BlogMinangkabau’s Weblog


Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir
Januari 22, 2009, 7:42 am
Diarsipkan di bawah: Ekonomi Nagari, Komentar, Minangkabau

Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir 31/10/2008 17:12 WIB oleh ANTARA Sumut Kategori: Kuliner Pelayan Rumah Makan Padang Sidempuan sedang melayani tamunya dengan aneka menu khas Tapanuli Selatan. (Foto : Surya) Medan, 31/10 (ANTARA) – Dominasi rumah makan Padang di Medan selama bertahun-tahun tampaknya sudah berakhir dengan berdirinya usaha sejenis khas daerah Sumut, seperti rumah makan Padang Sidempuan dan rumah makan Sibolga. Menu rumah makan Padang berisiko tinggi terhadap kesehatan karena banyak berunsur santan, daging, cabe (sambal) dan langka dengan sayur sehingga perlu dicari tempat alternatif untuk makan siang dan malam, kata Rifal, seorang pendatang dari Jakarta yang sudah sebulan bertugas di Medan, Jumat. Salah seorang warga Minang di Medan M.Nawar mengakui, jarang makan nasi Padang karena tidak tahan lagi menyantap makanan pedas. Menurut catatan, rumah makan Padang di Medan yang terkenal antara lain Garuda, ACC, Bahagia, Famili, Sederhana dan Rumah Makan (Nasi Kapau) Uni Emi. Ia mengatakan, setiap bertugas ke Medan dulu selalu mencari rumah makan Padang, karena selain cita rasanya yang lezat harganya juga lebih murah dibanding rumah makan Padang di Jakarta, tetapi akhir-akhir ini kecendrungan itu berobah dengan mencari rumah makan khas daerah Sumut. Rumah makan khas Sumut itu antara lain rumah makan Padang Sidempuan dan Rumah Makan Sibolga yang menyajikan aneka menu yang didominasi ikan laut dan ikan air tawar baik yang dibakar maupun digulai dengan santan seadanya serta bermacam-macam sayuran. Salah satu diantaranya adalah rumah makan Padang Sidempuan di Medan terdapat di Jalan Darussalam simpang Sei Belutu yang menyajikan makan dan minuman sedikitnya 30 jenis setiap harinya dengan ciri utama ikan sale, ikan haporas, ikan mas, belut sambal, gulai petai dan sayur daun ubi tumbuk. Pengusaha rumah makan itu, Rachmad Syah Lubis mengatakan, makanan dan minuman yang disediaknnya memang khas Tapanuli Selatan, Sumatera Utara karena berbagai jenis ikan terutama haporas dan ikan sale sengaja didatangkan dari Padang Sidempuan, ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan. Harga berbagai jenis makanan di rumah makan dengan bangunan berbentuk joglo, beratap nipah dan tepas (bambu), tanpa pendingin udara (AC) dan berdinding kayu itu dikatakan lebih murah dibanding rumah makan sejenis di kota Medan, karena tanpa AC tentu biaya lebih murah dan sebagainya. Menurut dia, satu piring belut sambal hanya dihargai Rp10 ribu, ikan sale Rp8.000, kepala ikan mas gulai Rp 8.000 dan sayur daun ubi tumbuk hanya Rp3.000, sehingga siapapun yang makan di sini baik perorangan maupun berombongan tidak merasa “dicekik” dengan harga yang tinggi. Menurut pengamatan, para pengunjung rumah makan dengan 12 pelayan yang semuanya laki-laki itu bukan hanya kelas menengah kebawah, tetapi artis dari Jakarta, kalangan eksekutif dan direksi sejumlah perusahaan besar juga sering tampak menikmati makan siang di rumah makan tersebut. Rumah makan khas daerah lain, seperti RM Nasrul Sibolga dengan menu terkenal, kepala ikan gulai dan sontong gulai berlokasi di Jalan Sisingamangarja atau hanya beberapa puluh meter dari Mesjid Raya Medan meski harga makanan di sini sedikit tinggi karena rumah makan ini juga menyediakan ruangan ber-AC. Selain itu berbagai rumah makan atau restoran khas Jawa juga banyak bermunculan di Medan, seperti rumah makan Wong Solo dan Koki Sunda, sementara restoran dengan makanan Jepang, Amerika Selatan dan Itali serta yang lainnya juga sudah banyak beroperasi di Medan.(S014) Surya/ANTARA



Filosofi Minangkabau Memerangi Kemiskinan
April 23, 2008, 11:38 am
Diarsipkan di bawah: Ekonomi Nagari, Masyarakat Adat, Minangkabau, Tulisan Buya

FILOSOFI MINANG MEMERANGI KEMISKINAN

Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin

Sumatra Barat, dengan akar budaya Minangkabau, sangat basitungkin mengantisipasi kemiskinan.

Letak tanah di Minangkabau sebenarnya kurang bersahabat.

Masa doeloe seketika tanah-tanah itu belum diolah, hanya dijadikan tempat mencari kayu api.
Paling tinggi tempat simpanan kayu pembuat rumah atau untuk mencari akar-rotan.

Persawahan dan perladangan anak nagari adalah hasil taruko ninik mamak.
Sawah bajanjang bapamatang (berjenjang berpematang), dan ladang babiteh babentalak (ladang punya batas pengolahan).
Dari mamak turun ke kemenakan.
Letaknya di sekeliling Dusun Taratak.
Bahkan, di keliling rumah tempat diam.
Kemudian berkembang dusun menjadi nagari.
Anak kemenakan terus bertambah.
Rumah kecil tak mampu menampung jumlah cucu dan cicit.
Bangunan barupun ditegakkan.

Tanah persawahan menjadi satu-satunya pilihan untuk batagak rumah.
Manaruko (meneruka, membuka lahan baru) dari hutan menjadi sawah, tidak lagi merupakan kebiasaan masa kini.
Yang lazim terjadi adalah menjual tanah pusaka.
Suatu yang sesungguhnya tidak boleh terjadi !!!

Akhirnya bahaya kemelaratan datang mengancam.
Berkurangnya areal sawah menjadi lokasi perumahan.
Di sini datangnya krisis bertalian sentra pertanian dan peternakan dikaitkan dengan sumber pendapatan.

Merantau menjadi lahan usaha sejak lama.
SATU KELUARGA PERANTAU MINANGKABAU,
PEDAGANG KONVEKSI DI PASAR KUALA LUMPUR, satu contoh kleberhasilan.

Masyarakat Minangkabau, tidak dapat dikatakan miskin dan belum pula bisa dikatakan berada.
Mereka tetap bisa hidup dan bertahan hidup, di areal yang makin terbatas.
Ini dimungkinkan, karena adanya peran budaya Minangkabau.

Dari awal, budaya itu intensif mengantisipasi gejala kemiskinan.
Antara lain,
Karatau madang di ulu,
ba buwah ba bungo balun,
marantau-lah buyuang dahulu,
di rumah paguno balun.

Adanya kebiasaan merantau menjadikan pemuda-pemuda Minangkabau, mencari hidup di lahan lain.
Modalnya keyakinan.
Kemauan dan tulang delapan karat.
Merantau menuntut ilmu untuk hidup.

Dinamika lahir di dukung segala kekurangan berbungkus kemiskinan.
Modalnya sangat besar.
Kemauan yang kuat ingin maju.
Mengubah diri.

Di kampung, anak dara gadis Minangkabau, tidak pula dibiarkan hidup cengeng. Mereka diajar bertani, merenda, menjahit, menyulam.
Dibekali berbagai kepandaian puteri lainnya.

Kepandaian-kepandaian semacam itu, kini mulai terasa langka.
Kalau kemiskinan, tidak dirasakan sebagai bahaya, hanya karena pandai batenggang.
Sesuai bunyi pantun;

Alah bakarih samporono,
Bingkisan rajo majopaik,
tuah basabab bakarano
pandai batenggang di nan rumik.

Falsafah budaya ini tidak pernah menumbuhkan masyarakat statis.
Lahir dari filosofi hidup tersebut sikap jiwa digjaya.
Satu iklim jiwa (mentalclimate) yang subur.

Apabila pandai menggunakannya dengan tepat, akan banyak membantu dalam usaha pembangunan sumber daya manusia di ranah ini.

Egoistis jarang bersua dalam budaya Minangkabau.

Membiarkan orang lain melarat, dengan menyenangkan diri sendiri, sikap yang tak pernah diwariskan.
Jika sekarang bertemu, itulah pengaruh dari luar.
Tenggang manenggang dan raso jo pareso menjadi sikap hidup.
Halusnya alur dan patut.

Mengatasi masalah kemiskinan di tengah masyarakat Minangkabau, khusus mesti terarah kepada memakmurkan anak nagari secara lahiriyah (material).
Agar untaian pepatah menyibakkan arti kemakmuran itu dapat menjadi kenyataan.

Manjilih di tapi aie
Mardeso di paruik kanyang.

Mewujudkan kemakmuran anak nagari dengan berencana dan berhemat. Perencanaan jangkauannya ke depan.
Mengkaji potensi yang dipunyai.
Penghematan dengan memahami situasi akan mendukung hasil dari program yang dikembangkan.
Perhatian dalam makna ini, terungkap di dalam kalimat-kalimat;

Ingek sabalun kanai
Kulimek sabalun abih
Ingek-ingek nan ka pai
Agak-agak nan ka tingga.

Melupakan dan mengabaikan nilai-nilai luhur budaya ini, akan berarti satu kerugian.
Membangun kesejahteraan berarti mengantisipasi lahirnya kemiskinan.
Bertitik tolak pada pembinaan unsur sumber daya manusia.
Dimulai dengan cara sederhana.
Dengan apa yang ada.
Potensi alam yang terbatas.
Menggerakkan potensi terpendam di dalam sumber daya manusia.
Terutama di nagari-nagari.

Mengembalikan kepada benih-benih kekuatan yang ada di dalam dirinya masing-masing.
Melalui usaha terpadu (integrated), berketerusan dan menyeluruh (holistik). Dengan mempertajam daya observasi, dan meningkatkan daya pikir masyarakat nagari dimaksud.

Selanjutnya, mendinamisir daya gerak.
Memperhalus daya rasa.
Meningkatkan pengembangan daya cipta.
Menumbuh bangkitkan daya kemauan anak nagari.
Supaya dapat dikembalikan kepercayaan kepada diri sendiri.
Ditumbuhkan kemauan untuk melaksanakan sikap mandiri (self help).
Sesuai bimbingan Allah:


لَهُ مُعقَّبتٌ من بَيْن يَديْه و من خَلْفِه، يَحْفظوْنه، من أمْر اللهِ إنَّ اللهَ يُغَيِّر مَا بقوْم حتَّى يغيِّروا مَا بِأنْفُسِهمْ و إِذَا أراد اللهُ بقومٍ سوْءا فلا مردَّ له، وما لهُم من دوْنه من والٍ.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS.13, Ar Ra’d :11-12)

Tidak perlu segan menyatakan bahwa anak turunan Minangkabau seratus persen beragama Islam.
Satu dua mungkin, sudah ada berpindah keyakinan.
Sebab perputaran musim dan pergantian nilai yang dianutnya.
Jalan di alih orang lalu.
Cupak ditukar orang penggalas.
Anak kemenakan Minangkabau akan diperdagangkan oleh orang lain yang lebih kuat budayanya !!!

Apabila turunan Minangkabau itu tidak kokoh mengenal budaya sendiri, maka satu natuur-wet (sunnatullah) akan berlaku seperti itu.

Dalam mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar menurut syarak.

Anggang jo kekek bari makan
Tabang ka pantai ka duo nyo
Panjang jo singkek pa ulehkan
Makonyo sampai nan dicito.

Adat hidup, tolong manolong.
Adat mati, janguak manjanguak.
Adat lai, bari mambari.
Adat tidak, salang manyalang.

Menghidupkan hidup tolong menolong.
Basalang tenggang.
Dalam kehidupan nyata berwujud perbuatan.
Karajo baik ba imbauan,
Karajo buruak ba hambauan.

Saling membantu di dalam senang maupun susah.

Dalam perkembangan zaman telah terjadi pergeseran nilai.
Kebiasaan tradisi lama mengalami proses di lupakan.
Diyakini, bahwa nilai-nilai budaya Minangkabau itu, tidak hilang dan tidak pula habis.
Masyarakat Minangkabau mulai senang mengadopsi budaya lain tanpa seleksi.
Ini jelas merugikan untuk generasi Minangkabau mendatang.

Budaya merantau, membentuk silaturrahmi di dalam ikatan keluarga di perantauan.
Sedari ikatan hubungan saparuik hingga se taratak, dusun nagari.
Hingga lingkup wilayah yang luas, dari Sikiliang air Bangih, dari ombak nan badabua, sampai ka durian di takuak rajo.
Artinya meliputi wilayah adat dan budaya Minangkabau.

Pada mula sekedar ba suo suo.
Mempererat hubungan kekeluargaan.
Meningkat kepada memikirkan kampuang halaman.
Berakhir dengan usaha membangun kampung halaman.

Belum ada data akurat.
Berapa perbandingan jumlah orang Minangkabau di rantau itu.
Apakah jumlahnya sama dengan jumlah yang menetap di kampung.
Atau, barangkali berlipat kali dari penghuni ranah sendiri.
Satu hal terbukti dan telah lama terjadi, bahwa orang kampung ikut menikmati hasil orang rantau.

Sirkulasi hidup kampung sering ditentukan dari rantau.
Mulai pembinaan pribadi, keluarga, bangun rumah, tebus sawah, hingga membangun sarana umum milik nagari.

Rencana pembangunan nagari sering tidak terlaksana tanpa keikutsertaan dunsanak di rantau.
Kenyataan ini membuktikan ada satu potensi budaya Minangkabau yang dapat dikembangkan.
Apabila dapat dipadu dengan potensi yang ada di nagari.

Kekayaan orang rantau – termasuk pegawai negeri yang berkiprah di kota-kota –mungkin tidak sebanding dengan modal yang tertanam di kampung (nagari).

Rantau adalah lahan usaha.
Perantau Minangkabau umumnya bergerak dalam bidang usaha perniagaan. Sedikit sekali yang menggarap usaha pertanian.

Karena, kalau akan bertani juga, mungkin lebih baik mengolah lahan di kampung saja.
Lapangan pegawai atau ambtenaar kata orang saisuak, sangat diminati orang Minangkabau.
Walaupun saat ini, para perantau Minangkabau mulai berpaling kepada managemen perusahaan swasta.

Jeli mengkaji kesempatan.
Arus mobilitas horizontal menuju rantau, tak mudah di hempang.
Kerasnya hidup di rantau, suatu tantangan yang berat.
Perlu modal.
Sikap jiwa yang matang.
Di samping kemauan keras ada tulang delapan karat.
Dan bekal lain, falsafah budaya Minangkabau untuk pedoman mengarungi lautan kehidupan di rantau.

Falsafah hidup itu, disimak dalam kehidupan keseharian tanah rantau.

Panggiriak pisau si rauik,
Patunggkek batang lintabung,
Salodang ambiak ka nyiru.
Setitiak jadikan lauik,
Sakapa (sekepal) jadikan gunuang,
Alam takambang jadi guru.

Belajar kepada alam, mengambil pelajaran dari perjalanan hidup yang tengah diharungi.
Seiring bidal pantun;

Biduak dikayuah manantang ombak
Layar di kambang manantang angin
Nangkodoh ingek akan kamudi
padoman nan usah dilupokan.

Pedoman menempuh kehidupan dikiatkan dengan arif bertindak dan memilih.

Hendak kayo, badikik-dikik (hemat)
Hendak tuah, batanua urai (penyantun)
Hendak mulia, tapek i janji (amanah)
Hendak luruih, rantangkan tali (mematuhi peraturan)
Hendak buliah, kuat mancari (etos kerja yang tinggi)
Hendak namo, tinggakan jaso (berbudi daya)
Hendak pandai, rajin belajar (rajin dan berinovasi)
Dek sakato mangkonyo ada (rukun dan partisipatif)
Dek sakutu mangkonyo maju (memelihara mitra usaha)
Dek ameh mangkonyo kameh (perencanaan masa depan)
Dek padi mangkonyo manjadi (pelihara sumber ekonomi)

Tidak mengherankan, bila tantangan berat di rantau mampu diatasi.
Buktikanlah, SALAH SATU RUMAH MAKAN MINANGKABAU DI KUALA LUMPUR MALAYSIA, TUMBUH DARI BUDAYA MERANTAU DAN MODALNYA PANDAI MEMASAK

Paling menarik, bahwa perantau sanggup mengolah pekerjaan apa saja asal halal. Tidak memilih pekerjaan, karena motivasi hidup tinggi.
Kondisi ini membuka peluang percepatan mobilitas vertical.
Penghasilan meningkat.
Kekayaan nilai-nilai ini adalah modal besar.
Memberi motivasi kuat, dalam upaya menghapuskan kemiskinan.
Sungguhpun kenyataan bahwa penghapusan itu tidak berbuah drastis.

Di atas segala itu, karena keyakinan kepada Rahmat Allah.
Ini buah utama pengajian di surau.

CAP RAJA PAGARRUYUNG, BERTULISKAN ;

Sultan
Tunggal Alam Bagagar Ibnu
Sulthan Kalifatullah
yang Mempunyai Tahta Kerajaan
dalam Negeri Pagaruyung Daar
el Qarar Johan berdaulat
zillullah fil ‘alam.