UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER NINIK MAMAK TUNGKU TIGO SAJARANGAN DALAM IMPLEMENTASI FILOSOFI Adat Basandi Syarak (ABS), Sarak Basandi Kitabullah (SBK).

Membangkitkan Kesadaran Kolektif Akan Nilai Agama Islam di dalam Norma Dasar Adat di Minangkabau Membangun Generasi Unggul Tercerahkan

Adat dan Budaya Minangkabau  dibangun  di atas  Peta Realitas

Adat Minangkabau dibangun di  atas ”Peta Realitas”, yakni Adat yang bersendi kepada “Nan Bana”. Dikonstruksikan secara kebahasaan. Direkam terutama lewat bahasa lisan berupa pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun, yang secara keseluruhan dikenal sebagai Kato Pusako. Ditampilkan lewat berbagai upacara Adat serta kehidupan masyarakat se-hari-hari.

Kato Pusako menjadi rujukan di dalam penerapan perilaku di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Pokok pikiran ”alam takambang jadi guru” meletakkan landasan  filosofis Adat Minangkabau atas dasar pemahaman yang mendalam tentang bagaimana bekerjanya alam semesta serta dunia ini termasuk manusia dan masyarakatnya. Mereka telah menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari Nan Bana”.

group-ulama-national-businees-2

Dalam peta realitasnya, terungkap di dalam ”kato” yang menjadi mamangan masyarakatnya, di antaranya di dalam Fatwa adat menyebutkan, “Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kayo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”. 

Dengan perkataan lain, Adat yang bersendi kepada “Nan Bana” sekaligus juga Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan (PPJK) Masyarakat Minangkabau.

Karena itu Membina perilaku beradat dan beragama di Minangkabau menjadi kerja utama setiap individu di dalam nagari hingga dusun dan taratak, sebagaimana diungkapkan ;

Rarak kalikih dek mindalu,  tumbuah sarumpun jo sikasek,  Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek” dan

Nak urang Koto Hilalang,  nak lalu ka pakan baso,  malu jo sopan kalau lah hilang,  habihlah raso jo pareso”.

Merenda Adat Minangkabau

Para pemikir telah mengakui dan memahami keberadaan Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo, termasuk Alam Terkembang Jadi Guru.[1] Selanjutnya menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari Nan Bana” atau ayat kauniyah.

Konsep ”Adaik basandi ka mupakaik, mupakaik  basandi ka alua, alua basandi ka patuik, patuik basandi ka Nan Bana, Nan Bana Badiri Sandirinyo” menunjukkan bahwa sesungguhnya para filsuf dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah mengakui keberadaanNan Bana, Nan Badiri Sandirinyo”. Artinya, kekuasaan dan kebenaran hakiki ada pada kekuasaan Tertinggi. Di dalam ajaran Islam  dipahamkan dan bahwa Nan Bana (al Haqqu) itu berada di tangan Allah Ta’ala semata (wahdaniyah, Sendiri). Ini dapat dimaknai sebagai landasan masyarakat bertauhid.

Kehidupan Masyarakat Minangkabau adalah Beradat Beradab dan Beragama

Kegiatan hidup masyarakat Minangkabau dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (”system”) pada berbagai tataran (struktur). Tatanan Nilai dan norma dasar sosial budaya orang Minang menjadi Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) dari orang Minang.

Tatanan  ini menjadi WARISAN BUDAYA  yang dibangun  berdasar  Petatah Petitih  (klasifikasi), peradaban  (historis),  Peta realitas alam  (inti pemahaman dalam idea) dan Keyakinan  Agama  Islam  (anutan kepercayaan), Warisan Budaya ini jelas sekali tampak pada Aspek Perilaku, pada bentuk-bentuk khusus tabiat, Lagu, rituals, kelembagaan, Struktur masyarakat dan pengorganisasian kegiatan di Minangkabau itu. Disamping itu warisan budaya tersebut terang pula terlihat pada Aspek-Aspek Fisik seperti pada benda bersejarah, peralatan,  senjata, bangunan bersejarah dan hasil  Kerajinan  (Works of art).

Gambar

PDPH Masyarakat Minangkabau terungkap dalam SENI BUDAYA diantaranya pada karya seni masyarakatnya seperti seni musik (saluang, rabab), seni pertunjukan (randai), seni tari (tari piriang), dan seni bela diri (silek dan pamenan). Juga di benda-benda budaya (karih, pakaian pangulu, mawara dll), bangunan (rumah bagonjong), serta artefak lain-lain mewakili ungkapan fisik dari konsep pandangan perilaku Adat Minangkabau. sehingga masing-masing menjadi lambang dengan berbagai makna. Pandangan Hidup ini memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakatnya dalam sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan masyarakat yang menjadi landasan pembentukan pranata sosial budaya, yang melahirkan berbagai  lembaga formal maupun informal (seperti Tungku Tigo Sajarangan, urang nan 4 jinih).

Kesadaran Kolektif Kesepakatan Bersama

Pandangan Hidup beradat menjadi pedoman dan petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri dan bersama-sama.

Konsep dasar Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat) ini menjadi kesadaran kolektif berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) manusia dan  masyarakat Minangkabau.

Konsep PDPH yang merupakan inti Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat) memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan, adat istiadat yang lebih dikenal sebagai Adat nan Diadatkan dan Adat nan Taradat. Adat Nan Sabana Adat adalah Kaedah Alam, sifatnya tidak berubah sepanjang waktu disebut “ indak lakang dek paneh indak lapuak dek hujan “ , inilah yang disebut “ Sunnatullah “ yaitu  Ketentuan Allah Pencipta Alam Semesta, dalam filsafat ilmu disebut fenomena alam.

  1. Alam telah diciptakan sempurna  dengan hukum-hukum yang jelas  sunnatullah (nature wet) hukum alam   لا تبديل لخلق الله
  2. Dipakai sebagai timbangan yang asli (cupak usali) karena begitulah sifat alam (manusia, hewan, tumbuhan, air, tanah, api, angin) diciptakan Allah SWT.
  3. Cupak usali adalah yurisprudensi yaitu pedoman untuk memepat (menara) cupak buatan (hukum yang dibuat manusia), dikenal dengan  alam takambang jadi guru,  dalam bahasa filsafat ilmu disebut “analogi“, dilafalkan dalam pahatan kato (yaitu kalimat pendek luas maknanya), itulah “ kato dahulu  “ ,  nilainya berada pada domain Hakekat.

PERPADUAN ADAT DAN SYARAK.

 Firman Allah menyatakan, “ Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13).

Nabi Muhammad SAW memesankan bahwa “Perbedaan di tengah-tengah umatku adalah rahmat” (Al Hadist). Dan “innaz-zaman qad istadara”, bahwa sesungguhnya zaman berubah masa berganti (Al Hadist).

Fatwa adat di Minangkabau mengungkapkan  “Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”.  

 

ASPEK SIMBOLIS  ABS-SBK sebenarnya adalah Syarak Mangato Adaik Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru.[2]

Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

 اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. (Al-Baqarah, 257).

  • Nilai  Islam mudah mengakar ke dalam kehidupan masyarakat  Minangkabau, sehingga terkenal  kuat agamanya dan kokoh adatnya, pada berbagai lingkungan tatanan (”system”) dan pada berbagai tingkat tataran (structural ).
  • Paling mendasar adalah tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH).
  • Orang yang tidak beradat dan tidak beragama Islam, kedudukannya disebut tidak berbudi pekerti atau indak tahu di nan ampek =  Sama artinya dengan bodoh.

Pranata Sosial Budaya atau batasan-batasan perilaku manusia yang lahir atas dasar kesepakatan bersama menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama. Setelah masuk Islam ke Minangkabau maka batasan perilaku itu bersandikan Syarak dan Kitabullah.

Dok.Buya 095

Sebagai masyarakat beradat dengan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pelajaran strategi dalam penerapannya. Diantaranya “Mengutamakan prinsip hidup keseimbangan.” Islam menghendaki keseimbangan antara rohani dan jasmani. “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist). Keseimbangan tampak di ranah ini, “Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

Nilai nilai Islam mengajarkan “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”  (Hadist). Nilai Islam menanamkan kesadaran bahwa “bumi Allah amatlah luasnya” sehingga mudah untuk digunakan sesuai firman Allah, “Maka berpencarlah kamu diatas bumi, carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”.  (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

Gambar

Kesadaran ini tertancap dalam pada Pranata Sosial Budaya Minangkabau yakni batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama.

Setelah masuk Islam maka pranata social Minangkabau itu bersandikan kepada Syariat Islam dan Kitabullah. Supaya jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit (QS.4, An Nisak : 97) maka wujudlah kearifanKaratau madang dihulu babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu dirumah paguno balun”. Kemudian meng-introdusir tenaga mereka kembali kemasyarakatnya merasakan denyut nadi kehidupan dan berurat pada hati umat itu.  Ditanamkan pentingnya kehati-hatianIngek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”.

Memiliki jati diri, self help dengan tulang delapan kerat walau dengan memakai cara amat sederhana sekalipun “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain. Membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalah salah.Kefakiran (kemiskinan)  membawa orang kepada kekufuran.

Pemesraan Nilai-Nilai Islam kedalam Filosofi Budaya Minangkabau

Sesudah masuknya Islam terjadi semacam lompatan kuantum (”quantum leap”) di dalam budaya Minangkabau. Bertumbuh-kembangnya manusia-manusia unggul dan tercerahkan. Munculnya tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah kehidupan masyarakat adat Minangkabau di kawasan ini. Semata karena nilai yang dibawa oleh ajaran Islam yang mudah mengakar ke dalam kehidupan masyarakat di Minangkabau.

Orang Minangkabau terkenal kuat agamanya dan kokoh adatnya. Seorang anak Minangkabau di mana saja berdiam tidak akan senang di sebut tidak beragama, dan tidak beradat.

Orang yang tidak beradat dan tidak beragama Islam, di samakan kedudukannya dengan orang tidak berbudi pekerti atau indak tahu di nan ampek.[3]

Adat Minangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso (akal, rasio, logika), hasil nyata dari alam takambang jadi guru, makin kokoh dengan keyakinan yang diisi oleh agama Islam yang benar (haq dari Rabb).

Gambar

Bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat nagari, pasti akan menemui di nagari satu iklim (mental climate) yang subur bila pandai menggunakan dengan tepat.

Ada kekuatan agama, tamadun, budaya, adat istiadat, dan budi bahasa yang baik.  Lah masak padi rang Singkarak,  masaknyo ba tangkai-tangkai, sa tangkai jarang nan mudo. Kabek sa balik buhue sintak, payahlah urang nak ma ungkai, tibo nan punyo rarak sajo. Diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku dalam adaik salingka nagari. Alah bakarih samparono, bingkisan rajo Majopaik, Tuah ba sabab ba karano, pandai ba tenggang di nan rumik. Satu realita objektif  adalah ;  Siapa yang paling banyak menyelesaikan persoalan masyarakat ,  pasti akan berpeluang banyak mengatur masyarakat.

Penguatan peran Ninik Mamak dalam Tungku Tigo Sajarangan

Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para ninik mamak Tungku Tigo Sajarangan yang menjadi pendidik masyarakat dikelilingnya (anak kemenakannya). Perlu dikuatkan pemurnian wawasan fikir, kekuatan zikir, penajaman visi, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang dan pendalaman spiritual religi.

Maka Peran Tungku Tigo Sajarangan sesungguhnya adalah ;

  1. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan yang  merusak Sarak (agama Islam).
  2. Menimbulkan keinsafan mendalam di kalangan rakyat anak nagari tentang perlunya penghakiman yang adil sesuai tuntutan sarak dalam syariat Agama Islam.
  3. Meningkatkan program melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya dalam tatanan kekerabatan.
  4. Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan santun sesuai adat basandi sarak, sarak basandi Kitabullah.

Dengan begitu amat diharapkan lahir generasi Minangkabau yang berkualitas mengutamakan manhaj-ukhuwah  ; bulek aie dek pambuluah bulek kato ka mupakaik.” Mengamalkan budaya amal  jama’i  ; kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua,  tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan. Manyuruah babuek baik, Malarang babuek jahek, Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo, Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado kusuik nan tak salasai. Sehingga lahirlah generasi muda yang dapat meniru kehidupan lebah; kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya,  berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, baik hasil usahanya, dapat dinikmati oleh lingkungannya.

Ringkasnya Membangun kembali masyarakat beradat sopan santun, dengan cara ;

  1. Menghidupkan kembali peraturan bagi tiap suku untuk melengkapi kembali perangkat sukunya, dan memerankan kekerabatan kaum.
  2. Memperkuat peran generasi muda dengan kualifikasi keilmuan, kejujuran, kesetiaan kepada negara, serta memiliki keahlian mengelola nagari dalam pemerintahan nagari.
  3. Mengusahakan tumbuhnya kesadaran membantu mengembangkan pembangunan kampung halaman melalui sumbangan pemikiran dan bantuan lainnya,  guna penguatan  perangkat pemerintahan Nagari.

Sama Bekerja dan Bekerja Sama Saciok bak ayam Sadancieng bak basi

Kehidupan  KEBERSAMAAN (ijtima’iy) masyarakat MADANI mempunyai hak dan kewajiban masing-masing, memiliki hati yang tenteram. Tujuan perhimpunan atau perkumpulan seperti adanya lembaga “Tungku Tigo Sajarangan” di nagari nagari adalah membentuk ikatan yang tenteram, bahagia dan berkekalan (sustainability) dalam aturan-aturan dan ketentuan agama (etika religi)  menurut syariat Islam.

Semua orang berkeinginan untuk hidup bahagia, kekal dan langgeng. Perintah Agama Islam menyebutkan, Hendaklah engkau berjamaah.  Dengan  berhimpun bermasyarakat (ijtima’iy) dapat dicapai kesatuan, kekompakan  dan kebahagiaan  dengan cara :

  1. Saling Mengerti antara Sesama, untuk menjalin komunikasi masing-masing.  Tidak akan memaksakan egonya, karena perbedaan suku atau adalah karunia Allah, Kebiasaan masing-masing, Selera, kesukaan atau hobi, Pendidikan,  Karakter/sikap pribadi secara proporsional baik dari masing-masing, maupun dari orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, teman ataupun saudaranya, dan yang relevan dengan ketentuan yang dibenarkan syari`at.
  2. Saling Menerima.  Satu team work akan terbina dengan saling menerima satu sama lain. Satu kesatuan kelompok adalah ibarat satu tubuh dengan beragam kehendak. Dengan keredhaan dan saling pengertian, beragam warna merah dicampur akan menampilkan keindahannya.
  3. Saling Menghargai, dalam Perkataan dan perasaan, Bakat dan keinginan masing-masing. Sikap saling menghargai adalah sebuah jembatan menuju kuatnya satu team work.
  4. Saling Memercayai, akan melahirkan kemerdekaan berfikir, inovasi dan kreasi mencapai kemajuan. Keselarasan akan lebih meningkat, serta hal ini merupakan amanah Allâh.
  5. Saling Menyintai,  akan memunculkan beberapa hal seperti, lemah lembut dalam bicara, selalu menunjukkan perhatian, bijaksana dalam pergaulan, tidak mudah tersinggung, dan perasaan (batin) masing-masing akan selalu tenteram

Pandangan Hidup masyarakat Minangkabau sejak dahulu, telah melahirkan angkatan-angkatan “generasi emas”, dengan mengamalkan tatanan dan nilai adat dan keyakinan yang berjalin berkelindan dengan sebuah adagium “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK), telah menjadi pegangan yang menata seluruh kehidupan masyarakat Minangkabau dalam kenyataan yang sesungguhnya.

Dalam periode keemasan itu, Minangkabau dikenal sebagai lumbung penghasil tokoh dan pemimpin, baik dari kalangan  alim ulama ”suluah bendang anak nagari” maupun ”cadiak pandai” (cendekiawan pemikir dan pemimpin sosial politik), yang berkiprah di tataran nusantara serta dunia internasional. [4]

Memperkuat ikatan Kekerabatan Suku dan Kaum

Kekerabatan yang erat telah menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

Generasi Minangkabau dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mampu bertahan. Wataknya didukung pemahaman nilai-nilai Raso Pareso. Kemudian dikuatkan dengan keyakinan Islam.  Melalui pengamatan ini tidak dapat disangkal bahwa Islam telah berpengaruh kuat di dalam Budaya Minangkabau.

Pranata sosial Masyarakat Beragama yang Madani di Sumatera Barat yang didiami masyarakat adat Minangkabau semestinya berpedoman (bersandikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Agama Islam yang bersumber kepada Kitabullah (Al Quranul Karim) dan Sunnah Rasulullah  itu, maka pelaksanaan atau pengamalannya tampak atau direkam dalam Praktek Ibadah, Pola Pandang dan Karakter Masyarakatnya, Sikap Umum dalam Ragam Hubungan Sosial penganutnya. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

Masyarakat Ber-Adat Beradab Hanya Mungkin Jika Dilandasi Kitabullah

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan, hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur yang tumbuh mekar dengan  kesadaran kearifan  dalam kecerdasan budaya serta memperhalus kecerdasan emosional  serta dipertajam oleh kemampuan periksa  evaluasi positif dan negatif  atau kecerdasan rasional intelektual yang dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni hidayah Islam.

Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas).

Secara jujur, kita harus mengakui bahwa adat tidak mungkin lenyap, manakala  memahami fatwa adat, Kayu pulai di Koto alam, Batangnyo sandi ba sandi, Jikok pandai kito di alam, patah tumbuah hilang baganti”.

 Secara alamiah (natuurwet) adat itu akan selalu ada dalam prinsip. Jika patah akan tumbuh (maknanya hidup dan dinamis). Menjadi dominan ketika dikuatsendikan oleh keyakinan agama akidah tauhid, dengan bimbingan kitabullah (Alquran) bahwa yang hilang akan berganti. Apa yang ada di tangan kita akan habis, apa yang ada di sisi Allah akan kekal abadi.

Dilaksanakannya adagium Adat Basandi Syarak Syarak, dan Syarak Bansandi Kitabullah (ABS-SBK) maka tali hubungan antara Adat sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan dibuhul-eratkan dengan ajaran Islam yang menekankan kepada akhlak mulia (karimah).

Rentang sejarah membuktikan bahwa penerapan ABS-SBK telah memberikan lingkungan sosial budaya yang subur bagi seluruh anggota masyarakat dalam mengembangkan segenap potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan.

Walau berada dalam lingkungan yang sulit  penuh tantangan, sejak zaman kolonialisme hingga ke masa-masa perjuangan, budaya Minangkabau dengan ABS-SBK terbukti mampu menciptakan lingkungan yang menghasilkan jumlah yang signifikan tokoh-tokoh yang menjadi pembawa obor peradaban di kawasan ini.

Keunggulannya ada pada falsafah adat yang mencakup isi yang luas. Akhlak karimah berperan dalam kehidupan yang mengutamakan kesopanan dan memakaikan rasa malu, sebab malu jo sopan kalau lah hilang,  habihlah raso jo pareso, dalam terapan ABS-SBK secara “murni dan konsekwen”. (Lihat QS.16, an-Nahl : 96.).

Simpulan Simpulan Budi dan Basabasi

Masyarakat Unggul dan Tercerahkan dicetak dengan Menanamkan Nilai-Nilai Ajaran Islam dan Adat Budaya.

Khusus bagi Masyarakat Adat Minangkabau digali dari Al-Qur’an, membentuk peribadi yang zikir, – yakni hidup dengan penuh kesadaran akan keberadaan Allah Ta’ala dengan segenap aspek hubungan-Nya dengan manusia dan segenap makhluk Ciptaan-Nya , dan berdaya fikir, –

Berarti membuat Peta Kenyataan sesuai Petunjuk Ajaran Allah Ta’ala yang diuraijelaskan Alquran dan ditafsirterapkan oleh Rasul lewat Sunnah sebagai Teladan Utama (Uswatun Hasanah) .

Maka secara batinnya antara adat dan agama saling melengkapi dari yang genap sampai yang ganjil.[5]

Adat Minangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso (akal, rasio, logika), hasil nyata dari alam takambang jadi guru, makin kokoh dengan keyakinan yang diisi oleh agama Islam yang benar (haq dari Rabb).   Sebagai ujud pengamalan Firman Allah:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama (syariat, syarak) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya – kekampung halamannya –, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS.IX, at Taubah, ayat 122).  

Tidak ada yang lebih indah daripada budi dan basabasi. Yang dicari bukan emas dan bukan pula pangkat, akan tetapi budi pekerti yang paling dihargai. Hutang emas dapat di bayar, hutang budi dibawa mati. Agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan basi (budi pekerti yang mulia). Jika ingin pandai rajin belajar, jika ingin tinggi  (mulia), naikkan budi pekerti.

Khulasahnya, penerapan ABS-SBK mengharuskan kehidupan perorangan serta pergaulan masyarakat Minangkabau berakar dari dan berpedoman kepada Al-Quran serta Sunnah Rasullullah. Dengan demikian, ABS-SBK dapat membentuk lingkungan sosial-budaya yang akan melahirkan masyarakat Minangkabau yang unggul tercerahkan dengan kekuatan akidah dan akhlak menurut Kitabullah.

Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”.

Gambar

Dengan melaksanakan ABSSBK lahir sikap cinta ke nagari. Tumbuh sikap positif menjaga batas-batas patut dan pantas. Terbentuk umat yang kuat, sehat fisik, sehat jiwa, sehat pemikiran, dan sehat social, ekonomi, konstruktif (makruf).

Pariangan jadi tampuak tangkai, Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo Luhak rang mangatokan. Adat jo syara’ jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban”

 “Tasindorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki, Adat jo syarak jiko tasusun, Bumi sanang padi manjadi.

Padang, 25 NOVEMBER  2013


CATATAN KAKI ;

[1]  Para filsuf dan pemikir Adat Minangkabau (Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, menurut versi Tambo Alam Minangkabau). Mengungkapkannya ke dalam pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun, yang berisi gagasan-gagasan bijak, sebagai Kato Pusako.

[2]  Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan hasil kesepakatan — Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam – dari  dua arus besar (”main-streams”) Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) Masyarakat Minangkabau yang sempat melewati konflik yang melelahkan. Sejarah membuktikan, kesepakatan yang bijak itu telah memberikan peluang tumbuhnya beberapa angkatan ”generasi emas” selama lebih satu abad berikutnya. Karena itu, Peristiwa sejarah Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam dapat disikapi dan diibaratkan bagaikan “siriah nan kambali ka gagangnyo, pinang  nan kambali ka tampuaknyo, yaitu dari Adat yang pada akhirnya bersendikan kepada Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo, disepakati menjadi  “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”(ABS-SBK).

[3] Sama artinya dengan bodoh.

[4] Sebagai hasil penelitian sejarah, Dobin menyebutkan bahwa, sejak abad 17 di Minangkabau, surau telah mengajarkan kepada masyarakat… “agar  menerima lima pokok Islam dan hidup sebagai orang Islam yang baik” … dan dinyatakan pula bahwa salah satu fungsi surau adalah mengajarkan silat Melayu … dan seorang guru biasanya mempunyai sejumlah pemuda yang bisa dipersiapkan untuk menghadapi bentrokan … Dan, dengan tindakan (kesiapan) itu, para perampok menjadi takut merampok dan menjual orang-orang tahanan mereka … di antaranya di Ampek Angkek sejak pertengahan 1790 di bawah kepemimpinan surau (Tuanku Nan Tuo) menjadikan negerinya mengalami kemajuan besar dalam pengaturan urusan dagang, yang kemudian dilanjutkan murid beliau yang tersebar, di antaranya Jalaluddin mendirikan surau di Koto Lawas (Koto Laweh) di lereng Gunung Merapi sebagai nagari penghasil akasia dan kopi, untuk “membangun masyarakat muslim” yang sungguh-sungguh …Demikian di tulis oleh Christine Dobin, dalam bukunya “Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi, Minangkabau 1784-1847”, edisi Indonesia, Komunitas Bambu, Maret 2008, ISBN 979-3731-26-5, di halaman 198 – 225.

[5]  Sangat menarik pemakaian angka-angka di Minangkabau, lebih nyata bilangan genap, realistis seperti ”kato nan ampek (4), undang-undang nan duopuluah (20), urang nan ampek jinih, nagari nan ba ampek suku, cupak nan duo (2), cupak usali jo cupak buatan, rumah basandi ganok, tiang panjang jo tonggak tapi, basagi lapan (8) atau sapuluah (10) artinya angka genap. Datang agama Islam, di ajarkan pula pitalo langik nan  tujuah (7), sumbayang nan limo wakatu, rukun Islam nan limo (5), Maka secara batinnya antara adat dan agama saling melengkapi dari yang genap sampai yang ganjil.

Kepemimpinan Perempuan berlandasan “adat basandi syarak – syarak basandi kitabullah” dalam Budaya Minangkabau, di Sumatera Barat

Kepemimpinan Perempuan berlandasan “adat basandi syarak – syarak basandi kitabullah” dalam Budaya Minangkabau, di Sumatera Barat

Oleh : H. Mas’oed Abidin[1]

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

لآ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لآ يَعْلَمُونَ

Artinya, “Maka tegakkan wajahmu (berjuanglah) untuk agama Islam yang hanif ini. Inilah agama fitrah yang Allah telah ciptakan manusia selaras dengannya. Tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah. Itulah agama (pegangan hidup) yang kekal bernilai. Tetapi kebanyakan manusia tidak mau mengerti” (QS.ar Rum : 30)

Mukaddimah

BILA KITA DALAMI  Dasar Falsafah Minangkabau, ada 3 rahmat yang diberikan Tuhan kepada nenek moyang Minangkabau yaitu Pikiran, Rasa (dalam diri manusia), dan Keyakinan (dalam agama yang diyakini), yaitu Islam.  Dengan demikian orang Minangkabau hidup berbekal moril dan materil. Bekal moril dia bisa hidup menyesuaikan diri di mana saja di tanah perantauannya. Dengan materil mampu berusaha menurut ukuran keahlian masing-masing. Dengan kedua bekal itu pula ada kewajiban membimbing generasi merebut sukses dunia dan akhirat, sesuai bimbingan syarak (agama Islam).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَد

Artinya, Wahai orang yang beriman, hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah setiap diri merenungkan apa yang telah dilakukannya untuk hari esok (hari akhiratnya) (QS.al Hasyr : 18).

Orang Minangkabau adalah ahli-ahli politik karena mendapat pepatah dari leluhurnya dengan tujuan tercapainya kebahagiaan bersama melalui musyawarah  mufakat. Di alam Minangkabau pemimpin harus berbuat adil. Raja adil raja disembah, Raja tidak adil raja disanggah. Di dalam mencapai tujuan ada bimbingan pepatah, “Ibarat mengambil rambut dalam tepung”, Tepung tidak terserak, Rambut tidak putus. Ini maknanya arif.

Jadi jelaslah hampir seluruh sektor kehidupan dilengkapi dengan pepatah petitih yang bila digali kembali, maka yakinlah bahwa orang Minangkabau akan lebih unggul dalam seluruh kehidupan di daerah lainnya. Dasar falsafah hidup orang Minangkabau memang luas meliputi, susunan masyarakat,  pengelolaan masyarakat, perekonomian masyarakatnya.  Keduniaan dan keakhiratan agar sempurna mesti diatur dalam suatu sistem pergaulan hidup, yang tujuannya untuk menjadikan kebahagian di dunia dan di akhirat.

GambarAjaran Islam adalah pandangan dan jalan hidup (philosophy and way of live) sebagaimana yang diajarkan oleh Allah Pencipta Alam di dalam Kitabullah, adalah bahwa manusia makhluk yang memiliki fisik, ruhaniah, rasional, sosial, dan mempunyai keyakinan atau beraqidah, yang dalam syarak (syariat Islam) disebut bertauhid.

Kalau didalami agama (aqidah dan syariat) dan adat (tata laku, pergaulan, hubungan masyarakat), maka kesimpulan sebenarnya adalah bahwa agama dan adat menjadi amat penting perannya untuk dapat mempertahankan manusia sebagai manusia dan masyarakat yang bermakna dan bermartabat.

Tanpa ajaran Islam dan adat Minangkabau yang menekankan pentingnya kebersamaan, kekeluargaan, seiya setida, berpedoman kepada Kitabullah (Alquran), manusia Minang bisa saja berubah menjadi ibarat pasir di tepi pantai, ibarat buih di atas air bah, ibarat hewan di rimba balantara, bahkan mungkin lebih hina lagi. Pedoman dan pendekatan wahyu penting diperhatikan supaya sumber daya manusia jangan tergelincir kepada yang membinasakan manusia dan alam lingkungannya.

Pandangan materialisme, sekularisme, individualisme, hedonisme, nihilisme dilahirkan oleh otak manusia, terutama di era global tidak mau lagi memperhatikan petunjuk wahyu dan agama. Bahkan mulai menghindar dari daya yang dimiliki manusia sendiri, yaitu hati nurani dan perasaan luhur. Kondisi ini berakibat fatal bagi perkembangan ruhaniyah manusia, berpengaruh sangat kepada watak kepemimpinan, yang cepat putus asa, melawan arus kehidupan, bahkan bunuh diri dan sebagainya.

Karena itu, ABSSBK mestinya menjadi political will yang kalau diterapkan akan punya daya fleksibilitas dan dinamis serta prinsip-prinsip yang akan menjamin eksitensi manusia tetap sebagai manusia, yaitu makhluk yang bermoral dan regelius. Pengitegrasian ini penting diupayakan untuk menghadapi tantangan kehidupan modern dan arus globalisasi.

Keunggulan ada pada Pandai Memenej Waktu

Bila waktu tidak digunakan dengan baik, akan terbuang untuk yang sia-sia. Seseorang yang tidak mengisi waktunya dengan kebaikan (shalihah), pastilah ia akan menuai kejelekan (fahisyah). Menyia-nyiakan waktu akan merugi. Menjaga waktu adalah kejujuran menjaga amanah Allah.

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ، قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلىَ غَيْرِ أَهْلِهِ، فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ                       رواه البخاري

Apabila kejujuran (tanggung jawab) telah disia-siakan, maka tunggulah waktunya (kebinasaan). Ada orang bertanya: Bagaimanakah caranya menyia-nyiakan kejujuran (tanggung jawab) itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab: Apabila diserahkan urusan kepada orang yang bukan ahlinya, tunggulah waktunya (kebinasaan). (Diriwayatkan oleh Bukhari)

Sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud RA, telah berkata, “Tidaklah aku menyesali sesuatu, seperti penyesalanku atas satu hari yang berlalu dengan terbenamnya matahari, semakin berkurang umurku tetapi tidak bertambah amalanku.”

Perempuan saleh mengambil faedah waktu dan tempat yang utama. Tidak melalaikan waktu-waktu shalat karena disibukkan pekerjaan rumah tangga, atau tugas sebagai ibu dan istri.  Shalat adalah tiang agama. Shalat adalah amal paling utama.

Perempuan menyimpan kata empu. Mengadung arti pemimpin (raja), orang pilihan, ahli, yang pandai, pintar dengan segala sifat keutamaan.

GambarPerempuan Minang adalah pemimpin  — tahu di mudharat jo manfaat,  mangana labo jo rugi,  mangatahui sumbang jo salah, tahu di unak kamanyangkuik, tahu di rantiang ka mancucuak, ingek di dahan ka mahimpok, tahu di angin nan basiruik, arih di ombak nan basabuang, tahu di alamat kato sampai -. Kepemimpinan Perempuan Minangkabau sangat arif, tahu dengan yang pantas dan patut. Kearifan adalah asas kepemimpinan masyarakat. Perempuan Minangkabau disebut bundo sebab pandai menjaga martabat dan punya sikap panutan.

Alquran menyebut perempuan dengan Annisa’ atau Ummahat. Maknanya sama dengan ibu, atau “Ikutan Bagi Umat” dan tiang suatu negeri.[2]

Masyarakat yang baik lahir dari Ibu yang baik. “Ibu (an-Nisak) adalah tiang negeri” (al Hadith). Jika kaum perempuan dalam suatu negeri berbudi pekerti baik (shalihah), niscaya akan sejahtera negeri itu. Sebaliknya, apabila kaum perempuan di suatu negeri  berperangai buruk (fasad), maka binasalah negeri seluruhnya. Kitab suci Alquran menempatkan perempuan dengan hak  serta tangung jawab masing-masing, yang sama beratnya, dan menjadi kata kunci terpeliharanya harkat martabat insaniyah pada jenis yang berbeda antara lelaki dan perempuan. Hubungan keduanya ada pada posisi azwajan = mitra setara dan ini modal utama kalau akan menjadi pasangan dalam hidup (lihat Q.S.16:72, 30:21, 42:11).

Laki-laki dan Perempuan punya hak dan kewajiban yang sama, terutama di dalam membina keluarga di tengah rumah tangganya. Perempuan perekat silaturrahim. Lelaki pelindung perempuan. Keduanya, punya tanggung jawab sama, menjaga lingkungan dan kehidupan berjiran bertetangga.

Dalam Pandangan Syarak (Syariat Agama Islam) disebutkan ad-dunya mata’un, wa khairu mata’iha al mar’ah as-shalihah artinya perhiasan paling indah adalah perempuan saleh (perempuan yang istiqamah pada peran dan konsekwen dengan citra-nya).

Rasul SAW bersabda; “Demi Allah, dia tidak beriman, demi Allah, dia tidak beriman, demi Allah, dia tidak beriman”. Ada yang bertanya; “Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”. (HR. Asy-Syaikhan).

Risalah Agama mengutamakan pendidikan akhlaq. Sebuah bangsa akan tegak dengan kokoh karena etika moral dan akhlaknya. Etika dan moral itu dibentuk oleh budaya dan ajaran agama. Moral anak bangsa yang rusak, membuat bangsa terkoyak.

Rumah tangga sebagai extended family (inti keluarga besar) dalam budaya Minangkabau menjaga dan mencetak generasi bermoral, dengan filosofi yang jelas, Adat bersendi syarak – syarak bersendi Kitabullah.

Kaum perempuan (bundo kanduang, pemilik suku) berperan mendidik, menjaga nikmat Allah. Kaum lelaki (pemilik nasab), membentuk generasi berdisiplin. Kedua peran ini menjadi satu di dalam tatanan pergaulan masyarakat adat, dengan kekerabatan yang kuat.

Peranan syarak (agama Islam bersendikan Kitabullah – Alquran dan Sunnah Rasul), mengikat adat dengan akhlaqul karimah atau etika religi sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat beradat. Pesan Rasulullah SAW ;

ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان  :

  1. من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما,
  2. ومن احب عبدا لا يحبه الا الله,
  3. ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه  كما يكره ان يلقى فى النار.

Artinya, Tiga perkara — barangsiapa terdapat pada dirinya –, dia akan merasakan lazatnya iman:

  1. Mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya,
  2. Mencintai seorang hamba hanya karena Allah,
  3. Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.

(H.R. Imam Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa’I).

Perempuan dalam Adat dan Budaya Minangkabau

Dalam adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah – di Minangkabau,  perempuan menempati posisi pemilik rumah  – hiduik batampek,  mati bakubua, kuburan hiduik di rumah gadang, kuburan mati   di tangah padang –, dengan peran induak bareh  — nan lamah di tueh, nan condong di tungkek, ayam barinduak, siriah bajunjuang. Artinya, pengendali ekonomi keluarga.

PERAN IDEAL perempuan Minangkabau menjadi pemilik suku, ulayat, pusako, kekayaan, rumah, anak, kaum, dan disebut PADUSI artinya padu isi dengan sifat utama.

Gambar

(a). benar, (b).jujur lahir batin, (c). cerdik pandai, (d). fasih mendidik dan terdidik, (e). bersifat malu. Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso,  malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso, apabila malu dan sopan telah hilang habislah rasa dan periksa. al hayak nisful iman = malu adalah paruhan dari Iman.

1. Hati-hati, « bakato sapatah di pikiri, bajalan salangkah maliek suruik, muluik tadorong ameh timbangannyo, kaki tataruang inai padahannyo, urang pandorong gadang kanai, urang pandareh hilang aka, »  – artinya, berkata sepatah dipikirkan, setiap langkah berjalan memperhatikan apa yang sudah dikerjakan, mulut terdorong emas timbangnya, kaki tertarung inai padahannya, yang suka pendorong besar kenanya, dan yang keras mulut pertanda hilang akal –. Fatwa adat mengatakan, «  ingek dan jago pado adat, ingek di adat nan ka rusak, jago limbago nan ka sumbiang, » = jagalah adat selalu, ingat adat jangan rusak, jaga lembaga jangan sumbing).

2. Yakin kepada Allah  (iman bertauhid), «  iman nan tak bulieh ratak kamudi nan tak bulieh patah, padoman indak bulieh tagelek, haluan nan tak bulieh ba rubah » — artinya, iman tidak boleh retak, kemudi tidak boleh patah, pedoman tidak boleh beranjak, haluan tidak boleh berubah –. Wujudnya tampak dalam kearifan pergaulan, « katiadaan ameh bulieh di cari, katiadaan aka putuih bicaro, tak barameh putuih tali, tak baraka taban bumi » = tidak ada emas boleh dicari, tidak ada akal putus bicara, tidak ada emas putus tali, tidak berakal terban bumi –. Akal adalah anugerah Allah yang wajib di jaga dengan iman. Iman dikokohkan dengan menjaga aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

ياَ غُلاَمُ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ وَ إِذَا سَأَلَكَ فَاسْأَلِ اللهَ تَعَالىَ وَ إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ                       رواه الترذي

“ Jagalah (perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (perintah) Allah, nanti engkau akan mendapatinya di hadapan engkau. Apabila engkau meminta, pintalah kepada Allah dan apabila engkau meminta pertolongan, pintalah pertolongan kepada Allah ‘Azza Wajalla.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi)

3. Perangai berpatutan (istiqamah, konsisten). Perangai akan menjadi contoh anak cucu atau generasi pelanjut, ” bahimat sabalun abih, sadiokan payuang sabalun hujan” – artinya, berhemat sebelum habis, sediakan paying sebelum hujan –. Kewajiban masa depan terpaut kepada pusaka adat turun temurun.

Keunggulan perempuan Minangkabau, ”maha tak dapek di bali, murah tak dapek dimintak, takuik di paham ka tagadai, takuik di budi katajua ” = mahal tidak dapat dibeli, murah tidak dapat diminta, takut pada paham akan tergadai, takut jika budi akan terjual. Budi dan malu jika telah hilang, bencana datang tindih bertindih, ”ka ateh indak ba pucuak, ka bawah indak ba urek, di tangah di giriak kumbang, hiduik sagan mati tak amuah, bagai karakok tumbuah di batu” = ke atas tidak berpucuk, kebawah tidak berurat, di tengah dilarik kumbang, hidup segan mati tak bisa, bagaikan kerakap tumbuh di batu.

Mencontohkan watak uswah menyangkut diri sendiri dan hidup masyarakat, sekarang, besok dan di mana saja, “nan barisuak bukan kini, nan kini bukan kapatang” = yang besok bukan kini, dan yang kini bukan kemarin. Maknanya sangat realistis,berpangkal pada usaha  nyata.

4. Kaya hati, tagak badunsanak, mamaga dunsanak, tagak bakampuang, mamaga kampuang, tagak basuku, mamaga suku, tagak banagari, mamaga nagari, tagak babangso, mamaga bangso, — artinya, berdunsanak memagar dunsanak, berkampung memelihara kampung, bersuku menjaga suku, bernegara membentengi  Negara, tegak berbangsa menjaga bangsa –.

Watak keperibadiannya sopan santun, kuat dan tegas, berani dan setia, hemat dan khidmat, muluik manih, kucindan murah, pandai ba gaue samo gadang – mulut manis kecindan = kelakar menyejukkan, pandai bergaul sesama besar –, yang tua  dimuliakan, yang muda di kasihi, sama besar saling hormat menghormati.

5. Tabah (redha), haniang ulu bicaro, naniang saribu aka, dek saba bana mandatang = hening itu pangkal bicara, berfikir naning = ingat itu seribu akal, karena sabar kebenaran datang. Falsafah hidup beradat menempatkan perempuan Minang pada sebutan mandeh atau bundo kandung secara simbolik, limpapeh rumah nan gadang = perhiasan dan pemilik rumah, umban puro pegangan kunci, umban puruak aluang bunian = pemilik harta pusaka, hiasan di dalam kampuang, sumarak dalam  nagari = hiasan kampung semarak nagari, sama seperti tiang nagari, nan gadang basa batauah = yang dimuliakan, dipuja dan bertuah. Maka peran perempuan Minangkabau tiang utama di dalam rumah gadang. Artinya, menjadi sandaran anak cucu.

6. Jimek (hemat tidak mubazir), di kana labo jo rugi, dalam awal akia membayang, ingek di paham nan ka tagadai, ingek di budi nan ka tajua,  mamakai malu dengan sopan = di ingat laba dan rugi, sejak awal bertindak akhir tujuan sudah terbayang, ingat paham akan tergadai, ingat budi akan terjual, dengan memakai malu dan sopan santun. Ciri utama perempuan Minangkabau “sehayun-selangkah, semalu-sehina”.

أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ المَرْءِ: أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً، وَ أَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا، وَ خُلَطَاؤُهُ صَالِحِيْنَ، وَ أَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِي بَلَدِهِ                                      رواه الديلمي عن علي

Empat kebahagiaan manusia: Istrinya perempuan yang saleh, anak-anaknya orang baik-baik, teman sepergaulannya orang-orang yang saleh dan rezekinya diperoleh di negerinya. (Diriwayatkan oleh Dailami dari ‘Ali)

Perempuan Shaleh dalam Pandangan Agama Islam

Agama Islam atau syarak menempatkan kaum perempuan dengan watak yang jelas, ialah mar’ah shalihah = perempuan saleh dan lembut menjaga diri, memelihara kehormatan, patuh (qanitaat) kepada Allah, hafidzaatun lil ghaibi bimaa hafidzallahu = memelihara kesucian diri dan CERIA. Tidak ada keindahan yang melebihi “indahnya wanita saleh” (Al Hadith). Perempuan Minang dan saleh amatlah pandai menjaga waktu.

1.  Perempuan Saleh takut kepada Tuhan, diawasi Allah.

Perempuan saleh tidak menyia-nyiakan waktu tanpa faedah serta kuat mengoreksi diri setiap saat. Rasulullah SAW mengabarkan perbedaan antara orang yang berdzikir (koreksi diri) dengan yang tidak, seperti perbedaan antara orang hidup dan orang mati. Rasul bersabda,

مثل الذي يذكر ربه والذي لايذكر ربه مثل الحي والميت

Artinya, Perbandingan antara orang yang mengingat tuhan dengan yang tidak mau mengingat tuhannya, sama seperti perumpamaan antara orang yang hidup dan yang mati (HR. Imam Bukhari, Shahih al Bukhari, Kitab Ad Da’wat).

2.  Perempuan saleh tahu tempat utama, Responsif terhadap lingkungan

Piawai dan Mandiri, teguh dan kokoh, Watak mulia, Lembut hati, Penyabar, Penyayang sesama, Keras mempertahankan Harga Diri, Tegas, Kuat Iman dalam melaksanakan suruhan Allah, Pendamai, Suka memaafkan, Mampu menjadi pemimpin masyarakatnya (contohnya Sayidatina ‘Aisyah).

مَا كَانَ الرِّفْقُ فيِ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ                   رواه الضياء عن أنس

Lemah lembut dalam sesuatu (urusan) menyebabkan indahnya dan kalau dia dicabut dari sesuatu, niscaya akan memburukkannya. (Diriwayatkan oleh Dhia dari Anas)

Gambar

Kepiawaian tumbuh karena teguh melaksanakan kewajiban ;

  1. kewajiban kepada Rabb-nya,
  2. kewajiban kepada orang tuanya,
  3. kewajiban kepada suaminya,
  4. kewajiban terhadap anaknya,
  5. kewajiban terhadap kaum kerabatnya (sukunya),
  6. kewajiban terhadap tetangga,
  7. kewajiban terhadap saudara dan temannya, dan
  8. kewajiban terhadap masyarakatnya.

3.    Perempuan Saleh selalu taat beribadah.

Berpengaruh pada tata laku, bermuara kepada mode pakaian yang dipakai (buktinya di Sumbar berpakaian saruang, kodek, baju kuruang, salendang, tikuluak, dsb).[3]

Perempuan Saleh tahan uji (shabar), disiplin (istiqamah), pandai memanfaatkan apa yang dimiliki untuk mewujudkan kebahagiaan (syukur ni’mah), merangkai keberhasilan, hemat, qanaah.[4]   Perempuan saleh di Minangkabau yang taat, senantiasa  bermohon taufik kepada Allah dalam merealisasikan semua cita yang sedang di emban dalam meraih masa depan yang lebih bermartabat dengan mempertajam akal fikiran yang jernih.

إِذَا أَرَادَ اللهُ إِنْفَاذَ قَضَائِهِ وَ قَدَرِهِ سَلَبَ ذَوِي العُقُوْلِ عُقُوْلَهُمْ حَتَّى يَنْفُذَ فِيْهِمْ قَضَاؤُهُ وَ قَدَرُهُ. فَإِذَا قَضَى أَمْرَهُ رَدَّ عُقُوْلَهُمْ وَ وَقَعَتِ النَّدَامَة ُ رواه الديلمى عن أنس

Apabila Allah hendak melaksanakan putusan atau hukuman-NYA, dicabut akal orang yang mempunyai akal sampai terlaksana ketentuanNya itu. Setelah hukuman itu selesai akal mereka dikembalikan dan timbullah penyesalan. (Diriwayatkan oleh Dailami dari Anas)

4.    Perempuan saleh,arif menetapkan Majlis yang baik.

Sesuai tabiatnya, perempuan Minangkabau yang saleh tidak mungkin hidup sendiri. Dia harus mempunyai teman berbincang. Teman paling ideal adalah yang punya akhlak mulia.[5] 

5.    Perempuan Saleh mengejar Keberhasilan Memacu diri

membaca bacaan yang bermanfaat seperti telah didorong oleh perintis pendidikan perempuan (Rohana Kudus, Rahmah el Yunusiyah), yang dengan bimbingan syarak mengajarkan kepada setiap muslimah untuk memperbanyak membaca Al-Qur’anul Karim, menghafal serta menyimaknya. [6]  

6.    Perempuan Minangkabau mempunyai Prinsip Teguh,

Toleran bergaul, lemah lembut bertutur kata, tegas melawan kejahatan, kokoh menghadapi percabaran budaya dan tegar menghadapi percaturan dunia, sanggup buat lingkungan sehat, bijak menata pergaulan baik dan nyaman, tahu diri, hemat, dan tidak malas. Pesan Rasulullah SAW; ”Jauhilah hidup ber-senang-senang (foya-foya), karena hamba-hamba Allah bukanlah orang yang hidup bermewah-mewah (malas dan lalai)” (HR.Ahmad).

Kesombongan dan maksiat sangat dimurkai oleh Allah.

أَرْبَعَةٌ يُبْغِضُهُمُ اللهُ تَعَالىَ: البَيَّاعُ الحَلاَّفُ، وَ الفَقِيْرُ المُخْتَالُ، وَ الشَّيْخُ الزَّانِي، وَ الإِمَامُ الجَائِرُ رواه النسائي

Empat golongan yang dibenci Allah: Saudagar yang gemar bersumpah, orang miskin yang sombong, orang tua yang suka berzina dan pembesar yang aniaya (kejam). (Diriwayatkan oleh Nasa’i)

7.    Perempuan Saleh mampu Menghadapi Perubahan

tanpa harus tercerabut dari nilai-nilai moral dan tatanan pergaulan.

Lapang hati yang dipunyai oleh setiap insan yang hidup hanya dapat di bangun dengan ingat kepada Allah semata.

إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يَقُوْلُ

أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَ تَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ- رواه أحمد عن أبي هريرة

Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Aku bersama (menolong) hambaKu, selama dia menyebut (mengingati) Aku dan masih bergerak bibirnya menyebut namaKu. (Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Hurairah)

8.    Perempuan Minangkabau mampu melakukan pengawasan

Terhadap diri dan turunannya sepanjang masa.  Menghindari prilaku cela, yaitu dusta (bohong), mencuri dan caci maki, sesuai sabda Rasulullah SAW; “Jauhilah dusta, karena dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka” (Hadith Shahih). Disini peran perempuan sangat dominan di tengah rumah kaum dan sukunya. [7] 

9.    Melaksanakan amar makruf (social support) dan nahyun anil munkar (social control) untuk kejayaan dunia akhirat.

وَ الَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَ لَتَنْهَوْنَ عَنِ اْلمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ    تيسير الوصول

Demi Tuhan yang diriku dalam tanganNya! Hendaklah kamu menyuruh perbuatan baik dan kamu mencegah perbuatan salah, atau (kalau tidak), nanti Allah dalam masa yang dekat akan menimpakan kepada kamu siksaanNya, kemudian itu kamu mendo’a kepadaNya dan doa kamu tidak diperkenankanNya. (Dari kitab Taisirul Wusul)

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”(QS. Ali Imran, 3 : 104 )

Dalam Konsep Islam, perempuan saleh bergaul dengan ma’ruf dan ihsan, kasih sayang dan cinta, lembut dan lindung, berkehormatan, berpadu hak dan kewajiban. Kata azwajan menggambarkan kokoh peran perempuan dalam wadah keluarga besar (extended family).[8] [7] Rasulullah SAW menyebutkan, “Sorga terletak dibawah telapak kaki Ibu”(al Hadith). Tata krama pergaulan dimulai dari penghormatan di rumah tangga, lingkungan tetangga dan pergaulan warga masyarakat (bangsa).

Gambar

Dalam Etika religi dimulai dari mengucap salam, menyebar senyum, jenguk menjenguk, bertakziyah kala kemalangan, memberi dan mengagih pertolongan, melapangi jika kondisi memungkinkan, walau hanya memberi sepotong doa dengan ikhlas sesama tetangga. Dzikrullah  melahirkan pemikiran bersih, jernih dan diterima oleh semua pihak. Di dalamnya ada hikmah. Inilah keuntungan utama dari dzikrullah itu.

صَنَائِعُ المَعْرُوْفِ تَقِى مَصَارِعَ السُّوْءِ، وَ الصَّدَقَةُ خَفِيًّا تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيْدُ العُمْرَ، وَ كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ وَ أَهْلُ المَعْرُوْفِ فيِ الدُّنْيَا، هُمْ أَهْلُ المَعْرُوْفِ فيِ الآخِرَةِ، وَ أَهْلُ المُنْكَرِ فيِ الدُّنْيَا، هُمْ أَهْلُ المُنْكَرِ فيِ الآخِرَةِ، وَ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الجَنَّةَ أَهْلُ المَعْرُوْفِ           رواه الطبراني عن أم سلمة

Perbuatan baik itu menjaga dari serangan bahaya, sedekah dengan sembunyi memadami marah Tuhan, memperhubungkan silaturahmi menambah umur dan setiap perbuatan baik itu sedekah. Orang yang mengerjakan perbuatan baik di dunia, mereka juga orang yang mengerjakan perbuatan baik di akhirat, sedang orang yang memperbuat kesalahan di dunia, mereka juga orang yang memperbuat kesalahan di akhirat. Orang yang dahulu masuk surga ialah orang yang berbuat baik. (Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ummu Salamah)

Khulashah

Kepemimpinan perempuan yang tulus akan mencetak generasi yang berwatak taqwa, focus dalam berkarya (amal) dan kaya dengan rasa malu. Karakter ini mewarnai masyarakat tradisonal yang mewarisi tamaddun (budaya). Inilah peran perempuan menurut adat di Minangkabau hari ini dan masa datang dalam bimbingan syarak (agama) Islam. Dalam bimbingan Rasulullah SAW ada sinyalemen tentang tujuh watak yang menempati posisi mulia dan semstinya direbut;

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ فيِ ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ وَ شَابٌّ نَشَأَ فيِ عِبَادَةِ اللهِ، وَ رَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ إِذَا خَرَجَ مِنْهُ حَتَّى يَعُوْدَ إِلَيْهِ، وَ رَجُلاَنِ تَحَابَّا فيِ اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَ افْتَرَقَا عَلَيْهِ، وَ رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ فيِ خَلْوَةٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَ رَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَ جَمَالٍ إِلىَ نَفْسِهَا، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ العَالَمِيْنَ، وَ رَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتىَّ لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ                      رواه الشيخان

Tujuh golongan akan dinaungi Allah di bawah lindunganNya, di waktu tidak ada lindungan selain lindunganNya: Imam (kepala pemerintah) yang adil, pemuda yang mempergunakan masa mudanya untuk menyembah Allah, seseorang yang hatinya tergantung di mesjid apabila dia keluar dari mesjid sampai dia kembali ke mesjid, dua orang berkasih sayang karena Allah, keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, seseorang yang mengingati Allah ketika sendirian, lalu menetes air matanya, seorang laki-laki yang dirayu oleh seorang perempuan yang bangsawan dan rupawan, lalu dia menjawab: Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam dan seseorang yang bersedekah dengan sedekahnya, lalu disembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dinafkahkan oleh tangan kanannya. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadist ini dapat disimpulkan ada beberapa upaya yang perlu dilakukan, antara lain ;

1.      Ilmu dan iman akan mendorong setiap diri umat manusia sanggup hidup mandiri.  Nilai-nilai agama (syarak) dalam konsep mencari ridha Allah, adalah Akhlak Mulia dan memadukannya dengan pengetahuan dan keterampilan.

إِنَّ مِنْ أَخْلاَقِ المُؤْمِنِ قُوَّةً فيِ دِيْنٍ وَ حَزْمًا فيِ لِيْنٍ وَ إِيْمَانًا فيِ يَقِيْنٍ وَ حِرْصًا فيِ عِلْمٍ وَ شَفَقَةً فيِ مِقَةٍ وَ حِلْمًا فيِ عِلْمٍ وَ قَصْدًا فيِ غِنًى وَ تَجَمُّلاً فيِ فَاقَةٍ وَ تَحَرُّجًا عَنْ طَمَعٍ وَ كَسْبًا فيِ حَلاَلٍ وَ بِرًّا فيِ اسْتِقَامَةٍ وَ نَشَاطًا فيِ هُدًى وَ نَهْيًا عَنْ شَهْوَةٍ وَ رَحْمَةً لِلْمَجْهُوْدِ.

Sesungguhnya termasuk akhlak (budi pekerti) orang beriman ialah kuat memegang agama, tegas dengan sikap, ramah lembut, beriman dengan keyakinan, loba kepada pengetahuan, memberi bantuan dengan perasaan belas kasihan, ramah tamah dalam berilmu, hidup sederhana di waktu kaya, berhias di waktu miskin, memelihara diri dari loba tamak, berusaha di jalan yang halal, tetap berbuat baik, rajin dalam menjalankan pimpinan yang benar, membatasi diri dari keinginan nafsu dan kasih sayang terhadap orang yang sengsara.

2.      Allah menghendaki kelestarian Agama dengan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak bersitegang. “Diciptakan manusia dengan perangai yang baik (terpuji)”. Pencerahan diri diben­tuk oleh latar pendidikan dan pengalaman hidup dengan modal selalu mendekatkan diri kepada Allah. Tujuan akhir yang diraih dalam gerak kehidupan adalah redha Allah. Menuju redha Allah dicapai melalui ‘al-qalb al-salim ‘ (hati yang salim, tenteram dan sejahtera). Kebaikan hati awal dari kebaikan jiwa dan jasad.

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا فَتَحَ لَهُ قُفْلَ قَلْبِهِ وَ جَعَلَ فِيْهِ الْيَقِيْنَ وَ الصِّدْقَ وَ جَعَلَ قَلْبَهُ وَاعِيًا لِمَا سَلَكَ فِيْهِ وَ جَعَلَ قَلْبَهُ سَلِيْمًا وَلِسَانَهُ صَادِقًا وَ خَلِيْقَتَهُ مُسْتَقِيْمَةً وَ جَعَلَ أُذُنَهُ سَمِيْعَةً وَ عَيْنَهُ بَصِيْرَةً                          رواه الشيخ عن أبي ذر

Apabila Allah hendak mendatangkan kebaikan kepada hambaNya dibukakan kunci hatinya dan dimasukkan ke dalamnya keyakinan dan kebenaran dan dijadikan hatinya menyimpan apa yang masuk ke dalamnya dan dijadikan hatinya bersih, lidahnya berkata benar, budinya lurus, telinganya sanggup mendengar dan matanya melihat dengan terang. (Diriwayatkan oleh Syekh dari Abu Zar).

3.      Membentuk effectif leader haruis mempunyai sahsiah (personality) yang selalu ingat kepada Allah menuju inti dari syarak dalam agama Islam (tauhid dan akhlak).

أَطِبِ الكَلاَمَ، وَ أَفْشِ السَّلاَمَ، وَ صِلِ الأَرْحَامَ، وَ صَلِّ بِالَّلْيلِ وَ النَّاسُ نِيَامٌ، ثُمَّ ادْخُلِ الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ           رواه ابن حبان عن أبي هريرة

Ucapkanlah perkataan dengan baik, kembangkanlah ucapan memberi salam, perhubungkanlah silaturahmi dan sembahyanglah di waktu malam ketika orang banyak sedang tidur, sesudah itu masuklah ke dalam surga dengan selamat. (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).

Gambar4.      Profil kepemimpinan perempuan di Minangkabau yang ideal berada pada kepemimpinan sentral, di tengah keluarganya, menjadi pemilik seluruh kekayaan, rumah, anak, suku dan kaum, sebagai “biaiy, dan mandeh”. Makna sosiologis adalah, memposisikan lelaki pasangan (azwajannya) pada peran pelindung, pemelihara dan penjaga marwah anak turunannya, dengan hati tenang, santun, pergaulan akrab, silaturahim, ibadah teratur, bijak memanfaatkan waktu baik, untuk dapat meraih redha Allah.

مَا كَرِهْتَ أَنْ يَرَاهُ النَّاسُ مِنْكَ فَلاَ تَفْعَلْهُ بِنَفْسِكَ  إِذَا خَلَوْتَ      رواه ابن حبان عن أسامة بن شريك

Apa yang engkau tidak suka dilihat orang banyak datang dari engkau, janganlah engkau perbuat dengan diri engkau ketika engkau sendirian. (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Usamah bin Syuraik)

5.      Senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu wa Taala.

اللَّهُمَّ اصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَ اهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَ نَجَّنَا مِنَ الظُّلُمَاتَ إِلىَ النُّوْرِ وَ جَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ،

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فيِ أَسْمَاعِنَا و أَبْصَارِنَا وَ قُلُوْبِنَا وَ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَاتِنَا وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ، وَ اجْعَلْنَا شَاكِرِيْنَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِيْنَ ِبهَا قَابِلِيْنَ لَهَا وَ أَتِمَّهَا عَلَيْنَا         رواه الحاكم عن ابن مسعود

Ya Allah! Perbaikilah hubungan antara sesama kami, susunlah (satukanlah) hati kami, pimpinlah kami kepada jalan keselamatan, keluarkanlah kami dari kegelapan kepada cahaya yang terang, jauhkanlah kami dari perbuatan keji, yang terang dan yang tersembunyi. Ya Allah! Berilah kami keberkatan berkenaan dengan pendengaran kami, penglihatan kami, hati kami, istri (suami) kami dan anak cucu kami. Terimalah tobat kami sesungguhnya Engkau Penerima tobat dan Penyayang. Jadikanlah kami orang yang mensyukuri nikmat engkau, menghargai nikmat itu, menerimanya dengan baik dan cukupkanlah nikmat itu untuk kami. (HR. Hakim dari Ibnu Mas’ud)

Mudah-mudahan Allah Taala memberi kita kekuatan senantiasa dapat menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Amin

Maraji’ :

1. Ustadz Sulaiman Ibn Muhammad, Kaifa Taqdhi Al-Mar-atul Muslimah  Waqtaha.

2. Abdullah Ibnu Jarullah Ibrahim al Jarullah, Risalah Ila Kulli Muslim.

3. Dr. Muhammad Ali Al Hasyimiy, Syakhshiyah Al-Mar’ah Al-Muslimah.

4. Ummu Abdillah An Nawawi, Hadits Arba’in An-Nawawi.


[1]      Disampaikan ralam rangka Pelantikan Pengurus Bundo Kanduang Kota Padang, yang di adakan di Padang, pada tanggal 9 Januari 2013, oleh Ketua Umum Forum Keswaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Sumatera Barat,  bertempat di Palanta Kediaman Walikota Padang, Jalan A.Yani, Padang, Sumatera Barat.

[2]  Bila Annisa’‑nya baik, baiklah negeri itu, dan kalau sudah rusak, celakalah negeri itu (Al Hadits). Kaidah Alqurani menyebutkan, Nisa’‑nisa’ kamu adalah perladangan (persemaian) untukmu, kamupun (para lelaki) menjadi benih bagi Nisa’‑nisa’ kamu. Kamu dapat mendatan­gi ladang‑ladangmu darimana (kapan saja). Karena itu kamu berkew­ajiban menjaga anfus (diri, eksistensi dan identitas) sesuai perintah Qaddimu li anfusikum, dengan selalu bertaqwa kepada Allah (Q.S.2:23).

[3]  Dalam khazanah syarak kita menemui hadith Rasulullah SAW sebagai riwayat Abdullah bin Mas’ud, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, apakah amal yang paling utama?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya, kemudian apa lagi? Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua.” Aku bertanya, kemudian apa lagi? Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (Muttafaq Alaih).

[4]  Sesuai sabda Rasulullah saw dalam sebuah hadith qudsy Allah berfirman, “Hambaku senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan melaksanakan shalat-shalat nafilah hingga Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya, dengannya dia mendengar, Aku menjadi penglihatannya, dengan itu dia melihat, Aku menjadi tangannya, dengan itu pula dia bertindak (sehingga dia tidak pernah merasa cemas dan takut di dalam meraih cita2nya), Aku menjadi kakinya, dengan itu dia berjalan. Jika dia memohon kepadaKu maka Aku benar-benar akan memberinya dan Jika dia meminta perlindungan kepadaKu maka Aku benar-benar akan melindunginya“. (HR.Al-Bukhari).

[5]  Sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dengan teman yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dengan seorang pandai besi“. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Orang-orang yang mendapatkan taufik dari Allah selalu menjaga waktu mereka untuk hal-hal yang benar-benar bermanfaat. Seorang sahabat terkenal, Abdullah Ibnu Mas’ud telah berkata, “Tidaklah aku menyesali sesuatu, seperti penyesalanku atas suatu hari yang berlalu dengan terbenamnya matahari, semakin berkurang umurku tetapi tidak bertambah amalanku.

[6]  Rasul saw bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an sedang dia terbata-bata dalam membacanya serta kesulitan dalam membacanya maka dia mendapatkan dua pahala, sedangkan orang yang membaca dengan mahir maka dia bersama para penulis kitab (malaikat) yang mulia lagi berbakti.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Perempuan Minangkabau sejak masa lalu selalu berdzikir kepada Allah, satu amalan yang mudah, dimana setiap orang mampu melakukannya, baik kaya maupun miskin, berilmu maupun tidak, perempuan maupun pria, besar ataupun kecil. Berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaan. Rasulullah SAW mengabarkan perbedaan antara orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir, seperti perbedaan antara orang yang hidup dan orang yang mati. Sabda Rasul, “Barangsiapa yang bangun di malam hari kemudian mengucapkan, “Laa ilaaha wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu bi yadihil khair yuhyi wa yumiitu wa Hua ala kulli syai’in qadiir, subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallaahu akbar wa laa haula walaa quwwata illa billah.” Kemudian dia berdo’a, “(Ya Allah ampunilah aku) niscaya akan diterima do’anya. Dan jika dia berwudhu (untuk shalat) niscaya diterima shalatnya“. (HR. Al-Bukhari).

[7]  Perempuan Minangkabau sangat bijak mendidik anak-anak yang menjadi tanggung jawab yang agung. Seorang anak di Minangkabau, lebih takut kehilangan ibunya dari pada kehilangan bapaknya. Inilah satu tanggung jawab  besar bagi perempuan Minangkabau, membentuk dan memberi warna dari generasi pengganti, karena seorang ibu lebih dekat kepada anak-anaknya ketimbang yang lainnya. Seorang ibu (perempuan Minangkabau) selalu menerapkan amar makruf nahi munkar, sebagaimana dinasehatkan dalam satu hadith dari Abu Said Al-Khudri dia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Barang-siapa di antara kalian melihat kemungkaran hendaklah dia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisan (nasihat). Dan jika tidak mampu maka hendaklah meng-ubahnya dengan hati (tidak senang dengan kemungkaran itu) dan itulah selemah-lemah iman’.” (HR. Muslim).

[8]  Penghormatan kepada Ibu menempati urutan kedua sesudah iman kepada Allah (konsep tauhidullah). Bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Ibu. Hubungan hidup duniawi wajib dipelihara baik dengan jalinan ihsan (lihat QS. 31, Luqman : 14-15). Kandungan nilai pendidikan dan filosofi ini terikat kasih sayang. Hakikinya semua terjadi karena Rahman dan RahimNya, dan semuanya berakhir dengan menghadapNya. Maka kewajiban asasi insani menjaga diri dan keluarga dari bencana (QS. At Tahrim :6). Dengan memakai hidayah religi Alqurani.

MENGGALI POTENSI SURAU menjadi/sebagai ISLAMIC CENTER oleh : Taufik Ahmad Taudjidi – Imam Basa Nagari Gunuang

MENGGALI POTENSI SURAU menjadi/sebagai ISLAMIC CENTER
oleh : Taufik Ahmad Taudjidi – Imam Basa Nagari Gunuang

(Kutipan Khutbah Idul Fitri 1433 H, 19 Agustus 2012, di Lapangan SMPN 3 Padang Panjang)

Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil

-Hamd
Kaum Muslimin yang berbahagia,

Saat ini, dalam rangka membangun kemandarian bangsa guna menghadapi persaingan di era globalisasi, tengah digulirkan konsep pembangunan berbasis kearifan lokal atau local wisdom. Yaitu, konsep pembangunan berbasis pada kondisi budaya lokal, termasuk mengacu pada pesan-pesan moral dan motivasi yang hidup di masyarakat.

Salah satu”kearifan lokal” yang ada di Ranah Minang, adalah berlakunya SISTEM MATRILINEAL, yaitu sistem waris harta pusaka tinggi yang berpuncak dan turun temurun pada garis ibu.
Saat ini, di seluruh dunia, hanya terdapat 4 (empat) suku bangsa yang menganut sistem Matrilineal, yaitu sebuah suku bangsa di benua Afrika, sebuah suku Indian di benua Amerika , sebuah suku di India dan satu-satunya suku di Indonesia, yaitu Minangkabau.
Sistem matrilineal dengan segala sub-sistemnya adalah “Tiang Agung Minangkabau” kata alm Buya Hamka. Hak Waris Harta pusaka tinggi sebagai sub sistem dari sistem Matrilineal, hendaknya harus tetap dijaga keberadaannya. Harta pusaka tinggi adalah harta bersama sebuah kaum, adalah harta bersama untuk dinikmati, bukan harta untuk dibagi-bagi. Pewarisan harta pusaka tinggi adalah hanya sekedar peralihan peran, bukan peralihan milik. Harta pusaka tinggi turun dari niniek ka mamak, dari mamak ka kamanakan dan seterusnya ka bawah menurut garis ibu.
Harta pusako tinggi tak boleh berpindah tangan karena diperjual-belikan. Harta Pusako tinggi adalah sebagai bukti “asal-usul” seseorang atau kaum. Seseorang dapat dikatakan adalah keturunan Minang, hanya apabila masih mempunyai harta pusako tinggi. Dalam adat, ini dikatakan:
“Nan ba pandam ba pakuburan, nan basasok bajarami, kok dakek dapek dikakok, kok jauah dapek diantakan”
Apabila sebuah keluarga atau kaum tak lagi punya harta pusako tinggi, orang atau keluarga itu tidaklah lengkap keminangkabauannya, bahkan sudah dianggap punah. Mereka tak perlu lagi punya panghulu, karena adat berdiri diatas pusako tinggi.

Dari uraian ringkas diatas, dimensi kearifan lokal yang menyertainya adalah:

Bahwa sejauh manapun anak-cucu orang Minang pergi merantau, bahkan sampai ke Australia atau ke Amerika, selama mereka masih punya harato pusako tinggi, mereka dan anak keturunannya akan tetap punya
kampung halaman di Ranah Minang, dan mereka tetap bangga dengan RanahMinang.

Kondisi emosional itulah tampaknya yang terpancar dari gegap gempitasetiap acara “pulang Basamo”, seperti yang tampak pada setiap lebaran saat ini.

Kaum Muslimin yang berbahagia,

Keunikan lain dari alam minangkabau yang mencerminkan kearifan lokal adalah adanya Falsafah Hidup yang sangat terkenal:
“ ADAT BERSANDI SYARA’, SYARA’ BERSANDI KITABULLAH”.

Nilai-nilai Agama Islam, yang menganut sistem patrilineal, secara arif diterima oleh adat dan budaya Minangkabau tanpa mengorbankan adat budaya yang berlaku. Bahkan Nilai-nilai agama dan adat saling memperkuat, kokoh dalam keserasian dan keharmonisan, menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Saling isi mengisi. Kaum adat dan kaum agama bekerjasama saling bahu membahu membangun masyarakat.
Perpaduan ini telah melahirkan harmoni sosial di bawah sistem kepemimpinan tripartit yang disebut TTS (Tungku nan Tigo Sajarangan) yang terdiri dari – Ninik Mamak , Alim Ulama, dan Cerdik Pandai. Mereka bersinergi menjaga dan menjalankan TTS yang lain pula, Tali nan Tigo Sapilin, yaitu Adat, Syari’at dan Peraturan/perundangan)

Kesesuaian dan keserasian hubungan ini tak lain karena nilai-nilai adat Minang, yang digali dan dijalankan sebelum kedatangan Agama Islam, memiliki landasan yang sama dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis. Misalnya, ketika, ayat Al-Qur’an yang pertama turun pada tanggal 17 Ramadhan di kota mekkah:
Iqra bismirabbikallazi khalaq # Khalaqal insanamin ‘alaq # Iqra’ warabbukal akram # Allazi ‘allama bil qalam # ‘Alamal insaa namaa lam ya’lam.
• Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan * Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah # Yang mengajar manusia dengan pena # Yang mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.

Jauh sebelum itu, para ninik mamak di ranah minang telah memberi petuah agar masyarakat Minang memahami dan mengikuti hakekat hukum alam (sunatullah), seperti petuah dibawah ini:
Api, paneh dan mambaka,
Aie, mambasahi dan manyuburkan,
Kayu, bapokok,
Ayam, bakokok,
Kambiang, mangambiak,
harimau mangaum
Gunuang, bakabuik, dan sebagainya.

Dipertegas pula dengan petatah lain:
Panakiak pisau sirauik,
ambiak galah batang lintabuang,
silodang ambiak kanyiru,
Nan satitiak jadikan lauik,
Nan sakapa jadikan gunuang,
Alam takambang jadi guru.

Falsafah “alam takambang jadi guru”, adalah falsafah hidup yang sangat berkesesuaian dengan banyak firman Allah dalam Al-Qur’an, diantaranya pada surat ‘ Ar-Ra’d ayat 3, yang artinya:
“Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.

Atau firman Allah dalam surat al-Ankabut <29>: ayat 44:
“Khalaqallahus samaa waa ti wal ardha bilhaq* innafii zalika la aayatal lilmu’ miniin
” Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang jelas. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang percaya.”

Itulah sebuah kearifan lokal di Ranah Minang, sebuah falsafah hidup yang berlandaskan akal dan iman, yang berpijak pada sunatullah dan tuntunan Al-Qur’an. “Alam takambang jadi guru”.. “Indak lakang di paneh, indak lapuak di hujan”. Dari dahulu sampai kini, tak henti, berlaku turun temurun.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Bapak-bapak, ibu-ibu, angku-angku, anak dan kamanakan yang berhadir di tanah lapang ini.
Lihatlah sekeliling kita, Nagari Gunuang yang indah ini, mancaliak ka mudiak, tampak puncak gunuang Marapi. Mancaliak ka arah Barat ado Gunuang Singgalang nan manjulang. Mancaliak dari sabalah ateh tampak danau Singkarak yang menyimpan ikan bilih, yang hanya satu-satunya di dunia, endemik di danau Singkarak.
Ini lah kampuang kito, Gunuang Sajati, gunuang sansai bakuliliang, jo hutan badaun rimbun, dari mudiak ka ilie tak berhenti aie mangalie. Tahampa sawah-sawah, dari bukik ka lambah-lambah, bapamatang- bajanjang-janjang.
Ado mato aie bula’an di Sigando, ado mato air di ikue lubuak dan tempat lain. Airnya bersih bening tak perlu disaring.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd

Subhanallah, demikian besar anugerah Allah yang tercurah bagi kita urang nagari Gunuang. Dibandingkan dengan wilayah di belahan lain di muka bumi, yang kering kerontang, Nagari Gunuang tak lain adalah sebuah Surga yang terhampar di muka bumi, yang diperuntukkan oleh Allah bagi kita urang nagari Gunuang. Allah telah memelihara kesuburan tanah kita dengan muntahan abu vulkanik Gunung Marapi. Hutan-hutan lebat di lereng gunung Marapi berjasa menyimpan air tanah bagi kehidupan kita dan sawah kita.

Kalau pun ada sesekali gempa vulkanik, tak lain agar kita selalu mengingat Allah, bahwa Allah lah pemilik alam semesta, kita diingatkan agar selalu menjalankan perintahNya dan menghindari larangan-Nya, agar supaya kita terhindar dari kemurkaan-Nya. Jadi, sangat beralasan bagi kita untuk selalu merenungkan firman Allah dalam surat Ar-rahman yang berulang-ulang dikatakan-Nya::

Fabiayalaa irabbikumaa tukazibaan
(Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd
Hadirin yang rahima kumullah
Kehadiran surau di ranah Minang adalah suatu kearifan lokal lain, yang diwariskan oleh niniek mamak kita, yang perlu kita pelihara. Di Nagari Gunuang kita mengetahui, ada surau di Sigando, ada surau di Gantiang, ada surau di simpang Lubuak, ada di surau Ngalau atau ditempat lainnya.

Dahulu, beberapa puluh tahun yang lalu, tidak ada seorang anakpun disuatu kampung yang tidak belajar mengaji di surau. Semua anak-anak, siang hari belajar di sekolah umum, malam hari belajar mengaji di surau. 7 hari dalam seminggu tanpa hari libur. Pada setiap akhir minggu mengadakan panggung gembira, dengan bernyanyi dan latihan berpidato. Anak-anak laki-laki yang sudah baliq, oleh ibunya diperintahkan untuk tidur di surau. Bersama dengan teman sebaya.

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Dari perjalanan sejarah, kita mengetahui bahwa sejak tempo dulu di Ranah Minang, Surau memiliki peran penting dalam mendidik generasi muda, surau terbukti sukses menjadi instrumen pembentuk karakter masyarakat minang.

Di surau inilah anak-anak remaja memulai PERJALANAN untuk memperoleh bekal kecakapan hidup. Di surau inilah mereka memantapkan eksistensi diri dan kepercayaan diri. Di surau lah mereka mendapat kecakapan membaca, menulis dan berpidato. Di surau lah mereka mengasah kecakapan berkomunikasi, berdiplomasi dan bersilat lidah, berpantun, ber petatah-petitih. Di surau lah mereka memperoleh keterampilan personal seperti bersilat untuk membela diri. Di surau lah mereka memperoleh kecakapan sosial – bermasyarakat,Dan Salah satu kecakapan yang penting adalah kecakapan bermusyawarah untuk mengambil keputusan yang bersandar pada falsafah:

“Bulek air karano pambuluah, bulek kato karano mufakaek”.

Sejarah mencatat, bahwa surau adalah tempat para tokoh atau cendekiawan asal Minang Kabau tempo dulu, sebut saja seperti Buya Hamka, Moh. Natsir, A.R. Sutan Mansyur, dan banyak lagi yang lain,yang memulai “perjalanan” hidup mereka melalui surau, guna memperoleh kecakapan hidup atau apa yang sekarang sangat popular dengan istilah “LIFE SKILL”.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Konsep pendidikan yang bernama “LIFE SKILL” atau “Kecakapan Hidup” itu dicetuskan oleh pakar pendidikan Barat, baru pada awal tahun 2000 lalu. Konsep ini diamini dan oleh para Pakar Pendidikan Indonesia yang kuliah di Amerika untuk di gulirkan sebagai konsep unggulan di Indonesia. Konsep pendidikan “life skill” ala Barat tersebut, menurut pakarnya meliputi: i)kecakapan adaptasi diri, ii) kecakapan komunikasi, iii) kecakapan memilih dan memilah masalah, iv)kecakapan mengambil keputusan, v) kecakapan personal dan sosial.

Hadirin yang dimuliakan Allah
Ternyata konsep pendidikan “life skill” yang digagas oleh pakar pendidikan Barat 10 tahun yang lalu itu, telah dilaksanakan di Ranah Minang oleh para jenius cendekiawan-cadiak pandai, ninik mamak kita beberapa abad yang lalu, yaitu melalui pendidikan di Surau.
Dengan perkataan lain, kita boleh berbangga hati bahwa pendidikan “life skill” melalui Surau ternyata telah ada 3 abad lebih, mendahului konsep pendidikan ala barat yang disebut dengan “life skill education” yang baru digagas di tahun 2000-an itu.

Oleh karena itu, rasanya sangat beralasan, bila kita mempertanyakan, bagaimanakah kini eksistensi SURAU sebagai lembaga pendidikan yang sudah terbukti berhasil pada jamannya. Bagaimanakah kondisinya kini ditengah era globalisasi, ditengah adanya penetrasi budaya Barat yang hadir begitu jauh dalam kehidupan kita melalui kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi.
Timbul sebuah pertanyaan yang mergelitik, Apakah iya ? fungsi surau sebagai sentra pendidikan yang juga berbasis pada “TIGO TUNGKU SAJARANGAN”, yaitu berbasis pada “OTAK (akademik), HATI (akhlak mulia) dan TANGAN (keterampilan), seperti yang pernah digagas dan dijalankan oleh Angku Muhammad Syafei di INS Kayutanam tahun pada 1926, telah hilang kiprahnya di dunia pendidikan di Ranah Minang.

Hadirin yang dimuliakan Allah
Saat sekarang ini sedang digulir Gerakan Kembali ke Surau, tujuannya adalah untuk membangkitkan atau menggiatkan lagi atau merevitalisasi fungsi surau sebagai pusat keislaman (Islamic Center), seperti tempo dulu, dengan maksud agar generasi muda mampu menghadapi penetrasi budaya asing yang demikian besar dampak buruknya terhadap kehidupan Islami yang menjadi ciri masyarakat Minang.

Hadirin yang dimuliakan Allah
Gagasan kembali ke Surau, ditengah kegamangan kita menghadapi era globasi yang ditandai dengan mudahnya teknologi komunikasi dan informasi masuk ke rumah kita, dengan dampak baik dan buruknya, sangat perlu kiranya kita dukung. Kita perlu menggali kembali keunggulan pendidikan berciri Surau. Yaitu sebuah konsep pendidikan keislaman yang berbasis kearifan lokal ala Alam Minangkabau, yang telah terbukti mampu membekali keterampilan hidup atau life skill bagi lulusannya.
Untuk itu beberapa langkah yang bisa, kita lakukan adalah:

• Pertama: Menginventarisir jumlah surau -surau yang masih ada di setiap kampung di setiap nagari
• Kedua: Membuat kajian atas kondisi surau-surau yang ada, dilihat dari kondisi fisik, pengelolaan, guru dan peserta didik yang ada.
• Ketiga: Membentuk dan Meningkatkan forum koordinasi atau majelis quro antara surau di dalam suatu nagari, sampai terbentuk koordinasi setingkat Propinsi.
• Ke empat :Mengikutsertakan peran Pengurus Masjid (DKM), Ninik Mamak (KAN), Majelis Ulama (MUI), para tokoh pendidik, tokoh orpol dan ormas Islam dalam rencana pengembangan SURAU MODERN di Ranah Minang.
• Kelima : Sesuai dengan UUD 1945 bahwa pendidikan adalah menjadi tugas negara, maka program pengembangan dan pengelolaan SURAU MODERN mestinya tercermin dalam APBN dalam APBD Kabupaten/ Kota.

Foto: MENGGALI POTENSI  SURAU  menjadi/sebagai ISLAMIC  CENTER<br />
oleh : Taufik Ahmad Taudjidi – Imam Basa Nagari Gunuang</p>
<p>(Kutipan Khutbah Idul Fitri 1433 H, 19 Agustus 2012, di Lapangan SMPN 3 Padang Panjang)</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd<br />
Kaum Muslimin yang berbahagia, </p>
<p>Saat ini, dalam rangka membangun kemandarian bangsa guna menghadapi persaingan di era globalisasi, tengah digulirkan konsep pembangunan berbasis kearifan lokal atau local wisdom. Yaitu, konsep pembangunan berbasis pada kondisi budaya lokal, termasuk mengacu pada pesan-pesan moral dan motivasi yang hidup di masyarakat.</p>
<p>Salah satu”kearifan lokal” yang ada di Ranah Minang,  adalah  berlakunya  SISTEM MATRILINEAL, yaitu sistem waris harta pusaka tinggi yang berpuncak dan turun temurun pada garis ibu.<br />
Saat ini, di seluruh dunia,  hanya terdapat  4 (empat) suku bangsa  yang menganut sistem Matrilineal, yaitu sebuah suku bangsa di benua Afrika, sebuah suku Indian di benua Amerika , sebuah suku di India dan satu-satunya  suku di Indonesia, yaitu Minangkabau.<br />
Sistem matrilineal dengan segala sub-sistemnya  adalah “Tiang Agung Minangkabau” kata alm Buya Hamka. Hak Waris Harta pusaka tinggi sebagai sub sistem dari sistem Matrilineal, hendaknya harus tetap dijaga keberadaannya. Harta pusaka tinggi adalah harta bersama sebuah kaum, adalah harta bersama untuk dinikmati, bukan harta untuk dibagi-bagi. Pewarisan harta pusaka tinggi adalah hanya sekedar peralihan peran, bukan peralihan milik. Harta pusaka tinggi turun dari niniek ka mamak, dari mamak ka kamanakan dan seterusnya  ka bawah menurut garis ibu.<br />
Harta pusako tinggi  tak boleh berpindah tangan karena diperjual-belikan.  Harta Pusako tinggi adalah sebagai bukti “asal-usul” seseorang atau kaum. Seseorang dapat dikatakan adalah keturunan Minang, hanya apabila masih mempunyai harta pusako tinggi. Dalam adat, ini dikatakan:<br />
“Nan ba pandam ba pakuburan, nan basasok bajarami, kok dakek dapek dikakok, kok jauah dapek diantakan”<br />
Apabila sebuah keluarga atau kaum tak lagi punya harta pusako tinggi, orang atau keluarga itu tidaklah lengkap keminangkabauannya, bahkan sudah dianggap punah. Mereka tak perlu lagi punya panghulu, karena adat berdiri diatas pusako tinggi.</p>
<p>Dari uraian ringkas diatas, dimensi  kearifan lokal yang menyertainya adalah:</p>
<p>Bahwa sejauh manapun anak-cucu orang Minang pergi merantau, bahkan sampai  ke Australia atau ke Amerika, selama mereka masih punya harato pusako tinggi, mereka dan anak keturunannya akan tetap punya<br />
kampung halaman di Ranah Minang, dan mereka tetap  bangga dengan RanahMinang.</p>
<p>Kondisi emosional itulah tampaknya yang terpancar dari gegap gempitasetiap  acara “pulang Basamo”, seperti yang tampak pada setiap lebaran  saat ini.</p>
<p>Kaum Muslimin yang berbahagia, </p>
<p>Keunikan lain dari alam minangkabau yang mencerminkan kearifan lokal adalah adanya Falsafah Hidup yang sangat terkenal:<br />
“ ADAT BERSANDI SYARA’, SYARA’ BERSANDI KITABULLAH”.</p>
<p>Nilai-nilai Agama Islam, yang menganut sistem patrilineal, secara arif diterima oleh adat dan budaya Minangkabau tanpa mengorbankan adat budaya yang berlaku. Bahkan Nilai-nilai agama dan adat saling memperkuat, kokoh dalam keserasian dan keharmonisan, menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Saling isi mengisi. Kaum adat dan kaum agama bekerjasama saling bahu membahu membangun masyarakat.<br />
Perpaduan ini telah melahirkan harmoni  sosial  di bawah sistem kepemimpinan tripartit yang disebut TTS (Tungku nan Tigo Sajarangan) yang terdiri dari – Ninik Mamak , Alim Ulama, dan Cerdik Pandai. Mereka bersinergi menjaga dan menjalankan  TTS yang lain pula, Tali nan Tigo Sapilin, yaitu Adat, Syari’at  dan Peraturan/perundangan)</p>
<p>Kesesuaian dan keserasian hubungan ini tak lain karena nilai-nilai adat Minang, yang digali dan dijalankan  sebelum kedatangan Agama Islam, memiliki landasan yang sama dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis. Misalnya, ketika, ayat  Al-Qur’an yang pertama turun pada tanggal 17 Ramadhan di kota mekkah:<br />
Iqra bismirabbikallazi khalaq # Khalaqal insanamin ‘alaq # Iqra’ warabbukal akram # Allazi ‘allama bil qalam # ‘Alamal insaa namaa lam ya’lam.<br />
•	Bacalah dengan menyebut  nama Tuhanmu yang menciptakan * Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah # Yang mengajar manusia dengan pena # Yang mengajar manusia  apa yang tidak diketahuinya. </p>
<p>Jauh sebelum itu, para ninik mamak di ranah minang telah memberi petuah agar  masyarakat Minang memahami dan mengikuti hakekat hukum alam (sunatullah), seperti petuah  dibawah ini:<br />
Api, paneh dan mambaka,<br />
Aie, mambasahi dan manyuburkan,<br />
Kayu, bapokok,<br />
Ayam, bakokok,<br />
Kambiang, mangambiak,<br />
harimau mangaum<br />
Gunuang, bakabuik, dan sebagainya.</p>
<p>Dipertegas pula dengan petatah lain:<br />
Panakiak pisau sirauik,<br />
ambiak galah batang lintabuang,<br />
silodang ambiak kanyiru,<br />
Nan satitiak jadikan lauik,<br />
Nan sakapa jadikan gunuang,<br />
Alam takambang jadi guru.</p>
<p>Falsafah “alam takambang jadi guru”, adalah falsafah hidup yang   sangat berkesesuaian  dengan banyak firman Allah dalam Al-Qur’an, diantaranya pada surat ‘ Ar-Ra’d ayat 3, yang artinya:<br />
"Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan".</p>
<p>Atau  firman Allah dalam surat al-Ankabut <29>: ayat 44:<br />
“Khalaqallahus samaa waa ti wal ardha bilhaq* innafii zalika la aayatal lilmu’ miniin<br />
" Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan  yang jelas. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat  tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang percaya."</p>
<p>Itulah sebuah kearifan lokal di Ranah Minang, sebuah falsafah hidup yang berlandaskan akal dan iman, yang berpijak  pada sunatullah dan tuntunan Al-Qur’an. “Alam takambang jadi guru”.. “Indak lakang di paneh, indak lapuak di hujan”. Dari dahulu sampai kini, tak henti, berlaku turun temurun. </p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd<br />
Hadirin yang dimuliakan Allah,<br />
Bapak-bapak, ibu-ibu, angku-angku, anak dan kamanakan yang berhadir di tanah lapang ini.<br />
Lihatlah sekeliling kita, Nagari Gunuang yang indah ini, mancaliak ka  mudiak, tampak puncak gunuang Marapi. Mancaliak ka arah Barat  ado Gunuang Singgalang nan manjulang. Mancaliak dari sabalah ateh tampak danau Singkarak yang menyimpan ikan bilih, yang hanya  satu-satunya di dunia,  endemik di danau Singkarak.<br />
Ini lah kampuang kito, Gunuang Sajati, gunuang sansai bakuliliang, jo hutan badaun rimbun, dari mudiak ka ilie tak berhenti aie mangalie. Tahampa sawah-sawah, dari bukik ka lambah-lambah,  bapamatang- bajanjang-janjang.<br />
 Ado mato aie bula’an di Sigando, ado mato air di ikue lubuak dan tempat lain. Airnya bersih bening tak perlu disaring.</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd</p>
<p>Subhanallah, demikian besar anugerah Allah  yang tercurah bagi kita urang nagari Gunuang. Dibandingkan dengan wilayah di belahan lain di muka bumi, yang kering kerontang, Nagari Gunuang tak lain adalah sebuah Surga yang terhampar di muka bumi, yang  diperuntukkan oleh Allah bagi kita urang nagari Gunuang. Allah telah memelihara kesuburan tanah kita dengan muntahan abu vulkanik Gunung Marapi. Hutan-hutan lebat di lereng gunung Marapi berjasa  menyimpan air tanah bagi kehidupan kita dan sawah kita. </p>
<p>Kalau pun ada sesekali gempa vulkanik, tak lain agar kita selalu mengingat  Allah, bahwa Allah lah pemilik alam semesta, kita diingatkan  agar selalu menjalankan perintahNya dan menghindari larangan-Nya, agar supaya kita terhindar dari kemurkaan-Nya. Jadi, sangat beralasan bagi kita untuk selalu merenungkan firman Allah dalam surat  Ar-rahman yang berulang-ulang dikatakan-Nya::</p>
<p>Fabiayalaa irabbikumaa tukazibaan<br />
(Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd<br />
Hadirin yang rahima kumullah<br />
Kehadiran surau di ranah Minang adalah suatu kearifan lokal  lain, yang diwariskan oleh niniek mamak kita, yang perlu kita pelihara. Di Nagari Gunuang kita mengetahui, ada surau di Sigando, ada surau di Gantiang, ada surau di  simpang Lubuak, ada di surau Ngalau atau ditempat lainnya. </p>
<p>Dahulu, beberapa puluh tahun yang lalu, tidak ada seorang anakpun disuatu kampung  yang tidak belajar mengaji di surau. Semua anak-anak, siang hari  belajar  di sekolah umum, malam hari belajar mengaji di surau. 7 hari dalam seminggu tanpa hari libur. Pada setiap akhir minggu mengadakan panggung gembira, dengan bernyanyi dan latihan berpidato.  Anak-anak laki-laki yang sudah baliq, oleh ibunya diperintahkan untuk tidur di surau. Bersama dengan teman sebaya.</p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah.</p>
<p>Dari perjalanan sejarah,  kita mengetahui bahwa sejak tempo dulu di Ranah Minang, Surau  memiliki peran penting dalam mendidik generasi muda, surau terbukti sukses menjadi instrumen pembentuk karakter masyarakat minang. </p>
<p>Di surau inilah anak-anak remaja memulai PERJALANAN untuk memperoleh bekal kecakapan hidup.   Di surau inilah mereka memantapkan eksistensi diri dan kepercayaan diri. Di surau lah mereka  mendapat kecakapan membaca, menulis dan berpidato. Di surau lah mereka  mengasah kecakapan berkomunikasi, berdiplomasi dan bersilat lidah, berpantun, ber petatah-petitih.  Di surau lah mereka memperoleh keterampilan personal seperti bersilat untuk membela diri. Di surau lah mereka memperoleh kecakapan sosial – bermasyarakat,Dan Salah satu kecakapan yang penting adalah kecakapan bermusyawarah untuk mengambil keputusan yang bersandar pada falsafah:</p>
<p>“Bulek air karano pambuluah, bulek kato karano mufakaek”.</p>
<p>Sejarah mencatat, bahwa surau adalah tempat para tokoh  atau cendekiawan asal Minang Kabau tempo dulu, sebut saja seperti  Buya Hamka, Moh. Natsir, A.R. Sutan Mansyur,   dan banyak lagi yang lain,yang memulai “perjalanan” hidup mereka melalui surau, guna  memperoleh kecakapan hidup atau apa yang sekarang sangat popular dengan istilah “LIFE SKILL”.</p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah</p>
<p>Konsep pendidikan yang bernama “LIFE SKILL” atau “Kecakapan Hidup” itu  dicetuskan oleh pakar pendidikan Barat, baru pada awal tahun 2000 lalu. Konsep ini  diamini dan oleh para Pakar Pendidikan Indonesia yang kuliah di Amerika untuk di gulirkan sebagai konsep unggulan di Indonesia. Konsep pendidikan “life skill” ala Barat tersebut, menurut pakarnya  meliputi: i)kecakapan adaptasi diri, ii) kecakapan komunikasi, iii) kecakapan memilih dan memilah masalah, iv)kecakapan mengambil keputusan, v) kecakapan personal dan sosial.</p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah<br />
Ternyata konsep pendidikan “life skill” yang digagas oleh pakar pendidikan Barat 10 tahun yang lalu itu, telah dilaksanakan di Ranah Minang oleh para jenius cendekiawan-cadiak pandai,  ninik mamak kita beberapa abad yang lalu, yaitu melalui pendidikan di Surau.<br />
Dengan perkataan lain, kita boleh berbangga hati bahwa pendidikan “life skill” melalui Surau ternyata telah ada  3 abad lebih, mendahului konsep pendidikan ala barat yang disebut dengan “life skill education” yang baru digagas di tahun 2000-an itu.</p>
<p>Oleh karena itu, rasanya sangat beralasan, bila  kita mempertanyakan, bagaimanakah kini eksistensi SURAU sebagai lembaga pendidikan yang sudah terbukti  berhasil pada jamannya. Bagaimanakah kondisinya kini ditengah era globalisasi, ditengah adanya penetrasi  budaya  Barat yang hadir begitu jauh dalam kehidupan kita melalui kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi.<br />
Timbul sebuah pertanyaan yang mergelitik, Apakah iya ? fungsi surau sebagai sentra pendidikan yang  juga berbasis pada  “TIGO TUNGKU SAJARANGAN”, yaitu berbasis pada “OTAK (akademik), HATI (akhlak mulia) dan  TANGAN (keterampilan), seperti yang pernah digagas dan dijalankan oleh Angku Muhammad Syafei di INS Kayutanam tahun pada 1926, telah hilang kiprahnya  di dunia pendidikan di Ranah Minang.</p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah<br />
Saat sekarang ini sedang digulir Gerakan Kembali ke Surau, tujuannya adalah untuk membangkitkan atau menggiatkan lagi atau merevitalisasi  fungsi surau sebagai pusat keislaman (Islamic Center), seperti tempo dulu, dengan maksud agar generasi muda mampu menghadapi  penetrasi budaya asing yang demikian besar dampak buruknya terhadap kehidupan Islami yang menjadi ciri masyarakat Minang. </p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah<br />
Gagasan kembali ke Surau, ditengah kegamangan kita menghadapi era globasi yang ditandai dengan mudahnya teknologi komunikasi dan informasi masuk ke rumah kita, dengan dampak baik dan buruknya,  sangat perlu kiranya kita dukung.  Kita perlu menggali kembali keunggulan pendidikan berciri  Surau. Yaitu sebuah konsep pendidikan keislaman yang berbasis kearifan lokal ala Alam Minangkabau, yang telah terbukti mampu membekali keterampilan hidup atau life skill bagi lulusannya.<br />
Untuk itu beberapa langkah yang bisa, kita lakukan adalah:</p>
<p>•	Pertama: Menginventarisir jumlah surau -surau yang masih ada di setiap kampung di setiap  nagari<br />
•	Kedua: Membuat kajian atas kondisi surau-surau yang ada, dilihat dari kondisi fisik, pengelolaan, guru dan peserta  didik  yang ada.<br />
•	Ketiga: Membentuk dan Meningkatkan forum koordinasi atau majelis quro antara surau di dalam suatu nagari, sampai terbentuk koordinasi setingkat Propinsi.<br />
•	Ke empat :Mengikutsertakan peran Pengurus Masjid (DKM), Ninik Mamak (KAN), Majelis Ulama (MUI), para tokoh pendidik, tokoh orpol dan ormas Islam dalam rencana pengembangan SURAU MODERN di Ranah Minang.<br />
•	Kelima : Sesuai dengan UUD 1945 bahwa pendidikan adalah menjadi tugas negara, maka program  pengembangan dan pengelolaan SURAU MODERN mestinya tercermin dalam APBN  dalam APBD Kabupaten/ Kota.” src=”<a href=https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc7/c0.0.403.403/p403x403/481494_4970941831147_743086159_n.jpg&#8221; height=”403″ width=”403″ />

RENUNGKAN PESAN RANGGAEK KE ANAKNYA

RENUNGKAN PESAN RANGGAEK KE ANAKNYA

Assalamu’alaikum …
Ananda …

Ateis Minang adalah musibah sekaligus fenomena menjauhkan generasi Minangkabau dari adat budayanya …
Ini adalah kondisi amat berbahaya …
Sebab, secara sosial budaya dan wilayah kepemilikan di Indonesia sampai kini …
Hanya wilayah Minangkabau saja kawasan ulayatnya yang belum terjamah 100% oleh kolonial imperial kapitalis yang liberalis itu …
Dan perlu ananda ketahui, bahkan oleh semua rakyat Minangkabau ini …
Bahwa di dalam buminya terkandung mineral kaya amat berharga lebih banyak dari yang dimiliki Papua dan daerah lainnya
>>> silahkan bertanya kepada ahlinya untuk itu <<<
Maka satu satunya upaya kolonial imperial kapitalis liberal itu adalah menghapus adat budaya Minangkabau melalui berbagai cara …
Akhirnya, ranah ini akan dikuasai mereka satu ketika kelak ….

Selain itu, bila Minang kehilangan kearifan budayanya maka identitas Minang dan identitas Nasional ini secara pasti akan hilang pula …
Maka ujungnya Indonesia tidak berharga lagi …
Akibatnya sangat jauh ananda …
Kami juga melihat dan menyaksikan dengan jelas bahwa jarang terjadi (bahkan tidak pernah terjadi) etnis Batak, Jawa, Bugis, Bali, Kahayan atau apa saja di nusantara Indonesia ini yang menghujat adat budaya mereka …
Kecuali, sekarang ini, hanya orang Minang saja yang seakan disuruh serta dibiayai menghujat adat budayanya, termasuk melalui pendekatan agama Islam yang dianut seratus prosen oleh orang Minang ini …
Rahasia apa yang ada dibalik itu semua ananda …. ???? …
S i l a h k a n …. J a w a b l a h …
INI PERANG BESAR …
Bahkan mungkin parang “basosoh” melalui alam maya …
Maaf jika kami menyampaikan ini dengan cara begini …

Ketahuilah bahwa Minangkabau memiliki dua kekayaan besar …

Pertama “kekayaan intelektual” dengan budayanya yang kuat berasas kepada Kitabullah yakni Al Quran dan umatnya adalah Islam sehingga disepakati diluar Islam bukan orang Minang ..

Kedua adalah “kekayaan alamnya” yang masih terpendam didalam perut buminya, “ibarat ikan yang berada di mata kucing yang sedang kelaparan” …

Dan inilah yang akan dihancurkan itu melalui pendongkelan budaya Minangkabau itu …

Mohon maafkan ayahanda …

Wassalam

Dokumen surat Pak Natsir kepada Buya Fachruddin Hs. Datuk Majo Indo pada 20 Januari 1968, yang mengingatkan agar berhatihati menghadapi gerakan pemurtadan oleh pihak Salibiyah.

Dokumen surat Pak Natsir kepada Buya Fachruddin Hs. Datuk Majo Indo pada 20 Januari 1968, yang mengingatkan agar berhatihati menghadapi gerakan pemurtadan oleh pihak Salibiyah.

 

Djakarta, 20 Djanuari 1968.

Jth.

Saudara Fachruddin H.S.Dt. Madjo Indo

 

Assalamu’alaikum w.w.

            Dalam perdjalanan saja berkeliling di Sumbar ada satu hal jang menarik perhatian saja, tetapi waktu itu tak ada kesempatan bagi saja  untuk memikirkannja lebih mendalam, apalagi untuk membitjarakannja dengan taman-teman kita secara bertenang.

            Oleh karena itu baiklah saja tuliskan, agar dapat dipikirkan bersama diantara teman-teman kita jang akrab, jang bertanggung jawab  (“bakorong-ketek”).

  1. Ada persoalan rumah-rumah rakjat, jang sedang ditempati oleh anggota tentara. Rakjat meminta rumah-rumah mereka kembali. Terutama di Agam.
  2. Fihak Pemerintah bukan tidak mau mengembalikan akan tetapi, kemana anggota tentara akan ditempatkan, oleh karena belum ada asrama. Bukan pula tidak mau mendirikan asrama, akan tetapi beaja pembangunan tidak ada.
  3. Akibatnja : fihak masjarakat merasa tidak puas oleh karena didesak oleh soal-soal sosial, seperti soal keluarga jang hendak pulang dari rantau, soal anak kemanakan jang hendak dikawinkan, dan hal-hal semacam itu jang menghendaki perumahan”.
  4. Di Bukittinggi ada agen dari missie asing (Baptis), jang mempunyai banjak uang. Bisa mendirikan sekolah, rumah sakit, geredja, asrama, apa sadja. Dan taktik-srategi jang mereka tempuh sekarang ini, dalam kampanje Kristianisasi mereka dimana-mana, tentu djuga di Sumbar ini, ialah menggunakan keunggulan mereka dibidang materie dan alat-alat modern itu, untuk mendapatkan satu basis operasi mereka ditengah-tengah ummat Islam.Apalagi di tempat jang “strategis”, seperti ditengah-tengah masjarakat Aceh, masjarakat Bugis, masjarakat Kalimantan, masjarakat Pasundan dan masjarakat Minang  “nan basandi sjara’- basandi adat”itu.

Dalam rangka ini mereka melakukan segala matjam daja upaja, setjara gigih. Tidak bosan-bosan, dan tidak malu-malu.

5.    Apabila mereka mengetahui bahwa ada suatu kesulitan sosial ekonomis seperti jang dikemukan tadi itu, maka mereka tidak akan ragu-ragu “mengulurkan tangan” untuk “memetjahkannja”. Asal dengan itu mereka mendapat basis jang permanen, untuk operasi mereka dalam djangka pandjang. (Bak Ulando minta tanah !). Untuk ini mau sadja apa jang dikehendaki. Mau rumah sakit? –Mereka bikinkan rumah sakit jang up-to-date. Mau asrama? – Mereka bikinkan. Mau kontrak atau perdjandjian jang bagaimana? – Mereka bersedia teken…

Dipulau Sumba rakjat memerlukan air, pemerintah belum sanggup mengadakan djaringan irigasi dan saluran air minum?- Mereka bangun djaringan irigasi dan saluran air minum itu.

Di Flores rakjat menghadjatkan benar hubungan antara pantai ke pantai, sedangkan pemerintah belum sanggup memenuhi keperluan rakjat itu? – Mereka adakan hubungan itu dengan kapal motor-motor ketjil.

Memang Flores, Sumba dan Timor (Kupang) merupakan satu mata rantai jang penting sekali dan satu rantai jang membelit dari Pilipina (Katholik).

Manado, Toraja, Ambon, dan Nusatenggara Timur. Dan disebelah Barat rentetan pulau-pulau di Lautan India sebelah Barat Sumatera Barat sampai Lampung.

Akan tetapi semua kegiatan mereka dalam menjempurnakan rantai ini dan menumbuhkan basis-basis di tengah-tengah kepulauan Sumatera, Djawa, Kalimantan mereka lakukan atas nama perikemanusiaan semata-mata dan membantu membangun “Indonesia jang modern”.

6.    Saja kuatir, kalau-kalau mereka sudah berpikir kearah itu, dalam rangka mentjari djalan lain, setelah rentjana jang semula sudah terbentur. Kalau mereka berfikir dan melangkah kearah itu maka mereka akan dengan sekaligus bisa memperoleh posisi jang lebih kuat dari jang telah sudah. Mereka akan dapat meng-adu golongan-golongan jang tidak setudju dengan :

      a.   Keluarga-keluarga jang ingin lekas rumahnja dikembalikan.

      b.   Fihak Tentara (Pemerintah) jang ingin lekas memetjahkan soal asrama.

      c.   Golongan-golongan dalam masjarakat jang ingin mendapat tempat berobat jang moden, lebih modern dan rapi, daripada rumah sakit pemerintah jang sudah ada di Bukittinggi sendiri. Mereka ini akan bertanja-tanja kenapa kita harus menolak satu amal dari Baptis itu, jang ingin membantu kita secara cuma-cuma? Bukankah itu fanatik namanja?

Akibat-akibatnja akan timbul lagi pergolakan antara pro dan kontra dalam masjarakat minang. Ini akan mengakibatkan lumpuh kembali semangat-pembangunan jang sudah ada sekarang ini, semangat keseluruhan.

7.    Keputusan Menteri Agama No. 54 tahun 1968 itu, mendasar sikap tidak-setudjunja tidak-setudjunja  terhadap pendirian rumah sakit Baptis itu, atas kekuatiran akan timbul pertentangan-pertentangan antara golongan-golongan agama di Sumbar, jang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan, apabila rumah sakit Baptis itu diteruskan mendidirikannja. Akan tetapi sebenarnja, sebelum itupun, pertengkaran antara pro dan kontra sudah akan bisa mengganggu apa jang disebut ketertiban dan keamanan itu, sekurang-kurangnja banjak jang bertubrukan, banjak perasaan jang akan tersinggung, banjak emosi jang akan berkobar. Sekali lagi.

Ini semua akan melumpuhkan semangat pembangunan Minang kabau setjara keseluruhan jang berkehendak kepada ketenteraman djiwa dan kebulatan hati.

Alangkah sajangnja ! Baru melangkah, ka-tataruang pulo !….

8.    Bagai mana tjaranja, mengelakkan musibah ini?

Saja pikir-pikir ini bisa, apabila kita menghadapi ketiga-tiga persoalan itu setjara integral, jaitu soal:

       a.  Rumah masjarakat jang sedang ditempati oleh anggota tentara,
       b.  Soal asrama untuk tentara,
       c.  Soal kekurangan rumah sakit jang bermutu lebih baik.

 

Jaitu dengan mendjadikan pembangunan asrama tentara, dan mendirikan rumah sakit Islam atau setidak-tidaknja peningkatan mutu rumah sakit Bukittinggi sebagai “projek bersama antara pemerintah dengan masjarakat”.

Sepintas lalu memang “aneh” kedengarannja. Tapi apabila jang aneh ini kita laksanakan akan besar sekali mamfaatnja.

Dalam arti politis kita dapat menundjukkan bahwa kita dapat mempererat hubungan antara pemerintah dengan rakjat atas dasar jang sehat dan menghilangkan kesan bahwa kita hanja bisa menolak sadja akan tetapi djuga sanggup menundjukkan djalan alternatif jang lebih baik.

Dari sudut sosial kita dapat mengatasi kesulitan daripada sebagian masjarakat kita jang memerlukan sangat rumah mereka kembali.

Dari sudut membentengi Agama dengan itu kita dapat lebih tegas dan radikal mengatakan kepada missie-missie asing itu :

            “Kami orang Islam tidak memerlukan tuan-tuan datang kesini”.

Haraplah hal ini kita tjoba-tjoba sama-sama pikirkan. Mungkin move jang “aneh” ini tidak akan begitu aneh, bila kita memperhatikan, bagaimana Dandim Padang umpamanja dapat membuka kunci hati dan kekuatan rakjat untuk meringankan beban pembuatan parit pantai laut, dengan bantuan batu dan pasir, dan bagaimana viaduct Saruoso dapat dibangun dengan ongkos jang  djauh lebih murah daripada kalkulasi secara modern, dan bagaimana Bupati Pasaman bisa menjelenggarakan kurang lebih 80 projek irigasi dsb, dsb…

Bisakah, sekarang umpamanja kita meminta kepada Penguasa (Militer dan Sipil) di Sumbar, untuk merentjanakan berapa biaja jang diperlukan untuk asrama tentara itu menurut kalkulasi jang normal. Jakni asrama jang mentjukupi sjarat (kalaupun tidak semewah jang mungkin akan ditawarkan oleh Baptis itu).

Berapa prosenkah kiranja jang dapat ditjarikan oleh Pak Gubernur Sumbar sebagai sumbangannja Pemerintah Tk. I untuk maksud tersebut.

Sesudah itu berapakah kiranja jang dapat dikumpulkan setjara suka rela dari masjarakat, berupa sumbangan bahan-bahan dan tenaga?

Kemudian restan kekurangannja, dipintakan dari Hankam (Pusat di Djakarta. Kata dari orang jang tangannja sudah berisi lebih tadjam.

Adapun panitia projek rumah sakit diteruskan djuga. Projek ini lebih “flexible”. Bagi kami di Djakarta akan lebih mudah membantu projek rumah sakit dari pada merintiskan djalan untuk asrama.

Apalagi dengan didjadikannja Bukittinggi sekarang ini sebagai salah satu pusat pemberantasan T.B.C, dengan alat-alat jang modern, dan tambahan tenaga-tenaga dokter, maka dalam soal perawatan orang sakit kita akan dapat bernafas agak lega.

Pendeknja, harapan kami, ialah tjobalah saudara-saudara kita di Sumbar mempertimbangkan dan mendjeladjahi persoalan ini dengan teliti dan bidjaksana.

Saja ingin sekali mendengar pertimbangan-pertimbangan Saudara tentang ini. Walaupun sekedar akan melepaskan was-was………..

 

W a s s a l a m,

dto

Mohammad Natsir

Dengan semangat Bernagari menjalin kerjasama menuju Nagari Madani

 

Dengan semangat Bernagari  menjalin kerjasama menuju Nagari Madani

Oleh : H. Mas’oed Abidin[1]

Nagari,  adalah satu sistem pemerintahan terendah, dalam struktur masyarakat Minangkabau. Sifatnya multi dimensi dan multi fungsi. Nagari mempunyai aspek formal dan informal.  Secara formal dia adalah bahagian yang integral dari pemerintahan nasional.  Secara informal dia adalah unit kesatuan adat dan budaya Minangkabau.

Wilayah Nagari adalah suatu aset dalam pemerintahan Nagari. Pemerintahan Nagari harus fokus menyiasati babaliak ka Nagari sebagai suatu sistim berpemerintahan dan melaksanakan kehidupan anak Nagari dalam tatanan adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Analisis Nagari yang paling utama adalah pemerintahan.  Bagaimana Nagari diatur dan dibangun. Nagari adalah plural, bukan single, perbedaan sistem Nagari tersebut membuat setiap Nagari mempunyai dinamika tersendiri.  Dari sisi adatnya, adaik salingka nagari.

Konsep pemerintahan harus mampu menaungi masyarakatnya.

Pemerintahan Nagari dibingkai undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Implementasinya di tingkat Kabupaten, ada Perda tentang Pemerintahan Nagari.  Dalam pelaksanaan pemerintahan di tingkat Nagari, hubungan harus berdasarkan adat.  Maka, adat harus benar-benar dikuasai oleh semua aparat pemerintahan Nagari. Adat tidak semata sebagai kekayaan sains (ilmu pengetahuan) ke-Minangkabau-an. Adat harus dapat dilaksanakan dalam kehidupan dan hubungan bermasyarakat.

Termasuk dalam sosialisasi kebijakan pemerintahan, sesuai dengan perkembangan zaman dan pemanfaatan teknologi yang maju, seperti musyawarah dalam perwujudan demokrasi,  penyediaan peluang bagi semua anak Nagari sebagai perwujudan dari hak asasi manusia.

Hakikat berpemerintahan Nagari adalah mematuhi Undang-Undang Negara.

Kemudian, dapat menghidupkan jati diri kehidupan beradat dalam tatanan berNagari. Kebanggaan orang dalam berNagari adalah lahirnya kepeloporan dalam berbagai bidang.

Nagari itu dinamis, senantiasa berubah. Harus diantisipasi dengan musyawarah anak Nagari yang dikuatkan oleh Wali Nagari.  Setiap pemekaran, harus berpedoman kepada pandangan adat dalam Nagari. Nilai kepemimpinan di dalam Nagari, sebagai juga ditemui dalam Keputusan Presiden

  • Seorang Wali Nagari adalah putra terbaik dan penghulu
  • Kesetaraan dan keterwakilan

Nilai kesetaraaan dan keterwakilan  dari ninik mamak, alim ulama,cadiak pandai dan tokoh – tokoh adat di dalam Nagari, mesti diperhitungkan dengan cermat.

Urusan Nagari adalah urusan bersama seluruh warga masyarakat Nagari. Bukan hanya urusan yang muda-muda atau urusan yang tua-tua. Bukan pula urusan ninik mamak semata. Kerjasama antara generasi, muda dan tua, cerdik dan pandai, sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi Nagari.

BAMUS (Badan Musyawarah) Nagari, dipilih oleh Anak Nagari,

Semestinya menjadi perwujudan dari tali tigo sapilin, tungku tigo sajarangan. Implementasinya, terlihat dalam pemahaman adat.   Nagari, akan menjadi pelopor di dalam melaksanakan adat Minangkabau yang berfalsafah Adaik basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah.

BAMUS Nagari adalah bentuk perwujudan dari prinsip demokrasi dalam berpemerintahan, semacam badan legislatif tingkat Nagari, untuk melaksanakan pemerintahan Nagari bersama-sama Wali Nagari (Kepala Nagari). Maka, yang akan duduk di dalam BAMUS Nagari, semestinya hanya beragama Islam. Karena, tidak dapat disebut Minangkabau jika tidak beragama dengan Islam.  Keberadaan BAMUS menjadi bagian upaya mengembalikan unsur adat ke hakikatnya. Mengaktualisasikan fungsi dan peran tungku tigo sajarangan, melalui keteladanan, terutama dalam pelaksananan agama dan adat.

Satu bentuk otonomi penuh pada Nagari untuk mengatur rumah tangga Nagari dengan berpedoman pada peraturan yang ada.  Wali Nagari bersama tokoh masyarakat dalam BAMUS akan menyusun program-program pembangunan Nagari

Keberadaan Kerapatan Adat Nagari haruslah jelas.

KAN di tingkat Nagari adalah badan otonom yang ditetapkan oleh anak Nagari, terikat kaum dalam Nagari, dan memegang asal usul serta kewenangan ulayat Nagari. Keanggotaan KAN seluruhnya terdiri dari penghulu di Nagari, bagian dari tungku tigo sajarangan, dimuliakan oleh anak Nagari, disebut nan gadang basa batuah.

Pertanyaan mengemuka, apakah semua anggota KAN terikat dengan LKAAM sebagai satu organisasi kemasyarakatan yang berjenjang dari tingkat provinsi?  Apakah KAN menjadi bagian dari BAMUS Nagari atau berdiri sendiri ?.  Jalan terbaik adalah menjadikan KAN sebagai bagian dari BAMUS Nagari.  Sewajarnya, tampak nyata hubungan antara adat dan pemerintahan di tingkat Nagari.  Saling topang menopang dan serasi.

Melalui BAMUS Nagari, diharapkan dapat menggerakkan kembali peran dan fungsi ninik mamak, yang selama ini tidak optimal berperan membangun Nagari, yang disebabkan :

  • Kurangnya figure penghulu dan pemangku adat yang sudah banyak merantau.
  • Kurangnya pengkaderan ninik mamak untuk memimpin Nagari.

Semestinya, BAMUS Nagari menjadi upaya mambangkik batang tarandam di tengah pesatnya kemajuan bidang teknologi.  Masalah asal usul dari keanggotaan BAMUS di Nagari, adalah hal yang perlu dipertimbangkan.  Termasuk menginventarisir asset, dan permasalahan Nagari dengan data base Nagari.

Perubahan dalam kehidupan beradat telah merambah Minangkabau.

Adat ndak dipacik arek, agamo ndak dipagang taguah.  Fakta menunjukkan bahwa adat tidak berdampak banyak terhadap generasi muda itu. Ketika buku susah dicari, tempat bertanya juga tidak ada, banyak ninik mamak yang tidak mengerti adat, dan generasi muda di Nagari mulai kebingungan. Solusinya dari generasi muda adalah adanya kegiatan  kembali ke surau berupa pendidikan untuk pembinaan karakter.  Bila diamati, memang sedang terjadi perubahan ;

  • Terjadi krisis identitas pada generasi muda Minagkabau akibat terjadi perubahan dalam nilai – nilai adat Minangkabau tersebut.
  • Adat tidak memberi pengaruh yang terlalu banyak terhadap generasi muda Minangkabau.
  • Generasi tua tidak lagi memberikan suri teladan lagi kepada generasi muda sehingga menimbulkan sikap apatis generasi muda terhadap adat Minangkabau sendiri.
  • Solusi yang ditawarkan adalah kembali ke surau dengan cara membuat suatu pendidikan informal.

Surau adalah suatu institusi yang khas dalam masyarakat Minangkabau.

Fungsinya bukan sekedar tempat sholat. Juga sebagai tempat pendidikan dan tempat mendapat pengajaran bagi anak muda. Banyak tokoh-tokoh besar tanah air dan tokoh Nagari di Minangkabau lahir dari surau.  Pengelolaan surau sekarang bisa dihidupkan kembali.  Esensi dan semangatnya lewat menggerakkan kebersamaan anak Nagari.

Upaya dapat dilakukan dalam menyiapkan Nagari berprestasi, dimulai dengan program kembali ke surau, dengan cara ;

  1. memberikan pendidikan dan pelatihan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah terutama kepada generasi muda di Nagari.
  2. memberikan penyegaran pada tokoh-tokoh masyarakat melalui pelatihan dan workshop tentang adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah.
  3. mengevaluasi struktur kelembagaan dalam Nagari

Maka, pada beberapa Nagari yang sudah berdaya, dirasakan perlu adanya dewan pendidikan nagari yang dilengkapi dengan sarana-sarana untuk memajukan anak Nagari diataranya, ada perpustakaan Nagari, sebagai bagian dari menghidupkan kembali banagari dan basurau melalui menghidupkan semangat menggalakkan kembali pendidikan dan pengajaran bagi anak muda.

Pendidikan dapat dilaksanakan di berbagai tempat di lingkungan ba-korong ba-kampuang, ba-jorong atau ba-kaum.   Karena itu, kegiatan surau dikelola oleh alim ulama dan cerdik pandai yang disebut suluah bendang di dalam Nagari.  Alim Ulama di Nagari adalah bagian seutuhnya dari tali tigo sapilin, di tingkat Nagari itu.  Adanya Majelis Ulama Nagari sebagai suluah bendang adalah benteng agama di Nagari.

 Pertanyaan mengemuka adalah, apakah alim ulama suluah bendang di Nagari yang menjadi bagian dari Majelis Ulama Nagari itu berinduk ke MUI sebagai satu organisasi yang berjenjang sampai ke tingkat provinsi ataupun pusat? Sebagaimana kita ketahui, MUI adalah wadah musyawarah dari ulama dan cendekiawan muslim yang berhimpun dalam ormas-ormas Islam.

Filosofi Hidup Nagari-nagari di Minangkabau bersumber dari alam.

Alam takambang jadi guru dan diberi ruh oleh Islam.  Konsep ABS-SBK adalah kristalisasi ajaran hukum alam yang bersumber dari Islam.  Yang diperlukan sekarang adalah pemantapan dan pengamalan.  Maka, prinsip-prinsip ABS-SBK harus masuk ke dalam seluruh kehidupan secara komprehensif.  Dengan perpaduan yang baik, kebudayaan Minangkabau akan berlaku universal.

Langkah sekarang adalah, menjabarkan ajaran ABS-SBK, secara sistematis dan terprogram ke dalam berbagai sistem kehidupan.   Dimulai dalam pelaksanaan pemerintahan di tingkat Nagari, seperti, kebersamaan, gotong royong, sahino samalu, kekerabatan, dan penghormatan sesama, atau barek sapikue ringan sajinijing, yang menjadi kekuatan di dalam incorporated social responsibility.

Kekusutan dalam masyarakat Minangkabau, khususnya di tingkat Nagari-nagari dapat diatasi dengan komunikasi dengan generasi muda. Persoalan prilaku harus mendapatkan porsi yang besar, selain persoalan kelembagaan. Prilaku orang Minang terutama generasi muda sangat mengkhawatirkan. Selain lemahnya komunikasi, masalah yang muncul di Nagari adalah rapuhnya solidaritas. Diperlukan sosialisasi nilai-nilai budaya Minangkabau.  Selanjutnya, membentuk kembali struktur masyarakat adat di Nagari-nagari.

Hubungan Kerabat di Minangkabau berlangsung harmonis dan terjaga baik. Hal tersebut terjadi karena perasaan kekeluargaan dan perasaan malu kalau tidak membina hubungan dengan keluarganya dengan baik.  Seseorang akan dihargai oleh sukunya atau keluarganya apabila ia berhasil menyatu dengan kaumnya dan tidak membuat malu kaummya.

Hubungan kekerabatan masyarakat Minangkabau yang kompleks senantiasa dijaga dengan baik oleh ninik mamak dan penghulu di Nagari.  Seseorang akan dianggap ada apabila ia berhasil menjadi sosok yang diperlukan di kaumnya dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kelompoknya.

Nilai-nilai ideal dalam kehidupan yang mesti dihidupkan terus dalam menata kehidupan bernagari, antara lain adalah, 1). rasa memiliki bersama, 2). kesadaran terhadap hak milik, 3). kesadaran terhadap suatu ikatan,  4). kesediaan untuk pengabdian,  5). dampak positif dari satu ikatan perkawinan, seperti mengurangi sifat-sifat buruk turunan serta mempererat mata rantai antar kaum.

Pembangunan Nagari-nagari harus memakai pola keseimbangan dan pemerataan. Peningkatan usaha ekonomi masyarakat Nagari dipacu dengan mengkaji potensi Nagari.  Ada Nagari yang lebih baik ekonomi masyarakatnya (seperti, Rao-Rao, Situmbuak, Sumaniak, Limo Koum, Padang Gontiang, Lintau, Batipuah, Pandai Sikek).  Ada pula Nagari yang miskin (seperti Atar, Rambatan, Tanjuang Ameh, Saruaso, Padang Lua dan Tanjuang Alam). Pengalokasian dana hendaknya berimbang.

Kekekrabatan dapat dijaga oleh ninik mamak dan penghulu yang dihimpun dalam KAN ;  a). dibalut dengan satu sistem pandangan banagari,  b). cinta kepada Nagari yang sama dipunyai,  c) . kegiatan pembangunan yang dipersamakan.

Nagari itu disebut orang, sebagai republik-republik kecil.

Nagari-nagari di Minangkabau telah memenuhi unsur-unsur suatu negara. Unsur-unsur Nagari adalah suku (masyarakat/rakyat), wilayah, dan penghulu (pemerintahan), serta kedaulatan (adaik salingka nagari).  Walaupun, struktur Nagari yang sebenarnya itu, sudah tidak ditemukan lagi saat ini,  Pemerintahan Nagari, harus berupaya untuk membangun kembali struktur Nagari ini.

Menghidupkan suasana berpemerintahan Nagari yang diikat dalam satu PERDA tentang Pemerintahan Nagari mesti ditindak-lanjuti dengan ;

  • Membangun kembali masyarakat adat Minangkabau, dengan cara meminta pemerintah Nagari mengeluarkan peraturan bagi tiap suku untuk melengkapi kembali perangkat-perangkatnya.
  • Selanjutnya , yang dipilih menjadi Wali Nagari adalah yang memiliki kekuasaan sebagai penghulu adat di Nagari tersebut, dengan kualifikasi keilmuan, kejujuran, kesetiaan kepada negara, serta keahlian dalam pemerintahan.
  • Selanjutnya, melahirkan peraturan Nagari, bahwa ada kewajiban bagi para perantau satu Nagari untuk membantu mengembangkan kampung halamannya melalui sumbangan, bantuan, pemikiran dan lainnya, termasuk dalam penguatan  perangkat pemerintahan Nagari.

Padang, 22 Pebruari 2012

Biodata :

N a m a                                                            :   H. Mas’oed Abidin

TEMPAT/TANGGAL LAHIR           :  Koto Gadang Bukittinggi, 11 Agustus 1935

AYAH dan IBU                                           H.Zainal Abidin bin Abdul Jabbar Imam Mudo dan Khadijah binti Idriss,

Suku                                                                   :  Piliang

RIWAYAT PENDIDIKAN                     : Surau Lakuak,  Madrasah Rahmatun Niswan Koto Gadang, Thawalib Lambah Syekh Abdul Muin, Thawalib Parabek, SR KGadang, SMP II Bukittinggi,  SMA Bukittinggi, FKIP Medan (1963).

Pengalaman Organisasi                         : Sekum Komda PII Tapsel (1961-1963), Ketum HMI Sidempuan (1963-1966), KAMI Medan (1966-1967), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (1967-sekarang), Sekretaris Dewan Pembina ICMI Orwil Sumbar (2004-2006), Direktur PPIM Sumbar (2003-2006), Ketua MUI Sumbar Bidang Dakwah (2003-2006), Wk.Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar (sekarang).

JABATAN SEKARANG                             :  Ulama Sumbar dan Ketua Umum Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat Prov. Sumbar,

ALAMAT SEKARANG                                :  Jalan Pesisir Selatan V/496 Siteba Padang (KP – 25146), Fax/Telepon 0751-7052898,  Tel:0751-7058401.

LAIN-LAIN:

Personal Web-site/Mailing list            : http://masoedabidin@yahoogroups.com

Email                                                                        masoedabidin@yahoo.com

                                                                                       masoedabidin@hotmail.com

 

BUKU YANG SUDAH DITERBITKAN ;

  1. Islam Dalam Pelukan Muhtadin MENTAWAI, DDII Pusat, Percetakan ABADI, Jakarta – 1997.
  2. Dakwah Awal Abad, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2000.
  3. Problematika Dakwah Hari Ini dan Esok, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2001.
  4. Pernik Pernik Ramadhan, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2001.
  5. Suluah Bendang, Berdakwah di tengah tatanan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Minangkabau, Pustaka Mimbar Minang, Padang  – 2001.
  6. Surau Kito, PPIM – Padang, 2004.
  7. Adat dan Syarak di Minangkabau, PPIM – Padang, 2004.
  8. Implementasi ABSSBK, PPIM – Padang, 2005.
  9. Silabus Surau, PPIM – Padang, 2005.

[1] Disampaikan pada Raker Wali Nagari se Sumatera Barat, tentang Peran dan Fungsi Pemerintahan Terdepan yakni Pemerintahan Nagari dalam implementasi dan pelestarian ABS-SBK di Propinsi Sumatera Barat, bertempat di Aula Wisma Haji di Padang, pada hari Selasa, tangal 20 Maret 2012 jam 08.00 WIB.

Membangun Generasi Utama yang Unggul yang beriman dan berakhlak dan selalu siap memimpin umat dan bangsa

Membangun Generasi Utama yang Unggul

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

A.    Generasi Unggul

Generasi Muda adalah kelompok besar di tengah satu bangsa semestinya dibentuk menjadi Generasi Unggul (khaira Ummah) yang akan memikul amanah peran pelopor perubahan (agent of changes) berbekal keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT selalu melaksanakan misi amar makruf nahyun anil munkar.

Fitman Allah menyebutkan ; “  kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.Ali Imran : 110)

Generasi Unggul harus tumbuh  menjadi kelompok  muda yang penuh dengan keimanan kepada Allah dan Allah lengkapkan mereka lagi dengan hidayah. (QS.al Kahfi).

Generasi Unggul memiliki akal budi yang jernih, sehingga berkem,ampuan menghadapi berbagai tantangan global. Mereka memiliki  jati diri sesuai fitrah anugerah Allah, yakni Beriman serta selalu mengajak kepada kebaikan serta melarang dari kemungkaran.

Tantangan masa kini  antara lain infiltrasi dan penetrasi budaya sekular yang menjajah mentalitas manusia, seperti the globalization life style serta suburnya budaya lucah yang menonjolkan keindahan sebatas yang dilihat, didengar, dirasa, disentuh, sensual, erotik, seronok atau sikap hedonis, kadang-kadang ganas (anarkis), dengan kebiasaan menengggak miras, pergaulan bebas dan kecanduan madat dan narkoba. Hal sedemikian terjadi karena mengabaikan batasan-batasan perilaku luhur yang telah menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan dalam menata kehidupan bersama.

Pranata sosial Masyarakat Beragama yang Madani di Sumatera Barat, semestinya berpedoman kepada bimbingan wahyu Allah (Alquran) dalam menata adat perilaku bermasyarakatnya. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak. Peran amar ma’ruf nahi munkar menjadi wujud penciptaan tatanan masyarakat yang rukun, damai, aman sentosa penuh keharmonisan dan sopan santun penduduknya. Tidak dapat diabaikan dan mesti digerakkan dengan terarah dan terpadu, gerakan da’wah  akhlaqul Karimah  dengan tujuan untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

Hilangnya Akhlak , umumnya disebabkan   Agama tidak diamalkan, Ibadah lalai, nilai etika budaya terabaikan,  akibatnya masyarakat akan hancur.

Sabda Rasul Allâh SAW mengingatkan, Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri (‘ujub).” (HR. al-Tirmidziy).

 

B.    Upaya Membangun Generasi Unggul Berprestasi.

Dapat dilakukan melalui pendidikan berkarakter,

  1. Membudayakan Wahyu Al Quran,
  2. Memakaikan adat  budaya luhur yang berpedoman kepada syari’at Islam  dengan akhlaq  Qurani, sebagai aplikasi dari ABSSBK itu. 

Ada kiat untuk meraih keberhasilan, “Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju, dek ameh sagalo kameh, artinya perlu kesepakatan  dalam tujuan bersama pencapaian cita-cita bersama,  “hasanah fid dunya wa hasanah fil akhirah”

Amat diharapkan berkembangnya pendidikan menjadi pengawal pusat kebudayaan berkarakter (memiliki marwah).  Perilaku luhur akan bergeser ketika menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat.  Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, kegemaran membuang waktu (korupsi), aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Generasi Unggul  wajib lahir dengan budaya luhur (tamaddun) yang berpaksikan tauhidik. Artinya generasi yang memiliki daya inovasi dan daya kreasi yang tinggi, ditupang oleh tamaddun yang luhur. Cahaya akal mesti diletakkan di bawah naungan wahyu agar berpadu kepintaran dengan kebijaksanaan, pengetahuan dengan hidayah, sehingga rahmat dan barakah dapat diraih. Ihsan dan kasih sayang dapat dicapai.

Dengan ilmu yang berteraskan iman, para pemimpin dan aktivis Generasi Unggul (khaira ummah) akan dapat merumus fikrah harakiah untuk merancang gerak membangun kehidupan yang diredhai Allah Azza wa Jalala.

  1.  Islam tidak mengenal  ada “pengabdian kepada benda”. Pengabdian kepada benda apapun selain Allah adalah sikap munafik dan musyrik. Konsekwensnya seorang muslim dituntut semata-mata mengabdi (menyembah) hanya kepada Allah saja. (Lihat QS.24:56, 18:110, 1:5).
  2. Ajaran Islam adalah Monotheisme berarti setiap Muslim menolak pengamalan semua bentuk ideologi dan falsafah di luar konsepsi tauhid. Allah adalah al Ma’bud  artinya sesuatu yang disembah, secara maknawi adalah pengabdian hanya kepada Allah dan kepada Allah seorang hamba minta pertolongan  (lihat QS.1:5). Dalam tatanan masyarakat Sumatera Barat dengan ciri adat Minangkabau dirakitkan keyakinan tauhid itu kedalam filosofi hidup anak nagarinya dengan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.
  3. Konsepsi Tauhid Uluhiyah adalah konsepsi tertinggi dalam ajaran ke-Tuhanan. Tanpa konsistensi (istiqamah) secara gagasan maupun gerak akan dinyatakan sebagai  musyrik (Lihat QS.6:106, 41:6,7).
  4. Seluruh Rasul diutus dengan Misi Tauhid. Apabila syari’at telah menetapkan (syarak mengata),  mestinya adat memakai. Perpaduan Adat dan Syarak di Minangkabau masa dulu itu menjadi undang-undang nagari. Undang-undang tersebut dilaksanakan dengan sempurna. Kehidupan bermasyarakat terjamin aman dan tenteram.
  5. Apabila kedua sarana ini telah berperan sempurna, maka akan didapati dikelilingnya masyarakat yang hidup dengan memiliki akhlaq perangai yang terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) sesuai bimbingan syarak.  “Pariangan manjadi tampuak tangkai,  Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo luhak rang mangatokan. Adat jo syarak jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban.” 

C.     Generasi Unggul adalah Generasi Dinamik

Generasi yang dinamik tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti. Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,  Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo  basi. Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi, Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiakkan budi.”  Dinamika kehidupan hanya dapat dibangun dengan akal yang jernih serta budi pekerti yang luhur. Apabila generasi kini dibiarkan terlena dan lupa membenah diri dengan kekuatan ijtima’i (kebersamaan), tentulah mereka akan dijadikan jarum kelindan oleh orang lain di dalam satu pertarungan gazwul fikri.

Generasi Unggul wajib meningkatkan kualitas kepimpinan dengan kemahiran tanzim Islami. Teguh ubudiyyah dan zikrullah. Mahir merancang dan mengurus, seiring dengan melatih dan membimbing. Memelihara kesinambungan proses  pembelajaran bagi generasi yang terdidik dengan paksi Islam, mampu menilai teknologi informasi, mahir bergaul dan berkomunikasi, sebagai bekal di dalam menyelesai konflik, yang kesudahannya menarik minat dan dukungan umat banyak, serta mahir berpolitik, menguasai bahasa, falsafah dan sejarah.

Generasi muda di Sumatra Barat memiliki tanggung jawab masa lalu yakni kewajiban terhadap budaya luhur (cultural base). Mempunyai tanggung jawab masa kini yaitu kewajiban terhadap diri dan masyarakat dengan menata kehidupan berlandaskan norma-norma adat dan syarak (religious base). Memiliki kewajiban masa depan yang hanya dapat diraih dengan keberhasilan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge base). Ketiga asas (basis) tersebut tampak dalam kualitas kepribadian generasi unggul di Sumatera Barat dalam mendidik dan melatih kader pimpinan. Mengatasi kurenah dan perbedaan pendapat untuk memenangkan pertarungan menumpas kebatilan. Generasi Muda berprestasi terlihat pada iltizam harakah atau gerakan saciok bak ayam sa danciang bak basi. Mengedepankan manhaj haraki yakni lazim dipakai dengan program bulek aie dek pambuluah bulek kato kamupakaik. Mengamalkan budaya amal  jama’i  yaitu kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua, tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan. 

 

D.    Gerakan Masyarakat Bersama

Pendekatan social movement menangani isu perubahan global, mesti dilaksanakan dengan tanggungjawab bersama nan elok dipakai, nan buruak dibuang. Kepemimpinan adalah amanah dan tanggungjawab didalam Manyuruah babuek baik, malarang babuek jahek,Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo. Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado karuik nan tak salasai.  Satu gerakan masyarakat bersama untuk mengangkat umat mencapai kejayaan hidup sesuai syari’at Islam. Kreativiti dan inovasi selalu berkait rapat dengan berbagai gerakan dakwah mencakupi pengurusan sumber daya manusia, komunikasi, kinerja, sinerji dan sebagainya. Akhirnya, kreativitas didukung keikhlasan mencari redha Allah.

Generasi muda masa kini mesti memiliki ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas, dalam kata adat disebutkan, Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah, padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak buliah barubah”. Generasi masa datang mesti memiliki pemahaman luas dengan tasawwur (world view). Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi unggul (khaira ummah) itu selalu awas dan berhati-hati, Bakato sapatah dipikiri, Bajalan salangkah maliek suruik,  Mulik tadorong ameh timbangannyo, Kaki tataruang inai padahannya, Urang pandorong gadang kanai, Urang pandareh ilang aka.”

Dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan tata nilai dan pergaualan dunia, generasi Muda berkualtias khususnya di Sumatera Barat yang hidup dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mesti istiqamah (konsisten) selalu, sebagai fatwa adat menyebutkan, Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kajo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”. Para aktivis generasi unggulan perlu meningkatkan kreativitas. Sudah sampai masanya menampilkan wawasan dan perspektif Islam dalam berbagai bidang informasi, TV dan Radio Internet, adalah contoh mutakhir dalam usaha mengatasi halangan dalam menyampaikan informasi alternatif kepada masyarakat dengan lebih efektif dan bersifat global.

 

E.     Pembangunan Karakter Khayra Ummah

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur perasaan (affective component), hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur  yang tumbuh mekar dengan kesadaran kearifan  menjadikan cerdas budaya serta memperhalus kecerdasan emosional  dengan dipertajam oleh kemampuan periksa  (evaluasi positif  dan negatif)  atau kecerdasan rasional intelektual  serta dilindungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni bagi kebanyakan masyarakat Sumatera Barat atau Indonesia adalah hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) akan melahirkan tindakan terpuji dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas). Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan kewajiban mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian serta membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Pengenalan akidah Islam (tauhidiyah) di iringi oleh pengamalan ibadah (syari’at) akan mendorong setiap muslim memahami tentang arti kehidupannya.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. (Al-Baqarah, 257).

Berjalan menuju Allah (rihlah  ilaa Allah)  dicapai dengan al-qalb al-salim yakni  hati yang salim, tenteram dan sejahtera. Kebaikan hati awal langkah untuk mencapai kebaikan jiwa dan jasad,

ان فى الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله  واذا فسدت فسد الجسد كله, ألا وهي القلب

Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal mudhghah (benda darah), jika ia sehat  maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia fasad maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (Hadith riwayat Bukhari).

Kebaikan hati, titik tolak kehidupan dalam  Islam. Bersih hati adalah pintu menerima perintah Allah dengan sempurna. Generasi Unggul selalu membersihkan diri dari perangai kufur jahiliyyah dan munafik. Wajib mengikis habis sifat jahil, engkar, bohong, memfitnah, zalim, tamak dan membelakangkan dasar politik musyawarah (demokratik), sehingga hati tetap bersih.   Jiwa yang bersih menerima hidayah dengan  mengenali  yang baik untuk diamalkan dan mengenali perkara buruk untuk dijauhi.

Imam al-Ghazali menjelaskan maksud النفس  ialah  nafsu jauhari النفس الجوهري   yang bercahaya, brilliant dan dapat mengetahui serta memahami, yang menggerakkan atau memdorong kepada motivasi. Allah berfirman :  وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا –  فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا  Dan demi jiwa serta penyempurna-an ciptaanNya.  Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) jahat (untuk dijauhkan) dan (jalan) kebaikkan (untuk diamalkan).

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا.   وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا  Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. As-Syams, 7-10).

 

F.     Menanam Akhlaq melalui Pendidikan

Seorang dapat dikatakan “orang baik” apabila pergaulannya dan hubungan  dengan tetangga yang berada di lingkungannya baik. Jika sikap, tingkah laku dan prilakunya selalu meresahkan tetangganya, sehingga para tetangganya terganggu dan tidak nyaman, maka orang itu sangat dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT.  Rasulullah SAW menegaskan dalam hadits beliau, ….  لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارَهُ بِوَائِقَهُ  .. “Tidak dapat masuk sorga orang yang tetangganya tidak merasa  aman dari gangguannya”. (H.R. Muslim).

Bila wasiat-wasiat Rasulullah berkenaan dengan masalah tetangga ini terwujud dalam kehidupan bermasyarakat, niscaya komunitas masyarakat tersebut akan menjadi sebuah keluarga yang selalu komit dalam melaksanakan pesan-pesan ajaran Islam, yang saling tolong-menolong bahu membahu dalam kebaikan dan taqwa.

Kita memahami, Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah iqra (bacalah)  menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif  dan dari diam kepada  gerak  dengan sadar memahami informasi simbolik menimba ilmu, menggali pengetahuan dan potensi alam.  Berkembangnya budaya dan peradaban manusia di semua zaman selalu mengalami perubahan drastis. Tuntutan hidup dalam segala aspek makin tinggi.  Keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan, dan telah menjadi prasyarat imperatif  bagi perkembangan zaman dan inovasi peradaban.

PENDIDIKAN dan BELAJAR dapat mengantarkan manusia pada kemajuan berkualitas dengan iman dan taqwa, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, beradat dan berakhlak. Generasi kedepan mesti tumbuh dengan Iman yang kokoh.  Kemajuan materi dipacu oleh akhlak manusia yang menggenggam materi tersebut. Rapuhnya akhlak generasi akan merusak bangunan  kehidupan.

Sebuah pertanyaan, “ Mengapa Minangkabau di Masa Lampau  Mampu ‘Melahirkan’ Tokoh-tokoh Besar Nasional ?” .. Salah satu jawabannya adalah, “Akhlak mulia berperan mendorong lahirnya generasi berkemajuan dan bermartabat dengan minat  terarah  guna memelihara sumber kehidupan yang  terbimbing  menjadi insan-insan yang pandai  bersyukur.” Tantangan Pendidikan Generasi ke depan sangat berat. Hanya dapat diringankan dengan hubungan kekerabatan  yang harmonis  dan baik, dimulai dari rumah tangga, lingkungan sekolah, lingkungan kehidupan masyarakat, dapat menjadi modal utama mengawal pendidikan berkarakter di Sumatera Barat.

Ada perasaan malu, bila tidak membina hubungan dengan baik. Selalu terjaga kaidah, ” nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang”. Dengan demikian nilai-nilai ideal kehidupan itu akan terlihat pada ;

  1. adanya rasa memiliki bersama,
  2. kesadaran terhadap hak milik,
  3. kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku,
  4. kesediaan untuk pengabdian,
  5. terjaga  hubungan positif  akibat hubungan pernikahan,  hubungan semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan .

 

G.    Tanamkan Rasa Selalu diawasi oleh Allah.

Mukmin sejati dalam berbagai bidang kehidupannya selalu berkaitan dengan akidah, ibadah. Semua hubungan sosial, kekeluargaan, moral maupun yang berkaitan dengan sifat emosional, intelektual, profesional dan sifat-sifat jasadi (fisik), selalu disadari dan dirasakan bernilai aqidah dan penghayatannya didalam kehidupan menjadi satu yang difardhukan.  Akhlaq Qurani menjadi bukti mendarah dagingnya Islam didalam diri.

Sunnah telah memberikan perhatian mendalam kepada masalah nilai aqidah ini.

ذاق طعام الا يمان من رضي بالله ربا وبا لا سلا م دينا وبمحمد رسولا

Yang merasakan lazatnya iman adalah orang yang redha terhadap Allah sebagai Tuhannya, dan redha terhadap Islam sebagai agamanya dan redha terhadap Muhammad sebagai Rasul. (Hadith riwayat Muslim dan Tarmizi.)

Etika Profesional Generasi Unggul adalah selalu bertanggung jawab dalam setiap geraknya. Tanggung jawab tersebut mencakup ;

  1. Tanggungjawab Kepada Allah.
  2. Tanggungjawab Kepada Diri,
  3. Tanggungjawab Kepada Ilmu,
  4. Tanggungjawab Kepada Profesi,
  5. Tanggungjawab Kepada Masyarakat,
  6. Tanggungjawab Kepada Sejawat,
  7. Tanggungjawab Kepada Keluarga.  

Disebabkan hal sedemikian, maka menumbuhkan mahabbah (rasa cinta dan kasih sayang) dengan berpedoman kepada sabda Rasulullah SAW :

ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان  : من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما,   ومن احب عبدا لا يحبه الا الله,  ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه كما يكره ان يلقى فى النار

 Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat pada dirinya, maka dia akan merasakan lazatnya keimanan : Orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan orang yang benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilempar ke dalam  neraka. (Hadith riwayat Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa^i).

 

Seorang Mukmin wajib memiliki rasa takut, kasih dan sayang kepada Allah, yang dibuktikan dengan setia terhadap agamaNya.  Seorang muslim yang beriman mesti mempunyai perasaan yakin, percaya, harap, tawakkal dan pasrah kepada ketentuan Allah. Membiasakan  secara terus menerus zikrullah, yakni mengingati Allah dengan tauhid uluhiyah.  Tauhid menumbuhkan rasa takut kepada keagungan Allah karena meyakini sepenuhnya bahwa Allah mengawasinya. Tauhid itu melahirkan mahabbah atau rasa kasih serta rindu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi makin canggih, tidak dapat dibantah bahwa makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan dan  tidak mudah dapat diselesaikan.

 

Wassalam.

Padang, 22 Oktober 2012

 

 

Minangkabau dan Sistim Kekerabatan .. Sumbangan Pikiran untuk Kompilasi ABSSBK, oleh BuyaHMA (Bagian Pertama)

MINANGKABAU DAN SISTIM KEKERABATAN
Hubungan Kekeluargaan Minangkabau, bersuku ke ibu, bersako ke mamak, dan bernasab ke ayah

Oleh : H Mas’oed Abidin

MINANGKABAU DALAM SEJARAH DAN TAMBO
1. Asal usul manusia Minangkabau

Kata Minangkabau mengandung banyak pengertian. Minangkabau dipahamkan sebagai sebuah kawasan budaya, di mana penduduk dan masyarakatnya menganut budaya Minangkabau. Kawasan budaya Minangkabau mempunyai daerah yang luas. Batasan untuk kawasan budaya tidak dibatasi oleh batasan sebuah propinsi. Berarti kawasan budaya Minangkabau berbeda dengan kawasan administratif Sumatera Barat.

Minangkabau dipahamkan pula sebagai sebuah nama dari sebuah suku bangsa, suku Minangkabau. Mempunyai daerah sendiri, bahasa sendiri dan penduduk sendiri.

Minangkabau dipahamkan juga sebagai sebuah nama kerajaan masa lalu, Kerajaan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung.  Sering disebut juga kerajaan Pagaruyung, yang mempunyai masa pemerintahan yang cukup lama, dan bahkan telah mengirim utusan-utusannya sampai ke negeri Cina. Banyaknya pengertian yang dikandung kata Minangkabau, maka tidak mungkin melihat Minangkabau dari satu pemahaman saja.

Membicarakan Minangkabau secara umum mendalami sebuah suku bangsa dengan latar belakang sejarah, adat, budaya, agama, dan segala aspek kehidupan masyarakatnya. Mengingat hal seperti itu, ada dua sumber yang dapat dijadikan rujukan dalam mengkaji Minangkabau, yaitu sumber dari sejarah dan sumber dari tambo. Kedua sumber ini sama penting, walaupun di sana sini, pada keduanya ditemui kelebihan dan kekurangan, namun dapat pula saling melengkapi.

Menelusuri sejarah tentang Minangkabau, sebagai satu cabang dari ilmu pengetahuan, maka mesti didasarkan bukti-bukti yang jelas dan otentik. Dapat berupa peninggalan-peninggalan masa lalu, prasasti-prasasti, batu tagak (menhir), batu bersurat, naskah-naskah dan catatan tertulis lainnya. Dalam hal ini, ternyata bukti sejarah lokal Minangkabau termasuk
sedikit.

Banyak catatan dibuat oleh pemerintahan Hindia Belanda (Nederlandsche Indie), tentang Minaangkabau atau Sumatera West Kunde, yang amat memerlukan kejelian di dalam meneliti. Hal ini disebabkan, catatan-catatan dimaksud dibuat untuk kepentingan pemerintahan Belanda, atau keperluan dagang oleh Maatschappij Koningkliyke VOC.

Tambo atau uraian mengenai asal usul orang Minangkabau dan menerakan hukum-hukum adatnya, termasuk sumber yang mulai langka di wilayah Minangkabau sekarang. Sungguhpun, penelusuran tambo sulit untuk dicarikan rujukan seperti sejarah, namun apa yang disebut dalam tambo masih dapat dibuktikan ada dan bertemu di dalam kehidupan masyarakat
Minangkabau.

Tambo diyakini oleh orang Minangkabau sebagai peninggalan orangorang tua. Bagi orang Minangkabau, tambo dianggap sebagai sejarah kaum. Walaupun, di dalam catatan dan penulisan sejarah sangat diperhatikan penanggalan atau tarikh dari sebuah peristiwa, serta di mana kejadian, bagaimana terjadinya, bila masanya, dan siapa pelakunya, menjadikan penulisan sejarah otentik. Sementara tambo tidak terlalu mengutamakan penanggalan, akan tetapi menilik kepada peristiwanya. Tambo lebih bersifat sebuah kisah, sesuatu yang pernah terjadi dan berlaku. Tentu saja, bila kita mempelajari tambo kemudian mencoba mencari rujukannya sebagaimana sejarah, kita akan mengalami kesulitan dan bahkan dapat membingungkan. Sebagai contoh; dalam tambo Minangkabau tidak ditemukan secara jelas nama Adhytiawarman, tetapi dalam sejarah nama itu adalah nama raja Minangkabau yang pertama berdasarkan buktibukti prasasti.

Dalam hal ini sebaiknya sikap kita tidak memihak, artinya kita tidak menyalahkan tambo atau sejarah. Sejarah adalah sesuatu yang dipercaya berdasarkan bukti-bukti yang ada, sedangkan tambo adalah sesuatu yang diyakini berdasarkan ajaran-ajaran yang terus diturunkan kepada anak kemenakan.

Minangkabau menurut sejarah

Banyak ahli telah meniliti dan menulis tentang sejarah Minangkabau, dengan pendapat, analisa dan pandangan yang berbeda. Tetapi pada umumnya mereka membagi beberapa periode kesejarahan; Minangkabau zaman sebelum Masehi, zaman Minangkabau Timur dan zaman kerajaan Pagaruyung. Seperti yang ditulis MD Mansur dkk dalam Sejarah Minangkabau, bahwa zaman sejarah Minangkabau pada zaman sebelum Masehi dan pada zaman Minangkabau Timur hanya dua persen saja yang punya nilai sejarah, selebihnya adalah mitologi, cerita-cerita yang diyakini sebagai tambo.

Prof. Slamet Mulyana dalam Kuntala, Swarnabhumi dan Sriwijaya mengatakan bahwa kerajaan Minangkabau itu sudah ada sejak abad pertama Masehi. Kerajaan itu muncul silih berganti dengan nama yang berbeda-beda. Pada mulanya muncul kerjaan Kuntala dengan lokasi sekitar daerah Jambi pedalaman. Kerajaan ini hidup sampai abad ke empat. Kerajaan ini
kemudian berganti dengan kerajaan Swarnabhumi pada abad ke lima sampai ke tujuh sebagai kelanjutan kerajaan sebelumnya. Setelah itu berganti dengan kerajaan Sriwijaya abad ke tujuh sampai 14. Mengenai lokasi kerajaan ini belum terdapat kesamaan pendapat para ahli. Ada yang mengatakan sekitar Palembang sekarang, tetapi ada juga yang mengatakan antara Batang Batang Hari dan Batang Kampar. Candi Muara Takus merupakan peninggalan kerajaan Kuntala yang kemudian diperbaiki dan diperluas sampai masa kerajaan Sriwijaya. Setelah itu muncul kerajaan Malayapura (kerajaan Melayu) di daerah yang bernama Darmasyraya (daerah Sitiung dan sekitarnya sekarang). Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari kerajaan Sriwijaya. Kerajaan ini kemudian dipindahkan oleh Adhytiawarman ke Pagaruyung. Sejak itulah kerajaan itu dikenal dengan kerajaan Pagaruyung.

Menurut Jean Drakar dari Monash University Australia mengatakan bahwa kerajaan Pagaruyung adalah kerajaan yang besar, setaraf dengan kerajaan Mataram dan kerajaan Melaka. Itu dibuktikannya dengan banyaknya negeri-negeri di Nusantara ini yang meminta raja ke Pagaruyung, seperti Deli, Siak, Negeri Sembilan dan negeri-negeri lainnya.

Minangkabau menurut tambo

Dalam bentuk lain, tambo menjelaskan pula tentang asal muasal orang Minangkabau. Tambo adalah satu-satunya keterangan mengenai sejarah Minangkabau. Bagi masyarakat Minangkabau, tambo mempunyai arti penting, karena di dalamtambo terdapat dua hal;

(1) Tambo alam, suatu kisah yang menerangkan asal usul orang Minangkabau semenjak raja pertama datang sampai kepada masa kejayaan kerajaan Pagaruyung.

(2) Tambo adat, uraian tentang hukum-hukum adat Minangkabau. Dari sumber inilah hukum-hukum, aturan-aturan adat, dan juga berawalnya sistem matrilineal dikembangkan.

Di dalam Tambo alam diterangkan bahwa raja pertama yang datang ke Minangkabau bernama Suri Maharajo Dirajo. Anak bungsu dari Iskandar Zulkarnain. Sedangkan dua saudaranya, Sultan Maharaja Alif menjadi raja di benua Rum dan Sultan Maharajo Dipang menjadi raja di benua Cina. Secara tersirat tambo telah menempatkan kerajaan Minangkabau setaraf dengan kerajaan di benua Eropa dan Cina. Suri Maharajo Dirajo datang ke Minangkabau ini, di dalam Tambo disebut pulau paco lengkap dengan pengiring yang yang disebut; Kucing Siam, Harimau Campo, Anjiang Mualim, Kambiang Hutan.

Masing-masing nama itu kemudian dijadikan “lambang” dari setiap luhak di Minangkabau. Kucing Siam untuk lambang luhak Tanah Data, Harimau Campo untuk lambang luhak Agam dan Kambiang hutan untuk lambang luhak Limo Puluah. Suri Maharajo Dirajo mempunya seorang penasehat ahli yang bernama Cati Bilang Pandai.

Suri Maharajo Dirajo meninggalkan seorang putra bernama Sutan Maharajo Basa yang kemudian dikenal dengan Datuk Katumanggungan pendiri sistem kelarasan Koto Piliang. Puti Indo Jalito, isteri Suri Maharajo Dirajo sepeninggalnya kawin dengan Cati Bilang Pandai dan melahirkan tiga orang anak, Sutan Balun, Sutan Bakilap Alam dan Puti Jamilan. Sutan Balun
kemudian dikenal dengan gelar Datuk Perpatih Nan Sabatang pendiri kelarasan Bodi Caniago.

Datuk Katumanggungan meneruskan pemerintahannya berpusat di Pariangan Padang Panjang kemudian mengalihkannya ke Bungo Sitangkai di Sungai Tarab sekarang, dan menguasai daerah sampai ke Bukit Batu Patah dan terus ke Pagaruyung.

Maka urutan kerajaan di dalam Tambo Alam Minangkabau adalah;
(1)Kerajaan Pasumayan Koto Batu,
(2)Kerajaan Pariangan Padang Panjang
(3)Kerajaan Dusun Tuo yang dibangun oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang
(4)Kerajaan Bungo Sitangkai
(5)Kerajaan Bukit Batu Patah dan terakhir
(6)Kerajaan Pagaruyung.

Menurut Tambo Minangkabau, kerajaan yang satu adalah kelanjutan dari kerajaan sebelumnya. Karena itu, setelah adanya kerajaan Pagaruyung, semuanya melebur diri menjadi kawasan kerajaan Pagaruyung.
Kerajaan Dusun Tuo yang didirikan oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang, karena terjadi perselisihan paham antara Datuk Ketumanggungan dengan Datuk Perpatih nan Sabatang, maka kerajaan itu tidak diteruskan, sehingga hanya ada satu kerajaan saja yaitu kerajaan Pagaruyung. Perbedaan paham antara kedua kakak beradik satu ibu ini yang menjadikan sistem
pemerintahan dan kemasyarakatan Minangkabau dibagi atas dua kelarasan, Koto Piliang dan Bodi Caniago.

Dari uraian tambo dapat dilihat, bahwa awal dari sistem matrilineal telah dimulai sejak awal, yaitu dari “induknya” Puti Indo Jalito. Dari Puti Indo Jalito inilah yang melahirkan Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang. Namun, apa yang diuraikan setiap tambo punya berbagai variasi, karena setiap nagari punya tambo.

Dr. Edward Jamaris yang membuat disertasinya tentang tambo, sangat sulit menenyukan pilihan. Untuk keperluan itu, dia harus memilih salah satu tambo dari 64 buah tambo yang diselidikinya. Namun pada umumnya tambo menguraikan tentang asal usul orang Minangkabau sampai terbentuknya kerajaan Pagaruyung.

ASAL KATA MINANGKABAU

Kata Minangkabau mempunyai banyak arti. Merujuk kepada penelitian kesejarahan, beberapa ilmuan telah mengemukakan pendapatnya tentang asal kata Minangkabau.

a. Purbacaraka (dalam buku Riwayat Indonesia I) Minangkabau berasal dari kata Minanga Kabawa atau Minanga Tamwan yang maksudnya adalah daerah-daerah disekitar pertemuan dua sungai; Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Hal ini dikaitkannya dengan adanya candi Muara Takus yang didirikan abad ke 12.

b. Van der Tuuk mengatakan kata Minangkabau berasal dari kata Phinang Khabu yang artinya tanah asal.
c. Sutan Mhd Zain mengatakan kata Minangkabau berasal dari Binanga Kamvar maksudnya muara Batang Kampar.
d. M.Hussein Naimar mengatakan kata Minangkabau berasal dari kata Menon Khabu yang artinya tanah pangkal, tanah yang mulya.
e. Slamet Mulyana mengatakan kata Minangkabau berasal dari kata Minang Kabau. Artinya, daerah-daerah yang berada disekitar pinggiran sungaisungai yang ditumbuhi batang kabau (jengkol).

Dari berbagai pendapat itu dapat disimpulkan bahwa Minangkabau itu adalah suatu wilayah yang berada di sekitar muara sungai yang didiami oleh orang Minangkabau.

Namun dari Tambo, kata Minangkabau berasal dari kata Manang Kabau. Menang dalam adu kerbau antara kerbau yang dibawa oleh tentara Majapahit dari Jawa dengan kerbau orang Minang.

WILAYAH ASAL MINANGKABAU

Membicarakan tentang wilayah Minangkabau, seperti yang dijelaskan di atas, harus dilihat dalam dua pengertian yang masing-masingnya berbeda;
1. Pengertian budaya
2. Pengertian geografis
Dalam pengertian budaya, wilayah Minangkabau itu itu adalah suatu wilayah yang didukung oleh suatu masyarakat yang kompleks, yang bersatu bersamaan persamaan asal usul, adat, dan falsafah hidup.
Menurut tambo, wilayah Minangkabau disebutkan saedaran gunuang Marapi, salareh batang Bangkaweh, sajak Sikilang Aie Bangih, lalu ka gunuang Mahalintang, sampai ka Rokan Pandalian, sajak di Pintu Rayo Hilie, sampai Si Alang Balantak Basi, sajak Durian Ditakuak Rajo, lalu ka Taratak Aie Hitam, sampai ka Ombak Nan Badabua.

Mengenai batas-batas yang disebutkan di atas, berbagai penafsiran terjadi.
Ada yang mengatakan bahwa batas-batas itu adalah simbol-simbol saja tetapi wilayah itu tidak ada yang jelas dan tepat, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa batas-batas itu adalah benar dan nagari-nagari yang disebutkan itu ada sampai sekarang. Dalam hal ini tentu kita tidak perlu melihat perbedaan-perbedaan pendapat tersebut, karena kedua-dua
pendapat itu ada benarnya.

Dalam pengertian geografis, wilayah Minangkabau terbagi atas wilayah inti yang disebut darek dan wilayah perkembangannya yang disebut rantau dan pesisir.

a. Darek
Daerah dataran tinggi di antara pegunungan Bukit Barisan; di sekitar gunung Singgalang, sekitar gunung Tandikek, sekitar gunung Merapi dan sekitar gunung Sago. Daerah darek ini dibagi dalam tiga luhak;

(1) Luhak Tanah Data sebagai luhak nan tuo, buminyo nyaman, aienyo janiah ikannyo banyak,

(2) Luhak Agam sebagai luhak nan tangah, buminyo anegk, aienyo karuah, ikannyo lia,

(3) dan Luhak Limo Puluah Koto sebagai luhak nan bongsu, buminyo sajuak, aienyo janiah, ikannyo jinak.

Nagari-nagari yang termasuk ke dalam luhak Tanah Data adalah; Pagaruyung, Sungai tarab, Limo Kaum, Sungayang, Saruaso, Sumanik, Padang Gantiang, Batusangka, Batipuh 10 koto, Lintau Buo, Sumpur Kuduih, Duo puluah koto, Koto Nan Sambilan, Kubuang Tigobaleh, Koto Tujuah, Supayang, Alahan Panjang, Ranah Sungai Pagu.

Nagari-nagari yang termasuk ke dalam luhak Agam adalah; Agam tuo, Tujuah lurah salapan koto, Maninjau, Lawang, Matua, Ampek Koto, Anam Koto, Bonjol, Kumpulan, Suliki.

Nagari-nagari yang termasuk ke dalam luhak Limo Puluah Koto adalah; luhak terdiri dari Buaiyan Sungai Balantik, Sarik Jambu Ijuak, Koto Tangah, Batuhampa, Durian gadang, Limbukan, Padang Karambie, Sicincin, Aur Kuniang, Tiakar, Payobasuang, Bukik Limbuku, Batu Balang Payokumbuah, Koto Nan Gadang (dari Simalanggang sampai Taram); ranah terdiri dari Gantiang, Koto Laweh, Sungai Rimbang, Tiakar, Balai Mansiro, Taeh Simalanggang, Piobang, Sungai Baringin, Gurun, Lubuk Batingkok, Tarantang, Selo Padang Laweh (Sajak dari Simalanggang sampai Tebing Tinggi, Mungkar); Lareh terdiri dari Gaduik, Tebing Tinggi, Sitanang, Muaro Lakin, Halaban, Ampalu, Surau, Labuah Gurun ( dari taram taruih ka Pauh Tinggi, Luhak 50, taruih ka Kuok, Bangkinang, Salo, Aie Tirih dan Rumbio)

b. Rantau.
Daerah pantai timur Sumatera. Ke utara luhak Agam; Pasaman, Lubuk Sikaping dan Rao. Ke selatan dan tenggara luhak Tanah Data; Solok Silayo, Muaro Paneh, Alahan Panjang, Muaro Labuah, Alam Surambi Sungai Pagu, Sawah lunto Sijunjung, sampai perbatasan Riau dan Jambi. Daerah ini disebut sebagai ikue rantau.
Kemudian rantau sepanjang iliran sungai sungai besar; Rokan, Siak, Tapung, Kampar, Kuantan/Indragiri dan Batang Hari. Daerah ini disebut Minangkabau Timur yang terdiri dari;
a) Rantau 12 koto (sepanjang Batang Sangir); Nagari Cati nan Batigo (sepanjang Batang Hari sampai ke Batas Jambi), Siguntue (Sungai Dareh), Sitiuang, Koto Basa.

b) Rantau Nan Kurang Aso Duopuluah (rantau Kuantan)

c) Rantau Bandaro nan 44 (sekitar Sungai Tapuang dengan Batang Kampar)

d) Rantau Juduhan (rantau Y.D.Rajo Bungsu anak Rajo Pagaruyung; Koto Ubi, Koto Ilalang, Batu Tabaka)

e) NegeriSembilan


c. Pesisir
Daerah sepanjang pantai barat Sumatera. Dari utara ke selatan; Meulaboh, Tapak Tuan, Singkil, Sibolga, Sikilang, Aie Bangih, Tiku, Pariaman, Padang, Bandar Sapuluah, terdiri dari; Air Haji, Balai Salasa, Sungai Tunu, Punggasan, Lakitan, Kambang, Ampiang Parak, Surantiah, Batang kapeh, Painan (Bungo Pasang), seterusnya Bayang nan Tujuah, Indrapura,Kerinci,Muko-muko,Bengkulu.


SISTIM KEMASAYARAKATAN/KELARASAN

Sistim kemasyarakatan atau yang dikenal sebagai sistem kelarasan merupakan dua instisusi adat yang dibentuk semenjak zaman kerajaan Minangkabau/Pagaruyung dalam mengatur pemerintahannya. Bahkan ada juga pendapat yang mengatakan, penyusunan itu dilakukan sebelum berdirinya kerajaan Pagaruyung.

Kedua institusi tersebut masih tetap dijalankan oleh masyarakat adat Minangkabau sampai sekarang. Keberadaan dan peranannya sudah menjadi bakuan sosial atau semacam tatanan budaya yang diakui dan menjadi rujukan dalam menjalankan dan membicarakan tatanan adat alam Minangkabau.

Kedua institusi itu tidak berdiri keduanya begitu saja. Dalam sebuah tatanan pemerintahan, kedua institusi tersebut berjalan searah dengan instisuti lainnya atau lembaga-lembaga lainnya. Lembaga-lembaga tersebut terdiri dari: Rajo Tigo Selo; yang terdiri dari Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat.

Rajo Tigo Selo berasal dari keturunan yang sama. Hanya penempatan, tugas serta kedudukannya yang berbeda.


KEDUDUKAN/TEMPAT TINGGAL

Raja Alam di Pagaruyung, Raja Adat di Buo dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus.
Daerah-daerah rantau barat dan timur merupakan daerah yang berada langsung di bawah raja, dengan mengangkat “urang gadang” atau “rajo kaciak” pada setiap daerah. Mereka setiap tahun menyerahkan “ameh manah” kepada raja.

Daerah-daerah yang langsung berada di bawah pengawasan raja Daerah-daerah rantau tersebut adalah:

Rantau pantai timur
1. Rantau nan kurang aso duo puluah (di sepanjang Batang Kuantan) disebut juga Rantau Tuan Gadih.
2. Rantau duo baleh koto (sepanjang batang Sangir) disebut juga Nagari Cati Nan Batigo.
3. Rantau Juduhan (kawasan Lubuk Gadang dan sekitarnya) disebut juga Rantau Yang Dipertuan Rajo Bungsu
4. Rantau Bandaro nan 44 (sekitar Sei.Tapung dan Kampar)
5. Negeri Sembilan

Rantau pantai barat:
1. Bayang nan 7, Tiku Pariaman, Singkil Tapak Tuan disebut juga Rantau Rajo
2. Bandar X disebut juga Rantau Rajo Alam Surambi Sungai Pagu.

PERANGKAT RAJA
Basa Ampek Balai.
Dalam menjalankan pemerintahan, raja dibantu oleh 4 orang menterinya yang disebut Basa Ampek Balai dan seorang Panglima Perang, Tuan Gadang Batipuh.

Datuk Nan Batujuh
Di daerah kedudukan (tempat raja menetap/tinggal), setiap raja mempunyai perangkat penghulu tersendiri untuk mengurus masalah masalah daerah kedudukan dan kerumah tanggaan. Datuk Nan Batujuh, yang mengurus segala
hal tentang wilayah raja (Pagaruyung). Datuk Nan Barampek di Balai Janggo yang mengurus segala hal tentang kerumahtanggaan.

Pada mulanya, datuk-datuk ini diangkat oleh raja. Jadi, datuk-datuk ini berbeda dengan datuk-datuk di nagari-nagari lainnya. Datuk di nagari lainnya merupakan pimpinan kaum, sedangkan datuk-datuk ini perangkat raja.

Datuk-datuk tepatan raja pada wilayah atau nagari-nagari tertentu ada datuk-datuk yang ditunjuk untuk perpanjangan tangan raja, tempat tepatan raja.

SISTEM SISTEM KELARASAN KELARASAN

1. Kelarasan Koto Piliang (yang menjalankan pemerintahan) yang dipimpin oleh Datuk Bandaro Putih Pamuncak Koto Piliang berkedudukan di Sungai Tarab. Hirarki dalam kelarasan Koto Piliang mempunyai susunan seperti di atas yang disebut; bajanjang naiak batanggo turun, dengan prinsip pengangkatan penghulu-penghulunya; patah tumbuah.

2. Kelarasan Bodi Caniago (yang menjalankan persidangan) yang dipimpin oleh Datuk Bandaro Kuniang, Gajah Gadang Patah Gadiang berkedudukan di Limo Kaum. Hirarki dalam kelarasan Bodi Caniago mempunyai susunan yang disebut;
duduak samo randah tagak samo tinggi.

Kedudukan raja terhadap kedua kelarasan
Kedudukan raja berada di atas dua kelarasan; Koto Piliang dan Bodi Caniago.
Bagi kelarasan Koto Piliang, kedudukan raja di atas segalanya. Sedangkan bagi Kelarasan Bodi Caniago kedudukan raja adalah symbolik sebagai pemersatu.


TEMPAT EMPAT PERSIDANGAN PERSIDANGAN

1. Balai Panjang.
Tempat persidangan untuk semua lembaga; Raja, Koto Piliang, Bodi Caniago, Rajo-rajo di rantau berada di Balai Panjang, Tabek Sawah Tangah.

2. Balairung
Tempat persidangan raja dengan basa-basa disebut Balairung. Medan nan bapaneh Tempat persidangan kelarasan koto piliang disebut Medan Nan Bapaneh dipimpin Pamuncak Koto Piliang, Datuk Bandaro Putih

4. Medan nan Balinduang
Tempat persidangan kelarasan bodi caniago disebut Medan Nan Balinduang dipimpin oleh Pucuak Bulek Bodi Caniago, Datuk Bandaro Kuniang.

5. Balai Nan Saruang
Tempat persidangan Datuk Badaro Kayo di Pariangan disebut Balai Nan Saruang

LAREH NAN DUO

Lareh atau sistem, di dalam adat dikenal dengan dua; Lareh Nan Bunta dan Lareh nan Panjang. Lareh nan Bunta lazim juga disebut Lareh Nan Duo, yang dimaksudkan adalah Kelarasan Koto Piliang yang disusun oleh Datuk Ketumanggungan dan Kelarasan Bodi Caniago oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang.

Sedangkan Lareh nan Panjang di sebut; Bodi Caniago inyo bukan, Koto Piliang inyo antah disusun oleh Datuk Suri Nan Banego-nego.(disebut juga Datuk Sikalab Dunia Nan Banego-nego) Namun yang lazim dikenal hanyalah dua saja, Koto Piliang dan Bodi Caniago.

Kedua sistem (kelarasan) Koto Piliang dan Bodi Caniago adalah dua sistem yang saling melengkapi dan memperkuat. Hal ini sesuai dengan sejarah berdirinya kedua kelarasan itu. Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang kakak adik lain ayah, sedangkan Datuk Suri Nan Banego-nego adalah adik dari Datuk Perpatih Nan Sabatang.

Di dalam tambo disebutkan;
Malu urang koto piliang, malu urang bodi caniago.

Di dalam mamangan lain dikatakan:
Tanah sabingah lah bapunyo, rumpuik sahalai lah bauntuak
Malu nan alun kababagi.

A. KELARASAN KOTO PILIANG

Dipimpin oleh Datuk Bandaro Putiah
Roda pemerintahan dijalankan dalam sistem Koto Piliang, yang dalam hal ini dijalankan oleh Basa Ampek Balai:
1. Panitiahan – berkedudukan di Sungai Tarab – Pamuncak Koto Piliang
2. Makhudum – berkedudukan di Sumanik – Aluang bunian Koto Piliang
3. Indomo – berkedudukan di Saruaso – Payung Panji Koto Piliang
4. Tuan Khadi – berkedudukan di Padang Ganting – Suluah Bendang Koto Piliang (Ditambah seorang lagi yang kedudukannya sama dengan Basa Ampek Balai)
5. Tuan Gadang – berkedudukan di Batipuh – Harimau Campo Koto Piliang.

Setiap Basa, mempunyai perangkat sendiri untuk mengurus masalah masalah daerah kedudukannya.
Setiap basa membawahi beberapa orang datuk di daerah tempat kedudukannya, tergantung kawasannya masing-masing. (Ada yang 9 datuk seperti Sungai Tarab, 7 datuk seperti di Saruaso dll).

Setiap Basa diberi wewenang oleh raja untuk mengurus wilayah-wilayah tertentu, untuk memungut ameh manah, cukai, pengaturan wilayah dan sebagainya. Misalnya;
a) Datuk Bandaro untuk daerah pesisir sampai ke Bengkulu
b) Makhudum untuk daerah pesisir timur sampai ke Negeri Sembilan
c) Indomo untuk daerah pesisir barat utara.
d) Tuan Kadi untuk daerah Minangkabau bagian selatan.

Pada setiap nagari, ada beberapa penghulu yang berada di bawah setiap basa yang mengepalai nagari-nagari tersebut. Masing-masing unsur (elemen) dari perangkat adat ini banyak diubah dan berubah akibat ekspansi pemerintahan Belanda dalam mencampuri urusan hukum adat. Namun “batang” dari sistem ini tetap diikuti sampai sekarang.

LANGGAM NAN TUJUAH  (7 daerah istimewa)

Di dalam sistem pemerintahan itu, ada daerah-daerah istimewa yang dipimpin oleh seorang penghulu yang langsung berada di bawah kuasa raja. Dia tidak berada di bawah Basa 4 Balai.

Daerah-daerah istimewa ini mempunyai fungsi dan kedudukan tersendiri dan sampai sekarang masih dijalankan.

Langgam nan tujuh itu terdiri dari tujuh daerah/wilayah dengan gelar kebesarannya masing-masing:
1. Pamuncak Koto Piliang. Daerahnya Sungai Tarab salapan batu

2. Gajah Tongga Koto Piliang. Daerahnya Silingkang & Padang Sibusuak

3. Camin Taruih Koto Piliang. Daerahnya Singkarak & Saningbaka

4. Cumati Koto Piliang. Daerahnya Sulik Aie & Tanjuang Balik

5. Perdamaian Koto Piliang. Daerahnya Simawang & Bukik Kanduang

6. Harimau Campo Koto Piliang. Daerahnya Batipuh 10 Koto

7. Pasak kungkuang Koto Piliang. Daerahnya Sungai Jambu & Labu Atan

SISTEM  YANG  DIPAKAI  DALAM  KELARASAN  KOTO  PILIANG


Memakai sistem cucua nan datang dari langik, kaputusan indak buliah dibandiang. Maksudnya; segala keputusan datang dari raja. Raja yang menentukan.

Bila persoalan timbul pada suatu kaum, kaum itu membawa persoalan kepada Basa Ampek Balai. Jika persoalan tidak putus oleh Basa Ampek Balai, diteruskan kepada Rajo Duo Selo. Urusan adat kepada Rajo Adat, dan urusan keagamaan kepada Rajo Ibadat.  Bila kedua rajo tidak dapat memutuskan, diteruskan kepada Rajo Alam. Maka Rajo Alamlah yang memutuskan.

Karena itu dalam kelarasan ini hirarkinya adalah sebagai berikut; kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka Basa Ampek Balai, Basa Ampek Balai ka Rajo Duo Selo.

KELARASAN BODI CANIAGO

Dipimpin oleh Datuk Bandaro Kuniang, Gajah Gadang Patah Gadiang di Limo Kaum.
Di bawahnya disebut Datuak Nan Batigo; Datuk nan di Dusun Tuo, Datuk nan di Paliang, Datuk nan Kubu Rajo. (Nama-nama Datuk tak disebutkan, karena mereka memakai sistem “gadang balega”, pimpinan dipilih berdasarkan kemufakatan (Hilang Baganti).

Kelarasan Bodi Caniago, juga mempunyai daerah setaraf Langgam Nan Tujuh dalam kelarasan Koto Piliang, yang disebut Tanjuang nan ampek, lubuak nan tigo (juga tujuh daerah khusus dengan tujuh penghulu/pucuak buleknyo)

  1. Tanjuang Bingkuang (Limo kaum dan sekitarnya).
  2. Tanjung Sungayang,
  3. Tanjuang Alam,
  4. Tanjuang Barulak,
  5. Lubuk Sikarah,
  6. Lubuk Sipunai,
  7. Lubuk Simawang

 

SISTEM  YANG  DIPAKAI  DALAM  KELARASAN BODI CANIAGO

Memakai sistem nan mambusek dari tanah, nan tumbuah dari bawah. Kaputusan buliah dibandiang. Nan luruih buliah ditenok, nan bungkuak buliah dikadang. Maksudnya; segala keputusan ditentukan oleh sidang kerapatan para penghulu. Keputusan boleh dibanding, dipertanyakan dan diuji kebenarannya.

Bila persoalan timbul pada suatu kaum, kaum itu membawa persoalan kepada Datuak nan Batigo di Limo Kaum. Karena itu dalam kelarasan ini hirarkinya adalah sebagai berikut; kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka mupakaik, nan bana badiri sandirinyo.

LAREH NAN PANJANG

Dipimpin oleh Datuk Bandaro Kayo. Selain itu pula, ada satu lembaga lain yang dipimpin oleh Datuk Badaro Kayo yang berkedudukan di Pariangan Padang Panjang. Tugasnya menjadi juru damai sekiranya terjadi pertikaian antara Datuk Badaro Putiah di Sungai Tarab (Koto Piliang) dengan Datuk Bandaro Kuniang (Bodi Caniago). Dia bukan dari kelarasan Koto Piliang atau Bodi Caniago, tetapi berada antara keduanya. Di dalam pepatah adat disebutkan:
Pisang sikalek-kalek utan
Pisang simbatu nan bagatah
Bodi Caniago inyo bukan
Koto piliang inyo antah

Daerah kawasannya disebut : 8 Koto Di ateh, 7 Koto Di bawah, batasan wilayahnya disebutkan Sajak dari guguak Sikaladi Hilie, sampai ka Bukik Tumasu Mudiak, Salilik Batang Bangkaweh.

8 Koto Di ateh terdiri dari; Guguak, Sikaladi, Pariangan, Pd.Panjang, Koto Baru, Sialahan, Koto Tuo, Batu Taba.

7 Koto Di bawah terdiri dari; Galogandang, Padang Lua, Turawan, Balimbiang, Kinawai, Sawah Laweh, Bukik Tumasu.
Dengan demikian, ada tiga Datuk Bandaro di dalam daerah kerajaan itu.

Kemudian disusul dengan adanya Datuk Bandaro Hitam yang juga punya fungsi sama seperti Datuk Bandaro Putiah, dengan kedudukan di wilayah Minangkabau bagian selatan (Jambu Limpo dllnya).

PENGHULU

Penghulu pada setiap kaum yang ada di nagari-nagari masing-masingnya punya perangkat tersendiri pula dalam mengatur kaumnya. Perangkat itu terdiri dari: Manti, Malin, Dubalang. Mereka berempat disebut pula Urang nan ampek jinih.

Setiap rumah gadang, punya seorang mamak yang mengatur. Mamak yang mengatur rumah gadang tersebut Tungganai, atau mamak rumah. Dia juga bergelar datuk.

Nama Gelar Penghulu.
Nama gelar penghulu yang mula-mula hanya terdiri satu kata; Bandaro. Misalnya. Datuk Bandaro.

Pada lapis kedua, atau sibaran baju, nama datuk menjadi dua kata, untuk memisahkan sibaran yang satu dengan sibaran yang lain; Datuk Bandaro Putih, Datuk Badaro Kuniang, Datuk Bandaro Kayo dan Datuk Bandaro Hitam.

Apabila kemenakan Datuk Bandaro ini sudah semakin banyak, dan memerlukan seorang penghulu untuk mengatur mereka, maka mereka memecah lagi gelaran itu; Datuk Bandaro Lubuak Bonta misalnya, adalah sibaran pada peringkat ke empat dari gelar asalnya. Begitu seterusnya. Semakin panjang gelar Datuk itu, itu pertanda bahwa gelar itu adalah
sibaran dalam tingkat ke sekian.


SISTIM KEKELUARGAAN MATRILINEAL

Sistem matrilineal adalah suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu. Seorang anak laki-laki atau perempuan merupakan klen dari perkauman ibu. Ayah tidak dapat memasukkan anaknya ke dalam klennya sebagaimana yang berlaku dalam sistem patrilineal. Oleh karena itu, waris dan pusaka diturunkan menurut garis ibu pula.

Menurut Muhammad Radjab (1969) sistem matrilineal mempunyai ciricirinya sebagai berikut;
1. Keturunan dihitung menurut garis ibu.
2. Suku terbentuk menurut garis ibu
3. Tiap orang diharuskan kawin dengan orang luar sukunya (exogami)
4. Pembalasan dendam merupakan satu kewajiban bagi seluruh suku
5. Kekuasaan di dalam suku, menurut teori, terletak di tangan “ibu”, tetapi jarang sekali dipergunakan, sedangkan
6. Yang sebenarnya berkuasa adalah saudara laki-lakinya
7. Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami mengunjungi rumah istrinya
8. Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak kepada kemenakannya dan dari saudara laki-laki ibu kepada anak dari saudara perempuan.

Sistem kekerabatan ini tetap dipertahankan masyarakat Minangkabau sampai sekarang. Bahkan selalu disempurnakan sejalan dengan usaha menyempurnakan sistem adatnya. Terutama dalam mekanisme penerapannya di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu peranan seorang penghulu ataupun ninik mamak dalam kaitan bermamak berkemanakan sangatlah penting.

Bahkan peranan penghulu dan ninik mamak itu boleh dikatakan sebagai faktor penentu dan juga sebagai indikator, apakah mekanisme sistem matrilineal itu berjalan dengan semestinya atau tidak.

Jadi keberadaan sistem ini tidak hanya terletak pada kedudukan dan peranan kaum perempuan saja, tetapi punya hubungkait yang sangat kuat dengan institusi ninik mamaknya di dalam sebuah kaum, suku atau klen.
Sebagai sebuah sistem, matrilineal dijalankan berdasarkan kemampuan dan berbagai penafsiran oleh pelakunya; ninik-mamak, kaum perempuan dan anak kemenakan. Akan tetapi sebuah uraian atau perincian yang jelas dari pelaksanaan dari sistem ini, misalnya ketentuan-ketentuan yang pasti dan jelas tentang peranan seorang perempuan dan sanksi hukumnya kalau terjadi pelanggaran, ternyata sampai sekarang belum ada. Artinya tidak dijelaskan secara tegas tentang hukuman jika seorang Minang tidak menjalankan sistem matrilineal tersebut.

Sistem itu hanya diajarkan secara turun temurun kemudian disepakati dan dipatuhi, tidak ada buku rujukan atau kitab undang-undangnya. Namun begitu, sejauh manapun sebuah penafsiran dilakukan atasnya, pada hakekatnya tetap dan tidak beranjak dari fungsi dan peranan perempuan itu sendiri. Hal seperti dapat dianggap sebagai sebuah kekuatan sistem
tersebut yang tetap terjaga sampai sekarang.

Pada dasarnya sistem matrilineal bukanlah untuk mengangkat atau memperkuat peranan perempuan, tetapi sistem itu dikukuhkan untuk menjaga, melindungi harta pusaka suatu kaum dari kepunahan, baik rumah gadang, tanah pusaka dan sawah ladang.

Bahkan dengan adanya hukum faraidh dalam pembagian harta menurut Islam, harta pusaka kaum tetap dilindungi dengan istilah “pusako tinggi”, sedangkan harta yang boleh dibagi dimasukkan sebagai “pusako randah”.

Dalam sistem matrilineal perempuan diposisikan sebagai pengikat, pemelihara dan penyimpan, sebagaimana diungkapkan pepatah adatnya amban puruak atau tempat penyimpanan. Itulah sebabnya dalam penentuan peraturan dan perundang-undangan adat, perempuan tidak diikut sertakan. Perempuan menerima bersih tentang hak dan kewajiban di dalam adat yang telah diputuskan sebelumnya oleh pihak ninik mamak.

Perempuan menerima hak dan kewajibannya tanpa harus melalui sebuah prosedur apalagi bantahan. Hal ini disebabkan hak dan kewajiban perempuan itu begitu dapat menjamin keselamatan hidup mereka dalam kondisi bagaimanapun juga. Semua harta pusaka menjadi milik perempuan, sedangkan laki-laki diberi hak untuk mengatur dan mempertahankannya.
Perempuan tidak perlu berperan aktif seperti ninik mamak. Perempuan Minangkabau yang memahami konstelasi seperti ini tidak memerlukan lagi atau menuntut lagi suatu prosedur lain atas hak-haknya. Mereka tidak memerlukan emansipasi lagi, mereka tidak perlu dengan perjuangan gender, karena sistem matrilineal telah menyediakan apa yang sesungguhnya diperlukan perempuan.

Para ninik-mamak telah membuatkan suatu “aturan main” antara laki-laki dan perempuan dengan hak dan kewajiban yang berimbang antar sesamanya.

Oleh karena itulah institusi ninik-mamak menjadi penting dan bahkan sakral bagi kemenakan dan sangat penting dalam menjaga hak dan kewajiban perempuan. Keadaan seperti ini sudah berlangsung lama, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dengan segala plus minusnya.

Keunggulan dari sistem ini adalah, dia tetap bertahan walau sistem patrilineal juga diperkenalkan oleh Islam sebagai sebuah sistem kekerabatan yang lain pula. Sistim matrilieal tidak hanya jadi sebuah “aturan” saja, tetapi telah menjadi semakin kuat menjadi suatu budaya, way of live, kecenderungan yang paling dalam diri dari setiap orang Minangkabau.

Sampai sekarang, pada setiap individu laki-laki Minang misalnya, kecenderungan mereka menyerahkan harta pusaka, warisan dari hasil pencahariannya sendiri, yang seharusnya dibagi menurut hukum faraidh kepada anak-anaknya, mereka lebih condong untuk menyerahkannya kepada anak perempuannya.

Anak perempuan itu nanti menyerahkan pula kepada anak perempuannya pula. Begitu seterusnya. Sehingga Tsuyoshi Kato dalam disertasinya menyebutkan bahwa sistem matrilineal akan semakin menguat dalam diri orang-orang Minang walaupun mereka telah menetap di kota-kota di luar Minang sekalipun. Sistem matrilineal tampaknya belum akan meluntur sama sekali, walau kondisi-kondisi sosial lainnya sudah banyak yang berubah.

Untuk dapat menjalankan sistem itu dengan baik, maka mereka yang akan menjalankan sistem itu haruslah orang Minangkakabu itu sendiri. Untuk dapat menentukan seseorang itu orang Minangkabau atau tidak, ada beberapa ketentuannya, atau syarat-syarat seseorang dapat dikatakan sebagai orang Minangkabau.

Syarat-syarat seseorang dapat dikatakan orang Minangkabau;
1. Basuku (bamamak bakamanakan)
2. Barumah gadang
3. Basasok bajarami
4. Basawah baladang
5. Bapandan pakuburan
6. Batapian tampek mandi

Seseorang yang tidak memenuhi ketentuan tersebut di dalam berkaum bernagari, dianggap “orang kurang” atau tidak sempurna. Bagi seseorang yang ingin menjadi orang Minang juga dibuka pintunya dengan memenuhi berbagai persyaratan pula. Dalam istilah inggok mancangkam tabang basitumpu. Artinya, orang itu harus masuk ke dalam sebuah kaum atau suku, mengikuti seluruh aturan-aturannya.

Ada empat aspek penting yang diatur dalam sistem matrilienal;

A. PENGATURAN HARTA PUSAKA

Harta pusaka yang dalam terminologi Minangkabau disebut harato jo pusako. Harato adalah sesuatu milik kaum yang tampak dan ujud secara material seperti sawah, ladang, rumah gadang, ternak dan sebagainya.
Pusako adalah sesuatu milik kaum yang diwarisi turun temurun baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Oleh karena itu di Minangkabau dikenal pula dua kata kembar yang artinya sangat jauh berbeda; sako dan pusako.

1. Sako
Sako adalah milik kaum secara turun temurun menurut sistem matrilineal yang tidak berbentuk material, seperti gelar penghulu, kebesaran kaum, tuah dan penghormatan yang diberikan masyarakat kepadanya.
Sako merupakan hak bagi laki-laki di dalam kaumnya. Gelar demikian tidak dapat diberikan kepada perempuan walau dalam keadaan apapun juga. Pengaturan pewarisan gelar itu tertakluk kepada sistem kelarasan yang dianut suku atau kaum itu.
Jika menganut sistim kelarasan Koto Piliang, maka sistem pewarisan sakonya berdasarkan; patah tumbuah. Artinya, gelar berikutnya harus diberikan kepada kemenakan langsung dari si penghulu yang memegang gelar itu. Gelar demikian tidak dapat diwariskan kepada orang lain dengan alasan papun juga.
Jika tidak ada laki-laki yang akan mewarisi, gelar itu digantuang atau dilipek atau disimpan sampai nanti kaum itu mempunyai laki-laki pewaris.
Jika menganut sistem kelarasan Bodi Caniago, maka sistem pewarisan sakonya berdasarkan hilang baganti. Artinya, jika seorang penghulu pemegang gelar kebesaran itu meninggal, dia dapat diwariskan kepada lelaki di dalam kaum berdasarkan kesepakatan bersama anggota kaum itu. Pergantian demikian disebut secara adatnya gadang balega.

Di dalam halnya gelar kehormatan atau gelar kepenghuluan (datuk) dapat diberikan dalam tiga tingkatan:

a. Gelar yang diwariskan dari mamak ke kemenakan. Gelar ini merupakan gelar pusaka kaum sebagaimana yang diterangkan di atas. Gelar ini disebut sebagai gelar yang mengikuti kepada perkauman yang batali darah.

b. Gelar yang diberikan oleh pihak keluarga ayah (bako) kepada anak pisangnya, karena anak pisang tersebut memerlukan gelar itu untuk menaikkan status sosialnya atau untuk keperluan lainnya. Gelar ini hanya gelar panggilan, tetapi tidak mempengaruhi konstelasi dan mekanisme kepenghuluan yang telah ada di dalam kaum. Gelar ini hanya boleh dipakai untuk dirinya sendiri, seumur hidup dan tidak boleh diwariskan kepada yang lain; anak apalagi kemenakan. Bila si
penerima gelar meninggal, gelar itu akan dijemput kembali oleh bako dalam sebuah upacara adat. Gelar ini disebut sebagai gelar yang berdasarkan batali adat.

c. Gelar yang diberikan oleh raja Pagaruyung kepada seseorang yang dianggap telah berjasa menurut ukuran-ukuran tertentu. Gelar ini bukan gelar untuk mengfungsinya sebagai penghulu di dalam kaumnya sendiri, karena gelar penghulu sudah dipakai oleh pengulu kaum itu, tetapi gelaran itu adalah merupakan balasan terhadap jasa-jasanya. Gelaran ini disebut secara adat disebabkan karena batali suto. Gelar ini hanya boleh dipakai seumur hidupnya dan tidak boleh diwariskan. Bila terjadi sesuatu yang luar biasa, yang dapat merusakkan nama raja, kaum, dan nagari, maka gelaran itu dapat dicabut kembali.

2. Pusako
Pusako adalah milik kaum secara turun temurun menurut sistem matrilineal yang berbentuk material, seperti sawah, ladang, rumah gadang dan lainnya.

Pusako dimanfaatkan oleh perempuan di dalam kaumnya.
Hasil sawah, ladang menjadi bekal hidup perempuan dengan anakanaknya.
Rumah gadang menjadi tempat tinggalnya.
Laki-laki berhak mengatur tetapi tidak berhak untuk memiliki.
Karena itu di Minangkabau kata hak milik bukanlah merupakan kata
kembar, tetapi dua kata yang satu sama lain artinya tetapi berada dalam
konteks yang sama.

Hak dan milik.
Laki-laki punya hak terhadap pusako kaum, tetapi dia bukan pemilik pusako kaumnya.

Dalam pengaturan pewarisan pusako, semua harta yang akan diwariskan harus ditentukan dulu kedudukannya.
Kedudukan harta pusaka itu terbagi dalam;

a. Pusako tinggi.
Harta pusaka kaum yang diwariskan secara turun temurun berdasarkan garis ibu. Pusaka tinggi hanya boleh digadaikan bila keadaan sangat mendesak sekali hanya untuk tiga hal saja; pertama, gadih gadang indak balaki, kedua, maik tabujua tangah rumah, ketiga, rumah gadang katirisan.
Selain dari ketiga hal di atas harta pusaka tidak boleh digadaikan apalagi dijual.

b. Pusako randah.
Harta pusaka yang didapat selama perkawinan antara suami dan istri.
Pusaka ini disebut juga harta bawaan, artinya modal dasarnya berasal dari masing-masing kaum. Pusako randah diwariskan kepada anak, istri dan saudara laki-laki berdasarkan hukum faraidh, atau hukum Islam.
Namun dalam berbagai kasus di Minangkabau, umumnya, pusako randah ini juga diserahkan oleh laki-laki pewaris kepada adik perempuannya. Tidak dibaginya menurut hukum faraidh tersebut.

Inilah mungkin yang dimaksudkan Tsuyoshi Kato bahwa sistem matrilineal akan menguat dengan adanya keluarga batih. Karena setiap laki-laki pewaris pusako randah akan selalu menyerahkan harta itu kepada saudara perempuannya. Selanjutanya saudara perempuan itu mewariskan pula kepada anak perempuannya. Begitu seterusnya. Akibatnya, pusako randah pada mulanya, dalam dua atau tiga generasi berikutnya menjadi pusako tinggi pula.

(Bersambung .. PERAN LELAKI DI MINANGKABAU)

Tigo Tungku Sajarangan sebagai Sistim Kepemimpinan di Minangkabau

Tigo Tungku Sajarangan sebagai Sistim

Kepemimpinan di Minangkabau

Oleh Buya H.Mas’oed Abidin

1. Mukaddimah

Bekal utama dalam hidup, adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT dan hidup beradat.
Mesti diajarkan adat dan syarak.
Nilai-nilai tamadun budaya Minangkabau – ABS-SBK — terikat kuat dengan penghayatan Islam.

Sikap jiwa (mental attitude) dari masyarakat Minangkabau, masih tertuntun oleh akhlak, sesuai bimbingan ajaran Islam, dalam adagium “Adat basandi Syara’, syara’ basandi Kitabullah “,
dan “syara’ mamutuih, Adat memakai !”.
Nilai-nilai budaya ini, menjadi pegangan hidup yang positif, mendorong dan merangsang, force of motivation, penggerak mendinamiseer satu kegiatan masyarakat bernagari

Sifat dan kebiasaan-kebiasaan untuk mengembangkan kegiatan ekonomis seperti menghindarkan pemborosan, kebiasaan menyimpan, hidup berhemat, memelihara modal supaya jangan hancur, melihat jauh kedepan.

Sikap jiwa yang lahir dari pemahaman syarak dalam budaya Minangkabau, kekuatan besar dari kekayaan budaya masyarakat yang tidak ternilai besarnya.

2. Adat Minangkabau Unik

Di tengah keunikan adat budaya Minangkabau itu, kita menghadapi ada beberapa kendala — dalam implementasi penerapan nilai-nilai budaya adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK), dan syarak mangato adaik mamakaikan, di antaranya ;

a). Generasi mudaterabaikan dalam pewarisan nilai budaya Minangkabau,
b). hubungan kekerabatan keluarga mulai menipis,
c). peran ninik mamak kini, sebatas seremonial,
d). peran substantif dari ulama mulai kehilangan wibawa,

3. Hubungan Kekerabatan Harmonis.

Keunikan dengan Nilai-nilai ideal kehidupan ini, mesti dihidupkan terus dalam kehidupan bernagari.

a. rasa memiliki bersama,
b. kesadaran terhadap hak milik,
c. kesadaran terhadap suatu ikatan,
d. kesediaan untuk pengabdian,
e. menjaga hubungan positif pernikahan.

Pembangunan Nagari harus memakai pola keseimbangan dan pemerataan.
Nilai kepemimpinan di dalam Nagari, adalah keteladanan .

Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap; berakhlak, berpegang pada nilai-nilai iman dan taqwa, memiliki daya kreatif dan innovatif, menjalin kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.
Memahami nilai nilai budaya luhur, punya makna jati diri yang jelas, menjaga martabat, patuh dan taat beragama, menjadi agen perubahan, dengan motivasi yang bergantung kepada Allah, mengamalkan nilai nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, dinamis dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik material, tanpa harus mengorbankan nilai nilai kemanusiaan.

4. Sedang Terjadi Perubahan.

Pergeseran budaya itu terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi, aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Kelemahan tumbuh disebabkan pembinaan akhlak anak nagari sering tercecerkan, pendidikan surau hampir tiada lagi, atau peran pendidikan surau di rumah tangga juga melemah, dan peran pendidikan akhlak berdasarkan prinsip budaya ABS-SBK menjadi kabur.

Janji Allah SWT sangat tepat, ” apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi “,

5. Masyarakat Mandiri Berprestasi

Pengendali kemajuan sebenarnya adalah agama dan budaya, yakni budaya tamaddun (ABS-SBK) yang telah berlaku turun temurun dalam masyarakat Minangkabau..

Tercerabutnya agama dari diri masyarakat Sumatera Barat –Minangkabau –, berakibat besar kepada perubahan prilaku dan tatanan masyarakatnya, karena “adatnya bersendi syarak, syaraknya bersendi kitabullah” dan “syarak mangato (=memerintahkan) maka adat mamakai (=melaksanakan)” – sungguhpun dalam pengamatan sehari-hari sudah sulit ditemui.

Akibatnya, ditemui maraknya penyakit masyarakat (pekat, tuak, arak, judi, dadah, pergaulan bebas di kalangan kaula muda, narkoba, tindakan kriminal dan anarkis), yang merusak tatanan keamanan, maka akibat yang dirasakan adalah prinsip ABS-SBK menjadi kabur.

Peranan suluah bendang di Minangkabau atau yang disebut Tungku Tigo Sajarangan sejak dulu adalah membawa umat dengan informasi dan aktifitas — kepada keadaan yang lebih baik, kokoh aqidah, qanaah, istiqamah, berilmu pengetahuan, mencintai nagari, matang dengan visi dan misi bernagari, kebersamaan dan gotong royong, berkualitas dengan iman dan hikmah, amar maktruf dan nahyun ‘anil munkar, research oriented, professional, berteraskan iman dan ilmu pengetahuan, mengedepankan prinsip musyawarah dan mufakat.

Jiko mangaji dari alif, Jiko naiak dari janjang, Jikok turun dari tango, Jiko babilang dari aso, artinya hidup berperaturan.

6. Suku Sako Pusako.

Tiga Unsur Sistim Banagari di Minangkabau didukung oleh Suku, Sako dan Pusako.
Ketiganya berjalin berkulindan di dalam satu Nagari.
Ketiga unsur ini tidak dapat dipisahkan.

KONSEP PEMERINTAHAN HARUS MAMPU MENAUNGI MASYARAKATNYA.
Pemerintahan Nagari dibingkai undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Implementasinya, Perda tentang Pemerintahan Nagari.

Hubungan berpemerintahan di tingkat Nagari, hubungan harus berdasarkan adat. Adat harus benar-benar dikuasai oleh semua aparat pemerintahan Nagari. Adat tidak semata sebagai kekayaan sains (ilmu pengetahuan) ke-Minangkabau-an. Adat harus dapat dilaksanakan dalam kehidupan dan hubungan bermasyarakat.
Ka lauik riak ma hampeh, ka karang rancam ma aruih, ka pantai ombak ma mamacah.
Kini memang terasa, Rakyat di nagari-nagari mulai mengalami pergeseran pola hidup di bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya, mulai menjadi sasaran dari budaya westernisasi. Hal ini terjadi, ketiadaan bekal dalam pemahaman adat dan syarak.

7. Tungku Tigo Sajarangan

Menata pemerintahan nagari, dengan perinsip ABS-SBK, dituntut adanya peribadi yang beriman dan bertaqwa, berilmu pengetahuan, berjiwa wiraswasta, menguasai manajemen, beradat dan beragama, menguasai teknologi terapan, berilmu pengetahuan, “hidup modern dan maju dengan keimanan yang kokoh”.

Mereka adalah urang nan 4 Jinih (Ninik Mamak, Alim Ulama, Cadiek Pandai, Para Pemuda dan Bundo Kanduang), yang semuanya merupakan tali tigo sapilin, didalam susunan bernagari dan menjadi tungku tigo sajarangan sebagai salah satu struktur masyarakat adat di Minangkabau.

Di dalam menata pemerintahan dan kehidupan beradat di tengan Masyarakat Hukum Adat Minangkabau saat ini, memang tantangannya sangat banyak, uluran tangan yang di dapat hanya sedikit.

Makanya, mesti dijaga hubungan kekerabatan di Nagari berlangsung harmonis dan baik.
Ada perasaan malu, bila tidak membina hubungan dengan baik.
Seseorang akan dihargai, apabila ia berhasil menyatu dengan kaumnya.
Hubungan kekerabatan Minangkabau kompleks, akan selalu terjaga dengan,
”nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang”.

Nilai-nilai ideal kehidupan bernagari karena ;
adanya rasa memiliki bersama, kesadaran terhadap hak milik, kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku, kesediaan untuk pengabdian, terjaga hubungan positif pernikahan (semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan ).

Ada kiat adat untuk meraih keberhasilan ;
Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju,
dek ameh sagalo kameh, dek padi mangko jadi.
Artinya perlu kesepakatan dan kemakmuran di tengah masyarakatnya.

Dalam melihat tatanan dan tataran masyarakat ini dapat tampak Bentuk Budaya sebenarnya, di antaranya pada tata karma bahasa (kato nan ampek), yang dikenal dengan ‘kato pusako’ dan tatanan (struktur masyarakat), pakaian, makanan, seni (tari, lagu, ukiran), peralatan, dan ritual (seremonial dan situs-situs).

8. Peran Tungku Tigo Sajarangan.

Bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat nagari, pasti akan menemui di nagari satu iklim (mental climate) yang subur bila pandai menggunakan dengan tepat .
Ada kekuatan agama, tamadun, budaya, adat istiadat, dan budi bahasa yang baik.

Lah masak padi rang Singkarak, masaknyo ba tangkai-tangkai, sa tangkai jarang nan mudo. Kabek sa balik buhue sintak, payahlah urang nak ma ungkai, tibo nan punyo rarak sajo.

Diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku dalam adaik salingka nagari.

Alah bakarih samparono, bingkisan rajo Majopaik,
Tuah ba sabab ba karano, pandai ba tenggang di nan rumik.

Satu realita objektif adalah ;
Siapa yang paling banyak menyelesaikan persoalan masyarakat ,
pasti akan berpeluang banyak mengatur masyarakat.

Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para pendidik masyarakat yang disebut Tungku Tigo Sajarangan dan Tali Tigo Sapilin, seperti ; pemurnian wawasan fikir, mempertajam kekuatan zikir, penajaman visi adat banagari, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang, pendalaman spiritual religi.

9. Mengedepankan Persaudaraan

Dalam gerakan “membangun nagari“, setiap fungsionaris di nagari akan menjadi pengikat anak nagari, dalam membentuk masyarakat yang lebih kuat, sehingga merupakan kekuatan sosial yang efektif, dengan kekuatan persaudaraan.

Tukang nan indak mambuang kayu,
Nan luruih ka tangkai sapu,
Nan bengkok ka singka bajak,
nan ketek ka pasak suntiang,
sa tangkok ka papan tuai ( ka ani-ani).

Pemasyarakatan budaya adat dan syarak sangat Islami,
sesuai prinsip “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah“.
Maka anak nagari mesti dibina mencapai derajat pribadi taqwa,
dalam hubungan hidup bermasyarakat sesuai tuntunan syarak (Agama Islam).

Mamutieh cando riak danau, tampak nan dari muko-muko,
Batahun-tahun dalam lunau, namun nan intan bakilek juo.

Menguatkan solidaritas beralaspijak kepada iman dan adat istiadat luhur,
“nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”.

Intensif menjauhi kehidupan materialistis,
“dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo,
dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.
Hendaknya bida;l ini jangan bertemu di dalam kehidupan bernagari di Minangkabau.

10. Mengakarkan Nilai Islam kedalam

Budaya Minangkabau

Dalam Masyarakat Adat Minangkabau selalu diingatkan supaya,
Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah,
padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak bulieh barubah.

Generasi Minangkabau mesti memiliki ilmu dengan akidah tauhid yang jelas.
Generasi Minangkabau mestinya dinamik yang tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti.

“Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,
Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo basi.

Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi,
Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiak-kan budi.

11. Kualitas generasi Muda Minangkabau

Mengutamakan manhaj-ukhuwah ;
“bulek aie dek pambuluah bulek kato ka mupakaik.”

Mengamalkan budaya amal jama’i ;
“kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua,
tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan.

Manyuruah babuek baik, Malarang babuek jahek,
Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari.
Managua manyapo, Tadorong mahelo, talompek manyentak,
Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana.
Tak ado karuah nan tak janieh.
Tak ado kusuik nan tak salasai.

Generasi muda mesti meniru kehidupan lebah; kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, baik hasil usahanya, dapat dinikmati oleh lingkungannya.

12. Sembilan Watak Kepemimpinan

Rasulullah SAW

Filosofi Hidup Nagari-nagari di Minangkabau bersumber dari alam.
Alam takambang jadi guru dan diberi ruh oleh Islam.
Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat.


Hubungan ruhaniyah, lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.
Keutuhan budaya bertumpu kepada masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada, terutama dengan meniru dan menerapkan watak kepemimpinan Rasulullah SAW. antara lain,
1. Fathanah (ilmiah),
2. Amanah (jujur),
3. Amaliah (teguh dan istiqamah/transparan),
4. Shiddiq (lurus dan dipercaya),
5. Shaleh (teguh ibadah dan berakhlak mulia),
6. Setia (ukhuwwah mendalam),
7. Tabligh (dialogis),
8. Tauhid (memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah dan hari akhirat),
9. Thaat (disiplin).

Prinsip-prinsip Kepemimpinan Rasulullah tersebut diatas, sangat diperlukan di dalam mengimplementasikan ABS-SBK di nagari-nagari dan harus masuk ke dalam seluruh kehidupan secara komprehensif, kebudayaan Minangkabau akan berlaku universal, yang dijabarkan dengan kebersamaan, gotong royong, sahino samalu, kekerabatan, dan penghormatan sesama, atau barek sapikue ringan sajinijing, yang menjadi kekuatan di dalam incorporated social responsibility.

Kekusutan dalam masyarakat Minangkabau, diatasi dengan komunikasi.
Persoalan perilaku harus mendapatkan porsi yang besar.
Diperlukan sosialisasi nilai-nilai budaya Minangkabau,
membentuk kembali struktur masyarakat adat di Nagari-nagari.

Menata pemerintahan nagari, dengan perinsip ABS-SBK, dituntut adanya peribadi yang beriman dan bertaqwa, berilmu pengetahuan, berjiwa wiraswasta, menguasai manajemen, beradat dan beragama, menguasai teknologi terapan, berilmu pengetahuan, “hidup modern dan maju dengan keimanan yang kokoh”.


Konsep pemerintahan harus mampu menaungi masyarakatnya.

Diperlukan penata yang memiliki sikap perilaku Madani, yang FAST (Fathanah, Amanah, Shiddiq dan Tabligh-dialogis) itu.

Rakyat di nagari-nagari kini, memang mulai mengalami pergeseran pola hidup di bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya, mulai menjadi sasaran dari budaya westernisasi.

Hal ini terjadi, ketiadaan bekal dalam pemahaman adat dan syarak. Lebih kentara karena pengamalan agama Islam mulai melemah, maka kehidupan beradat sopan santun pun menjadi terabaikan.


Pemerintahan Nagari dibingkai undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Implementasinya di nagari-nagari sebenarnya diperkuat oleh Perda tentang Pemerintahan Nagari. Maka di nagari-nagari juga dapat dibuatkan Peraturan Nagari (Perna), sehingga adat dan syarak di nagari terlaksana dengan baik.


Hubungan berpemerintahan di tingkat Nagari, adalah hubungan pemerintahan dan masyarakat yang timbal balik, dan semestinya berbasis kepada adat istiadat setempat, atau adanya perinsip “adat selingkar nagari, pusako selingkar kaum”.


Adat harus benar-benar dikuasai oleh semua aparat pemerintahan Nagari.Adat tidak semata sebagai kekayaan sains (ilmu pengetahuan) ke-Minangkabau-an.


Adat harus dapat dilaksanakan dalam kehidupan dan hubungan bermasyarakat.

Ka lauik riak ma hampeh, ka  karang  rancam ma aruih, ka pantai ombak ma mamacah.

Jiko ma ngauik kameh-kameh, jiko mancancang putuih-putuih, Alah salasai mangkonyo sudah.


Kekekrabatan dijaga oleh ninik mamak dan penghulu yang dihimpun dalam KAN, dengan satu sistem pandangan banagari, cinta kepada Nagari dan kegiatan dalam membangun yang dipersamakan.

13. Harapan untuk Generasi Minangkabau

Generasi Minangkabau harus dibina memiliki budaya yang kuat, dinamik, relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi, mengamalkan nilai-nilai agama Islam.

Konsep Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah kristalisasi dari ajaran hukum alam yang bersumber dari Islam. Generasi penerus harus taat hukum.

Beberapa langkah dapat dilakukan ;
1. memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga,
2. memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ,
3. fungsionalisasi peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif,
4. memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung jawab patah tumbuh hilang berganti .
5. menanamkan aqidah shahih (tauhid),
6. istiqamah pada agama yang dianut,
7. menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.
8. menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah.
9. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam .
10. melazimkan musyawarah dengan disiplin, teguh politik, kukuh ekonomi.
11. bijak memilih prioritas , sesuai puncak budaya Islam yang benar.

14. Khulasah

Pemberdayaan kekuatan dakwah ; dengan manajemen pendidikan berbasis umat yang lebih accountable, baik dari sisi pertanggungan jawab keuangan maupun organisasi, sehingga menjadi viable (dapat hidup terus, berjalan, bergairah, aktif dan Giat), dan juga durable (dapat tahan lama) sesuai perubahan dan tantangan zaman.

Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya menjadi landasan dasar pengkaderan di nagari-nagari di Minangkabau dengan kewajiban,

a). Memelihara dan menjaga generasi pengganti yang lebih sempurna,
kaluak paku kacang balimbiang, sayak timpuruang lengang-lenggangkan,
anak di pangku kamanakan di bimbiang, urang kampuang di patenggangkan.

b). Mengupayakan berlangsungnya timbang terima kepemimpinan dalam kaum dan nagari secara alamiah,
Ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih,
Agak-agak nan ka pai, ingek-ingek nan ka tingga,
Patah tumbuah hilang ba ganti.

c). Teguh dan setia melaksanakan pembinaan dan mengajarkan adat istiadat kepada anak kemenakan dan menjaga lingkungan dengan baik.
‘ Handak kayo badikik-dikik, Handak mulie tapek i janji,
Handak tuah ba tabue urai, Handak namo tinggakan jaso,
Handak luruih rantangkan tali, Handak pandai rajin baraja,
Handak bulieh kuek mancari,

Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu,
Nan gurun buek ka parak, Nan munggu ka pandam pakuburan,
Nan rawang ranangan itiek, Nan padang kubangan kabau,
Nan bancah jadikan sawah, Nan gauang ka tabek ikan,

Artinya ada kemauan kuat melakukan perubahan, dan memanfaatkan alam sesuai dengan tata ruang yang jelas, karena segala tindakan dan perbuatan akan disaksikan oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman.

Moga ini dapat berguna di dalam menyongsong KKM2010 yang hendaak digelar pada Agustus 2010 yang akan datang.

Hendaknya pula pada Generasi muda di UI mampu menjadi pendorong untuk menjadikan Minangkabau maju dengan berbasis adat budayanya yang unik dan mampu duduk sama rendah serta tegak sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di persada bumi ini.

Insyaallah.

Wassalam

Pemahaman Adat Minangkabau Terhadap Nilai-Nilai ABSSBK.


Nilai-nilai Adat Basandi Syarak di kelompokkan menjadi enam kelompok yaitu:

(1)   Nilai ketuhanan Yang Maha Esa,

(2)   Nilai kemanusiaan,

(3)   Nilai persatuan dan kesatuan,

(4)   Nilai demokrasi dan musyawarah,

(5)   Nilai budi pekerti dan raso pareso,

(6)   Nilai sosial kemasyarakatan.

Dasar pikiran yang berhubungan dengan nilai-nilai, yaitu nilai ketuhanan,  kemanusiaan, kesatuan dan persatuan, musyawarah dan demokrasi, serta nilai-nilai sosial kemasyarakatan di antaranya adalah :

  1. 1. Nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa

Nilai-nilai ketuhanan dalam adat dikategorikan dalam bidal yang meliputi:

  1. a. Si Amat mandi di luhak, parigi bapaga bilah, samo dipaga kaduonyo, adat basandi syarak, syarak basandi kitabbullah, sanda manyanda kaduonyo.

“ menjaga adat yang Islami”

  1. b. Pangulu tagak di pintu adat, malin tagak di pintu syarak, manti tagak di pintu susah, dubalang tagak di pintu mati.

“ pembagian tugas yang baik, sesuai fungsi masing-masing, mesti bekerja dengan professional.”

  1. c. Indak dapek sarimpang padi, batuang dibalah ka paraku, indak dapek bakandak hati, kandak Allah nan balaku.

“selalu berusaha, dinamis, tidak berputus asa, (rencana di tangan  manusia keputusan di  tangan Allah SWT).”

  1. d. Limbago jalan batampuah, itu nan hutang ninik mamak, sarugo dek iman taguah, narako dek laku awak.

“kuat beramal karya yang baik, jauhi maksiyat.”

  1. e. Jiko bilal alah maimbau, sado karajo dibarantian, sumbahyang bakaum kito daulu.

“menghidupkan surau, menjaga ibadah masyarakat, jamaah yang kuat dan memajukan pendidikan agama dengan baik,”

  1. f. Jiko urang Islam indak bazakat, harato kumuah diri sansaro.

“zakat kekuatan membangun umat, menghindar dari harta yang kotor, menjauhi korupsi.”

  1. g. Kasudahan adat ka balairung, kasudahan dunia ka akhirat, salah ka Tuhan minta taubat, salah ka manusia minta maaf.

“(menyesali kesahalan, mohon ampunan atas kesahalan, dan berjanji tidak akan melakukan lagi)”

  1. h. Tadorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki. Adat jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi.

“ menjaga pelaksanaan adat dan agama selalu berjalan seiring”.

Nilai-nilai Adat dalam Syarak

Nilai-nilai ketuhanan dalam syarak meliputi beberapa aspek nilai di antaranya ;

  1. a. Mengabdi hanya kepada Allah

Allah Swt. berfirman:

وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون   (الذريت: 57)

“Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (adz-Zariyat: 56)

وما امر الاليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقموا الصلوة ويؤتوا الذكوة وذلك دين القيمة   (البينة: 5)

“Pada hal tidak diperintahkan mereka, melainkan supaya mereka menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama karena-Nya dengan menjauhi kesesatan, dan (supaya) mereka mendirikan shalat dan memberi zakat, karena yang demikian itulah agama yang lurus”. (al-Bayinah: 5)

  1. b. Tunduk dan patuh hanya kepada Allah.

Allah berfirman:

يايها الذين امنوا اطيعوا الله ورسوله ولاتولوا عنه وانتم تسمعون (الانفال: 20)

“Wahai ummat yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berpaling dari padanya, padahal kamu mendengar”. (al-Anfal: 20)

ومن يطع الله والرسول فاولئك مع الذين انعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن اولئك رفيقا (الناس: 6)

“Karena siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka itu adalah beserta ummat yang Allah beri nikmat atasnya, dari Nabi-Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin dan alangkah baiknya mereka ini sebagai sahabat karib”. (an-Nisa: 69)

  1. c. Berserah diri kepada ketentuan Allah.

Allah berfirman:

وعسى ان تكرهوا شيئا خيرلكم وعسى ان تحبوا شيئا وهو شر لكم والله يعلم وانتم لاتعلمون    (البقرة: 216)

“ Mungkin kamu benci kepada sesuatu, padahal ia itu satu kebaikan bagi kamu, dan mungkin kamu suka akan sesuatu tapi ia tidak baik kamu, dan Allah itu Maha Mengetahui dan kamu tidak mengetahuinya”. (al-Baqarah: 216)

الذين إذا اصابتهم مصيبة قالوا انا الله وانا اليه راجعون      (البقرة: 157)

“Yang apabila terjadi terhadap mereka suatu kesusahan, mereka berkata: Sesungguhnya kami ini milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami akan kembali”. (al-Baqarah: 156)

  1. d. Bersyukur kepada Allah

Allah berfirman

واذا تأذن ربكم لئن شكرتم لازيدنكم ولئن كفرتم ان عذابى لشديد  (ابراهيم: 7)

“Dan (ingatlah) tatkala Tuhan kamu memberi tahu jika kamu berterima kasih niscaya Aku akan tambah nikmat bagi kamu, bila kamu tidak bersyukur akan nikmat maka azab-Ku itu sangat pedih”. (Ibrahim: 6-7)

  1. e. Ikhlas menerima keputusan Allah.

ولو انهم رضوا ما اتهم الله ورسوله وقالوا حسبنا الله سيؤتينا الله من فضله ورسوله انا إلى الله راغبون    (التوبة: 59)

“Dan alangkah baiknya jika mereka ridha dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya berikan kepada mereka, sambil mereka berkata: cukuplah Allah bagi kami, sesungguhnya Allah dan rasul-Nya akan beri kepada kamu karunia-Nya, sesungguhnya kami mencintai Allah”. (al-Taubah: 59)

كتب الله مقاد ير الخلا ئق قبل ان يخلق السموات والارض بخمسين الف سنه (رواه مسلم)

“Allah telah menentukan kepastian/ketetapan terhadap semua makhluk-Nya sebelum Allah menciptakan langit dan bumi 50.000 tahun”. (HR. Muslim)

  1. f. Penuh harap kepada Allah

Allah berfirman:

وا ما تعرضن عنهم ابتعاء رحمة من ربك ترجوها فقل لهم قولاميسورا    (بني اسرائيل: 28)

“Dan jika engkau berpaling dari mereka, karena mengharapkan (menunggu) rahmat dari Tuhanmu, yang engkau harapkan, maka berkatalah kepada mereka dengan ucapan yang lemah lembut”. (bani Isra’il: 28)

من كان يرجوا لقاء الله فان اجل الله رات وهو السميع عليم   (العنكبوت: 5)

“Siapa saja yang mengharapkan pertemuan (dengan) Allah, maka sesungguhnya waktu (perjanjian) Allah akan datang, dan Dia yang Mendengar, yang Mengetahui”. (al-Ankabut: 5)

ان الذين امنوا والذين هاجروا وجاهدوا فى سبيل الله اولئك يرجون رحمت  الله  والله غفور رحيم   (البقرة: 218)

“Sesungguhnya ummat yang beriman dan berhijrah serta bekerja keras (berjihad) di jalan Allah, mereka itu (ummat yang) berharap rahmat Allah dan Allah itu Pengampun, Penyayang”. (al-Baqarah: 218)

  1. g. Takut dengan rasa tunduk dan patuh

انما يعمر مساجد الله  من أ من بالله واليوم الأ خر واقام الصلوة  واتى الزكوة  ولم يخسى الا الله  فعسى اولئك ان يكونوا من المهتدين      (الاتوبة: 18)

“Sesungguhnya ummat yang memakmurkan masjid Allah ummat yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dan mendirikan shalat dan membayarkan zakat. Maka Allahlah yang lebih berhak kamu takuti, jika memang kamu ummat yang beriman”. (al-Taubah: 13

فلا تخشوا الناس واخشون ولاتشتروا  بأ يا تي ثمنا قليلا (المائدة: 44)

“Janganlah kamu takut kepada manusia tetapi takutlah kepada-Ku (Allah) dan janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah (sedikit)”. (al-Maidah: 44)

امنا يخشى الله من عباده العلماؤا … (فاطر: 28)

“Tidak ada yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya kecuali ulama (berilmu)”. (Fathir: 28)

  1. h. Takut terhadap siksaan Allah

Allah Berfirman:

ان في ذلك لاية لمن خاف عذاب الاخرة ذلك يوم تجموع له الناس وذلك يوم مشهود … (هود: 103)

“Sesungguhnya di dalam itu ada tanda bagi orang yang takut kepada azab akhirat: ialah hari yang dikumpulkan padanya manusia dan ialah hari yang akan disaksikan”. (Hud: 103)

كمثل الشيطن اذ قال للا نسان اكفر فلما كفر قال اني بريء منك  انى اخاف الله رب العالمين … (الحشر: 16)

(Mereka adalah) seperti syetan tatkala berkata kepada mereka: kufurlah setelah manusia itu kufur, ia berkata: Aku berlepas diri dari padamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan bagi alam semesta”. (al-Hasyr: 16)

  1. i. Berdo’a memohon pertolongan Allah.

Allah berfirman:

واذا سألك عبادي عنى فانى قريب أ جيب دعوة الداع إذا دعان فليستجبوا لى وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون       (البقرة: 186)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka katakanlah bahwa Aku dekat (hampir), Aku akan …

وقال ربكم ادعونى استجب لكم          (المؤمن: 60)

“Dan telah berkata Tuhan kamu: berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doa untukmu”. (al-mukmin: 60)

ولله الاسماء الحسنى فادعوه بها        (الاعراف: 180)

“Dan bagi Allah nama-nama yang baik, oleh karena itu berdo’alah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu”. (al-A’raf: 180)

ولا تدع من دون الله مالا ينفعك ولا يضرك         (يونس: 106)

“Jangan kamu berdo’a kepada selain Allah, yang tidak bisa memberi manfaat kepadamu dan tidak bisa memudarakan (membahayakan)”. (Yunus: 106)

  1. j. Cinta dengan penuh harap kepada Allah.

Allah berfirman:

فإ ذا   فرغت فانصب    وإ لى ربك فارغب         (الانشراح: 7-8)

“Lantaran itu, apabila kamu telah selesai mengerjakan sesuatu tugas maka kerjakanlah tugas baru dengan baik. Dan kepada Tuhanmu maka hendaklah kamu berharap dengan rasa cinta”. (al-Insyirah: 7-8)

عسى ربنا أ ن يبدلنا خيرا منها  إ نا إلى ربنا راغبون      (القلم: 32)

“Mudah-mudahan Tuhan kita mengganti untuk kita (kebun) yang lebih baik dari pada itu. Sesungguhnya kepada Tuhan kitalah kita berpegang baik”. (al-Qarim: 32)

Dalam adat diungkapkan “indak dapek salendang pagi, ambiak galah ka paraku, indak dapek bakandak hati, kandak Allah juo nan balaku”.

Bahwa bimbingan syarak berlaku dalam adat, disebutkan: “kasudahan dunia ka akhirat, kasudahan adat ka balairung, syarak ka ganti nyawa, adat ka ganti tubuah”.

  1. 2. Nilai-nilai Kemanusiaan

Nilai-nilai kemanusiaan ini dinyatakan dalam adat meliputi:

a) Duduak samo randah, tagak samo tinggi, duduak sahamparan, tagak sapamatang.

“menjaga kesetaraan dalam bermasyarakat.”

b) Sasakik sasanang, sahino samalu, sabarek sapikua.

peduli dan solidaritas mesti dipelihara.

c) Kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan.

“setia kawan, dengan pengertian membagi berita baik kepada semua orang.”

d) Nan ketek dikasihi, nan samo gadang lawan baiyo, nan tuo dihormati. Nan bungkuak ka tangkai bajak, nan luruih ka tangkai sapu, satampok ka papan tuai, nan ketek ka pasak suntiang, panarahan ka kayu api.

santun dan hormat terhadap orang yang lebih tua, memungsikan semua elemen masyarakat yang ada.”

e) Kok gadang jan malendo, panjang jan malindih, cadiak jan manjua.

“berbuat sesuai dengan aturan yang berlaku, cerdik tidak memakan lawan.”

f) Nan buto paambuih lasuang, nan pakak palapeh badia, nan lumpuah pangajuik ayam, nan binguang pangakok karajo, nan cadiak lawan baiyo, nan pandai tampek batanyo, nan tahu tampek baguru, nan kayo tampek batenggang, nan bagak ka parik paga dalam nagari.

“memberikan tugas sesuai dengan kemampuan, menghargai sesama.”

Nilai-nilai kemanusiaan dinyatakan dalam syarak :

  1. a. Kewajiban untuk menghargai  persamaan (egaliter)

Allah berfirman:

يايها الناس إ نا خلفناكم من ذكر وأ نثى وجعلنكم شعوبا وقبا ئل لتعارفوا إ ن أ كرمكم عند الله أ تقاكم، إ ن الله عليم خبير.         الحجرات: 13)

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal”. (al-Hujurat: 12)

  1. b. Menghormati persamaan manusia lain.

Sabda rasulullah

ليس المسلم بالطعان ولا اللعان ولا الفاحش ولا البذئ      (رواه الترمذي)

Tidaklah termasuk muslim apabila bersikap penohok, pelaknat, sikap kejam dan pencaci (HR. Tirmidzi)

  1. c. Mencintai sesama saudara muslim

لا يؤمن  أ حدكم  حتى يحب لأ خيه ما يحب لنفسه   (رواه البخارى ومسلم)

Tidaklah dikatakan seorang muslim, sehingga dia menyenangi apa yang disenangi oleh saudaranya, sebagaimana dia menyenangi apa yang disenanginya (HR. Bukari Muslim)

  1. d. Pandai berterima kasih

Sabda rasulullah

لا يشكر الله  من لا يشكر الناس                (ابو داود واحمد)

Tidak dapat bersukur kepada Allah orang yang tidak pernah berterima kasih atas kebaikan orang lain (HR. Abu Daud dan Ahmad

  1. e. Memenuhi janji

Allah berfirman

وأ فوا بعهد الله إذا عاهدتم ولا تنقضوا الأيمان بعد توكيدها وقد جعلتم الله عليكم كفيلا  إ ن الله يعلم ما تفعلون       (النحل: 91)

Dan penuhilah janji-janji tatkala kamu berjanji, dan janganlah kamu mengingkari itu sebab kamu telah menjadikan Allah sebagai pemelihara. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (al-Nahl: 91).

  1. f. Tidak boleh mengejek dan meremehkan orang lain

Firman Allah:

يأ يها الذين أ منوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيرا منهم          (الحجرات: 11)

Janganlah kamu mengejek atau merendahkan diri orang lain, saudara atau teman dekatmu dengan membicarakan kekurangan atau membuka aib dan cacatnya, atau menjulukinya sampai menyakitkan hatinya, sesungguhnya perbuatan demikian adalah sikap yang tercela.

  1. g. Tidak mencari kesalahan

Allah berfirman:

ولا يغتب بعضكم بعضا أيحب  أ حدكم  أن يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه (الحجرات: 12)

Dan janganlah mengumpat atau menceritakan kesalahan sebagian dari kamu terhadap sebagian yang lain, sukakah kamu memakan daging saudaramu yang sudah menjadi bangkai, sedangkan kamu membencinya (al-Hujurat: 12)

  1. h. Bergaul baik dengan menjaga persaudaraan dan persatuan

Allah berfirman

إ نما المؤمنون  إ خوة  فأ صلحوا بين أخويكم واتقوا الله لعلكم ترحمون    (الحجرات: 10).

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (al-Hujurat: 10).

  1. i. Tidak boleh sombong

ولا تمشى  في الأ رض  مرحا … (لقمان: 19)

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong (Lukman: 18)

  1. 3. Nilai-nilai Persatuan dan Kesatuan

Nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam adat

  1. a. Tagak kampuang paga kampuang, tagak suku paga suku, tagak banagari paga nagari

“ menjaga persatuan dan bersama membangun nagari, sesuatu itu harus dimunculkan dari bawah. “

  1. b. Satinggi-tinggi tabang bangau, kumbalinyo ka kubangan juo, hujan ameh di rantau urang, hujan batu di kampuang awak, kampuang halaman tatap dikana juo

“ ada tempat kembali, semua akan kembali ke asal ”

  1. c. Jauh bajalan banyak diliek, lamo hiduik banyak dirasoi

“ cari pengalaman yang baik “

  1. d. Malu tak dapek dibagi, suku tak dapek diasak, raso ayia ka pamatang, raso minyak ka kuali

“ suku tidak dapat ditukar “

  1. e. Takajuik urang tagampa awak, kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauwan

“ selalu berbuat baik menyatu dengan lingkungan di mana berada “

  1. f. Banabu-nabu bak cubadak, baruang-ruang bak durian, nan tangkainyo hanya sabuah, nan batangnyo hanyo satu, saikek umpamo lidi, sarumpun umpamo sarai, satandan umpamo pinang, sakabek umpamo siriah.

“ tidak boleh berpecah belah, jauhi silang sengketa “

  1. g. elok di ambiak jo mupakat, buruak di buang jo etongan

“ utamakan musyawarah “

  1. h. randah tak dapek dilangkahi tinggi tak dapek dipanjek.

“ keputusan musyawarah mengikat “

  1. i. bersilang kayu dalam tungku sinan nasi mangko masak, dengan tepat dan benar.

“ perbedaan pendapat tidak boleh membawa perpecahan “

Nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam syarat meliputi:

  1. a. Bersatu tidak boleh bercerai-cerai

يأ يها الذين أمنوا إ تقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون. واعتصموا بحيبل الله جميعا ولا تفرقوا، واذكروا نعمت الله عليكم إذ كنتم أعداء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخوانا، وكنتم على شفا حفرة من النار فأنقذكم منها، كذلك يبين الله لكم أ ياته لعلكم تهتدون         (ال عمران: 102-103).

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri kepada Allah dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-cerai dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kamu dulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kamu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara (QS. Ali Imran; 102-103).

b. Orang yang beriman ibarat sebuat bangunan

Sabda Rasulullah saw

أ لمؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا       (رواه البخارى ومسلم)

Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya, bagi suatu bangunan yang menopang satu bagian terhadap bagian lainnya (HR. Bukhri dan Muslim.

Firman Allah SWT

ضربت عليهم الذلة أ ين ما ثقفوا  إلا بحبل من الله وحبل من الناس وبأؤ بغضب من الله وضربت عليهم المسكنة، ذلك بأ انهم كانوا يكفرون بأ يات الله ويقتلون الأ ابياء بغير حق، ذلك بما عصوا وكانوا يعتدون   (ال عمران: 112).

Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tlai (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas (QS. Ali Imran: 112).

  1. 4. Nilai-nilai Demokrasi dan Musyawarah

Nilai-nilai demokrasi dan musyawarah dalam adat meliputi beberapa aspek

  1. a. Bulek aia ka pambuluah, bulek kato ka mufakek, bulek dapek digolongkan, pipiah buliah dilayangkan.

“Taat pada kesepakatan hasil musyawarah”

  1. b. Kato nan banyak dari bawah, banyak indak buliah dibuang, saketek indak buliah disimpan.

“ Peranan masyarakat berpatisipasi, mulai dari lapisan terendah, kedudukannya sama dalam hukum “

  1. d. Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka mufakek, mufakek barajo ka nan bana, bana badiri sandirinya, manuruik alua jo patuik.

” taati hukum dan aturan yang berlaku “

  1. e. Pikia palito hati, tanang hulu bicaro, aniang saribu aka, dek saba bana mandating

“ sebelum berbuat lakukan penelitian dan kaji segala kemungkinan, sebab dan akibat dari satu perbuatan “

  1. f. Suri tagantuang batanuni, luak taganang nan basawuak, kayu batakuak barabahkan, janji babuek batapati.

“tetapi janji, lakukan sesuatu menurut patut dan pantas “

  1. g. Duduak basamo balapang-lapang, duduak surang basampik-sampik, kato surang babulati, kato basamo dipaiyokan

“ bina kerukunan bersama “

  1. h. Baiyo-iyo jo adiak, batido-tido jo kakak, elok diambiak jo mufakek, buruak dibuang jo etongan.

“ teguhkan persaudaraan, kembangkan dialog “

  1. i. Sabalik bapaga kawek, randah tak dapek dilangkahi, tinggi tak dapek dipanjek.

“ hidup mesti berperaturan, tidak boleh berbuat seenak diri sendiri “

  1. j. Galugua buah galugua, tumbuah sarumpun jo puluik-puluik, badampiang jo batang jarak, basilang kayu dalam tungku, sinan nasi nasi mangko masak.

“tidak perlu cemas untuk berbeda pendapat, perbedaan tidak menimbulkan perselisihan, di sini terdapat dinamika hidup”

  1. k. Saukua mangko manjadi, sasuai mangko takana, nan bana kato saiyo, nan rajo kato mufakek

“ permusyawaratan perwakilan, teguh melaksanakan kesepakatan “

Nilai-nilai demokrasi dan musyawarah di dalam syarak meliputi beberapa aspek yang jelas dalam tata cara melaksanakan musyawarah serta perilaku ini, akan menguatkan pelaksanaan ABS-SBK, di antaranya ;

Firman Allah SWT

فبما رحمة من الله لنت لهم، ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك، فاعف عنهم واستغفرلهم وشاورهم فى الامر فإذاعزمت فتوكل على الله، إن الله يحب المتوكلين         (ال عمران: 159).

Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah ia menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (QS. Ali Imran: 159).

Firman Allah SWT

… وأمرهم شورى بينهم ومما رزقناهم ينفقون   (الشورى: 38).               

“…Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka” (QS. Al-Syura: 38).

Sabda Rasulullah SAW

ما خاب من اتخار ولا ندم من اشتشار

Tidak akan gagal orang yang mengerjakan istikharah dan tidak pula menyesal orang yang melakukan musyawarah

Sabda Rasulullah

المستشار مؤتمن

“Orang-orang yang melakukan musyawarah akan tentram (aman)”

  1. 5. Nilai-nilai Akhlak / Budi Pekerti

Nilai-nilai budi pekerti / akhlak dalam adat meliputi:

  1. a. Nan kuriak kundi, nan merah sago, nan bayiak budi, nan indah baso

“Budi pekerti dan bahasa sopan santun diperlukan “

  1. b. Satali pambali kumayan, sakupang pambali katayo, sakali lancuang ka ujian, salamo hiduik urang tak picayo

“jangan pernah berbuat salah, selalu menjaga diri”

  1. c. Batanyo lapeh arak, barundiang sudah makan
  2. d. Raso dibaok nayiak, pareso dibaok turun

“memikirkan akibat sebelum berbuat”

  1. e. Sulaman manjalo todak, naiak sampan turun parahu, punyo padoman ambo tidak, angin bakisa ambo tau

“ selalu mempergunakan akal sehat sebelum berbuat “

  1. f. Bajalan paliharo kaki, bakato paliharo lidah

“hati-hati selalu”

  1. g. Pisang ameh baok balayia, masak sabuah di dalam peti, utang ameh dapek dibayia, utang budi dibaok mati.

“selalu berbuat baik, hidup dengan berjasa dan pandai membalas jasa“

  1. h. Dek ribuik rabahlah padi, dicupak Datuak Tumangguang, jikok hiduik indak babudi, duduak tagak ka mari tangguang.

“ tidak melupakan tata kerama bergaul menurut adat dan agama “

Nilai-nilai budi pekerti dan  akhlak dalam syarak sangat banyak ditemukan:

Firman Allah SWT

لا إ كراه في الدين، قد تبين الرشد من الغي، فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد إ ستمسك بالعروة الوثقى لا انفصام لها، والله سميع عليم     (البقرة: 256)

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Baqarah: 256)

Firman Allah SWT

هو الذي خلقكم فمنكم كا فر  ومنكم  مؤمن  والله بما تعملون بصير    (التغابون: 2)

Dialah yang menciptakan kamu, maka diantara kamu ada yang kafir dan diantaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Taghabun: 2)

Firman Allah SWT

لا يكلف الله نفسا إ لا وسعها، لها ما كسبت وعليها ما ا كتسبت، ربنا لا تؤخذنا إ ن نسينا أو اخطأنا، ربنا ولا تحمل علينا إ صرا كما حملته على الذين من قبلنا، ربنا ولا تحملنا ما لا طقة لنا به، واعف عنا، واغفرلنا، وارحمنا، انت مولنا فانصرنا على القوم الكفرين  (البقرة: 286).

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya, (mereka berdoa): ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir (QS. Al-Baqarah: 286).

Sabda Rasulullah SAW

يسروا ولا تعسروا وبشروا ولا تنفروا      (رواه البخارى)

Permudahlah jangan mempersulit dan gembirakanlah jangan menakut-nakuti (HR. Bukari).

  1. 6. Nilai-nilai Sosial Kemasyarakatan

Nilai-nilai sosial kemasyarakatan adat dan syarak meliputi antara lain

  1. a. Nan buto pahambuih lasuang, nan lumpuah pengajuik ayam, nan pakak palatuih badia

“ fungsi ham asasi manusia “

  1. b. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang, nan barek makanan bahu, nan ringan makanan jinjiang.

“ suka bergotong royong, memelihara kerja sama “

  1. c. Takajuik urang tagampa awak, kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan.

“sifat tolong menolong “

  1. d. Bungka ameh manahan asah, ameh batua manahan uji, kato batua manahan sudi, hukum batuah manahan bandiang.

“ kualitas, ekonomi, professional, menegakkan nilai-nilai keadilan “

  1. e. Nan tak untuak jan diambiak, nan bakeh yo diunyi, turuik alua nan luruih, tampuah jalan nan pasa

“menjaga keseimbangn antara hak dan kewajiban “

  1. f. Sawahlah diagiah pamatang, ladanglah diagiah bamintalak, lah tantu hinggo jo batehnya, lah tahu rueh jo buku

“mematuhi aturan yang ada “

  1. g. Ketek taraja-raja, gadang tarubah tidak, lah tuo jadi parangai.

“ Pendidikan di rumah tangga tentang perilaku dan budi pekerti

sangat penting. Menanamkan perilaku bertanggung jawab

sejak kecil ”

  1. h. Kato sapatah dipikiri, jalan salangkah ma adok suruik

“ Hati-hati dalam berucap dan bertindak memikirkan hal yang akan disampaikan sebelum berbicara “

  1. i. Syarak mangato, adat mamakai, syarak mandaki, adat manurun

“ Ketetapan syarak dipakai dalam adat, perjalanan adat penghulu seiring dengan ulama “

  1. j. Sasakik sasanang, sahino samalu, nan ado samo dimakan, kok indak samo ditahan, barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun, tatilungkuik samo makan tanah, talilantang samo makan angin.

“ Rasa kebersamaan, gotong royong wajib ditumbuhkan di tengah masyarakat Minangkabau (Sumbar), menggerakkan potensi moril materil, untuk membangun nagari, dan menghapus kemiskinan”

Nilai-nilai sosial kemasyarakatan dalam syarak sebagai berikut:

  1. a. Saling tolong menolong

Firman Allah SWT

تعاونوا على البر واتقوا ولا تعاونوا على الاثم والعدوان (المائدة: 2)

Saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kamu tolong menolong berbuat dosa dan permusuhan (QS. Al-Maidah: 2).

Sabda Rasulullah SAW

انصر اخاك ظالما أو مظلوما          (رواه البخارى)

Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi (HR. Bukari)

Sabda Rasulullah

ليس منا من لم يرحم صغيرنا ولم يعرف حق كبيرنا (رواه ابو داود وترمذى)

Tidak termasuk umatku orang yang tidak mengasihi generasi muda dan tidak menghormati orang tua (HR. Abu Daud dan Tirmizi).

Sabda Rasulullah

تحجزة من ظلمه فذلك نصره

Hindarkanlah atau cegahlah dia dari bertindak aniaya itulah cara menolongnya

  1. b. Tidak boleh memisahkan diri dari masyarakat (jama’ah)

وعليكم بالجمعة فمن شذ شذ في النار         (رواه ترميذ)

Kamu harus hidup dalam jama’ah siapa saja yang mengasingkan diri dari jama’ah, dia akan menyendiri masuk ke dalam api neraka (HR. Tirmizi).

  1. c. Waspada dan menjaga keselamatan bersama

Allah berfirman

وتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة        (الانفال: 25).

Takutlah kamu kepada fitnah yang tidak hanya menimpa kepada orang yang zalim saja (QS. al-Anfal: 25)

Allah SWT berfirman

وتواصوا بالحق وتواصو بالصبر        (العصر: 3)

Saling menasehatilah tentang kebenaran dan saling menasehatilah dengan kesabaran (al-Ashr: 3)

Sabda Rasulullah SAW

إذا استنصح احدكم اخاه فالينصح له      (رواه البخارى)

Jika kamu dimintai nasehat oleh salah seorang saudaramu, maka berikanlah nasehatmu kepadanya (HR. Bukhari)

Sabda Rasulullah SAW:

الدين النصيحة سئل لمن؟ فقال: فقال: لله ولكتابه ولرسوله ولامة المسلمين عامتهم

Agama itu nasehat, kemudian ditanyakan kepada beliau, bagi siapa nasehat itu? Rasulullah menjawab: bagi Allah, bagi kitab-kitabnya, bagi rasulnya, bagi para pemimpin muslim, dan jama’ah pada umumnya (HR. Muslim)

  1. d. Berlomba mencapai kebaikan

Allah SWT berfirman

فاستبقوا الخيرات … (البقرة: 146)

Dan saling berlombalah kamu untuk berbuat kebaikan di mana kamu berada (QS. al-Baqarah: 146)

Sabda Rasulullah SAW

اتق الله حيث ما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن (رواه الحاكم والترمذي)

Bertakwalah selalu kepada Allah dimana saja kamu berada, dan iringilah selalu perbuatan salahmu dengan kebaikan, semoga dapat terhapus kesalahan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan selalu bersikap ikhlas (terpuji). (HR. Hakim dan Tarmizi).

  1. e. Tidak boleh mencela dan menghina

Allah SWT berfirman

يايها الذين امنوا لا يسخر قوم من قوم عسى ان يكونوا خيرا منهم

ولا نساء من نساء عسى ان يكن خيرا منهن ولا تلمزوا انفسكم  ولا تنابزوا  بالالقاب بئس الاسم الفسوق بعد الايمان ومن لم يتب فاولئك هم الظلمون          (الحجرات: 11).

Wahai umat yang beriman, janganlah hendaknya terjadi suatu kaum menghina kaum yang lainnya, boleh jadi yang dihina ternyata lebih baik keadaannya daripada yang menghina. Demikian juga janganlah para wanita itu menghina kelompok wanita yang lainnya, karena boleh jadi wanita yang dicela itu lebih baik dari yang mencela. Janganlah saling mencerca dan janganlah berolok-olok dengan sebutan-sebutan yang jelek. Seburuk-buruk sebutan fasik sesudah orang itu beriman (al-Hujurat: 11).

  1. f. Menepati janji

Firman Allah SWT:

يايها الذين امنوا اوفوا بالعقود                    (المائدة: 1)

Wahai umat yang beriman, penuhilah selalu janji-janjimu (QS. al-Maidah: 1)

Firman Allah SWT:

والموفون بعهدهم إذا عاهدوا        البقرة: 177)

Dan orang-orang yang selalu menyempurnakan janji-janjinya, jika ia membuat perjanjian (QS. al-Baqarah: 177)

  1. g. Bersikap adil

Allah SWT berfirman:

قل امر ربي بالقسط    (البقرة: 29)

Katakanlah: telah memerintahkan Tuhanku agar berbuat adil (QS. al-A’raf: 29)

Allah SWT berfirman:

يايها الذين امنوا كونوا قوامين لله شهداء بالقسط ولا يجرمنكم شنان قوم على الا تعدلوا اعدلوا هو اقرب للتقوى ان الله خبير بما تعملون (المائدة: 8).

Wahai umat yang beriman, hendaklah kamu menjadi manusia yang lurus karena Allah dan menjadi saksi, dan janganlah kebencian atas suatu kaum menyebabkan kamu tidak adil. Berlaku adilah kamu, karena adil itu lebih dekat kepada takwa (kebaktian). Bertakwalah kamu kepada Allah, karena sesungguhnya Allah amat mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Maidah: 8).

Allah SWT berfirman:

خذ العفو وأمر بالمعرف واعرض عن الجاهلين  (الاعراف: 199)

Berilah maaf dan anjurkanlah orang untuk berbuat adil dan hindarilah pergaulan dengan orang-orang bodoh (kecuali untuk mendidik mereka). (QS. al-A’raf: 199)

Sabda Rasulullah SAW:

اتق الله حيث ما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن    (رواه الحاكم والترمذي)

Bertakwalah selalu kepada Allah dimana saja kamu berada, dan iringilah selalu perbuatan salahmu dengan kebaikan, semoga dapat terhapus kesalahan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan selalu bersikap ikhlas (terpuji) (HR. al-Hakim dan Tirmizi).

  1. h. Tidak boleh bermusuh-musuhan

Rasulullah SAW bersabda:

عن ابى هريرة رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا تجسسوا ولا تسسو ولا تناجشوا وكونوا عبد الله اخوانا   (متفق عليه).

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda; janganlah kamu saling mendengki, saling membenci, saling mencari kesalahan yang lain, saling mengumpat dan jangan pula saling menipu. Tetapi jadilah kam hamba-hamba Allah penuh persaudaraan (HR. Bukhari dan Muslim).

Sabda Rasulullah SAW

سباب المسلم لسوق وقتاله كفر      (رواه بخارى ومسلم)

Mencerca seorang muslim adalah fasiq, dan membunuh seorang muslim adalah kufur (HR. Bukhri dan Muslim)

Sabda Rasulullah SAW:

انصر اخاك ظالما أو مظلوما         (رواه البخارى)

Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi (HR. Bukhari).

Sabda Rasulullah:

ليس منا من لم يرحم صغيرنا ولم يعرف حق كبيرنا        (رواه ابو داود وترميذي).

Tidak termasuk umatku orang yang tidak mengasihi generasi muda dan tidak menghormati orang tua (HR. Abu Daud dan Tirmizi)

Sabda Rasulullah:

تحجزه من ظلمه فذلك نصره

Hindarkanlah atau cegahlah dia dari bertindak aniaya itulah cara menolongnya.

Sabda Rasulullah:

المسلم اخو المسلم لا يظلمه ولا يخذ له (رواه ابو داود)

Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, karena itu tidak menganiaya saudaranya, tidak merendahkan derajatnya dan tidak menanggapinya sepele dan hina (HR. Abu Daud).

  1. i. Tidak boleh bermarahan.

Rasulullah SAW bersabda:

لا يحل لمسلم ان يهجر اخاه فوق ثلاث

Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari (HR. Bukari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Muwatha’ dan Ahmad).

Allah SWT berfirman:

يايها الذين امنوا كونوا قوامين لله شهداء بالقسط ولا تجر منكم شنان قوم على الا تعدلوا اعدلوا هو اقرب للتقوى ان الله خير بما تعملون           (المائدة: 8)

Wahai umat yang beriman, hendaklah kamu menjadi manusia yang lurus karena Allah dan menjadi saksi dan janganlah kebencian atas suatu kaum menyebabkan kamu tidak adil. Berlaku adillah kamu, karena adil itu lebih dekat kepada takwa (kebaktian). Bertakwalah kamu kepada Allah, karena sesungguhnya Allah amat mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Maidah: 8).

Allah SWT berfirman:

خذ العفو وأمر بالعرف واعرض عن الجاهلين      (الاعراف: 199).

Berilah maaf dan anjurkanlah orang untuk berbuat adil dan hindarilah pergaulan dengan orang-orang bodoh (kecuali untuk mendidik mereka).

Karena itu masyarakat  Minangkabau yang beradat dan beragama selalu dalam hidupnya diingatkan untuk mengenang hidup sebelum mati dan hidup sesudah hidup ini (dibalik mati) itu. Sesuai dengan peringatan Ilahi.

“ bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS.13, Ar Ra’du : 11).

Satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam “iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah”, dalam rangka pembinan negara dan bangsa keseluruhannya, semata untuk melaksanakan Firman Ilahi;

“Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan). (QS.28, Al Qashash : 77)

Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri anak nagari,

Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.”

Ketahuilah bahwa ni’mat Allah, sangat banyak.

Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS.16, An Nahl : 18).

Hukum Islam menghendaki keseimbangan antara  perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani ; “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist).

Keseimbangan tampak jelas dalam menjaga kemakmuran di ranah ini,   “Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

Hal ini seiring dengan bimbingan hadist Rasul SAW, Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”  (Hadist).

Dianjurkan, jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil.[1]

Diajarkan, bahwa Allah SWT telah menjadikan bumi mudah untuk digunakan. Maka, berjalanlah di atas permukaan bumi, makanlah dari rezekiNya, kepadaNya lah tempat kamu kembali.

Maka berpencarlah kamu di atas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”. (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

Karatau madang dihulu babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu dirumah paguno balun. Ditanamkan pentingnya kehati-hatian “Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”.

Agama Islam membangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu (space and time consciousness), kepada peredaran bumi, bulan dan matahari, yang menyebabkan pertukaran malam dan siang, dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun.

Menyia-nyiakan waktu, dengan pasti akan merugi. Maka, kehidupan mesti diisi dengan amal berguna.[2]

dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan ” (QS.78, An Naba’ : 10-11).

Malam itu disebut sebagai pakaian, karena malam itu gelap menutupi jagat sebagai pakaian menutupi tubuh manusia.

Jangan melewati batas, dan berlebihan. Jangan boros.

“Wahai Bani Adam, ailah perhiasanmu, pada tiap-tiap (kamu pergi) ke masjid (melakukan ibadah); dan makanlah dan minumlah, dan jangan melampaui batas; sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS..7, Al A’raf : 31)

Manusia diharuskan berusaha membanting tulang dan memeras otak, untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya, dan menikmatinya sambil mensyukurinya. Tuntutan syar’i (syarak mangato adaik mamakai) adalah, beribadah kepada Ilahi.

A. PENGERTIAN ‘URF DAN ‘ADAT

Ahli fiqh telah lama merangkum di dalam kajian mereka, pembahasan tentang tradisi manusia dan posisinya dalam syari’at Islam. Istilah yang mereka pergunakan untuk itu berkisar anatara ‘urf dan ‘adat. Dua term itu dianggap memiliki makna yang sama dalam pemahaman sebagian fuqaha’, namun ada yang melihatnya sebagai dua kata yang berbeda.

Terlepas dari perbedaan pendapat dalam melihat makna kata ‘urf dan ‘adat, Ahli fiqh telah merumuskan definisi ‘urf dalam posisinya sebagai suatu alternatif dalil dalam melahirkan hukum Islam. Majlis Majma’ al-Fiqh al-Islamiy mendefinisikan ‘urf

Segala yang dibiasakan oleh manusia dan mereka jadikan sebagai cara kehidupan baik dalam bentuk ucapan, tindakan maupun sesuatu yang mesti ditinggalkan, dimana adakalanya dipandang benar oleh syara’ dan adakalanya dipandang tidak benar.

Dari definisi di atas, dapat difahami bahwa ‘urf atau yang dikenal oleh masyarakat sebagai adat bukan hanya sekedar pepatah atau peribahasa. Dalam tinjauan hukum Islam, adat yang dipandang sebagai adat bukan hanya dalam tataran filosofis. Namun Fiqh Islam melihatnya dalam suatu keutuhan tradisi baik dari sisi falsafah maupun dari sisi penerapan falsafah itu.

Klasifikasi mu’tabar dan ghairu mu’tabar atau shahih dan fasid yang telah digariskan oleh fuqaha` berdasarkan petunjuk Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah saw, menjadi landasan kuat dalam menilai adat apapun yang ditemukan dalam masyarakat muslim tanpa mempersoalkan apakah kemunculan adat itu setelah diterimanya hidayah Islam atau belum.

Adat yang dipandang tidak benar dalam syari’at Islam merupakan sesuatu yang harus ditinggalkan seorang muslim sebagai konsekwensi kebenaran syahadatnya. Apabila seorang muslim berkeberatan meninggikan ketentuan Allah swt dari segala ciptaan nenek moyang yang diwarisinya secara turun temurun, tentu keyakinannya akan kesempurnaan Allah swt dan kesempurnaan syari’at yang diturunkannya menjadi ternoda.

B.  ADAT MINANGKABAU

Masyarakat Minangkabau dengan segala kelapangan berfikirnya, sangat sangat mengerti dengan adat sebagaimana penjelasan di atas.  Suatu langkah awal telah dicanangkan melalui semboyan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Syara’ Mangato Adat Mamakai. Ini merupakan pernyataan tulus masyarakat Minang untuk menerima Islam secara utuh(Kaffah).

Langkah awal yang baik apabila tidak dilanjutkan, tentu hanya akan menjadi kebanggaan kenangan. Dan tidak jarang dijumpai langkah awal dianggap sebagai langkah akhir.  Pencanangan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Syara’ Mangato Adat Mamakai merupakan landasan perjuangan bersama masyarakat Minang dalam memasuki Islam secara kaffah. Kenyataan seperti di atas perlu disadari dan tidak ada lagi dari masyarakat minang yang menganggap ini merupakan akhir dari suatu proses ketundukan kepada Allah.

Kata adat berasal dari bahasa Sangskerta, dibentuk dari kata “a” dan “dato”. “A” artinya tidak. “Dato” artinya sesuatu yang bersifat kebendaan. Jadi “adat” pada hakikatnya adalah segala sesuatu yang tidak bersifat kebendaan. Hal ini merupakan lanjutan dari kesempurnaan hidup, di mana nilai kehidupan tidak terpaku kepada nilai-nilai benda atau kekayaan yang dimiliki.

Menurut latar belakang sejarahnya, kesadaran tentang adat muncul semasa masyarakat hidup makmur, penduduk sedikit sedangkan kekayaan alam berlimpah ruah. Pada saat itu manusia sampai kepada kesadaran akan adat, yakni kesadaran bahwa nilai sesuatu bukan diukur dengan benda. Selagi manusia masih diperhamba harta-benda, pada saat itu pula manusia dapat dikatakan belum beradat.

Adat Minangkabau terbentuk sejak orang Minang mengenal pandangan hidup yang berpangkal pada budi. Budi dihayati berdasarkan pengamatan yang berguru kepada alam takambang, artinya berdasarkan ketentuan-ketentuan yang nyata yang terlihat pada alam semesta. Alam memberi contoh dan inspirasi kepada umat manusia tentang budi, yang ikhlas memberi tanpa mengharap balas. Matahari dan bulan misalnya, memberi contoh dalam menerangi alam, tanpa mengharap balasan dari manusia atas nikmat terang yang diberikannya.

Bagi orang Minangkabau, adat adalah sebagian dari jiwanya. Segala perbuatan baik harus disertai dengan kata-kata adat; berkata beradat, duduk beradat, berjalan beradat, makan-minum beradat dan bergaul beradat. Mereka yang tidak mengindahkannya, dikatakan tidak beradat.

Di Minangkabau, adat itu awalnya tunggal. Tetapi mengingat terjadi perkembangan di tengah masyarakat, maka untuk meresponi perkembangan tersebut adat yang tunggal itu dikembangkan menjadi empat, yakni : Adat Nan Sabana Adat, Adat nan Diadatkan, Adat nan Teradat, dan Adat-istiadat.

Pertama, Adat Nan Sabana Adat, adalah aturan pokok dan falsafah yang mendasari kehidupan suku Minang yang berlaku turun temurun tanpa terpengaruh tempat, waktu dan keadaan sebagaimana dikiaskan dalam kata-kata adat: Nan tak lakang oleh panas, Nan tak lapuk oleh hujan. Di antara Adat nan sabana Adat tersebut adalah aturan Syara’ (agama Islam), berdasarkan al-Qur’an al Karim dan hadits Nabi saw., serta hukum adat yang dilegitimasi oleh hukum Islam atau hukum Islam yang dalam pelaksanaannya mengikuti keadaan dan perkembangan kehidupan masyarakat. Dari sumber-sumber inilah diambil prinsip adat, yang dikenal dengan ungkapan Adat bersendi Syara’, Syara’ bersendi Kitabullah.

Dalam perkembangan pengamalan prinsip tersebut, muncul pepatah mengiringinya: Syara’ mengata, adat memakai, artinya landasan suatu pekerjaan itu diambilkan dari syara’, dari Al-Qur’an dan Sunnah. Lalu dipakai atau dibudayakan di tengah masyarakat menurut ketentuan adat. Dalam pemaparan Syara’ dan Adat kepada masyarakat, dikenal ungkapan, Syara’ bertelanjang, adat bersesamping, maksudnya: apa yang dikatakan oleh Syara’ bersifat tegas dan terang, akan tetapi setelah diamalkan dalam bentuk adat, ia diatur dalam prosedur sebaik-baiknya. Sedangkan dalam upaya pembudayaannya dikenal pepatah, Adat yang kawi, Syara’ yang lazim, maksudnya, adat tidaklah berdiri kokoh kalau tidak di-kawi-kan (berasal dari kata  qawwiyun = kuat). Syara’ tidak akan berjalan kalau tidak dilazimkan (diwajibkan).

Perlu dicatat bahwa Adat bersendi Syara’, Syarak bersendi Kitabullah ini adalah merupakan periode ketiga dalam hubungan adat dan agama Islam di Minangkabau, yakni setelah terjadi Perjanjian Bukit Marapalam (sekitar l833) mengakhiri perseteruan antara kaum Paderi dengan kaum Adat.

Pada periode pertama, menurut Amir Syarifuddin, adat dan hukum Islam berjalan sendiri-sendiri dalam batasan yang tidak saling mempengaruhi, yang dimunculkan dalam pepatah adat, Adat bersendi Alur dan Patut, dan Syara’ bersendi Dalil. Hal ini terjadi pada masa awal Islam di Minangkabau, di mana dominasi adat begitu kuat dan Islam belum lagi masuk dalam sistem masyarakat.

Periode Kedua, adalah periode adat dan Islam telah masuk dalam sistem sosial masyarakat, namun pengaruh Islam belum kuat. Pada waktu ini nilai-nilai moral yang dibawa Islam sejalan dengan adat Minangkabau, sehingga melahirkan pepatah adat, Adat bersendi Syara’, Syara’ bersendi Adat. Baru pada Periode Ketiga, setelah perjanjian Bukit Marapalam, ditetapkan Adat bersendi Syara’, Syarak bersendi Kitabullah.

Kedua, Adat nan  Diadatkan, adalah hukum-hukum adat yang diterima dari Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih nan Sabatang, yang pokoknya adalah : Cupak nan dua, Kato nan empat, Nagari nan empat dan Undang-undang nan empat. Adapun yang dimaksud Cupak nan dua, adalah cupak usali dan cupak buatan, (lebih lanjut tentang Cupak nan duo, lihat entri  Cupak).

Kato Nan Empat disebut juga Kato Adat, yaitu: Kato Pusako, Kato Mufakat, Kato Dahulu ditepati dan Kato Kemudian Kato dicari. Yang dikatakan Kato Pusako, adalah : Kato Rajo malimpahkan, kato panghulu manyalasaikan, kato malim kato hakekat, kato manti kato manghubung, kato dubalang kato mandareh, kato rang banyak kato babaluak (Kata raja Kata mendelegasikan, Kata penghulu Kata untuk menyelesaikan masalah, Kata alim-ulama Kata hikmah, Kata manti Kata menghubungkan, Kata dubalang bernada keras, Kata orang banyak beragam pendapat).

Selanjutnya Kato Dahulu ditepati, artinya suatu kata yang sudah disepakati harus ditepati. Kato kemudian Kato dicari, adalah sesuatu yang belum ada permufakatannya, atau telah ada kemufakatannya, tapi tidak cocok lagi dengan kondisi yang berkembang, lalu dicarikan kemufakatan baru.

Nagari nan Empat : pertama dusun, kedua taratak, ketiga koto, keempat nagari. Sedangkan Undang-ndang nan Empat adalah ; Undang-Undang Nagari, Undang-Undang dalam Nagari, Undang-Undang Orang Luhak dan Undang-Undang nan Dua Puluh.

Undang-Undang Nagari, pada prinsipnya memuat dasar-dasar kekeluargaan dan persyaratan suatu nagari sehingga dianggap syah ia menjadi nagari. Menurut Datuk Sangguno Dirajo, nagari sekurang-kurangnya harus memiliki lima syarat:

1.Balabuah, jalan tempat orang keluar masuk dalam negari,

2.Batapian, tempat penduduk mengambil air, mandi dan buang air,

3.Babalai, tempat penghulu duduk dan memperkatakan adat,

4.Bamusajik, tempat orang bersidang Jumat dalam negari menurut syara’,

5.Bagalanggang, suatu tanah lapang pamedanan yang dijadikan oleh anak negari, tempat berkumpul pagi dan petang.

Undang-Undang dalam nagari, merupakan etika perhubungan anak dalam nagari, yang terangkum dalam untaian kata-kata adat berikut:

Salah cencang memberi pampas, salah bunuh memberi diat, salah makan memuntahkan, Salah ambil mengembalikan, salah kepada Allah minta taubat, gawa mengubah, cabul membuang, adil yang dipakai, berbenturan berbayaran, bersalahan yang berpatut, gaib berkalam Allah, berebut diketengahkan, suarang diagih sekutu dibelah, mengambil mengembalikan, meminjam mengantarkan, utang dibayar piutang diteriama, jauh berhimbauan dekat bertarikan.

Adapun Undang-undang luhak adalah merupakan pakai segala raja dan penghulu di alam Minangkabau, yang terangkum dalam kata-kata adat berikut:

Luhak yang perpenghulu, rantau yang mempunyai raja, tegak yang tidak tersundak, Melenggang yang tidak terpampas, terbujur lalu terbelintang patah, begitu permainan segala penghulu

Sedangkan Undang-Undang nan Dua Puluh, diklasifikasikan atas dua bagian, yakni: Undang-Undang nan Delapan untuk menyatakan perbuatan kejahatan, dan Undang-Undang nan Dua Belas untuk menyatakan tanda bukti melanggar undang-undang. Yang termasuk Undang-undang yang delapan adalah:

l. Tikam–bunuh (menikam dengan senjata tajam hingga melukai, bunuh  mengakibatkan korban mati)

2. Upas–racun (upas memberi racun tapi tidak mati, racun mengakibatkan mati).

3. Samun–sakar (samun mengambil barang orang dengan kekerasan, tapi tidak membunuh.  Sakar, merampas dengan membunuh korban)

4. Siar–bakar (membakar ladang, rumah tidak hangus semua, bakar sampai   hangus semua)

5. Maling–curi (maling, mengambil barang di rumah orang malam hari, curi mengambil barang orang siang hari)

6. Rebut–rampas (rebut mengambil barang orang dengan menariknya secara kekerasan. Rampas mengambil barang orang dengan menodong / bahkan membunuhnya)

7. Dago–dagi (dago membantah adat yang biasa, dagi membatah adat yang kawi sampai membuat kekacauan)

8. Sumbang–salah (Sumbang, perbuatan yang menyalahi pandangan umum, umpanya berduaan perempuan dengan laki-laki. Salah, perbuatan berduaan dengan perempuan yang melangar adat / agama, umpamanya tertangkap berzina).

Selanjutnya Undang-undang Dua Belas dibagi dua. Undang-undang Pertama, Menjadi induk bagi yang kedua. Bagian pertama ialah: (1) Terlelah terkejar, (2) Tercencang teretas, (3) Terlecut terpukul, (4) Putus tali, (5) Tambang ciak, (6) Enggang lalu antah jatuh, itulah tanda bukti namanya.

Bagian kedua ialah: (1) Siang bersuluh matahari, Bergelanggang mata orang banyak, (2) Berjalan bergegas-gegas, (3) Pulang-pergi berbasah-basah, (4) Menjual murah-murah, (5) Dibawa pikat dibawa langau (lalat), (6) Terbayang tertebar, cenderung mata orang dalam negeri, semuanya adalah tanda bukti.

Barang siapa melalui atau melanggar pekerjaan demikian; “aniaya” namanya. Sedangkan yang dilalui atau yang terlanggar “teraniaya” namanya. Orang yang menganiaya itu menjadi lawan orang banyak dalam negeri.

Ketiga, Adat nan Teradatkan, Adalah kebiasaan yang boleh ditambah atau dikurangi, dan boleh juga ditinggalkan, jadi dapat berubah-ubah berdasarkan permufakatan para penghulu dalam suatu suku atau nagari atau suatu luhak. Karena itu bisa terjadi lain nagari lain adatnya, lain padang lain belalangnya, lain lubuk lain ikannya. Di sinilah berlaku ungkapan, cupak nan sapanjang batuang, adat nan salingka nagari. Bagi mereka yang pindah nagari atau merantau, berlaku ketentuan : di mana sumur digali di situ ranting dipatahkan, di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung, di mana negeri dihuni di sana adat dipakai

Contoh lain nagari lain adatnya : ada beberapa suku yang anggotanya tidak boleh kawin-mengawini, seperti suku Jambak, Patapang, Sumpu dan Kuti Anyie, tidak boleh kawin dengan salah satu suku yang empat itu. Jika orang-orang suku itu akan kawin, harus di luar suku yang empat tersebut. Sebaliknya ada pula orang dalam satu suku boleh saling kawin-mengawini, seperti orang suku Sumagek, boleh kawin dengan orang sama-sama suku Sumagek. Namun dalam hal-hal yang menyangkut dengan penghulu dan pewarisan, berlaku nan sabana adat. Oleh sebab itu Adat nan Teradatkan tidak boleh berlawanan dengan Nan sabana Adat.

Keempat, Adat Istiadat, adalah suatu kelaziman dalam suatu nagari, baik antara sesama masyarakat, antara orang perorang, di mana orang yang berhak meminta akan haknya, seperti : alam diperintah raja, Agama diperintah malin, nagari di perintah penghulu. Kampung diperintah tua kampung, rumah diperintah mamak, isteri seperintah suami. Tegasnya, memberikan legitimasi kepada orang sesuai dengan fungsi dan keberadaannya masing-masing.

Semua harus sesuai prosudur dan pembahagian kerjanya, namun tetap dalam suatu kerangka kerjasama yang utuh. Inilah suatu prinsip yang sangat membantu orang Minang bisa menerima keadaan sosial politik yang berkembang, karena adat-istiadat yang sudah menjadi kultur baginya telah menempatkan orang sesuai fungsi dan posisinya masing.

Adat istiadat merupakan satu sistem sosial kemasyarakatan yang dikembangkan sesuai dengan masa, tempat dan aturan sosial yang berlaku di zamannya, ia tidak tetap seperti itu saja dari masa ke masa. Sebagaimana kata pepatah: “Sekali aie gadang, sekali tapian baralih. Sakali musim batuka, sakali caro baganti ( Sekali air besar/banjir/meluap, sekali tepian beranjak/ bergeser. Sekali musim bertukar, sekali cara berganti). Dapat juga dikatakan Adat Istiadat itu adalah kreasi budaya masyarakat Minang yang dapat berubah  sesuai keadaan dan tempat serta perkembangan yang terjadi, namun semuanya dalam batasan Adat nan Sabana Adat.

  1. A. ADAT BASANDI SYARAK

Adat bagi masyarakat telah terbentuk sejak orang Minang mengenal dirinya dalam bentukan masyarakat, yang dimulai dari Taratak, Koto dan Nagari.adat berdasarkan alur dan patut Adat pada tahap awal ini disandarkan atau didasarkan pada apa yang disebut “, alur bersandarkan patut dan mungkin”.

Alur artinya jalan yang benar,

Patut dan mungkin artinya  yang layak, senonoh, baik, pantas, selaras. Patut merupakan perkiraan keadaan ( etimasi ) pertimbangan rasa dan daya pikir atau nalar.

Berkelindannya adat dengan agama Islam telah berlangsung sejak Islam itu menjadi pegangan hidup bagi orang minang disamping adatnya sendiri. Sejalannya dua pandangan hidup ini sangat munkin sekali terjadi, karena Islam sebagi ajaran yang sempurna membawa tatanan tentang apa yang harus diyakini oleh pemeluknya yang disebut aqidah dan tatanan yang harus dilakukan (diamalkan) yang disebut dengan syari’ah atau syara’. Yang berhubungan dengan aqidah, khususnya masalah ketuhanan tidak jelas ujudnya dalam adat Minangkabau, hanya sekadar falsafah alam nyata saja. Tidak ditemukan bagaimana ajaran adat minang tentang kehidupan setelah kematian atau kehidupan alam akhirat.

Maka dalam pepatah adat disebutkan:

Si Amat mandi ke luhak,Luak perigi paga bilah, Bilah bapilah kasadonyo,Adat basandi syara’ Syara’ basandi kitabulallah,Sanda manyanda kaduonyo. Pinang masak bungo bakarang, Timpo-batimpo saleronyo, Jatuh baserak daun sungkai,Tiang tagak sandi datang, Kokoh mangokoh kaduonyo, Adat jo syara’ takkan bacarai.

Prinsipnya ajaran adat lebih memberikan panduan pada tatanan bagaimana orang harus menjalani kehidupan dialam nyata ini. Ajaran adat Minangkabau lebih memberikan bimbingan tentang moralitas bagi masyarakatnya.

Seperti yang dapat dipahami dari pepatah adat: Gajah mati meninggakan gading, Harimau mati maninggakan balang, Manusia mati maninggakan jaso.

Disamping itu ajaran Islam yang bersifat kemasyarakatan banyak sekali sesuai dengan semangat adat Minang, maka tidak perlu adanya perseteruan antara adat dan agama sebagai contoh dapat ditemukan pada pepatah adat : Ado katomandaki, koto manurun, kato malereang, kato mandata. Artinya ada kata yang mesti ditempatkan pada kondisi siapa lawan bicara, jika dengan anak kecil disebut kata menurun, mestilah dengan cara lemah lembut, sedangkan dengan orang lebih besar kato mandaki haruslah dengan penuh hormat dan sopan santun, dengan orang yang sama besar mak disebut kata mendatar artinya saling menghargai, kata melereng adalah bahasa sindiran bagi orang yang hubungan kekerabatan dalam bentuk ipar-bisan.

Ajaran adat basyandi syarak pada hakikatnya dirumuskan dalam satu sistem yang mudah, sederhana namun memiliki makna yang dalam mendasar. Sistem itu diungkap dalam satu konvensi (kesepakatan umum) yang dikenal dengan tahu di Nan Ampek, yaitu:

  1. Adat terdiri atas empat jenis:
    1. Adat nan sabana adat (Prinsip dasar adat, yaitu Ajarah Islam)
    2. Adat nan diadatkan (Pelaksanaan adat hasil kesepakatan)
    3. Adat nan teradat (kebiasaan yang berlaku daaerah setempat)
    4. Adat istiadat (sistim seni, budaya dan peradaban)
    5. Nagari terdiri atas empat dasar:
      1. Taratak ( lingkungan yang dihuni satu keluarga sa-paruik)
      2. Dusun( lingkungan yang dihuni satu keluarga sa-jurai)
      3. Koto ( lingkungan yang dihuni satu suku)
      4. Nagari ( lingkungan yang dihuni beberapa suku)
      5. Kato-kato adat sebagai dasar hukum adat ada empat macam:

a.  Kato pusako (konsep dasar adat Minangkabau yang ada dalam  bahasa)

b. Kato mufakat (keputusan yang diambil dalam satu permusyawaratan)

  1. Kato dahulu patapati (janji yang sudah disetujui harus dipenuhi).
  2. Kato kamudian kato bacari (perubahan harus disepakati bersama)
    1. Undang-undang terdiri atas empat macam:
      1. Undang-undang luhak (peraturan mengikat seluruh alam Minangkabau).
      2. Undang-undang nagari (perauran pokok tentang seluruh nagari).
      3. Undang-undang dalam nagari (paraturan pada nagari tertentu),
      4. Undang-undang Duo Puluah( peraturan pidana adat)
  1. Hukum adat ada empat macam:
  1. Hukum ilmu ( hukum berdasarkan fakta ilmiah dan alamiah).
  2. Hukum bainah (hukum yang dtegakkan berdasarkan sumpah).
  3. Hukum kurenah(hukum  yang ditetapkan berdasarkan indikasi).
  4. Hukum perdamaian (hukum yang didasarkan peramaian)
      • Cupak terdiri atas empat macam:
      1. Cupak asli (usali),
      2. Cupak Buatan,
      3. Cupak Tiruan,
      4. Cupak nan Piawai.
          1. Asal suku di Minangkabau ada empat:
          1. Bodi,
          2. Caniago,
          3. Koto,
          4. Piliang.

          Hakikat ajaran adat Minangkabau ada empat macam

          1. Raso.
          2. Pariso,
          3. Malu
          4. Sopan

        Sifat seorang pimpinan dalam adat Minangkabau empat macam:

      1. 1.  Bana,
      2. Cadiek (cerdik dan cerdas),
      3. Dpercaya lahir dan bathin
      4. Pandai berbicara (arif mengungkapkan pikiran).

10.  Tugas pimpinan dalam masyarakat ada empat macam:

  1. Manuruik alua nan lurui
  2. Manuruik jalan nan pasa
  3. Mamaliharo anak-kamanakan
  4. Mempunyai tangan/memelihara harta pusaka.

11.  Larangan bagi pimpinan ada empat macam:

  1. Mamakai cabua sio-sio
  2. Maninggakan siddiq dan tabliq
  3. Mahariak mahantam tanah
  4. Bataratak bakato asiang.

12.  Ilmu terdiri atas empat macam:

  1. Tahu pada diri
  2. Tahu pada orang
  3. Tahu pada alam
  4. Tahu pada Allah SWT.

13.  Paham terdiri atas empat macam:

  1. Wakatu bungo kambang
  2. Wakatu angin lunak
  3. Wakatu parantaraan
  4. Wakatu tampek tumbuah.

14.  Asal kebenaran ada empat macam:

  1. Dari dalil kato Allah
  2. Dari hadits kato Nabi
  3. Dari kato pusako
  4. Dari kato mufakat.

15.  Penerbitan kebenaran/cara berpikir ada empat macam:

  1. Pikia palito hati
  2. Nanang ulu bicaro
  3. Aniang saribu aka
  4. Sabar bana mandatang.

16.  Yang menjauhkan sifat kebenaran ada empat macam:

  1. Dek takuik sarato malu
  2. Dek kasiah sarato sayang
  3. Dek labo sarato rugi
  4. Dek puji sarato sanjuang.

17.  Yang menghilangkan kebenaran ada empat macam:

  1. Dek banyak kato-kato
  2. Dek kurenah kato-kato
  3. Dek simanih kato-kato
  4. Dek lengah kato-kato.

18.  Jalan yang akan dilalui dalam pergaulan ada empat macam:

  1. Jalan mandata
  2. Jalan mandaki
  3. Jalan manurun
  4. Jalan malereang.

19.  Jalan dunia menurut adat Minangkabau ada empat macam:

  1. Ba-adat
  2. Balimbago
  3. Bacupak
  4. Bagantang.

20.  Jalan untuk mencapai akhirat yang baik ada empat macam:

  1. Beriman
  2. Bertauhid
  3. Islam
  4. Berma’rifat.

D. POKOK-POKOK ADAT

  1. Makna Adat
  2. Nilai-Nilai dasar ABS-SBK.
  3. Empirik (Alam Takambang Jadi Guru).
  4. Egaliter.( Di dahulukan salangkah).
  5. 5.Musyawarah.
  6. (Bulek kato jo mufakat)).
  7. Kekerabatan (Materilinial/garis ibu).
  8. Komunal.( Duduk surang basampik).
  9. Fungsional (Nan Buto Pahambuih lasung).
  10. Etika Sosial (Batanyo Lapeh Arak).
  11. Arif bijaksana (Alun takilek dan taraso).
  12. Piawai(Kato Bajawek Gayung Basambuik).
  13. Silogisme (Lantai ditembak hidung kanai).
  14. Hermenutika (Membaca yang tersirat).
  15. Imanjener ( Spekulasi Berfikir).
  16. Inovatif ( Sekali air gadang).
  17. Kreatif(Usang-usang diperbaharui).
  18. Dinamis (Karatau Madang dihulu).

17. Apresiatif  (Inggok basicakam, tabang basitumbu).

18. Adaptasi (Dimana langit dijunjug).

19.  Merantau (Induk Samang cari dahulu).

E. STRUKTUR

DEMOGRAFI:

TARATAK, DUSUN, KOTO,NAGARI DAN ALAM.

KEKERABATAN:

SAPARUIK, SAJURAI, SAKAUM, SASUKU, SA NAGARI, SA ALAM

WILAYAH BUDAYA:

KALARASAN BUDI CHANIAGO, KALARASAN KOTO PILIANG.

KEPEMIMPINAN :

URANG 4 JENIS ;

PENGHULU, MANTI, MALIN DAN DUBALANG. TUNGKU TIGO SAJARANGAN (NINIKMAMAK, ALIM ULAMA CARDIK PANDAI.

URANG JENIS NAN 4 ;

IMAM, KHATIB, BILAL DAN QADHI.

POLITIK:

DAERAH ASLI(DAREK), PINGGIRAN (RANTAU)

F. PRINSIP DASAR ADAT

ADAT SA SUKU, MEMELIHARA SISTIM SOSIAL

SAKO, MEMILIKI HAK GELAR ADAT

PUSAKO, HAK PENGUASAN HARTA PUSAKA

FALSAFAH, ALAM TAKAMBANG JADI GURU

NORMA, ALUA, PATUIK, MALU JO SOPAN

BUDAYA, RUMAH GADANG, LUMBUNG, KESEJAHTERAAN

AGAMA, SURAU, AGAMA, ADAT, KEPATUTAN

TAPIAN, SARANA JALAN DAN SUMBER HIDUP.

PANDAM PAKUBURAN, KEMATIAN DAN ADATNYA.

  1. Hubungan Sosial

MATRILIAL, MAMAK, ETEK, MANDE, KEMANAKAN,

PATRILINIAL, BAKO,  ANAK PISANG, ANAK MAMAK, ETEK.

TALI BUDI, SA SUKU, SUKU MALAKOK,

INGOK MANCAKAM, TABANG BASITUMPU.

MENGISI ADAIK JO LIMBAGO.

DAGING DI LAPAH, DARAH DI CACAH, SAHINO, SA MULIA.


[1] QS.4, An Nisak : 97.

[2] QS.16 : 17 dan QS.14,Ibrahim : 33.