Sejarah Masjid dalam Mengelola Jamaahnya dalam rangkaian Pembinaan Umat

Sejarah Masjid dalam Mengelola Jamaahnya

dalam rangkaian Pembinaan Umat

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Rasulullah bersabda: “Tidak ditekankan untuk bepergian kecuali pada tiga masjid, yaitu Masjid Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi Madinah) dan Masjid Aqsha”. (HR.Bukhari & Muslim). Ini berarti bahwa kemakmuran dan sistem pengelolaan masjid harus dijadikan kerjaan utama umat Islam mengurus masjid masjid sesuai yang diamanahkan kepadanya. Sehingga benar-benar mampu melahirkan citra Islam sebagai agama “rahmatan lil ‘alamiin”. Masjid yang makmur mempunyai jamaah yang setia setiap waktu. Dari sini tampak nyata simbul kejayaan Islam di suatu kawasan. Bila ingin melihat makmurnya satu negeri, tengoklah bagaimana indah dan imarahnya masjid di negeri itu.

Karena shalat adalah tiang agama maka pelaksanaannya lebih diutamakan secara berjamaah di masjid. Bahkan beberapa ulama berpendapat bahwa berjamaah itu wajib adanya. Perjalanan hidup muslim semestinya diwarnai pesan-pesan yang disuarakan dari masjid. Gambaran kehidupan muslim itu bertolak dari masjid. Menuju ke masjid dan kembali ke masjid, seperti dinukilkan Al Quranul Karim yang dialami nabi Muhammad SAW pada peristiwa israk dan mikraj beliau. Namun, mewujudkan imarah sebuah masjid sangat terkait dengan aspek manajemen. Sangat diperlukan tenaga terampil pengelolanya, sumber dana, metoda yang dan kelengkapan peralatan serta ilmu dikalangan pengurus dan keterampilan yang dikemas dalam keikhlasan. Untuk mencapai citacita makmurnya masjid tersebut amat diperlukan pengelolaan masjid yang mesti bertumpu kepada adanya ikatan erat antara jamaah dan pengelola atau pengurusnya.

Tidaklah dapat ditolak bahwa pengelolaan yang baik dan teratur akan menjadikan masjid berdiri dengan megah secara fisik serta berisikan imarah yang makmur dengan berbagai program yang disenangi oleh jamaah sekitarnya. Dengan demikian masjid tersebut akan menjadi tumpuan dan pusat pembinaan karakter umat. Masjid semacam itulah yang akan dicintai jamaahnya serta dimakmurkan imarahnya dengan tersedianya pula program kegiatan yang bertujuan menyintai jamaahnya.

Masjid atau surau tidak semata berfungsi menjadi tempat dilaksanakannya ibadah mahdhah belaka seperti shalat harian, tadarus, pengajian ataupun majlis ta’lim. Masjid sesungguhnya menjadi cikal bakal tempat tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan. Surau senyatanya adalah pusat perguruan. Masjid dan surau itu mesti mengambil peran membina karakter generasi sekitarnya. Masjid seperti itu menjadi masjid idaman. Dari sana kemudian akan berkembang pusat kegiatan anak nagari. Didalam pengembangan berikutnya masjid mampu melahirkan madrasah. Orang Minang menyebut tempat pendidikan agama ini dengan istilah surau = madrasah” sejak dulu. Pada masa itu, di Minangkabau tidak dilazimkan memakai kata “pondok pesantren” seperti  sekarang.

Pendidikan di surau diawali dari tingkat terendah alif ba ta atau tingkat awaliyah. Kemudian sesuai keperluan meningkat lebih tinggi, tsanawiyah, ‘aliyah dan bahkan kuliah dengan tambahan kepandaian dan keterampilan putra-putri yang memang sudah terkenal sejak lama. Tidak diabaikan pula pembinaan fisik berupa latihan silat yang berguna menjadi bekal falsafah kehidupan saling berlomba menegakkan kebenaran bersama-sama dengan sikap ta’awun atau gotongroyong. Maka hadirlah masjid menjadi pusat atau core membangun kehidupan menyuburkan kebajikan untuk masyarakat umum. Begitulah sejarah dan fungsi Masjid secara hakiki.

Dari masjid yang hidup akan terpancar jiwa yang mampu menghidupkan umat disekelilingnya. Inilah program umatisasi. Karena itu, Masjid adalah sumber kekuatan umat Islam masa lalu, sekarang dan di masa depan. Alangkah besarnya modal umat berupa masjid besar kecil dan surau milik umat Islam bertabur dinegeri ini. Tinggal mengisi dan menghidupkannya.

Dok.Buya 001Insyaallah.

***

MASJID MENGHADAPI TUNTUTAN ZAMAN

Menggerakkan potensi masyarakat secara maksimal dan terpadu dengan menghidupkan masjid atau surau adalah bagian dari upaya mencerdaskan umat dan menanamkan budi pekerti (akhlaq) Islami.  Adalah suatu kemestian mendorong gerak pembangunan fisik dan non-fisik dari masjid melalui kemandirian yang menjadi tumpuan harapan bagi pembinaan anak nagari. Seiring perkembangan zaman, masyarakat memerlukan pengurusan masjid yang berkualitas. Beberapa kalangan, terutama kalangan menengah berduit dan terpelajar yang mendasarkan pengalaman di rantau, memerlukan membangun masjid (surau) bukan asal-asalan dengan kualitas seadanya. Ada dorongan keras untuk menjadikan masjid (surau) sebagai wadah menghasilkan SDI (Sumber Daya Insani) yang sanggup mandiri dan berguna oleh pasar tenaga kerja.

Di Minangkabau atau Sumatera Barat, masjid menjadi lembaga yang lebih bersifat akomodatif. Mampu melahirkan orang-orang surau yang terampil, cakap dan tabah. Pengalaman ini, mendorong prakarsa masyarakat Muslim mengembangkan masjid atau surau dengan inisiatif masyarakat di tengah komunitas lingkungannya sendiri. Namun, karena perubahan global terjadi juga stagnasi yang signifikan.

Maka jalan keluarnya tentulah dengan pembenahan organisasi dan manajemen masjid merujuk kepada sejarah mula berdiri serta peran sesungguhnya dari masjid itu.

Dok.Buya 094Membangun masjid bukan sekedar memperindah bentuk untuk dilagakkan dengan marmer berukir-ukir, padahal di dalamnya kosong dengan kegiatan. Ibaratnya kehidupan tak berjiwa. Alangkah meruginya Umat Islam, bila mereka tidak kunjung mengenal dan menggunakan modal tak ternilai jumlahnya ini. Padahal, modal itu dapat dijadikan sumber kekuatan membangun umat. Sebagai dimaklumi bahwa  Syariat Islam tidak dapat disangkal wajib berlaku atas pemeluknya di negeri ini. Maka program besarnya adalah Kembali ke Masjid. Sebab, masjid dan langgar atau surau yang hidup dan dinamis, berperan sebagai pusat bimbingan untuk menaikkan jiwa umat mencapai taraf kemakmuran hidup lebih baik. Para ahli yang menyintai umat dapat menghidupkan masjid dengan menjadikan tempat pembinaan penghidupan dan kehidupan melalui pelatihan pelatihan dan keteramapilan kreatif. Persoalan penghidupan masyarakat kebanyakan, terutama dikampung dan juga dikota sebenarnya adalah masalah sederhana dan elementer. Soal mencari dan memenuhi kehidupan, seperti soal berdagang dan manggaleh, soal mempertinggi hasil pendapatan, soal kehidupan di pasar dan anak yang belum sekolah. Hal yang elementer ini tidak kunjung dapat dipecahkan dengan teori ekonomi yang hebat. Masjid yang hidup sebagai pusat pembinaan akan menghidupkan jiwa jamaahnya dengan memiliki Izzah atau kemuliaan keperibadian yang amat berguna untuk siap berkecimpung dalam masyarakat ramai dari berbagai ragam coraknya.

Penguatan umat ditengah perubahan cepat arus globalisasi menompangkan pula gelombang penetrasi budaya luar (asing). Hal itu dinyana telah mengubah perilaku masyarakat dan praktek pengelolaan asset umat. Bahkan, perkembangan norma adat istiadat yang lazim telah pula terabaikan.

Perubahan perilaku mengedepan adalah perebutan prestise berbalut kebendaan yang sangat individualis atau nafsi nafsi. Pencapaian hasil kebersamaan (kolektif) menjadi kurang diminati daripada kebanggaan pencapaian hasil perorangan (individual). Maka, sebagai masyarakat beradat dan beradab dengan pegangan agama Islam maka kaidah dan fungsi peran masjid mestinya memberikan pelajaran sesuai syariat Islam antara lain mengutamakan prinsip hidup berkeseimbangan. Syariat Islam menghendaki keseimbangan antara hidup rohani dan jasmani, antara dunia dan akhirat. Masjid berperan utama. Agama Islam mendorong kepada usaha mandiri sebab membiarkan hidup dalam kemiskinan tanpa upaya adalah salah. Kemiskinan  membawa kepada kekufuran (ke-engkaran)” (Hadist). Maka, upayakanlah memiliki usaha beragam secara halal.

***

MEMUNGSIKAN SURAU MENGHIDUPKAN UMAT

Agama Islam juga mendorong agar Tawakkal dengan  bekerja dan tidak boros. Tawakkal, bukan “hanya menyerahkan nasib” dengan tidak berbuat apa-apa, Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal (Atsar dari Shahabat). Umat pun mesti diajarkan memiliki kesadaran kepada ruang dan waktu. Peredaran bumi, bulan dan matahari, menanamkan kearifan adanya perubahan. Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri. Agar jangan melewati batas, dan berlebihan. Artinya bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada. Didalam kearifan local di Minangkabau fungsi masjid disebutkan, “Musajik tampek ba ibadah,tampek balapa ba ma’ana, tampek balaja al Quran 30 juz, tampek mangaji sah jo batal”. Dalam kehidupan di surau itu yang dicari sebenarnya adalah bekal ilmu. Menyauk hikmah dan kepandaian-kepandaian untuk mengharungi hidup di dunia yang sekejap dan fana ini.

Semuanya itu untuk dalam mempersiapkan hidup di akhirat. Artinya dari surau atau masjid didapatkan pembinaan untuk menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas) dan terjaminya pemeliharaan ibadah dengan Khalik (hablum minallah).

Dok.Buya 031Masjid (surau) menjadi lambang utama terlaksananya hokum. Keberadaannya tidak dapat dipisah dari denyut nadi kehidupan masyarakat. Manakala sarana Masjid telah berperan sempurna, kehidupan masyarakat kelilingnya akan terpuji dan mulia dengan akhlaqul-karimah. Maka, tata ruang yang jelas memberikan posisi peran pengatur. Sebenarnya, masjid atau surau di Sumatera Barat mempunyai sistim pengelolaan (manajemen) sendiri secara transparan. Masjid juga memiliki asset sendiri, wilayah kerja sendiri. Perangkat masjid yang lengkap ditunjang oleh sumber penghasilan sendiri dari jamaahnya yang terikat kuat dengan aturan dan norma sendiri.

Memenej masjid mestinya di titik beratkan kepada mengembalikan manhaj Islami dalam makna jamaah dengan kebersamaan (kegotong royongan). Kembali Ba-Surau ditengah perubahan global mestinya dimaknai membangun kekuatan menghidupkan kemandirian sesuai kearifan local dan kecerdasan local yang menjadi kekayaan di daerah ini. Melalui pengelolaan masjid terbuka peluang besar melakukan penguatan umat di Sumatera Barat  dengan lebih mengedepankan wilayah kesepakatan antar berbagai komponen masyarakat dengan spirit kebersamaan, keterpaduan dan saling memberikan dukungan terhadap tatanan kehidupan. Perlu dijaga agar pengelolaan masjid terhindar dari pada melewati batas-batas yang patut dan pantas. Mengelola masjid dengan teratur adalah salah satu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta. Disamping, membuktikan adanya keseimbangan antara kemajuan di bidang rohani dan jasmani.

Dok.Buya 092Hasilnya tergantung kepada sikap hidup bertuhan dan bertauhid yang terhunjam dalam jiwa masyarakat melahirkan tingkat kecerdasan yang dapat dicapai.

Mengelola Masjid berarti tetap menjadikannya berfungsi sebagai pusat pembinaan umat. Masjid mesti menjadi salah satu jenjang melaksanakan prinsip musyawarah sebagai pondasi utama adat istiadat Islami mencari redha Allah. Menjaga perinsip musyawarah atas dasar keimanan kepada Allah SWT dan  kecintaan lingkungan tidak boleh terlupakan. Manajeman Masjid bermula dari kesediaan untuk rujuk kepada hukum dan norma yang berlaku. Langkah Penting Mengelola Masjid adalah menguasai informasi substansial. Menerapkan low-enforcment dan transparansi mencakup keuangan sehingga kepercayaan umat tetap terjaga. Memperkuat kesatuan dan persatuan di nagari-nagari. Muaranya adalah ketahanan masyarakat dan ketahanan diri yang dibangun dari keyakinan iman kepada Allah serta kuatnya ibadah.

Masalah ekonomi dan kemajuan pendidikan tidak boleh dilupakan. Generasi kedepan selalu dapat dibangun melalui pendidikan dan keteguhan perinsip keyakinan iman kepada Allah Yang Maha Kuasa. Dari sisi ini akan ditumbuhkan kekuatan rohani pemimpin bangsa masa datang. Insyaallah.

***

imarah masjid

            Memakmurkan masjid masa ini adalah menetapkan visi untuk menentukan program pembinaan  yang akan dilakukan. Pengelolaan Masjid berkehendak kepada gerak yang kontinyu, utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin di raih dengan kerja sambilan. Dalam langkah dakwah menuju redha Allah, setiap muslim berkewajiban menapak tugas tabligh (menyampaikan). Selanjutnya dakwah atau mengajak dan mewujudkan ajakan itu dalam kehidupan agama yang mendunia. Adalah satu keniscayaan belaka bahwa peran masjid atau surau akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang senantiasa berubah. Namun, pengelolaannya tetap di bawah konsep mencari ridha Allah.

Masjid adalah sarana menegakkan ibadah dan menyusun umat. Islam tegak dengan jalinan jamaah. Suburnya ibadah dan mu’amalah dengan Khaliq serta mu’amalah dengan makhluk. Ini kaji yang sudah terang perintah wajibnya. Masjid adalah warisan Risalah Islam berfungsi sebagai pangkalan Umat dengan membina jamaahnya, menambah wawasan agamanya, meninggikan kecerdasan, menanamkan akhlaq, mendinamiskan jiwanya dan memberikan pegangan bagi para anggota masyarakat guna menghadapi persoalan hidup. Langkah langkah terencana amat berguna bagi mendukung percepatan pembangunan komunitas masyarakat Muslim di lingkungannya sendiri. Mestinya langkah itu berawal dari mengakui keberadaan mereka, menjunjung tinggi puncak-puncak kebudayaan mereka, menyadarkan mereka akan potensi besar yang dimiliki, mendorong kepada satu bentuk kehidupan yang bertanggung jawab dengan nawaitu lillahi Ta’ala. Inilah tuntutan Dakwah Ila-Allah.

Dok.Buya 027Tugas dakwah yang terlaksana di masjid haruslah mencakup menyeru kejalan Allah dengan petunjuk yang lurus. Menyeru manusia untuk menyembah Allah agar manusia tidak menjadi musyrik. Menyeru manusia agar beribadah mempersiapkan diri untuk kembali kepadaNya. Tugas ini menjadi program utama pengelolaan masjid dengan manhaj-nya adalah Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW. Pengorganisasian masjid perlu ada Da’i – Imam, Khatib, Tuanku, alim ulama  –. yang meneladani peribadi Muhammad SAW dalam membentuk effectif leader menuju kepada inti agama Islam adalah tauhid dan implementasinya adalah Akhlaq. Umat hanya akan kembali berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu di kembalikan. Melengkapi perangkat dalam organisasi masjid mesti ada peralatan dakwah yaitu penguasaan kondisi umat, tingkat sosialnya dan budaya yang melekat pada tata pergaulan yang Islami sehingga umat binaan dapat digerakkan beramal nyata yang berkesinambungan terkait seluruh sisi aktivitas kehidupan seperti, kemampuan bergaul, menyintai, berkhidmat, merapatkan potensi barisan  secara bersama-sama, sehinga membuahkan agama yang mendunia. Usaha ini akan menjadi gerakan pengelolaan masjid purna yang mampu mengantisipasi arus globalisasi negatif dan sudah semestinya menjadi visi pengelolaan masjid dalam program  kembali ba surau.

IMG_9037Khulasahnya, dalam mengelola masjid perlu  peningkatan manajemen yang lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi. Sumber finansial masyarakat dapat di pertanggung jawabkan secara lebih efisien. Peningkatan kualitas pembinaan melalui masjid dan surau dapat dicapai. Segi organisasi dapat hidup terus, berjalan tahan banting, bergairah, giat dan dapat tahan lama menjawab tantangan zaman. Pengembangannya berorientasi kepada mutu. Pembinaan masjid dengan program pendidikan, majlis ta’lim, perguruan, ekonomi umat dapat berkembang menjadi lembaga center of exellence menghasilkan generasi berilmu komprehensif dengan pengetahuan agama, berbudi akhlaq plus keterampilan. Pengembangan masjid dan surau dengan peran pembinaan seharusnya bisa menjadi inti dan pusar dari learning society, masyarakat belajar. Sasaran pengelolaan masjid semestinya membuat anak nagari dan lingkungan menghasilkan generasi baru yang terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah kehidupan bermasyarakatnya disemua zaman.

Dok.Buya 042

Insyaallah. v

Padang, 12 Ramadhan 1434 H – 20 Juli 2013 M.

 

 

 

 

MENGGALI POTENSI SURAU menjadi/sebagai ISLAMIC CENTER oleh : Taufik Ahmad Taudjidi – Imam Basa Nagari Gunuang

MENGGALI POTENSI SURAU menjadi/sebagai ISLAMIC CENTER
oleh : Taufik Ahmad Taudjidi – Imam Basa Nagari Gunuang

(Kutipan Khutbah Idul Fitri 1433 H, 19 Agustus 2012, di Lapangan SMPN 3 Padang Panjang)

Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil

-Hamd
Kaum Muslimin yang berbahagia,

Saat ini, dalam rangka membangun kemandarian bangsa guna menghadapi persaingan di era globalisasi, tengah digulirkan konsep pembangunan berbasis kearifan lokal atau local wisdom. Yaitu, konsep pembangunan berbasis pada kondisi budaya lokal, termasuk mengacu pada pesan-pesan moral dan motivasi yang hidup di masyarakat.

Salah satu”kearifan lokal” yang ada di Ranah Minang, adalah berlakunya SISTEM MATRILINEAL, yaitu sistem waris harta pusaka tinggi yang berpuncak dan turun temurun pada garis ibu.
Saat ini, di seluruh dunia, hanya terdapat 4 (empat) suku bangsa yang menganut sistem Matrilineal, yaitu sebuah suku bangsa di benua Afrika, sebuah suku Indian di benua Amerika , sebuah suku di India dan satu-satunya suku di Indonesia, yaitu Minangkabau.
Sistem matrilineal dengan segala sub-sistemnya adalah “Tiang Agung Minangkabau” kata alm Buya Hamka. Hak Waris Harta pusaka tinggi sebagai sub sistem dari sistem Matrilineal, hendaknya harus tetap dijaga keberadaannya. Harta pusaka tinggi adalah harta bersama sebuah kaum, adalah harta bersama untuk dinikmati, bukan harta untuk dibagi-bagi. Pewarisan harta pusaka tinggi adalah hanya sekedar peralihan peran, bukan peralihan milik. Harta pusaka tinggi turun dari niniek ka mamak, dari mamak ka kamanakan dan seterusnya ka bawah menurut garis ibu.
Harta pusako tinggi tak boleh berpindah tangan karena diperjual-belikan. Harta Pusako tinggi adalah sebagai bukti “asal-usul” seseorang atau kaum. Seseorang dapat dikatakan adalah keturunan Minang, hanya apabila masih mempunyai harta pusako tinggi. Dalam adat, ini dikatakan:
“Nan ba pandam ba pakuburan, nan basasok bajarami, kok dakek dapek dikakok, kok jauah dapek diantakan”
Apabila sebuah keluarga atau kaum tak lagi punya harta pusako tinggi, orang atau keluarga itu tidaklah lengkap keminangkabauannya, bahkan sudah dianggap punah. Mereka tak perlu lagi punya panghulu, karena adat berdiri diatas pusako tinggi.

Dari uraian ringkas diatas, dimensi kearifan lokal yang menyertainya adalah:

Bahwa sejauh manapun anak-cucu orang Minang pergi merantau, bahkan sampai ke Australia atau ke Amerika, selama mereka masih punya harato pusako tinggi, mereka dan anak keturunannya akan tetap punya
kampung halaman di Ranah Minang, dan mereka tetap bangga dengan RanahMinang.

Kondisi emosional itulah tampaknya yang terpancar dari gegap gempitasetiap acara “pulang Basamo”, seperti yang tampak pada setiap lebaran saat ini.

Kaum Muslimin yang berbahagia,

Keunikan lain dari alam minangkabau yang mencerminkan kearifan lokal adalah adanya Falsafah Hidup yang sangat terkenal:
“ ADAT BERSANDI SYARA’, SYARA’ BERSANDI KITABULLAH”.

Nilai-nilai Agama Islam, yang menganut sistem patrilineal, secara arif diterima oleh adat dan budaya Minangkabau tanpa mengorbankan adat budaya yang berlaku. Bahkan Nilai-nilai agama dan adat saling memperkuat, kokoh dalam keserasian dan keharmonisan, menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Saling isi mengisi. Kaum adat dan kaum agama bekerjasama saling bahu membahu membangun masyarakat.
Perpaduan ini telah melahirkan harmoni sosial di bawah sistem kepemimpinan tripartit yang disebut TTS (Tungku nan Tigo Sajarangan) yang terdiri dari – Ninik Mamak , Alim Ulama, dan Cerdik Pandai. Mereka bersinergi menjaga dan menjalankan TTS yang lain pula, Tali nan Tigo Sapilin, yaitu Adat, Syari’at dan Peraturan/perundangan)

Kesesuaian dan keserasian hubungan ini tak lain karena nilai-nilai adat Minang, yang digali dan dijalankan sebelum kedatangan Agama Islam, memiliki landasan yang sama dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis. Misalnya, ketika, ayat Al-Qur’an yang pertama turun pada tanggal 17 Ramadhan di kota mekkah:
Iqra bismirabbikallazi khalaq # Khalaqal insanamin ‘alaq # Iqra’ warabbukal akram # Allazi ‘allama bil qalam # ‘Alamal insaa namaa lam ya’lam.
• Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan * Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah # Yang mengajar manusia dengan pena # Yang mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.

Jauh sebelum itu, para ninik mamak di ranah minang telah memberi petuah agar masyarakat Minang memahami dan mengikuti hakekat hukum alam (sunatullah), seperti petuah dibawah ini:
Api, paneh dan mambaka,
Aie, mambasahi dan manyuburkan,
Kayu, bapokok,
Ayam, bakokok,
Kambiang, mangambiak,
harimau mangaum
Gunuang, bakabuik, dan sebagainya.

Dipertegas pula dengan petatah lain:
Panakiak pisau sirauik,
ambiak galah batang lintabuang,
silodang ambiak kanyiru,
Nan satitiak jadikan lauik,
Nan sakapa jadikan gunuang,
Alam takambang jadi guru.

Falsafah “alam takambang jadi guru”, adalah falsafah hidup yang sangat berkesesuaian dengan banyak firman Allah dalam Al-Qur’an, diantaranya pada surat ‘ Ar-Ra’d ayat 3, yang artinya:
“Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.

Atau firman Allah dalam surat al-Ankabut <29>: ayat 44:
“Khalaqallahus samaa waa ti wal ardha bilhaq* innafii zalika la aayatal lilmu’ miniin
” Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang jelas. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang percaya.”

Itulah sebuah kearifan lokal di Ranah Minang, sebuah falsafah hidup yang berlandaskan akal dan iman, yang berpijak pada sunatullah dan tuntunan Al-Qur’an. “Alam takambang jadi guru”.. “Indak lakang di paneh, indak lapuak di hujan”. Dari dahulu sampai kini, tak henti, berlaku turun temurun.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Bapak-bapak, ibu-ibu, angku-angku, anak dan kamanakan yang berhadir di tanah lapang ini.
Lihatlah sekeliling kita, Nagari Gunuang yang indah ini, mancaliak ka mudiak, tampak puncak gunuang Marapi. Mancaliak ka arah Barat ado Gunuang Singgalang nan manjulang. Mancaliak dari sabalah ateh tampak danau Singkarak yang menyimpan ikan bilih, yang hanya satu-satunya di dunia, endemik di danau Singkarak.
Ini lah kampuang kito, Gunuang Sajati, gunuang sansai bakuliliang, jo hutan badaun rimbun, dari mudiak ka ilie tak berhenti aie mangalie. Tahampa sawah-sawah, dari bukik ka lambah-lambah, bapamatang- bajanjang-janjang.
Ado mato aie bula’an di Sigando, ado mato air di ikue lubuak dan tempat lain. Airnya bersih bening tak perlu disaring.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd

Subhanallah, demikian besar anugerah Allah yang tercurah bagi kita urang nagari Gunuang. Dibandingkan dengan wilayah di belahan lain di muka bumi, yang kering kerontang, Nagari Gunuang tak lain adalah sebuah Surga yang terhampar di muka bumi, yang diperuntukkan oleh Allah bagi kita urang nagari Gunuang. Allah telah memelihara kesuburan tanah kita dengan muntahan abu vulkanik Gunung Marapi. Hutan-hutan lebat di lereng gunung Marapi berjasa menyimpan air tanah bagi kehidupan kita dan sawah kita.

Kalau pun ada sesekali gempa vulkanik, tak lain agar kita selalu mengingat Allah, bahwa Allah lah pemilik alam semesta, kita diingatkan agar selalu menjalankan perintahNya dan menghindari larangan-Nya, agar supaya kita terhindar dari kemurkaan-Nya. Jadi, sangat beralasan bagi kita untuk selalu merenungkan firman Allah dalam surat Ar-rahman yang berulang-ulang dikatakan-Nya::

Fabiayalaa irabbikumaa tukazibaan
(Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd
Hadirin yang rahima kumullah
Kehadiran surau di ranah Minang adalah suatu kearifan lokal lain, yang diwariskan oleh niniek mamak kita, yang perlu kita pelihara. Di Nagari Gunuang kita mengetahui, ada surau di Sigando, ada surau di Gantiang, ada surau di simpang Lubuak, ada di surau Ngalau atau ditempat lainnya.

Dahulu, beberapa puluh tahun yang lalu, tidak ada seorang anakpun disuatu kampung yang tidak belajar mengaji di surau. Semua anak-anak, siang hari belajar di sekolah umum, malam hari belajar mengaji di surau. 7 hari dalam seminggu tanpa hari libur. Pada setiap akhir minggu mengadakan panggung gembira, dengan bernyanyi dan latihan berpidato. Anak-anak laki-laki yang sudah baliq, oleh ibunya diperintahkan untuk tidur di surau. Bersama dengan teman sebaya.

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Dari perjalanan sejarah, kita mengetahui bahwa sejak tempo dulu di Ranah Minang, Surau memiliki peran penting dalam mendidik generasi muda, surau terbukti sukses menjadi instrumen pembentuk karakter masyarakat minang.

Di surau inilah anak-anak remaja memulai PERJALANAN untuk memperoleh bekal kecakapan hidup. Di surau inilah mereka memantapkan eksistensi diri dan kepercayaan diri. Di surau lah mereka mendapat kecakapan membaca, menulis dan berpidato. Di surau lah mereka mengasah kecakapan berkomunikasi, berdiplomasi dan bersilat lidah, berpantun, ber petatah-petitih. Di surau lah mereka memperoleh keterampilan personal seperti bersilat untuk membela diri. Di surau lah mereka memperoleh kecakapan sosial – bermasyarakat,Dan Salah satu kecakapan yang penting adalah kecakapan bermusyawarah untuk mengambil keputusan yang bersandar pada falsafah:

“Bulek air karano pambuluah, bulek kato karano mufakaek”.

Sejarah mencatat, bahwa surau adalah tempat para tokoh atau cendekiawan asal Minang Kabau tempo dulu, sebut saja seperti Buya Hamka, Moh. Natsir, A.R. Sutan Mansyur, dan banyak lagi yang lain,yang memulai “perjalanan” hidup mereka melalui surau, guna memperoleh kecakapan hidup atau apa yang sekarang sangat popular dengan istilah “LIFE SKILL”.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Konsep pendidikan yang bernama “LIFE SKILL” atau “Kecakapan Hidup” itu dicetuskan oleh pakar pendidikan Barat, baru pada awal tahun 2000 lalu. Konsep ini diamini dan oleh para Pakar Pendidikan Indonesia yang kuliah di Amerika untuk di gulirkan sebagai konsep unggulan di Indonesia. Konsep pendidikan “life skill” ala Barat tersebut, menurut pakarnya meliputi: i)kecakapan adaptasi diri, ii) kecakapan komunikasi, iii) kecakapan memilih dan memilah masalah, iv)kecakapan mengambil keputusan, v) kecakapan personal dan sosial.

Hadirin yang dimuliakan Allah
Ternyata konsep pendidikan “life skill” yang digagas oleh pakar pendidikan Barat 10 tahun yang lalu itu, telah dilaksanakan di Ranah Minang oleh para jenius cendekiawan-cadiak pandai, ninik mamak kita beberapa abad yang lalu, yaitu melalui pendidikan di Surau.
Dengan perkataan lain, kita boleh berbangga hati bahwa pendidikan “life skill” melalui Surau ternyata telah ada 3 abad lebih, mendahului konsep pendidikan ala barat yang disebut dengan “life skill education” yang baru digagas di tahun 2000-an itu.

Oleh karena itu, rasanya sangat beralasan, bila kita mempertanyakan, bagaimanakah kini eksistensi SURAU sebagai lembaga pendidikan yang sudah terbukti berhasil pada jamannya. Bagaimanakah kondisinya kini ditengah era globalisasi, ditengah adanya penetrasi budaya Barat yang hadir begitu jauh dalam kehidupan kita melalui kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi.
Timbul sebuah pertanyaan yang mergelitik, Apakah iya ? fungsi surau sebagai sentra pendidikan yang juga berbasis pada “TIGO TUNGKU SAJARANGAN”, yaitu berbasis pada “OTAK (akademik), HATI (akhlak mulia) dan TANGAN (keterampilan), seperti yang pernah digagas dan dijalankan oleh Angku Muhammad Syafei di INS Kayutanam tahun pada 1926, telah hilang kiprahnya di dunia pendidikan di Ranah Minang.

Hadirin yang dimuliakan Allah
Saat sekarang ini sedang digulir Gerakan Kembali ke Surau, tujuannya adalah untuk membangkitkan atau menggiatkan lagi atau merevitalisasi fungsi surau sebagai pusat keislaman (Islamic Center), seperti tempo dulu, dengan maksud agar generasi muda mampu menghadapi penetrasi budaya asing yang demikian besar dampak buruknya terhadap kehidupan Islami yang menjadi ciri masyarakat Minang.

Hadirin yang dimuliakan Allah
Gagasan kembali ke Surau, ditengah kegamangan kita menghadapi era globasi yang ditandai dengan mudahnya teknologi komunikasi dan informasi masuk ke rumah kita, dengan dampak baik dan buruknya, sangat perlu kiranya kita dukung. Kita perlu menggali kembali keunggulan pendidikan berciri Surau. Yaitu sebuah konsep pendidikan keislaman yang berbasis kearifan lokal ala Alam Minangkabau, yang telah terbukti mampu membekali keterampilan hidup atau life skill bagi lulusannya.
Untuk itu beberapa langkah yang bisa, kita lakukan adalah:

• Pertama: Menginventarisir jumlah surau -surau yang masih ada di setiap kampung di setiap nagari
• Kedua: Membuat kajian atas kondisi surau-surau yang ada, dilihat dari kondisi fisik, pengelolaan, guru dan peserta didik yang ada.
• Ketiga: Membentuk dan Meningkatkan forum koordinasi atau majelis quro antara surau di dalam suatu nagari, sampai terbentuk koordinasi setingkat Propinsi.
• Ke empat :Mengikutsertakan peran Pengurus Masjid (DKM), Ninik Mamak (KAN), Majelis Ulama (MUI), para tokoh pendidik, tokoh orpol dan ormas Islam dalam rencana pengembangan SURAU MODERN di Ranah Minang.
• Kelima : Sesuai dengan UUD 1945 bahwa pendidikan adalah menjadi tugas negara, maka program pengembangan dan pengelolaan SURAU MODERN mestinya tercermin dalam APBN dalam APBD Kabupaten/ Kota.

Foto: MENGGALI POTENSI  SURAU  menjadi/sebagai ISLAMIC  CENTER<br />
oleh : Taufik Ahmad Taudjidi – Imam Basa Nagari Gunuang</p>
<p>(Kutipan Khutbah Idul Fitri 1433 H, 19 Agustus 2012, di Lapangan SMPN 3 Padang Panjang)</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd<br />
Kaum Muslimin yang berbahagia, </p>
<p>Saat ini, dalam rangka membangun kemandarian bangsa guna menghadapi persaingan di era globalisasi, tengah digulirkan konsep pembangunan berbasis kearifan lokal atau local wisdom. Yaitu, konsep pembangunan berbasis pada kondisi budaya lokal, termasuk mengacu pada pesan-pesan moral dan motivasi yang hidup di masyarakat.</p>
<p>Salah satu”kearifan lokal” yang ada di Ranah Minang,  adalah  berlakunya  SISTEM MATRILINEAL, yaitu sistem waris harta pusaka tinggi yang berpuncak dan turun temurun pada garis ibu.<br />
Saat ini, di seluruh dunia,  hanya terdapat  4 (empat) suku bangsa  yang menganut sistem Matrilineal, yaitu sebuah suku bangsa di benua Afrika, sebuah suku Indian di benua Amerika , sebuah suku di India dan satu-satunya  suku di Indonesia, yaitu Minangkabau.<br />
Sistem matrilineal dengan segala sub-sistemnya  adalah “Tiang Agung Minangkabau” kata alm Buya Hamka. Hak Waris Harta pusaka tinggi sebagai sub sistem dari sistem Matrilineal, hendaknya harus tetap dijaga keberadaannya. Harta pusaka tinggi adalah harta bersama sebuah kaum, adalah harta bersama untuk dinikmati, bukan harta untuk dibagi-bagi. Pewarisan harta pusaka tinggi adalah hanya sekedar peralihan peran, bukan peralihan milik. Harta pusaka tinggi turun dari niniek ka mamak, dari mamak ka kamanakan dan seterusnya  ka bawah menurut garis ibu.<br />
Harta pusako tinggi  tak boleh berpindah tangan karena diperjual-belikan.  Harta Pusako tinggi adalah sebagai bukti “asal-usul” seseorang atau kaum. Seseorang dapat dikatakan adalah keturunan Minang, hanya apabila masih mempunyai harta pusako tinggi. Dalam adat, ini dikatakan:<br />
“Nan ba pandam ba pakuburan, nan basasok bajarami, kok dakek dapek dikakok, kok jauah dapek diantakan”<br />
Apabila sebuah keluarga atau kaum tak lagi punya harta pusako tinggi, orang atau keluarga itu tidaklah lengkap keminangkabauannya, bahkan sudah dianggap punah. Mereka tak perlu lagi punya panghulu, karena adat berdiri diatas pusako tinggi.</p>
<p>Dari uraian ringkas diatas, dimensi  kearifan lokal yang menyertainya adalah:</p>
<p>Bahwa sejauh manapun anak-cucu orang Minang pergi merantau, bahkan sampai  ke Australia atau ke Amerika, selama mereka masih punya harato pusako tinggi, mereka dan anak keturunannya akan tetap punya<br />
kampung halaman di Ranah Minang, dan mereka tetap  bangga dengan RanahMinang.</p>
<p>Kondisi emosional itulah tampaknya yang terpancar dari gegap gempitasetiap  acara “pulang Basamo”, seperti yang tampak pada setiap lebaran  saat ini.</p>
<p>Kaum Muslimin yang berbahagia, </p>
<p>Keunikan lain dari alam minangkabau yang mencerminkan kearifan lokal adalah adanya Falsafah Hidup yang sangat terkenal:<br />
“ ADAT BERSANDI SYARA’, SYARA’ BERSANDI KITABULLAH”.</p>
<p>Nilai-nilai Agama Islam, yang menganut sistem patrilineal, secara arif diterima oleh adat dan budaya Minangkabau tanpa mengorbankan adat budaya yang berlaku. Bahkan Nilai-nilai agama dan adat saling memperkuat, kokoh dalam keserasian dan keharmonisan, menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Saling isi mengisi. Kaum adat dan kaum agama bekerjasama saling bahu membahu membangun masyarakat.<br />
Perpaduan ini telah melahirkan harmoni  sosial  di bawah sistem kepemimpinan tripartit yang disebut TTS (Tungku nan Tigo Sajarangan) yang terdiri dari – Ninik Mamak , Alim Ulama, dan Cerdik Pandai. Mereka bersinergi menjaga dan menjalankan  TTS yang lain pula, Tali nan Tigo Sapilin, yaitu Adat, Syari’at  dan Peraturan/perundangan)</p>
<p>Kesesuaian dan keserasian hubungan ini tak lain karena nilai-nilai adat Minang, yang digali dan dijalankan  sebelum kedatangan Agama Islam, memiliki landasan yang sama dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis. Misalnya, ketika, ayat  Al-Qur’an yang pertama turun pada tanggal 17 Ramadhan di kota mekkah:<br />
Iqra bismirabbikallazi khalaq # Khalaqal insanamin ‘alaq # Iqra’ warabbukal akram # Allazi ‘allama bil qalam # ‘Alamal insaa namaa lam ya’lam.<br />
•	Bacalah dengan menyebut  nama Tuhanmu yang menciptakan * Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah # Yang mengajar manusia dengan pena # Yang mengajar manusia  apa yang tidak diketahuinya. </p>
<p>Jauh sebelum itu, para ninik mamak di ranah minang telah memberi petuah agar  masyarakat Minang memahami dan mengikuti hakekat hukum alam (sunatullah), seperti petuah  dibawah ini:<br />
Api, paneh dan mambaka,<br />
Aie, mambasahi dan manyuburkan,<br />
Kayu, bapokok,<br />
Ayam, bakokok,<br />
Kambiang, mangambiak,<br />
harimau mangaum<br />
Gunuang, bakabuik, dan sebagainya.</p>
<p>Dipertegas pula dengan petatah lain:<br />
Panakiak pisau sirauik,<br />
ambiak galah batang lintabuang,<br />
silodang ambiak kanyiru,<br />
Nan satitiak jadikan lauik,<br />
Nan sakapa jadikan gunuang,<br />
Alam takambang jadi guru.</p>
<p>Falsafah “alam takambang jadi guru”, adalah falsafah hidup yang   sangat berkesesuaian  dengan banyak firman Allah dalam Al-Qur’an, diantaranya pada surat ‘ Ar-Ra’d ayat 3, yang artinya:<br />
"Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan".</p>
<p>Atau  firman Allah dalam surat al-Ankabut <29>: ayat 44:<br />
“Khalaqallahus samaa waa ti wal ardha bilhaq* innafii zalika la aayatal lilmu’ miniin<br />
" Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan  yang jelas. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat  tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang percaya."</p>
<p>Itulah sebuah kearifan lokal di Ranah Minang, sebuah falsafah hidup yang berlandaskan akal dan iman, yang berpijak  pada sunatullah dan tuntunan Al-Qur’an. “Alam takambang jadi guru”.. “Indak lakang di paneh, indak lapuak di hujan”. Dari dahulu sampai kini, tak henti, berlaku turun temurun. </p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd<br />
Hadirin yang dimuliakan Allah,<br />
Bapak-bapak, ibu-ibu, angku-angku, anak dan kamanakan yang berhadir di tanah lapang ini.<br />
Lihatlah sekeliling kita, Nagari Gunuang yang indah ini, mancaliak ka  mudiak, tampak puncak gunuang Marapi. Mancaliak ka arah Barat  ado Gunuang Singgalang nan manjulang. Mancaliak dari sabalah ateh tampak danau Singkarak yang menyimpan ikan bilih, yang hanya  satu-satunya di dunia,  endemik di danau Singkarak.<br />
Ini lah kampuang kito, Gunuang Sajati, gunuang sansai bakuliliang, jo hutan badaun rimbun, dari mudiak ka ilie tak berhenti aie mangalie. Tahampa sawah-sawah, dari bukik ka lambah-lambah,  bapamatang- bajanjang-janjang.<br />
 Ado mato aie bula’an di Sigando, ado mato air di ikue lubuak dan tempat lain. Airnya bersih bening tak perlu disaring.</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd</p>
<p>Subhanallah, demikian besar anugerah Allah  yang tercurah bagi kita urang nagari Gunuang. Dibandingkan dengan wilayah di belahan lain di muka bumi, yang kering kerontang, Nagari Gunuang tak lain adalah sebuah Surga yang terhampar di muka bumi, yang  diperuntukkan oleh Allah bagi kita urang nagari Gunuang. Allah telah memelihara kesuburan tanah kita dengan muntahan abu vulkanik Gunung Marapi. Hutan-hutan lebat di lereng gunung Marapi berjasa  menyimpan air tanah bagi kehidupan kita dan sawah kita. </p>
<p>Kalau pun ada sesekali gempa vulkanik, tak lain agar kita selalu mengingat  Allah, bahwa Allah lah pemilik alam semesta, kita diingatkan  agar selalu menjalankan perintahNya dan menghindari larangan-Nya, agar supaya kita terhindar dari kemurkaan-Nya. Jadi, sangat beralasan bagi kita untuk selalu merenungkan firman Allah dalam surat  Ar-rahman yang berulang-ulang dikatakan-Nya::</p>
<p>Fabiayalaa irabbikumaa tukazibaan<br />
(Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd<br />
Hadirin yang rahima kumullah<br />
Kehadiran surau di ranah Minang adalah suatu kearifan lokal  lain, yang diwariskan oleh niniek mamak kita, yang perlu kita pelihara. Di Nagari Gunuang kita mengetahui, ada surau di Sigando, ada surau di Gantiang, ada surau di  simpang Lubuak, ada di surau Ngalau atau ditempat lainnya. </p>
<p>Dahulu, beberapa puluh tahun yang lalu, tidak ada seorang anakpun disuatu kampung  yang tidak belajar mengaji di surau. Semua anak-anak, siang hari  belajar  di sekolah umum, malam hari belajar mengaji di surau. 7 hari dalam seminggu tanpa hari libur. Pada setiap akhir minggu mengadakan panggung gembira, dengan bernyanyi dan latihan berpidato.  Anak-anak laki-laki yang sudah baliq, oleh ibunya diperintahkan untuk tidur di surau. Bersama dengan teman sebaya.</p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah.</p>
<p>Dari perjalanan sejarah,  kita mengetahui bahwa sejak tempo dulu di Ranah Minang, Surau  memiliki peran penting dalam mendidik generasi muda, surau terbukti sukses menjadi instrumen pembentuk karakter masyarakat minang. </p>
<p>Di surau inilah anak-anak remaja memulai PERJALANAN untuk memperoleh bekal kecakapan hidup.   Di surau inilah mereka memantapkan eksistensi diri dan kepercayaan diri. Di surau lah mereka  mendapat kecakapan membaca, menulis dan berpidato. Di surau lah mereka  mengasah kecakapan berkomunikasi, berdiplomasi dan bersilat lidah, berpantun, ber petatah-petitih.  Di surau lah mereka memperoleh keterampilan personal seperti bersilat untuk membela diri. Di surau lah mereka memperoleh kecakapan sosial – bermasyarakat,Dan Salah satu kecakapan yang penting adalah kecakapan bermusyawarah untuk mengambil keputusan yang bersandar pada falsafah:</p>
<p>“Bulek air karano pambuluah, bulek kato karano mufakaek”.</p>
<p>Sejarah mencatat, bahwa surau adalah tempat para tokoh  atau cendekiawan asal Minang Kabau tempo dulu, sebut saja seperti  Buya Hamka, Moh. Natsir, A.R. Sutan Mansyur,   dan banyak lagi yang lain,yang memulai “perjalanan” hidup mereka melalui surau, guna  memperoleh kecakapan hidup atau apa yang sekarang sangat popular dengan istilah “LIFE SKILL”.</p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah</p>
<p>Konsep pendidikan yang bernama “LIFE SKILL” atau “Kecakapan Hidup” itu  dicetuskan oleh pakar pendidikan Barat, baru pada awal tahun 2000 lalu. Konsep ini  diamini dan oleh para Pakar Pendidikan Indonesia yang kuliah di Amerika untuk di gulirkan sebagai konsep unggulan di Indonesia. Konsep pendidikan “life skill” ala Barat tersebut, menurut pakarnya  meliputi: i)kecakapan adaptasi diri, ii) kecakapan komunikasi, iii) kecakapan memilih dan memilah masalah, iv)kecakapan mengambil keputusan, v) kecakapan personal dan sosial.</p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah<br />
Ternyata konsep pendidikan “life skill” yang digagas oleh pakar pendidikan Barat 10 tahun yang lalu itu, telah dilaksanakan di Ranah Minang oleh para jenius cendekiawan-cadiak pandai,  ninik mamak kita beberapa abad yang lalu, yaitu melalui pendidikan di Surau.<br />
Dengan perkataan lain, kita boleh berbangga hati bahwa pendidikan “life skill” melalui Surau ternyata telah ada  3 abad lebih, mendahului konsep pendidikan ala barat yang disebut dengan “life skill education” yang baru digagas di tahun 2000-an itu.</p>
<p>Oleh karena itu, rasanya sangat beralasan, bila  kita mempertanyakan, bagaimanakah kini eksistensi SURAU sebagai lembaga pendidikan yang sudah terbukti  berhasil pada jamannya. Bagaimanakah kondisinya kini ditengah era globalisasi, ditengah adanya penetrasi  budaya  Barat yang hadir begitu jauh dalam kehidupan kita melalui kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi.<br />
Timbul sebuah pertanyaan yang mergelitik, Apakah iya ? fungsi surau sebagai sentra pendidikan yang  juga berbasis pada  “TIGO TUNGKU SAJARANGAN”, yaitu berbasis pada “OTAK (akademik), HATI (akhlak mulia) dan  TANGAN (keterampilan), seperti yang pernah digagas dan dijalankan oleh Angku Muhammad Syafei di INS Kayutanam tahun pada 1926, telah hilang kiprahnya  di dunia pendidikan di Ranah Minang.</p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah<br />
Saat sekarang ini sedang digulir Gerakan Kembali ke Surau, tujuannya adalah untuk membangkitkan atau menggiatkan lagi atau merevitalisasi  fungsi surau sebagai pusat keislaman (Islamic Center), seperti tempo dulu, dengan maksud agar generasi muda mampu menghadapi  penetrasi budaya asing yang demikian besar dampak buruknya terhadap kehidupan Islami yang menjadi ciri masyarakat Minang. </p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah<br />
Gagasan kembali ke Surau, ditengah kegamangan kita menghadapi era globasi yang ditandai dengan mudahnya teknologi komunikasi dan informasi masuk ke rumah kita, dengan dampak baik dan buruknya,  sangat perlu kiranya kita dukung.  Kita perlu menggali kembali keunggulan pendidikan berciri  Surau. Yaitu sebuah konsep pendidikan keislaman yang berbasis kearifan lokal ala Alam Minangkabau, yang telah terbukti mampu membekali keterampilan hidup atau life skill bagi lulusannya.<br />
Untuk itu beberapa langkah yang bisa, kita lakukan adalah:</p>
<p>•	Pertama: Menginventarisir jumlah surau -surau yang masih ada di setiap kampung di setiap  nagari<br />
•	Kedua: Membuat kajian atas kondisi surau-surau yang ada, dilihat dari kondisi fisik, pengelolaan, guru dan peserta  didik  yang ada.<br />
•	Ketiga: Membentuk dan Meningkatkan forum koordinasi atau majelis quro antara surau di dalam suatu nagari, sampai terbentuk koordinasi setingkat Propinsi.<br />
•	Ke empat :Mengikutsertakan peran Pengurus Masjid (DKM), Ninik Mamak (KAN), Majelis Ulama (MUI), para tokoh pendidik, tokoh orpol dan ormas Islam dalam rencana pengembangan SURAU MODERN di Ranah Minang.<br />
•	Kelima : Sesuai dengan UUD 1945 bahwa pendidikan adalah menjadi tugas negara, maka program  pengembangan dan pengelolaan SURAU MODERN mestinya tercermin dalam APBN  dalam APBD Kabupaten/ Kota.” src=”<a href=https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc7/c0.0.403.403/p403x403/481494_4970941831147_743086159_n.jpg&#8221; height=”403″ width=”403″ />

RENUNGKAN PESAN RANGGAEK KE ANAKNYA

RENUNGKAN PESAN RANGGAEK KE ANAKNYA

Assalamu’alaikum …
Ananda …

Ateis Minang adalah musibah sekaligus fenomena menjauhkan generasi Minangkabau dari adat budayanya …
Ini adalah kondisi amat berbahaya …
Sebab, secara sosial budaya dan wilayah kepemilikan di Indonesia sampai kini …
Hanya wilayah Minangkabau saja kawasan ulayatnya yang belum terjamah 100% oleh kolonial imperial kapitalis yang liberalis itu …
Dan perlu ananda ketahui, bahkan oleh semua rakyat Minangkabau ini …
Bahwa di dalam buminya terkandung mineral kaya amat berharga lebih banyak dari yang dimiliki Papua dan daerah lainnya
>>> silahkan bertanya kepada ahlinya untuk itu <<<
Maka satu satunya upaya kolonial imperial kapitalis liberal itu adalah menghapus adat budaya Minangkabau melalui berbagai cara …
Akhirnya, ranah ini akan dikuasai mereka satu ketika kelak ….

Selain itu, bila Minang kehilangan kearifan budayanya maka identitas Minang dan identitas Nasional ini secara pasti akan hilang pula …
Maka ujungnya Indonesia tidak berharga lagi …
Akibatnya sangat jauh ananda …
Kami juga melihat dan menyaksikan dengan jelas bahwa jarang terjadi (bahkan tidak pernah terjadi) etnis Batak, Jawa, Bugis, Bali, Kahayan atau apa saja di nusantara Indonesia ini yang menghujat adat budaya mereka …
Kecuali, sekarang ini, hanya orang Minang saja yang seakan disuruh serta dibiayai menghujat adat budayanya, termasuk melalui pendekatan agama Islam yang dianut seratus prosen oleh orang Minang ini …
Rahasia apa yang ada dibalik itu semua ananda …. ???? …
S i l a h k a n …. J a w a b l a h …
INI PERANG BESAR …
Bahkan mungkin parang “basosoh” melalui alam maya …
Maaf jika kami menyampaikan ini dengan cara begini …

Ketahuilah bahwa Minangkabau memiliki dua kekayaan besar …

Pertama “kekayaan intelektual” dengan budayanya yang kuat berasas kepada Kitabullah yakni Al Quran dan umatnya adalah Islam sehingga disepakati diluar Islam bukan orang Minang ..

Kedua adalah “kekayaan alamnya” yang masih terpendam didalam perut buminya, “ibarat ikan yang berada di mata kucing yang sedang kelaparan” …

Dan inilah yang akan dihancurkan itu melalui pendongkelan budaya Minangkabau itu …

Mohon maafkan ayahanda …

Wassalam

STRATEGI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS DAN MADANI

Oleh ; H. Mas’oed Abidin

Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan Suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (UUD-45)

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, dan

“Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab, serta

berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.

(UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional)

 Mukaddimah

Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya (‘aaliman), atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an), dan jangan menjadi kelompok keempat (rabi’an), yakni tidak tersentuh proses belajar mengajar dan enggan pula untuk mendengar. Kemulian pengabdian seorang pendidik terpancar dari keikhlasan membentuk anak manusia menjadi pintar, berilmu, berakhlak dan pengamal  ilmu yang menjelmakan kebaikan pada diri, kerluarga, dan di tengah umat kelilingnya.

Namun sekarang, kita menatap fenomena mencemaskan. Penetrasi bahkan infiltrasi budaya asing ternyata berkembang pesat. Pengaruhnya tampak pada perilaku  pengagungan materia secara berlebihan (materialistik) dan kecenderungan memisah kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik). Kemudian berkembang pula pemujaan kesenangan indera dengan mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Hakekatnya, telah terjadi penyimpangan perilaku yang sangat jauh dari budaya luhur – adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah-. Kesudahannya, rela atau tidak, pasti mengundang kriminalitas, sadisme, dan krisis secara meluas.

Pergeseran paradigma materialistic acapkali menjadikan para pendidik (murabbi) tidak berdaya menampilkan model keteladanan. Ketidakberdayaan itu, menjadi penghalang pencapaian hasil membentuk watak anak nagari. Sekaligus, menjadi titik lemah penilaian terhadap murabbi bersangkutan.[1] Tantangan berat ini hanya mungkin dihadapi  dengan menampilkan keterpaduan dalam proses pembelajaran  dan pengulangan contoh baik (uswah) terus menerus. Jati diri bangsa terletak pada peran maksimal ibu bapa – yang menjadi kekuatan inti masyarakat – dalam rumah tangga.[2] Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dengan semangat dan cita-cita yang besar ditopang kearifan. Kedalaman pengertian serta pengalaman di dalam membaca situasi dan upaya menggerakkan masyarakat sekitar yang mendukung proses pendidikan. Usaha berkesinambungan mesti sejalan dengan,

  1. pengokohan lembaga keluarga (extended family), 
  2. pemeranan peran serta masyarakat secara pro aktif,
  3. menjaga kelestarian adat budaya (hidup beradat).

Setiap generasi yang dilahirkan dalam satu rumpun bangsa (daerah) wajib tumbuh menjadi,

  1. Kekuatan yang peduli dan pro-aktif dalam menopang pembangunan bangsanya.
  2. Mempunyai tujuan  yang jelas, menciptakan kesejahteraan yang adil merata melalui program-program pembangunan.
  3. Sadar manfaat pembangunan merata dengan,
    1. prinsip-prinsip jelas,
    2. equiti yang berkesinambungan,
    3. partisipasi tumbuh dari bawah dan datang dari atas,
    4. setiap individu di dorong maju
    5. merasa aman yang menjamin kesejahteraan.[3]

Menghadapi Arus Kesejagatan

Kesejagatan (global) yang deras secara dinamik perlu dihadapi dengan penyesuaian kadar apa yang di kehendaki. Artinya, arus kesejagatan tidak boleh mencabut generasi dari akar budaya bangsanya. Sebaliknya, arus kesejagatan itu mesti dirancang dapat ditolak mana yang tidak sesuai.[4]

Abad keduapuluhsatu (alaf baru) ini ditandai mobilitas serba cepat dan modern.  Persaingan keras dan kompetitif seiring dengan laju informasi dan komunikasi serba efektif tanpa batas. Bahkan, tidak jarang membawa pula limbah budaya ke barat-baratan, menjadi tantangan  yang tidak mudah dicegah. Menjadi pertanyaan, apakah siap mengha­dapi perubahan cepat penuh tantangan, tanpa kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM)  berkualitas yang berani  melawan terjangan globalisasi itu?”

Semua elemen masyarakat berkewajiban menyiapkan generasi yang mampu bersaing di era tantangan sosial budaya, ekonomi, politik, menyangkut semua aspek kehidupan manusia. Globalisasi membawa perubahan perilaku, terutama terhadap generasi muda. Jika tidak mempunyai kekuatan ilmu, akidah dan budaya luhur, akan terancam menjadi generasi buih, sewaktu-waktu terhempas di karang dzurriyatan dhi’afan, menjadi “X-G” atau the loses generation.

Membiarkan diri terbawa arus deras perubahan sejagat tanpa memperhitungkan jati diri akhirnya menyisakan malapetaka.[5] Pemahaman ini, perlu ditanamkan dikala   melangkah ke alaf baru. Kelemahan mendasar terdapat pada melemahnya jati diri. Dapat terjadi karena kurangnya komitmen kepada nilai luhur agama (syarak) yang menjadi anutan bangsa.[6]

Lemahnya jati diri akan dipertajam oleh tindakan isolasi diri lantaran kurang kemampuan dalam penguasaan “bahasa dunia” (politik, ekonomi, sosial, budaya). Ujungnya, generasi bangsa menjadi terjajah di negerinya sendiri. Mau tidak mau, tertutup peluang berperan serta dalam kesejagatan.[7] Kurang percaya diri lebih banyak disebabkan oleh,

  1. Lemah penguasaan teknologi dasar yang menopang perekonomian bangsa,
  2. Lemah minat menuntut ilmu.

Hilangnya Akhlak Menjadikan SDM Lemah

Penyimpangan perilaku menjadi ukuran moral dan akhlak. Hilang kendali menjadi salah satu penyebab lemahnya ketahanan bangsa. Yang merasakan akibatnya, terutama tentulah generasi muda, lantaran rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan.

Gambar

Hapusnya panutan dan impotensi tokoh pemangku adat dalam mengawal budaya syarak, dan pupusnya wibawa ulama menjaga syariat agama, memperlemah daya saing anak nagari. Lemahnya tanggung jawab masyarakat, akan berdampak dengan terbiarkan kejahatan meruyak secara meluas. Interaksi nilai budaya asing yang bergerak kencang tanpa kendali, akan melumpuhkan kekuatan budaya luhur anak nagari. Bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis. Akibatnya,  profesi guru (murabbi) mulai dilecehkan.

Hilang keseimbangan telah mendatangkan frustrasi sosial yang parah. Tatanan bermasyarakat tampil dengan berbagai kemelut. Krisis nilai akan menggeser akhlak dan tanggungjawab moral sosial ke arah tidak acuh (permisiveness). Dan bahkan, terkesan toleran terhadap perlakuan maksiat, aniaya dan durjana. Konsep kehidupan juga mengalami krisis dengan pergeseran pandang (view) terhadap ukuran nilai. Sehingga, tampil pula krisis kridebilitas dalam bentuk erosi kepercayaan. Peran orang tua, guru dan pengajar di mimbar kehidupan  mengalami kegoncangan wibawa. Giliran berikutnya, lembaga-lembaga masyarakat berhadapan dengan krisis tanggung jawab kultural yang terkekang sistim dan membelenggu dinamika. Orientasi kepentingan elitis sering tidak populis dan tidak demokratis. Dinamika perilaku mempertahankan prestasi menjadi satu keniscayaan beralih ke orientasi prestise dan keijazahan. Tampillah krisis solidaritas.

Kesenjangan sosial, telah mempersempit kesempatan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan secara merata. Idealisme pada generasi muda tentang masa datang mereka, mulai kabur.

Perjalanan budaya (adat) terkesan mengabaikan nilai agama (syarak). Pengabaian ini pula yang mendatangkan penyakit sosial yang kronis, di antaranya kegemaran berkorupsi. Adalah suatu keniscayaan belaka, bahwa masa depan sangat banyak ditentukan oleh kekuatan budaya yang dominan. Sisi lain dari era kesejagatan adalah perlombaan mengejar kemajuan seperti pertumbuhan ekonomi dan komunikasi untuk menciptakan kemakmuran. Lemahnya syarak (aqidah tauhid) di tengah mesyarakat serta merta mencerminkan perilaku tidak Islami yang senang melalaikan ibadah.

Generasi Penyumbang

  Membentuk generasi penyumbang dalam bidang pemikiran (aqliyah), ataupun pembaharuan (inovator) harus menjadi sasaran perioritas.[8]

Keberhasilan akan selalu ditentukan oleh adanya keunggulan pada institusi di bidang pendidikan. Pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan dengan kemampuan dan pemahaman mengidentifikasi masalah yang dihadapi. Seterusnya, mengarah kepada kaderisasi diiringi oleh penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada.[9] Generasi baru yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Kekuatan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi muda harus menjadi aktor utama dalam pentas kesejagatan. Mereka mesti dibina dengan budaya kuat yang berintikan nilai-nilai dinamik” dan relevan dalam kemajuan di zaman itu. Generasi masa depan yang diminati, lahir dengan budaya luhur (tamaddun) berlandaskan tauhidik, kreatif dan dinamik. Maka, strategi pendidikan mesti mempunyai utilitarian ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas. Sasarannya, untuk membentuk generasi yang tumbuh dengan tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya. Artinya, generasi yang bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan. Generasi sedemikian hanya dapat dikembangkan melalui pendidikan akhlak, budi pekerti dan penguasaan ilmu pengetahuan. Maka akhlak karimah adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah diri dalam menerima ilmu-ilmu lainnya, karena pada akhirnya ilmu yang benar, akan membimbing umat ke arah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang baik (shaleh). Dengan demikian, diyakini bahwa akhlak adalah jiwa pendidikan, inti ajaran agama, buah dari keimanan.

Generasi penerus harus taat hukum. Upaya ini dilakukan dengan memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga. Mengokohkan peran orang tua, ibu bapak, dan memungsikan peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif. Memperkaya warisan budaya dilakukan dengan menanamkan sikap setia, cinta dan rasa tanggung jawab, sehingga patah tumbuh hilang berganti. Menanamkan aqidah shahih (tauhid) dengan istiqamah pada agama Islam yang dianut. Menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur. Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, niscaya yang akan lahir saintis tak bermoral agama. Kesudahannya, ilmu banyak dengan iman yang tipis, berujung dengan sedikit kepedulian di tengah bermasyarakat.

Gambar

Langkah-langkah ke arah pembentukan generasi mendatang sesuai bimbingan Kitabullah QS.3:102 mesti dipandu pada jalur pendidikan, formal atau non formal. Mencetak anak bangsa yang pintar dan bertaqwa (QS.49:13), oleh para pendidik (murabbi) yang berkualitas pula. Keberhasilan gerakan dengan pengorganisasian (nidzam) yang rapi. Menyiapkan orang-orang (SDM) yang kompeten, dengan peralatan memadai. Penguasaan kondisi umat, dengan mengenali permasaalahan keumatan. Mengenali tingkat sosial dan  budaya daerah, hanya dapat di baca dalam peta dakwah yang bagaimanapun kecilnya, memuat data-data tentang keadaan umat yang akan diajak berperan tersebut. Disini terpampang langkah pendidikan yang strategis itu.

Di samping itu perlu pula menanamkan kesadaran serta tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah. Sikap penyayang dan adil, akan dapat  memelihara hubungan harmonis dengan alam, sehingga lingkungan ulayat dan ekosistim dapat terpelihara. Melazimkan musyawarah dengan disiplin, akan menjadikan masyarakat teguh politik dan kuat dalam menetapkan posisi tawar. Kukuh ekonomi serta bijak memilih prioritas pada yang hak, menjadi identitas generasi yang menjaga nilai puncak budaya Islami  yang benar. Sesuatu akan selalu indah selama benar. Semestinya disadari bahwa budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.

Penguatan Nilai Budaya (tamaddun)

Madani mengandung kata maddana al-madaina atau banaa-ha, artinya membangun atau hadhdhara, maknanya memperadabkan dan tamaddana artinya menjadi beradab dengan hidup berilmu (rasio), mempunyai rasa (arif, emosi) secara individu dan kelompok mempunyai kemandirian (kekuatan dan kedaulatan) dalam tata ruang, peraturan dan perundangan yang saling berkaitan.(Al Munawwir, 1997:1320, dan Al-Munjid, al-Mu’ashirah, 2000:1326-1327). Masyarakat  madani (al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya yang maju, modern, berakhlak dan mempunyai peradaban melaksanakan ajaran agama (syarak) dengan benar. Masyarakat  madani (tamaddun) adalah masyarakat berbudaya dan berakhlaq. Akhlaq adalah melaksanakan ajaran agama (Islam). Memerankan nilai-nilai tamaddun — agama dan adat budaya — di dalam tatanan kehidupan masyarakat, menjadi landasan kokoh meletakkan dasar pengkaderan (re-generasi) agar tidak terlahir generasi yang lemah. Kegiatan utama diarahkan kepada kehidupan sehari-hari. [10]

Keterlibatan generasi muda pada aktifitas-aktifitas lembaga agama dan budaya, dan penjalinan hubungan erat yang timbal balik antara badan-badan kebudayaan di dalam maupun di luar daerah , menjadi pendorong lahirnya generasi penyumbang yang bertanggung jawab.[11] Generasi penyumbang (inovator) sangat perlu dibentuk dalam kerangka pembangunan berjangka panjang. Bila terlupakan, yang akan lahir adalah generasi pengguna (konsumptif) yang tidak bersikap produktif, dan akan menjadi benalu bagi bangsa dan negara.[12]

Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus didalam membentuk SDM, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu dirancang kualita pendidik (murabbi) yang sejak awal mendapatkan pembinaan terpadu. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik, dan bukan utopis.

Keberhasilan perkembangan generasi penerus ditentukan dalam  menumbuhkan sumber daya manusia yang handal. Mereka, mesti mempunyai daya kreatif dan ino­vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis. Mempunyai vitalitas tinggi, dan tidak mudah terbawa arus. Generasi yang sanggup menghadapi realita baru, dengan memahami nilai‑nilai budaya luhur. Selalu siap bersaing dalam basis ilmu pengetahuan dengan jati diri yang jelas dan sanggup menjaga destiny, mempunyai perilaku berakhlak. Berpegang teguh kepada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, mempunyai motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama. Mereka, akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan. Memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan. Semestinya dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Karena itu, perlulah domein ruhiyah itu dibangun dengan sungguh-sungguh;  

  1. pemantapan metodologi,
  2. pengembangan program pendidikan,
  3. pembinaan keluarga, institusi, dan  lingkungan,
  4. pemantapan aqidah (pemahaman aktif ajaran Agama)

 

Membentuk Sumber Daya Manusia  berkualitas

Kita berkewajiban membentuk SDM menjadi sumber daya umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong”, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas. Beberapa model dapat dikembangkan di kalangan para pendidik. Antara lain, pemurnian wawasan fikir disertai  kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan. Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi serta menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur.  “Nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Akhirnya, intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Gambar

Para pendidik (murabbi) adalah bagian dari suluah bendang dengan uswah hidup mempunyai sahsiah[13] (شخصية) bermakna pribadi yang melukiskan sifat individu mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan,  budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak akan mampu menghadirkan kesan positif masyarakat Nagari. Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap perilaku anak didik yang mencerminkan  watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang.[14] Ciri kepribadian syarak yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat,

  1. Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup ;
    1. keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna,
    2. keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan
    3. kepercayaan kepada seluruh asas keimanan (arkan al iman) yang lain.
  2. Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku;
    1. Benar, jujur, menepati janji dan amanah.
    2. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan,
    3. Tawadhu’, sabar, tabah dan cekatan,
    4. Lapang dada – hilm –, pemaaf dan toleransi.
    5. Bersikap ramah, pemurah, zuhud dan berani bertindak.

3.    Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi,

  3.1. Sikap Mental,

  1. Cerdas — pintar teori, amali dan sosial –, menguasai spesialisasi (takhassus),
  2. Mencintai bidang  akliah yang sehat, fasih,  bijak penyampaian.
  3. Mengenali ciri, watak, kecenderungan masyarakat Nagari

3.2. Sifat Kejiwaan,

  1. emosi terkendali, optimis dalam hidup, harap kepada Allah,
  2. Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat.
  3. Lemah lembut dan baik dalam pergaulan dengan masyarakat.

3.3. Sifat Fisik,

  1. mencakup sehat tubuh,
  2. berpembawaan menarik, bersih,
  3. rapi (kemas) dan menyejukkan.

Satu daftar senarai panjang menerangkan sikap pendidik adalah berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), berdisiplin baik, adil dalam menerapkan aturan. Memahami masalah dengan amanah dan mampu memilah intan dari kaca. Mempunyai kemauan yang kuat serta bersedia memperbaiki kesalahan  dengan sadar. Selanjutnya tidak menyimpang dari ruh syari’at. Maknanya, mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah. Para murabbi dapat mewujudkan delapan tanggung jawab dalam hidup;

  1. Tanggungjawab terhadap Allah, dengan keyakinan iman dan kukuh ibadah bersifat istiqamah, iltizam beramal soleh dengan rasa khusyuk dalam mencapai derajat taqwa dan mengagungkan syiar Islam dengan perilaku beradat dan beradab.
  2. Tanggungjawab terhadap Diri, mengupayakan keselamatan diri sendiri, baik aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih dan mampu berkhidmat kepada Allah, masyarakat dan negara.
  3. Tanggungjawab terhadap Ilmu, menguasai ilmu takhassus secara mendalam dan menelusuri dimensi spiritualitas Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan untuk tujuan kemanusiaan dan kesejahteraan umat manusia.
  4. Tanggungjawab terhadap Profesi, tidak bertingkah laku yang menghilangkan kepercayaan orang ramai dan dapat memelihara maruah diri dengan amanah.
  5. Tanggungjawab terhadap Nagari, mengutamakan keselamatan anak Nagari dan memfungsikan lembaga-lembaga pendidikan (surau) dengan ikhlas.
  6. Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari tindakan yang mencemarkan sejawat dengan berusaha sepenuh hati mengedepankan kemajuan social hanya karena Allah.
  7. Tanggungjawab terhadap Masyarakat dan Negara, tidak merusak kepentingan masyarakat atau negara dan selalu menjaga kerukunan bernegara di bawah syari’at Allah.
  8. Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa, dengan menghormati tanggungjawab utama ibu bapa dengan mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

Menghidupkan Partisipasi Umat 

Umat mesti mengantisipasi berbagai krisis dengan kekuatan agama dan budaya (adat dan syarak) agar tidak menjadi kalah di tengah era persaingan. Memantapkan watak terbuka dan pendidikan akhlak berlandaskan ajaran tauhid. Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar seperti tertera dalam QS.31, Lukman:13-17.  Menghadapi degradasi akhlak dapat dilakukan berbagai program, antara lain ;

  1. Integrasi Akhlak yang kuat dengan menanamkan penghormatan terhadap orang tua. Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan, serta pendalaman ajaran agama (tafaqquh fid-diin). Berpijak kepada nilai-nilai Islam yang universal (tafaqquh fin-naas), akan membawa masyarakat memperhatikan masalah sosial (umatisasi) dengan teguh. Menetapkan kepentingan bersama dengan ukuran taqwa, responsif dan kritis dalam mengenali kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan. Tahap selanjutnya mendorong kepada penguasaan ilmu pengetahuan. Kaya dimensi dalam pergaulan bersama mencercahkan rahmatan lil ‘alamin pada seluruh aspek kehidupan.
  2. Kekuatan Ruhiyah. Ketahanan umat, bangsa dan daerah terletak pada kekuatan ruhiyah dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan. Intinya adalah tauhid. Implementasinya akhlak. Umat kini akan menjadi baik dan berjaya, apabila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu dikembalikan. Bertindak atas dasar anutan yang kuat, yakni “memulai dari diri sendiri, mencontohkannya kepada masyarakat lain“, (Al Hadist).
  3. Jalinan Kerjasama yang kuat rapi – network, nidzam– antara lembaga perguruan secara akademik  dengan meningkatkan pengadaan pengguna fasilitas.
    1. Mendorong pemilikan jati diri berbangsa dan bernegara.
    2. Memperkokoh interaksi kesejagatan dengan melakukan penelitian bersama, penelaahan perubahan-perubahan di desa dan kota, antisipasi arus kesejagatan dengan  penguatan jati diri generasi.
    3. Pengoperasionalan hasil-hasil penelitian,
    4. Meningkatkan kerja sama berbagai instansi yang dapat menopang peningkatan kesejahteraan.[15]

Menggali ekoteknologi dengan kearifan yang ramah lingkungan. Menanam keyakinan actual, bahwa yang ada sekarang adalah milik generasi mendatang. Keyakinan ini menumbuhkan penyadaran bahwa beban kewajiban generasi  adalah memelihara dan menjaga untuk diwariskan kepada gererasi pengganti, secara berkesinambungan, lebih baik dan lebih sempurna.[16] Aktifitas ini akan memacu peningkatan daya kinerja di berbagai bidang garapan melalui,

  1. rancangan pembangunan pendidikan arus bawah,
  2. mempertajam alur pemikiran melalui pendidikan dengan pendekatan holistik (holistic approach) menurut cara yang tepat.

Allah mengingatkan, apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi (QS.7,al-A’raf:96). Artinya, mengajak Umat mempelajari dan mengamalkan iman dan taqwa (tuntutan syarak sesuai ajaran Islam). Selanjutnya, menggiatkan penyebaran dan penyiaran dakwah, untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

Di bawah Konsep Redha Allah

Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) pada dua sisi. Dimulai dengan, ishlah an-nafsi, yaitu perbaikan kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah, “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu” (Al Hadist), selanjutnya islah al-ghairi yaitu perbaikan kualitas lingkungan menyangkut masalah hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang dikenal sebagai sustainable development atau pengembangan berkesinambungan.

Gambar

Langkah awal yang harus ditempuh adalah menanamkan kesadaran tinggi tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Penggarapan secara sistematik dengan pendekatan proaktif, untuk mendorong terbangunnya proses  pengupayaan (the process of empowerment), umat membangun dan memelihara akhlak.

Melaksanakan tugas dakwah terus menerus dengan petunjuk yang lurus (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-46) dibuktikan dengan beribadah kepada Allah. Mengawal generasi Agam tetap beragama, dan tidak musyrik. Mengingatkan selalu untuk bersiap kembali kepada-Nya (QS.Al Qashash, 28 : 87). Setiap muslim hakikinya adalah umat dakwah pelanjut Risalah Rasul yakni Islam. Dari sini, berawal gerakan syarak mangato adat memakai, artinya hidup dan bergaul dengan meniru watak pendakwah pertama, Muhammad Rasulullah SAW. Meneladani pribadi Muhammad SAW untuk membentuk effectif leader di medan dakwah dalam menuju inti agama Islam (QS. Al Ahzab, 33 : 21). Dakwah selalu akan berkembang sesuai variasi zaman yang senantiasa berubah.

Tahapan berikutnya perencanaan terarah, untuk mewujudkan keseimbangan antara  minat dan keterampilan dengan strategi (siyasah) yang jelas. Aspek pelatihan menjadi faktor utama pengupayaan. Konsep-konsep visi, misi, memang sering terbentur oleh lemahnya metodologi dalam operasional (pencapaian). Maka dalam tahap pelaksanaan  mesti diupayakan secara sistematis (the level of actualization).

Menetapkan langkah ke depan pembinaan human capital dengan keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan. Pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualitas wajib mempunyai jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif. Langkah yang dapat dilakukan adalah mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan. Langkah drastik berikutnya mencetak ilmuan beriman taqwa seiring dengan pembinaan minat dan wawasan. Generasi muda ke depan mesti menyatukan akidah, budaya dan bahasa bangsa, untuk dapat mewujudkan masyarakat madani yang berteras keadilan sosial yang terang. Strategi pendidikan yang madani (maju, dan berperadaban) menjadi satu nikmat yang wajib dipelihara, agar selalu bertambah.

Perlu ada kepastian dari pemerintah daerah  satu political action yang mendorong pengamalan ajaran Agama (syarak) Islam, melalui jalur pendidikan formal dan non-formal secara nyata, akan sangat menentukan dalam membentuk generasi muda masa datang. Ajaran tauhid mengajarkan agar kita menguatkan hati, karena Allah selalu beserta orang yang beriman.

Dengan bermodal keyakinan tauhid ini, niscaya generasi terpelajar akan bangkit dengan pasti dan sikap yang positif.

  1. Menjadi sumber kekuatan dalam proses pembangunan
  2. Menggerakkan  integrasi aktif,
  3. Menjadi subjek dan penggerak pembangunan nagari dan daerahnya sendiri.[17]

Semoga Allah memberi kekuatan memelihara amanah bangsa ini dan senantiasa meredhai. Amin.

Catatan Kaki

[1]    Pepatah Arab meyebutkan     لا تنه عن خلق وتأتي مثله عار عليك اذا فعلت عظيم     artinya,  Jangan lakukan perbuatan yang anda tegah, karena perbuatan demikian aibnya amatlah parah.

[2]   Lihat QS.66:6 bandingkan dengan QS.5:105.            

[3]    Lihat QS.4:58, selanjutnya dasar equiti (keadilan) adalah bukti ketaqwaan (QS.5:8)

[4]    Lihat QS.3:145 dan 148, lihat juga QS.4:134, dan bandingkan QS.28:80.

[5]    Lihat QS.30:41

[6]    Melemahnya jati diri tersebab lupa kepada Allah atau hilangnya aqidah tauhid, lihat QS.9:67, lihat juga QS:59:19.

[7]    Lihat QS.9:122, supaya mendalami ilmu pengetahuan dan menyampaikan peringatan kepada umat supaya dapat menjaga diri (antisipatif).

[8]    QS.3:139 menyiratkan optimisme besar untuk penguasaan masa depan. Masa depan – al akhirah – ditentukan oleh aktifitas amaliyah (QS.6:135) bandingkan dengan QS.11:93 dan QS.11:121, bahwa kemuliaan (darjah) sesuai dengan sumbangan hasil usaha.

[9]    Lihat QS.9:105, amaliyah khairiyah akan menjadi bukti ditengah kehidupan manusia (dunia).  

[10]   Lihat QS.4:9, mengingatkan penanaman budaya taqwa dan perkataan (perbuatan) benar.

[11]   Generasi yang tumbuh dalam persatuan yang kokoh kuat dengan I’tisham kepada Allah dan menjauhi  setiap perpecahan (lihat QS.3:103, perbandingkan QS.4:145-146, sesuai QS.22:78).

[12]   Lihat QS.28:83.

[13]  Syakhshiyah didifinisikan sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psyikofisikal di dalam diri seorang yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus.  Sistem psyikofisikal merangkum segala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh, saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang (G.W Allport, dalam ”Pattern and Growth in Personality”, lihat juga, Mok Soon Sang, 1994:1).

[14]   Syakhshiyah mempunyai tiga ciri keunikan dengan arti kebolehan  atau kemampuan untuk berubah dan di ubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman dan organisasi. Maka syakhshiyah bukan  sekadar himpunan tingkahlaku, tetapi melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

[15]  Lihat QS.6:54 dan QS.16:97, bandingkan QS.25:70-71.

[16]  Lihat QS.19:40, dan QS.21:105, pewaris bumi adalah hamba Allah yang shaleh (baik), bandingkan dengan QS.7:128.

[17]  “wa man yattaqillaha yaj’allahuu makhrajan”(QS.65:2-3) Lihat pula QS.3:160, dan QS.47:7.

Dokumen surat Pak Natsir kepada Buya Fachruddin Hs. Datuk Majo Indo pada 20 Januari 1968, yang mengingatkan agar berhatihati menghadapi gerakan pemurtadan oleh pihak Salibiyah.

Dokumen surat Pak Natsir kepada Buya Fachruddin Hs. Datuk Majo Indo pada 20 Januari 1968, yang mengingatkan agar berhatihati menghadapi gerakan pemurtadan oleh pihak Salibiyah.

 

Djakarta, 20 Djanuari 1968.

Jth.

Saudara Fachruddin H.S.Dt. Madjo Indo

 

Assalamu’alaikum w.w.

            Dalam perdjalanan saja berkeliling di Sumbar ada satu hal jang menarik perhatian saja, tetapi waktu itu tak ada kesempatan bagi saja  untuk memikirkannja lebih mendalam, apalagi untuk membitjarakannja dengan taman-teman kita secara bertenang.

            Oleh karena itu baiklah saja tuliskan, agar dapat dipikirkan bersama diantara teman-teman kita jang akrab, jang bertanggung jawab  (“bakorong-ketek”).

  1. Ada persoalan rumah-rumah rakjat, jang sedang ditempati oleh anggota tentara. Rakjat meminta rumah-rumah mereka kembali. Terutama di Agam.
  2. Fihak Pemerintah bukan tidak mau mengembalikan akan tetapi, kemana anggota tentara akan ditempatkan, oleh karena belum ada asrama. Bukan pula tidak mau mendirikan asrama, akan tetapi beaja pembangunan tidak ada.
  3. Akibatnja : fihak masjarakat merasa tidak puas oleh karena didesak oleh soal-soal sosial, seperti soal keluarga jang hendak pulang dari rantau, soal anak kemanakan jang hendak dikawinkan, dan hal-hal semacam itu jang menghendaki perumahan”.
  4. Di Bukittinggi ada agen dari missie asing (Baptis), jang mempunyai banjak uang. Bisa mendirikan sekolah, rumah sakit, geredja, asrama, apa sadja. Dan taktik-srategi jang mereka tempuh sekarang ini, dalam kampanje Kristianisasi mereka dimana-mana, tentu djuga di Sumbar ini, ialah menggunakan keunggulan mereka dibidang materie dan alat-alat modern itu, untuk mendapatkan satu basis operasi mereka ditengah-tengah ummat Islam.Apalagi di tempat jang “strategis”, seperti ditengah-tengah masjarakat Aceh, masjarakat Bugis, masjarakat Kalimantan, masjarakat Pasundan dan masjarakat Minang  “nan basandi sjara’- basandi adat”itu.

Dalam rangka ini mereka melakukan segala matjam daja upaja, setjara gigih. Tidak bosan-bosan, dan tidak malu-malu.

5.    Apabila mereka mengetahui bahwa ada suatu kesulitan sosial ekonomis seperti jang dikemukan tadi itu, maka mereka tidak akan ragu-ragu “mengulurkan tangan” untuk “memetjahkannja”. Asal dengan itu mereka mendapat basis jang permanen, untuk operasi mereka dalam djangka pandjang. (Bak Ulando minta tanah !). Untuk ini mau sadja apa jang dikehendaki. Mau rumah sakit? –Mereka bikinkan rumah sakit jang up-to-date. Mau asrama? – Mereka bikinkan. Mau kontrak atau perdjandjian jang bagaimana? – Mereka bersedia teken…

Dipulau Sumba rakjat memerlukan air, pemerintah belum sanggup mengadakan djaringan irigasi dan saluran air minum?- Mereka bangun djaringan irigasi dan saluran air minum itu.

Di Flores rakjat menghadjatkan benar hubungan antara pantai ke pantai, sedangkan pemerintah belum sanggup memenuhi keperluan rakjat itu? – Mereka adakan hubungan itu dengan kapal motor-motor ketjil.

Memang Flores, Sumba dan Timor (Kupang) merupakan satu mata rantai jang penting sekali dan satu rantai jang membelit dari Pilipina (Katholik).

Manado, Toraja, Ambon, dan Nusatenggara Timur. Dan disebelah Barat rentetan pulau-pulau di Lautan India sebelah Barat Sumatera Barat sampai Lampung.

Akan tetapi semua kegiatan mereka dalam menjempurnakan rantai ini dan menumbuhkan basis-basis di tengah-tengah kepulauan Sumatera, Djawa, Kalimantan mereka lakukan atas nama perikemanusiaan semata-mata dan membantu membangun “Indonesia jang modern”.

6.    Saja kuatir, kalau-kalau mereka sudah berpikir kearah itu, dalam rangka mentjari djalan lain, setelah rentjana jang semula sudah terbentur. Kalau mereka berfikir dan melangkah kearah itu maka mereka akan dengan sekaligus bisa memperoleh posisi jang lebih kuat dari jang telah sudah. Mereka akan dapat meng-adu golongan-golongan jang tidak setudju dengan :

      a.   Keluarga-keluarga jang ingin lekas rumahnja dikembalikan.

      b.   Fihak Tentara (Pemerintah) jang ingin lekas memetjahkan soal asrama.

      c.   Golongan-golongan dalam masjarakat jang ingin mendapat tempat berobat jang moden, lebih modern dan rapi, daripada rumah sakit pemerintah jang sudah ada di Bukittinggi sendiri. Mereka ini akan bertanja-tanja kenapa kita harus menolak satu amal dari Baptis itu, jang ingin membantu kita secara cuma-cuma? Bukankah itu fanatik namanja?

Akibat-akibatnja akan timbul lagi pergolakan antara pro dan kontra dalam masjarakat minang. Ini akan mengakibatkan lumpuh kembali semangat-pembangunan jang sudah ada sekarang ini, semangat keseluruhan.

7.    Keputusan Menteri Agama No. 54 tahun 1968 itu, mendasar sikap tidak-setudjunja tidak-setudjunja  terhadap pendirian rumah sakit Baptis itu, atas kekuatiran akan timbul pertentangan-pertentangan antara golongan-golongan agama di Sumbar, jang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan, apabila rumah sakit Baptis itu diteruskan mendidirikannja. Akan tetapi sebenarnja, sebelum itupun, pertengkaran antara pro dan kontra sudah akan bisa mengganggu apa jang disebut ketertiban dan keamanan itu, sekurang-kurangnja banjak jang bertubrukan, banjak perasaan jang akan tersinggung, banjak emosi jang akan berkobar. Sekali lagi.

Ini semua akan melumpuhkan semangat pembangunan Minang kabau setjara keseluruhan jang berkehendak kepada ketenteraman djiwa dan kebulatan hati.

Alangkah sajangnja ! Baru melangkah, ka-tataruang pulo !….

8.    Bagai mana tjaranja, mengelakkan musibah ini?

Saja pikir-pikir ini bisa, apabila kita menghadapi ketiga-tiga persoalan itu setjara integral, jaitu soal:

       a.  Rumah masjarakat jang sedang ditempati oleh anggota tentara,
       b.  Soal asrama untuk tentara,
       c.  Soal kekurangan rumah sakit jang bermutu lebih baik.

 

Jaitu dengan mendjadikan pembangunan asrama tentara, dan mendirikan rumah sakit Islam atau setidak-tidaknja peningkatan mutu rumah sakit Bukittinggi sebagai “projek bersama antara pemerintah dengan masjarakat”.

Sepintas lalu memang “aneh” kedengarannja. Tapi apabila jang aneh ini kita laksanakan akan besar sekali mamfaatnja.

Dalam arti politis kita dapat menundjukkan bahwa kita dapat mempererat hubungan antara pemerintah dengan rakjat atas dasar jang sehat dan menghilangkan kesan bahwa kita hanja bisa menolak sadja akan tetapi djuga sanggup menundjukkan djalan alternatif jang lebih baik.

Dari sudut sosial kita dapat mengatasi kesulitan daripada sebagian masjarakat kita jang memerlukan sangat rumah mereka kembali.

Dari sudut membentengi Agama dengan itu kita dapat lebih tegas dan radikal mengatakan kepada missie-missie asing itu :

            “Kami orang Islam tidak memerlukan tuan-tuan datang kesini”.

Haraplah hal ini kita tjoba-tjoba sama-sama pikirkan. Mungkin move jang “aneh” ini tidak akan begitu aneh, bila kita memperhatikan, bagaimana Dandim Padang umpamanja dapat membuka kunci hati dan kekuatan rakjat untuk meringankan beban pembuatan parit pantai laut, dengan bantuan batu dan pasir, dan bagaimana viaduct Saruoso dapat dibangun dengan ongkos jang  djauh lebih murah daripada kalkulasi secara modern, dan bagaimana Bupati Pasaman bisa menjelenggarakan kurang lebih 80 projek irigasi dsb, dsb…

Bisakah, sekarang umpamanja kita meminta kepada Penguasa (Militer dan Sipil) di Sumbar, untuk merentjanakan berapa biaja jang diperlukan untuk asrama tentara itu menurut kalkulasi jang normal. Jakni asrama jang mentjukupi sjarat (kalaupun tidak semewah jang mungkin akan ditawarkan oleh Baptis itu).

Berapa prosenkah kiranja jang dapat ditjarikan oleh Pak Gubernur Sumbar sebagai sumbangannja Pemerintah Tk. I untuk maksud tersebut.

Sesudah itu berapakah kiranja jang dapat dikumpulkan setjara suka rela dari masjarakat, berupa sumbangan bahan-bahan dan tenaga?

Kemudian restan kekurangannja, dipintakan dari Hankam (Pusat di Djakarta. Kata dari orang jang tangannja sudah berisi lebih tadjam.

Adapun panitia projek rumah sakit diteruskan djuga. Projek ini lebih “flexible”. Bagi kami di Djakarta akan lebih mudah membantu projek rumah sakit dari pada merintiskan djalan untuk asrama.

Apalagi dengan didjadikannja Bukittinggi sekarang ini sebagai salah satu pusat pemberantasan T.B.C, dengan alat-alat jang modern, dan tambahan tenaga-tenaga dokter, maka dalam soal perawatan orang sakit kita akan dapat bernafas agak lega.

Pendeknja, harapan kami, ialah tjobalah saudara-saudara kita di Sumbar mempertimbangkan dan mendjeladjahi persoalan ini dengan teliti dan bidjaksana.

Saja ingin sekali mendengar pertimbangan-pertimbangan Saudara tentang ini. Walaupun sekedar akan melepaskan was-was………..

 

W a s s a l a m,

dto

Mohammad Natsir

Problematika Dakwah Islam di tengah Penguatan Visi Kembali Ke Surau, sebagai Sub Sistem Kembali ke Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat

PROBLEMATIKA DAKWAH
DI TENGAH PENGUATAN VISI KEMBALI KE SURAU
SEBAGAI SUB SISTIM KEMBALI KE PEMERINTAHAN NAGARI

Oleh : H. Mas’oed Abidin

PENDAHULUAN
NIKMAT ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA yang kita peroleh dengan berbagai kelebihan atau kekurangan adalah hasil pengorbanan dan ketekunan kita secara sambung menyambung dan bukti adanya keterpaduan hati, tekad dan langkah yang di ayunkan bersama sampai hari ini.
Nikmat itu telah membuka banyak peluang dan kesem¬patan kepada kita semua untuk bergerak leluasa dan lebih bertanggung jawab.

Di daerah kita, Sumatra Barat tercinta ini, kini dirasakan nuansa lain, yakni dimulainya langkah kembali ke nagari, walaupun sebelumnya, selama tigadasawarsa wacana ini telah mencuat ke permukaan, sebagai bukti demokratisasi yang berkembang sejak lama, namun baru terbukti dengan diberlakukannya UU No.22/1999 yang memberi kesempatan luas kepada masyarakat untuk berpegang teguh dengan adat bersendi syarak dan syarak bersendikan Kitabullah terlebih di dalam melaksanakan otonomi sampai ketingkat terbawah.

Di daerah Sumbar, peluang tersebut didukung oleh lahirnya Perda No.9/2000 tentang Kembali Ke Pemerintahan Nagari.
Perda ini memberi keleluasaan tertib melaksanakan kaedah adat di ranah Minang yang senyatanya adalah kekayaan budaya paling berharga dalam mendorong motivasi masyarakat (motivation of force) untuk mendinasmisir diri di dalam membangun kampung halaman sampai ketaratak dan nagari.

Implementasi Perda No.9/2000 tentang kembali ke pemerintahan nagari itu, tentu akan memunculkan fenomena baru, mengingat selama 24 tahun kita sudah dibiasakan dengan pemerintahan Desa yang hampir saja menghilangkan kaedah adat salingka nagari yang dianut sebelumnya.

Untuk mengembalikan adat salingka nagari dimaksud, ketika Perda No.9/2000 diberlakukan, tentu bukan perkara mudah. Apalagi ditinjau dari sisi dakwah, maka pemungsian lembaga surau sebagai salah satu sistem pendidikan umat di nagari dengan panduan adat bersendi syarak dan syarak bersendi kitabullah menjadi titik focus yang tidak boleh diabaikan ketika masyarakat kita sedang berhadapan dengan perubahan cepat yang bersentuhan di semua aspek dalam kehidupan anak nagari.

Persoalan inilah yang mendasari pemikiran perlunya pembahasan lebih mendalam dari berbagai sisi, dan keharusan menampilkan model bersama yang amat sangat diperlukan, dalam upaya meraih terwujudnya harapan-harapan anak nagari di tengah banyaknya tantangan social dan pergeseran filosofi hidup masyarakat di Ranah Minang Sumatra Barat ketika bergesekan dengan arus perubahan kesejagatan (globalisasi). Salah satu hasil kajian teramat penting adalah penekanan kepada gerakan kemasyarakatan (social movement) bersama-sama dari anak nagari dalam upaya “Kembali ke Surau sebagai Sub Sistem Kembali ke Pemerintahan Nagari.”

FENOMENA YANG DIHADAPI
KETIKA KEMBALI KE NAGARI

SEPERTI disinggung sebelumnya, persoalan kembali ke Pemerintahan Nagari, merupakan kerja besar meletakan kembali sendi-sendi adat salingka nagari.

Sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan infratruktur nagari selama 24 tahun berlalu telah tercabik-cabik adanya, kendati sampai saat ini infrastruktur adat itu masih tetap menjadi jiwa masyarakat Sumatra Barat.
Sebenarnya, ada beberapa fenomena yang sedang terjadi dan berdampak kepada memperlambat upaya merealisasikan idea mulia kembali ke nagari ini.

Di antaranya adalah:

PERUBAHAN PRILAKU
ALAF ini telah berubah begitu cepat dan transparan ditandai hubungan komunikasi, informasi, transportasi serba cepat dan tidak jarang telah memacu kearah lepasnya sekatan-sekatan .
Perubahan cepat yang terjadi di tengah derasnya arus globalisasi menghempaskan alunan baru, menompang riak di gelombang mengangkut pula sampah penetrasi budaya luar (asing). Keadaan ini menggiring perilaku masyarakat, praktek pemerintahan, pengelolaan wilayah dan asset, perkembangan norma dan adat istiadat di banyak nagari di ranah Sumatra Barat menjadi terlalaikan.

Perubahan perilaku ini tampak lebih mengedepan dalam perebutan prestise kelompok berbalut materialistis dan jalan sendiri-sendiri (individualistik) ketimbang mendahulukan kepentingan masyarakat dan anak nagari secara keseluruhan.
Idealisme kebudayaan Minangkabau telah pula menjadi sasaran cercaan.

Indikasinya terlihat pada upaya pencapaian hasil kebersamaan (kolektif bermasyarakat) kurang di pedulikan bila dibandingkan dengan pencapaian hasil perorangan (individual).

Sebenarnya, modal nagari di Sumatra Barat yang tata hidup bermasyarakatnya seakan sebuah republik kecil yang telah mempunyai sistim demokrasi murni, pemerintahan sendiri, asset sendiri, wilayah sendiri, perangkat masyarakat sendiri, sumber penghasilan sendiri, bahkan hukum dan norma-norma adat sendiri yang bertitik tumpu kepada kegotongroyongan.

Maka, salah satu jawaban ideal semestinya adalah menghidupkan semua upaya terpadu dengan mengutamakan pula kesepakatan bersama untuk Kembali ke Pemerintahan di Nagari dengan kewajiban pokok menjaga nilai-nilai ketangguhan yang titik beratnya adalah menerapkan arti dan makna kebersamaan dibimbing oleh adat basandi syarak syarak basandi kitabullah.

MELEMAHNYA WIBAWA GENERASI TUA
MASYARAKAT Sumatra Barat mesti bersyukur kepada Allah, yang menganugerahi rahmat besar dengan nilai tamaddun budaya Minangkabau yang terikat kuat penghayatan Islam dan telah pula diakui sebagai salah satu puncak kebudayaan dunia.

Namun, di sisi lain, keterpesonaan menatap budaya lain di luar kita di tengah derasnya penetrasi budaya asing, kerapkali mengancam generasi pengganti meluncur ke arah degradasi akhlak seiring terbukanya isolasi daerah-daerah sampai ke jantung Ranah Bundo Kanduang.

Hal ini diperparah oleh kurang berperannya da’i dan imam khatib di nagari dalam memfungsikan Surau dan Masjid menjadi pusat pembinaan anak nagari. Sementara itu, mereposisi peran elemen penentu di tengah masyarakat di nagari tidaklah mudah.

Pengalaman selama tiga dasawarsa menampakkan kecenderungan orang tua sebatas memenuhi serba keperluan fisik dan materi semata. Pengajaran akhlak di rumah tangga dan ditengah masyarakat tidak lagi sejajar dengan pengajaran ilmu pengetahuan di sekolah-sekolah.

Hal ini diperparah dengan menipisnya rasa kekerabatan keluarga.
Peran du’at dan peran dakwah terlihat pula melemah dalam membentuk watak generasi mendatang.
Di antara bukti nyata adalah tipisnya penghayatan syarak dalam bentuk ibadah di tengah kehidupan anak nagari, sungguhpun mereka masih tetap mengaku beragama Islam.

Fungsi ninik mamak pun terjebak menjadi pejabat adat yang hanya diperlukan ketika upacara seremonial keadatan.
Akibatnya, ninik mamak kurang signifikan mewarnai kehidupan anak kemenakannya yang pada usia muda mudi terbuka meniru apa saja, tanpa mengindahkan kaedah istiadat yang menjadi rambu-rambu perjalanan hidup bermasyarakat di Minangkabau.

Bila ditinjau lebih dalam, lapuknya pagar adat dan syarak sebenarnya disebabkan oleh lunturnya keteladanan yang diberikan generasi tua.
Hal ini memicu mencuatnya sikap enggan dan acuh generasi pengganti untuk menyerap nilai-nilai utama yang pernah dimiliki generasi tua yang sudah berprestasi.

Keadaan ini boleh dibilang mengkhawatirkan apabila dilihat pada kesiapan Sumatra Barat meniti abad ke duapuluh satu yang serba transparan.
Hal inilah yang mempengaruhi perjalanan serah terima generasi di Ranah Minang yang menghadapkannya pada fenomena ketauladanan yang amat mencemaskan.

Persoalan ini membelit remaja, umat dan anak nagari kita.
Implikasi ini jelas terlihat pada tumbuhnya kebiasaan di kalangan para pelajar kita seperti suka bolos sekolah, malas belajar, suka bermain di mall — pasar – di saat jam belajar di sekolah, suka berkelahi berkelompok seperti tawuran.

Bahkan pelajar pun berani merusak kelas belajar dan rumah sekolah, melempar toko-toko dan menghancurkan perpustakaan sekolah, memukul dan menyandera guru yang mengajar mereka dan berkembang kepada melakukan tindakan vandalisme.

Paling menakutkan, di antaranya terjangkiti pula prilaku “nan ka lamak dek salero” , terbawa arus peristiwa keganasan yang melanda kalangan muda remaja di negeri orang yang jelas faham dan adat istiadat-nya berbeda dengan kita.

Dan tidak jarang pula di antara mereka larut ke dalam tindakan melampaui batas yang menyeret kepada meruyaknya kriminalitas dan pelanggaran norma hukum dalam bermasyarakat.

Cabaran ini mesti dijawab dengan kesiapan menghadapi tantangan sosial, budaya, ekonomi, politik menyangkut setiap aspek kehidupan kemanusiaan ini.

Tidak dapat tidak, semua elemen masyarakat di Ranah Minang berkewajiban memper-siapkan generasi masa depan sejak dini untuk bersaing di era kesejagatan (global) ini, karena Sumbar termasuk salah satu kawasan pengembangan (Grouwth Triangle) Malaysia, Singapura dan Thailand. Globalisasi membawa perubahan prilaku, terutama pada generasi muda, anak didik dan para remaja.

Dahulu rabab nan batangkai, kini langgundi nan babungo
Dahulu adat nan bapakai, Kini pitih nan paguno.

Fenomena pergeseran budaya mencemaskan yang sedang digeluti para remaja kita akan menghempaskan mereka menjadi generasi buih yang akan terhempas menjadi dzurriyatan dhi’afan seperti digambarkan Rasulullah SAW,

Hampir saja bangsa-bangsa memperebutkan kamu dari seluruh penjuru, seperti orang memperebutkan makanan.

Generasi buih berpeluang menjadi the loses generation yang lemah fisik dan ruhani menjadi mangsa madat dan narkoba, akibatnya mereka tidak memiliki keberanian berlomba melawan gelombang kesejagatan ini. Jumlah mereka tidak lantaran sedikit, akan tetapi karena mereka telah dijangkiti penyakit masyarakat.

Bahkan kalian saat itu berjumlah banyak, namun kalian seperti buih diatas air – generasi buih –, dan Allah SWT mencabut rasa takut terhadap kalian dalam dada musuh-musuh kalian, sementara DIA – Allah – akan meletakkan kelemahan – al wahn – dalam hati kalian.

Kalau mancaliak contoh ka nan sudah, pada masa silam keadaan tersebut jarang dan bahkan tidak didapati pada prilaku umat di Ranah Bundo ini.
Kejadian ini lazimnya sering dan selalu dikaitkan dengan kemampuan du’at (pendidik, orang tua, ninik mamak, pemimpin) yang berperan mengajari umat. Kalau hal ini dibiarkan, mau tidak mau akan menyebabkan lahirnya di masa mendatang generasi yang kurang ilmu dan lemah dalam pemahamannya.

UPAYA PENYELAMATAN VISI
KEMBALI KE NAGARI

PARAHNYA kondisi yang dihadapi masyarakat Sumatra Barat memasuki kembali ke pemerintahan nagari, teranglah ada beberapa hal yang perlu dilakukan.
Di antara solusi yang mendesak dilakukan adalah menerapkan ajaran adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah atau secara khusus mendalami sub system dari pemerintahan nagari, dengan penguatan visi surau dan pembekalan para pembinanya.
Di antara yang perlu dilakukan bersama adalah:

MENGANGKAT MARTABAT SULUAH BENDANG DI NAGARI
SUDAH lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya, atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an). Dan sekali jangan menjadi kelompok keempat, yang tidak memiliki aktifitias keilmuan sama sekali. Yakni tidak mengajar, tidak pula belajar, tetapi enggan untuk mendengar”.

Suluah Bendang di Nagari adalah seorang du’at atau murabbi yang termasuk di dalamnya ulama, ustadz, ustadzah, malin, tuanku, imam khatib, mu’allim, ninik mamak dan orang tua di nagari-nagari di Sumbar telah menjadi sasaran dan pusat perhatian semua orang karena peranan mereka yang vital dan sangat menentukan dalam membentuk anak nagari menjadi warganegara yang bertanggung jawab.

Peranan Du’at – utamanya di Ranah Minang, Sumatra Barat – sesungguhnya adalah satu pengabdian amat mulia dengan tugas sangat berat.

Ketidakberdayaan para du’at (murabbi) dalam menampilkan model keteladanan yang baik telah menjadi penghalang pencapaian hasil membentuk generasi (umat) yang baik, bahkan dapat menjadi titik lemah dalam kepribadian du’at bersangkutan.

Seperti Pepatah Arab ada meyebutkan :
لا تنه عن خلق وتأتي مثله
عار عليك اذا فعلت عظيم

Jangan lakukan perbuatan yang anda tegah,
Perbuatan demikian aibnya amatlah parah.

Kemuliaan du’at (murabbi) terpancar dari keikhlasan membentuk umat sedari dini menjadi generasi pintar, yang berilmu dan mampu mengamalkan ilmunya, berbudi luhur – akhlakul karimah — dalam bertindak dan berbuat untuk kebaikan diri sendiri, keluarganya, dan kemaslahatan umat kelilingnya di nagari-nagari, atau dalam cakupan lebih luas untuk memperoleh kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Boleh dikatakan tuntutan utama kepada kita dewasa ini adalah membentuk generasi berpribadi yang utuh dan unggul.
Di mana mereka memiliki kekuatan iman dan taqwa, berpengetahuan dalam dan menguasai teknologi, memiliki jiwa wiraswasta, berakhlak mulia dan masyarakat beradat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.

MEMELIHARA SAHSIAH (WATAK) SULUAH BENDANG DI NAGARI ADALAH DU’AT
TIDAK diragukan bahwa murabbi (du’at, mu’allim, tuangku, imam dan khatib) di nagari-nagari, yang memiliki kepribadian baik dan uswah hidup terpuji akan mampu melukiskan kesan positif pada diri masyarakat dalam proses pematangan sikap dan menanamkan laku perangai sahsiah anak nagari, yang mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seorang.

Sahsiah (شخصية) cirinya terlihat di dalam pribadi atau personality seseorang du’at, yang memperlihatkan sifat individu yang merangkum di dalamnya gaya hidup, kepercayaan, harapan, nilai, motif, pemikiran, perasaan, budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak seseorang.

Banyak kajian telah dilakukan untuk mengetahui identitas yang perlu ada pada du’at (murabbi). Kajian tersebut dilakukan tidak lain dan tidak bukan untuk memelihara watak generasi pengganti (para remaja) di ranah ini.

Sebagai pelajaran yang bisa diambil, lebih lanjut di telaah beberapa identitas dari du’at yang bisa memelihara watak para duat tersebut.
Di mana pembahasannya ditujukan pada sifat, sikap dan etika para du’at.

SIFAT DU’AT SULUAH BENDANG DI NAGARI
DARI kajian tentang sifat-sifat, yang seharusnya dimiliki para du’at (murabbi, muallim, tuangku, imam khatib) adalah :

A. SIFAT RUHANIAH DAN AKIDAH
1. Keimanan kental kepada Allah Maha Sempurna.
2. Keyakinan mendalam kepada hari akhirat.
3. Kepercayaan kepada Rasul SAW berasas keimanan (arkan al iman) shahih.

B. SIFAT-SIFAT AKHLAK
a). Benar dan jujur,
b). Menepati janji dan Amanah
c). Ikhlas dalam perkataan dan cekatan berbuat
d). Merendah diri – tawadhu’ –,
e). Sabar dan tabah, Lapang dada – hilm –,
f). Pemaaf dan toleransi
g). Menyayangi.
h). Mendahulukan kepentingan bersama.
i). Mengutamakan sikap pemurah, zuhud dan berani bertindak.
Tidaklah kalian dimenangkan dan mendapatkan rezeki kecuali dengan bantuan orang-orang lemah kamu.

C. SIFAT MENTAL, KEJIWAAN DAN JASMANI
a). Sikap Mental
1. Cerdas (pintar teori, amali dan sosial).
2. Menguasai hal yang takhassus.
3. Membina masyarakat (umat) melalui pembelajaran.
4. Luas pengetahuan umum.
5. Mencintai berbagai bidang akliah, ilmiah yang sehat.
6. Mengenal ciri, watak kecenderungan masyarakat dengan baik.
7. Menanggapi setiap perubahan dengan arif.
8. Fasih, bijak dan cakap di dalam penyampaian.

b). Sifat Kejiwaan
1. Tenang dengan emosi mantap terkendali
2. Optimistik dalam hidup,
Penuh harap kepada Allah dan tenang jiwa mengingatiNya.
3. Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat
4. Lemah lembut dan baik dalam pergaulan
5. Berfikiran luas dan mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat

c). Sifat Fisik
1. Sehat tubuh dan badan dari penyakit menular
2. Berperawakan menarik, bersih, rapi (kemas) dan menyejukkan.

SIKAP DU’AT SULUAH BENDANG DI NAGARI
Sifat-sifat ini lebih lanjut dirinci pula kepada sikap dari duat itu sendiri, yang merangkum senarai (daftar) yang seharusnya dipunyai para murabbi (du’at, mualim) :
a. Berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), tidak memihak berat sebelah di dalam menyelesai masalah dan mampu menjawab persoalan masyarakat dengan jelas.
b. Berdisiplin, adil dalam menerapkan aturan pemarkahan, serius dalam membimbing generasi dan menarik perhatian karena amanah menunaikan janji.
c. Mempunyai sahsiah yang dihormati, memiliki semangat pembinaan yang tinggi dan mempunyai arahan yang jelas dan spesifik serta mampu memilah antara intan dari kaca.
d. Berkemauan yang kuat dan berbakat kepimpinan yang tinggi dan tidak mau menghina, tetapi memperbaiki dengan sadar.
e. Mempunyai pengetahuan umum yang luas dan selalu berupaya tidak menyimpang dari tajuk pembinaan masyarakat (umat), bernada lembut dan prinsip tegas merangkul dan mendidik.
f. Mengenal titik kuat dan lemah dari masyarakat binaan.
Pandai memberi nasihat, dan simpati terhadap kelemahan masyarakat (umat) dan pandai memilih kata-kata.
g. Memberi ruang penelaah dan pengulangan kaji dan tanggap dengan suasana masyarakat.
Membimbing kaedah berkesan dan mantap dengan mengedepankan darjah ilmu pengetahuan.
h. Mewujudkan sikap kerjasama dengan semangat riadah dan kedisiplinan.

ETIKA SULUAH BENDANG DI NAGARI ADALAH ETIKA DU’AT
Suluah Bendang di Nagari adalah seorang DU’AT (muallim, imam khatib, tuangku dan guru agama) di nagari memikul tanggung jawab murabbi dan wajib mempunyai sahsiah baik mengamalkan etika Islam yang standard dan mempunyai personality (keperabadian) terpuji.
Seperti penegasan Allah dalam firman-Nya:


شَرَعَ لَكُمْ مِنْ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا
وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِه إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ِأَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيه
َِ
“Allah telah menyari’atkan dasar hidup “ad-din” bagi kamu seperti yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh, dan seperti yang telah dipesankan kepadamu (wahai Muhammad). Agama yang telah dipesankan kepada Ibrahim, Musa, Isa dengan perintah agar kalian semua menegakkan (mendaulatkan) agama ini dan jangan kalian berpecah dari mengikutinya…” (QS.Syura : 13)

Etika suluah bendang di nagari atau du’at (murabbi) yang profesional, memiliki tanggung jawab yang diawali oleh kemauan dari dalam diri dan kemudian dapat di tukuk tambah khalayak dan dihayati sebagai suatu etika profesi malim, tuangku, imam khatib para ulama di nagari, antara lain ;

1. TANGGUNGJAWAB TERHADAP ALLAH
a). Suluah bendang di nagari adalah seorang du’at yang senantiasa mempunyai etika kepada Allah dengan memantapkan keyakinan iman kepada Allah dan mengukuhkan hubungan ibadah terus menerus denganNya.

b). Istiqamah, memiliki iltizam semangat ibadah, bakti dan amal soleh selalu menjadi amalan harian, wajib (mustahak) menghayati rasa khusyuk.

c). Takut dan harap kepada Allah, dalam mencapai derajat taqwa. Selalu mengagungkan syiar Islam dan senantiasa berusaha ke arah mendaulatkan syariat Islam dengan kemestian melaksanakan kewajiban syari’at, menghindari larangan, menyempurnakan segala hak dan ber tanggung jawab dengan agamanya dan bersyukur kepada Allah dengan selalu berdoa kepadaNya dan membaca ayat-ayat Allah dan merendahkan diri kehadratNya.

Akan selalu ada segolongan orang dari umat ku yang berdiri dengan seizin Allah. Orang yang mengecewakan mereka tidak akan memperdayakan mereka hingga datang perintah Allah, dan mereka tetap berada di tengah-tengah umat manusia – dengan bersungguh-sungguh memperjuangkan kebenaran –.
2. TANGGUNGJAWAB TERHADAP DIRI
a). Suluah bendang di nagari adalah seorang Du’at yang semestinya hendaklah memastikan keselamatan diri mencakup aspek fisik, emosional, mental maupun moral.
Memelihara kebersihan diri, perawakan dan pakaian tempat tinggal.

b). Memahami kekuatan dan kelemahan diri untuk selalu ditingkatkan disegenap aspek kehidupan.

c). Meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan agar dapat berkhidmat sebanyak mungkin kepada Allah, masyarakat dan negara. Melibatkan diri dalam program peningkatan kualiti masyarakat di nagari.
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik …. (QS.an Nahl : 125).

3. TANGGUNGJAWAB TERHADAP ILMU
a). Menguasai ilmu takhassus Islam dengan mantap dan mendalam.

b). Bercita dan berbuat – iltizam – dengan amanah ilmiah mengamalkan ilmu yang dimiliki dan mengembangkan untuk dipelajari.

c). Selalu mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan terbaru dalam rangkaian pembelajaran ilmu berkaitan.

d). Sepanjang masa menelusuri dimensi spirituality Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan.

e). Selalu memanfaatkan ilmu untuk tujuan kemanusiaan, kesejahteraan dan keamanan masyarakat dan umat manusia sejagat.
Setiap kamu adalah pemimpin – penggembala – dan setiap kamu akan ditanyai tentang rakyatnya, maka imam adalah pemimpin dan dia ditanyai tentang rakyat yang di pimpinnya. (HR.Muttafaq ‘alaihi).

4. TANGGUNGJAWAB TERHADAP PROFESI MURABBI
a). Suluah bendang di nagari adalah du’at dan muallim yang tidak boleh bertingkah laku mencemarkan sifat dan profesi dakwah yang dapat berakibat hilangnya kepercayaan orang ramai terhadap profesi dan lembaga alim ulama suluah bendang di nagari. Dia tidak boleh bertingkah laku yang dapat membawa kepada terbannya maruah diri, terutama hilangnya amanah menyangkut keuangan. Maka tugas seorang du’at di nagari hendaklah dilaksanakan dengan jujur.

b). Tanggungjawab suluah bendang di nagari atau du’at, mu’allim kepada hal yang baik, bermanfaat dan berguna untuk kepentingan masyarakat dengan menumpukan perhatian untuk semua dari berbagai suku, dan pengamalan. Maka sudah semestinya menerima perbedaan individu dikalangan masyarakat, mengembangkan potensi jasmani, intelek, daya cipta dan rohani dengan menghormati hak setiap orang dan tidak boleh bertingkah laku yang dapat membawa jatuhnya derajat profesi du’at, muallim di nagari itu.

c). Tidak mengajarkan sesuatu paham yang dapat merusak hubungan bermasyarakat di nagari dengan selalu berupaya menanamkan sikap yang baik terhadap keluarga, rumah tangga dan mendorong pemeranan ibu bapa supaya generasi yang ada dapat berkembang menjadi warga negara yang setia dalam hidup dan taat beragama. Seorang du’at, muallim di nagari dituntut bertingkah laku contoh yang baik (uswah hasanah) dan tidak boleh memaksakan kepercayaan yang bertentangan. Yang sangat perlu di jaga adalah menjauhi sikap tidak menjatuhkan nama baik para du’at lain dengan membesar-besarkan nama sendiri untuk mendapatkan sesuatu kedudukan ataupun pangkat dalam profesi kedakwah.

Sunnahnya adalah selalu mengajak kepada kebaikan.
Barangsiapa yang menyunnahkan suatu sunnah yang baik di dalam Islam, maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka.

5. TANGGUNGJAWAB TERHADAP MASYARAKAT
a). Suluah Bendang di nagarei (Du’at) semestinya lebih mengutamakan kebajikan dan keselamatan masyarakatnya.

b). Bersikap adil terhadap siapa saja tanpa dipengaruhi faktor-faktor jasmani, mental, emosi, politik, ekonomi, sosial, keturunan dan paham.

c). Menampilkan cara berpakaian, bertutur kata dan bertingkah laku yang dapat memberikan contoh. Memperbaiki kecakapan ikhtisas Islami dan meningkatan mutu profesi mendidik umat melalui pengkajian, supaya pengajaran umat mencapai mutu yang setinggi-tingginya, dalam rangkaian amaliah sedekah.

Sabda Rasulullah SAW: Tidak ada bagian dari anak cucu Adam – manusia seluruhnya – kecuali ada sedekah padanya setiap hari saat matahari terbit, Beliau Rasulullah SAW ditanya : “Wahai Rasulullah ! dari mana kami mendapatkan sedekah yang bisa kami sedekahkan ?” Maka Nabi SAW menjawab, “Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan itu sangatlah banyaknya. Tasbih, tahmid, takbir, tahlil, menyuruh kepada perbuatan yang baik (amar makruf), menegah dari perbuatan salah (nahi munkar), menyingkirkan ganguan dari jalan (seperti membuangkan duri dari jalanan), membantu pendengaran orang tuli, menuntun orang buta, memberi petunjuk kepada orang yang meminta petunjuk – jalan – dalam keperluannya, berusaha keras dengan sepenuh tenagamu mebantu orang susah yang memerlukan pertolonganmu, dan membantu dengan segala kemampuanmu kepada orang yang lemah. Ini semua adalah bagian sedekah atas dirimu..” (H.R.Ibnu Hibban dan Baihaqi).

Bahkan lebih jauh sedekah itu mencakup juga;
Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah, menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalanan manusia adalah sedekah, dan petunjukmu kepada orang yang tersesat jalan – agar kembali menemui jalannya yang benar – adalah sedekah bagimu. (HR.Baihaqi).

6. TANGUNGJAWAB TERHADAP REKAN SEJAWAT DU’AT/MUALLIM
a). Hendaklah menghindari membuat ulasan yang dapat mencemarkan nama baik seorang du’at di nagari tempat bertugasnya, dan menjauhi sesuatu tindakan yang dapat menjatuhkan maruah du’at yang lainnya.

b). Tidak melibatkan diri dalam kegiatan yang dapat merendahkan martabat dan menghapus kecakapan sebagai du’at dengan berusaha sepenuh hatinya menunaikan tanggungjawab sungguh-sungguh dan mengedepankan kemajuan social hanya karena Allah.

c). Selalu bersedia membantu rekan sejawat melayari profesi dakwah dan senantiasa mawas diri agar tidak mencemarkan nama baik profesi para du’at di nagari.
“Dan orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebahagian yang lainnya. Mereka menyuruh mengerjakan yang makruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan rasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.9, at Taubah : 71).

7. TANGGUNGJAWAB BERMASYARAKAT DAN NEGARA
a). Mengelak dari meyebarkan ajaran yang dapat merusak kepentingan masyarakat atau negara, ataupun yang dapat bertentangan dengan kerukunan bernegara di bawah syari’at Allah.

b). Memupuk diri selalu bersikap dengan nilai akhlak yang dapat membantu dan membimbing menjadi warga negara yang setia serta bertanggungjawab dan berguna.

c). Menghormati orang-orang yang lebih tua dan memahami adanya perbedaan budaya, keturunan dan agama. Menghormati masyarakat tempat berkhidmat dengan selalu ikut dalam kegiatan bermasyarakat dengan menggerakkan kerjasama dan persefahaman di antara para du’at di nagari.

d). Memberikan sumbangan tenaga dan pemikiran untuk meninggikan tahap kehidupan berakhlak (morality) sepanjang hayat memelihara budaya kecendikiawanan dengan teguh berpegang kepada syari’at Islam dengan bertingkah laku sopan yang diterima oleh masyarakat dalam menjalani kehidupan keseharian dengan baik hingga datangnya hari kiamat.

e). Menanam kebaikan adalah tugas yang tidak dapat di tolak mesti dikerjakan oleh du’at di nagari bagaimanapun berat tantangannya. Sesuai isyarat Rasulullah SAW, ” Jika hari kiamat terjadi, sedangkan salah seorang dari kalian ada yang memegang bibit — pohon korma –, maka sekiranya dia sanggu menanamnya sebelum terjadi hari kiamat, hendaklah dia menanamnya. (HR. Imam Ahmad dan Bukhari).

8. TANGGUNGJAWAB RUMAH TANGGA DAN KELUARGA
a). Menghormati tanggungjawab utama ibu bapa di rumah tangganya terhadap pembinaan generasi muda dengan berusaha mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi dakwah, surau dan rumahtangga.

b). Menganggap semua informasi mengenai keadaan masyarakat di rumahtangganya sebagai alat untuk mengatasi kesulitan dengan teliti dan bijaksana.

c). Mengelak diri dari pengaruh buruk dalam kedudukan sosial dan ekonomi dan rumah tangga masyarakat dengan mengelakkan diri dari mengeluarkan kata yang dapat menghilangkan kepercayaan masyarakat.

d). Membudayakan saling menghormati sesama dengan senantiasa mengajak kepada hidayah Allah dan syar’iat Islam, sesuai pesan syarak dalam sabda Rasulullah SAW. ; Tidak tergolong umatku, yang tidak menghormati yang tua dan tidak mengasihi yang muda dan tidak pula mau mengarifi pandangan-pandangan orang berilmu – yang beriman — di antara kami.

MEMPERKUAT POSISI NAGARI
DALAM TUNTUNAN SYARAK

UPAYA untuk memperkuat posisi Nagari, secara syarak banyak tuntutan yang mestinya dilakukan, diantaranya mengetahui kelemahan dan kemampuan yang dimiliki oleh nagari itu.
Selain itu diperlukan pula upaya pemetaan tata ruang yang jelas terhadap langkah-langkah yang perlu dilakukan. Untuk lebih jelasnya, kita lihat bahasan berikut ini.

MENGGALI POTENSI NAGARI

TUGAS kembali ke Pemerintahan Nagari, sesungguhnya adalah menggali kembali potensi dan asset nagari – yang terdiri dari budaya, harta, manusia, dan agama anutan anak nagari –, karena apabila tidak digali, akan mendatangkan kesengsaraan baru bagi masyarakat nagari itu. Kerja ini semestinya dimulai dengan menghimpun dan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia di dalam masyarakat nagari.

Kesadaran akan benih-benih kekuatan yang ada dalam diri masing-masing digerakkan dan dikembangkan dengan cara-cara yang lazim dan tidak terpaksa, yaitu melalui ; observasinya dipertajam, daya pikirnya ditingkatkan, daya geraknya didinamiskan , daya ciptanya diperhalus, daya kemauannya dibangkitkan, kemudian menumbuhkan dan mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri.

Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai,
Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali,
Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso,
Handak pandai rajin balaja.
Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju,
Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo manjadi.”.

Tujuannya harus sampai kepada taraf yang memungkinkan untuk mampu berdiri sendiri dan membantu nagari tetangga secara selfless help, dengan memberikan bantuan dari rezeki yang telah kita dapatkan tanpa mengharap balas jasa, “Pada hal tidak ada padanya budi seseorang yang patut dibalas, tetapi karena hendak mencapai keredhaan Tuhan-Nya Yang Maha Tinggi”. (Q.S. Al Lail, 19 – 20).

Walaupun di depan mata terpampang jelas ada kendala-kendala, namun optimisme banagari mesti selalu dipelihara ;

“Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik,
Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik”.


Sebagai masyarakat nagari yang hidup dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat akan dipertajam makna dan fungsinya oleh kuatnya peran surau yang memberikan pelajaran-pelajaran sesuai dengan syara’ itu, antara lain dapat di ketengahkan ;

1. Mengutamakan prinsip hidup berkeseimbangan
Hukum Syara’ menghendaki keseimbangan antara perkembangan hidup rohani dan jasmani. “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist).

Keseimbangan akan tampak dalam mewujudkan kemakmuran di ranah ini,

“Rumah gadang gajah maharam,
Lumbuang baririk di halaman,
Rangkiang tujuah sajaja,
Sabuah si bayau-bayau,
Panenggang anak dagang lalu,
Sabuah si Tinjau lauik,
Birawati lumbuang nan banyak,
Makanan anak kamanakan.

Manjilih ditapi aie,
Mardeso di paruik kanyang”.

Sesuai bimbingan syara’, “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya” (Hadist).

2. Kesadaran kepada luasnya bumi Allah, merantaulah !
Allah telah menjadikan bumi mudah untuk digunakan.
Maka berjalan atau merantau di atas permukaan bumi, dan makanlah dari rezekiNya dan kepada Nya tempat kembali, telah lama menjadi pegangan hidup anak nagari di Minangkabau. “Maka berpencarlah kamu diatas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan“, (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

Agar supaya “jangan tetap tertinggal dan terkurung dalam lingkungan yang kecil”, dan sempit (QS.4, An Nisak : 97).
Karatau madang di hulu babuah babungo balun.
Marantau buyuang dahulu di rumah paguno balun.

3. Mencari nafkah dengan “usaha sendiri”
Memiliki jati diri, self help dengan tulang delapan kerat sekalipun “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain, “Kamu ambil seutas tali, dan dengan itu kamu pergi kehutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual pencukupkan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta“. (Hadist).
`
Pemahaman hadist ini melahirkan sikap kemandirian, bahwa setiap anak nagari paling berkepentingan memajukan nagarinya.
Nagari yang maju berkewajiban membantu kemajuan nagari tetangga, karena telah diikat oleh kaedah barek sapikua, riangan sajinjiang (mutual help), dan karena setiap nagari tetangga telah dipertautkan oleh pengalaman sejarah adaik salingka nagari dan kekerabatan.

Maka membiarkan diri hidup di dalam kemiskinan tanpa berupaya adalah salah , “Kefakiran (kemiskinan) membawa orang kepada kekufuran (ke-engkaran)” (Hadist).

4. Tawakkal dengan bekerja dan tidak boros.
Tawakkal, bukan “hanya menyerahkan nasib” dengan tidak berbuat apa-apa, “Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal” (Atsar dari Shahabat).
Tak ada kebun tempat bertanam, tak ada pasar tempat berdagang. Tak kurang, setiap pagi terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan setiap sore kembali dalam keadaan “kenyang”. Ditanamkan pentingnya kehati-hatian,

“Ingek sa-balun kanai,
Kulimek sa-balun abih,
Ingek-ingek nan ka-pai,
Agak-agak nan ka-tingga”.

5. Kesadaran kepada ruang dan waktu
Peredaran bumi, bulan dan matahari, pertukaran malam dan siang, menjadi bertukar musim berganti bulan dan tahun, “Kami jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk kamu mencari nafkah hidup”. (QS.78, An Naba’ : 10-11), dan menanamkan kearifan akan adanya perubahan-perubahan.

Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri, agar jangan melewati batas, dan berlebihan,

“Ka lauik riak mahampeh,
Ka karang rancam ma-aruih,
Ka pantai ombak mamacah.
Jiko mangauik kameh-kameh,
Jiko mencancang, putuih – putuih,
Lah salasai mangko-nyo sudah”.

Artinya bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada, dengan tidak menyisakan kelalaian ataupun ke-engganan.
Tidak berhenti sebelum sampai, dan tidak berakhir sebelum benar-benar sudah.

KONSEP TATA RUANG YANG JELAS

NAGARI di Minangkabau berada di dalam konsep tata ruang yang jelas,

Basasok bajarami,
Bapandam bapakuburan,
Balabuah batapian,
Barumah batanggo,
Bakorong bakampuang,
Basawah baladang,
Babalai bamusajik.

Ba-balai (balairuang atau balai-balai adat) tempat musyawarah dan menetapkan hukum dan aturan.

“ Balairuang tampek manghukum,
ba-aie janieh basayak landai,
aie janiah ikan-nyo jinak,
hukum adie katonyo bana,
dandam agiae kasumaik putuih,
hukum jatuah sangketo sudah”.

Ba-musajik atau ba-surau tempat beribadah.
“Musajik tampek ba ibadah,
tampek balapa ba ma’ana,
tampek balaja al Quran 30 juz,
tampek mangaji sah jo batal” ,

Artinya menjadi pusat pembinaan umat untuk menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas) dan terjaminya pemeliharaan ibadah dengan Khalik (hablum minallah), maka adanya balairuang dan musajik (surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum dalam “adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah., syara’ mangato adat nan kawi syara’ nan lazim”.

Kedua lembaga ini – balai adat dan surau – keberadaannya tidak dapat dipisah dan dibeda-bedakan.

“Pariangan manjadi tampuak tangkai,
pagarruyuang pusek Tanah Data,
Tigo luhak rang mangatokan.
Adat jo syara’ jiko bacarai,
bakeh bagantuang nan lah sakah,
tampek bapijak nan lah taban”.


Apabila kedua konsep yang membentuk prilaku anak nagari di Minangkabau ini, yakni adat dan syarak telah berperan sempurna, maka akan ditemui di kelilingnya tampilan kehidupan masyarakat yang memiliki akhlak perangai terpuji dan mulia atau memiliki akhlakul-karimah.

“Tasindorong jajak manurun,
tatukiak jajak mandaki,
adaik jo syara’ kok tasusun,
bumi sanang padi manjadi”.


Konsep tata-ruang yang memungkinkan umat dibentuk prilakunya ini adalah salah satu kekayaan budaya yang sangat berharga di nagari dan bukti idealisme nilai budaya di Minangkabau, termasuk di dalam mengelola kekayaan alam dan pemanfaatan tanah ulayatnya.

“Nan lorong tanami tabu,
Nan tunggang tanami bambu,
Nan gurun buek kaparak,
Nan bancah jadikan sawah,
Nan munggu pandam pakuburan,
Nan gauang katabek ikan,
Nan padang kubangan kabau,
Nan rawang ranangan itiak”.


Tata ruang yang jelas memberikan posisi peran pengatur, pemelihara dan pendukung sistim banagari yang terdiri dari orang ampek jinih yaitu, ninik mamak , alim ulama , cerdik pandai , urang mudo , bundo kanduang .

WILAYAH KESEPAKATAN
Dengan demikian, nagari di Minangkabau tidak hanya sebatas pengertian ulayat hukum adat namun yang lebih mengedepan dan paling utama adalah wilayah kesepakatan antar berbagai komponen masyarakat di dalam nagari dengan spiritnya adalah ;

a. Kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi), ditemukan dalam pepatah

“Anggang jo kekek cari makan,
Tabang ka pantai kaduo nyo,
Panjang jo singkek pa uleh kan,
mako nyo sampai nan di cito.”


b. Keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang) yang diperlihatkan dalam kaedah,

“ Adat hiduik tolong manolong,
Adat mati janguak man janguak,
Adat isi bari mam-bari,
Adat tidak salang ma-nyalang”.

Basalang tenggang, yakni saling meringankan dengan kesediaan memberi dukungan terhadap pencapaian derajat kehidupan dengan “Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an”.

c. Musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo

d. Keimanan kepada Allah SWT menjadi pengikat spirit yang menjiwai sunnatullah dalam setiap gerak mengenal alam keliling,

“Panggiriak pisau sirauik,
Patungkek batang lintabuang,
Satitiak jadikan lauik,
Sakapa jadikan gunuang,
Alam takambang jadikan guru ”.


Alam ini telah diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan mengandung faedah kekuatan dan khasiat yang diperlukan untuk memperkembang dan mempertinggi mutu hidup jasmani manusia, dengan keharusan berusaha membanting tulang dan memeras otak untuk mengambil sebanyaknya faedah dari alam sekelilingnya agar dinikmati sambil mensyukuri dengan beribadah kepada Ilahi.

e. Kecintaan kenagari adalah perekat yang dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman sejarah.
Menjaga anak nagari dari pada melewati batas-batas yang patut dan pantas agar tidak terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak, adalah satu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, dan satu pola hidup yang mempunyai keseimbangan antara kemajuan dibidang rohani dan jasmani.

“Jiko mangaji dari alif,
Jiko babilang dari aso,
Jiko naiak dari janjang,
Jiko turun dari tango”.


Pengkajian lebih mendalam membuktikan bahwa kecintaan kepada nagari itu tumbuh dari sistem dan pola yang telah ditanamkan oleh adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah di dalam mewujudkan Mulkiyah Allah di Bumi yang merujuk kepada Sunnah.

Kecintaan kepada nagari, adalah bagian dari kecintaan kepada Allah (mahabbatullah) mesti dibangun dan ditegakkan dengan sistem kooperatif melalui lembaga musyawarah (kelembagaan syura) di nagari-nagari, yakni musyawarah sesama orang beriman dan bertaqwa.

Setiap kamu adalah pemimpin – penggembala – dan setiap kamu akan ditanyai tentang rakyatnya, maka imam adalah pemimpin dan dia ditanyai tentang rakyat yang di pimpinnya. (HR.Muttafaq ‘alaihi).

Tidak ada kamus di dalam Kitabullah (Alquran) musyawarah untuk menetapkan hal yang bertalian keperluan sesama mukmin mesti merujuk kepada konsepsi kuffar.
Sikap hidup (attitude towards life) ini menjadi sumber pendorong kegiatan anak nagari dibidang ekonomi, dengan tujuan utama terpenuhinya keperluan hidup jasmani (material needs).

Hasilnya tergantung kepada dalam atau dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa masyarakat nagari dan sangat ditentukan juga oleh tingkat kecerdasan anak nagari yang telah dicapai.

Wahai orang-orang yang beriman janganlah engkau ambil menjadi orang kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa-apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan ayat-ayat Kami, jika kamu mau memahaminya. (QS.3, ali Imran : 118).

Inilah prinsip utama adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah itu.
Non kooperatif sesama muslim akan membuka peluang untuk adanya tawar menawar antara mukmin dan kafir.
Dalam hubungan ini, peran dan fungsi surau amat menentukan pula.

KEMBALI KE SURAU

SALAHSATU sub sistem Kembali ke Pemerintahan Nagari, adalah upaya kembali ke surau.
Selama ini kembali surau sebagai pusat dari pendidikan umat di Nagari benar-benar telah luntur, padahal Surau di Sumatra Barat bukan hanya sekedar tempat ibadah akan tetapi sebagai wadah duat untuk membentuk generasi yang berkualitas.

Sejarah telah membuktikan bahwa surau di Sumatra Barat banyak melahirkan generasi muda yang berkualitas yang berhasil mengukir sejarah di tingkat nasional dan internasional.
Sebut saja Mohammad Natsir, HAMKA, Agus Salim, Mohammad Yamin dan lain-lainnya.
Ketika surau mulai ditinggalkan, dan bahkan hanya berfungsi sebagai langgar dan rumah ibadah kebanyakan, surau tidak lagi menelorkan generasi yang berkualitas.

Untuk itu tentu dalam upaya kembali ke Pemerintahan Nagari, jelaslah kembali ke surau sangat pantas diupayakan.
Mungkin ada baiknya kita lihat kajian berikut ini;

UPAYA MEMUNGSIKAN SURAU

PRAKARSA umat Islam di Ranah Minang memfungsikan surau amat berarti dan dominan sepanjang sejarah surau menjadi sarana pembinaan anak nagari. Pengembangan, pemberdayaan dan pengupayaan surau menjadi tempat pembinaan umat sangatlah besar pada setiap nagari, sampai kepelosok kampung, dusun dan taratak.

Fungsi Surau tidak semata menjadi tempat ibadah mahdhah (shalat, tadarus, dan pengajian majlis ta’lim), tetapi menjadi cikal bakal lahir dan tumbuhnya lembaga-lembaga dakwah dan pembinaan umat Islam atau madrasah.
Contohnya, Sumatra Thawalib di Parabek, Surau Jembatan Besi di Padangpanjang, Surau Simabur di Batusangkar, Surau Inyiak Syekh Abdul Mu’in di Lambah Sianok Agam dan Madrasah Diniyah Islamiyah di Minangkabau yang lahir dari surau.
Seiring perkembangan zaman pendidikan dakwah anak nagari dimulai dari tingkat ibtidaiyah awaliyah, tsanawiyah, sampai ‘aliyah ditambah pengetahuan keterampilan, kepandaian putri, ilmu basilek, pasambahan, adab sopan bernagari yang dikenal sejak lama.
Para thalabah lulusan pembinaan umat surau (contohnya madrasah Thawalib) umumnya berkiprah di kampung halaman setelah selesai menuntut ilmu bersama-sama dan mengawali langkah dari surau.

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian (akhirat) serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut — kepada siapapun – kecuali kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan mendapat petunjuk (QS.9, at Taubah : 18).

Sasarannya, membuat anak nagari menjadi terdidik, berakhlak mulia, beribadah kepada Allah, mengamalkan syari’at agama Islam dengan berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah masyarakat.

Sebaik-baik mukmin seseorang adalah yang paling sempurna akhlaknya.
Untuk mencapai sasaran ini, maka setiap Muslim harus jeli (‘arif) dalam menangkap setiap pergeser¬an yang terjadi di dalam perubahan zaman ini.
Menghidupkan surau dengan maksud mencerdaskan umat menanamkan budi pekerti (akhlak) Islami, sejalan dengan kaedah adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah di Ranah Minang didorong keinginan mengamalkan Firman Allah.

Satu hal perlu di pahami pada awal maraknya surau di abad 18, para ulama penggagas dan pengasuh surau mempunyai jalinan hubungan yang kuat dengan masyarakat, yakni satu hubungan saling menguntungkan.
Sejarah juga mencatat bahwa surau menjadi kekuatan membisu (silent opposition) terhadap penjajah dan pekik kemerdekaan yang bergema dari surau lebih jelas adalah respon pemimpin dan masyarakat anak nagari menentang penjajahan.

Pada dasawarsa 1980, pemerintah mulai melakukan rekonsiliasi dengan gerakan pembinaan umat Islam dan melaksanakan kiat dekat mendekati dan penyesuaian-penyesuaian (rapprochement).
Merosotnya peran kelembagaan surau ikut mendorong sebahagian masyarakat mengadopsi istilah pondok pesantren yang semula nyaris di identikkan dengan pembinaan umat tradisional di Jawa.
Konsekwensinya, pembinaan umat di surau khususnya di Ranah Minang bertukar nama Pondok Pesantren yang bergerak “mengokohkan tangan” bergayut kepada anggaran dari pemerintah.

Dampak lebih jauh kepada potensi masyarakat nagari yang sejak awal lebih banyak “berdiri diatas kaki sendiri“ menjadi melemah pula.
Kemandirian surau di nagari-nagari yang pada mulanya menjadi tumpuan harapan bagi pembinaan anak nagari mulai kurang di acuhkan, “ibarat karakok di atas batu, hidup segan matipun enggan”.
Padahal warisan kebersamaan dalam mencapai tujuan amat menentukan keberhasilan di tengah realitas perbedaan yang ada.

UPAYA KEMBALI KE SURAU

SEMESTINYA dipahami bahwa kembali ke surau zaman ini tentulah jangan diartikan dengan kembali kepada tinggal dan bermalam di surau seperti yang telah terjadi di zaman penjajahan, yang dalam banyak hal mungkin tidak sesuai dengan alam kemerdekaan dan reformasi.
Akan senantiasa dan tetap sesuai pada setiap masa adalah menjadikan surau sebagai pusat pembinaan umat dan menjadi salah satu tangga dari jenjang bermasyarakat di nagari yang melaksanakan prinsip musyawarah (demokrasi), yang pada dasarnya adalah asas dan pondasi utama dari adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah.

Kembali ke surau bermula dari kesediaan untuk rujuk kepada hukum dan norma yang berlaku disertai kesetiaan melaksanakan undang-undang bernagari.
Maka dukungan masyarakat adat dan kesepakatan tungku tigo sajarangan yang terdiri dari urang nan ampek jinih yaitu, ninik mamak, alim ulama dan cadiak pandai, bundo kanduang dan kalangan rang mudo, menjadi penggerak utama mewujudkan tatanan sistim dalam menerjemahkan peraturan daerah kembali kepemerintahan nagari — sebagai buah dari OTODA –, karena anak nagari sangat berkepentingan dalam merumuskan nagarinya, dan aturan adat di nagari lebih mangkus daripada aturan yang di buat dan datang dari luar.

Konsepnya mesti tumbuh dari akar nagari itu sendiri, bukanlah suatu pemberian dari luar, “Lah masak padi ‘rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo, Kabek sabalik buhus sintak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo”,
Artinya diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya untuk menatap setiap perubahan peradaban yang tengah berlaku.

Hal ini perlu dipahami supaya jangan tersua seperti kata orang “ibarat mengajar kuda memakan dedak”.

Masyarakat nagari sesungguhnya tidak terdiri dari satu keturunan (suku) saja tetapi terdiri dari beberapa suku yang pada asal muasalnya berdatangan dari berbagai daerah asal di sekeliling ranah bundo.

Sungguhpun berbeda, namun mereka dapat bersatu dalam satu kaedah, sesuai untaian kata hikmah di Minangkabau yang mengungkapkan pemahaman bahwa perbedaan semestinya dihormati, “Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”.

Di sini tampak satu bentuk perilaku duduk samo randah tagak samo tinggi, menjadi prinsip egaliter di Minangkabau.
Kalau bisa dipertajam, inilah asas demokrasi yang murni dan otoritas masyarakat yang sangat independen.

Maka tidak dapat tidak, langkah penting ke depan adalah,
1. Menguasai informasi substansial
2. Mendukung pemerintahan yang menerapkan low-enforcment
3. Memperkuat kesatuan dan Persatuan di nagari-nagari, dengan muaranya adalah ketahanan masyarakat dan ketahanan diri.

LANGKAH-LANGKAH tersebut tidaklah dimulai dengan hal yang muluk-muluk.
Akan tetapi dimulai dengan apa yang ada, — yakni kekayaan alam dan potensi yang terpendam dalam unsur manusia, kekayaan nilai-nilai budaya lengkap dengan sarana pendukungnya –, selangkah demi selangkah.

Melaksanakan idea self help semestinya di iringkan oleh sikap berhati-hati, yakni adanya kesadaran tinggi bahwa setiap gerak di awasi, dan kesungguhan diri ditumbuhkan dari dalam dengan keyakinan bahwa Allah SWT satu-satunya pelindung dalam kehidupan disini dan disana.
Masyarakat Minangkabau yang beradat dan beragama selalu hidup dengan mengenang hidup sebelum mati dan hidup sesudah mati.

Sesuai dengan peringatan Ilahi, “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak merobah keadan sesuatu kaum, kecuali mereka mau merubah keadaan yang ada dalam dirinya masing-masing …. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap satu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.(QS.13, Ar Ra’du : 11).

UPAYA MEMAKMURKAN SURAU

MEMAKMURKAN surau (masjid) dimaksudkan untuk menetapkan visi dan menentukan program pembinaan yang akan dilakukan di tengah anak nagari, dengan pemahaman dan pengamalan syarak dengan benar dan berprilaku santun yang sesungguhnya akan mendukung percepatan pembangunan di era otonomi daerah di Sumbar.

Siapa yang dikehendaki Allah untuk mereka kebaikan maka diberikan padanya pemahaman kepada agama (Islam)

Langkah-langkah kearah ini diperlukan upaya terpadu diantaranya;

1. Meningkatkan Mutu SDM anak nagari,
Memperkuat Potensi yang sudah ada melalui program utama,
a. menumbuhkan SDM anak nagari yang sehat dengan gizi cukup, meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama terapan),
b. mengokohkan pemahaman agama, sehingga anak negari menjadi sehat rohani,
c. menjaga terlaksananya dengan baik norma-norma adat, sehingga anak nagari menjadi masyarakat masyarakat yang beragama (Islam).

Memperkuat SDM tersebut juga bertujuan membentuk masyarakat masyarakat dan beragama sebagai suatu identitas yang tidak dapat ditolak dalam upaya kembali datang..

2. Menggali potensi SDA di nagari, diselaraskan dengan perkembangan global yang tengah berlaku, memperkuat ketahanan ekonomi rakyat. Membangun kesejahteraan bertitik tolak pada pembinaan unsur manusianya.
Dari self help yakni menolong diri sendiri, selanjutnya akan melangkah kepada mutual help yaitu bersikap tolong-menolong sesama anak nagari, sebagai puncak budaya Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah.
Dalam rangka pembagian pekerjaan kata orang ekonomi atau ber-ta’awun sesuai dengan anjuran Islam, bantu membantu, ta’awun, mutual help dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses produksi, dan mempertinggi mutu, yang dihasilkan. Itulah taraf ihsan yang hendak di capai.

3. Memperindah nagari dengan menumbuhkan contoh di nagari dengan indicator utama kepada moral adat “nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”.
Mengefisienkan organisasi pemerintahan dengan reposisi dan refungsionisasi semua pemeranan fungsi dari elemen masyarakat.

Ketiga pengupayaan diatas menjadi satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam “iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah“, dalam rangka pembinan negara dan bangsa keseluruhannya dan untuk melaksanakan Firman Ilahi “Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan)”. (QS.28, Al Qashash : 77).

Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing.
Untuk membina umat dalam masyarakat di nagari harus diketahui pula kekuatan dan kelemahannya.
Kekuatan warisan budaya Minang adalah karena pandai meletakkan sesuatu pada tempatnya, “pandai baretong” sesuai pituah adat kita yang menyebutkan ;

“Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo,
Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo”.

Teranglah sudah, bagi setiap orang yang serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat nagari lahir dan batin, material dan spiritual pasti akan menemui di ranah bundo ini satu iklim (mental climate) yang subur, apabila pandai menggunakannya dengan tepat, tentulah akan banyak membantu usaha pembangunan di nagari itu.

Melupakan atau mengabaikan ini, adalah satu kerugian, karena berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat di nagari dan bernegara.

HAKIKAT DAKWAH BIL HAL DI NAGARI
PERAN dakwah di Ranah Minang sekarang ini adalah menyadarkan umat akan peran mereka dalam membentuk diri mereka sendiri, “Sesungguhnya Allah tidak akan merobah nasib satu kaum, hingga kaum itu sendiri yang berusaha merobah sikap mereka sendiri.” (QS.Ar-Ra’du).

Kenyataan sosial terhadap penduduk anak nagari harus di awali dengan mengakui keberadaan mereka, menjunjung tinggi puncak-puncak kebudayaan mereka, menyadarkan mereka akan potensi besar yang mereka miliki, mendorong mereka kepada satu bentuk kehidupan yang bertanggung jawab dengan gerakan kasih sayang dan persaudaraan.

Yang tidak bisa menyangi sesama manusia tidak akan disayangi oleh Allah
Inilah tuntutan Dakwah Ila-Allah.

Dakwah adalah satu kata, di dalam Alquran, bermakna ajakan atau seruan kepada Islam, yang sangat sesuai dengan fithrah manusia itu.

Islam adalah agama Risalah, yang ditugaskan kepada Rasul, dan penyebaran serta penyiarannya dilanjutkan oleh dakwah, untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia. Dalam rentangan sejarah perjalanannya tercatat “Risalah merintis, dakwah melanjutkan”

Risalah yang menjadi tugas rasul itu, berisi khabar gembira dan peringatan. Ditujukan untuk seluruh umat manusia.
Risalah itu cocok untuk semua zaman.
Maksudnya untuk Rahmat seluruh alam.

Nabi Muhammad Rasulullah S.A.W, adalah da’i pertama yang ditetapkan oleh Allah (QS. Saba’, 34 : 28), mengajak manusia dengan ilmu, hikmah dan akhlak.

Perintah untuk melaksanakan tugas-tugas dakwah itu, secara kontinyu diturunkan oleh Allah SWT seperti,

a).Supaya menyeru kejalan Allah, dengan petunjuk yang lurus (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-46).

b). Seruan untuk menyembah Allah, kepada seluruh manusia . Perintah untuk menyembah Allah, tidak boleh musyrik, agar hanya meminta kepadaNya dan mempersiapkan diri untuk kembali kepadaNya (QS.Al Qashash, 28 : 87).

Tugas para Rasul ini menjadi lebih sempurna dan lengkap dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW, dan umat manusia sekarang menjadi penerus dan pelaksana dakwah itu terus menerus sepanjang masa (QS. Ar-Ra’d, 13 : 35).

Dengan kalimat sederhana dan padat dapat kita jelaskan bahwa dakwah kita di nagari-nagari adalah Dakwah Ila-Allah (QS. Ali Imran, 3 : 104).

Manhaj-nya adalah Alquran dan Sunnah Rasul, dan pelaksananya setiap muslim, setiap mukmin adalah umat dakwah pelanjut Risalah Rasulullah yakni Risalah Islam.

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan jangan kamu mengkiuti jalan-jalan yang lain (yakni agama atau kepercayaan lain selain Islam, dan jangan dituruti bid’ah dan jalan yang tidak benar), karena akan menceraiberaikan kamu dari jalan Nya. Demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu, agar kamu bertaqwa (QS.6, al an’am : 153).

Terlaksananya tugas-tugas dakwah dengan baik akan menjadikan umat Islam mampu menjawab harapan masyarakat dunia.

Siapapun yang membawa seseorang kepada petunjuk hidayah Allah – kemudian di ikutinya petunjuk itu –, maka dia akan mendapatkan balasan sebagaimana balasan yang diterima oleh orang yang mengikutnya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh” (H.R. Imam Muslim dan Ash-habus-Sunan)

Maka perlu setiap Da’i – Imam, Khatib, Urang Siak, Tuanku, alim ulama suluah bendang di nagari-nagari wajib meneladani pribadi Muhammad SAW membentuk diri untuk mengerakkan umat menuju kepada inti dan isi Agama Islam (QS. Al Ahzab, 33 : 21).

Inti agama Islam adalah tauhid.
Implementasinya adalah Akhlak.
Umat masa kini hanya akan menjadi baik dan kembali berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu di kembalikan.
Kita semestinya bertindak atas dasar syara’ itu, dan mengajak orang lain untuk menganutnya. “Memulai dari diri, mencontohkannya kepada masyarakat lain“, (Al Hadist).

MENGUNAKAN BAHASA DAKWAH DI NAGARI
BAHASA dakwah di dalam nagari akan bisa menggalang saling pengertian sesama umat.
Koordinasi sesama akan mempertajam faktor pendukung, membuka pintu dialog persaudaraan (hiwar akhawi).

Orang-orang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang, maka sayangilah penduduk bumi agar yang di langit ikut pula menyayangimu.
Kaedah syara’ dengan dialog persaudaraan ini telah menjadi pendorong dan anak kunci keberhasilan dakwah untuk menghidupkan adagium adat basandi syara’ syara; basandi Kitabullah di Sumatra Barat.

Aktualisasi nilai-nilai Alquran hanya dengan gerakan amal nyata yang berkesinambungan (kontinyu), dan terkait dengan seluruh segi dari aktivitas kehidupan manusia, — seperti, kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (dakwah), merapatkan potensi barisan (shaff) dalam mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama (jamaah) –, sehinga membuahkan agama yang mendunia.

Usaha inilah yang akan menjadi gerakan antisipatif terhadap arus globalisasi negatif pada abad-abad sekarang, dan sudah semestinya menjadi visi kembali ke surau .

Kitabullah (Alquran) telah mendeskripsikan peran agama Allah (Islam) sebagai agama yang kamal (sempurna) dan nikmat yang utuh, serta agama yang di ridhai (QS.Al Maidah, 5 : 3), dan menjadi satu-satunya Agama yang diterima di sisi Allah,yaitu Agama Islam (QS. Ali Imran, 3 : 19).

Konsekuensinya adalah yang mencari manhaj atau tatanan selain Islam, tidak akan di ridhai ( QS. Ali Imran, 3 : 85).
Maka tentu tidak ada pilihan lain untuk menghidupkan syarak mestilah menggalinya dari ajaran Islam, “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah secara ikhlas, yakni orang Muslim, merekapun mengerjakan kebaikan-kebaikan” (QS. An Nisak, 4 : 125).
Setiap Muslim, dengan nilai-nilai Kitabullah (Alquran) wajib mengemban missi yang berat dan mulia yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran.

KESIMPULAN

KEMBALI ke Nagari menjadi langkah komprehensif dan solusi efektif untuk mengantisipasi pengaruh budaya asing yang dipicu oleh teknologi informasi dan telekomunikasi yang hadir begitu cepat tanpa batas ruang dan waktu dan telah mempengaruhi tatacara kehidupan umat di nagari.

Untuk kembali ke Nagari mesti diseiringkan dengan memperkuat visi kembali ke Surau sebagai salah satu sub sistem kembali ke nagari itu.
Hal ini menghendaki gerak yang kontinyu, utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin di raih dengan kerja sambilan, karena buah yang di petik adalah sesuai dengan bibit yang di tanam, sesuai natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami).
Dalam langkah dakwah Ila-Allah, setiap muslim berkewajiban menapak tugas tabligh (menyampaikan), kemudian dakwah (mengajak) dan mengujudkan kehidupan agama yang mendunia (dinul-harakah al-alamiyyah).

Peran surau dalam menghidupkan adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah menjadi tugas setiap insan anak nagari yang telah terikat dalam “umat dakwah” menurut Kitabullah – yakni nilai-nilai Alquran (QS. Ali Imran, 3 : 104 ).
Dakwah ini tidak akan berhenti dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang senantiasa berubah, namun tetap di bawah konsep mencari ridha Allah.

Suluah Bendang di nagari sangat dituntut oleh masyarakat untuk ;
1. Menerapkan manajemen pengelolaan pembinaan umat dakwah dan pembinaan anak nagari di surau, dengan peningkatan manajemen yang lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi.
Melalui peningkatan ini, sumber finansial masyarakat dapat di pertanggung jawabkan secara lebih efisien dan peningkatan kualitas pembinaan umat melalui surau dapat dicapai.
Segi organisasi lebih menjadi viable — dapat hidup terus, berjalan tahan banting, bergairah, aktif dan giat – menurut permintaan zaman, dan durable – yakni dapat tahan lama – seiring perubahan dan tantangan zaman.

2. Pengembangan pembinaan umat harus berorientasi kepada mutu sehingga menjadikan pembinaan – madrasah, majlis ta’lim, umat, dakwah — di surau dapat berkembang menjadi lembaga center of exellence, yang menghasilkan generasi berparadigma ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama, berbudi akhlak plus keterampilan.

3. Pengelolaan surau dalam sistim terpadu boleh terpisah dan menjadi bagian dari gerakan masyarakat di nagari di Sumatra Barat.
Pengembangan surau dengan peran pembinaan bisa menjadi core, inti, mata dan pusar dari learning society, masyarakat belajar.
Sasarannya, membuat anak nagari generasi baru menjadi terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah masyarakatnya.

 Personal Web-site : http://www.masoedabidin.wordpress.com
 Mailinglist : http://buya_masoedabidin@yahoogroups.com
 Email: buyamasoedabidin@gmail.com
masoedabidin@yahoo.com
masoedabidin@hotmail.com