BlogMinangkabau’s Weblog


Bersikap Muahadah, Mujahadah, Muraqabah, Muhasabah, dan Muaqabah dalam Membangun Hari Esok yang lebih baik

Oleh : H. Mas’oed Abidin


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa (orang) memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al Hasyr : 18)

Adalah menjadi kewajiban setiap orang merancang dan mempersiapkan hari esok yang lebih baik.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa seorang akan merugi kalau hari esoknya sama saja dengan hari ini, bahkan dia menjadi terkutuk jika hari ini lebih buruk dari kemarin. Seseorang baru dikatan bahagia, jika hari esok itu lebih baik dari hari ini. jpeg-image-236c397290-pixelstangga-al-haram

Membangun hari esok yang baik, sesuai dengan ayat (wahyu Allah SWT) di atas dimulai dengan perintah bertaqwa kepada Allah dan di akhiri dengan perintah yang sama. Ini mengisyaratkan bahwa landasan berfikir, serta tempat bertolak untuk mempersiapkan hari esok haruslah dengan taqwa.

Semestinya orang Mukmin punya langkah antisipatif terhadap kemungkinan yang dapat terjadi esok disebabkan kelalaian hari ini.

Seorang mukmin sudah dapat memprediksi dan mempersiapkan hari esok yang lebih baik, dinamis, lebih mapan, lebih produktif dari pada hari ini.

Simpulannya, mesti ada peningkatan prestasi dari hari ke hari. Hari esok dapat berarti masa depan dalam kehidupan pendek di dunia ini.

Hari esok juga berarti pula hari esok yang hakiki, yang kekal abadi di akhirat kelak.

Hari esok mesti dirancang harus lebih baik dari hari ini, dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, dengan melaksanakan lima “M ” ; yaitu Mu’ahadah, Mujahadah, Muraqabah, Muhasabah, dan Mu’aqabah.[1]


1. Mu’ahadah

Mu’ahadah adalah mengingat perjanjian dengan Allah SWT. Sebelum manusia lahir ke dunia, masih berada pada alam gaib, yaitu di alam arwah, Allah telah membuat “kontrak” tauhid dengan ruh.

Kontrak tauhid ini terjadi ketika manusia masih dalam keadaan ruh belum berupa materi (badan jasmani). Karena itu, logis sekali jika manusia tidak pernah merasa membuat kontrak tauhid tersebut.

Mu’ahadah konkritnya diikrarkan oleh manusia mukmin kepada Allah setelah kelahirannya ke dunia, berupa ikrar janji kepada Allah. Wujudnya terefleksi minimal 17 kali dalam sehari dan semalam, bagi yang menunaikan shalat wajib, sebagaimana tertera di dalam surat Al Fatihah ayat 5 yang berbunyi: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. Artinya, engkau semata wahai Allah yang kami sembah, dan engkau semata pula tempat kami menyandarkan permohonan dan permintaan pertolongan.

Ikrar janji ini mengandung ketinggian dan kemantapan aqidah. Mengakui tidak ada lain yang berhak disembah dan dimintai pertolongan, kecuali hanya Allah semata.

Tidak ada satupun bentuk ibadah dan isti’anah (Permintaan Pertolongan) yang boleh dialamatkan kepada selain Allah SWT.[2]

Mu’ahadah yang lain adalah ikrar manusia ketika mengucapkan kalimat “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya kuperuntukkan (ku-abdikan) bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam.”


2. Mujahadah

Mujahadah berarti bersungguh hati melaksanakan ibadah dan teguh berkarya amal shaleh, sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah SWT yang sekaligus menjadi amanat serta tujuan diciptakannya manusia.

Dengan beribadah, manusia menjadikan dirinya ‘abdun (hamba) yang dituntut berbakti dan mengabdi kepada Ma’bud (Allah Maha Menjadikan) sebagai konsekuensi manusia sebagai hamba wajib berbakti (beribadah).

Mujahadah adalah sarana menunjukkan ketaatan seorang hamba kepada Allah, sebagai wujud keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya. Di antara perintah Allah SWT kepada manusia adalah untuk selalu berdedikasi dan berkarya secara optimal.

Hal ini dijelaskan di dalam Al Qur’an Surat At Taubah ayat: 5,

“Dan katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukan-Nya kepada kamu apa-apa yang telah kamu kerjakan.”

Orang-orang yang selalu bermujahadah merealisasikan keimanannya dengan beribadah dan beramal shaleh dijanjikan akan mendapatkan petunjuk jalan kebenaran untuk menuju (ridha) Allah SWT hidayah dan rusyda yang dijanjikan Allah diberikan kepada yang terus bermujahadah dengan istiqamah.

Kecerdasan dan kearifan akan memandu dengan selalu ingat kepada Allah SWT, tidak terpukau oleh bujuk rayu hawa nafsu dan syetan yang terus menggoda.

Situasi batin dari orang-orang yang terus musyahadah (menyaksikan) keagungan Ilahi amat tenang. Sehingga tak ada kewajiban yang diperintah dilalaikan dan tidak ada larangan Allah yang dilanggar.

Jiwa yang memiliki rusyda terus hadir dengan khusyu’. Inilah sebenarnya yang disebut mujahidin ‘ala nafsini wa jawarihihi, yaitu orang yang selalu bersungguh dengan nuraninya dan gerakannya.

Syeikh Abu Ali Ad Daqqaq mengatakan: “Barangsiapa menghias lahiriahnya dengan mujahadah, Allah akan memperindah rahasia batinnya melalui musyahadah.”

Imam Al Qusyairi an Naisaburi [3] mengomentari tentang mujahadah sebagai berikut:

« Jiwa mempunyai dua sifat yang menghalanginya dalam mencari kebaikan; Pertama larut dalam mengikuti hawa nafsu, Kedua ingkar terhadap ketaatan.

Manakala jiwa ditunggangi nafsu, wajib dikendalikan dengan kendali taqwa. Manakala jiwa bersikeras ingkar kepada kehendak Tuhan, wajib dilunakkan dengan menolak keinginan hawa nafsunya.

Manakala jiwa bangkit memberontak, wajib ditaklukkan dengan musyahadah dan istigfar.

Sesungguhnya bertahan dalam lapar (puasa) dan bangun malam di perempat malam (tahajjud), adalah sesuatu yang mudah.

Sedangkan membina akhlak dan membersihkan jiwa dari sesuatu yang mengotorinya sangatlah sulit. »

Mujahadah adalah suatu keniscayaan yang mesti diperbuat oleh siapa saja yang ingin kebersihan jiwa serta kematangan iman dan taqwa.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيد ِ * إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ * مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sesunggunya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan adal di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir”. (Q.S. Qaaf: 16-18).


3. Muraqabah

Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT sehingga dengan kesadaran ini mendorong manusia senantiasa rajin melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Sesungguhnya manusia hakikinya selalu berhasrat dan ingin kepada kebaikan dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan, meskipun tidak ada orang yang melihatnya.

Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran. Kesadaran ini makin terpelihara dalam diri seseorang hamba jika meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat dirinya.

Syeikh Ahmad bin Muhammad Ibnu Al Husain Al Jurairy mengatakan, « “Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian. Pertama, hendaknya engkau memaksa jiwamu muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah SWT. Kedua, hendaknya ilmu yang engkau miliki tampak di dalam perilaku lahiriahmu sehari-hari.” »

Syeikh Abu Utsman Al Maghriby mengatakan, « “Abu Hafs mengatakan kepadaku, ‘manakala engkau duduk mengajar orang banyak jadilah seorang penasehat kepada hati dan jiwamu sendiri dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh ramainya orang berkumpul di sekelilingmu, sebab mungkin mereka hanya melihat wujud lahiriahmu, sedangkan Allah SWT memperhatikan wujud batinmu.” »

Dalam setiap keadaan seorang hamba tidak akan pernah terlepas dari ujian yang harus disikapinya dengan kesabaran, serta nikmat yang harus disyukuri. Muraqabah adalah tidak berlepas diri dari kewajiban yang difardhukan Allah SWT yang mesti dilaksanakan, dan larangan yang wajib dihindari.

Muraqabah dapat membentuk mental dan kepribadian seseorang sehingga ia menjadi manusia yang jujur.

« Berlaku jujurlah engkau dalam perkara sekecil apapun dan di manapun engkau berada.

Kejujuran dan keikhlasan adalah dua hal yang harus engkau realisasikan dalam hidupmu. Ia akan bermanfaat bagi dirimu sendiri.

Ikatlah ucapanmu, baik yang lahir maupun yang batin, karena malaikat senantiasa mengontrolmu. Allah SWT Maha Mengetahui segala hal di dalam batin.

Seharusnya engkau malu kepada Allah SWT dalam setiap kesempatan dan seyogyanya hukum Allah SWT menjadi pegangan dlam keseharianmu.

Jangan engkau turuti hawa nafsu dan bisikan syetan, jangan sekali-kali engkau berbuat riya’ dan nifaq. Tindakan itu adalah batil. Kalau engkau berbuat demikian maka engkau akan disiksa.

Engkau berdusta, padalah Allah SWT mengetahui apa yang engkau rahasiakan. Bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang tersembunyi dan yang terang-terangan, semuanya sama.

Bertaubatlah engkau kepada-Nya dan dekatkanlah diri kepada-Nya (Bertaqarrub) dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.” » [4]

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إلاَّ مَا سَعَى وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ اْلأَوْفَى وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya DIA yang menjadikan orang tertawa dan menangis, dan bahwasanya DIA yang mematikan dan yang menghidupkan.” (QS. An-Najm: 39-44)


4. Muhasabah

Muhasabah berarti introspeksi diri, menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan. Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri, dan selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan kelak yang abadi di yaumul akhir.

Dengan melakasanakan Muhasabah, seorang hamba akan selalu menggunakan waktu dan jatah hidupnya dengan sebaik-baiknya, dengan penuh perhitungan baik amal ibadah mahdhah maupun amal sholeh berkaitan kehidupan bermasyarakat. Allah SWT memerintahkan hamba untuk selalu mengintrospeksi dirinya dengan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. melaksanakan shalat shubuh. Selesai salam, ia menoleh ke sebelah kanannya dengan sedih hati. Dia merenung di tempat duduknya hingga terbit matahari, dan berkata ;

« “Demi Allah, aku telah melihat para sahabat (Nabi) Muhammad SAW. Dan sekarang aku tidak melihat sesuatu yang menyerupai mereka sama sekali. Mereka dahulu berdebu dan pucat pasi, mereka melewatkan malam hari dengan sujud dan berdiri karena Allah, mereka membaca kitab Allah dengan bergantian (mengganti-ganti tempat) pijakan kaki dan jidat mereka apabila menyebut Allah, mereka bergetar seperti pohon bergetar diterpa angin, mata mereka mengucurkan air mata membasahi pakaian mereka dan orang-orang sekarang seakan-akan lalai (bila dibandingkan dengan mereka).” »

Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah serta mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Berbicara tentang waktu, seorang ulama yang bernama Malik bin Nabi berkata ; « “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali ia berseru, “Wahai anak cucu Adam, aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.” » [5]

Waktu terus berlalu, ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya. Allah SWT bersumpah dengan berbagai kata yang menunjuk pada waktu seperti Wa Al Lail (demi malam), Wa An Nahr (demi siang), dan lain-lain.

Waktu adalah modal utama manusia. Apabila tidak dipergunakan dengan baik, waktu akan terus berlalu. Banyak sekali hadits Nabi SAW yang memperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin.

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا َكثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَ الفَرَاغُ

“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang: Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).” (H.R. Bukhari melalui Ibnu Abbas r.a).


5. Mu’aqabah

Muaqabah artinya pemberian sanksi terhadap diri sendiri. Apabila melakukan kesalahan atau sesuatu yang bersifat dosa maka ia segera menghapus dengan amal yang lebih utama meskipun terasa berat, seperti berinfaq dan sebagainya.

Kesalahan maupun dosa adalah kesesatan.

Oleh karena itu agar manusia tidak tersesat hendaklah manusia bertaubat kepada Allah, mengerjakan kebajikan sesuai dengan norma yang ditentukan untuk menuju ridha dan ampunan Allah.

Berkubang dan hanyut dalam kesalahan adalah perbuatan yang melampaui batas dan wajib ditinggalkan.

Di dalam ajaran Islam, orang baik adalah orang yang manakala berbuat salah, bersegera mengakui dirinya salah, kemudian bertaubat, dalam arti kembali ke jalan Allah dan berniat dan berupaya kuat untuk tidak akan pernah mengulanginya untuk kedua kalinya.

Shadaqallahul’azhim. Allahu A’lamu Bissawab.


Catatan kaki ;

[1] Syeikh Abdullah Nasih ‘Ulwan dalam bukunya ‘Ruhniyatut Da’iyah’

[2] Demikian komentar Imam as Syaukani dalam kitab tafsirnya ‘Fathul Qadir’ dan Syeikh Ali As Shabuni dalam kitab tafsirnya ‘Shafwatut Tafaasir’.

[3] Kitab tasawuf, “Risalatul Qusyairiyah”.

[4] Syeikh Abdul Kadir Jailany memberikan nasehat kepada kita sebagaimana yang terdapat dalam kitabnya Al Fathu Arrabbaani wa Al Faidh Ar Rahmaani.

[5] Malik bin Nabi dalam bukunya Syuruth An Nahdhah



Sifat Ibadurarhman yang Kedua adalah “MURAH HATI”

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Q.S. Fushilat: 34)

Sifat Ibadurrahman yang kedua: Murah hati

Sifat Ibadurrahman yang kedua adalah sifat Murah Hati saat bergaul dengan manusia, terutama dengan orang-orang yang jahil dan bodoh. Sebagaimana firman Allah SWT,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُوjpeg-image-227c397269-pixels-buyaنَ قَالُوا سَلامًا

“… dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, maka mereka mengucapkan kata-kata yang baik (yang mengandung keselamatan),” (Q.S. Al Furqan: 63)

Mengucapkan kata-kata yang baik artinya membebaskan diri dari kata-kata yang mengandung dosa, celaan, fitnah dan rasa dendam. Tidak membals keburukan dengan keburukan yang sama, meskipun itu sanggup dilakukan dan punya hak untuk membalasnya.

Allah SWT berfirman:

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling dari padanya dan mereka berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang jahil.” (Q.S Al-Qashash: 55)

Ketika orang-orang jahil menyapa, maka Ibadurrahman mengucapkan perkataan yang baik, tidak melumuri lidahnya dengan kata-kata yang sia-sia, tidak meladeni dan menghindarinya. Karena mereka tidak mau waktu mereka terbuang hanya untuk melayani sesuatu yang tidak bermanfaat, bukankah waktu sangat berharga apalagi bagi Ibadurrahman. Begitulah Ibadarurrahman, mereka menjaga lidah, waktu dan umur, melindungi lembaran-lembaran kebaikan yang sudah ada dan mengisi dengan kebaikan-kebaikan yang lain, menghindari keburukan dan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat bagi mereka.

Nabi Isa a.s pernah berjalan melewati sekumpulan orang-orang Yahudi, lalu mereka melontarkan kata-kata yang tidak senonoh kepda beliau, tapi beliau menanggapi perkataan mereka dengan kebaikan. Maka ada beberapa orang bertanya kepada beliau, “Orang-orang itu telah melontarkan kata-kata tidak senonoh kepada engkau, namun engkau justru mengatakan yang baik kepada mereka.” Beliau menjawab, “Segala sesuatu mengeluarkan apa yang ada di dalamnya.”

Anas bin Malik r.a pernah berkata;

“Jika ada yang mengucapkan kata-kata kasar kepadamu, misalnya dengan ungkapan, “Wahai orang zalim, fasik, pendusta, pembohong”, atau kata-kata lain yang tidak senonoh, maka hadapilah ia dengan berkata, “Kalau memang engkau berkata bahwa aku ini seperti yang engkau katakan, semoga Allah mengampuni kesalahanku. Jika engkau dusta atau mengada-adaatau memfitnah dengan kata-katamu itu, semoga Allah mengampuni kedustaanmu.”

Allah SWT berfirman:

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Q.S. Fushilat: 34)

Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk tetap berlaku baik bahkan yang lebih baik kepada orang yang berbuat jahat kepada kita, agar dia dapat berbalik menjadi teman yang setia. Karena manusia itu hakikatnya selalu menjadi tawanan dari kebaikan. Jika kita berbuat baik kepada seseorang, maka kebaikan itu akan mengikat dirinya dengan diri kita, sebagaimana yang dikatakan seorang penyair:

“Tundukkan hati manusia dengan berbuat baik kepadanya. Karena hanya kebaikan yang dapat menundukkan hati manusia”.

Dalam pembahasan sehari-hari, kita selalu menyebut dan menykapi dengan tidak senang seseorang yang disebut orang-orang yang jahil.

Siapakah mereka yang disebut dengan orang-orang yang jahil itu? …

Menurut Syaikh Yusuf Al-Qardhawy, jahil menurut Al Qur’an adalah setiap orang yang durhaka kepada Allah Azza wa Jalla, setiap orang yang memberi kekuasaan kepada hawa nafsu untuk mengalahkan kebenaran.

Dan setiap orang yang memberi kekuasaan kepada syahwat untuk mengalahkan akal sehatnya, dapat dikatakan jahil.

Orang-orang yang meremehkan, mengolok-olok masalah yang serius dan mengejek kebenaran.

Begitupun setiap orang yang akhlaknya buruk.

Al Qur’an menceritakan ketika para wanita tertarik dan terpesona saat menatap wajah tampan Nabi Yusuf a.s, maka Nabi Yusuf a.s berkata,

“…Dan jika tidak Engkau hindarkan aku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk memenuhi keinginan mereka, dan tentulah aku termasuk orang-orang yang jahil.” (Q.S. Yusuf: 33)

Al Qur’an juga menceritakan ketika Nabi Musa a.s memerintahkan kaumnya agar menyembelih sapi betina, maka mereka berkata,

“Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” (Q.S. Al Baqarah: 67)

Sebagai penutup marilah kita simak hadits Rasulullah SAW berikut ini:

“Bersabda Nabi SAW kepada ‘Uqbah bin ‘Amir r.a,

“Wahai ‘Uqbah, maukah engkau aku beritahukan budi pekrti ahli dunia dan akhrat yang paling utama?

Yaitu: Melakukan silaturrahmi (menghubungkan kekeluargaan) dengan orang yang telah memutuskannya, memberi kepad orang yang tidak pernah memberimu, dan memaafkan orang yang pernah menganiayamu.” (H.R. Hakim)

Allahu A’lam bi as Shawab



Sifat Sifat Ibadurrahman,

“Rendah Hati”

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ;

“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang (Ibadurrahman) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (mengandung) keselamatan.

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.jpeg-image-236c397290-pixelstangga-al-haram

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami …Anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami, penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam sorga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan-ucapan selamat di dalamnya.”

Firman Allah ini ditemui di dalam Alquranul Karim, Q.S. Al Furqan, ayat  63-75.

Ibadurrahman adalah hamba-hamba yang dinisbatkan kepada Allah semata (Ar Rahman) yang mengandung pengertian, bahwa mereka adalah hamba-hamba yang layak mendapatkan rahmat Allah dan mereka selalu berada dalam lingkup rahmat-Nya.

Mereka adalah orang-orang yang menyadari kekuasaan Allah dan memenuhi hak-hak-Nya, yang memurnikan agama karena Allah dan Allah memurnikan agama-Nya bagi mereka.

Dinisbatkannya mereka kepada Allah Yang Maha Rahman – sebagaimana yang dinyatakan langsung oleh Allah – oleh karena disana juga ada golongan-golongan hamba yang lain, seperti hamba syeitan, hamba taghut, hamba syahwat, hamba uang, hamba khamar, hamba narkoba, hamba birahi, hamba harta, hamba tahta, hamba wanita. Ibadurrahman mempunyai sifat dan tanda-tanda sebagaiman yang disebutkan Allah di dalam ayat-ayat di atas.

Sifat-sifat tersebut adalah:

1. Tawadhu’ dan rendah hati

2. Murah hati

3. Mendirikan shalat malam (Qiyamullail)

4. Takut neraka

5. Sederhana dalam membelanjakan harta

6. Tauhid

7. Menjauhi tindak pembunuhan dan menghormati kehidupan

8. Menjauhi zina

9. Taubat Nasuha

10. Tidak bersumpah palsu dan meninggalkan pekerjaan yang tidak bermanfaat

11. Menyelami ayat-ayat Allah

12. Memohon kebaikan bagi istri dan keluarganya.

Sifat Ibadurrahman yang pertama adalah  Tawadhu’, sebagaimana diungkap  oleh Al Qur’an bahwa mereka berjalan di muka bumi dalam keadaan rendah hati dan penuh tawadhu’.

Ibadurrahman bila berjalan di muka bumi dalam keadaan rendah hati, tawadhu’ dan lemah lembut, berjalan dengan penuh kewibawaan dan kehormatan, tidak dengan sikap sombong dan semaunya sendiri, tidak merasa lebih tinggi dari siapapun, tidak menyeramkan dan tidak congkak.

Syaikh Yusuf Al Qardhawy mengatakan maksud berjalan dengan rendah hati bukan berarti berjalan dengan cara membungku-bungkuk seperti orang sakit, sebab Rasulullah SAW tidak berbuat seperti itu, begitu pula para sahabat.

Sebagaimana yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib r.a, dari Nabi SAW, bahwa saat berjalan badan beliau bergerak-gerak seperti sedang meniti jalan menurun. Ini merupakan jalannya orang-orang yang penuh semangatdan pemberani, seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim di dalam Zadul Ma’ad .

Abu Hurairah juga pernah berkata, “Aku tidak melihat sesuatu pun yang lebih bagus dari pada Rasulullah SAW. Seolah-oleh matahari berjalan di muka beliau. Aku juga tidak melihat seseorang yang lebih jalannya daripada beliau, seakan-akan bumi menjadi turun di hadapan beliau. Kami sudah berusaha menyeimbangi beliau, tapi beliau seperti tidak peduli.”

Rasulullah tidak berjalan seperti orang sakit atau lamban.

Maksud dari kata-kata cepat di sini bukan berarti cara berjalan yang menghilangkan kewibawaan, yang berjalan terlalu cepat.

Artinya sedang-sedang saja, tidak terlalu cepat tidak terlalu lambat, sesuai dengan perawakan, umur dan kemampuan.

Rasulullah SAW juga para sahabat beliau telah menyontohkan kepada kita sikap tawadhu’ yang pada dasrnya adalah salah satu landasan sikap dan akhlak mereka.

Marilah kita simak kata-kata hikmah berikut ini yang terdapat dalam kitab Muzakarah fi manazili as Shiddiqin wa ar Rabbaniyyin; min khilali an Nushus wa Hikam Ibnu ‘Athaillah Sakandary, karya Syaikh Sa’id Hawwa:

“Barangsiapa yang beranggapan bahwa dirinya tawadhu’ pada hakikatnya dia orang-orang yang sombong, sebab anggapan tawadhu’ seperti ini tidak timbul kecuali lantaran rasa tinggi diri/tinggi hati.

Karena itu, jika engkau beranggapan bahwa dirimu telah tawadhu’ sebenarnya engkau adalah orang yang takabur (sombong).”

Allahu A’lam Bi As Shawab



Sifat Sifat Terpuji Hamba Allah yang terpilih atau IBADURRAHMAN, pokok-pokok akhlak Qurani….

Sabtu, 2008 September 20

IBADURRAHMAN

Ibadurrahman, Hamba Allah yang Rahman

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

Allah SWT berfirman ;
“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang (Ibadurrahman) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (mengandung) keselamatan.
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.
Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami …Anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami, penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.
Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam sorga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan-ucapan selamat di dalamnya.”

(Q.S. Al Furqan: 63-75)

Ibadurrahman adalah hamba-hamba Allah yang selalu berada dalam lingkup rahmat Allah. Mereka adalah orang-orang yang menyadari kekuasaan Allah dan memenuhi hak-hak Allah dan memurnikan agama karena Allah. Mereka dinisbatkan kepada Allah Yang Maha Rahman.

Ibadurrahman mempunyai sifat dan tanda-tanda yang disebutkan Allah di dalam ayat-ayat di atas, dengan jelas memiliki sifat-sifat seperti ;

1. Tawadhu’ dan rendah hati

2. Pemurah dan lembut hati,

3. Suka mendirikan shalat malam (Qiyamullail),

4. Sangat takut akan bahaya neraka,

5. Sederhana dalam membelanjakan harta,

6. Memiliki Tauhid yang istiqamah,

7. Menjauhi tindak pembunuhan dengan memuliakan kehidupan,

8. Menjauhi perbuatan zina, dan suka bertaubat Nasuha,

9. Tidak mau bersumpah palsu,

10. Meninggalkan pekerjaan yang tidak bermanfaat,

11. Mendalami ayat-ayat Allah, dan

12. Memohon kebaikan bagi istri dan keluarganya

Dengan demikian dapat dipahami bahwa selain hamba Allah yang Rahman, tentu akan ada golongan-golongan hamba-hamba atau budak-budak yang lainnya. Seperti hamba (budak) syeitan, hamba taghut, hamba syahwat, hamba uang, hamba khamar, hamba narkoba, hamba birahi, hamba harta, hamba tahta, hamba wanita. Mereka pasti tidak mempunyai keduabelas sifat utama ini.

Moga kita semua dapat memiliki keduabelas sifat utama ini untuk meraih predikat Ibadur-Rahman. Amin.



Science dan Tauhidik, Sinyal Alquran menjawab keraguan Ilmu Pengetahuan Alam dan Fisika
Mei 10, 2008, 1:03 pm
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Globalisasi, Iptek, Komentar, Mukjizat Alquran, Science, Tauhidik

SCIENCE dan TAUHIDIK
Iptek (=ilmu pengetahuan dan teknologi) sebenarnya membawa kepada Tauhid
dalam bimbingan Alquran

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Salah satu yang dari hal-hal yang menakjubkan dalam Alquran adalah dalam hal kecocokannya dengan science.

Alquran yang diturunkan pada abad ke-7 kepada Muhammad (s.a.w.) mengandung fakta-fakta ilmiah yang tak terbayangkan di mana, kadang-kala ilmu pengetahuan yang telah disinyalkan oleh Alquran itu, baru ditemukan di abad ini.

Maka tidak jarang, para ilmuwan terkesima.
Bahkan seringkali tak dapat berkata-kata ketika kepada mereka ditunjukkan bagaimana terperinci dan akuratnya beberapa ayat dalam Quran terhadap ilmu pengetahuan modern.

Dalam dua salinan Alquran yang terdapat dalam sebuah museum di Turki dan Rusia, ternyata masing-masingnya telah berumur sekitar 1400 tahun (empat berlas abad).

Masing-masing salinan Alquran itu sama-sama persis dengan yang ada dewasa ini.
Maka tidak dapat di bantak bahwa Alquran adalah sebuah kitab suci yang amat otentik, teruji, dan tidak ditemui pada satu dokumen-dokumen kitab suci yang lainnya.

Ketika kita membaca keterangan ini, sesungguhnya ingatlah selalu bahwa Alquran itu telah diturunkan lebih dari 1400 tahun yang lalu, kepada seorang yang amat dipercaya, bersih dan bergelar al Amin, yakni Muhammad SAW.

Pikirkanlah secara runtut dan mendalam, bahwa di dalam Alquran itu, didapati perkhabaran yang amat jelas mengenai gagasan-gagasan umum saat itu, dan tentang keadaan yang terjadi sepanjang masak, dalam konsep dan kontekstual kehidupan manusia.
Sebaiknya dicatat betapa terperincinya ayat-ayatnya.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru (ufuk) dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa sesungguhnya (Alquran) itu adalah benar. Dan apakah Tiadakah tidak cukup untukmu, bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”[QS.41,Fushshilat : 53]

Melalui mitos-mitos sejarah dan takhyul-takhyul yang menyebar begitu luas di bawah bendera agama sejak lama, sebelum Alquran diwahyukan kepada Muhammad SAW, maka telah terjadi sesungguhnya sifat dari Tuhan telah dilumuri dan terdistorsi.

Begitu banyaknya sehingga dalam agama apapun dianggap sebagai suatu kebodohan yang kekanak-kanakan oleh para raksasa intelek modern, jika seorang berpendapat bahwa ilmu atau science yang sebenarnya adalah wahyu Tuhan, atau keterangan dalam kitab suci.

Dalam mengahadapi kondisi semacam itu, Alquran menjawab tantangan itu.

Tidak ada buku lain selain Alquran yang menyatakan dirinya atau dibuktikan secara nyata sebagai buku atau dokumen yang bebas error dan kontradisksi seperti Kitab Alquran ini.

Kitab yang otentik berdasarkan pengetahuan dan pengujian dalam dunia dewasa ini.
Keadaan ini, telah memberikan tantangan kepada para ahli yang menganalisa sejarah pengetahuan modern berdasarkan fakta-fakta ilmiah tentang keotentikan fakta-fakta yang ada di dalamnya.

Science (ilmu pengetahuan manusia yang diteliti dan diungkap kebenarannya oleh manusia) dan Islam (yang sebenarnya hanya sebagian kecil saja dari Ilmu Tuhan yang direpresentasikan di dalam Alquran), layaknya dua saudara kembar.

Hubungan erat antara science (astronomi, fisika, biologi, matematika, dan segudang ilmu pengetahuan lainnya yang dikenal manusia di zaman sekarang ini.) dan Islam telah memberikan peran yang besar dalam kehidupan manusia secara langsung maupun tidak, kedua-duanya telah menjadikan keyakinan manusia bertambah kuat dalam memahami kebesaran dan kekuasaan Allah SWT Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa dan Maha Berilmu.

Science adalah salah satu bagian yang paling menakjubkan dari berbagai segi keajaiban Quran.
Kita selalu kekurangan waktu untuk membedahnya.
Sangat menakjubkan lagi setelah kita mengetahui sejarah turunnya, bahwa Alquran ini telah diturunkan lebih dari 1400 tahun yang lalu….. Allahu Akbar !!!.

Ilmu Allah SWT yang diturunkan kepada manusia ini memang untuk dibedah, dikaji untuk dijadikan petunjuk dan diambil manfaatnya bagi semesta alam.
Sebaliknya, data ilmiah tertentu yang dikuasai manusia dari hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga merupakan sarana untuk memahami ayat-ayat Allah SWT secara lebih baik dab lebih sempurna lagi.

“Bukanlah kepercayaan dalam Islam yang pertama kali menuntun langkah-langkahku, melainkan penelitian sederhana untuk kebenaran.
Apa yang membawaku pada keyakinan ini adalah fakta yang tak akan pernah terpikirkan untuk seorang manusia dari masa Muhammad menjadi seorang penulis dari pernyataan-pernyataan sebagaimana pengetahuan yang kenal saat ini pada waktu-waktu tersebut.”
kata ungkapan nurani Dr.Maurice Bucaille, seorang ilmuan medis terkemuka dari French Academy of Medicine, yang kemudian menulis buku berjudul “Injil, Quran dan Science.”

Allah SWT, Maha Pencipta dengan Cinta dan Kasih-Nya telah melimpah untuk umat manusia bimbingan hidayah dan ma’unahNYA, sehingga dengan bimbingan itu, manusia tidak ditinggalkan di dalam kegelapan untuk menemukan jalan yang lurus. Manusia dengan wahyuNYA yang adalah sebagian dari ilmu Allah SWT Yang Maha Luas itu, telah membawa manuysia menempuh jalan yang lurus, tanpa harus ragu dan dengan cara mencoba-coba. Tidak. Tidak sama sekali.

Sebagian ilmu Allah SWT yang diberikan melalui Alquran dan kemudian digabung dengan kemampuan intelektual manusia, maka sebenarnya Allah SWT telah memberikan petunjuk-Nya untuk mencapai Kebenaran dan berbagai pengetahuan.

Dari awal mula umat manusia diciptakan, maka Sang Pencipta, Allah Khaliq al ‘Alam telah mengirimkan nabi-nabi untuk menyampaikan Wahyu-Nya dan mengajak manusia ke jalan Kedamaian dan Kepatuhan yang benar-benar menuju kepada Tuhan semata-mata.

Melalui nabi-nabi yang berbeda dalam generasi ke generasi, namun tetap untuk tujuan yang sama, menuju Allah Yang Esa, Allahu Ahad, menjangkau redha NYA semata. Inilah ISLAM.

Namun, malangnya manausia, karena sebagian atau bahkan seluruh pesan-pesan yang terdahulu dari Tuhan itu, telah terdistorsi oleh orang-orang dari generasi ke generasi berikutnya, dikaburkan dan dirusak dengan mitos, takhyul, kemusyrikan dan ideologi yang tidak rasional.

Ketika umat manusia tenggelam dalam kegelapan, Tuhan mengirimkan nabi terakhir-Nya, Nabi Muhammad Shallalhu ‘alaihi wa Sallam untuk menyampaikan wahyu terakhir yang merupakan sumber referensi yang sempurna sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia.

Alquran adalah kata-kata Allah (kalimat haq) yang diwahyukan untuk pedoman bagi seluruh manusia.
Alquran adalah sumber bagi Pengajaran-pengajaran dan Hukum-hukum dalam Islam.
Alquran itu, isinya meliputi dasar-dasar keimanan, sejarah manusia, peribadahan, pengetahuan, kebijaksanaan, hubungan Tuhan dengan manusia, dan hubungan antara manusia dalam semua aspek kehidupan.
Alquran berisi pengajaran-pengajaran yang komprehensif dalam hal membangun sistem yang bagus dan keadilan sosial, ekonomi, politik, pemerintahan.
Alquran lengkap berisikan yurisprudensi, hukum dan hubungan internasional.
Semua hal penting bertalian dengan hidup dan matinya manusia, tentang alam kini, kemarin dan yang akan datang, tentang kebahagiaan, arti, hakikat dan makrifatnya, tentang hidup dan kehidupan, tentang dunia, yang nyata dan tersembunyi (ghaib), semuanya itulah hal paling lengkap yang merupakan isi-isi yang penting dari Alquran.

QURAN MENGENAI ALAM SEMESTA

“Sesungguhnya pada langit dan bumi terdapat tanda-tanda…”[QS.45,Al Jaatsiyah : 3]

(1). “Ilmu pengetahuan kosmologi modern, secara observasi maupun teori, menunjukkan dengan jelas bahwa, pada suatu ketika dalam waktu, keseluruhan alam semesta adalah tak sesuatupun melainkan sebuah AWAN BERUPA ASAP” (yaitu Sebuah komposisi padatan tinggi yang gelap dan gas yang panas)

Dijelaskan oleh Alquran, “Lalu kemudian, Dia mengarah kepada langit, ketika langit itu berupa asap…”[QS.41,Fusshilat :11]

Bukankah orang-orang yang kafir mengetahui bahwa sesungguhnya langit dan bumi dahulunya keduanya berpadu, lalu Kami pisahkan mereka. Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air…[QS.21, Al Anbiya':30]

(2). “Air merupakan unsur utama dari benda hidup.
Dari 50 hingga 90 persen dari berat organisme hidup adalah air.”
“Kami membangun langit itu dengan tangan-tangan kami, dan Kami meluaskannya.”[QS.51, Adz-Dzariyaat:47]

(3). “Pengetahuan kami mengenai ekspansi alam semesta.”

“Dan Dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan,
masing-masing BERENANG pada GARIS EDAR-nya.”
[QS.21, Al Anbiya':33]

“Dia telah menciptakan langit dan bumi dengan benar (proporsinya): Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam: dan menundukkan matahari dan bulan (kepada hukum-Nya), semuanya beredar (berjalan) mengikuti waktu yang telah ditentukan…..Ingatlah bahwa DIA yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” [QS.39, Az Zumar:5]

“…Dia menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi mereka yang berpikir !”[QS.13, Ar Ra'du:3]

Beberapa referensi iptek yang dengan jelas diungkapkan Alquran, antara lainnya ;

“Maka apabila langit terbelah, maka dia menjadi mawar merah seperti minyak (berkilauan).”[QS.55, Ar-Rahman:37]

Lihatlah dan renungkan dalam-dalam sinyal Alquran tentang ilmu pengetahuan yang baru terungkaap di abad ini.
Kita melihatnya hasil penelitian kebenaran ilmu pengatahuan itu, baru di tahun 1999/2000, oleh Teleskop Ruang Angkasa NASA ditangkap dari “Cat’s Eye Nebula.”, yang merupakan sebuah ledakan bintang 3,000 tahun cahaya jauhnya, yang sebenarnya ilmuan harus menamakan dengan ” MAWAR MERAH atau Red Rose Nebula”, seperti telah diungkap oleh Alquran pada Surat 55, Ar Rahman ayat 33, sejak 14 abad lamanya sebelum teleskop menangkapnya.
Allahu Akbar !!!
Adakah lagi nikmat Allah yang engkau akan mungkiri ???[QS.55,ar-Rahman :38]

ALQURAN BERCERITA MENGENAI GUNUNG-GUNUNG

Bukankah Kami telah menjadikan bumi terbentang dan gunung-gunung itu sebagai PASAK-PASAK?[QS.78,An Naba':6-7]

Bahwa Gunung-gunung memiliki akar-akar yang menjuntai ke bawah, kata ilm u pengetahuan (sciense).
Ilmu-ilmu pengetahuan bumi modern telah membuktikan bahwa gunung-gunung memiliki akar-akar yang dalam di bawah permukaan tanah.

“Dan Dia telah mengukuhkan gunung-gunung di bumi supaya tidak GONCANG bersama kamu, sungai-sungai dan jalan-jalan, supaya kamu dapat menunjuki dirimu sendiri”[QS.16, An-Nahl:15]

Ilmu pengetahuan modern menyebutkan bahwa “Gunung-gunung memainkan peranan penting dalam membuat kestabilan pada kerak bumi.”
Seperti halnya teori modern mengenai lapisan tektonik menyatakan bahwa gunung-gunung bekerja sebagai stabilisator-stabilisator bagi bumi.
Kaedah ilmu ini baru mulai dipahami dalam kerangka kerja iptek mengenai lapisan tektonik sejak akhir tahun 1960-an.

Allahu Akbar.
Padahal Alquran telah menjelaskan sejelas-jelasnya sejak 14 abad sebelum ilmu pengetahuan membukti hasil researchnya.
Adakah lagi nikmat Allah SWT yang engkau tolak dan dustakan ???

ALQURAN BERKISAH TENTANG PERGERAKAN AWAN

Belumkah kamu melihat bagaimana Allah menggerakkan awan-awan dengan perlahan-lahan, kemudian Dia menggabungkan mereka bersama-sama, kemudian membuat mereka ke dalam satu susunan, dan kemudian engkau melihat hujan turun darinya…[QS.24,An-Nur:43]

Awan-awan ditiup angin.
Awan-awan dalam formasi masif (menggunung) mulai membentuk gumpalan-gumpalan manakala angin telah mendorong.
Gumpalan-gumpalan kecil awan putih itu berjalan menuju suatu area di mana awan-awan itu bertemu dan berkumpul.
Awan-awan itu bergabung.
Kemudian, awan-awan kecil berhimpun, bergabung bersama membentuk awan yang lebih besar.
Kemudian awan bertimbun menyatu lebih besar.
Di kala gumpalan-gumpalan awan-awan kecil telah bergabung bersama, bersama-sama membubung dengan gumpalan awan-awan yang lebih besar, makin ke atas……
Pembubungan ini disebabkan badan awan bertumbuh secara vertikal, sehingga awan tersusun bertingkat-tingkat ke atas…
Ketika titik-titik air dan salju, yang kian lama menjadi terlalu berat di dalam i pembubungan awan itu, sehingga tidak kuat untuk mendukungnya …..,
dari sana mulai turun dari awan itu titik-titik sebagai hujan, dan salju ….
…Dan Dia menurunkan SALJU dari gunung-gunung di langit,
maka Dia menimpakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan
Dia menghindarkannya dari siapa yang dikehendaki-Nya.
Hampirlah sinar kilat itu menghilangkan penglihatan.
” [QS.24, An-Nur:43]

Ahli-ahli meteorologi telah menemukan bahwa awan-awan yang menggunung, menimbulkan hujan salju, ketika mencapai suatu ketinggian 25.000 hingga 30.000 ft (+/- 6 hingga 8 km) dari permukaan bumi.
Awan-awan menjadi beraliran listrik ketika salju jatuh melalui suatu wilayah dalam awan yang yang berisi serpihan-serpihan jatuh dan kristal-kristal es yang super dingin…
Salju, dengan tegangan yang negatif, jatuh melalui bagian bawah awan, sehingga bagian ini menjadi bermuatan negatif.
Muatan-muatan negatif ini dinetralkan ke tanah sebagai kilat.

Allahu Akbar.
Adakah lagi nikmat Allah yang akan kalian dustakan???
Tigapuluhtiga kali peringatan itu di ulang-ulangkan oleh Allah SWT di dalam Surah Ar Rahman,
“Fa Biayyi aalaai rabbikumaa tukadzdzibaan …!!!!”
MAKA NIKMAT TUHAN KAMU YANG MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN !!!!

Lihatlah juga beberapa referensi tentang Ilmu Pengetahuan yang juga ditemukan di dalam buku-buku penulisan para ahli, antara lain ;

1. The First Three Minutes,a Modern View of the Oringin of the Universe,
Weinberg, Page: 94-105
2. Microsoft Encarta Encyclopedia, 1996
3. Understanding the Earth a new synthesis, G.C. Brown, C.J. Hawkesworth
& C.C. Wilson 1992, Page:12
4. The Earth, Frank Press & Siever, Page: 435
5. The Geological Concept of Mountains in the Qur’an, Page:5
6. The Earth, Frank Press & Siever
7. The Geological Concept of Mountains in the Qur’an, Page:5
8. The Atmosphere, Anthes and others, Page: 435,
and Elements of Meteorology, Miller & Thompson, Page: 141-2
9. Elements of Meteorology, Miller & Thompson, Page: 141
10. Meteorology Today, Ahrens, Page: 437