UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER NINIK MAMAK TUNGKU TIGO SAJARANGAN DALAM IMPLEMENTASI FILOSOFI Adat Basandi Syarak (ABS), Sarak Basandi Kitabullah (SBK).

Membangkitkan Kesadaran Kolektif Akan Nilai Agama Islam di dalam Norma Dasar Adat di Minangkabau Membangun Generasi Unggul Tercerahkan

Adat dan Budaya Minangkabau  dibangun  di atas  Peta Realitas

Adat Minangkabau dibangun di  atas ”Peta Realitas”, yakni Adat yang bersendi kepada “Nan Bana”. Dikonstruksikan secara kebahasaan. Direkam terutama lewat bahasa lisan berupa pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun, yang secara keseluruhan dikenal sebagai Kato Pusako. Ditampilkan lewat berbagai upacara Adat serta kehidupan masyarakat se-hari-hari.

Kato Pusako menjadi rujukan di dalam penerapan perilaku di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Pokok pikiran ”alam takambang jadi guru” meletakkan landasan  filosofis Adat Minangkabau atas dasar pemahaman yang mendalam tentang bagaimana bekerjanya alam semesta serta dunia ini termasuk manusia dan masyarakatnya. Mereka telah menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari Nan Bana”.

group-ulama-national-businees-2

Dalam peta realitasnya, terungkap di dalam ”kato” yang menjadi mamangan masyarakatnya, di antaranya di dalam Fatwa adat menyebutkan, “Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kayo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”. 

Dengan perkataan lain, Adat yang bersendi kepada “Nan Bana” sekaligus juga Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan (PPJK) Masyarakat Minangkabau.

Karena itu Membina perilaku beradat dan beragama di Minangkabau menjadi kerja utama setiap individu di dalam nagari hingga dusun dan taratak, sebagaimana diungkapkan ;

Rarak kalikih dek mindalu,  tumbuah sarumpun jo sikasek,  Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek” dan

Nak urang Koto Hilalang,  nak lalu ka pakan baso,  malu jo sopan kalau lah hilang,  habihlah raso jo pareso”.

Merenda Adat Minangkabau

Para pemikir telah mengakui dan memahami keberadaan Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo, termasuk Alam Terkembang Jadi Guru.[1] Selanjutnya menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari Nan Bana” atau ayat kauniyah.

Konsep ”Adaik basandi ka mupakaik, mupakaik  basandi ka alua, alua basandi ka patuik, patuik basandi ka Nan Bana, Nan Bana Badiri Sandirinyo” menunjukkan bahwa sesungguhnya para filsuf dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah mengakui keberadaanNan Bana, Nan Badiri Sandirinyo”. Artinya, kekuasaan dan kebenaran hakiki ada pada kekuasaan Tertinggi. Di dalam ajaran Islam  dipahamkan dan bahwa Nan Bana (al Haqqu) itu berada di tangan Allah Ta’ala semata (wahdaniyah, Sendiri). Ini dapat dimaknai sebagai landasan masyarakat bertauhid.

Kehidupan Masyarakat Minangkabau adalah Beradat Beradab dan Beragama

Kegiatan hidup masyarakat Minangkabau dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (”system”) pada berbagai tataran (struktur). Tatanan Nilai dan norma dasar sosial budaya orang Minang menjadi Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) dari orang Minang.

Tatanan  ini menjadi WARISAN BUDAYA  yang dibangun  berdasar  Petatah Petitih  (klasifikasi), peradaban  (historis),  Peta realitas alam  (inti pemahaman dalam idea) dan Keyakinan  Agama  Islam  (anutan kepercayaan), Warisan Budaya ini jelas sekali tampak pada Aspek Perilaku, pada bentuk-bentuk khusus tabiat, Lagu, rituals, kelembagaan, Struktur masyarakat dan pengorganisasian kegiatan di Minangkabau itu. Disamping itu warisan budaya tersebut terang pula terlihat pada Aspek-Aspek Fisik seperti pada benda bersejarah, peralatan,  senjata, bangunan bersejarah dan hasil  Kerajinan  (Works of art).

Gambar

PDPH Masyarakat Minangkabau terungkap dalam SENI BUDAYA diantaranya pada karya seni masyarakatnya seperti seni musik (saluang, rabab), seni pertunjukan (randai), seni tari (tari piriang), dan seni bela diri (silek dan pamenan). Juga di benda-benda budaya (karih, pakaian pangulu, mawara dll), bangunan (rumah bagonjong), serta artefak lain-lain mewakili ungkapan fisik dari konsep pandangan perilaku Adat Minangkabau. sehingga masing-masing menjadi lambang dengan berbagai makna. Pandangan Hidup ini memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakatnya dalam sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan masyarakat yang menjadi landasan pembentukan pranata sosial budaya, yang melahirkan berbagai  lembaga formal maupun informal (seperti Tungku Tigo Sajarangan, urang nan 4 jinih).

Kesadaran Kolektif Kesepakatan Bersama

Pandangan Hidup beradat menjadi pedoman dan petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri dan bersama-sama.

Konsep dasar Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat) ini menjadi kesadaran kolektif berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) manusia dan  masyarakat Minangkabau.

Konsep PDPH yang merupakan inti Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat) memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan, adat istiadat yang lebih dikenal sebagai Adat nan Diadatkan dan Adat nan Taradat. Adat Nan Sabana Adat adalah Kaedah Alam, sifatnya tidak berubah sepanjang waktu disebut “ indak lakang dek paneh indak lapuak dek hujan “ , inilah yang disebut “ Sunnatullah “ yaitu  Ketentuan Allah Pencipta Alam Semesta, dalam filsafat ilmu disebut fenomena alam.

  1. Alam telah diciptakan sempurna  dengan hukum-hukum yang jelas  sunnatullah (nature wet) hukum alam   لا تبديل لخلق الله
  2. Dipakai sebagai timbangan yang asli (cupak usali) karena begitulah sifat alam (manusia, hewan, tumbuhan, air, tanah, api, angin) diciptakan Allah SWT.
  3. Cupak usali adalah yurisprudensi yaitu pedoman untuk memepat (menara) cupak buatan (hukum yang dibuat manusia), dikenal dengan  alam takambang jadi guru,  dalam bahasa filsafat ilmu disebut “analogi“, dilafalkan dalam pahatan kato (yaitu kalimat pendek luas maknanya), itulah “ kato dahulu  “ ,  nilainya berada pada domain Hakekat.

PERPADUAN ADAT DAN SYARAK.

 Firman Allah menyatakan, “ Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13).

Nabi Muhammad SAW memesankan bahwa “Perbedaan di tengah-tengah umatku adalah rahmat” (Al Hadist). Dan “innaz-zaman qad istadara”, bahwa sesungguhnya zaman berubah masa berganti (Al Hadist).

Fatwa adat di Minangkabau mengungkapkan  “Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”.  

 

ASPEK SIMBOLIS  ABS-SBK sebenarnya adalah Syarak Mangato Adaik Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru.[2]

Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

 اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. (Al-Baqarah, 257).

  • Nilai  Islam mudah mengakar ke dalam kehidupan masyarakat  Minangkabau, sehingga terkenal  kuat agamanya dan kokoh adatnya, pada berbagai lingkungan tatanan (”system”) dan pada berbagai tingkat tataran (structural ).
  • Paling mendasar adalah tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH).
  • Orang yang tidak beradat dan tidak beragama Islam, kedudukannya disebut tidak berbudi pekerti atau indak tahu di nan ampek =  Sama artinya dengan bodoh.

Pranata Sosial Budaya atau batasan-batasan perilaku manusia yang lahir atas dasar kesepakatan bersama menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama. Setelah masuk Islam ke Minangkabau maka batasan perilaku itu bersandikan Syarak dan Kitabullah.

Dok.Buya 095

Sebagai masyarakat beradat dengan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pelajaran strategi dalam penerapannya. Diantaranya “Mengutamakan prinsip hidup keseimbangan.” Islam menghendaki keseimbangan antara rohani dan jasmani. “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist). Keseimbangan tampak di ranah ini, “Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

Nilai nilai Islam mengajarkan “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”  (Hadist). Nilai Islam menanamkan kesadaran bahwa “bumi Allah amatlah luasnya” sehingga mudah untuk digunakan sesuai firman Allah, “Maka berpencarlah kamu diatas bumi, carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”.  (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

Gambar

Kesadaran ini tertancap dalam pada Pranata Sosial Budaya Minangkabau yakni batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama.

Setelah masuk Islam maka pranata social Minangkabau itu bersandikan kepada Syariat Islam dan Kitabullah. Supaya jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit (QS.4, An Nisak : 97) maka wujudlah kearifanKaratau madang dihulu babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu dirumah paguno balun”. Kemudian meng-introdusir tenaga mereka kembali kemasyarakatnya merasakan denyut nadi kehidupan dan berurat pada hati umat itu.  Ditanamkan pentingnya kehati-hatianIngek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”.

Memiliki jati diri, self help dengan tulang delapan kerat walau dengan memakai cara amat sederhana sekalipun “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain. Membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalah salah.Kefakiran (kemiskinan)  membawa orang kepada kekufuran.

Pemesraan Nilai-Nilai Islam kedalam Filosofi Budaya Minangkabau

Sesudah masuknya Islam terjadi semacam lompatan kuantum (”quantum leap”) di dalam budaya Minangkabau. Bertumbuh-kembangnya manusia-manusia unggul dan tercerahkan. Munculnya tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah kehidupan masyarakat adat Minangkabau di kawasan ini. Semata karena nilai yang dibawa oleh ajaran Islam yang mudah mengakar ke dalam kehidupan masyarakat di Minangkabau.

Orang Minangkabau terkenal kuat agamanya dan kokoh adatnya. Seorang anak Minangkabau di mana saja berdiam tidak akan senang di sebut tidak beragama, dan tidak beradat.

Orang yang tidak beradat dan tidak beragama Islam, di samakan kedudukannya dengan orang tidak berbudi pekerti atau indak tahu di nan ampek.[3]

Adat Minangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso (akal, rasio, logika), hasil nyata dari alam takambang jadi guru, makin kokoh dengan keyakinan yang diisi oleh agama Islam yang benar (haq dari Rabb).

Gambar

Bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat nagari, pasti akan menemui di nagari satu iklim (mental climate) yang subur bila pandai menggunakan dengan tepat.

Ada kekuatan agama, tamadun, budaya, adat istiadat, dan budi bahasa yang baik.  Lah masak padi rang Singkarak,  masaknyo ba tangkai-tangkai, sa tangkai jarang nan mudo. Kabek sa balik buhue sintak, payahlah urang nak ma ungkai, tibo nan punyo rarak sajo. Diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku dalam adaik salingka nagari. Alah bakarih samparono, bingkisan rajo Majopaik, Tuah ba sabab ba karano, pandai ba tenggang di nan rumik. Satu realita objektif  adalah ;  Siapa yang paling banyak menyelesaikan persoalan masyarakat ,  pasti akan berpeluang banyak mengatur masyarakat.

Penguatan peran Ninik Mamak dalam Tungku Tigo Sajarangan

Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para ninik mamak Tungku Tigo Sajarangan yang menjadi pendidik masyarakat dikelilingnya (anak kemenakannya). Perlu dikuatkan pemurnian wawasan fikir, kekuatan zikir, penajaman visi, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang dan pendalaman spiritual religi.

Maka Peran Tungku Tigo Sajarangan sesungguhnya adalah ;

  1. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan yang  merusak Sarak (agama Islam).
  2. Menimbulkan keinsafan mendalam di kalangan rakyat anak nagari tentang perlunya penghakiman yang adil sesuai tuntutan sarak dalam syariat Agama Islam.
  3. Meningkatkan program melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya dalam tatanan kekerabatan.
  4. Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan santun sesuai adat basandi sarak, sarak basandi Kitabullah.

Dengan begitu amat diharapkan lahir generasi Minangkabau yang berkualitas mengutamakan manhaj-ukhuwah  ; bulek aie dek pambuluah bulek kato ka mupakaik.” Mengamalkan budaya amal  jama’i  ; kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua,  tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan. Manyuruah babuek baik, Malarang babuek jahek, Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo, Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado kusuik nan tak salasai. Sehingga lahirlah generasi muda yang dapat meniru kehidupan lebah; kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya,  berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, baik hasil usahanya, dapat dinikmati oleh lingkungannya.

Ringkasnya Membangun kembali masyarakat beradat sopan santun, dengan cara ;

  1. Menghidupkan kembali peraturan bagi tiap suku untuk melengkapi kembali perangkat sukunya, dan memerankan kekerabatan kaum.
  2. Memperkuat peran generasi muda dengan kualifikasi keilmuan, kejujuran, kesetiaan kepada negara, serta memiliki keahlian mengelola nagari dalam pemerintahan nagari.
  3. Mengusahakan tumbuhnya kesadaran membantu mengembangkan pembangunan kampung halaman melalui sumbangan pemikiran dan bantuan lainnya,  guna penguatan  perangkat pemerintahan Nagari.

Sama Bekerja dan Bekerja Sama Saciok bak ayam Sadancieng bak basi

Kehidupan  KEBERSAMAAN (ijtima’iy) masyarakat MADANI mempunyai hak dan kewajiban masing-masing, memiliki hati yang tenteram. Tujuan perhimpunan atau perkumpulan seperti adanya lembaga “Tungku Tigo Sajarangan” di nagari nagari adalah membentuk ikatan yang tenteram, bahagia dan berkekalan (sustainability) dalam aturan-aturan dan ketentuan agama (etika religi)  menurut syariat Islam.

Semua orang berkeinginan untuk hidup bahagia, kekal dan langgeng. Perintah Agama Islam menyebutkan, Hendaklah engkau berjamaah.  Dengan  berhimpun bermasyarakat (ijtima’iy) dapat dicapai kesatuan, kekompakan  dan kebahagiaan  dengan cara :

  1. Saling Mengerti antara Sesama, untuk menjalin komunikasi masing-masing.  Tidak akan memaksakan egonya, karena perbedaan suku atau adalah karunia Allah, Kebiasaan masing-masing, Selera, kesukaan atau hobi, Pendidikan,  Karakter/sikap pribadi secara proporsional baik dari masing-masing, maupun dari orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, teman ataupun saudaranya, dan yang relevan dengan ketentuan yang dibenarkan syari`at.
  2. Saling Menerima.  Satu team work akan terbina dengan saling menerima satu sama lain. Satu kesatuan kelompok adalah ibarat satu tubuh dengan beragam kehendak. Dengan keredhaan dan saling pengertian, beragam warna merah dicampur akan menampilkan keindahannya.
  3. Saling Menghargai, dalam Perkataan dan perasaan, Bakat dan keinginan masing-masing. Sikap saling menghargai adalah sebuah jembatan menuju kuatnya satu team work.
  4. Saling Memercayai, akan melahirkan kemerdekaan berfikir, inovasi dan kreasi mencapai kemajuan. Keselarasan akan lebih meningkat, serta hal ini merupakan amanah Allâh.
  5. Saling Menyintai,  akan memunculkan beberapa hal seperti, lemah lembut dalam bicara, selalu menunjukkan perhatian, bijaksana dalam pergaulan, tidak mudah tersinggung, dan perasaan (batin) masing-masing akan selalu tenteram

Pandangan Hidup masyarakat Minangkabau sejak dahulu, telah melahirkan angkatan-angkatan “generasi emas”, dengan mengamalkan tatanan dan nilai adat dan keyakinan yang berjalin berkelindan dengan sebuah adagium “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK), telah menjadi pegangan yang menata seluruh kehidupan masyarakat Minangkabau dalam kenyataan yang sesungguhnya.

Dalam periode keemasan itu, Minangkabau dikenal sebagai lumbung penghasil tokoh dan pemimpin, baik dari kalangan  alim ulama ”suluah bendang anak nagari” maupun ”cadiak pandai” (cendekiawan pemikir dan pemimpin sosial politik), yang berkiprah di tataran nusantara serta dunia internasional. [4]

Memperkuat ikatan Kekerabatan Suku dan Kaum

Kekerabatan yang erat telah menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

Generasi Minangkabau dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mampu bertahan. Wataknya didukung pemahaman nilai-nilai Raso Pareso. Kemudian dikuatkan dengan keyakinan Islam.  Melalui pengamatan ini tidak dapat disangkal bahwa Islam telah berpengaruh kuat di dalam Budaya Minangkabau.

Pranata sosial Masyarakat Beragama yang Madani di Sumatera Barat yang didiami masyarakat adat Minangkabau semestinya berpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Agama Islam yang bersumber kepada Kitabullah (Al Quranul Karim) dan Sunnah Rasulullah  itu, maka pelaksanaan atau pengamalannya tampak atau direkam dalam Praktek Ibadah, Pola Pandang dan Karakter Masyarakatnya, Sikap Umum dalam Ragam Hubungan Sosial penganutnya. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

Masyarakat Ber-Adat Beradab Hanya Mungkin Jika Dilandasi Kitabullah

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan, hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur yang tumbuh mekar dengan  kesadaran kearifan  dalam kecerdasan budaya serta memperhalus kecerdasan emosional  serta dipertajam oleh kemampuan periksa  evaluasi positif dan negatif  atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni hidayah Islam.

Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas).

Secara jujur, kita harus mengakui bahwa adat tidak mungkin lenyap, manakala  memahami fatwa adat, Kayu pulai di Koto alam, Batangnyo sandi ba sandi, Jikok pandai kito di alam, patah tumbuah hilang baganti”.

 Secara alamiah (natuurwet) adat itu akan selalu ada dalam prinsip. Jika patah akan tumbuh (maknanya hidup dan dinamis). Menjadi dominan ketika dikuatsendikan oleh keyakinan agama akidah tauhid, dengan bimbingan kitabullah (Alquran) bahwa yang hilang akan berganti. Apa yang ada di tangan kita akan habis, apa yang ada di sisi Allah akan kekal abadi.

Dilaksanakannya adagium Adat Basandi Syarak Syarak, dan Syarak Bansandi Kitabullah (ABS-SBK) maka tali hubungan antara Adat sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan dibuhul-eratkan dengan ajaran Islam yang menekankan kepada akhlak mulia (karimah).

Rentang sejarah membuktikan bahwa penerapan ABS-SBK telah memberikan lingkungan sosial budaya yang subur bagi seluruh anggota masyarakat dalam mengembangkan segenap potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan.

Walau berada dalam lingkungan yang sulit  penuh tantangan, sejak zaman kolonialisme hingga ke masa-masa perjuangan, budaya Minangkabau dengan ABS-SBK terbukti mampu menciptakan lingkungan yang menghasilkan jumlah yang signifikan tokoh-tokoh yang menjadi pembawa obor peradaban di kawasan ini.

Keunggulannya ada pada falsafah adat yang mencakup isi yang luas. Akhlak karimah berperan dalam kehidupan yang mengutamakan kesopanan dan memakaikan rasa malu, sebab malu jo sopan kalau lah hilang,  habihlah raso jo pareso, dalam terapan ABS-SBK secara “murni dan konsekwen”. (Lihat QS.16, an-Nahl : 96.).

Simpulan Simpulan Budi dan Basabasi

Masyarakat Unggul dan Tercerahkan dicetak dengan Menanamkan Nilai-Nilai Ajaran Islam dan Adat Budaya.

Khusus bagi Masyarakat Adat Minangkabau digali dari Al-Qur’an, membentuk peribadi yang zikir, – yakni hidup dengan penuh kesadaran akan keberadaan Allah Ta’ala dengan segenap aspek hubungan-Nya dengan manusia dan segenap makhluk Ciptaan-Nya , dan berdaya fikir, –

Berarti membuat Peta Kenyataan sesuai Petunjuk Ajaran Allah Ta’ala yang diuraijelaskan Alquran dan ditafsirterapkan oleh Rasul lewat Sunnah sebagai Teladan Utama (Uswatun Hasanah) .

Maka secara batinnya antara adat dan agama saling melengkapi dari yang genap sampai yang ganjil.[5]

Adat Minangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso (akal, rasio, logika), hasil nyata dari alam takambang jadi guru, makin kokoh dengan keyakinan yang diisi oleh agama Islam yang benar (haq dari Rabb).   Sebagai ujud pengamalan Firman Allah:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama (syariat, syarak) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya – kekampung halamannya –, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS.IX, at Taubah, ayat 122).  

Tidak ada yang lebih indah daripada budi dan basabasi. Yang dicari bukan emas dan bukan pula pangkat, akan tetapi budi pekerti yang paling dihargai. Hutang emas dapat di bayar, hutang budi dibawa mati. Agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan basi (budi pekerti yang mulia). Jika ingin pandai rajin belajar, jika ingin tinggi  (mulia), naikkan budi pekerti.

Khulasahnya, penerapan ABS-SBK mengharuskan kehidupan perorangan serta pergaulan masyarakat Minangkabau berakar dari dan berpedoman kepada Al-Quran serta Sunnah Rasullullah. Dengan demikian, ABS-SBK dapat membentuk lingkungan sosial-budaya yang akan melahirkan masyarakat Minangkabau yang unggul tercerahkan dengan kekuatan akidah dan akhlak menurut Kitabullah.

Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”.

Gambar

Dengan melaksanakan ABSSBK lahir sikap cinta ke nagari. Tumbuh sikap positif menjaga batas-batas patut dan pantas. Terbentuk umat yang kuat, sehat fisik, sehat jiwa, sehat pemikiran, dan sehat social, ekonomi, konstruktif (makruf).

Pariangan jadi tampuak tangkai, Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo Luhak rang mangatokan. Adat jo syara’ jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban”

 “Tasindorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki, Adat jo syarak jiko tasusun, Bumi sanang padi manjadi.

Padang, 25 NOVEMBER  2013


CATATAN KAKI ;

[1]  Para filsuf dan pemikir Adat Minangkabau (Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, menurut versi Tambo Alam Minangkabau). Mengungkapkannya ke dalam pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun, yang berisi gagasan-gagasan bijak, sebagai Kato Pusako.

[2]  Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan hasil kesepakatan — Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam – dari  dua arus besar (”main-streams”) Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) Masyarakat Minangkabau yang sempat melewati konflik yang melelahkan. Sejarah membuktikan, kesepakatan yang bijak itu telah memberikan peluang tumbuhnya beberapa angkatan ”generasi emas” selama lebih satu abad berikutnya. Karena itu, Peristiwa sejarah Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam dapat disikapi dan diibaratkan bagaikan “siriah nan kambali ka gagangnyo, pinang  nan kambali ka tampuaknyo, yaitu dari Adat yang pada akhirnya bersendikan kepada Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo, disepakati menjadi  “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK).

[3] Sama artinya dengan bodoh.

[4] Sebagai hasil penelitian sejarah, Dobin menyebutkan bahwa, sejak abad 17 di Minangkabau, surau telah mengajarkan kepada masyarakat… “agar  menerima lima pokok Islam dan hidup sebagai orang Islam yang baik” … dan dinyatakan pula bahwa salah satu fungsi surau adalah mengajarkan silat Melayu … dan seorang guru biasanya mempunyai sejumlah pemuda yang bisa dipersiapkan untuk menghadapi bentrokan … Dan, dengan tindakan (kesiapan) itu, para perampok menjadi takut merampok dan menjual orang-orang tahanan mereka … di antaranya di Ampek Angkek sejak pertengahan 1790 di bawah kepemimpinan surau (Tuanku Nan Tuo) menjadikan negerinya mengalami kemajuan besar dalam pengaturan urusan dagang, yang kemudian dilanjutkan murid beliau yang tersebar, di antaranya Jalaluddin mendirikan surau di Koto Lawas (Koto Laweh) di lereng Gunung Merapi sebagai nagari penghasil akasia dan kopi, untuk “membangun masyarakat muslim” yang sungguh-sungguh …Demikian di tulis oleh Christine Dobin, dalam bukunya “Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi, Minangkabau 1784-1847”, edisi Indonesia, Komunitas Bambu, Maret 2008, ISBN 979-3731-26-5, di halaman 198 – 225.

[5]  Sangat menarik pemakaian angka-angka di Minangkabau, lebih nyata bilangan genap, realistis seperti ”kato nan ampek (4), undang-undang nan duopuluah (20), urang nan ampek jinih, nagari nan ba ampek suku, cupak nan duo (2), cupak usali jo cupak buatan, rumah basandi ganok, tiang panjang jo tonggak tapi, basagi lapan (8) atau sapuluah (10) artinya angka genap. Datang agama Islam, di ajarkan pula pitalo langik nan  tujuah (7), sumbayang nan limo wakatu, rukun Islam nan limo (5), Maka secara batinnya antara adat dan agama saling melengkapi dari yang genap sampai yang ganjil.

Kepemimpinan Perempuan berlandasan “adat basandi syarak – syarak basandi kitabullah” dalam Budaya Minangkabau, di Sumatera Barat

Kepemimpinan Perempuan berlandasan “adat basandi syarak – syarak basandi kitabullah” dalam Budaya Minangkabau, di Sumatera Barat

Oleh : H. Mas’oed Abidin[1]

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

لآ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لآ يَعْلَمُونَ

Artinya, “Maka tegakkan wajahmu (berjuanglah) untuk agama Islam yang hanif ini. Inilah agama fitrah yang Allah telah ciptakan manusia selaras dengannya. Tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah. Itulah agama (pegangan hidup) yang kekal bernilai. Tetapi kebanyakan manusia tidak mau mengerti” (QS.ar Rum : 30)

Mukaddimah

BILA KITA DALAMI  Dasar Falsafah Minangkabau, ada 3 rahmat yang diberikan Tuhan kepada nenek moyang Minangkabau yaitu Pikiran, Rasa (dalam diri manusia), dan Keyakinan (dalam agama yang diyakini), yaitu Islam.  Dengan demikian orang Minangkabau hidup berbekal moril dan materil. Bekal moril dia bisa hidup menyesuaikan diri di mana saja di tanah perantauannya. Dengan materil mampu berusaha menurut ukuran keahlian masing-masing. Dengan kedua bekal itu pula ada kewajiban membimbing generasi merebut sukses dunia dan akhirat, sesuai bimbingan syarak (agama Islam).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَد

Artinya, Wahai orang yang beriman, hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah setiap diri merenungkan apa yang telah dilakukannya untuk hari esok (hari akhiratnya) (QS.al Hasyr : 18).

Orang Minangkabau adalah ahli-ahli politik karena mendapat pepatah dari leluhurnya dengan tujuan tercapainya kebahagiaan bersama melalui musyawarah  mufakat. Di alam Minangkabau pemimpin harus berbuat adil. Raja adil raja disembah, Raja tidak adil raja disanggah. Di dalam mencapai tujuan ada bimbingan pepatah, “Ibarat mengambil rambut dalam tepung”, Tepung tidak terserak, Rambut tidak putus. Ini maknanya arif.

Jadi jelaslah hampir seluruh sektor kehidupan dilengkapi dengan pepatah petitih yang bila digali kembali, maka yakinlah bahwa orang Minangkabau akan lebih unggul dalam seluruh kehidupan di daerah lainnya. Dasar falsafah hidup orang Minangkabau memang luas meliputi, susunan masyarakat,  pengelolaan masyarakat, perekonomian masyarakatnya.  Keduniaan dan keakhiratan agar sempurna mesti diatur dalam suatu sistem pergaulan hidup, yang tujuannya untuk menjadikan kebahagian di dunia dan di akhirat.

GambarAjaran Islam adalah pandangan dan jalan hidup (philosophy and way of live) sebagaimana yang diajarkan oleh Allah Pencipta Alam di dalam Kitabullah, adalah bahwa manusia makhluk yang memiliki fisik, ruhaniah, rasional, sosial, dan mempunyai keyakinan atau beraqidah, yang dalam syarak (syariat Islam) disebut bertauhid.

Kalau didalami agama (aqidah dan syariat) dan adat (tata laku, pergaulan, hubungan masyarakat), maka kesimpulan sebenarnya adalah bahwa agama dan adat menjadi amat penting perannya untuk dapat mempertahankan manusia sebagai manusia dan masyarakat yang bermakna dan bermartabat.

Tanpa ajaran Islam dan adat Minangkabau yang menekankan pentingnya kebersamaan, kekeluargaan, seiya setida, berpedoman kepada Kitabullah (Alquran), manusia Minang bisa saja berubah menjadi ibarat pasir di tepi pantai, ibarat buih di atas air bah, ibarat hewan di rimba balantara, bahkan mungkin lebih hina lagi. Pedoman dan pendekatan wahyu penting diperhatikan supaya sumber daya manusia jangan tergelincir kepada yang membinasakan manusia dan alam lingkungannya.

Pandangan materialisme, sekularisme, individualisme, hedonisme, nihilisme dilahirkan oleh otak manusia, terutama di era global tidak mau lagi memperhatikan petunjuk wahyu dan agama. Bahkan mulai menghindar dari daya yang dimiliki manusia sendiri, yaitu hati nurani dan perasaan luhur. Kondisi ini berakibat fatal bagi perkembangan ruhaniyah manusia, berpengaruh sangat kepada watak kepemimpinan, yang cepat putus asa, melawan arus kehidupan, bahkan bunuh diri dan sebagainya.

Karena itu, ABSSBK mestinya menjadi political will yang kalau diterapkan akan punya daya fleksibilitas dan dinamis serta prinsip-prinsip yang akan menjamin eksitensi manusia tetap sebagai manusia, yaitu makhluk yang bermoral dan regelius. Pengitegrasian ini penting diupayakan untuk menghadapi tantangan kehidupan modern dan arus globalisasi.

Keunggulan ada pada Pandai Memenej Waktu

Bila waktu tidak digunakan dengan baik, akan terbuang untuk yang sia-sia. Seseorang yang tidak mengisi waktunya dengan kebaikan (shalihah), pastilah ia akan menuai kejelekan (fahisyah). Menyia-nyiakan waktu akan merugi. Menjaga waktu adalah kejujuran menjaga amanah Allah.

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ، قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلىَ غَيْرِ أَهْلِهِ، فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ                       رواه البخاري

Apabila kejujuran (tanggung jawab) telah disia-siakan, maka tunggulah waktunya (kebinasaan). Ada orang bertanya: Bagaimanakah caranya menyia-nyiakan kejujuran (tanggung jawab) itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab: Apabila diserahkan urusan kepada orang yang bukan ahlinya, tunggulah waktunya (kebinasaan). (Diriwayatkan oleh Bukhari)

Sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud RA, telah berkata, “Tidaklah aku menyesali sesuatu, seperti penyesalanku atas satu hari yang berlalu dengan terbenamnya matahari, semakin berkurang umurku tetapi tidak bertambah amalanku.”

Perempuan saleh mengambil faedah waktu dan tempat yang utama. Tidak melalaikan waktu-waktu shalat karena disibukkan pekerjaan rumah tangga, atau tugas sebagai ibu dan istri.  Shalat adalah tiang agama. Shalat adalah amal paling utama.

Perempuan menyimpan kata empu. Mengadung arti pemimpin (raja), orang pilihan, ahli, yang pandai, pintar dengan segala sifat keutamaan.

GambarPerempuan Minang adalah pemimpin  — tahu di mudharat jo manfaat,  mangana labo jo rugi,  mangatahui sumbang jo salah, tahu di unak kamanyangkuik, tahu di rantiang ka mancucuak, ingek di dahan ka mahimpok, tahu di angin nan basiruik, arih di ombak nan basabuang, tahu di alamat kato sampai -. Kepemimpinan Perempuan Minangkabau sangat arif, tahu dengan yang pantas dan patut. Kearifan adalah asas kepemimpinan masyarakat. Perempuan Minangkabau disebut bundo sebab pandai menjaga martabat dan punya sikap panutan.

Alquran menyebut perempuan dengan Annisa’ atau Ummahat. Maknanya sama dengan ibu, atau “Ikutan Bagi Umat” dan tiang suatu negeri.[2]

Masyarakat yang baik lahir dari Ibu yang baik. “Ibu (an-Nisak) adalah tiang negeri” (al Hadith). Jika kaum perempuan dalam suatu negeri berbudi pekerti baik (shalihah), niscaya akan sejahtera negeri itu. Sebaliknya, apabila kaum perempuan di suatu negeri  berperangai buruk (fasad), maka binasalah negeri seluruhnya. Kitab suci Alquran menempatkan perempuan dengan hak  serta tangung jawab masing-masing, yang sama beratnya, dan menjadi kata kunci terpeliharanya harkat martabat insaniyah pada jenis yang berbeda antara lelaki dan perempuan. Hubungan keduanya ada pada posisi azwajan = mitra setara dan ini modal utama kalau akan menjadi pasangan dalam hidup (lihat Q.S.16:72, 30:21, 42:11).

Laki-laki dan Perempuan punya hak dan kewajiban yang sama, terutama di dalam membina keluarga di tengah rumah tangganya. Perempuan perekat silaturrahim. Lelaki pelindung perempuan. Keduanya, punya tanggung jawab sama, menjaga lingkungan dan kehidupan berjiran bertetangga.

Dalam Pandangan Syarak (Syariat Agama Islam) disebutkan ad-dunya mata’un, wa khairu mata’iha al mar’ah as-shalihah artinya perhiasan paling indah adalah perempuan saleh (perempuan yang istiqamah pada peran dan konsekwen dengan citra-nya).

Rasul SAW bersabda; “Demi Allah, dia tidak beriman, demi Allah, dia tidak beriman, demi Allah, dia tidak beriman”. Ada yang bertanya; “Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”. (HR. Asy-Syaikhan).

Risalah Agama mengutamakan pendidikan akhlaq. Sebuah bangsa akan tegak dengan kokoh karena etika moral dan akhlaknya. Etika dan moral itu dibentuk oleh budaya dan ajaran agama. Moral anak bangsa yang rusak, membuat bangsa terkoyak.

Rumah tangga sebagai extended family (inti keluarga besar) dalam budaya Minangkabau menjaga dan mencetak generasi bermoral, dengan filosofi yang jelas, Adat bersendi syarak – syarak bersendi Kitabullah.

Kaum perempuan (bundo kanduang, pemilik suku) berperan mendidik, menjaga nikmat Allah. Kaum lelaki (pemilik nasab), membentuk generasi berdisiplin. Kedua peran ini menjadi satu di dalam tatanan pergaulan masyarakat adat, dengan kekerabatan yang kuat.

Peranan syarak (agama Islam bersendikan Kitabullah – Alquran dan Sunnah Rasul), mengikat adat dengan akhlaqul karimah atau etika religi sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat beradat. Pesan Rasulullah SAW ;

ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان  :

  1. من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما,
  2. ومن احب عبدا لا يحبه الا الله,
  3. ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه  كما يكره ان يلقى فى النار.

Artinya, Tiga perkara — barangsiapa terdapat pada dirinya –, dia akan merasakan lazatnya iman:

  1. Mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya,
  2. Mencintai seorang hamba hanya karena Allah,
  3. Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.

(H.R. Imam Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa’I).

Perempuan dalam Adat dan Budaya Minangkabau

Dalam adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah – di Minangkabau,  perempuan menempati posisi pemilik rumah  – hiduik batampek,  mati bakubua, kuburan hiduik di rumah gadang, kuburan mati   di tangah padang –, dengan peran induak bareh  — nan lamah di tueh, nan condong di tungkek, ayam barinduak, siriah bajunjuang. Artinya, pengendali ekonomi keluarga.

PERAN IDEAL perempuan Minangkabau menjadi pemilik suku, ulayat, pusako, kekayaan, rumah, anak, kaum, dan disebut PADUSI artinya padu isi dengan sifat utama.

Gambar

(a). benar, (b).jujur lahir batin, (c). cerdik pandai, (d). fasih mendidik dan terdidik, (e). bersifat malu. Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso,  malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso, apabila malu dan sopan telah hilang habislah rasa dan periksa. al hayak nisful iman = malu adalah paruhan dari Iman.

1. Hati-hati, « bakato sapatah di pikiri, bajalan salangkah maliek suruik, muluik tadorong ameh timbangannyo, kaki tataruang inai padahannyo, urang pandorong gadang kanai, urang pandareh hilang aka, »  – artinya, berkata sepatah dipikirkan, setiap langkah berjalan memperhatikan apa yang sudah dikerjakan, mulut terdorong emas timbangnya, kaki tertarung inai padahannya, yang suka pendorong besar kenanya, dan yang keras mulut pertanda hilang akal –. Fatwa adat mengatakan, «  ingek dan jago pado adat, ingek di adat nan ka rusak, jago limbago nan ka sumbiang, » = jagalah adat selalu, ingat adat jangan rusak, jaga lembaga jangan sumbing).

2. Yakin kepada Allah  (iman bertauhid), «  iman nan tak bulieh ratak kamudi nan tak bulieh patah, padoman indak bulieh tagelek, haluan nan tak bulieh ba rubah » — artinya, iman tidak boleh retak, kemudi tidak boleh patah, pedoman tidak boleh beranjak, haluan tidak boleh berubah –. Wujudnya tampak dalam kearifan pergaulan, « katiadaan ameh bulieh di cari, katiadaan aka putuih bicaro, tak barameh putuih tali, tak baraka taban bumi » = tidak ada emas boleh dicari, tidak ada akal putus bicara, tidak ada emas putus tali, tidak berakal terban bumi –. Akal adalah anugerah Allah yang wajib di jaga dengan iman. Iman dikokohkan dengan menjaga aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

ياَ غُلاَمُ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ وَ إِذَا سَأَلَكَ فَاسْأَلِ اللهَ تَعَالىَ وَ إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ                       رواه الترذي

“ Jagalah (perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (perintah) Allah, nanti engkau akan mendapatinya di hadapan engkau. Apabila engkau meminta, pintalah kepada Allah dan apabila engkau meminta pertolongan, pintalah pertolongan kepada Allah ‘Azza Wajalla.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi)

3. Perangai berpatutan (istiqamah, konsisten). Perangai akan menjadi contoh anak cucu atau generasi pelanjut, ” bahimat sabalun abih, sadiokan payuang sabalun hujan” – artinya, berhemat sebelum habis, sediakan paying sebelum hujan –. Kewajiban masa depan terpaut kepada pusaka adat turun temurun.

Keunggulan perempuan Minangkabau, ”maha tak dapek di bali, murah tak dapek dimintak, takuik di paham ka tagadai, takuik di budi katajua ” = mahal tidak dapat dibeli, murah tidak dapat diminta, takut pada paham akan tergadai, takut jika budi akan terjual. Budi dan malu jika telah hilang, bencana datang tindih bertindih, ”ka ateh indak ba pucuak, ka bawah indak ba urek, di tangah di giriak kumbang, hiduik sagan mati tak amuah, bagai karakok tumbuah di batu” = ke atas tidak berpucuk, kebawah tidak berurat, di tengah dilarik kumbang, hidup segan mati tak bisa, bagaikan kerakap tumbuh di batu.

Mencontohkan watak uswah menyangkut diri sendiri dan hidup masyarakat, sekarang, besok dan di mana saja, “nan barisuak bukan kini, nan kini bukan kapatang” = yang besok bukan kini, dan yang kini bukan kemarin. Maknanya sangat realistis,berpangkal pada usaha  nyata.

4. Kaya hati, tagak badunsanak, mamaga dunsanak, tagak bakampuang, mamaga kampuang, tagak basuku, mamaga suku, tagak banagari, mamaga nagari, tagak babangso, mamaga bangso, — artinya, berdunsanak memagar dunsanak, berkampung memelihara kampung, bersuku menjaga suku, bernegara membentengi  Negara, tegak berbangsa menjaga bangsa –.

Watak keperibadiannya sopan santun, kuat dan tegas, berani dan setia, hemat dan khidmat, muluik manih, kucindan murah, pandai ba gaue samo gadang – mulut manis kecindan = kelakar menyejukkan, pandai bergaul sesama besar –, yang tua  dimuliakan, yang muda di kasihi, sama besar saling hormat menghormati.

5. Tabah (redha), haniang ulu bicaro, naniang saribu aka, dek saba bana mandatang = hening itu pangkal bicara, berfikir naning = ingat itu seribu akal, karena sabar kebenaran datang. Falsafah hidup beradat menempatkan perempuan Minang pada sebutan mandeh atau bundo kandung secara simbolik, limpapeh rumah nan gadang = perhiasan dan pemilik rumah, umban puro pegangan kunci, umban puruak aluang bunian = pemilik harta pusaka, hiasan di dalam kampuang, sumarak dalam  nagari = hiasan kampung semarak nagari, sama seperti tiang nagari, nan gadang basa batauah = yang dimuliakan, dipuja dan bertuah. Maka peran perempuan Minangkabau tiang utama di dalam rumah gadang. Artinya, menjadi sandaran anak cucu.

6. Jimek (hemat tidak mubazir), di kana labo jo rugi, dalam awal akia membayang, ingek di paham nan ka tagadai, ingek di budi nan ka tajua,  mamakai malu dengan sopan = di ingat laba dan rugi, sejak awal bertindak akhir tujuan sudah terbayang, ingat paham akan tergadai, ingat budi akan terjual, dengan memakai malu dan sopan santun. Ciri utama perempuan Minangkabau “sehayun-selangkah, semalu-sehina”.

أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ المَرْءِ: أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً، وَ أَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا، وَ خُلَطَاؤُهُ صَالِحِيْنَ، وَ أَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِي بَلَدِهِ                                      رواه الديلمي عن علي

Empat kebahagiaan manusia: Istrinya perempuan yang saleh, anak-anaknya orang baik-baik, teman sepergaulannya orang-orang yang saleh dan rezekinya diperoleh di negerinya. (Diriwayatkan oleh Dailami dari ‘Ali)

Perempuan Shaleh dalam Pandangan Agama Islam

Agama Islam atau syarak menempatkan kaum perempuan dengan watak yang jelas, ialah mar’ah shalihah = perempuan saleh dan lembut menjaga diri, memelihara kehormatan, patuh (qanitaat) kepada Allah, hafidzaatun lil ghaibi bimaa hafidzallahu = memelihara kesucian diri dan CERIA. Tidak ada keindahan yang melebihi “indahnya wanita saleh” (Al Hadith). Perempuan Minang dan saleh amatlah pandai menjaga waktu.

1.  Perempuan Saleh takut kepada Tuhan, diawasi Allah.

Perempuan saleh tidak menyia-nyiakan waktu tanpa faedah serta kuat mengoreksi diri setiap saat. Rasulullah SAW mengabarkan perbedaan antara orang yang berdzikir (koreksi diri) dengan yang tidak, seperti perbedaan antara orang hidup dan orang mati. Rasul bersabda,

مثل الذي يذكر ربه والذي لايذكر ربه مثل الحي والميت

Artinya, Perbandingan antara orang yang mengingat tuhan dengan yang tidak mau mengingat tuhannya, sama seperti perumpamaan antara orang yang hidup dan yang mati (HR. Imam Bukhari, Shahih al Bukhari, Kitab Ad Da’wat).

2.  Perempuan saleh tahu tempat utama, Responsif terhadap lingkungan

Piawai dan Mandiri, teguh dan kokoh, Watak mulia, Lembut hati, Penyabar, Penyayang sesama, Keras mempertahankan Harga Diri, Tegas, Kuat Iman dalam melaksanakan suruhan Allah, Pendamai, Suka memaafkan, Mampu menjadi pemimpin masyarakatnya (contohnya Sayidatina ‘Aisyah).

مَا كَانَ الرِّفْقُ فيِ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ                   رواه الضياء عن أنس

Lemah lembut dalam sesuatu (urusan) menyebabkan indahnya dan kalau dia dicabut dari sesuatu, niscaya akan memburukkannya. (Diriwayatkan oleh Dhia dari Anas)

Gambar

Kepiawaian tumbuh karena teguh melaksanakan kewajiban ;

  1. kewajiban kepada Rabb-nya,
  2. kewajiban kepada orang tuanya,
  3. kewajiban kepada suaminya,
  4. kewajiban terhadap anaknya,
  5. kewajiban terhadap kaum kerabatnya (sukunya),
  6. kewajiban terhadap tetangga,
  7. kewajiban terhadap saudara dan temannya, dan
  8. kewajiban terhadap masyarakatnya.

3.    Perempuan Saleh selalu taat beribadah.

Berpengaruh pada tata laku, bermuara kepada mode pakaian yang dipakai (buktinya di Sumbar berpakaian saruang, kodek, baju kuruang, salendang, tikuluak, dsb).[3]

Perempuan Saleh tahan uji (shabar), disiplin (istiqamah), pandai memanfaatkan apa yang dimiliki untuk mewujudkan kebahagiaan (syukur ni’mah), merangkai keberhasilan, hemat, qanaah.[4]   Perempuan saleh di Minangkabau yang taat, senantiasa  bermohon taufik kepada Allah dalam merealisasikan semua cita yang sedang di emban dalam meraih masa depan yang lebih bermartabat dengan mempertajam akal fikiran yang jernih.

إِذَا أَرَادَ اللهُ إِنْفَاذَ قَضَائِهِ وَ قَدَرِهِ سَلَبَ ذَوِي العُقُوْلِ عُقُوْلَهُمْ حَتَّى يَنْفُذَ فِيْهِمْ قَضَاؤُهُ وَ قَدَرُهُ. فَإِذَا قَضَى أَمْرَهُ رَدَّ عُقُوْلَهُمْ وَ وَقَعَتِ النَّدَامَة ُ رواه الديلمى عن أنس

Apabila Allah hendak melaksanakan putusan atau hukuman-NYA, dicabut akal orang yang mempunyai akal sampai terlaksana ketentuanNya itu. Setelah hukuman itu selesai akal mereka dikembalikan dan timbullah penyesalan. (Diriwayatkan oleh Dailami dari Anas)

4.    Perempuan saleh,arif menetapkan Majlis yang baik.

Sesuai tabiatnya, perempuan Minangkabau yang saleh tidak mungkin hidup sendiri. Dia harus mempunyai teman berbincang. Teman paling ideal adalah yang punya akhlak mulia.[5] 

5.    Perempuan Saleh mengejar Keberhasilan Memacu diri

membaca bacaan yang bermanfaat seperti telah didorong oleh perintis pendidikan perempuan (Rohana Kudus, Rahmah el Yunusiyah), yang dengan bimbingan syarak mengajarkan kepada setiap muslimah untuk memperbanyak membaca Al-Qur’anul Karim, menghafal serta menyimaknya. [6]  

6.    Perempuan Minangkabau mempunyai Prinsip Teguh,

Toleran bergaul, lemah lembut bertutur kata, tegas melawan kejahatan, kokoh menghadapi percabaran budaya dan tegar menghadapi percaturan dunia, sanggup buat lingkungan sehat, bijak menata pergaulan baik dan nyaman, tahu diri, hemat, dan tidak malas. Pesan Rasulullah SAW; ”Jauhilah hidup ber-senang-senang (foya-foya), karena hamba-hamba Allah bukanlah orang yang hidup bermewah-mewah (malas dan lalai)” (HR.Ahmad).

Kesombongan dan maksiat sangat dimurkai oleh Allah.

أَرْبَعَةٌ يُبْغِضُهُمُ اللهُ تَعَالىَ: البَيَّاعُ الحَلاَّفُ، وَ الفَقِيْرُ المُخْتَالُ، وَ الشَّيْخُ الزَّانِي، وَ الإِمَامُ الجَائِرُ رواه النسائي

Empat golongan yang dibenci Allah: Saudagar yang gemar bersumpah, orang miskin yang sombong, orang tua yang suka berzina dan pembesar yang aniaya (kejam). (Diriwayatkan oleh Nasa’i)

7.    Perempuan Saleh mampu Menghadapi Perubahan

tanpa harus tercerabut dari nilai-nilai moral dan tatanan pergaulan.

Lapang hati yang dipunyai oleh setiap insan yang hidup hanya dapat di bangun dengan ingat kepada Allah semata.

إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يَقُوْلُ

أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَ تَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ- رواه أحمد عن أبي هريرة

Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Aku bersama (menolong) hambaKu, selama dia menyebut (mengingati) Aku dan masih bergerak bibirnya menyebut namaKu. (Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Hurairah)

8.    Perempuan Minangkabau mampu melakukan pengawasan

Terhadap diri dan turunannya sepanjang masa.  Menghindari prilaku cela, yaitu dusta (bohong), mencuri dan caci maki, sesuai sabda Rasulullah SAW; “Jauhilah dusta, karena dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka” (Hadith Shahih). Disini peran perempuan sangat dominan di tengah rumah kaum dan sukunya. [7] 

9.    Melaksanakan amar makruf (social support) dan nahyun anil munkar (social control) untuk kejayaan dunia akhirat.

وَ الَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَ لَتَنْهَوْنَ عَنِ اْلمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ    تيسير الوصول

Demi Tuhan yang diriku dalam tanganNya! Hendaklah kamu menyuruh perbuatan baik dan kamu mencegah perbuatan salah, atau (kalau tidak), nanti Allah dalam masa yang dekat akan menimpakan kepada kamu siksaanNya, kemudian itu kamu mendo’a kepadaNya dan doa kamu tidak diperkenankanNya. (Dari kitab Taisirul Wusul)

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”(QS. Ali Imran, 3 : 104 )

Dalam Konsep Islam, perempuan saleh bergaul dengan ma’ruf dan ihsan, kasih sayang dan cinta, lembut dan lindung, berkehormatan, berpadu hak dan kewajiban. Kata azwajan menggambarkan kokoh peran perempuan dalam wadah keluarga besar (extended family).[8] [7] Rasulullah SAW menyebutkan, “Sorga terletak dibawah telapak kaki Ibu”(al Hadith). Tata krama pergaulan dimulai dari penghormatan di rumah tangga, lingkungan tetangga dan pergaulan warga masyarakat (bangsa).

Gambar

Dalam Etika religi dimulai dari mengucap salam, menyebar senyum, jenguk menjenguk, bertakziyah kala kemalangan, memberi dan mengagih pertolongan, melapangi jika kondisi memungkinkan, walau hanya memberi sepotong doa dengan ikhlas sesama tetangga. Dzikrullah  melahirkan pemikiran bersih, jernih dan diterima oleh semua pihak. Di dalamnya ada hikmah. Inilah keuntungan utama dari dzikrullah itu.

صَنَائِعُ المَعْرُوْفِ تَقِى مَصَارِعَ السُّوْءِ، وَ الصَّدَقَةُ خَفِيًّا تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيْدُ العُمْرَ، وَ كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ وَ أَهْلُ المَعْرُوْفِ فيِ الدُّنْيَا، هُمْ أَهْلُ المَعْرُوْفِ فيِ الآخِرَةِ، وَ أَهْلُ المُنْكَرِ فيِ الدُّنْيَا، هُمْ أَهْلُ المُنْكَرِ فيِ الآخِرَةِ، وَ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الجَنَّةَ أَهْلُ المَعْرُوْفِ           رواه الطبراني عن أم سلمة

Perbuatan baik itu menjaga dari serangan bahaya, sedekah dengan sembunyi memadami marah Tuhan, memperhubungkan silaturahmi menambah umur dan setiap perbuatan baik itu sedekah. Orang yang mengerjakan perbuatan baik di dunia, mereka juga orang yang mengerjakan perbuatan baik di akhirat, sedang orang yang memperbuat kesalahan di dunia, mereka juga orang yang memperbuat kesalahan di akhirat. Orang yang dahulu masuk surga ialah orang yang berbuat baik. (Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ummu Salamah)

Khulashah

Kepemimpinan perempuan yang tulus akan mencetak generasi yang berwatak taqwa, focus dalam berkarya (amal) dan kaya dengan rasa malu. Karakter ini mewarnai masyarakat tradisonal yang mewarisi tamaddun (budaya). Inilah peran perempuan menurut adat di Minangkabau hari ini dan masa datang dalam bimbingan syarak (agama) Islam. Dalam bimbingan Rasulullah SAW ada sinyalemen tentang tujuh watak yang menempati posisi mulia dan semstinya direbut;

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ فيِ ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ وَ شَابٌّ نَشَأَ فيِ عِبَادَةِ اللهِ، وَ رَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ إِذَا خَرَجَ مِنْهُ حَتَّى يَعُوْدَ إِلَيْهِ، وَ رَجُلاَنِ تَحَابَّا فيِ اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَ افْتَرَقَا عَلَيْهِ، وَ رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ فيِ خَلْوَةٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَ رَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَ جَمَالٍ إِلىَ نَفْسِهَا، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ العَالَمِيْنَ، وَ رَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتىَّ لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ                      رواه الشيخان

Tujuh golongan akan dinaungi Allah di bawah lindunganNya, di waktu tidak ada lindungan selain lindunganNya: Imam (kepala pemerintah) yang adil, pemuda yang mempergunakan masa mudanya untuk menyembah Allah, seseorang yang hatinya tergantung di mesjid apabila dia keluar dari mesjid sampai dia kembali ke mesjid, dua orang berkasih sayang karena Allah, keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, seseorang yang mengingati Allah ketika sendirian, lalu menetes air matanya, seorang laki-laki yang dirayu oleh seorang perempuan yang bangsawan dan rupawan, lalu dia menjawab: Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam dan seseorang yang bersedekah dengan sedekahnya, lalu disembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dinafkahkan oleh tangan kanannya. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadist ini dapat disimpulkan ada beberapa upaya yang perlu dilakukan, antara lain ;

1.      Ilmu dan iman akan mendorong setiap diri umat manusia sanggup hidup mandiri.  Nilai-nilai agama (syarak) dalam konsep mencari ridha Allah, adalah Akhlak Mulia dan memadukannya dengan pengetahuan dan keterampilan.

إِنَّ مِنْ أَخْلاَقِ المُؤْمِنِ قُوَّةً فيِ دِيْنٍ وَ حَزْمًا فيِ لِيْنٍ وَ إِيْمَانًا فيِ يَقِيْنٍ وَ حِرْصًا فيِ عِلْمٍ وَ شَفَقَةً فيِ مِقَةٍ وَ حِلْمًا فيِ عِلْمٍ وَ قَصْدًا فيِ غِنًى وَ تَجَمُّلاً فيِ فَاقَةٍ وَ تَحَرُّجًا عَنْ طَمَعٍ وَ كَسْبًا فيِ حَلاَلٍ وَ بِرًّا فيِ اسْتِقَامَةٍ وَ نَشَاطًا فيِ هُدًى وَ نَهْيًا عَنْ شَهْوَةٍ وَ رَحْمَةً لِلْمَجْهُوْدِ.

Sesungguhnya termasuk akhlak (budi pekerti) orang beriman ialah kuat memegang agama, tegas dengan sikap, ramah lembut, beriman dengan keyakinan, loba kepada pengetahuan, memberi bantuan dengan perasaan belas kasihan, ramah tamah dalam berilmu, hidup sederhana di waktu kaya, berhias di waktu miskin, memelihara diri dari loba tamak, berusaha di jalan yang halal, tetap berbuat baik, rajin dalam menjalankan pimpinan yang benar, membatasi diri dari keinginan nafsu dan kasih sayang terhadap orang yang sengsara.

2.      Allah menghendaki kelestarian Agama dengan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak bersitegang. “Diciptakan manusia dengan perangai yang baik (terpuji)”. Pencerahan diri diben­tuk oleh latar pendidikan dan pengalaman hidup dengan modal selalu mendekatkan diri kepada Allah. Tujuan akhir yang diraih dalam gerak kehidupan adalah redha Allah. Menuju redha Allah dicapai melalui ‘al-qalb al-salim ‘ (hati yang salim, tenteram dan sejahtera). Kebaikan hati awal dari kebaikan jiwa dan jasad.

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا فَتَحَ لَهُ قُفْلَ قَلْبِهِ وَ جَعَلَ فِيْهِ الْيَقِيْنَ وَ الصِّدْقَ وَ جَعَلَ قَلْبَهُ وَاعِيًا لِمَا سَلَكَ فِيْهِ وَ جَعَلَ قَلْبَهُ سَلِيْمًا وَلِسَانَهُ صَادِقًا وَ خَلِيْقَتَهُ مُسْتَقِيْمَةً وَ جَعَلَ أُذُنَهُ سَمِيْعَةً وَ عَيْنَهُ بَصِيْرَةً                          رواه الشيخ عن أبي ذر

Apabila Allah hendak mendatangkan kebaikan kepada hambaNya dibukakan kunci hatinya dan dimasukkan ke dalamnya keyakinan dan kebenaran dan dijadikan hatinya menyimpan apa yang masuk ke dalamnya dan dijadikan hatinya bersih, lidahnya berkata benar, budinya lurus, telinganya sanggup mendengar dan matanya melihat dengan terang. (Diriwayatkan oleh Syekh dari Abu Zar).

3.      Membentuk effectif leader haruis mempunyai sahsiah (personality) yang selalu ingat kepada Allah menuju inti dari syarak dalam agama Islam (tauhid dan akhlak).

أَطِبِ الكَلاَمَ، وَ أَفْشِ السَّلاَمَ، وَ صِلِ الأَرْحَامَ، وَ صَلِّ بِالَّلْيلِ وَ النَّاسُ نِيَامٌ، ثُمَّ ادْخُلِ الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ           رواه ابن حبان عن أبي هريرة

Ucapkanlah perkataan dengan baik, kembangkanlah ucapan memberi salam, perhubungkanlah silaturahmi dan sembahyanglah di waktu malam ketika orang banyak sedang tidur, sesudah itu masuklah ke dalam surga dengan selamat. (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).

Gambar4.      Profil kepemimpinan perempuan di Minangkabau yang ideal berada pada kepemimpinan sentral, di tengah keluarganya, menjadi pemilik seluruh kekayaan, rumah, anak, suku dan kaum, sebagai “biaiy, dan mandeh”. Makna sosiologis adalah, memposisikan lelaki pasangan (azwajannya) pada peran pelindung, pemelihara dan penjaga marwah anak turunannya, dengan hati tenang, santun, pergaulan akrab, silaturahim, ibadah teratur, bijak memanfaatkan waktu baik, untuk dapat meraih redha Allah.

مَا كَرِهْتَ أَنْ يَرَاهُ النَّاسُ مِنْكَ فَلاَ تَفْعَلْهُ بِنَفْسِكَ  إِذَا خَلَوْتَ      رواه ابن حبان عن أسامة بن شريك

Apa yang engkau tidak suka dilihat orang banyak datang dari engkau, janganlah engkau perbuat dengan diri engkau ketika engkau sendirian. (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Usamah bin Syuraik)

5.      Senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu wa Taala.

اللَّهُمَّ اصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَ اهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَ نَجَّنَا مِنَ الظُّلُمَاتَ إِلىَ النُّوْرِ وَ جَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ،

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فيِ أَسْمَاعِنَا و أَبْصَارِنَا وَ قُلُوْبِنَا وَ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَاتِنَا وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ، وَ اجْعَلْنَا شَاكِرِيْنَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِيْنَ ِبهَا قَابِلِيْنَ لَهَا وَ أَتِمَّهَا عَلَيْنَا         رواه الحاكم عن ابن مسعود

Ya Allah! Perbaikilah hubungan antara sesama kami, susunlah (satukanlah) hati kami, pimpinlah kami kepada jalan keselamatan, keluarkanlah kami dari kegelapan kepada cahaya yang terang, jauhkanlah kami dari perbuatan keji, yang terang dan yang tersembunyi. Ya Allah! Berilah kami keberkatan berkenaan dengan pendengaran kami, penglihatan kami, hati kami, istri (suami) kami dan anak cucu kami. Terimalah tobat kami sesungguhnya Engkau Penerima tobat dan Penyayang. Jadikanlah kami orang yang mensyukuri nikmat engkau, menghargai nikmat itu, menerimanya dengan baik dan cukupkanlah nikmat itu untuk kami. (HR. Hakim dari Ibnu Mas’ud)

Mudah-mudahan Allah Taala memberi kita kekuatan senantiasa dapat menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Amin

Maraji’ :

1. Ustadz Sulaiman Ibn Muhammad, Kaifa Taqdhi Al-Mar-atul Muslimah  Waqtaha.

2. Abdullah Ibnu Jarullah Ibrahim al Jarullah, Risalah Ila Kulli Muslim.

3. Dr. Muhammad Ali Al Hasyimiy, Syakhshiyah Al-Mar’ah Al-Muslimah.

4. Ummu Abdillah An Nawawi, Hadits Arba’in An-Nawawi.


[1]      Disampaikan ralam rangka Pelantikan Pengurus Bundo Kanduang Kota Padang, yang di adakan di Padang, pada tanggal 9 Januari 2013, oleh Ketua Umum Forum Keswaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Sumatera Barat,  bertempat di Palanta Kediaman Walikota Padang, Jalan A.Yani, Padang, Sumatera Barat.

[2]  Bila Annisa’‑nya baik, baiklah negeri itu, dan kalau sudah rusak, celakalah negeri itu (Al Hadits). Kaidah Alqurani menyebutkan, Nisa’‑nisa’ kamu adalah perladangan (persemaian) untukmu, kamupun (para lelaki) menjadi benih bagi Nisa’‑nisa’ kamu. Kamu dapat mendatan­gi ladang‑ladangmu darimana (kapan saja). Karena itu kamu berkew­ajiban menjaga anfus (diri, eksistensi dan identitas) sesuai perintah Qaddimu li anfusikum, dengan selalu bertaqwa kepada Allah (Q.S.2:23).

[3]  Dalam khazanah syarak kita menemui hadith Rasulullah SAW sebagai riwayat Abdullah bin Mas’ud, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, apakah amal yang paling utama?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya, kemudian apa lagi? Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua.” Aku bertanya, kemudian apa lagi? Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (Muttafaq Alaih).

[4]  Sesuai sabda Rasulullah saw dalam sebuah hadith qudsy Allah berfirman, “Hambaku senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan melaksanakan shalat-shalat nafilah hingga Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya, dengannya dia mendengar, Aku menjadi penglihatannya, dengan itu dia melihat, Aku menjadi tangannya, dengan itu pula dia bertindak (sehingga dia tidak pernah merasa cemas dan takut di dalam meraih cita2nya), Aku menjadi kakinya, dengan itu dia berjalan. Jika dia memohon kepadaKu maka Aku benar-benar akan memberinya dan Jika dia meminta perlindungan kepadaKu maka Aku benar-benar akan melindunginya“. (HR.Al-Bukhari).

[5]  Sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dengan teman yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dengan seorang pandai besi“. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Orang-orang yang mendapatkan taufik dari Allah selalu menjaga waktu mereka untuk hal-hal yang benar-benar bermanfaat. Seorang sahabat terkenal, Abdullah Ibnu Mas’ud telah berkata, “Tidaklah aku menyesali sesuatu, seperti penyesalanku atas suatu hari yang berlalu dengan terbenamnya matahari, semakin berkurang umurku tetapi tidak bertambah amalanku.

[6]  Rasul saw bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an sedang dia terbata-bata dalam membacanya serta kesulitan dalam membacanya maka dia mendapatkan dua pahala, sedangkan orang yang membaca dengan mahir maka dia bersama para penulis kitab (malaikat) yang mulia lagi berbakti.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Perempuan Minangkabau sejak masa lalu selalu berdzikir kepada Allah, satu amalan yang mudah, dimana setiap orang mampu melakukannya, baik kaya maupun miskin, berilmu maupun tidak, perempuan maupun pria, besar ataupun kecil. Berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaan. Rasulullah SAW mengabarkan perbedaan antara orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir, seperti perbedaan antara orang yang hidup dan orang yang mati. Sabda Rasul, “Barangsiapa yang bangun di malam hari kemudian mengucapkan, “Laa ilaaha wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu bi yadihil khair yuhyi wa yumiitu wa Hua ala kulli syai’in qadiir, subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallaahu akbar wa laa haula walaa quwwata illa billah.” Kemudian dia berdo’a, “(Ya Allah ampunilah aku) niscaya akan diterima do’anya. Dan jika dia berwudhu (untuk shalat) niscaya diterima shalatnya“. (HR. Al-Bukhari).

[7]  Perempuan Minangkabau sangat bijak mendidik anak-anak yang menjadi tanggung jawab yang agung. Seorang anak di Minangkabau, lebih takut kehilangan ibunya dari pada kehilangan bapaknya. Inilah satu tanggung jawab  besar bagi perempuan Minangkabau, membentuk dan memberi warna dari generasi pengganti, karena seorang ibu lebih dekat kepada anak-anaknya ketimbang yang lainnya. Seorang ibu (perempuan Minangkabau) selalu menerapkan amar makruf nahi munkar, sebagaimana dinasehatkan dalam satu hadith dari Abu Said Al-Khudri dia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Barang-siapa di antara kalian melihat kemungkaran hendaklah dia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisan (nasihat). Dan jika tidak mampu maka hendaklah meng-ubahnya dengan hati (tidak senang dengan kemungkaran itu) dan itulah selemah-lemah iman’.” (HR. Muslim).

[8]  Penghormatan kepada Ibu menempati urutan kedua sesudah iman kepada Allah (konsep tauhidullah). Bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Ibu. Hubungan hidup duniawi wajib dipelihara baik dengan jalinan ihsan (lihat QS. 31, Luqman : 14-15). Kandungan nilai pendidikan dan filosofi ini terikat kasih sayang. Hakikinya semua terjadi karena Rahman dan RahimNya, dan semuanya berakhir dengan menghadapNya. Maka kewajiban asasi insani menjaga diri dan keluarga dari bencana (QS. At Tahrim :6). Dengan memakai hidayah religi Alqurani.

Imam & Khathib Masjid Al Haram, Ahmad Al Khathib Al Minangkabawi

Kategori: Biografi

14 September 2012

A. Muqaddimah

Dalam panggung sejarah, Islam sudah lama dikenal oleh penduduk Melayu. Bahkan menurut Ustadz ‘Abdul Malik bin ‘Abdul Karim bin Amrullah rahimahullah atau yang lebih dikenal dengan Hamka, Islam sudah melebarkan sayapnya di bumi Melayu sejak abad pertama hijriah. Namun sayang, meski Islam sudah sekian abad di Melayu, ajaran-ajaran yang diamalkan kaum muslimin di sana banyak yang menyimpang dari ajaran Islam yang dibawa Rasulullah. Ajaran-ajaran tasawwuf ala shufi dan keyakinan-keyakinan bid’ah dan sesat seperti takhayul, khurafat sampai ajaran martabat tujuh atau wihdatul wujud banyak mewarnai amalan-amalan kaum muslimin di bumi Melayu.

Seiring bergulingnya waktu, kaum muslimin di Melayu mulai sadar akan kekeliruan ajaran yang selama ini mereka anggap bagian dari Islam justru bertentangan. Maka usaha-usaha dalam memurnikan ajaran Islam di Melayu pun segera dimulai. ‘Episode’ pertama diawali oleh tiga jama’ah haji yang membawa oleh-oleh dari Tanah Suci berupa ‘filter’ ajaran sesat di ranah Minangkabau. Kemudian ‘episode’ berikutnya ditunjukkan oleh Syaikh Ahmad Al Khathib rahimahullah, seorang ulama yang muqim di Makkah yang terkenal dengan kegigihannya dalam menyerang kelompok-kelompok ahlul bida’ wal ahwa’ dan adat-adat yang bertentangan dengan syariat Islam baik melalui tulisan-tulisan maupun murid-muridnya yang kembali ke Melayu.

B. Nasab & Kelahiran Syaikh Ahmad Al Khathib

Beliau bernama lengkap Al ‘Allamah Asy Syaikh Ahmad bin ‘Abdul Lathif [bin ‘Abdurrahman] bin ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Khathib Al Minangkabawi [Al Minkabawi] Al Jawi Al Makki Asy Syafi’i Al Atsari rahimahullah.

Syaikh Ahmad Al Khathib dilahirkan di Koto Tuo, Desa Kota Gadang, Kec. Ampek Angkek Angkat Candung, Kab. Agam, Prov. Sumatera Barat pada hari Senin 6 Dzul Hijjah 1276 H bertepatan dengan 26 Mei 1860 M di tengah keluarga bangsawan. ‘Abdullah, kakek Syaikh Ahmad atau buyut menurut riwayat lain, adalah seorang ulama kenamaan. Oleh masyarakat Koto Gadang, ‘Abdullah ditunjuk sebagai imam dan khathib. Sejak itulah gelar Khathib Nagari melekat dibelakang namanya dan berlanjut ke keturunannya di kemudian hari.

Ada perbedaan mengenai siapa kakek Syaikh Ahmad. Menurut ‘Umar ‘Abdul Jabbar, ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al Mu’allimi, dan Ibrahim bin ‘Abdullah Al Hazimi, kakek Syaikh Ahmad adalah ‘Abdullah. Sedangkan menurut Dadang A. Dahlan, kakek Syaikh Ahmad adalah ‘Abdurrahman yang bergelar Datuk Rangkayo Basa. Terlepas dari perbedaan itu, yang jelas Syaikh Ahmad berasal dari keluarga bangsawan, baik dari jalur ayah maupun ibu.

C. Perjalanan Syaikh Ahmad dalam Thalabul ‘Ilmi

Ketika masih di kampung kelahirannya, Ahmad kecil sempat mengenyam pendidikan formal, yaitu pendidikan dasar dan berlanjut ke Sekolah Raja atau Kweek School yang tamat tahun 1871 M.

Di samping belajar di pendidikan formal yang dikelola Belanda itu, Ahmad kecil juga mempelajari mabadi’ (dasar-dasar) ilmu agama dari Syaikh ‘Abdul Lathif, sang ayah. Dari sang ayah pula, Ahmad kecil menghafal Al Quran dan berhasil menghafalkan beberapa juz.

Pada tahun 1287 H, Ahmad kecil diajak oleh sang ayah, ‘Abdul Lathif, ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah rangkaian ibadah haji selesai ditunaikan, ‘Abdullah kembali ke Sumatera Barat sementara Ahmad tetap tinggal di Makkah untuk menyelesaikan hafalan Al Qurannya dan menuntut ilmu dari para ulama-ulama Makkah terutama yang mengajar di Masjid Al Haram terutama yang mengajar di Masjid Al Haram.

Di antara guru-guru Syaikh Ahmad di Makkah adalah:

  1. Sayyid ‘Umar bin Muhammad bin Mahmud Syatha Al Makki Asy Syafi’I (1259-1330 H)
  2. Sayyid ‘Utsman bin Muhammad Syatha Al Makki Asy Syafi’i (1263-1295 H)
  3. Sayyid Bakri bin Muhammad Zainul ‘Abidin Syatha Ad Dimyathi Al Makki Asy Syafi’I (1266-1310 H) –penulis I’anatuth Thalibin.

    Dalam Ensiklopedi Ulama Nusantara dan Cahaya dan Perajut Persatuan mencatat beberapa ulama lain sebagai guru Syaikh Ahmad, yaitu:
  4. Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (wafat 1304) –mufti Madzhab Syafi’I di Makkah-
  5. Yahya Al Qalyubi
  6. Muhammad Shalih Al Kurdi

Mengenai bagaimana semangat Syaikh Ahmad dalam thalabul ‘ilmi, mari sejenak kita dengarkan  penuturan seorang ulama yang sezaman dengan beliau, yaitu Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar rahimahullah dalam Siyar wa Tarajim hal. 38-39, “…Beliau adalah santri teladan dalam semangat, kesungguhan, dan ketekunan dalam menuntut ilmu serta bermudzakarah malam dan siang dalam pelbagai disiplin ilmu. Karena semangat dan ketekunannya dalam muthala’ah dalam ilmu pasti seperti mathematic (ilmu hitung), aljabar, perbandingan, tehnik (handasah), haiat, pembagian waris, ilmu miqat, dan zij, beliau dapat menulis buku dalam disiplin ilmu-ilmu itu tanpa mempelajarinya dari guru (baca: otodidak).”

Selain mempelajari ilmu Islam, Ahmad juga gemar mempelajari ilmu-ilmu keduniaan yang mendudkung ilmu diennya seperti ilmu pasti untuk membantu menghitung waris dan juga bahasa Inggris sampai betul-betul kokoh.

D. Syaikh Ahmad Menikah dan Menjadi Seorang Ayah

Di antara kebiasaan Syaikh Ahmad di Makkah adalah menyeringkan diri mengunjungi toko buku milik Muhammad Shalih Al Kurdi yang terletak di dekat Masjid Al Haram untuk membeli kitab-kitab yang dibutuhkan atau sekedar membaca buku saja jika belum memiliki uang untuk membeli. Karena seringnya Syaikh Ahmad mengunjungi toko buku itu membuat pemilik toko, Shalih Al Kurdi, menaruh simpati kepadanya, terutama setelah mengetahui kerajinan, ketekunan, kepandaian dan penguasaannya terhadap ilmu agama serta keshalihannya.

Ketertarikan Shalih Al Kurdi terhadap Syaikh Ahmad dibuktikan dengan dijadikannya Syaikh Ahmad sebagai menantu. Ya. Setelah banyak mengetahui tentang prihal dan kepribadian Syaikh Ahmad yang mulia itu, Shalih Al Kurdi pun menikahkannya dengan putrid pertamanya yang kata Hamka dalam Tafsir Al Azhar bernama Khadijah. Sebenarnya Syaikh Ahmad sempat ragu menerima tawaran dari Al Kurdi karena tidak adanya biaya yang mencukupi dan telah mengatakan terus terang, akan tetapi justru tidak sedikit pun mengurangi niat besar dari Al Kurdi untuk menjaqdikannya menantu. Bahkan Al Kurdi berjanji menanggung semua biaya pernikahan termasuk mahar dan kebutuhan hidup keluarga Syaikh Ahmad. Masya Allah. Jika karena bukan kepribadian Syaikh Ahmad yang mulia dan keilmuannya, mungkin hal semacam ini tidak akan pernah terjadi.

Tentang pengambilan Syaikh Ahmad sebagai menantu Shalih Al Kurdi, Syarif ‘Aunur Rafiq bertanya terheran kepada Shalih, “Aku dengar Anda telah menikahkan putrid Anda dengan lelaki Jawi yang tidak pandai berbahasa ‘Arab kecuai setelah belajar di Makkah?” “Akan tetapi ia adalah lelaki shalih dan bertaqwa,” jawab Shalih seketika, “Padahal Rasulullah shallallahu ‘alai wa sallam bersabda, ‘Jika dating kepada kalian seseorang yang agama dan amanahnya telah kalian ridhai, maka nikahkanlah ia.’

Dari pernikahannya dengan Khadijah itu, Syaikh Ahmad dikaruniai seorang putra, yaitu ‘Abdul Karim (1300-1357 H).

Ternyata pernikahan Syaikh Ahmad dengan Khadijah tidak berlangsung lama karena Khadijah meninggal dunia.

Shalih Al Kurdi, sang mertua, untuk menikah kembali dengan purinya yang lain, yaitu adik kandung Khadijah yang bernama Fathimah. Fathimah adalah seorang seorang wanita teladan dalam keshalihan dan memiliki hafalan Al Quran yang baik. Oleh karena itu tidak heran jika anak-anaknya kelak menjadi orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di Timur Tengah, yaitu:

  1. ‘Abdul Malik. Ketua redaksi koran Al Qiblah dan memiliki kedudukan tinggi di Al Hasyimiyyah (Yordan). Belajar kepada sang sang ayah lalu mempelajari adab dan politik.
  2. ‘Abdul Hamid Al Khathib –seorang ulama ahli adab dan penyair kenamaan yang pernah menjadi staf pengajar di Masjid Al Haram dan duta besar Saudi untuk Pakistan. Di antara karya ilmiahnya adalah Tafsir Al Khathib Al Makki 4 jilid, sebuah nazham (sya’ir) berjudulSirah Sayyid Walad Adam shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al Imam Al ‘Adil (sejarah dan biografi untuk Raja ‘Abdul ‘Aziz Alu Su’ud)-

Kesuksesan Syaikh Ahmad dalam mendidik anak-anaknya sehingga menjadi tokoh-tokoh berhasil bukanlah omong kosong belaka. Keberhasilan itu berawal dari sistem pendidikan yang mengacu kepada nilai-nilai ajaran Islam yang mulia terutama masalah ‘aqidah. Mari sejenak kita dengar langsung penuturan ‘Abdul Hamid Al Khathib tentang bagaimana Syaikh Ahmad menanamkan ‘aqidah pada anak-anaknya, “Ketika kecilku dulu, jika aku meminta sesuatu dari ayahku, beliau akan berkata,’Mintalah kepada Allah, pasti Dia akan memberimu (apa yang kamu minta).’ Aku pun balik bertanya, ‘Memangnya Allah di mana, yah?’ ‘Dia berada di langit sana,’ jawab ayahku,’Dia dapat melihatmu, sedangkan kamu tidak melihat-Nya.’ Tidak selang berapa lama, ayahku pun mendatangiku dengan membawa apa yang kuminta seraya berkata, ‘Ni, Allah telah mengirim kepadamu apa yang tadi kamu minta .’

Dulu juga jika aku meminta sesuatu kepada Allah dan tidak aku dapatkan, maka aku pun segera mengadu kepada ayahku, ‘Sesungguhnya aku telah meminta ini dan itu kepada Allah, tapi kok Allah tidak memberiku, yah?’ Ayah pun segera menjawab, ‘Ini tidak mungkin terjadi kecuali juka kamu sendiri yang bikin Allah murka. Ya mungkin kamu sudah berlaku sembrono dalam ibadahmu, atau kamu terlambat shalat, atau mungkin kamu sudah menggunjing seseorang? Maka bertaubatlah dan minta ampunlah kepada Allah, pasti Dia akan memberikan semua permintaanmu.’ Aku pun segera menlakukan wasiat ayahku, maka semua keinginanku pun dapat terwujud.”

Lihatlah, bagaimana pendidikan aqidah yang diberikan Syaikh Ahmad kepada anaknya ini. Pendidikan mana lagi yang lebih mulia dari penanaman ‘aqidah yang kuat pada diri seorang anak. Bukankah melukis di batu itu sulit namun hasilnya akan lebih kekal? Demikian juga dengan diri seorang anak. Seorang anak kecil itu bagaikan gelas kaca yang masih kosong. Ia tergantung dengan siapa yang pertama kali mengisinya. Pendidikan yang seperti inilah yang akan menanamkan rasa cinta yang tinggi kepada Allah, bersandar hanya kepada kepada-Nya, meminta hanya kepada-Nya semata bahkan hal-hal yang kecil sekalipun. Inilah pendidikan tauhid yang pernah dipraktekkan Rasulullah kepada keponakannya, Ibnu ‘Abbas, yang ketika itu usianya masih kanak-kanak, “Jika kamu meminta pertolongan, mintalah (pertolongan) kepada Allah.”

Potret lain dari pendidikan yang diberikan Syaikh Ahmad kepada keluarganya adalah beliau selalu menegur dan memperingati bagi siapa saja yang menyia-nyiakan waktunya dengan bermain-main dan berbagai hal yang dapat melalaikan termasuk alat-alat music dan nyanyian. Semua ini dilakukan Syaikh Ahmad karena bentuk rasa sayangnya terhadap keluarganya. Karena melarang tidak selamanya bermakna benci. Tidak seperti anggapan sementara sebagian orang dalam mengekspresikan rasa cintanya kepada keluarganya. Mereka kira dengan membiarkan semua gerak-gerik dan tingkah laku keluarganya itulah yang disebut cinta. Padahal boleh jadi prilaku-prilaku itu mengundang murka Allah ‘Azza wa Jalla.  Akan tetapi berbeda dengan Syaikh Ahmad, ia menyadari bahwa seorang ayah kelak akan dimintai pertanggungjawaban di depan pengadilan Rabbul ‘alamin. Maka dengan segenap kemampuannya, Syaikh Ahmad menganjurkan kepada semua keluarganya untuk menjauhi semua hal-hal yang tidak bermanfaat dan mencukupkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat saja. Tidakkah Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari neraka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas tanggungannya.” Sampai sabda beliau, “Dan laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya.”

E. Karir Syaikh Ahmad di Makkah

Kealiman Syaikh Ahmad dibuktikan dengan dilangkatnya beliau menjadi imam dan khathib sekaligus staf pengajar di Masjid Al Haram. Jabatan sebagai imam dan khathib bukanlah jabatan yang mudah diperoleh. Jabatan ini hanya diperuntukkan orang-orang yang memiliki keilmuan yang tinggi.

Mengenai sebab pengangkatan Syaikh Ahmad Al Khathib menjadi imam dan khathib, ada dua riwayat yang nampaknya saling bertentangan. Riwayat pertama dibawakan oleh ‘Umar ‘Abdul Jabbar dalam kamus tarajimnya, Siyar wa Tarajim (hal. 39). ‘Umar ‘Abdul Jabbar mencatat bahwa jabatan imam dan khathib itu diperoleh Syaikh Ahmad berkat permintaan Shalih Al Kurdi, sang mertua, kepada Syarif ‘Aunur Rafiq agar berkenan mengangkat Syaikh Ahmad menjadi imam & khathib. Sedangkan riwayat kedua dibawakan oleh Hamka rahimahullah dalam Ayahku, Riwayat Hidup Dr. ‘Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera yang kemudian dinukil oleh Dr. Akhria Nazwar dan Dadang A. Dahlan. Ustadz Hamka menyebutkan cerita ‘Abdul Hamid bin Ahmad Al Khathib, suatu ketika dalam sebuah shalat berjama’ah yang diimami langsung Syarif ‘Aunur Rafiq. Di tengah shalat, ternyata ada bacaan imam yang salah, mengetahui itu Syaikh Ahmad pun, yang ketika itu juga menjadi makmum, dengan beraninya membetulkan bacaan imam. Setelah usai shalat, Syarif ‘Aunur Rafiq bertanya siapa gerangan yang telah membenarkan bacaannya tadi. Lalu ditunjukkannya Syaikh Ahmad yang tak lain adalah menantu sahabat karibnya, Shalih Al Kurdi, yang terkenal dengan keshalihan dan kecerdasannya itu. Akhirnya Syarif ‘Aunur Rafiq mengangkat Syaikh Ahmad sebagai imam dan khathib Masjid Al Haram untuk madzhab Syafi’i.

F. Sekelumit Aktifitas Keseharian Syaikh Ahmad Al Khathib

Keseharian para ulama memang sangat menakjubkan. Di setiap aktifitasnya selalu bernilai ibadah, sebagaimana kata pepatah Arab,‘adatul ‘abdid ‘ibadah wa ‘ibadatul ghafil ‘adah (kebiasaannya ahli ibadah itu bernilai ibadah sementara ibadahnya orang lalai itu hanya bernilai kebiasaan saja). Mereka sangat mahir dalam membagi waktu dan sangat berhati-hati dalam menggunakan waktunya. Meski mereka memiliki aktifitas mengajar, akan tetapi tidak lantas melupakan hak keluarganya. Mereka tahu kapan harus bercengkrama dengan keluarga dan kapan harus pergi mengajar para muridnya. Demikianlah yang terjadi pada diri seorang Syaikh Ahmad rahimahullah.

Berhubungan dengan aktifitas keseharian Syaikh Ahmad, sebaiknya kita dengar langsung saja penuturan Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar yang memang hidup sezaman, “(Setelah mengajar para santri di Masjid Al Haram), beliau pulang ke rumah untuk sarapan pagi dan berbaring (tidur-tiduran atau dalam bahasa jawa klekaran) sejenak, lalu kembali bermudzakarah sampai datang waktu zhuhur. Pergilah beliau ke masjid untuk menunaikan shalat zhuhur secara berjama’ah. (Usai shalat jama’ah), beliau pulang ke rumah untuk menyampaikan dua mata pelajar an kepada murid-muridnya, lalu makan siang dan tidur siang sesaat. Lalu beliau pergi ke masjid untuk menunaikan shalat ‘Ashar secara berjama’ah, pulang ke rumah menyampaikan satu pelajaran kepada para santri, kemudian mengulangi (mudzakarah) pelajaran-pelajarannya hingga datang maghrib. Beliau pun pergi ke masjid untuk shalat berjama’ah dan menyampaikan satu pelajaran berupa nasehat dan arahan sampai datang ‘Isya.

Setelah shalat, beliau pulang ke rumah untuk makan malam dan bercengkrama dengan keluarganya lalu tidur sedini mungkin. Ia bangun tidur pada sepertiga malam terakhir dan menyibukkan diri dengan menulis sampai dekat waktu fajar, lalu pergi ke masjid. Ia pun memulai aktifitasnya seperti biasanya. Demikianlah beliau menghabiskan hidupnya dalam ketaatan kepada Allah dan menyebarkan agama-Nya.”  [Siyar wa Tarajim (hal. 40)]

G.    Akhlak Syaikh Ahmad Al Khathib

Syaikh Ahmad Al Khathib dikenal ditengah masyarakat dengan baik hatinya, mulia akhlaknya, lurus niatnya, tidak suka menjilat (cari muka), dan amat murka dengan orang-orang yang sombong, dan lapang dadfa.

Itulah akhlak seorang ulama yang benar-benar mengamalkan ilmunya. Meski kedudukannya tinggi, namun beliau tidak sombong. Justru dengan kedudukannya yang tinggi itu, beliau manfaatkan untuk mengajarkan kepada manusia nilai-nilai positif. Maka tidak heran apabila nama beliau harum di kalangan manusia dan bahkan berkat akhlak mulianya itu dapat mengundang ratusan santri dari berbagai kalangan untuk belajar kepadanya.

H.    Wafatnya Syaikh Ahmad

Pada tanggal 9 Jumadil Ula tahun 1334 H, Allah ‘memanggil’ Syaikh Ahmad ke hadhirat-Nya setelah sekian lama hidup di dunia yang fana ini. Ya, jatah beliau tinggal di dunia ini telah habis setelah mencetak kader-kader yang hingga detik ini masih disebut-sebut. Jasad beliau memang sudah tiada, namun kehadirannya seakan-akan masih bisa dirasakan karena keilmuan dan peninggalan-peninggalannya berupa murid-muridnya yang terus memperjuangkan misi-misinya dan terutama karya-karya ilmiahnya yang masih terus dibaca hingga hari ini. Rahimahullah wa askanahu fasiha jannatih.

I.       Karya Tulis Syaikh Ahmad

Karya-karya tulis Syaikh Ahmad dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu karya-karya yang berbahasa Arab dan karya-karya yang berbahasa Melayu dengan tulisan Arab. Kebanyakan karya-karya itu mengangkat tema-tema kekinian terutama menjelaskan kemurnian Islam dan merobohkan kekeliruan tarekat, bid’ah, takhayul, khurafat, dan adat-adat yang bersebrangan dengan Al Quran & Sunnah.

Karya-karya Syaikh Ahmad dalam bahasab ’Arab:

  1. Hasyiyah An Nafahat ‘ala Syarhil Waraqat lil Mahalli
  2. Al Jawahirun Naqiyyah fil A’malil Jaibiyyah
  3. Ad Da’il Masmu’ ‘ala Man Yuwarritsul Ikhwah wa Auladil Akhwan Ma’a Wujudil Ushul wal Furu’
  4. Raudhatul Hussab
  5. Mu’inul Jaiz fi Tahqiq Ma’nal Jaiz
  6. As Suyuf wal Khanajir ‘ala Riqab Man Yad’u lil Kafir
  7. Al Qaulul Mufid ‘ala Mathla’is Sa’id
  8. An Natijah Al Mardhiyyah fi Tahqiqis Sanah Asy Syamsiyyah wal Qamariyyah
  9. Ad Durratul Bahiyyah fi Kaifiyah Zakati Azd Dzurratil Habasyiyyah
  10. Fathul Khabir fi Basmalatit Tafsir
  11. Al ‘Umad fi Man’il Qashr fi Masafah Jiddah
  12. Kasyfur Ran fi Hukmi Wadh’il Yad Ma’a Tathawuliz Zaman
  13. Hallul ‘Uqdah fi Tashhihil ‘Umdah
  14. Izhhar Zaghalil Kadzibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin
  15. Kasyful ‘Ain fi Istiqlal Kulli Man Qawal Jabhah wal ‘Ain
  16. As Saifu Al Battar fi Mahq Kalimati Ba’dhil Aghrar
  17. Al Mawa’izh Al Hasanah Liman Yarghab minal ‘Amal Ahsanah
  18. Raf’ul Ilbas ‘an Hukmil Anwat Al Muta’amil Biha Bainan Nas
  19. Iqna’un Nufus bi Ilhaqil Anwat bi ‘Amalatil Fulus
  20. Tanbihul Ghafil bi Suluk Thariqatil Awail fima Yata’allaq bi Thariqah An Naqsyabandiyyah
  21. Al Qaulul Mushaddaq bi Ilhaqil Walad bil Muthlaq
  22. Tanbihul Anam fir Radd ‘ala Risalah Kaffil ‘Awwamsebuah kitab bantahan untuk risalah Kafful ‘Awwam fi Khaudh fi Syirkatil Islam karya Ustadz Muhammad Hasyim bin Asy’ari yang melarang kaum muslimin untuk nimbrung di Sarekat Islam (SI)
  23. Hasyiyah Fathul Jawwad dalam 5 jilid
  24. Fatawa Al Khathib ‘ala Ma Warada ‘Alaih minal Asilah
  25. Al Qaulul Hashif fi Tarjamah Ahmad Khathib bin ‘Abdil Lathif

    Adapun yang berbahasa Melayu adalah:
  26. Mu’allimul Hussab fi ‘Ilmil Hisab
  27. Ar Riyadh Al Wardiyyah fi [Ushulit Tauhid wa] Al Fiqh Asy Syafi’i
  28. Al Manhajul Masyru’ fil Mawarits
  29. Dhaus Siraj Pada Menyatakan Cerita Isra’ dan Mi’raj
  30. Shulhul Jama’atain fi Jawaz Ta’addudil Jumu’atain
  31. Al Jawahir Al Faridah fil Ajwibah Al Mufidah
  32. Fathul Mubin Liman Salaka Thariqil Washilin
  33. Al Aqwal Al Wadhihat fi Hukm Man ‘Alaih Qadhaish Shalawat
  34. Husnud Difa’ fin Nahy ‘anil Ibtida’
  35. Ash Sharim Al Mufri li Wasawis Kulli Kadzib Muftari
  36. Maslakur Raghibin fi Thariqah Sayyidil Mursalin
  37. Izhhar Zughalil Kadzibin
  38. Al Ayat Al Bayyinat fi Raf’il Khurafat
  39. Al Jawi fin Nahw
  40. Sulamun Nahw
  41. Al Khuthathul Mardhiyyah fi Hukm Talaffuzh bin Niyyah
  42. Asy Syumus Al Lami’ah fir Rad ‘ala Ahlil Maratib As Sab’ah
  43. Sallul Hussam li Qath’i Thuruf Tanbihil Anam
  44. Al Bahjah fil A’malil Jaibiyyah
  45. Irsyadul Hayara fi Izalah Syubahin Nashara
  46. Fatawa Al Khathib dalam versi bahasa Melayu

J.       Murid-Murid Syaikh Ahmad Rahimahullah

Mengenai murid-murid Syaikh Ahmad rahimahullah, Siradjuddin ‘Abbas berkata, “Sebagaimana dikatakan di atas bahwa hamper ulama Syafi’I yang kemudian mengembangkan ilmu agama di Indonesia, seperti Syeikh Sulaiman Ar Rasuli, Syeikh Muhd. Jamil Jaho, Syeikh ‘Abbas Qadhli, Syeikh Musthafa Purba Baru, Syaikh Hasan Ma’shum Medan Deli dan banyak lagi ulama-ulama Indonesia pada tahun-tahun abad XIV adalah murid dari Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau ini.” [Thabaqatus Syafi’iyah (hal. 406)]

Ucapan senada juga dinyatakan penulis Ensiklopedi Ulama Nusantara di banyak tempat.Bahkan Dr. Kareel A. Steenbrink membuat satu pasal dalam Beberapa Aspek:Guru untuk Generasi Pertama Kau Muda. Namun demikian, tidak salah kiranya kita sebutkan di sini beberapa murid-muridnya yang menonjol, baik secara keilmuan maupun dakwah yang mereka lancarkan, di antaranya adalah:

  1. Syaikh ‘Abdul Karim bin Amrullah rahimahullah –ayah Ustadz Hamka-. Seorang ulama kharismatik yang memiliki pengaruh kuat di ranah Minang dan Indonesia. Di antara karya tulisnya adalah Al Qaulush Shahih yang membicarakan tentang nabi terakhir dan membantah paham adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad terutama pengikut Mirza Ghulam Ahmad Al Qadiyani.
  2. Muhammad Darwis alias Ustadz Ahmad Dahlan bin Abu Bakar bin Sulaiman rahimahullah –pendiri Jam’iyyah Muhammadiyyah-.
  3. Ustadz Muhammad Hasyim bin Asy’ari Al Jumbangi rahimahullah –salah satu pendiri Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama-.
  4. Ustadz ‘Abdul Halim Majalengka rahimahullah–pendiri Jam’iyyah I’anatul Mubta’allimin yang bekerja sama dengan Jam’iyyah Khairiyyah dan Al Irsyad
  5. Syaikh ‘Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad ‘Afif Al Banjari rahimahullah –mufti Kerajaan Indragiri-.
  6. Muhammad Thaib ‘Umar
  7. Dan lain-lain.

K.     Usaha (Juhud) Syaikh Ahmad dalam Memurnikan Ajaran Islam di Nusantara Khususnya dan Dunia Islam Umumnya

Usaha yang dilancarkan Syaikh Ahmad dalam memurnikan ajaran Islam dari perkara-perkara bid’ah yang menyesatkan namun tidak disadari di Nusantara diekspresikan melalui murid-murid dan karya-karyanya.

Adapun melalui karya-karyanya, Syaikh Ahmad sangat gigih dan keras tanpa kompromi sediktpun dalam memberantas bid’ah, khurafat, tarikat, ajaran menyimpang dan adat yang bertolak belakang dengan syariat. Dalam masalah tarekat, misalnya, Syaikh Ahmad menulis minimal tiga kitab rudud (bantahan), yaitu, Izhhar Zaughalil Kadzibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin yang kemudian ditranslit ke dalam tulisan latin oleh A. Arief dengan judul Thariqat Naqasyabandiyah, As Saiful Battar fi Mahq Kalimat Ba’dhil Aghrar , dan Al Ayat Al Bayyinat fi Raf’il Khurafat. Bahasan dalam kitab-kitab ini mengacu kepada kitab Al Ba’its fi Inkaril Bida’ wal Hawadits karya Imam Abu Syamah rahimahullah. Menurut Ustadz Hamka, sebagaimana yang dikutib Ustadz Armen Halim Narorahimahullah dalam salah satu kajiannya, metode bantahan kitab ini –Al Izhhar- persis dengan bantahan yang diberikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah terhadap orang-orang menyimpang di zamannya. Melalui karya-karya ini pula Syaikh Ahmad membantah pandangan Syaikh Muhammad Sa’ad Mungka dan Syaikh Ali Khathib yang gigih mempertahankan tharikat Naqsyabandiyyah.

Sebenarnya melalui judul-judul kitab-kitab Syaikh Ahmad saja kita sudah faham kurang lebihnya bahasan yang disajikan dalam masing-masing kitab trsebut. Misalnya kitab Husnud Difa’ fin Nahy ‘anil Ibtida’ yang berarti pembelaan yang baik tentang larangan melakukan bid’ah, dapat diasumsikan bahasan dalam kitab ini banyak berbicara masalah bid’ah dan khurafat di tengah masyarakat. Ini menunjukkan bahwa usaha Syaikh Ahmad benar-benar sangat berarti dalam pemurniat Islam di negerinya.

Dalam masalah adat yang menyimpang terutama dalam masalah waris dan harta pusaka, Syaikh Ahmad menulis Ad Da’il Mamu’dan Al Manhajul Masyru’. Kedua buku ini dicetak dalam satu jilid dengan Ad Da’il Masmu’ dicetak dipinggiran Al Manhajul Masyru’.

Tidak hanya sapai di situ perjuangan Syaikh Ahmad dalam membersihkan noda-noda keyakinan umat Islam, beliau juga membantah  syubhat-syubhat yang dihembuskan Belanda terutama mempertanyakan keabsahan terjadinya isra’ dan mi’raj di tengah kaum muslimin di Indonesia. Beliau kemudian membantah syubhat-syubhat dalam bukunya, Dha’us Siraj Pada Menyatakan Isra’ dan Mi’raj yang terbit tahun 1312 H. Berikutnya, beliau juga menulis Irsyadul Hayara fi Radd Syubahin Nashara.

Ada kitab Ar Riyadhul Wardiyyah fil Ushul wal Furu’ yang beliau tulis dalam bahasa Melayu huruf ‘Arab, membicarakan masalah dasar-dasar aqidah-tauhid dan fiqih syafi’I praktis supaya menjadi pegangan orang-orang yang balu belajar dan ‘awwam dari kalangan kaum muslimin. Kitab ini sudah dicetak berulang kali. Allahua’lam.[]

 

Refrensi:

  • ‘Abduljabbar, ‘Umar. 1403 H. Siyar wa Tarajim Ba’dhi ‘Ulamaina fil Qarn Ar Rabi’ ‘Asyar lil Hijrah. KSA: Tihamah
  • Al-Hazimi, Ibrahim bin ‘Abdullah. 1419 H. Mausu’ah A’lamil Qarn Ar Rabi’ ‘Asyar wal Khamis ‘Asyar Al Hijri fil ‘Alam Al ‘Arabi wal Al Islami min 1301-1417. KSA: Dar Asy Syarif lin Nasyr wat Tauzi’
  • Al-Mu’allimi, ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman. 1421 H. A’lamul Makkiyyin min Al Qarn At Tasi’ ilal Qarn Ar Rabi’ ‘Asyar Al Hijri. KSA: Muassasah Al Furqan lit Turats Al Islami
  • Steenbrink, Dr. Karel A. 1984 M. Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad Ke-19. Jakarta: Bulan Bintang
  • Dahlan, Dadang A. 2007. Cahaya dan Perajut Persatuan Waliullah Ahmad Khatib Al Minangkabawy. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa
  • Suprapto, Muhammad Bibit. 2009. Ensiklopedi Ulama Nusantara. Jakarta: Glegar Media Indonesia
  • Amrullah, ‘Abdul Malik bin ‘Abdul Karim. Tafsir Al Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas
  • Ad-Dahlawi, ‘Abdus Sattar bin ‘Abdul Wahhab. 1430 H. Faidhul Malikil Wahhabil Muta’ali bi Anba’ Awailil Qarn Ats Tsalits ‘Asyar wat Tawali. KSA: Maktabah Al Asadi
  • ‘Abbas, Siradjuddin. 2011. Thabaqatus Syafi’iyah, Ulama Syafi’I dan Kitab-Kitabnya dari Abad ke Abad. Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru

Penulis: Ibnu Mawardi
Artikel Muslim.Or.Id 

Dari artikel Imam & Khathib Masjid Al Haram, Ahmad Al Khathib Al Minangkabawi — Muslim.Or.Id by null

SUBSTANSI Hijrah, Kiat MEMBENTUK GENERASI MAJU

 

Oleh : H.Mas’oed Abidin

 

Hijrah[1] bukan melarikan diri karena takut siksaan, atau karena tekanan musyrikin Quraisy semata. Hijrah adalah satu peristiwa penting yang menjadi titik awal — starting-point – kebangkitan Dakwah Islam, dedikasi keyakinan Tauhid — beriman kepada Allah,  bukti kepatuhan, buah kesetiaan –, ketaatan kepada prinsip-prinsip ajaran tauhid. Hijrah adalah jawaban tegas seorang mukmin atas seruan Allah, tanda kecintaan sejati – mahabbah – kepada Muhammad Rasulullah SAW. Cinta akan Allah dan Rasul SAW dibuktikan oleh kemampuan menundukkan kecintaan kepada harta benda, sanak keluarga dan kerelaan menggantinya dengan keikhlasan menerima Ajaran Islam.

Hijrah adalah wadah latihan ketahanan umat. Citra ajaran Rasulullah SAW, serta  ujian menghadapi krisis yang akan tersua sepanjang masa. Allah berfirman, artinya ; Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas dipermukaan bumi (Makkah), kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (di Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongannya, dan diberinya kamu rezeki dari yang baik-baik, agar kamu bersyukur” (QS.8, al-Anfaal :26).

Hijrah adalah penerjemahan nyata dari Wahyu Al Quran. Hijrah adalah kebenaran perjalanan sejarah manusia pemilik keyakinan tauhid — berakidah Islam — sepanjang masa, siap sedia melaksanakan reformasi actual – menanggalkan kehidupan jahili – menumbuh biasakan karakter masyarakat Sunnah – Islami —  dalam membentuk generasi Qurani. Membentuk Militansi Khayra Ummah. Hijrah pada hakekatnya melahirkan militansi – bersemangat, penuh ghairah dalam melakukan sesuatu (lihat KUBI, hal.898) – di tengah ummat tauhid itu.

 Militansi  menampilkan sosok umat bermutu — khaiyr-ummah –, yakni umat yang siap memikul tanggung jawab manusiawi – menjadi khalifah Allah di muka bumi – itulah puncak kewibawaan ajaran Islam. Setiap upaya menjadikan Islam sebagai agama yang haq (benar) dari Allah oleh ummat yang militan — secara pasti tidak bisa dirusak oleh perdayaan dan tekanan dari golongan musyrikin – atheism – Quraisy.

Dalam fenomena kekinian — di era global dan arus kebebasan informasi – tekanan paham-paham – atheis, sekuler, anarchism, permissivism – dalam bentuk neo-communism bergenetika tidak berakhlaq.  Militansi ummat mengamalkan ajaran Islam – di antaranya menampilkan akhlak Islami yang karimah – menjadi satu-satunya benteng terkuat melindungi harkat-martabat kemanusiaan.

Militansi Muhajirin — umat yang tidak cemas dan takut – berhadapan dengan penangkapan, pemenjaraan, pembunuhan, pengusiran, penculikan, pengucilan, intimidasi — dari pihak Jahiliyah Qureisy –, tidak takut menentang kemusyrikan maupun atheis – laa diniyah –, walau dalam masa yang panjang tidak boleh berhubungan dagang — embargo ekonomi — serta bermacam usaha makar yang diperlakukan terhadap Rasulullah SAW dan orang-orang Mukmin di masa itu. Firman Allah menyebutkan, artinya : Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakan kamu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya” (QS.8, al Anfal :30).

Tantangan Ummat Di Depan

Kebiasaan sikap Masyarakat Jahiliyah yang selalu menyembah berhala, hilangnya batas halal-haram, berkelakuan keji tercela — zina, sadis, miras, korupsi, kolusi, manipulasi, hedonis dan riba, dan segala bentuk p[enyakit masyarakat –, menjadi ancaman terhadap jiran, memutus silaturrahim dengan membahayakan ketenteraman tetangga, yang kuat menelan yang lemah. ( Lihat “Al Islam Ruhul Madaniyah”, berisi jawaban Sahabat Ja’far bin Abi Thalib kepada Kaisar Negus di Habsyi.)

Strukturisasi ruhaniyah Risalah Muhammad SAW, dikenal shiddiq (lurus, transparan), amanah (jujur), tabligh (dialogis), fathanah (ilmiah), memancangkan keyakinan bersih kepada kekuasaan Allah Yang Esa (tauhidiyah), percaya kepada hari berbangkit (akhirat), disiplin dalam beribadah (syari’at), memiliki optimisme yang tinggi terhadap luasnya bumi (rezki), hidup dalam kesaudaraan mendalam (mu-akhah), — sesungguhnya adalah bentuk-bentuk militansi yang dikiatkan dan di kaitkan kepada setiap pribadi mukmin –, siap sedia untuk berhijrah – tidak ada hijrah lagi sesudah futuh Makkah, dan yang sebenar hijrah itu adalah meninggalkan apa-apa yang dilarangkan oleh Allah – maka hijrah sedemikian semata-mata dikerjakan hanya mengharapkan balasan (pahala) dari Allah semata. Firman Allah menjelaskan artinya ; Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati dimuka bumi ini tempat berhijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ketempat yang dituju), maka sesungguhnya telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.4, an-Nisa’:100).

Hijrah telah menjadi ketetapan operatif yang berlangsung terus menerus dalam proses restrukturisasi masyarakat baru, — tegak dengan ikatan kepercayaan, dengan prinsip dasar yang lebih tinggi dari sekedar hubungan solidaritas kelompok ‘ashabiyah, nepotisme –.

Kemudian, tumbuh-kembang menjadi masyarakat majemuk pertama yang hidup diatas landasan keadilan berkemakmuran dengan kekayaan — iman, harta dan ilmu – menjadi  sumber kekuatan dalam membangun. Sejarah kemudian membuktikan betapa Shahabat Ali bin Abi Thalib pernah diadili atas aduan seorang Yahudi dengan dakwaan pemilikan seperangkat baju besi oleh seorang hakim Muslim dan akhirnya demi hukum dan keadilan Ali bin Abi Thalib bisa di kalahkan lantaran tidak dapat mengetangahkan bukti-bukti di pengadilan (mahkamah).

Nash (teks) Al Quran membuktikan pula bahwa masyarakat Madinah tumbuh berkeamanan yang tenteram serta dihuni tidak hanya oleh umat Mukmin — homogrenitas agama –, tapi juga oleh Yahudi-Nashara (Judeo-kristiani) dan bahkan kalangan Munafik (hipokrit).

Hijrah telah membentuk tatanan masyarakat yang terbuka untuk semua. Kesempatan berkembang mencari kehidupan berdasar hak asasi yang sama bagi semua anggota masyarakatnya — tidak ada kelompok yang bisa mencegah berbagai anggota masyarakatnya untuk maju –, menjadi salah satu keutamaan yang ditampilkan Islam membangun satu masyarakat yang kuat berdasarkan sikap saling mengasihi (ukhuwwah dan mahabbah) dan saling membantu (ta’awun). Peradaban Islami yang tinggi melahirkan suatu lingkungan yang sehat politik, ekonomi, kebudayaan dan materil, memungkinkan manusia mengarahkan dirinya untuk menyembah Allah dalam semua kegiatan — lihat QS.Tahrim,ayat 6 – tanpa rintangan dari institusi-institusi yang memerintah di masyarakat itu.

Simpulannya adalah masyarakat akan tetap dianggap terbelakang sepanjang ia gagal menciptakan satu lingkungan yang tepat untuk menyembah Allah sesuai dengan syari’at-Nya. Tidak dapat disangkal bahwa Islam dan Iman mampu membangkitkan motivasi kuat dengan  keyakinan diri yang unggul dengan militansi penghayatan dan pengamalan syari’at agamanya.
     

Hijrah mengajarkan umat untuk memiliki kebebasan terarah dan bertanggung jawab, baik secara moral maupun intelektual adalah menjadi satu catatan kaki dari sejarah hijrah yang tak boleh di abaikan.

Generasi umat Islam hari ini harus mampu mencapai visi baru dalam gelombang kesadaran Islam. Pengaruhnya akan tampak jelas dalam tatanan kehidupan duniawi.

Hanya kelompok Yahudi (zionis) yang tidak akan pernah diam. Mereka akan selalu berupaya sekuat daya agar manusia senantiasa mengikut millah (konsepsi dan cara-cara) mereka. Walan tardha ‘ankal yahauudu wa lan-nashara hatta tattabi’ millatahum (QS.2:120).
Wallahu a’lamu bis-shawaab

.

Padang, 11  Muharram 1434 H – 25 Nopember   2012 M.

 

 


[1] Hijrah berarti pindah kenegeri lain – emigrasi / eksodus – ( Lihat Al ‘Ashry, Kamus Kontemporer Arab Indonesia, Atabik Ali, Ahmad Zuhdi Mudhor, Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Cetakan Pertama, 1996, hal.1966. dan lihat juga Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al Munawwir Pustaka Progressif Surabaya 1997, hal. 1489.). Dalam sejarah Islam, hijrah Rasul adalah satu peristiwa Sirah Nabawi (sejarah Rasulullah SAW) bersama-sama Mukminin pindah dari Makkah ke Madinah pada satu setengah millenium yang lalu, dan kemudian menjadi awal penghitungan tahun baru Islam di zaman Sahabat Umar Ibnu Al-Khattab RA di saat menjabat Khalifah III sesudah wafatnya Rasulullah SAW.

 

Membangun Generasi Utama yang Unggul yang beriman dan berakhlak dan selalu siap memimpin umat dan bangsa

Membangun Generasi Utama yang Unggul

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

A.    Generasi Unggul

Generasi Muda adalah kelompok besar di tengah satu bangsa semestinya dibentuk menjadi Generasi Unggul (khaira Ummah) yang akan memikul amanah peran pelopor perubahan (agent of changes) berbekal keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT selalu melaksanakan misi amar makruf nahyun anil munkar.

Fitman Allah menyebutkan ; “  kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.Ali Imran : 110)

Generasi Unggul harus tumbuh  menjadi kelompok  muda yang penuh dengan keimanan kepada Allah dan Allah lengkapkan mereka lagi dengan hidayah. (QS.al Kahfi).

Generasi Unggul memiliki akal budi yang jernih, sehingga berkem,ampuan menghadapi berbagai tantangan global. Mereka memiliki  jati diri sesuai fitrah anugerah Allah, yakni Beriman serta selalu mengajak kepada kebaikan serta melarang dari kemungkaran.

Tantangan masa kini  antara lain infiltrasi dan penetrasi budaya sekular yang menjajah mentalitas manusia, seperti the globalization life style serta suburnya budaya lucah yang menonjolkan keindahan sebatas yang dilihat, didengar, dirasa, disentuh, sensual, erotik, seronok atau sikap hedonis, kadang-kadang ganas (anarkis), dengan kebiasaan menengggak miras, pergaulan bebas dan kecanduan madat dan narkoba. Hal sedemikian terjadi karena mengabaikan batasan-batasan perilaku luhur yang telah menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan dalam menata kehidupan bersama.

Pranata sosial Masyarakat Beragama yang Madani di Sumatera Barat, semestinya berpedoman kepada bimbingan wahyu Allah (Alquran) dalam menata adat perilaku bermasyarakatnya. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Peran amar ma’ruf nahi munkar menjadi wujud penciptaan tatanan masyarakat yang rukun, damai, aman sentosa penuh keharmonisan dan sopan santun penduduknya. Tidak dapat diabaikan dan mesti digerakkan dengan terarah dan terpadu, gerakan da’wah  akhlaqul Karimah  dengan tujuan untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

Hilangnya Akhlak , umumnya disebabkan   Agama tidak diamalkan, Ibadah lalai, nilai etika budaya terabaikan,  akibatnya masyarakat akan hancur.

Sabda Rasul Allâh SAW mengingatkan, Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri (‘ujub).” (HR. al-Tirmidziy).

 

B.    Upaya Membangun Generasi Unggul Berprestasi.

Dapat dilakukan melalui pendidikan berkarakter,

  1. Membudayakan Wahyu Al Quran,
  2. Memakaikan adat  budaya luhur yang berpedoman kepada syari’at Islam  dengan akhlaq  Qurani, sebagai aplikasi dari ABSSBK itu. 

Ada kiat untuk meraih keberhasilan, “Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju, dek ameh sagalo kameh, artinya perlu kesepakatan  dalam tujuan bersama pencapaian cita-cita bersama,  “hasanah fid dunya wa hasanah fil akhirah”

Amat diharapkan berkembangnya pendidikan menjadi pengawal pusat kebudayaan berkarakter (memiliki marwah).  Perilaku luhur akan bergeser ketika menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat.  Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, kegemaran membuang waktu (korupsi), aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Generasi Unggul  wajib lahir dengan budaya luhur (tamaddun) yang berpaksikan tauhidik. Artinya generasi yang memiliki daya inovasi dan daya kreasi yang tinggi, ditupang oleh tamaddun yang luhur. Cahaya akal mesti diletakkan di bawah naungan wahyu agar berpadu kepintaran dengan kebijaksanaan, pengetahuan dengan hidayah, sehingga rahmat dan barakah dapat diraih. Ihsan dan kasih sayang dapat dicapai.

Dengan ilmu yang berteraskan iman, para pemimpin dan aktivis Generasi Unggul (khaira ummah) akan dapat merumus fikrah harakiah untuk merancang gerak membangun kehidupan yang diredhai Allah Azza wa Jalala.

  1.  Islam tidak mengenal  ada “pengabdian kepada benda”. Pengabdian kepada benda apapun selain Allah adalah sikap munafik dan musyrik. Konsekwensnya seorang muslim dituntut semata-mata mengabdi (menyembah) hanya kepada Allah saja. (Lihat QS.24:56, 18:110, 1:5).
  2. Ajaran Islam adalah Monotheisme berarti setiap Muslim menolak pengamalan semua bentuk ideologi dan falsafah di luar konsepsi tauhid. Allah adalah al Ma’bud  artinya sesuatu yang disembah, secara maknawi adalah pengabdian hanya kepada Allah dan kepada Allah seorang hamba minta pertolongan  (lihat QS.1:5). Dalam tatanan masyarakat Sumatera Barat dengan ciri adat Minangkabau dirakitkan keyakinan tauhid itu kedalam filosofi hidup anak nagarinya dengan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.
  3. Konsepsi Tauhid Uluhiyah adalah konsepsi tertinggi dalam ajaran ke-Tuhanan. Tanpa konsistensi (istiqamah) secara gagasan maupun gerak akan dinyatakan sebagai  musyrik (Lihat QS.6:106, 41:6,7).
  4. Seluruh Rasul diutus dengan Misi Tauhid. Apabila syari’at telah menetapkan (syarak mengata),  mestinya adat memakai. Perpaduan Adat dan Syarak di Minangkabau masa dulu itu menjadi undang-undang nagari. Undang-undang tersebut dilaksanakan dengan sempurna. Kehidupan bermasyarakat terjamin aman dan tenteram.
  5. Apabila kedua sarana ini telah berperan sempurna, maka akan didapati dikelilingnya masyarakat yang hidup dengan memiliki akhlaq perangai yang terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) sesuai bimbingan syarak.  “Pariangan manjadi tampuak tangkai,  Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo luhak rang mangatokan. Adat jo syarak jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban.” 

C.     Generasi Unggul adalah Generasi Dinamik

Generasi yang dinamik tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti. Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,  Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo  basi. Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi, Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiakkan budi.”  Dinamika kehidupan hanya dapat dibangun dengan akal yang jernih serta budi pekerti yang luhur. Apabila generasi kini dibiarkan terlena dan lupa membenah diri dengan kekuatan ijtima’i (kebersamaan), tentulah mereka akan dijadikan jarum kelindan oleh orang lain di dalam satu pertarungan gazwul fikri.

Generasi Unggul wajib meningkatkan kualitas kepimpinan dengan kemahiran tanzim Islami. Teguh ubudiyyah dan zikrullah. Mahir merancang dan mengurus, seiring dengan melatih dan membimbing. Memelihara kesinambungan proses  pembelajaran bagi generasi yang terdidik dengan paksi Islam, mampu menilai teknologi informasi, mahir bergaul dan berkomunikasi, sebagai bekal di dalam menyelesai konflik, yang kesudahannya menarik minat dan dukungan umat banyak, serta mahir berpolitik, menguasai bahasa, falsafah dan sejarah.

Generasi muda di Sumatra Barat memiliki tanggung jawab masa lalu yakni kewajiban terhadap budaya luhur (cultural base). Mempunyai tanggung jawab masa kini yaitu kewajiban terhadap diri dan masyarakat dengan menata kehidupan berlandaskan norma-norma adat dan syarak (religious base). Memiliki kewajiban masa depan yang hanya dapat diraih dengan keberhasilan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge base). Ketiga asas (basis) tersebut tampak dalam kualitas kepribadian generasi unggul di Sumatera Barat dalam mendidik dan melatih kader pimpinan. Mengatasi kurenah dan perbedaan pendapat untuk memenangkan pertarungan menumpas kebatilan. Generasi Muda berprestasi terlihat pada iltizam harakah atau gerakan saciok bak ayam sa danciang bak basi. Mengedepankan manhaj haraki yakni lazim dipakai dengan program bulek aie dek pambuluah bulek kato kamupakaik. Mengamalkan budaya amal  jama’i  yaitu kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua, tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan. 

 

D.    Gerakan Masyarakat Bersama

Pendekatan social movement menangani isu perubahan global, mesti dilaksanakan dengan tanggungjawab bersama nan elok dipakai, nan buruak dibuang. Kepemimpinan adalah amanah dan tanggungjawab didalam Manyuruah babuek baik, malarang babuek jahek,Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo. Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado karuik nan tak salasai.  Satu gerakan masyarakat bersama untuk mengangkat umat mencapai kejayaan hidup sesuai syari’at Islam. Kreativiti dan inovasi selalu berkait rapat dengan berbagai gerakan dakwah mencakupi pengurusan sumber daya manusia, komunikasi, kinerja, sinerji dan sebagainya. Akhirnya, kreativitas didukung keikhlasan mencari redha Allah.

Generasi muda masa kini mesti memiliki ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas, dalam kata adat disebutkan, Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah, padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak buliah barubah”. Generasi masa datang mesti memiliki pemahaman luas dengan tasawwur (world view). Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi unggul (khaira ummah) itu selalu awas dan berhati-hati, Bakato sapatah dipikiri, Bajalan salangkah maliek suruik,  Mulik tadorong ameh timbangannyo, Kaki tataruang inai padahannya, Urang pandorong gadang kanai, Urang pandareh ilang aka.”

Dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan tata nilai dan pergaualan dunia, generasi Muda berkualtias khususnya di Sumatera Barat yang hidup dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mesti istiqamah (konsisten) selalu, sebagai fatwa adat menyebutkan, Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kajo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”. Para aktivis generasi unggulan perlu meningkatkan kreativitas. Sudah sampai masanya menampilkan wawasan dan perspektif Islam dalam berbagai bidang informasi, TV dan Radio Internet, adalah contoh mutakhir dalam usaha mengatasi halangan dalam menyampaikan informasi alternatif kepada masyarakat dengan lebih efektif dan bersifat global.

 

E.     Pembangunan Karakter Khayra Ummah

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan (affective component), hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur  yang tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan  menjadikan cerdas budaya serta memperhalus kecerdasan emosional  dengan dipertajam oleh kemampuan periksa  (evaluasi positif  dan negatif)  atau kecerdasan rasional intelektual  serta dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni bagi kebanyakan masyarakat Sumatera Barat atau Indonesia adalah hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) akan melahirkan tindakan terpuji dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas). Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan kewajiban mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian serta membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Pengenalan akidah Islam (tauhidiyah) di iringi oleh pengamalan ibadah (syari’at) akan mendorong setiap muslim memahami tentang arti kehidupannya.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. (Al-Baqarah, 257).

Berjalan menuju Allah (rihlah  ilaa Allah)  dicapai dengan al-qalb al-salim yakni  hati yang salim, tenteram dan sejahtera. Kebaikan hati awal langkah untuk mencapai kebaikan jiwa dan jasad,

ان فى الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله  واذا فسدت فسد الجسد كله, ألا وهي القلب

Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal mudhghah (benda darah), jika ia sehat  maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia fasad maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (Hadith riwayat Bukhari).

Kebaikan hati, titik tolak kehidupan dalam  Islam. Bersih hati adalah pintu menerima perintah Allah dengan sempurna. Generasi Unggul selalu membersihkan diri dari perangai kufur jahiliyyah dan munafik. Wajib mengikis habis sifat jahil, engkar, bohong, memfitnah, zalim, tamak dan membelakangkan dasar politik musyawarah (demokratik), sehingga hati tetap bersih.   Jiwa yang bersih menerima hidayah dengan  mengenali  yang baik untuk diamalkan dan mengenali perkara buruk untuk dijauhi.

Imam al-Ghazali menjelaskan maksud النفس  ialah  nafsu jauhari النفس الجوهري   yang bercahaya, brilliant dan dapat mengetahui serta memahami, yang menggerakkan atau memdorong kepada motivasi. Allah berfirman :  وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا —  فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا  Dan demi jiwa serta penyempurna-an ciptaanNya.  Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) jahat (untuk dijauhkan) dan (jalan) kebaikkan (untuk diamalkan).

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا.   وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا  Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. As-Syams, 7-10).

 

F.     Menanam Akhlaq melalui Pendidikan

Seorang dapat dikatakan “orang baik” apabila pergaulannya dan hubungan  dengan tetangga yang berada di lingkungannya baik. Jika sikap, tingkah laku dan prilakunya selalu meresahkan tetangganya, sehingga para tetangganya terganggu dan tidak nyaman, maka orang itu sangat dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT.  Rasulullah SAW menegaskan dalam hadits beliau, ….  لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارَهُ بِوَائِقَهُ  .. “Tidak dapat masuk sorga orang yang tetangganya tidak merasa  aman dari gangguannya”. (H.R. Muslim).

Bila wasiat-wasiat Rasulullah berkenaan dengan masalah tetangga ini terwujud dalam kehidupan bermasyarakat, niscaya komunitas masyarakat tersebut akan menjadi sebuah keluarga yang selalu komit dalam melaksanakan pesan-pesan ajaran Islam, yang saling tolong-menolong bahu membahu dalam kebaikan dan taqwa.

Kita memahami, Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah iqra (bacalah)  menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif  dan dari diam kepada  gerak  dengan sadar memahami informasi simbolik menimba ilmu, menggali pengetahuan dan potensi alam.  Berkembangnya budaya dan peradaban manusia di semua zaman selalu mengalami perubahan drastis. Tuntutan hidup dalam segala aspek makin tinggi.  Keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan, dan telah menjadi prasyarat imperatif  bagi perkembangan zaman dan inovasi peradaban.

PENDIDIKAN dan BELAJAR dapat mengantarkan manusia pada kemajuan berkualitas dengan iman dan taqwa, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, beradat dan berakhlak. Generasi kedepan mesti tumbuh dengan Iman yang kokoh.  Kemajuan materi dipacu oleh akhlak manusia yang menggenggam materi tersebut. Rapuhnya akhlak generasi akan merusak bangunan  kehidupan.

Sebuah pertanyaan, “ Mengapa Minangkabau di Masa Lampau  Mampu ‘Melahirkan’ Tokoh-tokoh Besar Nasional ?” .. Salah satu jawabannya adalah, “Akhlak mulia berperan mendorong lahirnya generasi berkemajuan dan bermartabat dengan minat  terarah  guna memelihara sumber kehidupan yang  terbimbing  menjadi insan-insan yang pandai  bersyukur.” Tantangan Pendidikan Generasi ke depan sangat berat. Hanya dapat diringankan dengan hubungan kekerabatan  yang harmonis  dan baik, dimulai dari rumah tangga, lingkungan sekolah, lingkungan kehidupan masyarakat, dapat menjadi modal utama mengawal pendidikan berkarakter di Sumatera Barat.

Ada perasaan malu, bila tidak membina hubungan dengan baik. Selalu terjaga kaidah, ” nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang”. Dengan demikian nilai-nilai ideal kehidupan itu akan terlihat pada ;

  1. adanya rasa memiliki bersama,
  2. kesadaran terhadap hak milik,
  3. kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku,
  4. kesediaan untuk pengabdian,
  5. terjaga  hubungan positif  akibat hubungan pernikahan,  hubungan semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan .

 

G.    Tanamkan Rasa Selalu diawasi oleh Allah.

Mukmin sejati dalam berbagai bidang kehidupannya selalu berkaitan dengan akidah, ibadah. Semua hubungan sosial, kekeluargaan, moral maupun yang berkaitan dengan sifat emosional, intelektual, profesional dan sifat-sifat jasadi (fisik), selalu disadari dan dirasakan bernilai aqidah dan penghayatannya didalam kehidupan menjadi satu yang difardhukan.  Akhlaq Qurani menjadi bukti mendarah dagingnya Islam didalam diri.

Sunnah telah memberikan perhatian mendalam kepada masalah nilai aqidah ini.

ذاق طعام الا يمان من رضي بالله ربا وبا لا سلا م دينا وبمحمد رسولا

Yang merasakan lazatnya iman adalah orang yang redha terhadap Allah sebagai Tuhannya, dan redha terhadap Islam sebagai agamanya dan redha terhadap Muhammad sebagai Rasul. (Hadith riwayat Muslim dan Tarmizi.)

Etika Profesional Generasi Unggul adalah selalu bertanggung jawab dalam setiap geraknya. Tanggung jawab tersebut mencakup ;

  1. Tanggungjawab Kepada Allah.
  2. Tanggungjawab Kepada Diri,
  3. Tanggungjawab Kepada Ilmu,
  4. Tanggungjawab Kepada Profesi,
  5. Tanggungjawab Kepada Masyarakat,
  6. Tanggungjawab Kepada Sejawat,
  7. Tanggungjawab Kepada Keluarga.  

Disebabkan hal sedemikian, maka menumbuhkan mahabbah (rasa cinta dan kasih sayang) dengan berpedoman kepada sabda Rasulullah SAW :

ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان  : من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما,   ومن احب عبدا لا يحبه الا الله,  ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه كما يكره ان يلقى فى النار

 Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat pada dirinya, maka dia akan merasakan lazatnya keimanan : Orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan orang yang benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilempar ke dalam  neraka. (Hadith riwayat Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa^i).

 

Seorang Mukmin wajib memiliki rasa takut, kasih dan sayang kepada Allah, yang dibuktikan dengan setia terhadap agamaNya.  Seorang muslim yang beriman mesti mempunyai perasaan yakin, percaya, harap, tawakkal dan pasrah kepada ketentuan Allah. Membiasakan  secara terus menerus zikrullah, yakni mengingati Allah dengan tauhid uluhiyah.  Tauhid menumbuhkan rasa takut kepada keagungan Allah karena meyakini sepenuhnya bahwa Allah mengawasinya. Tauhid itu melahirkan mahabbah atau rasa kasih serta rindu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi makin canggih, tidak dapat dibantah bahwa makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan dan  tidak mudah dapat diselesaikan.

 

Wassalam.

Padang, 22 Oktober 2012

 

 

Ibu Rasyidah Ibrahim Talang Maur, Luhak Limopuluah Koto, ibu pejuang tangguh yang berhasil membesarkan anak-anak untuk menjadi putra putri membangun Nagari dan Negara.

RASYIDAH TALANG MAUR
oleh:  MUHAMMAD BAYU VESKY
Padang, Singgalang.
Besok 17 Agustus, hari kemerdekaan. Di balik semua kesuksesan, selalu saja berdiri wanita yang tegar. Minangkabau dalam dadanya yang diam, menyimpan teramat banyak perempuan nan tangguh semacam itu. Mereka adalah ibu dari orang-orang hebat. Singgalang mencoba mencari beberapa ibu tangguh Minangkabau itu. Di antaranya: Menyusuri Jalan Tan Malaka, menuju Nagari Talang Maur Kecamatan Mungka (sekitar 20 Km dari Jantung Kota Payakumbuh), di saat bulan suci Ramadhan, sulit juga rupanya. Siang itu, jarum jam menunjukkan pukul 12.00 WIB, bedug berbuka masih lama. Jalanan juga basah, maklum dari pagi buta. Hujan turun tak henti-hentinya. Tepat sebelah kiri setelah memasuki pintu gerbang ‘Selamat Datang di Nagari Adat Talang Maur’, Singgalang mencoba melajukan kendaraan ke sebuah rumah gadang bernomor 45. Rumah itu milik keluarga besar Hj Rasyidah Ibrahim, dan almarhum suaminya Ibrahim, pasangan suami istri yang dikenal warga sekitar sebagai sosok guru dan ulama besar. Menaiki jenjang rumah gadang yang tampak bersih mengkilat, pintu rumah Rasyidahpun diketuk. Ternyata hening, tak ada jawaban dari dalam. Lama menunggu, akhirnya seulas senyum ditebar seorang ibu, ialah Rasyidah. Srikandi yang tengah ditunggu. “ Ooo…maaf ya, sudah lamakah menunggu? Masuklah dulu, ibuk baru pulang dari Pasar,” ucap Rasyidah, pada Singgalang, Sabtu (14/8) di kediamannya itu, Nagari Talang Maur, Kecamatan Mungka. Wanita yang tercatat sebagai guru sekaligus pencetus Sekolah Talang Maur (Sekarang SDN 01 Talang Maur) itu, nampak masih kuat. Bahkan matanya juga masih tajam untuk membaca tulisan di lembaran kertas dan buku. Ia mengaku,semuanya itu bisa bertahan akibat kebiasaan. “Membaca itu kan penting. Mata saya ini berpantang betul dengan buku dan bacaan. Kalau ada yang dibaca, pasti saya lahap saja,” ulasnya membuka cerita. Ditertawakan teman Kebiasaan Rasyidah membaca karena sejak kecil ia telah melakukannya. Sebelum menjadi guru di SD, dirinya sering diejek oleh teman sebaya lantaran ikut sekolah dengan kaum laki-laki. “Saat itu yang sekolah kan cuma laki-laki. Itupun bisa dihitung dengan jari,” kata wanita, yang berusia 77 tahun tepat, pada peringatan HUT RI Selasa (17/8) besok. Namun Rasyidah bukan patah arang. Malah dengan memberikan pencerahan dan pemahaman akan arti pendidikan, sedikit demi sedikit warga Talang Maur banyak yang paham. Makna pendidikan jadi andalan. Rasydah diharapkan bisa merubah paradigma itu oleh orang banyak. Khususnya masyarakat yang bernaung dilingkaran nagari sejuk Talang Maur. Nagari kaya, sejuta pesona pancaran alamnya. “Tahun 1945 silam tepat, saya jadi guru di Sekolah Dasar dan berusia 13 tahun. Waktu itu, saya juga menyandang status sebagai siswi KGC (Khursus Guru Cepat) di Mungka, sampai 1948 saya melanjutkan KGB (Khursus Guru B), di Dangung-Dangung dan terakhir KGA (Khursus Guru A) dan baru berijazah tahun 1954,” kenang Rasyidah membalik memorinya. Buah perjuangannya dengan sang suami Ibrahim, memberikan bukti. Tujuh orang putra-putri yang mereka sekolahkan dengan jerih payah, sudah berhasil dan bergelar sarjana pula. Bahkan lebih dari itu, anaknya benar-benar menjadi orang. “ Alhamdulillah, anak saya yang sulung, Herman Darnel Ibrahim, sekarang tercatat sebagai anggota Dewan Energi Nasional yang diketuai langsung bapak presiden,” katanya. Sementara itu, anak kedua wanita yang kini menjabat sebagai anggota komite Sekolah Talang Maur sekaligus Ketua Aisyah Mungka tersebut adalah Darnelita Efrizal. Kini bekerja di SDM PT Metko. Selanjutnya, Ulpermadi Ibrahim konsultan komputer dan programer Bank Nagari pusat. Sementara anaknya yang keempat, adalah Darvini Rahmida dokter yang kini bertugas di Puskesmas Keramat Jati. “Anak saya yang kelima, adalah Trisna Mulyani. Setelah berhasil mengambil Strata 2 (S2) nya di Australia, kini ia dosen UNJ Jakarta dan alhamdulillah, berencana juga melanjutkan Strata Tiga (S3). Sedangkan anak keenam, adalah Siti Haiyinah, pegawai BKD Payakumbuh dan terakhir si bungsu Rahmi Sukma, kini berstatus Manager PT Kogindo Jakarta,” terangnya. Meskipun anak-anaknya sudah berhasil dan tak asing bagi warga Luhak Nan Bungsu, namun Rasyidah tidak pernah membusung dada. Ia juga tidak henti-hentinya menunjuk-ajarkan anak-anak agar tidak sombong, angkuh dan lupa dengan agama. “Yang terpenting itu, jangan pernah lupakan agama Islam. tunduklah padaNnya. Ingat, tuntulah ilmu, dari buaian sampai liang lahat,” katanya. Jangan mau sogok-menyogok Tidak cuma itu saja, dalam urusan kongkalingkong ataupun sogok menyogok mempercepat selesainya masalah dan sebuah pekerjaan, Rasydah paling pantang. Hal itu dibuktikannya, setelah anak sulungnya Herman Darniel Ibrahim berniat diusung sejumlah pihak menjadi Calon Gubernur Sumatera Barat tahun 2010. Namun akibat harus adanya cost-costan politik, Rasyidah melarangnya. “Sogok-menyogok itu jangan. Tak perlu rebut jabatan. Saya kemarin bilang sama Herman (Herman Darniel Ibrahim), agar tak perlu ikut jadi calon gubernur kalau harus bayar membayar. Percuma saja jadi pemimpin kalau kita sudah mengeluarkan uang dahulunya. Nanti sama apa kita ganti uang itu,” pungkasnya sembari menawarkan Singgalang buka puasa bersama di rumahnya. (*)

Sifat Ibadurrahman yang Ketiga yaitu “Suka Shalat Malam”


وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Dan pada sebagian malam hari, (shalat) tahajjudlah sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhamu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”

(Q.S. Al Israa: 79)

Sifat Ibadurrahman yang ketiga: Shalat Malam

mabit-mina-3Pada malam hari Ibadurrahman berada dalam keadaan antara sujud dan berdiri, yang berarti mereka sedang mendirian shalat (Qiyamullail).

Allah SWT berfirman:

Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Q.S. Al Furqan: 64)

Mereka diberi sifat sujud, karena mereka meletakkan kening di atas tanah, menghadap Allah. Dan mereka juga berdiri, membaca Kalamullah.

Ibadurrahman melakukannya bukan mencari kehormatan di mata manusia, bukan untuk mencari ketenaran dan pujian, tapi mereka melakukannya karena mengharap ridha Allah dan rahmat-Nya serta karena takut akan azab-Nya.

Di dalam riwayat banyak sekali yang menceritakan tentang keadaan Rasulullah SAW dalam melewati waktu malamnya.

Salah satunya diriwayatkan bahwa suatu hari Ubaid bin Umair dan Atha’ bin Abu Rabbah mendatangi rumsh Sayyidah Aisyah r.a lalu mereka bertanya,

Beritahukanlah kepada kami sesutau yang paling menakjubkan yang engkau lihat pada diri Rasulullah SAW!” Setelah diam beberapa saat,

Aisyah menjawab, “Suatu malam beliau berkata kepadaku, ‘Hai Aisyah, biarkan aku malam ini beribadah kepada Rabbku.” Aku berkata, “Demi Allah, aku suka selalu dekat dengan engkau, namun aku juga suka apa yang membuat engkau senang.”

Maka beliau bangkit, bersuci, lalu berdiri untuk mengerjakan shalat. Beliau terus menerus menangis, lalu beliau duduk dan masih tetap menangis hingga janggut beliau basah oleh air mata. Lalu beliau berdiri dan terus menangis hingga tanah di dekat beliau basah. Kemudian Bilal datang mengumandangkan Azan Subuh.

Ketika melihat beliau menagis, Bilal menghampiri beliau seraya berkata,

Wahai Rasulullah, engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lampau dan dosa-dosamu yang akan datang.”

Beliau menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?”

Begitulah waktu malam yang dilalui oleh Rasulullah SAW, dan begitu juga yang dilakukan oleh para sahabat beliau.

Al Hasan bin Shaleh – salah salah seorang fuqaha salaf – pernah memberikan seorang  pembantu perempuan kepada sekumpulan orang.

Ketika memasuki sepertiga terakhir dari waktu malam, perempuan pembantu itu  bangun dan menyeru mereka, “shalat, shalat!”

Mereka bertanya-tanya, “Apakah sudah subuh? Apakah fajar sudah terbit?”

Perempuan pembantu itu balik bertanya,

Apakah kalian tidak shalat kecuali subuh saja?”

Mereka menjawab,

Memang, kami hanya biasa mengerjakan shalat fardhu.”

Maka perempuan pembantu itu menemui Al Hasan dan memohon kepadanya dengan berkata,

Tuan telah menyerahkan  aku kepada sekumpulan orang yang tidak mendapatkan bagian apapun dari waktu malam mereka. Demi Allah aku memohon agar tuan mengambil aku kembali.”

Barangsiapa yang tidak mau melakukan shalat malam, maka hendaklah ia mendirikan shalat fardhu tepat pada waktunya dan tidak mengulur-ulur shalat subuh sehingga matahari hampir terbit  pula karena kesukaan tidur atau lebih suka tidur daripada mengabdi kepada Tuhannya.

Yusuf Al Qardhawy mengatakan,

“Pola hidup manusia sudah banyak yang rusak. Dulu mereka suka tidur lebih cepat dan bengun lebih cepat pula. Ketika berbagai macam perangkat dan fasilitas modern, media massa, TV, film, Video ada di mana-mana, maka mereka belum tidur hingga tengah malam, dan mereka pun kesulitan bangun lebih dini.”

“Disebutkan dari Nabi SAW, bahwa ada seseorang yang tidur sepanjang malam hingga pagi hari. Maka beliau bersabda, “Itulah orang yang dikencingi syeithan di bagian telinganya.” (H.R. Bukhari & Muslim)

Rasulullah SAW bersabda:

“Syeithan membuat tiga simpul tali di bagian belakang kepala salah seorang di antara kalian, yang pada setiap simpul tali ia bubuhkan stempel, ‘Malam masih panjang, maka tidurlah lagi’, Jika ia bangun dan menyebut nama Allah, maka simpul itupun terburai.

Jika ia wudhu’, maka satu simpul lagi terburai,

Jika ia mendirikan shalat, maka seluruh simpul terburai, sehingga dia menjadi bersemangat dan tentram jiwanya. Jika tidak, maka tertekanlah jiwanya dan (timbullah) malas.”

(H.R. Bukhari)

Simpul tali syeithan itu senantiasa ada di kepala setiap orang.

Karena itu Rasulullah SAW bersabda;

“Lepaskanlah simpul tali syeithan itu meskipun dengan dua rakaat.” (H.R. Ibnu Khuzaimah)

Syaikh DR. Yusuf Al Qardhawy mengatakan,

“Shalat malam dapat dikerjakan seusai shalat Isya hingga waktu fajar.

Kita bisa memilih bagian dari bentangangan waktu itu.

Shalatlah menurut kesanggupan, bisa dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat, hingga dua belas rakaat, dan akhirilah dengan shalat witir, karena sesungguhnya akhir shalat malam itu dipersaksikan.

Tuntunan yang paling sederhana dari setiap muslim ialah melaksanakan shalat fardhu.

Tapi Allah mensifati Ibadurrahman, bahwa mereka adalah orang-orang yang sujud dan berdiri melaksanakan shalat di waktu malam (Qiyamullail), dan tidak mensifati mereka sebagai orang-orang yang hanya memelihara dan mendirikan shalat fardhu.

Memang memelihara shalat fardhu merupakan satu tingkatan, tapi itu bukan tingkatan Ibadurrahman. Artinya, Ibadurrahman memiliki tingkatan yang lebih tinggi lagi.”

Abdullah bin Sallam berkata,

“Ketika pertama kali Rasulullah SAW menginjakkan kaki di Madinah, maka orang-orang berkerumun mengelilingi beliau, dan aku termasuk mereka yang ikut berkerumun.

Setelah aku amati kuperhatikan wajah beliau, maka aku tahu bahwa wajah itu bukanlah wajah pendusta. Perkataan yang pertama kali aku dengar dari beliau adalah :

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalinlah hubungan persaudaraan dan shalatlah pada malam setelah manusia tidur, niscaya kalian akan masuk sorga dengan sejahtera.” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)

Allahi A’lam bi as Shawab

Wassalam,

Buya H. Masoed Abidin

Sifat Sifat Ibadurrahman,

“Rendah Hati”

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ;

“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang (Ibadurrahman) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (mengandung) keselamatan.

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.jpeg-image-236c397290-pixelstangga-al-haram

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami …Anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami, penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam sorga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan-ucapan selamat di dalamnya.”

Firman Allah ini ditemui di dalam Alquranul Karim, Q.S. Al Furqan, ayat  63-75.

Ibadurrahman adalah hamba-hamba yang dinisbatkan kepada Allah semata (Ar Rahman) yang mengandung pengertian, bahwa mereka adalah hamba-hamba yang layak mendapatkan rahmat Allah dan mereka selalu berada dalam lingkup rahmat-Nya.

Mereka adalah orang-orang yang menyadari kekuasaan Allah dan memenuhi hak-hak-Nya, yang memurnikan agama karena Allah dan Allah memurnikan agama-Nya bagi mereka.

Dinisbatkannya mereka kepada Allah Yang Maha Rahman – sebagaimana yang dinyatakan langsung oleh Allah – oleh karena disana juga ada golongan-golongan hamba yang lain, seperti hamba syeitan, hamba taghut, hamba syahwat, hamba uang, hamba khamar, hamba narkoba, hamba birahi, hamba harta, hamba tahta, hamba wanita. Ibadurrahman mempunyai sifat dan tanda-tanda sebagaiman yang disebutkan Allah di dalam ayat-ayat di atas.

Sifat-sifat tersebut adalah:

1. Tawadhu’ dan rendah hati

2. Murah hati

3. Mendirikan shalat malam (Qiyamullail)

4. Takut neraka

5. Sederhana dalam membelanjakan harta

6. Tauhid

7. Menjauhi tindak pembunuhan dan menghormati kehidupan

8. Menjauhi zina

9. Taubat Nasuha

10. Tidak bersumpah palsu dan meninggalkan pekerjaan yang tidak bermanfaat

11. Menyelami ayat-ayat Allah

12. Memohon kebaikan bagi istri dan keluarganya.

Sifat Ibadurrahman yang pertama adalah  Tawadhu’, sebagaimana diungkap  oleh Al Qur’an bahwa mereka berjalan di muka bumi dalam keadaan rendah hati dan penuh tawadhu’.

Ibadurrahman bila berjalan di muka bumi dalam keadaan rendah hati, tawadhu’ dan lemah lembut, berjalan dengan penuh kewibawaan dan kehormatan, tidak dengan sikap sombong dan semaunya sendiri, tidak merasa lebih tinggi dari siapapun, tidak menyeramkan dan tidak congkak.

Syaikh Yusuf Al Qardhawy mengatakan maksud berjalan dengan rendah hati bukan berarti berjalan dengan cara membungku-bungkuk seperti orang sakit, sebab Rasulullah SAW tidak berbuat seperti itu, begitu pula para sahabat.

Sebagaimana yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib r.a, dari Nabi SAW, bahwa saat berjalan badan beliau bergerak-gerak seperti sedang meniti jalan menurun. Ini merupakan jalannya orang-orang yang penuh semangatdan pemberani, seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim di dalam Zadul Ma’ad .

Abu Hurairah juga pernah berkata, “Aku tidak melihat sesuatu pun yang lebih bagus dari pada Rasulullah SAW. Seolah-oleh matahari berjalan di muka beliau. Aku juga tidak melihat seseorang yang lebih jalannya daripada beliau, seakan-akan bumi menjadi turun di hadapan beliau. Kami sudah berusaha menyeimbangi beliau, tapi beliau seperti tidak peduli.”

Rasulullah tidak berjalan seperti orang sakit atau lamban.

Maksud dari kata-kata cepat di sini bukan berarti cara berjalan yang menghilangkan kewibawaan, yang berjalan terlalu cepat.

Artinya sedang-sedang saja, tidak terlalu cepat tidak terlalu lambat, sesuai dengan perawakan, umur dan kemampuan.

Rasulullah SAW juga para sahabat beliau telah menyontohkan kepada kita sikap tawadhu’ yang pada dasrnya adalah salah satu landasan sikap dan akhlak mereka.

Marilah kita simak kata-kata hikmah berikut ini yang terdapat dalam kitab Muzakarah fi manazili as Shiddiqin wa ar Rabbaniyyin; min khilali an Nushus wa Hikam Ibnu ‘Athaillah Sakandary, karya Syaikh Sa’id Hawwa:

“Barangsiapa yang beranggapan bahwa dirinya tawadhu’ pada hakikatnya dia orang-orang yang sombong, sebab anggapan tawadhu’ seperti ini tidak timbul kecuali lantaran rasa tinggi diri/tinggi hati.

Karena itu, jika engkau beranggapan bahwa dirimu telah tawadhu’ sebenarnya engkau adalah orang yang takabur (sombong).”

Allahu A’lam Bi As Shawab

Ciloteh Lapau antara Dilaektika dan Dinamika Minangkabau

CILOTEH LAPAU ANTARA DIALEKTIKA DAN DINAMIKA MINANGKABAU

Oleh : H.Mas’oed Abidin

WILAYAH MINANGKABAU

Masyarakat Minangkabau adalah salah satu suku bangsa di antara puluhan suku bangsa yang membentuk bangsa Indonesia. Masyarakat Minangkabau hidup di sekitar wilayah Sumatera Bagian Tengah, atau yang dalam Tambo Minangkabau disebutkan wilayah Minangkabau itu meliputi kawasan, “… dari Sikilang Aia Bangih sampai ka Taratak Aia Itam. Dari Sipisok-pisok pisau anyuik sampai ka Sialang Balantak basi. Dari Riak nan Badabua sampai ke Durian ditakiak (ditakuak)past-photo-masoed-abidin Rajo”, (artinya, dari Sikilang Air Bangis sampai ke Taratak Air Hitam, dari Sipisok-pisok Pisau Hanyut sampai ke Sialang Belantak Besi, dari Riak yang berdebur sampai ke Durian Ditekuk Raja).

Orang Minangkabau menamakan tumpah darahnya dengan Alam Minangkabau, yang secara geografis wilayahnya berpusat di selingkar Gunung Merapi, di Sumatera Barat. Wilayah itu meluas menjadi Luhak dan Rantau. Wilayah Luhak terletak di nagari-nagari yang berada di sekitar Gunung Merapi, sedangkan wilayah Rantau berada di luarnya, yaitu di sekitar wilayah pantai bagian Barat dan Timur Minangkabau.

Dalam Tambo dikisahkan bahwa Alam Minangkabau mempunyai tiga buah Luhak yang disebut dengan Luhak Nan Tigo (Luhak yang Tiga). Terbagi kepada Luhak Tanah Datar, Luhak Agam dan Luhak Lima Puluh Kota. Dari Luhak tersebut, kemudian berkembang menjadi Luhak Kubang Tigobaleh, yang terletak di sekitar Gunung Talang, Kabupaten Solok sekarang.

Wilayah Rantau terletak di luar Luhak-luhak tadi. Semula rantau adalah tempat mencarikan hidup para penduduk, terutama dalam bidang perdagangan. Wilayah rantau, berubah menjadi tempat menetap turun temurun dari para perantau Minangkabau. Terjadilah pembauran dan pemesraan (asimilasi) antara nan datang mencengkam hinggap bersitumpu. Kemudian berkembang menjadi bagian dari pusat pemerintahan di Minangkabau dulu, yakni Kerajaan Pagaruyuang, yang mempunyai Basa Ampek Balai, berninik bermamak, berdatuk dan berpenghulu. Berlakukah pula di wilayah rantau itu, adat istiadat Minangkabau.

ISTILAH MINANGKABAU

Minangkabau lebih dikenal sebagai satu bentuk pusat kebudayaan dengan masyarakatnya yang berstatus matrilineal – atau keturunan menurut garis keibuan. Hubungan kekerabatan ini, adalah perpaduan dan pemesraan antara istiadat (urf) dan syariat agama Islam.

Garis matrilineal yang dianut adalah, bahwa anak yang dilahirkan bernasab kepada ayahnya, bersuku kepada ibunya, dan bersako terhadap mamaknya.

 Hubungan kekerabatan seperti ini, mungkin tidak ada duanya di Indonesia. Sistem kekerabatan Minangkabau satu hal yang nyata, dan masih berlaku, walau perubahan terjadi di masa global ini. Kekuatan yang mengikat sistim kekerabatan Minangkabau, terlihat dari berbagai arah dan sudut pandang. Berpengaruh pada semua sisi kehidupan masyarakat Minangkabau.

Kekuatan kekerabatan itu misalnya, berpengaruh kuat pada aspek jiwa dagang masyarakatnya, mobilitas penduduknya, dengan kesukaan merantau ke negeri lain untuk mencari ilmu, mencari rezeki.

Sistim kekerabatan sedemikian itu pula, yang telah mendorong lajunya mobilitas horizontal dalam bentuk imigrasi, dan mobilitas vertical yang menuju kepada peningkatan kualitas.

JALINAN BAHASA DAN KEPERCAYAAN DI MINANGKABAU

Dari sisi kebudayaan dan berbagai hubungan perilaku, terbentuk hubungan jalin berkelindan antara Bahasa dan Kepercayaan orang Minangkabau. Pembauran dengan makna asimilasi adalah pemesraan antara dua unsur atau lebih dalam suatu wadah tertentu. Unsur yang satu menjadi bagian dari unsur yang lain, saling isi mengisi timbal balik. Salah satu bentuk pemesraan itu adalah bahasa dan kepercayaan dalam wadah kesusasteraan di Minangkabau. Penjiwaan dari kehidupan keseharian masyarakat Minangkabau, terasa ada pemesraan antara Bahasa dan Kepercayaan rakyat di Minangkabau. Perasaan itu terbawa kemana saja. Ada di ranah, dan terpakai di rantau. Di mana bumi dipijak di sana adat dipakai. Kaidah hidup ini adalah satu keniscayaan yang lahir dari keyakinan dari generasi berbudaya Minangkabau, di mana saja. Kata “percaya” berarti pendapat, itikad, kepastian dan keyakinan. Kepercayaan diartikan sebagai kebenaran yang diperoleh pikiran. Keyakinan adalah suatu kebenaran yang diperoleh jiwa, dikuatkan oleh pikiran. Kebenaran agama adalah keyakinan. Selanjutnya, kebenaran ilmu pengetahuan, filsafat dan intelektual adalah kepercayaan. Masalah kepercayaan adalah masalah manusia yang banyak berkaitan dengan kehidupannya. Sejarah kehidupan awal dari masyarakat manusia memberi pengetahuan kepada kita bahwa tiada suatu bangsapun yang hidup atau kelompok manusia yang tinggal pada suatu tempat yang tidak mengenal kepercayaan sebagai satu naluriah hidup yang vital. Kepercayaan timbul bersama dorongan-dorongan lain sebagai perlengkapan hidup manusia umumnya, seperti dorongan rohaniah manusia, yang selalu mengajar mereka untuk berbuat dan menyelesaikannya. Dorongan-dorongan dari dalam jiwa itu berkembang tiada hentinya (dinamis) pada setiap masalah demi masalah yang tidak akan henti-hentinya dalam hidup manusia. Naluri juga diartikan dengan dorongan hati atau keinginan yang berasal dari pembawaan yang menggerakkan untuk berbuat sesuatu. Naluri itu dapat pula disebut instink atau fitrah. Dorongan hati manusia dibedakan antara yang bersifat perasaan biologis dan yang bersifat perasaan rohaniah. Dengan demikian, berkepercayaan adalah salah satu dari perasaan rohaniah yang dapat juga disebut “perasaan keagamaan”. Maka dorongan-dorongan atau perasaan-perasaan yang bersifat biologis seperti dorongan untuk makan, mempertahankan diri, dan melangsungkan keturunan adalah keperluan jasmani. Selanjutnya kepercayaan adalah naluri atau dorongan hati secara fitrah lebih mutlak daripada yang lainnya. Agama adalah tuntunan dan tuntutan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan dan ketakutan. Dalam agama ada suatu ikatan antara manusia dengan kekuatan gaib. Agama dimaknai dengan aturan yang mengikat manusia atau ad-din atau syari’at (syarak). Kata religious dalam bahasa Latin berarti “mengikat”. Perilaku manusia terikat dengan pengabdian kepada kekuatan besar yang maha dahsyat atau kekuatan ghaib, baik dalam bentuk kultus maupun dalam sikap hidup keagamaan. Sumber utama kepercayaan atau rasa keagamaan ini adalah fitrah manusia yang merupakan anugerah Ilahi, dan melengkapi batin manusia melakukan kegiatan hidup sebagai makhluk yang lemah. Betapapun bersahajanya manusia ternyata kepercayaan membentuk tuntutan naluriahnya. Kepercayaan adalah salah satu dari kekuatan yang mengendalikan perasaan manusia. Kepercayaan menuntut adanya bentuk perbuatan nyata (amal) pada semua tindakan manusia. Pada tingkat ini dapat dirasa hubungan agama dengan kesadaran manusia ada keterikatan erat dengan tenaga di luar diri manusia itu, yang membuat alam nyata manusia, atau syarak mangato adaik mamakaikan. Fungsi naluri dari kepercayaan manusia kepada tenaga gaib itu membentuk keharusan menyatakan diri menjadi pengabdi dengan rasa rohaniah lahir dalam bentuk penghayatan pada berbagai tindakan dan ucapan. Tidak ada suatu macam agama yang tidak dimulai dengan kepercayaan. Di dalam agama Islam, dasar keagamaan disimpulkan atas enam pokok yang disebut dengan Rukun Iman, yaitu mempecayai adanya Allah, Malaikat, Kitab Suci, Pesuruh Tuhan, Hari Kemudian, dan mempercayai adanya kadar Tuhan atas yang baik atau yang buruk. Mengikuti pola rasa rohaniah manusia, maka berkepercayaan atau beragama adalah keperluan manusia yang harus dipenuhi, disamping keperluan pokok lainnya yang bersifat naluri. Kepercayaan bermula dalam tingkat penerimaan dari ilmu pengetahuan. Keyakinan berada pada taraf intensitas dari kepercayaan. Keyakinan selanjutnya meminta keharusan untuk melakukan aktivitas, sedangkan pada kepercayaan belum mempunyai keharusan untuk itu. Kepercayaan (syarak) itulah yang berasimilasi dengan bahasa dalam kesusasteraan Minangkabau.

ASIMILASI ANTARA TUTUR BAHASA DAN KEPERCAYAAN

Pemesraan antara bahasa dan kepercayaan, telah memperkaya Kesusasteraan Minangkabau, terutama kesusasteraan lama atau khazanah kesusasteraan lisannya.

Kesusasteraan Minangkabau sesungguhnya mempunyai pengertian yang dalam, yaitu “hasil bahasa Minangkabau yang indah”. Titik berat kesusasteraan Minangkabau bersifat lisan, terungkap dalam puisi dan prosa berirama. Tidak sedikit khazanah kesusateraan Minangkabau telah ditulis dalam tulisan-tulisan lama memakai huruf arab melayu.

Pemakaian huruf hijaiyah tersebut dalam mengungkapkan kosa kata melayu, adalah bagian dari pemesraan antara bahasa dan kepercayaan masyarakat Minangkabau yang beragama Islam.

Kesusasteraan tidak hanya sekadar hasil seni bahasa belaka. Kesusateraan adalah juga hasil pemikiran, hasil pengalaman, hasil merasa, bahkan hasil dari kehidupan seseorang atau masyarakat dan lingkungannya.

Kesusateraan adalah pula hasil bertutur kata, berciloteh dengan sadar, bukan dengan mimpi. Hasil sastera dapat disimak dalam kehidupan masyarakat pada suatu waktu, menjadi kebudayaan satu suku bangsa atau suatu bangsa.

Salah satu aspek yang amat berpengaruh membentuk kehidupan masyarakat adalah hubungannya dengan sesama, dan hubungannya dengan Penciptanya. Hubungan-hubungan itu tampak nyata di dalam bentuk kesusasteraan.

Kesusasteraan Minangkabau juga memberi jawaban pengaruh hubungan itu. Seperti tersua dalam ungkapan, “Kanan jalan ka Kurai, sasimpang jalan ka Ampek Angkek. Kok iyo pangulu ganti lantai, kok bapijak jan manjongkek. Adaik taluak timbunan kapa, Adaik lurah timbunan aie. Kok bukik timbunan angin, biaso gunuang timbunan kabuik. Adaik pamimpin tahan upek.”

Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, selalu diperhatikan antara dua kekuatan, yang satu secara lahiriah sikap dalam diri insan bernyawa, dan yang kedua adalah kekuatan keyakinan theis (agama) yang mengatur nyawa itu.

Kesusasteraan lahir dan dibentuk oleh dua unsur, yakni unsur nyawa yang memiliki rasa dan periksa, dan unsur agama yang membimbing rasa dan periksa itu.

Budaya kehidupan yang dibimbing oleh keyakinan agama, melahirkan sikap malu. Budaya malu, membentuk masyarakatnya hidup dengan kehati-hatian, serta ingat dan hemat dalam bertindak. Selanjutnya sikap-sikap budaya seperti ini menumbuhkan dinamika dalam kehidupan. Tampak jelas dalam cara bertutur, berciloteh sampai ke lapau-lapau ataupun di surau-surau.

JIWA BAHASA DI MINANGKABAU

Keindahan akan tercipta, ketika hasrat timbul untuk mengembalikan keindahan yang abadi dengan ajaran agama dan keagungan nama Ilahi, ke dalam bentuk-bentuk karya sastera. Asimilasi antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan Minangkabau terasa kental sekali.

Mempersoalkan hubungan yang mesra antara bahasa sastera dan kepercayaan kepada kekuasaan Allah Subhanu wa Ta’ala, menjadikan karya sastera itu indah abadi.

Menggali mutiara milik bangsa yang kaya dengan pemesraan antara agama dan adat istiadat etnik, yang akan memperkuat ke tunggal-ikaan dari puncak-puncak kebudayaan bangsa Indonesia.

Mutiara terpendam yang dapat diselami adalah bahwa kesusasteraan yang hakiki membentuk keperibadian satu bangsa, amat terkait dengan keyakinan pencipta sastera dan pendukungnya, yang keduanya mengabdi kepada Ilahi.

Kesusasteraan Minangkabau adalah pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam satu ungkapan, adaik basandi syarak, menjadi kekuatan besar untuk meraih keberhasilan di setiap masa.

Pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan sudah tercipta. Kepercayaan adalah fungsi jiwa manusia, dan kemajuan ilmu pengetahuan, telah membawa perubahan-perubahan terhadap jiwa manusia yang kompleks, namun satu keniscayaan belaka bahwa konsepsi kehidupan manusia tergantung pada alat-alat yang ada pada manusia itu sendiri.

Pada masyarakat Minangkabau, fungsi jiwa dibangun oleh kepercayaan kepada Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Esa itu tampak nyata dalam setiap aspek kehidupan kebudayaannya dan riak kehidupan sasteranya. Terutama dalam sastera bertutur dan berciloteh.

Sifat umum masyarakat tradisional Minangkabau di masa ini masih terasa, dan sukar untuk melepaskan kepercayaan dalam kehidupan tradisi mereka.

Pada dasarnya manusia itu bersifat konservatif. Sukar melepaskan perhiasan hidup lama, ingin menyimpan pusaka lama. Di antara pusaka lama itu, banyak di antara kita yang ingin memeliharanya dalam keasliannya”.

Pengukuhan adat bersendi syariat menjadi sangat penting. Jika hal ini dapat tetap ujud dan terpelihara baik, akan banyak manfaatnya menyalurkan nilai-nilai yang berharga dari satu budaya daerah, hasil masa lampau ke dalam kebudayaan Indonesia modern.

Menggali khazanah kebudayaan lama Minangkabau, yang banyak tersimpan di dalam bahasa lisan, serta dan menaikkannya ke atas permukaan kehidupan, menjadi bahasa tulisan, niscaya akan memberi sumbangan besar di dalam memupuk kebudayaan nasional, sesuai dengan keperibadian bangsa Indonesia.

Untuk melakukan kompilasi dari nilai-nilai pusaka Minangkabau yang menjadi mutiara kehidupan berbudaya dengan adat bersendi syari’at, perlu dilakukan observasi yang dipertajam untuk menapak Minangkabau yang kuat di masa depan. Menuntut keharusan pula adanya penelitian historis, terutama diarahkan kepada penyelidikan bentuk-bentuk sastera lisan yang banyak terdapat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, seperti pidato-pidato adat yang masih dihayati dalam kehidupan nyata, serta sopan santun dan kearifan dalam berciloteh baik di lapau atau di surau.

Memang amat sukar untuk menentukan berapa jumlah pendukung kesusasteraan lisan Minangkabau itu. Berapa banyak yang masih tersisa di dalam khazanah golongan terkemuka dalam adat atau penghulu (ninik mamak). Serta berapa banyak yang sudah diidentifikasi kembali oleh golongan cerdik pandai, suluah bendang di nagari, atau mereka yang dapat dianggap mengetahui bentuk-bentuk kesusasteraan lisan itu.

Berlakunya adaik istiadat nan salingka nagari, telah memberi warna perlakuan pribadi dan masyarakatnya, di dalam berinteraksi sesama. Adat istiadat yang menjadi kebiasaan pada setiap nagari dan luhak, menjadi kekayaan amat berharga, terutama di nagari-nagari yang masih menjaga nilai-nilai utama yang luhur. Termasuk di dalam berciloteh bersama di lapau dan di mana saja.

PERILAKU BERBUDAYA DAN BERAKHLAK DALAM PENGGUNAAN BAHASA

Perilaku berbudaya dan berakhlak masih dihayati dalam keseharian mereka, disebabkan tetap berlakunya ketentuan syariat agama Islam dengan kuat. Dan terjaganya dengan baik fungsi-fungsi urang ampek jinih dalam lingkungan kekerabatan di nagari-nagari.

Faktor penghayatan lahiriah dalam melaksanakan adat bersendi syariat, akan lebih banyak berbicara daripada konsep-konsep yang bersifat teoritis. Kearah ini kompilasi harus mengarah.

Kehidupan bermasyarakat di Sumatera Barat sudah lama direkat oleh kentalnya hubungan kebersamaan (ta’awun) di dalam tataran budaya berat sepikul ringan sejinjing sebagai perwujudan nyata nilai-nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Tataran budaya sedemikian telah terbukti dalam masa sangat panjang mampu memberikan dorongan-dorongan beralasan (motivasi) bagi semua gerak perubahan (reformasi) dari satu generasi ke generasi berikut di Ranah Bundo ini.

Bahkan telah pula terbukti menjadi modal sangat besar untuk meraih kemajuan di berbagai bidang pembangunan di daerah dan nagari, di dusun dan taratak. Serta memberikan sumbangan yang tidak kecil dalam mewujudkan persatuan bangsa dan kesatuan wilayah di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.

Adat Minangkabau yang disebut sebagai adat lama pusaka usang, artinya adatnya bukan baru dibuat atau baru disusun, tapi adat itu memang sudah lama dengan sifatnya yang luhur. Kemudian pusakanya yang usang berarti suatu peninggalan lama dari nenek moyang yang diwariskan kepada yang hidup sekarang.

Dari pelajaran adat dikatakan bahwa nenek moyang orang Minang membagi adat itu atas empat kategori, yakni : Adat nan sabananyo adat (Adat yang sebenarnya adat), Adat nan diadatkan (Adat yang diadatkan), Adat nan taradat (Adat yang teradat) dan Adat Istiadat.

Dari empat bagian adat tersebut ada adat yang berbuhul mati dan ada adat yang berbuhul sentak. Berbuhul mati artinya tidak dapat dibuka atau dicabut, sedangkan yang berbuhul sentak artinya dapat dibuka atau dicabut.

Adat yang berbuhul mati adalah adat yang sebenarnya adat yang tak akan berubah disebut tak lekang oleh panas, tak lapuk karena hujan, karena dia adalah undang-undang alam (natuurwet), natural law dan sunnatullah. Keyakinan bahwa Yang Maha Kuasa menciptakan alam raya dengan aturan nyata. Tak pernah berubah selamanya. Contoh nyata adat api menghanguskan, adat air membasahi. Tak pernah pula di antara keduanya yang bertukar peran atau bertimbang.

Adat nan Diadatkan yakni adat yang digariskan oleh nenek moyang orang Minang, seperti tokoh legendaris Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih nan Sabatang misalnya aturan-aturan yang dibuat orang dahulu dalam sistem kekerabatan menurut garis ibu (matrilineal). Pusaka turun ke kemenakan (maksudnya pusaka tinggi-sako dan pusako). Aturan nikah kawin (eksogami dan matrilokal), yang dalam fatwa adat disebut “sigai mencari enau. Enau tetap, sigai beranjak. Tepatan tinggal, bawaan kembali, suarang babagi, sekutu dibalah, kerbau tegak kubangan tinggal. Nikah dengan si perempuan, kawin dengan ninik mamak, sumando pada korong kampung”.

Adat nan teradat adalah hasil mufakat di dalam kaum, suku atau nagari tentang sesuatu masalah. Misalnya mufakat turun ke sawah, upacara nikah kawin dan lompat pagar (antar nagari), cara atau tata tertib penobatan Penghulu (Datuk), aturan sangsako, dan sebagainya.

Sedangkan yang dikatakan Adat istiadat adalah kebiasaaan yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Misalnya adat istiadat masuk puasa Ramadhan, Idul Fitri, kunjung berkunjung di hari baik bulan baik, jalang menjalang ketika ada musibah, baralek (pesta), membangun rumah gadang, menghela tonggak (tiang rumah gadang) dan sebagainya.

Pada dasarnya dalam empat kategori adat itu hanya Adat nan sabana adat yang tak akan berubah sedangkan yang lainnya dapat berubah dengan kata mufakat.

Hanya saja pada kategori Adat nan Diadatkan meski boleh berubah, namun Adat nan Diadatkan harus dilestarikan, dipelihara dan dilindungi agar tetap seperti sedia kala seperti adat Islami (adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Syarak mangato, adat mamakai, disebut juga adat sebatang panjang).

Sedangkan adat nan teradat dan adat istiadat lebih bersifat adat nan salingka nagari (selingkar nagari).

Terlihatlah di sini kearifan nenek moyang orang Minang bahwa dalam menghadapi putaran zaman yang akan berubah di masa datang maka adat Minang bersifat terbuka.

Berubahlah apa yang mestinya berubah, tapi ada yang tak akan berubah yakni Adat nan sabana adat yang sunnatullah, wet alam yakni yang datang dari Yang Maha Kuasa.

Dalam adagium adat disebutkan : “sakali aie gadang, sakali tapian baraliah” (sekali air bah datang, sekali pula tepian berubah). Yang berubah itu adalah lokasi tepian yang tadinya berlokasi di sebelah atas, kini beralih ke sebelah bawah. Namun yang tepian tidak berubah, sementara nilai dukung boleh berubah dengan kesepakatan bersama melalui musyawarah.

Tutur kata dalam budaya di Minangkabau menjadi bagian tak terelakkan di dalam mempertahankan budaya lama sekaligus juga menggali dan menampilkan ajaran tradisional yang relevan dengan tuntutan zaman yang sedang berubah.

Ungkapan tradisional itu dapat berarti pepatah, kato pusako, mamang, pituah, andai-andai, dan lain-lain.

Ungkapan tradisional tersebut ada yang berbentuk pantun, seloka, gurindam, dan sebagainya yang kadangkala dengan kalimat metafora sebagai bandingan atau kebalikannya. Semuanya bernilai nasehat, hukum, arahan dan ketentuan-ketentuan (norma).

Tapi ungkapan semata ada juga yang tidak bermuatan pepatah, pituah, dan lain-lain. Hanya kata melereng (kiasan) semata.

Ungkapan-ungkapan tradisional di Minangkabau ribuan banyaknya, berisi kearifan yang disindirkan, mencakup budi pekerti, seperti “Nan kuriak iyolah kundi. Nan sirah iyolah sago, Nan baiak iyolah budi, Nan indah iyolah bahaso”. Dalam ungkapan bahasa Indonesia berarti “yang kurik ialah kundi, yang merah ialah saga, yang baik ialah budi, yang indah ialah bahasa”.

Para tetua leluhur orang Minangkabau telah mengambil contoh pada buah kundi dan buah saga yang warnanya kurik (rintik) dan merah yang sifatnya tetap tidak berubah dalam warna merahnya dan kurik rintiknya.

Ungkapan tradisional ini mengiaskan bahwa budi baik dan keindahan bahasa tidak boleh tanggal dari diri pribadi anak turunan Minangkabau di manapun kita berada.

Sikap mulia akan menjadi buah tutur orang di mana saja. Talangkang karando kaco / Badarai carano kendi / Itu nan urang canggangkan./ Bacanggang karano baso / Bacarai karano budi / Itu nan urang pantangkan. Bila di turunkan di dalam bahasa nasional Telengkang keranda kaca, berderai cerana kendi, itu yang orang canggangkan, bercenggang karena bahasa, bercerai karena budi, itu yang orang pantangkan.

Fatwa adat ini menasehatkan pandai-pandai menggunakan bahasa. Karena ucapan berbahasa yang mungkin dinilai kasar atau tak sepantasnya dapat berakibat persahabatan jadi bercanggang atau berjarak. Begitu pula halnya budi atau kelakuan (perangai) yang tak senonoh dan tidak pantas, dapat berakibat persahabatan atau hubungan pergaulan akan rusak dan bahkan perceraian satu sama lain.

Mengikat sebuah dinamika di dalam pergaulan tidak semata ada pada alur tutur kata. Juga pada tindak laku perbuatan. Di antaranya tepat janji. Tentang janji disebutkan dalam tutur ungkapan yang amat berarti, bahwa “indak nan taguah dari janji, indak nan kokoh dari buek” (tidak yang teguh selain janji, tiada yang kokoh selain dari buatan).

Selalu dalam ciloteh seharian dinasehatkan supaya teguh memegang janji, kokoh tak tergoyahkan terhadap apa yang sudah dibuat dan disepakati.

Di dalam ungkapan seharian disebutkan ; Nak luruih rantangkan tali Nak mulia tapati janji Nak kuek paham dikunci Nak tinggi paelok budi Nak kayo kuek mancari, dan sebagainya (Supaya lurus rentangkan tali Supaya mulia tepati janji Supaya kuat paham dikunci Supaya tinggi perbaiki budi Supaya kaya kuatlah berusaha/ mencari)

Di sebalik itu dituntut dialektika Arif dan Bijak seperti ; Diagak mako diagiah (buatlah perkiraan, baru dibagi) Diukua mako dikabuang (memotong sesuatu atau mengerat, membagi, hendaklah setelah diukur, tidak berlaku sembrono memotong/membagi begitu saja . Dianjurkan diukur dulu).

Kemudian dalam satu ciloteh semestinya dipakai satu kearifan dialektis, Malantiang manuju tampuak, Dima buah ka rareh, dan Mamahek manuju barih, Dima lubang ka tabuak, Barundiang manuju bana, Dima mufakat ka dibulati. Artinya dalam bahasa nasional, “melempar menuju tampuak, kira-kira di mana buah itu jatuhnya”, dan “memahat menurut baris, kira-kira di mana lobang itu tembusnya”, atau “berunding berdasarkan kebenaran, sehingga rundingan membuahkan mufakat bulat”.

Kearifan di dalam bertutur kata, baik itu di dalam ungkapan di lingkungan beradat, di balairung, di surau, di mana saja, ada satu kewajiban berhati-hati. Ungkapan petatah petitih mengingatkan itu semua. “Gabak dahulu makonyo hujan, Cewang di langik tando akan paneh, Ingek sabalun kanai, Kulimek sabalun habih”, atau “Ingek urang nan di ateh, Nan di bawah kok datang malimpok, Bajalan paliharo kaki, Bakato paliharo lidah”.

Dapat dicermati dari ungkapan berbahasa dan bertutur ada banyak mendapatkan pelajaran dari alam takambang jadi guru. Di antaranya “mendung dahulu baru akan hujan, cerah di langit tanda hari akan panas”. Atau ungkapan selanjutnya, “ingatlah sebelum kena, berhemat sebelum habis” sebagai satu dinamika kearifan. Kemudian di dalamnya tertera pula nasehat, “ingat dan waspadalah orang yang sedang berkuasa di atas, karena yang di bawah dapat datang menimpa”, serta “kalau berjalan peliharalah kaki, kalau berucap kata pelihara lidah”.

Di sini dapat dirasakan dialektika dan dinamika berucap atau berceloteh itu. Di samping dialektika ada dinamika kehidupan dengan mengedepankan kebersamaan seperti ungkapan, “Ka bukik samo mandaki, Ka lurah samo manurun” (ke bukit sama mendaki, ke kurah sama menurun), atau “Barek sapikua, Ringan sajinjiang” (Berat sepikul, Ringan sejinjing), dan “Malompek samo patah, Manyaruduak samo bungkuak” (Melompat sama patah, Menyeruduk sama bungkuk), serta “Talungkuik samo makan tanah, Tatilantang samo makan angin, Tarandam samo basah, Tarapuang samo hanyuik” (Tertelungkup sama makan tanah, Tertelentang sama makan angin, Terendam sama basah, Terapung sama hanyut).

Sebuah nilai keberadatan masyarakat adat yang dapat menumbuhkan dinamika di tengah pergaulan hidup.

Kehidupan masyarakat Sumatera Barat ke depan di Alaf Baru abad ke duapuluh satu dan seterusnya ini, mesti memacu dirinya dengan ajakan agar selalu menanam kebaikan-kebaikan yang makruf. Ajakan tersebut mesti pula dipagari rapat-rapat dari hal-hal yang merusak atau mungkarat.

Di dalam diri masyarakatnya semestinya ditanamkan kesadaran yang dapat menumbuhkan harga diri dengan sikap mental mau berusaha dengan giat bekerja (enterprising). Hal tersebut akan lebih mudah terbangunkan karena dialog yang santun, arif dan dinamis.

Pembangunan manusia Minangkabau sesungguhnya adalah mencetak insan yang dapat menolong diri sendiri (independent) serta mampu mereposisi kondisinya dalam mengatasi kemelut, kemiskinan dan ketertinggalan di berbagai bidang. Insya Allah masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat atau di perantauan akan selalu mendapatkan hak asasinya yang setara dengan kewajiban asasi yang telah ditunaikannya.

Sesungguhnya bimbingan aqidah bersendikan Kitabullah, atau kebiasaan adat telah mengajarkan bahwa tidak pantas bagi satu masyarakat yang hanya selalu menuntut hak tanpa dibebani keharusan menunaikan kewajiban.

Martabat satu kaum akan hilang bila yang ada hanya memiliki kewajiban-kewajiban tetapi tidak dapat menentukankan hak apa-apa. Karena itu, hak asasi manusia tidak akan pernah ujud tanpa di dahului oleh kewajiban asasi manusia. Hal ini sangatlah penting ditanamkan kembali dalam upaya mambangkik batang tarandam.

Kandungan Kitabullah mewajibkan kita untuk memelihara hubungan yang langgeng dan akrab dengan karib, baik terhadap tetangga maupun kerabat, sebagai kewajiban iman dan taqwa kita kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Firman Allah di dalam Kitabullah (Al Quran) menyebutkan, “Sembahlah Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak. Berhubungan baiklah kepada karib kerabat. Berbuat ihsan kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, dan tetangga yang hampir, tetangga yang jauh, dan teman sejawat serta terhadap orang-orang yang keputusan belanja diperjalanan (yaitu orang-orang yang berjalan dijalan Allah) dan terhadap pembantu-pembantu di rumah tanggamu. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS.4, An-Nisak ayat 36).

Menumbuhkan harga diri, dan memperbaiki nasib secara keseluruhan dalam berbagai bidang, diyakini akan terwujud melalui ikhtiar yang terus menerus, disertai akhlak sabar tanpa kesombongan serta mampu melawan sikap mudah menyerah dan tidak mudah berputus asa.

Sikap jiwa masyarakat seperti ini seringkali dapat ditempa melalui dialog atau celoteh yang penuh dialektika dan dinamis, di antaranya di surau dan di lapau di Minangkabau, masa laloe. ***

Sifat Sifat Terpuji Hamba Allah yang terpilih atau IBADURRAHMAN, pokok-pokok akhlak Qurani….

Sabtu, 2008 September 20

IBADURRAHMAN

Ibadurrahman, Hamba Allah yang Rahman

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

Allah SWT berfirman ;
“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang (Ibadurrahman) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (mengandung) keselamatan.
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.
Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami …Anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami, penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.
Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam sorga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan-ucapan selamat di dalamnya.”

(Q.S. Al Furqan: 63-75)

Ibadurrahman adalah hamba-hamba Allah yang selalu berada dalam lingkup rahmat Allah. Mereka adalah orang-orang yang menyadari kekuasaan Allah dan memenuhi hak-hak Allah dan memurnikan agama karena Allah. Mereka dinisbatkan kepada Allah Yang Maha Rahman.

Ibadurrahman mempunyai sifat dan tanda-tanda yang disebutkan Allah di dalam ayat-ayat di atas, dengan jelas memiliki sifat-sifat seperti ;

1. Tawadhu’ dan rendah hati

2. Pemurah dan lembut hati,

3. Suka mendirikan shalat malam (Qiyamullail),

4. Sangat takut akan bahaya neraka,

5. Sederhana dalam membelanjakan harta,

6. Memiliki Tauhid yang istiqamah,

7. Menjauhi tindak pembunuhan dengan memuliakan kehidupan,

8. Menjauhi perbuatan zina, dan suka bertaubat Nasuha,

9. Tidak mau bersumpah palsu,

10. Meninggalkan pekerjaan yang tidak bermanfaat,

11. Mendalami ayat-ayat Allah, dan

12. Memohon kebaikan bagi istri dan keluarganya

Dengan demikian dapat dipahami bahwa selain hamba Allah yang Rahman, tentu akan ada golongan-golongan hamba-hamba atau budak-budak yang lainnya. Seperti hamba (budak) syeitan, hamba taghut, hamba syahwat, hamba uang, hamba khamar, hamba narkoba, hamba birahi, hamba harta, hamba tahta, hamba wanita. Mereka pasti tidak mempunyai keduabelas sifat utama ini.

Moga kita semua dapat memiliki keduabelas sifat utama ini untuk meraih predikat Ibadur-Rahman. Amin.