Penerapan Ruhul Islam dalam upaya Pembinaan dan Pengembangan melalui Penguatan Akidah dan Ibadah (Bimbingan Ruhul Islam untuk RSI Ibnu Sina Yarsi Sumbar)

Oleh : H. Mas’oed Abidin

I.    Insyaallah kita memahami sesungguhnya bahwa bekal utama dalam hidup, adalah keyakinan  dan keimanan  kepada Allah SWT dan hidup masyarakat memakaikan akhlaqul karimah.

Dakwah Agama Islam mengajarkan syari’at agama Islam yang shahih  dalam menguatkan perilaku berakhlaq sesuai risalah Rasulullah SAW ,  serta tetap menjaga agar lingkungan tertata dengan nilai-nilai tamadun yang terikat kuat dengan penghayatan Islam. Disinilah letak peran Ruhul Islam secara krusial.

Sikap jiwa (mental attitude) dari masyarakat kita – khususnya di Sumatera Barat , sedari masa lalu, dan mesih tetap terjaga sampai kini – adalah selalu tertuntun oleh akhlak, sesuai bimbingan ajaran Islam, dalam ungkapan “syara’ mamutuih, Adat memakai !”.

Nilai-nilai tamaddun ini, menjadi pegangan hidup yang positif. Maka Ruhul Islam adalah identitas (sibghah) atau ciri khas dari sebuah lembaga Islam di daerah ini, terutama lembaga pelayanan keperluan masyarakat seperti Rumah Sakit Ibnu Sina Yarsi Sumbar ini.

Nilai nilai syari’at dan tamaddun yang sudah mengakar di tengah masyarakat itu akan mendorong dan merangsang — menjadi force of motivation –, bahkan menjadi penggerak – dan/atau mendinamiseer – semua kegiatan masyarakat, termasuk sifat dan kebiasaan-kebiasaan untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan meliputi bidang ekonomis, menghindari pemborosan, kebiasaan menyimpan, hidup berhemat, memelihara modal supaya jangan hancur, melihat jauh kedepan, serta interaksi atau silaturahim dengan massyarakat kelilingnya. Sikap jiwa yang baik itu sesungguhnya lahir dari pemahaman syari’at agama Islam atau memiliki Ruhul Islam yang masuk ke dalam budaya dan kehidupan bermasyarakat di Sumatera Barat. Dan ini adalah kekuatan besar dari kekayaan budaya masyarakat yang tidak ternilai besarnya. Ini juga menjadi harapan harapan pencapaian dalam keberhasilan embanan tugas pelayanan masyarakat di daerah ini.

II.  Generasi anak bangsa ini mesti menjauhkan diri dari perilaku yang dimarahi Allah. Berperangai bebas tanpa arah akan mengundang musibah dalam kehidupan. Mengerjakan yang diwajibkan dan meninggalkan yang dilarang berarti berupaya menjauhkan diri dari kemaksiatan.

Mengatasi problematika sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya ; a). Melakukan tazkiyah nafs  dengan teratur dalam manhaj suffiyah, b). Memantapkan iman, tauhid uluhiyah, c). Melaksanakan Ibadah yang teratur, sebagai perwujudan tauhid rububiyah, d). Melakukan Wirid yang berkesinambungan, e). Shalat berjamaah, dan ibadah sunat yang teratur, seperti qiyamullail, shaum, dan lainnya, f). Melakukan interaksi intensif (silaturahim yang terjaga) ditengah masyarakat. Semua pengupayaan ini akan menjadi kekuatan untuk mengantisipasi berkembangnya maksiat.

Pergeseran budaya itu terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, karena aqidah tauhid melemah – yang menjadi penyebab lahirnya  perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami,  serta suka melalaikan ibadah.

Kelemahan dalam meujudkan misi dakwah umumnya datang tersebab pembinaan akhlak sering tercecerkan. Pendidikan  yang mengedepankan Ruhul Islam sudah hampir tiada. Peran pendidikan  agama dan pemeliharaan ibadah juga melemah. Pendidikan akhlak dan budi pekerti berdasarkan perinsip perinsip syari’at agama Islam yang mewarnai kehidupan budaya masyarakat menjadi kabur.  Padahal Janji Allah SWT sangat jelas dan tepat, ” apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi “.

Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap berakhlak,  berpegang pada nilai-nilai  iman dan taqwa,  memiliki daya kreatif dan innovatif, menjalin kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis,  memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus,  sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.  

Memahami nilai‑nilai budaya luhur, punya makna jati diri yang jelas,  menjaga martabat, patuh dan taat beragama,  menjadi agen perubahan, dengan motivasi yang bergantung kepada Allah, mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, dinamis dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.

III.  Bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat  — terutama di Sumatera Barat, dengan tamaddun Minangkabau  – pasti akan menemui satu iklim (mental climate) yang subur, yakni ada kekuatan agama, tamadun, budaya, adat istiadat, dan budi bahasa yang baik.

Satu realita objektif  adalah ;  Siapa yang paling banyak menyelesaikan persoalan masyarakat ,  pasti akan berpeluang banyak mengatur masyarakat. Beberapa model perlu dikembangkan di dalam pembinaan Ruhul Islam diantaranya  ; pemurnian wawasan fikir, mempertajam kekuatan zikir, penajaman visi  akhlak banagari, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang, pendalaman spiritual religi. Bila itu ada, Insyaallah kendala atau tantangan perubahan zaman dapat diatasi.

Pengendali kemajuan sebenarnya adalah agama dan akhlak mulia yang mewarnai budaya bangsa. Budaya atau tamaddun  bangsa yang selama ini telah berlaku turun temurun dalam masyarakat kita di Sumatera Barat – Minangkabau dengan tamaddun ABSSBK – adalah hidup santun dan sopan sesuai bimbingan adat dan agama Islam.

Tercerabutnya agama dari diri masyarakat  — di Sumatera Barat atau hilangnya adat istiadat Minangkabau berdasarkan syari’at agama Islam –, berakibat besar kepada perubahan perilaku dan tatanan masyarakatnya. Hal ini disebabkan, karena “adatnya bersendi syarak, syaraknya bersendi kitabullah” dan “syarak mangato (=memerintahkan) maka adat mamakai (=melaksanakan)” .  Akibatnya, akan ditemui maraknya penyakit masyarakat (pekat, tuak, arak, judi, dadah, pergaulan bebas di kalangan kaula muda, narkoba, tindakan kriminal dan anarkis),  yang merusak tatanan keamanan, maka dirasakan adalah prinsip ABS-SBK menjadi kabur.

Peranan  pendidikan Ruhul Islam sejak dulu adalah membawa umat kepada keadaan yang lebih baik, kokoh aqidah, qanaah,  istiqamah, berilmu pengetahuan, mencintai nagari, matang dengan visi dan misi  Islam, memelihara kebersamaan dan gotong royong, berkualitas dengan iman dan hikmah, amar maktruf dan nahyun ‘anil munkar, research oriented, professional, berteraskan iman dan ilmu pengetahuan, mengedepankan prinsip musyawarah dan mufakat. Jiko mangaji dari alif, Jiko naiak dari janjang, Jikok turun dari tango,  Jiko babilang dari aso, artinya hidup berperaturan.

IV.  Dalam gerakan  “membangun kehidupan masyarakat yang beragama Islam secara shahih”, tidak dapat tidak, setiap peribadi  akan menjadi pengikat dalam membentuk masyarakat yang lebih kuat, sehingga merupakan kekuatan sosial yang efektif, dengan kekuatan persaudaraan.

Pemasyarakatan budaya dalam keseharian  sesuai syari’at Islam, mesti bersandar kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul.  Maka pembinaan dan pelayanan masyarakat oleh siapa saja harus bertujuan kepada mencapai derajat pribadi taqwa, dalam hubungan hidup bermasyarakat sesuai tuntunan syariat Agama Islam. Mamutieh cando riak danau, tampak nan dari muko-muko, Batahun-tahun dalam lunau, namun nan intan bakilek juo.

Mengakarkan nilai nilai Ruhul Islam kedalam  kehidupan masyarakat atau kelompok  di Sumatera Barat  — Minangkabau –  adalah dengan kemestian  memiliki ilmu dengan akidah tauhid yang jelas. Generasi pelanjut Yarsi mestinya dinamik yang tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti. “Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,  Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo  basi.  Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi, Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiak-kan budi.”

Filosofi Hidup bermasyarakat  mesti  diberi ruh oleh Islam. Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah, lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. 

Prinsip-prinsip Kepemimpinan Rasulullah harus masuk ke dalam seluruh kehidupan secara komprehensif dan akan berlaku universal, yang dijabarkan dengan kebersamaan, gotong royong, sahino samalu, kekerabatan, dan penghormatan sesama, atau barek sapikue ringan sajinijing, yang menjadi kekuatan di dalam incorporated social responsibility. Kekusutan dalam masyarakat  diatasi dengan komunikasi. Persoalan perilaku harus mendapatkan porsi yang besar. Diperlukan sosialisasi nilai-nilai Islam masuk ke dalam budaya kerja. Kekekrabatan dijaga dengan satu sistem pandangan  cinta  dalam kegiatan membangun yang dipersamakan, dengan landasan mencari redha Allah..

V. Kekuatan Umat ada pada jati dirinya. Shabar dan syukur adalah bukti nyata dari jiwa yang sadar beragama dan beriman tauhid. Disinilah letak kekuatan umat itu. Sabda Rasulullah SAW tentang sibghah orang Muslim itu diantaranya ;

عَجِبْتُ لِلْمُسْلِمِ إِذَا أَصَابَتْهُ مُصِيْبَةٌ احْتَسَبَ وَ صَبَرَ وَ إِذَا أَصَابَهُ خَيْرٌ حَمِدَ اللهَ وَ شَكَرَ، إِنَّ اْلمُسْلِمَ يُؤْجَرُ فيِ ُكلِّ شَيْءٍ حَتَّى فيِ الُّلقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلىَ فِيْهِ. (رواه البهقي عن سعيد(

Aku kagum kepada orang Islam, apabila ditimpa cobaan, dia ikhlas dan sabar, sebaliknya apabila memperoleh kebaikan, dia memuji Allah dan bersyukur. Sesungguhnya orang Islam itu diberi pahala dalam segala hal, bahkan berkenaan dengan suap yang diangkatnya ke mulutnya. (HR. Baihaqi dari Sa’id).

Pengikut hawa nafsu, adalah kelompok manusia yang tidak mempunyai jiwa yang sadar. Karena itu mereka akan Suka melanggar hukum, Bersifat ghaflah  = lalai, dan selalu berbuat Maksiat.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah).

Mengaplikasi peringatan ini, maka peranan Pendidikan Surau menjadi sangat signifikan membangun dan mendidik generasi bersih, beriman dan dinamik. Hal tersebut dapat dicapai dengan silabus pendidikan dan pemahaman agama yang benar. melalui pendidikan surau (halaqah), diharapkan terbinanya peribadi muslim yang kaffah (sempurna). Masyarakat keliling (lingkungan) akan memahami, meyakini, dan menerapkan aqidah iman yang istiqamah, konsisten menjauhi perbuatan dosa dan maksiat.

VI.  Akhlak adalah konsep perangai dari  Khalik. Akhlak adalah jembatan makhluk dengan Khaliknya. Hidup tidak berakhlak menjadikan kehidupan tidak akan bermanfaat, serta di akhirat merugi. Akhlaq, meliputi akhlaq kepada Allah, kepada tetangga, sama besar, lebih muda, kepada lawan jenis, berbeda agama, lingkungan, guru, orang lebih tua, dan kepada ibu bapa.

حَقُّ الوَلَدِ عَلىَ وَالِدِهِ أَنْ يُحْسِنَ اسْمَهُ وَ أَدَبَهُ، وَ أَنْ يُعَلِّمَهُ الْكِتَابَةَ وَ السِّبَاحَةَ وَ الرِّمَايَةَ،  وَ أَنْ لاَ يَرْزُقَهُ إِلاَّ طَيِّبًا، وَ أَنْ يُزَوِّجَهُ إِذَا أَدْرَكَ. (رواه الحكيم(

Kewajiban ayah kepada anaknya, supaya memberinya nama yang baik dan pendidikan budi pekerti yang baik, mengajarnya tulis baca, berenang dan memanah (keterampilan dan kemampuan membela diri dan bela wathani), memberinya makanan yang baik dan mengawinkannya apabila telah dewasa. (HR. Hakim).

ياَ غُلاَمُ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ وَ إِذَا سَأَلَكَ فَاسْأَلِ اللهَ تَعَالىَ وَ إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ عَزَّ وَجَلّ                    

رواه الترذي

Pemuda! Jagalah (perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (perintah) Allah, nanti engkau akan mendapati penjagaan-Nya di hadapan engkau. Apabila engkau menanya, tanyalah kepada Allah dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan hanya kepada Allah ‘Azza Wajalla. (HR. Tirmidzi).

Nilai-nilai ajaran Islam mewajibkan mengimani Allah dan menghargai nikmatNya menjadi sumber rezeki, kekuatan dan kedamaian. Pengamalan syari’at dengan tauhid yang benar di tengah keluarga akan menjauhkan semua bentuk kemaksiatan. Tujuannya jelas, yaitu : membina, mengembangkan potensi da’wah  berperilaku Islami di tengah kehidupan anak nagari. Akhlak mulia mendorong nagari maju bermartabat dengan minat terarah dan terbimbing pandai  bersyukur. Anak bangsa yang tidak menjaga budi akhlak akan mengalami kehancuran, punahnya adat luhur, lenyapnya keyakinan & lunturnya budaya bangsa.

Membentuk watak yang lasak (dinamik), Memiliki wawasan  Agama Islam, Memiliki tanggung jawab kemanusiaan (wazhifah insaniah). Membina kesadaran komunikatif,  Menggerakkan potensi dengan bimbingan syarak basandi Kitabullah (basis religi).

VII.  Beberapa langkah dapat dilakukan ;  a). memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga Yarsi,  b). memperkokoh peran  pemimpin menjadi orang tua bagi semua yang dipimpinnya,  c). memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung jawab patah tumbuh hilang berganti ,  d). menanamkan aqidah shahih (tauhid),  e). istiqamah pada ajaran agama Islam yang dianut dengan menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur, f). menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah, g). penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam  lingkungan,  h). melazimkan musyawarah dengan disiplin, teguh politik, kukuh ekonomi,  i). bijak memilih prioritas , sesuai puncak budaya Ruhul Islam yang benar. 

Kalbu atau hati = القَلْبُ  adalah Jiwa yang memerintah manusia.  Allah mengingatkan bahwa ;

فَإِنَّهَا لآ تَعْمَى الآَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Al-Hajj:22:46)

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

Dan aku tidaklah akan mampu membersihkan diriku dari kesalahan  – selama memperturutkan hawa nafsu –, karena sesungguhnya nafsu sangat menyuruh kepada kejahatan.

Memperturutkan hawa nafsu sama dengan menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan, menjadi musyrik khafiy (tersembunyi)

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً   

الفرقان: 43

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? ..

Pengikut hawa nafsu selalu,

  1. Suka melanggar hukum.
  2. Bersifat ghaflah  = lalai.
  3. Maksiat kepada Allah SWT .

Umumnya inilah ciri pendirian kelompok sempalan. Upaya upaya menuju masyarakat kuat yang terhindar dari aliran sempalan adalah dengan memantapkan iman, tauhid uluhiyah, Ibadah jelas, tauhid rububiyah. Menjaga Wirid teratur,qiyamullail,shaum, Shalat berjamaah, dan memelihara Ibadah sunat, di tengah kehidupan bermasyarakat.

VIII.  Terbentuk akhlaq umat jadi  domain ruhiyah (ranah rohani) dalam satu komunitas mempunyai sahsiah  berbasis tauhid dan ibadah. Memahami, meyakini, dan menetapkan aqidah iman yang istiqamah. Menetapi ibadah  Islam dalam kehidupan seharian dan berakhlak yang beradat. Yang perlu di ingat bahwa semua bimbingan Kitabullah menekankan adab pergaulan antar manusia dan sesama makhluk yang di ikat hubungan kasih dengan khalik Maha Pencipta, yang ujud  dengan ibadah dan sikap hidup tawakkal dan bertaqwa. Akhlak mulia mendorong kepada berkemajuan dan bermartabat dengan minat  terarah memelihara sumber kehidupan dan terbimbing pandai  bersyukur.

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan, hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan yang  tumbuh dengan kecerdasan budaya memperhalus kecerdasan emosional  serta dipertajam oleh kemampuan periksa  evaluasi positif dan negatif  atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas). Para Pembina mesti menyadari bahwa, menjelang kiamat akan terjadi berbagai peristiwa sangat gawat, dan bencana yang besar. Pada saat-saat kritis, kelompok zhalim akan  berkuasa, dan orang fasik memegang posisi penting. Penyeru kebaikan akan ditindas, dan pencegah kemungkaran mendapat tekanan.

يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لآ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِين

“Wahai Rasul Allah, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu), berarti kamu tidak menyampaikan amanahnya. Allah memelihara kamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang kafir”.   (QS.Al Maidah, 5:67)

 

IX.  Khulasahnya ;

  1. Agama Islam yang dianut diyakini dapat menjadi penggerak pembangunan dan telah terbukti dalam sejarah yang panjang menjadi kekuatan mendinamisir masyarakat adat Minangkabau menampilkan jati diri  dalam adat mereka.
  2. Ada fenomena menyedihkan, diantaranya, a). minat penduduk kepada pengamalan agama Islam di kampung-kampung mulai melemah, b). dayatarik dakwah agama mulai kurang, c). banyak bangunan agama yang kurang terawat, d). Guru-guru agama Islam yang ada mulai tidak diminati (karena kurang konsisten, ekonomi, pengetahuan, penguasaan teknologi, interaksi) masyarakat lingkungan. e). banyak kalangan tak mengindahkan pesan-pesan agama (indikasinya  acara hiburan TV di rumah lebih digandrungi dari pada pesan-pesan agama di surau). Fenomena negatif ini berakibat langsung kepada angka kemiskinan makin meningkat (karena kemalasan, hilangnya motivasi, hapusnya kejujuran, musibah sosial mulai mengancam).
  3. Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya menjadi landasan dasar pengkaderan dengan kewajiban,
  •  Memelihara dan menjaga generasi pengganti yang lebih sempurna,
  •  Mengupayakan berlangsungnya timbang terima kepemimpinan secara alamiah,
  •  Teguh setia melaksanakan pembinaan dan mengajarkan nilai nilai keyarsian dan menjaga lingkungan dengan baik.

‘Handak kayo badikik-dikik, Handak mulie tapek i janji, Handak tuah ba tabue urai, Handak  namo tinggakan jaso,  Handak luruih rantangkan tali, Handak pandai rajin baraja, Handak bulieh kuek mancari,  Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek ka parak, Nan munggu ka pandam pakuburan, Nan rawang  ranangan  itiek, Nan padang kubangan kabau,  Nan bancah jadikan sawah, Nan gauang ka tabek ikan, Artinya ada kemauan kuat melakukan perubahan, dan memanfaatkan alam sesuai dengan tata ruang yang jelas, karena segala tindakan dan perbuatan akan disaksikan oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman. 

 Billahittaufiq wal Hidayah,

Wassalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.