BlogMinangkabau’s Weblog


Realitas Kalimat Tauhid
Desember 24, 2008, 11:14 am
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Education, Hari Besar Islam, Kesatuan Bangsa, Komentar, Suluah Bendang di Nagari

Hijrah Realitas Kalimat Tauhid


Oleh : H. Mas’oed Abidin

Di hari ini, saat kita memasuki Tahun Baru Hijrah 1430 H, setelah melepas tahun lalu dengan satu ibadah besar. Hajji dan Idul Adh-ha 1429 H/2008 M. Tidak ayal, lebih dari 200.000 jamaah Indonesia telah berada ditengah hampir 3 juta umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Mereka tengah berada dalam perjalanan jihad.

h06-12Jihad dibuktikan dengan kerelaan berkurban.

Rela dan siap setiap saat untuk bertaqarrub ila Allah. Senantiasa mendekatkan diri selalu kepada Allah Yang Maha Besar. Allahu Akbar Wa Lillahil-hamd.

Semua ucapan dan pengakuan perlu pembuktian. Bukti tampak dalam bentuk amal perbuatan. Ketika semua para Mujahidin berhimpun disekitar Masy’aril Haram, mengumandangkan kalimat talbiyah.

Satu pernyataan dari lubuk hati yang dalam. Labbaika Allahumma Labbaika, Panggilan Mu ku ta’ati, Ya Allah, panggilan Mu ku ta’ati, Pangilan Mu ku patuhi, Tak ada sekutu bagi Mu, Panggilan Mu kusahuti, Sungguh kepunyaan Mu semata segala puja dan puji, Nikmat dan Kekuasaan milik Mu, Tiada sekutu bagi Mu !!

Diantaranya mungkin terdapat saudara, ibu dan bapak, sanak keluarga, adik dan kakak, teman sebaya dan sekantor, atasan dan karyawan, bahkan mungkin kita sendiri. Semuanya diwaktu yang sama itu berbaur dengan berpakaian ihram putih tanpa beda seperti layaknya kain kafan.

Rambut dan pakaian kusut masai. Berdebu, seperti musafir dalam menempuh perjalanan jauh.

A t t a f a l u dengan bau badan menusuk hidung. Tanpa pembersih dan pengharum. Selalu sibuk kerja keras.

Menguras tenaga, bermandikan peluh. Semata hanya menyahuti panggilan Allah, Labbaika Allahumma Labbaika.

Sepertinya, tengah melakukan pembinaan pribadi ditengah pergulatan hidup. Pengendalian diri, hanya sangat mungkin dimenangkan dengan melupakan kemewahan. Untuk mencapai mabrur dan makbul. Mabrur yang dicitakan mesti diawali oleh Makbul. Seorang yang mendapatkan Mabrur mesti bersedia menjadi jundullah.

Prajurit-prajurit Allah yang akan berperang melawan kemiskinan. Membasmi kemelaratan dan kelaparan melalui upaya bersungguh-sungguh. Menabur benih keselamatan ditengah kesetaraan hidup.

Penyandang gelaran mabrur adalah pribadi-pribadi berhati bersih. Berprilaku taqwa, berjiwa kokoh tahan uji.

Pantang terpengaruh oleh kemilauan hidup duniawi.

Sikap-sikap terpuji ini mendorong pribadi untuk sanggup hidup dan memberi hidup. Hidup ditengah keluarga dalam hubungan integrasi yang kuat kokoh.

Di ikat tali persatuan bangsa dan kesatuan wilayah. Menghidupkan kemandirian local dalam wacana nusantara dan wawasan global. Dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia tercinta ini.

Sejarah bangsa Indonesia ini sangat banyak kaitannya dengan perjalanan para Hujjaj. Sejak dahulu sampai kini. Sejak pertama kalinya bendera Merah Putih berkibar di Padang Arafah ditahun 1946.

Bahkan jauh dari sebelum pulangnya Haji Miskin, Haji Piobang, Haji Sumanik dan para mujahid lainnya. Sedari pertengahan abad keduabelas hingga penghujung abad ke tujuhbelas.

Sambung bersambung tidak terputus, dalam kurun tujuh ratus tahun yang silam.

Amatlah berbahagia satu masyarakat bangsa yang memiliki sederetan para Hujjaj yang mabrur.

Ketika kembali kekampung halaman masing-masing di tanah air tercinta berkemampuan menerapkan sikap hajjan mabruran disertai pengabdian besar.

Kehadiran mereka, Insya Allah, ditengah keluarga dan masyarakat pasti akan menambah panjangnya barisan penegak kebenaran. Menggerakkan pembangunan negeri yang tangguh kokoh dan tahan uji.

Kebahagiaan para hujjaj yang berhasil merebut makbul dan mabrur semakin besar dikala teringat janji Allah, maghfirah dan jannah.

Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW,“al Hajjul-mabruuru laisa lahu jazaa-an illa-al Jannah”, artinya “Haji yang mabrur, tidak ada baginya pembalasan selain surga”.

”Qiila wa maa birruhuu ?” Lalu ditanya orang, “apa yang dimaksud dengan birruhu ?”

Jawaban Rasulullah SAW, Ith-’amu at Tha-’aami, yaitu memberi makan kepada Si Lapar”. Yakni memiliki kepedulian mendalam terhadap simiskin mustadh’afin. Bilangan mereka semakin bertambah setiap hari (35 juta orang), walau senyatanya hidup ditengah negeri yang kaya dan raya.

Wa ifsya’ us-Salami artinya “menyebarkan keselamatan”. Memelopori tegaknya keadilan. Menanam berbagai kebajikan yang pasti berbuah keselamatan. Menabur kedamaian bagi segenap manusia”.(HR. Imam Ahmad dan Imam Baihaqie).

Tonggak Sejarah.

Setiap dilaksanakan Ibadah Hajji dari tahun ketahun, bersambut dengan Muharram tahun Baru Hijrah seperti sekarang, mau tidak mau akan membawa larut kenangan setiap Muslim.

Menuju kepada satu titik sejarah 9 Zulhijjah 10 H bertepatan Maret 632 M, seribu empatratus sepuluh tahun silam.

Dimasa itu, Nabi Muhammad SAW berdiri ditengah hampir 120.000 sabiquunal-awwaluun umat Islam pertama. Mereka juga berdatangan min kulli fajjin ‘amiiq dari segenap penjuru Jazirah.

Merupakan umat pertama yang berkumpul dikaki Jabal Rahmah ditengah Padang Arafah bersama-sama Rasulullah SAW untuk meneriwa wasiat.

Seakan peristiwa timbang terima dakwah ketangan umat pelanjut Risalah berikutnya sepanjang masa. Disaat itu pula Allah telah menurunkan wahyu terakhir, yang isinya;

“Dihari ini (firman Ilahi), Aku lengkapkan untuk kamu agamamu, dan Aku sempurnakan untuk kamu ni’mat Ku, dan Aku nyatakan keredhaan KU untuk Islam menjadi agamamu” (QS.5, Al Maidah:3).

Peristiwa sejarah ini disebut juga Haji Tamam atau Haji Kamal, sesuai makna wahyu terakhir tersebut. Lebih terkenal dengan Wasiat Haji Wada’.

Dalam khuthbah Wada’ Rasulullah SAW menetapkan prinsip-prinsip Islam secara lengkap. Sehubungan Haji Wada’ ini, firman Allah kemudian menyebutkan,

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan hari kemenangan dan engkau lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah; maka bertasbihlah engkau dengan pujaan-pujaanmu terhadap Allah Tuhan engkau dan beristiqfarlah akan dia. Sesunggunya Dia Allah maha memberi taubat” (QS. 110, an-Nashru 1-5),

Dari rentetan sejarah ini, marilah kita masuki tahun baru Hijrah 1421 H dengan semangat merebut “nashrum minal-lah” dengan senantiasa melakukan tasbih dan tahmid dalam makna hakiki istighfar dan introspeksi. ***

Padang, Muharram 1430 H



Husnudz-Dzan di Jalan Allah, Khotbah Idul Fitri 1429 H

Rabu, 2008 Oktober 01

Husnudz-Dzan di Jalan Allah

Husnuz-Dzan Di Jalan Allah
Khuthbah Idul Fitri http://www.blogger.com/img/gl.photo.gif

Oleh : H. Mas’oed Abidin

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر كَبِيْرًا وَ اْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيلاً لاَ ِإلَهَ إِلاَّ الله هُوَ الله أَكْبَر، الله أَكْبَر وَ ِلله الحَمْد. الحَمْدُ لله الذِي جَعَلَ العِيْدَ مُوْسِمًا لِلخَيْرَاتِ وَ جَعَلَ لَنَا مَا فيِ الأرضِ لِلعِمَارَات وَ زَرْعِ الحَسَنَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ خَالِقُ الأرْض وَ السَّمَاوَات، و أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَ رَسُوْله الدَّاعِي إِلىَ دِيْنِهِ بِأَوْضَحِ البَيِّنَات. اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِك عَلَى سَيِّدِالكَائِنَات، نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَ عَلىَ آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ التَّابِعِيْنَ المُجْتَهِدِين لِنَصْرَةِ الدِّين وَ إِزَالةِ المُنْكَرَات. أُوْصِيْكُمْ وَ إِيَّاىَ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ ، الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحَمْد.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada tuhan selain Allah yang
Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.

Allah Maha Besar sebesar-besarnya, segala puji bagi-Nya sebanyak-banyaknya, Maha Suci Allah dari pagi hingga petang hari. Tiada tuhan selain Allah, sendiri. Yang benar janji-Nya, yang memberi kemenangan kepada hamba-Nya, yang memuliakan prajurit-Nya sendirian. Tiada tuhan selain Allah, dan kita tidak beribadah kecualihanya kepada Allah, mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci. Tiada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar, bagi Allah-lah segala puji.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Pada pagi hari ini kita menyaksikan ratusan juta umat manusia mengumandangkan takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid.
Semilyar mulut menggumamkan kebesaran, kesucian, dan pujian untuk Allah Subahanhu wa Ta’ala, sekian banyak pasang mata tertunduk di hadapan kemaha-besaran Allah Azza wa Jalla, sekian banyak hati diharu-biru oleh kecamuk rasa bangga, haru, bahagia dalam merayakan hari kemenangan besar ini.

Sebuah kemenangan dalam pertempuran panjang dan melelahkan.
Bukan melawan musuh di medan laga, bukan melawan pasukan dalam pertempuran
bersenjata.
Tetapi, pertempuran melawan musuh yang ada di dalam diri kita, nafsu dan syahwat serta syetan yang cenderung ingin menjerumuskan kita.

Ibnu Sirin berkata tentang sulitnya mengendalikan jiwa, “Aku tidak pernah mempunyai urusan yang lebih pelik ketimbang urusan jiwa.”

Hasan Bashari berkata, “Binatang binal tidak lebih memperlukan tali kekang ketimbang jiwamu.”

Kemenangan melawan hawa nafsu ini adalah inti kemenangan.
Ini kemenangan terbesar.
Kemenangan utama akan melahirkan kemenangan-kemenangan lain dalam semua kancah kehidupan dunia yang kita arungi.

Kita memerlukan kemenangan seperti ini untuk memenangkan semua pertarungan yang di hadapi dalam hidup ini.
Betapapun banyaknya alat peragat berupa materi untuk merebut kemenangan yang di-kuasai oleh seseorang, kelompok, atau bangsa, ternyata mereka harus menelan kekalahan jua.
Sebenarnya, mereka menguasai ilmu dan teknologi, senjata canggih dan perlengkapan yang mencukupi.
Namun semua itu tidak berdaya ketika berhadapan dengan seseorang, kelompok, atau bangsa yang memiliki ketangguhan jiwa, mempunyai kekuatan mental, yang dibentengi oleh kematangan pribadi.

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar (memiliki ketangguhan).” (Al-Baqarah: 249).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu.

Selama sebulan penuh kita berada dalam bulan suci, bulan penuh keberkahan dan nilai.
Bulan yang mengantarkan kita kepada suasana batin yang sangat indah.
Bulan yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan bagi kita kaum Muslimin.
Bulan Ramadhan melatih kita untuk memberi perhatian kepada waktu.
Sungguh banyak manusia yang tidak bisa menghargai dan memanfaatkan waktunya.

Ramadhan melatih kita untuk selalu rindu kepada waktu-waktu shalat, yang barangkali di luar Ramadhan kita sering mengabaikan waktu-waktu shalat itu.
Adzan telah berkumandang di samping kanan kiri telinga kita, namun kita masih tetap dengan segala kesibukan kita.
Tidak tergerak bibir kita untuk menjawabnya apa lagi untuk memenuhi panggilan itu. Dan kita telah membiarkan suara Muadzin itu memantul di tembok rumah dan kantor kita, lalu pergi bersama angin lalu.

Selama bulan Ramadhan ini kita selalu menunggu suara adzan, minimal adzan Maghrib dan Shubuh. Kita tempel di rumah kita, bahkan kita hapal jadwal Imsakiyyah. Mudah-mudahan selepas Ramadhan ini rasa rindu kepada waktu shalat selalu kita pelihara.

Waktu adalah kehidupan.
Barangsiapa menyia-nyiakan waktunya berarti ia menyiakan-nyiakan hidupnya.

Ada survei tahun 1980 bahwa Jepang adalah negara pertama yang paling produktif dan efektif dalam menggunakan waktu. Disusul Amerika dan Israel.
Subhanallah, ternyata negara-negara itu kini menguasai dunia.

Sebagai seorang muslim, mestinya kita menjadi orang yang paling disiplin dengan waktu kita.

Al-Qur’an yang kita baca di bulan Ramadhan mengisyaratkan pentingnya waktu bagi kehidupan.
Bahkan pada banyak ayat Allah bersumpah dengan waktu.
Maka jika kita ingin menjadi manusia yang terhormat di antara manusia lain dan bermartabat di sisi Allah, hendaknya kita isi waktu kita dengan hal-hal yang produktif, baik untuk kepentingan dunia atau akhirat kita.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu.

Ramadhan juga melatih kita untuk memakmurkan tempat-tempat ibadah; masjid, mushalla, dan surau. Gegap gempita kita mendatangi rumah-rumah Allah ini, kita kerahkan anak istri kita untuk meramaikan tempat suci ini.
Hingga ketika menyaksikan pemandangan indah ini seseorang sempat berkhayal, “Andai Ramadhan datang dua belas kali setahun.”

Begitu indah pemandangan ini, suara pujian dan doa bersahut-sahutan dari pengeras suara di antara masjid-masjid.
Alam serasa hanyut dalam tasbih dan istighfar, di bawah naungan Asma’ al Husna.

Suasana ini perlu kita pertahankan selepas Ramadhan ini, kita perlu mengerahkan keluarga kita untuk memakmurkan masjid-masjid Allah.
Sehingga kita layak mendapatkan janji Allah, bahwa,
“Ada tujuh golongan manusia yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya di hari dimana tidak ada naungan selian naungan Allah .dan (salah satu daripadanya adalah) seseorang yang hatinya terikat dengan masjid.”

Ramadhan juga melatih kita untuk lebih mementingkan ketaatan kepada Allah dengan mengorbankan tenaga dan kepentingan kita

Di saat-saat kita masih lelah bekerja seharian, setelah sepanjang siang kita bertahan dengan rasa lapar dan dahaga. Ketika kita mestinya beristirahat dari kepenatan, namun, justru kita ruku’ dan sujud dalam shalat tarawih atau qiyamu
Ramadhan dengan satu harapan, mudah-mudahan kita mendapatkan ridha Allah. Itu semata satu-satunya yang paling berharga dalam hidup kita selaku Muslim.

Semangat ini mestinya kita pelihara tetap ada setelah Ramadhan meninggalkan kita.

Kita wajib mengabdi dan mempersembahkan apa yang kita miliki ini untuk meraih keridhaan Allah.

Sejatinya, apa yang kita miliki saat ini hanya amanah dari Allah Ta’ala, apakah kita dapat menjaga dan menunaikan amanah ini atau tidak.

Semestinya keridhaan Allah itu menjadi tujuan kita.
Tidak ada desah nafas, mulut bergerak, tangan berayun, dan kaki melangkah kecuali kita harus mengiringinya dengan satu pertanyaan, “Apakah dengan apa yang saya ucapkan dan saya lakukan ini saya akan mendapatkan ridha Allah.” ???

Hingga serasilah apa yang sering kita ikrarkan,
” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam.”

Ramadhan melatih kita untuk mempunyai rasa solidaritas sesama manusia, dengan rasa lapar dan dahaga kita teringat akan nasib sebagian dari saudara-saudara kita yang kurang beruntung di dalam hidup ini, mereka setiap harinya dirongrong rasa lapar dan dahaga.

Rasa kemanusiaan semacam ini nyaris mulai sirna dewasa ini.
Saat budaya hedonisme mulai menjangkiti manusia modern, di mana mereka hanya disibukkan oleh urusan pribadi, nafsi-nafsi, urusanku sendiri sendiri.
Hal ini diakibatkan karena orientasi hidup manusia modern yang hanya memandang materi sebagai satu-satunya tujuan.
Terkadang untuk memenuhi ambisi kebendaannya seseorang rela menghalalkan segala cara.

Maka Solidaritas semacam ini perlu kita pelihara dan kita aplikasikan dalam hubungan dengan sesama manusia dengan melakukan shiyam-shiyam sunnah, di mana Islam telah mensyariatkannya.

Manusia maju atau modern perlu melakukan puasa untuk melatih kepekaan sosialnya

Para pejabat perlu melakukan puasa sunnah untuk merasakan derita yang dialami sebagian besar bangsa ini.
Sehingga, muncul kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada masyarakat miskin. Minimal dapat menurunkan gaya hidup kelas tinggi mereka di tengah bangsa yang menangis ini.

Di antara tanggung jawab umarak adalah melindungi orang lemah dengan memperbaiki silaturahim dan menanam tekad memancangkan keadilan di tengah kehidupan dengan saling menghormati, seperti sabda Rasulullah SAW :

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِى الأرْضِ، يَأوِى إِلَيْهِ الضَّعِيْفِ وَ بِهِ يَنْتَصِرُ المَظْلُوْمُ وَ مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ الله فِى الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ القِيَامَةِ.
رواه ابن النجار عن أبي هريرة

“Penguasa (pemerintahan) yang dilindungi oleh Allah di bumi, lantaran berlindung kepadanya orang lemah dan karena orang teraniaya mendapatkan pertolongan (dengan adil). Barang siapa di dunia memuliakan penguasa yang menjalankan perintah Allah, niscaya orang itu di hari kiamat dimuliakan pula oleh Allah” (Diriwayatkan oleh ibnu Najar dari Abu Hurairah).

Kita menyambut adanya itikad baik dari pemimpin negeri membudayakan hidup sederhana.
Alangkah indahnya jika ajakan hidup sederhana ini di terapkan oleh semua pihak, terutama para pejabat, menteri, anggota dewan, dirjen-dirjen dan lainnya. Ini akan menggurangi anggaran negara dan dapat dialokasikan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Bangsa ini masih terpuruk.
Rakyat masih menderita.
Kemiskinan menjadi pemandangan utama di setiap sudut kota dan pelosok desa. Tidaklah pantas memamerkan kemewahan di hadapan mereka.
Apalagi menggunakan fasilitas negara.

Zuhud, adalah sikap yang diajarkan Islam kepada kita dalam hidup ini.
Az-Zuhri ditanya tentang makna zuhud dan dia menjawab, “Zuhud bukanlah berpakaian yang kumal dan badan yang dekil. Zuhud adalah memalingkan diri dari syahwat dunia.”

Orang mukmin boleh kaya dan berjaya,
namun yang ada di hatinya hanyalah Allah semata.
Letakkan harta di tanganmu dan jangan letakkan di hatimu.
Demikian nasihat ulama.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu

Sungguh banyak pelatihan dalam Diklat Ramadhan kepada kita.
Besar sungguh hikmah disyariatkan shiyam sebulan penuh.
Agar sebelas bulan dalam setahun, kita lalui dengan menerapkan nilai-nilai Ramadhan.

Suasana spiritual yang dilatih selama sebulan Ramadhan ini menjadi energi bagi kita mengarungi sebelas bulan berikutnya. Agar predikat takwa itu benar-benar terjaga dalam diri.

Ketakwaan adalah bekal hidup dan modal untuk menghadapi pengadilan Allah Azza wa Jalla.

“Dan berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”

“Sesungguhnya sebaik-baik kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS,49, Al Hujurat : 13)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu

Ramadhan telah memberikan banyak perubahan dalam diri kita.
Mulai dari sikap, perilaku, dan paradigma dalam memandang hidup dan kehidupan. Mestinya ini semua menjadi bekal untuk melakukan perubahan-perubahan di masa depan. Perubahan yang mengantarkan hidup kita ke arah yang lebih baik. Apakah sebagai pribadi maupun bangsa.

Kehidupan yang kita lalui masih sulit.
Beban yang kita pikul semakin berat sebagai pribadi atau bangsa.

Kita sekarang belum juga bisa keluar dari krisis multi dimensi yang cukup pelik.
Pekerjaan kian sulit dicari.
Harga-harga masih membumbung tinggi.
Angka pengangguran masih tinggi.
Bencana alam silih berganti.
Kejahatan telah meraja-lela.

Demi sesuap nasi, nilai-nilai yang semestinya dijunjung dan dijaga tidak diindahkan lagi.
Bahkan, nyawa yang begitu mahal dan berharga oleh semua agama dan ideologi, kini menjadi taruhan yang sangat murah sekali.

Dari layar TV dan media cetak kita sering menyaksikan peristiwa pembunuhan yang sungguh menjadikan bulu kuduk kita berdiri.
Anak membantai ayah bundanya sendiri. Suami mencincang istri.
Tetangga menghabisi tetangga. Saudara menggorok leher saudara kandungnya.
Rata-rata motifnya sama,.. ekonomi… !!!.
Semua harus bangkit untuk mengatasi semua kesulitan yang melanda bangsa ini.

Tidak akan pernah ada bekal terbaik untuk menghadapi kondisi sulit ini selain ketakwaan semata.

Di dalam lubuk hati umat Islam mesti dikumandangkan pernyataan tulus Khalifah Umar Ibnu Khattab ;
نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا الله بِالإِسْلاَم فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا العِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ
رواه الحكم

“ Kita adalah umat yang telah dibikin berjaya oleh Allah dengan bimbingan agama Islam. Kalaulah (satu kali) kita ingin mencapai kejayaan lagi dengan bimbingan selain agama Islam, (sudah pasti) malah kehinaan yang akan ditimpakan Allah kepada kita.”

Di hari yang fitri ini, di tengah merayakan kemenangan besar, di masa baru saja selesai melakukan pelatihan sebulan penuh.
Di mana nuansa kesucian masih kita rasakan.
Di saat pikiran dan hati telah mengalami pencerahan oleh nilai-nilai ketakwaan. Marilah kita menatap hari esok yang lebih baik, penuh optimisme.

Memang seorang Mukmin Muttaqin berpantang kehilangan asa dalam kondisi apapun. Optimisme adalah harga mati jika kita ingin bangkit mengatasi berbagai kesulitan ini.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu.

Ada beberapa variabel untuk membangun optimisme dalam diri kita.

Pertama, Husnudzan kepada Allah.
Husnudzan atau berprasangka baik kepada Allah harus kita kokohkan dalam diri kita. Kita sepakat bahwa tidak ada satu peristiwa yang terjadi selain hanya dengan izin dan kehendak Allah semata. Termasuk ujian dan kesulitan yang sedang kita hadapi sebagai bangsa atau Negara.

Seorang Mukmin selalu menerima semua ketentuan Allah dengan prasangka baik.
Mukmin punya prinsip bahwa apa yang menimpanya, itulah yang terbaik baginya menurut ketentuan Allah.
Mukmin tidak mau menggerutu kepada Penciptanya.

Mereka tidak pernah memberontak kepada keputusan Tuhannya.
Mukmin selalu menatap semua ujian itu dengan senyum.
Mereka yakin akan mendapatkan dua keuntungan dari ujian itu:
1. Diangkat dan dihapuskannya kesalahan dan dosa-dosanya
2. Dan tinggikan derajatnya di sisi Allah Azza wa Jalla

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ: أَنَّهُ قَالَ : عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ. إِنَّ اللهَ، إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ. فَمَنْ رَضِىَ، فَلَهُ الرِّضَا. وَ مَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ) سنن الترمذي، كتاب الزهد، باب ماجاء في الصبر على البلاء (2320)، سنن ابن ماجه، كتاب الفتن، باب الصبر على البلاء (4011)

Dari Anas bin Malik RA. Rasulullah SAW bersabda: Besarnya suatu balasan amal tergantung pada besarnya cobaan yang diterima. Karena sesungguhnya Allah, jika mencintai suatu kaum, maka ia timpakan bala’ pada mereka. Siapa yang ridha, baginya keridhaan Allah. Siapa yang gundah gulana, makaia akan tersiksa karena kegundahannya (baginya kemurkaan Allah).” (HR. Turmudzi, [2320], Ibnu Majah [4021])

“Sungguh mengherankan urusan seorang Mukmin, semua urusannya berakibat baik baginya, dan itu tidak terjadi kepada selain orang-orang Mukmin, jika mereka mendapatkan kebaikan ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan jika mereka mendapat bencana ia bersabar dan itu baik pula baginya.” (HR.Muslim)

Husnudzan harus kita pelihara dalam diri kita.
Allah tidak menghendaki dari hamba-Nya selain kebaikan di dunia dan di akhirat.
Jangan sampai kita celaka di dunia dan teraniaya di akhirat akibat prasangka buruk kepada Allah.
Na’udzu billah, tsumma na’udzu billah.

Kedua, Tidak putus dari berdoa.
Doa merupakan senjata orang beriman, berdoa merupakan ibadah dan enggan berdoa merupakan kesombongan kepada Allah Azza wa Jalla.

Sebagai bangsa, kita ini diharapkan orang lain mestinya sudah hancur berantakan, mestinya negara yang bernama Indonesia ini sudah gulung tikar.
Krisis ekonami berkepanjangan telah menggiling bangsa.
Krisis kepercayaan, rusak moral, bom meledak di mana-mana, pemerintahan yang lemah Berbagai tekanan bahkan konspirasi untuk menghancurkan bangsa kita begitu kuat dilakukan orang.
Pertikaian dan permusuhan antar suku, entis, dan antar agama menjadi-jadi.
Pertumbuhan ekonomi yang kian memburuk.
Hutang negara kian membumbung tinggi.
Semuanya itu, mestinya sudah cukup membuat kita, sebagai bangsa ambruk terkapar

Tetapi kenyataannya tidak.
Kita masih hidup sebagai bangsa yang kuat.
Apapun keadaannya, kita masih bisa berdiri tegak.
Mengapa hingga saat ini kita masih bisa bertahan…..???.

Kita yakin seyakin-yakinnya, semuanya telah terjadi berkat doa yang dipanjatkan setiap muslim di negeri ini.
Semua itu berkat ratusan juta pasang tangan yang selalu ditengadahkan ke langit. Berdoa agar negeri ini dijauhkan dari kehancuran.
Perpaduan hati dan kecintaan menjadi awal dari persatuan.
Akhlak mulia dan sifat malu pada generasi muda akan menjadikan dunia bersih tak bernoda.

Sabda Rasulullah SAW sebutkan,

العَدْلُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأُمَرَاءِ أَحْسَنُ، السَّخَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأَغْنِيَاءِ أَحْسَنُ، اَلْوَرَعُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى العُلَمَاءِ أَحْسَنُ الصَّبْرُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الفُقَرَاءِ أَحْسَنُ، التَّوْبَةُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الشَّبَابِ أَحْسَنُ، الَحيَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى النِّسَاءِ أَحْسَنُ.
رواه الديلمى عن عمر

“Keadilan itu baik, akan tetapi lebih baik kalau berada pada umarak (pejabat pemerintahan). Kedermawanan itu baik, akan lebih baik jika ada pada orang-orang yang mampu (hartawan). Hemat cermat itu sangat baik, akan tetapi lebih baik kalau cermat itu berada pada orang berilmu. Kesabaran itu baik, namun akan lebih baik kalau ada pada orang miskin. Tobat (meninggalkan dosa itu baik), tetapi akan lebih baik kalau ada pada pemuda. Malu itu baik, tetapi akan lebih baik kalau ada pada perempuan”. (HR. Dailami dari Umar bin Khattab).

Di tangan umarak terletak kunci pemerintahan.
Penguasa yang baik akan menjadikan kehidupan dunia jernih dan saling menyayangi dalam tatanan berbangsa.

خِيَارُ أَئِمَّتُكُمُ الذِّينَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَ يُحِبُّوْنكَمُ ْو َتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَ يُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ.

“Pemimpin/penguasa kamu yang terbaik ialah yang kamu cintai dia setulus hati, sedang mereka pun mencintai kamu rakyatnya dengan sesungguh hati pula. Kamu selalu mendo’akan keselamatan mereka kepada Allah, begitu pula mereka selalu berdo’a dan berusaha keras untuk kesejahteraan kamu rakyatnya, dengan seikhlas hati pula.

وَ شِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الذِّيْنَ تَبْغُضُوْنَهُمْ وَ يَبْغْضُوْنَكُمْ تلَعِْنُوْنـَـهُمْ وَ يَلْعَنُوْنَكُمْ.
رواه مسلم عن ابن مالك
Sejahat-jahat pimpinan pengusaha kamu ialah mereka yang selalu kamu benci karena tindak tanduknya yang tidak adil, dan merekapun membenci kamu rakyatnya setengah mati. Kamu selalu mengutuk dan melaknat mereka supaya kekuasaan mereka cepat tumbang,sedangkan mereka sendiri mengutuki kamu pula dengan cara mempersulit dan menyengsarakan kamu rakyatnya….” (Hadits menurut riwayat Imam Muslim dari A’uf bin Malik).

Ketiga, meneladani para nabi dan rasul. Mereka adalah kekasih-kekasih Allah. Sungguhpun demikian, ujian dan cobaan selalu Allah timpakan kepada mereka, amat dahsyat dan tak terperikan. Bahkan di antara mereka ada yang mendapat gelar Ulil Azmi karena keberhasilan mereka dalam mengahadapi ujian berat.

Rahasianya adalah mereka tidak pernah berputus asa kepada Allah Ta’ala.

Adalah nabiyullah Zakaria yang selalu merindukan anak, namun hingga di usianya yang mulai senja, si buah hati yang di idamkannya belum kunjung datang.
Hal itu tidak membuatnya putus asa dan kehilangan optimisme.

Dengarkan Al-Quran menuturkan,
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakariya, yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya`qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”.(QS.19, Maryam: 2-6).

Orang yang sudah tua renta, istrinya mandul pula, lalu mengharapkan mempunyai anak. Rasanya akan mustahil terjadi. Harapan akan tinggal harapan.

Kekasih Allah tidak pernah menyandarkan harapannya kepada sebab-sebab manusiawi semata.

Sebab sebab itu juga merupakan kehendak Allah.
Sungguh Allah mampu menciptakan dari yang tiada menjadi ada.
Tentulah tidak akan sulit menciptakan dari yang sudah ada, walau usia renta dan istri mandul.

Akhirnya Allah mendengar doanya dan melihat ketegarannya.
“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS.19, Maryam: 7).

Itu pula yang dialami Ibrahim, Khalilullah, ketika beliau bermohon diberi turunan ketika berdoa “Rabbi, Hablii minas-Shalihin”.

Tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Tugas kita hanyalah tetap berusaha dan berdoa.

Pada perang Khandaq, saat sepuluh ribu pasukan sekutu yang terdiri dari suku Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya mengepung Madinah. Sementara Rasulullah hanya didukung dua ribu pasukan dengan parit (khandaaq) yang mengelilingi sebagian sisi kota.

Sementara itu pula, orang-orang Yahudi Bani Quraidzah yang terikat perjanjian dengan kaum Muslimin untuk melindungi wilayah perbatasan kota Madinah, telah berkhianat dan membatalkan perjanjian mereka dengan kaum muslimin dan bergabung dengan pasukan sekutu.

Dengarlah bagaimana sikap Rasulullah SAW ketika menghadapi kondisi genting ini,

“ dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS.61, Ash-Shaaf : 13)

Allahu Akbar,
Bergembiralah wahai sekalian kaum Muslimin dengan kemenangan dari Allah dan pertolongan-Nya.
Ternyata Allah memperhatikan optimisme hamba terbaik-Nya. Dua ribu pasukan Muslim dapat mengalahkan sepuluh ribu pasukan sekutu plus orang-orang Yahudi Bani Quraidzah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu
Keempat, beramal dan bertawakkal.
Allah tidak menurunkan emas dari langit. Gunakan seluruh potensi yang Allah telah karuniakan kepada kita.

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kamu kerjakan”. (At-Taubah:105).

Rasulullah SAW menyebutkan kedudukan amalan karya kita di dunia ini dalam menciptakan kebahagiaan bersama-sama.
الدُّنْيَا الأَرْبَعَةُ نَفَرٍ: عَبْدٌ رِزْقَهُ الله مَالاً وَ عِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيْهِ وَ يَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَ يَعْلَمُ اللهُ حَقًّا فَهذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ.
رواه الترمذي

“ Dunia ini berada dalam genggaman empat tahapan; seorang yang diberi rezki oleh Allah dengan kekayaan dan ilmu, lalu dengan kekayaan itu dia bertaqwa kepada Allah, selanjutnya di ikat tali silahturrahmi dengan masyarakat, kemudian di perhatikannya benar batas-batas hak untuk Allah. Maka disanalah kedudukan sebaik-baiknya.” (HR.Tirmidzi)

Indonesia adalah negara yang berpenduduk muslim terbanyak dengan tanah air paling strategis di perlintasan dunia. Indah seakan “qith’ah minal jannah fid-dunya”.

Negeri ini mesti kita bangun untuk umat masa depan.
Di awali memperbaiki silaturrahim.
صِلَةُ الرَّحِمِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ حُسْنُ الِجوَارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَ يَزِدْنَ فِى الأعْمَارِ. ) رواه أحمد(
“Menghubungkan silaturrahim, budi pekerti yang baik den berbuat baik terhadap tetangga, itulah yang akan meramaikan kampung dan menambah umur”. (HR Ahmad)

Tidak ada yang mengubah diri kita selain kita sendiri.

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikuti-nya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaga-nya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS.13, Ar-Radu: 11).

Minimal dengan memanjatkan do’a secara tulus dan ikhlas agar kemelut tidak terjadi, sebagai bagian dari mensyukuri nikmat, sesuai firman Allah,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingat juga), ketika Tuhanmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Surat ibrahim ayat 7)

Akhirnya, dengan jiwa yang suci bersih bak seorang bayi yang baru lahir. Marilah kita tundukkan hati kita kepada kebesaran Allah, menengadah, mengharap akan karunia dan rahmat-Nya, untuk kita keluarga kita, kaum Muslimin, dan bangsa kita,
رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ اِسْرَافَنَا فِى أَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافَرْيْن.
“Ya Allah, Ampunilah dosa kami, ampunilah keteledoran kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir”.
اللَّهُمَّ لاَ تُمْكِنُ الأَعْدَاءَ فِيْنَا وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ َيَخافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau beri kemungkinan musuh berkuasa terhadap kami janganlah Engkau berikan kemungkinan mereka memerintah kami, walaupun kami mempunyai dosa. Janganlah Engkau jadikan yang memerintah kami, orang yang tidak takut kepada-Mu, dan tidak mempunyai kasih sayang terhadap kami”.
اللهُمَّ أَهْلِكِ الكَفَرَةَ الَّذِي يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَ يَكْذِبُوْنَ رَسُلَكَ وَ يُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَائَكَ
“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah orang-orang yang selalu menutup jalan Engkau, yang tidak memberikan kebebasan kepada agama-Mu, dan mereka-mereka yang mendustakan Rasul-Rasul Engkau,dan mereka yang memerangi orang-orang yang Engkau kasihi”.
اللهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لا َتَرُوْدَهُ عَنِ القَوْمِ الُمجْرِمِْينَ.
“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah kesatuan mereka, dan pecah belah barisan mereka. Turunkan kepada mereka ‘azab sengsara-Mu, yang selalu Engkau timpakan kepada golongan-golongan yang selalu berbuat dosa”.
اللهُمَّ أَعِزِّ الإِسْلاَمِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اخْذُلِ الكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِيْنَ
“Wahai Tuhan kami, berilah kemuliaan kepada Islam dan kaum Muslimin, rendahkanlah orang-orang yang kafir dan orang musyrik”.
رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللِه بَرَكَاتهُُ

Padang, 1 Syawal 1429 H / 1 Oktober 2008 M.



Selamat Datang Ramadhan

 

Selamat Datang Ramadhan Pembawa nikmat Allah.

 

Kesempatan untuk bisa menunaikan ibadah secara khusyuk dan tertib, merupakan nikmat Allah yang besar. Ibadah bernilai spiritual menjadi akar pembentukan sikap terpuji seperti; disiplin waktu, cinta kebersihan, sehat fisik, taat aturan, tuma’ninah (teratur), memiliki kesadaran prima (kontroling), bersikap hati-hati, tabah dan setia. Sikap-sikap yang diperlukan mengarungi kehidupan kini dan menatap keberhasilan masa depan (dunia dan akhirat).

Teranglah orang yang lalai dalam ibadahnya, cenderung akan melalaikan tugas-tugas yang ada didepannya, dan amat mudah untuk mengkhianati amanah yang dipetaruhkan padanya.

Ramadhan adalah bulan mulia yang selalu dinanti secara khusus dan penuh kegembiraan. Bulan ibadah dan bulan pengampunan. Penyambutannya membekas pada adat kebiasaan anak negeri, khususnya di beberapa daerah yang masih kokoh dengan budayanya di Minangkabau.


Ramadhan adalah penghulu sekalian bulan. Orang Minang menyebutnya bulan basaha” (saha = sahur, satu bentuk Sunnah Rasul yang diujudkan dalam makan parak siang sebelum terbitnya fajar, menurut bimbingan ibadah shaum (puasa) mendahului imsak).


Tatkala Ramadhan datang menjelang, Rasulullah SAW menyambut dengan ucapan marhaban bil-muthahhir, artinya, “selamat datang wahai pembersih”. Sahabat bertanya,”Wa mal muthahhiru ya Rasulullah?, (siapa yang di maksud pembersih itu, wahai Rasulullah?)”. Rasulullah SAW menjawab “al-muthahhiru syahru Ramadhana, yuthahhiruna min dzunubii wal ma’ashiy (pembersih itu adalah Ramadhan, dia membersihkan kita dari dosa dan ma’shiyat)”.


Marhaban adalah kata yang kerap dipakai untuk menyambut dan menghormat tamu yang mulia. Bermakna ungkapan selamat datang. Ucapan itu tersirat makna yang dalam Kegembiraan menyambut bulan basaha itu, diiringi kesiapan dan kelapangan waktu, keluasan tempat untuk melakukan tindakan yang berkaitan dengan mengasuh dan mengasah jiwa menuju kebersihan bersamanya.


Bersihnya diri adalah bukti ketaqwaan seseorang. Puasa (shaum) sebagai satu ibadah khusus di bulan Ramadhan, berperan membersihkan diri pelakunya. Sesuai firman Allah :”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu (pengikut Taurat dan Injil) agar kamu bertaqwa (tetap terpelihara, bersih dari dosa dan makshiayat)”. (QS.2, al Baqarah,ayat 183).

Ramadhan adalah bulan turunnya Al Quran yang berisi petunjuk, bimbingan, pembeda antara benar dan salah, penjelasan tentang paradigma hidup manusia. Memasuki bulan Ramadhan wajib melaksanakan ibadah shaum (puasa). Meski sakit sekalipun, kewajiban puasa tidak gugur. Allah memberikan keringanan( rukhsah), berupa keizinan untuk mengganti puasa Ramadhan dengan berpuasa dihari (bulan) lainnya. Kalaupun masih tidak sanggup, karena sakit menahun, yang menyebabkan tidak bisa berpuasa, maka dapat digantikan dengan membayar fidyah (memberi makan orang miskin). Kondisi ini berlaku terhadap orang sakit (tua),yang tidak sanggup untuk berpuasa. Ketentuan Allah ini merupakan kemudahan bagi manusia.


Ajaran agama (Islam) sama sekali tidak memberatkan. Sehingga tidak ada alasan seseorang menolak melaksanakannya jika ia sebenar-benar mempercayai (mukmin). Pada hakekatnya puasa adalah ibadah khas yang membuktikan seorang benar-benar beriman (mukmin) serta mampu bersyukur (berterima kasih) kepada Allah yang telah menjadikan dirinya dan memberikan segala sesuatu keperluan yang diperoleh dalam hidup ini (jelasnya baca: Al Quran,Surat Al Baqarah (2) ayat 184-187).

Selamat menunaikan ibadah Ramadhan.

Wassalam Buya H. Masoed Abidin

 



Hikmah Israk Mikraj Sangat Bermanfaat dalam Pembentukan Karakter Bangsa
Propinsi | Rabu, 30/07/2008 19:50 WIB

Peringatan Isra Mi’raj Jadikan Momentum Pembinaan Karakter Bangsa

Padang, (ANTARA) – Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1429 H, hendaknya dijadikan momentum pembinaan karakter bangsa, karena dalam peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW diawali dengan pembersihan jiwa dan dibekali dengan Iman, Ilmu dan Akhlaq untuk menjadi pemimpin yang rahmatan lil’alamin.

“Secara kebangsaan tidak mungkin maju tanpa tiga kekuatan itu, Iman (Religi), Ilmu (Iptek) dan Akhlaq (kultur, adat dan prilaku,” kata Wakil Ketua Penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar, Buya H. Mas’oed Abidin, di Padang, Rabu.

Menurut dia, tiga modal yang mengisi jiwa Nabi Muhammad SAW pada awal perjalanan Isra Mi’raj, merupakan hal yang sangat substansial dalam pembinaan karakter bangsa.

Penetapan pimpinan bangsa mulai dari tingkat bawah hingga yang lebih tinggi, maka tiga kekuatan itu menjadi penentu. (SA)

Sedangkan Mi’raj atau naik ke atas, kata Mas’oed, satu bentuk hubungan vertikal dengan Allah SWT, tentunya melalui ibadah teratur, tertib, disiplin, taat sebagaimana diajarkan dalam shalat.

“Shalat adalah perintah pertama dalam Islam, tanpa shalat tak ada artinya Agama Islam,” katanya dan menambahkan, shalat mengajarkan pengawasan yang melekat antara makhluk manusia dengan khalik-Nya.

Menurut dia, pemimpin bangsa yang shalat tidak akan tergiur korupsi dan bangsa akan makmur, adil, sejahtera, bersih dan menghargai waktu.

Sejarah perjalanan Nabi dalam Isra’ mulai dari Masjidil Haram, Makkah, hingga ke Masjidil Aqsho di Palestina, sementara Mi’raj menceritakan perjalanan Nabi Muhammad SAW mulai dari Masjidil Aqsho hingga Sidratul Muntaha.

Jadi untuk konteks kekinian bahwa Isra Mi’raj tidak hanya input rasio saja, dua peristiwa itu mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai bukti kerasulan.

Hikmah dibalik bukti kerasulan Nabi itu, kata Buya Mas’oed, agar tak ada lagi orang mendakwakan diri jadi Rasul palsu dan tidak ada lagi manusia yang diperbodoh oleh kepalsuan.

Ia menambahkan, banyak sekali hikmah yang terkandung dalam peristiwa Isra Mi’raj, maka perlu dikaji lebih mendalam sehingga dapat dibentuk karakter bangsa yang beragama dan bukan hanya liberal tanpa arah.