UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER NINIK MAMAK TUNGKU TIGO SAJARANGAN DALAM IMPLEMENTASI FILOSOFI Adat Basandi Syarak (ABS), Sarak Basandi Kitabullah (SBK).

Membangkitkan Kesadaran Kolektif Akan Nilai Agama Islam di dalam Norma Dasar Adat di Minangkabau Membangun Generasi Unggul Tercerahkan

Adat dan Budaya Minangkabau  dibangun  di atas  Peta Realitas

Adat Minangkabau dibangun di  atas ”Peta Realitas”, yakni Adat yang bersendi kepada “Nan Bana”. Dikonstruksikan secara kebahasaan. Direkam terutama lewat bahasa lisan berupa pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun, yang secara keseluruhan dikenal sebagai Kato Pusako. Ditampilkan lewat berbagai upacara Adat serta kehidupan masyarakat se-hari-hari.

Kato Pusako menjadi rujukan di dalam penerapan perilaku di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Pokok pikiran ”alam takambang jadi guru” meletakkan landasan  filosofis Adat Minangkabau atas dasar pemahaman yang mendalam tentang bagaimana bekerjanya alam semesta serta dunia ini termasuk manusia dan masyarakatnya. Mereka telah menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari Nan Bana”.

group-ulama-national-businees-2

Dalam peta realitasnya, terungkap di dalam ”kato” yang menjadi mamangan masyarakatnya, di antaranya di dalam Fatwa adat menyebutkan, “Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kayo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”. 

Dengan perkataan lain, Adat yang bersendi kepada “Nan Bana” sekaligus juga Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan (PPJK) Masyarakat Minangkabau.

Karena itu Membina perilaku beradat dan beragama di Minangkabau menjadi kerja utama setiap individu di dalam nagari hingga dusun dan taratak, sebagaimana diungkapkan ;

Rarak kalikih dek mindalu,  tumbuah sarumpun jo sikasek,  Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek” dan

Nak urang Koto Hilalang,  nak lalu ka pakan baso,  malu jo sopan kalau lah hilang,  habihlah raso jo pareso”.

Merenda Adat Minangkabau

Para pemikir telah mengakui dan memahami keberadaan Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo, termasuk Alam Terkembang Jadi Guru.[1] Selanjutnya menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari Nan Bana” atau ayat kauniyah.

Konsep ”Adaik basandi ka mupakaik, mupakaik  basandi ka alua, alua basandi ka patuik, patuik basandi ka Nan Bana, Nan Bana Badiri Sandirinyo” menunjukkan bahwa sesungguhnya para filsuf dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah mengakui keberadaanNan Bana, Nan Badiri Sandirinyo”. Artinya, kekuasaan dan kebenaran hakiki ada pada kekuasaan Tertinggi. Di dalam ajaran Islam  dipahamkan dan bahwa Nan Bana (al Haqqu) itu berada di tangan Allah Ta’ala semata (wahdaniyah, Sendiri). Ini dapat dimaknai sebagai landasan masyarakat bertauhid.

Kehidupan Masyarakat Minangkabau adalah Beradat Beradab dan Beragama

Kegiatan hidup masyarakat Minangkabau dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (”system”) pada berbagai tataran (struktur). Tatanan Nilai dan norma dasar sosial budaya orang Minang menjadi Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) dari orang Minang.

Tatanan  ini menjadi WARISAN BUDAYA  yang dibangun  berdasar  Petatah Petitih  (klasifikasi), peradaban  (historis),  Peta realitas alam  (inti pemahaman dalam idea) dan Keyakinan  Agama  Islam  (anutan kepercayaan), Warisan Budaya ini jelas sekali tampak pada Aspek Perilaku, pada bentuk-bentuk khusus tabiat, Lagu, rituals, kelembagaan, Struktur masyarakat dan pengorganisasian kegiatan di Minangkabau itu. Disamping itu warisan budaya tersebut terang pula terlihat pada Aspek-Aspek Fisik seperti pada benda bersejarah, peralatan,  senjata, bangunan bersejarah dan hasil  Kerajinan  (Works of art).

Gambar

PDPH Masyarakat Minangkabau terungkap dalam SENI BUDAYA diantaranya pada karya seni masyarakatnya seperti seni musik (saluang, rabab), seni pertunjukan (randai), seni tari (tari piriang), dan seni bela diri (silek dan pamenan). Juga di benda-benda budaya (karih, pakaian pangulu, mawara dll), bangunan (rumah bagonjong), serta artefak lain-lain mewakili ungkapan fisik dari konsep pandangan perilaku Adat Minangkabau. sehingga masing-masing menjadi lambang dengan berbagai makna. Pandangan Hidup ini memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakatnya dalam sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan masyarakat yang menjadi landasan pembentukan pranata sosial budaya, yang melahirkan berbagai  lembaga formal maupun informal (seperti Tungku Tigo Sajarangan, urang nan 4 jinih).

Kesadaran Kolektif Kesepakatan Bersama

Pandangan Hidup beradat menjadi pedoman dan petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri dan bersama-sama.

Konsep dasar Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat) ini menjadi kesadaran kolektif berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) manusia dan  masyarakat Minangkabau.

Konsep PDPH yang merupakan inti Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat) memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan, adat istiadat yang lebih dikenal sebagai Adat nan Diadatkan dan Adat nan Taradat. Adat Nan Sabana Adat adalah Kaedah Alam, sifatnya tidak berubah sepanjang waktu disebut “ indak lakang dek paneh indak lapuak dek hujan “ , inilah yang disebut “ Sunnatullah “ yaitu  Ketentuan Allah Pencipta Alam Semesta, dalam filsafat ilmu disebut fenomena alam.

  1. Alam telah diciptakan sempurna  dengan hukum-hukum yang jelas  sunnatullah (nature wet) hukum alam   لا تبديل لخلق الله
  2. Dipakai sebagai timbangan yang asli (cupak usali) karena begitulah sifat alam (manusia, hewan, tumbuhan, air, tanah, api, angin) diciptakan Allah SWT.
  3. Cupak usali adalah yurisprudensi yaitu pedoman untuk memepat (menara) cupak buatan (hukum yang dibuat manusia), dikenal dengan  alam takambang jadi guru,  dalam bahasa filsafat ilmu disebut “analogi“, dilafalkan dalam pahatan kato (yaitu kalimat pendek luas maknanya), itulah “ kato dahulu  “ ,  nilainya berada pada domain Hakekat.

PERPADUAN ADAT DAN SYARAK.

 Firman Allah menyatakan, “ Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13).

Nabi Muhammad SAW memesankan bahwa “Perbedaan di tengah-tengah umatku adalah rahmat” (Al Hadist). Dan “innaz-zaman qad istadara”, bahwa sesungguhnya zaman berubah masa berganti (Al Hadist).

Fatwa adat di Minangkabau mengungkapkan  “Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”.  

 

ASPEK SIMBOLIS  ABS-SBK sebenarnya adalah Syarak Mangato Adaik Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru.[2]

Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

 اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. (Al-Baqarah, 257).

  • Nilai  Islam mudah mengakar ke dalam kehidupan masyarakat  Minangkabau, sehingga terkenal  kuat agamanya dan kokoh adatnya, pada berbagai lingkungan tatanan (”system”) dan pada berbagai tingkat tataran (structural ).
  • Paling mendasar adalah tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH).
  • Orang yang tidak beradat dan tidak beragama Islam, kedudukannya disebut tidak berbudi pekerti atau indak tahu di nan ampek =  Sama artinya dengan bodoh.

Pranata Sosial Budaya atau batasan-batasan perilaku manusia yang lahir atas dasar kesepakatan bersama menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama. Setelah masuk Islam ke Minangkabau maka batasan perilaku itu bersandikan Syarak dan Kitabullah.

Dok.Buya 095

Sebagai masyarakat beradat dengan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pelajaran strategi dalam penerapannya. Diantaranya “Mengutamakan prinsip hidup keseimbangan.” Islam menghendaki keseimbangan antara rohani dan jasmani. “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist). Keseimbangan tampak di ranah ini, “Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

Nilai nilai Islam mengajarkan “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”  (Hadist). Nilai Islam menanamkan kesadaran bahwa “bumi Allah amatlah luasnya” sehingga mudah untuk digunakan sesuai firman Allah, “Maka berpencarlah kamu diatas bumi, carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”.  (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

Gambar

Kesadaran ini tertancap dalam pada Pranata Sosial Budaya Minangkabau yakni batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama.

Setelah masuk Islam maka pranata social Minangkabau itu bersandikan kepada Syariat Islam dan Kitabullah. Supaya jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit (QS.4, An Nisak : 97) maka wujudlah kearifanKaratau madang dihulu babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu dirumah paguno balun”. Kemudian meng-introdusir tenaga mereka kembali kemasyarakatnya merasakan denyut nadi kehidupan dan berurat pada hati umat itu.  Ditanamkan pentingnya kehati-hatianIngek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”.

Memiliki jati diri, self help dengan tulang delapan kerat walau dengan memakai cara amat sederhana sekalipun “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain. Membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalah salah.Kefakiran (kemiskinan)  membawa orang kepada kekufuran.

Pemesraan Nilai-Nilai Islam kedalam Filosofi Budaya Minangkabau

Sesudah masuknya Islam terjadi semacam lompatan kuantum (”quantum leap”) di dalam budaya Minangkabau. Bertumbuh-kembangnya manusia-manusia unggul dan tercerahkan. Munculnya tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah kehidupan masyarakat adat Minangkabau di kawasan ini. Semata karena nilai yang dibawa oleh ajaran Islam yang mudah mengakar ke dalam kehidupan masyarakat di Minangkabau.

Orang Minangkabau terkenal kuat agamanya dan kokoh adatnya. Seorang anak Minangkabau di mana saja berdiam tidak akan senang di sebut tidak beragama, dan tidak beradat.

Orang yang tidak beradat dan tidak beragama Islam, di samakan kedudukannya dengan orang tidak berbudi pekerti atau indak tahu di nan ampek.[3]

Adat Minangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso (akal, rasio, logika), hasil nyata dari alam takambang jadi guru, makin kokoh dengan keyakinan yang diisi oleh agama Islam yang benar (haq dari Rabb).

Gambar

Bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat nagari, pasti akan menemui di nagari satu iklim (mental climate) yang subur bila pandai menggunakan dengan tepat.

Ada kekuatan agama, tamadun, budaya, adat istiadat, dan budi bahasa yang baik.  Lah masak padi rang Singkarak,  masaknyo ba tangkai-tangkai, sa tangkai jarang nan mudo. Kabek sa balik buhue sintak, payahlah urang nak ma ungkai, tibo nan punyo rarak sajo. Diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku dalam adaik salingka nagari. Alah bakarih samparono, bingkisan rajo Majopaik, Tuah ba sabab ba karano, pandai ba tenggang di nan rumik. Satu realita objektif  adalah ;  Siapa yang paling banyak menyelesaikan persoalan masyarakat ,  pasti akan berpeluang banyak mengatur masyarakat.

Penguatan peran Ninik Mamak dalam Tungku Tigo Sajarangan

Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para ninik mamak Tungku Tigo Sajarangan yang menjadi pendidik masyarakat dikelilingnya (anak kemenakannya). Perlu dikuatkan pemurnian wawasan fikir, kekuatan zikir, penajaman visi, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang dan pendalaman spiritual religi.

Maka Peran Tungku Tigo Sajarangan sesungguhnya adalah ;

  1. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan yang  merusak Sarak (agama Islam).
  2. Menimbulkan keinsafan mendalam di kalangan rakyat anak nagari tentang perlunya penghakiman yang adil sesuai tuntutan sarak dalam syariat Agama Islam.
  3. Meningkatkan program melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya dalam tatanan kekerabatan.
  4. Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan santun sesuai adat basandi sarak, sarak basandi Kitabullah.

Dengan begitu amat diharapkan lahir generasi Minangkabau yang berkualitas mengutamakan manhaj-ukhuwah  ; bulek aie dek pambuluah bulek kato ka mupakaik.” Mengamalkan budaya amal  jama’i  ; kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua,  tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan. Manyuruah babuek baik, Malarang babuek jahek, Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo, Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado kusuik nan tak salasai. Sehingga lahirlah generasi muda yang dapat meniru kehidupan lebah; kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya,  berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, baik hasil usahanya, dapat dinikmati oleh lingkungannya.

Ringkasnya Membangun kembali masyarakat beradat sopan santun, dengan cara ;

  1. Menghidupkan kembali peraturan bagi tiap suku untuk melengkapi kembali perangkat sukunya, dan memerankan kekerabatan kaum.
  2. Memperkuat peran generasi muda dengan kualifikasi keilmuan, kejujuran, kesetiaan kepada negara, serta memiliki keahlian mengelola nagari dalam pemerintahan nagari.
  3. Mengusahakan tumbuhnya kesadaran membantu mengembangkan pembangunan kampung halaman melalui sumbangan pemikiran dan bantuan lainnya,  guna penguatan  perangkat pemerintahan Nagari.

Sama Bekerja dan Bekerja Sama Saciok bak ayam Sadancieng bak basi

Kehidupan  KEBERSAMAAN (ijtima’iy) masyarakat MADANI mempunyai hak dan kewajiban masing-masing, memiliki hati yang tenteram. Tujuan perhimpunan atau perkumpulan seperti adanya lembaga “Tungku Tigo Sajarangan” di nagari nagari adalah membentuk ikatan yang tenteram, bahagia dan berkekalan (sustainability) dalam aturan-aturan dan ketentuan agama (etika religi)  menurut syariat Islam.

Semua orang berkeinginan untuk hidup bahagia, kekal dan langgeng. Perintah Agama Islam menyebutkan, Hendaklah engkau berjamaah.  Dengan  berhimpun bermasyarakat (ijtima’iy) dapat dicapai kesatuan, kekompakan  dan kebahagiaan  dengan cara :

  1. Saling Mengerti antara Sesama, untuk menjalin komunikasi masing-masing.  Tidak akan memaksakan egonya, karena perbedaan suku atau adalah karunia Allah, Kebiasaan masing-masing, Selera, kesukaan atau hobi, Pendidikan,  Karakter/sikap pribadi secara proporsional baik dari masing-masing, maupun dari orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, teman ataupun saudaranya, dan yang relevan dengan ketentuan yang dibenarkan syari`at.
  2. Saling Menerima.  Satu team work akan terbina dengan saling menerima satu sama lain. Satu kesatuan kelompok adalah ibarat satu tubuh dengan beragam kehendak. Dengan keredhaan dan saling pengertian, beragam warna merah dicampur akan menampilkan keindahannya.
  3. Saling Menghargai, dalam Perkataan dan perasaan, Bakat dan keinginan masing-masing. Sikap saling menghargai adalah sebuah jembatan menuju kuatnya satu team work.
  4. Saling Memercayai, akan melahirkan kemerdekaan berfikir, inovasi dan kreasi mencapai kemajuan. Keselarasan akan lebih meningkat, serta hal ini merupakan amanah Allâh.
  5. Saling Menyintai,  akan memunculkan beberapa hal seperti, lemah lembut dalam bicara, selalu menunjukkan perhatian, bijaksana dalam pergaulan, tidak mudah tersinggung, dan perasaan (batin) masing-masing akan selalu tenteram

Pandangan Hidup masyarakat Minangkabau sejak dahulu, telah melahirkan angkatan-angkatan “generasi emas”, dengan mengamalkan tatanan dan nilai adat dan keyakinan yang berjalin berkelindan dengan sebuah adagium “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK), telah menjadi pegangan yang menata seluruh kehidupan masyarakat Minangkabau dalam kenyataan yang sesungguhnya.

Dalam periode keemasan itu, Minangkabau dikenal sebagai lumbung penghasil tokoh dan pemimpin, baik dari kalangan  alim ulama ”suluah bendang anak nagari” maupun ”cadiak pandai” (cendekiawan pemikir dan pemimpin sosial politik), yang berkiprah di tataran nusantara serta dunia internasional. [4]

Memperkuat ikatan Kekerabatan Suku dan Kaum

Kekerabatan yang erat telah menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

Generasi Minangkabau dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mampu bertahan. Wataknya didukung pemahaman nilai-nilai Raso Pareso. Kemudian dikuatkan dengan keyakinan Islam.  Melalui pengamatan ini tidak dapat disangkal bahwa Islam telah berpengaruh kuat di dalam Budaya Minangkabau.

Pranata sosial Masyarakat Beragama yang Madani di Sumatera Barat yang didiami masyarakat adat Minangkabau semestinya berpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Agama Islam yang bersumber kepada Kitabullah (Al Quranul Karim) dan Sunnah Rasulullah  itu, maka pelaksanaan atau pengamalannya tampak atau direkam dalam Praktek Ibadah, Pola Pandang dan Karakter Masyarakatnya, Sikap Umum dalam Ragam Hubungan Sosial penganutnya. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

Masyarakat Ber-Adat Beradab Hanya Mungkin Jika Dilandasi Kitabullah

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan, hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur yang tumbuh mekar dengan  kesadaran kearifan  dalam kecerdasan budaya serta memperhalus kecerdasan emosional  serta dipertajam oleh kemampuan periksa  evaluasi positif dan negatif  atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni hidayah Islam.

Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas).

Secara jujur, kita harus mengakui bahwa adat tidak mungkin lenyap, manakala  memahami fatwa adat, Kayu pulai di Koto alam, Batangnyo sandi ba sandi, Jikok pandai kito di alam, patah tumbuah hilang baganti”.

 Secara alamiah (natuurwet) adat itu akan selalu ada dalam prinsip. Jika patah akan tumbuh (maknanya hidup dan dinamis). Menjadi dominan ketika dikuatsendikan oleh keyakinan agama akidah tauhid, dengan bimbingan kitabullah (Alquran) bahwa yang hilang akan berganti. Apa yang ada di tangan kita akan habis, apa yang ada di sisi Allah akan kekal abadi.

Dilaksanakannya adagium Adat Basandi Syarak Syarak, dan Syarak Bansandi Kitabullah (ABS-SBK) maka tali hubungan antara Adat sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan dibuhul-eratkan dengan ajaran Islam yang menekankan kepada akhlak mulia (karimah).

Rentang sejarah membuktikan bahwa penerapan ABS-SBK telah memberikan lingkungan sosial budaya yang subur bagi seluruh anggota masyarakat dalam mengembangkan segenap potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan.

Walau berada dalam lingkungan yang sulit  penuh tantangan, sejak zaman kolonialisme hingga ke masa-masa perjuangan, budaya Minangkabau dengan ABS-SBK terbukti mampu menciptakan lingkungan yang menghasilkan jumlah yang signifikan tokoh-tokoh yang menjadi pembawa obor peradaban di kawasan ini.

Keunggulannya ada pada falsafah adat yang mencakup isi yang luas. Akhlak karimah berperan dalam kehidupan yang mengutamakan kesopanan dan memakaikan rasa malu, sebab malu jo sopan kalau lah hilang,  habihlah raso jo pareso, dalam terapan ABS-SBK secara “murni dan konsekwen”. (Lihat QS.16, an-Nahl : 96.).

Simpulan Simpulan Budi dan Basabasi

Masyarakat Unggul dan Tercerahkan dicetak dengan Menanamkan Nilai-Nilai Ajaran Islam dan Adat Budaya.

Khusus bagi Masyarakat Adat Minangkabau digali dari Al-Qur’an, membentuk peribadi yang zikir, – yakni hidup dengan penuh kesadaran akan keberadaan Allah Ta’ala dengan segenap aspek hubungan-Nya dengan manusia dan segenap makhluk Ciptaan-Nya , dan berdaya fikir, –

Berarti membuat Peta Kenyataan sesuai Petunjuk Ajaran Allah Ta’ala yang diuraijelaskan Alquran dan ditafsirterapkan oleh Rasul lewat Sunnah sebagai Teladan Utama (Uswatun Hasanah) .

Maka secara batinnya antara adat dan agama saling melengkapi dari yang genap sampai yang ganjil.[5]

Adat Minangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso (akal, rasio, logika), hasil nyata dari alam takambang jadi guru, makin kokoh dengan keyakinan yang diisi oleh agama Islam yang benar (haq dari Rabb).   Sebagai ujud pengamalan Firman Allah:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama (syariat, syarak) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya – kekampung halamannya –, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS.IX, at Taubah, ayat 122).  

Tidak ada yang lebih indah daripada budi dan basabasi. Yang dicari bukan emas dan bukan pula pangkat, akan tetapi budi pekerti yang paling dihargai. Hutang emas dapat di bayar, hutang budi dibawa mati. Agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan basi (budi pekerti yang mulia). Jika ingin pandai rajin belajar, jika ingin tinggi  (mulia), naikkan budi pekerti.

Khulasahnya, penerapan ABS-SBK mengharuskan kehidupan perorangan serta pergaulan masyarakat Minangkabau berakar dari dan berpedoman kepada Al-Quran serta Sunnah Rasullullah. Dengan demikian, ABS-SBK dapat membentuk lingkungan sosial-budaya yang akan melahirkan masyarakat Minangkabau yang unggul tercerahkan dengan kekuatan akidah dan akhlak menurut Kitabullah.

Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”.

Gambar

Dengan melaksanakan ABSSBK lahir sikap cinta ke nagari. Tumbuh sikap positif menjaga batas-batas patut dan pantas. Terbentuk umat yang kuat, sehat fisik, sehat jiwa, sehat pemikiran, dan sehat social, ekonomi, konstruktif (makruf).

Pariangan jadi tampuak tangkai, Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo Luhak rang mangatokan. Adat jo syara’ jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban”

 “Tasindorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki, Adat jo syarak jiko tasusun, Bumi sanang padi manjadi.

Padang, 25 NOVEMBER  2013


CATATAN KAKI ;

[1]  Para filsuf dan pemikir Adat Minangkabau (Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, menurut versi Tambo Alam Minangkabau). Mengungkapkannya ke dalam pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun, yang berisi gagasan-gagasan bijak, sebagai Kato Pusako.

[2]  Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan hasil kesepakatan — Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam – dari  dua arus besar (”main-streams”) Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) Masyarakat Minangkabau yang sempat melewati konflik yang melelahkan. Sejarah membuktikan, kesepakatan yang bijak itu telah memberikan peluang tumbuhnya beberapa angkatan ”generasi emas” selama lebih satu abad berikutnya. Karena itu, Peristiwa sejarah Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam dapat disikapi dan diibaratkan bagaikan “siriah nan kambali ka gagangnyo, pinang  nan kambali ka tampuaknyo, yaitu dari Adat yang pada akhirnya bersendikan kepada Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo, disepakati menjadi  “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK).

[3] Sama artinya dengan bodoh.

[4] Sebagai hasil penelitian sejarah, Dobin menyebutkan bahwa, sejak abad 17 di Minangkabau, surau telah mengajarkan kepada masyarakat… “agar  menerima lima pokok Islam dan hidup sebagai orang Islam yang baik” … dan dinyatakan pula bahwa salah satu fungsi surau adalah mengajarkan silat Melayu … dan seorang guru biasanya mempunyai sejumlah pemuda yang bisa dipersiapkan untuk menghadapi bentrokan … Dan, dengan tindakan (kesiapan) itu, para perampok menjadi takut merampok dan menjual orang-orang tahanan mereka … di antaranya di Ampek Angkek sejak pertengahan 1790 di bawah kepemimpinan surau (Tuanku Nan Tuo) menjadikan negerinya mengalami kemajuan besar dalam pengaturan urusan dagang, yang kemudian dilanjutkan murid beliau yang tersebar, di antaranya Jalaluddin mendirikan surau di Koto Lawas (Koto Laweh) di lereng Gunung Merapi sebagai nagari penghasil akasia dan kopi, untuk “membangun masyarakat muslim” yang sungguh-sungguh …Demikian di tulis oleh Christine Dobin, dalam bukunya “Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi, Minangkabau 1784-1847”, edisi Indonesia, Komunitas Bambu, Maret 2008, ISBN 979-3731-26-5, di halaman 198 – 225.

[5]  Sangat menarik pemakaian angka-angka di Minangkabau, lebih nyata bilangan genap, realistis seperti ”kato nan ampek (4), undang-undang nan duopuluah (20), urang nan ampek jinih, nagari nan ba ampek suku, cupak nan duo (2), cupak usali jo cupak buatan, rumah basandi ganok, tiang panjang jo tonggak tapi, basagi lapan (8) atau sapuluah (10) artinya angka genap. Datang agama Islam, di ajarkan pula pitalo langik nan  tujuah (7), sumbayang nan limo wakatu, rukun Islam nan limo (5), Maka secara batinnya antara adat dan agama saling melengkapi dari yang genap sampai yang ganjil.

Sejarah Masjid dalam Mengelola Jamaahnya dalam rangkaian Pembinaan Umat

Sejarah Masjid dalam Mengelola Jamaahnya

dalam rangkaian Pembinaan Umat

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Rasulullah bersabda: “Tidak ditekankan untuk bepergian kecuali pada tiga masjid, yaitu Masjid Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi Madinah) dan Masjid Aqsha”. (HR.Bukhari & Muslim). Ini berarti bahwa kemakmuran dan sistem pengelolaan masjid harus dijadikan kerjaan utama umat Islam mengurus masjid masjid sesuai yang diamanahkan kepadanya. Sehingga benar-benar mampu melahirkan citra Islam sebagai agama “rahmatan lil ‘alamiin”. Masjid yang makmur mempunyai jamaah yang setia setiap waktu. Dari sini tampak nyata simbul kejayaan Islam di suatu kawasan. Bila ingin melihat makmurnya satu negeri, tengoklah bagaimana indah dan imarahnya masjid di negeri itu.

Karena shalat adalah tiang agama maka pelaksanaannya lebih diutamakan secara berjamaah di masjid. Bahkan beberapa ulama berpendapat bahwa berjamaah itu wajib adanya. Perjalanan hidup muslim semestinya diwarnai pesan-pesan yang disuarakan dari masjid. Gambaran kehidupan muslim itu bertolak dari masjid. Menuju ke masjid dan kembali ke masjid, seperti dinukilkan Al Quranul Karim yang dialami nabi Muhammad SAW pada peristiwa israk dan mikraj beliau. Namun, mewujudkan imarah sebuah masjid sangat terkait dengan aspek manajemen. Sangat diperlukan tenaga terampil pengelolanya, sumber dana, metoda yang dan kelengkapan peralatan serta ilmu dikalangan pengurus dan keterampilan yang dikemas dalam keikhlasan. Untuk mencapai citacita makmurnya masjid tersebut amat diperlukan pengelolaan masjid yang mesti bertumpu kepada adanya ikatan erat antara jamaah dan pengelola atau pengurusnya.

Tidaklah dapat ditolak bahwa pengelolaan yang baik dan teratur akan menjadikan masjid berdiri dengan megah secara fisik serta berisikan imarah yang makmur dengan berbagai program yang disenangi oleh jamaah sekitarnya. Dengan demikian masjid tersebut akan menjadi tumpuan dan pusat pembinaan karakter umat. Masjid semacam itulah yang akan dicintai jamaahnya serta dimakmurkan imarahnya dengan tersedianya pula program kegiatan yang bertujuan menyintai jamaahnya.

Masjid atau surau tidak semata berfungsi menjadi tempat dilaksanakannya ibadah mahdhah belaka seperti shalat harian, tadarus, pengajian ataupun majlis ta’lim. Masjid sesungguhnya menjadi cikal bakal tempat tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan. Surau senyatanya adalah pusat perguruan. Masjid dan surau itu mesti mengambil peran membina karakter generasi sekitarnya. Masjid seperti itu menjadi masjid idaman. Dari sana kemudian akan berkembang pusat kegiatan anak nagari. Didalam pengembangan berikutnya masjid mampu melahirkan madrasah. Orang Minang menyebut tempat pendidikan agama ini dengan istilah surau = madrasah” sejak dulu. Pada masa itu, di Minangkabau tidak dilazimkan memakai kata “pondok pesantren” seperti  sekarang.

Pendidikan di surau diawali dari tingkat terendah alif ba ta atau tingkat awaliyah. Kemudian sesuai keperluan meningkat lebih tinggi, tsanawiyah, ‘aliyah dan bahkan kuliah dengan tambahan kepandaian dan keterampilan putra-putri yang memang sudah terkenal sejak lama. Tidak diabaikan pula pembinaan fisik berupa latihan silat yang berguna menjadi bekal falsafah kehidupan saling berlomba menegakkan kebenaran bersama-sama dengan sikap ta’awun atau gotongroyong. Maka hadirlah masjid menjadi pusat atau core membangun kehidupan menyuburkan kebajikan untuk masyarakat umum. Begitulah sejarah dan fungsi Masjid secara hakiki.

Dari masjid yang hidup akan terpancar jiwa yang mampu menghidupkan umat disekelilingnya. Inilah program umatisasi. Karena itu, Masjid adalah sumber kekuatan umat Islam masa lalu, sekarang dan di masa depan. Alangkah besarnya modal umat berupa masjid besar kecil dan surau milik umat Islam bertabur dinegeri ini. Tinggal mengisi dan menghidupkannya.

Dok.Buya 001Insyaallah.

***

MASJID MENGHADAPI TUNTUTAN ZAMAN

Menggerakkan potensi masyarakat secara maksimal dan terpadu dengan menghidupkan masjid atau surau adalah bagian dari upaya mencerdaskan umat dan menanamkan budi pekerti (akhlaq) Islami.  Adalah suatu kemestian mendorong gerak pembangunan fisik dan non-fisik dari masjid melalui kemandirian yang menjadi tumpuan harapan bagi pembinaan anak nagari. Seiring perkembangan zaman, masyarakat memerlukan pengurusan masjid yang berkualitas. Beberapa kalangan, terutama kalangan menengah berduit dan terpelajar yang mendasarkan pengalaman di rantau, memerlukan membangun masjid (surau) bukan asal-asalan dengan kualitas seadanya. Ada dorongan keras untuk menjadikan masjid (surau) sebagai wadah menghasilkan SDI (Sumber Daya Insani) yang sanggup mandiri dan berguna oleh pasar tenaga kerja.

Di Minangkabau atau Sumatera Barat, masjid menjadi lembaga yang lebih bersifat akomodatif. Mampu melahirkan orang-orang surau yang terampil, cakap dan tabah. Pengalaman ini, mendorong prakarsa masyarakat Muslim mengembangkan masjid atau surau dengan inisiatif masyarakat di tengah komunitas lingkungannya sendiri. Namun, karena perubahan global terjadi juga stagnasi yang signifikan.

Maka jalan keluarnya tentulah dengan pembenahan organisasi dan manajemen masjid merujuk kepada sejarah mula berdiri serta peran sesungguhnya dari masjid itu.

Dok.Buya 094Membangun masjid bukan sekedar memperindah bentuk untuk dilagakkan dengan marmer berukir-ukir, padahal di dalamnya kosong dengan kegiatan. Ibaratnya kehidupan tak berjiwa. Alangkah meruginya Umat Islam, bila mereka tidak kunjung mengenal dan menggunakan modal tak ternilai jumlahnya ini. Padahal, modal itu dapat dijadikan sumber kekuatan membangun umat. Sebagai dimaklumi bahwa  Syariat Islam tidak dapat disangkal wajib berlaku atas pemeluknya di negeri ini. Maka program besarnya adalah Kembali ke Masjid. Sebab, masjid dan langgar atau surau yang hidup dan dinamis, berperan sebagai pusat bimbingan untuk menaikkan jiwa umat mencapai taraf kemakmuran hidup lebih baik. Para ahli yang menyintai umat dapat menghidupkan masjid dengan menjadikan tempat pembinaan penghidupan dan kehidupan melalui pelatihan pelatihan dan keteramapilan kreatif. Persoalan penghidupan masyarakat kebanyakan, terutama dikampung dan juga dikota sebenarnya adalah masalah sederhana dan elementer. Soal mencari dan memenuhi kehidupan, seperti soal berdagang dan manggaleh, soal mempertinggi hasil pendapatan, soal kehidupan di pasar dan anak yang belum sekolah. Hal yang elementer ini tidak kunjung dapat dipecahkan dengan teori ekonomi yang hebat. Masjid yang hidup sebagai pusat pembinaan akan menghidupkan jiwa jamaahnya dengan memiliki Izzah atau kemuliaan keperibadian yang amat berguna untuk siap berkecimpung dalam masyarakat ramai dari berbagai ragam coraknya.

Penguatan umat ditengah perubahan cepat arus globalisasi menompangkan pula gelombang penetrasi budaya luar (asing). Hal itu dinyana telah mengubah perilaku masyarakat dan praktek pengelolaan asset umat. Bahkan, perkembangan norma adat istiadat yang lazim telah pula terabaikan.

Perubahan perilaku mengedepan adalah perebutan prestise berbalut kebendaan yang sangat individualis atau nafsi nafsi. Pencapaian hasil kebersamaan (kolektif) menjadi kurang diminati daripada kebanggaan pencapaian hasil perorangan (individual). Maka, sebagai masyarakat beradat dan beradab dengan pegangan agama Islam maka kaidah dan fungsi peran masjid mestinya memberikan pelajaran sesuai syariat Islam antara lain mengutamakan prinsip hidup berkeseimbangan. Syariat Islam menghendaki keseimbangan antara hidup rohani dan jasmani, antara dunia dan akhirat. Masjid berperan utama. Agama Islam mendorong kepada usaha mandiri sebab membiarkan hidup dalam kemiskinan tanpa upaya adalah salah. Kemiskinan  membawa kepada kekufuran (ke-engkaran)” (Hadist). Maka, upayakanlah memiliki usaha beragam secara halal.

***

MEMUNGSIKAN SURAU MENGHIDUPKAN UMAT

Agama Islam juga mendorong agar Tawakkal dengan  bekerja dan tidak boros. Tawakkal, bukan “hanya menyerahkan nasib” dengan tidak berbuat apa-apa, Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal (Atsar dari Shahabat). Umat pun mesti diajarkan memiliki kesadaran kepada ruang dan waktu. Peredaran bumi, bulan dan matahari, menanamkan kearifan adanya perubahan. Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri. Agar jangan melewati batas, dan berlebihan. Artinya bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada. Didalam kearifan local di Minangkabau fungsi masjid disebutkan, “Musajik tampek ba ibadah,tampek balapa ba ma’ana, tampek balaja al Quran 30 juz, tampek mangaji sah jo batal”. Dalam kehidupan di surau itu yang dicari sebenarnya adalah bekal ilmu. Menyauk hikmah dan kepandaian-kepandaian untuk mengharungi hidup di dunia yang sekejap dan fana ini.

Semuanya itu untuk dalam mempersiapkan hidup di akhirat. Artinya dari surau atau masjid didapatkan pembinaan untuk menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas) dan terjaminya pemeliharaan ibadah dengan Khalik (hablum minallah).

Dok.Buya 031Masjid (surau) menjadi lambang utama terlaksananya hokum. Keberadaannya tidak dapat dipisah dari denyut nadi kehidupan masyarakat. Manakala sarana Masjid telah berperan sempurna, kehidupan masyarakat kelilingnya akan terpuji dan mulia dengan akhlaqul-karimah. Maka, tata ruang yang jelas memberikan posisi peran pengatur. Sebenarnya, masjid atau surau di Sumatera Barat mempunyai sistim pengelolaan (manajemen) sendiri secara transparan. Masjid juga memiliki asset sendiri, wilayah kerja sendiri. Perangkat masjid yang lengkap ditunjang oleh sumber penghasilan sendiri dari jamaahnya yang terikat kuat dengan aturan dan norma sendiri.

Memenej masjid mestinya di titik beratkan kepada mengembalikan manhaj Islami dalam makna jamaah dengan kebersamaan (kegotong royongan). Kembali Ba-Surau ditengah perubahan global mestinya dimaknai membangun kekuatan menghidupkan kemandirian sesuai kearifan local dan kecerdasan local yang menjadi kekayaan di daerah ini. Melalui pengelolaan masjid terbuka peluang besar melakukan penguatan umat di Sumatera Barat  dengan lebih mengedepankan wilayah kesepakatan antar berbagai komponen masyarakat dengan spirit kebersamaan, keterpaduan dan saling memberikan dukungan terhadap tatanan kehidupan. Perlu dijaga agar pengelolaan masjid terhindar dari pada melewati batas-batas yang patut dan pantas. Mengelola masjid dengan teratur adalah salah satu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta. Disamping, membuktikan adanya keseimbangan antara kemajuan di bidang rohani dan jasmani.

Dok.Buya 092Hasilnya tergantung kepada sikap hidup bertuhan dan bertauhid yang terhunjam dalam jiwa masyarakat melahirkan tingkat kecerdasan yang dapat dicapai.

Mengelola Masjid berarti tetap menjadikannya berfungsi sebagai pusat pembinaan umat. Masjid mesti menjadi salah satu jenjang melaksanakan prinsip musyawarah sebagai pondasi utama adat istiadat Islami mencari redha Allah. Menjaga perinsip musyawarah atas dasar keimanan kepada Allah SWT dan  kecintaan lingkungan tidak boleh terlupakan. Manajeman Masjid bermula dari kesediaan untuk rujuk kepada hukum dan norma yang berlaku. Langkah Penting Mengelola Masjid adalah menguasai informasi substansial. Menerapkan low-enforcment dan transparansi mencakup keuangan sehingga kepercayaan umat tetap terjaga. Memperkuat kesatuan dan persatuan di nagari-nagari. Muaranya adalah ketahanan masyarakat dan ketahanan diri yang dibangun dari keyakinan iman kepada Allah serta kuatnya ibadah.

Masalah ekonomi dan kemajuan pendidikan tidak boleh dilupakan. Generasi kedepan selalu dapat dibangun melalui pendidikan dan keteguhan perinsip keyakinan iman kepada Allah Yang Maha Kuasa. Dari sisi ini akan ditumbuhkan kekuatan rohani pemimpin bangsa masa datang. Insyaallah.

***

imarah masjid

            Memakmurkan masjid masa ini adalah menetapkan visi untuk menentukan program pembinaan  yang akan dilakukan. Pengelolaan Masjid berkehendak kepada gerak yang kontinyu, utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin di raih dengan kerja sambilan. Dalam langkah dakwah menuju redha Allah, setiap muslim berkewajiban menapak tugas tabligh (menyampaikan). Selanjutnya dakwah atau mengajak dan mewujudkan ajakan itu dalam kehidupan agama yang mendunia. Adalah satu keniscayaan belaka bahwa peran masjid atau surau akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang senantiasa berubah. Namun, pengelolaannya tetap di bawah konsep mencari ridha Allah.

Masjid adalah sarana menegakkan ibadah dan menyusun umat. Islam tegak dengan jalinan jamaah. Suburnya ibadah dan mu’amalah dengan Khaliq serta mu’amalah dengan makhluk. Ini kaji yang sudah terang perintah wajibnya. Masjid adalah warisan Risalah Islam berfungsi sebagai pangkalan Umat dengan membina jamaahnya, menambah wawasan agamanya, meninggikan kecerdasan, menanamkan akhlaq, mendinamiskan jiwanya dan memberikan pegangan bagi para anggota masyarakat guna menghadapi persoalan hidup. Langkah langkah terencana amat berguna bagi mendukung percepatan pembangunan komunitas masyarakat Muslim di lingkungannya sendiri. Mestinya langkah itu berawal dari mengakui keberadaan mereka, menjunjung tinggi puncak-puncak kebudayaan mereka, menyadarkan mereka akan potensi besar yang dimiliki, mendorong kepada satu bentuk kehidupan yang bertanggung jawab dengan nawaitu lillahi Ta’ala. Inilah tuntutan Dakwah Ila-Allah.

Dok.Buya 027Tugas dakwah yang terlaksana di masjid haruslah mencakup menyeru kejalan Allah dengan petunjuk yang lurus. Menyeru manusia untuk menyembah Allah agar manusia tidak menjadi musyrik. Menyeru manusia agar beribadah mempersiapkan diri untuk kembali kepadaNya. Tugas ini menjadi program utama pengelolaan masjid dengan manhaj-nya adalah Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW. Pengorganisasian masjid perlu ada Da’i – Imam, Khatib, Tuanku, alim ulama  –. yang meneladani peribadi Muhammad SAW dalam membentuk effectif leader menuju kepada inti agama Islam adalah tauhid dan implementasinya adalah Akhlaq. Umat hanya akan kembali berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu di kembalikan. Melengkapi perangkat dalam organisasi masjid mesti ada peralatan dakwah yaitu penguasaan kondisi umat, tingkat sosialnya dan budaya yang melekat pada tata pergaulan yang Islami sehingga umat binaan dapat digerakkan beramal nyata yang berkesinambungan terkait seluruh sisi aktivitas kehidupan seperti, kemampuan bergaul, menyintai, berkhidmat, merapatkan potensi barisan  secara bersama-sama, sehinga membuahkan agama yang mendunia. Usaha ini akan menjadi gerakan pengelolaan masjid purna yang mampu mengantisipasi arus globalisasi negatif dan sudah semestinya menjadi visi pengelolaan masjid dalam program  kembali ba surau.

IMG_9037Khulasahnya, dalam mengelola masjid perlu  peningkatan manajemen yang lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi. Sumber finansial masyarakat dapat di pertanggung jawabkan secara lebih efisien. Peningkatan kualitas pembinaan melalui masjid dan surau dapat dicapai. Segi organisasi dapat hidup terus, berjalan tahan banting, bergairah, giat dan dapat tahan lama menjawab tantangan zaman. Pengembangannya berorientasi kepada mutu. Pembinaan masjid dengan program pendidikan, majlis ta’lim, perguruan, ekonomi umat dapat berkembang menjadi lembaga center of exellence menghasilkan generasi berilmu komprehensif dengan pengetahuan agama, berbudi akhlaq plus keterampilan. Pengembangan masjid dan surau dengan peran pembinaan seharusnya bisa menjadi inti dan pusar dari learning society, masyarakat belajar. Sasaran pengelolaan masjid semestinya membuat anak nagari dan lingkungan menghasilkan generasi baru yang terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah kehidupan bermasyarakatnya disemua zaman.

Dok.Buya 042

Insyaallah. v

Padang, 12 Ramadhan 1434 H – 20 Juli 2013 M.

 

 

 

 

Kepemimpinan Perempuan berlandasan “adat basandi syarak – syarak basandi kitabullah” dalam Budaya Minangkabau, di Sumatera Barat

Kepemimpinan Perempuan berlandasan “adat basandi syarak – syarak basandi kitabullah” dalam Budaya Minangkabau, di Sumatera Barat

Oleh : H. Mas’oed Abidin[1]

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

لآ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لآ يَعْلَمُونَ

Artinya, “Maka tegakkan wajahmu (berjuanglah) untuk agama Islam yang hanif ini. Inilah agama fitrah yang Allah telah ciptakan manusia selaras dengannya. Tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah. Itulah agama (pegangan hidup) yang kekal bernilai. Tetapi kebanyakan manusia tidak mau mengerti” (QS.ar Rum : 30)

Mukaddimah

BILA KITA DALAMI  Dasar Falsafah Minangkabau, ada 3 rahmat yang diberikan Tuhan kepada nenek moyang Minangkabau yaitu Pikiran, Rasa (dalam diri manusia), dan Keyakinan (dalam agama yang diyakini), yaitu Islam.  Dengan demikian orang Minangkabau hidup berbekal moril dan materil. Bekal moril dia bisa hidup menyesuaikan diri di mana saja di tanah perantauannya. Dengan materil mampu berusaha menurut ukuran keahlian masing-masing. Dengan kedua bekal itu pula ada kewajiban membimbing generasi merebut sukses dunia dan akhirat, sesuai bimbingan syarak (agama Islam).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَد

Artinya, Wahai orang yang beriman, hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah setiap diri merenungkan apa yang telah dilakukannya untuk hari esok (hari akhiratnya) (QS.al Hasyr : 18).

Orang Minangkabau adalah ahli-ahli politik karena mendapat pepatah dari leluhurnya dengan tujuan tercapainya kebahagiaan bersama melalui musyawarah  mufakat. Di alam Minangkabau pemimpin harus berbuat adil. Raja adil raja disembah, Raja tidak adil raja disanggah. Di dalam mencapai tujuan ada bimbingan pepatah, “Ibarat mengambil rambut dalam tepung”, Tepung tidak terserak, Rambut tidak putus. Ini maknanya arif.

Jadi jelaslah hampir seluruh sektor kehidupan dilengkapi dengan pepatah petitih yang bila digali kembali, maka yakinlah bahwa orang Minangkabau akan lebih unggul dalam seluruh kehidupan di daerah lainnya. Dasar falsafah hidup orang Minangkabau memang luas meliputi, susunan masyarakat,  pengelolaan masyarakat, perekonomian masyarakatnya.  Keduniaan dan keakhiratan agar sempurna mesti diatur dalam suatu sistem pergaulan hidup, yang tujuannya untuk menjadikan kebahagian di dunia dan di akhirat.

GambarAjaran Islam adalah pandangan dan jalan hidup (philosophy and way of live) sebagaimana yang diajarkan oleh Allah Pencipta Alam di dalam Kitabullah, adalah bahwa manusia makhluk yang memiliki fisik, ruhaniah, rasional, sosial, dan mempunyai keyakinan atau beraqidah, yang dalam syarak (syariat Islam) disebut bertauhid.

Kalau didalami agama (aqidah dan syariat) dan adat (tata laku, pergaulan, hubungan masyarakat), maka kesimpulan sebenarnya adalah bahwa agama dan adat menjadi amat penting perannya untuk dapat mempertahankan manusia sebagai manusia dan masyarakat yang bermakna dan bermartabat.

Tanpa ajaran Islam dan adat Minangkabau yang menekankan pentingnya kebersamaan, kekeluargaan, seiya setida, berpedoman kepada Kitabullah (Alquran), manusia Minang bisa saja berubah menjadi ibarat pasir di tepi pantai, ibarat buih di atas air bah, ibarat hewan di rimba balantara, bahkan mungkin lebih hina lagi. Pedoman dan pendekatan wahyu penting diperhatikan supaya sumber daya manusia jangan tergelincir kepada yang membinasakan manusia dan alam lingkungannya.

Pandangan materialisme, sekularisme, individualisme, hedonisme, nihilisme dilahirkan oleh otak manusia, terutama di era global tidak mau lagi memperhatikan petunjuk wahyu dan agama. Bahkan mulai menghindar dari daya yang dimiliki manusia sendiri, yaitu hati nurani dan perasaan luhur. Kondisi ini berakibat fatal bagi perkembangan ruhaniyah manusia, berpengaruh sangat kepada watak kepemimpinan, yang cepat putus asa, melawan arus kehidupan, bahkan bunuh diri dan sebagainya.

Karena itu, ABSSBK mestinya menjadi political will yang kalau diterapkan akan punya daya fleksibilitas dan dinamis serta prinsip-prinsip yang akan menjamin eksitensi manusia tetap sebagai manusia, yaitu makhluk yang bermoral dan regelius. Pengitegrasian ini penting diupayakan untuk menghadapi tantangan kehidupan modern dan arus globalisasi.

Keunggulan ada pada Pandai Memenej Waktu

Bila waktu tidak digunakan dengan baik, akan terbuang untuk yang sia-sia. Seseorang yang tidak mengisi waktunya dengan kebaikan (shalihah), pastilah ia akan menuai kejelekan (fahisyah). Menyia-nyiakan waktu akan merugi. Menjaga waktu adalah kejujuran menjaga amanah Allah.

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ، قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلىَ غَيْرِ أَهْلِهِ، فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ                       رواه البخاري

Apabila kejujuran (tanggung jawab) telah disia-siakan, maka tunggulah waktunya (kebinasaan). Ada orang bertanya: Bagaimanakah caranya menyia-nyiakan kejujuran (tanggung jawab) itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab: Apabila diserahkan urusan kepada orang yang bukan ahlinya, tunggulah waktunya (kebinasaan). (Diriwayatkan oleh Bukhari)

Sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud RA, telah berkata, “Tidaklah aku menyesali sesuatu, seperti penyesalanku atas satu hari yang berlalu dengan terbenamnya matahari, semakin berkurang umurku tetapi tidak bertambah amalanku.”

Perempuan saleh mengambil faedah waktu dan tempat yang utama. Tidak melalaikan waktu-waktu shalat karena disibukkan pekerjaan rumah tangga, atau tugas sebagai ibu dan istri.  Shalat adalah tiang agama. Shalat adalah amal paling utama.

Perempuan menyimpan kata empu. Mengadung arti pemimpin (raja), orang pilihan, ahli, yang pandai, pintar dengan segala sifat keutamaan.

GambarPerempuan Minang adalah pemimpin  — tahu di mudharat jo manfaat,  mangana labo jo rugi,  mangatahui sumbang jo salah, tahu di unak kamanyangkuik, tahu di rantiang ka mancucuak, ingek di dahan ka mahimpok, tahu di angin nan basiruik, arih di ombak nan basabuang, tahu di alamat kato sampai -. Kepemimpinan Perempuan Minangkabau sangat arif, tahu dengan yang pantas dan patut. Kearifan adalah asas kepemimpinan masyarakat. Perempuan Minangkabau disebut bundo sebab pandai menjaga martabat dan punya sikap panutan.

Alquran menyebut perempuan dengan Annisa’ atau Ummahat. Maknanya sama dengan ibu, atau “Ikutan Bagi Umat” dan tiang suatu negeri.[2]

Masyarakat yang baik lahir dari Ibu yang baik. “Ibu (an-Nisak) adalah tiang negeri” (al Hadith). Jika kaum perempuan dalam suatu negeri berbudi pekerti baik (shalihah), niscaya akan sejahtera negeri itu. Sebaliknya, apabila kaum perempuan di suatu negeri  berperangai buruk (fasad), maka binasalah negeri seluruhnya. Kitab suci Alquran menempatkan perempuan dengan hak  serta tangung jawab masing-masing, yang sama beratnya, dan menjadi kata kunci terpeliharanya harkat martabat insaniyah pada jenis yang berbeda antara lelaki dan perempuan. Hubungan keduanya ada pada posisi azwajan = mitra setara dan ini modal utama kalau akan menjadi pasangan dalam hidup (lihat Q.S.16:72, 30:21, 42:11).

Laki-laki dan Perempuan punya hak dan kewajiban yang sama, terutama di dalam membina keluarga di tengah rumah tangganya. Perempuan perekat silaturrahim. Lelaki pelindung perempuan. Keduanya, punya tanggung jawab sama, menjaga lingkungan dan kehidupan berjiran bertetangga.

Dalam Pandangan Syarak (Syariat Agama Islam) disebutkan ad-dunya mata’un, wa khairu mata’iha al mar’ah as-shalihah artinya perhiasan paling indah adalah perempuan saleh (perempuan yang istiqamah pada peran dan konsekwen dengan citra-nya).

Rasul SAW bersabda; “Demi Allah, dia tidak beriman, demi Allah, dia tidak beriman, demi Allah, dia tidak beriman”. Ada yang bertanya; “Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”. (HR. Asy-Syaikhan).

Risalah Agama mengutamakan pendidikan akhlaq. Sebuah bangsa akan tegak dengan kokoh karena etika moral dan akhlaknya. Etika dan moral itu dibentuk oleh budaya dan ajaran agama. Moral anak bangsa yang rusak, membuat bangsa terkoyak.

Rumah tangga sebagai extended family (inti keluarga besar) dalam budaya Minangkabau menjaga dan mencetak generasi bermoral, dengan filosofi yang jelas, Adat bersendi syarak – syarak bersendi Kitabullah.

Kaum perempuan (bundo kanduang, pemilik suku) berperan mendidik, menjaga nikmat Allah. Kaum lelaki (pemilik nasab), membentuk generasi berdisiplin. Kedua peran ini menjadi satu di dalam tatanan pergaulan masyarakat adat, dengan kekerabatan yang kuat.

Peranan syarak (agama Islam bersendikan Kitabullah – Alquran dan Sunnah Rasul), mengikat adat dengan akhlaqul karimah atau etika religi sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat beradat. Pesan Rasulullah SAW ;

ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان  :

  1. من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما,
  2. ومن احب عبدا لا يحبه الا الله,
  3. ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه  كما يكره ان يلقى فى النار.

Artinya, Tiga perkara — barangsiapa terdapat pada dirinya –, dia akan merasakan lazatnya iman:

  1. Mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya,
  2. Mencintai seorang hamba hanya karena Allah,
  3. Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.

(H.R. Imam Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa’I).

Perempuan dalam Adat dan Budaya Minangkabau

Dalam adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah – di Minangkabau,  perempuan menempati posisi pemilik rumah  – hiduik batampek,  mati bakubua, kuburan hiduik di rumah gadang, kuburan mati   di tangah padang –, dengan peran induak bareh  — nan lamah di tueh, nan condong di tungkek, ayam barinduak, siriah bajunjuang. Artinya, pengendali ekonomi keluarga.

PERAN IDEAL perempuan Minangkabau menjadi pemilik suku, ulayat, pusako, kekayaan, rumah, anak, kaum, dan disebut PADUSI artinya padu isi dengan sifat utama.

Gambar

(a). benar, (b).jujur lahir batin, (c). cerdik pandai, (d). fasih mendidik dan terdidik, (e). bersifat malu. Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso,  malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso, apabila malu dan sopan telah hilang habislah rasa dan periksa. al hayak nisful iman = malu adalah paruhan dari Iman.

1. Hati-hati, « bakato sapatah di pikiri, bajalan salangkah maliek suruik, muluik tadorong ameh timbangannyo, kaki tataruang inai padahannyo, urang pandorong gadang kanai, urang pandareh hilang aka, »  – artinya, berkata sepatah dipikirkan, setiap langkah berjalan memperhatikan apa yang sudah dikerjakan, mulut terdorong emas timbangnya, kaki tertarung inai padahannya, yang suka pendorong besar kenanya, dan yang keras mulut pertanda hilang akal –. Fatwa adat mengatakan, «  ingek dan jago pado adat, ingek di adat nan ka rusak, jago limbago nan ka sumbiang, » = jagalah adat selalu, ingat adat jangan rusak, jaga lembaga jangan sumbing).

2. Yakin kepada Allah  (iman bertauhid), «  iman nan tak bulieh ratak kamudi nan tak bulieh patah, padoman indak bulieh tagelek, haluan nan tak bulieh ba rubah » — artinya, iman tidak boleh retak, kemudi tidak boleh patah, pedoman tidak boleh beranjak, haluan tidak boleh berubah –. Wujudnya tampak dalam kearifan pergaulan, « katiadaan ameh bulieh di cari, katiadaan aka putuih bicaro, tak barameh putuih tali, tak baraka taban bumi » = tidak ada emas boleh dicari, tidak ada akal putus bicara, tidak ada emas putus tali, tidak berakal terban bumi –. Akal adalah anugerah Allah yang wajib di jaga dengan iman. Iman dikokohkan dengan menjaga aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

ياَ غُلاَمُ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ وَ إِذَا سَأَلَكَ فَاسْأَلِ اللهَ تَعَالىَ وَ إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ                       رواه الترذي

“ Jagalah (perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (perintah) Allah, nanti engkau akan mendapatinya di hadapan engkau. Apabila engkau meminta, pintalah kepada Allah dan apabila engkau meminta pertolongan, pintalah pertolongan kepada Allah ‘Azza Wajalla.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi)

3. Perangai berpatutan (istiqamah, konsisten). Perangai akan menjadi contoh anak cucu atau generasi pelanjut, ” bahimat sabalun abih, sadiokan payuang sabalun hujan” – artinya, berhemat sebelum habis, sediakan paying sebelum hujan –. Kewajiban masa depan terpaut kepada pusaka adat turun temurun.

Keunggulan perempuan Minangkabau, ”maha tak dapek di bali, murah tak dapek dimintak, takuik di paham ka tagadai, takuik di budi katajua ” = mahal tidak dapat dibeli, murah tidak dapat diminta, takut pada paham akan tergadai, takut jika budi akan terjual. Budi dan malu jika telah hilang, bencana datang tindih bertindih, ”ka ateh indak ba pucuak, ka bawah indak ba urek, di tangah di giriak kumbang, hiduik sagan mati tak amuah, bagai karakok tumbuah di batu” = ke atas tidak berpucuk, kebawah tidak berurat, di tengah dilarik kumbang, hidup segan mati tak bisa, bagaikan kerakap tumbuh di batu.

Mencontohkan watak uswah menyangkut diri sendiri dan hidup masyarakat, sekarang, besok dan di mana saja, “nan barisuak bukan kini, nan kini bukan kapatang” = yang besok bukan kini, dan yang kini bukan kemarin. Maknanya sangat realistis,berpangkal pada usaha  nyata.

4. Kaya hati, tagak badunsanak, mamaga dunsanak, tagak bakampuang, mamaga kampuang, tagak basuku, mamaga suku, tagak banagari, mamaga nagari, tagak babangso, mamaga bangso, — artinya, berdunsanak memagar dunsanak, berkampung memelihara kampung, bersuku menjaga suku, bernegara membentengi  Negara, tegak berbangsa menjaga bangsa –.

Watak keperibadiannya sopan santun, kuat dan tegas, berani dan setia, hemat dan khidmat, muluik manih, kucindan murah, pandai ba gaue samo gadang – mulut manis kecindan = kelakar menyejukkan, pandai bergaul sesama besar –, yang tua  dimuliakan, yang muda di kasihi, sama besar saling hormat menghormati.

5. Tabah (redha), haniang ulu bicaro, naniang saribu aka, dek saba bana mandatang = hening itu pangkal bicara, berfikir naning = ingat itu seribu akal, karena sabar kebenaran datang. Falsafah hidup beradat menempatkan perempuan Minang pada sebutan mandeh atau bundo kandung secara simbolik, limpapeh rumah nan gadang = perhiasan dan pemilik rumah, umban puro pegangan kunci, umban puruak aluang bunian = pemilik harta pusaka, hiasan di dalam kampuang, sumarak dalam  nagari = hiasan kampung semarak nagari, sama seperti tiang nagari, nan gadang basa batauah = yang dimuliakan, dipuja dan bertuah. Maka peran perempuan Minangkabau tiang utama di dalam rumah gadang. Artinya, menjadi sandaran anak cucu.

6. Jimek (hemat tidak mubazir), di kana labo jo rugi, dalam awal akia membayang, ingek di paham nan ka tagadai, ingek di budi nan ka tajua,  mamakai malu dengan sopan = di ingat laba dan rugi, sejak awal bertindak akhir tujuan sudah terbayang, ingat paham akan tergadai, ingat budi akan terjual, dengan memakai malu dan sopan santun. Ciri utama perempuan Minangkabau “sehayun-selangkah, semalu-sehina”.

أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ المَرْءِ: أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً، وَ أَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا، وَ خُلَطَاؤُهُ صَالِحِيْنَ، وَ أَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِي بَلَدِهِ                                      رواه الديلمي عن علي

Empat kebahagiaan manusia: Istrinya perempuan yang saleh, anak-anaknya orang baik-baik, teman sepergaulannya orang-orang yang saleh dan rezekinya diperoleh di negerinya. (Diriwayatkan oleh Dailami dari ‘Ali)

Perempuan Shaleh dalam Pandangan Agama Islam

Agama Islam atau syarak menempatkan kaum perempuan dengan watak yang jelas, ialah mar’ah shalihah = perempuan saleh dan lembut menjaga diri, memelihara kehormatan, patuh (qanitaat) kepada Allah, hafidzaatun lil ghaibi bimaa hafidzallahu = memelihara kesucian diri dan CERIA. Tidak ada keindahan yang melebihi “indahnya wanita saleh” (Al Hadith). Perempuan Minang dan saleh amatlah pandai menjaga waktu.

1.  Perempuan Saleh takut kepada Tuhan, diawasi Allah.

Perempuan saleh tidak menyia-nyiakan waktu tanpa faedah serta kuat mengoreksi diri setiap saat. Rasulullah SAW mengabarkan perbedaan antara orang yang berdzikir (koreksi diri) dengan yang tidak, seperti perbedaan antara orang hidup dan orang mati. Rasul bersabda,

مثل الذي يذكر ربه والذي لايذكر ربه مثل الحي والميت

Artinya, Perbandingan antara orang yang mengingat tuhan dengan yang tidak mau mengingat tuhannya, sama seperti perumpamaan antara orang yang hidup dan yang mati (HR. Imam Bukhari, Shahih al Bukhari, Kitab Ad Da’wat).

2.  Perempuan saleh tahu tempat utama, Responsif terhadap lingkungan

Piawai dan Mandiri, teguh dan kokoh, Watak mulia, Lembut hati, Penyabar, Penyayang sesama, Keras mempertahankan Harga Diri, Tegas, Kuat Iman dalam melaksanakan suruhan Allah, Pendamai, Suka memaafkan, Mampu menjadi pemimpin masyarakatnya (contohnya Sayidatina ‘Aisyah).

مَا كَانَ الرِّفْقُ فيِ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ                   رواه الضياء عن أنس

Lemah lembut dalam sesuatu (urusan) menyebabkan indahnya dan kalau dia dicabut dari sesuatu, niscaya akan memburukkannya. (Diriwayatkan oleh Dhia dari Anas)

Gambar

Kepiawaian tumbuh karena teguh melaksanakan kewajiban ;

  1. kewajiban kepada Rabb-nya,
  2. kewajiban kepada orang tuanya,
  3. kewajiban kepada suaminya,
  4. kewajiban terhadap anaknya,
  5. kewajiban terhadap kaum kerabatnya (sukunya),
  6. kewajiban terhadap tetangga,
  7. kewajiban terhadap saudara dan temannya, dan
  8. kewajiban terhadap masyarakatnya.

3.    Perempuan Saleh selalu taat beribadah.

Berpengaruh pada tata laku, bermuara kepada mode pakaian yang dipakai (buktinya di Sumbar berpakaian saruang, kodek, baju kuruang, salendang, tikuluak, dsb).[3]

Perempuan Saleh tahan uji (shabar), disiplin (istiqamah), pandai memanfaatkan apa yang dimiliki untuk mewujudkan kebahagiaan (syukur ni’mah), merangkai keberhasilan, hemat, qanaah.[4]   Perempuan saleh di Minangkabau yang taat, senantiasa  bermohon taufik kepada Allah dalam merealisasikan semua cita yang sedang di emban dalam meraih masa depan yang lebih bermartabat dengan mempertajam akal fikiran yang jernih.

إِذَا أَرَادَ اللهُ إِنْفَاذَ قَضَائِهِ وَ قَدَرِهِ سَلَبَ ذَوِي العُقُوْلِ عُقُوْلَهُمْ حَتَّى يَنْفُذَ فِيْهِمْ قَضَاؤُهُ وَ قَدَرُهُ. فَإِذَا قَضَى أَمْرَهُ رَدَّ عُقُوْلَهُمْ وَ وَقَعَتِ النَّدَامَة ُ رواه الديلمى عن أنس

Apabila Allah hendak melaksanakan putusan atau hukuman-NYA, dicabut akal orang yang mempunyai akal sampai terlaksana ketentuanNya itu. Setelah hukuman itu selesai akal mereka dikembalikan dan timbullah penyesalan. (Diriwayatkan oleh Dailami dari Anas)

4.    Perempuan saleh,arif menetapkan Majlis yang baik.

Sesuai tabiatnya, perempuan Minangkabau yang saleh tidak mungkin hidup sendiri. Dia harus mempunyai teman berbincang. Teman paling ideal adalah yang punya akhlak mulia.[5] 

5.    Perempuan Saleh mengejar Keberhasilan Memacu diri

membaca bacaan yang bermanfaat seperti telah didorong oleh perintis pendidikan perempuan (Rohana Kudus, Rahmah el Yunusiyah), yang dengan bimbingan syarak mengajarkan kepada setiap muslimah untuk memperbanyak membaca Al-Qur’anul Karim, menghafal serta menyimaknya. [6]  

6.    Perempuan Minangkabau mempunyai Prinsip Teguh,

Toleran bergaul, lemah lembut bertutur kata, tegas melawan kejahatan, kokoh menghadapi percabaran budaya dan tegar menghadapi percaturan dunia, sanggup buat lingkungan sehat, bijak menata pergaulan baik dan nyaman, tahu diri, hemat, dan tidak malas. Pesan Rasulullah SAW; ”Jauhilah hidup ber-senang-senang (foya-foya), karena hamba-hamba Allah bukanlah orang yang hidup bermewah-mewah (malas dan lalai)” (HR.Ahmad).

Kesombongan dan maksiat sangat dimurkai oleh Allah.

أَرْبَعَةٌ يُبْغِضُهُمُ اللهُ تَعَالىَ: البَيَّاعُ الحَلاَّفُ، وَ الفَقِيْرُ المُخْتَالُ، وَ الشَّيْخُ الزَّانِي، وَ الإِمَامُ الجَائِرُ رواه النسائي

Empat golongan yang dibenci Allah: Saudagar yang gemar bersumpah, orang miskin yang sombong, orang tua yang suka berzina dan pembesar yang aniaya (kejam). (Diriwayatkan oleh Nasa’i)

7.    Perempuan Saleh mampu Menghadapi Perubahan

tanpa harus tercerabut dari nilai-nilai moral dan tatanan pergaulan.

Lapang hati yang dipunyai oleh setiap insan yang hidup hanya dapat di bangun dengan ingat kepada Allah semata.

إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يَقُوْلُ

أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَ تَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ- رواه أحمد عن أبي هريرة

Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Aku bersama (menolong) hambaKu, selama dia menyebut (mengingati) Aku dan masih bergerak bibirnya menyebut namaKu. (Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Hurairah)

8.    Perempuan Minangkabau mampu melakukan pengawasan

Terhadap diri dan turunannya sepanjang masa.  Menghindari prilaku cela, yaitu dusta (bohong), mencuri dan caci maki, sesuai sabda Rasulullah SAW; “Jauhilah dusta, karena dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka” (Hadith Shahih). Disini peran perempuan sangat dominan di tengah rumah kaum dan sukunya. [7] 

9.    Melaksanakan amar makruf (social support) dan nahyun anil munkar (social control) untuk kejayaan dunia akhirat.

وَ الَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَ لَتَنْهَوْنَ عَنِ اْلمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ    تيسير الوصول

Demi Tuhan yang diriku dalam tanganNya! Hendaklah kamu menyuruh perbuatan baik dan kamu mencegah perbuatan salah, atau (kalau tidak), nanti Allah dalam masa yang dekat akan menimpakan kepada kamu siksaanNya, kemudian itu kamu mendo’a kepadaNya dan doa kamu tidak diperkenankanNya. (Dari kitab Taisirul Wusul)

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”(QS. Ali Imran, 3 : 104 )

Dalam Konsep Islam, perempuan saleh bergaul dengan ma’ruf dan ihsan, kasih sayang dan cinta, lembut dan lindung, berkehormatan, berpadu hak dan kewajiban. Kata azwajan menggambarkan kokoh peran perempuan dalam wadah keluarga besar (extended family).[8] [7] Rasulullah SAW menyebutkan, “Sorga terletak dibawah telapak kaki Ibu”(al Hadith). Tata krama pergaulan dimulai dari penghormatan di rumah tangga, lingkungan tetangga dan pergaulan warga masyarakat (bangsa).

Gambar

Dalam Etika religi dimulai dari mengucap salam, menyebar senyum, jenguk menjenguk, bertakziyah kala kemalangan, memberi dan mengagih pertolongan, melapangi jika kondisi memungkinkan, walau hanya memberi sepotong doa dengan ikhlas sesama tetangga. Dzikrullah  melahirkan pemikiran bersih, jernih dan diterima oleh semua pihak. Di dalamnya ada hikmah. Inilah keuntungan utama dari dzikrullah itu.

صَنَائِعُ المَعْرُوْفِ تَقِى مَصَارِعَ السُّوْءِ، وَ الصَّدَقَةُ خَفِيًّا تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيْدُ العُمْرَ، وَ كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ وَ أَهْلُ المَعْرُوْفِ فيِ الدُّنْيَا، هُمْ أَهْلُ المَعْرُوْفِ فيِ الآخِرَةِ، وَ أَهْلُ المُنْكَرِ فيِ الدُّنْيَا، هُمْ أَهْلُ المُنْكَرِ فيِ الآخِرَةِ، وَ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الجَنَّةَ أَهْلُ المَعْرُوْفِ           رواه الطبراني عن أم سلمة

Perbuatan baik itu menjaga dari serangan bahaya, sedekah dengan sembunyi memadami marah Tuhan, memperhubungkan silaturahmi menambah umur dan setiap perbuatan baik itu sedekah. Orang yang mengerjakan perbuatan baik di dunia, mereka juga orang yang mengerjakan perbuatan baik di akhirat, sedang orang yang memperbuat kesalahan di dunia, mereka juga orang yang memperbuat kesalahan di akhirat. Orang yang dahulu masuk surga ialah orang yang berbuat baik. (Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ummu Salamah)

Khulashah

Kepemimpinan perempuan yang tulus akan mencetak generasi yang berwatak taqwa, focus dalam berkarya (amal) dan kaya dengan rasa malu. Karakter ini mewarnai masyarakat tradisonal yang mewarisi tamaddun (budaya). Inilah peran perempuan menurut adat di Minangkabau hari ini dan masa datang dalam bimbingan syarak (agama) Islam. Dalam bimbingan Rasulullah SAW ada sinyalemen tentang tujuh watak yang menempati posisi mulia dan semstinya direbut;

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ فيِ ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ وَ شَابٌّ نَشَأَ فيِ عِبَادَةِ اللهِ، وَ رَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ إِذَا خَرَجَ مِنْهُ حَتَّى يَعُوْدَ إِلَيْهِ، وَ رَجُلاَنِ تَحَابَّا فيِ اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَ افْتَرَقَا عَلَيْهِ، وَ رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ فيِ خَلْوَةٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَ رَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَ جَمَالٍ إِلىَ نَفْسِهَا، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ العَالَمِيْنَ، وَ رَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتىَّ لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ                      رواه الشيخان

Tujuh golongan akan dinaungi Allah di bawah lindunganNya, di waktu tidak ada lindungan selain lindunganNya: Imam (kepala pemerintah) yang adil, pemuda yang mempergunakan masa mudanya untuk menyembah Allah, seseorang yang hatinya tergantung di mesjid apabila dia keluar dari mesjid sampai dia kembali ke mesjid, dua orang berkasih sayang karena Allah, keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, seseorang yang mengingati Allah ketika sendirian, lalu menetes air matanya, seorang laki-laki yang dirayu oleh seorang perempuan yang bangsawan dan rupawan, lalu dia menjawab: Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam dan seseorang yang bersedekah dengan sedekahnya, lalu disembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dinafkahkan oleh tangan kanannya. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadist ini dapat disimpulkan ada beberapa upaya yang perlu dilakukan, antara lain ;

1.      Ilmu dan iman akan mendorong setiap diri umat manusia sanggup hidup mandiri.  Nilai-nilai agama (syarak) dalam konsep mencari ridha Allah, adalah Akhlak Mulia dan memadukannya dengan pengetahuan dan keterampilan.

إِنَّ مِنْ أَخْلاَقِ المُؤْمِنِ قُوَّةً فيِ دِيْنٍ وَ حَزْمًا فيِ لِيْنٍ وَ إِيْمَانًا فيِ يَقِيْنٍ وَ حِرْصًا فيِ عِلْمٍ وَ شَفَقَةً فيِ مِقَةٍ وَ حِلْمًا فيِ عِلْمٍ وَ قَصْدًا فيِ غِنًى وَ تَجَمُّلاً فيِ فَاقَةٍ وَ تَحَرُّجًا عَنْ طَمَعٍ وَ كَسْبًا فيِ حَلاَلٍ وَ بِرًّا فيِ اسْتِقَامَةٍ وَ نَشَاطًا فيِ هُدًى وَ نَهْيًا عَنْ شَهْوَةٍ وَ رَحْمَةً لِلْمَجْهُوْدِ.

Sesungguhnya termasuk akhlak (budi pekerti) orang beriman ialah kuat memegang agama, tegas dengan sikap, ramah lembut, beriman dengan keyakinan, loba kepada pengetahuan, memberi bantuan dengan perasaan belas kasihan, ramah tamah dalam berilmu, hidup sederhana di waktu kaya, berhias di waktu miskin, memelihara diri dari loba tamak, berusaha di jalan yang halal, tetap berbuat baik, rajin dalam menjalankan pimpinan yang benar, membatasi diri dari keinginan nafsu dan kasih sayang terhadap orang yang sengsara.

2.      Allah menghendaki kelestarian Agama dengan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak bersitegang. “Diciptakan manusia dengan perangai yang baik (terpuji)”. Pencerahan diri diben­tuk oleh latar pendidikan dan pengalaman hidup dengan modal selalu mendekatkan diri kepada Allah. Tujuan akhir yang diraih dalam gerak kehidupan adalah redha Allah. Menuju redha Allah dicapai melalui ‘al-qalb al-salim ‘ (hati yang salim, tenteram dan sejahtera). Kebaikan hati awal dari kebaikan jiwa dan jasad.

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا فَتَحَ لَهُ قُفْلَ قَلْبِهِ وَ جَعَلَ فِيْهِ الْيَقِيْنَ وَ الصِّدْقَ وَ جَعَلَ قَلْبَهُ وَاعِيًا لِمَا سَلَكَ فِيْهِ وَ جَعَلَ قَلْبَهُ سَلِيْمًا وَلِسَانَهُ صَادِقًا وَ خَلِيْقَتَهُ مُسْتَقِيْمَةً وَ جَعَلَ أُذُنَهُ سَمِيْعَةً وَ عَيْنَهُ بَصِيْرَةً                          رواه الشيخ عن أبي ذر

Apabila Allah hendak mendatangkan kebaikan kepada hambaNya dibukakan kunci hatinya dan dimasukkan ke dalamnya keyakinan dan kebenaran dan dijadikan hatinya menyimpan apa yang masuk ke dalamnya dan dijadikan hatinya bersih, lidahnya berkata benar, budinya lurus, telinganya sanggup mendengar dan matanya melihat dengan terang. (Diriwayatkan oleh Syekh dari Abu Zar).

3.      Membentuk effectif leader haruis mempunyai sahsiah (personality) yang selalu ingat kepada Allah menuju inti dari syarak dalam agama Islam (tauhid dan akhlak).

أَطِبِ الكَلاَمَ، وَ أَفْشِ السَّلاَمَ، وَ صِلِ الأَرْحَامَ، وَ صَلِّ بِالَّلْيلِ وَ النَّاسُ نِيَامٌ، ثُمَّ ادْخُلِ الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ           رواه ابن حبان عن أبي هريرة

Ucapkanlah perkataan dengan baik, kembangkanlah ucapan memberi salam, perhubungkanlah silaturahmi dan sembahyanglah di waktu malam ketika orang banyak sedang tidur, sesudah itu masuklah ke dalam surga dengan selamat. (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).

Gambar4.      Profil kepemimpinan perempuan di Minangkabau yang ideal berada pada kepemimpinan sentral, di tengah keluarganya, menjadi pemilik seluruh kekayaan, rumah, anak, suku dan kaum, sebagai “biaiy, dan mandeh”. Makna sosiologis adalah, memposisikan lelaki pasangan (azwajannya) pada peran pelindung, pemelihara dan penjaga marwah anak turunannya, dengan hati tenang, santun, pergaulan akrab, silaturahim, ibadah teratur, bijak memanfaatkan waktu baik, untuk dapat meraih redha Allah.

مَا كَرِهْتَ أَنْ يَرَاهُ النَّاسُ مِنْكَ فَلاَ تَفْعَلْهُ بِنَفْسِكَ  إِذَا خَلَوْتَ      رواه ابن حبان عن أسامة بن شريك

Apa yang engkau tidak suka dilihat orang banyak datang dari engkau, janganlah engkau perbuat dengan diri engkau ketika engkau sendirian. (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Usamah bin Syuraik)

5.      Senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu wa Taala.

اللَّهُمَّ اصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَ اهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَ نَجَّنَا مِنَ الظُّلُمَاتَ إِلىَ النُّوْرِ وَ جَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ،

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فيِ أَسْمَاعِنَا و أَبْصَارِنَا وَ قُلُوْبِنَا وَ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَاتِنَا وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ، وَ اجْعَلْنَا شَاكِرِيْنَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِيْنَ ِبهَا قَابِلِيْنَ لَهَا وَ أَتِمَّهَا عَلَيْنَا         رواه الحاكم عن ابن مسعود

Ya Allah! Perbaikilah hubungan antara sesama kami, susunlah (satukanlah) hati kami, pimpinlah kami kepada jalan keselamatan, keluarkanlah kami dari kegelapan kepada cahaya yang terang, jauhkanlah kami dari perbuatan keji, yang terang dan yang tersembunyi. Ya Allah! Berilah kami keberkatan berkenaan dengan pendengaran kami, penglihatan kami, hati kami, istri (suami) kami dan anak cucu kami. Terimalah tobat kami sesungguhnya Engkau Penerima tobat dan Penyayang. Jadikanlah kami orang yang mensyukuri nikmat engkau, menghargai nikmat itu, menerimanya dengan baik dan cukupkanlah nikmat itu untuk kami. (HR. Hakim dari Ibnu Mas’ud)

Mudah-mudahan Allah Taala memberi kita kekuatan senantiasa dapat menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Amin

Maraji’ :

1. Ustadz Sulaiman Ibn Muhammad, Kaifa Taqdhi Al-Mar-atul Muslimah  Waqtaha.

2. Abdullah Ibnu Jarullah Ibrahim al Jarullah, Risalah Ila Kulli Muslim.

3. Dr. Muhammad Ali Al Hasyimiy, Syakhshiyah Al-Mar’ah Al-Muslimah.

4. Ummu Abdillah An Nawawi, Hadits Arba’in An-Nawawi.


[1]      Disampaikan ralam rangka Pelantikan Pengurus Bundo Kanduang Kota Padang, yang di adakan di Padang, pada tanggal 9 Januari 2013, oleh Ketua Umum Forum Keswaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Sumatera Barat,  bertempat di Palanta Kediaman Walikota Padang, Jalan A.Yani, Padang, Sumatera Barat.

[2]  Bila Annisa’‑nya baik, baiklah negeri itu, dan kalau sudah rusak, celakalah negeri itu (Al Hadits). Kaidah Alqurani menyebutkan, Nisa’‑nisa’ kamu adalah perladangan (persemaian) untukmu, kamupun (para lelaki) menjadi benih bagi Nisa’‑nisa’ kamu. Kamu dapat mendatan­gi ladang‑ladangmu darimana (kapan saja). Karena itu kamu berkew­ajiban menjaga anfus (diri, eksistensi dan identitas) sesuai perintah Qaddimu li anfusikum, dengan selalu bertaqwa kepada Allah (Q.S.2:23).

[3]  Dalam khazanah syarak kita menemui hadith Rasulullah SAW sebagai riwayat Abdullah bin Mas’ud, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, apakah amal yang paling utama?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya, kemudian apa lagi? Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua.” Aku bertanya, kemudian apa lagi? Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (Muttafaq Alaih).

[4]  Sesuai sabda Rasulullah saw dalam sebuah hadith qudsy Allah berfirman, “Hambaku senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan melaksanakan shalat-shalat nafilah hingga Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya, dengannya dia mendengar, Aku menjadi penglihatannya, dengan itu dia melihat, Aku menjadi tangannya, dengan itu pula dia bertindak (sehingga dia tidak pernah merasa cemas dan takut di dalam meraih cita2nya), Aku menjadi kakinya, dengan itu dia berjalan. Jika dia memohon kepadaKu maka Aku benar-benar akan memberinya dan Jika dia meminta perlindungan kepadaKu maka Aku benar-benar akan melindunginya“. (HR.Al-Bukhari).

[5]  Sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dengan teman yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dengan seorang pandai besi“. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Orang-orang yang mendapatkan taufik dari Allah selalu menjaga waktu mereka untuk hal-hal yang benar-benar bermanfaat. Seorang sahabat terkenal, Abdullah Ibnu Mas’ud telah berkata, “Tidaklah aku menyesali sesuatu, seperti penyesalanku atas suatu hari yang berlalu dengan terbenamnya matahari, semakin berkurang umurku tetapi tidak bertambah amalanku.

[6]  Rasul saw bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an sedang dia terbata-bata dalam membacanya serta kesulitan dalam membacanya maka dia mendapatkan dua pahala, sedangkan orang yang membaca dengan mahir maka dia bersama para penulis kitab (malaikat) yang mulia lagi berbakti.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Perempuan Minangkabau sejak masa lalu selalu berdzikir kepada Allah, satu amalan yang mudah, dimana setiap orang mampu melakukannya, baik kaya maupun miskin, berilmu maupun tidak, perempuan maupun pria, besar ataupun kecil. Berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaan. Rasulullah SAW mengabarkan perbedaan antara orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir, seperti perbedaan antara orang yang hidup dan orang yang mati. Sabda Rasul, “Barangsiapa yang bangun di malam hari kemudian mengucapkan, “Laa ilaaha wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu bi yadihil khair yuhyi wa yumiitu wa Hua ala kulli syai’in qadiir, subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallaahu akbar wa laa haula walaa quwwata illa billah.” Kemudian dia berdo’a, “(Ya Allah ampunilah aku) niscaya akan diterima do’anya. Dan jika dia berwudhu (untuk shalat) niscaya diterima shalatnya“. (HR. Al-Bukhari).

[7]  Perempuan Minangkabau sangat bijak mendidik anak-anak yang menjadi tanggung jawab yang agung. Seorang anak di Minangkabau, lebih takut kehilangan ibunya dari pada kehilangan bapaknya. Inilah satu tanggung jawab  besar bagi perempuan Minangkabau, membentuk dan memberi warna dari generasi pengganti, karena seorang ibu lebih dekat kepada anak-anaknya ketimbang yang lainnya. Seorang ibu (perempuan Minangkabau) selalu menerapkan amar makruf nahi munkar, sebagaimana dinasehatkan dalam satu hadith dari Abu Said Al-Khudri dia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Barang-siapa di antara kalian melihat kemungkaran hendaklah dia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisan (nasihat). Dan jika tidak mampu maka hendaklah meng-ubahnya dengan hati (tidak senang dengan kemungkaran itu) dan itulah selemah-lemah iman’.” (HR. Muslim).

[8]  Penghormatan kepada Ibu menempati urutan kedua sesudah iman kepada Allah (konsep tauhidullah). Bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Ibu. Hubungan hidup duniawi wajib dipelihara baik dengan jalinan ihsan (lihat QS. 31, Luqman : 14-15). Kandungan nilai pendidikan dan filosofi ini terikat kasih sayang. Hakikinya semua terjadi karena Rahman dan RahimNya, dan semuanya berakhir dengan menghadapNya. Maka kewajiban asasi insani menjaga diri dan keluarga dari bencana (QS. At Tahrim :6). Dengan memakai hidayah religi Alqurani.

MENGGALI POTENSI SURAU menjadi/sebagai ISLAMIC CENTER oleh : Taufik Ahmad Taudjidi – Imam Basa Nagari Gunuang

MENGGALI POTENSI SURAU menjadi/sebagai ISLAMIC CENTER
oleh : Taufik Ahmad Taudjidi – Imam Basa Nagari Gunuang

(Kutipan Khutbah Idul Fitri 1433 H, 19 Agustus 2012, di Lapangan SMPN 3 Padang Panjang)

Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil

-Hamd
Kaum Muslimin yang berbahagia,

Saat ini, dalam rangka membangun kemandarian bangsa guna menghadapi persaingan di era globalisasi, tengah digulirkan konsep pembangunan berbasis kearifan lokal atau local wisdom. Yaitu, konsep pembangunan berbasis pada kondisi budaya lokal, termasuk mengacu pada pesan-pesan moral dan motivasi yang hidup di masyarakat.

Salah satu”kearifan lokal” yang ada di Ranah Minang, adalah berlakunya SISTEM MATRILINEAL, yaitu sistem waris harta pusaka tinggi yang berpuncak dan turun temurun pada garis ibu.
Saat ini, di seluruh dunia, hanya terdapat 4 (empat) suku bangsa yang menganut sistem Matrilineal, yaitu sebuah suku bangsa di benua Afrika, sebuah suku Indian di benua Amerika , sebuah suku di India dan satu-satunya suku di Indonesia, yaitu Minangkabau.
Sistem matrilineal dengan segala sub-sistemnya adalah “Tiang Agung Minangkabau” kata alm Buya Hamka. Hak Waris Harta pusaka tinggi sebagai sub sistem dari sistem Matrilineal, hendaknya harus tetap dijaga keberadaannya. Harta pusaka tinggi adalah harta bersama sebuah kaum, adalah harta bersama untuk dinikmati, bukan harta untuk dibagi-bagi. Pewarisan harta pusaka tinggi adalah hanya sekedar peralihan peran, bukan peralihan milik. Harta pusaka tinggi turun dari niniek ka mamak, dari mamak ka kamanakan dan seterusnya ka bawah menurut garis ibu.
Harta pusako tinggi tak boleh berpindah tangan karena diperjual-belikan. Harta Pusako tinggi adalah sebagai bukti “asal-usul” seseorang atau kaum. Seseorang dapat dikatakan adalah keturunan Minang, hanya apabila masih mempunyai harta pusako tinggi. Dalam adat, ini dikatakan:
“Nan ba pandam ba pakuburan, nan basasok bajarami, kok dakek dapek dikakok, kok jauah dapek diantakan”
Apabila sebuah keluarga atau kaum tak lagi punya harta pusako tinggi, orang atau keluarga itu tidaklah lengkap keminangkabauannya, bahkan sudah dianggap punah. Mereka tak perlu lagi punya panghulu, karena adat berdiri diatas pusako tinggi.

Dari uraian ringkas diatas, dimensi kearifan lokal yang menyertainya adalah:

Bahwa sejauh manapun anak-cucu orang Minang pergi merantau, bahkan sampai ke Australia atau ke Amerika, selama mereka masih punya harato pusako tinggi, mereka dan anak keturunannya akan tetap punya
kampung halaman di Ranah Minang, dan mereka tetap bangga dengan RanahMinang.

Kondisi emosional itulah tampaknya yang terpancar dari gegap gempitasetiap acara “pulang Basamo”, seperti yang tampak pada setiap lebaran saat ini.

Kaum Muslimin yang berbahagia,

Keunikan lain dari alam minangkabau yang mencerminkan kearifan lokal adalah adanya Falsafah Hidup yang sangat terkenal:
“ ADAT BERSANDI SYARA’, SYARA’ BERSANDI KITABULLAH”.

Nilai-nilai Agama Islam, yang menganut sistem patrilineal, secara arif diterima oleh adat dan budaya Minangkabau tanpa mengorbankan adat budaya yang berlaku. Bahkan Nilai-nilai agama dan adat saling memperkuat, kokoh dalam keserasian dan keharmonisan, menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Saling isi mengisi. Kaum adat dan kaum agama bekerjasama saling bahu membahu membangun masyarakat.
Perpaduan ini telah melahirkan harmoni sosial di bawah sistem kepemimpinan tripartit yang disebut TTS (Tungku nan Tigo Sajarangan) yang terdiri dari – Ninik Mamak , Alim Ulama, dan Cerdik Pandai. Mereka bersinergi menjaga dan menjalankan TTS yang lain pula, Tali nan Tigo Sapilin, yaitu Adat, Syari’at dan Peraturan/perundangan)

Kesesuaian dan keserasian hubungan ini tak lain karena nilai-nilai adat Minang, yang digali dan dijalankan sebelum kedatangan Agama Islam, memiliki landasan yang sama dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis. Misalnya, ketika, ayat Al-Qur’an yang pertama turun pada tanggal 17 Ramadhan di kota mekkah:
Iqra bismirabbikallazi khalaq # Khalaqal insanamin ‘alaq # Iqra’ warabbukal akram # Allazi ‘allama bil qalam # ‘Alamal insaa namaa lam ya’lam.
• Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan * Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah # Yang mengajar manusia dengan pena # Yang mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.

Jauh sebelum itu, para ninik mamak di ranah minang telah memberi petuah agar masyarakat Minang memahami dan mengikuti hakekat hukum alam (sunatullah), seperti petuah dibawah ini:
Api, paneh dan mambaka,
Aie, mambasahi dan manyuburkan,
Kayu, bapokok,
Ayam, bakokok,
Kambiang, mangambiak,
harimau mangaum
Gunuang, bakabuik, dan sebagainya.

Dipertegas pula dengan petatah lain:
Panakiak pisau sirauik,
ambiak galah batang lintabuang,
silodang ambiak kanyiru,
Nan satitiak jadikan lauik,
Nan sakapa jadikan gunuang,
Alam takambang jadi guru.

Falsafah “alam takambang jadi guru”, adalah falsafah hidup yang sangat berkesesuaian dengan banyak firman Allah dalam Al-Qur’an, diantaranya pada surat ‘ Ar-Ra’d ayat 3, yang artinya:
“Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.

Atau firman Allah dalam surat al-Ankabut <29>: ayat 44:
“Khalaqallahus samaa waa ti wal ardha bilhaq* innafii zalika la aayatal lilmu’ miniin
” Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang jelas. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang percaya.”

Itulah sebuah kearifan lokal di Ranah Minang, sebuah falsafah hidup yang berlandaskan akal dan iman, yang berpijak pada sunatullah dan tuntunan Al-Qur’an. “Alam takambang jadi guru”.. “Indak lakang di paneh, indak lapuak di hujan”. Dari dahulu sampai kini, tak henti, berlaku turun temurun.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Bapak-bapak, ibu-ibu, angku-angku, anak dan kamanakan yang berhadir di tanah lapang ini.
Lihatlah sekeliling kita, Nagari Gunuang yang indah ini, mancaliak ka mudiak, tampak puncak gunuang Marapi. Mancaliak ka arah Barat ado Gunuang Singgalang nan manjulang. Mancaliak dari sabalah ateh tampak danau Singkarak yang menyimpan ikan bilih, yang hanya satu-satunya di dunia, endemik di danau Singkarak.
Ini lah kampuang kito, Gunuang Sajati, gunuang sansai bakuliliang, jo hutan badaun rimbun, dari mudiak ka ilie tak berhenti aie mangalie. Tahampa sawah-sawah, dari bukik ka lambah-lambah, bapamatang- bajanjang-janjang.
Ado mato aie bula’an di Sigando, ado mato air di ikue lubuak dan tempat lain. Airnya bersih bening tak perlu disaring.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd

Subhanallah, demikian besar anugerah Allah yang tercurah bagi kita urang nagari Gunuang. Dibandingkan dengan wilayah di belahan lain di muka bumi, yang kering kerontang, Nagari Gunuang tak lain adalah sebuah Surga yang terhampar di muka bumi, yang diperuntukkan oleh Allah bagi kita urang nagari Gunuang. Allah telah memelihara kesuburan tanah kita dengan muntahan abu vulkanik Gunung Marapi. Hutan-hutan lebat di lereng gunung Marapi berjasa menyimpan air tanah bagi kehidupan kita dan sawah kita.

Kalau pun ada sesekali gempa vulkanik, tak lain agar kita selalu mengingat Allah, bahwa Allah lah pemilik alam semesta, kita diingatkan agar selalu menjalankan perintahNya dan menghindari larangan-Nya, agar supaya kita terhindar dari kemurkaan-Nya. Jadi, sangat beralasan bagi kita untuk selalu merenungkan firman Allah dalam surat Ar-rahman yang berulang-ulang dikatakan-Nya::

Fabiayalaa irabbikumaa tukazibaan
(Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd
Hadirin yang rahima kumullah
Kehadiran surau di ranah Minang adalah suatu kearifan lokal lain, yang diwariskan oleh niniek mamak kita, yang perlu kita pelihara. Di Nagari Gunuang kita mengetahui, ada surau di Sigando, ada surau di Gantiang, ada surau di simpang Lubuak, ada di surau Ngalau atau ditempat lainnya.

Dahulu, beberapa puluh tahun yang lalu, tidak ada seorang anakpun disuatu kampung yang tidak belajar mengaji di surau. Semua anak-anak, siang hari belajar di sekolah umum, malam hari belajar mengaji di surau. 7 hari dalam seminggu tanpa hari libur. Pada setiap akhir minggu mengadakan panggung gembira, dengan bernyanyi dan latihan berpidato. Anak-anak laki-laki yang sudah baliq, oleh ibunya diperintahkan untuk tidur di surau. Bersama dengan teman sebaya.

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Dari perjalanan sejarah, kita mengetahui bahwa sejak tempo dulu di Ranah Minang, Surau memiliki peran penting dalam mendidik generasi muda, surau terbukti sukses menjadi instrumen pembentuk karakter masyarakat minang.

Di surau inilah anak-anak remaja memulai PERJALANAN untuk memperoleh bekal kecakapan hidup. Di surau inilah mereka memantapkan eksistensi diri dan kepercayaan diri. Di surau lah mereka mendapat kecakapan membaca, menulis dan berpidato. Di surau lah mereka mengasah kecakapan berkomunikasi, berdiplomasi dan bersilat lidah, berpantun, ber petatah-petitih. Di surau lah mereka memperoleh keterampilan personal seperti bersilat untuk membela diri. Di surau lah mereka memperoleh kecakapan sosial – bermasyarakat,Dan Salah satu kecakapan yang penting adalah kecakapan bermusyawarah untuk mengambil keputusan yang bersandar pada falsafah:

“Bulek air karano pambuluah, bulek kato karano mufakaek”.

Sejarah mencatat, bahwa surau adalah tempat para tokoh atau cendekiawan asal Minang Kabau tempo dulu, sebut saja seperti Buya Hamka, Moh. Natsir, A.R. Sutan Mansyur, dan banyak lagi yang lain,yang memulai “perjalanan” hidup mereka melalui surau, guna memperoleh kecakapan hidup atau apa yang sekarang sangat popular dengan istilah “LIFE SKILL”.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Konsep pendidikan yang bernama “LIFE SKILL” atau “Kecakapan Hidup” itu dicetuskan oleh pakar pendidikan Barat, baru pada awal tahun 2000 lalu. Konsep ini diamini dan oleh para Pakar Pendidikan Indonesia yang kuliah di Amerika untuk di gulirkan sebagai konsep unggulan di Indonesia. Konsep pendidikan “life skill” ala Barat tersebut, menurut pakarnya meliputi: i)kecakapan adaptasi diri, ii) kecakapan komunikasi, iii) kecakapan memilih dan memilah masalah, iv)kecakapan mengambil keputusan, v) kecakapan personal dan sosial.

Hadirin yang dimuliakan Allah
Ternyata konsep pendidikan “life skill” yang digagas oleh pakar pendidikan Barat 10 tahun yang lalu itu, telah dilaksanakan di Ranah Minang oleh para jenius cendekiawan-cadiak pandai, ninik mamak kita beberapa abad yang lalu, yaitu melalui pendidikan di Surau.
Dengan perkataan lain, kita boleh berbangga hati bahwa pendidikan “life skill” melalui Surau ternyata telah ada 3 abad lebih, mendahului konsep pendidikan ala barat yang disebut dengan “life skill education” yang baru digagas di tahun 2000-an itu.

Oleh karena itu, rasanya sangat beralasan, bila kita mempertanyakan, bagaimanakah kini eksistensi SURAU sebagai lembaga pendidikan yang sudah terbukti berhasil pada jamannya. Bagaimanakah kondisinya kini ditengah era globalisasi, ditengah adanya penetrasi budaya Barat yang hadir begitu jauh dalam kehidupan kita melalui kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi.
Timbul sebuah pertanyaan yang mergelitik, Apakah iya ? fungsi surau sebagai sentra pendidikan yang juga berbasis pada “TIGO TUNGKU SAJARANGAN”, yaitu berbasis pada “OTAK (akademik), HATI (akhlak mulia) dan TANGAN (keterampilan), seperti yang pernah digagas dan dijalankan oleh Angku Muhammad Syafei di INS Kayutanam tahun pada 1926, telah hilang kiprahnya di dunia pendidikan di Ranah Minang.

Hadirin yang dimuliakan Allah
Saat sekarang ini sedang digulir Gerakan Kembali ke Surau, tujuannya adalah untuk membangkitkan atau menggiatkan lagi atau merevitalisasi fungsi surau sebagai pusat keislaman (Islamic Center), seperti tempo dulu, dengan maksud agar generasi muda mampu menghadapi penetrasi budaya asing yang demikian besar dampak buruknya terhadap kehidupan Islami yang menjadi ciri masyarakat Minang.

Hadirin yang dimuliakan Allah
Gagasan kembali ke Surau, ditengah kegamangan kita menghadapi era globasi yang ditandai dengan mudahnya teknologi komunikasi dan informasi masuk ke rumah kita, dengan dampak baik dan buruknya, sangat perlu kiranya kita dukung. Kita perlu menggali kembali keunggulan pendidikan berciri Surau. Yaitu sebuah konsep pendidikan keislaman yang berbasis kearifan lokal ala Alam Minangkabau, yang telah terbukti mampu membekali keterampilan hidup atau life skill bagi lulusannya.
Untuk itu beberapa langkah yang bisa, kita lakukan adalah:

• Pertama: Menginventarisir jumlah surau -surau yang masih ada di setiap kampung di setiap nagari
• Kedua: Membuat kajian atas kondisi surau-surau yang ada, dilihat dari kondisi fisik, pengelolaan, guru dan peserta didik yang ada.
• Ketiga: Membentuk dan Meningkatkan forum koordinasi atau majelis quro antara surau di dalam suatu nagari, sampai terbentuk koordinasi setingkat Propinsi.
• Ke empat :Mengikutsertakan peran Pengurus Masjid (DKM), Ninik Mamak (KAN), Majelis Ulama (MUI), para tokoh pendidik, tokoh orpol dan ormas Islam dalam rencana pengembangan SURAU MODERN di Ranah Minang.
• Kelima : Sesuai dengan UUD 1945 bahwa pendidikan adalah menjadi tugas negara, maka program pengembangan dan pengelolaan SURAU MODERN mestinya tercermin dalam APBN dalam APBD Kabupaten/ Kota.

Foto: MENGGALI POTENSI  SURAU  menjadi/sebagai ISLAMIC  CENTER<br />
oleh : Taufik Ahmad Taudjidi – Imam Basa Nagari Gunuang</p>
<p>(Kutipan Khutbah Idul Fitri 1433 H, 19 Agustus 2012, di Lapangan SMPN 3 Padang Panjang)</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd<br />
Kaum Muslimin yang berbahagia, </p>
<p>Saat ini, dalam rangka membangun kemandarian bangsa guna menghadapi persaingan di era globalisasi, tengah digulirkan konsep pembangunan berbasis kearifan lokal atau local wisdom. Yaitu, konsep pembangunan berbasis pada kondisi budaya lokal, termasuk mengacu pada pesan-pesan moral dan motivasi yang hidup di masyarakat.</p>
<p>Salah satu”kearifan lokal” yang ada di Ranah Minang,  adalah  berlakunya  SISTEM MATRILINEAL, yaitu sistem waris harta pusaka tinggi yang berpuncak dan turun temurun pada garis ibu.<br />
Saat ini, di seluruh dunia,  hanya terdapat  4 (empat) suku bangsa  yang menganut sistem Matrilineal, yaitu sebuah suku bangsa di benua Afrika, sebuah suku Indian di benua Amerika , sebuah suku di India dan satu-satunya  suku di Indonesia, yaitu Minangkabau.<br />
Sistem matrilineal dengan segala sub-sistemnya  adalah “Tiang Agung Minangkabau” kata alm Buya Hamka. Hak Waris Harta pusaka tinggi sebagai sub sistem dari sistem Matrilineal, hendaknya harus tetap dijaga keberadaannya. Harta pusaka tinggi adalah harta bersama sebuah kaum, adalah harta bersama untuk dinikmati, bukan harta untuk dibagi-bagi. Pewarisan harta pusaka tinggi adalah hanya sekedar peralihan peran, bukan peralihan milik. Harta pusaka tinggi turun dari niniek ka mamak, dari mamak ka kamanakan dan seterusnya  ka bawah menurut garis ibu.<br />
Harta pusako tinggi  tak boleh berpindah tangan karena diperjual-belikan.  Harta Pusako tinggi adalah sebagai bukti “asal-usul” seseorang atau kaum. Seseorang dapat dikatakan adalah keturunan Minang, hanya apabila masih mempunyai harta pusako tinggi. Dalam adat, ini dikatakan:<br />
“Nan ba pandam ba pakuburan, nan basasok bajarami, kok dakek dapek dikakok, kok jauah dapek diantakan”<br />
Apabila sebuah keluarga atau kaum tak lagi punya harta pusako tinggi, orang atau keluarga itu tidaklah lengkap keminangkabauannya, bahkan sudah dianggap punah. Mereka tak perlu lagi punya panghulu, karena adat berdiri diatas pusako tinggi.</p>
<p>Dari uraian ringkas diatas, dimensi  kearifan lokal yang menyertainya adalah:</p>
<p>Bahwa sejauh manapun anak-cucu orang Minang pergi merantau, bahkan sampai  ke Australia atau ke Amerika, selama mereka masih punya harato pusako tinggi, mereka dan anak keturunannya akan tetap punya<br />
kampung halaman di Ranah Minang, dan mereka tetap  bangga dengan RanahMinang.</p>
<p>Kondisi emosional itulah tampaknya yang terpancar dari gegap gempitasetiap  acara “pulang Basamo”, seperti yang tampak pada setiap lebaran  saat ini.</p>
<p>Kaum Muslimin yang berbahagia, </p>
<p>Keunikan lain dari alam minangkabau yang mencerminkan kearifan lokal adalah adanya Falsafah Hidup yang sangat terkenal:<br />
“ ADAT BERSANDI SYARA’, SYARA’ BERSANDI KITABULLAH”.</p>
<p>Nilai-nilai Agama Islam, yang menganut sistem patrilineal, secara arif diterima oleh adat dan budaya Minangkabau tanpa mengorbankan adat budaya yang berlaku. Bahkan Nilai-nilai agama dan adat saling memperkuat, kokoh dalam keserasian dan keharmonisan, menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Saling isi mengisi. Kaum adat dan kaum agama bekerjasama saling bahu membahu membangun masyarakat.<br />
Perpaduan ini telah melahirkan harmoni  sosial  di bawah sistem kepemimpinan tripartit yang disebut TTS (Tungku nan Tigo Sajarangan) yang terdiri dari – Ninik Mamak , Alim Ulama, dan Cerdik Pandai. Mereka bersinergi menjaga dan menjalankan  TTS yang lain pula, Tali nan Tigo Sapilin, yaitu Adat, Syari’at  dan Peraturan/perundangan)</p>
<p>Kesesuaian dan keserasian hubungan ini tak lain karena nilai-nilai adat Minang, yang digali dan dijalankan  sebelum kedatangan Agama Islam, memiliki landasan yang sama dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis. Misalnya, ketika, ayat  Al-Qur’an yang pertama turun pada tanggal 17 Ramadhan di kota mekkah:<br />
Iqra bismirabbikallazi khalaq # Khalaqal insanamin ‘alaq # Iqra’ warabbukal akram # Allazi ‘allama bil qalam # ‘Alamal insaa namaa lam ya’lam.<br />
•	Bacalah dengan menyebut  nama Tuhanmu yang menciptakan * Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah # Yang mengajar manusia dengan pena # Yang mengajar manusia  apa yang tidak diketahuinya. </p>
<p>Jauh sebelum itu, para ninik mamak di ranah minang telah memberi petuah agar  masyarakat Minang memahami dan mengikuti hakekat hukum alam (sunatullah), seperti petuah  dibawah ini:<br />
Api, paneh dan mambaka,<br />
Aie, mambasahi dan manyuburkan,<br />
Kayu, bapokok,<br />
Ayam, bakokok,<br />
Kambiang, mangambiak,<br />
harimau mangaum<br />
Gunuang, bakabuik, dan sebagainya.</p>
<p>Dipertegas pula dengan petatah lain:<br />
Panakiak pisau sirauik,<br />
ambiak galah batang lintabuang,<br />
silodang ambiak kanyiru,<br />
Nan satitiak jadikan lauik,<br />
Nan sakapa jadikan gunuang,<br />
Alam takambang jadi guru.</p>
<p>Falsafah “alam takambang jadi guru”, adalah falsafah hidup yang   sangat berkesesuaian  dengan banyak firman Allah dalam Al-Qur’an, diantaranya pada surat ‘ Ar-Ra’d ayat 3, yang artinya:<br />
"Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan".</p>
<p>Atau  firman Allah dalam surat al-Ankabut <29>: ayat 44:<br />
“Khalaqallahus samaa waa ti wal ardha bilhaq* innafii zalika la aayatal lilmu’ miniin<br />
" Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan  yang jelas. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat  tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang percaya."</p>
<p>Itulah sebuah kearifan lokal di Ranah Minang, sebuah falsafah hidup yang berlandaskan akal dan iman, yang berpijak  pada sunatullah dan tuntunan Al-Qur’an. “Alam takambang jadi guru”.. “Indak lakang di paneh, indak lapuak di hujan”. Dari dahulu sampai kini, tak henti, berlaku turun temurun. </p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd<br />
Hadirin yang dimuliakan Allah,<br />
Bapak-bapak, ibu-ibu, angku-angku, anak dan kamanakan yang berhadir di tanah lapang ini.<br />
Lihatlah sekeliling kita, Nagari Gunuang yang indah ini, mancaliak ka  mudiak, tampak puncak gunuang Marapi. Mancaliak ka arah Barat  ado Gunuang Singgalang nan manjulang. Mancaliak dari sabalah ateh tampak danau Singkarak yang menyimpan ikan bilih, yang hanya  satu-satunya di dunia,  endemik di danau Singkarak.<br />
Ini lah kampuang kito, Gunuang Sajati, gunuang sansai bakuliliang, jo hutan badaun rimbun, dari mudiak ka ilie tak berhenti aie mangalie. Tahampa sawah-sawah, dari bukik ka lambah-lambah,  bapamatang- bajanjang-janjang.<br />
 Ado mato aie bula’an di Sigando, ado mato air di ikue lubuak dan tempat lain. Airnya bersih bening tak perlu disaring.</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd</p>
<p>Subhanallah, demikian besar anugerah Allah  yang tercurah bagi kita urang nagari Gunuang. Dibandingkan dengan wilayah di belahan lain di muka bumi, yang kering kerontang, Nagari Gunuang tak lain adalah sebuah Surga yang terhampar di muka bumi, yang  diperuntukkan oleh Allah bagi kita urang nagari Gunuang. Allah telah memelihara kesuburan tanah kita dengan muntahan abu vulkanik Gunung Marapi. Hutan-hutan lebat di lereng gunung Marapi berjasa  menyimpan air tanah bagi kehidupan kita dan sawah kita. </p>
<p>Kalau pun ada sesekali gempa vulkanik, tak lain agar kita selalu mengingat  Allah, bahwa Allah lah pemilik alam semesta, kita diingatkan  agar selalu menjalankan perintahNya dan menghindari larangan-Nya, agar supaya kita terhindar dari kemurkaan-Nya. Jadi, sangat beralasan bagi kita untuk selalu merenungkan firman Allah dalam surat  Ar-rahman yang berulang-ulang dikatakan-Nya::</p>
<p>Fabiayalaa irabbikumaa tukazibaan<br />
(Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd<br />
Hadirin yang rahima kumullah<br />
Kehadiran surau di ranah Minang adalah suatu kearifan lokal  lain, yang diwariskan oleh niniek mamak kita, yang perlu kita pelihara. Di Nagari Gunuang kita mengetahui, ada surau di Sigando, ada surau di Gantiang, ada surau di  simpang Lubuak, ada di surau Ngalau atau ditempat lainnya. </p>
<p>Dahulu, beberapa puluh tahun yang lalu, tidak ada seorang anakpun disuatu kampung  yang tidak belajar mengaji di surau. Semua anak-anak, siang hari  belajar  di sekolah umum, malam hari belajar mengaji di surau. 7 hari dalam seminggu tanpa hari libur. Pada setiap akhir minggu mengadakan panggung gembira, dengan bernyanyi dan latihan berpidato.  Anak-anak laki-laki yang sudah baliq, oleh ibunya diperintahkan untuk tidur di surau. Bersama dengan teman sebaya.</p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah.</p>
<p>Dari perjalanan sejarah,  kita mengetahui bahwa sejak tempo dulu di Ranah Minang, Surau  memiliki peran penting dalam mendidik generasi muda, surau terbukti sukses menjadi instrumen pembentuk karakter masyarakat minang. </p>
<p>Di surau inilah anak-anak remaja memulai PERJALANAN untuk memperoleh bekal kecakapan hidup.   Di surau inilah mereka memantapkan eksistensi diri dan kepercayaan diri. Di surau lah mereka  mendapat kecakapan membaca, menulis dan berpidato. Di surau lah mereka  mengasah kecakapan berkomunikasi, berdiplomasi dan bersilat lidah, berpantun, ber petatah-petitih.  Di surau lah mereka memperoleh keterampilan personal seperti bersilat untuk membela diri. Di surau lah mereka memperoleh kecakapan sosial – bermasyarakat,Dan Salah satu kecakapan yang penting adalah kecakapan bermusyawarah untuk mengambil keputusan yang bersandar pada falsafah:</p>
<p>“Bulek air karano pambuluah, bulek kato karano mufakaek”.</p>
<p>Sejarah mencatat, bahwa surau adalah tempat para tokoh  atau cendekiawan asal Minang Kabau tempo dulu, sebut saja seperti  Buya Hamka, Moh. Natsir, A.R. Sutan Mansyur,   dan banyak lagi yang lain,yang memulai “perjalanan” hidup mereka melalui surau, guna  memperoleh kecakapan hidup atau apa yang sekarang sangat popular dengan istilah “LIFE SKILL”.</p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah</p>
<p>Konsep pendidikan yang bernama “LIFE SKILL” atau “Kecakapan Hidup” itu  dicetuskan oleh pakar pendidikan Barat, baru pada awal tahun 2000 lalu. Konsep ini  diamini dan oleh para Pakar Pendidikan Indonesia yang kuliah di Amerika untuk di gulirkan sebagai konsep unggulan di Indonesia. Konsep pendidikan “life skill” ala Barat tersebut, menurut pakarnya  meliputi: i)kecakapan adaptasi diri, ii) kecakapan komunikasi, iii) kecakapan memilih dan memilah masalah, iv)kecakapan mengambil keputusan, v) kecakapan personal dan sosial.</p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah<br />
Ternyata konsep pendidikan “life skill” yang digagas oleh pakar pendidikan Barat 10 tahun yang lalu itu, telah dilaksanakan di Ranah Minang oleh para jenius cendekiawan-cadiak pandai,  ninik mamak kita beberapa abad yang lalu, yaitu melalui pendidikan di Surau.<br />
Dengan perkataan lain, kita boleh berbangga hati bahwa pendidikan “life skill” melalui Surau ternyata telah ada  3 abad lebih, mendahului konsep pendidikan ala barat yang disebut dengan “life skill education” yang baru digagas di tahun 2000-an itu.</p>
<p>Oleh karena itu, rasanya sangat beralasan, bila  kita mempertanyakan, bagaimanakah kini eksistensi SURAU sebagai lembaga pendidikan yang sudah terbukti  berhasil pada jamannya. Bagaimanakah kondisinya kini ditengah era globalisasi, ditengah adanya penetrasi  budaya  Barat yang hadir begitu jauh dalam kehidupan kita melalui kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi.<br />
Timbul sebuah pertanyaan yang mergelitik, Apakah iya ? fungsi surau sebagai sentra pendidikan yang  juga berbasis pada  “TIGO TUNGKU SAJARANGAN”, yaitu berbasis pada “OTAK (akademik), HATI (akhlak mulia) dan  TANGAN (keterampilan), seperti yang pernah digagas dan dijalankan oleh Angku Muhammad Syafei di INS Kayutanam tahun pada 1926, telah hilang kiprahnya  di dunia pendidikan di Ranah Minang.</p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah<br />
Saat sekarang ini sedang digulir Gerakan Kembali ke Surau, tujuannya adalah untuk membangkitkan atau menggiatkan lagi atau merevitalisasi  fungsi surau sebagai pusat keislaman (Islamic Center), seperti tempo dulu, dengan maksud agar generasi muda mampu menghadapi  penetrasi budaya asing yang demikian besar dampak buruknya terhadap kehidupan Islami yang menjadi ciri masyarakat Minang. </p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah<br />
Gagasan kembali ke Surau, ditengah kegamangan kita menghadapi era globasi yang ditandai dengan mudahnya teknologi komunikasi dan informasi masuk ke rumah kita, dengan dampak baik dan buruknya,  sangat perlu kiranya kita dukung.  Kita perlu menggali kembali keunggulan pendidikan berciri  Surau. Yaitu sebuah konsep pendidikan keislaman yang berbasis kearifan lokal ala Alam Minangkabau, yang telah terbukti mampu membekali keterampilan hidup atau life skill bagi lulusannya.<br />
Untuk itu beberapa langkah yang bisa, kita lakukan adalah:</p>
<p>•	Pertama: Menginventarisir jumlah surau -surau yang masih ada di setiap kampung di setiap  nagari<br />
•	Kedua: Membuat kajian atas kondisi surau-surau yang ada, dilihat dari kondisi fisik, pengelolaan, guru dan peserta  didik  yang ada.<br />
•	Ketiga: Membentuk dan Meningkatkan forum koordinasi atau majelis quro antara surau di dalam suatu nagari, sampai terbentuk koordinasi setingkat Propinsi.<br />
•	Ke empat :Mengikutsertakan peran Pengurus Masjid (DKM), Ninik Mamak (KAN), Majelis Ulama (MUI), para tokoh pendidik, tokoh orpol dan ormas Islam dalam rencana pengembangan SURAU MODERN di Ranah Minang.<br />
•	Kelima : Sesuai dengan UUD 1945 bahwa pendidikan adalah menjadi tugas negara, maka program  pengembangan dan pengelolaan SURAU MODERN mestinya tercermin dalam APBN  dalam APBD Kabupaten/ Kota.” src=”<a href=https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc7/c0.0.403.403/p403x403/481494_4970941831147_743086159_n.jpg&#8221; height=”403″ width=”403″ />

Imam & Khathib Masjid Al Haram, Ahmad Al Khathib Al Minangkabawi

Kategori: Biografi

14 September 2012

A. Muqaddimah

Dalam panggung sejarah, Islam sudah lama dikenal oleh penduduk Melayu. Bahkan menurut Ustadz ‘Abdul Malik bin ‘Abdul Karim bin Amrullah rahimahullah atau yang lebih dikenal dengan Hamka, Islam sudah melebarkan sayapnya di bumi Melayu sejak abad pertama hijriah. Namun sayang, meski Islam sudah sekian abad di Melayu, ajaran-ajaran yang diamalkan kaum muslimin di sana banyak yang menyimpang dari ajaran Islam yang dibawa Rasulullah. Ajaran-ajaran tasawwuf ala shufi dan keyakinan-keyakinan bid’ah dan sesat seperti takhayul, khurafat sampai ajaran martabat tujuh atau wihdatul wujud banyak mewarnai amalan-amalan kaum muslimin di bumi Melayu.

Seiring bergulingnya waktu, kaum muslimin di Melayu mulai sadar akan kekeliruan ajaran yang selama ini mereka anggap bagian dari Islam justru bertentangan. Maka usaha-usaha dalam memurnikan ajaran Islam di Melayu pun segera dimulai. ‘Episode’ pertama diawali oleh tiga jama’ah haji yang membawa oleh-oleh dari Tanah Suci berupa ‘filter’ ajaran sesat di ranah Minangkabau. Kemudian ‘episode’ berikutnya ditunjukkan oleh Syaikh Ahmad Al Khathib rahimahullah, seorang ulama yang muqim di Makkah yang terkenal dengan kegigihannya dalam menyerang kelompok-kelompok ahlul bida’ wal ahwa’ dan adat-adat yang bertentangan dengan syariat Islam baik melalui tulisan-tulisan maupun murid-muridnya yang kembali ke Melayu.

B. Nasab & Kelahiran Syaikh Ahmad Al Khathib

Beliau bernama lengkap Al ‘Allamah Asy Syaikh Ahmad bin ‘Abdul Lathif [bin ‘Abdurrahman] bin ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Khathib Al Minangkabawi [Al Minkabawi] Al Jawi Al Makki Asy Syafi’i Al Atsari rahimahullah.

Syaikh Ahmad Al Khathib dilahirkan di Koto Tuo, Desa Kota Gadang, Kec. Ampek Angkek Angkat Candung, Kab. Agam, Prov. Sumatera Barat pada hari Senin 6 Dzul Hijjah 1276 H bertepatan dengan 26 Mei 1860 M di tengah keluarga bangsawan. ‘Abdullah, kakek Syaikh Ahmad atau buyut menurut riwayat lain, adalah seorang ulama kenamaan. Oleh masyarakat Koto Gadang, ‘Abdullah ditunjuk sebagai imam dan khathib. Sejak itulah gelar Khathib Nagari melekat dibelakang namanya dan berlanjut ke keturunannya di kemudian hari.

Ada perbedaan mengenai siapa kakek Syaikh Ahmad. Menurut ‘Umar ‘Abdul Jabbar, ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al Mu’allimi, dan Ibrahim bin ‘Abdullah Al Hazimi, kakek Syaikh Ahmad adalah ‘Abdullah. Sedangkan menurut Dadang A. Dahlan, kakek Syaikh Ahmad adalah ‘Abdurrahman yang bergelar Datuk Rangkayo Basa. Terlepas dari perbedaan itu, yang jelas Syaikh Ahmad berasal dari keluarga bangsawan, baik dari jalur ayah maupun ibu.

C. Perjalanan Syaikh Ahmad dalam Thalabul ‘Ilmi

Ketika masih di kampung kelahirannya, Ahmad kecil sempat mengenyam pendidikan formal, yaitu pendidikan dasar dan berlanjut ke Sekolah Raja atau Kweek School yang tamat tahun 1871 M.

Di samping belajar di pendidikan formal yang dikelola Belanda itu, Ahmad kecil juga mempelajari mabadi’ (dasar-dasar) ilmu agama dari Syaikh ‘Abdul Lathif, sang ayah. Dari sang ayah pula, Ahmad kecil menghafal Al Quran dan berhasil menghafalkan beberapa juz.

Pada tahun 1287 H, Ahmad kecil diajak oleh sang ayah, ‘Abdul Lathif, ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah rangkaian ibadah haji selesai ditunaikan, ‘Abdullah kembali ke Sumatera Barat sementara Ahmad tetap tinggal di Makkah untuk menyelesaikan hafalan Al Qurannya dan menuntut ilmu dari para ulama-ulama Makkah terutama yang mengajar di Masjid Al Haram terutama yang mengajar di Masjid Al Haram.

Di antara guru-guru Syaikh Ahmad di Makkah adalah:

  1. Sayyid ‘Umar bin Muhammad bin Mahmud Syatha Al Makki Asy Syafi’I (1259-1330 H)
  2. Sayyid ‘Utsman bin Muhammad Syatha Al Makki Asy Syafi’i (1263-1295 H)
  3. Sayyid Bakri bin Muhammad Zainul ‘Abidin Syatha Ad Dimyathi Al Makki Asy Syafi’I (1266-1310 H) –penulis I’anatuth Thalibin.

    Dalam Ensiklopedi Ulama Nusantara dan Cahaya dan Perajut Persatuan mencatat beberapa ulama lain sebagai guru Syaikh Ahmad, yaitu:
  4. Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (wafat 1304) –mufti Madzhab Syafi’I di Makkah-
  5. Yahya Al Qalyubi
  6. Muhammad Shalih Al Kurdi

Mengenai bagaimana semangat Syaikh Ahmad dalam thalabul ‘ilmi, mari sejenak kita dengarkan  penuturan seorang ulama yang sezaman dengan beliau, yaitu Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar rahimahullah dalam Siyar wa Tarajim hal. 38-39, “…Beliau adalah santri teladan dalam semangat, kesungguhan, dan ketekunan dalam menuntut ilmu serta bermudzakarah malam dan siang dalam pelbagai disiplin ilmu. Karena semangat dan ketekunannya dalam muthala’ah dalam ilmu pasti seperti mathematic (ilmu hitung), aljabar, perbandingan, tehnik (handasah), haiat, pembagian waris, ilmu miqat, dan zij, beliau dapat menulis buku dalam disiplin ilmu-ilmu itu tanpa mempelajarinya dari guru (baca: otodidak).”

Selain mempelajari ilmu Islam, Ahmad juga gemar mempelajari ilmu-ilmu keduniaan yang mendudkung ilmu diennya seperti ilmu pasti untuk membantu menghitung waris dan juga bahasa Inggris sampai betul-betul kokoh.

D. Syaikh Ahmad Menikah dan Menjadi Seorang Ayah

Di antara kebiasaan Syaikh Ahmad di Makkah adalah menyeringkan diri mengunjungi toko buku milik Muhammad Shalih Al Kurdi yang terletak di dekat Masjid Al Haram untuk membeli kitab-kitab yang dibutuhkan atau sekedar membaca buku saja jika belum memiliki uang untuk membeli. Karena seringnya Syaikh Ahmad mengunjungi toko buku itu membuat pemilik toko, Shalih Al Kurdi, menaruh simpati kepadanya, terutama setelah mengetahui kerajinan, ketekunan, kepandaian dan penguasaannya terhadap ilmu agama serta keshalihannya.

Ketertarikan Shalih Al Kurdi terhadap Syaikh Ahmad dibuktikan dengan dijadikannya Syaikh Ahmad sebagai menantu. Ya. Setelah banyak mengetahui tentang prihal dan kepribadian Syaikh Ahmad yang mulia itu, Shalih Al Kurdi pun menikahkannya dengan putrid pertamanya yang kata Hamka dalam Tafsir Al Azhar bernama Khadijah. Sebenarnya Syaikh Ahmad sempat ragu menerima tawaran dari Al Kurdi karena tidak adanya biaya yang mencukupi dan telah mengatakan terus terang, akan tetapi justru tidak sedikit pun mengurangi niat besar dari Al Kurdi untuk menjaqdikannya menantu. Bahkan Al Kurdi berjanji menanggung semua biaya pernikahan termasuk mahar dan kebutuhan hidup keluarga Syaikh Ahmad. Masya Allah. Jika karena bukan kepribadian Syaikh Ahmad yang mulia dan keilmuannya, mungkin hal semacam ini tidak akan pernah terjadi.

Tentang pengambilan Syaikh Ahmad sebagai menantu Shalih Al Kurdi, Syarif ‘Aunur Rafiq bertanya terheran kepada Shalih, “Aku dengar Anda telah menikahkan putrid Anda dengan lelaki Jawi yang tidak pandai berbahasa ‘Arab kecuai setelah belajar di Makkah?” “Akan tetapi ia adalah lelaki shalih dan bertaqwa,” jawab Shalih seketika, “Padahal Rasulullah shallallahu ‘alai wa sallam bersabda, ‘Jika dating kepada kalian seseorang yang agama dan amanahnya telah kalian ridhai, maka nikahkanlah ia.’

Dari pernikahannya dengan Khadijah itu, Syaikh Ahmad dikaruniai seorang putra, yaitu ‘Abdul Karim (1300-1357 H).

Ternyata pernikahan Syaikh Ahmad dengan Khadijah tidak berlangsung lama karena Khadijah meninggal dunia.

Shalih Al Kurdi, sang mertua, untuk menikah kembali dengan purinya yang lain, yaitu adik kandung Khadijah yang bernama Fathimah. Fathimah adalah seorang seorang wanita teladan dalam keshalihan dan memiliki hafalan Al Quran yang baik. Oleh karena itu tidak heran jika anak-anaknya kelak menjadi orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di Timur Tengah, yaitu:

  1. ‘Abdul Malik. Ketua redaksi koran Al Qiblah dan memiliki kedudukan tinggi di Al Hasyimiyyah (Yordan). Belajar kepada sang sang ayah lalu mempelajari adab dan politik.
  2. ‘Abdul Hamid Al Khathib –seorang ulama ahli adab dan penyair kenamaan yang pernah menjadi staf pengajar di Masjid Al Haram dan duta besar Saudi untuk Pakistan. Di antara karya ilmiahnya adalah Tafsir Al Khathib Al Makki 4 jilid, sebuah nazham (sya’ir) berjudulSirah Sayyid Walad Adam shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al Imam Al ‘Adil (sejarah dan biografi untuk Raja ‘Abdul ‘Aziz Alu Su’ud)-

Kesuksesan Syaikh Ahmad dalam mendidik anak-anaknya sehingga menjadi tokoh-tokoh berhasil bukanlah omong kosong belaka. Keberhasilan itu berawal dari sistem pendidikan yang mengacu kepada nilai-nilai ajaran Islam yang mulia terutama masalah ‘aqidah. Mari sejenak kita dengar langsung penuturan ‘Abdul Hamid Al Khathib tentang bagaimana Syaikh Ahmad menanamkan ‘aqidah pada anak-anaknya, “Ketika kecilku dulu, jika aku meminta sesuatu dari ayahku, beliau akan berkata,’Mintalah kepada Allah, pasti Dia akan memberimu (apa yang kamu minta).’ Aku pun balik bertanya, ‘Memangnya Allah di mana, yah?’ ‘Dia berada di langit sana,’ jawab ayahku,’Dia dapat melihatmu, sedangkan kamu tidak melihat-Nya.’ Tidak selang berapa lama, ayahku pun mendatangiku dengan membawa apa yang kuminta seraya berkata, ‘Ni, Allah telah mengirim kepadamu apa yang tadi kamu minta .’

Dulu juga jika aku meminta sesuatu kepada Allah dan tidak aku dapatkan, maka aku pun segera mengadu kepada ayahku, ‘Sesungguhnya aku telah meminta ini dan itu kepada Allah, tapi kok Allah tidak memberiku, yah?’ Ayah pun segera menjawab, ‘Ini tidak mungkin terjadi kecuali juka kamu sendiri yang bikin Allah murka. Ya mungkin kamu sudah berlaku sembrono dalam ibadahmu, atau kamu terlambat shalat, atau mungkin kamu sudah menggunjing seseorang? Maka bertaubatlah dan minta ampunlah kepada Allah, pasti Dia akan memberikan semua permintaanmu.’ Aku pun segera menlakukan wasiat ayahku, maka semua keinginanku pun dapat terwujud.”

Lihatlah, bagaimana pendidikan aqidah yang diberikan Syaikh Ahmad kepada anaknya ini. Pendidikan mana lagi yang lebih mulia dari penanaman ‘aqidah yang kuat pada diri seorang anak. Bukankah melukis di batu itu sulit namun hasilnya akan lebih kekal? Demikian juga dengan diri seorang anak. Seorang anak kecil itu bagaikan gelas kaca yang masih kosong. Ia tergantung dengan siapa yang pertama kali mengisinya. Pendidikan yang seperti inilah yang akan menanamkan rasa cinta yang tinggi kepada Allah, bersandar hanya kepada kepada-Nya, meminta hanya kepada-Nya semata bahkan hal-hal yang kecil sekalipun. Inilah pendidikan tauhid yang pernah dipraktekkan Rasulullah kepada keponakannya, Ibnu ‘Abbas, yang ketika itu usianya masih kanak-kanak, “Jika kamu meminta pertolongan, mintalah (pertolongan) kepada Allah.”

Potret lain dari pendidikan yang diberikan Syaikh Ahmad kepada keluarganya adalah beliau selalu menegur dan memperingati bagi siapa saja yang menyia-nyiakan waktunya dengan bermain-main dan berbagai hal yang dapat melalaikan termasuk alat-alat music dan nyanyian. Semua ini dilakukan Syaikh Ahmad karena bentuk rasa sayangnya terhadap keluarganya. Karena melarang tidak selamanya bermakna benci. Tidak seperti anggapan sementara sebagian orang dalam mengekspresikan rasa cintanya kepada keluarganya. Mereka kira dengan membiarkan semua gerak-gerik dan tingkah laku keluarganya itulah yang disebut cinta. Padahal boleh jadi prilaku-prilaku itu mengundang murka Allah ‘Azza wa Jalla.  Akan tetapi berbeda dengan Syaikh Ahmad, ia menyadari bahwa seorang ayah kelak akan dimintai pertanggungjawaban di depan pengadilan Rabbul ‘alamin. Maka dengan segenap kemampuannya, Syaikh Ahmad menganjurkan kepada semua keluarganya untuk menjauhi semua hal-hal yang tidak bermanfaat dan mencukupkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat saja. Tidakkah Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari neraka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas tanggungannya.” Sampai sabda beliau, “Dan laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya.”

E. Karir Syaikh Ahmad di Makkah

Kealiman Syaikh Ahmad dibuktikan dengan dilangkatnya beliau menjadi imam dan khathib sekaligus staf pengajar di Masjid Al Haram. Jabatan sebagai imam dan khathib bukanlah jabatan yang mudah diperoleh. Jabatan ini hanya diperuntukkan orang-orang yang memiliki keilmuan yang tinggi.

Mengenai sebab pengangkatan Syaikh Ahmad Al Khathib menjadi imam dan khathib, ada dua riwayat yang nampaknya saling bertentangan. Riwayat pertama dibawakan oleh ‘Umar ‘Abdul Jabbar dalam kamus tarajimnya, Siyar wa Tarajim (hal. 39). ‘Umar ‘Abdul Jabbar mencatat bahwa jabatan imam dan khathib itu diperoleh Syaikh Ahmad berkat permintaan Shalih Al Kurdi, sang mertua, kepada Syarif ‘Aunur Rafiq agar berkenan mengangkat Syaikh Ahmad menjadi imam & khathib. Sedangkan riwayat kedua dibawakan oleh Hamka rahimahullah dalam Ayahku, Riwayat Hidup Dr. ‘Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera yang kemudian dinukil oleh Dr. Akhria Nazwar dan Dadang A. Dahlan. Ustadz Hamka menyebutkan cerita ‘Abdul Hamid bin Ahmad Al Khathib, suatu ketika dalam sebuah shalat berjama’ah yang diimami langsung Syarif ‘Aunur Rafiq. Di tengah shalat, ternyata ada bacaan imam yang salah, mengetahui itu Syaikh Ahmad pun, yang ketika itu juga menjadi makmum, dengan beraninya membetulkan bacaan imam. Setelah usai shalat, Syarif ‘Aunur Rafiq bertanya siapa gerangan yang telah membenarkan bacaannya tadi. Lalu ditunjukkannya Syaikh Ahmad yang tak lain adalah menantu sahabat karibnya, Shalih Al Kurdi, yang terkenal dengan keshalihan dan kecerdasannya itu. Akhirnya Syarif ‘Aunur Rafiq mengangkat Syaikh Ahmad sebagai imam dan khathib Masjid Al Haram untuk madzhab Syafi’i.

F. Sekelumit Aktifitas Keseharian Syaikh Ahmad Al Khathib

Keseharian para ulama memang sangat menakjubkan. Di setiap aktifitasnya selalu bernilai ibadah, sebagaimana kata pepatah Arab,‘adatul ‘abdid ‘ibadah wa ‘ibadatul ghafil ‘adah (kebiasaannya ahli ibadah itu bernilai ibadah sementara ibadahnya orang lalai itu hanya bernilai kebiasaan saja). Mereka sangat mahir dalam membagi waktu dan sangat berhati-hati dalam menggunakan waktunya. Meski mereka memiliki aktifitas mengajar, akan tetapi tidak lantas melupakan hak keluarganya. Mereka tahu kapan harus bercengkrama dengan keluarga dan kapan harus pergi mengajar para muridnya. Demikianlah yang terjadi pada diri seorang Syaikh Ahmad rahimahullah.

Berhubungan dengan aktifitas keseharian Syaikh Ahmad, sebaiknya kita dengar langsung saja penuturan Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar yang memang hidup sezaman, “(Setelah mengajar para santri di Masjid Al Haram), beliau pulang ke rumah untuk sarapan pagi dan berbaring (tidur-tiduran atau dalam bahasa jawa klekaran) sejenak, lalu kembali bermudzakarah sampai datang waktu zhuhur. Pergilah beliau ke masjid untuk menunaikan shalat zhuhur secara berjama’ah. (Usai shalat jama’ah), beliau pulang ke rumah untuk menyampaikan dua mata pelajar an kepada murid-muridnya, lalu makan siang dan tidur siang sesaat. Lalu beliau pergi ke masjid untuk menunaikan shalat ‘Ashar secara berjama’ah, pulang ke rumah menyampaikan satu pelajaran kepada para santri, kemudian mengulangi (mudzakarah) pelajaran-pelajarannya hingga datang maghrib. Beliau pun pergi ke masjid untuk shalat berjama’ah dan menyampaikan satu pelajaran berupa nasehat dan arahan sampai datang ‘Isya.

Setelah shalat, beliau pulang ke rumah untuk makan malam dan bercengkrama dengan keluarganya lalu tidur sedini mungkin. Ia bangun tidur pada sepertiga malam terakhir dan menyibukkan diri dengan menulis sampai dekat waktu fajar, lalu pergi ke masjid. Ia pun memulai aktifitasnya seperti biasanya. Demikianlah beliau menghabiskan hidupnya dalam ketaatan kepada Allah dan menyebarkan agama-Nya.”  [Siyar wa Tarajim (hal. 40)]

G.    Akhlak Syaikh Ahmad Al Khathib

Syaikh Ahmad Al Khathib dikenal ditengah masyarakat dengan baik hatinya, mulia akhlaknya, lurus niatnya, tidak suka menjilat (cari muka), dan amat murka dengan orang-orang yang sombong, dan lapang dadfa.

Itulah akhlak seorang ulama yang benar-benar mengamalkan ilmunya. Meski kedudukannya tinggi, namun beliau tidak sombong. Justru dengan kedudukannya yang tinggi itu, beliau manfaatkan untuk mengajarkan kepada manusia nilai-nilai positif. Maka tidak heran apabila nama beliau harum di kalangan manusia dan bahkan berkat akhlak mulianya itu dapat mengundang ratusan santri dari berbagai kalangan untuk belajar kepadanya.

H.    Wafatnya Syaikh Ahmad

Pada tanggal 9 Jumadil Ula tahun 1334 H, Allah ‘memanggil’ Syaikh Ahmad ke hadhirat-Nya setelah sekian lama hidup di dunia yang fana ini. Ya, jatah beliau tinggal di dunia ini telah habis setelah mencetak kader-kader yang hingga detik ini masih disebut-sebut. Jasad beliau memang sudah tiada, namun kehadirannya seakan-akan masih bisa dirasakan karena keilmuan dan peninggalan-peninggalannya berupa murid-muridnya yang terus memperjuangkan misi-misinya dan terutama karya-karya ilmiahnya yang masih terus dibaca hingga hari ini. Rahimahullah wa askanahu fasiha jannatih.

I.       Karya Tulis Syaikh Ahmad

Karya-karya tulis Syaikh Ahmad dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu karya-karya yang berbahasa Arab dan karya-karya yang berbahasa Melayu dengan tulisan Arab. Kebanyakan karya-karya itu mengangkat tema-tema kekinian terutama menjelaskan kemurnian Islam dan merobohkan kekeliruan tarekat, bid’ah, takhayul, khurafat, dan adat-adat yang bersebrangan dengan Al Quran & Sunnah.

Karya-karya Syaikh Ahmad dalam bahasab ’Arab:

  1. Hasyiyah An Nafahat ‘ala Syarhil Waraqat lil Mahalli
  2. Al Jawahirun Naqiyyah fil A’malil Jaibiyyah
  3. Ad Da’il Masmu’ ‘ala Man Yuwarritsul Ikhwah wa Auladil Akhwan Ma’a Wujudil Ushul wal Furu’
  4. Raudhatul Hussab
  5. Mu’inul Jaiz fi Tahqiq Ma’nal Jaiz
  6. As Suyuf wal Khanajir ‘ala Riqab Man Yad’u lil Kafir
  7. Al Qaulul Mufid ‘ala Mathla’is Sa’id
  8. An Natijah Al Mardhiyyah fi Tahqiqis Sanah Asy Syamsiyyah wal Qamariyyah
  9. Ad Durratul Bahiyyah fi Kaifiyah Zakati Azd Dzurratil Habasyiyyah
  10. Fathul Khabir fi Basmalatit Tafsir
  11. Al ‘Umad fi Man’il Qashr fi Masafah Jiddah
  12. Kasyfur Ran fi Hukmi Wadh’il Yad Ma’a Tathawuliz Zaman
  13. Hallul ‘Uqdah fi Tashhihil ‘Umdah
  14. Izhhar Zaghalil Kadzibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin
  15. Kasyful ‘Ain fi Istiqlal Kulli Man Qawal Jabhah wal ‘Ain
  16. As Saifu Al Battar fi Mahq Kalimati Ba’dhil Aghrar
  17. Al Mawa’izh Al Hasanah Liman Yarghab minal ‘Amal Ahsanah
  18. Raf’ul Ilbas ‘an Hukmil Anwat Al Muta’amil Biha Bainan Nas
  19. Iqna’un Nufus bi Ilhaqil Anwat bi ‘Amalatil Fulus
  20. Tanbihul Ghafil bi Suluk Thariqatil Awail fima Yata’allaq bi Thariqah An Naqsyabandiyyah
  21. Al Qaulul Mushaddaq bi Ilhaqil Walad bil Muthlaq
  22. Tanbihul Anam fir Radd ‘ala Risalah Kaffil ‘Awwamsebuah kitab bantahan untuk risalah Kafful ‘Awwam fi Khaudh fi Syirkatil Islam karya Ustadz Muhammad Hasyim bin Asy’ari yang melarang kaum muslimin untuk nimbrung di Sarekat Islam (SI)
  23. Hasyiyah Fathul Jawwad dalam 5 jilid
  24. Fatawa Al Khathib ‘ala Ma Warada ‘Alaih minal Asilah
  25. Al Qaulul Hashif fi Tarjamah Ahmad Khathib bin ‘Abdil Lathif

    Adapun yang berbahasa Melayu adalah:
  26. Mu’allimul Hussab fi ‘Ilmil Hisab
  27. Ar Riyadh Al Wardiyyah fi [Ushulit Tauhid wa] Al Fiqh Asy Syafi’i
  28. Al Manhajul Masyru’ fil Mawarits
  29. Dhaus Siraj Pada Menyatakan Cerita Isra’ dan Mi’raj
  30. Shulhul Jama’atain fi Jawaz Ta’addudil Jumu’atain
  31. Al Jawahir Al Faridah fil Ajwibah Al Mufidah
  32. Fathul Mubin Liman Salaka Thariqil Washilin
  33. Al Aqwal Al Wadhihat fi Hukm Man ‘Alaih Qadhaish Shalawat
  34. Husnud Difa’ fin Nahy ‘anil Ibtida’
  35. Ash Sharim Al Mufri li Wasawis Kulli Kadzib Muftari
  36. Maslakur Raghibin fi Thariqah Sayyidil Mursalin
  37. Izhhar Zughalil Kadzibin
  38. Al Ayat Al Bayyinat fi Raf’il Khurafat
  39. Al Jawi fin Nahw
  40. Sulamun Nahw
  41. Al Khuthathul Mardhiyyah fi Hukm Talaffuzh bin Niyyah
  42. Asy Syumus Al Lami’ah fir Rad ‘ala Ahlil Maratib As Sab’ah
  43. Sallul Hussam li Qath’i Thuruf Tanbihil Anam
  44. Al Bahjah fil A’malil Jaibiyyah
  45. Irsyadul Hayara fi Izalah Syubahin Nashara
  46. Fatawa Al Khathib dalam versi bahasa Melayu

J.       Murid-Murid Syaikh Ahmad Rahimahullah

Mengenai murid-murid Syaikh Ahmad rahimahullah, Siradjuddin ‘Abbas berkata, “Sebagaimana dikatakan di atas bahwa hamper ulama Syafi’I yang kemudian mengembangkan ilmu agama di Indonesia, seperti Syeikh Sulaiman Ar Rasuli, Syeikh Muhd. Jamil Jaho, Syeikh ‘Abbas Qadhli, Syeikh Musthafa Purba Baru, Syaikh Hasan Ma’shum Medan Deli dan banyak lagi ulama-ulama Indonesia pada tahun-tahun abad XIV adalah murid dari Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau ini.” [Thabaqatus Syafi’iyah (hal. 406)]

Ucapan senada juga dinyatakan penulis Ensiklopedi Ulama Nusantara di banyak tempat.Bahkan Dr. Kareel A. Steenbrink membuat satu pasal dalam Beberapa Aspek:Guru untuk Generasi Pertama Kau Muda. Namun demikian, tidak salah kiranya kita sebutkan di sini beberapa murid-muridnya yang menonjol, baik secara keilmuan maupun dakwah yang mereka lancarkan, di antaranya adalah:

  1. Syaikh ‘Abdul Karim bin Amrullah rahimahullah –ayah Ustadz Hamka-. Seorang ulama kharismatik yang memiliki pengaruh kuat di ranah Minang dan Indonesia. Di antara karya tulisnya adalah Al Qaulush Shahih yang membicarakan tentang nabi terakhir dan membantah paham adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad terutama pengikut Mirza Ghulam Ahmad Al Qadiyani.
  2. Muhammad Darwis alias Ustadz Ahmad Dahlan bin Abu Bakar bin Sulaiman rahimahullah –pendiri Jam’iyyah Muhammadiyyah-.
  3. Ustadz Muhammad Hasyim bin Asy’ari Al Jumbangi rahimahullah –salah satu pendiri Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama-.
  4. Ustadz ‘Abdul Halim Majalengka rahimahullah–pendiri Jam’iyyah I’anatul Mubta’allimin yang bekerja sama dengan Jam’iyyah Khairiyyah dan Al Irsyad
  5. Syaikh ‘Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad ‘Afif Al Banjari rahimahullah –mufti Kerajaan Indragiri-.
  6. Muhammad Thaib ‘Umar
  7. Dan lain-lain.

K.     Usaha (Juhud) Syaikh Ahmad dalam Memurnikan Ajaran Islam di Nusantara Khususnya dan Dunia Islam Umumnya

Usaha yang dilancarkan Syaikh Ahmad dalam memurnikan ajaran Islam dari perkara-perkara bid’ah yang menyesatkan namun tidak disadari di Nusantara diekspresikan melalui murid-murid dan karya-karyanya.

Adapun melalui karya-karyanya, Syaikh Ahmad sangat gigih dan keras tanpa kompromi sediktpun dalam memberantas bid’ah, khurafat, tarikat, ajaran menyimpang dan adat yang bertolak belakang dengan syariat. Dalam masalah tarekat, misalnya, Syaikh Ahmad menulis minimal tiga kitab rudud (bantahan), yaitu, Izhhar Zaughalil Kadzibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin yang kemudian ditranslit ke dalam tulisan latin oleh A. Arief dengan judul Thariqat Naqasyabandiyah, As Saiful Battar fi Mahq Kalimat Ba’dhil Aghrar , dan Al Ayat Al Bayyinat fi Raf’il Khurafat. Bahasan dalam kitab-kitab ini mengacu kepada kitab Al Ba’its fi Inkaril Bida’ wal Hawadits karya Imam Abu Syamah rahimahullah. Menurut Ustadz Hamka, sebagaimana yang dikutib Ustadz Armen Halim Narorahimahullah dalam salah satu kajiannya, metode bantahan kitab ini –Al Izhhar- persis dengan bantahan yang diberikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah terhadap orang-orang menyimpang di zamannya. Melalui karya-karya ini pula Syaikh Ahmad membantah pandangan Syaikh Muhammad Sa’ad Mungka dan Syaikh Ali Khathib yang gigih mempertahankan tharikat Naqsyabandiyyah.

Sebenarnya melalui judul-judul kitab-kitab Syaikh Ahmad saja kita sudah faham kurang lebihnya bahasan yang disajikan dalam masing-masing kitab trsebut. Misalnya kitab Husnud Difa’ fin Nahy ‘anil Ibtida’ yang berarti pembelaan yang baik tentang larangan melakukan bid’ah, dapat diasumsikan bahasan dalam kitab ini banyak berbicara masalah bid’ah dan khurafat di tengah masyarakat. Ini menunjukkan bahwa usaha Syaikh Ahmad benar-benar sangat berarti dalam pemurniat Islam di negerinya.

Dalam masalah adat yang menyimpang terutama dalam masalah waris dan harta pusaka, Syaikh Ahmad menulis Ad Da’il Mamu’dan Al Manhajul Masyru’. Kedua buku ini dicetak dalam satu jilid dengan Ad Da’il Masmu’ dicetak dipinggiran Al Manhajul Masyru’.

Tidak hanya sapai di situ perjuangan Syaikh Ahmad dalam membersihkan noda-noda keyakinan umat Islam, beliau juga membantah  syubhat-syubhat yang dihembuskan Belanda terutama mempertanyakan keabsahan terjadinya isra’ dan mi’raj di tengah kaum muslimin di Indonesia. Beliau kemudian membantah syubhat-syubhat dalam bukunya, Dha’us Siraj Pada Menyatakan Isra’ dan Mi’raj yang terbit tahun 1312 H. Berikutnya, beliau juga menulis Irsyadul Hayara fi Radd Syubahin Nashara.

Ada kitab Ar Riyadhul Wardiyyah fil Ushul wal Furu’ yang beliau tulis dalam bahasa Melayu huruf ‘Arab, membicarakan masalah dasar-dasar aqidah-tauhid dan fiqih syafi’I praktis supaya menjadi pegangan orang-orang yang balu belajar dan ‘awwam dari kalangan kaum muslimin. Kitab ini sudah dicetak berulang kali. Allahua’lam.[]

 

Refrensi:

  • ‘Abduljabbar, ‘Umar. 1403 H. Siyar wa Tarajim Ba’dhi ‘Ulamaina fil Qarn Ar Rabi’ ‘Asyar lil Hijrah. KSA: Tihamah
  • Al-Hazimi, Ibrahim bin ‘Abdullah. 1419 H. Mausu’ah A’lamil Qarn Ar Rabi’ ‘Asyar wal Khamis ‘Asyar Al Hijri fil ‘Alam Al ‘Arabi wal Al Islami min 1301-1417. KSA: Dar Asy Syarif lin Nasyr wat Tauzi’
  • Al-Mu’allimi, ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman. 1421 H. A’lamul Makkiyyin min Al Qarn At Tasi’ ilal Qarn Ar Rabi’ ‘Asyar Al Hijri. KSA: Muassasah Al Furqan lit Turats Al Islami
  • Steenbrink, Dr. Karel A. 1984 M. Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad Ke-19. Jakarta: Bulan Bintang
  • Dahlan, Dadang A. 2007. Cahaya dan Perajut Persatuan Waliullah Ahmad Khatib Al Minangkabawy. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa
  • Suprapto, Muhammad Bibit. 2009. Ensiklopedi Ulama Nusantara. Jakarta: Glegar Media Indonesia
  • Amrullah, ‘Abdul Malik bin ‘Abdul Karim. Tafsir Al Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas
  • Ad-Dahlawi, ‘Abdus Sattar bin ‘Abdul Wahhab. 1430 H. Faidhul Malikil Wahhabil Muta’ali bi Anba’ Awailil Qarn Ats Tsalits ‘Asyar wat Tawali. KSA: Maktabah Al Asadi
  • ‘Abbas, Siradjuddin. 2011. Thabaqatus Syafi’iyah, Ulama Syafi’I dan Kitab-Kitabnya dari Abad ke Abad. Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru

Penulis: Ibnu Mawardi
Artikel Muslim.Or.Id 

Dari artikel Imam & Khathib Masjid Al Haram, Ahmad Al Khathib Al Minangkabawi — Muslim.Or.Id by null

RENUNGKAN PESAN RANGGAEK KE ANAKNYA

RENUNGKAN PESAN RANGGAEK KE ANAKNYA

Assalamu’alaikum …
Ananda …

Ateis Minang adalah musibah sekaligus fenomena menjauhkan generasi Minangkabau dari adat budayanya …
Ini adalah kondisi amat berbahaya …
Sebab, secara sosial budaya dan wilayah kepemilikan di Indonesia sampai kini …
Hanya wilayah Minangkabau saja kawasan ulayatnya yang belum terjamah 100% oleh kolonial imperial kapitalis yang liberalis itu …
Dan perlu ananda ketahui, bahkan oleh semua rakyat Minangkabau ini …
Bahwa di dalam buminya terkandung mineral kaya amat berharga lebih banyak dari yang dimiliki Papua dan daerah lainnya
>>> silahkan bertanya kepada ahlinya untuk itu <<<
Maka satu satunya upaya kolonial imperial kapitalis liberal itu adalah menghapus adat budaya Minangkabau melalui berbagai cara …
Akhirnya, ranah ini akan dikuasai mereka satu ketika kelak ….

Selain itu, bila Minang kehilangan kearifan budayanya maka identitas Minang dan identitas Nasional ini secara pasti akan hilang pula …
Maka ujungnya Indonesia tidak berharga lagi …
Akibatnya sangat jauh ananda …
Kami juga melihat dan menyaksikan dengan jelas bahwa jarang terjadi (bahkan tidak pernah terjadi) etnis Batak, Jawa, Bugis, Bali, Kahayan atau apa saja di nusantara Indonesia ini yang menghujat adat budaya mereka …
Kecuali, sekarang ini, hanya orang Minang saja yang seakan disuruh serta dibiayai menghujat adat budayanya, termasuk melalui pendekatan agama Islam yang dianut seratus prosen oleh orang Minang ini …
Rahasia apa yang ada dibalik itu semua ananda …. ???? …
S i l a h k a n …. J a w a b l a h …
INI PERANG BESAR …
Bahkan mungkin parang “basosoh” melalui alam maya …
Maaf jika kami menyampaikan ini dengan cara begini …

Ketahuilah bahwa Minangkabau memiliki dua kekayaan besar …

Pertama “kekayaan intelektual” dengan budayanya yang kuat berasas kepada Kitabullah yakni Al Quran dan umatnya adalah Islam sehingga disepakati diluar Islam bukan orang Minang ..

Kedua adalah “kekayaan alamnya” yang masih terpendam didalam perut buminya, “ibarat ikan yang berada di mata kucing yang sedang kelaparan” …

Dan inilah yang akan dihancurkan itu melalui pendongkelan budaya Minangkabau itu …

Mohon maafkan ayahanda …

Wassalam