Diarsipkan di bawah: Bahasa Minang, Buya Masoed Abidin, Komentar, Lapau, Masyarakat Adat, Minangkabau, Pendidikan, Suluah Bendang di Nagari, Sumatera Barat
CILOTEH LAPAU ANTARA DIALEKTIKA DAN DINAMIKA MINANGKABAU
Oleh : H.Mas’oed Abidin
WILAYAH MINANGKABAU
Masyarakat Minangkabau adalah salah satu suku bangsa di antara puluhan suku bangsa yang membentuk bangsa Indonesia. Masyarakat Minangkabau hidup di sekitar wilayah Sumatera Bagian Tengah, atau yang dalam Tambo Minangkabau disebutkan wilayah Minangkabau itu meliputi kawasan, “… dari Sikilang Aia Bangih sampai ka Taratak Aia Itam. Dari Sipisok-pisok pisau anyuik sampai ka Sialang Balantak basi. Dari Riak nan Badabua sampai ke Durian ditakiak (ditakuak)
Rajo”, (artinya, dari Sikilang Air Bangis sampai ke Taratak Air Hitam, dari Sipisok-pisok Pisau Hanyut sampai ke Sialang Belantak Besi, dari Riak yang berdebur sampai ke Durian Ditekuk Raja).
Orang Minangkabau menamakan tumpah darahnya dengan Alam Minangkabau, yang secara geografis wilayahnya berpusat di selingkar Gunung Merapi, di Sumatera Barat. Wilayah itu meluas menjadi Luhak dan Rantau. Wilayah Luhak terletak di nagari-nagari yang berada di sekitar Gunung Merapi, sedangkan wilayah Rantau berada di luarnya, yaitu di sekitar wilayah pantai bagian Barat dan Timur Minangkabau.
Dalam Tambo dikisahkan bahwa Alam Minangkabau mempunyai tiga buah Luhak yang disebut dengan Luhak Nan Tigo (Luhak yang Tiga). Terbagi kepada Luhak Tanah Datar, Luhak Agam dan Luhak Lima Puluh Kota. Dari Luhak tersebut, kemudian berkembang menjadi Luhak Kubang Tigobaleh, yang terletak di sekitar Gunung Talang, Kabupaten Solok sekarang.
Wilayah Rantau terletak di luar Luhak-luhak tadi. Semula rantau adalah tempat mencarikan hidup para penduduk, terutama dalam bidang perdagangan. Wilayah rantau, berubah menjadi tempat menetap turun temurun dari para perantau Minangkabau. Terjadilah pembauran dan pemesraan (asimilasi) antara nan datang mencengkam hinggap bersitumpu. Kemudian berkembang menjadi bagian dari pusat pemerintahan di Minangkabau dulu, yakni Kerajaan Pagaruyuang, yang mempunyai Basa Ampek Balai, berninik bermamak, berdatuk dan berpenghulu. Berlakukah pula di wilayah rantau itu, adat istiadat Minangkabau.
ISTILAH MINANGKABAU
Minangkabau lebih dikenal sebagai satu bentuk pusat kebudayaan dengan masyarakatnya yang berstatus matrilineal – atau keturunan menurut garis keibuan. Hubungan kekerabatan ini, adalah perpaduan dan pemesraan antara istiadat (urf) dan syariat agama Islam.
Garis matrilineal yang dianut adalah, bahwa anak yang dilahirkan bernasab kepada ayahnya, bersuku kepada ibunya, dan bersako terhadap mamaknya.
Hubungan kekerabatan seperti ini, mungkin tidak ada duanya di Indonesia. Sistem kekerabatan Minangkabau satu hal yang nyata, dan masih berlaku, walau perubahan terjadi di masa global ini. Kekuatan yang mengikat sistim kekerabatan Minangkabau, terlihat dari berbagai arah dan sudut pandang. Berpengaruh pada semua sisi kehidupan masyarakat Minangkabau.
Kekuatan kekerabatan itu misalnya, berpengaruh kuat pada aspek jiwa dagang masyarakatnya, mobilitas penduduknya, dengan kesukaan merantau ke negeri lain untuk mencari ilmu, mencari rezeki.
Sistim kekerabatan sedemikian itu pula, yang telah mendorong lajunya mobilitas horizontal dalam bentuk imigrasi, dan mobilitas vertical yang menuju kepada peningkatan kualitas.
JALINAN BAHASA DAN KEPERCAYAAN DI MINANGKABAU
Dari sisi kebudayaan dan berbagai hubungan perilaku, terbentuk hubungan jalin berkelindan antara Bahasa dan Kepercayaan orang Minangkabau. Pembauran dengan makna asimilasi adalah pemesraan antara dua unsur atau lebih dalam suatu wadah tertentu. Unsur yang satu menjadi bagian dari unsur yang lain, saling isi mengisi timbal balik. Salah satu bentuk pemesraan itu adalah bahasa dan kepercayaan dalam wadah kesusasteraan di Minangkabau. Penjiwaan dari kehidupan keseharian masyarakat Minangkabau, terasa ada pemesraan antara Bahasa dan Kepercayaan rakyat di Minangkabau. Perasaan itu terbawa kemana saja. Ada di ranah, dan terpakai di rantau. Di mana bumi dipijak di sana adat dipakai. Kaidah hidup ini adalah satu keniscayaan yang lahir dari keyakinan dari generasi berbudaya Minangkabau, di mana saja. Kata “percaya” berarti pendapat, itikad, kepastian dan keyakinan. Kepercayaan diartikan sebagai kebenaran yang diperoleh pikiran. Keyakinan adalah suatu kebenaran yang diperoleh jiwa, dikuatkan oleh pikiran. Kebenaran agama adalah keyakinan. Selanjutnya, kebenaran ilmu pengetahuan, filsafat dan intelektual adalah kepercayaan. Masalah kepercayaan adalah masalah manusia yang banyak berkaitan dengan kehidupannya. Sejarah kehidupan awal dari masyarakat manusia memberi pengetahuan kepada kita bahwa tiada suatu bangsapun yang hidup atau kelompok manusia yang tinggal pada suatu tempat yang tidak mengenal kepercayaan sebagai satu naluriah hidup yang vital. Kepercayaan timbul bersama dorongan-dorongan lain sebagai perlengkapan hidup manusia umumnya, seperti dorongan rohaniah manusia, yang selalu mengajar mereka untuk berbuat dan menyelesaikannya. Dorongan-dorongan dari dalam jiwa itu berkembang tiada hentinya (dinamis) pada setiap masalah demi masalah yang tidak akan henti-hentinya dalam hidup manusia. Naluri juga diartikan dengan dorongan hati atau keinginan yang berasal dari pembawaan yang menggerakkan untuk berbuat sesuatu. Naluri itu dapat pula disebut instink atau fitrah. Dorongan hati manusia dibedakan antara yang bersifat perasaan biologis dan yang bersifat perasaan rohaniah. Dengan demikian, berkepercayaan adalah salah satu dari perasaan rohaniah yang dapat juga disebut “perasaan keagamaan”. Maka dorongan-dorongan atau perasaan-perasaan yang bersifat biologis seperti dorongan untuk makan, mempertahankan diri, dan melangsungkan keturunan adalah keperluan jasmani. Selanjutnya kepercayaan adalah naluri atau dorongan hati secara fitrah lebih mutlak daripada yang lainnya. Agama adalah tuntunan dan tuntutan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan dan ketakutan. Dalam agama ada suatu ikatan antara manusia dengan kekuatan gaib. Agama dimaknai dengan aturan yang mengikat manusia atau ad-din atau syari’at (syarak). Kata religious dalam bahasa Latin berarti “mengikat”. Perilaku manusia terikat dengan pengabdian kepada kekuatan besar yang maha dahsyat atau kekuatan ghaib, baik dalam bentuk kultus maupun dalam sikap hidup keagamaan. Sumber utama kepercayaan atau rasa keagamaan ini adalah fitrah manusia yang merupakan anugerah Ilahi, dan melengkapi batin manusia melakukan kegiatan hidup sebagai makhluk yang lemah. Betapapun bersahajanya manusia ternyata kepercayaan membentuk tuntutan naluriahnya. Kepercayaan adalah salah satu dari kekuatan yang mengendalikan perasaan manusia. Kepercayaan menuntut adanya bentuk perbuatan nyata (amal) pada semua tindakan manusia. Pada tingkat ini dapat dirasa hubungan agama dengan kesadaran manusia ada keterikatan erat dengan tenaga di luar diri manusia itu, yang membuat alam nyata manusia, atau syarak mangato adaik mamakaikan. Fungsi naluri dari kepercayaan manusia kepada tenaga gaib itu membentuk keharusan menyatakan diri menjadi pengabdi dengan rasa rohaniah lahir dalam bentuk penghayatan pada berbagai tindakan dan ucapan. Tidak ada suatu macam agama yang tidak dimulai dengan kepercayaan. Di dalam agama Islam, dasar keagamaan disimpulkan atas enam pokok yang disebut dengan Rukun Iman, yaitu mempecayai adanya Allah, Malaikat, Kitab Suci, Pesuruh Tuhan, Hari Kemudian, dan mempercayai adanya kadar Tuhan atas yang baik atau yang buruk. Mengikuti pola rasa rohaniah manusia, maka berkepercayaan atau beragama adalah keperluan manusia yang harus dipenuhi, disamping keperluan pokok lainnya yang bersifat naluri. Kepercayaan bermula dalam tingkat penerimaan dari ilmu pengetahuan. Keyakinan berada pada taraf intensitas dari kepercayaan. Keyakinan selanjutnya meminta keharusan untuk melakukan aktivitas, sedangkan pada kepercayaan belum mempunyai keharusan untuk itu. Kepercayaan (syarak) itulah yang berasimilasi dengan bahasa dalam kesusasteraan Minangkabau.
ASIMILASI ANTARA TUTUR BAHASA DAN KEPERCAYAAN
Pemesraan antara bahasa dan kepercayaan, telah memperkaya Kesusasteraan Minangkabau, terutama kesusasteraan lama atau khazanah kesusasteraan lisannya.
Kesusasteraan Minangkabau sesungguhnya mempunyai pengertian yang dalam, yaitu “hasil bahasa Minangkabau yang indah”. Titik berat kesusasteraan Minangkabau bersifat lisan, terungkap dalam puisi dan prosa berirama. Tidak sedikit khazanah kesusateraan Minangkabau telah ditulis dalam tulisan-tulisan lama memakai huruf arab melayu.
Pemakaian huruf hijaiyah tersebut dalam mengungkapkan kosa kata melayu, adalah bagian dari pemesraan antara bahasa dan kepercayaan masyarakat Minangkabau yang beragama Islam.
Kesusasteraan tidak hanya sekadar hasil seni bahasa belaka. Kesusateraan adalah juga hasil pemikiran, hasil pengalaman, hasil merasa, bahkan hasil dari kehidupan seseorang atau masyarakat dan lingkungannya.
Kesusateraan adalah pula hasil bertutur kata, berciloteh dengan sadar, bukan dengan mimpi. Hasil sastera dapat disimak dalam kehidupan masyarakat pada suatu waktu, menjadi kebudayaan satu suku bangsa atau suatu bangsa.
Salah satu aspek yang amat berpengaruh membentuk kehidupan masyarakat adalah hubungannya dengan sesama, dan hubungannya dengan Penciptanya. Hubungan-hubungan itu tampak nyata di dalam bentuk kesusasteraan.
Kesusasteraan Minangkabau juga memberi jawaban pengaruh hubungan itu. Seperti tersua dalam ungkapan, “Kanan jalan ka Kurai, sasimpang jalan ka Ampek Angkek. Kok iyo pangulu ganti lantai, kok bapijak jan manjongkek. Adaik taluak timbunan kapa, Adaik lurah timbunan aie. Kok bukik timbunan angin, biaso gunuang timbunan kabuik. Adaik pamimpin tahan upek.”
Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, selalu diperhatikan antara dua kekuatan, yang satu secara lahiriah sikap dalam diri insan bernyawa, dan yang kedua adalah kekuatan keyakinan theis (agama) yang mengatur nyawa itu.
Kesusasteraan lahir dan dibentuk oleh dua unsur, yakni unsur nyawa yang memiliki rasa dan periksa, dan unsur agama yang membimbing rasa dan periksa itu.
Budaya kehidupan yang dibimbing oleh keyakinan agama, melahirkan sikap malu. Budaya malu, membentuk masyarakatnya hidup dengan kehati-hatian, serta ingat dan hemat dalam bertindak. Selanjutnya sikap-sikap budaya seperti ini menumbuhkan dinamika dalam kehidupan. Tampak jelas dalam cara bertutur, berciloteh sampai ke lapau-lapau ataupun di surau-surau.
JIWA BAHASA DI MINANGKABAU
Keindahan akan tercipta, ketika hasrat timbul untuk mengembalikan keindahan yang abadi dengan ajaran agama dan keagungan nama Ilahi, ke dalam bentuk-bentuk karya sastera. Asimilasi antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan Minangkabau terasa kental sekali.
Mempersoalkan hubungan yang mesra antara bahasa sastera dan kepercayaan kepada kekuasaan Allah Subhanu wa Ta’ala, menjadikan karya sastera itu indah abadi.
Menggali mutiara milik bangsa yang kaya dengan pemesraan antara agama dan adat istiadat etnik, yang akan memperkuat ke tunggal-ikaan dari puncak-puncak kebudayaan bangsa Indonesia.
Mutiara terpendam yang dapat diselami adalah bahwa kesusasteraan yang hakiki membentuk keperibadian satu bangsa, amat terkait dengan keyakinan pencipta sastera dan pendukungnya, yang keduanya mengabdi kepada Ilahi.
Kesusasteraan Minangkabau adalah pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam satu ungkapan, adaik basandi syarak, menjadi kekuatan besar untuk meraih keberhasilan di setiap masa.
Pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan sudah tercipta. Kepercayaan adalah fungsi jiwa manusia, dan kemajuan ilmu pengetahuan, telah membawa perubahan-perubahan terhadap jiwa manusia yang kompleks, namun satu keniscayaan belaka bahwa konsepsi kehidupan manusia tergantung pada alat-alat yang ada pada manusia itu sendiri.
Pada masyarakat Minangkabau, fungsi jiwa dibangun oleh kepercayaan kepada Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Esa itu tampak nyata dalam setiap aspek kehidupan kebudayaannya dan riak kehidupan sasteranya. Terutama dalam sastera bertutur dan berciloteh.
Sifat umum masyarakat tradisional Minangkabau di masa ini masih terasa, dan sukar untuk melepaskan kepercayaan dalam kehidupan tradisi mereka.
Pada dasarnya manusia itu bersifat konservatif. Sukar melepaskan perhiasan hidup lama, ingin menyimpan pusaka lama. Di antara pusaka lama itu, banyak di antara kita yang ingin memeliharanya dalam keasliannya”.
Pengukuhan adat bersendi syariat menjadi sangat penting. Jika hal ini dapat tetap ujud dan terpelihara baik, akan banyak manfaatnya menyalurkan nilai-nilai yang berharga dari satu budaya daerah, hasil masa lampau ke dalam kebudayaan Indonesia modern.
Menggali khazanah kebudayaan lama Minangkabau, yang banyak tersimpan di dalam bahasa lisan, serta dan menaikkannya ke atas permukaan kehidupan, menjadi bahasa tulisan, niscaya akan memberi sumbangan besar di dalam memupuk kebudayaan nasional, sesuai dengan keperibadian bangsa Indonesia.
Untuk melakukan kompilasi dari nilai-nilai pusaka Minangkabau yang menjadi mutiara kehidupan berbudaya dengan adat bersendi syari’at, perlu dilakukan observasi yang dipertajam untuk menapak Minangkabau yang kuat di masa depan. Menuntut keharusan pula adanya penelitian historis, terutama diarahkan kepada penyelidikan bentuk-bentuk sastera lisan yang banyak terdapat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, seperti pidato-pidato adat yang masih dihayati dalam kehidupan nyata, serta sopan santun dan kearifan dalam berciloteh baik di lapau atau di surau.
Memang amat sukar untuk menentukan berapa jumlah pendukung kesusasteraan lisan Minangkabau itu. Berapa banyak yang masih tersisa di dalam khazanah golongan terkemuka dalam adat atau penghulu (ninik mamak). Serta berapa banyak yang sudah diidentifikasi kembali oleh golongan cerdik pandai, suluah bendang di nagari, atau mereka yang dapat dianggap mengetahui bentuk-bentuk kesusasteraan lisan itu.
Berlakunya adaik istiadat nan salingka nagari, telah memberi warna perlakuan pribadi dan masyarakatnya, di dalam berinteraksi sesama. Adat istiadat yang menjadi kebiasaan pada setiap nagari dan luhak, menjadi kekayaan amat berharga, terutama di nagari-nagari yang masih menjaga nilai-nilai utama yang luhur. Termasuk di dalam berciloteh bersama di lapau dan di mana saja.
PERILAKU BERBUDAYA DAN BERAKHLAK DALAM PENGGUNAAN BAHASA
Perilaku berbudaya dan berakhlak masih dihayati dalam keseharian mereka, disebabkan tetap berlakunya ketentuan syariat agama Islam dengan kuat. Dan terjaganya dengan baik fungsi-fungsi urang ampek jinih dalam lingkungan kekerabatan di nagari-nagari.
Faktor penghayatan lahiriah dalam melaksanakan adat bersendi syariat, akan lebih banyak berbicara daripada konsep-konsep yang bersifat teoritis. Kearah ini kompilasi harus mengarah.
Kehidupan bermasyarakat di Sumatera Barat sudah lama direkat oleh kentalnya hubungan kebersamaan (ta’awun) di dalam tataran budaya berat sepikul ringan sejinjing sebagai perwujudan nyata nilai-nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Tataran budaya sedemikian telah terbukti dalam masa sangat panjang mampu memberikan dorongan-dorongan beralasan (motivasi) bagi semua gerak perubahan (reformasi) dari satu generasi ke generasi berikut di Ranah Bundo ini.
Bahkan telah pula terbukti menjadi modal sangat besar untuk meraih kemajuan di berbagai bidang pembangunan di daerah dan nagari, di dusun dan taratak. Serta memberikan sumbangan yang tidak kecil dalam mewujudkan persatuan bangsa dan kesatuan wilayah di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.
Adat Minangkabau yang disebut sebagai adat lama pusaka usang, artinya adatnya bukan baru dibuat atau baru disusun, tapi adat itu memang sudah lama dengan sifatnya yang luhur. Kemudian pusakanya yang usang berarti suatu peninggalan lama dari nenek moyang yang diwariskan kepada yang hidup sekarang.
Dari pelajaran adat dikatakan bahwa nenek moyang orang Minang membagi adat itu atas empat kategori, yakni : Adat nan sabananyo adat (Adat yang sebenarnya adat), Adat nan diadatkan (Adat yang diadatkan), Adat nan taradat (Adat yang teradat) dan Adat Istiadat.
Dari empat bagian adat tersebut ada adat yang berbuhul mati dan ada adat yang berbuhul sentak. Berbuhul mati artinya tidak dapat dibuka atau dicabut, sedangkan yang berbuhul sentak artinya dapat dibuka atau dicabut.
Adat yang berbuhul mati adalah adat yang sebenarnya adat yang tak akan berubah disebut tak lekang oleh panas, tak lapuk karena hujan, karena dia adalah undang-undang alam (natuurwet), natural law dan sunnatullah. Keyakinan bahwa Yang Maha Kuasa menciptakan alam raya dengan aturan nyata. Tak pernah berubah selamanya. Contoh nyata adat api menghanguskan, adat air membasahi. Tak pernah pula di antara keduanya yang bertukar peran atau bertimbang.
Adat nan Diadatkan yakni adat yang digariskan oleh nenek moyang orang Minang, seperti tokoh legendaris Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih nan Sabatang misalnya aturan-aturan yang dibuat orang dahulu dalam sistem kekerabatan menurut garis ibu (matrilineal). Pusaka turun ke kemenakan (maksudnya pusaka tinggi-sako dan pusako). Aturan nikah kawin (eksogami dan matrilokal), yang dalam fatwa adat disebut “sigai mencari enau. Enau tetap, sigai beranjak. Tepatan tinggal, bawaan kembali, suarang babagi, sekutu dibalah, kerbau tegak kubangan tinggal. Nikah dengan si perempuan, kawin dengan ninik mamak, sumando pada korong kampung”.
Adat nan teradat adalah hasil mufakat di dalam kaum, suku atau nagari tentang sesuatu masalah. Misalnya mufakat turun ke sawah, upacara nikah kawin dan lompat pagar (antar nagari), cara atau tata tertib penobatan Penghulu (Datuk), aturan sangsako, dan sebagainya.
Sedangkan yang dikatakan Adat istiadat adalah kebiasaaan yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Misalnya adat istiadat masuk puasa Ramadhan, Idul Fitri, kunjung berkunjung di hari baik bulan baik, jalang menjalang ketika ada musibah, baralek (pesta), membangun rumah gadang, menghela tonggak (tiang rumah gadang) dan sebagainya.
Pada dasarnya dalam empat kategori adat itu hanya Adat nan sabana adat yang tak akan berubah sedangkan yang lainnya dapat berubah dengan kata mufakat.
Hanya saja pada kategori Adat nan Diadatkan meski boleh berubah, namun Adat nan Diadatkan harus dilestarikan, dipelihara dan dilindungi agar tetap seperti sedia kala seperti adat Islami (adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Syarak mangato, adat mamakai, disebut juga adat sebatang panjang).
Sedangkan adat nan teradat dan adat istiadat lebih bersifat adat nan salingka nagari (selingkar nagari).
Terlihatlah di sini kearifan nenek moyang orang Minang bahwa dalam menghadapi putaran zaman yang akan berubah di masa datang maka adat Minang bersifat terbuka.
Berubahlah apa yang mestinya berubah, tapi ada yang tak akan berubah yakni Adat nan sabana adat yang sunnatullah, wet alam yakni yang datang dari Yang Maha Kuasa.
Dalam adagium adat disebutkan : “sakali aie gadang, sakali tapian baraliah” (sekali air bah datang, sekali pula tepian berubah). Yang berubah itu adalah lokasi tepian yang tadinya berlokasi di sebelah atas, kini beralih ke sebelah bawah. Namun yang tepian tidak berubah, sementara nilai dukung boleh berubah dengan kesepakatan bersama melalui musyawarah.
Tutur kata dalam budaya di Minangkabau menjadi bagian tak terelakkan di dalam mempertahankan budaya lama sekaligus juga menggali dan menampilkan ajaran tradisional yang relevan dengan tuntutan zaman yang sedang berubah.
Ungkapan tradisional itu dapat berarti pepatah, kato pusako, mamang, pituah, andai-andai, dan lain-lain.
Ungkapan tradisional tersebut ada yang berbentuk pantun, seloka, gurindam, dan sebagainya yang kadangkala dengan kalimat metafora sebagai bandingan atau kebalikannya. Semuanya bernilai nasehat, hukum, arahan dan ketentuan-ketentuan (norma).
Tapi ungkapan semata ada juga yang tidak bermuatan pepatah, pituah, dan lain-lain. Hanya kata melereng (kiasan) semata.
Ungkapan-ungkapan tradisional di Minangkabau ribuan banyaknya, berisi kearifan yang disindirkan, mencakup budi pekerti, seperti “Nan kuriak iyolah kundi. Nan sirah iyolah sago, Nan baiak iyolah budi, Nan indah iyolah bahaso”. Dalam ungkapan bahasa Indonesia berarti “yang kurik ialah kundi, yang merah ialah saga, yang baik ialah budi, yang indah ialah bahasa”.
Para tetua leluhur orang Minangkabau telah mengambil contoh pada buah kundi dan buah saga yang warnanya kurik (rintik) dan merah yang sifatnya tetap tidak berubah dalam warna merahnya dan kurik rintiknya.
Ungkapan tradisional ini mengiaskan bahwa budi baik dan keindahan bahasa tidak boleh tanggal dari diri pribadi anak turunan Minangkabau di manapun kita berada.
Sikap mulia akan menjadi buah tutur orang di mana saja. Talangkang karando kaco / Badarai carano kendi / Itu nan urang canggangkan./ Bacanggang karano baso / Bacarai karano budi / Itu nan urang pantangkan. Bila di turunkan di dalam bahasa nasional Telengkang keranda kaca, berderai cerana kendi, itu yang orang canggangkan, bercenggang karena bahasa, bercerai karena budi, itu yang orang pantangkan.
Fatwa adat ini menasehatkan pandai-pandai menggunakan bahasa. Karena ucapan berbahasa yang mungkin dinilai kasar atau tak sepantasnya dapat berakibat persahabatan jadi bercanggang atau berjarak. Begitu pula halnya budi atau kelakuan (perangai) yang tak senonoh dan tidak pantas, dapat berakibat persahabatan atau hubungan pergaulan akan rusak dan bahkan perceraian satu sama lain.
Mengikat sebuah dinamika di dalam pergaulan tidak semata ada pada alur tutur kata. Juga pada tindak laku perbuatan. Di antaranya tepat janji. Tentang janji disebutkan dalam tutur ungkapan yang amat berarti, bahwa “indak nan taguah dari janji, indak nan kokoh dari buek” (tidak yang teguh selain janji, tiada yang kokoh selain dari buatan).
Selalu dalam ciloteh seharian dinasehatkan supaya teguh memegang janji, kokoh tak tergoyahkan terhadap apa yang sudah dibuat dan disepakati.
Di dalam ungkapan seharian disebutkan ; Nak luruih rantangkan tali Nak mulia tapati janji Nak kuek paham dikunci Nak tinggi paelok budi Nak kayo kuek mancari, dan sebagainya (Supaya lurus rentangkan tali Supaya mulia tepati janji Supaya kuat paham dikunci Supaya tinggi perbaiki budi Supaya kaya kuatlah berusaha/ mencari)
Di sebalik itu dituntut dialektika Arif dan Bijak seperti ; Diagak mako diagiah (buatlah perkiraan, baru dibagi) Diukua mako dikabuang (memotong sesuatu atau mengerat, membagi, hendaklah setelah diukur, tidak berlaku sembrono memotong/membagi begitu saja . Dianjurkan diukur dulu).
Kemudian dalam satu ciloteh semestinya dipakai satu kearifan dialektis, Malantiang manuju tampuak, Dima buah ka rareh, dan Mamahek manuju barih, Dima lubang ka tabuak, Barundiang manuju bana, Dima mufakat ka dibulati. Artinya dalam bahasa nasional, “melempar menuju tampuak, kira-kira di mana buah itu jatuhnya”, dan “memahat menurut baris, kira-kira di mana lobang itu tembusnya”, atau “berunding berdasarkan kebenaran, sehingga rundingan membuahkan mufakat bulat”.
Kearifan di dalam bertutur kata, baik itu di dalam ungkapan di lingkungan beradat, di balairung, di surau, di mana saja, ada satu kewajiban berhati-hati. Ungkapan petatah petitih mengingatkan itu semua. “Gabak dahulu makonyo hujan, Cewang di langik tando akan paneh, Ingek sabalun kanai, Kulimek sabalun habih”, atau “Ingek urang nan di ateh, Nan di bawah kok datang malimpok, Bajalan paliharo kaki, Bakato paliharo lidah”.
Dapat dicermati dari ungkapan berbahasa dan bertutur ada banyak mendapatkan pelajaran dari alam takambang jadi guru. Di antaranya “mendung dahulu baru akan hujan, cerah di langit tanda hari akan panas”. Atau ungkapan selanjutnya, “ingatlah sebelum kena, berhemat sebelum habis” sebagai satu dinamika kearifan. Kemudian di dalamnya tertera pula nasehat, “ingat dan waspadalah orang yang sedang berkuasa di atas, karena yang di bawah dapat datang menimpa”, serta “kalau berjalan peliharalah kaki, kalau berucap kata pelihara lidah”.
Di sini dapat dirasakan dialektika dan dinamika berucap atau berceloteh itu. Di samping dialektika ada dinamika kehidupan dengan mengedepankan kebersamaan seperti ungkapan, “Ka bukik samo mandaki, Ka lurah samo manurun” (ke bukit sama mendaki, ke kurah sama menurun), atau “Barek sapikua, Ringan sajinjiang” (Berat sepikul, Ringan sejinjing), dan “Malompek samo patah, Manyaruduak samo bungkuak” (Melompat sama patah, Menyeruduk sama bungkuk), serta “Talungkuik samo makan tanah, Tatilantang samo makan angin, Tarandam samo basah, Tarapuang samo hanyuik” (Tertelungkup sama makan tanah, Tertelentang sama makan angin, Terendam sama basah, Terapung sama hanyut).
Sebuah nilai keberadatan masyarakat adat yang dapat menumbuhkan dinamika di tengah pergaulan hidup.
Kehidupan masyarakat Sumatera Barat ke depan di Alaf Baru abad ke duapuluh satu dan seterusnya ini, mesti memacu dirinya dengan ajakan agar selalu menanam kebaikan-kebaikan yang makruf. Ajakan tersebut mesti pula dipagari rapat-rapat dari hal-hal yang merusak atau mungkarat.
Di dalam diri masyarakatnya semestinya ditanamkan kesadaran yang dapat menumbuhkan harga diri dengan sikap mental mau berusaha dengan giat bekerja (enterprising). Hal tersebut akan lebih mudah terbangunkan karena dialog yang santun, arif dan dinamis.
Pembangunan manusia Minangkabau sesungguhnya adalah mencetak insan yang dapat menolong diri sendiri (independent) serta mampu mereposisi kondisinya dalam mengatasi kemelut, kemiskinan dan ketertinggalan di berbagai bidang. Insya Allah masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat atau di perantauan akan selalu mendapatkan hak asasinya yang setara dengan kewajiban asasi yang telah ditunaikannya.
Sesungguhnya bimbingan aqidah bersendikan Kitabullah, atau kebiasaan adat telah mengajarkan bahwa tidak pantas bagi satu masyarakat yang hanya selalu menuntut hak tanpa dibebani keharusan menunaikan kewajiban.
Martabat satu kaum akan hilang bila yang ada hanya memiliki kewajiban-kewajiban tetapi tidak dapat menentukankan hak apa-apa. Karena itu, hak asasi manusia tidak akan pernah ujud tanpa di dahului oleh kewajiban asasi manusia. Hal ini sangatlah penting ditanamkan kembali dalam upaya mambangkik batang tarandam.
Kandungan Kitabullah mewajibkan kita untuk memelihara hubungan yang langgeng dan akrab dengan karib, baik terhadap tetangga maupun kerabat, sebagai kewajiban iman dan taqwa kita kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Firman Allah di dalam Kitabullah (Al Quran) menyebutkan, “Sembahlah Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak. Berhubungan baiklah kepada karib kerabat. Berbuat ihsan kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, dan tetangga yang hampir, tetangga yang jauh, dan teman sejawat serta terhadap orang-orang yang keputusan belanja diperjalanan (yaitu orang-orang yang berjalan dijalan Allah) dan terhadap pembantu-pembantu di rumah tanggamu. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS.4, An-Nisak ayat 36).
Menumbuhkan harga diri, dan memperbaiki nasib secara keseluruhan dalam berbagai bidang, diyakini akan terwujud melalui ikhtiar yang terus menerus, disertai akhlak sabar tanpa kesombongan serta mampu melawan sikap mudah menyerah dan tidak mudah berputus asa.
Sikap jiwa masyarakat seperti ini seringkali dapat ditempa melalui dialog atau celoteh yang penuh dialektika dan dinamis, di antaranya di surau dan di lapau di Minangkabau, masa laloe. ***
Diarsipkan di bawah: ABS-SBK, Adat istiadat, Bahasa Minang, Buya Masoed Abidin, Kemajemukan, Komentar, Lapau, Masyarakat Adat, Minangkabau, Sumatera Barat
Ciloteh Lapau Antara Dialektika dan Dinamika Minangkabau
Oleh : H.Mas’oed Abidin
- Buya Masoed Abidin
Wilayah Minangkabau
Masyarakat Minangkabau adalah salah satu suku bangsa di antara puluhan suku bangsa yang membentuk bangsa Indonesia. Masyarakat Minangkabau hidup di sekitar wilayah Sumatera Bagian Tengah, atau yang dalam Tambo Minangkabau disebutkan wilayah Minangkabau itu meliputi kawasan, “… dari Sikilang Aia Bangih sampai ka Taratak Aia Itam. Dari Sipisok-pisok pisau anyuik sampai ka Sialang Balantak basi. Dari Riak nan Badabua sampai ke Durian ditakiak (ditakuak) Rajo”, (artinya, dari Sikilang Air Bangis sampai ke Taratak Air Hitam, dari Sipisok-pisok Pisau Hanyut sampai ke Sialang Belantak Besi, dari Riak yang berdebur sampai ke Durian Ditekuk Raja).
Orang Minangkabau menamakan tumpah darahnya dengan Alam Minangkabau, yang secara geografis wilayahnya berpusat di selingkar Gunung Merapi, di Sumatera Barat. Wilayah itu

Dalam Tambo dikisahkan bahwa Alam Minangkabau mempunyai tiga buah Luhak yang disebut dengan Luhak Nan Tigo (Luhak yang Tiga). Terbagi kepada Luhak Tanah Datar, Luhak Agam dan Luhak Lima Puluh Kota. Dari Luhak tersebut, kemudian berkembang menjadi Luhak Kubang Tigobaleh, yang terletak di sekitar Gunung Talang, Kabupaten Solok sekarang.
Wilayah Rantau terletak di luar Luhak-luhak tadi. Semula rantau adalah tempat mencarikan hidup para penduduk, terutama dalam bidang perdagangan. Wilayah rantau, berubah menjadi tempat menetap turun temurun dari para perantau Minangkabau. Terjadilah pembauran dan pemesraan (asimilasi) antara nan datang mencengkam hinggap bersitumpu. Kemudian berkembang menjadi bagian dari pusat pemerintahan di Minangkabau dulu, yakni Kerajaan Pagaruyuang, yang mempunyai Basa Ampek Balai, berninik bermamak, berdatuk dan berpenghulu. Berlakukah pula di wilayah rantau itu, adat istiadat Minangkabau.
Istilah Minangkabau
Minangkabau lebih dikenal sebagai satu bentuk pusat kebudayaan dengan masyarakatnya yang berstatus matrilineal – atau keturunan menurut garis keibuan Hubungan kekerabatan ini, adalah perpaduan dan pemesraan[1] antara istiadat (urf) dan syariat agama Islam. Garis matrilineal yang dianut adalah, bahwa anak yang dilahirkan bernasab kepada ayahnya, bersuku kepada ibunya, dan bersako terhadap mamaknya. Hubungan kekerabatan seperti ini, mungkin tidak ada duanya di Indonesia.
Sistim kekerabatan Minangkabau satu hal yang nyata, dan masih berlaku, walau perubahan terjadi di masa global ini. Kekuatan yang mengikat sistim kekerabatan Minangkabau, terlihat dari berbagai arah dan sudut pandang. Berpengaruh pada semua sisi kehidupan masyarakat Minangkabau.
Kekuatan kekerabatan itu misalnya, berpengaruh kuat pada aspek jiwa dagang masyarakatnya, mobilitas penduduknya, dengan kesukaan merantau ke negeri lain untuk mencari ilmu, mencari rezeki. Sistim kekerabatan sedemikian itu pula, yang telah mendorong lajunya mobilitas horizontal dalam bentuk imigrasi, dan mobilitas vertical yang menuju kepada peningkatan kualitas.
Jalinan Bahasa dan Kepercayaan di Minangkabau
Dari sisi kebudayaan dan berbagai hubungan perilaku, terbentuk hubungan jalin berkelindan antara Bahasa dan Kepercayaan orang Minangkabau. Pembauran dengan makna asimilasi[2] adalah pemesraan antara dua unsur atau lebih dalam suatu wadah tertentu. Unsur yang satu menjadi bagian dari unsur yang lain, saling isi mengisi timbal balik. Salah satu bentuk pemesraan itu adalah bahasa dan kepercayaan dalam wadah kesusasteraan di Minangkabau.
Penjiwaan dari kehidupan keseharian masyarakat Minangkabau, terasa ada pemesraan antara Bahasa dan Kepercayaan rakyat di Minangkabau. Perasaan itu terbawa kemana saja. Ada di ranah, dan terpakai di rantau. Di mana bumi dipijak di sana adat dipakai. Kaidah hidup ini adalah satu keniscayaan yang lahir dari keyakinan dari generasi berbudaya Minangkabau, di mana saja.
Kata “percaya” berarti pendapat, itikad, kepastian dan keyakinan. Kepercayaan diartikan sebagai kebenaran yang diperoleh pikiran. Keyakinan adalah suatu kebenaran yang diperoleh jiwa, dikuatkan oleh pikiran. Kebenaran agama adalah keyakinan. Selanjutnya, kebenaran ilmu pengetahuan, filsafat dan intelektual adalah kepercayaan.[3] Masalah kepercayaan adalah masalah manusia yang banyak berkaitan dengan kehidupannya.
Sejarah kehidupan awal dari masyarakat manusia memberi pengetahuan kepada kita bahwa tiada suatu bangsapun yang hidup atau kelompok manusia yang tinggal pada suatu tempat yang tidak mengenal kepercayaan sebagai satu naluriah hidup yang vital. Kepercayaan timbul bersama dorongan-dorongan lain sebagai perlengkapan hidup manusia umumnya, seperti dorongan rohaniah manusia, yang selalu mengajar mereka untuk berbuat dan menyelesaikannya.
Dorongan-dorongan dari dalam jiwa itu berkembang tiada hentinnya (dinamis) pada setiap masalah demi masalah yang tidak akan henti-hentinya dalam hidup manusia. Naluri juga diartikan dengan dorongan hati atau keinginan yang berasal dari pembawaan yang menggerakkan untuk berbuat sesuatu.[4] Naluri itu dapat pula disebut instink atau fitrah.
Dorongan hati manusia dibedakan antara yang bersifat perasaan biologis dan yang bersifat perasaan rohaniah. Dengan demikian, berkepercayaan adalah salah satu dari perasaan rohaniah yang dapat juga disebut “perasaan keagamaan”.[5] Maka dorongan-dorongan atau perasaan-perasaan yang bersifat biologis seperti dorongan untuk makan, mempertahankan diri, dan melangsungkan keturunan adalah keperluan jasmani. Selanjutnya kepercayaan adalah naluri atau dorongan hati secara fitrah lebih mutlak daripada yang lainnya.
Agama adalah tuntunan dan tuntutan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan dan ketakutan.[6] Dalam agama ada suatu ikatan antara manusia dengan kekuatan gaib.
Agama dimaknai dengan aturan yang mengikat manusia atau ad-din atau syari’at (syarak). Kata religious dalam bahasa Latin berarti “mengikat”. Perilaku manusia terikat dengan pengabdian kepada kekuatan besar yang maha dahsyat atau kekuatan ghaib, baik dalam bentuk kultus maupun dalam sikap hidup keagamaan.
Sumber utama kepercayaan atau rasa keagamaan ini adalah fitrah manusia yang merupakan anugerah Ilahi, dan melengkapi batin manusia melakukan kegiatan hidup sebagai makhluk yang lemah. Betapapun bersahajanya manusia ternyata kepercayaan membentuk tuntutan naluriahnya. Kepercayaan adalah salah satu dari kekuatan yang mengendalikan perasaan manusia.
Kepercayaan menuntut adanya bentuk perbuatan nyata (amal) pada semua tindakan manusia. Pada tingkat ini dapat dirasa hubungan agama dengan kesadaran manusia ada keterikatan erat dengan tenaga di luar diri manusia itu, yang membuat alam nyata manusia, atau syarak mangato adaik mamakaikan.
Fungsi naluri dari kepercayaan manusia kepada tenaga gaib itu membentuk keharusan menyatakan diri menjadi pengabdi dengan rasa rohaniah lahir dalam bentuk penghayatan pada berbagai tindakan dan ucapan. Tidak ada suatu macam agama yang tidak dimulai dengan kepercayaan. Di dalam agama Islam, dasar keagamaan disimpulkan atas enam pokok yang disebut dengan Rukun Iman, yaitu mempecayai adanya Allah, Malaikat, Kitab Suci, Pesuruh Tuhan, Hari Kemudian, dan mempercayai adanya kadar Tuan atas yang baik atau yang buruk.[7]
Mengikuti pola rasa rohaniah manusia, maka berkepercayaan atau beragama adalah keperluan manusia yang harus dipenuhi, disamping keperluan pokok lainnya yang bersifat naluri. Kepercayaan bermula dalam tingkat penerimaan dari ilmu pengetahuan. Keyakinan berada pada taraf intensitas dari kepercayaan. Keyakinan selanjutnya meminta keharusan untuk melakukan aktivitas, sedangkan pada kepercayaan belum mempunyai keharusan untuk itu. Kepercayaan (syarak) itulah yang berasimilasi dengan bahasa dalam kesusasteraan Minangkabau.
Asimilasi antara tutur Bahasa dan Kepercayaan
Pemesraan antara bahasa dan kepercayaan, telah memperkaya Kesusasteraan Minangkabau, terutama kesusasteraan lama atau khazanah kesusasteraan lisannya. Kesusasteraan Minangkabau sesungguhnya mempunyai pengertian yang dalam, yaitu “hasil bahasa Minangkabau yang indah“.
Titik berat kesusasteraan Minangkabau bersifat lisan, terungkap dalam puisi dan prosa berirama. Tidak sedikit khazanah kesusateraan Minangkabau telah ditulis dalam tulisan-tulisan lama memakai huruf arab melayu. Pemakaian huruf hijaiyah tersebut dalam mengungkapkan kosa kata melayu, adalah bagian dari pemesraan antara bahasa dan kepercayaan masyarakat Minangkabau yang beragama Islam.
Kesusasteraan tidak hanya sekadar hasil seni bahasa belaka. Kesusateraan adalah juga hasil pemikiran, hasil pengalaman, hasil merasa, bahkan hasil dari kehidupan seseorang atau masyarakat dan lingkungannya. Kesusateraan adalah pula hasil bertuitur kata, berciloteh dengan sadar, bukan dengan mimpi. Hasil sastera dapat disimak dalam kehidupan masyarakat pada suatu waktu, menjadi kebudayaan satu suku bangsa atau suatu bangsa. Salah satu aspek yang amat berpengaruh membentuk kehidupan masyarakat adalah hubungannya dengan sesama, dan hubungannya dengan Penciptanya. Hubungan-hubungan itu tampak nyata di dalam bentuk kesusasteraan.
Kesusasteraan Minangkabau juga memberi jawaban pengaruh hubungan itu. Seperti tersua dalam ungkapan, “ Kanan jalan ka Kurai, sasimpang jalan ka Ampek Angkek. Kok iyo pangulu ganti lantai, kok bapijak jan manjongkek. Adaik taluak timbunan kapa, Adaik lurah timbunan aie. Kok bukik timbunan angin, biaso gunuang timbunan kabuik. Adaik pamimpin tahan upek.” [8]
Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, selalu diperhatikan antara dua kekuatan, yang satu secara lahiriah sikap dalam diri insan bernyawa, dan yang kedua adalah kekuatan keyakinan theis (agama) yang mengatur nyawa itu.
Kesusasteraan lahir dan dibentuk oleh dua unsur, yakni unsur nyawa yang memiliki rasa dan periksa, dan unsur agama yang membimbing rasa dan periksa itu. Budaya kehidupan yang dibimbing oleh keyakinan agama, melahirkan sikap malu. Budaya malu, membentuk masyarakatnya hidup dengan kehati-hatian, serta ingat dan hemat dalam bertindak. Selanjutnya sikap-sikap budaya seperti ini menumbuhkan dinamika dalam kehidupan. Tampak jelas dalam cara bertutur, berciloteh sampai ke lapau-lapau ataupun di surau-surau.
Jiwa Bahasa di Minangkabau
Keindahan akan tercipta, ketika hasrat timbul untuk mengembalikan keindahan yang abadi dengan ajaran agama dan keagungan nama Ilahi, ke dalam bentuk-bentuk karya sastera. Asimilasi antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan Minangkabau terasa kental sekali. Mempersoalkan hubungan yang mesra antara bahasa sastera dan kepercayaan kepada kekuasaan Allah Subhanu wa Ta’ala, menjadikan karya sastera itu indah abadi.
Menggali mutiara milik bangsa yang kaya dengan pemesraan antara agama dan adat istiadat etnik, yang akan memperkuat ke tunggal-ikaan dari puncak-puncak kebudayaan bangsa Indonesia. Mutiara terpendam yang dapat diselami adalah bahwa kesusasteraan yang hakiki membentuk keperibadian satu bangsa, amat terkait dengan keyakinan pencipta sastera dan pendukungnya, yang keduanya mengabdi kepada Ilahi.
Kesusasteraan Minangkabau adalah pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam satu ungkapan, adaik basandi syarak, menjadi kekuatan besar untuk meraih keberhasilan di setiap masa. Pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan sudah tercipta. Kepercayaan adalah fungsi jiwa manusia, dan kemajuan ilmu pengetahuan, telah membawa perubahan-perubahan terhadap jiwa manusia yang kompleks, namun satu keniscayaan belaka bahwa konsepsi kehidupan manusia tergantung pada alat-alat yang ada pada manusia itu sendiri.[9]
Pada masyarakat Minangkabau, fungsi jiwa dibangun oleh kepercayaan kepada Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Esa itu tampak nyata dalam setiap aspek kehidupan kebudayannya dan riak kehidupan sasteranya. Terutama dalam sastera bertutur dan berciloteh.
Sifat umum masyarakat tradisional Minangkabau di masa ini masih terasa, dan sukar untuk melepaskan kepercayaan dalam kehidupan tradisi mereka. Pada dasarnya manusia itu bersifat konservatif. Sukar melepaskan perhiasan hidup lama, ingin menyimpan pusaka lama. Di antara pusaka lama itu, banyak di antara kita yang ingin memeliharanya dalam keasliannya”.[10]
Pengukuhan adat bersendi syariat menjadi sangat penting. Jika hal ini dapat tetap ujud dan terpelihara baik, akan banyak manfaatnya menyalurkan nilai-nilai yang berharga dari satu budaya daerah, hasil masa lampau ke dalam kebudayaan Indonesia modern. Menggali khazanah kebudayaan lama Minangkabau, yang banyak tersimpan di dalam bahasa lisan, serta dan menaikkannya ke atas permukaan kehidupan, menjadi bahasa tulisan, niscaya akan memberi sumbangan besar di dalam memupuk kebudayaan nasional, sesuai dengan keperibadian bangsa Indonesia.
Untuk melakukan kompilasi dari nilai-nilai pusaka Minangkabau yang menjadi mutiara kehidupan berbudaya dengan adat bersendi syari’at, perlu dilakukan observasi yang dipertajam untuk menapak Minangkabau yang kuat di masa depan. Menuntut keharusan pula adanya penelitian historis, terutama diarahkan kepada penyelidikan bentuk-bentuk sastera lisan yang banyak terdapat dalam kehidupan masyrakat Minangkabau, seperti pidato-pidato adat yang masih dihayati dalam kehidupan nyata, serta sopan santun dan karifan dalam berciloteh baik di lapau ataau di surau.
Memang amat sukar untuk menentukan berapa jumlah pendukung kesusasteraan lisan Minangkabau itu. Berapa banyak yang masih tersisa di dalam khazanah golongan terkemuka dalam adat atau penghulu (ninik mamak) Serta berapa banyak yang sudah diidentifikasi kembali oleh golongan cerdik pandai, suluah bendang di nagari,atau mereka yang dapat dianggap mengetahui bentuk-bentuk kesusasteraan lisan itu.
Berlakunya adaik istiadat nan salingka nagari, telah memberi warna perlakuan peribadi dan masyarakatnya, di dalam berinteraksi sesama. Adat istiadat yang menjadi kebiasaan pada setiap nagari dan luhak, menjadi kekayaan amat berharga, terutama di nagari-nagari yang masih menjaga nilai-nilai utama yang luhur. Termasuk di dalam berciloteh bersama di lapau dan di mana saja.
Perilaku Berbudaya dan Berakhlak dalam penggunaan bahasa
Perilaku berbudaya dan berakhlak masih dihayati dalam keseharian mereka, disebabkan tetap berlakunya ketentuan syariat agama Islam dengan kuat. Dan terjaganya dengan baik fungsi-fungsi urang ampek jinih dalam lingkungan kekerabatan di nagari-nagari.
Faktor penghayatan lahiriah dalam melaksanakan adat bersendi syariat, akan lebih banyak berbicara daripada konsep-konsep yang bersifat teoritis. Kearah ini kompilasi harus mengarah.
Kehidupan bermasyarakat di Sumatra Barat sudah lama direkat oleh kentalnya hubungan kebersamaan (ta’awun) di dalam tataran budaya berat sepikul ringan sejinjing sebagai perwujudan nyata nilai-nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Tataran budaya sedemikian telah terbukti dalam masa sangat panjang mampu memberikan dorongan-dorongan beralasan (motivasi) bagi semua gerak perubahan (reformasi) dari satu generasi ke generasi berikut di Ranah Bundo ini. Bahkan telah pula terbukti menjadi modal sangat besar untuk meraih kemajuan di berbagai bidang pembangunan di daerah dan nagari, di dusun dan taratak. Serta memberikan sumbangan yang tidak kecil dalam mewujudkan persatuan bangsa dan kesatuan wilayah di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.
Adat Minangkabau yang disebut sebagai adat lama pusaka usang, artinya adatnya bukan baru dibuat atau baru disusun, tapi adat itu memang sudah lama dengan sifatnya yang luhur. Kemudian pusakanya yang usang berarti suatu peninggalan lama dari nenek moyang yang diwariskan kepada yang hidup sekarang. Dari palajaran adat dikatakan bahwa nenek moyang orang Minang membagi adat itu atas empat kategori, yakni : Adat nan sabananyo adat (Adat yang sebenarnya adat), Adat nan diadatkan (Adat yang diadatkan), Adat nan taradat (Adat yang teradat) dan Adat Istiadat.
Dari empat bagian adat tersebut ada adat yang berbuhul mati dan ada adat yang berbuhul sentak. Berbuhul mati artinya tidak dapat dibuka atau dicabut, sedangkan yang berbuhul sentak artinya dapat dibuka atau dicabut. Adat yang berbuhul mati adalah adat yang sebenarnya adat yang tak akan berubah disebut tak lekang oleh panas, tak lapuk karena hujan, karena dia adalah undang-undang alam (natuurwet), natural law dan sunnatullah. Keyakinan bahwa Yang Maha Kuasa menciptakan alam raya dengan aturan nyata. Tak pernah berubah selamanya. Contoh nyata adat api menghanguskan, adat air membasahi. Tak pernah pula di antara keduanya yang bertukar peran atau bertimbang.
Adat nan Diadatkan yakni adat yang digariskan oleh nenek moyang orang Minang, seperti tokoh legendaris Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih nan Sabatang misalnya aturan-aturan yang dibuat orang dahulu dalam sistem kekerabatan menurut garis ibu (matrilineal). Pusaka turun ke kemenakan (maksudnya pusaka tinggi-sako dan pusako). Aturan nikah kawin (eksogami dan matrilokal), yang dalam fatwa adat disebut “sigai mencari enau. Enau tetap, sigai beranjak. Tepatan tinggal, bawaan kembali, suarang babagi, sekutu dibalah, kerbau tegak kubangan tinggal. Nikah dengan si perempuan, kawin dengan ninik mamak, sumando pada korong kampung”.
Adat nan teradat adalah hasil mufakat di dalam kaum, suku atau nagari tentang sesuatu masalah. Misalnya mufakat turun ke sawah, upacara nikah kawin dan lompat pagar (antar nagari), cara atau tata tertib penobatan Penghulu (Datuk), aturan sangsako, dan sebagainya.
Sedangkan yang dikatakan Adat istiadat adalah kebiasaaan yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Misalnya adat istiadat masuk puasa Ramadhan, Idul Fitri, kunjung berkunjung di hari baik bulan baik, jalang menjalang ketika ada musibah, baralek (pesta), membangun rumah gadang, menghela tonggak (tiang rumah gadang) dan sebagainya. Pada dasarnya dalam empat kategori adat itu hanya Adat nan sabana adat yang tak akan berubah sedangkan yang lainnya dapat berubah dengan kata mufakat.
Cuma saja pada kategori Adat nan diadatkan meski boleh berubah, namun Adat nan diadatkan harus dilestarikan, dipelihara dan dilindungi agar tetap seperti sedia kala seperti adat Islami (adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Syarak mangato, adat mamakai, disebut juga adat sebatang panjang). Sedangkan adat nan teradat dan adat istiadat lebih bersifat adat nan salingka nagari (selingka nagari). Terlihatlah di sini kearifan nenek moyang orang Minang bahwa dalam menghadapi putaran zaman yang akan berubah di masa datang maka adat Minang bersifat terbuka. Berubahlah apa yang mestinya berubah, tapi ada yang tak akan berubah yakni Adat nan sabana adat yang sunnatullah, wet alam yakni yang datang dari Yang Maha Kuasa. Dalam adagium adat disebutkan : “sakali aie gadang, sakali tapian baraliah” (sekali air bah datang, sekali pula tepian berubah). Yang berubah itu adalah lokasi tepian yang tadinya berlokasi di sebelah atas, kini beralih ke sebelah bawah. Namun yang tepian tidak berubah, sementara nilai dukung boleh berubah dengan kesepakatan bersama melalui musyawarah.
Tutur kata dalam budaya di Minangkabau menjadi bagian tak terelakkan di dalam mempertahankan budaya lama sekaligus juga menggali dan menampilkan ajaran tradisional yang relevan dengan tuntutan zaman yang sedang berubah. Ungkapan tradisional itu dapat berarti pepatah, kato pusako, mamang, pituah, andai-andai, dan lain-lain. Ungkapan tradisional tersebut ada yang berbentuk pantun, seloka, gurindam, dan sebagainya yang kadangkala dengan kalimat metafora sebagai bandingan atau kebalikannya. Semuanya bernilai nasehat, hukum, arahan dan ketentuan-ketentuan (norma). Tapi ungkapan semata ada juga yang tidak bermuatan pepatah, pituah, dan lain-lain. Hanya kata melereng (kiasan) semata.
Ungkapan-ungkapan tradisional di Minangkabau ribuan banyaknya, berisi kearifan yang disindirkan, mencakup budi pekerti, seperti “Nan kuriak iyolah kundi. Nan sirah iyolah sago, Nan baiak iyolah budi, Nan indah iyolah bahaso”. Dalam ungkapan bahasa Indonesia berarti “yang kurik ialah kundi, yang merah ialah saga, yang baik ialah budi, yang indah ialah bahasa”. Para tetua leluhur orang Minangkabau telah mengambil contoh pada buah kundi dan buah saga yang warnanya kurik(rintik) dan merah yang sifatnya tetap tidak berubah dalam warna merahnya dan kurik rintiknya. Ungkapan tradisional ini mengiaskan bahwa budi baik dan keindahan bahasa tidak boleh tanggal dari dari diri peribadi anak turunan Minangkabau di manapun kita berada.
Sikap mulia akan menjadi buah tutur orang di mana saja. Talangkang karando kaco / Badarai carano kendi / Itu nan urang canggangkan./ Bacanggang karano baso / Bacarai karano budi / Itu nan urang pantangkan. Bila di turukan di dalam bahasa nasional Telengkang keranda kaca, berderai cerana kendi, itu yang orang canggangkan, bercenggang karena bahasa, bercerai karena budi, itu yang orang pantangkan. Fatwa adat ini menasehatkan pandai-pandai menggunakan bahasa. Karena ucapan berbahasa yang mungkin dinilai kasar atau tak sepantasnyadapat berakibat persahabatan jadi bercanggang atau berjarak.
Begitu pula halnya budi atau kelakuan (perangai) yang tak senonoh dan tidak pantas, dapat berakibat persahabatan atau hubungan pergaulan akan rusak dan bahkan perceraian satu sama lain. Mengikat sebuah dinamika di dalam pergaulan tidak semata ada pada alur tutur kata. Juga pada tindak laku perbuatan. Di antaranya tepat janji. Tentang janji disebutkan dalam tutur ungkapan yang amat berarti, bahwa “indak nan taguah dari janji, indak nan kokoh dari buek” (tidak yang teguh selain janji, tiada yang kokoh selain dari buatan).
Selalu dalam ciloteh seharian dinasehatkan supaya teguh memegang janji, kokoh tak tergoyahkan terhadap apa yang sudah dibuat dan disepakati. Di dalam ungkapan seharian disebutkan ;
Nak luruih rantangkan tali
Nak mulia tapati janji
Nak kuek paham dikunci
Nak tinggi paelok budi
Nak kayo kuek mancari, dan sebagainya
(Supaya lurus rentangkan tali
Supaya mulia tepati janji
Supaya kuat paham dikunci
Supaya tinggi perbaiki budi
Supaya kaya kuatlah berusaha /mencari)
Disebalik itu dituntut dialektika Arif dan Bijak seperti ;
Diagak mako diagiah (buatlah perkiraan, baru dibagi)
Diukua mako dikabuang (memotong sesuatu atau mengerat, membagi, hendaklah setelah diukur, tidak berlaku sembrono memotong/membagi begitu saja . dianjurkan diukur dulu).
Kemudian dalam satu ciloteh semestinya dipakai satu kearifan dialektis, Malantiang manuju tampuak, Di ma buah ka rareh, dan Mamahek manuju barih, Di ma lubang ka tabuak, Barundiang manuju bana, Dima mufakat ka dibulati. Artinya dalam bahasa nasional, “melempar menuju tampuak, kira-kira di mana buah itu jatuhnya”, dan “memahat menurut baris, kira-kira di mana lobang itu tembusnya”, atau “berunding berdasarkan kebenaran, sehingga rundingan membuahkan mufakat bulat”.
Kearifan di dalam bertutur kata, baik itu di dalam ungkapan di lingkungan beradat, di balairung, di surau, di mana saja, ada satu kewajiban berhati-hati.
Ungkapan petatah petitih mengingatkan itu semua. “Gabak dahulu makonya hujan, Cewang di langik tando akan paneh, Ingek sabalun kanai, Kulimek sabalun habih”, atau “Ingek urang nan di ateh, Nan di bawah kok datang malimpok, Bajalan paliharo kaki, Bakato paliharo lidah”. Dapat dicermati dari ungkapan berbahasa dan bertutur adabanyak mendapatkan pelajaran dari alam takambang jadi guru. Di antaranya “ mendung dahulu baru akan hujan, cerah di langit tanda hari akan panas”. Atau ungkapan selanjutnya, “ingatlah sebelum kena, berhemat sebelum habis” sebagai satu dinamika kearifan. Kemudian di dalamnya tertera pula nasehat, “ingat dan waspadalah orang yang sedang berkuasa di atas, karena yang di bawah dapat datang menimpa”, serta “kalau berjalan peliharalah kaki, kalau berucap kata pelihara lidah”. Di sini dapat dirasakan dilaektika dan dinamika berucap atau berceloteh itu.
Di samping dialektika ada dinamika kehidupan dengan mengedepankan kebersamaan seperti ungkapan, “Ka bukik samo mandaki, Ka lurah samo manurun” (ke bukit sama mendaki, ke kurah sama menurun), atau “Barek sapikua, Ringan sajinjiang” (Berat sepikul, Ringan sejinjing), dan “Malompek samo patah, Manyaruduak samo bungkuak” (Melompat sama patah, Menyeruduk sama bungkuk), serta “Talungkuik samo makan tanah, Tatilantang samo makan angin, Tarandam samo basah, Tarapuang samo hanyuik” (Tertelungkup sama makan tanah, Tertelentang sama makan angin, Terendam sama basah, Terapung sama hanyut). Sebuah nilai keberadatan masyarakat adat yang dapat menumbuhkan dinamika di tengah pergaulan hidup.
Kehidupan masyarakat Sumatra Barat kedepan di Alaf Baru abad ke duapuluh satu dan seterusnya ini, mesti memacu dirinya dengan ajakan agar selalu menanam kebaikan-kebaikan yang makruf. Ajakan tersebut mesti pula dipagari rapat-rapat dari hal-hal yang merusak atau mungkarat. Di dalam diri masyarakatnya semestinya ditanamkan kesadaran yang dapat menumbuhkan harga diri dengan sikap mental mau berusaha dengan giat bekerja (enterprising). Hal tersebut akan lebih mudah terbanagunkan karena dialog yang santun, arif dan dinamis.
Pembangunan manusia Minangkabau sesungguhnya adalah mencetak insan yang dapat menolong diri sendiri (independent) serta mampu mereposisi kondisinya dalam mengatasi kemelut, kemiskinan dan ketertinggalan di berbagai bidang.
Insya Allah masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat atau di perantauan akan selalu mendapatkan hak asasinya yang setara dengan kewajiban asasi yang telah ditunaikannya. Sesungguhnya bimbingan aqidah bersendikan Kitabullah, atau kebiasaan adat telah mengajarkan bahwa tidak pantas bagi satu masyarakat yang hanya selalu menuntut hak tanpa dibebani keharusan menunaikan kewajiban.
Martabat satu kaum akan hilang bila yang ada hanya memiliki kewajiban-kewajiban tetapi tidak dapat menentukankan hak apa-apa. Karena itu, hak asasi manusia tidak akan pernah ujud tanpa di dahului oleh kewajiban asasi manusia. Hal ini sangatlah penting ditanamkan kembali dalam upaya mambangkik batang tarandam.
Kandungan Kitabullah mewajibkan kita untuk memelihara hubungan yang langgeng dan akrab dengan karib, baik terhadap tetangga maupun kerabat, sebagai kewajiban iman dan taqwa kita kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Firman Allah di dalam Kitabullah (Al Quran) menyebutkan, “ Sembahlah Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak. Berhubungan baiklah kepada karib kerabat. Berbuat ihsan kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, dan tetangga yang hampir, tetangga yang jauh, dan teman sejawat serta terhadap orang-orang yang keputusan belanja diperjalanan (yaitu orang-orang yang berjalan dijalan Allah) dan terhadap pembantu-pembantu di rumah tanggamu. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS.4, An-Nisak ayat 36).
Menumbuhkan harga diri, dan memperbaiki nasib secara keseluruhan dalam berbagai bidang, diyakini akan terwujud melalui ikhtiar yang terus menerus, disertai akhlak sabar tanpa kesombongan serta mampu melawan sikap mudah menyerah dan tidak mudah berputus asa. Sikap jiwa masyarakat seperti ini seringkali dapaat ditempa melalui dialog atau celoteh yang penuh dialektika dan dinamis, di antaranya di surau dan di lapau di Minangkabau, masa laloe. ***
[1] Di dalam buku “Webster`s New World Dictionary” dijelaskan bahwa kata asimilasi berasal dari kata “assmilatus” (Latin), yang berarrti “to take up and make part of itself, or in self” atau sebagai “absorb and incorporate” dan sebagai “digest” (mengambil dan menciptakan unsur menjadi sebagian dari unsur lain, atau meresapkan lagi mempersatukan atau memcernakan), dalam Webster`s, New World Dictionary of the American Language, Encyclopedie, Edition I,
[2] E.Pino dan T.Wittermans dalam Kamusnya juga menulis arti asimilasi dengan “pencernaan, persamaan dan pemesraan”, (E.Pino and T.Wittermans, English-Indonesian Dictionary, J.B.Wolters, Jakarta). Demikian pula dalam Kamus Indonesia Kecik susunan K.St.Harahap mengatakan asimilasi sebagai “pemesraan” (E.St.Harahap, Kamus Indonesia Ketjik, IBOCO, Jakarta).
[3] W.J.S.Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta 1985, hal.676
[4] Drs.Sidi Gazalba, Mesjid Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam, Pustaka Antara, Jakarta.
[5] Jaka, Ringkasan Ilmu Mendidik 1, Mutiara, Jakarta, 1953, hal,42;
[6] Drs.Mohd.Sjafaat, Mengapa Anda Beragama Islam, Wijaya, Jakarta, hal.2;
[7] Al-Quran, Surat An Nisa`, ayat 146, dan Hadist, Riwayat Muslim;
[8] Dalam bahasa Indonesia, “kanan jalan ke Kurai, sesimpang jalan ke Ampek Angkek. Jika penghulu akan menjadi lantai, kalau berpijak jangan menjungkat (maknanya istiqamah). Adat teluk timbunan kapal, adat lurah timbunan air. Kalau bukit timbunan angin, biasa gunung timbunan kabut. Adat pemimpin tahan umpatan”. Hasil kesusateraan Minangkabau, yang mengungkapkan kerilaku pemimpin agar tidak cepat patah hati, selalu konsisten ini, dinyatakan bersajak dengan mengambil contoh kepada alam, sebagai satu kepercayaan yang kokoh terhadap sunnatullah.
[9] Drs.Sidi Gazalba, Tebaran Pikiran dalam Rangkaian Ketuhanan Yang Maha Esa, Penerbit Agus Salim, Jakarta, yang di dalamnya juga mengutip ucapan dari Prof.Dr.Sumantri Harjoprakoso, bahwa kepercayaan adalah factor pembentuk kejiwaan manusia.
[10] Mohammad Hatta, Kumpulan Karangan IV, Balai Buku Indonesia, Jakarta,
Diarsipkan di bawah: Adat istiadat, Bahasa Minang, Buya Masoed Abidin, Uncategorized
BARIH BALABEH MINANGKABAU
Oleh : H Mas’oed Abidin
Barieh (barih) artinya garis, atau baris
Kata-kata “barieh” di antaranya kita temui di dalam kata petatah yang berbunyi, “nan ba barih nan ba paek” atau “tibo di barih makan paek“, artinya yang di garis yang dipahat, atau tepat pada garis makankan pahat.
Ungkapan ini bermakna melakukan sesuatu sesuai dengan aturan, sesuai dengan acuan, sesuai dengan garisnya.

Umi dan Buya
Barieh balabeh Minangkabau
- sanitiak tiado hilang – sabarih bapantang lipua – nan salilik gunuang Marapi – sa edaran Sago jo Singgalang – salingka Talang jo Kurinci – sampai kalauik nan sabideh – warih nan samo kito jawek – kato pusako nan diganggam – ka ateh ta ambun jantan – kabawah ta kasik bulan – niniak moyang punyo hulayaik – hak nyato bapunyo – ganggam nyato ba untuak
- salaruik salamo nangko – namo nyo kito urang minang – dek ketek kurang pangana – lah gadang aka pailang – jalanlah dialiah urang lalu – cupak dipapek rang panggaleh – dek elok kilek loyang datang – intan tasangko kilek kaco – disangko bulek daun nipah – kiro nyo picak ba pasagi – diliek lipek ndak barubah – dikambang tabuak tiok ragi
- pado wakatu iko kini – lalok sakalok ba rasian – pikia nan palito hati – nanang nan baribu aka – dalam tanang bana mandatang – paham tibo aka baranti – bana lah timbua sandiri nyo – asah kamudi disamoan – jikok padoman dibatua an – samo mancinto ka nan baiak – kok indak tajajak tanah tapi – indak kudaraik dari kito – hanyo kuaso dari tuhan – sasek suruik talangkah kumbali – pulang nyo ka balabeh juo – baitu adaik nan bapakai
- kok sasek diujuang jalan – ba baliak ka pangka jalan – kito pilin aka nan tigo – suatu nan jahia janyo aka – kaduo mustahia janyo aka – katigo nan wajib janyo aka – baiyo iyo jo adi – ba tido tido jo kako – barundiang jo niniak mamak – sarato nan tuo cadiak pandai – langkok jo imam jo tuangku – nan mudo arih budiman -bundo kanduang samo di dalam – asah lai duduak jo mupakaik – nak dapek bulek nan sagoloang – nak buliah picak nan salayang – saukua kito nan basamo – kito babaliak ba nagari.
Melah nyo barih dek pangulu
Nan mudo utang mamakai
Kok lah janiah aia di ulu
Tando muaro kasalasai
Diarsipkan di bawah: ABS-SBK, Adat istiadat, Bahasa Minang, Buya Masoed Abidin, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Pemerintahan Nagari, Pemimpin, Pergaulan, Suluah Bendang di Nagari, Sumatera Barat, Tatanan Masyarakat
Kasuri Tuladan Kain, Kacupak Tuladan Batuang
Falsafah Pakaian Pangulu
Untua Dipakai Hiduik Banagari
Sakapua Siriah, Pengantar kata
Kaganti siriah nan sakapua –
umpamo rokok nan sabatang –
tacinto bajawek tangan –
jo diri dunsanak nan basamo –
kok untuang pambari Allah –
kasuri tuladan kain –
kacupak taladan batuang –
Akan ganti sekapur sirih, umpama rokok yang sebatang, maksud hendak berjabatan tangan, dengan masing-masing diri dunsanak bersama Jika ada untung pemberian Allah, akan menjadi suri teladan kain, menjadi cupak teladan acuan bersama.
Tulisan nan ambo buekko –
sabab ba alah dek baitu –
aluran badan diri ambo –
tantangan tulih manulih –
aka singkek pandapek kurang –
ilimu di tuhan tasimpan nyo –
tapi samantangpun baitu –
bapalun paham nan haluih –
dek ujuik manantang bana –
jan kalah sabalun parang –
dipabulek hati nurani –
untuang tasarah bagian –
walau ka angok angok ikan –
bogo ka nyawo nyawo patuang –
patah kapak batungkek paruah –
namun nan niaik dalam hati –
mungkasuik tatap basampaian –
Jika di ungkapkan dalam bahasa Indonesia, isinya kira-kira sebagai berikut ; (Tulisan yang hamba bikin ini, sebab karenanya, setentang badan diri, sehubungan tulis menulis, akal masih pendek dan pendapat masih kurang, ilmu di Tuhan tersimpannya. Tapi, sungguhpun demikian, bersimpul keinginan yang halus, karena ingin mengujudkan yang benar, agar jangan kalah sebelum perang, di bulatkan hati nurani, untuang terserah pada bagian (nasib), walau sangat susak sebagai ikan bernafas, walau dalam keadaan sulit bernafas sekalipun, patah sayap bertongkat paruh, namun yang tersirat di dalam hati, maksud tetap akan disampaikan).
Dalam ungkapan bahasa budaya Minangkabau ini, tampak jelas bahwa ada ada pengakuan dan sekaligus rasa tawadhu’ atau tidak menyombongkan diri, bahwa sebagai manusia ilmu tetap kurang. Yang maha berilmu itu hanya Allah semata sebagai di ungkapkan “aka singkek pandapek kurang – ilimu di tuhan tasimpan nyo – artinya, akal masih pendek dan pendapat masih kurang, ilmu di Tuhan tersimpannya.”
Pengakuan terhadap kekurangan diri ini menjadikan seseorang tetap berupaya untuk maju. Dorongan untuk berbuat lebih baik itu, terungkap di dalam kalimat “tapi samantangpun baitu – bapalun paham nan haluih – dek ujuik manantang bana – jan kalah sabalun parang – jan kalah sabalun parang – dipabulek hati nurani – untuang tasarah bagian –.
Maknanya sungguhpun banyak kekuarangan dan keterbatasan yang dipunyai, ada bersimpul keinginan yang halus yang ternukil dalam nurani, karena ingin mengujudkan yang benar, agar jangan kalah sebelum perang, di bulatkan hati nurani, untung terserah pada bagian (nasib)”.
Di sini kita lihat ada pemahaman dan tekad yang bulat hendak meraih keberhasilan mesti diikuti oleh tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kesadaran akan kekurangan diri, manakala memiliki tekad kuat di dalam hati, diiringi dengan usaha sekuat tenaga untuk meujudkan keinginan hati tersebut, serta dipandu oleh tawakkal kepada Allah, adalah modal utama untuk maju.
Di sini terletak nilai kearifan lokal Minangkabau, agar setiap generasi itu memikili cita-cita tinggi, rajin bekerja, dan bertawakkal kepada Allah.
Di cubo juo bagulambek –
hanyo harapan dari ambo –
kapado dunsanak bakuliliang –
kok basuo kalimaik nan ndak jaleh –
titiak jo koma nan salah latak –
usah dicacek langkah sumbang –
sabab baitu kato ambo –
dalam diri ambolah yakin –
sadonyo dunsanak nan datangko –
tantu bakandak tabu nan manih –
kok tabu tibarau tasuo –
itu nan ado diambo –
pado manjadi upek puji –
jan jatuah dihimpok janjang –
nak jan mambarek ka akiraik –
ambo nak mintak di ma’afkan.
Indonesianya (Dicoba pelan-pelan berangsur-angsur, menjadi harapan dari hamba, kepada dunsanak sekeliling, jika bertemu kalimat yang tidak jelas, titik dan koma salah letak, janganlah di cari langkah yang sumbang letaknya. Sebab demikian harapan hamba, dalam diri hamba ada keyakinan, bahwa semua dunsanak yang datang ini, tentu semua berkehendak tebu yang manis. Kalau tebu tibarau, yang tersua, karena itulah yang ada pada hamba. Daripada menjadi umpat puji, agar jangan jatuh ditimpa tangga, agar jangan memberati di akhirat, hamba lebih dahulu hendak meminta dimaafkan).
Dalam bertutur kata ada kaidah di Minangkabau “bakato di bawah-bawah”yang mengandung makna ada keharusan tidak boleh membanggakan diri.
Kearifan ini adalah termasuk ajaran syarak, yaitu “kullu dzi ‘ilmin ‘alimun” artinya setiap yang berilmu, masih ada yang lebih berilmu.
Dalam ungkapan keseharian kini disebutkan, di atas langit masih ada langit.
Takabur dan menyombongkan diri satu sikap tercela di dalam tata pergaulan Masyarakat Adat.
Sikap tawadhu’ atau tidak menyombongkan diri itu, terlihat dari cara berucap dan menyampaikan maksud tujuan. Di sini kita melihat kekuatan kata di Minangkabau itu.
Seperti di ungkapkan di atas, kita belum tentu dapat memenuhi kehendak semua orang. Walau semua orang yang datang mengharapkan sesuatu yang menyenangkan dan memuaskan hatinya.
Seperti di ungkapan “sadonyo dunsanak nan datangko – tantu bakandak tabu nan manih” – Adalah satu keniscayaan bahwa semua semua berkehendak tebu yang manis.
Namun dalam realita kehidupan, tidak semuanya manis. Ada juga yang hambar tidak berasa. Di sinilah terletak kearifan itu, bahwa “ kok tabu tibarau tasuo – itu nan ado diambo –. Kalau tebu tibarau, yang tersua, karena itulah yang ada pada hamba.
Agar tida terjadi umpatan, yang dapat berakibat kepada putusnya hubungan atau rusaknya kekeluargaan dan kekerabatan, maka rela dan maaf sangat diperlukan.
Umumnya orang akan memulai pembicaraannya dengan kalimat seperti di ungkapan ini, “pado manjadi upek puji – jan jatuah dihimpok janjang – nak jan mambarek ka akiraik – ambo nak mintak di ma’afkan”. Kemaafan berkaitan dengan kebahagiaan di dunia, karena hubungan silaturahim tetap baik, dan di akhirat juga mendapatkan pahala. Kalimat ini, menjadi bukti bahwa di dalam bertutur kata, orang Minangkabau tidak semata memikirkan wujud duniawi semata, tapi juga berfikir untuk kehidupan akhiratnya.
”
Barieh balabeh minangkabau – sanitiak tiado hilang – sabarih bapantang lipua – nan salilik gunuang Marapi – sa edaran Sago jo Singgalang – salingka Talang jo Kurinci – sampai kalauik nan sabideh – warih nan samo kito jawek – kato pusako nan diganggam – ka ateh ta ambun jantan – kabawah ta kasik bulan – niniak moyang punyo hulayaik – hak nyato bapunyo – ganggam nyato ba untuak – salaruik salamo nangko – namo nyo kito urang minang – dek ketek kurang pangana – lah gadang aka pailang – jalanlah dialiah urang lalu – cupak dipapek rang panggaleh – dek elok kilek loyang datang – intan tasangko kilek kaco – disangko bulek daun nipah – kiro nyo picak ba pasagi – diliek lipek ndak barubah - dikambang tabuak tiok ragi – pado wakatu iko kini – lalok sakalok ba rasian – pikia nan palito hati – nanang nan baribu aka – dalam tanang bana mandatang – paham tibo aka baranti – bana lah timbua sandiri nyo – asah kamudi disamoan – jikok padoman dibatua an – samo mancinto ka nan baiak – kok indak tajajak tanah tapi – indak kudaraik dari kito – hanyo kuaso dari tuhan – sasek suruik talangkah kumbali – pulang nyo ka balabeh juo – baitu adaik nan bapakai – kok sasek diujuang jalan – ba baliak ka pangka jalan – kito pilin aka nan tigo – suatu nan jahia janyo aka – kaduo mustahia janyo aka – katigo nan wajib janyo aka – baiyo iyo jo adi – ba tido tido jo kako – barundiang jo niniak mamak – sarato nan tuo cadiak pandai – langkok jo imam jo tuangku – nan mudo arih budiman -bundo kanduang samo di dalam – asah lai duduak jo mupakaik – nak dapek bulek nan sagoloang – nak buliah picak nan salayang – saukua kito nan basamo – kito babaliak ba nagari.
Melah nyo barih dek pangulu
Nan mudo utang mamakai
Kok lah janiah aia di ulu
Tando muaro kasalasai
Manuruik pitua minangkabau – kalau rang mudo tanah minang – tantu sajo tabagi duo – nan partamo namo nyo anak bujang – nan kaduo namo nyo anak gadih – kalau di gabuang kaduonyo – jo caro bahaso ibu – sabutan nyo uda jo uni – surang bujang nan surang gadih – imbauan sarupo itu – bapakai sajak lahia kadunia – sampai kapado nyo lah kawin – kutiko lubuak alah bapancang – nan padang alah barajok – nan bujang lai pai ka rumah urang – nan gadih lah naiak rang sumando – kalau nan sipaik anak bujang – paliang indak tabagi tigo – partamo bujang Parisau – nan kaduo bujang Pangusau – nan katigo bujang Pusako – buliah dipiliah salah satu – bujang nan ma kakito pakai. Kalau nan untuak anak gadih – buliah dibagi tigo pulo – nan partamo gadih Alang alang – nan kaduo gadih Bungo malua – nan katigo gadih Bungo cangkeh – kok dicaliak mamangan minangkabau – nan tapakai di anak gadih – mancaliak batihnyo sajo lai sulik – apo lai mancaliak muko – kok diambiak arati kato – gadih pusako tanah minang – tasimpan di kasah rumin – nan diam di ateh anjuang – umpamo padi ranik jintan – nan tumbuah dilereang bukik – sacotok usah dek ayam – satangkai usah dek pipik – pandai manjaik manarawang – kok tanun nan inyo kacak – sarik lah kain tabangkalai – kok dicaliak masak kamasak – lah cukuik sadonyo ragam gulai – jokok dicaliak salampih lai – di zaman maso saisuak – niniak mamak mambuek rumah – asah banamo rumah gadang – labiah banyak marusuak jalan – kok indak mambalakang bana – ka jalan gadang nan lah ado – indak sarupo maso kini – dicaliak urang mambuek rumah – basasak an katapi jalan – dek sabab karano itu. Dicaliak ma’ana kato – dirunuik kato nan tadi – anak gadih di minangkabau – indak buliah manjadi cover - samisa iyasan sampul majalah – nan banyak kito caliak kini – sabab ba alah dek baitu – padusi di minang kabau – nan di imbau jo bundokanduang – bamulia an sapanjang adaik – lah rintang duduak jo sukatan – dek sabutan untuak baliau – ambun puro ganggaman kunci – kok harato lah tibo ateh rumah – padi lah naiak kateh lumbuang – kunci baliau nan mamacik – pasak baliau nan mangungkuang – pandai mambagi samo banyak – bijak manimbang samo barek – mahia maukua samo panjang – walau dicaliak maso kini – dek laku satangah niniak mamak – bakato kareh tiok hari – ma hariak ma antam tanah – batampuak buliah nyo jinjiang – batali buliah nyo irik – buliah nyo itam nyo putiahan – bulek sagolek kato inyo – dek sabab karano itu – lah banyak sawah nan tagadai – baiak tasando jo tajua – lah tandeh sawah jo ladang – gurun caia taruko tandeh – itu pulo pangka bala nyo – lah banyak padusi nan marasai – langkah lah banyak nan takabek – nan indak untuak nan nyo tariak – nan indak baban nan inyo pikua – lah pai manjawek upah – baiak manumbuak jamua urang – atau pai basiang parak – ado nan pai batanam – komah lah samo kito caliak – dek harato lah licin tandeh – kutiko badan lah gaek – pai ma unyi panti jompo – anak indaklo ma acuahan – kok lai juo bapusako – tantu indak co itu bana.
Sabuah lai nan takana – ka uda jo uni maso kini – falsafah pakaian lah nyo tuka – nan lai manuruik adaik – falsafah pakaian minangkabau – pakaian palampok tubuah – pakaian pandindiang tubuah – pakaian panutuik malu – pakaian panutuik auraik – kok pakaian palampok tubuah – tantu lah bisa kito caliak – apobilo barang nan dilampok – jaleh ndak bisa kito caliak – dari subaliak nan malampok – kok pakaian pandindiang tubuah – tantu sajo baitu pulo – barang nan kito dindiang – lah jaleh indak kanampak – dari baliak nan mandindiang – kok pakaian panutuik malu – nan kamambuek kito malu – paralu ditutuik rancak rancak – agak saketek buliah mewah – nak tatutuik malu dari kaum – indak kamungkin do raso nyo – kalau kito pai baralek – jo pakaian nan alah cabiak – kaum kito sato dapek malu – tapi kini dek uni jo uda – guno pakaian pambungkuih tubuah – lah bisa kito bayangan – kalau barang nan kito bungkuih – lah jaleh samo bantuak nyo – jo bantuak bungkuih nan dilua – kok dapek uni jo uda – nan ado diranah minang – ijan tabao rendoang pulo – nan sasuai jo bunyi pantun.
Barakik rakik ka hulu
Baranang ranang katapian
Basakik sakik daulu
Basanang sanang kamudian
Elok nagari dek pangulu
Rancak nyo kampuang dek nan tuo
Elok musajik dek tuanku
Rancak tapian dek nan mudo
Falsafah Pakaian Pangulu Dalam Pantun Adaik
Saluak :
Takanak saluak palangai
Bayangan isi dalam kulik
Panjang ndak dapek kito ukua
– Nan sipaik baliau cadiak pandai
– Walau batenggang di nan rumik
– Bapantang langkah ka talanjua
Leba ndak dapek kito bidai
Tiok karuik aka manjala
Tiok katuak budi marangkak
– Jadi pangulu kok lai pandai
– Pandai bacupak di nan data
– Indak namuah bakisa tagak
Dalam lilik baundang-undang
Salilik lingkaran kaniang
Ikek santuang dikapalo
– Kalau nyo langkah nan lah sumbang
– Tando nyo paham lah bapaliang
– Dunia akiraik kabinaso
Tampuak dek paham tiok lipek
Lebanyo pandindiang kampuang
Panjang pandukuang anak kamanakan
– Suko pangasiah ka nan ketek
– Batu ketek acok manaruang
– Ukua lah langkah ka bajalan
Hamparan rumah nan gadang
Paraok gonjoang nan ampek
Payuang panji marawa basa
– Kok tumbuah bana basilang
– Kok datang sudi jo siasek
– Indak bakisa di nan bana
Tampek bataduah kahujanan
Tampek balinduang kapanasan
Iyo dek anak kamanakan
– Tibo dimato indak bapiciangan
– Tibo diparuik indak bakampihan
– Nan bana samo ditagak-an
Nan sapayuang sapatagak
Dibawah payuang dilingkuang cupak
Manjala masuak nagari
– Tapijak dibaro hitam tapak
– Tapijak didarah sirah tapak
– Warih nan samo dironggohi
Kapa-i tampek batanyo
Kapulang bakeh babarito
Kusuik nan kamanyalasai
– Walau ba-a coba an tibo
– Baiman taguah didado
– Bapantang kusuik ndak salasai
Karuah nan kamanjaniahi
Hukum adia katonyo bana
Sapakaik warih mandiri-an
– Nak aman koto jo nagari
– Lahia jo batin jan batuka
– Indak manampuah rusuak jalan
Baju :
Babaju hitam gadang langan
Langan tasenseang ndak pambangih
Pa apuih miang dalam kampuang
– Kalau mambimbiang kamanakan
– Mamahek jan dilua garih
– Nak jan bacacek dalam kampuang
Pangipeh hangek nak nyo dingin
Siba batanti baliak balah
Baturap jo banang makau
– Indak bakucak lahia batin
– Kok tasuo gadang baralah
– Ukua jo jangko ndak talampau
Basuji jo banang ameh
Panutuik jahik pangka langan
Tando mambuhua ndak mambuku
– Pangulu kok lai tangkeh
– Tantu santoso kamanakan
– Nagari nan indak dapek malu
Langan balilik suok kida
Basisiak makau ka amasan
Gadang basalo jo nan ketek
– Pangulu paham kok caia
– Uleh jo buhua kok mangasan
– Bak kayu lungga pangabek
Tando rang gadang bapangiriang
Tagak ba apuang jo aturan
Ba ukua jangko jo jangkau
– Tagak pangulu kok bapaliang
– Unjuak kok indak babarian
– Pantangan adaik Minangkabau
Unjuak ba agak ba inggoan
Lihia nyo lapeh ndak bakatuak
Babalah sa hinggo dado
– Indak namuah bapangku tangan
– Walau kurang dapek ditukuak
– Taserak dikampuangan nyo
Rang gadang alam nyo leba
Rang cadiak padang nyo lapang
Indak karuah aia dek ikan
– Indak bakisa di nan bana
– Walau ba a coba an datang
– Bapantang guyah sandi iman
Indak rusak gunuang dek kabuik
Paik manih pandai malulua
– Jan takuik ma elo suruik
– Kalau nyo langkah lah talanjua
Tagang nyo bajelo-jelo
Kanduanyo badantiang-dantiang
Hati lapang paham saleso
Pasiah lidah pandai barundiang
Sarawa :
Sarawa hitam gadang kaki
Kapanuruik labuah nan luruih
Panampuah jalan nan pasa
– Nan sipaik pangulu di nagari
– Malu kok indak katahapuih
– Tando nyo budi lah tajua
Kadalam koroang jo kampuang
Sampai ka koto jo nagari
Langkah salangkah baliak suruik
– Tagak pangulu kok nyo tangguang
– Tando bamain aka budi
– Bak gunuang dilampok kabuik
Pado pai suruik nan labiah
Langkah salasai baukuran
Ma agak kuku jan tataruang
– Pakai lah paham tulak raiah
– Simpai nan taguah diganggaman
– Itu pitua bundokanduang
Mangko sarawa kain hitam
Paham hakikaik tahan tapo
Manahan sudi jo siasek
– Buruak baiak pandai mangganggam
– Ba iman taguah didado
– Curiang barih dapek diliek
Mananti bandiang kok tibo
Kumuah bapantang kalihatan
– Tando nyo kapa banankodo
– Mangko nyo turun kalautan
Walau sagadang bijo bayam
Jadi pantangan salamonyo
– Saciok bak anak ayam
– Tandonyo pangulu lah sakato
Sisampiang :
Basisampiang sahinggo lutuik
Kayo jo mikin alamaik nyo
Patuik dalam ndak buliah senteang
– Malu kok indak katatutuik
– Ka runtuah adaik jo pusako
– Lah ilang ereang jo gendeang
Kok senteang ndak buliah dalam
Mungkin jo patuik ka ukuran
Lakeknyo impik kakida
– Cadiak pandai kok ndak bapaham
– Budi kok nyampang kalihatan
– Jadi sampik alam nan leba
Satantang jo ampu kaki
Tandonyo lurih batujuan
Suduik seroang manikam jajak
– Tando nyo kito lai babudi
– Kok tumbuah silang jo bantahan
– Pandai manimbang jo manggamak
Langkah bak cando bapatingkek
Alam satapak bakeh diam
– Kok bak kayu lungga pangabek
– Kamanakan ka andam karam
Alun bakilek alah takalam
Bulan disangko tigo puluah
–Alun diliyek lah tapaham
–Lah tantu tampek bakeh tumbuah
Cawek :
Caweknyo suto bajumbaian
Jumbai nan tangah tigo tampok
Kapalilik anak kamanakan
– Walau bak mano pasakitan
– Nan buruak samo dipaelok
– Taserak namuah mangampuangan
Kapangabek sako jo sangsako
Nak kokoh lua jo dalam
Guyahnyo bapantang tangga
– Paham guyah iman ndak ado
– Ibaraik bajalan di nan kalam
– Tando nyo budi lah tajua
Kokohnyo murah diungkai
Kabek sabaliak buhua sentak
– Jadi pangulu kok ndak pandai
– Dalam aia jajak lah nampak
Rapek nagari nak ma ungkai
Tibo nan punyo tangga sajo
Rasio buhua dek pangulu
– Nan bak katidiang rarak bingkai
– Tangga ciek larak sado nyo
– Pantangannyo bana dek pangulu
Karih :
Tasisik karih di pinggang
Sisik nyo tanaman tabu
Latak nyo condoang kakida
– Kalau lah tagak mangupalang
– Runuik lah kato nan daulu
– Muluik jo hati jan batuka
Dikesoang mangko dicabuik
Gambonyo tumpuan puntiang
Tunangan ulu kayu kamaik
– Jan takuik maelo suruik
– Dalam bulek usah basandiang
– Bogo kamati dalam niaik
Kokohnyo indak dek ambalau
Guyahnyo bapantang tangga
Tagoknyo murah dicabuik
– Kalau nan adaik minangkabau
– Asah bacupak di nan data
– Malu kasamo kito japuik
Bengkok nan tangah tigo patah
Luruihnyo manahan tiliak
Bantuak dimakan siku-siku
– Nyampang ratak mambao pacah
– Batin tasimpan jan tabatiak
– Runuik lah paham jo ilimu
Raso nan dibawo naiak
Pareso nan dibawo turun
Alua patuik jalan batampuah
– Batin tasimpan kok tabatiak
– Alua patuik sinan bahimpun
– Pasak kungkuang paham nan taguah
Bamato baliak batimba
Sanyawa pulo jo gombanyo
Tajam nan indak mangalupang
– Kalau barasak dinan bana
– Suok kida badai manimpo
– Tando nyo langkah nan lah sumbang
Kok tajam indak maluko-i
Jajak ditikam kanai juo
– Nan salah samo di ubahi
– Pulang nyo kabalabeh juo
Alah bakarih samporono
Pakirin rajo majopahik
–Tuah basabab bakarano
–Pandai batenggang di nan rumik
Tarompa :
Takanak tarompa kulik kalaf
Kapananai sangsako nak nyo tagok
Sako nak tatap jo enggeran
– Bogo manusia basipaik kilaf
– Nan buruak samo dipaelok
– Usah manguntiang dilipatan
Kapanuruik labuah nan goloang
Panampuah jalan nan pasa
Sampai ka koto jo nagari
– Walau didunia toloang manoloang
– Usah barasak di nan bana
– Pado tacemo dinagari
Panuruik anak kamanakan
Mancaliak parik nan ta-ampa
Adokoh rando dapek malu
– Nyampang tatampuah di nan bukan
– Tando nyo budi lah tajua
– Babaliak ka kato nan daulu
Kok jauah kamancaliak-caliak
Jikok ampiang manyilau-nyilau
Jikok malam danga-danga an
– Kok lai mancinto ka nan baiak
– Indak baniaik nak mangacau
– Samo mancari ridha tuhan
Bajalan ba aleh tapak
Malenggang babuah tangan
Manuruik adaik jo limbago
– Bogo kamalah ka di asak
– Kato bana jadi padoman
– Baitu adaik nan biaso
Tungkek :
Tungkeknyo dari kayu kamaik
Ujuang tanduak kapalo perak
Kapanupang sako jo sangsako
– Walau kamati dalam niaik
– Indak namuah bakisa tagak
– Itu pakaian salamonyo
Kapanahan sako nak jan rabah
Panueh sangsako nak jan lipua
Sako nak tatap jo enggeran
– Jiko tapijak di nan salah
– Tando nyo langkah lah talanjua
– Bak rumah gadang katirihan
Ingek samantaro balun kanai
Kulimek sabalun habih
– Walau tatungkuik tagulampai
– Nan miang samo kito kikih
Malantai sabalun lapuak
Maminteh sabalun hanyuik
– Kok nyampang bakisa duduak
– Kato nan bana ka disabuik
Gantang tatagak jo lanjuangnyo
Sumpik tatagak jo isinyo
Adaik tatagak jo limbago
– Kok nyampang paham basangketo
– Nak jan tumbuah cacek binaso
– Cari lah ujuang jo pangka nyo
Adaik nan batalago buek
Cupak nan tarang samato
Taga dek sipaik nan badiri
– Warih nan samo kito jawek
– Pusako samo ditarimo
– Baitu adaik nan usali
Undang Duo Puluah :
Undang undang nan duo puluah
Yaitu tabagi duo
–Mintak didanga sungguah sungguah
–Nak dapek paham ma’ananyo
Duo baleh untuak panuduah
Salapan untuak pancemo
–Hiduik didunia kok ndak sungguah
–Di akiraik antah bak mano
Anggang lalu atah pun jatuah
Pulang pagi babasah basah
–Pangulu kok lai satubuah
–Tantu rakyaik jadi sabingkah
Bajalan bagageh gageh
Bajua bamurah bamurah
–Tungganai nagari kok lai tangkeh
–Gunuang nan tinggi jadi randah
Talacuik tapakuak mati
Talalah takaja pulo
–Nan mudo kok lai barani
–Mungkasuik sampai kasadonyo
Putuih tali ditangah jalan
Batimbang kato dek manjawok
–Alim ulama kok sapaham
–Apo dibuek jadi tagok
Tacancang bariang lah luko
Tabayang batubuah nampak
–Pangulu kok lai sakato
–Manuruik rakyaik nan banyak
Kacondoangan mato rang banyak
Tibo pikek langau tabao
–Parik paga kok lai bijak
–Nagari aman jo santoso
Itulah undang duo baleh
Nak samo kito mamahami
–Pakailah rundiang nan bakieh
–Kito tapuji dinagari
Kok hanyo undang nan salapan
Mari nak samo kito liek
–Nak jan tatampuah di nan bukan
–Salah tampuah buliah di ambek
Dago dagi mambari malu
Sumbang salah laku parangai
–Tapati kato nan daulu
–Mangkonyo kusuik kasalasai
Maliang curi ka liang lantai
Tikam bunuah padang badarah
–Walau tatungkuik tagulampai
–Usah bakisa di nan bana
Sia baka sapotoang suluah
Upeh racun tabang basayok
–Bogo hancua bogo kaluluah
–Nan buruak samo dipaelok
Samun saka tagak dibateh
Umbuak umbi budi marangkak
–Suok kida ombak ma ampeh
–Usah bakisa tampek tagak
Itulah undang nan salapan
Nak samo kito mamahami
–Kunci lah biliak kaimanan
–Nak jan tacemo dinagari
Falsafah Pakaian Bundo Kanduang
Tingkuluak :
Takanak tingkuluak dikapalo
Bantuak lahia bayangan isi
Panjang ndak dapek kito ukua
Leba ndak dapek kito bidai
Tiok lipek akak manjala
Tiok katuak budi marangkak
Gonjoang ateh baliak batimba
Lambang nareco bayang adaik
Adaik nan basandi syarak
Syarak nan basandi kitabullah
Walau kabek buliah dibukak
Nan buhua ndak buliah guyah
Ujuangnyo duo bajumbai
Sajumbai dimuko kaniang
Jadi sumandan dalam kampuang
Sajumbai jatuah kabalakang
Panampin niniak jo mamak
Salilik lingkaran kaniang
Ikek santuang dikapalo
Tampuak dek paham tiok lipek
Lebanyo pandindiang kampuang
Panjang pandukuang anak katurunan
Hamparan rumah nan gadang
Paraok gonjoang nan ampek
Bakeh bataduah kahujanan
Bakeh balinduang kapanasan
Iyo dek anak katurunan
Nan sapayuang sapatagak
Dibawah payuang lingkungan cupak
Manjala masuak nagari
Kapai tampek batanyo
Kapulang tampek babarito
Kusuik nan ka manyalasai
Karuah nan kamanyaniahi
Hukum adia katonyo bana
Sapakaik warih mandiri an
Baju :
Babaju kuruang gadang langan
Pa apuih miang dalam kampuang
Pa ngipeh angek nak nyo dingin
Siba batanti timba baliak
Batabua perak ba ukia
Baturap jo banang ameh
Basuji jo banang makau
Panutuik jahik pangka langan
Tando mambuhua ndak mambuku
Ma uleh indak mangasan
Langan balilik suok kida
Basisiak makau ka amasan
Gadang basalo jo nan ketek
Tandonyo bundo bapangiriang
Tagak ba apuang jo aturan
Ba ukua jangko jo jangkau
Unjuak ba agak bainggokan
Lihianyo lapeh tak bakatuak
Babalah sahinggo dado
Bundo kanduang alamnyo leba
Bundo kanduang padangnyo lapang
Ndak kruah aia dek ikan
Ndak rusak gunung dek kabuik
Pahik manih pandai malulua
Dukuah :
Takanak dukuah dilihia
Dukuah pinyaram bungo inai
Bagalang salingkaran tangan
Ba cincin sa ukuran jari
Tumpuan subang ka talingo
Tumpuan canggai ka kalingkiang
Alua patuik sinan bahimpun
Latakan suatu di tampeknyo
Didalam cupak jo gantang
Ma hawai jan sapanjang tangan
Unjuak ba agak bahinggokan
Kalau malabiahi ancak ancak
Jikok manurangi sio sio
Kokdek :
Bakodek kain balambak
Ba ukia ba mego mego
Ukia basalo pucuak rabuang
Kaluak paku galuang galuangan
Aka cino jangkau jangkau an
Saiak ajik mamacah ragi
Dibawah itiak pulang patang
Basalo jo bada mudiak
Di tangah bungo kiambang
Dalamnyo diateh tumik
Patuik dalam ndak buliah senteang
Kok senteang tak buliah dalam
Mungkin jo patuik ka ukuran
Lakeknyo impik ka kida
Tandonyo luruih batujuan
Suduik seroang manikan jajak
Langkah bak cando bapatingkek
Alam satapak bakeh diam
Mamakai raso jo pareso
Raso nan dibawo naiak
Pareso nan dibawo turun
Alua patuik jalan ditampuah
Bajalan si ganjua lalai
Pado pai suruik nan labiah
Samuik tapijak indak mati
Alu tataruang patah tigo
Tibo di lasuang ramuak rampak
Alun bakilek lah bakalam
Bulan disangko tigo puluah
Alun diliek lah tapaham
Lah tantu tampek tumbuah
Salempang :
Salempang suto bajumbaian
Panjangnyo tangah tigo kaco
Bajumbai perak baukia
Baukia bapucuak rabuang
Basuji jo banang ameh
Baturap jo banang makau
Pucuak paku galuang galuangan
Aka cino jangkau jangkauan
Kapalilik anak kamanakan
Pangabek sako jo pusako
Nak kokoh lua jo dalam
Kabek sabalik buhua sentak
Rapek nagari nak maungkai
Tibo nan punyo tangga sajo
Tarompa :
Takanak tarompa kulik kalaf
Kapananai sako jo sangsako
Kapanuruik labuah nan luruih
Panampuah jalan nan pasa
Baiak ka dalam koroang kampuang
Sampai ka koto jo nagari
Bajalan ba aleh tapak
Malenggang babuah tangan
Malangkah jan salelo kaki
Ma agak kuku jan tataruang
Ingek sabalun kanai
Kulimek sabalun habih
Maminteh sabalun hanyuik
Malantai sabalun lapuak
Padang, Juni 2007.
Maaf alun sudah
Alun dikoreksi.
Adaik nan Sabana Adaik
- Adalah kaedah alam, sifatnya sudah “given” tidak berubah sepanjang masa – sebagai rahmat dari Allah Yang Maha Kuasa –, yang disebut dalam istilah hokum “ indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan “, inilah yang disebut “Sunnatullah”, yaitu ketentuan Allah Pencipta Alam semesta, yang telah diterima oleh manusia secara menyeluruh (universal), yang dalam istilah ilmu disebut “fenomena alam”.
- Dipakai sebagai timbangan asli (cupak usali) karena begitulah sifat alam (manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, air, tanah, api, angin) diciptakan oleh Allah SWT. Sifat ini tidak akan berubah, dalam tubuh manusia/hewan/tumbuhan dibawa oleh “gen” yang berupa struktur RNA dan DNA yang nyatanya tidak sama pada setiap individu.
- Cupak usali dalam bahasa hokum disebut yurisprudensi, yaitu pedoman untuk memepat atau menorah cupak buatan (yakni hokum yang di buat oleh manusia), yang oleh kita dikenal selama ini dengan istilah “alam takambang jadi guru”, dalam bahasa filsafat ilmu disebut “analogi”, pengungkapannya dilafatkan dalam pahatan “kato” (yaitu kalimat pendek yang luas maknanya), itulah “kato dahulu”, nilainya berada pada domein hakikat.
Diarsipkan di bawah: ABS-SBK, Bahasa Minang, Buya Masoed Abidin, Kesatuan Bangsa, Masyarakat Adat, Minangkabau, Pergaulan, Pesan Rang Gaek, Suluah Bendang di Nagari, Sumatera Barat
Pasan Rang Gaek
Tau di nan ampek
Diulang-ulang baliek dek :
Buya H.Mas’oed Abidin
Di ranah bundo Minangkabau ko ado ampek macam kato-kato, atau caro manyampaikan parundiangan.
Ado namonyo kato mandaki, dari bawah ka ateh, aratinyo dari anak-anak ka urang tuo, dari kamanakan ka mamak, nan samustino mamakai caro-caro sopan santun.
Talabiah-labiah bakeh urang tuo (bapak mandeh) nan alah malahiakan kito, manggadangkan jo maaja awak.
Sasuai bana jo ajaran agamo Islam, kok mangecek ka mandeh nantun bapakaikan qaulan kariman, aratino kato-kato nan lamah lambuik, kato-kato nan panuah ka muliaan.
Ado pulo namono kato malereang, nan panuah ba isi kieh jo bandiang, baisi patunjuak jo pangaja, biasonyo di pakai dalam pambicaraan antaro urang arih bijaksano.
Ado lo tampek malatakkanno.
Indak hanyo sakadar mambaco apo nan tampak, tu.
Inyo indak mangecek apo nan takana, tapi labiah dahulu mangana-ngana apo nan ka di kecekkan.
Buah tutua nyo [anuah baisi hikmah pangaja.
Kadang-kadang batingkah jo pituah jo papatah.
Aluih tasamek di dalam bana, ta latak di dalam hati, sajuak di kiro-kiro.
Ado lo namono kato mandata, kato bajawab gayuang basambuik samo gadang.
Kadang baisi galuik jo garah, paningkah lamakno pagaulan.
Indak manyingguang suok kida, panguek buhua rang mudo-mudo, abih tingkah dalam garah, kato palanta dek rang saisuk, nan elok ka pangaja, nan buruak samo di tingga-an.
Ingek-maingekkan adaik hiduik dek nan mudo, indak mampabia kawan tatungkuik, indak manuhuak kawan sairing, indak mangguntiang dalam lipatan.
Baitu adaik samo gadang, disinan iduik mangkono sero.
Ado lo namono kato manurun.
Dari nan gadang ka nan ketek, baisi nasihaik jo pitunjuak, ka jadi padoman dek nan ketek.
Panuah ba isi kasih jo sayang, manjadi suri jo tauladan.
Jarang ba-isi kato bangih, jauh nan dari hariak jo berang, indak pulo mahantak kaki, jauh dari manampiak dado.
Baitulah, kalau kato nan ampek ko lai tatap jadi paratian kito, Insya Allah di dalam hiduik di dunia nan fana ko kito ka salamaik, dan di akiraik tantu kita ka bahagia pulo.
Salanjuikno kito bisa pulo maninggakan katurunan (genrerasi, kato rang kini) nan arih-bijaksano, nan bisa manjadi pamimpin di tangah-tangah kahidupan urang banyak.
Buruak sabuik di ranah bundo, kalau rang minang indak tau lai di nan ampek ko. Indak tau di nan bana, indak lo tau di nan salah. Indak tau di nan di suruah. Indak lo tau jo nan di tagah.
Alamaik sansaro badan jadino.
Urang nan bijaksano, hanyolah nan tau di alamaik maso lalu, tau di tujuan maso datang, tau di jalan nan sadang batampuah, tau lo di tampek parantian.
Baitulah handakno hiduik nangko.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala salalu mambimbiang kito kapado ka arifan nan alah di ajakan dek alam ta kambang nan jadi guru ko.
Insya Allah.
Diarsipkan di bawah: Adat istiadat, Bahasa Minang, Buya Masoed Abidin, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Pesan Rang Gaek, Sumatera Barat
Pituah Rang Gaek (5).
Hiduik ba-radaik jo ba-ugamo
Diulang-ulang baliek dek :
Buya H.Mas’oed Abidin
Indak salah urang tuo-tuo kita mangecek-an bahaso tando urang Minang tu baradaik, dan tando urang baradaik tu ba-agamo.
Memang sanyatonyo, sa jaek-jaek urang Minang tu lai kajadi indak mangarajokan syariat agak sakali, tapi kalau di ingekkan padonyo tantang iduik ko kamati, capek inyo babaliak ka nan baik.
Kecerdasan hati (raso) itu talatak pado duo hal nan sangaik jaleh.
Nan Paratamo, iyolah pandai “ba syukur nikmat”.
Taraso bahaso nan ado di tangan awak ko adolah pambarian (nikmat anugerah) dari Allah nan Maha Menjadikan kito. Indak mungkin kito sampai pado tingkek saroman kini ko kalau indak ateh izin dari Allah.
Karano tu sangat paralu bana kito mamaliharo apo nan kita punyo kiniko (apo itu kesehatan, ukatu nan baiak, kasampatan nan ado, harato nan kito punyo, umua nan tasiso kiniko) di pakaikan kapado nan sabana-bana di sukoi Nyo.
Insya Allah, kito kana bana janji Allah tuh, “lain syakartum la-azidan-nakum, wa lain kafartum, inna ‘adzaabi lasyadiid” aratino, “kalau lai pandai mansyukuri nikmaik Allah ka di tambah-tambah nikmaik tu, tapi kalau di kufuri (aratino di pagunokan ka pado nan indak di katujui), sungguah azab den (kato Allah) padiah sakali.
Sahubuangan jo ayaik Allah ko, ado pasan Rang Gaek awak,
ingek-ingek sabalum kanai, kulimek sabalun abih.
Sasa dahulu pandapatan, sasa kudian yo indak adoh kaguno-nyo.
Nan kaduo, adolah “sanggup atau bisa ba-saba”, atau kato urang kini adolah tabah, kuek pandirian, indak takuik dilamun ombak, pandai batenggang di nan susah, pandai bahemat kutiko lai, indak basipaik cando (sarupo) caciang kapanehan, indak pulo gaduak saroman kacang di abuih ciek, tahu pabilo masonyo galak, tau pulo bilo kutiko baranti manangih, dan indak laruik dek kaadaan.
Ado papatah urang tuo-tuo awak saisuak.
Bapadi si jintan-jintan, kok ujan kaka-kakakan,
kok paneh lingkuik-lingkuikkan.
Padi ditanam beko patang, kadi sabik kalamari,
sacotok haram dek ayam, lah habih baru dimakan.
Baitulah pituah Rang Gaek kito.
Ado palajaran agamo di surau-surau dulu, mak kito ingek-kan baliak “man lam yardhaa bi qadhaa-i , walam yashbir ‘alaa balaa-i, fal yath-lub rabban si waa-i” aratino “kalau indak karedha kabakeh katantuan Allah, kalau indak kasaba kabakeh cubaan Allah, co lah cari Tuhan nan lain salain Allah tu”.
Tantu indak ka dapek dek awak tuhan nan lain, nan sa panyayang, sa baik pambarian Allah ka bakeh awak tu doh.
Kaji ko sabana nyo indak kaji baru bagai doh.
Tapi paralu kito ingek-ingek baliak, karena dek lamo lupo.
Lanca kaji dek lai ba-ulang, pasa jalan dek batampuah.
Kini, sakitu sajo dahulu. Kalau ado wakatu, nanti kito sambuang pulo.
Marilah kito samo-samo mandoa, samoga Allah salalu maagiahkan rahmat nan balipek gando, sehat nan ka paguno, harato nan ka panopang hiduik, panjalin hari isuak, jan hanyo di agiahkan dek Tuhan harato nan hanyo ka abih kini, atau hanyo sakadar nan ka busuak, nan ka lapuak.
Mudah-mudahan pulo kito mandapekan harato banyak nan paguno pulo dek awak untuk hari isuak. Pintak buliah , ka-andak balaku , mukasuik sampai , nan di ama pacah, umua panjang, rasaki murah, bala pun takuak handakno.
Biaitulah pintak jo pinto kiti basamo. Amin Ya Rabbal Alamin.
Diarsipkan di bawah: Adat istiadat, Bahasa Minang, Cinta, Masyarakat Adat, Minangkabau, Pergaulan
Tau di jalan kapulang,
(Raso di baok naiak, Pareso di bao turun)
Diulang-ulang dek
Buya H. Mas’oed Abidin
Di dalam Agamo Islam, kito (manusia) nan hiduik di dunia nanko,
dijadikan untuak mamikua baban nan mulia,
sabagai khalifah Tuhan di muko bumi.
Nan kamambangun,
kamampaeloki,
kamanjago apo nan ado goh.
Karano tu, baban tu manjadi sangaik mulia,
sasuai bana jo kajadian kito sebagai makhluk Allah nan tapiliah.
Itulah fitrah awak.
Firman Allah di dalam Al Quranul Karim manyabuikan,
“ wa laqad karramnaa banii Adam” , araatinyo, “sungguh Kami alah mamuliakan bani Adam, (yaitu anak cucu Adam) yaitu kito nan banamo manusia ko” (lieklah Al Quran, surat 17, ayat 70).
Balain bana jo makhluk Allah nan lain.
Apokoh itu malaekaik,
flora atau fauna nan ado,
nampaknyo kito ko indak bisa disamoan jo mareka doh.
Kalabiahan kito sabagai makhluk Allah itu, indak sajo dari rupo jo bantuak nan elok, tapi diagiahnyo kito dek Allah “kacerdasan aka pikiran” nan indak dipunyoi dek makhluk nan lain.
Salain tu kito dibari pulo dek Allah nan Maha Mulia tu,
“kacerdasan ati atau parasaan”.
Sahinggo kito tau raso jo pareso.
Raso dibao naiak,
pareso dibao turun.
Raso dari ati ka kapalo,
pareso dari kapalo ka alam nyato.
Nan pangabisan ko jaleh-jaleh hanyo dipunjoi dek makhluk nan banamo manusia.
Barangkali, kaduo bantuak kacerdasan ko lah nan kini dek urang-urang nan ba-ilimu di sabuik jo bahaso urang disinan sebagai “intelektual inteligensia” dan “emosional inteligensia” tu.
Kok nyampang kaduo kecerdasan ko indak kito punyoi,
tantulah hiduik kito indak manantu.
Indak tau ereng jo gendeang,
indak tahu rantiang nan ka malatiang,
indak jaleh batu nan ka manaruang, doh.
Nan labiah padiehnyo,
disabuik urang kito indak tau diuntuang.
Labiah jauh barangkali,
kito indak ka mangarati nan paralu,
nan musiti di dahulukan,
atau nan patuik di kudiankan.
Alhamdulillah,
kito dijadikan Allah makhluk nan sangaik elok dalam rupo,
sangat cadiek jo pikiran,
sangat haluih jo parasaan.
Tapi kok nyampang kaduo anugerah Allah nan sangat mulia ko indak kito paliharo elok-elok,
aratinyo pikiran kito indak di asah jo ilmu pangatahuan nan paguno,
dan hati atau kalbu kito indak dibari ingek jo nan baik dan patuik-patuik,
mako indak dapek indak,
kito ka jatuah maluncua jadinyo.
“Sanasadrijuhum min haitsu laa ya’lamuun”.
Aratinyo, kalau kito indak bahati-hati mampagunokan hati kito masiang-masiang, nanti Allah kan maluncua-kan kito sakalian pado tampek nan kito indak manyadarinyo.
Baitulah paringatan Allah kapado kito basamo.
Pakaro manuntuik ilmu,
untuk ma asah utak,
iyolah jaleh di awak basamo,
bahaso itu manjadi kawajiban satiok urang nan ba-iman
(uthlubul-’ilma faridhatan ‘alaa kulli muslimin wa muslimah),
aratinyo “manuntuik ilmu tu wajib bagi muslim laki-laki jo padusi”.
Bahkan manuntuik ilmu ko indak sakadar di nagari awak sajo,
di suruah jauh-jauh ka nagari urang (kalau paralu kanagari urang bamato sipik, nagari Cino,
asal indak marantau cino see lah).
Kok dapek pintak jo pinto, kana-kana juo kampuang tampek pulang.
Kampuang tampek pulang tu aratino duo macam.
Paratamo iolah kampuang mandeh, tanah tumpah darah, saroman papatah nan kito baco sahari-hari,
sungguahpun ujan ameh di rantau urang,
kampuang halaman di kana juo.
Sa jauah-jauah tabang bangau nan tampek hinggokno,
bancah baraia di kana juo.
Nan kaduo, tampek kumbali adolah kampuang akiraik (yaumil aakhir), nan indak dapek indak musti ka kito jalang suatu katiko nanti.
Bahaso Agamo awak manyabuik-kan “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”.
Mukasuiknyo; dari Allah awak ko datang, kapado Allah pulo kito ka babaliak.
Urang nan indak tau tampek babaliak,
biasonya sasek di tangah jalan.
Di situ lah sabananyo talatak cerdas (pintar, pandai) tu.
Urang awak di ranahbundo manyabuikkan,
urang nan cadiak tu iolah urang nan tau tampek babaliak.
Urang nan mangarati tampek pulang.
Jan di paturuikan sajo kato hati.
Mangarajokan nama nan taraso,
manuruik nama nan tampak,
atau maniru nama nan di karajo kan urang,
indak tau barih jo balabeh tu namonyo.
Buruak cando kato rang banyak.
Urang nan saroman nantun di dalam ciloteh urang banyak di katokan:
urang nan barajo di hati, nan basutan di mato.
Karano indak jaleh tampek pulang, mako nan tajadi …..
di kacak batih yo lah bak batih,
di kacak langan lah bak langan,
di kacak pinggang iyolah bak pinggang,
di agiah pitih sapitih manggaritih,
dapek pitih sakupang inyo manggaretang.
Disiko lah kalabiahan kito sabagai urang Minangkabau,
nan iduik jo adaik,
di tuntun dek agamo (Islam).
Sakitu dulu pangajian awak, kok ado wakatu dilain maso kito sambuang pulo. Insya Allah.
Mudah-mudahan kito dapek maambiak palajaran nan dalam untuk manampuah galombang hiduik nangko.
Amin.
.
Diarsipkan di bawah: Bahasa Minang, Masyarakat Adat, Minangkabau, Pesan Rang Gaek, Tulisan Buya
Pituah Rang Gaek