Penerapan Ruhul Islam dalam upaya Pembinaan dan Pengembangan melalui Penguatan Akidah dan Ibadah (Bimbingan Ruhul Islam untuk RSI Ibnu Sina Yarsi Sumbar)

Oleh : H. Mas’oed Abidin

I.    Insyaallah kita memahami sesungguhnya bahwa bekal utama dalam hidup, adalah keyakinan  dan keimanan  kepada Allah SWT dan hidup masyarakat memakaikan akhlaqul karimah.

Dakwah Agama Islam mengajarkan syari’at agama Islam yang shahih  dalam menguatkan perilaku berakhlaq sesuai risalah Rasulullah SAW ,  serta tetap menjaga agar lingkungan tertata dengan nilai-nilai tamadun yang terikat kuat dengan penghayatan Islam. Disinilah letak peran Ruhul Islam secara krusial.

Sikap jiwa (mental attitude) dari masyarakat kita – khususnya di Sumatera Barat , sedari masa lalu, dan mesih tetap terjaga sampai kini – adalah selalu tertuntun oleh akhlak, sesuai bimbingan ajaran Islam, dalam ungkapan “syara’ mamutuih, Adat memakai !”.

Nilai-nilai tamaddun ini, menjadi pegangan hidup yang positif. Maka Ruhul Islam adalah identitas (sibghah) atau ciri khas dari sebuah lembaga Islam di daerah ini, terutama lembaga pelayanan keperluan masyarakat seperti Rumah Sakit Ibnu Sina Yarsi Sumbar ini.

Nilai nilai syari’at dan tamaddun yang sudah mengakar di tengah masyarakat itu akan mendorong dan merangsang — menjadi force of motivation –, bahkan menjadi penggerak – dan/atau mendinamiseer – semua kegiatan masyarakat, termasuk sifat dan kebiasaan-kebiasaan untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan meliputi bidang ekonomis, menghindari pemborosan, kebiasaan menyimpan, hidup berhemat, memelihara modal supaya jangan hancur, melihat jauh kedepan, serta interaksi atau silaturahim dengan massyarakat kelilingnya. Sikap jiwa yang baik itu sesungguhnya lahir dari pemahaman syari’at agama Islam atau memiliki Ruhul Islam yang masuk ke dalam budaya dan kehidupan bermasyarakat di Sumatera Barat. Dan ini adalah kekuatan besar dari kekayaan budaya masyarakat yang tidak ternilai besarnya. Ini juga menjadi harapan harapan pencapaian dalam keberhasilan embanan tugas pelayanan masyarakat di daerah ini.

II.  Generasi anak bangsa ini mesti menjauhkan diri dari perilaku yang dimarahi Allah. Berperangai bebas tanpa arah akan mengundang musibah dalam kehidupan. Mengerjakan yang diwajibkan dan meninggalkan yang dilarang berarti berupaya menjauhkan diri dari kemaksiatan.

Mengatasi problematika sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya ; a). Melakukan tazkiyah nafs  dengan teratur dalam manhaj suffiyah, b). Memantapkan iman, tauhid uluhiyah, c). Melaksanakan Ibadah yang teratur, sebagai perwujudan tauhid rububiyah, d). Melakukan Wirid yang berkesinambungan, e). Shalat berjamaah, dan ibadah sunat yang teratur, seperti qiyamullail, shaum, dan lainnya, f). Melakukan interaksi intensif (silaturahim yang terjaga) ditengah masyarakat. Semua pengupayaan ini akan menjadi kekuatan untuk mengantisipasi berkembangnya maksiat.

Pergeseran budaya itu terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, karena aqidah tauhid melemah – yang menjadi penyebab lahirnya  perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami,  serta suka melalaikan ibadah.

Kelemahan dalam meujudkan misi dakwah umumnya datang tersebab pembinaan akhlak sering tercecerkan. Pendidikan  yang mengedepankan Ruhul Islam sudah hampir tiada. Peran pendidikan  agama dan pemeliharaan ibadah juga melemah. Pendidikan akhlak dan budi pekerti berdasarkan perinsip perinsip syari’at agama Islam yang mewarnai kehidupan budaya masyarakat menjadi kabur.  Padahal Janji Allah SWT sangat jelas dan tepat, ” apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi “.

Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap berakhlak,  berpegang pada nilai-nilai  iman dan taqwa,  memiliki daya kreatif dan innovatif, menjalin kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis,  memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus,  sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.  

Memahami nilai‑nilai budaya luhur, punya makna jati diri yang jelas,  menjaga martabat, patuh dan taat beragama,  menjadi agen perubahan, dengan motivasi yang bergantung kepada Allah, mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, dinamis dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.

III.  Bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat  — terutama di Sumatera Barat, dengan tamaddun Minangkabau  — pasti akan menemui satu iklim (mental climate) yang subur, yakni ada kekuatan agama, tamadun, budaya, adat istiadat, dan budi bahasa yang baik.

Satu realita objektif  adalah ;  Siapa yang paling banyak menyelesaikan persoalan masyarakat ,  pasti akan berpeluang banyak mengatur masyarakat. Beberapa model perlu dikembangkan di dalam pembinaan Ruhul Islam diantaranya  ; pemurnian wawasan fikir, mempertajam kekuatan zikir, penajaman visi  akhlak banagari, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang, pendalaman spiritual religi. Bila itu ada, Insyaallah kendala atau tantangan perubahan zaman dapat diatasi.

Pengendali kemajuan sebenarnya adalah agama dan akhlak mulia yang mewarnai budaya bangsa. Budaya atau tamaddun  bangsa yang selama ini telah berlaku turun temurun dalam masyarakat kita di Sumatera Barat – Minangkabau dengan tamaddun ABSSBK – adalah hidup santun dan sopan sesuai bimbingan adat dan agama Islam.

Tercerabutnya agama dari diri masyarakat  — di Sumatera Barat atau hilangnya adat istiadat Minangkabau berdasarkan syari’at agama Islam –, berakibat besar kepada perubahan perilaku dan tatanan masyarakatnya. Hal ini disebabkan, karena “adatnya bersendi syarak, syaraknya bersendi kitabullah” dan “syarak mangato (=memerintahkan) maka adat mamakai (=melaksanakan)” .  Akibatnya, akan ditemui maraknya penyakit masyarakat (pekat, tuak, arak, judi, dadah, pergaulan bebas di kalangan kaula muda, narkoba, tindakan kriminal dan anarkis),  yang merusak tatanan keamanan, maka dirasakan adalah prinsip ABS-SBK menjadi kabur.

Peranan  pendidikan Ruhul Islam sejak dulu adalah membawa umat kepada keadaan yang lebih baik, kokoh aqidah, qanaah,  istiqamah, berilmu pengetahuan, mencintai nagari, matang dengan visi dan misi  Islam, memelihara kebersamaan dan gotong royong, berkualitas dengan iman dan hikmah, amar maktruf dan nahyun ‘anil munkar, research oriented, professional, berteraskan iman dan ilmu pengetahuan, mengedepankan prinsip musyawarah dan mufakat. Jiko mangaji dari alif, Jiko naiak dari janjang, Jikok turun dari tango,  Jiko babilang dari aso, artinya hidup berperaturan.

IV.  Dalam gerakan  “membangun kehidupan masyarakat yang beragama Islam secara shahih”, tidak dapat tidak, setiap peribadi  akan menjadi pengikat dalam membentuk masyarakat yang lebih kuat, sehingga merupakan kekuatan sosial yang efektif, dengan kekuatan persaudaraan.

Pemasyarakatan budaya dalam keseharian  sesuai syari’at Islam, mesti bersandar kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul.  Maka pembinaan dan pelayanan masyarakat oleh siapa saja harus bertujuan kepada mencapai derajat pribadi taqwa, dalam hubungan hidup bermasyarakat sesuai tuntunan syariat Agama Islam. Mamutieh cando riak danau, tampak nan dari muko-muko, Batahun-tahun dalam lunau, namun nan intan bakilek juo.

Mengakarkan nilai nilai Ruhul Islam kedalam  kehidupan masyarakat atau kelompok  di Sumatera Barat  — Minangkabau —  adalah dengan kemestian  memiliki ilmu dengan akidah tauhid yang jelas. Generasi pelanjut Yarsi mestinya dinamik yang tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti. “Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,  Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo  basi.  Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi, Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiak-kan budi.”

Filosofi Hidup bermasyarakat  mesti  diberi ruh oleh Islam. Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah, lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. 

Prinsip-prinsip Kepemimpinan Rasulullah harus masuk ke dalam seluruh kehidupan secara komprehensif dan akan berlaku universal, yang dijabarkan dengan kebersamaan, gotong royong, sahino samalu, kekerabatan, dan penghormatan sesama, atau barek sapikue ringan sajinijing, yang menjadi kekuatan di dalam incorporated social responsibility. Kekusutan dalam masyarakat  diatasi dengan komunikasi. Persoalan perilaku harus mendapatkan porsi yang besar. Diperlukan sosialisasi nilai-nilai Islam masuk ke dalam budaya kerja. Kekekrabatan dijaga dengan satu sistem pandangan  cinta  dalam kegiatan membangun yang dipersamakan, dengan landasan mencari redha Allah..

V. Kekuatan Umat ada pada jati dirinya. Shabar dan syukur adalah bukti nyata dari jiwa yang sadar beragama dan beriman tauhid. Disinilah letak kekuatan umat itu. Sabda Rasulullah SAW tentang sibghah orang Muslim itu diantaranya ;

عَجِبْتُ لِلْمُسْلِمِ إِذَا أَصَابَتْهُ مُصِيْبَةٌ احْتَسَبَ وَ صَبَرَ وَ إِذَا أَصَابَهُ خَيْرٌ حَمِدَ اللهَ وَ شَكَرَ، إِنَّ اْلمُسْلِمَ يُؤْجَرُ فيِ ُكلِّ شَيْءٍ حَتَّى فيِ الُّلقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلىَ فِيْهِ. (رواه البهقي عن سعيد(

Aku kagum kepada orang Islam, apabila ditimpa cobaan, dia ikhlas dan sabar, sebaliknya apabila memperoleh kebaikan, dia memuji Allah dan bersyukur. Sesungguhnya orang Islam itu diberi pahala dalam segala hal, bahkan berkenaan dengan suap yang diangkatnya ke mulutnya. (HR. Baihaqi dari Sa’id).

Pengikut hawa nafsu, adalah kelompok manusia yang tidak mempunyai jiwa yang sadar. Karena itu mereka akan Suka melanggar hukum, Bersifat ghaflah  = lalai, dan selalu berbuat Maksiat.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah).

Mengaplikasi peringatan ini, maka peranan Pendidikan Surau menjadi sangat signifikan membangun dan mendidik generasi bersih, beriman dan dinamik. Hal tersebut dapat dicapai dengan silabus pendidikan dan pemahaman agama yang benar. melalui pendidikan surau (halaqah), diharapkan terbinanya peribadi muslim yang kaffah (sempurna). Masyarakat keliling (lingkungan) akan memahami, meyakini, dan menerapkan aqidah iman yang istiqamah, konsisten menjauhi perbuatan dosa dan maksiat.

VI.  Akhlak adalah konsep perangai dari  Khalik. Akhlak adalah jembatan makhluk dengan Khaliknya. Hidup tidak berakhlak menjadikan kehidupan tidak akan bermanfaat, serta di akhirat merugi. Akhlaq, meliputi akhlaq kepada Allah, kepada tetangga, sama besar, lebih muda, kepada lawan jenis, berbeda agama, lingkungan, guru, orang lebih tua, dan kepada ibu bapa.

حَقُّ الوَلَدِ عَلىَ وَالِدِهِ أَنْ يُحْسِنَ اسْمَهُ وَ أَدَبَهُ، وَ أَنْ يُعَلِّمَهُ الْكِتَابَةَ وَ السِّبَاحَةَ وَ الرِّمَايَةَ،  وَ أَنْ لاَ يَرْزُقَهُ إِلاَّ طَيِّبًا، وَ أَنْ يُزَوِّجَهُ إِذَا أَدْرَكَ. (رواه الحكيم(

Kewajiban ayah kepada anaknya, supaya memberinya nama yang baik dan pendidikan budi pekerti yang baik, mengajarnya tulis baca, berenang dan memanah (keterampilan dan kemampuan membela diri dan bela wathani), memberinya makanan yang baik dan mengawinkannya apabila telah dewasa. (HR. Hakim).

ياَ غُلاَمُ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ وَ إِذَا سَأَلَكَ فَاسْأَلِ اللهَ تَعَالىَ وَ إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ عَزَّ وَجَلّ                    

رواه الترذي

Pemuda! Jagalah (perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (perintah) Allah, nanti engkau akan mendapati penjagaan-Nya di hadapan engkau. Apabila engkau menanya, tanyalah kepada Allah dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan hanya kepada Allah ‘Azza Wajalla. (HR. Tirmidzi).

Nilai-nilai ajaran Islam mewajibkan mengimani Allah dan menghargai nikmatNya menjadi sumber rezeki, kekuatan dan kedamaian. Pengamalan syari’at dengan tauhid yang benar di tengah keluarga akan menjauhkan semua bentuk kemaksiatan. Tujuannya jelas, yaitu : membina, mengembangkan potensi da’wah  berperilaku Islami di tengah kehidupan anak nagari. Akhlak mulia mendorong nagari maju bermartabat dengan minat terarah dan terbimbing pandai  bersyukur. Anak bangsa yang tidak menjaga budi akhlak akan mengalami kehancuran, punahnya adat luhur, lenyapnya keyakinan & lunturnya budaya bangsa.

Membentuk watak yang lasak (dinamik), Memiliki wawasan  Agama Islam, Memiliki tanggung jawab kemanusiaan (wazhifah insaniah). Membina kesadaran komunikatif,  Menggerakkan potensi dengan bimbingan syarak basandi Kitabullah (basis religi).

VII.  Beberapa langkah dapat dilakukan ;  a). memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga Yarsi,  b). memperkokoh peran  pemimpin menjadi orang tua bagi semua yang dipimpinnya,  c). memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung jawab patah tumbuh hilang berganti ,  d). menanamkan aqidah shahih (tauhid),  e). istiqamah pada ajaran agama Islam yang dianut dengan menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur, f). menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah, g). penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam  lingkungan,  h). melazimkan musyawarah dengan disiplin, teguh politik, kukuh ekonomi,  i). bijak memilih prioritas , sesuai puncak budaya Ruhul Islam yang benar. 

Kalbu atau hati = القَلْبُ  adalah Jiwa yang memerintah manusia.  Allah mengingatkan bahwa ;

فَإِنَّهَا لآ تَعْمَى الآَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Al-Hajj:22:46)

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

Dan aku tidaklah akan mampu membersihkan diriku dari kesalahan  – selama memperturutkan hawa nafsu –, karena sesungguhnya nafsu sangat menyuruh kepada kejahatan.

Memperturutkan hawa nafsu sama dengan menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan, menjadi musyrik khafiy (tersembunyi)

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً   

الفرقان: 43

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? ..

Pengikut hawa nafsu selalu,

  1. Suka melanggar hukum.
  2. Bersifat ghaflah  = lalai.
  3. Maksiat kepada Allah SWT .

Umumnya inilah ciri pendirian kelompok sempalan. Upaya upaya menuju masyarakat kuat yang terhindar dari aliran sempalan adalah dengan memantapkan iman, tauhid uluhiyah, Ibadah jelas, tauhid rububiyah. Menjaga Wirid teratur,qiyamullail,shaum, Shalat berjamaah, dan memelihara Ibadah sunat, di tengah kehidupan bermasyarakat.

VIII.  Terbentuk akhlaq umat jadi  domain ruhiyah (ranah rohani) dalam satu komunitas mempunyai sahsiah  berbasis tauhid dan ibadah. Memahami, meyakini, dan menetapkan aqidah iman yang istiqamah. Menetapi ibadah  Islam dalam kehidupan seharian dan berakhlak yang beradat. Yang perlu di ingat bahwa semua bimbingan Kitabullah menekankan adab pergaulan antar manusia dan sesama makhluk yang di ikat hubungan kasih dengan khalik Maha Pencipta, yang ujud  dengan ibadah dan sikap hidup tawakkal dan bertaqwa. Akhlak mulia mendorong kepada berkemajuan dan bermartabat dengan minat  terarah memelihara sumber kehidupan dan terbimbing pandai  bersyukur.

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan, hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan yang  tumbuh dengan kecerdasan budaya memperhalus kecerdasan emosional  serta dipertajam oleh kemampuan periksa  evaluasi positif dan negatif  atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas). Para Pembina mesti menyadari bahwa, menjelang kiamat akan terjadi berbagai peristiwa sangat gawat, dan bencana yang besar. Pada saat-saat kritis, kelompok zhalim akan  berkuasa, dan orang fasik memegang posisi penting. Penyeru kebaikan akan ditindas, dan pencegah kemungkaran mendapat tekanan.

يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لآ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِين

“Wahai Rasul Allah, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu), berarti kamu tidak menyampaikan amanahnya. Allah memelihara kamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang kafir”.   (QS.Al Maidah, 5:67)

 

IX.  Khulasahnya ;

  1. Agama Islam yang dianut diyakini dapat menjadi penggerak pembangunan dan telah terbukti dalam sejarah yang panjang menjadi kekuatan mendinamisir masyarakat adat Minangkabau menampilkan jati diri  dalam adat mereka.
  2. Ada fenomena menyedihkan, diantaranya, a). minat penduduk kepada pengamalan agama Islam di kampung-kampung mulai melemah, b). dayatarik dakwah agama mulai kurang, c). banyak bangunan agama yang kurang terawat, d). Guru-guru agama Islam yang ada mulai tidak diminati (karena kurang konsisten, ekonomi, pengetahuan, penguasaan teknologi, interaksi) masyarakat lingkungan. e). banyak kalangan tak mengindahkan pesan-pesan agama (indikasinya  acara hiburan TV di rumah lebih digandrungi dari pada pesan-pesan agama di surau). Fenomena negatif ini berakibat langsung kepada angka kemiskinan makin meningkat (karena kemalasan, hilangnya motivasi, hapusnya kejujuran, musibah sosial mulai mengancam).
  3. Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya menjadi landasan dasar pengkaderan dengan kewajiban,
  •  Memelihara dan menjaga generasi pengganti yang lebih sempurna,
  •  Mengupayakan berlangsungnya timbang terima kepemimpinan secara alamiah,
  •  Teguh setia melaksanakan pembinaan dan mengajarkan nilai nilai keyarsian dan menjaga lingkungan dengan baik.

‘Handak kayo badikik-dikik, Handak mulie tapek i janji, Handak tuah ba tabue urai, Handak  namo tinggakan jaso,  Handak luruih rantangkan tali, Handak pandai rajin baraja, Handak bulieh kuek mancari,  Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek ka parak, Nan munggu ka pandam pakuburan, Nan rawang  ranangan  itiek, Nan padang kubangan kabau,  Nan bancah jadikan sawah, Nan gauang ka tabek ikan, Artinya ada kemauan kuat melakukan perubahan, dan memanfaatkan alam sesuai dengan tata ruang yang jelas, karena segala tindakan dan perbuatan akan disaksikan oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman. 

 Billahittaufiq wal Hidayah,

Wassalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Pemahaman Adat Minangkabau Terhadap Nilai-Nilai ABSSBK.


Nilai-nilai Adat Basandi Syarak di kelompokkan menjadi enam kelompok yaitu:

(1)   Nilai ketuhanan Yang Maha Esa,

(2)   Nilai kemanusiaan,

(3)   Nilai persatuan dan kesatuan,

(4)   Nilai demokrasi dan musyawarah,

(5)   Nilai budi pekerti dan raso pareso,

(6)   Nilai sosial kemasyarakatan.

Dasar pikiran yang berhubungan dengan nilai-nilai, yaitu nilai ketuhanan,  kemanusiaan, kesatuan dan persatuan, musyawarah dan demokrasi, serta nilai-nilai sosial kemasyarakatan di antaranya adalah :

  1. 1. Nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa

Nilai-nilai ketuhanan dalam adat dikategorikan dalam bidal yang meliputi:

  1. a. Si Amat mandi di luhak, parigi bapaga bilah, samo dipaga kaduonyo, adat basandi syarak, syarak basandi kitabbullah, sanda manyanda kaduonyo.

“ menjaga adat yang Islami”

  1. b. Pangulu tagak di pintu adat, malin tagak di pintu syarak, manti tagak di pintu susah, dubalang tagak di pintu mati.

“ pembagian tugas yang baik, sesuai fungsi masing-masing, mesti bekerja dengan professional.”

  1. c. Indak dapek sarimpang padi, batuang dibalah ka paraku, indak dapek bakandak hati, kandak Allah nan balaku.

“selalu berusaha, dinamis, tidak berputus asa, (rencana di tangan  manusia keputusan di  tangan Allah SWT).”

  1. d. Limbago jalan batampuah, itu nan hutang ninik mamak, sarugo dek iman taguah, narako dek laku awak.

“kuat beramal karya yang baik, jauhi maksiyat.”

  1. e. Jiko bilal alah maimbau, sado karajo dibarantian, sumbahyang bakaum kito daulu.

“menghidupkan surau, menjaga ibadah masyarakat, jamaah yang kuat dan memajukan pendidikan agama dengan baik,”

  1. f. Jiko urang Islam indak bazakat, harato kumuah diri sansaro.

“zakat kekuatan membangun umat, menghindar dari harta yang kotor, menjauhi korupsi.”

  1. g. Kasudahan adat ka balairung, kasudahan dunia ka akhirat, salah ka Tuhan minta taubat, salah ka manusia minta maaf.

“(menyesali kesahalan, mohon ampunan atas kesahalan, dan berjanji tidak akan melakukan lagi)”

  1. h. Tadorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki. Adat jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi.

“ menjaga pelaksanaan adat dan agama selalu berjalan seiring”.

Nilai-nilai Adat dalam Syarak

Nilai-nilai ketuhanan dalam syarak meliputi beberapa aspek nilai di antaranya ;

  1. a. Mengabdi hanya kepada Allah

Allah Swt. berfirman:

وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون   (الذريت: 57)

“Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (adz-Zariyat: 56)

وما امر الاليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقموا الصلوة ويؤتوا الذكوة وذلك دين القيمة   (البينة: 5)

“Pada hal tidak diperintahkan mereka, melainkan supaya mereka menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama karena-Nya dengan menjauhi kesesatan, dan (supaya) mereka mendirikan shalat dan memberi zakat, karena yang demikian itulah agama yang lurus”. (al-Bayinah: 5)

  1. b. Tunduk dan patuh hanya kepada Allah.

Allah berfirman:

يايها الذين امنوا اطيعوا الله ورسوله ولاتولوا عنه وانتم تسمعون (الانفال: 20)

“Wahai ummat yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berpaling dari padanya, padahal kamu mendengar”. (al-Anfal: 20)

ومن يطع الله والرسول فاولئك مع الذين انعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن اولئك رفيقا (الناس: 6)

“Karena siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka itu adalah beserta ummat yang Allah beri nikmat atasnya, dari Nabi-Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin dan alangkah baiknya mereka ini sebagai sahabat karib”. (an-Nisa: 69)

  1. c. Berserah diri kepada ketentuan Allah.

Allah berfirman:

وعسى ان تكرهوا شيئا خيرلكم وعسى ان تحبوا شيئا وهو شر لكم والله يعلم وانتم لاتعلمون    (البقرة: 216)

“ Mungkin kamu benci kepada sesuatu, padahal ia itu satu kebaikan bagi kamu, dan mungkin kamu suka akan sesuatu tapi ia tidak baik kamu, dan Allah itu Maha Mengetahui dan kamu tidak mengetahuinya”. (al-Baqarah: 216)

الذين إذا اصابتهم مصيبة قالوا انا الله وانا اليه راجعون      (البقرة: 157)

“Yang apabila terjadi terhadap mereka suatu kesusahan, mereka berkata: Sesungguhnya kami ini milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami akan kembali”. (al-Baqarah: 156)

  1. d. Bersyukur kepada Allah

Allah berfirman

واذا تأذن ربكم لئن شكرتم لازيدنكم ولئن كفرتم ان عذابى لشديد  (ابراهيم: 7)

“Dan (ingatlah) tatkala Tuhan kamu memberi tahu jika kamu berterima kasih niscaya Aku akan tambah nikmat bagi kamu, bila kamu tidak bersyukur akan nikmat maka azab-Ku itu sangat pedih”. (Ibrahim: 6-7)

  1. e. Ikhlas menerima keputusan Allah.

ولو انهم رضوا ما اتهم الله ورسوله وقالوا حسبنا الله سيؤتينا الله من فضله ورسوله انا إلى الله راغبون    (التوبة: 59)

“Dan alangkah baiknya jika mereka ridha dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya berikan kepada mereka, sambil mereka berkata: cukuplah Allah bagi kami, sesungguhnya Allah dan rasul-Nya akan beri kepada kamu karunia-Nya, sesungguhnya kami mencintai Allah”. (al-Taubah: 59)

كتب الله مقاد ير الخلا ئق قبل ان يخلق السموات والارض بخمسين الف سنه (رواه مسلم)

“Allah telah menentukan kepastian/ketetapan terhadap semua makhluk-Nya sebelum Allah menciptakan langit dan bumi 50.000 tahun”. (HR. Muslim)

  1. f. Penuh harap kepada Allah

Allah berfirman:

وا ما تعرضن عنهم ابتعاء رحمة من ربك ترجوها فقل لهم قولاميسورا    (بني اسرائيل: 28)

“Dan jika engkau berpaling dari mereka, karena mengharapkan (menunggu) rahmat dari Tuhanmu, yang engkau harapkan, maka berkatalah kepada mereka dengan ucapan yang lemah lembut”. (bani Isra’il: 28)

من كان يرجوا لقاء الله فان اجل الله رات وهو السميع عليم   (العنكبوت: 5)

“Siapa saja yang mengharapkan pertemuan (dengan) Allah, maka sesungguhnya waktu (perjanjian) Allah akan datang, dan Dia yang Mendengar, yang Mengetahui”. (al-Ankabut: 5)

ان الذين امنوا والذين هاجروا وجاهدوا فى سبيل الله اولئك يرجون رحمت  الله  والله غفور رحيم   (البقرة: 218)

“Sesungguhnya ummat yang beriman dan berhijrah serta bekerja keras (berjihad) di jalan Allah, mereka itu (ummat yang) berharap rahmat Allah dan Allah itu Pengampun, Penyayang”. (al-Baqarah: 218)

  1. g. Takut dengan rasa tunduk dan patuh

انما يعمر مساجد الله  من أ من بالله واليوم الأ خر واقام الصلوة  واتى الزكوة  ولم يخسى الا الله  فعسى اولئك ان يكونوا من المهتدين      (الاتوبة: 18)

“Sesungguhnya ummat yang memakmurkan masjid Allah ummat yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dan mendirikan shalat dan membayarkan zakat. Maka Allahlah yang lebih berhak kamu takuti, jika memang kamu ummat yang beriman”. (al-Taubah: 13

فلا تخشوا الناس واخشون ولاتشتروا  بأ يا تي ثمنا قليلا (المائدة: 44)

“Janganlah kamu takut kepada manusia tetapi takutlah kepada-Ku (Allah) dan janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah (sedikit)”. (al-Maidah: 44)

امنا يخشى الله من عباده العلماؤا … (فاطر: 28)

“Tidak ada yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya kecuali ulama (berilmu)”. (Fathir: 28)

  1. h. Takut terhadap siksaan Allah

Allah Berfirman:

ان في ذلك لاية لمن خاف عذاب الاخرة ذلك يوم تجموع له الناس وذلك يوم مشهود … (هود: 103)

“Sesungguhnya di dalam itu ada tanda bagi orang yang takut kepada azab akhirat: ialah hari yang dikumpulkan padanya manusia dan ialah hari yang akan disaksikan”. (Hud: 103)

كمثل الشيطن اذ قال للا نسان اكفر فلما كفر قال اني بريء منك  انى اخاف الله رب العالمين … (الحشر: 16)

(Mereka adalah) seperti syetan tatkala berkata kepada mereka: kufurlah setelah manusia itu kufur, ia berkata: Aku berlepas diri dari padamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan bagi alam semesta”. (al-Hasyr: 16)

  1. i. Berdo’a memohon pertolongan Allah.

Allah berfirman:

واذا سألك عبادي عنى فانى قريب أ جيب دعوة الداع إذا دعان فليستجبوا لى وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون       (البقرة: 186)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka katakanlah bahwa Aku dekat (hampir), Aku akan …

وقال ربكم ادعونى استجب لكم          (المؤمن: 60)

“Dan telah berkata Tuhan kamu: berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doa untukmu”. (al-mukmin: 60)

ولله الاسماء الحسنى فادعوه بها        (الاعراف: 180)

“Dan bagi Allah nama-nama yang baik, oleh karena itu berdo’alah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu”. (al-A’raf: 180)

ولا تدع من دون الله مالا ينفعك ولا يضرك         (يونس: 106)

“Jangan kamu berdo’a kepada selain Allah, yang tidak bisa memberi manfaat kepadamu dan tidak bisa memudarakan (membahayakan)”. (Yunus: 106)

  1. j. Cinta dengan penuh harap kepada Allah.

Allah berfirman:

فإ ذا   فرغت فانصب    وإ لى ربك فارغب         (الانشراح: 7-8)

“Lantaran itu, apabila kamu telah selesai mengerjakan sesuatu tugas maka kerjakanlah tugas baru dengan baik. Dan kepada Tuhanmu maka hendaklah kamu berharap dengan rasa cinta”. (al-Insyirah: 7-8)

عسى ربنا أ ن يبدلنا خيرا منها  إ نا إلى ربنا راغبون      (القلم: 32)

“Mudah-mudahan Tuhan kita mengganti untuk kita (kebun) yang lebih baik dari pada itu. Sesungguhnya kepada Tuhan kitalah kita berpegang baik”. (al-Qarim: 32)

Dalam adat diungkapkan “indak dapek salendang pagi, ambiak galah ka paraku, indak dapek bakandak hati, kandak Allah juo nan balaku”.

Bahwa bimbingan syarak berlaku dalam adat, disebutkan: “kasudahan dunia ka akhirat, kasudahan adat ka balairung, syarak ka ganti nyawa, adat ka ganti tubuah”.

  1. 2. Nilai-nilai Kemanusiaan

Nilai-nilai kemanusiaan ini dinyatakan dalam adat meliputi:

a) Duduak samo randah, tagak samo tinggi, duduak sahamparan, tagak sapamatang.

“menjaga kesetaraan dalam bermasyarakat.”

b) Sasakik sasanang, sahino samalu, sabarek sapikua.

peduli dan solidaritas mesti dipelihara.

c) Kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan.

“setia kawan, dengan pengertian membagi berita baik kepada semua orang.”

d) Nan ketek dikasihi, nan samo gadang lawan baiyo, nan tuo dihormati. Nan bungkuak ka tangkai bajak, nan luruih ka tangkai sapu, satampok ka papan tuai, nan ketek ka pasak suntiang, panarahan ka kayu api.

santun dan hormat terhadap orang yang lebih tua, memungsikan semua elemen masyarakat yang ada.”

e) Kok gadang jan malendo, panjang jan malindih, cadiak jan manjua.

“berbuat sesuai dengan aturan yang berlaku, cerdik tidak memakan lawan.”

f) Nan buto paambuih lasuang, nan pakak palapeh badia, nan lumpuah pangajuik ayam, nan binguang pangakok karajo, nan cadiak lawan baiyo, nan pandai tampek batanyo, nan tahu tampek baguru, nan kayo tampek batenggang, nan bagak ka parik paga dalam nagari.

“memberikan tugas sesuai dengan kemampuan, menghargai sesama.”

Nilai-nilai kemanusiaan dinyatakan dalam syarak :

  1. a. Kewajiban untuk menghargai  persamaan (egaliter)

Allah berfirman:

يايها الناس إ نا خلفناكم من ذكر وأ نثى وجعلنكم شعوبا وقبا ئل لتعارفوا إ ن أ كرمكم عند الله أ تقاكم، إ ن الله عليم خبير.         الحجرات: 13)

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal”. (al-Hujurat: 12)

  1. b. Menghormati persamaan manusia lain.

Sabda rasulullah

ليس المسلم بالطعان ولا اللعان ولا الفاحش ولا البذئ      (رواه الترمذي)

Tidaklah termasuk muslim apabila bersikap penohok, pelaknat, sikap kejam dan pencaci (HR. Tirmidzi)

  1. c. Mencintai sesama saudara muslim

لا يؤمن  أ حدكم  حتى يحب لأ خيه ما يحب لنفسه   (رواه البخارى ومسلم)

Tidaklah dikatakan seorang muslim, sehingga dia menyenangi apa yang disenangi oleh saudaranya, sebagaimana dia menyenangi apa yang disenanginya (HR. Bukari Muslim)

  1. d. Pandai berterima kasih

Sabda rasulullah

لا يشكر الله  من لا يشكر الناس                (ابو داود واحمد)

Tidak dapat bersukur kepada Allah orang yang tidak pernah berterima kasih atas kebaikan orang lain (HR. Abu Daud dan Ahmad

  1. e. Memenuhi janji

Allah berfirman

وأ فوا بعهد الله إذا عاهدتم ولا تنقضوا الأيمان بعد توكيدها وقد جعلتم الله عليكم كفيلا  إ ن الله يعلم ما تفعلون       (النحل: 91)

Dan penuhilah janji-janji tatkala kamu berjanji, dan janganlah kamu mengingkari itu sebab kamu telah menjadikan Allah sebagai pemelihara. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (al-Nahl: 91).

  1. f. Tidak boleh mengejek dan meremehkan orang lain

Firman Allah:

يأ يها الذين أ منوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيرا منهم          (الحجرات: 11)

Janganlah kamu mengejek atau merendahkan diri orang lain, saudara atau teman dekatmu dengan membicarakan kekurangan atau membuka aib dan cacatnya, atau menjulukinya sampai menyakitkan hatinya, sesungguhnya perbuatan demikian adalah sikap yang tercela.

  1. g. Tidak mencari kesalahan

Allah berfirman:

ولا يغتب بعضكم بعضا أيحب  أ حدكم  أن يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه (الحجرات: 12)

Dan janganlah mengumpat atau menceritakan kesalahan sebagian dari kamu terhadap sebagian yang lain, sukakah kamu memakan daging saudaramu yang sudah menjadi bangkai, sedangkan kamu membencinya (al-Hujurat: 12)

  1. h. Bergaul baik dengan menjaga persaudaraan dan persatuan

Allah berfirman

إ نما المؤمنون  إ خوة  فأ صلحوا بين أخويكم واتقوا الله لعلكم ترحمون    (الحجرات: 10).

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (al-Hujurat: 10).

  1. i. Tidak boleh sombong

ولا تمشى  في الأ رض  مرحا … (لقمان: 19)

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong (Lukman: 18)

  1. 3. Nilai-nilai Persatuan dan Kesatuan

Nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam adat

  1. a. Tagak kampuang paga kampuang, tagak suku paga suku, tagak banagari paga nagari

“ menjaga persatuan dan bersama membangun nagari, sesuatu itu harus dimunculkan dari bawah. “

  1. b. Satinggi-tinggi tabang bangau, kumbalinyo ka kubangan juo, hujan ameh di rantau urang, hujan batu di kampuang awak, kampuang halaman tatap dikana juo

“ ada tempat kembali, semua akan kembali ke asal ”

  1. c. Jauh bajalan banyak diliek, lamo hiduik banyak dirasoi

“ cari pengalaman yang baik “

  1. d. Malu tak dapek dibagi, suku tak dapek diasak, raso ayia ka pamatang, raso minyak ka kuali

“ suku tidak dapat ditukar “

  1. e. Takajuik urang tagampa awak, kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauwan

“ selalu berbuat baik menyatu dengan lingkungan di mana berada “

  1. f. Banabu-nabu bak cubadak, baruang-ruang bak durian, nan tangkainyo hanya sabuah, nan batangnyo hanyo satu, saikek umpamo lidi, sarumpun umpamo sarai, satandan umpamo pinang, sakabek umpamo siriah.

“ tidak boleh berpecah belah, jauhi silang sengketa “

  1. g. elok di ambiak jo mupakat, buruak di buang jo etongan

“ utamakan musyawarah “

  1. h. randah tak dapek dilangkahi tinggi tak dapek dipanjek.

“ keputusan musyawarah mengikat “

  1. i. bersilang kayu dalam tungku sinan nasi mangko masak, dengan tepat dan benar.

“ perbedaan pendapat tidak boleh membawa perpecahan “

Nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam syarat meliputi:

  1. a. Bersatu tidak boleh bercerai-cerai

يأ يها الذين أمنوا إ تقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون. واعتصموا بحيبل الله جميعا ولا تفرقوا، واذكروا نعمت الله عليكم إذ كنتم أعداء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخوانا، وكنتم على شفا حفرة من النار فأنقذكم منها، كذلك يبين الله لكم أ ياته لعلكم تهتدون         (ال عمران: 102-103).

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri kepada Allah dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-cerai dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kamu dulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kamu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara (QS. Ali Imran; 102-103).

b. Orang yang beriman ibarat sebuat bangunan

Sabda Rasulullah saw

أ لمؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا       (رواه البخارى ومسلم)

Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya, bagi suatu bangunan yang menopang satu bagian terhadap bagian lainnya (HR. Bukhri dan Muslim.

Firman Allah SWT

ضربت عليهم الذلة أ ين ما ثقفوا  إلا بحبل من الله وحبل من الناس وبأؤ بغضب من الله وضربت عليهم المسكنة، ذلك بأ انهم كانوا يكفرون بأ يات الله ويقتلون الأ ابياء بغير حق، ذلك بما عصوا وكانوا يعتدون   (ال عمران: 112).

Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tlai (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas (QS. Ali Imran: 112).

  1. 4. Nilai-nilai Demokrasi dan Musyawarah

Nilai-nilai demokrasi dan musyawarah dalam adat meliputi beberapa aspek

  1. a. Bulek aia ka pambuluah, bulek kato ka mufakek, bulek dapek digolongkan, pipiah buliah dilayangkan.

“Taat pada kesepakatan hasil musyawarah”

  1. b. Kato nan banyak dari bawah, banyak indak buliah dibuang, saketek indak buliah disimpan.

“ Peranan masyarakat berpatisipasi, mulai dari lapisan terendah, kedudukannya sama dalam hukum “

  1. d. Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka mufakek, mufakek barajo ka nan bana, bana badiri sandirinya, manuruik alua jo patuik.

” taati hukum dan aturan yang berlaku “

  1. e. Pikia palito hati, tanang hulu bicaro, aniang saribu aka, dek saba bana mandating

“ sebelum berbuat lakukan penelitian dan kaji segala kemungkinan, sebab dan akibat dari satu perbuatan “

  1. f. Suri tagantuang batanuni, luak taganang nan basawuak, kayu batakuak barabahkan, janji babuek batapati.

“tetapi janji, lakukan sesuatu menurut patut dan pantas “

  1. g. Duduak basamo balapang-lapang, duduak surang basampik-sampik, kato surang babulati, kato basamo dipaiyokan

“ bina kerukunan bersama “

  1. h. Baiyo-iyo jo adiak, batido-tido jo kakak, elok diambiak jo mufakek, buruak dibuang jo etongan.

“ teguhkan persaudaraan, kembangkan dialog “

  1. i. Sabalik bapaga kawek, randah tak dapek dilangkahi, tinggi tak dapek dipanjek.

“ hidup mesti berperaturan, tidak boleh berbuat seenak diri sendiri “

  1. j. Galugua buah galugua, tumbuah sarumpun jo puluik-puluik, badampiang jo batang jarak, basilang kayu dalam tungku, sinan nasi nasi mangko masak.

“tidak perlu cemas untuk berbeda pendapat, perbedaan tidak menimbulkan perselisihan, di sini terdapat dinamika hidup”

  1. k. Saukua mangko manjadi, sasuai mangko takana, nan bana kato saiyo, nan rajo kato mufakek

“ permusyawaratan perwakilan, teguh melaksanakan kesepakatan “

Nilai-nilai demokrasi dan musyawarah di dalam syarak meliputi beberapa aspek yang jelas dalam tata cara melaksanakan musyawarah serta perilaku ini, akan menguatkan pelaksanaan ABS-SBK, di antaranya ;

Firman Allah SWT

فبما رحمة من الله لنت لهم، ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك، فاعف عنهم واستغفرلهم وشاورهم فى الامر فإذاعزمت فتوكل على الله، إن الله يحب المتوكلين         (ال عمران: 159).

Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah ia menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (QS. Ali Imran: 159).

Firman Allah SWT

… وأمرهم شورى بينهم ومما رزقناهم ينفقون   (الشورى: 38).               

“…Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka” (QS. Al-Syura: 38).

Sabda Rasulullah SAW

ما خاب من اتخار ولا ندم من اشتشار

Tidak akan gagal orang yang mengerjakan istikharah dan tidak pula menyesal orang yang melakukan musyawarah

Sabda Rasulullah

المستشار مؤتمن

“Orang-orang yang melakukan musyawarah akan tentram (aman)”

  1. 5. Nilai-nilai Akhlak / Budi Pekerti

Nilai-nilai budi pekerti / akhlak dalam adat meliputi:

  1. a. Nan kuriak kundi, nan merah sago, nan bayiak budi, nan indah baso

“Budi pekerti dan bahasa sopan santun diperlukan “

  1. b. Satali pambali kumayan, sakupang pambali katayo, sakali lancuang ka ujian, salamo hiduik urang tak picayo

“jangan pernah berbuat salah, selalu menjaga diri”

  1. c. Batanyo lapeh arak, barundiang sudah makan
  2. d. Raso dibaok nayiak, pareso dibaok turun

“memikirkan akibat sebelum berbuat”

  1. e. Sulaman manjalo todak, naiak sampan turun parahu, punyo padoman ambo tidak, angin bakisa ambo tau

“ selalu mempergunakan akal sehat sebelum berbuat “

  1. f. Bajalan paliharo kaki, bakato paliharo lidah

“hati-hati selalu”

  1. g. Pisang ameh baok balayia, masak sabuah di dalam peti, utang ameh dapek dibayia, utang budi dibaok mati.

“selalu berbuat baik, hidup dengan berjasa dan pandai membalas jasa“

  1. h. Dek ribuik rabahlah padi, dicupak Datuak Tumangguang, jikok hiduik indak babudi, duduak tagak ka mari tangguang.

“ tidak melupakan tata kerama bergaul menurut adat dan agama “

Nilai-nilai budi pekerti dan  akhlak dalam syarak sangat banyak ditemukan:

Firman Allah SWT

لا إ كراه في الدين، قد تبين الرشد من الغي، فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد إ ستمسك بالعروة الوثقى لا انفصام لها، والله سميع عليم     (البقرة: 256)

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Baqarah: 256)

Firman Allah SWT

هو الذي خلقكم فمنكم كا فر  ومنكم  مؤمن  والله بما تعملون بصير    (التغابون: 2)

Dialah yang menciptakan kamu, maka diantara kamu ada yang kafir dan diantaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Taghabun: 2)

Firman Allah SWT

لا يكلف الله نفسا إ لا وسعها، لها ما كسبت وعليها ما ا كتسبت، ربنا لا تؤخذنا إ ن نسينا أو اخطأنا، ربنا ولا تحمل علينا إ صرا كما حملته على الذين من قبلنا، ربنا ولا تحملنا ما لا طقة لنا به، واعف عنا، واغفرلنا، وارحمنا، انت مولنا فانصرنا على القوم الكفرين  (البقرة: 286).

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya, (mereka berdoa): ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir (QS. Al-Baqarah: 286).

Sabda Rasulullah SAW

يسروا ولا تعسروا وبشروا ولا تنفروا      (رواه البخارى)

Permudahlah jangan mempersulit dan gembirakanlah jangan menakut-nakuti (HR. Bukari).

  1. 6. Nilai-nilai Sosial Kemasyarakatan

Nilai-nilai sosial kemasyarakatan adat dan syarak meliputi antara lain

  1. a. Nan buto pahambuih lasuang, nan lumpuah pengajuik ayam, nan pakak palatuih badia

“ fungsi ham asasi manusia “

  1. b. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang, nan barek makanan bahu, nan ringan makanan jinjiang.

“ suka bergotong royong, memelihara kerja sama “

  1. c. Takajuik urang tagampa awak, kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan.

“sifat tolong menolong “

  1. d. Bungka ameh manahan asah, ameh batua manahan uji, kato batua manahan sudi, hukum batuah manahan bandiang.

“ kualitas, ekonomi, professional, menegakkan nilai-nilai keadilan “

  1. e. Nan tak untuak jan diambiak, nan bakeh yo diunyi, turuik alua nan luruih, tampuah jalan nan pasa

“menjaga keseimbangn antara hak dan kewajiban “

  1. f. Sawahlah diagiah pamatang, ladanglah diagiah bamintalak, lah tantu hinggo jo batehnya, lah tahu rueh jo buku

“mematuhi aturan yang ada “

  1. g. Ketek taraja-raja, gadang tarubah tidak, lah tuo jadi parangai.

“ Pendidikan di rumah tangga tentang perilaku dan budi pekerti

sangat penting. Menanamkan perilaku bertanggung jawab

sejak kecil ”

  1. h. Kato sapatah dipikiri, jalan salangkah ma adok suruik

“ Hati-hati dalam berucap dan bertindak memikirkan hal yang akan disampaikan sebelum berbicara “

  1. i. Syarak mangato, adat mamakai, syarak mandaki, adat manurun

“ Ketetapan syarak dipakai dalam adat, perjalanan adat penghulu seiring dengan ulama “

  1. j. Sasakik sasanang, sahino samalu, nan ado samo dimakan, kok indak samo ditahan, barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun, tatilungkuik samo makan tanah, talilantang samo makan angin.

“ Rasa kebersamaan, gotong royong wajib ditumbuhkan di tengah masyarakat Minangkabau (Sumbar), menggerakkan potensi moril materil, untuk membangun nagari, dan menghapus kemiskinan”

Nilai-nilai sosial kemasyarakatan dalam syarak sebagai berikut:

  1. a. Saling tolong menolong

Firman Allah SWT

تعاونوا على البر واتقوا ولا تعاونوا على الاثم والعدوان (المائدة: 2)

Saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kamu tolong menolong berbuat dosa dan permusuhan (QS. Al-Maidah: 2).

Sabda Rasulullah SAW

انصر اخاك ظالما أو مظلوما          (رواه البخارى)

Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi (HR. Bukari)

Sabda Rasulullah

ليس منا من لم يرحم صغيرنا ولم يعرف حق كبيرنا (رواه ابو داود وترمذى)

Tidak termasuk umatku orang yang tidak mengasihi generasi muda dan tidak menghormati orang tua (HR. Abu Daud dan Tirmizi).

Sabda Rasulullah

تحجزة من ظلمه فذلك نصره

Hindarkanlah atau cegahlah dia dari bertindak aniaya itulah cara menolongnya

  1. b. Tidak boleh memisahkan diri dari masyarakat (jama’ah)

وعليكم بالجمعة فمن شذ شذ في النار         (رواه ترميذ)

Kamu harus hidup dalam jama’ah siapa saja yang mengasingkan diri dari jama’ah, dia akan menyendiri masuk ke dalam api neraka (HR. Tirmizi).

  1. c. Waspada dan menjaga keselamatan bersama

Allah berfirman

وتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة        (الانفال: 25).

Takutlah kamu kepada fitnah yang tidak hanya menimpa kepada orang yang zalim saja (QS. al-Anfal: 25)

Allah SWT berfirman

وتواصوا بالحق وتواصو بالصبر        (العصر: 3)

Saling menasehatilah tentang kebenaran dan saling menasehatilah dengan kesabaran (al-Ashr: 3)

Sabda Rasulullah SAW

إذا استنصح احدكم اخاه فالينصح له      (رواه البخارى)

Jika kamu dimintai nasehat oleh salah seorang saudaramu, maka berikanlah nasehatmu kepadanya (HR. Bukhari)

Sabda Rasulullah SAW:

الدين النصيحة سئل لمن؟ فقال: فقال: لله ولكتابه ولرسوله ولامة المسلمين عامتهم

Agama itu nasehat, kemudian ditanyakan kepada beliau, bagi siapa nasehat itu? Rasulullah menjawab: bagi Allah, bagi kitab-kitabnya, bagi rasulnya, bagi para pemimpin muslim, dan jama’ah pada umumnya (HR. Muslim)

  1. d. Berlomba mencapai kebaikan

Allah SWT berfirman

فاستبقوا الخيرات … (البقرة: 146)

Dan saling berlombalah kamu untuk berbuat kebaikan di mana kamu berada (QS. al-Baqarah: 146)

Sabda Rasulullah SAW

اتق الله حيث ما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن (رواه الحاكم والترمذي)

Bertakwalah selalu kepada Allah dimana saja kamu berada, dan iringilah selalu perbuatan salahmu dengan kebaikan, semoga dapat terhapus kesalahan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan selalu bersikap ikhlas (terpuji). (HR. Hakim dan Tarmizi).

  1. e. Tidak boleh mencela dan menghina

Allah SWT berfirman

يايها الذين امنوا لا يسخر قوم من قوم عسى ان يكونوا خيرا منهم

ولا نساء من نساء عسى ان يكن خيرا منهن ولا تلمزوا انفسكم  ولا تنابزوا  بالالقاب بئس الاسم الفسوق بعد الايمان ومن لم يتب فاولئك هم الظلمون          (الحجرات: 11).

Wahai umat yang beriman, janganlah hendaknya terjadi suatu kaum menghina kaum yang lainnya, boleh jadi yang dihina ternyata lebih baik keadaannya daripada yang menghina. Demikian juga janganlah para wanita itu menghina kelompok wanita yang lainnya, karena boleh jadi wanita yang dicela itu lebih baik dari yang mencela. Janganlah saling mencerca dan janganlah berolok-olok dengan sebutan-sebutan yang jelek. Seburuk-buruk sebutan fasik sesudah orang itu beriman (al-Hujurat: 11).

  1. f. Menepati janji

Firman Allah SWT:

يايها الذين امنوا اوفوا بالعقود                    (المائدة: 1)

Wahai umat yang beriman, penuhilah selalu janji-janjimu (QS. al-Maidah: 1)

Firman Allah SWT:

والموفون بعهدهم إذا عاهدوا        البقرة: 177)

Dan orang-orang yang selalu menyempurnakan janji-janjinya, jika ia membuat perjanjian (QS. al-Baqarah: 177)

  1. g. Bersikap adil

Allah SWT berfirman:

قل امر ربي بالقسط    (البقرة: 29)

Katakanlah: telah memerintahkan Tuhanku agar berbuat adil (QS. al-A’raf: 29)

Allah SWT berfirman:

يايها الذين امنوا كونوا قوامين لله شهداء بالقسط ولا يجرمنكم شنان قوم على الا تعدلوا اعدلوا هو اقرب للتقوى ان الله خبير بما تعملون (المائدة: 8).

Wahai umat yang beriman, hendaklah kamu menjadi manusia yang lurus karena Allah dan menjadi saksi, dan janganlah kebencian atas suatu kaum menyebabkan kamu tidak adil. Berlaku adilah kamu, karena adil itu lebih dekat kepada takwa (kebaktian). Bertakwalah kamu kepada Allah, karena sesungguhnya Allah amat mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Maidah: 8).

Allah SWT berfirman:

خذ العفو وأمر بالمعرف واعرض عن الجاهلين  (الاعراف: 199)

Berilah maaf dan anjurkanlah orang untuk berbuat adil dan hindarilah pergaulan dengan orang-orang bodoh (kecuali untuk mendidik mereka). (QS. al-A’raf: 199)

Sabda Rasulullah SAW:

اتق الله حيث ما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن    (رواه الحاكم والترمذي)

Bertakwalah selalu kepada Allah dimana saja kamu berada, dan iringilah selalu perbuatan salahmu dengan kebaikan, semoga dapat terhapus kesalahan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan selalu bersikap ikhlas (terpuji) (HR. al-Hakim dan Tirmizi).

  1. h. Tidak boleh bermusuh-musuhan

Rasulullah SAW bersabda:

عن ابى هريرة رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا تجسسوا ولا تسسو ولا تناجشوا وكونوا عبد الله اخوانا   (متفق عليه).

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda; janganlah kamu saling mendengki, saling membenci, saling mencari kesalahan yang lain, saling mengumpat dan jangan pula saling menipu. Tetapi jadilah kam hamba-hamba Allah penuh persaudaraan (HR. Bukhari dan Muslim).

Sabda Rasulullah SAW

سباب المسلم لسوق وقتاله كفر      (رواه بخارى ومسلم)

Mencerca seorang muslim adalah fasiq, dan membunuh seorang muslim adalah kufur (HR. Bukhri dan Muslim)

Sabda Rasulullah SAW:

انصر اخاك ظالما أو مظلوما         (رواه البخارى)

Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi (HR. Bukhari).

Sabda Rasulullah:

ليس منا من لم يرحم صغيرنا ولم يعرف حق كبيرنا        (رواه ابو داود وترميذي).

Tidak termasuk umatku orang yang tidak mengasihi generasi muda dan tidak menghormati orang tua (HR. Abu Daud dan Tirmizi)

Sabda Rasulullah:

تحجزه من ظلمه فذلك نصره

Hindarkanlah atau cegahlah dia dari bertindak aniaya itulah cara menolongnya.

Sabda Rasulullah:

المسلم اخو المسلم لا يظلمه ولا يخذ له (رواه ابو داود)

Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, karena itu tidak menganiaya saudaranya, tidak merendahkan derajatnya dan tidak menanggapinya sepele dan hina (HR. Abu Daud).

  1. i. Tidak boleh bermarahan.

Rasulullah SAW bersabda:

لا يحل لمسلم ان يهجر اخاه فوق ثلاث

Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari (HR. Bukari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Muwatha’ dan Ahmad).

Allah SWT berfirman:

يايها الذين امنوا كونوا قوامين لله شهداء بالقسط ولا تجر منكم شنان قوم على الا تعدلوا اعدلوا هو اقرب للتقوى ان الله خير بما تعملون           (المائدة: 8)

Wahai umat yang beriman, hendaklah kamu menjadi manusia yang lurus karena Allah dan menjadi saksi dan janganlah kebencian atas suatu kaum menyebabkan kamu tidak adil. Berlaku adillah kamu, karena adil itu lebih dekat kepada takwa (kebaktian). Bertakwalah kamu kepada Allah, karena sesungguhnya Allah amat mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Maidah: 8).

Allah SWT berfirman:

خذ العفو وأمر بالعرف واعرض عن الجاهلين      (الاعراف: 199).

Berilah maaf dan anjurkanlah orang untuk berbuat adil dan hindarilah pergaulan dengan orang-orang bodoh (kecuali untuk mendidik mereka).

Karena itu masyarakat  Minangkabau yang beradat dan beragama selalu dalam hidupnya diingatkan untuk mengenang hidup sebelum mati dan hidup sesudah hidup ini (dibalik mati) itu. Sesuai dengan peringatan Ilahi.

“ bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS.13, Ar Ra’du : 11).

Satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam “iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah”, dalam rangka pembinan negara dan bangsa keseluruhannya, semata untuk melaksanakan Firman Ilahi;

“Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan). (QS.28, Al Qashash : 77)

Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri anak nagari,

Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.”

Ketahuilah bahwa ni’mat Allah, sangat banyak.

Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS.16, An Nahl : 18).

Hukum Islam menghendaki keseimbangan antara  perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani ; “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist).

Keseimbangan tampak jelas dalam menjaga kemakmuran di ranah ini,   “Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

Hal ini seiring dengan bimbingan hadist Rasul SAW, Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”  (Hadist).

Dianjurkan, jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil.[1]

Diajarkan, bahwa Allah SWT telah menjadikan bumi mudah untuk digunakan. Maka, berjalanlah di atas permukaan bumi, makanlah dari rezekiNya, kepadaNya lah tempat kamu kembali.

Maka berpencarlah kamu di atas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”. (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

Karatau madang dihulu babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu dirumah paguno balun. Ditanamkan pentingnya kehati-hatian “Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”.

Agama Islam membangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu (space and time consciousness), kepada peredaran bumi, bulan dan matahari, yang menyebabkan pertukaran malam dan siang, dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun.

Menyia-nyiakan waktu, dengan pasti akan merugi. Maka, kehidupan mesti diisi dengan amal berguna.[2]

dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan ” (QS.78, An Naba’ : 10-11).

Malam itu disebut sebagai pakaian, karena malam itu gelap menutupi jagat sebagai pakaian menutupi tubuh manusia.

Jangan melewati batas, dan berlebihan. Jangan boros.

“Wahai Bani Adam, ailah perhiasanmu, pada tiap-tiap (kamu pergi) ke masjid (melakukan ibadah); dan makanlah dan minumlah, dan jangan melampaui batas; sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS..7, Al A’raf : 31)

Manusia diharuskan berusaha membanting tulang dan memeras otak, untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya, dan menikmatinya sambil mensyukurinya. Tuntutan syar’i (syarak mangato adaik mamakai) adalah, beribadah kepada Ilahi.

A. PENGERTIAN ‘URF DAN ‘ADAT

Ahli fiqh telah lama merangkum di dalam kajian mereka, pembahasan tentang tradisi manusia dan posisinya dalam syari’at Islam. Istilah yang mereka pergunakan untuk itu berkisar anatara ‘urf dan ‘adat. Dua term itu dianggap memiliki makna yang sama dalam pemahaman sebagian fuqaha’, namun ada yang melihatnya sebagai dua kata yang berbeda.

Terlepas dari perbedaan pendapat dalam melihat makna kata ‘urf dan ‘adat, Ahli fiqh telah merumuskan definisi ‘urf dalam posisinya sebagai suatu alternatif dalil dalam melahirkan hukum Islam. Majlis Majma’ al-Fiqh al-Islamiy mendefinisikan ‘urf

Segala yang dibiasakan oleh manusia dan mereka jadikan sebagai cara kehidupan baik dalam bentuk ucapan, tindakan maupun sesuatu yang mesti ditinggalkan, dimana adakalanya dipandang benar oleh syara’ dan adakalanya dipandang tidak benar.

Dari definisi di atas, dapat difahami bahwa ‘urf atau yang dikenal oleh masyarakat sebagai adat bukan hanya sekedar pepatah atau peribahasa. Dalam tinjauan hukum Islam, adat yang dipandang sebagai adat bukan hanya dalam tataran filosofis. Namun Fiqh Islam melihatnya dalam suatu keutuhan tradisi baik dari sisi falsafah maupun dari sisi penerapan falsafah itu.

Klasifikasi mu’tabar dan ghairu mu’tabar atau shahih dan fasid yang telah digariskan oleh fuqaha` berdasarkan petunjuk Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah saw, menjadi landasan kuat dalam menilai adat apapun yang ditemukan dalam masyarakat muslim tanpa mempersoalkan apakah kemunculan adat itu setelah diterimanya hidayah Islam atau belum.

Adat yang dipandang tidak benar dalam syari’at Islam merupakan sesuatu yang harus ditinggalkan seorang muslim sebagai konsekwensi kebenaran syahadatnya. Apabila seorang muslim berkeberatan meninggikan ketentuan Allah swt dari segala ciptaan nenek moyang yang diwarisinya secara turun temurun, tentu keyakinannya akan kesempurnaan Allah swt dan kesempurnaan syari’at yang diturunkannya menjadi ternoda.

B.  ADAT MINANGKABAU

Masyarakat Minangkabau dengan segala kelapangan berfikirnya, sangat sangat mengerti dengan adat sebagaimana penjelasan di atas.  Suatu langkah awal telah dicanangkan melalui semboyan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Syara’ Mangato Adat Mamakai. Ini merupakan pernyataan tulus masyarakat Minang untuk menerima Islam secara utuh(Kaffah).

Langkah awal yang baik apabila tidak dilanjutkan, tentu hanya akan menjadi kebanggaan kenangan. Dan tidak jarang dijumpai langkah awal dianggap sebagai langkah akhir.  Pencanangan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Syara’ Mangato Adat Mamakai merupakan landasan perjuangan bersama masyarakat Minang dalam memasuki Islam secara kaffah. Kenyataan seperti di atas perlu disadari dan tidak ada lagi dari masyarakat minang yang menganggap ini merupakan akhir dari suatu proses ketundukan kepada Allah.

Kata adat berasal dari bahasa Sangskerta, dibentuk dari kata “a” dan “dato”. “A” artinya tidak. “Dato” artinya sesuatu yang bersifat kebendaan. Jadi “adat” pada hakikatnya adalah segala sesuatu yang tidak bersifat kebendaan. Hal ini merupakan lanjutan dari kesempurnaan hidup, di mana nilai kehidupan tidak terpaku kepada nilai-nilai benda atau kekayaan yang dimiliki.

Menurut latar belakang sejarahnya, kesadaran tentang adat muncul semasa masyarakat hidup makmur, penduduk sedikit sedangkan kekayaan alam berlimpah ruah. Pada saat itu manusia sampai kepada kesadaran akan adat, yakni kesadaran bahwa nilai sesuatu bukan diukur dengan benda. Selagi manusia masih diperhamba harta-benda, pada saat itu pula manusia dapat dikatakan belum beradat.

Adat Minangkabau terbentuk sejak orang Minang mengenal pandangan hidup yang berpangkal pada budi. Budi dihayati berdasarkan pengamatan yang berguru kepada alam takambang, artinya berdasarkan ketentuan-ketentuan yang nyata yang terlihat pada alam semesta. Alam memberi contoh dan inspirasi kepada umat manusia tentang budi, yang ikhlas memberi tanpa mengharap balas. Matahari dan bulan misalnya, memberi contoh dalam menerangi alam, tanpa mengharap balasan dari manusia atas nikmat terang yang diberikannya.

Bagi orang Minangkabau, adat adalah sebagian dari jiwanya. Segala perbuatan baik harus disertai dengan kata-kata adat; berkata beradat, duduk beradat, berjalan beradat, makan-minum beradat dan bergaul beradat. Mereka yang tidak mengindahkannya, dikatakan tidak beradat.

Di Minangkabau, adat itu awalnya tunggal. Tetapi mengingat terjadi perkembangan di tengah masyarakat, maka untuk meresponi perkembangan tersebut adat yang tunggal itu dikembangkan menjadi empat, yakni : Adat Nan Sabana Adat, Adat nan Diadatkan, Adat nan Teradat, dan Adat-istiadat.

Pertama, Adat Nan Sabana Adat, adalah aturan pokok dan falsafah yang mendasari kehidupan suku Minang yang berlaku turun temurun tanpa terpengaruh tempat, waktu dan keadaan sebagaimana dikiaskan dalam kata-kata adat: Nan tak lakang oleh panas, Nan tak lapuk oleh hujan. Di antara Adat nan sabana Adat tersebut adalah aturan Syara’ (agama Islam), berdasarkan al-Qur’an al Karim dan hadits Nabi saw., serta hukum adat yang dilegitimasi oleh hukum Islam atau hukum Islam yang dalam pelaksanaannya mengikuti keadaan dan perkembangan kehidupan masyarakat. Dari sumber-sumber inilah diambil prinsip adat, yang dikenal dengan ungkapan Adat bersendi Syara’, Syara’ bersendi Kitabullah.

Dalam perkembangan pengamalan prinsip tersebut, muncul pepatah mengiringinya: Syara’ mengata, adat memakai, artinya landasan suatu pekerjaan itu diambilkan dari syara’, dari Al-Qur’an dan Sunnah. Lalu dipakai atau dibudayakan di tengah masyarakat menurut ketentuan adat. Dalam pemaparan Syara’ dan Adat kepada masyarakat, dikenal ungkapan, Syara’ bertelanjang, adat bersesamping, maksudnya: apa yang dikatakan oleh Syara’ bersifat tegas dan terang, akan tetapi setelah diamalkan dalam bentuk adat, ia diatur dalam prosedur sebaik-baiknya. Sedangkan dalam upaya pembudayaannya dikenal pepatah, Adat yang kawi, Syara’ yang lazim, maksudnya, adat tidaklah berdiri kokoh kalau tidak di-kawi-kan (berasal dari kata  qawwiyun = kuat). Syara’ tidak akan berjalan kalau tidak dilazimkan (diwajibkan).

Perlu dicatat bahwa Adat bersendi Syara’, Syarak bersendi Kitabullah ini adalah merupakan periode ketiga dalam hubungan adat dan agama Islam di Minangkabau, yakni setelah terjadi Perjanjian Bukit Marapalam (sekitar l833) mengakhiri perseteruan antara kaum Paderi dengan kaum Adat.

Pada periode pertama, menurut Amir Syarifuddin, adat dan hukum Islam berjalan sendiri-sendiri dalam batasan yang tidak saling mempengaruhi, yang dimunculkan dalam pepatah adat, Adat bersendi Alur dan Patut, dan Syara’ bersendi Dalil. Hal ini terjadi pada masa awal Islam di Minangkabau, di mana dominasi adat begitu kuat dan Islam belum lagi masuk dalam sistem masyarakat.

Periode Kedua, adalah periode adat dan Islam telah masuk dalam sistem sosial masyarakat, namun pengaruh Islam belum kuat. Pada waktu ini nilai-nilai moral yang dibawa Islam sejalan dengan adat Minangkabau, sehingga melahirkan pepatah adat, Adat bersendi Syara’, Syara’ bersendi Adat. Baru pada Periode Ketiga, setelah perjanjian Bukit Marapalam, ditetapkan Adat bersendi Syara’, Syarak bersendi Kitabullah.

Kedua, Adat nan  Diadatkan, adalah hukum-hukum adat yang diterima dari Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih nan Sabatang, yang pokoknya adalah : Cupak nan dua, Kato nan empat, Nagari nan empat dan Undang-undang nan empat. Adapun yang dimaksud Cupak nan dua, adalah cupak usali dan cupak buatan, (lebih lanjut tentang Cupak nan duo, lihat entri  Cupak).

Kato Nan Empat disebut juga Kato Adat, yaitu: Kato Pusako, Kato Mufakat, Kato Dahulu ditepati dan Kato Kemudian Kato dicari. Yang dikatakan Kato Pusako, adalah : Kato Rajo malimpahkan, kato panghulu manyalasaikan, kato malim kato hakekat, kato manti kato manghubung, kato dubalang kato mandareh, kato rang banyak kato babaluak (Kata raja Kata mendelegasikan, Kata penghulu Kata untuk menyelesaikan masalah, Kata alim-ulama Kata hikmah, Kata manti Kata menghubungkan, Kata dubalang bernada keras, Kata orang banyak beragam pendapat).

Selanjutnya Kato Dahulu ditepati, artinya suatu kata yang sudah disepakati harus ditepati. Kato kemudian Kato dicari, adalah sesuatu yang belum ada permufakatannya, atau telah ada kemufakatannya, tapi tidak cocok lagi dengan kondisi yang berkembang, lalu dicarikan kemufakatan baru.

Nagari nan Empat : pertama dusun, kedua taratak, ketiga koto, keempat nagari. Sedangkan Undang-ndang nan Empat adalah ; Undang-Undang Nagari, Undang-Undang dalam Nagari, Undang-Undang Orang Luhak dan Undang-Undang nan Dua Puluh.

Undang-Undang Nagari, pada prinsipnya memuat dasar-dasar kekeluargaan dan persyaratan suatu nagari sehingga dianggap syah ia menjadi nagari. Menurut Datuk Sangguno Dirajo, nagari sekurang-kurangnya harus memiliki lima syarat:

1.Balabuah, jalan tempat orang keluar masuk dalam negari,

2.Batapian, tempat penduduk mengambil air, mandi dan buang air,

3.Babalai, tempat penghulu duduk dan memperkatakan adat,

4.Bamusajik, tempat orang bersidang Jumat dalam negari menurut syara’,

5.Bagalanggang, suatu tanah lapang pamedanan yang dijadikan oleh anak negari, tempat berkumpul pagi dan petang.

Undang-Undang dalam nagari, merupakan etika perhubungan anak dalam nagari, yang terangkum dalam untaian kata-kata adat berikut:

Salah cencang memberi pampas, salah bunuh memberi diat, salah makan memuntahkan, Salah ambil mengembalikan, salah kepada Allah minta taubat, gawa mengubah, cabul membuang, adil yang dipakai, berbenturan berbayaran, bersalahan yang berpatut, gaib berkalam Allah, berebut diketengahkan, suarang diagih sekutu dibelah, mengambil mengembalikan, meminjam mengantarkan, utang dibayar piutang diteriama, jauh berhimbauan dekat bertarikan.

Adapun Undang-undang luhak adalah merupakan pakai segala raja dan penghulu di alam Minangkabau, yang terangkum dalam kata-kata adat berikut:

Luhak yang perpenghulu, rantau yang mempunyai raja, tegak yang tidak tersundak, Melenggang yang tidak terpampas, terbujur lalu terbelintang patah, begitu permainan segala penghulu

Sedangkan Undang-Undang nan Dua Puluh, diklasifikasikan atas dua bagian, yakni: Undang-Undang nan Delapan untuk menyatakan perbuatan kejahatan, dan Undang-Undang nan Dua Belas untuk menyatakan tanda bukti melanggar undang-undang. Yang termasuk Undang-undang yang delapan adalah:

l. Tikam–bunuh (menikam dengan senjata tajam hingga melukai, bunuh  mengakibatkan korban mati)

2. Upas–racun (upas memberi racun tapi tidak mati, racun mengakibatkan mati).

3. Samun–sakar (samun mengambil barang orang dengan kekerasan, tapi tidak membunuh.  Sakar, merampas dengan membunuh korban)

4. Siar–bakar (membakar ladang, rumah tidak hangus semua, bakar sampai   hangus semua)

5. Maling–curi (maling, mengambil barang di rumah orang malam hari, curi mengambil barang orang siang hari)

6. Rebut–rampas (rebut mengambil barang orang dengan menariknya secara kekerasan. Rampas mengambil barang orang dengan menodong / bahkan membunuhnya)

7. Dago–dagi (dago membantah adat yang biasa, dagi membatah adat yang kawi sampai membuat kekacauan)

8. Sumbang–salah (Sumbang, perbuatan yang menyalahi pandangan umum, umpanya berduaan perempuan dengan laki-laki. Salah, perbuatan berduaan dengan perempuan yang melangar adat / agama, umpamanya tertangkap berzina).

Selanjutnya Undang-undang Dua Belas dibagi dua. Undang-undang Pertama, Menjadi induk bagi yang kedua. Bagian pertama ialah: (1) Terlelah terkejar, (2) Tercencang teretas, (3) Terlecut terpukul, (4) Putus tali, (5) Tambang ciak, (6) Enggang lalu antah jatuh, itulah tanda bukti namanya.

Bagian kedua ialah: (1) Siang bersuluh matahari, Bergelanggang mata orang banyak, (2) Berjalan bergegas-gegas, (3) Pulang-pergi berbasah-basah, (4) Menjual murah-murah, (5) Dibawa pikat dibawa langau (lalat), (6) Terbayang tertebar, cenderung mata orang dalam negeri, semuanya adalah tanda bukti.

Barang siapa melalui atau melanggar pekerjaan demikian; “aniaya” namanya. Sedangkan yang dilalui atau yang terlanggar “teraniaya” namanya. Orang yang menganiaya itu menjadi lawan orang banyak dalam negeri.

Ketiga, Adat nan Teradatkan, Adalah kebiasaan yang boleh ditambah atau dikurangi, dan boleh juga ditinggalkan, jadi dapat berubah-ubah berdasarkan permufakatan para penghulu dalam suatu suku atau nagari atau suatu luhak. Karena itu bisa terjadi lain nagari lain adatnya, lain padang lain belalangnya, lain lubuk lain ikannya. Di sinilah berlaku ungkapan, cupak nan sapanjang batuang, adat nan salingka nagari. Bagi mereka yang pindah nagari atau merantau, berlaku ketentuan : di mana sumur digali di situ ranting dipatahkan, di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung, di mana negeri dihuni di sana adat dipakai

Contoh lain nagari lain adatnya : ada beberapa suku yang anggotanya tidak boleh kawin-mengawini, seperti suku Jambak, Patapang, Sumpu dan Kuti Anyie, tidak boleh kawin dengan salah satu suku yang empat itu. Jika orang-orang suku itu akan kawin, harus di luar suku yang empat tersebut. Sebaliknya ada pula orang dalam satu suku boleh saling kawin-mengawini, seperti orang suku Sumagek, boleh kawin dengan orang sama-sama suku Sumagek. Namun dalam hal-hal yang menyangkut dengan penghulu dan pewarisan, berlaku nan sabana adat. Oleh sebab itu Adat nan Teradatkan tidak boleh berlawanan dengan Nan sabana Adat.

Keempat, Adat Istiadat, adalah suatu kelaziman dalam suatu nagari, baik antara sesama masyarakat, antara orang perorang, di mana orang yang berhak meminta akan haknya, seperti : alam diperintah raja, Agama diperintah malin, nagari di perintah penghulu. Kampung diperintah tua kampung, rumah diperintah mamak, isteri seperintah suami. Tegasnya, memberikan legitimasi kepada orang sesuai dengan fungsi dan keberadaannya masing-masing.

Semua harus sesuai prosudur dan pembahagian kerjanya, namun tetap dalam suatu kerangka kerjasama yang utuh. Inilah suatu prinsip yang sangat membantu orang Minang bisa menerima keadaan sosial politik yang berkembang, karena adat-istiadat yang sudah menjadi kultur baginya telah menempatkan orang sesuai fungsi dan posisinya masing.

Adat istiadat merupakan satu sistem sosial kemasyarakatan yang dikembangkan sesuai dengan masa, tempat dan aturan sosial yang berlaku di zamannya, ia tidak tetap seperti itu saja dari masa ke masa. Sebagaimana kata pepatah: “Sekali aie gadang, sekali tapian baralih. Sakali musim batuka, sakali caro baganti ( Sekali air besar/banjir/meluap, sekali tepian beranjak/ bergeser. Sekali musim bertukar, sekali cara berganti). Dapat juga dikatakan Adat Istiadat itu adalah kreasi budaya masyarakat Minang yang dapat berubah  sesuai keadaan dan tempat serta perkembangan yang terjadi, namun semuanya dalam batasan Adat nan Sabana Adat.

  1. A. ADAT BASANDI SYARAK

Adat bagi masyarakat telah terbentuk sejak orang Minang mengenal dirinya dalam bentukan masyarakat, yang dimulai dari Taratak, Koto dan Nagari.adat berdasarkan alur dan patut Adat pada tahap awal ini disandarkan atau didasarkan pada apa yang disebut “, alur bersandarkan patut dan mungkin”.

Alur artinya jalan yang benar,

Patut dan mungkin artinya  yang layak, senonoh, baik, pantas, selaras. Patut merupakan perkiraan keadaan ( etimasi ) pertimbangan rasa dan daya pikir atau nalar.

Berkelindannya adat dengan agama Islam telah berlangsung sejak Islam itu menjadi pegangan hidup bagi orang minang disamping adatnya sendiri. Sejalannya dua pandangan hidup ini sangat munkin sekali terjadi, karena Islam sebagi ajaran yang sempurna membawa tatanan tentang apa yang harus diyakini oleh pemeluknya yang disebut aqidah dan tatanan yang harus dilakukan (diamalkan) yang disebut dengan syari’ah atau syara’. Yang berhubungan dengan aqidah, khususnya masalah ketuhanan tidak jelas ujudnya dalam adat Minangkabau, hanya sekadar falsafah alam nyata saja. Tidak ditemukan bagaimana ajaran adat minang tentang kehidupan setelah kematian atau kehidupan alam akhirat.

Maka dalam pepatah adat disebutkan:

Si Amat mandi ke luhak,Luak perigi paga bilah, Bilah bapilah kasadonyo,Adat basandi syara’ Syara’ basandi kitabulallah,Sanda manyanda kaduonyo. Pinang masak bungo bakarang, Timpo-batimpo saleronyo, Jatuh baserak daun sungkai,Tiang tagak sandi datang, Kokoh mangokoh kaduonyo, Adat jo syara’ takkan bacarai.

Prinsipnya ajaran adat lebih memberikan panduan pada tatanan bagaimana orang harus menjalani kehidupan dialam nyata ini. Ajaran adat Minangkabau lebih memberikan bimbingan tentang moralitas bagi masyarakatnya.

Seperti yang dapat dipahami dari pepatah adat: Gajah mati meninggakan gading, Harimau mati maninggakan balang, Manusia mati maninggakan jaso.

Disamping itu ajaran Islam yang bersifat kemasyarakatan banyak sekali sesuai dengan semangat adat Minang, maka tidak perlu adanya perseteruan antara adat dan agama sebagai contoh dapat ditemukan pada pepatah adat : Ado katomandaki, koto manurun, kato malereang, kato mandata. Artinya ada kata yang mesti ditempatkan pada kondisi siapa lawan bicara, jika dengan anak kecil disebut kata menurun, mestilah dengan cara lemah lembut, sedangkan dengan orang lebih besar kato mandaki haruslah dengan penuh hormat dan sopan santun, dengan orang yang sama besar mak disebut kata mendatar artinya saling menghargai, kata melereng adalah bahasa sindiran bagi orang yang hubungan kekerabatan dalam bentuk ipar-bisan.

Ajaran adat basyandi syarak pada hakikatnya dirumuskan dalam satu sistem yang mudah, sederhana namun memiliki makna yang dalam mendasar. Sistem itu diungkap dalam satu konvensi (kesepakatan umum) yang dikenal dengan tahu di Nan Ampek, yaitu:

  1. Adat terdiri atas empat jenis:
    1. Adat nan sabana adat (Prinsip dasar adat, yaitu Ajarah Islam)
    2. Adat nan diadatkan (Pelaksanaan adat hasil kesepakatan)
    3. Adat nan teradat (kebiasaan yang berlaku daaerah setempat)
    4. Adat istiadat (sistim seni, budaya dan peradaban)
    5. Nagari terdiri atas empat dasar:
      1. Taratak ( lingkungan yang dihuni satu keluarga sa-paruik)
      2. Dusun( lingkungan yang dihuni satu keluarga sa-jurai)
      3. Koto ( lingkungan yang dihuni satu suku)
      4. Nagari ( lingkungan yang dihuni beberapa suku)
      5. Kato-kato adat sebagai dasar hukum adat ada empat macam:

a.  Kato pusako (konsep dasar adat Minangkabau yang ada dalam  bahasa)

b. Kato mufakat (keputusan yang diambil dalam satu permusyawaratan)

  1. Kato dahulu patapati (janji yang sudah disetujui harus dipenuhi).
  2. Kato kamudian kato bacari (perubahan harus disepakati bersama)
    1. Undang-undang terdiri atas empat macam:
      1. Undang-undang luhak (peraturan mengikat seluruh alam Minangkabau).
      2. Undang-undang nagari (perauran pokok tentang seluruh nagari).
      3. Undang-undang dalam nagari (paraturan pada nagari tertentu),
      4. Undang-undang Duo Puluah( peraturan pidana adat)
  1. Hukum adat ada empat macam:
  1. Hukum ilmu ( hukum berdasarkan fakta ilmiah dan alamiah).
  2. Hukum bainah (hukum yang dtegakkan berdasarkan sumpah).
  3. Hukum kurenah(hukum  yang ditetapkan berdasarkan indikasi).
  4. Hukum perdamaian (hukum yang didasarkan peramaian)
      • Cupak terdiri atas empat macam:
      1. Cupak asli (usali),
      2. Cupak Buatan,
      3. Cupak Tiruan,
      4. Cupak nan Piawai.
          1. Asal suku di Minangkabau ada empat:
          1. Bodi,
          2. Caniago,
          3. Koto,
          4. Piliang.

          Hakikat ajaran adat Minangkabau ada empat macam

          1. Raso.
          2. Pariso,
          3. Malu
          4. Sopan

        Sifat seorang pimpinan dalam adat Minangkabau empat macam:

      1. 1.  Bana,
      2. Cadiek (cerdik dan cerdas),
      3. Dpercaya lahir dan bathin
      4. Pandai berbicara (arif mengungkapkan pikiran).

10.  Tugas pimpinan dalam masyarakat ada empat macam:

  1. Manuruik alua nan lurui
  2. Manuruik jalan nan pasa
  3. Mamaliharo anak-kamanakan
  4. Mempunyai tangan/memelihara harta pusaka.

11.  Larangan bagi pimpinan ada empat macam:

  1. Mamakai cabua sio-sio
  2. Maninggakan siddiq dan tabliq
  3. Mahariak mahantam tanah
  4. Bataratak bakato asiang.

12.  Ilmu terdiri atas empat macam:

  1. Tahu pada diri
  2. Tahu pada orang
  3. Tahu pada alam
  4. Tahu pada Allah SWT.

13.  Paham terdiri atas empat macam:

  1. Wakatu bungo kambang
  2. Wakatu angin lunak
  3. Wakatu parantaraan
  4. Wakatu tampek tumbuah.

14.  Asal kebenaran ada empat macam:

  1. Dari dalil kato Allah
  2. Dari hadits kato Nabi
  3. Dari kato pusako
  4. Dari kato mufakat.

15.  Penerbitan kebenaran/cara berpikir ada empat macam:

  1. Pikia palito hati
  2. Nanang ulu bicaro
  3. Aniang saribu aka
  4. Sabar bana mandatang.

16.  Yang menjauhkan sifat kebenaran ada empat macam:

  1. Dek takuik sarato malu
  2. Dek kasiah sarato sayang
  3. Dek labo sarato rugi
  4. Dek puji sarato sanjuang.

17.  Yang menghilangkan kebenaran ada empat macam:

  1. Dek banyak kato-kato
  2. Dek kurenah kato-kato
  3. Dek simanih kato-kato
  4. Dek lengah kato-kato.

18.  Jalan yang akan dilalui dalam pergaulan ada empat macam:

  1. Jalan mandata
  2. Jalan mandaki
  3. Jalan manurun
  4. Jalan malereang.

19.  Jalan dunia menurut adat Minangkabau ada empat macam:

  1. Ba-adat
  2. Balimbago
  3. Bacupak
  4. Bagantang.

20.  Jalan untuk mencapai akhirat yang baik ada empat macam:

  1. Beriman
  2. Bertauhid
  3. Islam
  4. Berma’rifat.

D. POKOK-POKOK ADAT

  1. Makna Adat
  2. Nilai-Nilai dasar ABS-SBK.
  3. Empirik (Alam Takambang Jadi Guru).
  4. Egaliter.( Di dahulukan salangkah).
  5. 5.Musyawarah.
  6. (Bulek kato jo mufakat)).
  7. Kekerabatan (Materilinial/garis ibu).
  8. Komunal.( Duduk surang basampik).
  9. Fungsional (Nan Buto Pahambuih lasung).
  10. Etika Sosial (Batanyo Lapeh Arak).
  11. Arif bijaksana (Alun takilek dan taraso).
  12. Piawai(Kato Bajawek Gayung Basambuik).
  13. Silogisme (Lantai ditembak hidung kanai).
  14. Hermenutika (Membaca yang tersirat).
  15. Imanjener ( Spekulasi Berfikir).
  16. Inovatif ( Sekali air gadang).
  17. Kreatif(Usang-usang diperbaharui).
  18. Dinamis (Karatau Madang dihulu).

17. Apresiatif  (Inggok basicakam, tabang basitumbu).

18. Adaptasi (Dimana langit dijunjug).

19.  Merantau (Induk Samang cari dahulu).

E. STRUKTUR

DEMOGRAFI:

TARATAK, DUSUN, KOTO,NAGARI DAN ALAM.

KEKERABATAN:

SAPARUIK, SAJURAI, SAKAUM, SASUKU, SA NAGARI, SA ALAM

WILAYAH BUDAYA:

KALARASAN BUDI CHANIAGO, KALARASAN KOTO PILIANG.

KEPEMIMPINAN :

URANG 4 JENIS ;

PENGHULU, MANTI, MALIN DAN DUBALANG. TUNGKU TIGO SAJARANGAN (NINIKMAMAK, ALIM ULAMA CARDIK PANDAI.

URANG JENIS NAN 4 ;

IMAM, KHATIB, BILAL DAN QADHI.

POLITIK:

DAERAH ASLI(DAREK), PINGGIRAN (RANTAU)

F. PRINSIP DASAR ADAT

ADAT SA SUKU, MEMELIHARA SISTIM SOSIAL

SAKO, MEMILIKI HAK GELAR ADAT

PUSAKO, HAK PENGUASAN HARTA PUSAKA

FALSAFAH, ALAM TAKAMBANG JADI GURU

NORMA, ALUA, PATUIK, MALU JO SOPAN

BUDAYA, RUMAH GADANG, LUMBUNG, KESEJAHTERAAN

AGAMA, SURAU, AGAMA, ADAT, KEPATUTAN

TAPIAN, SARANA JALAN DAN SUMBER HIDUP.

PANDAM PAKUBURAN, KEMATIAN DAN ADATNYA.

  1. Hubungan Sosial

MATRILIAL, MAMAK, ETEK, MANDE, KEMANAKAN,

PATRILINIAL, BAKO,  ANAK PISANG, ANAK MAMAK, ETEK.

TALI BUDI, SA SUKU, SUKU MALAKOK,

INGOK MANCAKAM, TABANG BASITUMPU.

MENGISI ADAIK JO LIMBAGO.

DAGING DI LAPAH, DARAH DI CACAH, SAHINO, SA MULIA.


[1] QS.4, An Nisak : 97.

[2] QS.16 : 17 dan QS.14,Ibrahim : 33.

Masoed Abidin’s Notes ….MEMAKNAI ZIKRULLAH ……. Menjelang Shalat Dhuha di pagi ini

MEMAKNAI ZIKRULLAH ……. Menjelang Shalat Dhuha di pagi ini

OLEH : H. MAS’OED ABIDIN

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman,
berzikirlah (dengan menyebut) Nama Allah,
zikir dengan sebanyak-banyakya.”
(Q.S. Al Ahzab: 41)

Salah satu wasilah atau cara agar selalu berkomunikasi dengan Allah
adalah berzikir (Zikrullah).
Zikir berasal dari akar kata dalam bahasa Arab; zakara, yazkuru, zikran.

Zikir secara harfiah berarti ingat dan sebut.
Ingat adalah gerak hati, sedangkan sebut adalah gerak lisan.
Zikrullah berarti mengingat Allah.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa zikir
mengandung dua pengertian yakni zikrul lafzhy dan zikrul ma’nawy.

Zikrul lafzhy adalah zikir yang mengandung puji-pujian kepada Allah,
baik berupa tasbih, tahmid, tahlil
yang dilafazkan dengan lisan.

Sedangkan zikrul ma’nawy adalah
zikir dengan mengingat Allah dalam hati,
baik ketika diberikan Allah nikmat atau sebaliknya.

Kedua bentuk zikir ini tidak dapat dipisahkan,
ia saling berkaitan satu dengan lainnya.

Misalnya,
ketika seorang mukmin mendapatkan suatu nikmat dalam hidupnya,
maka ia akan langsung ingat kepada Allah,
bahwa nikmat itu adalah pemberian-Nya,
setelah itu ia akan mengucapkan puji-pujian kepada Allah
sebagai tanda syukurnya.

Zikir terdiri dari empat bagian yang saling terikat,
tidak terpisahkan,
yaitu zikir lisan (ucapan),
zikir qalbu (merasakan kehadiran Allah),
zikir ‘aql (menangkap bahasa Allah di balik setiap gerak alam),
dan zikir amal (taqwa).

Idealnya zikir itu berangkat dari kekuatan hati
ditangkap oleh akal,
dan diucapkan dengan lisan,
lalu dibuktikan dengan ketaqwaan;
yang tampak di dalam amal nyata di dunia ini.

Zikir adalah perintah Allah kepada orang-orang yang beriman.
Maka orang yang beriman adalah orang yang banyak berzikir.
Kurang iman, kurang zikir.
Tidak beriman tidak akan berzikir.
Berzikir berarti taat kepada perintah Allah.

Prakteknya, zikir bisa dilakukan dalam keadaan berdiri,
ketika duduk atau dalam keadaan berbaring.

Allah SWT berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu),
ingatlah Allah (fazkurullaha) di waktu berdiri,
di waktu duduk, dan diwaktu berbaring …”
(Q.S. An Nisa’ : 103)

Zikir dapat pula dilakukan di mesjid, mushalla,
di rumah, di kantor, di pasar,
atau di jalan sekalipun,
dan bisa dilakukan sendiri-sendiri atau berjama’ah (dalam majelis).

Tempat zikir berada di dalam hati,
bukan hanya diujung lidah belaka.

Zikir dilakukan dengan qalbu menjadi khusyu’,
khudhu’, tadharru’, tawadhu’,
dan yang melahirkan rasa khauf dan raja’,
dilakukan di setiap kesempatan,
pagi dan petang, siang dan malam.

Allah SWT berfirman :

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ
بِالْغُدُوِّ وَاْلآصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (Nama) Tuhanmu dalam hatimu
dengan merendahkan diri dan rasa takut,
dan dengan tidak mengerasakan suara,
di waktu pagi dan petang,
dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”
(Q.S. Al-A’raf: 205)

Zikir adalah pangkal ketentraman, ketenangan dan kedamaian.
Allah adalah sumber ketenangan dan kedamaian.
Maka untuk mencapai kedamaian dan ketenangan
jalannya adalah mendatangi sumbernya
dan membersamakan diri dengan-Nya.

Zikir itulah jalan pembersamaan (ma’rifatullah).

Firman Allah :

… أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

“… Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku,
niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…”
(Q.S. Al Baqarah: 152).

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“…… (Yaitu) orang-orang yang beriman
dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah.
Ingatlah ….,
hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram.”
(Q.S. Ar Ra’d: 28)

Adapun orang yang meninggalkan zikrullah
berarti ia telah membuka keleluasaan syetan untuk menguasainya.

Allah SWT berfirman:

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ
أَلاَ إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Syetan telah menguasai mereka
dan menjadikan mereka lupa mengingat Allah (zikrullah);
mereka itulah golongan syetan.
Ketahuilah …..,
bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah
golongan yang merugi.”
(Q.S. Mujadilah: 19)

Hujjatul Islam Imam Al Ghazali dalam Ihya ‘Ulum Ad Din berkata:
“Ketahuilah bahwa orang-orang yang memandang dengan cahaya bashirah
mengetahui bahwa tidak ada keselamatan kecuali
dalam pertemuan dengan Allah SWT.
Dan tidak ada jalan untuk bertemu Allah kecuali
dengan kematian hamba dalam keadaan menyintai Allah
dan mengenal Allah (hubbullah dan ma’rifatullah).

Sesungguhnya cinta dan keakraban
tidak akan tercapai
kecuali dengan selalu mengingat yang dicintai.

Sesungguhnya pengenalan kepada-Nya
tidak akan tercapai
kecuali dengan senantiasa berfikir
tentang berbagai penciptaan Allah,
sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala….

Hubbullah dan ma’rifatullah hanya dapat dicapai
dengan mengoptimalkan waktu-waktu malam dan siang
untuk bertafakkur dan berzikir. “

الحَمْدُ ِللهِ غَافِرِ الذَّنـْبِ وَ قَابِلِ التَّوْبِ شَدِيْدِ العِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِلَيْهِ اْلمَصِيْرُ

َ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، يُسَبِّحُ لَهُ مَا فيِ السَّموَاتِ وَ مَا فيِ الأَرْضِ
لَهُ المُلْكُ وَ لَهُ الحَمْدُ، وَ هُوَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

َ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، البَشِيْرُ النَّذِيْرُ، وَ السِّرَاجُ المُنِيْرُ

صَلَوَاتُ اللهِ وَ سَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَ عَلىَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ
وَ عَزَّرُوْهُ وَ نَصَرُوْهُ وَ اتـَّبَعُوْا النُّوْرَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ
وَ رَضِيَ اللهُ عَمَّنْ دَعَا بِدَعْوَتِهِ وَ اهْتَدَى بِسُنَّتِهِ، وِ جَاهَدَ جِهَادَهُ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنُِ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

Report Note ;

Donna Savitri at 12:29 on 15 June, Terimo kasih atas tausiahnya

Sara Dewi Mangil at 13:31 on 15 June, Alhamdulillah, tks buya

Pepi Agum Widianti at 14:55 on 15 June, Alhamdulillah, Buya terima kasih atas silaturrahim yang telah terpaut, subhanallah memberikan bgitu banyak manfaat. Terima kasih telah berbagi dan mengingatkan.

Titin Anggraini at 15:40 on 15 June, Terima kasih buya masih mau mengingatkan kami yang sering lupa…. mudah-mudahan ini semua bermanfaat untuk kami di dunia dan akhirat. Tin tunggu siraman rohani lainnya dari buya, thanks buy….

Alex Lincoln at 16:42 on 15 June, Ass Alhamdulillah… Semoga tulisan Buya ini akan menjadi manfaat bagi kami sekeluarga beserta saudara saudara kita seiman yang sempat membacanya dan sekaligus menjadi ilmu yang bermanfaat bagi Buya, Amiiiiiiiiiiiin…

Susianti Annisa H at 17:20 on 15 June, Syukran Buya tas tausiyahnya… Susi tunggu tausiyah brikutnya… Mg Buya slalu d lindungi oleh Allah…

Dwi Mutia at 19:44 on 15 June, alhamdullillah, trima kasih byk tausiahnya buya..

Rauf Jabbar at 21:29 on 15 June, Alhamdullilah, semoga Allah senantiasa melimpahkan Rahmat nya buat kita semua dan klg kt dgn slalu ingat kpd Nya, Amiiiiin

Fitri Adona at 10:00 on 16 June, Alhamdulillah. Terimakasih Buya. Saya akan ingat selalu.

Awenk Hasyim at 16:18 on 17 June, Terima kasih buya….Semoga ini dapat meningkatkan ibadah kami..Amiin.

Abdul Hamid Damanik

Aristo Munandar

Auda Thariq

Rafika Dewi

Shofwan Karim

Nina Karmilawati

Dewi Mutiara

Roland Y. Mandailiang

Roni Patihan

‘Ain Syams Al-Qohiroh

Haja Aini Addini

Rina Fajri Nuwarda

‘Dewis’ Is Sikumbang

Asnelly Dewiyanti

Dyan Eka Putri

Marlis Rahman

Lily Maria Yulis

Asraferi Sabri

Ivo Sabrina

Deri Manoppo

Deri Marta

Meidia Utami

Anita Kencanawati

Linda Gustaf

Rusli Zainal

Mambang Mit

Rika Mitaliani

Rachman Chalid

Rainal Rais

Pasan Rang Gaek (3), Tau di nan Ampek

Pasan Rang Gaek

Tau di nan ampek

Diulang-ulang baliek dek :

Buya H.Mas’oed Abidin

(JPEG Image, 227×269 pixels) BuyaDi ranah bundo Minangkabau ko ado ampek macam kato-kato, atau caro manyampaikan parundiangan.

Ado namonyo kato mandaki, dari bawah ka ateh, aratinyo dari anak-anak  ka urang tuo, dari  kamanakan  ka mamak, nan samustino mamakai caro-caro sopan santun.

Talabiah-labiah bakeh urang tuo (bapak mandeh) nan alah malahiakan kito, manggadangkan jo maaja awak.

Sasuai bana jo ajaran agamo Islam, kok mangecek ka mandeh nantun bapakaikan qaulan kariman, aratino kato-kato nan lamah lambuik, kato-kato nan panuah ka muliaan.

Ado pulo namono kato malereang, nan panuah ba isi kieh jo bandiang, baisi patunjuak jo pangaja, biasonyo di pakai dalam pambicaraan antaro urang arih bijaksano.

Ado lo tampek malatakkanno.

Indak hanyo sakadar mambaco apo nan tampak, tu.

Inyo indak mangecek apo nan takana, tapi labiah dahulu mangana-ngana apo nan ka di kecekkan.

Buah tutua nyo [anuah baisi hikmah pangaja.

Kadang-kadang batingkah jo pituah jo papatah.

Aluih tasamek di dalam bana, ta latak di dalam hati, sajuak di kiro-kiro.

Ado lo namono kato mandata, kato bajawab gayuang basambuik samo gadang.

Kadang baisi galuik jo garah, paningkah lamakno pagaulan.

Indak manyingguang suok kida, panguek buhua rang mudo-mudo, abih tingkah dalam garah, kato palanta dek rang saisuk, nan elok ka pangaja, nan buruak samo di tingga-an.

Ingek-maingekkan adaik hiduik dek nan mudo, indak mampabia kawan tatungkuik, indak manuhuak kawan sairing, indak mangguntiang dalam lipatan.

Baitu adaik samo gadang, disinan iduik  mangkono sero.

Ado lo namono  kato manurun.

Dari nan gadang ka nan ketek, baisi nasihaik jo pitunjuak, ka jadi padoman dek nan ketek.

Panuah ba isi kasih jo sayang, manjadi suri jo tauladan.

Jarang ba-isi kato bangih, jauh nan dari hariak  jo berang, indak pulo mahantak kaki, jauh dari manampiak dado.

Baitulah, kalau kato nan ampek ko lai tatap jadi paratian kito, Insya Allah di dalam hiduik di dunia nan fana ko kito ka salamaik, dan di akiraik tantu kita ka bahagia pulo.

Salanjuikno kito bisa pulo maninggakan katurunan (genrerasi, kato rang kini) nan arih-bijaksano, nan bisa manjadi pamimpin di tangah-tangah kahidupan urang banyak.

Buruak sabuik di ranah bundo, kalau rang minang indak tau lai di nan ampek ko. Indak tau di nan bana, indak lo tau di nan salah. Indak tau di nan di suruah. Indak lo tau jo nan di tagah.

Alamaik sansaro badan jadino.

Urang nan bijaksano, hanyolah nan tau di alamaik maso lalu, tau di tujuan maso datang, tau di jalan nan sadang batampuah, tau lo di tampek parantian.

Baitulah handakno hiduik nangko.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala salalu mambimbiang kito kapado ka arifan nan alah di ajakan dek alam ta kambang nan jadi guru ko.

Insya Allah.

Pasan Ranggaek (1), Tahu jalan tempat kembali

Pituah Rang Gaek

 

Tau di jalan kapulang,

Raso di baok naiak, Pareso di bao turun)

 

 Diulang-ulang dek

Buya  H. Mas’oed Abidin

 

Di dalam Agamo Islam, kito (manusia)  nan hiduik di dunia nanko, dijadikan untuak mamikua baban nan mulia, sabagai khalifah Tuhan di muko bumi.

Nan kamambangun, kamampaeloki, kamanjago apo nan ado goh. Karano tu, baban tu manjadi sangaik mulia, sasuai bana jo kajadian kito sebagai makhluk Allah nan tapiliah. Itulah fitrah awak.

 

Firman Allah di dalam Al Quranul Karim manyabuikan, “ wa laqad karramnaa banii Adam” , araatinyo, “sungguh Kami alah mamuliakan bani Adam, (yaitu anak cucu Adam) yaitu  kito nan banamo manusia ko” (lieklah Al Quran, surat 17, ayat 70).

 

Balain bana jo makhluk Allah nan lain.

Apokoh itu malaekaik, flora atau fauna  nan ado, nampaknyo kito ko indak bisa disamoan jo mareka doh.

 

Kalabiahan kito sabagai makhluk Allah itu, indak sajo dari rupo jo bantuak nan elok, tapi diagiahnyo kito dek Allah “kacerdasan aka  pikiran” nan indak dipunyoi dek makhluk nan lain.

Salain  tu kito dibari pulo dek Allah nan Maha Mulia tu, “kacerdasan ati atau parasaan”.

Sahinggo kito tau  raso jo pareso.

Raso dibao naiak, pareso dibao turun. Raso dari ati ka kapalo, pareso dari kapalo ka alam nyato.

 

Nan pangabisan ko jaleh-jaleh hanyo dipunjoi dek makhluk nan banamo manusia.

Barangkali, kaduo bantuak kacerdasan ko lah nan kini dek urang-urang nan ba-ilimu di sabuik jo bahaso urang disinan sebagai “intelektual inteligensia” dan “emosional inteligensia” tu.

 

Kok nyampang kaduo kecerdasan ko indak kito punyoi, tantulah hiduik kito indak manantu.

Indak tau  ereng jo gendeang, indak tahu rantiang nan ka malatiang, indak jaleh batu nan ka manaruang, doh.

Nan labiah padiehnyo, disabuik urang kito

indak tau diuntuang. 

 

Labiah jauh barangkali, kito indak ka mangarati nan paralu, nan musiti di dahulukan, atau nan patuik dikudiankan.

Alhamdulillah, kito dijadikan Allah makhluk nan sangaik elok dalam rupo, sangat cadiek jo pikiran, sangat haluih jo parasaan.

 

Tapi kok nyampang kaduo anugerah Allah nan sangat mulia ko indak kito paliharo elok-elok, aratinyo pikiran kito indak di asah jo ilmu pangatahuan nan paguno, dan hati atau kalbu  kito indak dibari ingek jo nan baik dan patuik-patuik, mako indak dapek indak, kito ka jatuah maluncua jadinyo.

Sanasadrijuhum min haitsu laa ya’lamuun”.  

Aratinyo, kalau kito indak bahati-hati mampagunokan hati kito masiang-masiang, nanti Allah kan maluncua-kan kito sakalian pado tampek nan kito indak manyadarinyo.

Baitulah paringatan Allah kapado kito basamo.

 

Pakaro manuntuik ilmu, untuk ma asah utak, iyolah jaleh di awak basamo, bahaso itu manjadi kawajiban satiok urang nan ba-iman (uthlubul-’ilma faridhatan ‘alaa kulli muslimin wa muslimah), aratinyo “manuntuik ilmu tu wajib bagi muslim laki-laki jo padusi”.

 

Bahkan manuntuik ilmu ko indak sakadar  di nagari awak sajo, di suruah jauh-jauh ka nagari urang (kalau paralu kanagari urang bamato sipik, nagari Cino, asal indak marantau cino see lah). Kok dapek pintak jo pinto, kana-kana juo kampuang tampek pulang.

 

Kampuang tampek pulang tu aratino duo macam.

Paratamo iolah kampuang mandeh, tanah tumpah darah, saroman papatah nan kito baco sahari-hari, sungguahpun  ujan ameh di rantau urang, kampuang halaman dikana juo.

Sa jauah-jauah tabang bangau nan tampek hinggokno, bancah baraia di kana juo.

 

Nan kaduo, tampek kumbali adolah kampuang akiraik (yaumil aakhir), nan indak dapek indak musti ka kito jalang suatu katiko nanti. Bahaso Agamo awak manyabuik-kan “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”. 

Mukasuiknyo; dari Allah awak ko datang, kapado Allah pulo kito ka babaliak.

 

Urang nan indak tau tampek babaliak, biasonya sasek di tangah jalan.

Di situ lah sabananyo talatak cerdas (pintar, pandai) tu.

Urang  awak di ranahbundo manyabuikkan, urang nan cadiak tu iolah urang nan tau tampek babaliak.

Urang nan mangarati tampek pulang.

 

Jan di paturuikan sajo kato hati. Mangarajokan nama nan taraso, manuruik nama nan tampak, atau maniru nama nan di karajo kan urang, indak tau  barih jo balabeh tu namonyo.

Buruak cando kato rang banyak.

Urang nan saroman nantun di dalam ciloteh urang banyak di katokan: urang nan barajo di hati, nan basutan di mato.

 

Karano indak jaleh tampek pulang,  mako,

di kacak batih yo lah bak batih, di kacak langan lah bak langan, di kacak pinggang iyolah bak pinggang, di agiah pitih sapitih manggaritih, dapek pitih  sakupang inyo manggaretang. 

Disiko lah kalabiahan kito sabagai  urang Minangkabau, nan iduik jo adaik, di tuntun dek agamo (Islam).

 

Sakitu dulu pangajian awak, kok ado wakatu dilain maso kito sambuang pulo. Insya Allah.

Mudah-mudahan kito dapek maambiak palajaran nan dalam untuk manampuah galombang hiduik nangko.

Amin.

Pasan Rang Gaek (2), Hidup beradat dan beragama

Pituah Rang Gaek (5).

 

Hiduik ba-radaik jo ba-ugamo

Diulang-ulang baliek dek :

Buya H.Mas’oed Abidin

 

 

 

Indak salah urang tuo-tuo kita mangecek-an bahaso tando urang Minang tu baradaik, dan tando urang baradaik tu ba-agamo.

Memang sanyatonyo, sa jaek-jaek urang Minang tu lai kajadi indak mangarajokan syariat agak sakali, tapi kalau di ingekkan padonyo tantang iduik ko kamati, capek inyo babaliak ka nan baik.

 

Kecerdasan hati (raso) itu talatak pado duo hal nan sangaik jaleh.

 

Nan Paratamo, iyolah pandai “ba syukur nikmat”.

Taraso bahaso nan ado di tangan awak ko adolah pambarian (nikmat anugerah) dari Allah nan Maha Menjadikan kito. Indak mungkin kito sampai pado tingkek saroman kini ko kalau indak ateh izin dari Allah.

Karano tu sangat paralu bana kito mamaliharo apo nan kita punyo kiniko (apo itu kesehatan, ukatu nan baiak, kasampatan nan ado, harato nan kito punyo, umua nan tasiso kiniko) di pakaikan kapado nan sabana-bana di sukoi Nyo.

 

Insya Allah, kito kana bana janji Allah tuh, “lain syakartum la-azidan-nakum, wa lain kafartum, inna ‘adzaabi lasyadiid” aratino, “kalau lai pandai mansyukuri nikmaik Allah ka di tambah-tambah nikmaik tu, tapi kalau di kufuri (aratino di pagunokan ka pado nan indak di katujui), sungguah azab den (kato Allah) padiah sakali.  

 

Sahubuangan jo ayaik Allah ko, ado pasan Rang Gaek awak,

ingek-ingek sabalum kanai, kulimek sabalun abih.

Sasa dahulu pandapatan, sasa kudian yo indak adoh kaguno-nyo.

 

Nan kaduo, adolah “sanggup atau bisa ba-saba”, atau kato urang kini adolah tabah, kuek pandirian, indak takuik dilamun ombak, pandai batenggang di nan susah, pandai bahemat kutiko lai, indak basipaik cando (sarupo)  caciang kapanehan,  indak pulo gaduak saroman kacang di abuih ciek, tahu pabilo masonyo galak, tau pulo bilo kutiko baranti manangih, dan indak laruik dek kaadaan.

 

Ado papatah urang tuo-tuo awak saisuak.

Bapadi si jintan-jintan, kok ujan kaka-kakakan,

kok paneh lingkuik-lingkuikkan.

Padi ditanam beko patang, kadi sabik kalamari,

sacotok haram dek ayam, lah habih baru dimakan.

 

Baitulah pituah  Rang Gaek kito.

 

Ado palajaran agamo di surau-surau dulu, mak kito ingek-kan baliak “man lam yardhaa bi qadhaa-i , walam yashbir ‘alaa balaa-i, fal yath-lub rabban si waa-i” aratino “kalau indak karedha kabakeh katantuan Allah, kalau indak kasaba  kabakeh cubaan Allah, co lah cari Tuhan nan lain salain Allah tu”. 

 

Tantu indak ka dapek dek awak tuhan nan lain, nan sa panyayang, sa baik pambarian Allah ka bakeh awak tu doh.

 

Kaji ko sabana nyo indak kaji baru bagai doh. 

Tapi paralu kito ingek-ingek baliak, karena dek lamo lupo.

Lanca kaji dek lai ba-ulang, pasa jalan dek batampuah.

 

Kini, sakitu sajo dahulu. Kalau ado wakatu, nanti kito sambuang pulo.

Marilah kito samo-samo mandoa, samoga Allah salalu maagiahkan rahmat nan balipek gando, sehat nan ka paguno, harato nan ka panopang hiduik, panjalin hari isuak, jan hanyo di agiahkan dek Tuhan harato nan hanyo ka abih kini, atau hanyo sakadar nan ka busuak, nan ka lapuak.

 

Mudah-mudahan pulo kito mandapekan  harato banyak nan paguno pulo dek awak untuk hari isuak. Pintak buliah , ka-andak balaku , mukasuik sampai , nan di ama pacah, umua panjang, rasaki murah, bala pun takuak handakno.

 

Biaitulah pintak jo pinto kiti basamo. Amin Ya Rabbal Alamin.