkan telah mengirim utusan-utusannya sampai ke negeri Cina. Banyaknya pengertian yang dikandung kata Minangkabau, maka tidak mungkin melihat Minangkabau dari satu pemahaman saja.

Membicarakan Minangkabau secara umum mendalami sebuah suku bangsa dengan latar belakang sejarah, adat, budaya, agama, dan segala aspek kehidupan masyarakatnya. Mengingat hal seperti itu, ada dua sumber yang dapat dijadikan rujukan dalam mengkaji Minangkabau, yaitu sumber dari sejarah dan sumber dari tambo. Kedua sumber ini sama penting, walaupun di sana sini, pada keduanya ditemui kelebihan dan kekurangan, namun dapat pula saling melengkapi.

Menelusuri sejarah tentang Minangkabau, sebagai satu cabang dari ilmu pengetahuan, maka mesti didasarkan bukti-bukti yang jelas dan otentik. Dapat berupa peninggalan-peninggalan masa lalu, prasasti-prasasti, batu tagak (menhir), batu bersurat, naskah-naskah dan catatan tertulis lainnya. Dalam hal ini, ternyata bukti sejarah lokal Minangkabau termasuk
sedikit.

Banyak catatan dibuat oleh pemerintahan Hindia Belanda (Nederlandsche Indie), tentang Minaangkabau atau Sumatera West Kunde, yang amat memerlukan kejelian di dalam meneliti. Hal ini disebabkan, catatan-catatan dimaksud dibuat untuk kepentingan pemerintahan Belanda, atau keperluan dagang oleh Maatschappij Koningkliyke VOC.

Tambo atau uraian mengenai asal usul orang Minangkabau dan menerakan hukum-hukum adatnya, termasuk sumber yang mulai langka di wilayah Minangkabau sekarang. Sungguhpun, penelusuran tambo sulit untuk dicarikan rujukan seperti sejarah, namun apa yang disebut dalam tambo masih dapat dibuktikan ada dan bertemu di dalam kehidupan masyarakat
Minangkabau.

Tambo diyakini oleh orang Minangkabau sebagai peninggalan orangorang tua. Bagi orang Minangkabau, tambo dianggap sebagai sejarah kaum. Walaupun, di dalam catatan dan penulisan sejarah sangat diperhatikan penanggalan atau tarikh dari sebuah peristiwa, serta di mana kejadian, bagaimana terjadinya, bila masanya, dan siapa pelakunya, menjadikan penulisan sejarah otentik. Sementara tambo tidak terlalu mengutamakan penanggalan, akan tetapi menilik kepada peristiwanya. Tambo lebih bersifat sebuah kisah, sesuatu yang pernah terjadi dan berlaku. Tentu saja, bila kita mempelajari tambo kemudian mencoba mencari rujukannya sebagaimana sejarah, kita akan mengalami kesulitan dan bahkan dapat membingungkan. Sebagai contoh; dalam tambo Minangkabau tidak ditemukan secara jelas nama Adhytiawarman, tetapi dalam sejarah nama itu adalah nama raja Minangkabau yang pertama berdasarkan buktibukti prasasti.

Dalam hal ini sebaiknya sikap kita tidak memihak, artinya kita tidak menyalahkan tambo atau sejarah. Sejarah adalah sesuatu yang dipercaya berdasarkan bukti-bukti yang ada, sedangkan tambo adalah sesuatu yang diyakini berdasarkan ajaran-ajaran yang terus diturunkan kepada anak kemenakan.

Minangkabau menurut sejarah

Banyak ahli telah meniliti dan menulis tentang sejarah Minangkabau, dengan pendapat, analisa dan pandangan yang berbeda. Tetapi pada umumnya mereka membagi beberapa periode kesejarahan; Minangkabau zaman sebelum Masehi, zaman Minangkabau Timur dan zaman kerajaan Pagaruyung. Seperti yang ditulis MD Mansur dkk dalam Sejarah Minangkabau, bahwa zaman sejarah Minangkabau pada zaman sebelum Masehi dan pada zaman Minangkabau Timur hanya dua persen saja yang punya nilai sejarah, selebihnya adalah mitologi, cerita-cerita yang diyakini sebagai tambo.

Prof. Slamet Mulyana dalam Kuntala, Swarnabhumi dan Sriwijaya mengatakan bahwa kerajaan Minangkabau itu sudah ada sejak abad pertama Masehi. Kerajaan itu muncul silih berganti dengan nama yang berbeda-beda. Pada mulanya muncul kerjaan Kuntala dengan lokasi sekitar daerah Jambi pedalaman. Kerajaan ini hidup sampai abad ke empat. Kerajaan ini
kemudian berganti dengan kerajaan Swarnabhumi pada abad ke lima sampai ke tujuh sebagai kelanjutan kerajaan sebelumnya. Setelah itu berganti dengan kerajaan Sriwijaya abad ke tujuh sampai 14. Mengenai lokasi kerajaan ini belum terdapat kesamaan pendapat para ahli. Ada yang mengatakan sekitar Palembang sekarang, tetapi ada juga yang mengatakan antara Batang Batang Hari dan Batang Kampar. Candi Muara Takus merupakan peninggalan kerajaan Kuntala yang kemudian diperbaiki dan diperluas sampai masa kerajaan Sriwijaya. Setelah itu muncul kerajaan Malayapura (kerajaan Melayu) di daerah yang bernama Darmasyraya (daerah Sitiung dan sekitarnya sekarang). Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari kerajaan Sriwijaya. Kerajaan ini kemudian dipindahkan oleh Adhytiawarman ke Pagaruyung. Sejak itulah kerajaan itu dikenal dengan kerajaan Pagaruyung.

Menurut Jean Drakar dari Monash University Australia mengatakan bahwa kerajaan Pagaruyung adalah kerajaan yang besar, setaraf dengan kerajaan Mataram dan kerajaan Melaka. Itu dibuktikannya dengan banyaknya negeri-negeri di Nusantara ini yang meminta raja ke Pagaruyung, seperti Deli, Siak, Negeri Sembilan dan negeri-negeri lainnya.

Minangkabau menurut tambo

Dalam bentuk lain, tambo menjelaskan pula tentang asal muasal orang Minangkabau. Tambo adalah satu-satunya keterangan mengenai sejarah Minangkabau. Bagi masyarakat Minangkabau, tambo mempunyai arti penting, karena di dalamtambo terdapat dua hal;

(1) Tambo alam, suatu kisah yang menerangkan asal usul orang Minangkabau semenjak raja pertama datang sampai kepada masa kejayaan kerajaan Pagaruyung.

(2) Tambo adat, uraian tentang hukum-hukum adat Minangkabau. Dari sumber inilah hukum-hukum, aturan-aturan adat, dan juga berawalnya sistem matrilineal dikembangkan.

Di dalam Tambo alam diterangkan bahwa raja pertama yang datang ke Minangkabau bernama Suri Maharajo Dirajo. Anak bungsu dari Iskandar Zulkarnain. Sedangkan dua saudaranya, Sultan Maharaja Alif menjadi raja di benua Rum dan Sultan Maharajo Dipang menjadi raja di benua Cina. Secara tersirat tambo telah menempatkan kerajaan Minangkabau setaraf dengan kerajaan di benua Eropa dan Cina. Suri Maharajo Dirajo datang ke Minangkabau ini, di dalam Tambo disebut pulau paco lengkap dengan pengiring yang yang disebut; Kucing Siam, Harimau Campo, Anjiang Mualim, Kambiang Hutan.

Masing-masing nama itu kemudian dijadikan “lambang” dari setiap luhak di Minangkabau. Kucing Siam untuk lambang luhak Tanah Data, Harimau Campo untuk lambang luhak Agam dan Kambiang hutan untuk lambang luhak Limo Puluah. Suri Maharajo Dirajo mempunya seorang penasehat ahli yang bernama Cati Bilang Pandai.

Suri Maharajo Dirajo meninggalkan seorang putra bernama Sutan Maharajo Basa yang kemudian dikenal dengan Datuk Katumanggungan pendiri sistem kelarasan Koto Piliang. Puti Indo Jalito, isteri Suri Maharajo Dirajo sepeninggalnya kawin dengan Cati Bilang Pandai dan melahirkan tiga orang anak, Sutan Balun, Sutan Bakilap Alam dan Puti Jamilan. Sutan Balun
kemudian dikenal dengan gelar Datuk Perpatih Nan Sabatang pendiri kelarasan Bodi Caniago.

Datuk Katumanggungan meneruskan pemerintahannya berpusat di Pariangan Padang Panjang kemudian mengalihkannya ke Bungo Sitangkai di Sungai Tarab sekarang, dan menguasai daerah sampai ke Bukit Batu Patah dan terus ke Pagaruyung.

Maka urutan kerajaan di dalam Tambo Alam Minangkabau adalah;
(1)Kerajaan Pasumayan Koto Batu,
(2)Kerajaan Pariangan Padang Panjang
(3)Kerajaan Dusun Tuo yang dibangun oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang
(4)Kerajaan Bungo Sitangkai
(5)Kerajaan Bukit Batu Patah dan terakhir
(6)Kerajaan Pagaruyung.

Menurut Tambo Minangkabau, kerajaan yang satu adalah kelanjutan dari kerajaan sebelumnya. Karena itu, setelah adanya kerajaan Pagaruyung, semuanya melebur diri menjadi kawasan kerajaan Pagaruyung.
Kerajaan Dusun Tuo yang didirikan oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang, karena terjadi perselisihan paham antara Datuk Ketumanggungan dengan Datuk Perpatih nan Sabatang, maka kerajaan itu tidak diteruskan, sehingga hanya ada satu kerajaan saja yaitu kerajaan Pagaruyung. Perbedaan paham antara kedua kakak beradik satu ibu ini yang menjadikan sistem
pemerintahan dan kemasyarakatan Minangkabau dibagi atas dua kelarasan, Koto Piliang dan Bodi Caniago.

Dari uraian tambo dapat dilihat, bahwa awal dari sistem matrilineal telah dimulai sejak awal, yaitu dari “induknya” Puti Indo Jalito. Dari Puti Indo Jalito inilah yang melahirkan Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang. Namun, apa yang diuraikan setiap tambo punya berbagai variasi, karena setiap nagari punya tambo.

Dr. Edward Jamaris yang membuat disertasinya tentang tambo, sangat sulit menenyukan pilihan. Untuk keperluan itu, dia harus memilih salah satu tambo dari 64 buah tambo yang diselidikinya. Namun pada umumnya tambo menguraikan tentang asal usul orang Minangkabau sampai terbentuknya kerajaan Pagaruyung.

ASAL KATA MINANGKABAU

Kata Minangkabau mempunyai banyak arti. Merujuk kepada penelitian kesejarahan, beberapa ilmuan telah mengemukakan pendapatnya tentang asal kata Minangkabau.

a. Purbacaraka (dalam buku Riwayat Indonesia I) Minangkabau berasal dari kata Minanga Kabawa atau Minanga Tamwan yang maksudnya adalah daerah-daerah disekitar pertemuan dua sungai; Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Hal ini dikaitkannya dengan adanya candi Muara Takus yang didirikan abad ke 12.

b. Van der Tuuk mengatakan kata Minangkabau berasal dari kata Phinang Khabu yang artinya tanah asal.
c. Sutan Mhd Zain mengatakan kata Minangkabau berasal dari Binanga Kamvar maksudnya muara Batang Kampar.
d. M.Hussein Naimar mengatakan kata Minangkabau berasal dari kata Menon Khabu yang artinya tanah pangkal, tanah yang mulya.
e. Slamet Mulyana mengatakan kata Minangkabau berasal dari kata Minang Kabau. Artinya, daerah-daerah yang berada disekitar pinggiran sungaisungai yang ditumbuhi batang kabau (jengkol).

Dari berbagai pendapat itu dapat disimpulkan bahwa Minangkabau itu adalah suatu wilayah yang berada di sekitar muara sungai yang didiami oleh orang Minangkabau.

Namun dari Tambo, kata Minangkabau berasal dari kata Manang Kabau. Menang dalam adu kerbau antara kerbau yang dibawa oleh tentara Majapahit dari Jawa dengan kerbau orang Minang.

WILAYAH ASAL MINANGKABAU

Membicarakan tentang wilayah Minangkabau, seperti yang dijelaskan di atas, harus dilihat dalam dua pengertian yang masing-masingnya berbeda;
1. Pengertian budaya
2. Pengertian geografis
Dalam pengertian budaya, wilayah Minangkabau itu itu adalah suatu wilayah yang didukung oleh suatu masyarakat yang kompleks, yang bersatu bersamaan persamaan asal usul, adat, dan falsafah hidup.
Menurut tambo, wilayah Minangkabau disebutkan saedaran gunuang Marapi, salareh batang Bangkaweh, sajak Sikilang Aie Bangih, lalu ka gunuang Mahalintang, sampai ka Rokan Pandalian, sajak di Pintu Rayo Hilie, sampai Si Alang Balantak Basi, sajak Durian Ditakuak Rajo, lalu ka Taratak Aie Hitam, sampai ka Ombak Nan Badabua.

Mengenai batas-batas yang disebutkan di atas, berbagai penafsiran terjadi.
Ada yang mengatakan bahwa batas-batas itu adalah simbol-simbol saja tetapi wilayah itu tidak ada yang jelas dan tepat, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa batas-batas itu adalah benar dan nagari-nagari yang disebutkan itu ada sampai sekarang. Dalam hal ini tentu kita tidak perlu melihat perbedaan-perbedaan pendapat tersebut, karena kedua-dua
pendapat itu ada benarnya.

Dalam pengertian geografis, wilayah Minangkabau terbagi atas wilayah inti yang disebut darek dan wilayah perkembangannya yang disebut rantau dan pesisir.

a. Darek
Daerah dataran tinggi di antara pegunungan Bukit Barisan; di sekitar gunung Singgalang, sekitar gunung Tandikek, sekitar gunung Merapi dan sekitar gunung Sago. Daerah darek ini dibagi dalam tiga luhak;

(1) Luhak Tanah Data sebagai luhak nan tuo, buminyo nyaman, aienyo janiah ikannyo banyak,

(2) Luhak Agam sebagai luhak nan tangah, buminyo anegk, aienyo karuah, ikannyo lia,

(3) dan Luhak Limo Puluah Koto sebagai luhak nan bongsu, buminyo sajuak, aienyo janiah, ikannyo jinak.

Nagari-nagari yang termasuk ke dalam luhak Tanah Data adalah; Pagaruyung, Sungai tarab, Limo Kaum, Sungayang, Saruaso, Sumanik, Padang Gantiang, Batusangka, Batipuh 10 koto, Lintau Buo, Sumpur Kuduih, Duo puluah koto, Koto Nan Sambilan, Kubuang Tigobaleh, Koto Tujuah, Supayang, Alahan Panjang, Ranah Sungai Pagu.

Nagari-nagari yang termasuk ke dalam luhak Agam adalah; Agam tuo, Tujuah lurah salapan koto, Maninjau, Lawang, Matua, Ampek Koto, Anam Koto, Bonjol, Kumpulan, Suliki.

Nagari-nagari yang termasuk ke dalam luhak Limo Puluah Koto adalah; luhak terdiri dari Buaiyan Sungai Balantik, Sarik Jambu Ijuak, Koto Tangah, Batuhampa, Durian gadang, Limbukan, Padang Karambie, Sicincin, Aur Kuniang, Tiakar, Payobasuang, Bukik Limbuku, Batu Balang Payokumbuah, Koto Nan Gadang (dari Simalanggang sampai Taram); ranah terdiri dari Gantiang, Koto Laweh, Sungai Rimbang, Tiakar, Balai Mansiro, Taeh Simalanggang, Piobang, Sungai Baringin, Gurun, Lubuk Batingkok, Tarantang, Selo Padang Laweh (Sajak dari Simalanggang sampai Tebing Tinggi, Mungkar); Lareh terdiri dari Gaduik, Tebing Tinggi, Sitanang, Muaro Lakin, Halaban, Ampalu, Surau, Labuah Gurun ( dari taram taruih ka Pauh Tinggi, Luhak 50, taruih ka Kuok, Bangkinang, Salo, Aie Tirih dan Rumbio)

b. Rantau.
Daerah pantai timur Sumatera. Ke utara luhak Agam; Pasaman, Lubuk Sikaping dan Rao. Ke selatan dan tenggara luhak Tanah Data; Solok Silayo, Muaro Paneh, Alahan Panjang, Muaro Labuah, Alam Surambi Sungai Pagu, Sawah lunto Sijunjung, sampai perbatasan Riau dan Jambi. Daerah ini disebut sebagai ikue rantau.
Kemudian rantau sepanjang iliran sungai sungai besar; Rokan, Siak, Tapung, Kampar, Kuantan/Indragiri dan Batang Hari. Daerah ini disebut Minangkabau Timur yang terdiri dari;
a) Rantau 12 koto (sepanjang Batang Sangir); Nagari Cati nan Batigo (sepanjang Batang Hari sampai ke Batas Jambi), Siguntue (Sungai Dareh), Sitiuang, Koto Basa.

b) Rantau Nan Kurang Aso Duopuluah (rantau Kuantan)

c) Rantau Bandaro nan 44 (sekitar Sungai Tapuang dengan Batang Kampar)

d) Rantau Juduhan (rantau Y.D.Rajo Bungsu anak Rajo Pagaruyung; Koto Ubi, Koto Ilalang, Batu Tabaka)

e) NegeriSembilan


c. Pesisir
Daerah sepanjang pantai barat Sumatera. Dari utara ke selatan; Meulaboh, Tapak Tuan, Singkil, Sibolga, Sikilang, Aie Bangih, Tiku, Pariaman, Padang, Bandar Sapuluah, terdiri dari; Air Haji, Balai Salasa, Sungai Tunu, Punggasan, Lakitan, Kambang, Ampiang Parak, Surantiah, Batang kapeh, Painan (Bungo Pasang), seterusnya Bayang nan Tujuah, Indrapura,Kerinci,Muko-muko,Bengkulu.


SISTIM KEMASAYARAKATAN/KELARASAN

Sistim kemasyarakatan atau yang dikenal sebagai sistem kelarasan merupakan dua instisusi adat yang dibentuk semenjak zaman kerajaan Minangkabau/Pagaruyung dalam mengatur pemerintahannya. Bahkan ada juga pendapat yang mengatakan, penyusunan itu dilakukan sebelum berdirinya kerajaan Pagaruyung.

Kedua institusi tersebut masih tetap dijalankan oleh masyarakat adat Minangkabau sampai sekarang. Keberadaan dan peranannya sudah menjadi bakuan sosial atau semacam tatanan budaya yang diakui dan menjadi rujukan dalam menjalankan dan membicarakan tatanan adat alam Minangkabau.

Kedua institusi itu tidak berdiri keduanya begitu saja. Dalam sebuah tatanan pemerintahan, kedua institusi tersebut berjalan searah dengan instisuti lainnya atau lembaga-lembaga lainnya. Lembaga-lembaga tersebut terdiri dari: Rajo Tigo Selo; yang terdiri dari Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat.

Rajo Tigo Selo berasal dari keturunan yang sama. Hanya penempatan, tugas serta kedudukannya yang berbeda.


KEDUDUKAN/TEMPAT TINGGAL

Raja Alam di Pagaruyung, Raja Adat di Buo dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus.
Daerah-daerah rantau barat dan timur merupakan daerah yang berada langsung di bawah raja, dengan mengangkat “urang gadang” atau “rajo kaciak” pada setiap daerah. Mereka setiap tahun menyerahkan “ameh manah” kepada raja.

Daerah-daerah yang langsung berada di bawah pengawasan raja Daerah-daerah rantau tersebut adalah:

Rantau pantai timur
1. Rantau nan kurang aso duo puluah (di sepanjang Batang Kuantan) disebut juga Rantau Tuan Gadih.
2. Rantau duo baleh koto (sepanjang batang Sangir) disebut juga Nagari Cati Nan Batigo.
3. Rantau Juduhan (kawasan Lubuk Gadang dan sekitarnya) disebut juga Rantau Yang Dipertuan Rajo Bungsu
4. Rantau Bandaro nan 44 (sekitar Sei.Tapung dan Kampar)
5. Negeri Sembilan

Rantau pantai barat:
1. Bayang nan 7, Tiku Pariaman, Singkil Tapak Tuan disebut juga Rantau Rajo
2. Bandar X disebut juga Rantau Rajo Alam Surambi Sungai Pagu.

PERANGKAT RAJA
Basa Ampek Balai.
Dalam menjalankan pemerintahan, raja dibantu oleh 4 orang menterinya yang disebut Basa Ampek Balai dan seorang Panglima Perang, Tuan Gadang Batipuh.

Datuk Nan Batujuh
Di daerah kedudukan (tempat raja menetap/tinggal), setiap raja mempunyai perangkat penghulu tersendiri untuk mengurus masalah masalah daerah kedudukan dan kerumah tanggaan. Datuk Nan Batujuh, yang mengurus segala
hal tentang wilayah raja (Pagaruyung). Datuk Nan Barampek di Balai Janggo yang mengurus segala hal tentang kerumahtanggaan.

Pada mulanya, datuk-datuk ini diangkat oleh raja. Jadi, datuk-datuk ini berbeda dengan datuk-datuk di nagari-nagari lainnya. Datuk di nagari lainnya merupakan pimpinan kaum, sedangkan datuk-datuk ini perangkat raja.

Datuk-datuk tepatan raja pada wilayah atau nagari-nagari tertentu ada datuk-datuk yang ditunjuk untuk perpanjangan tangan raja, tempat tepatan raja.

SISTEM SISTEM KELARASAN KELARASAN

1. Kelarasan Koto Piliang (yang menjalankan pemerintahan) yang dipimpin oleh Datuk Bandaro Putih Pamuncak Koto Piliang berkedudukan di Sungai Tarab. Hirarki dalam kelarasan Koto Piliang mempunyai susunan seperti di atas yang disebut; bajanjang naiak batanggo turun, dengan prinsip pengangkatan penghulu-penghulunya; patah tumbuah.

2. Kelarasan Bodi Caniago (yang menjalankan persidangan) yang dipimpin oleh Datuk Bandaro Kuniang, Gajah Gadang Patah Gadiang berkedudukan di Limo Kaum. Hirarki dalam kelarasan Bodi Caniago mempunyai susunan yang disebut;
duduak samo randah tagak samo tinggi.

Kedudukan raja terhadap kedua kelarasan
Kedudukan raja berada di atas dua kelarasan; Koto Piliang dan Bodi Caniago.
Bagi kelarasan Koto Piliang, kedudukan raja di atas segalanya. Sedangkan bagi Kelarasan Bodi Caniago kedudukan raja adalah symbolik sebagai pemersatu.


TEMPAT EMPAT PERSIDANGAN PERSIDANGAN

1. Balai Panjang.
Tempat persidangan untuk semua lembaga; Raja, Koto Piliang, Bodi Caniago, Rajo-rajo di rantau berada di Balai Panjang, Tabek Sawah Tangah.

2. Balairung
Tempat persidangan raja dengan basa-basa disebut Balairung. Medan nan bapaneh Tempat persidangan kelarasan koto piliang disebut Medan Nan Bapaneh dipimpin Pamuncak Koto Piliang, Datuk Bandaro Putih

4. Medan nan Balinduang
Tempat persidangan kelarasan bodi caniago disebut Medan Nan Balinduang dipimpin oleh Pucuak Bulek Bodi Caniago, Datuk Bandaro Kuniang.

5. Balai Nan Saruang
Tempat persidangan Datuk Badaro Kayo di Pariangan disebut Balai Nan Saruang

LAREH NAN DUO

Lareh atau sistem, di dalam adat dikenal dengan dua; Lareh Nan Bunta dan Lareh nan Panjang. Lareh nan Bunta lazim juga disebut Lareh Nan Duo, yang dimaksudkan adalah Kelarasan Koto Piliang yang disusun oleh Datuk Ketumanggungan dan Kelarasan Bodi Caniago oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang.

Sedangkan Lareh nan Panjang di sebut; Bodi Caniago inyo bukan, Koto Piliang inyo antah disusun oleh Datuk Suri Nan Banego-nego.(disebut juga Datuk Sikalab Dunia Nan Banego-nego) Namun yang lazim dikenal hanyalah dua saja, Koto Piliang dan Bodi Caniago.

Kedua sistem (kelarasan) Koto Piliang dan Bodi Caniago adalah dua sistem yang saling melengkapi dan memperkuat. Hal ini sesuai dengan sejarah berdirinya kedua kelarasan itu. Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang kakak adik lain ayah, sedangkan Datuk Suri Nan Banego-nego adalah adik dari Datuk Perpatih Nan Sabatang.

Di dalam tambo disebutkan;
Malu urang koto piliang, malu urang bodi caniago.

Di dalam mamangan lain dikatakan:
Tanah sabingah lah bapunyo, rumpuik sahalai lah bauntuak
Malu nan alun kababagi.

A. KELARASAN KOTO PILIANG

Dipimpin oleh Datuk Bandaro Putiah
Roda pemerintahan dijalankan dalam sistem Koto Piliang, yang dalam hal ini dijalankan oleh Basa Ampek Balai:
1. Panitiahan – berkedudukan di Sungai Tarab – Pamuncak Koto Piliang
2. Makhudum – berkedudukan di Sumanik – Aluang bunian Koto Piliang
3. Indomo – berkedudukan di Saruaso – Payung Panji Koto Piliang
4. Tuan Khadi – berkedudukan di Padang Ganting – Suluah Bendang Koto Piliang (Ditambah seorang lagi yang kedudukannya sama dengan Basa Ampek Balai)
5. Tuan Gadang – berkedudukan di Batipuh – Harimau Campo Koto Piliang.

Setiap Basa, mempunyai perangkat sendiri untuk mengurus masalah masalah daerah kedudukannya.
Setiap basa membawahi beberapa orang datuk di daerah tempat kedudukannya, tergantung kawasannya masing-masing. (Ada yang 9 datuk seperti Sungai Tarab, 7 datuk seperti di Saruaso dll).

Setiap Basa diberi wewenang oleh raja untuk mengurus wilayah-wilayah tertentu, untuk memungut ameh manah, cukai, pengaturan wilayah dan sebagainya. Misalnya;
a) Datuk Bandaro untuk daerah pesisir sampai ke Bengkulu
b) Makhudum untuk daerah pesisir timur sampai ke Negeri Sembilan
c) Indomo untuk daerah pesisir barat utara.
d) Tuan Kadi untuk daerah Minangkabau bagian selatan.

Pada setiap nagari, ada beberapa penghulu yang berada di bawah setiap basa yang mengepalai nagari-nagari tersebut. Masing-masing unsur (elemen) dari perangkat adat ini banyak diubah dan berubah akibat ekspansi pemerintahan Belanda dalam mencampuri urusan hukum adat. Namun “batang” dari sistem ini tetap diikuti sampai sekarang.

LANGGAM NAN TUJUAH  (7 daerah istimewa)

Di dalam sistem pemerintahan itu, ada daerah-daerah istimewa yang dipimpin oleh seorang penghulu yang langsung berada di bawah kuasa raja. Dia tidak berada di bawah Basa 4 Balai.

Daerah-daerah istimewa ini mempunyai fungsi dan kedudukan tersendiri dan sampai sekarang masih dijalankan.

Langgam nan tujuh itu terdiri dari tujuh daerah/wilayah dengan gelar kebesarannya masing-masing:
1. Pamuncak Koto Piliang. Daerahnya Sungai Tarab salapan batu

2. Gajah Tongga Koto Piliang. Daerahnya Silingkang & Padang Sibusuak

3. Camin Taruih Koto Piliang. Daerahnya Singkarak & Saningbaka

4. Cumati Koto Piliang. Daerahnya Sulik Aie & Tanjuang Balik

5. Perdamaian Koto Piliang. Daerahnya Simawang & Bukik Kanduang

6. Harimau Campo Koto Piliang. Daerahnya Batipuh 10 Koto

7. Pasak kungkuang Koto Piliang. Daerahnya Sungai Jambu & Labu Atan

SISTEM  YANG  DIPAKAI  DALAM  KELARASAN  KOTO  PILIANG


Memakai sistem cucua nan datang dari langik, kaputusan indak buliah dibandiang. Maksudnya; segala keputusan datang dari raja. Raja yang menentukan.

Bila persoalan timbul pada suatu kaum, kaum itu membawa persoalan kepada Basa Ampek Balai. Jika persoalan tidak putus oleh Basa Ampek Balai, diteruskan kepada Rajo Duo Selo. Urusan adat kepada Rajo Adat, dan urusan keagamaan kepada Rajo Ibadat.  Bila kedua rajo tidak dapat memutuskan, diteruskan kepada Rajo Alam. Maka Rajo Alamlah yang memutuskan.

Karena itu dalam kelarasan ini hirarkinya adalah sebagai berikut; kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka Basa Ampek Balai, Basa Ampek Balai ka Rajo Duo Selo.

KELARASAN BODI CANIAGO

Dipimpin oleh Datuk Bandaro Kuniang, Gajah Gadang Patah Gadiang di Limo Kaum.
Di bawahnya disebut Datuak Nan Batigo; Datuk nan di Dusun Tuo, Datuk nan di Paliang, Datuk nan Kubu Rajo. (Nama-nama Datuk tak disebutkan, karena mereka memakai sistem “gadang balega”, pimpinan dipilih berdasarkan kemufakatan (Hilang Baganti).

Kelarasan Bodi Caniago, juga mempunyai daerah setaraf Langgam Nan Tujuh dalam kelarasan Koto Piliang, yang disebut Tanjuang nan ampek, lubuak nan tigo (juga tujuh daerah khusus dengan tujuh penghulu/pucuak buleknyo)

  1. Tanjuang Bingkuang (Limo kaum dan sekitarnya).
  2. Tanjung Sungayang,
  3. Tanjuang Alam,
  4. Tanjuang Barulak,
  5. Lubuk Sikarah,
  6. Lubuk Sipunai,
  7. Lubuk Simawang

 

SISTEM  YANG  DIPAKAI  DALAM  KELARASAN BODI CANIAGO

Memakai sistem nan mambusek dari tanah, nan tumbuah dari bawah. Kaputusan buliah dibandiang. Nan luruih buliah ditenok, nan bungkuak buliah dikadang. Maksudnya; segala keputusan ditentukan oleh sidang kerapatan para penghulu. Keputusan boleh dibanding, dipertanyakan dan diuji kebenarannya.

Bila persoalan timbul pada suatu kaum, kaum itu membawa persoalan kepada Datuak nan Batigo di Limo Kaum. Karena itu dalam kelarasan ini hirarkinya adalah sebagai berikut; kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka mupakaik, nan bana badiri sandirinyo.

LAREH NAN PANJANG

Dipimpin oleh Datuk Bandaro Kayo. Selain itu pula, ada satu lembaga lain yang dipimpin oleh Datuk Badaro Kayo yang berkedudukan di Pariangan Padang Panjang. Tugasnya menjadi juru damai sekiranya terjadi pertikaian antara Datuk Badaro Putiah di Sungai Tarab (Koto Piliang) dengan Datuk Bandaro Kuniang (Bodi Caniago). Dia bukan dari kelarasan Koto Piliang atau Bodi Caniago, tetapi berada antara keduanya. Di dalam pepatah adat disebutkan:
Pisang sikalek-kalek utan
Pisang simbatu nan bagatah
Bodi Caniago inyo bukan
Koto piliang inyo antah

Daerah kawasannya disebut : 8 Koto Di ateh, 7 Koto Di bawah, batasan wilayahnya disebutkan Sajak dari guguak Sikaladi Hilie, sampai ka Bukik Tumasu Mudiak, Salilik Batang Bangkaweh.

8 Koto Di ateh terdiri dari; Guguak, Sikaladi, Pariangan, Pd.Panjang, Koto Baru, Sialahan, Koto Tuo, Batu Taba.

7 Koto Di bawah terdiri dari; Galogandang, Padang Lua, Turawan, Balimbiang, Kinawai, Sawah Laweh, Bukik Tumasu.
Dengan demikian, ada tiga Datuk Bandaro di dalam daerah kerajaan itu.

Kemudian disusul dengan adanya Datuk Bandaro Hitam yang juga punya fungsi sama seperti Datuk Bandaro Putiah, dengan kedudukan di wilayah Minangkabau bagian selatan (Jambu Limpo dllnya).

PENGHULU

Penghulu pada setiap kaum yang ada di nagari-nagari masing-masingnya punya perangkat tersendiri pula dalam mengatur kaumnya. Perangkat itu terdiri dari: Manti, Malin, Dubalang. Mereka berempat disebut pula Urang nan ampek jinih.

Setiap rumah gadang, punya seorang mamak yang mengatur. Mamak yang mengatur rumah gadang tersebut Tungganai, atau mamak rumah. Dia juga bergelar datuk.

Nama Gelar Penghulu.
Nama gelar penghulu yang mula-mula hanya terdiri satu kata; Bandaro. Misalnya. Datuk Bandaro.

Pada lapis kedua, atau sibaran baju, nama datuk menjadi dua kata, untuk memisahkan sibaran yang satu dengan sibaran yang lain; Datuk Bandaro Putih, Datuk Badaro Kuniang, Datuk Bandaro Kayo dan Datuk Bandaro Hitam.

Apabila kemenakan Datuk Bandaro ini sudah semakin banyak, dan memerlukan seorang penghulu untuk mengatur mereka, maka mereka memecah lagi gelaran itu; Datuk Bandaro Lubuak Bonta misalnya, adalah sibaran pada peringkat ke empat dari gelar asalnya. Begitu seterusnya. Semakin panjang gelar Datuk itu, itu pertanda bahwa gelar itu adalah
sibaran dalam tingkat ke sekian.


SISTIM KEKELUARGAAN MATRILINEAL

Sistem matrilineal adalah suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu. Seorang anak laki-laki atau perempuan merupakan klen dari perkauman ibu. Ayah tidak dapat memasukkan anaknya ke dalam klennya sebagaimana yang berlaku dalam sistem patrilineal. Oleh karena itu, waris dan pusaka diturunkan menurut garis ibu pula.

Menurut Muhammad Radjab (1969) sistem matrilineal mempunyai ciricirinya sebagai berikut;
1. Keturunan dihitung menurut garis ibu.
2. Suku terbentuk menurut garis ibu
3. Tiap orang diharuskan kawin dengan orang luar sukunya (exogami)
4. Pembalasan dendam merupakan satu kewajiban bagi seluruh suku
5. Kekuasaan di dalam suku, menurut teori, terletak di tangan “ibu”, tetapi jarang sekali dipergunakan, sedangkan
6. Yang sebenarnya berkuasa adalah saudara laki-lakinya
7. Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami mengunjungi rumah istrinya
8. Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak kepada kemenakannya dan dari saudara laki-laki ibu kepada anak dari saudara perempuan.

Sistem kekerabatan ini tetap dipertahankan masyarakat Minangkabau sampai sekarang. Bahkan selalu disempurnakan sejalan dengan usaha menyempurnakan sistem adatnya. Terutama dalam mekanisme penerapannya di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu peranan seorang penghulu ataupun ninik mamak dalam kaitan bermamak berkemanakan sangatlah penting.

Bahkan peranan penghulu dan ninik mamak itu boleh dikatakan sebagai faktor penentu dan juga sebagai indikator, apakah mekanisme sistem matrilineal itu berjalan dengan semestinya atau tidak.

Jadi keberadaan sistem ini tidak hanya terletak pada kedudukan dan peranan kaum perempuan saja, tetapi punya hubungkait yang sangat kuat dengan institusi ninik mamaknya di dalam sebuah kaum, suku atau klen.
Sebagai sebuah sistem, matrilineal dijalankan berdasarkan kemampuan dan berbagai penafsiran oleh pelakunya; ninik-mamak, kaum perempuan dan anak kemenakan. Akan tetapi sebuah uraian atau perincian yang jelas dari pelaksanaan dari sistem ini, misalnya ketentuan-ketentuan yang pasti dan jelas tentang peranan seorang perempuan dan sanksi hukumnya kalau terjadi pelanggaran, ternyata sampai sekarang belum ada. Artinya tidak dijelaskan secara tegas tentang hukuman jika seorang Minang tidak menjalankan sistem matrilineal tersebut.

Sistem itu hanya diajarkan secara turun temurun kemudian disepakati dan dipatuhi, tidak ada buku rujukan atau kitab undang-undangnya. Namun begitu, sejauh manapun sebuah penafsiran dilakukan atasnya, pada hakekatnya tetap dan tidak beranjak dari fungsi dan peranan perempuan itu sendiri. Hal seperti dapat dianggap sebagai sebuah kekuatan sistem
tersebut yang tetap terjaga sampai sekarang.

Pada dasarnya sistem matrilineal bukanlah untuk mengangkat atau memperkuat peranan perempuan, tetapi sistem itu dikukuhkan untuk menjaga, melindungi harta pusaka suatu kaum dari kepunahan, baik rumah gadang, tanah pusaka dan sawah ladang.

Bahkan dengan adanya hukum faraidh dalam pembagian harta menurut Islam, harta pusaka kaum tetap dilindungi dengan istilah “pusako tinggi”, sedangkan harta yang boleh dibagi dimasukkan sebagai “pusako randah”.

Dalam sistem matrilineal perempuan diposisikan sebagai pengikat, pemelihara dan penyimpan, sebagaimana diungkapkan pepatah adatnya amban puruak atau tempat penyimpanan. Itulah sebabnya dalam penentuan peraturan dan perundang-undangan adat, perempuan tidak diikut sertakan. Perempuan menerima bersih tentang hak dan kewajiban di dalam adat yang telah diputuskan sebelumnya oleh pihak ninik mamak.

Perempuan menerima hak dan kewajibannya tanpa harus melalui sebuah prosedur apalagi bantahan. Hal ini disebabkan hak dan kewajiban perempuan itu begitu dapat menjamin keselamatan hidup mereka dalam kondisi bagaimanapun juga. Semua harta pusaka menjadi milik perempuan, sedangkan laki-laki diberi hak untuk mengatur dan mempertahankannya.
Perempuan tidak perlu berperan aktif seperti ninik mamak. Perempuan Minangkabau yang memahami konstelasi seperti ini tidak memerlukan lagi atau menuntut lagi suatu prosedur lain atas hak-haknya. Mereka tidak memerlukan emansipasi lagi, mereka tidak perlu dengan perjuangan gender, karena sistem matrilineal telah menyediakan apa yang sesungguhnya diperlukan perempuan.

Para ninik-mamak telah membuatkan suatu “aturan main” antara laki-laki dan perempuan dengan hak dan kewajiban yang berimbang antar sesamanya.

Oleh karena itulah institusi ninik-mamak menjadi penting dan bahkan sakral bagi kemenakan dan sangat penting dalam menjaga hak dan kewajiban perempuan. Keadaan seperti ini sudah berlangsung lama, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dengan segala plus minusnya.

Keunggulan dari sistem ini adalah, dia tetap bertahan walau sistem patrilineal juga diperkenalkan oleh Islam sebagai sebuah sistem kekerabatan yang lain pula. Sistim matrilieal tidak hanya jadi sebuah “aturan” saja, tetapi telah menjadi semakin kuat menjadi suatu budaya, way of live, kecenderungan yang paling dalam diri dari setiap orang Minangkabau.

Sampai sekarang, pada setiap individu laki-laki Minang misalnya, kecenderungan mereka menyerahkan harta pusaka, warisan dari hasil pencahariannya sendiri, yang seharusnya dibagi menurut hukum faraidh kepada anak-anaknya, mereka lebih condong untuk menyerahkannya kepada anak perempuannya.

Anak perempuan itu nanti menyerahkan pula kepada anak perempuannya pula. Begitu seterusnya. Sehingga Tsuyoshi Kato dalam disertasinya menyebutkan bahwa sistem matrilineal akan semakin menguat dalam diri orang-orang Minang walaupun mereka telah menetap di kota-kota di luar Minang sekalipun. Sistem matrilineal tampaknya belum akan meluntur sama sekali, walau kondisi-kondisi sosial lainnya sudah banyak yang berubah.

Untuk dapat menjalankan sistem itu dengan baik, maka mereka yang akan menjalankan sistem itu haruslah orang Minangkakabu itu sendiri. Untuk dapat menentukan seseorang itu orang Minangkabau atau tidak, ada beberapa ketentuannya, atau syarat-syarat seseorang dapat dikatakan sebagai orang Minangkabau.

Syarat-syarat seseorang dapat dikatakan orang Minangkabau;
1. Basuku (bamamak bakamanakan)
2. Barumah gadang
3. Basasok bajarami
4. Basawah baladang
5. Bapandan pakuburan
6. Batapian tampek mandi

Seseorang yang tidak memenuhi ketentuan tersebut di dalam berkaum bernagari, dianggap “orang kurang” atau tidak sempurna. Bagi seseorang yang ingin menjadi orang Minang juga dibuka pintunya dengan memenuhi berbagai persyaratan pula. Dalam istilah inggok mancangkam tabang basitumpu. Artinya, orang itu harus masuk ke dalam sebuah kaum atau suku, mengikuti seluruh aturan-aturannya.

Ada empat aspek penting yang diatur dalam sistem matrilienal;

A. PENGATURAN HARTA PUSAKA

Harta pusaka yang dalam terminologi Minangkabau disebut harato jo pusako. Harato adalah sesuatu milik kaum yang tampak dan ujud secara material seperti sawah, ladang, rumah gadang, ternak dan sebagainya.
Pusako adalah sesuatu milik kaum yang diwarisi turun temurun baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Oleh karena itu di Minangkabau dikenal pula dua kata kembar yang artinya sangat jauh berbeda; sako dan pusako.

1. Sako
Sako adalah milik kaum secara turun temurun menurut sistem matrilineal yang tidak berbentuk material, seperti gelar penghulu, kebesaran kaum, tuah dan penghormatan yang diberikan masyarakat kepadanya.
Sako merupakan hak bagi laki-laki di dalam kaumnya. Gelar demikian tidak dapat diberikan kepada perempuan walau dalam keadaan apapun juga. Pengaturan pewarisan gelar itu tertakluk kepada sistem kelarasan yang dianut suku atau kaum itu.
Jika menganut sistim kelarasan Koto Piliang, maka sistem pewarisan sakonya berdasarkan; patah tumbuah. Artinya, gelar berikutnya harus diberikan kepada kemenakan langsung dari si penghulu yang memegang gelar itu. Gelar demikian tidak dapat diwariskan kepada orang lain dengan alasan papun juga.
Jika tidak ada laki-laki yang akan mewarisi, gelar itu digantuang atau dilipek atau disimpan sampai nanti kaum itu mempunyai laki-laki pewaris.
Jika menganut sistem kelarasan Bodi Caniago, maka sistem pewarisan sakonya berdasarkan hilang baganti. Artinya, jika seorang penghulu pemegang gelar kebesaran itu meninggal, dia dapat diwariskan kepada lelaki di dalam kaum berdasarkan kesepakatan bersama anggota kaum itu. Pergantian demikian disebut secara adatnya gadang balega.

Di dalam halnya gelar kehormatan atau gelar kepenghuluan (datuk) dapat diberikan dalam tiga tingkatan:

a. Gelar yang diwariskan dari mamak ke kemenakan. Gelar ini merupakan gelar pusaka kaum sebagaimana yang diterangkan di atas. Gelar ini disebut sebagai gelar yang mengikuti kepada perkauman yang batali darah.

b. Gelar yang diberikan oleh pihak keluarga ayah (bako) kepada anak pisangnya, karena anak pisang tersebut memerlukan gelar itu untuk menaikkan status sosialnya atau untuk keperluan lainnya. Gelar ini hanya gelar panggilan, tetapi tidak mempengaruhi konstelasi dan mekanisme kepenghuluan yang telah ada di dalam kaum. Gelar ini hanya boleh dipakai untuk dirinya sendiri, seumur hidup dan tidak boleh diwariskan kepada yang lain; anak apalagi kemenakan. Bila si
penerima gelar meninggal, gelar itu akan dijemput kembali oleh bako dalam sebuah upacara adat. Gelar ini disebut sebagai gelar yang berdasarkan batali adat.

c. Gelar yang diberikan oleh raja Pagaruyung kepada seseorang yang dianggap telah berjasa menurut ukuran-ukuran tertentu. Gelar ini bukan gelar untuk mengfungsinya sebagai penghulu di dalam kaumnya sendiri, karena gelar penghulu sudah dipakai oleh pengulu kaum itu, tetapi gelaran itu adalah merupakan balasan terhadap jasa-jasanya. Gelaran ini disebut secara adat disebabkan karena batali suto. Gelar ini hanya boleh dipakai seumur hidupnya dan tidak boleh diwariskan. Bila terjadi sesuatu yang luar biasa, yang dapat merusakkan nama raja, kaum, dan nagari, maka gelaran itu dapat dicabut kembali.

2. Pusako
Pusako adalah milik kaum secara turun temurun menurut sistem matrilineal yang berbentuk material, seperti sawah, ladang, rumah gadang dan lainnya.

Pusako dimanfaatkan oleh perempuan di dalam kaumnya.
Hasil sawah, ladang menjadi bekal hidup perempuan dengan anakanaknya.
Rumah gadang menjadi tempat tinggalnya.
Laki-laki berhak mengatur tetapi tidak berhak untuk memiliki.
Karena itu di Minangkabau kata hak milik bukanlah merupakan kata
kembar, tetapi dua kata yang satu sama lain artinya tetapi berada dalam
konteks yang sama.

Hak dan milik.
Laki-laki punya hak terhadap pusako kaum, tetapi dia bukan pemilik pusako kaumnya.

Dalam pengaturan pewarisan pusako, semua harta yang akan diwariskan harus ditentukan dulu kedudukannya.
Kedudukan harta pusaka itu terbagi dalam;

a. Pusako tinggi.
Harta pusaka kaum yang diwariskan secara turun temurun berdasarkan garis ibu. Pusaka tinggi hanya boleh digadaikan bila keadaan sangat mendesak sekali hanya untuk tiga hal saja; pertama, gadih gadang indak balaki, kedua, maik tabujua tangah rumah, ketiga, rumah gadang katirisan.
Selain dari ketiga hal di atas harta pusaka tidak boleh digadaikan apalagi dijual.

b. Pusako randah.
Harta pusaka yang didapat selama perkawinan antara suami dan istri.
Pusaka ini disebut juga harta bawaan, artinya modal dasarnya berasal dari masing-masing kaum. Pusako randah diwariskan kepada anak, istri dan saudara laki-laki berdasarkan hukum faraidh, atau hukum Islam.
Namun dalam berbagai kasus di Minangkabau, umumnya, pusako randah ini juga diserahkan oleh laki-laki pewaris kepada adik perempuannya. Tidak dibaginya menurut hukum faraidh tersebut.

Inilah mungkin yang dimaksudkan Tsuyoshi Kato bahwa sistem matrilineal akan menguat dengan adanya keluarga batih. Karena setiap laki-laki pewaris pusako randah akan selalu menyerahkan harta itu kepada saudara perempuannya. Selanjutanya saudara perempuan itu mewariskan pula kepada anak perempuannya. Begitu seterusnya. Akibatnya, pusako randah pada mulanya, dalam dua atau tiga generasi berikutnya menjadi pusako tinggi pula.

(Bersambung .. PERAN LELAKI DI MINANGKABAU)

Posisi Sentral Perempuan Minangkabau, Bundo kanduang, Pendidik Utama

Renungan kita bersama tentang “Kaum Perempuan” yang di Minangkabau di sebut “Bundo Kanduang” sesungguhnya memiliki posisi yang kuat.

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Mukaddamah Perjalanan Perempuan

1. Perempuan sering disebut dengan panggilan ‘wanita’. Panggilan ini lazim dipakai di negeri kita. Seperti darma wanita, karya wanita, wanita karir, korp wanita, wanita Islam dsb. Kata-kata “wanita” (bhs.Sans), berarti lawan dari jenis laki-laki, juga diartikan perempuan (lihat :KUBI).[1]

2. Ada lagi yang memanggil wanita dengan sebutan ‘perempuan.’ (bhs.kawi,KUBI). Kata “empu” berasal dari Jawa kuno, berarti pemimpin (raja), orang pilihan, ahli, yang pandai, pintar dengan segala sifat keutamaan yang lain. Bila istilah ini yang lebih mendekati kebenaran, saya lebih cen­derung memakai kata perempuan selain wanita. Karena di dalamnya tergambar banyak peran.[2]

3. Di masa jahiliyah berlaku pelecehan gender yang terbukti dengan kelahirannya di sambut kematian.
Keberadaannya pada zaman jahiliyah sangat tidak diterima, ada paham bahwa wanita pembawa aib keluarga. Jabang-jabang bayi itu mesti dibunuh, begitu kesaksian Kitab suci tentang perangai orang-orang jahiliyah.[3]

4. Kondisi ini sama dengan masa Fir’aun, terhadap anak lelaki yang di lahirkan kaum Musa (keluarga ‘Imran) harus dibunuh, yang pada masa sekarang mirip rasilalisme, atau ethnic cleansing.

5. Kitab suci Al Qur’an menyebutkan perempuan dengan sebutan Annisa’ atau Ummahat. Konotasinya adalah ibu. “Ibu” bisa berakronim “Ikutan Bagi Ummat.” Annisa’ adalah tiang bagi suatu negeri [4].

Dalam bagian lain Nabi saw meungkapkan, dunia ini indah berisikan pelbagai perhiasan (mata’un), perhiasan yang paling indah adalah isteri-isteri yang saleh (perempuan atau ibu yang tetap pada perannya dan konsekwen dengan citranya) (Al Hadits).

Begitu penafsiran Islam tentang kedudukan perempuan, yang diyakini seorang Muslim.

6. Sejak hampir dua ribu tahun berlalu, menurut Al Qur’anul Karim, perempuan telah ditetapkan dalam derajat yang sama dengan jenis laki-laki dengan penamaan azwajan atau pasangan hidup (Q.S.16:72, 30:21, 42:11). Dahulu memang penilaian terhadap perempuan sangat rendah, di zaman jahiliyah kisahnya diceritakan, apakah makhluk perempuan tergolong jenis manusia yang punya hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki. Atau hanya sekedar benda yang boleh dipindah-tangankan sewaktu-waktu atau untuk diperjual-belikan sebagai komoditi budak yang menjadi sumber pendapatan bagi pemiliknya. Bahkan disiksa, dihadiahkan atau mungkin dibunuh sesuka pemiliknya.

Kata woman dalam bahasa Inggris berasal dari “womb man”, atau manusia berkantong, sebuah pemahaman Eropa klasik tentang suatu makhluk setengah manusia yang mempunyai kantong dan bertugas menjadi tempat tumbuh calon manusia. Ah “dia” kan hanya womb man atau manusia kantong (“manusia” yang hanya kantong tempat manusia).

7. Dalam kebudayaan Minangkabau sejak lama yang kemudian berkembang menjadi “adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah” menempatkan wanita sebagai ‘orang rumah’ dan ‘pemimpin’ masyarakatnya dengan sebutan “bundo kandung”, menyiratkan kokohnya kedudukan perempuan Minangkabau pada posisi sentral.

Dalam budaya Minangkabau perempuanlah pemilik seluruh kekayaan, rumah, anak, suku bahkan kaumnya.

Namun, laki-laki dalam oposisi-biner perannya adalah sebagai pelindung dan pemelihara harta untuk
‘perempuan’-nya dan ‘anak turunan’-nya.

Maka generasi Minangkabau yang dilahirkan senantiasa bernasab ayahnya (laki-laki) dan bersuku ibunya
(perempuan), suatu persenyawaan budaya yang sangat indah.

Hak asasi perempuan

Hak asasi perempuan dalam rangkuman Hak Asasi Manusia yang diper­juangkan hingga hari ini, sudah
diperlakukan sangat sempurna sejak 15 abad dalam ajaran Islam. Itu berarti delapan abad mendahului pandangan ragu-ragu mengakui perempuan.

Agama Islam melihat perempuan (ibu) sebagai mitra yang setara (partisipatif) bagi jenis laki-laki.

Dalam konteks Islam ini, sesungguhnya tak perlu ada emansipasi bila emansipasi diartikan perjuangan untuk persamaan derajat tugasnya. Yang diperlukan adalah pengamalan sepenuhnya peran perempuan sebagai mitra, yang satu dan lainnya saling terkait, saling memerlukan, dan bukan untuk eksploatasi. Sebagai pemahaman azwaajan, pasangan atau kesetaraan.

Tidak punya arti sesuatu kalau pasangannya tidak ada.
Tidak jelas eksistensi sesuatu kalau tidak ada yang setara di sampingnya.
“Pasangan”, mungkin tidak ada kata yang lebih tepat dari itu.

Di barat, selama ini memang ada gejala kecenderungan penguasaan hak-hak wanita itu, bahkan paling akhir adalah hi­langnya wewenang “ibu” dalam rumah tangga sebagai salah satu unit inti dalam keluarga besar (extended family).

a). Secara moral utuh, perempuan punya hak sebagai IBU, adalah Ikutan Bagi Umat.
Masyarakat yang baik terlahir dari Ibu yang baik.
Kaum Ibu pemelihara tetangga, dan perekat silaturrahim.
Walaupun tidak jarang, kaum Ibu bisa menjadi perusak rumah tangga tetangganya.[5]

b). Penghormatan kepada Ibu menempati urutan kedua sesudah iman kepada Allah.
Bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Ibu, diwasiatkan sejalan untuk seluruh manusia.
Penghormatan kepada Ibu (kedua orang tua), merupakan disiplin hidup yang tak boleh diabaikan.

Disiplin ini tidak terbatas kepada adanya perbedaan dari keyakinan yang di anut. Bahkan, dalam hubungan pergaulan duniawi sangat ditekankan harus dipelihara jalinan yang baik (ihsan).[6]

c). Ibu menjadi pembentuk generasi berdisiplin dan memiliki sikap mensyukuri segala nikmat Allah.

Dari rahim dalam Ibu dilahirkan manusia yang bersih (menurut fithrah, beragama tauhid).

Maka, pembinaan sektor agama merupakan faktor terpenting membantu keberhasilan pendidikan anak yang didasarkan kepada akhlaq Islami.

Di bawah telapak kakinya terbentang jalan kepada keselamatan (Sorga)

Kebahagiaan menanti setiap insan yang berhasil meniti jalan keselamatan yang di ajarkannya dengan baik, penuh kepatuhan dan rasa hormat yang tinggi.[7]

Dari dalam lubuk hatinya yang tulus dan dengan tangannya yang terampil dicetak generasi bertauhid yang berwatak taqwa, selalu khusyuk dalam berkarya (amal) dan kaya dengan rasa malu.

Watak (karakter) yang manusiawi akan menjadi inti masyarakat yang hidup dengan tamaddun (budaya).

Posisi perempuan dalam Al Quran sebagai yang di-wahyyukan kepada Muhammad SAW, Al-Quran telah menempatkan perempuan pada posisi azwajan (pasangan hidup kaum lelaki), mitra sejajar/setara (QS.16:72), berperan menciptakan sakinah (kebahagiaan), mewujudkan rahmah yang tenteram, melalui mawaddah berupa kasih sayang (QS.30:21).

Citra perempuan ini diperankan secara sempurna dengan posisi sentral sebagai IBU (Ikutan Bagi Ummat),
salah satu unit inti dalam keluarga besar (extended family, bundo kanduang di Minangkabau).

Perempuan adalah “tiang negeri” (al Hadist).
Posisi ini adalah penghormatan mulia, “sorga terletak di bawah telapak kaki ibu” (al Hadist).[8]

Tuntutan ekono­mi atau mengumpulkan materi menjadi perhatian utama yang perlu dise­gerakan, sehingga
seorang wanita tidak lagi mampu mengangkat wajahnya jika ia tidak memiliki pekerjaan di luar rumah.

Perempuan sekar­ang mestinya tidak bergelimang dalam dapur, sumur dan kasur. Tapi dia harus keluar dari rotasi ini, dan masuk ke dalam lingkaran kantor, mandor dan kontraktor.[9]. Bila tidak dibarengi dengan pendidikan di rumah tangga, dan pemeranan serius dari hak dan kewajiban antara ayah dan bunda terhadap anak turunannya, maka kondisi ini dapat menyum­bang lahirnya “X Generation”, generasi yang sangat dicemasi masuk kelingkungan Asia dimasa depan.[10]

Pemelihara budaya dan Generasi

Generasi berbudaya memiliki prinsip yang teguh, elastis dan toleran bergaul, lemah lembut bertutur kata, tegas dan keras melawan kejahatan, kokoh menghadapi setiap percabaran budaya dan tegar menghadapi percaturan kehidupan dunia.

Generasi yang siap menghadapi pergolakan dan pertarungan budaya kesejagatan (global), hanyalah yang mampu menghindari teman buruk, sanggup membuat lingkungan sehat serta bijak menata pergaulan baik, penuh kenyamanan, tahu diri, hemat, dan tidak malas. Sesuai pesan Rasulullah SAW;”Jauhilah hidup ber-senang-senang (foya-foya), karena hamba-hamba Allah bukanlah orang
yang hidup bermewah-mewah (malas dan lalai)” (HR.Ahmad).

Generasi yang memiliki kemampuan tinggi menghadapi setiap perubahan dalam upaya mewujudkan kebaikan tanpa harus mengabaikan nilai-nilai moral dan tatanan pergaulan. Maka, kedua orang tua wajib melakukan pengawasan melekat terhadap anak-anaknya sepanjang masa. Terutama terhadap tiga prilaku tercela (buruk), yaitu dusta (bohong), mencuri dan mencela (caci maki). Sesuai sabda Rasulullah SAW; “Jauhilah dusta, karena dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka” (Hadist Shahih).

Perempuan Pendidik Utama Bangsa

Peran Perempuan sebagai Ibu adalah inti di tengah rumah tangga dan masyarakat (negara). Ibu merupakan guru pertama dalam perkataan, pergaulan dan penularan tauladan cinta kasih terhadap anak-anaknya.

Anak adalah amanah Allah, yang tumbuh melalui belajar dari lingkungannya. Melalui pendidikan keteladanan. Teladan yang baik adalah landasan paling fundamental bagi pembentukan watak generasi.[11]

Dalam perkembangan masa yang mengikuti gerak globalisasi terjadi perubahan cuaca budaya. Perubahan yang seringkali melahirkan ketimpangan-ketimpangan. Bahkan kepincangan yang diperbesar oleh tidak adanya keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan kesempatan serta terdapatnya perbedaan kesempatan yang sangat mencolok (fasilitas, pendidikan, lapangan kerja, hiburan, penyiaran mass media,) antara kota dan kampung. Akibat nyatanya adalah mobilitas terpaksa
yang pada akhirnya sangat mengganggu pertumbuhan masyarakat (social growth).

Perpindahan penduduk secara besar-besaran ke kota sebenarnya merupakan penyakit menular di tengah-tengah kemajuan negeri yang tengah berkembang. Dusun-dusun mulai ditinggalkan, kota-kota menjadi sempit untuk tempat tinggal pendatang baru. Kehidupan yang keras menyebabkan orang terpaksa menjual diri. Dasar-dasar kehidupan menjadi rapuh, akhlak karimahpun hilang.[12]

Materi dan uang sudah menjadi buruan. Kehidupan terancam bahaya, karena kesinambungannya berubah oleh meluasnya keluarga nomaden modern. Beban resikonya tidak mudah diperhitungkan lagi. Kerusa­kan yang sulit menghindarinya adalah hilangnya jati diri. Menta­litas mengarah pada materialistik, permisivistik, bahkan hedonis­tik. Biaya untuk perbaikannya niscaya lebih besar dari biaya yang telah dikeluarkan untuk pertumbuhan ekonomi.

Perempuan Minangkabau Profil Perempuan Mandiri

Dalam keadaan seperti itu, kaum perempuan harus memaksimalkan peran keperempuanannya, sebagai ibu di rumahtangganya dan pendidik di tengah bangsanya. Peran dan citra perempuan mandiri terlihat jika pembedaan jenis kelamin berlaku secara jelas dan pasti. Perbedaan kewajiban dan hak serta kedudukan itu, memastikan berlakunya dual-sex.[13]

“Pendidikan formal yang dapat membuat wanita sejajar dengan laki?laki berpeluang menjadikan wanita
kehilangan jati dirinya sebagai wanita. Secara tidak sadar wanita yang terpelajar itu menjadi lebih maskulin daripada laki-laki. Ujung dari proses itu adalah ancaman kehidupan rumah tangganya”, kata Hani’ah.

Selanjutnya, “Sifat feminim yang merupakan sumber kasih sayang, kelembutan, keindahan, dan sumber
cahaya ilahi mempunyai potensi untuk menyerap dan mengubah kekuatan kasar menjadi sensitivitas, rasionalitas menjadi intuisi, dan dorongan seksual menjadi spir­itualitas sehingga memiliki daya tahan terhadap kesakitan, pen­deritaan dan kegagalan.”[14]

Sebenarnya tidak hanya ajaran Agama Islam yang mengungkapkan secara jelas peran dan citra perempuan itu.

Para penulis sastera juga mengungkapkan peran perempuan Melayu (Timur) dengan pendir­ian yang kokoh, seperti terungkapkan dalam Syair Siti Zubaidah Perang China ; “Daripada masuk agama itu, baiklah mati supaya tentu, menyembah berhala bertuhankan batu, kafir laknat agama tak tentu,”[15]

Perempuan Melayu dengan sifat-sifat mulia diantaranya lembut hatinya, penyabar, penyayang kepada sesama, keras dalam mempertahankan harga diri, tegas, teguh dan kuat iman dalam melaksanakan suruhan Allah, pendamai, suka memaafkan dan mampu menjadi pemimpin masyarakatnya.

Wanita Melayu juga memper­gunakan akal di dalam berbuat dan bertindak, bahkan terkadang terlalu keras dan berani, seperti ditunjukkan dalam syair Siti Zubaidah itu, kata H. Ahmad Samin Siregar. [16]

Kepemilikan Perempuan menurut Islam

1). Menjadi pemilik dari apa yang dimiliki pasangannya.
2). Apa yang sudah diberikan kepadanya secara ikhlas (nihlah) tidak boleh dirampas kembali.
3). Perempuan mempunyai hak perlindungan dari pasangannya.
4). Perempuan mempunyai kewajiban menjaga kepemilikan dibelakang pasangannya.
Dan semuanya terlihat dalam hukum perkawinan menurut Islam.

Kepemilikan tanah ulayat

Sebagai pusako tinggi, sesuai hukum adat dikuasai oleh lini materilineal, hukum garis keibuan. Kadang ditemui kerancuan dalam pelaksanaannya. Bahwa gender lelaki dari garis ibu menjadi penguasa dari harta pusaka, baik dalam penyerahan kepada pihak lain, menjualnya, menggadainya, tanpa mengindahkan hak-hak kaum perempuan.

Kenapa ini terjadi. Jawabannya terserah kepada kepatuhan orang beradat. Dari pandangan agama Islam, bisa disimpulkan bahwa yang tidak mau mengindahkan hak-hak perempuan, sebenarnya adalah mereka yang tidak beriman atau lebih halus lagi, kurang mengamalkan ajaran agama Islam.

Sebenar hakikat dari adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah itu, adalah aplikatif, bukan simbolis.

Catatan-Catatan

[1] Pada masa dahulu banyak penulisan cerita tentang wanita yang dianggap hanya seje­nis komoditi penggembira, penghibur, teman bercanda.

[2] Antara lain pemimpin, pandai, pintar, dan memiliki segala sifat keutamaan rahim, penuh kasih sayang, juga dengan jelas mengungkapkan citra perempuan sebagai makhluk pili­han, pendamping jenis kelamin lain (laki?laki). Lak-laki yang kebanyakannya, dalam pandangan sebagian wanita, memiliki sifat pantang kerendahan, pantang kalongkahan, superiority complex, tak mau disalahkan dan tak mau dikalahkan, tidak sedikit yang akhirnya bisa bertekuk lutut dihadapan perempuan.

[3] (QS.QS.16,an-Nahl :57-60).

[4] Bila Annisa’ -nya baik, baiklah negeri itu, dan bila Annisa’ -nya rusak, celakalah negeri itu (Al Hadits). Sorga di bawah telapak kaki ibu (Umma­hat) sesuai ajaran Islam. Kaidah Al-Qurani menyebutkan, Nisa’-nisa’ kamu adalah perladangan (persemaian) untukmu, kamupun (para lelaki) menjadi benih bagi Nisa’-nisa’ kamu. Kamu dapat mendatan­gi ladang?ladangmu darimana (kapan saja). Karena itu kamu berkew­ajiban memelihara eksistensi atau identitas (Qaddimu li anfusikum) dengan senantiasa bertaqwa
kepada Allah (Q.S.2:23).

[5] “Ibu (an-Nisak) adalah tiang negeri” (al Hadist). Jika kaum Ibu dalam suatu negeri (bangsa) berkelakuan baik (shalihah), niscaya akan sejahtera negeri itu. Sebaliknya, bila kaum Ibu disuatu negeri berperangai buruk (fasad) akibatnya negeri itu akan binasa seluruhnya.
Banyak sekali hadist Nabi menyatakan pentingnya pemeliharaan hubungan bertetangga, serta menanamkan sikap peduli dengan berprilaku solidaritas tinggi dalam kehidupan keliling.
Diantaranya Rasulullah SAW bersabda; “Demi Allah, dia tidak beriman”, “Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”. (Hadist diriwayatkan Asy-Syaikhan).
Dalam Hadist lainnya disebutkan ;“Tidaklah beriman kepadaku orang yang perutnya kenyang, sedangkan tetangganya (dibiarkan) kelaparan disampingnya, sementara dia juga mengetahui (keadaan)nya” (HR.Ath-Thabarani dan Al Bazzar).
Bimbingan Risalah ini menekankan pentingnya pendidikan akhlaq Islam Satu bangsa akan tegak kokoh dengan akhlak (moralitas budaya dan ajaran agama yang benar).
Tata krama pergaulan dimulai dari penghormatan di rumah tangga dan dikembangkan kelingkungan tetangga dan ketengah pergaulan warga masyarakat (bangsa). Sesuai bimbingan Al Quran (QS.41, Fush-shilat, ayat 34).

[6] Tuntunan Al Quran menjelaskan; (QS. 31, Luqman; ayat 14-15).

[7] Rasulullah SAW menyebutkan bahwa; “Sorga terletak dibawah telapak kaki Ibu”(al Hadist). Sahabat Abu Hurairah RA., meriwayatkan ada seseorang bertanya kepada Rasulullah;
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku pergauli dengan cara yang baik?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. (sampai tiga kali), baru terakhir Beliau menjawab, “Bapakmu”. (HR.Asy-Syaikhan).

Dalam hadist lainnya ditemui pula; Shahabat Abdullah Ibn ‘Umar menceritakan, “Berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya”. (HR.Asy-Syaikhan).

Disiplin tumbuh melalui pendidikan akhlak, teladan paling ideal dimata anak (generasi), Menanamkan ajaran agama yang benar (syari’at). Jangan berbuat kedurhakaan. Memperkenalkan hari akhirat, sebagai tempat kembali terakhir. Dalam rangka berbakti kepada dua orang tua (birrul walidaini) diajarkan supaya jangan berkata keras. Harus bergaul dengan lemah lembut, dan menyimak perintah kedua orang tua dengan cermat. Jangan bermuka masam (cemberut) kepada keduanya, tidak memotong perkataan keduanya, serta mengajarkan dialog (mujadalah) dengan cara baik (ihsan). Bimbingan Kitabullah menyebutkan dengan sangat jelas sekali. (QS.17, al-Israk; ayat 234-24). Dalam wahyu lainnya, (QS.46, al Ahqaaf; ayat 15-16). Generasi yang menolak kebenaran (al-haq) dari Allah, akan berkembang menjadi generasi permissif (berbuat sekehendak hati) dan menjadi mangsa dari perilaku anarkisme dan hedonisme sepanjang masa. Inilah generasi yang lemah (loss generation), yang tercerabut dari
akar budaya dan agama. Allah SWT memperingatkan (QS: 46, al-Ahqaaf, ayat 17-18).

Maka birrul walidaini (berbakti kepada dua orang tua), merupakan pelajaran dasar satu generasi, yang harus di turunkan turun temurun. Nabi Muhammad SAW, bersabda; “Berbaktilah kepada bapak-bapak (orang tua) kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbakti pula kepada kalian. Dan tahanlah diri kalian (dari hal-hal yang hina), niscaya istri-istri kalian juga akan menahan diri (dari hal-hal yang hina)”.(HR. Ath-Thabarani).

[8] Walaupun tidak jarang terjadi, kalangan liberal seringkali merendahkan atau menolak peran perempuan sebagai ibu di dalam rumah tangga. Melahirkan dan menga­suh anak dilihat sebagai suatu peran yang out of date. Bila seseorang memerlukan anak bisa ditempuh jalan pintas melalui adop­si atau mungkin satu ketika dengan teknologi kloning (?).

[9] Akibat nyata adalah anak-anak dirawat baby-sitter, paling-paling dititipkan di TPA (tempat penitipan anak), atau dikurung di rumahnya sen­diri sampai orang tua kembali ke rumah.

[10] Satu generasi yang bertumbuh tanpa aturan, jauh dari moralitas, berkecendrungan meninggalkan tamaddun budayanya. Tercermin pada perbuatan suka bolos sekolah, memadat, menenggak minuman keras, pergaulan bebas, morfinis, dan perbuatan tak berakhlak. “X”, mereka hilang dari akar budaya masyarakat yang melahirkannya. Disinilah pentingnya peran ibu. Semestinya para perempuan (ibu) yang memelihara perannya sebagai ibu berhak mendapatkan “medali” sebagai pengatur rumahtangga dan ibu pendidik bangsa. Inilah darma ibu yang sesungguhnya, yang sebenar-benar darma.

[11] Anak-anaknya (generasi pelanjutnya) senantiasa akan berkembang menyerupai ibu dan bapaknya. Peran pendidikan amat menentukan, karena pendidikan adalah teladan paling ideal dimata anak (lihat Nashih ‘Ulwan, dalam Tarbiyatul Aulaad). Jika ibu menegakkan hukum-hukum Allah, begitu pula generasi yang di lahirkannya. Urgensi pelatihan ibadah untuk anak sedari kecil dengan membiasakan mengerjakan shalat dan ibadah (puasa, shadaqah, mendatangi masjid, menghafal al-Quran) akan menjadi
alat bantu utama melatih disiplin anak dari dini. Sabda Rasulullah SAW. membimbingkan; “Suruhlah anak-anak kamu mengerjakan shalat, selagi mereka berumur tujuh tahun, dan pukulllah mereka (dengan tidak mencederai) karena meninggalkan shalat ini, sedang mereka telah berumur sepuluh tahun, dan
pisahkanlah tempat tidur mereka” (HR.Abu Daud dan Al Hakim).

[12] Peran orangtua menjadi tumpul karena ketegangan?ketegangan antara ayah dan ibu yang umumnya timbul karena tekanan ekonomi dan desakan materi. Ujungnya, anak?anak terlantar dan keluarga menjadi berantakan. Efisiensi sebagai kaidah produktifitas mulai diterapkan secara salah dalam kehidupan keluarga modern. Orangtua lanjut usia (Lansia) mulai tak dihiraukan, dan tempat mereka adalah Panti Jompo. Suatu tempat yang tak memungkinkan para lansia mewariskan nilai?nilai luhur pada anak dan cucunya.

[13] Gejala yang mulai meruyak dalam kehidupan modern sekarang, atau seti­daknya dalam masyarakat liberal, adalah keinginan diterap­kannya uni-sex (terlihat pada pakaian, asessories, pergaulan, kesempatan, pekerjaan dan jamahan keseharian sosial budaya).

[14] (Hani’ah, “Wanita Karir dalam Karya Sastra: Ada Apa Dengan Mereka?”, makalah Munas IV dan Pertemuan Ilmiah Nasional VIII, HISKI 12?14 Desember 1997 di Padang).

[15] (Syair Siti Zubaidah Perang China, Edisi Abdul Muthalib Abdul Ghani, hal. 230).

[16] Ibid. Pendapatnya diketengahkan pada Munas PIN VIII, HISKI 12-14 Desember 1997 di Padang.

Tigo Tungku Sajarangan sebagai Sistim Kepemimpinan di Minangkabau

Tigo Tungku Sajarangan sebagai Sistim

Kepemimpinan di Minangkabau

Oleh Buya H.Mas’oed Abidin

1. Mukaddimah

Bekal utama dalam hidup, adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT dan hidup beradat.
Mesti diajarkan adat dan syarak.
Nilai-nilai tamadun budaya Minangkabau – ABS-SBK — terikat kuat dengan penghayatan Islam.

Sikap jiwa (mental attitude) dari masyarakat Minangkabau, masih tertuntun oleh akhlak, sesuai bimbingan ajaran Islam, dalam adagium “Adat basandi Syara’, syara’ basandi Kitabullah “,
dan “syara’ mamutuih, Adat memakai !”.
Nilai-nilai budaya ini, menjadi pegangan hidup yang positif, mendorong dan merangsang, force of motivation, penggerak mendinamiseer satu kegiatan masyarakat bernagari

Sifat dan kebiasaan-kebiasaan untuk mengembangkan kegiatan ekonomis seperti menghindarkan pemborosan, kebiasaan menyimpan, hidup berhemat, memelihara modal supaya jangan hancur, melihat jauh kedepan.

Sikap jiwa yang lahir dari pemahaman syarak dalam budaya Minangkabau, kekuatan besar dari kekayaan budaya masyarakat yang tidak ternilai besarnya.

2. Adat Minangkabau Unik

Di tengah keunikan adat budaya Minangkabau itu, kita menghadapi ada beberapa kendala — dalam implementasi penerapan nilai-nilai budaya adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK), dan syarak mangato adaik mamakaikan, di antaranya ;

a). Generasi mudaterabaikan dalam pewarisan nilai budaya Minangkabau,
b). hubungan kekerabatan keluarga mulai menipis,
c). peran ninik mamak kini, sebatas seremonial,
d). peran substantif dari ulama mulai kehilangan wibawa,

3. Hubungan Kekerabatan Harmonis.

Keunikan dengan Nilai-nilai ideal kehidupan ini, mesti dihidupkan terus dalam kehidupan bernagari.

a. rasa memiliki bersama,
b. kesadaran terhadap hak milik,
c. kesadaran terhadap suatu ikatan,
d. kesediaan untuk pengabdian,
e. menjaga hubungan positif pernikahan.

Pembangunan Nagari harus memakai pola keseimbangan dan pemerataan.
Nilai kepemimpinan di dalam Nagari, adalah keteladanan .

Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap; berakhlak, berpegang pada nilai-nilai iman dan taqwa, memiliki daya kreatif dan innovatif, menjalin kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.
Memahami nilai nilai budaya luhur, punya makna jati diri yang jelas, menjaga martabat, patuh dan taat beragama, menjadi agen perubahan, dengan motivasi yang bergantung kepada Allah, mengamalkan nilai nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, dinamis dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik material, tanpa harus mengorbankan nilai nilai kemanusiaan.

4. Sedang Terjadi Perubahan.

Pergeseran budaya itu terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi, aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Kelemahan tumbuh disebabkan pembinaan akhlak anak nagari sering tercecerkan, pendidikan surau hampir tiada lagi, atau peran pendidikan surau di rumah tangga juga melemah, dan peran pendidikan akhlak berdasarkan prinsip budaya ABS-SBK menjadi kabur.

Janji Allah SWT sangat tepat, ” apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi “,

5. Masyarakat Mandiri Berprestasi

Pengendali kemajuan sebenarnya adalah agama dan budaya, yakni budaya tamaddun (ABS-SBK) yang telah berlaku turun temurun dalam masyarakat Minangkabau..

Tercerabutnya agama dari diri masyarakat Sumatera Barat –Minangkabau –, berakibat besar kepada perubahan prilaku dan tatanan masyarakatnya, karena “adatnya bersendi syarak, syaraknya bersendi kitabullah” dan “syarak mangato (=memerintahkan) maka adat mamakai (=melaksanakan)” – sungguhpun dalam pengamatan sehari-hari sudah sulit ditemui.

Akibatnya, ditemui maraknya penyakit masyarakat (pekat, tuak, arak, judi, dadah, pergaulan bebas di kalangan kaula muda, narkoba, tindakan kriminal dan anarkis), yang merusak tatanan keamanan, maka akibat yang dirasakan adalah prinsip ABS-SBK menjadi kabur.

Peranan suluah bendang di Minangkabau atau yang disebut Tungku Tigo Sajarangan sejak dulu adalah membawa umat dengan informasi dan aktifitas — kepada keadaan yang lebih baik, kokoh aqidah, qanaah, istiqamah, berilmu pengetahuan, mencintai nagari, matang dengan visi dan misi bernagari, kebersamaan dan gotong royong, berkualitas dengan iman dan hikmah, amar maktruf dan nahyun ‘anil munkar, research oriented, professional, berteraskan iman dan ilmu pengetahuan, mengedepankan prinsip musyawarah dan mufakat.

Jiko mangaji dari alif, Jiko naiak dari janjang, Jikok turun dari tango, Jiko babilang dari aso, artinya hidup berperaturan.

6. Suku Sako Pusako.

Tiga Unsur Sistim Banagari di Minangkabau didukung oleh Suku, Sako dan Pusako.
Ketiganya berjalin berkulindan di dalam satu Nagari.
Ketiga unsur ini tidak dapat dipisahkan.

KONSEP PEMERINTAHAN HARUS MAMPU MENAUNGI MASYARAKATNYA.
Pemerintahan Nagari dibingkai undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Implementasinya, Perda tentang Pemerintahan Nagari.

Hubungan berpemerintahan di tingkat Nagari, hubungan harus berdasarkan adat. Adat harus benar-benar dikuasai oleh semua aparat pemerintahan Nagari. Adat tidak semata sebagai kekayaan sains (ilmu pengetahuan) ke-Minangkabau-an. Adat harus dapat dilaksanakan dalam kehidupan dan hubungan bermasyarakat.
Ka lauik riak ma hampeh, ka karang rancam ma aruih, ka pantai ombak ma mamacah.
Kini memang terasa, Rakyat di nagari-nagari mulai mengalami pergeseran pola hidup di bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya, mulai menjadi sasaran dari budaya westernisasi. Hal ini terjadi, ketiadaan bekal dalam pemahaman adat dan syarak.

7. Tungku Tigo Sajarangan

Menata pemerintahan nagari, dengan perinsip ABS-SBK, dituntut adanya peribadi yang beriman dan bertaqwa, berilmu pengetahuan, berjiwa wiraswasta, menguasai manajemen, beradat dan beragama, menguasai teknologi terapan, berilmu pengetahuan, “hidup modern dan maju dengan keimanan yang kokoh”.

Mereka adalah urang nan 4 Jinih (Ninik Mamak, Alim Ulama, Cadiek Pandai, Para Pemuda dan Bundo Kanduang), yang semuanya merupakan tali tigo sapilin, didalam susunan bernagari dan menjadi tungku tigo sajarangan sebagai salah satu struktur masyarakat adat di Minangkabau.

Di dalam menata pemerintahan dan kehidupan beradat di tengan Masyarakat Hukum Adat Minangkabau saat ini, memang tantangannya sangat banyak, uluran tangan yang di dapat hanya sedikit.

Makanya, mesti dijaga hubungan kekerabatan di Nagari berlangsung harmonis dan baik.
Ada perasaan malu, bila tidak membina hubungan dengan baik.
Seseorang akan dihargai, apabila ia berhasil menyatu dengan kaumnya.
Hubungan kekerabatan Minangkabau kompleks, akan selalu terjaga dengan,
”nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang”.

Nilai-nilai ideal kehidupan bernagari karena ;
adanya rasa memiliki bersama, kesadaran terhadap hak milik, kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku, kesediaan untuk pengabdian, terjaga hubungan positif pernikahan (semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan ).

Ada kiat adat untuk meraih keberhasilan ;
Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju,
dek ameh sagalo kameh, dek padi mangko jadi.
Artinya perlu kesepakatan dan kemakmuran di tengah masyarakatnya.

Dalam melihat tatanan dan tataran masyarakat ini dapat tampak Bentuk Budaya sebenarnya, di antaranya pada tata karma bahasa (kato nan ampek), yang dikenal dengan ‘kato pusako’ dan tatanan (struktur masyarakat), pakaian, makanan, seni (tari, lagu, ukiran), peralatan, dan ritual (seremonial dan situs-situs).

8. Peran Tungku Tigo Sajarangan.

Bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat nagari, pasti akan menemui di nagari satu iklim (mental climate) yang subur bila pandai menggunakan dengan tepat .
Ada kekuatan agama, tamadun, budaya, adat istiadat, dan budi bahasa yang baik.

Lah masak padi rang Singkarak, masaknyo ba tangkai-tangkai, sa tangkai jarang nan mudo. Kabek sa balik buhue sintak, payahlah urang nak ma ungkai, tibo nan punyo rarak sajo.

Diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku dalam adaik salingka nagari.

Alah bakarih samparono, bingkisan rajo Majopaik,
Tuah ba sabab ba karano, pandai ba tenggang di nan rumik.

Satu realita objektif adalah ;
Siapa yang paling banyak menyelesaikan persoalan masyarakat ,
pasti akan berpeluang banyak mengatur masyarakat.

Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para pendidik masyarakat yang disebut Tungku Tigo Sajarangan dan Tali Tigo Sapilin, seperti ; pemurnian wawasan fikir, mempertajam kekuatan zikir, penajaman visi adat banagari, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang, pendalaman spiritual religi.

9. Mengedepankan Persaudaraan

Dalam gerakan “membangun nagari“, setiap fungsionaris di nagari akan menjadi pengikat anak nagari, dalam membentuk masyarakat yang lebih kuat, sehingga merupakan kekuatan sosial yang efektif, dengan kekuatan persaudaraan.

Tukang nan indak mambuang kayu,
Nan luruih ka tangkai sapu,
Nan bengkok ka singka bajak,
nan ketek ka pasak suntiang,
sa tangkok ka papan tuai ( ka ani-ani).

Pemasyarakatan budaya adat dan syarak sangat Islami,
sesuai prinsip “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah“.
Maka anak nagari mesti dibina mencapai derajat pribadi taqwa,
dalam hubungan hidup bermasyarakat sesuai tuntunan syarak (Agama Islam).

Mamutieh cando riak danau, tampak nan dari muko-muko,
Batahun-tahun dalam lunau, namun nan intan bakilek juo.

Menguatkan solidaritas beralaspijak kepada iman dan adat istiadat luhur,
“nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”.

Intensif menjauhi kehidupan materialistis,
“dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo,
dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.
Hendaknya bida;l ini jangan bertemu di dalam kehidupan bernagari di Minangkabau.

10. Mengakarkan Nilai Islam kedalam

Budaya Minangkabau

Dalam Masyarakat Adat Minangkabau selalu diingatkan supaya,
Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah,
padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak bulieh barubah.

Generasi Minangkabau mesti memiliki ilmu dengan akidah tauhid yang jelas.
Generasi Minangkabau mestinya dinamik yang tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti.

“Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,
Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo basi.

Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi,
Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiak-kan budi.

11. Kualitas generasi Muda Minangkabau

Mengutamakan manhaj-ukhuwah ;
“bulek aie dek pambuluah bulek kato ka mupakaik.”

Mengamalkan budaya amal jama’i ;
“kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua,
tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan.

Manyuruah babuek baik, Malarang babuek jahek,
Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari.
Managua manyapo, Tadorong mahelo, talompek manyentak,
Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana.
Tak ado karuah nan tak janieh.
Tak ado kusuik nan tak salasai.

Generasi muda mesti meniru kehidupan lebah; kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, baik hasil usahanya, dapat dinikmati oleh lingkungannya.

12. Sembilan Watak Kepemimpinan

Rasulullah SAW

Filosofi Hidup Nagari-nagari di Minangkabau bersumber dari alam.
Alam takambang jadi guru dan diberi ruh oleh Islam.
Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat.


Hubungan ruhaniyah, lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.
Keutuhan budaya bertumpu kepada masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada, terutama dengan meniru dan menerapkan watak kepemimpinan Rasulullah SAW. antara lain,
1. Fathanah (ilmiah),
2. Amanah (jujur),
3. Amaliah (teguh dan istiqamah/transparan),
4. Shiddiq (lurus dan dipercaya),
5. Shaleh (teguh ibadah dan berakhlak mulia),
6. Setia (ukhuwwah mendalam),
7. Tabligh (dialogis),
8. Tauhid (memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah dan hari akhirat),
9. Thaat (disiplin).

Prinsip-prinsip Kepemimpinan Rasulullah tersebut diatas, sangat diperlukan di dalam mengimplementasikan ABS-SBK di nagari-nagari dan harus masuk ke dalam seluruh kehidupan secara komprehensif, kebudayaan Minangkabau akan berlaku universal, yang dijabarkan dengan kebersamaan, gotong royong, sahino samalu, kekerabatan, dan penghormatan sesama, atau barek sapikue ringan sajinijing, yang menjadi kekuatan di dalam incorporated social responsibility.

Kekusutan dalam masyarakat Minangkabau, diatasi dengan komunikasi.
Persoalan perilaku harus mendapatkan porsi yang besar.
Diperlukan sosialisasi nilai-nilai budaya Minangkabau,
membentuk kembali struktur masyarakat adat di Nagari-nagari.

Menata pemerintahan nagari, dengan perinsip ABS-SBK, dituntut adanya peribadi yang beriman dan bertaqwa, berilmu pengetahuan, berjiwa wiraswasta, menguasai manajemen, beradat dan beragama, menguasai teknologi terapan, berilmu pengetahuan, “hidup modern dan maju dengan keimanan yang kokoh”.


Konsep pemerintahan harus mampu menaungi masyarakatnya.

Diperlukan penata yang memiliki sikap perilaku Madani, yang FAST (Fathanah, Amanah, Shiddiq dan Tabligh-dialogis) itu.

Rakyat di nagari-nagari kini, memang mulai mengalami pergeseran pola hidup di bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya, mulai menjadi sasaran dari budaya westernisasi.

Hal ini terjadi, ketiadaan bekal dalam pemahaman adat dan syarak. Lebih kentara karena pengamalan agama Islam mulai melemah, maka kehidupan beradat sopan santun pun menjadi terabaikan.


Pemerintahan Nagari dibingkai undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Implementasinya di nagari-nagari sebenarnya diperkuat oleh Perda tentang Pemerintahan Nagari. Maka di nagari-nagari juga dapat dibuatkan Peraturan Nagari (Perna), sehingga adat dan syarak di nagari terlaksana dengan baik.


Hubungan berpemerintahan di tingkat Nagari, adalah hubungan pemerintahan dan masyarakat yang timbal balik, dan semestinya berbasis kepada adat istiadat setempat, atau adanya perinsip “adat selingkar nagari, pusako selingkar kaum”.


Adat harus benar-benar dikuasai oleh semua aparat pemerintahan Nagari.Adat tidak semata sebagai kekayaan sains (ilmu pengetahuan) ke-Minangkabau-an.


Adat harus dapat dilaksanakan dalam kehidupan dan hubungan bermasyarakat.

Ka lauik riak ma hampeh, ka  karang  rancam ma aruih, ka pantai ombak ma mamacah.

Jiko ma ngauik kameh-kameh, jiko mancancang putuih-putuih, Alah salasai mangkonyo sudah.


Kekekrabatan dijaga oleh ninik mamak dan penghulu yang dihimpun dalam KAN, dengan satu sistem pandangan banagari, cinta kepada Nagari dan kegiatan dalam membangun yang dipersamakan.

13. Harapan untuk Generasi Minangkabau

Generasi Minangkabau harus dibina memiliki budaya yang kuat, dinamik, relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi, mengamalkan nilai-nilai agama Islam.

Konsep Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah kristalisasi dari ajaran hukum alam yang bersumber dari Islam. Generasi penerus harus taat hukum.

Beberapa langkah dapat dilakukan ;
1. memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga,
2. memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ,
3. fungsionalisasi peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif,
4. memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung jawab patah tumbuh hilang berganti .
5. menanamkan aqidah shahih (tauhid),
6. istiqamah pada agama yang dianut,
7. menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.
8. menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah.
9. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam .
10. melazimkan musyawarah dengan disiplin, teguh politik, kukuh ekonomi.
11. bijak memilih prioritas , sesuai puncak budaya Islam yang benar.

14. Khulasah

Pemberdayaan kekuatan dakwah ; dengan manajemen pendidikan berbasis umat yang lebih accountable, baik dari sisi pertanggungan jawab keuangan maupun organisasi, sehingga menjadi viable (dapat hidup terus, berjalan, bergairah, aktif dan Giat), dan juga durable (dapat tahan lama) sesuai perubahan dan tantangan zaman.

Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya menjadi landasan dasar pengkaderan di nagari-nagari di Minangkabau dengan kewajiban,

a). Memelihara dan menjaga generasi pengganti yang lebih sempurna,
kaluak paku kacang balimbiang, sayak timpuruang lengang-lenggangkan,
anak di pangku kamanakan di bimbiang, urang kampuang di patenggangkan.

b). Mengupayakan berlangsungnya timbang terima kepemimpinan dalam kaum dan nagari secara alamiah,
Ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih,
Agak-agak nan ka pai, ingek-ingek nan ka tingga,
Patah tumbuah hilang ba ganti.

c). Teguh dan setia melaksanakan pembinaan dan mengajarkan adat istiadat kepada anak kemenakan dan menjaga lingkungan dengan baik.
‘ Handak kayo badikik-dikik, Handak mulie tapek i janji,
Handak tuah ba tabue urai, Handak namo tinggakan jaso,
Handak luruih rantangkan tali, Handak pandai rajin baraja,
Handak bulieh kuek mancari,

Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu,
Nan gurun buek ka parak, Nan munggu ka pandam pakuburan,
Nan rawang ranangan itiek, Nan padang kubangan kabau,
Nan bancah jadikan sawah, Nan gauang ka tabek ikan,

Artinya ada kemauan kuat melakukan perubahan, dan memanfaatkan alam sesuai dengan tata ruang yang jelas, karena segala tindakan dan perbuatan akan disaksikan oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman.

Moga ini dapat berguna di dalam menyongsong KKM2010 yang hendaak digelar pada Agustus 2010 yang akan datang.

Hendaknya pula pada Generasi muda di UI mampu menjadi pendorong untuk menjadikan Minangkabau maju dengan berbasis adat budayanya yang unik dan mampu duduk sama rendah serta tegak sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di persada bumi ini.

Insyaallah.

Wassalam