Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Gempa, Komentar, Minangkabau, Science, Surau, Tauhidik
MENYIKAPI BENCANA ALAM,
MENERAPKAN HASIL-HASIL IPTEK, DAN
BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH,
INTISARI AJARAN AGAMA YANG BENAR
OLEH : H. MAS’OED ABIDIN
الحَمْدُ ِللهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَسْتَهْدِيْهِ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالىَ مِنْ سُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مَنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ،
وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَدَّى الأَمَانَةَ، وَ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَ نَصَحَ لِلأُمَّةِ، وَ جَاهَدَ فيِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، وَ عَلىَ آله وَصَحَابَتِهِ. وَ أَحْيِنَا اللَّهُمَّ عَلىَ سُنَّتِهِ، وَ أَمِتْنَا عَلَى مِلَّتِهِ، وَ احْشُرْنَا فيِ زُمْرَتـِهِ، مَعَ الَّذِيْنَ أَنـْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ وَ حَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا. أَمَّا بَعْد
PENGANTAR
Sesungguhnya umat manusia, dengan kekayaan ilmu –- untuk melaksanakan amar ma’ruf, yakni saling membawa kepada yang makruf (baik dan terpuji), dan berlaku nahyun ‘anil munkar, yaitu mencegah dari yang munkar atau tidak baik, senyatanya dapat dengan mudah dilakukan, manakala memiliki ilmu pengetahuan –.
Di samping itu perlu ada kekayaan iman – yakni kepercayaan atau keyakinan sepenuhnya, bahwa alam serta semua isinya adalah milik Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, dan Yang Maha Esa.
Dengan kedua kekayaan ini, umat manusia akan menjadi umat yang paling beruntung (khaira ummah), sesuai QS.3,Ali Imran:110.
Umat manusia yang beragama adalah umat pilihan atau khaira ummah, dengan kesediaan menerima ajaran agama (dinul Islam), yang telah diwahyukan kepada Rasul SAW. Ketika manusia menjadi kufur (menolak), atau sebahagian lainnya berbuat dosa (berperilaku jahat, maksiat), seketika itu pula manusia kehilangan pegangan hidup, di dalam meniti setiap perubahan.
Khaira ummah menjadi identitas umat.
Di antara watak (perilaku) umat pilihan itu adalah selalu istiqamah (teguh hati, setia, dan konsisten), mempunyai perangai mulia (akhlaq karimah, sabar, hati-hati, tidak semberono, tawakkal, saling membantu, ukhuwah), dan selalu berdakwah (menyeru, mengajak umat kepada yang baik, dan amar makruf), serta teguh melarang dari yang salah, nahyun ‘anil munkar, dan beriman dengan Allah SWT.
Amar makruf, hanya bisa dilaksanakan dengan ilmu pengatahuan. Ketika manusia pertama diciptakan (Adam AS), dia dibekali dengan perangkat ilmu (QS.2:30-35), untuk dapat mengemban misi khalifah di permukaan bumi.
Demikian juga dengan nahyun ‘anil munkar, melarang dari yang salah, juga dengan ilmu pengetahuan, dengan kuatnya pengertian dan pemahaman tentang suruhan baik dan larangan dari berbuat salah (QS.3:104,114; QS.5:78-79; QS.9:71,112; QS.22:41; QS.31:17).
Amar makruf nahi munkar sesuai dengan martabat manusia.
Patokan makruf (baik, disuruh) dan munkar (salah, terlarang) di pagari oleh halal (right, benar) dan haram (wrong, salah).
Amar makruf nahi munkar, tidak diukur oleh like or dislike (suka atau tidak).
Menerapkan benar dan salah di kehidupan sehari-hari, seringkali terkendala karena kurang ilmu tentang right dan wrong, kurang pengetahuan tentang suruhan dan larangan, dan kebiasaan, terbiasa dan terasa ringan meninggalkan ajaran agama, atau tidak teguh pendirian (tidak istiqamah) menjalankan right dan wrong di dalam tata kehidupan.
Bila di dalami ayat pertama turun adalah (Iqra’, artinya baca) QS. 96, Al ‘Alaq 1-5, maka membaca dan menulis, adalah “jendela ilmu pengetahuan”.
Melalui jendela ilmu ini, manusia akan memacu diri meraih pengetahuan, sehingga dengan pasti, walaupun pelan-pelan, manusia akan mengetahui seuatu, yang sebelumnya dia tidak tahu (‘allamal-insana maa lam ya’lam).
Ilham dan ilmu belum berakhir.
Wahyu Allah memberi dorongan kepada manusia untuk memperdalam pemahaman, sehingga mampu membaca setiap perubahan zaman dan pergantian masa.
MANFAATKAN ILMU PENGETAHUAN
Keistimewaan ilmu, dapat mengetahui tanda-tanda yang tersimpan (mutasyabihat) yang sebelumnya hanya menjadi pengetahuan Allah SWT.
Melalui penelitian dan penganalisaan, seorang ilmuan akan dapart mendalami satu fenomena ke fenomena lainnya dari alam.
Makin dalam penguasaan ilmu seseorang, makin mudah mengakui bahwa alam semesta yang luas ini milik Allah.
Karena itu, mereka selalu berdoa dan mohonkan ampun, mempunyai sikap sabar dan teguh hati.
Di atas orang berilmu, masih ada Yang Maha Tahu.
Disebabkan pengetahuan itu, maka orang berilmu senantiasa menyandarkan pengetahuannya kepada kekuasaan Yang Maha Kuasa, dan Allah SWT akan mengangkat derajat mereka yang berilmu.
Artinya, para ilmuan dengan ilmu yang dimilikinya, akan menjadi rujukan, bagi orang banyak.
Para ilmuan, menjadi tempat bertanya bagi masyarakat awam.
Ajaran agama melarang untuk mengikuti kabar burung, atau dugaan-dugaan, tanpa dasar ilmu yang kuat.
Semestinya setiap orang, memohon kepada Allah agar ilmu bertambah (QS.20:114), pahamilah bahwa hanyalah orang-orang berilmu yang bisa mengerti (QS.29:43), dan yang punya rasa takut kepada Tuhan hanyalah orang-orang berilmu (QS.35:28).
Karena itu pula, Allah SWT akan meninggikan posisi orang-orang yang beriman dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa tingkatan (QS.58:11).
PADUKAN IPTEK DENGAN IMAN DAN TAQWA
Teknologi adalah suatu keterampilan, hasil dari ilmu pengetahuan berkenaan dengan teknik, serba mesin, digital dan wireless itu.
Teknologi tidak berarti sama sekali, apabila manusia di belakang teknologi itu tidak berfungsi, tidak berperan dan mati.
Sebelum teknologi dihidupkan, wajib lebih dahulu menghidupkan dhamir pengendali teknologi itu, dengan cerdas intelektual, cerdas emosi, cerdas spiritual, dan cerdas social.
Kecerdasan akan membawa manusia mudah menggunakan perangkat teknologi, yang dengan itu manusia akan beroleh manfaat besar di dalam kehidupannya. Teknologi tanpa dhamir manusia yang cerdas, akan merusak martabat kehidupan manusia itu.
Pemilik ilmu pengetahuan dan pengguna teknologi mestinya mampu mencipta tanpa merusak harkat manusia melalui produk hasil ciptaan teknologi tersebut.
Di sini sebenarnya arti penerapan Iptek dari sudut pandang agama Islam. Iptek menjadi musuh kemanusian, bila hasilnya menghancurkan derajat manusia.
Semestinya iptek dalam pemanfaatannya berperan meningkatkan harkat kemanusiaan, yang senyatanya hidup dengan memiliki keyakinan (iman), dan dengan penyerahan diri (tawakkal) kepada Allah SWT, Yang Maha Menjadikan alam semesta ini.
Maka, perlu ada saringan dalam menggunakan iptek itu.
Saringannya, tiada lain adalah agama, akal budi.
Di Minangkabau adalah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
MANUSIA TIDAK TAHU APA YANG AKAN TERJADI
Allah SWT tidak memberi tahu tentang bila kiamat tiba, kapan tetes pertama hujan turun, tentang kandungan ibu dan kelahiran, tentang yang akan terjadi sebentar lagi, tidak juga di mana tempatnya seorang akan mati.
Tidak juga tentang rahasia roh, yang disandang manusia dalam hidupnya.
Kecuali hanya tanda-tanda yang dapat dipahami dan dibaca oleh orang berilmu.
Ayat ini bermakna, bahwa manusia tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi, dan apa yang akan dialami besok, atau apa-apa yang akan diperolehnya sebentar lagi. Ketidak tahuan manusia ini, menjadikan manusia aktif dan selalu berupaya untuk melindungi diri, sebagai satu kewajiban hakiki, yakni berusaha dan berharap.
Tidaklah seorang manusia mengetahui kapan kematiannya datang menjelang. Konsekwensi dari ketidak tahuan ini, manusia diperintah untuk bersiap diri setiap waktu. Kehidupan dunia seakan sebuah pentas permainan, jika sudah selesai, panggungnya akan bubar dan ditinggalkan.
SELALU BERMOHON KEPADA ALLAH
Sebenarnya umat manusia, dengan mengamalkan wahyu Allah, akan memiliki identitas (ciri, sibghah), dan kekuataan (quwwah), dengan menguasai ilmu pengetahuan (informasi) serta berserah diri (tawakkal) kepada Allah Maha Khaliq. Manusia dengan sibghah dan iman yang kokoh itu akan mempunyai dorongan (innovasi), memiliki daya saing, imaginasi, kreatif, inisiatif, teguh prinsip (istiqamah, consern), dengan berfikir objektif, mempunyai akal budi, mampu menyelamatkan diri, keluarga serta masyarakatnya.
Musibah selalu disebabkan kesalahan sendiri.
Kekalahan dapat datang kepada kelompok yang sebelumnya pernah menang, pernah berjaya, namun kerena kelalaian juga musibah datang menimpa.
Musibah adalah ujian atau cobaan yang datang dari Allah semata (QS.2,Al Baqarah:155).
Cobaan datang dari Allah.
Keyakinan mendasar ini, adalah konsekwensi logis dari iman kepada kekuasaan Allah semata.
Cobaan itu, mengingatkan manusia, bahwa alam ini adalah milik-Nya.
Manusia mesti hidup dengan berbekal sabar dan tawakkal, sebagai satu bentuk dari kecerdasan intelektual yang melahirkan kecerdasan emosional dengan basic kecerdasan spiritual, di ujungnya melahirkan kecerdasan social, dengan saling membantu, solidaritas sesama, dan tidak mau mencelakan di dalam tata kehidupannya.
Menghadapi musibah dengan sikap sabar, yang dinyatakan dengan pengakuan bahwa semata kita akan kembali kepada-Nya jua (QS.Al Baqarah : 156). Pengakuan ini berarti, bahwa sesungguhnya diri, harta, alam kita, adalah milik Allah semata, dan kepada-Nya-lah kita akan kembali.
Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah), yang disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil, bencana alam dan sebagainya.
Walau ada sebagian manusia, yang memungkiri akan kekuasaan Allah , tentulah mereka akan menyesal kelak kemudian hari.
JANGAN SOMBONG DAN JAUHI PERBUATAN MAKSIYAT
Umat manusia diberi kemuliaan oleh Allah SWT untuk menjaga, mengolah bumi, ini berarti bahwa perilaku manusia berkaitan erat dengan apa yang tampil di bumi.
Betapa indahnya pernyataan Khalik Yang Maha Menjadikan, tentang kesiapan umat manusia untuk hidup di atas permukaan bumi, dipersiapkan sebagai makhluk utama, memiliki segala kelebihan.
Secara fisik, tubuhnya lengkap, kuat, cantik, penuh gaya.
Spiritnya (jiwanya) disempurnakan dengan akal, pikiran, dan punya keinginan, kecerdasan (inteligensia), rasa (emosional), memiliki dorongan kehendak (nafsu), guna meraih dan mewujudkan segala yang diingininya.
Manusia dianugerahi kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan kecerdasan social, yang dengannya mampu menjadi umat yang memiliki keseimbangan (ummatan wasathan).
Alampun dijadikan bersahabat dengan manusia, dan dijadikan untuk sebesar-besar manfaat bagi hidup manusia.
Laut dan darat adalah ladang kehidupan manusia turun temurun.
Di sana, manusia dapat berkiprah, mengolah alam selama hayatnya, patah tumbuh hilang berganti, dari generasi ke generasi, membangun dan merombak ke arah yang lebih baik, menjalankan reformasi dalam bimbingan Tuhan, artinya tidak satu kewajibanpun boleh ditinggal dalam memenuhi suatu kewajiban lain.
Manusia diminta untuk senantiasa akrab dan menjaga fungsi alam, tidak boleh membuat kerusakan di permukaan bumi, agar bencana tidak dating menimpa. Alam difungsikan untuk menjaga keberadaan manusia, memberikan keselamatan terhadap kehidupan itu sendiri.
Demikianlah satu siklus hidup yang aman dan menjanjikan kesejahteraan sepanjang masa.
Bumi akan diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang baik-baik (shaleh).
Bila suatu ketika keseimbangan alam terganggu, maka penyebab utamanya tiada lain adalah hasil kurenah (perbuatan) tangan manusia sendiri.
Demikian suatu sunnatullah (undang-undang baja alam) yang akan berlaku sepanjang masa, hingga kiamat datang menjelang, sebagai peringatan supaya manusia berteguh hati memelihara perannya, sebagai khalifah fil ardhi.
Untuk menata kehidupan ini tetap berjalan seimbang, maka Khalik ( Allah Rabbun Jalil) memberikan pedoman (hidayah) yang jelas dan terang. Berakar kepada kebenaran (haq) dari Allah dan berakhir dengan kebenaran dari Allah juga. Itulah ‘Aqidah Tauhid’ (keyakinan kepada kekuasaan Allah yang mutlak, Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Esa dan Maha Kuasa).
Konsekwensi dari keyakinan tauhid ini, melahirkan sikap tunduk dan taat, akhirnya menumbuhkan kesediaan menyerahkan segala kemampuan akal dan gagasan pikiran, maupun hasil observasi dan eksperimentasi kepada kekuasaan Allah dengan pernyataan yang bersih.
Tatkala itulah ilmu memperoleh kebenaran.
Dalam buhul aqidah tauhid inilah, seorang yang beriman mendapatkan keseimbangan hidup yang prima, sehingga bila melihat satu bencana, mereka yakin itu hanya sebatas ujian dari Allah, yang menuntutnya untuk bertindak lebih baik dan hati-hati di masa mendatang.
Bagi manusia yang mengingkari keberadaan dirinya sebagai makhluk Tuhan, dan menutup mata hatinya terhadap kekuasaan Allah SWT, maka berlakulah ketentuan, siapa yang membutakan mata hatinya di dunia ini (dari petunjuk Allah), niscaya di akhirat nanti dia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang benar.(QS 17: 72).
Manusia seperti itu, akan merasakan azab menyiksa kehidupan, dadanya akan sesak, mengumpat kiri-kanan, limbung kehilangan keseimbangan dalam percaturan kehidupan di atas bumi ini.
Karena itu kembalilah kepada Allah, supaya Allah senantiasa memberikan perlindungan selalu, dan marilah segera kita laksanakan berserah diri (tawakkal) kepada Allah, dengan memanfaatkan semua hasil ciptaan ilmu pengetahuan yang telah didapat oleh manusia, dan selalu berdoa, dan menjauhi semua perbuatan dosa, karena berbuat ingkar (dosa) kepada Allah, dan melakukan maksiat akan mengundang bencana.
Membentengi diri dari bencana adalah dengan menjaga disiplin diri, memelihara akidah dan keimanan serta taqwa kepada Allah SWT.
رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللِه بَرَكَاتهُُ
Ayat-ayat Alquran yang dipakai menjadi rujukan dan bertalian dengan catatan akhir
1. Firman Allah SWT di dalam Alquranul Karim Surat Ali Imran : 110, menyebut sebagai berikut ;
“ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”2. Firman Allah Surat Ali Imran : 16-17.
“ (yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah beriman, Maka ampunilah segala dosa Kami dan peliharalah Kami dari siksa neraka, (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (sahur: waktu sebelum fajar menyingsing mendekati subuh.”3. Firman Allah SWT, menyebutkan,
“Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha mengetahui.” (QS.12, Yusuf:76).4. Firman Allah dalam Alquran Surat al Anbiya’ ayat 27 dan An Nahl ayat 43, menyebutkan ;
“ Bertanyalah kepada ahli ilmu kalau kamu tidak tahu,” (QS.16, An-Nahl:43, dan QS.21,al Anbiya’:7).5. Firman Allah menyebutkan.
“ Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.17, Isra’:36).6. Sesuai Firman Allah SWT,
“ Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat (saat), dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan Dia-lah mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.31:Luqman:34).7. Firman Allah,
“ dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS.17, Isra’:85).8. Sesuai Firman Allah,
“ tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.., sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS.3,Ali Imran:185).9. Firman Allah menyebutkan,
” dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal (sebelumnya) kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu masih bertanya: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.3, Ali Imran:165).10. Firman Allah menegaskan,
“ dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS.2,Al Baqarah:155).11. Firman Allah;
“ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” (QS.2,Al Baqarah:156).12. Firman Allah menyindirkan ;
“.. dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim (yang menyembah kepada selain Allah) itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS.3,Ali Imran:165).13. Firman Allah;
Dan sesungguhnya Kami telah muliakan anak cucu Adam (umat manusia). Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (yakni dimudahkan kehidupan manusia baik di darat ataupun di laut), Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (Al Q.S.17, Al Isra’, ayat 70)14. Firman Allah,
“ dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur – juga dalam Taurat, dan setiap kitab suci, — sesudah (Kami tulis dan tetapkan di dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.” (QS.21,al Anbiya’:105).15. Firman Allah,
Artinya ” Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”. (QS. 30, Ar-Rum, ayat 41).16. Firman Allah,
“Wahai Allah, Rabbanaa, tidak ada satupun yang Engkau jadikan ini sia-sia” (QS 3: 190).17. Lihat Firman Allah dalam QS.7 Al A’raf :97-102.
97. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?
98. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?
99. Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.
100. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki, tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya. Dan Kami kunci mati hati mereka, sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?
101. Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu (kepadaMuhammad SAW, melalui wahyu Alquran), dan sungguh telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, Maka mereka (juga) yang tidak mau beriman kepada apa yang dahulunya, mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir.
102. Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.18. Firman Allah;
“ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.7, Al A’raf:96).
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Cinta, Globalisasi, Iptek, Science, Tauhidik
MUKJIZAT ALQURAN
WAHYU ALLAH MENJAWAB ILMU PENGETAHUAN
ALQURAN MENGENAI BAGIAN DEPAN OTAK MANUSIA
Oleh : H Mas’oed Abidin
“Ketahuilah, Sesungguhnya! jika dia tidak berhenti (dari berbuat kesalahan dan kekufuran), niscaya Kami akan menyentakkan ubun-ubunnya. Yaitu ubun-ubun yang mendustakan lagi durhaka (penuh dosa).[QS.96, Al 'Alaq :15-16]”
Kata ilmu pengetahuan,
bahwa motivasi dan pandangan ke depan untuk berencana dan gerakan-gerakan untuk berinisiatif dari manusia itu terjadi pada bagian anterior dari BELAHAN DEPAN, PREFRONTAL AREA.
Iptek pula menyebutkan bahwa, dalam hubungannya dengan keterlibatannya dalam motivasi, PREFRONTAL AREA juga dipahamkan sebagai pusat fungsi AGRESI…
Selanjutnya, Area bagian otak ini bertanggung jawab untuk perencanaan, pemotivasian, dan pencetus perilaku baik dan buruk, dan bertanggung jawab untuk mengabarkan kebohongan dan
mengatakan kebenaran.
Dengan begitu, tepatlah untuk menyatakan bahwa bagian depan kepala sebagai berdusta dan penuh dosa ketika seseorang berbohong atau melakukan dosa seperti yang dikatakan Quran dengan kata-kata NASHIYAH = Ubun-ubun adalah bagian depan dari kepala. (bagian depan kepala) yang berdusta, penuh dosa itu.
ALQURAN BERKISAH TENTANG LAUTAN
Ilmu pengetahuan Modern kini telah menemukan bahwa tempat-tempat di mana ada dua laut yang berbeda sifatnya telah bertemu. Keduanya membaur dengan adanya suatu penghalang di antara keduanya.
Penghalang ini telah membagi dua laut yang berbeda sifat dan suhunya, pada perbedaan yang nyata-nyata, pada suhu, salinitas kadar garamnya, asin dan tawarnya, dan pada kepadatannya sendiri-sendiri.Air laut Mediterrania ketika memasuki Atlantik di atas Gibraltar masih dengan karakteristiknya yang hangat, asin dan kurang padat, karena penghalang yang memisahkan di antara mereka.
Alquran menjelaskan dengan tuntas, “Dia mengalirkan dua laut yang keduanya bertemu. Di antara keduanya ada BATAS yang tidak dilampauinya.[QS.55, Ar Rahman:19-20]”
Ilmu pengetahuan Modern telah menemukan bahwa dalam teluk-teluk (kuala),
di mana air segar dan air garam (asin) bertemu, situasinya agak berbeda dari yang ditemukan di tempat-tempat di mana dua laut bertemu.
Telah ditemukan bahwa yang membedakan air segar dari air asin di teluk-teluk adalah suatu zona pycnocline dengan suatu kepadatan berbeda yang dapat ditandai antara dua lapisan.
Pembatas atau zona pemisahan ini mempunyai suatu salinitas yang berbeda dari air segar dan dari air asin.Alquran menjelaskan tuntas, “Dan Dialah yang mempertemukan dua laut; yang satu tawar lagi segar, dan yang lain asin lagi pahit. Dan Dia menjadikan di antara keduanya ada penghalang dan PEMBATAS YANG TIDAK TERLAMPAUI.[QS.25, Al Furqan:53]”
Kegelapan di laut-laut dan lautan-lautan dalam ditemukan sekitar kedalaman 200 meter dan di bawahnya.
Pada kedalaman ini, hampir tidak ada cahaya.
Di bawah kedalaman 1000 meter cahaya tidak ada sama sekali.Para ilmuan telah menemukan bahwa ada gelombang-gelombang internal yang “terjadi pada pertemuan kepadatan antara lapisan-lapisan dengan kepadatan-kepadatan yang berbeda.”
Gelombang-gelombang internal menutup air-air dalam dari laut-laut dan lautan-lautan karena air-air dalam memiliki suatu kepadatan yang lebih tinggi daripada air-air di atasnya.
Gelombang-gelombang internal berlaku seperti gelombang-gelombang permukaan. Gelombang-gelombang internal tidak dapat dilihat dengan mata manusia, tetapi mereka dapat dideteksi dengan mempelajari perubahan-perubahan suhu dan salinitas pada suatu lokasi tertentu.Alquran empat belas abad silam telah menjawab tuntas, “atau seperti kegelapan di laut yang dalam yang diliputi gelombang demi gelombang yang di atasnya awan kegelapan yang tindih menindih.
Apabila seorang manusia meregangkan tangannya, ia tidak dapat melihatnya…[QS.24, An-Nuur:40]”
ALQURAN MENJELASKAN MENGENAI PERKEMBANGAN EMBRIO MANUSIA
“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dari sari tanah.
Kemudian Kami menjadikannya sebagai sebuah tetes cairan dalam
dalam sebuah tempat yang kukuh terpelihara.
Kemudian Kami menjadikan tetes cairan menjadi sebuah alaqah (lintah, sesuatu yang bergantung, gumpalan darah),
lalu Kami menjadikan alaqah itu menjadi sebuah mudghah (kunyahan, gumpalan)[QS.23,Al Mukminuun:12-14]”Arti lain dari kata alaqah adalah “sesuatu yang bergantung“…
Tempat bergantung dari embrio, selama tahap alaqah, dalam rahim
sang ibu.Dalam membandingkan sebuah lintah terhadap embrio pada tahap permulaan (alaqah) kita menemukan kesamaan di antara keduanya.
Juga, embrio pada tahap ini mendapatkan makanan dari darah sang ibu, sama
seperti lintah yang manghisap darah lainnya.Embrio yang menggantung selama tahap-tahap awal dalam kandungan ibu.
(Sekitar umur 15 hari) Ukuran sebenarnya dari embrio itu adalah sekitar 0,6 mm.
“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dari sari tanah.
Kemudian Kami menjadikannya sebagai sebuah tetes cairan dalam sebuah tempat yang kukuh terpelihara.
Kemudian Kami menjadikan tetes cairan menjadi sebuah alaqah (lintah, sesuatu yang bergantung, gumpalan darah),
lalu Kami menjadikan alaqah itu menjadi sebuah mudghah (kunyahan, gumpalan)[QS.23, Al Mukminuun :12-14]”Kita mendapati bahwa penampakan eksternal dari embrio dan kantongnya selama
masa permulaan (alaqah) adalah sama dengan segumpal darah. Ini karena adanya
jumlah yang relatif besar dari darah yang ada dalam embrio selama tahap ini.
Darah dalam embrio tidak bersirkulasi hingga akhir minggu ketiga.Jadi embrio seperti segumpal darah pada tahap ini !
Embrio pada tahap mudghah menyamai penampakan dari sebuah substansi
seperti kunyahan karena gerigi pada punggung embrio yang “agak menyerupai bentuk bekas gigi pada sebuah benda yang dikunyah.”Apabila membandingkan penampakan dari suatu embrio pada tahap mudghah
dengan sepotong permen karet yang telah dikunyah, kita mendapati kesamaan antara keduanya.
ALQURAN BERCERITA MENGENAI KARAKTERISTIK INDERA KULIT MANUSIA
Dr. Tagata Tagasone berkata dengan terkejut setelah melihat kebenaran Alquran dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan.
Beliau bersorak Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasul Allah! Artinya menerima kebenaran Islam.Orang ini mengucapkan Syahadat dan menyatakan diri menjadi seorang muslim. Ini terjadi pada waktu Konferensi Medis Saudi ke-8 yang diadakan di Riyadh.
Professor Tagata Tagasone, mantan Kepala Departemen Anatomi dan Embriologi di Universitas Shiang Mai di Thailand. Beliau pernah menjadi Dekan dari Bagian Medicine dari Universitas tersebut.
Ketika Professor Tagasone mempelajari berbagai artikel yang berhubungan dengan ayat-ayat Quran dia begitu terpesona.
Beberapa pertanyaan dalam bidang spesialisasinya diajukan kepadanya.
Salah satunya mengenai penemuan-penemuan modern tentang karakteristik indera kulit.
Dr. Tagasone menjawab: Ya jika luka bakar itu dalam.
Dinyatakan kepada Dr. Tagasone: Anda akan tertarik untuk mengetahui bahwa dalam buku ini, yaitu Kitab suci Quran, terdapat sebuah referensi 1400 tahun yang lalu yang mengacu kepada saat penghukuman orang-orang kafir oleh api neraka dan dinyatakan bahwa ketika kulit mereka rusak,
Allah menjadikan kulit lainnya untuk mereka sehingga mereka merasakan hukuman oleh api itu, menunjukkan pengetahuan mengenai akhir-akhir syaraf di kulit, dan ayat tersebut adalah:“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada tanda-tanda Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka.
Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab.
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana(QS.4, An Nisak:56).
Jadi apakah anda sepakat bahwa ini adalah referensi akan pentingnya akhir-akhir syaraf indera di kulit, 1400 tahun yang lalu?
Dr. Tagasone menjawab: Ya saya setuju.
Pengetahuan mengenai penginderaan ini telah diketahui jauh sebelumnya.
Karena telah dinyatakan bahwa jika seseorang bersalah, maka ia akan dihukum dengan membakar kulitnya dan lalu Allah menaruh kulit baru padanya, menutupnya, untuk membuatnya mengetahui bahwa ujian itu menyakitkan. Ini berarti mereka mengetahuinya bertahun-tahun lalu bahwa indera penerima rasa sakit tentulah ada di kulit, sehingga ditaruh kulit yang baru atasnya.
Kulit merupakan pusat sensitivitas terhadap luka bakar.
Apabila kulitnya terbakar api seluruhnya, ia akan kehilangan sensitivitasnya.
Inilah alasan bahwa Allah akan menghukum orang-orang kafir pada Hari Pembalasan dengan mengembalikan kulit mereka waktu ke waktu, dan Dia-lah Yang Maha Perkasa dan Maha Agung.
Ditanyakan kepadanya: “Apakah mungkin ayat ini datang kepada Nabi Muhammad (sallallahu ‘alaihi wa sallam), dari sumber manusia?’
Professor Tagasone menyatakan, bahwa ini tidak mungkin datang dari sumber manusia manapun.
Tetapi dia masih menanyakan sumber pengetahuan itu dan darimana Muhammad kemungkinan menerimanya?
Jawabannya adalah ‘Dari Allah, Yang Maha Agung dan Maha Perkasa. ’
Lalu ia bertanya: ‘Tetapi siapakah Allah itu?’
Jawabannya: Dia-lah Pencipta semua yang ada ini.
Apabila anda menemukan kebijaksanaan maka itu adalah karena datang hanya dari Dia Yang Maha Bijaksana.
Apabila anda menemukan pengetahuan mengenai penciptaan alam semesta, adalah karena alam semesta itu ciptaan dari Dia yang memiliki seluruh pengetahuan.
Apabila anda menemukan kesempurnaan dalam komposisi dari ciptaan-ciptaan tersebut, maka ini adalah bukti bahwa ini adalah bukti bahwa ini adalah ciptaan dari Dia Yang Maha Mengetahui.
Dan apabila anda merasakan bahagia, maka ini adalah fakta bahwa ini karunia hidayah Yang Maha Penyayang.
Sama halnya, apabila anda merasa bahwa ciptaan tunduk pada suatu perintah yang terpadu dan saling terikat dengan kukuh, maka ini bukti bahwa itu adalah ciptaan dari Sang Pencipta, Yang Maha Agung dan Maha Perkasa.
Beberapa rujukan buku-buku yang ditulis para ilmuan, antara lain :
1. Essentials of Anatomy & Physiology, Seeley and others, Page: 211
2. A brief guide to understanding Islam with colorful illustrations,
I. A. Ibrahim, Page:6, 16
3. Priciples of Oceanography, Davis, Page: 92-93
4. Oceanography, Gross, Page:205,242, 244.
5. Oceans, Elder and Pernetta, Page: 92-93
7. Alaqah : Bloodsucker (Pg.92), Suspended (Pg.745), Clot (Pg.146).
Elias Modern Dictionary, E-A, 1992
8. Mudghah : Chewed (Pg.137) Elias Modern Dictionary, E-A, 1992
9. The developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., Page:8
10. Human Development as described in the Quran and Sunnah,
Moore and others, Page:36, 37-38,
11. The developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., Page: 8, 65
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Globalisasi, Iptek, Komentar, Mukjizat Alquran, Science, Tauhidik
SCIENCE dan TAUHIDIK
Iptek (=ilmu pengetahuan dan teknologi) sebenarnya membawa kepada Tauhid
dalam bimbingan Alquran
Oleh : H. Mas’oed Abidin
Salah satu yang dari hal-hal yang menakjubkan dalam Alquran adalah dalam hal kecocokannya dengan science.
Alquran yang diturunkan pada abad ke-7 kepada Muhammad (s.a.w.) mengandung fakta-fakta ilmiah yang tak terbayangkan di mana, kadang-kala ilmu pengetahuan yang telah disinyalkan oleh Alquran itu, baru ditemukan di abad ini.
Maka tidak jarang, para ilmuwan terkesima.
Bahkan seringkali tak dapat berkata-kata ketika kepada mereka ditunjukkan bagaimana terperinci dan akuratnya beberapa ayat dalam Quran terhadap ilmu pengetahuan modern.
Dalam dua salinan Alquran yang terdapat dalam sebuah museum di Turki dan Rusia, ternyata masing-masingnya telah berumur sekitar 1400 tahun (empat berlas abad).
Masing-masing salinan Alquran itu sama-sama persis dengan yang ada dewasa ini.
Maka tidak dapat di bantak bahwa Alquran adalah sebuah kitab suci yang amat otentik, teruji, dan tidak ditemui pada satu dokumen-dokumen kitab suci yang lainnya.
Ketika kita membaca keterangan ini, sesungguhnya ingatlah selalu bahwa Alquran itu telah diturunkan lebih dari 1400 tahun yang lalu, kepada seorang yang amat dipercaya, bersih dan bergelar al Amin, yakni Muhammad SAW.
Pikirkanlah secara runtut dan mendalam, bahwa di dalam Alquran itu, didapati perkhabaran yang amat jelas mengenai gagasan-gagasan umum saat itu, dan tentang keadaan yang terjadi sepanjang masak, dalam konsep dan kontekstual kehidupan manusia.
Sebaiknya dicatat betapa terperincinya ayat-ayatnya.
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru (ufuk) dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa sesungguhnya (Alquran) itu adalah benar. Dan apakah Tiadakah tidak cukup untukmu, bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”[QS.41,Fushshilat : 53]
Melalui mitos-mitos sejarah dan takhyul-takhyul yang menyebar begitu luas di bawah bendera agama sejak lama, sebelum Alquran diwahyukan kepada Muhammad SAW, maka telah terjadi sesungguhnya sifat dari Tuhan telah dilumuri dan terdistorsi.
Begitu banyaknya sehingga dalam agama apapun dianggap sebagai suatu kebodohan yang kekanak-kanakan oleh para raksasa intelek modern, jika seorang berpendapat bahwa ilmu atau science yang sebenarnya adalah wahyu Tuhan, atau keterangan dalam kitab suci.
Dalam mengahadapi kondisi semacam itu, Alquran menjawab tantangan itu.
Tidak ada buku lain selain Alquran yang menyatakan dirinya atau dibuktikan secara nyata sebagai buku atau dokumen yang bebas error dan kontradisksi seperti Kitab Alquran ini.
Kitab yang otentik berdasarkan pengetahuan dan pengujian dalam dunia dewasa ini.
Keadaan ini, telah memberikan tantangan kepada para ahli yang menganalisa sejarah pengetahuan modern berdasarkan fakta-fakta ilmiah tentang keotentikan fakta-fakta yang ada di dalamnya.
Science (ilmu pengetahuan manusia yang diteliti dan diungkap kebenarannya oleh manusia) dan Islam (yang sebenarnya hanya sebagian kecil saja dari Ilmu Tuhan yang direpresentasikan di dalam Alquran), layaknya dua saudara kembar.
Hubungan erat antara science (astronomi, fisika, biologi, matematika, dan segudang ilmu pengetahuan lainnya yang dikenal manusia di zaman sekarang ini.) dan Islam telah memberikan peran yang besar dalam kehidupan manusia secara langsung maupun tidak, kedua-duanya telah menjadikan keyakinan manusia bertambah kuat dalam memahami kebesaran dan kekuasaan Allah SWT Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa dan Maha Berilmu.
Science adalah salah satu bagian yang paling menakjubkan dari berbagai segi keajaiban Quran.
Kita selalu kekurangan waktu untuk membedahnya.
Sangat menakjubkan lagi setelah kita mengetahui sejarah turunnya, bahwa Alquran ini telah diturunkan lebih dari 1400 tahun yang lalu….. Allahu Akbar !!!.
Ilmu Allah SWT yang diturunkan kepada manusia ini memang untuk dibedah, dikaji untuk dijadikan petunjuk dan diambil manfaatnya bagi semesta alam.
Sebaliknya, data ilmiah tertentu yang dikuasai manusia dari hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga merupakan sarana untuk memahami ayat-ayat Allah SWT secara lebih baik dab lebih sempurna lagi.
“Bukanlah kepercayaan dalam Islam yang pertama kali menuntun langkah-langkahku, melainkan penelitian sederhana untuk kebenaran.
Apa yang membawaku pada keyakinan ini adalah fakta yang tak akan pernah terpikirkan untuk seorang manusia dari masa Muhammad menjadi seorang penulis dari pernyataan-pernyataan sebagaimana pengetahuan yang kenal saat ini pada waktu-waktu tersebut.” kata ungkapan nurani Dr.Maurice Bucaille, seorang ilmuan medis terkemuka dari French Academy of Medicine, yang kemudian menulis buku berjudul “Injil, Quran dan Science.”
Allah SWT, Maha Pencipta dengan Cinta dan Kasih-Nya telah melimpah untuk umat manusia bimbingan hidayah dan ma’unahNYA, sehingga dengan bimbingan itu, manusia tidak ditinggalkan di dalam kegelapan untuk menemukan jalan yang lurus. Manusia dengan wahyuNYA yang adalah sebagian dari ilmu Allah SWT Yang Maha Luas itu, telah membawa manuysia menempuh jalan yang lurus, tanpa harus ragu dan dengan cara mencoba-coba. Tidak. Tidak sama sekali.
Sebagian ilmu Allah SWT yang diberikan melalui Alquran dan kemudian digabung dengan kemampuan intelektual manusia, maka sebenarnya Allah SWT telah memberikan petunjuk-Nya untuk mencapai Kebenaran dan berbagai pengetahuan.
Dari awal mula umat manusia diciptakan, maka Sang Pencipta, Allah Khaliq al ‘Alam telah mengirimkan nabi-nabi untuk menyampaikan Wahyu-Nya dan mengajak manusia ke jalan Kedamaian dan Kepatuhan yang benar-benar menuju kepada Tuhan semata-mata.
Melalui nabi-nabi yang berbeda dalam generasi ke generasi, namun tetap untuk tujuan yang sama, menuju Allah Yang Esa, Allahu Ahad, menjangkau redha NYA semata. Inilah ISLAM.
Namun, malangnya manausia, karena sebagian atau bahkan seluruh pesan-pesan yang terdahulu dari Tuhan itu, telah terdistorsi oleh orang-orang dari generasi ke generasi berikutnya, dikaburkan dan dirusak dengan mitos, takhyul, kemusyrikan dan ideologi yang tidak rasional.
Ketika umat manusia tenggelam dalam kegelapan, Tuhan mengirimkan nabi terakhir-Nya, Nabi Muhammad Shallalhu ‘alaihi wa Sallam untuk menyampaikan wahyu terakhir yang merupakan sumber referensi yang sempurna sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia.
Alquran adalah kata-kata Allah (kalimat haq) yang diwahyukan untuk pedoman bagi seluruh manusia.
Alquran adalah sumber bagi Pengajaran-pengajaran dan Hukum-hukum dalam Islam.
Alquran itu, isinya meliputi dasar-dasar keimanan, sejarah manusia, peribadahan, pengetahuan, kebijaksanaan, hubungan Tuhan dengan manusia, dan hubungan antara manusia dalam semua aspek kehidupan.
Alquran berisi pengajaran-pengajaran yang komprehensif dalam hal membangun sistem yang bagus dan keadilan sosial, ekonomi, politik, pemerintahan.
Alquran lengkap berisikan yurisprudensi, hukum dan hubungan internasional.
Semua hal penting bertalian dengan hidup dan matinya manusia, tentang alam kini, kemarin dan yang akan datang, tentang kebahagiaan, arti, hakikat dan makrifatnya, tentang hidup dan kehidupan, tentang dunia, yang nyata dan tersembunyi (ghaib), semuanya itulah hal paling lengkap yang merupakan isi-isi yang penting dari Alquran.
QURAN MENGENAI ALAM SEMESTA
“Sesungguhnya pada langit dan bumi terdapat tanda-tanda…”[QS.45,Al Jaatsiyah : 3]
(1). “Ilmu pengetahuan kosmologi modern, secara observasi maupun teori, menunjukkan dengan jelas bahwa, pada suatu ketika dalam waktu, keseluruhan alam semesta adalah tak sesuatupun melainkan sebuah AWAN BERUPA ASAP” (yaitu Sebuah komposisi padatan tinggi yang gelap dan gas yang panas)
Dijelaskan oleh Alquran, “Lalu kemudian, Dia mengarah kepada langit, ketika langit itu berupa asap…”[QS.41,Fusshilat :11]
“Bukankah orang-orang yang kafir mengetahui bahwa sesungguhnya langit dan bumi dahulunya keduanya berpadu, lalu Kami pisahkan mereka. Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air…[QS.21, Al Anbiya':30]”
(2). “Air merupakan unsur utama dari benda hidup.
Dari 50 hingga 90 persen dari berat organisme hidup adalah air.”
“Kami membangun langit itu dengan tangan-tangan kami, dan Kami meluaskannya.”[QS.51, Adz-Dzariyaat:47]
(3). “Pengetahuan kami mengenai ekspansi alam semesta.”
“Dan Dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan,
masing-masing BERENANG pada GARIS EDAR-nya.” [QS.21, Al Anbiya':33]
“Dia telah menciptakan langit dan bumi dengan benar (proporsinya): Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam: dan menundukkan matahari dan bulan (kepada hukum-Nya), semuanya beredar (berjalan) mengikuti waktu yang telah ditentukan…..Ingatlah bahwa DIA yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” [QS.39, Az Zumar:5]
“…Dia menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi mereka yang berpikir !”[QS.13, Ar Ra'du:3]
Beberapa referensi iptek yang dengan jelas diungkapkan Alquran, antara lainnya ;
“Maka apabila langit terbelah, maka dia menjadi mawar merah seperti minyak (berkilauan).”[QS.55, Ar-Rahman:37]
Lihatlah dan renungkan dalam-dalam sinyal Alquran tentang ilmu pengetahuan yang baru terungkaap di abad ini.
Kita melihatnya hasil penelitian kebenaran ilmu pengatahuan itu, baru di tahun 1999/2000, oleh Teleskop Ruang Angkasa NASA ditangkap dari “Cat’s Eye Nebula.”, yang merupakan sebuah ledakan bintang 3,000 tahun cahaya jauhnya, yang sebenarnya ilmuan harus menamakan dengan ” MAWAR MERAH atau Red Rose Nebula”, seperti telah diungkap oleh Alquran pada Surat 55, Ar Rahman ayat 33, sejak 14 abad lamanya sebelum teleskop menangkapnya.
Allahu Akbar !!!
Adakah lagi nikmat Allah yang engkau akan mungkiri ???[QS.55,ar-Rahman :38]
ALQURAN BERCERITA MENGENAI GUNUNG-GUNUNG
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi terbentang dan gunung-gunung itu sebagai PASAK-PASAK?[QS.78,An Naba':6-7]”
Bahwa Gunung-gunung memiliki akar-akar yang menjuntai ke bawah, kata ilm u pengetahuan (sciense).
Ilmu-ilmu pengetahuan bumi modern telah membuktikan bahwa gunung-gunung memiliki akar-akar yang dalam di bawah permukaan tanah.“Dan Dia telah mengukuhkan gunung-gunung di bumi supaya tidak GONCANG bersama kamu, sungai-sungai dan jalan-jalan, supaya kamu dapat menunjuki dirimu sendiri”[QS.16, An-Nahl:15]
Ilmu pengetahuan modern menyebutkan bahwa “Gunung-gunung memainkan peranan penting dalam membuat kestabilan pada kerak bumi.”
Seperti halnya teori modern mengenai lapisan tektonik menyatakan bahwa gunung-gunung bekerja sebagai stabilisator-stabilisator bagi bumi.
Kaedah ilmu ini baru mulai dipahami dalam kerangka kerja iptek mengenai lapisan tektonik sejak akhir tahun 1960-an.Allahu Akbar.
Padahal Alquran telah menjelaskan sejelas-jelasnya sejak 14 abad sebelum ilmu pengetahuan membukti hasil researchnya.
Adakah lagi nikmat Allah SWT yang engkau tolak dan dustakan ???
ALQURAN BERKISAH TENTANG PERGERAKAN AWAN
“Belumkah kamu melihat bagaimana Allah menggerakkan awan-awan dengan perlahan-lahan, kemudian Dia menggabungkan mereka bersama-sama, kemudian membuat mereka ke dalam satu susunan, dan kemudian engkau melihat hujan turun darinya…[QS.24,An-Nur:43]”
Awan-awan ditiup angin.
Awan-awan dalam formasi masif (menggunung) mulai membentuk gumpalan-gumpalan manakala angin telah mendorong.
Gumpalan-gumpalan kecil awan putih itu berjalan menuju suatu area di mana awan-awan itu bertemu dan berkumpul.
Awan-awan itu bergabung.
Kemudian, awan-awan kecil berhimpun, bergabung bersama membentuk awan yang lebih besar.
Kemudian awan bertimbun menyatu lebih besar.
Di kala gumpalan-gumpalan awan-awan kecil telah bergabung bersama, bersama-sama membubung dengan gumpalan awan-awan yang lebih besar, makin ke atas……
Pembubungan ini disebabkan badan awan bertumbuh secara vertikal, sehingga awan tersusun bertingkat-tingkat ke atas…
Ketika titik-titik air dan salju, yang kian lama menjadi terlalu berat di dalam i pembubungan awan itu, sehingga tidak kuat untuk mendukungnya …..,
dari sana mulai turun dari awan itu titik-titik sebagai hujan, dan salju ….
“…Dan Dia menurunkan SALJU dari gunung-gunung di langit,
maka Dia menimpakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan
Dia menghindarkannya dari siapa yang dikehendaki-Nya.
Hampirlah sinar kilat itu menghilangkan penglihatan.” [QS.24, An-Nur:43]Ahli-ahli meteorologi telah menemukan bahwa awan-awan yang menggunung, menimbulkan hujan salju, ketika mencapai suatu ketinggian 25.000 hingga 30.000 ft (+/- 6 hingga 8 km) dari permukaan bumi.
Awan-awan menjadi beraliran listrik ketika salju jatuh melalui suatu wilayah dalam awan yang yang berisi serpihan-serpihan jatuh dan kristal-kristal es yang super dingin…
Salju, dengan tegangan yang negatif, jatuh melalui bagian bawah awan, sehingga bagian ini menjadi bermuatan negatif.
Muatan-muatan negatif ini dinetralkan ke tanah sebagai kilat.
Allahu Akbar.
Adakah lagi nikmat Allah yang akan kalian dustakan???
Tigapuluhtiga kali peringatan itu di ulang-ulangkan oleh Allah SWT di dalam Surah Ar Rahman,
“Fa Biayyi aalaai rabbikumaa tukadzdzibaan …!!!!”
MAKA NIKMAT TUHAN KAMU YANG MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN !!!!
Lihatlah juga beberapa referensi tentang Ilmu Pengetahuan yang juga ditemukan di dalam buku-buku penulisan para ahli, antara lain ;
1. The First Three Minutes,a Modern View of the Oringin of the Universe,
Weinberg, Page: 94-105
2. Microsoft Encarta Encyclopedia, 1996
3. Understanding the Earth a new synthesis, G.C. Brown, C.J. Hawkesworth
& C.C. Wilson 1992, Page:12
4. The Earth, Frank Press & Siever, Page: 435
5. The Geological Concept of Mountains in the Qur’an, Page:5
6. The Earth, Frank Press & Siever
7. The Geological Concept of Mountains in the Qur’an, Page:5
8. The Atmosphere, Anthes and others, Page: 435,
and Elements of Meteorology, Miller & Thompson, Page: 141-2
9. Elements of Meteorology, Miller & Thompson, Page: 141
10. Meteorology Today, Ahrens, Page: 437