Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Komentar, Pesan Rang Gaek, Suluah Bendang di Nagari, Surau, Tauhidik, Tulisan Buya
MEMAKNAI ZIKRULLAH ……. Menjelang Shalat Dhuha di pagi ini
OLEH : H. MAS’OED ABIDIN
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Wahai orang-orang yang beriman,
berzikirlah (dengan menyebut) Nama Allah,
zikir dengan sebanyak-banyakya.”
(Q.S. Al Ahzab: 41)
Salah satu wasilah atau cara agar selalu berkomunikasi dengan Allah
adalah berzikir (Zikrullah).
Zikir berasal dari akar kata dalam bahasa Arab; zakara, yazkuru, zikran.
Zikir secara harfiah berarti ingat dan sebut.
Ingat adalah gerak hati, sedangkan sebut adalah gerak lisan.
Zikrullah berarti mengingat Allah.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa zikir
mengandung dua pengertian yakni zikrul lafzhy dan zikrul ma’nawy.
Zikrul lafzhy adalah zikir yang mengandung puji-pujian kepada Allah,
baik berupa tasbih, tahmid, tahlil
yang dilafazkan dengan lisan.
Sedangkan zikrul ma’nawy adalah
zikir dengan mengingat Allah dalam hati,
baik ketika diberikan Allah nikmat atau sebaliknya.
Kedua bentuk zikir ini tidak dapat dipisahkan,
ia saling berkaitan satu dengan lainnya.
Misalnya,
ketika seorang mukmin mendapatkan suatu nikmat dalam hidupnya,
maka ia akan langsung ingat kepada Allah,
bahwa nikmat itu adalah pemberian-Nya,
setelah itu ia akan mengucapkan puji-pujian kepada Allah
sebagai tanda syukurnya.
Zikir terdiri dari empat bagian yang saling terikat,
tidak terpisahkan,
yaitu zikir lisan (ucapan),
zikir qalbu (merasakan kehadiran Allah),
zikir ‘aql (menangkap bahasa Allah di balik setiap gerak alam),
dan zikir amal (taqwa).
Idealnya zikir itu berangkat dari kekuatan hati
ditangkap oleh akal,
dan diucapkan dengan lisan,
lalu dibuktikan dengan ketaqwaan;
yang tampak di dalam amal nyata di dunia ini.
Zikir adalah perintah Allah kepada orang-orang yang beriman.
Maka orang yang beriman adalah orang yang banyak berzikir.
Kurang iman, kurang zikir.
Tidak beriman tidak akan berzikir.
Berzikir berarti taat kepada perintah Allah.
Prakteknya, zikir bisa dilakukan dalam keadaan berdiri,
ketika duduk atau dalam keadaan berbaring.
Allah SWT berfirman:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu),
ingatlah Allah (fazkurullaha) di waktu berdiri,
di waktu duduk, dan diwaktu berbaring …”
(Q.S. An Nisa’ : 103)
Zikir dapat pula dilakukan di mesjid, mushalla,
di rumah, di kantor, di pasar,
atau di jalan sekalipun,
dan bisa dilakukan sendiri-sendiri atau berjama’ah (dalam majelis).
Tempat zikir berada di dalam hati,
bukan hanya diujung lidah belaka.
Zikir dilakukan dengan qalbu menjadi khusyu’,
khudhu’, tadharru’, tawadhu’,
dan yang melahirkan rasa khauf dan raja’,
dilakukan di setiap kesempatan,
pagi dan petang, siang dan malam.
Allah SWT berfirman :
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ
بِالْغُدُوِّ وَاْلآصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (Nama) Tuhanmu dalam hatimu
dengan merendahkan diri dan rasa takut,
dan dengan tidak mengerasakan suara,
di waktu pagi dan petang,
dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”
(Q.S. Al-A’raf: 205)
Zikir adalah pangkal ketentraman, ketenangan dan kedamaian.
Allah adalah sumber ketenangan dan kedamaian.
Maka untuk mencapai kedamaian dan ketenangan
jalannya adalah mendatangi sumbernya
dan membersamakan diri dengan-Nya.
Zikir itulah jalan pembersamaan (ma’rifatullah).
Firman Allah :
… أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ
“… Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku,
niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…”
(Q.S. Al Baqarah: 152).
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“…… (Yaitu) orang-orang yang beriman
dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah.
Ingatlah ….,
hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram.”
(Q.S. Ar Ra’d: 28)
Adapun orang yang meninggalkan zikrullah
berarti ia telah membuka keleluasaan syetan untuk menguasainya.
Allah SWT berfirman:
اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ
أَلاَ إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Syetan telah menguasai mereka
dan menjadikan mereka lupa mengingat Allah (zikrullah);
mereka itulah golongan syetan.
Ketahuilah …..,
bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah
golongan yang merugi.”
(Q.S. Mujadilah: 19)
Hujjatul Islam Imam Al Ghazali dalam Ihya ‘Ulum Ad Din berkata:
“Ketahuilah bahwa orang-orang yang memandang dengan cahaya bashirah
mengetahui bahwa tidak ada keselamatan kecuali
dalam pertemuan dengan Allah SWT.
Dan tidak ada jalan untuk bertemu Allah kecuali
dengan kematian hamba dalam keadaan menyintai Allah
dan mengenal Allah (hubbullah dan ma’rifatullah).
Sesungguhnya cinta dan keakraban
tidak akan tercapai
kecuali dengan selalu mengingat yang dicintai.
Sesungguhnya pengenalan kepada-Nya
tidak akan tercapai
kecuali dengan senantiasa berfikir
tentang berbagai penciptaan Allah,
sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala….
Hubbullah dan ma’rifatullah hanya dapat dicapai
dengan mengoptimalkan waktu-waktu malam dan siang
untuk bertafakkur dan berzikir. “
الحَمْدُ ِللهِ غَافِرِ الذَّنـْبِ وَ قَابِلِ التَّوْبِ شَدِيْدِ العِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِلَيْهِ اْلمَصِيْرُ
َ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، يُسَبِّحُ لَهُ مَا فيِ السَّموَاتِ وَ مَا فيِ الأَرْضِ
لَهُ المُلْكُ وَ لَهُ الحَمْدُ، وَ هُوَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
َ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، البَشِيْرُ النَّذِيْرُ، وَ السِّرَاجُ المُنِيْرُ
صَلَوَاتُ اللهِ وَ سَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَ عَلىَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ
وَ عَزَّرُوْهُ وَ نَصَرُوْهُ وَ اتـَّبَعُوْا النُّوْرَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ
وَ رَضِيَ اللهُ عَمَّنْ دَعَا بِدَعْوَتِهِ وَ اهْتَدَى بِسُنَّتِهِ، وِ جَاهَدَ جِهَادَهُ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنُِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ
Donna Savitri at 12:29 on 15 June, Terimo kasih atas tausiahnya
Sara Dewi Mangil at 13:31 on 15 June, Alhamdulillah, tks buya
Pepi Agum Widianti at 14:55 on 15 June, Alhamdulillah, Buya terima kasih atas silaturrahim yang telah terpaut, subhanallah memberikan bgitu banyak manfaat. Terima kasih telah berbagi dan mengingatkan.
Titin Anggraini at 15:40 on 15 June, Terima kasih buya masih mau mengingatkan kami yang sering lupa…. mudah-mudahan ini semua bermanfaat untuk kami di dunia dan akhirat. Tin tunggu siraman rohani lainnya dari buya, thanks buy….
Alex Lincoln at 16:42 on 15 June, Ass Alhamdulillah… Semoga tulisan Buya ini akan menjadi manfaat bagi kami sekeluarga beserta saudara saudara kita seiman yang sempat membacanya dan sekaligus menjadi ilmu yang bermanfaat bagi Buya, Amiiiiiiiiiiiin…
Susianti Annisa H at 17:20 on 15 June, Syukran Buya tas tausiyahnya… Susi tunggu tausiyah brikutnya… Mg Buya slalu d lindungi oleh Allah…
Dwi Mutia at 19:44 on 15 June, alhamdullillah, trima kasih byk tausiahnya buya..
Rauf Jabbar at 21:29 on 15 June, Alhamdullilah, semoga Allah senantiasa melimpahkan Rahmat nya buat kita semua dan klg kt dgn slalu ingat kpd Nya, Amiiiiin
Fitri Adona at 10:00 on 16 June, Alhamdulillah. Terimakasih Buya. Saya akan ingat selalu.
Awenk Hasyim at 16:18 on 17 June, Terima kasih buya….Semoga ini dapat meningkatkan ibadah kami..Amiin.
Diarsipkan di bawah: Buya Masoed Abidin, Education, Kesatuan Bangsa, Komentar, Pemimpin, Suluah Bendang di Nagari, Surau, Tauhidik, Tulisan Buya
” Wahai orang-orang yang hanya Islam dengan lidahnya,
sementara keimanan belum masuk ke dalam hatinya ;
janganlah kalian menyakiti kaum muslimin dan mencelanya,
dan jangan pula kalian mencari-cari kesalahannya,
karena orang yang mencari-cari kesalahan saudaranya yang muslim
niscaya Allah akan membukkan auratnya,
dan jika seseorang telah dibuka auratnya oleh Allah
niscaya Allah akan membuatnya malu dan terbuka auratnya meskipun di rumahnya sendiri. ”
(HR. At Tirmidzi yang bersumber dari Ibnu Umar r.a)
Melihat kondisi masyarakat di Tanah Air yang kita cintai ini,
kita turut prihatin.
Cobaan dari Allah seakan tidak pernah habis,
musibah demi musibah datang silih berganti
hilang satu datang lagi yang lain, seperti pergantian musim saja.
Penyakit merebak dimana-mana,
baik penyakit fisik atau jasmani,
penyakit hati ataupun ruhani.
Namun demikian,
dari penyakit yang ada,
bila diamati seksama,
maka penyakit hati jauh akan lebih berbahaya.
Kenapa begitu ….???
Bila seorang muslim ditimpa penyakit fisik,
hal itu dapat mengantarkannya menuju kebahagiaan akhirat,
selama ia sabar menghadapinya.
Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:
“Tidak ada seorang muslimpun yang ditimpa gangguan (musibah)
semacam tusukan duri atau yang lebih berat dari padanya
melainkan dengan ujian itu
Allah menghapuskan perbuatan buruknya
serta digugurkan dosa-dosanya
sebagai mana pohon kayu menggugurkan daun-daunnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Akan tetapi, jika penyakitnya adalah penyakit hati,
seperti hasud, dengki, suka mengumpat, sombong, ria,
suka menfitnah dan lain sebagainya,
apalagi yang sudah kronis,
maka penyakit itu akan menjerusmuskan penderitanya
ke dalam neraka atau menuai siksaan Allah di akhirat kelak.
Na’uzubillah min zalik!
Pada surat Al Hujarat ayat 12,
Allah SWT memperingatkan dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman,
jauhilah kebanyakan dari berburuksangka,
sesungguhnya sebagian dari berburuk sangka itu adalah dosa
dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain
dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.
Sukakah salah seorang di antara kamu
memakan bangkai saudaranya yang telah mati?
Maka tentulah kamu merasa jijik karenanya.”
Salah satu penyakit hati yang sedang menyebar
di kalangan masyarakat sekarang ini adalah
menfitnah atau suka menuduh seseorang yang bukan-bukan
akibat dari berburuk sangka.
Hal ini terjadi karena isu-isu (istilah sekarang gosip)
yang tidak benar dan menyebar luas,
yang terlalu cepat kita percayai dan kita telan mentah-mentah
tanpa mengunyah atau chek dan re-chek atau tabayun.
Padahal itu bisa dihindari
kalau kita mau mengaplikasikan ajaran Allah,
seperti yang telah diingatkan di dalam firman Allah
dalam surat Al Hujarat ayat 6 tadi,
dan surat An Nuur ayat 13.
Kedua ayat itu menunjukkan dengan jelas
agar jangan terlalu cepat menerima setiap berita
tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu
dan jangan terlalu mudah menuduh orang
tanpa bukti dan saksi yang dapat dipercaya.
Selain itu, ada pula peringatan kepada si pembawa berita
agar menyadari bahwa kebiasaan berberita bohong itu
atau kebiasaan menyebarkan berita-berita bohong itu
dapat mengubah diri menjadi seorang pendusta.
Menurut asbaabun nuzul (penyebab turun)nya ayat 13 dari surat An Nur
adalah menceritakan peristiwa fisik atau ifki
yaitu peristiwa yang khusus yang menyangkut nash yang umum.
Peristiwa ini menyangkut Siti Aisyah r.a putri Abu Bakar as Siddiq r.a
yang juga adalah istri Rasulullah SAW,
yang dikait-kaitkan dengan sahabat Safwan bin Mu’athal.
Peristiwa semacam itu sangat mungkin terjadi
berulang pada setiap generasi,
dan mungkin saja menghasilkan efek yang serupa
baik yang berkenaan dengan seorang pemimpin
atau pemuka masyarakat.
Di sini terlihat saat dua pihak atau kubu saling bermusuhan,
di mana salalh satu menyadari bahwa mereka tidak mungkin menang
dalam konfrontasi langsung,
di situ akan terbuka peluang
untuk menggunakan teror mental
untuk menghancurkan pihak lainnya.
Cara-cara ini tidak sikap kesatria,
ini adalah sikap pengecut
namun seringkali ampuh hasilnya.
Dan sepertinya bila kita melihat dengan mata batin kita,
hal ini juga sedang terjadi sekarang
pada pemimpin kaum muslimin,
di seantero jagat ini.
Dalam peristiwa ifki (hasutan dan fitnahan) ini,
berita bohong ini dibesar-besarkan oleh kelompok munafiqun
yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul
(berasal dari seorang Yahudi).
Mulanya fitnah itu tidak mempengaruhi para sahabat,
tetapi begitu berita bohong itu menyentuh kaum muslimin Madinah yang awam
langsung menjalar dengan cepat
bagaikan api yang membakar daun ilalang yang kering.
Dari peristiwa ifki ini,
ada beberapa hal yang menjadi pegangan kita
yang merupakan pendidikan dari Rasulullah SAW
yang dapat kita lakukan ketika menghadapi isu atau fitnah:
1. Menjauhkan diri kita dari semua kecurigaan dan prasangka yang tidak beralasan.
2. Sebaiknya kita tidak menghiraukan segala macam isu yang tidak ada dasar.
3. Membiarkan hukum bicara terhadap penyebar luasan fitnah-fitnah itu.
4. Janganlah kita memperturutkan hawa nafsu.
5. Jauhi sikap suka membesar-besarkan suatu kabar burung apalagi ikut pula menyebarkannya.
6. Dalam menghadapai suatu fitnah keji, cara yang terbaik janganlah membalasnya dengan fitnah baru.
Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah r.a
dalam menghadapai cobaan fitnah berucap:
“Kesabaran itu adalah indah
dan Allah SWT sajalah yang akan menangani
apa yang kalian katakan itu…”
Inilah sikap mulia beliau.
Dan ini adalah adab Islam yang agung
dalam menghadapi atau memperlakukan
orang-orang yang suka menyebarluaskan fitnah itu.
Perlu kita camkan dan kita renungkan
bahwa fitnah dan berita-berita bohong itu
mudah dinyalakan dalam hati manusia
manakala iman yang menjadi pemersatu kita lemah,
karena menghadapi fitnah,
tidak serupa dengan menghadapi musuh yang nyata”.
Iblis laknatullah dan bala tentranya dari jin dan manusia
terus menyebarluaskan virus-virus penyakit hati
untuk menjerumuskan manusia itu,
maka semestinyalah kita selalu waspada,
selalu membentengi diri dengan iman dan taqwa.
Sesuai dengna firman Allah SWT dalam surat An Naas (QS.114) : ayat 1-6.
” Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan
(yang memelihara dan menguasdai) manusia….,
Raja manusia ….,
Sembahan manusia….,
dari kejahatan (bisikan) syaithan yang bisa bersembunyi,
dari (golongan) jin dan manusia…”
Wallahu a’lamu bis-shawaab.
Wassalamu’alaikum Wa rahmatullahi Wa barakatuh,
Buya H. Mas’oed Abidin
Diarsipkan di bawah: Adat istiadat, Buya Masoed Abidin, Globalisasi, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Suluah Bendang di Nagari, Surau, Uncategorized
Membangun Program Strategis bersinergis
Menghadapi Tantangan Budaya Global
Di Abad ke Duapuluh Satu
oleh H. Mas’oed Abidin
Pendahuluan
Zaman senantiasa mengalami perubahan Begitulah Sunatullah. Yang Kekal hanyalah Sunnatullah, aturan yang telah ditetapkan oleh Allah, Maha pencipta.
Memasuki alaf ketiga atau abad dua puluh satu, ditemui suatu kenyataan, terjadinya lonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat.
Ditandai dengan lajunya teknologi komunikasi dan informasi (information technology
).
Suatu gejala yang disebut‑sebut sebagai arus globalisasi, “perdagangan bebas, persaingan yang tinggi dan tajam.
Era globalisasi akan terjadi perubahan‑perubahan cepat.
Dunia akan transparan, terasa sempit, dan seakan tanpa batas.
Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perubahan oleh Arus globalisasi
1. Menggeser Pola Hidup Masyarakat.
Dari agraris tradisional menjadi masyarakat industri modern.
Dari kehidupan berasaskan kebersamaan, kepada kehidupan individualis.
Dari lamban kepada serba cepat.
Dari berasas nilai sosial menjadi konsumeris materialis.
Dari tata kehidupan tergantung dari alam kepada kehidupan menguasai alam.
Dari kepemimpinan formal kepada kepemimpinan kecakapan (profesional).
2. Pertumbuhan Ekonomi.
Globalisasi menyangkut langsung kepentingan sosial masing‑masing negara.
Masing‑masing akan berjuang memelihara kepentingannya, dan cenderung tidak akan memperhatikan nasib negara‑negara lain. Kecenderungan ini bisa melahirkan kembali “Social Darwinism“. Dan ini kita rasakan kini dampaknya ketika dunia dilanda ambruknya sistim ekonomi kapitalis yang berbuah dengan krisis financial global.
Kondisi ini mirip dengan kehidupan sosial budaya masyarakat jahiliyah, antara lain mengagungkan materi (berhala), mengabaikan kaedah-kaedah halal-haram, memutus hubungan silaturrahim, berbuat anarkis dan kegaduhan terhadap masyarakat (tetangga, bangsa,negara), yang kuat menelan yang lemah.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>
Dampak Globalisasi
- Globalisasi membawa banyak tantangan (sosial, budaya, ekonomi, politik dan bahkan menyangkut setiap aspek kehidupan kemanusiaan.
- Globalisasi juga menjanjikan harapan‑harapan dan kemajuan.
Harapan dan kemajuan yang menjanjikan, adalah pertumbuhan ekonomi yang pesat, sebagai alat untuk menciptakan kemakmuran masyarakat. Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara.
Apa artinya semua ini? Kita akan menjadi pasar raksasa yang akan diperebutkan oleh orang‑orang di sekeliling. Bangsa kita akan dihadapkan pada “Global Capitalism”. Kalau kita tidak hati‑hati keadaan akan bergeser menjadi “Capitalism Imperialism” artinya kita akan terjajah di negeri sendiri tanpa kehadiran fisik si penjajah.
- Globalisasi membawa perubahan perilaku, terutama pada generasi muda (para remaja).
3.1. Masalah Remaja
Dunia remaja kita akhir-akhir ini digoncangkan oleh fenomena kurang menggembirakan.
Banyaknya tawuran pelajar, pergaulan a-susila dikalangan pelajar dan mahasiswa. Pornografi yang susah dibendung. Kalangan remaja dijangkiti kebiasaan bolos sekolah.
Kesukaan terhadap minuman keras.
Kecanduan terhadap ectasy (XTC), menjadi budak kokain dan morfin.
Kesukaan judi dalam urban popular culture, musro, world-wide sing, dan sejenisnya.
Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih terhempas dipantai menjadi dzurriyatan dhi’afan suatu generasi yang bergerak menjadi “X-G” the loses generation dan tidak berani ikut serta didalam perlombaan ombak gelombang samudera globalisasi.
Penyimpangan perilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak.
Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja.
Apa Penyebab Utama kesemuanya itu ? Kalau ingin dirinci, antara lain
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan.
hilangnya tokoh panutan,
berkembangnya kejahatan orang tua,
luputnya tanggung jawab lingkungan masyarakat,
impotensi dikalangan pemangku adat,
hilangnya wibawa ulama,
bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis,
profesi guru dilecehkan.
3.2. Perilaku Umat.
Terjadi pula interaksi dan ekspansi kebudayaan secara meluas. Di tandai dengan semakin berkembangnya pengaruh budaya,
pengagungan materia secara berlebihan (materialistik),
pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik),
pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik).
Sebenarnya perilaku umat ini merupakan penyimpangan jauh dari budaya luhur. Akibatnya dapat memunculkan ;
a. Kriminalitas,
b. Sadisme,
c. Krisis moral secara meluas.
Terjadinya dis-equilibrium, (hilangnya keseimbangan moral), dalam tatanan kehidupan bermasyarakat menyebabkan lahir krisis-krisis, krisis nilai, menyangkut etika individu dan sosial berubah drastik, pada mulanya berpandangan luhur bergeser kencang kearah tidak acuh, dan lebih parah mentolerir krisis konsep pergeseran pandang (view) cara hidup, dan ukuran nilai jadi kabur. Sekolahan yang merupakan cerminan idealitas masyarakat tidak bisa dipertahankan. Krisis kridebilitas dengan erosi kepercayaan. Pergaulan orang tua, guru dan muballig dimimbar kehidupan mengalami kegoncangan wibawa. Krisis beban institusi pendidikan terlalu besar.Tuntutan tanggung jawab moral sosial kultural dikekang oleh sisitim dan aturan birokrasi. Kesudahannya, membelenggu dinamika institusi, akhirnya impoten memikul beban tanggung jawab. Krisis relevansi program pendidikan yang mendukung kepentingan elitis non-populis, tidak demokratis. Orientasi pendidikan beranjak dari mempertahankan prestasi kepada orientasi prestise, keijazahan. Krisis solidaritas, dan membesarnya kesenjangan miskin kaya, dan kesempatan mendapatkan pendidikan tidak merata, kurangnya idealisme generasi remaja tentang peran dimasa datang.
Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai agama pastilah akan melahirkan tatanan hidup masyarakat dengan penyakit sosial (masyrakat) atau PEKAT yang kronis, di antaranya akan meruyak menjadi ; Kegemaran berkorupsi. Aqidahnya bertauhid namun akhlaknya tidak mencerminkan akhlak Islami. Melalaikan ibadah.
3.3. Perilaku kehidupan non-science
Di antaranya tampak pula pada perangai ; Sangat berminat terhadap kehidupan non-science, asyik mencari kekuatan gaib belajar sihir. Mencari jawaban paranormal, menguasai kekuatan jin, bertapa ketempat angker.
<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Menyelami black-magic, mempercayai mistik.
<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>Tidak terkecuali menghinggapi juga para cendekiawan. Mencari dukungan melalui pedukunan.
Perangai sedemikian ini telah banyak melahirkan peribadi yang terbelah (split personalities), dengan sikap “too much science too little faith”, lebih banyak ilmu dengan tipisnya kepercayaan keyakinan agama, berkembangnya paham nihilisme budaya senang lenang (culture contenment).
Keadaan di atas diperparah lagi oleh limbah budaya, antara lain;
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>sensate-culture<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–> yang selalu bertalian dengan hedonistik.
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Orientasi hiburan berselera rendah,
<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>3-S tourisme sun-sea-sex.
<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Gaya hidup konsumeristis, rakus, boros, cinta mode.
<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Pergaulan bebas sex, ittiba’ syahawat (memperturutkan hobi nafsu syahawat).
<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>Kebebasan salah arah.
<!–[if !supportLists]–>g. <!–[endif]–>Lepas dari kawalan agama dan adat luhur.
<!–[if !supportLists]–>h. <!–[endif]–>Tampil dengan sikap permissif dan anarkis.
Pada hakekatnya semua perilaku a-moral tersebut lahir karena lepas kendali dari nilai-nilai agama dan menyimpang jauh dan keluar dari alur akhlak mulia, atau menjauh dari adat istiadat warisan leluhur dan budaya bangsa. Kondisi seperti itu telah membawa perubahan buruk terhadap generasi bangsa dan menjadikan dunia pendidikan pada umumnya mendapat cercaan.
Jawaban untuk keluar dari problematika ini adalah ikatan sinerjitas antara Umarak dan Ulama
Membentuk Generasi Masa Depan
<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Generasi muda akan menjadi aktor utama dalam pentas kesejagatan (millenium ketiga). Karena itu, generasi muda (remaja) harus dibina dengan budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi.
Generasi masa depan (era globalisasi) yang diminta lahir dengan
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>budaya luhur (tamaddun),
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>berpaksikan tauhidik,
<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>kreatif dan dinamik,
<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>memiliki utilitarian ilmu berasaskan epistemologi Islam yang jelas,
<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>tasawwur (world view) yang integratik dan ummatik sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan).
<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Perkembangan ke depan banyak ditentukan oleh peranan remaja sebagai generasi penerus dan pewaris dengan kepemilikan ruang interaksi yang jelas menjadi agen sosialisasi guna menggerakkan kelanjutan survival kehidupan ke depan.
<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap;
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>daya kreatif dan innovatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin,
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi,
<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.
<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>memahami nilai‑nilai budaya luhur,
<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>siap bersaing dalam knowledge based society,
<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>punya jati diri yang jelas, hakekatnya adalah generasi yang menjaga destiny,
<!–[if !supportLists]–>g. <!–[endif]–>individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa,
<!–[if !supportLists]–>h. <!–[endif]–>motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan,
<!–[if !supportLists]–>i. <!–[endif]–>memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, yang memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.
Sangat dipahami, bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah spiritual emosional dengan iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat.
Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Generasi ke depan wajib digiring menjadi taat hukum.
Upaya ini dapat dilakukan dengan cara ;
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga, memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ,
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>fungsionalisasi peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif,
<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>memperkaya warisan budaya dengan setia mengikuti dan mempertahankan, bertumpu kepada cita rasa patah tumbuh hilang berganti
<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>menanamkan aqidah shahih (tauhid), dan istiqamah pada agama yang dianaut,
<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.
<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlaq akan melahirkan saintis tak bermoral agama, konsekwensinya ilmu banyak dengan sedikit kepedulian.
<!–[if !supportLists]–>g. <!–[endif]–>Menanamkan kesadaran tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah,
<!–[if !supportLists]–>h. <!–[endif]–>penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam,
<!–[if !supportLists]–>i. <!–[endif]–>teguh politik, kukuh ekonomi,
<!–[if !supportLists]–>j. <!–[endif]–>melazimkan musyawarah dengan disiplin dan
<!–[if !supportLists]–>k. <!–[endif]–>bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya Islam yang benar. Sesuatu akan selalu indah selama benar.
Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa.
Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.
Generasi yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.
Menghadapi Abad Keduapuluh satu
Alaf Baru atau abad keduapuluh satu ini ditandai oleh;
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>mobilitas serba cepat dan modern,
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>persaingan keras dan kompetitif,
<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>komunikasi serba efektif, dunia tak ada jarak seakan global village,
<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>akan banyak ditemui limbah budaya kebaratan westernisasi.
Alaf baru itu diyakini bahwa kehadirannya tak bisa di cegah. Bahkan sudah berada didepan mata.
Pertanyaan yang perlu dijawab segera:
Sudahkah kita siap menghadapi perubahan zaman yang cepat dan penuh tantangan ini?
Di antara jawabnya adalah, kita berkewajiban sesegeranya mem-persiapkan generasi baru yang siap bersaing dalam era global tersebut.
Kita berkewajiban membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih berkecenderungan individual menjadi Sumber Daya Umat (SDU) yang bercirikan kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong”, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas.
Maka tidak dapat tidak, proses pembangunan SDM-SDU mesti ditempuh,
<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Tahap kesadaran tinggi tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Langkah ini perlu dengan penggarapan secara sistematik dan pendekatan proaktif mendorong terbangunnya proses pengupayaan (the process of empowerment).
<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Tahap perencanaan dengan rangka kerja yang terarah, terencana mewujudkan keseimbangan dan minat (motivasi) dan gita kepada iptek, keterampilan dan pemantapan siyasah. Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam peng-upayaan. Konsep-konsep visi, misi, selalu terbentur dalam pen-capaian oleh karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya.
3. Tahap aktualisasi secara sistematis (the level of actualization). Bila pendidikan ingin kita jadikan modus operandus di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu pembentukan kualita pendidik (murabbi) yang sedari awal mendapatkan pembinaan. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik dan bukan utopis.
Antisipasi Umat.
Umat mesti mengantisipasi dengan penyesuaian-penyesuaian agar tidak menjadi kalah. Dalam menghadapi persaingan beberapa upaya semestinya disejalankan dengan ;
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Memantapkan watak terbuka,
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Pendidikan moral berpaksikan tauhid,
<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar seperti tertera dalam QS.31, Lukman:13-17.
<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Integrasi moral yang kuat, berakhlak dan memiliki penghormatan terhadap orang tua,
<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>mempunyai adab percakapan ditengah pergaulan,
<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>pendalaman ajaran agama tafaqquh fid-diin,
<!–[if !supportLists]–>g. <!–[endif]–>berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam yang universal, tafaqquh fin-naas,
<!–[if !supportLists]–>h. <!–[endif]–>perhatian besar terhadap masalah sosial atau umatisasi, teguh memilih kepentingan bersama dengan ukuran moralitas taqwa,
<!–[if !supportLists]–>i. <!–[endif]–>responsif dan kritis terhadap perkembangan zaman,
<!–[if !supportLists]–>j. <!–[endif]–>mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan,
<!–[if !supportLists]–>k. <!–[endif]–>memacu penguasaan ilmu pengetahuan,
<!–[if !supportLists]–>l. <!–[endif]–>kaya dimensi dalam pergaulan rahmatan lil ‘alamin menampilkan kecerahan bagi seluruh alam.
<!–[if !supportLists]–>m. <!–[endif]–>iman dan ibadah, menjadi awal dari ketahanan bangsa.
Ketahanan umat bangsa terletak pada kekuatan ruhaniyah dan keyakinan agama dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan.
Bila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi (QS.7,al-A’raf:96).
Ini juga dapat dicapai antara lain lewat pintu pendidikan.
Pendidikan yang akan dikembangkan adalah pendidikan akhlak, budi pekerti. Kita dapat memahami bahwa pendidikan Akhlak adalah, jiwa pendidikan, inti ajaran agama, dan buah dari keimanan.
Maka akhlak karimah (budi pekerti sempurna) adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah diri dalam menerima ilmu-ilmu lainnya. Ilmu yang benar membimbing umat kearah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh (baik).
Untuk itu, beberapa model perlu dikembangkan;
<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>pemurnian wawasan fikir disertai kekuatan zikir,
<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>penajaman visi,
<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>perubahan melalui ishlah atau perbaikan,
<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>mengembangkan keteladanan uswah hasanah,
<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi.
<!–[if !supportLists]–>6. <!–[endif]–>Menguatkan solidaritas beralaskan pijakan iman dan adat istiadat luhur, “nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”
<!–[if !supportLists]–>7. <!–[endif]–>Intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.
Mewujudkan model ini diperlukan sinerji antara Umarak dan Ulama. Setiap Muslim harus jeli (‘arif) dalam menangkap setiap pergeseran yang terjadi karena perubahan zaman ini.
Pemerintah dan Ulama Suluah Bendang di Sumatera Barat harus mampu menjaring peluang‑peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan. “Laa tansa nashibaka minaddunya“, artinya “jangan sampai kamu melupakan nasib/peranan dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77).
Langkah-langkah ke depan dalam bentuk nyata dari sinerjitas Umarak dan Ulama itu dapat dilakukan antara lain ;
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>pembinaan human capital melalui keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan,
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualiti, memiliki jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif.
<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan generasi muda.
<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Langkah drastik mencetak ilmuan Muslim yang benar-benar beriman taqwa.
<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Pembinaan minda wawasan generasi muda ke depan yang bersatu dengan akidah, budaya dan bahasa bangsa.
<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>Secara sungguh-sungguh mewujudkan masyarakat madani yang berteras kepada prinsip keadilan (equity) sosial yang terang.
Sungguh suatu nikmat yang wajib disyukuri. “Lain syakartum la adzidannakum“, bila kamu mampu menjaga nikmat Allah (syukur), niscaya nikmat itu akan ditambah.
Di sini peran yang amat crusial dari Sinerjitas yang mesti terbangun antara Ulama dan Umarak didalam mengatasi kemelur penyakit masyarakat karena dampak Globalisasi ini dengan mengamalkan bimbingan Agama Islam.
Padang, Jumadil awwal 1430 H / April 2009 M.
<!–[endif]–>
Catatan
<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> Perkembangan cyber space, internet, informasi elektronik dan digital, walaupun kenyataannya sering terlepas dari sistim nilai dan budaya sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang.
<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> Globalisasi sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya, the act of process or policy making something worldwide in scope or application menurut pengertian The American Heritage Dictionary.
<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> Dimana dalam persaingan bebas bentuk apapun, yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri (Wardiman, 1997).
<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> Ungkapan Ja’far Bin Abi Thalib, lihat Al Islam Ruhul Madaniyah, Musthafa al Ghulayaini, terungkap sebagai berkiut, “Kunna nahnu jahiliyyah, na’budul ashnam, wa na’kulul maitah, wa nuqat-ti’ul arham, wa nusi-ul-jiwaar, wa nakkul ul qawiyyu minna dha’ifun minna,“ artinya: “Kami masyarakat jahiliyyah, yang kuat dari kami berkemampuan menelan yang lemah di antara kami.”
Kehidupan sosial jahiliyyah itu telah dapat diperbaiki dengan kekuatan Wahyu Allah, dengan aplikasi syari’at Islam berupa penerapan ajaran tauhid ibadah dan tauhid sosial (Tauhidic Weltanschaung). Ini suatu bukti tamaddun pendekatan historik yang merupakan keberhasilan masa lalu (the glory of the past), sesuai Firman Allah, “Demikian itulah umat sebelum kamu. Bagi mereka amal usahanya, dan bagi kamu amal usahamu.” (Q.S. 2: 141)
<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> Sebelum terjadinya krisis ekonomi, 1997-dampaknya masih terasa hingga hingga sekarang), dalam tiga dasawarsa (1967-1997) ini telah menikmati pertumbuhan ekonomi yang pesat. Bank Dunia menyebut sebagai “The Eight East Asian Miracle” yang berkembangan menjadi macan Asia bersama: Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong, Thailand, Singapura, Malaysia.
Kini kita menghadap lagi Krisis Finansial Global, dampaknya lebih berbahaya dari krisis ekonomi 1997 itu, karena yang rusak adalah sistim ekonomi dunia, hilangnya kepercayaan dan kegunaan dari ekonomi kapilatalis.
Populasi Asean sekarang sejak tahun 2003 saat memasuki AFTA antara 350 – 500 juta (Ini perkiraan Adi Sasono, Cides, 1997). Bila pertumbuhan ekonomi ini dapat dipelihara, Insya Allah pada tahun 2019, saat skenario APEC, maka kawasan ini akan menguasai 50,7 % kekayaan dunia, Amerika dan Uni Eropa hanya 39,3% dan selebihnya 10 % dikuasai Afrika dan Amerika Latin (Data Deutsche Bank, 1994).
Tetapi semua prediksi ini buyar oleh ambruknya sistim ekonomi ka[pitalis.
<!--[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–> Budaya sensate memuja nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sebatas yang di lihat (tonton), di dengar, dirasa, di sentuh, dicicipi, dengan tumpuan kepada sensual, erotik, seronok, kadang-kadang ganas, mengutamakan kesenangan badani (jasmani). Orientasinya hiburan melulu, terlepas dari kawalan agama, adat luhur, moral akhlak, ilmu dan filsafat, dan tercerabut dari budaya dan nilai-nilai normatif lainnya. Seni dibungkus selimut art for art’s sake, sensual, eksotik, erotik, horor, ganas, yang lazimnya melahirkan klub malam, night club, kasino dan panti pijat.
Budaya sensate ini dipertajam dampaknya dalam kehidupan remaja oleh budaya popular kekota (urban popular culture) yang hedonistik (mulai berkembang 1960), dan berkembang lagi US culture imperialisme (uncle Sam Culture) dan the globalization of lifestyle gaya hidup global, world wide sing (Madonna, Michael Jakson, dll) sejak tahun 1990 di pra kondisi globalisasi.
Diarsipkan di bawah: ABS-SBK, Buya Masoed Abidin, Komentar, Masyarakat Adat, Mukjizat Alquran, Pendidikan, Suluah Bendang di Nagari, Surau, Tulisan Buya
“Rendah Hati”
Oleh : H. Mas’oed Abidin
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ;
“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang (Ibadurrahman) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (mengandung) keselamatan.
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.![]()
Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.
Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami …Anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami, penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam sorga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan-ucapan selamat di dalamnya.”
Firman Allah ini ditemui di dalam Alquranul Karim, Q.S. Al Furqan, ayat 63-75.
Ibadurrahman adalah hamba-hamba yang dinisbatkan kepada Allah semata (Ar Rahman) yang mengandung pengertian, bahwa mereka adalah hamba-hamba yang layak mendapatkan rahmat Allah dan mereka selalu berada dalam lingkup rahmat-Nya.
Mereka adalah orang-orang yang menyadari kekuasaan Allah dan memenuhi hak-hak-Nya, yang memurnikan agama karena Allah dan Allah memurnikan agama-Nya bagi mereka.
Dinisbatkannya mereka kepada Allah Yang Maha Rahman – sebagaimana yang dinyatakan langsung oleh Allah – oleh karena disana juga ada golongan-golongan hamba yang lain, seperti hamba syeitan, hamba taghut, hamba syahwat, hamba uang, hamba khamar, hamba narkoba, hamba birahi, hamba harta, hamba tahta, hamba wanita. Ibadurrahman mempunyai sifat dan tanda-tanda sebagaiman yang disebutkan Allah di dalam ayat-ayat di atas.
Sifat-sifat tersebut adalah:
1. Tawadhu’ dan rendah hati
2. Murah hati
3. Mendirikan shalat malam (Qiyamullail)
4. Takut neraka
5. Sederhana dalam membelanjakan harta
6. Tauhid
7. Menjauhi tindak pembunuhan dan menghormati kehidupan
8. Menjauhi zina
9. Taubat Nasuha
10. Tidak bersumpah palsu dan meninggalkan pekerjaan yang tidak bermanfaat
11. Menyelami ayat-ayat Allah
12. Memohon kebaikan bagi istri dan keluarganya.
Sifat Ibadurrahman yang pertama adalah Tawadhu’, sebagaimana diungkap oleh Al Qur’an bahwa mereka berjalan di muka bumi dalam keadaan rendah hati dan penuh tawadhu’.
Ibadurrahman bila berjalan di muka bumi dalam keadaan rendah hati, tawadhu’ dan lemah lembut, berjalan dengan penuh kewibawaan dan kehormatan, tidak dengan sikap sombong dan semaunya sendiri, tidak merasa lebih tinggi dari siapapun, tidak menyeramkan dan tidak congkak.
Syaikh Yusuf Al Qardhawy mengatakan maksud berjalan dengan rendah hati bukan berarti berjalan dengan cara membungku-bungkuk seperti orang sakit, sebab Rasulullah SAW tidak berbuat seperti itu, begitu pula para sahabat.
Sebagaimana yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib r.a, dari Nabi SAW, bahwa saat berjalan badan beliau bergerak-gerak seperti sedang meniti jalan menurun. Ini merupakan jalannya orang-orang yang penuh semangatdan pemberani, seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim di dalam Zadul Ma’ad .
Abu Hurairah juga pernah berkata, “Aku tidak melihat sesuatu pun yang lebih bagus dari pada Rasulullah SAW. Seolah-oleh matahari berjalan di muka beliau. Aku juga tidak melihat seseorang yang lebih jalannya daripada beliau, seakan-akan bumi menjadi turun di hadapan beliau. Kami sudah berusaha menyeimbangi beliau, tapi beliau seperti tidak peduli.”
Rasulullah tidak berjalan seperti orang sakit atau lamban.
Maksud dari kata-kata cepat di sini bukan berarti cara berjalan yang menghilangkan kewibawaan, yang berjalan terlalu cepat.
Artinya sedang-sedang saja, tidak terlalu cepat tidak terlalu lambat, sesuai dengan perawakan, umur dan kemampuan.
Rasulullah SAW juga para sahabat beliau telah menyontohkan kepada kita sikap tawadhu’ yang pada dasrnya adalah salah satu landasan sikap dan akhlak mereka.
Marilah kita simak kata-kata hikmah berikut ini yang terdapat dalam kitab Muzakarah fi manazili as Shiddiqin wa ar Rabbaniyyin; min khilali an Nushus wa Hikam Ibnu ‘Athaillah Sakandary, karya Syaikh Sa’id Hawwa:
“Barangsiapa yang beranggapan bahwa dirinya tawadhu’ pada hakikatnya dia orang-orang yang sombong, sebab anggapan tawadhu’ seperti ini tidak timbul kecuali lantaran rasa tinggi diri/tinggi hati.
Karena itu, jika engkau beranggapan bahwa dirimu telah tawadhu’ sebenarnya engkau adalah orang yang takabur (sombong).”
Allahu A’lam Bi As Shawab



Pendahuluan
Pada malam hari Ibadurrahman 










menyebarnya isu dan fitnah,
malah menjadi nasional ini bangkrut
Fisik jo non fisik mesti seimbang
sabanta lai ado pertandingan sengit…
antaro primordialisme vs egaliter …
nama lah nan ka manang ko …
asal wak ndak tajajah wak baliek…… Read more
Wassalam
Buya HMA
malenceng dari topik saketek buya,
dyan buliah batanyo wakatu luang buya
di bulan juni, ado wakatu buya tuak ka Tokyo buya???… Read more
kok dapek hari kamis barangkek , hari senin baliak
maagiah pangajian di KMII buya
(Keluarga Masyarakat Islam Indonesia) Jepang
jadi juo lah handak nyo batamu wak di negri sakura ko buya
Ya Rabb.. amiinnn ^-^
@ Deri, Banyak do’a nan bisa kito baco…
ALLAHUMMA ASHLIH DZATA BAININAA WA ALLIF BAINA QULUBINA WAHDINAA SUBULAS-SALAM WA NAJJINA MINADZ-DZULUMATI ILAAN-NUUR …
Wahai Allah, perbaikilah apa yang ada di hati kami, dan satukan (pertautkan) hati hati kami, Bimbing kami di jalan yang penuh keselamatan, dan keluarkan kami dari kegelapan (hati, pikiran dan tindakan) ke tempat yang terang benderang (cahaya hidayah)…… Read more
ALLAHUMMA-FTAHLANA ABWABA RAHMATIKA …
Wahai Allah bukakanlah untuk kami pintu-pintu Rahmat Mu …
Moga bermanfaat,
Wassalam
BuyaHMA
Yo satu-satu jalan, yo kito jago dirikito dan kito jago keluarga kito dari jilatan api neraka. wslm, buya.
Tulisan buya kembali mengingatkan kami akan hal-hal
yang selama ini terabaikan,
kesalahan yang saat ini dianggap sebagai trend of life yang sudah menjadi hal yang biasa u dilakukan, tanpa kami tau, bahwa ternyata kami sudah berada di tepi jurang……
semoga ALLAH SWT senantiasa memberikan hidayahnya kepada kita semua, dan membukakan pintu TAUBAT bagi hambaNYA, Aminn ya rabbal alamin
@ Musfi, silahkan…
Buya tidak keberatan,
@ Rky. Irmayeni, selamat di KL.…
Yah memang ini yang selalu Buya sampaikan kecemasan, bahwa tayangan tv kita kurang mendidik,
seperti termehek-mehek, silet dan sebagainya itu.
Jika terpaksa melihat,
dan juga di ikuti anak-anak kita,
jangan lupa mengingatkan mereka
bahwa tayangan ini termasuk gunjing,
tidak baik untuk ditiru teladani…
@.e.Dutamardin Umar di Ombak badabue di Amrik,
Tarimo kasih,
tidak saja 4 S ada lagi istilah SMS,
Sanang Malieh urang Susah, Susah Maliek urang Sanang,
satu kebiasaan di luar pendidikan adat yang luhur,
jauh dari akhlaqul karimah,
perlu pendidikan kepedulian dengan basis,
aqidah yang kuat dan akhlaq terpuji,
Moga kita mampu mengarahkan ke sana…
Wassalam,
BuyaHMA