Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Gempa, Komentar, Minangkabau, Science, Surau, Tauhidik
MENYIKAPI BENCANA ALAM,
MENERAPKAN HASIL-HASIL IPTEK, DAN
BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH,
INTISARI AJARAN AGAMA YANG BENAR
OLEH : H. MAS’OED ABIDIN
الحَمْدُ ِللهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَسْتَهْدِيْهِ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالىَ مِنْ سُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مَنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ،
وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَدَّى الأَمَانَةَ، وَ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَ نَصَحَ لِلأُمَّةِ، وَ جَاهَدَ فيِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، وَ عَلىَ آله وَصَحَابَتِهِ. وَ أَحْيِنَا اللَّهُمَّ عَلىَ سُنَّتِهِ، وَ أَمِتْنَا عَلَى مِلَّتِهِ، وَ احْشُرْنَا فيِ زُمْرَتـِهِ، مَعَ الَّذِيْنَ أَنـْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ وَ حَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا. أَمَّا بَعْد
PENGANTAR
Sesungguhnya umat manusia, dengan kekayaan ilmu –- untuk melaksanakan amar ma’ruf, yakni saling membawa kepada yang makruf (baik dan terpuji), dan berlaku nahyun ‘anil munkar, yaitu mencegah dari yang munkar atau tidak baik, senyatanya dapat dengan mudah dilakukan, manakala memiliki ilmu pengetahuan –.
Di samping itu perlu ada kekayaan iman – yakni kepercayaan atau keyakinan sepenuhnya, bahwa alam serta semua isinya adalah milik Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, dan Yang Maha Esa.
Dengan kedua kekayaan ini, umat manusia akan menjadi umat yang paling beruntung (khaira ummah), sesuai QS.3,Ali Imran:110.
Umat manusia yang beragama adalah umat pilihan atau khaira ummah, dengan kesediaan menerima ajaran agama (dinul Islam), yang telah diwahyukan kepada Rasul SAW. Ketika manusia menjadi kufur (menolak), atau sebahagian lainnya berbuat dosa (berperilaku jahat, maksiat), seketika itu pula manusia kehilangan pegangan hidup, di dalam meniti setiap perubahan.
Khaira ummah menjadi identitas umat.
Di antara watak (perilaku) umat pilihan itu adalah selalu istiqamah (teguh hati, setia, dan konsisten), mempunyai perangai mulia (akhlaq karimah, sabar, hati-hati, tidak semberono, tawakkal, saling membantu, ukhuwah), dan selalu berdakwah (menyeru, mengajak umat kepada yang baik, dan amar makruf), serta teguh melarang dari yang salah, nahyun ‘anil munkar, dan beriman dengan Allah SWT.
Amar makruf, hanya bisa dilaksanakan dengan ilmu pengatahuan. Ketika manusia pertama diciptakan (Adam AS), dia dibekali dengan perangkat ilmu (QS.2:30-35), untuk dapat mengemban misi khalifah di permukaan bumi.
Demikian juga dengan nahyun ‘anil munkar, melarang dari yang salah, juga dengan ilmu pengetahuan, dengan kuatnya pengertian dan pemahaman tentang suruhan baik dan larangan dari berbuat salah (QS.3:104,114; QS.5:78-79; QS.9:71,112; QS.22:41; QS.31:17).
Amar makruf nahi munkar sesuai dengan martabat manusia.
Patokan makruf (baik, disuruh) dan munkar (salah, terlarang) di pagari oleh halal (right, benar) dan haram (wrong, salah).
Amar makruf nahi munkar, tidak diukur oleh like or dislike (suka atau tidak).
Menerapkan benar dan salah di kehidupan sehari-hari, seringkali terkendala karena kurang ilmu tentang right dan wrong, kurang pengetahuan tentang suruhan dan larangan, dan kebiasaan, terbiasa dan terasa ringan meninggalkan ajaran agama, atau tidak teguh pendirian (tidak istiqamah) menjalankan right dan wrong di dalam tata kehidupan.
Bila di dalami ayat pertama turun adalah (Iqra’, artinya baca) QS. 96, Al ‘Alaq 1-5, maka membaca dan menulis, adalah “jendela ilmu pengetahuan”.
Melalui jendela ilmu ini, manusia akan memacu diri meraih pengetahuan, sehingga dengan pasti, walaupun pelan-pelan, manusia akan mengetahui seuatu, yang sebelumnya dia tidak tahu (‘allamal-insana maa lam ya’lam).
Ilham dan ilmu belum berakhir.
Wahyu Allah memberi dorongan kepada manusia untuk memperdalam pemahaman, sehingga mampu membaca setiap perubahan zaman dan pergantian masa.
MANFAATKAN ILMU PENGETAHUAN
Keistimewaan ilmu, dapat mengetahui tanda-tanda yang tersimpan (mutasyabihat) yang sebelumnya hanya menjadi pengetahuan Allah SWT.
Melalui penelitian dan penganalisaan, seorang ilmuan akan dapart mendalami satu fenomena ke fenomena lainnya dari alam.
Makin dalam penguasaan ilmu seseorang, makin mudah mengakui bahwa alam semesta yang luas ini milik Allah.
Karena itu, mereka selalu berdoa dan mohonkan ampun, mempunyai sikap sabar dan teguh hati.
Di atas orang berilmu, masih ada Yang Maha Tahu.
Disebabkan pengetahuan itu, maka orang berilmu senantiasa menyandarkan pengetahuannya kepada kekuasaan Yang Maha Kuasa, dan Allah SWT akan mengangkat derajat mereka yang berilmu.
Artinya, para ilmuan dengan ilmu yang dimilikinya, akan menjadi rujukan, bagi orang banyak.
Para ilmuan, menjadi tempat bertanya bagi masyarakat awam.
Ajaran agama melarang untuk mengikuti kabar burung, atau dugaan-dugaan, tanpa dasar ilmu yang kuat.
Semestinya setiap orang, memohon kepada Allah agar ilmu bertambah (QS.20:114), pahamilah bahwa hanyalah orang-orang berilmu yang bisa mengerti (QS.29:43), dan yang punya rasa takut kepada Tuhan hanyalah orang-orang berilmu (QS.35:28).
Karena itu pula, Allah SWT akan meninggikan posisi orang-orang yang beriman dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa tingkatan (QS.58:11).
PADUKAN IPTEK DENGAN IMAN DAN TAQWA
Teknologi adalah suatu keterampilan, hasil dari ilmu pengetahuan berkenaan dengan teknik, serba mesin, digital dan wireless itu.
Teknologi tidak berarti sama sekali, apabila manusia di belakang teknologi itu tidak berfungsi, tidak berperan dan mati.
Sebelum teknologi dihidupkan, wajib lebih dahulu menghidupkan dhamir pengendali teknologi itu, dengan cerdas intelektual, cerdas emosi, cerdas spiritual, dan cerdas social.
Kecerdasan akan membawa manusia mudah menggunakan perangkat teknologi, yang dengan itu manusia akan beroleh manfaat besar di dalam kehidupannya. Teknologi tanpa dhamir manusia yang cerdas, akan merusak martabat kehidupan manusia itu.
Pemilik ilmu pengetahuan dan pengguna teknologi mestinya mampu mencipta tanpa merusak harkat manusia melalui produk hasil ciptaan teknologi tersebut.
Di sini sebenarnya arti penerapan Iptek dari sudut pandang agama Islam. Iptek menjadi musuh kemanusian, bila hasilnya menghancurkan derajat manusia.
Semestinya iptek dalam pemanfaatannya berperan meningkatkan harkat kemanusiaan, yang senyatanya hidup dengan memiliki keyakinan (iman), dan dengan penyerahan diri (tawakkal) kepada Allah SWT, Yang Maha Menjadikan alam semesta ini.
Maka, perlu ada saringan dalam menggunakan iptek itu.
Saringannya, tiada lain adalah agama, akal budi.
Di Minangkabau adalah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
MANUSIA TIDAK TAHU APA YANG AKAN TERJADI
Allah SWT tidak memberi tahu tentang bila kiamat tiba, kapan tetes pertama hujan turun, tentang kandungan ibu dan kelahiran, tentang yang akan terjadi sebentar lagi, tidak juga di mana tempatnya seorang akan mati.
Tidak juga tentang rahasia roh, yang disandang manusia dalam hidupnya.
Kecuali hanya tanda-tanda yang dapat dipahami dan dibaca oleh orang berilmu.
Ayat ini bermakna, bahwa manusia tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi, dan apa yang akan dialami besok, atau apa-apa yang akan diperolehnya sebentar lagi. Ketidak tahuan manusia ini, menjadikan manusia aktif dan selalu berupaya untuk melindungi diri, sebagai satu kewajiban hakiki, yakni berusaha dan berharap.
Tidaklah seorang manusia mengetahui kapan kematiannya datang menjelang. Konsekwensi dari ketidak tahuan ini, manusia diperintah untuk bersiap diri setiap waktu. Kehidupan dunia seakan sebuah pentas permainan, jika sudah selesai, panggungnya akan bubar dan ditinggalkan.
SELALU BERMOHON KEPADA ALLAH
Sebenarnya umat manusia, dengan mengamalkan wahyu Allah, akan memiliki identitas (ciri, sibghah), dan kekuataan (quwwah), dengan menguasai ilmu pengetahuan (informasi) serta berserah diri (tawakkal) kepada Allah Maha Khaliq. Manusia dengan sibghah dan iman yang kokoh itu akan mempunyai dorongan (innovasi), memiliki daya saing, imaginasi, kreatif, inisiatif, teguh prinsip (istiqamah, consern), dengan berfikir objektif, mempunyai akal budi, mampu menyelamatkan diri, keluarga serta masyarakatnya.
Musibah selalu disebabkan kesalahan sendiri.
Kekalahan dapat datang kepada kelompok yang sebelumnya pernah menang, pernah berjaya, namun kerena kelalaian juga musibah datang menimpa.
Musibah adalah ujian atau cobaan yang datang dari Allah semata (QS.2,Al Baqarah:155).
Cobaan datang dari Allah.
Keyakinan mendasar ini, adalah konsekwensi logis dari iman kepada kekuasaan Allah semata.
Cobaan itu, mengingatkan manusia, bahwa alam ini adalah milik-Nya.
Manusia mesti hidup dengan berbekal sabar dan tawakkal, sebagai satu bentuk dari kecerdasan intelektual yang melahirkan kecerdasan emosional dengan basic kecerdasan spiritual, di ujungnya melahirkan kecerdasan social, dengan saling membantu, solidaritas sesama, dan tidak mau mencelakan di dalam tata kehidupannya.
Menghadapi musibah dengan sikap sabar, yang dinyatakan dengan pengakuan bahwa semata kita akan kembali kepada-Nya jua (QS.Al Baqarah : 156). Pengakuan ini berarti, bahwa sesungguhnya diri, harta, alam kita, adalah milik Allah semata, dan kepada-Nya-lah kita akan kembali.
Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah), yang disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil, bencana alam dan sebagainya.
Walau ada sebagian manusia, yang memungkiri akan kekuasaan Allah , tentulah mereka akan menyesal kelak kemudian hari.
JANGAN SOMBONG DAN JAUHI PERBUATAN MAKSIYAT
Umat manusia diberi kemuliaan oleh Allah SWT untuk menjaga, mengolah bumi, ini berarti bahwa perilaku manusia berkaitan erat dengan apa yang tampil di bumi.
Betapa indahnya pernyataan Khalik Yang Maha Menjadikan, tentang kesiapan umat manusia untuk hidup di atas permukaan bumi, dipersiapkan sebagai makhluk utama, memiliki segala kelebihan.
Secara fisik, tubuhnya lengkap, kuat, cantik, penuh gaya.
Spiritnya (jiwanya) disempurnakan dengan akal, pikiran, dan punya keinginan, kecerdasan (inteligensia), rasa (emosional), memiliki dorongan kehendak (nafsu), guna meraih dan mewujudkan segala yang diingininya.
Manusia dianugerahi kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan kecerdasan social, yang dengannya mampu menjadi umat yang memiliki keseimbangan (ummatan wasathan).
Alampun dijadikan bersahabat dengan manusia, dan dijadikan untuk sebesar-besar manfaat bagi hidup manusia.
Laut dan darat adalah ladang kehidupan manusia turun temurun.
Di sana, manusia dapat berkiprah, mengolah alam selama hayatnya, patah tumbuh hilang berganti, dari generasi ke generasi, membangun dan merombak ke arah yang lebih baik, menjalankan reformasi dalam bimbingan Tuhan, artinya tidak satu kewajibanpun boleh ditinggal dalam memenuhi suatu kewajiban lain.
Manusia diminta untuk senantiasa akrab dan menjaga fungsi alam, tidak boleh membuat kerusakan di permukaan bumi, agar bencana tidak dating menimpa. Alam difungsikan untuk menjaga keberadaan manusia, memberikan keselamatan terhadap kehidupan itu sendiri.
Demikianlah satu siklus hidup yang aman dan menjanjikan kesejahteraan sepanjang masa.
Bumi akan diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang baik-baik (shaleh).
Bila suatu ketika keseimbangan alam terganggu, maka penyebab utamanya tiada lain adalah hasil kurenah (perbuatan) tangan manusia sendiri.
Demikian suatu sunnatullah (undang-undang baja alam) yang akan berlaku sepanjang masa, hingga kiamat datang menjelang, sebagai peringatan supaya manusia berteguh hati memelihara perannya, sebagai khalifah fil ardhi.
Untuk menata kehidupan ini tetap berjalan seimbang, maka Khalik ( Allah Rabbun Jalil) memberikan pedoman (hidayah) yang jelas dan terang. Berakar kepada kebenaran (haq) dari Allah dan berakhir dengan kebenaran dari Allah juga. Itulah ‘Aqidah Tauhid’ (keyakinan kepada kekuasaan Allah yang mutlak, Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Esa dan Maha Kuasa).
Konsekwensi dari keyakinan tauhid ini, melahirkan sikap tunduk dan taat, akhirnya menumbuhkan kesediaan menyerahkan segala kemampuan akal dan gagasan pikiran, maupun hasil observasi dan eksperimentasi kepada kekuasaan Allah dengan pernyataan yang bersih.
Tatkala itulah ilmu memperoleh kebenaran.
Dalam buhul aqidah tauhid inilah, seorang yang beriman mendapatkan keseimbangan hidup yang prima, sehingga bila melihat satu bencana, mereka yakin itu hanya sebatas ujian dari Allah, yang menuntutnya untuk bertindak lebih baik dan hati-hati di masa mendatang.
Bagi manusia yang mengingkari keberadaan dirinya sebagai makhluk Tuhan, dan menutup mata hatinya terhadap kekuasaan Allah SWT, maka berlakulah ketentuan, siapa yang membutakan mata hatinya di dunia ini (dari petunjuk Allah), niscaya di akhirat nanti dia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang benar.(QS 17: 72).
Manusia seperti itu, akan merasakan azab menyiksa kehidupan, dadanya akan sesak, mengumpat kiri-kanan, limbung kehilangan keseimbangan dalam percaturan kehidupan di atas bumi ini.
Karena itu kembalilah kepada Allah, supaya Allah senantiasa memberikan perlindungan selalu, dan marilah segera kita laksanakan berserah diri (tawakkal) kepada Allah, dengan memanfaatkan semua hasil ciptaan ilmu pengetahuan yang telah didapat oleh manusia, dan selalu berdoa, dan menjauhi semua perbuatan dosa, karena berbuat ingkar (dosa) kepada Allah, dan melakukan maksiat akan mengundang bencana.
Membentengi diri dari bencana adalah dengan menjaga disiplin diri, memelihara akidah dan keimanan serta taqwa kepada Allah SWT.
رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللِه بَرَكَاتهُُ
Ayat-ayat Alquran yang dipakai menjadi rujukan dan bertalian dengan catatan akhir
1. Firman Allah SWT di dalam Alquranul Karim Surat Ali Imran : 110, menyebut sebagai berikut ;
“ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”2. Firman Allah Surat Ali Imran : 16-17.
“ (yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah beriman, Maka ampunilah segala dosa Kami dan peliharalah Kami dari siksa neraka, (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (sahur: waktu sebelum fajar menyingsing mendekati subuh.”3. Firman Allah SWT, menyebutkan,
“Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha mengetahui.” (QS.12, Yusuf:76).4. Firman Allah dalam Alquran Surat al Anbiya’ ayat 27 dan An Nahl ayat 43, menyebutkan ;
“ Bertanyalah kepada ahli ilmu kalau kamu tidak tahu,” (QS.16, An-Nahl:43, dan QS.21,al Anbiya’:7).5. Firman Allah menyebutkan.
“ Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.17, Isra’:36).6. Sesuai Firman Allah SWT,
“ Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat (saat), dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan Dia-lah mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.31:Luqman:34).7. Firman Allah,
“ dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS.17, Isra’:85).8. Sesuai Firman Allah,
“ tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.., sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS.3,Ali Imran:185).9. Firman Allah menyebutkan,
” dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal (sebelumnya) kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu masih bertanya: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.3, Ali Imran:165).10. Firman Allah menegaskan,
“ dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS.2,Al Baqarah:155).11. Firman Allah;
“ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” (QS.2,Al Baqarah:156).12. Firman Allah menyindirkan ;
“.. dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim (yang menyembah kepada selain Allah) itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS.3,Ali Imran:165).13. Firman Allah;
Dan sesungguhnya Kami telah muliakan anak cucu Adam (umat manusia). Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (yakni dimudahkan kehidupan manusia baik di darat ataupun di laut), Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (Al Q.S.17, Al Isra’, ayat 70)14. Firman Allah,
“ dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur – juga dalam Taurat, dan setiap kitab suci, — sesudah (Kami tulis dan tetapkan di dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.” (QS.21,al Anbiya’:105).15. Firman Allah,
Artinya ” Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”. (QS. 30, Ar-Rum, ayat 41).16. Firman Allah,
“Wahai Allah, Rabbanaa, tidak ada satupun yang Engkau jadikan ini sia-sia” (QS 3: 190).17. Lihat Firman Allah dalam QS.7 Al A’raf :97-102.
97. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?
98. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?
99. Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.
100. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki, tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya. Dan Kami kunci mati hati mereka, sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?
101. Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu (kepadaMuhammad SAW, melalui wahyu Alquran), dan sungguh telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, Maka mereka (juga) yang tidak mau beriman kepada apa yang dahulunya, mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir.
102. Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.18. Firman Allah;
“ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.7, Al A’raf:96).
