Akidah Tauhid dan Akhlak Qurani, Ruh Dakwah Pendidikan, Strategi Menghidupkan Madrasah di Sumatera Barat

Akidah Tauhid dan Akhlak Tauhid

Ruh Dakwah Pendidikan, Strategi Menghidupkan

Pembinaan Madrasah, di Sumatera Barat

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

 

Pendahuluan                                                                 

Upaya dan usaha umat Islam di Sumatera Barat di dalam menghidupkan perguruan Islam yang disebut Madrasah (kini lazim disebut Pesantren) sepanjang sejarah pendidikan Islam di Indonesia.

Khusus untuk daerah Minangkabau, Provinsi Sumatera Barat, upaya itu tampak jelas sejak dari mula pendiriannya oleh ulama di nagari dan masyarakat selingkarannya. Demikian pula dengan pengembangan madrasah-madrasah itu, sejak dari surau, mulai dari wirid ke madrasah, sampai ke perguruan tinggi, selalu dengan perlibatan dan pemberdayaan semua potensi masyarakat, sejak dari kampong sampai ke rantau.

Usaha-usaha terpadu ini, telah melahirkan berbagai tingkat pendidikan, sejak dari tingkat awaliyah, ibtidaiyah, tsanawiyah, ‘aliyah, hingga ketingkat kulliyah. Hasilnya, hingga saat ini, kita temui sebagai upaya bersama masyarakat, yang sesungguhnya sudah melalui rentang waktu yang panjang.

Selama dua abad sampai sekarang, sejak kembalinya tiga serangkai ulama zuama Minangkabau (1802), yaitu Haji Miskin di Pandai Sikek, Luhak Agam, Haji Abdur Rahman, di Piobang, Luhak Limopuluah, dan Haji Muhammad Arief, di Sumanik, Luhak nan Tuo, Tanah Datar, lazim dikenal bergelar Tuanku Lintau. Ketiga mujahid dakwah ini telah membawa penyadaran pemikiran dan memacu semangat umat mengamalkan agama Islam yang benar di dalam kehidupan beradat di Minangkabau. Jalan yang mesti ditempuh adalah menggiatkan masyarakat menuntut ilmu.

Perkembangan Intelektual Pengujung Abad ke-19

Sumatera Barat menandai satu masa perkembangan sosial dan intelektual yang deras dipengujung abad ke 19. Diawali pulangnya putra-putra Minangkabau dari menimba ilmu di Mekah.

Mereka membawa ruh pembaharuan pendidikan Islam sebagaimana digerakan Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani dari Mesir. Ruh pendidikan madrasah di Minangkabau itu, tidak dapat dilepaskan dari pelajaran-pelajaran yang diberikan seorang pelopor gerakan pembaruan di Minangkabau yang banyak menyebarkan pikirannya dari Mekah pada awal abad ke-20 Beliau adalah Syekh Ahmad Khatib EL Minangkabawy (1855)[1], turunan dari seorang hakim gerakan Paderi yang sangat anti penjajahan Belanda. [2]

Di samping itu ada seorang pembaru yang tidak dapat dilupakan, walau lebih dikenal di tanah serantau, yaitu Syekh Taher Djalaluddin (1869-1956)[3]. Syekh Taher Djalaluddin terbilang seorang tertua dan pelopor ajaran Ahmad Khatib di Minangkabau dan di tanah Melayu. Dia juga adalah guru kalangan pembaru Minangkabau. Pengaruhnya tersebar pada murid-muridnya melalui majalah Al-Imam dan melalui sekolah yang didirikannya di Singapura bersama Raja Ali Haji bin Ahmad pada tahun 1908. Sekolah yang bernama Al-Iqbal al-Islamiyah, menjadi model Sekolah Adabiyah yang didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad di Padang pada tahun 1908.

Ulama-ulama Minangkabau itu, di antaranya Muhammad Djamil Djambek atau Inyik Djambek (1860-1947)[4], M. Thaib Umar di Sungayang (1874-1920), Haji Abdul Karim Amarullah atau Inyik Rasul (1879-1945)[5], Haji Abdullah Ahmad (1878 – 1933)[6], dan Syekh Ibrahim Musa[7]. Mereka menyebarkan peranannya dalam mendirikan lembaga pendidikan Islam yang bersifat modern.

Nafas yang ditiupkan oleh ruh dakwah pendidikan membawa satu perubahan besar dan signifikan di masanya. Para ulama suluah bendang di nagari memasuki era baru. Mereka menjadi kelompok pembaru di sisi ehidupan sosial masyarakat. Di antaranya Zainuddin Labai al-Yunusi (1890- 1934)[8] di Padangpanjang.  

Madrasah dan Surau Mengawal Ruhul Islam

Umumnya para murid bekas ulama-ulama tersebut kemudian menjadi pelopor pembaruan pemikiran Islam di Ranah Minang melalui surau. Keadaan ini bergerak terus, sesuai dinamika dan tuntutan zaman, hingga ke masa pergerakan kemerdekaan.

Madrasah telah menjadi markas pergerakan bawah tanah (silent operation) menentang kaum penjajah, sehingga berakibat semua gerak dan geliatnya selalu dicurigai oleh penguasa penjajahan semasa. Dicatat oleh sejarah bahwa benang merah yang dipunyai para pejuang adalah terpelajar, beragama yang taat dan peribadi mandiri.

Dari surau penguatan madrasah dimulai. Orientasi pendidikan ditekankan pada penanaman aqidah. Didukung dengan ilmu‑ilmu agama, pembinaan fisik, dan mental (melalui latihan silat), pelajaran kesenian dan ketrampilan. Lulusan surau ideal inilah kombinasi ulama, pejuang, jiwa seni, mandiri dan terampil.

Setelah masuknya pendidikan modern awal abad ke 20 (1929) surau berkembang dengan sistem klasikal. Contohnya Madrasah Irsyadin Naas (MIN), Perguruan Diniyah Puteri, Thawalib dan Perguruan Muhammadiyah.

Berurat ke  Hati  Masyarakat

Para pemuka masyarakat di masa itu umunya jebolan madrasah. Mereka memiliki pikiran maju rasional dan cinta tanah airnya. Sesuai bimbingan agama Islam yang diterima dari pelajaran surau dan madrasah. Para thalabah lulusan madrasah Thawalib dan pendidikan sistim surau, umumnya berkiprah di kampung halaman setelah selesai menuntut ilmu, dengan mendirikan sekolah-sekolah agama, bersama-sama dengan masyarakat, memulainya dari akar rumput.

Pemberdayaan potensi masyarakat digerakkan secara maksimal dan terpadu untuk menghidupkan pendidikan Islam. Untuk mencerdaskan umat dan menanamkan budi pekerti (akhlak Islami). Seiring pula dengan berlakunya kaedah adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, para ulama adalah tempat meminta kata putus (bamuti).[9]

Pandangan dan pemahaman para lulusan madrasah sangat nyata berbeda dengan anutan jebolan sekolah gubernemen di masa penjajahan. Maka tidak jarang terjadi di masa itu, ada pandanagan dan anggapan pemisah antara kaum ulama (santri, urang siak, mualim, urang surau) yang bersekolah di madrasah dengan kalangan ambtenaren berdasi berpentalon.

Perbedaan tajam itu, berakibat kepada perlakuan pemerintah masa itu, dalam melihat dan menilai madrasah, sebagai lembaga pendidikan kelas dua, bahkan terkesan berlawanan dengan pihak pemerintah. 

Di masa perjalanan kemerdekaan, dan pembangunan sentralistik madrasah mengalami pembedahan-pembedahan pula pada tubuhnya.

Dekat Mendekati

Pada dua decade 1970 pemerintah mulai membuka akses lebih besar ke dunia pendidikan madrasah Islam, dengan mulai melakukan rekonsiliasi dengan Islam melalui dekat mendekati dan penyesuaian penyesuaian (rapprochement). Terjadi penyeragaman. Ciri khas dari Madrasah mulai tiada.

Konsekwensinya, pendidikan dan program madrasah disejajarkan dan bergayut kepada pemerintah, maka akibat yang terasa adalah kurangnya kemandirian perguruan madrasah dinagari-nagari dan dampak negatifnya potensi masyarakat melemah.

Padahal pada awal keberadaan madrasah itu, sejak abad 18 sebagai kita sebut di atas para ulama penggagas dan pengasuh madrasah memiliki jalinan hubungan yang kuat dengan masyarakat. Ada suatu hubungan saling menguntungkan (symbiotic relationship). Sehingga madrasah menjadi kekuatan perlawanan membisu (silent opposition) dan respon pemimpin serta komunitas Muslim terhadap penjajahan.

Merosotnya peran kelembagaan pendidikan madrasah di Minangkabau dalam bentuk surau, telah mendorong pengasuh untuk mengadopsi sistim pendidikan seperti perguruan tradisional di Jawa.

Akibatnya, pemeranan masyarakat dan lingkungan di dalam menghidupkan kembali ruh pendidikan madrasah, khususnya dalam bidang dana dan daya (tenaga pengajar) menjadi kurang.

Madrasah hanya dapat hidup dengan dukungan pemilik badan pengasuh madrasah, serta pendapatan-pendapatan madrasah itu sendiri. Keadaan ini menjadi lebih berat, ketika madrasah menjadi anak tiri pemerintah seperti di masa lalu.

Ironisnya masyarakat lingkungan tidak pula mengaggap madrasah sebagai anak kandungnya lagi.

Sering terjadi madrasah lahir dan tumbuh sebagai anak yatim di lingkungan masyarakat yang melahirkan madrasah itu.

Peran serta masyarakat mesti ditumbuhkan kembali di dalam peningkatan manajemen pendidikan yang lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi, sehingga sumber finansial masyarakat dipertanggung jawabkan lebih efisien dan kualitas pendidikan – quality oriented – yang mendorong madrasah menjadi lembaga center of excellence.

Tantangan kesejagatan yang deras kini berupa materialistis, sekularistis, hedonistic dan hilangnya budaya luhur, menuntut agar Madrasah dapat menghasilkan anak didik berparadigma ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama plus keterampilan. Konsekwensinya sistim pendidikan Islam tidak boleh terpisah. Mesti menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Muslim keseluruhan.

Perlu penerapan nilai-nilai agama dan ibadah.

Penguatan perilaku beradat.

Pengintegrasian iptek, imtaq dan akhlaq.

Melalui pengembangan ini madrasah akan menjadi pusat membangun sahsiah generasi dengan sifat-sifat ruhaniah yang halus, dan sifat-sifat akhlaq yang mulia.

Secara ideal, peran madrasah adalah perwujudan dari tujuan pendidikan nasional yang “Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab, serta berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. (UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional).

Dengan terjaganya ruh dakwah dan pendidikan, maka madrasah akan lebih mudah mencapai sasarannya. Membuat anak didik menjadi terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated ditengah masyarakatnya. Inilah hakikat dari dakwah bil hal.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Pendidikan dan peran dakwah

Peran da’wah di Minangkabau adalah menyadarkan umat akan peran  membentuk diri mereka sendiri, إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ  “Sesungguhnya Allah tidak akan merobah nasib satu kaum, hingga kaum itu sendiri yang berusaha merobah sikap mereka sendiri.”

Dalam kenyataan social dalam kehidupan anak nagari wajib diakui keberadaan mereka dengan menjunjung tinggi puncak-puncak kebudayaan mereka, menyadari potensi besar yang dimiliki akan mendorong kepada satu bentuk kehidupan bertanggung jawab.

Inilah tuntutan terhadap Da’wah Ilallah, yakni seruan kepada Islam — agama yang diberikan Khaliq untuk manusia –, yang penyiarannya dilanjutkan oleh da’wah, untuk kesejahteraan hidup manusia. Risalah merintis, da’wah dan pendidikan melanjutkan

Kewajiban Membangun Generasi Penyumbang (innovator)

        UUD 1945 meletakkan kewajibkan kepada Pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistim pendidikan Nasional yang meningkatkan Keimanan dan Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian ada kewajiban membentuk generasi penyumbang dalam bidang pemikiran (aqliyah), ataupun pembaharuan (inovator) harus menjadi sasaran perioritas.[10]

          Keberhasilan akan selalu ditentukan oleh adanya keunggulan pada institusi di bidang pendidikan. Pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan dengan kemampuan dan pemahaman mengidentifikasi masalah yang dihadapi. Seterusnya, mengarah kepada kaderisasi diiringi oleh penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada. Generasi baru yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Kekuatan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi penerus harus taat hukum. Upaya ini dilakukan dengan memulai dari lembaga pendidikan (madrasah), masyarakat lingkungan, keluarga dan rumah tangga. Memungsikan peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif. Memperkaya warisan budaya dengan menanamkan sikap setia, cinta dan rasa tanggung jawab, sehingga patah tumbuh hilang berganti.

Menanamkan aqidah shahih (tauhid) dengan istiqamah pada agama Islam yang dianut. Menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur. Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, niscaya yang akan lahir saintis tak bermoral agama. Kesudahannya, ilmu banyak dengan iman yang tipis, berujung dengan sedikit kepedulian di tengah bermasyarakat.

Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus didalam membentuk SDM, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu dirancang kualita pendidik (murabbi) yang sejak awal mendapatkan pembinaan terpadu. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik, dan bukan utopis.

Membentuk Sumber Daya Manusia  berkualitas

Kita berkewajiban membentuk SDM menjadi sumber daya umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong”, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas.

Beberapa model dapat dikembangkan. Pemurnian wawasan fikir disertai  kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan. Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi serta menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur. 

“Nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Intensif menjauhi kehidupan materialistis, sebagai upaya menghadapi tantangan global.  dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Para pendidik (murabbi) adalah bagian dari suluah bendang dengan uswah hidup mempunyai sahsiah[11] (شخصية) bermakna pribadi yang melukiskan sifat individu mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan,  budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak akan mampu menghadirkan kesan positif masyarakat Nagari.

Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap perilaku anak didik yang mencerminkan  watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang.[12]

Ciri kepribadian syarak yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat,

1.      Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup ;

a.      keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna,

b.     keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan

c.       kepercayaan kepada seluruh asas keimanan (arkan al iman).

2.      Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku;

a.  Benar, jujur, menepati janji dan amanah.

b. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan,

c.   Tawadhu’, sabar, tabah dan cekatan,

d. Lapang dada – hilm –, pemaaf dan toleransi.

e.  Bersikap ramah, pemurah, zuhud dan berani bertindak.

3.    Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi,

  3.1. Sikap Mental,

a.      Cerdas, pintar, menguasai spesialisasi (takhassus),

b.     Mencintai bidang akliah yang sehat, fasih,  bijak.

c.       Mengenali ciri, watak, kecenderungan masyarakat.

3.2. Sifat Kejiwaan,

a.      emosi terkendali, optimis hidup, harap kepada Allah,

b.     Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat.

c.       Lemah lembut, baik dalam pergaulan dengan masyarakat.

3.3. Sifat Fisik,

a.      mencakup sehat tubuh,

b.     berpembawaan menarik, bersih,

c.       rapi (kemas) dan menyejukkan.

Senarai panjang menerangkan sikap pendidik berkelakuan baik, penyayang dan penyabar, berdisiplin baik, adil menerapkan aturan.

Mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah. Murabbi dapat mewujudkan delapan tanggung jawab dalam hidup;

1)      Tanggungjawab terhadap Allah, dengan keyakinan iman dan kukuh ibadah istiqamah, beramal soleh dengan khusyuk dalam mencapai derajat taqwa dan mengagungkan syiar Islam dengan perilaku beradat dan beradab.

2)      Tanggungjawab terhadap Diri, mengupayakan keselamatan diri sendiri, baik aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih dan mampu berkhidmat kepada Allah, masyarakat dan negara.

3)      Tanggungjawab terhadap Ilmu, menguasai ilmu secara mendalam dan menelusuri dimensi spiritualitas Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan untuk tujuan kemanusiaan dan kesejahteraan umat manusia.

4)      Tanggungjawab terhadap Profesi, tidak bertingkah menghilangkan kepercayaan orang ramai dan dapat memelihara maruah dengan amanah.

5)      Tanggungjawab terhadap Nagari, mengutamakan keselamatan anak Nagari dan memfungsikan lembaga-lembaga pendidikan (surau) dengan ikhlas.

6)      Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari mencemarkan sejawat dan berusaha sepenuh hati mengedepankan kemajuan social karena Allah.

7)      Tanggungjawab terhadap Masyarakat dan Negara, tidak mengabaikan kepentingan masyarakat atau negara dan selalu menjaga syari’at Allah.

8)      Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa, dengan menghormati tanggungjawab utama ibu bapa dengan mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

 

Kesimpulannya,

1.      Ruh pendidikan madrasah afalah aqidah tauhid dan akhlaqul karimah. Pemetaannya  akan berhasil di lapangan pendidikan dengan kesepakatan pelaksana-pelaksananya. Perlu digalang saling pengertian, koordinasi sesame, mempertajam faktor-faktor pendukung, membuka pintu dialog persaudaraan.

2.      Ukuran madrasah berkualitas adalah kemampuan menampilkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan gerak amal nyata yang terus menerus, dibuktikan dalam seluruh aktivitas kehidupan, dengan kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, mengajak (da’wah), merapatkan potensi barisan dalam mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama, sehingga berbuah pengamalan agama yang mendunia.

3.      Setiap generasi Muslim yang ditempa di Madrasah mampu mengamalkan nilai-nilai Al Qur’an, dan wajib mengemban missi yang berat dan mulia, yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran. Inilah yang harus selamanya dijaga menjadi ruh dari pembinaan madrasah.

4.      Pembinaan Madrasah berkualitas dan mandiri berkehendak kepada gerak yang kontinyu, utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin diraih dengan kerja sambilan. Karena buah yang dipetik adalah sesuai dengan bibit yang ditanam, sesuai natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami).

5.      Madrasah adalah perangkat seutuhnya menuju kepada kemajuan. Di tengah tantangan berjibun ini, kerjakan sekarang mana yang dapat, mulailah dengan apa yang ada, karena yang ada itu sebenarnya sudah amat cukup untuk memulai. Tumbuhkan kesadaran keumatan yang kolektif. Setiap Muslim harus memulai melakukan perbaikan (ishlah) di bidang Da’wah dan Pendidikan. Kerja ini tidak akan pernah berhenti, dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang selalu berubah. Tujuan harus tetap menuju redha Allah. Inilah ruhnya Madrasah.

 

Wabillahitaufiq wal hidayah,

Padang, 25 Jumadil Akhir 1429 H / 29 Juni 2008 M.

 

 

 

 

 

  



Catatan Akhir :

 

[1] Ahmad Khatib dilahirkan di Bukittinggi, pada tahun 1855, oleh ibu bernama Limbak Urai, saudara dari Muhammad Shaleh Datuk Bagindo, Laras, Kepala Nagari Ampek Angkek berasal dari Koto Tuo Balaigurah, Kecamatan Ampek Angkek Candung. Ayahnya adalah Abdullatief Khatib Nagari, saudara dari Datuk Rangkayo Mangkuto, Laras, Kepala Nagari Kotogadang, Kecamatan IV Koto, di seberang ngarai Bukittinggi. Ahmad Khatib anak terpandang, dari keluarga berlatar belakang agama dan adat yang kuat, generasi pejuang Paderi, dari keluarga Pakih Saghir dan Tuanku nan Tuo.

[2]  Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942,Jakarta, LP3ES, 1980, hal.38 

[3] Pada masa mudanya dia dipanggil Muhammad Taher bin Syekh Muhamad, lahir di Ampek Angkek tahun 1869, anak dari Syekh Cangking, cucu dari Faqih Saghir yang bergelar Syekh Djalaluddin Ahmad Tuanku Sami’, pelopor kembali ke ajaran syariat bersama Tuanku Nan Tuo. Mata rantai para ulama ini pada hakikatnya ikut menjadi pengawal ruh dakwah pendidikan di madrasah-madrasah di Minangkabau, Sumatera Barat di zamannya. Mulai tahun 1900, Syekh Taher Djalaluddin menetap di Malaya, dan diangkat menjadi Mufti Kerajaan Perak. Eratnya hubungan Syekh Taher Djalaluddin dengan Al-Azhar di Kairo, maka dia menambahkan al-Azhari di belakang namanya.

[4] Syekh Djamil Djambek dilahirkan di Bukittinggi pada tahun 1860 , anak dari Muhammad Saleh Datuk Maleka, Kepala Nagari Kurai. Ibunya berasal dari Betawi. Syekh Djamil Djambek meninggal  tahun 1947 di Bukittinggi.

[5]  Haji Rasul lahir di Sungai Batang, Maninjau, tahun 1879, anak seorang ulama Syekh Muhammad Amarullah gelar Tuanku Kisai. Pada 1894, pergi ke Mekah, belajar selama 7 tahun. Sekembali dari Mekah, diberi gelar Tuanku Syekh Nan Mudo. Kemudian kembali bermukim di Mekah sampai tahun 1906, memberi pelajaran di Mekah, di antara murid-muridnya termasuk Ibrahim Musa dari Parabek, yang menjadi seorang pendukung terpenting dari pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau. Haji Rasul meninggal di jakarta 2 Juni 1945

[6]  Haji Abdullah Ahmad lahir di Padang Panjang pada tahun 1878, anak dari Haji Ahmad, seorang ulama dan pedagang. Ibunya berasal dari Bengkulu, masih trah dari pengikut pejuang Sentot Ali Basyah. Untuk mengetahui biografi menarik lebih lanjut tentang tokoh-tokoh ini, lihat Tamar Djaja, Pustaka Indonesia: Riwayat Hidup Orang-Orang Besar Tanah Air. Bulan Bintang Jakarta, 1966.

[7] Syekh Ibrahim Musa dilahirkan di Parabek, Bukittinggi pada tahun 1882. Setelah belajar pada beberapa perguruan, pada umur 18 tahun ia berangkat ke Mekah dan belajar di negeri itu selama 8 tahun. Ia kembali ke Minangkabau pada tahun 1909 dan  mulai mengajar pada tahun 1912. kemudian ia berangkat lagi ke Mekah pada tahun berikutnya dan kembali pada tahun 1915. Saat itu ia telah mendapat gelar Syekh Ibrahim Musa atau Inyiak Parabek sebagai pengakuan tentang agama. Syekh Ibrahim Musa tetap diterima oleh golongan tradisi, walaupun ia membantu gerakan pembaruan. Ia menjadi anggota dua organisasi Kaum Muda dan kaum Tua, yaitu Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) dan Ittihadul Ulama.

[8] Zainuddin Labai al-Yunusi lahir di Bukit Surungan Padang Panjang pada tahun 1890. Ayahnya bernama Syekh Muhammad Yunus. Zainuddin Labai adalah seorang auto-didact, yang mempelajari ilmu dan agama dengan tenaga sendiri. Pengetahuannya banyak diperolehnya dengan membaca dan kemampuan dalam bahasa-bahasa Inggris, Belanda dan Arab yang dikuasainya. Koleksi bukunya meliputi buku-buku bermacam bidang seperti aljabar, ilmu bumi, kimia dan agama. Enam tahun membantu Syekh Haji Abbas, seorang ulama di Padang Japang, Payakumbuh dalam bidang kegiatan praktis. Dalam tahun 1913, Zainuddin memilih Padang Panjang sebagai tempat tinggalnya. Ia memulai mengajar di Surau Jembatan Besi, bersama Rasul dan  Haji Abdullah Ahmad. Zainuddin Labai termasuk seorang yang mula-mula mempergunakan sistem kelas dengan kurikulum teratur yang mencakup pengetahun umum seperti bahasa, matematika, sejarah, ilmu bumi di samping pelajaran agama. Ia pun mengorganisir sebuah klub musik untuk murid-muridnya, yang pada saat itu kurang diminati oleh kalangan kaum agama. Ia seorang yang produktif dalam menulis buku teks tentang fikh dan tatabahasa Arab untuk sekolahnya. Ia memimpin majalah Al-Munir di Padang Panjang. Zainuddin Labai adalah seorang termuda di antara tokoh pembaru pemikiran Islam  di Minangkabau. Ia termasuk seorang anggota pengurus Thawalib dan mendirikan pula perkumpulan Diniyah pada tahun 1922 dengan tujuan bersama-sama membina kemajuan sekolah itu.

[9] Semuanya didorong oleh pengamalan Firman Allah, 

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَولأ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

  Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.QS.IX, at Taubah, ayat 122.   

[10] QS.3:139 menyiratkan optimisme besar untuk penguasaan masa depan. Masa depan – al akhirah – ditentukan oleh aktifitas amaliyah (QS.6:135) bandingkan dengan QS.11:93 dan QS.11:121, bahwa kemuliaan (darjah) sesuai dengan sumbangan hasil usaha.

[11] Syakhshiyah didifinisikan sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psyikofisikal di dalam diri seorang yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus.  Sistem psyikofisikal merangkum segala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh, saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang (G.W Allport, dalam ”Pattern and Growth in Personality”, lihat juga, Mok Soon Sang, 1994:1).

[12] Syakhshiyah mempunyai tiga ciri keunikan dengan arti kebolehan  atau kemampuan untuk berubah dan di ubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman dan organisasi. Maka syakhshiyah bukan  sekadar himpunan tingkahlaku, tetapi melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

Pasaman Masa lalu, oleh Undri ditulis di HU Padek

Pasaman Riwayatmu Doeloe
Selasa, 24 Juni 2008
Oleh : Undri, Pusat Dokumentasi Informasi Sejarah-Budaya BPSNT Padang

Di  akhir abad ke 19 seorang  pejabat bangsa Belanda pernah menuliskan
laporan perjalanannya ke salah satu daerah Pasaman yakni Mapat Tunggul.
Dengan gaya bahasanya yang khas ala Belanda dia memulai tulisan laporan
tersebut dengan menyuguhkan  keadaan alamnya, Pada awalnya daerah
tersebut terdiri dari  bebukitan yang terbesar tidak ditumbuhi oleh
apapun selain ilalang, perbukitan lainnya ditumbuhi hutan.

Orang dapat menjumpai pohon-pohon yang berat yang tumbuh pada dasar
kemerah-merahan, akar-akarnya yang lembab menjalar menghunjam dalam ke
jantung bumi, dan memanjat batu-batu kapur serta melekat ke bebatuan
yang entah dari jenis apa ; belantara yang tidak dapat ditembus, siapa
yang hidup disana, jadi tidak ada tangan manusia yang merintangi
pekerjaan alam selama berabad-abad. Lereng-lereng bukit yang
bersemak-belukar, yang menunjukkan bahwa orang -orang disana masih belum
jauh-jauh mencari makanan mereka, begitulah laporan yang ditulis oleh
J.B.Neeumann, setelah ia menjelajahi daerah tersebut.

Mungkin sebagian kita tidak pernah mengira bahwa Pasaman khususnya Rao
pernah jadi tambang emas terbesar di daerah Sumatra Westkus pada zaman
Belanda. Dobbin menceritakan dalam karyanya Kebangkitan Islam dalam
Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, Sumatera Tengah 1784-1847.
Keuntungan yang menumpuk pada tua tambang dilukiskan pada tahun 1838
dalam hubungan dengan penggalian kecil dalam tanah luapan banjir di
dekat Rao di sebelah utara rantau Minangkabau. Ditempat ini keadaan para
pekerjanya jauh lebih baik dari pada pekerja tambang.

Orang-orang yang mencari emas atau pekerja tambang juga dianggap
memiliki kekuatan istimewa. Roh-roh yang mendiami tambang emas harus
diperlakukan dengan hati hati sekali, dan para pencari emas membentuk
suatu perserikatan dan hanya anggota perserikatan yang mengetahui
tanda-tanda rahasia emas dan bisa mengucapkan jampi-jampi yang
diperlukan untuk berhasilnya upaya penambangan.

Bendera Inggris dinaikkan di Natal pada tahun 1751 oleh para pegawai
East India Campany yang berkedudukan di Bengkulen. Dalam usaha untuk
mengalahkan pemukiman Belanda di Padang, perdagangan dinyatakan bebas
sama sekali dan perdagangan di Natal mendapat dukungan resmi dari
Madras. Pada kahir tahun 1750-an perdagangan berkembang seperti belum
pernah terjadi sebelumnya ; orang-orang Inggris bersedia membayar lebih
tinggi untuk emas Rao daripada Belanda di Padang.

Mereka juga menjual tekstilnya dengan harga lebih murah, mereka tidak
cerewet mengenai mutu kamper dan kemenyan yang mereka beli, dan mereka
menyediakan garam, mata dagangan yang sangat penting dilembah-lembah
dipedalaman tanah Batak dengan harga yang lebih murah daripada harga
Batak.

Ujung tombak serangan Minangkabau atas orang-orang Batak adalah Lembah
Rao, yang mengikuti Alahan Panjang menerima asas-asas Paderi. Rao
memiliki tradisi hubungan yang lama dengan dunia Minangkabau lainnya,
dan hasil alamnya membuat sejarah lembah itu berkembang mengikuti alur
yang serupa dengan perkembangan daerah-daerah lain di Minangkabau.

Dengan mengabaikan lembah-lembah tertentu lebih selatan, Rao merupakan
daerah pertambangan emas yang paling penting di Minangkabau sesudah
Alahan Panjang. Perdagangan emas Rao sudah dikenal  oleh
pedangan-pedagang India sejak awala abad kedua sesudah Masehi. Dan
kira-kira tahun 800 sesudah masehi orang-orang India mendirikan
pemukiman, baik dilembah maupun di bagian atas sungai Kampar yang
kemudian berkembang menjadi pangkalan hulu sungai yang khas untuk
perdagangan emas dari Rao.

Pada abad ke 18 amas Rao belum habis dan tetap melancarkan jalannya
pergadangan di Selat Malaka, karena perdagangan melalui Patapahan di
Siak. Para pengamat Inggris di selat memperkirakan bahwa yang dieksport
berjumlah besar, pada tahun 1826 Singapore Choronicle menetapkan nilai
emas Rao antara 13.000 dan 14.000 dollar Spanyol per tahun, tetapi ini
pasti berlebihan. Pedagang emas Rao juga berdagang dipantai barat,
dengan membawa emasnya ke Natal, Air Bangis, Pasaman,  bahkan sampai
jauh ke selatan ke Padang.

Tidak mengherankan, setelah Imam Bonjol menetapkan kekuasaannya di
Lembah Alahan Panjang, dia memalingkan matanya ke utara kea rah
tetangganya yang kaya. Lembah yang panjang dan sempit disebelah lembah
menampakkan kemakmuran yang cukup besar. Pada tahun 1830-an Lembah Rao
diperkirakan berpenduduk sekitar 25.000 orang, terbagi dalam dua puluh
desa besar dengan dukuhdukuh satelitnya, semua terawat apik dan
dikelilingi oleh sawah-sawah luas. Kopi juga ditanam disitu .

Sistem politiknya serupa dengan daerah pingiran Minangkabau lainnya,
tiap desa dihuni oleh sejumlah suku masing-masing dengan penghulunya,
tetapi berlawanan dengan di pedalaman Minangkabau sebuah desa induk
dengan anak huniannya juga membentuk semacam federasi dibawah seorang
Raja. Dibagian utara lembah, tempat-tempat tambang emas utama di
dekat-dekat Rao dan Padang Mantinggi adalah yang paling padat
penduduknya, dan disini desa-desa mengakui salah satu rajanya sebagai
Yang Dipertuan .

Ini rupanya ,emgikuti sistem Pagaruyung, dan Yang Dipertan Rao rupanya
juga memiliki asal-usul yang serupa dan menjalankan tugas-tugas yang
sama dengan Raja Alam di Pagaruyung dalam kaitannya dengan perdagangan
emas.

Para pemimpin masyarakat Paderi di Alahan Panjang menyadari bahwa dengan
pemilikan tambang emas Rao pasti akan memberikan dimensi ekstra pada
jaringan dagang yang sedang hendak mereka ciptakan. Sedangkan tenaga
kerja dari lembah itu akan merupakan tambahan yang sangat diharapkan.
Imam Bonjol memulai serbuannya ke Rao dengan mengawasi pembuatan jalan
yang baik ke Lubuk Sikaping, desa utama diujung selatan lembah, dan
kemudian menaklukkan dan mengalihimankan desa ini dan desa-desa lain
didekatnya.

Pada saat inilah muncul tokoh Tuanku Rao yang kabur. Tokoh Tuanku Rao
adalah tokoh yang cukup dikenal dalam sejarah Batak, tetapi kebanyakan
yang ditulis tentang dirinya didasarkan atas tradisi lisan Batak awal
abad keduapuluh dan tidak bisa dikonformasikan dalam sumber-sumber
Belanda yang kita miliki.

Tidak adanya informasi mengenai Tuanku Rao sebagian bisa dijelaskan
dengan kenyataan bahwa dia meninggal pada tahun 1833, tak lama sesudah
Belanda memasuki Rao, dan dengan demikian dia tidak mempunyai Jabatan
lain yang bisa mengundang penyelidikan Belanda mengenai
kegiatan-kegiatan awalnya. Dapat diterima bahwa Tuanku Rao adalah
seorang Batak yang dulunya dikenal sebagai Pongki na Ngolngolan, tetapi
tradisi lisan Batak yang menyatakan dia adalah keponakan raja Imam
Batak, Singamangaraja X, yang menguasai daerah Bangkara-Toba tidak bisa
dipastikan.

Barangkali garis keturunan ini diciptakan untuk menjelaskan beberapa
keungulan Tuangku Rao dalam kemiliteran, dia memang memimpin
pengikut-pengikutnya melakukan serangkaian perjalanan paksaan yang luar
biasa ke utara, langsung memasuki wilayah-wilayah orang -orang Batak
Toba, dan disini ia bertemu dan membunuh Singamangaraja X. Dengan
menganggap dia sebagai kemenakan raja yang kehilangan haknya, tradisi
Batak dapat memberikan motivasi yang masuk akal untuk serangkan meliter
ini yaitu balas dendam.

Apapun asal muasalnya, Pongki na Ngolngolan adalah seorang petualang
Batak yang pada tahap tertentu dalam kariernya tiba di Lembah Rao. Dia
menemukan seorang pelindung di sebuah desa di utara, membantu orang ini
dalam kegiatan sehari-harinya dan akhirnya pada kira-kira tahun 1808
menjadi Islam. Kemudian ia berhubungana dengan ajaran Paderi di daerah
lebih ke selatan, dan rupanya merasa bahwa dengan memperoleh
pengakuannya sebagai eksponen ajaran ini, posisinya sebagai orang luar
atau orang datang dalam masyarakat Rao akan jauh lebih baik.

Gerombolan Padri dari Rao menyeberangi bukit-bukit yang menghadang dan
mulai menyerbu ke Lembanh Mandailing Atas yang berpenduduk sedikit,
disekitar hulu Sungai Gadis. Walaupun pasti ada motivasi agama dalam
jihad ini, pertimbangan ekonomi juga memegang peranan penting.
Tambang-tambang ini terletak Keadaan yang seperti itu saat sekarang ini
jarang kita temui, walaupun ada namun dalam skala yang sangat terbatas.

Sekarang daerah tersebut telah ditumbuhi oleh berbagai macam tanaman,
mulai dari tanaman karet, sawah, kopi, sawit dan oleh beberapa kolom
ikan dan sebagainya. Begitu juga dengan masyarakatnya, terlihat
heterogen. Keheterogenan masyarakatnya kadang kala terjadi
benturan-benturan yang akhirnya menimbulkan konflik.  Realitas yang
demikian tidak dapat kita pungkiri lagi dalam kehidupan bermasyarakat.
Namun kita berharap kedepan dengan keheterogenan masyarakat Pasaman
dapat menciptakan Pasaman yang damai dan sejahtera masyarakatnya. (***)

(c) 2008 PADANG EKSPRES – Koran Nasional Dari Sumbar === E-MAIL:
redaksi@padangekspres.co.id

Bimbingan Adat dan Syarak di Minangkabau, di dalam menyikapi bencana alam… “Kembalilah kepada Allah …”

MENYIKAPI BENCANA ALAM,
MENERAPKAN HASIL-HASIL IPTEK, DAN
BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH,
INTISARI AJARAN AGAMA YANG BENAR

OLEH : H. MAS’OED ABIDIN

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي بعث في الأميين رسولا منهم يتلو عليهم آياته ويزكيهم  ويعلمهم الكتاب والحكمة وإن كانوا من قبل لفي ضلال مبين ، لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه، مخلصين له الدين ولو كره الكافرون

وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ،
وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَدَّى الأَمَانَةَ، وَ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَ نَصَحَ لِلأُمَّةِ، وَ جَاهَدَ فيِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، وَ عَلىَ آله وَصَحَابَتِهِ. وَ أَحْيِنَا اللَّهُمَّ عَلىَ سُنَّتِهِ، وَ أَمِتْنَا عَلَى مِلَّتِهِ، وَ احْشُرْنَا فيِ زُمْرَتـِهِ، مَعَ الَّذِيْنَ أَنـْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ وَ حَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا. أَمَّا بَعْدُ.

Segala puji diperuntukkan kepada Allah S.W.T.
Selawat dan salam bagi Baginda Rasulullah SAW, yang telah menerima wahyu,  untuk menjadi sumber pengajaran berbagai hikmah, meningkatkan ilmu pengetahuan dan pengamalan pada semua aspek-aspek kehidupan, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam, dengan bimbingan syari’at agama Islam.
PENGANTAR

<a href=”http://bp1.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SFTt5fK6PjI/AAAAAAAAA7I/J_qrDp-NPo8/s1600-h/DSC03761.jpg”><img style=”float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;” src=”http://bp1.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SFTt5fK6PjI/AAAAAAAAA7I/J_qrDp-NPo8/s320/DSC03761.jpg” border=”0″ alt=””id=”BLOGGER_PHOTO_ID_5212052240650092082″ /></a>

Sesungguhnya umat manusia, dengan kekayaan ilmu –- untuk melaksanakan amar ma’ruf, yakni saling membawa kepada yang makruf (baik dan terpuji), dan berlaku nahyun ‘anil munkar, yaitu mencegah dari yang munkar atau tidak baik, senyatanya dapat dengan mudah dilakukan, manakala memiliki ilmu pengetahuan –.

Di samping itu perlu ada kekayaan iman – yakni kepercayaan atau keyakinan sepenuhnya, bahwa alam serta semua isinya adalah milik Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, dan Yang Maha Esa.

Dengan kedua kekayaan ini, umat manusia akan menjadi umat yang paling beruntung (khaira ummah), sesuai QS.3,Ali Imran:110.

Umat manusia yang beragama adalah umat pilihan atau khaira ummah, dengan kesediaan menerima ajaran agama (dinul Islam), yang telah diwahyukan kepada Rasul SAW.

Ketika manusia menjadi kufur (menolak), atau sebahagian lainnya berbuat dosa (berperilaku jahat, maksiat), seketika itu pula manusia kehilangan pegangan hidup, di dalam meniti setiap perubahan.
<strong><strong>Khaira ummah menjadi identitas umat.</strong></strong>

Di antara watak (perilaku) umat pilihan itu adalah selalu istiqamah (teguh hati, setia, dan konsisten), mempunyai perangai mulia  (akhlaq karimah, sabar, hati-hati, tidak semberono, tawakkal, saling membantu, ukhuwah), dan selalu berdakwah (menyeru, mengajak umat kepada yang baik, dan amar makruf), serta teguh melarang dari yang salah, nahyun ‘anil munkar, dan beriman dengan Allah SWT.

<strong>Amar makruf, hanya bisa dilaksanakan dengan ilmu pengatahuan.</strong> Ketika manusia pertama diciptakan (Adam AS), dia dibekali dengan perangkat ilmu (QS.2:30-35), untuk dapat mengemban misi khalifah di permukaan bumi.

Demikian juga dengan nahyun ‘anil munkar, melarang dari yang salah, juga dengan ilmu pengetahuan, dengan kuatnya pengertian dan pemahaman tentang suruhan baik dan larangan dari berbuat salah (QS.3:104,114; QS.5:78-79; QS.9:71,112; QS.22:41; QS.31:17).

Amar makruf nahi munkar sesuai dengan martabat manusia.
Patokan makruf (baik, disuruh) dan munkar (salah, terlarang) di pagari oleh halal (right, benar) dan haram (wrong, salah).
Amar makruf nahi munkar, tidak diukur oleh like or dislike (suka atau tidak). Menerapkan benar dan salah di kehidupan sehari-hari, seringkali terkendala karena kurang ilmu tentang right dan wrong, kurang pengetahuan tentang suruhan dan larangan, dan kebiasaan, terbiasa dan terasa ringan meninggalkan ajaran agama, atau tidak teguh pendirian (tidak istiqamah) menjalankan right dan wrong di dalam tata kehidupan.

Bila di dalami ayat pertama turun adalah (Iqra’, artinya baca) QS. 96, Al ‘Alaq 1-5, maka membaca dan menulis, adalah “jendela ilmu pengetahuan”.
Melalui jendela ilmu ini, manusia akan memacu diri meraih pengetahuan, sehingga dengan pasti, walaupun pelan-pelan, manusia akan mengetahui seuatu, yang sebelumnya dia tidak tahu (‘allamal-insana maa lam ya’lam).

Ilham dan ilmu belum berakhir.
Wahyu Allah memberi dorongan kepada manusia untuk memperdalam pemahaman, sehingga mampu membaca setiap perubahan zaman dan pergantian masa.

MANFAATKAN ILMU PENGETAHUAN 

Keistimewaan ilmu, dapat mengetahui tanda-tanda yang tersimpan (mutasyabihat) yang sebelumnya hanya menjadi pengetahuan Allah SWT.
Melalui penelitian dan penganalisaan, seorang ilmuan akan dapart mendalami satu fenomena ke fenomena lainnya dari alam.

<a href=”http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SFTt50_bl2I/AAAAAAAAA7Y/wKafiNXrxKA/s1600-h/DSC03763.jpg”><img style=”float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;” src=”http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SFTt50_bl2I/AAAAAAAAA7Y/wKafiNXrxKA/s320/DSC03763.jpg” border=”0″ alt=””id=”BLOGGER_PHOTO_ID_5212052246507525986″ /></a>

Makin dalam penguasaan ilmu seseorang, makin mudah mengakui bahwa alam semesta yang luas ini milik Allah.
Karena itu, mereka selalu berdoa dan mohonkan ampun, mempunyai sikap sabar dan teguh hati.  

Di atas orang berilmu, masih ada Yang Maha Tahu.
Disebabkan pengetahuan itu, maka orang berilmu senantiasa menyandarkan pengetahuannya kepada kekuasaan Yang Maha Kuasa, dan Allah SWT akan mengangkat derajat mereka yang berilmu. 

Artinya, para ilmuan dengan ilmu yang dimilikinya, akan menjadi rujukan, bagi orang banyak. 
Para ilmuan, menjadi tempat bertanya bagi masyarakat awam.  

Ajaran agama melarang untuk mengikuti kabar burung, atau dugaan-dugaan, tanpa dasar ilmu yang kuat.  

Semestinya setiap orang, memohon kepada Allah agar ilmu bertambah (QS.20:114), pahamilah  bahwa hanyalah orang-orang berilmu yang bisa mengerti (QS.29:43),
dan yang punya rasa  takut kepada Tuhan hanyalah orang-orang berilmu (QS.35:28).

Karena itu pula, Allah SWT akan meninggikan posisi orang-orang yang beriman dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa tingkatan (QS.58:11).

PADUKAN IPTEK DENGAN IMAN DAN TAQWA

Teknologi adalah suatu keterampilan, hasil dari ilmu pengetahuan berkenaan dengan teknik, serba mesin, digital dan wireless itu.

Teknologi tidak berarti sama sekali, apabila manusia di belakang teknologi itu tidak berfungsi, tidak berperan dan mati.
Sebelum teknologi dihidupkan, wajib lebih dahulu menghidupkan dhamir pengendali teknologi itu, dengan cerdas intelektual, cerdas emosi, cerdas spiritual, dan cerdas social.
<a href=”http://bp1.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SFTt6DIr3eI/AAAAAAAAA7g/wR7g99Ld9R0/s1600-h/DSC03766.jpg”><img style=”float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;” src=”http://bp1.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SFTt6DIr3eI/AAAAAAAAA7g/wR7g99Ld9R0/s320/DSC03766.jpg” border=”0″ alt=””id=”BLOGGER_PHOTO_ID_5212052250304437730″ /></a>

Kecerdasan akan membawa manusia mudah menggunakan perangkat teknologi, yang dengan itu manusia akan beroleh manfaat besar di dalam kehidupannya.
Teknologi tanpa dhamir manusia yang cerdas, akan merusak martabat kehidupan manusia itu.

Pemilik ilmu pengetahuan dan pengguna teknologi mestinya mampu mencipta tanpa merusak harkat manusia melalui produk hasil ciptaan teknologi tersebut.

Di sini sebenarnya arti penerapan Iptek dari sudut pandang agama Islam. Iptek menjadi musuh kemanusian, bila hasilnya menghancurkan derajat manusia.

Semestinya iptek dalam pemanfaatannya berperan meningkatkan harkat kemanusiaan, yang senyatanya hidup dengan memiliki keyakinan (iman), dan dengan penyerahan diri (tawakkal) kepada Allah SWT, Yang Maha Menjadikan alam semesta ini.

Maka, perlu ada saringan dalam menggunakan iptek itu.
Saringannya, tiada lain adalah agama, akal budi, dan di Minangkabau adalah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
MANUSIA TIDAK TAHU APA YANG AKAN TERJADI

Allah SWT tidak memberi tahu tentang bila kiamat tiba, kapan tetes pertama hujan turun, tentang kandungan ibu dan kelahiran, tentang yang akan terjadi sebentar lagi, tidak juga di mana tempatnya seorang akan mati. 
Tidak juga tentang rahasia roh, yang disandang manusia dalam hidupnya. 
Kecuali hanya tanda-tanda yang dapat dipahami dan dibaca oleh orang berilmu.

Ayat ini bermakna, bahwa manusia tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi, dan apa yang akan dialami besok, atau apa-apa yang akan diperolehnya sebentar lagi.
Ketidak tahuan manusia ini, menjadikan manusia aktif dan selalu berupaya untuk melindungi diri, sebagai satu kewajiban hakiki, yakni berusaha dan berharap.

Tidaklah seorang manusia mengetahui kapan kematiannya datang menjelang. 
Konsekwensi dari ketidak tahuan ini, manusia diperintah untuk bersiap diri setiap waktu.

Kehidupan dunia seakan sebuah pentas permainan, jika sudah selesai, panggungnya akan bubar dan ditinggalkan.
<strong><strong>SELALU BERMOHON KEPADA ALLAH</strong></strong>

Sebenarnya umat manusia, dengan mengamalkan wahyu Allah, akan memiliki identitas ciri, sibghah), dan kekuataan (quwwah), dengan menguasai ilmu pengetahuan informasi) serta berserah diri (tawakkal) kepada Allah Maha Khaliq.

Manusia dengan sibghah dan iman yang kokoh itu akan mempunyai dorongan (innovasi), memiliki daya saing, imaginasi, kreatif, inisiatif, teguh prinsip (istiqamah, consern), dengan berfikir objektif, mempunyai akal budi, mampu menyelamatkan diri, keluarga serta masyarakatnya. 

Musibah selalu disebabkan kesalahan sendiri
Kekalahan dapat datang kepada kelompok yang sebelumnya pernah menang, pernah berjaya, namun kerena kelalaian juga musibah datang menimpa.

Musibah adalah ujian atau cobaan yang datang dari Allah semata  (QS.2,Al Baqarah:155).

<strong><strong>Cobaan datang dari Allah.</strong></strong> 

Keyakinan mendasar ini, adalah konsekwensi logis dari iman kepada kekuasaan Allah semata.
Cobaan itu, mengingatkan manusia, bahwa alam ini adalah milik-Nya.

Manusia mesti hidup dengan berbekal sabar dan tawakkal, sebagai satu bentuk dari kecerdasan intelektual yang melahirkan kecerdasan emosional dengan basic kecerdasan spiritual, di ujungnya melahirkan kecerdasan social, dengan saling membantu, solidaritas sesama, dan tidak mau mencelakan di dalam tata kehidupannya.

Menghadapi musibah dengan sikap sabar, yang dinyatakan dengan pengakuan bahwa semata kita akan kembali kepada-Nya jua (QS.Al Baqarah : 156). 
Pengakuan ini berarti, bahwa sesungguhnya diri, harta, alam kita, adalah milik Allah semata, dan kepada-Nya-lah kita akan kembali.

Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah), yang disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil, bencana alam dan sebagainya.
Walau ada sebagian manusia, yang memungkiri akan kekuasaan Allah , tentulah mereka akan menyesal kelak kemudian hari.

JANGAN SOMBONG DAN JAUHI PERBUATAN MAKSIYAT 

Umat manusia diberi kemuliaan oleh Allah SWT untuk menjaga, mengolah bumi, ini berarti bahwa perilaku manusia berkaitan erat dengan apa yang tampil di bumi. 

Betapa indahnya pernyataan Khalik Yang Maha Menjadikan, tentang kesiapan umat manusia untuk hidup di atas permukaan bumi, dipersiapkan sebagai makhluk utama, memiliki segala kelebihan.
Secara fisik, tubuhnya lengkap, kuat, cantik, penuh gaya.

Spiritnya (jiwanya) disempurnakan dengan akal, pikiran, dan punya keinginan,  kecerdasan (inteligensia),  rasa (emosional), memiliki dorongan kehendak (nafsu), guna meraih dan mewujudkan segala yang diingininya.
Manusia dianugerahi kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan kecerdasan social, yang dengannya mampu menjadi umat yang memiliki keseimbangan (ummatan wasathan).

Alampun dijadikan bersahabat dengan manusia, dan dijadikan untuk sebesar-besar  manfaat  bagi hidup manusia. Laut dan darat adalah ladang kehidupan manusia turun temurun.

Di sana, manusia dapat berkiprah, mengolah alam selama hayatnya, patah tumbuh hilang berganti, dari generasi ke generasi, membangun dan merombak ke arah yang lebih baik, menjalankan reformasi dalam bimbingan Tuhan, artinya tidak satu kewajibanpun boleh ditinggal dalam memenuhi suatu kewajiban lain.

<a href=”http://bp1.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SFTt5k5FJJI/AAAAAAAAA7Q/luKKVZsnvLM/s1600-h/DSC03776.jpg”><img style=”float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;” src=”http://bp1.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SFTt5k5FJJI/AAAAAAAAA7Q/luKKVZsnvLM/s320/DSC03776.jpg” border=”0″ alt=””id=”BLOGGER_PHOTO_ID_5212052242185921682″ /></a>

Manusia diminta untuk senantiasa akrab dan  menjaga fungsi alam, tidak boleh membuat kerusakan di permukaan bumi, agar bencana tidak dating menimpa.
Alam difungsikan untuk menjaga keberadaan manusia, memberikan keselamatan terhadap kehidupan itu sendiri.

Demikianlah satu siklus hidup yang aman dan menjanjikan kesejahteraan sepanjang masa. Bumi akan diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang baik-baik (shaleh).
<strong><strong>Bimbingan Adat Budaya Minangkabau</strong></strong>

Pelaksanaan adat di Minangkabau berisi keyakinan sahih (Islam), menanam rasa malu (haya’), menjaga keseimbangan raso di bao naik pareso di bao turun, kuat iman kepada Allah, yakin kepada hari akhirat, mengenal hidup akan mati, berbenteng kepada akidah (tauhid), dimulai dari rumah tangga dan lingkungan (surau) kemudian bergerak lebih luas mencerdaskan umat, sesuai pantun adat di Minangkabau,

“Indak nan merah pado kundi, indak nan bulek pado sago, Indak nan indah pado budi, indak nan indah pado baso”,

“Anak ikan dimakan ikan, gadang di tabek anak tanggiri, ameh bukan pangkaik pun bukan, budi sabuah nan di haragoi”,

“Dulang ameh baok ba –laia, batang bodi baok pananti, utang ameh buliah di baie, utang budi di baok mati”,

“Pucuak pauh sadang tajelo, panjuluak bungo galundi, Nak jauah silang sangketo, Pahaluih baso jo basi”,

“Anjalai tumbuah di munggu, sugi-sugi di rumpun padi, nak pandai rajin baguru, nak tinggi naiakkan budi”

Alangkah indahnya masyarakat yang hidup dalam rahmat kekeluargaan dan kekerabatan dengan benteng akidah yang kuat, berusaha di dunia fana dan berbekai amal  shaleh kealam baqa. 

Masyarakatnya hidup makmur, dengan minat seni yang indah. Ada perpaduan ilmu rancang, seni ukir, budaya, material, mutu, keyakinan agama yang menjadi dasar rancang bangun berkualitas punya dasar social, cita-cita keperibadian, masyarakat dan idea ekonomi yang tidak mementingkan nafsi-nafsi, tapi memperhatikan pula ibnusabil (musafir, anak dagang lalu) dan anak kemenakan di korong kampung, “nan elok di pakai, nan buruak di buang, usang-usang di pabaharui, lapuak-lapuak di kajangi”, maknanya sangat selektif dan moderat.

“Rumah gadang basandi batu,
atok ijuak dindiang ba ukie,
cando bintangnyo bakilatan,
Tunggak gaharu lantai candano,
taralinyo gadiang balariak,
Bubungan burak katabang,
paran gambaran ula ngiang,
Bagaluik rupo ukie Cino,
batatah jo aie ameh,
salo manyalo aie perak,
Tuturan kuro bajuntai,
anjuang batingkek ba alun-alun,
paranginan puti di sinan ,
Lumbuang baririk di halaman,
rangkiang tujuah sa jaja,
Sabuah si Bayau-bayau,
panenggang anak dagang lalu,
Sabuah si Tinjau Lauik,
panengggang anak korong kampuang,
Birawari lumbuang nan banyak,
makanan anak kamanakan”.

Nilai budaya ini mesti ditanam kembali (re-planting values) menjadikan jiwa maju dengan akal fakir sehat dan ruh hidup dengan hati dan emosi terkendali pada raso jo pareso.
Nilai budaya luhur ini mesti diturunkan (transformasi) dengan contoh amalan seharian generasi Minangkabau. 

Bila suatu ketika keseimbangan alam terganggu, maka penyebab utamanya tiada lain adalah hasil kurenah (perbuatan) tangan manusia sendiri. 
Demikian suatu sunnatullah (undang-undang baja alam) yang akan berlaku sepanjang masa, hingga kiamat datang menjelang, sebagai peringatan supaya manusia berteguh hati memelihara perannya, sebagai khalifah fil ardhi.
<a href=”http://bp2.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SFTt6TdbDmI/AAAAAAAAA7o/ykSF_hGqYFI/s1600-h/DSC03768.jpg”><img style=”float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;” src=”http://bp2.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SFTt6TdbDmI/AAAAAAAAA7o/ykSF_hGqYFI/s320/DSC03768.jpg” border=”0″ alt=””id=”BLOGGER_PHOTO_ID_5212052254686383714″ /></a>

Untuk menata kehidupan ini tetap berjalan seimbang, maka Khalik ( Allah Rabbun Jalil) memberikan pedoman (hidayah) yang jelas dan terang. Berakar kepada kebenaran (haq) dari Allah  dan  berakhir dengan kebenaran dari Allah juga. Itulah ‘Aqidah Tauhid’ (keyakinan kepada kekuasaan Allah yang mutlak, Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Esa dan Maha Kuasa).

Konsekwensi dari keyakinan tauhid ini, melahirkan sikap tunduk dan taat, akhirnya menumbuhkan kesediaan menyerahkan  segala kemampuan akal dan gagasan pikiran, maupun hasil observasi dan eksperimentasi kepada kekuasaan Allah dengan pernyataan yang bersih. 
Tatkala itulah ilmu memperoleh kebenaran.

Dalam buhul aqidah tauhid inilah, seorang yang beriman mendapatkan keseimbangan hidup yang prima, sehingga bila  melihat satu bencana,  mereka yakin itu hanya sebatas ujian dari Allah, yang menuntutnya untuk bertindak lebih baik dan hati-hati di masa mendatang. Bagi manusia yang mengingkari keberadaan dirinya sebagai makhluk Tuhan, dan menutup mata hatinya terhadap kekuasaan Allah SWT, maka berlakulah ketentuan, siapa yang membutakan mata hatinya di dunia ini (dari petunjuk Allah), niscaya di akhirat nanti dia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang benar.(QS 17: 72).

Manusia seperti itu, akan merasakan azab menyiksa kehidupan, dadanya akan sesak, mengumpat kiri-kanan, limbung  kehilangan keseimbangan dalam percaturan kehidupan di atas bumi ini.

Karena itu kembalilah kepada Allah, supaya Allah senantiasa memberikan perlindungan selalu, dan marilah segera kita laksanakan berserah diri (tawakkal) kepada Allah, dengan memanfaatkan semua hasil ciptaan ilmu pengetahuan yang telah didapat oleh manusia, dan selalu berdoa, dan menjauhi semua perbuatan dosa, karena berbuat ingkar (dosa) kepada Allah, dan melakukan maksiat akan mengundang bencana. 

Membentengi diri dari bencana adalah dengan menjaga disiplin diri, memelihara akidah dan keimanan serta taqwa kepada Allah SWT. 
رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللِه بَرَكَاتهُُ

CATATAN
Ayat-ayat Alquran yang dipakai menjadi rujukan dan bertalian dengan catatan akhir

1. Firman Allah SWT di dalam Alquranul Karim Surat Ali Imran : 110, menyebut sebagai berikut ;“ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”


2. Firman Allah Surat Ali Imran : 16-17, “ (yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah beriman, Maka ampunilah segala dosa Kami dan peliharalah Kami dari siksa neraka, (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (sahur: waktu sebelum fajar menyingsing mendekati subuh.”

3. Firman Allah SWT, menyebutkan, “Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha mengetahui.” (QS.12, Yusuf:76).

4. Firman Allah dalam Alquran Surat al Anbiya’ ayat 27 dan An Nahl ayat 43, menyebutkan ; “ Bertanyalah kepada ahli ilmu kalau kamu tidak tahu,”(QS.16, An-Nahl:43, dan QS.21,al Anbiya’:7).

5. Firman Allah menyebutkan, “ Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.17, Isra’:36).

6. Sesuai Firman Allah SWT,“ Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat (saat), dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan Dia-lah mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.31:Luqman:34).

7. Firman Allah,“ dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”(QS.17, Isra’:85).

8. Sesuai Firman Allah,“ tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.., sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS.3,Ali Imran:185).

9. Firman Allah menyebutkan, ” dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal (sebelumnya) kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu masih bertanya: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.3, Ali Imran:165).

10. Firman Allah menegaskan,” dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS.2,Al Baqarah:155).

11. Firman Allah;“ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” (QS.2,Al Baqarah:156).

12. Firman Allah menyindirkan ; “.. dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim (yang menyembah kepada selain Allah) itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS.3,Ali Imran:165).

13. Firman Allah; Dan sesungguhnya Kami telah muliakan anak cucu Adam (umat manusia). Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (yakni dimudahkan kehidupan manusia baik di darat ataupun di laut), Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (Al Q.S.17, Al Isra’, ayat 70)

14. Firman Allah,“ dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur – juga dalam Taurat, dan setiap kitab suci, — sesudah (Kami tulis dan tetapkan di dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.” (QS.21,al Anbiya’:105).

15. Firman Allah, Artinya ” Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”. (QS. 30, Ar-Rum, ayat  41).

16. Firman Allah,“Wahai Allah, Rabbanaa, tidak ada satupun yang Engkau jadikan ini sia-sia” (QS 3: 190).

17. Lihat Firman Allah dalam QS.7 Al A’raf :97-102. sebagai berikut ;
97. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

98. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

99. Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

100. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki, tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya. Dan Kami kunci mati hati mereka, sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?

101. Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu (kepadaMuhammad SAW, melalui wahyu Alquran), dan sungguh telah datang kepada mereka Rasul-rasul  mereka dengan  membawa  bukti-bukti  yang nyata, Maka mereka (juga) yang tidak mau beriman kepada apa yang dahulunya, mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir.
102. Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.

18. Firman Allah; “ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.7, Al A’raf:96).

Daftar Pustaka
1.Al Quranul Karim,
2.Al-Ghazali, Majmu’ Al-Rasail, Beirut, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1986,
3.Al-Falimbangi, ‘Abd al-Samad, Siyarus-Salikin,
4.Ibn ‘Ajibah, Iqaz al-Himam,
5.Lu’Lu’wa al-Marjan, hadist-hadis riwayat Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa^i.
6.Sa’id Hawa, Tarbiyatuna Al-Ruhiyah,
7.Sahih al-Bukhari, Kitab al-Da’awat,
8.Sorokin, Pitirim, “The Basic Trends of Our Time”, New Haven, College & University Press, 1964, hal.17-18.

  
H. MAS’OED ABIDIN
bin H.Zainal Abidin bin Abdul Jabbar Imam Mudo

LAHIR  TANGGAL     : 11 Agustus 1935 di  Kotogadang, Bukittinggi,
JABATAN    : Ketua Umum FKDM Prov.Sumbar/Wk.Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar.

PENGALAMAN : Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM), Ketua Umum Badan Amil Zakat (BAZ) Provinsi Sumbar, Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Perwakilan Sumbar di Padang, Ketua MUI Sumbar Membidangi Dakwah, Sekretaris Dewan Pembina ICMI Orwil Sumbar.

ALAMAT :  Jalan Pesisir Selatan V/496 Siteba Padang (KP – 25146),
                      Tel : 0751-7052898,  Fax/Tel: 0751-7058401.

Buku yang sudah diterbitkan ;
1.Islam Dalam Pelukan Muhtadin MENTAWAI, DDII Pusat, Percetakan ABADI, Jakarta – 1997
2.Dakwah Awal Abad, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2000.
3.Problematika Dakwah Hari Ini dan Esok, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2001.
4.Suluah Bendang, Berdakwah di tengah tatanan Adat basandi syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Minangkabau, Pustaka Mimbar Minang, Padang  – 2002.
5.Pernik Pernik Ramadhan, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2002.
6.Suaru Kito, PPIM Sumbar, Padang – 2004.
7.Adat jo Syarak di Minangkabau,  PPIM Sumbar, Padang – 2004
8.Silabus Surau, PPIM Sumbar, Padang – 2004.
9.Implementasi Adat Basandi Syarak, PPIM. Padang – 2005.
10.Ensiklopedi Minangkabau, PPIM Padang, 2005.

Mailing list  :  http://www.masoedabidin.wordpress.com
                       http://www.masoedabidin@yahoogroups.com
                       http://masoedabidin.multiply.com
                       http://buyamasoedabidin.blogspot.com
 
Mail to         :  masoedabidin@yahoo.com
                   masoedabidin@hotmail.com
                   buyamasoedabidin@gmail.com

 

 

Implementasi ABS-SBK

Implementasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Bagi Masyarakat Nagari Dewasa Ini

 

Peranan ‘Musyawarat’ – asas demokrasi -,  Sebagai Dasar  Mengembangkan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

 

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumatera Barat

 

 

1.      Pengantar

Kehidupan bermasyarakat di Sumatra Barat sudah lama direkat oleh kentalnya hubungan kebersamaan (ta’awun) di dalam tataran budaya berat sepikul ringan sejinjing sebagai perwujudan nyata nilai-nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Tataran budaya sedemikian telah terbukti dalam masa sangat panjang mampu memberikan dorongan-dorongan beralasan (motivasi) bagi semua gerak perubahan (reformasi) dari satu generasi ke generasi berikut di Ranah Bundo ini. Bahkan telah pula terbukti menjadi modal sangat besar untuk meraih kemajuan di berbagai bidang pembangunan di daerah dan nagari, di dusun dan taratak. Serta memberikan sumbangan yang tidak kecil dalam mewujudkan persatuan bangsa dan kesatuan wilayah di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.

Kehidupan masyarakat Sumatra Barat kedepan di Alaf Baru ini, mesti di pacu dengan ajakan agar selalu menanam kebaikan-kebaikan yang makruf. Mesti pula dipagar rapat-rapat dengan pencegahan dari hal-hal yang merusak dan mungkara., Didalamnya ditanamkan upaya berguna yang dapat menumbuhkan harga diri dengan sikap mental mau berusaha sendiri, giat bekerja (enterprising). Yang dituju adalah masyarakat baru Sumatra Barat yang dapat menolong diri sendiri (independent) serta mampu mereposisi kondisinya dalam mengatasi kemiskinan dan ketertinggalan di berbagai bidang.

Insya Allah masyarakat kita di Sumatra Barat akan mendapatkan hak asasinya yang setara dengan kewajiban asasi yang telah ditunaikan. Sesungguhnya bimbingan aqidah kita bersendikan Kitabullah telah  mengajarkan bahwa tidak pantas bagi satu masyarakat yang hanya selalu menuntut hak tanpa dibebani keharusan menunaikan kewajiban.

Martabat satu kaum akan hilang bila yang ada hanya memiliki kewajiban-kewajiban tetapi tidak dapat menentukankan hak apa-apa. Karena itu, hak asasi manusia tidak akan pernah ujud tanpa didahului oleh kewajiban asasi manusia. Hal ini sangatlah penting ditanamkan kembali dalam upaya mambangkik batang tarandam.

Kandungan Kitabullah mewajibkan kita untuk memelihara hubungan yang langgeng dan akrab dengan karib dan daerah tetangga, sebagai kewajiban iman dan taqwa kita kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, sesuai Firman-Nya, Sembahlah Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak. Berhubungan baiklah kepada karib kerabat. Berbuat ihsan kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, dan tetangga yang hampir, tetangga yang jauh, dan teman sejawat serta terhadap orang-orang yang keputusan belanja diperjalanan (yaitu orang-orang yang berjalan dijalan Allah) dan terhadap pembantu-pembantu di rumah tanggamu. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS.4, An-Nisak ayat 36). 

Menumbuhkan harga diri, dan memperbaiki nasib secara keseluruhan dalam berbagai bidang, diyakini akan terwujud melalui ikhtiar yang terus menerus, sustainable disertai akhlak sabar tanpa kesombongan serta mampu melawan sikap mudah menyerah dan tidak mudah berputus asa. Sikap jiwa masyarakat seperti inilah yang sangat dituntut mengedepan dalam menyambut Otonomi Daerah di Sumatra Barat pada awal abad ini.

2.      Perubahan dalam kehidupan beradat

telah merambah Minangkabau.

Adat ndak dipacik arek, agamo ndak dipagang taguah. Fakta menunjukkan bahwa adat tidak berdampak banyak terhadap generasi muda. Kendala ; buku susah dicari, tempat bertanya tidak ada, banyak ninik mamak yang tidak mengerti adat, dan generasi muda di Nagari mulai kebingungan.

Solusinya “giatkan kembali ke surau menjadi pusat pendidikan anak nagari dan pembinaan karakter generasi Minang menghadapi perubahan ;

·         Terjadi krisis identitas pada generasi muda Minagkabau akibat terjadi perubahan dalam nilai – nilai adat Minangkabau tersebut.

·          Adat tidak memberi pengaruh yang terlalu banyak terhadap generasi muda Minangkabau.

  • Generasi tua tidak lagi memberikan suri teladan lagi kepada generasi muda sehingga menimbulkan sikap apatis generasi muda terhadap adat Minangkabau sendiri.
  • Solusi yang ditawarkan adalah kembali ke surau dengan cara membuat suatu pendidikan informal.

3.      Surau adalah suatu institusi yang khas

Dalam masyarakat Minangkabau.

Fungsinya bukan sekedar tempat sholat.

Juga sebagai tempat pendidikan dan tempat mendapat pengajaran bagi anak muda. Banyak tokoh-tokoh besar tanah air dan tokoh Nagari di Minangkabau lahir dari surau. Pengelolaan surau sekarang bisa dihidupkan kembali.

Esensi dan semangatnya lewat menggerakkan kebersamaan anak Nagari, yang telah lama hidup berpuak bersuku, dan menghormati perbedaan (multi cultural) itu. Firman Allah menyatakan,   Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13).

Nabi Muhammad SAW memesankan bahwa “Perbedaan ditengah-tengah umatku adalah rahmat” (Al Hadist). Dan sebuah lagi, “innaz-zaman qad istadara”, bahwa sesungguhnya zaman berubah masa berganti (Al Hadist).

Petatah petitih (kata hikmah) di Minangkabau mengungkapkan  Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Disinan api mangko hiduik”.

Kembali ke Nagari semestinya lebih dititik beratkan kepada kembali banagari.

Perubahan cepat yang sedang terjadi, apakah karena sebab derasnya gelombang arus globalisasi, atau penetrasi budaya luar (asing) telah membawa akibat bahwa perilaku masyarakat, praktek pemerintahan, pengelolaan wilayah dan asset, serta perkembangan norma dan adat istiadat di banyak nagari di Sumatera Barat mulai tertinggalkan. Perubahan perilaku tersebut tampak dari lebih mengedepannya perebutan prestise yang berbalut materialistis dan individualis.

Perilaku yang kerap tersua adalah kepentingan bersama dan masyarakat sering diabaikan, ujungnya idealisme kebudayaan Minangkabau menjadi sasaran cercaan. Indikasinya terlihat sangat pada setiap upaya pencapaian hasil kebersamaan (kolektif dan bermasyarakat) menjadi kurang diacuhkan dibanding pencapaian hasil perorangan (individual). Upaya mengantisipasinya, dapat dilakukan dalam menyiapkan Nagari berprestasi, dimulai dengan program kembali ke surau, dengan cara ;

1.      memberikan pendidikan dan pelatihan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah terutama kepada generasi muda di Nagari.

2.     memberikan penyegaran pada tokoh-tokoh masyarakat melalui pelatihan dan workshop tentang adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah.

3.     mengevaluasi struktur kelembagaan dalam Nagari 

 

Pada beberapa Nagari yang sudah berdaya, dirasakan perlu adanya dewan pendidikan nagari yang dilengkapi dengan sarana-sarana untuk memajukan anak Nagari diataranya, ada perpustakaan Nagari, sebagai bagian dari menghidupkan kembali banagari dan basurau melalui menghidupkan semangat menggalakkan kembali pendidikan dan pengajaran bagi anak muda. Pendidikan dapat dilaksanakan di berbagai tempat di lingkungan ba-korong ba-kampuang, ba-jorong atau ba-kaum.

Karena itu, kegiatan surau dikelola oleh alim ulama dan cerdik pandai yang disebut suluah bendang di dalam Nagari.

Alim Ulama di Nagari adalah bagian seutuhnya dari tali tigo sapilin, di tingkat Nagari itu.

Adanya Majelis Ulama Nagari sebagai suluah bendang adalah benteng agama di Nagari. 

Pertanyaannya adalah, apakah alim ulama suluah bendang di Nagari telah menjadi bagian dari Majelis Ulama Nagari, dan apakah Majelis Ulama Nagari itu berinduk ke MUI sebagai satu organisasi yang berjenjang sampai ke tingkat provinsi ataupun pusat? Karena, MUI adalah wadah musyawarah dari ulama dan cendekiawan muslim yang berhimpun dalam ormas-ormas Islam.

Nagari sebagai Republik-republik Kecil.

Nagari-nagari di Minangkabau telah memenuhi unsur-unsur suatu negara. Unsur-unsur Nagari adalah suku (masyarakat/rakyat), wilayah, dan penghulu (pemerintahan), serta kedaulatan (adaik salingka nagari).

Walaupun, struktur Nagari yang sebenarnya itu, sudah tidak ditemukan lagi saat ini, namun Pemerintahan Nagari, harus berupaya untuk membangun kembali struktur Nagari ini. Menghidupkan suasana berpemerintahan Nagari yang di ikat dalam satu PERDA tentang Pemerintahan Nagari mesti ditindak-lanjuti dengan ;

  • Membangun kembali masyarakat adat Minangkabau, dengan cara meminta pemerintah Nagari mengeluarkan peraturan bagi tiap suku untuk melengkapi kembali perangkat-perangkatnya.
  • Selanjutnya , yang dipilih menjadi Wali Nagari adalah yang memiliki kekuasaan sebagai penghulu adat di Nagari tersebut, dengan kualifikasi keilmuan, kejujuran, kesetiaan kepada negara, serta keahlian dalam pemerintahan.
  • Selanjutnya, melahirkan peraturan Nagari, bahwa ada kewajiban bagi para perantau satu Nagari untuk membantu mengembangkan kampung halamannya melalui sumbangan, bantuan, pemikiran dan lainnya, termasuk dalam penguatan  perangkat pemerintahan Nagari.

Perlu dipahami, bahwa sesungguhnya nagari di Minangkabau (Sumatera Barat) seakan sebuah republik kecil, ada wilayah (ulayat/pusako), ada rakyat (suku), ada pemerintahan (sako, penghulu), ada kedaulatan (adaik salingka nagari), yang memiliki sistim demokrasi murni, pemerintahan sendiri, asset sendiri, wilayah sendiri, perangkat masyarakat sendiri, sumber penghasilan sendiri, bahkan hukum dan norma-norma adat sendiri.

4.   Filosofi Hidup Nagari-nagari di Minangkabau

bersumber dari alam.

Alam takambang jadi guru dan diberi ruh oleh Islam. Konsep ABS-SBK adalah kristalisasi ajaran hukum alam yang bersumber dari Islam. Yang diperlukan sekarang adalah pemantapan dan pengamalan. Maka, prinsip-prinsip ABS-SBK harus masuk ke dalam seluruh kehidupan secara komprehensif.

Dengan perpaduan yang baik, kebudayaan Minangkabau akan berlaku universal. Langkah sekarang adalah, menjabarkan ajaran ABS-SBK, secara sistematis dan terprogram ke dalam berbagai sistem kehidupan.

Dimulai dalam pelaksanaan pemerintahan di tingkat Nagari, seperti, kebersamaan, gotong royong, sahino samalu, kekerabatan, dan penghormatan sesama, atau barek sapikue ringan sajinijing, yang menjadi kekuatan di dalam incorporated social responsibility.

Kekusutan dalam masyarakat Minangkabau, khususnya di tingkat Nagari-nagari dapat diatasi dengan komunikasi dengan generasi muda.

Persoalan prilaku harus mendapatkan porsi yang besar, selain persoalan kelembagaan. Prilaku orang Minang terutama generasi muda sangat mengkhawatirkan.

Selain lemahnya komunikasi, masalah yang muncul di Nagari adalah rapuhnya solidaritas.

Diperlukan sosialisasi nilai-nilai budaya Minangkabau.

Selanjutnya, membentuk kembali struktur masyarakat adat di Nagari-nagari.

Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pula pelajaran-pelajaran antara lain,

a)   Mengutamakan prinsip hidup seimbang. 

Ketahuilah bahwa ni’mat Allah, sangat banyak. Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS.16, An Nahl : 18).

            Hukum Islam menghendaki keseimbangan antara  perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani ; “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist).

Keseimbangan tampak jelas dalam menjaga kemakmuran di ranah ini,   “Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

            Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”  (Hadist).

b)   Kesadaran kepada luasnya bumi Allah.

Dianjurkan, jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil.


[1] Diajarkan, bahwa Allah SWT telah menjadikan bumi mudah untuk digunakan. Maka, berjalanlah di atas permukaan bumi, makanlah dari rezekiNya, kepadaNya lah tempat kamu kembali. “Maka berpencarlah kamu di atas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”.  (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

Karatau madang dihulu babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu dirumah paguno balun. Ditanamkan pentingnya kehati-hatian Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”.

c)    Mencari nafkah dengan “usaha sendiri”.

            Memiliki jati diri, self help, mandiri dengan modal tulang delapan kerat, dengan cara yang amat sederhana sekalipun, “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain ; “Kamu ambil seutas tali, dan  dengan itu kamu pergi kehutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual pencukupan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta”.  (Hadist).

              Membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalah salah. “Kefakiran (kemiskinan)  membawa orang kepada kekufuran (keingkaran)”  (Hadist).

d)   Tawakkal dan bekerja dengan tidak boros.

Kerja merupakan unsur utama produksi untuk memenuhi hak hidup, hak keluarga, dan masyarakat guna mendorong fungsi produksi dalam mengoptimalkan sumberdaya insani yang mengacu full employment.

Syarak (agama Islam) menghargai kerja sebelum menghargai produknya, sehingga aktivitas produksi yang padat karya lebih disenangi daripada padat modal, karena model ini lebih memberdayakan produsen.

Menjadi pengemis sangat dibenci. Mencari dan berproduksi selalu diiringkan dengan tawakal. Tawakkal bukan berarti “hanya menyerahkan nasib” kepada Tuhan, dengan tidak berbuat apa-apa. Menjadikan diri menunggu datangnya rezki dan takdir, tanpa mau berusaha, atau bersikap fatalis, adalah satu kesalahan besar.

Jangan kamu menadahkan tangan dan berharap, “Wahai Tuhanku, berilah aku rezeki, berilah aku rezeki”, sedang kamu tidak berikhtiar apa-apa. Langit tidak menurunkan hujan emas ataupun perak.[2]

Dan, “Bertawakkallah kamu, seperti burung itu bertawakkal”. Tak ada kebun tempat ia bertanam, tak ada pasar tempat ia berdagang. Tetapi tak kurang, setiap pagi dia terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan setiap sore dia kembali dalam keadaan “kenyang”.[3]

 

 

e)     Kesadaran kepada ruang dan waktu,

Dorongan berproduksi dan menghasilkan sesuai syarak (Islam) memiliki nilai tambah dengan adanya fungsi sosial. Produksi yang Islami lebih mempertimbangkan keperluan (needs) orang banyak, dibanding dengan mendapatkan keinginan (wants), yang menjadi kesenangan bagi orang berdaya beli kuat.

Agama Islam membangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu (space and time consciousness), kepada peredaran bumi, bulan dan matahari, yang menyebabkan pertukaran malam dan siang, dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun.

Menyia-nyiakan waktu, dengan pasti akan merugi. Maka, kehidupan mesti diisi dengan amal berguna, ” dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan ” (QS.78, An Naba’ : 10-11).

Malam itu disebut sebagai pakaian, karena malam itu gelap menutupi jagat sebagai aian menutupi tubuh manusia.

f)     Harus pandai mengendalikan diri.

 Jangan melewati batas, dan berlebihan. Jangan boros. “Wahai Bani Adam, ailah perhiasanmu, pada tiap-tiap (kamu pergi) ke masjid (melakukan ibadah); dan makanlah dan minumlah, dan jangan melampaui batas; sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS..7, Al A’raf : 31)

Kalau disimpulkan, alam di tengah-tengah mana manusia berada, tidak diciptakan dengan sia-sia. Di dalamnya terkandung faedah-faedah kekuatan, dan khasiat-khasiat yang diperlukan manusia untuk memperkembang dan mempertinggi mutu hidup jasmaninya.

Manusia diharuskan berusaha membanting tulang dan memeras otak, untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya, dan menikmatinya sambil mensyukurinya. Tuntutan syar’i (syarak mangato adaik mamakai) adalah, beribadah kepada Ilahi.

Manusia harus menjaga diri dari perbuatan yang melanggar batas-batas kepatutan dan kepantasan, agar jangan terbawa hanyut oleh materi dan hawa nafsu yang merusak. Semua ini adalah suatu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, yang menghendaki keseimbangan antara kemajuan di bidang rohani dan jasmani.

Sikap hidup (attitude towards life) yang demikian, menjadi sumber motivasi bagi kegiatan di bidang ekonomi. Tujuan terutama untuk keperluan-keperluan jasmani (material needs).  Hasil nyata tergantung kepada dalam dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa, serta tingkat kecerdasan yang dicapai, dan keadaan umum di mana mereka berada.

Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri, agar jangan melewati batas, dan berlebihan.          

“Ka lauik riak mahampeh, Ka karang rancam ma-aruih, Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh, Jiko mencancang, putuih – putuih, Lah salasai mangko-nyo sudah”.

Artinya bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada. Bila mengerjakan sesuatu tidak menyisakan kelalaian ataupun ke-engganan. Tidak berhenti sebelum sampai, dan tidak berakhir sebelum benar-benar sudah. 

5.    Nagari tumbuh dengan konsep tata ruang yang jelas.

Ba-balerong (balai adat) tempat musyawarah, ba-surau (musajik) tempat beribadah, ba-gelanggang lapangan tempat rang mudo bermain, ba-tapian tempat mandi, ba-pandam pekuburan, ba-sawah bapamatang, ba-ladang babintalak, ba-korong bakampung, sesuai dengan istilah-istilah yang lazim dan mungkin berbeda penyebutannya pada setiap nagari.

Konsep tata-ruang ini adalah salah satu asset yang sangat berharga dalam nagari dan menjadi idealisme nilai budaya di Minangkabau.

Nan lorong tanami tabu,  Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek kaparak, Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan,  Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak.

Tata ruang dalam masyarakat yang jelas itu memberikan posisi kepada peran pengatur, pemelihara dan pendukung sistim banagari.

Pemeran itu telah disepakati terdiri dari orang ampek jinih, yakni ninik mamak[5], alim ulama[6], cerdik pandai[7], urang mudo[8], bundo kanduang[9].

Dengan demikian, terlihat bahwa nagari di Minangkabau tidak hanya sebatas pengertian ulayat hukum adat namun yang lebih mengedepan dan paling utama adalah wilayah kesepakatan antar berbagai komponen masyarakat didalam nagari itu. Spiritnya adalah

a.      kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi), ditemukan dalam pepatah “Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito.”

b.      keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang) atau “Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang”. Basalang tenggang, artinya saling meringankan dengan kesediaan memberikan pinjaman atau dukungan terhadap kehidupan dan “Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an”.

c.       musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo”

d.      keimanan kepada Allah SWT sebagai pengikat spirit tersebut dengan menjiwai sunnatullah dalam setiap gerak melalui pengenalan kepada alam keliling.

“Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”.

  1. kecintaan ke nagari adalah perekat yang sudah dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman sejarah [10].

Menjaga dari pada melewati batas-batas yang patut dan pantas, jangan terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak. Suatu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, menghendaki keseimbangan antara kemajuan dibidang rohani dan jasmani. “Jiko mangaji dari alif, Jiko babilang dari aso, Jiko naiak dari janjang, Jiko turun dari tango”.

6.   Hubungan Kerabat di Minangkabau  berlangsung harmonis dan terjaga baik.

Hal tersebut terjadi karena perasaan kekeluargaan dan perasaan malu kalau tidak membina hubungan dengan keluarganya dengan baik. Seseorang akan dihargai oleh sukunya atau keluarganya apabila ia berhasil menyatu dengan kaumnya dan tidak membuat malu kaummya.

Hubungan kekerabatan masyarakat Minangkabau yang kompleks senantiasa dijaga dengan baik oleh ninik mamak dan penghulu di Nagari. Seseorang akan dianggap ada apabila ia berhasil menjadi sosok yang diperlukan di kaumnya dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kelompoknya.

Nilai-nilai ideal dalam kehidupan yang mesti dihidupkan terus dalam menata kehidupan bernagari, antara lain adalah,

1)       rasa memiliki bersama,

2)     kesadaran terhadap hak milik,

3)     kesadaran terhadap suatu ikatan,

4)     kesediaan untuk pengabdian,

5)     dampak positif dari satu ikatan perkawinan, seperti mengurangi sifat-sifat buruk turunan serta mempererat mata rantai antar kaum.

Pembangunan Nagari-nagari harus memakai pola keseimbangan dan pemerataan. Peningkatan usaha ekonomi masyarakat Nagari dipacu dengan mengkaji potensi Nagari. Pemberdayaan koperasi syariah di nagari menjadi semakin strategis untuk mendukung peningkatan produktivitas, penyediaan lapangan kerja yang lebih luas, dan peningkatan pendapatan bagi masyarakat di nagari, terutama keluarga miskin.

Dalam rangka peningkatan efektivitas penanggulangan kemiskinan dan mendukung peningkatan pendapatan masyarakat berpendapatan rendah, maka penguatan usaha koperasi diutamakan untuk mendorong pertumbuhan yang berpihak pada rakyat miskin, di nagari-nagari antaranya ;

a)      memperluas jangkauan dan kapasitas pelayanan lembaga koperasi dalam pola syariah (bagi hasil),

b)      memberdayakan kaum perempuan (bundo kanduang) sebagai pengusaha dan penghasil barang kerajinan yang laku di pasar,

c)       meningkatkan kemampuan dalam aspek manajemen dan teknis produksi anak nagari,

d)      pembinaan sentra-sentra produksi tradisional dan usaha ekonomi produktif lainnya di perdesaan dan daerah terpencil.

Koperasi anak nagari yang bergerak di bidang jasa keuangan, mirip dengan perbankan syariah dalam skala lebih kecil, dan meliputi anak nagari, atau berbasis suku di nagari sebagai anggota koperasi. Dalam pembiayaan syariah, mudharabah mempunyai implementasi spesifik, di mana ada trust financing, yang diberikan kepada usaha anggota (anak nagari) yang sudah teruji memegang amanah, dengan  kelola yang baik, sehingga terhindar dari merugikan satu dan lainnya, serta risiko dapat ditanggung bersama secara adil, oleh sesama anggota koperasi syariah, akhirnya seluruh keuntungan dan kerugian akan dibagi sesuai nilai penyertaan.

Selain kegiatan koperasi jasa keuangan, anak nagari juga diperkenankan menjalankan kegiatan pengumpulan dan penyaluran dana zakat, infak, dan sedekah termasuk wakaf dengan pengelolaan yang terpisah, untuk kepentingan pembangunan anak nagari sesuai dengan ketentuan syarak. Mungkin ada Nagari yang lebih baik ekonomi masyarakatnya (seperti, Rao-Rao, Situmbuak, Sumaniak, Limo Koum, Padang Gontiang, Lintau, Batipuah, Pandai Sikek), namun ada pula Nagari yang miskin (seperti Atar, Rambatan, Tanjuang Ameh, Saruaso, Padang Lua dan Tanjuang Alam). Pengalokasian dana hendaknya berimbang.

Kekekrabatan dapat dijaga oleh ninik mamak dan penghulu yang dihimpun dalam KAN;

a)     dibalut dengan satu sistem pandangan banagari,

b)     cinta kepada Nagari yang sama dipunyai,

c)      kegiatan pembangunan yang dipersamakan.

7.    Kembali Berpemerintahan Nagari

Semestinya kembali kenagari harus dipahami peran lembaga tungku tigo sajarangan yang tampak dalam badan musyawarah nagari dan kerapatan negari. Prinsip musyawarah adalah pondasi mendasar dan utama dari adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Kembali kenagari haruslah bermula dengan kesediaan untuk rujuk kepada hukum adat (norma yang berlaku di nagari) dan kesetiaan melaksanakan hukum positf (undang-undang negara).

Muara pertama terdapat pada supra struktur pemerintahan nagari, dimana kepala pemerintahan negari (kepala negari) akan berperan sebagai kepala pemerintahan di nagari dan juga pimpinan adat. Sebagai kepala pemerintahan terendah dinagari memiliki hirarki yang jelas dengan pemerintahan diatasnya (kecamatan atau kabupaten). Sebagai kepala adat harus berurat kebawah yakni berada ditengah komunitas dan pemahaman serta perilaku adat istiadat yang dijunjung tinggi anak nagari (adat salingka nagari). Minangkabau tetap bersatu, tetapi tidak bisa disatukan.

Muara kedua, dukungan masyarakat adat (kesepakatan tungku tigo sajarangan yang terdiri dari ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan kalangan rang mudo), dan mendapat dukungan dalam satu tatanan sistim pemerintahan (perundang-undangan).

Anak nagari sangat berkepentingan dalam merumuskan nagarinya. Konsepnya tumbuh dari akar nagari itu sendiri, bukanlah suatu pemberian dari luar. “ Lah masak padi ‘rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo, Kabek sabalik buhus sintak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo.” Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap perubahan peradaban yang tengah berlaku. Hal ini perlu dipahami supaya jangan tersua seperti kata orang “ibarat mengajar kuda memakan dedak”.

Masyarakat nagari sesungguhnya tidak terdiri dari satu keturunan (suku) saja tetapi terdiri dari beberapa suku yang pada asal muasalnya berdatangan dari berbagai daerah asal di sekeliling ranah bundo.

Sungguhpun berbeda, namun mereka dapat bersatu dalam satu kaedah hinggok mancangkam tabang basitumpu atau hinggok mencari suku dan tabang mencari ibu. Hiyu bali balanak bali, ikan panjang bali dahulu. Ibu cari dunsanak cari, induak samang cari dahulu.

Yang datang  dihargai dan masyarakat yang menanti sangat pula di hormati. Dima bumi di pijak, di  sinan langik di junjuang, di situ adaik bapakai.

Disini tampak satu bentuk perilaku duduk samo randah tagak samo tinggi, sebagai prinsip egaliter di Minangkabau.

8.    Nagari,  adalah satu sistem pemerintahan terendah, dalam struktur masyarakat Minangkabau,

Sifatnya multi dimensi dan multi fungsi. Nagari mempunyai aspek formal dan informal. Secara formal dia adalah bahagian yang integral dari pemerintahan nasional. Secara informal dia adalah unit kesatuan adat dan budaya Minangkabau.

Wilayah Nagari adalah suatu aset dalam pemerintahan Nagari. Pemerintahan Nagari harus fokus menyiasati babaliak ka Nagari sebagai suatu sistim berpemerintahan dan melaksanakan kehidupan anak Nagari dalam tatanan adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Analisis Nagari yang paling utama adalah pemerintahan. Bagaimana Nagari diatur dan dibangun.

Nagari adalah plural, bukan single, perbedaan sistem Nagari tersebut membuat setiap Nagari mempunyai dinamika tersendiri.

Dari sisi adatnya, adaik salingka nagari.

9.   Konsep Pemerintahan harus mampu menaungi masyarakat.

Pemerintahan Nagari dibingkai undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Implementasinya di tingkat Kabupaten, ada Perda tentang Pemerintahan Nagari. Dalam pelaksanaan pemerintahan di tingkat Nagari, hubungan harus berdasarkan adat.

Maka, adat harus benar-benar dikuasai oleh semua aparat pemerintahan Nagari. Adat tidak semata sebagai kekayaan sains (ilmu pengetahuan) ke-Minangkabau-an. Adat harus dapat dilaksanakan dalam kehidupan dan hubungan bermasyarakat.

Termasuk dalam sosialisasi kebijakan pemerintahan, sesuai dengan perkembangan zaman dan pemanfaatan teknologi yang maju, seperti musyawarah dalam perwujudan demokrasi,  penyediaan peluang bagi semua anak Nagari sebagai perwujudan dari hak asasi manusia.

 

10.      Hakikat berpemerintahan Nagari adalah mematuhi Undang-Undang Negara.

Pemerintahan Nagari dapat menghidupkan jati diri kehidupan beradat di Nagari. Kebanggaan orang dalam banagari adalah lahirnya kepeloporan dalam berbagai bidang. Nagari itu dinamis, senantiasa berubah, dan wajib di antisipasi dengan musyawarah anak Nagari yang dikuatkan oleh Wali Nagari.

Setiap pemekaran, berpedoman kepada pandangan adat dalam Nagari. Nilai kepemimpinan Wali Nagari adalah putra terbaik dan penghulu. Pemilihannya dengan mengindahkan kesetaraan dan keterwakilan

Nilai kesetaraaan dan keterwakilan  dari ninik mamak, alim ulama,cadiak pandai dan tokoh – tokoh adat di dalam Nagari, mesti diperhitungkan dengan cermat. Urusan Nagari adalah urusan bersama seluruh warga masyarakat Nagari. Bukan hanya urusan yang muda-muda atau urusan yang tua-tua. Bukan pula urusan ninik mamak semata.

Kerjasama antara generasi, muda dan tua, cerdik dan pandai, sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi Nagari.

a)    Badan Musyawarah Nagari, dipilih oleh Anak Nagari,

Semestinya menjadi perwujudan dari tali tigo sapilin, tungku tigo sajarangan. Implementasinya, terlihat dalam pemahaman adat.

Nagari, akan menjadi pelopor di dalam melaksanakan adat Minangkabau yang berfalsafah Adaik basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah.

BAMUS Nagari adalah bentuk perwujudan dari prinsip demokrasi dalam berpemerintahan, semacam badan legislatif tingkat Nagari, untuk melaksanakan pemerintahan Nagari bersama-sama Wali Nagari (Kepala Nagari).

Maka, yang akan duduk di dalam BAMUS Nagari, semestinya hanya beragama Islam. Karena, tidak dapat disebut Minangkabau jika tidak beragama dengan Islam.

Keberadaan BAMUS menjadi bagian upaya mengembalikan unsur adat ke hakikatnya.

Mengaktualisasikan fungsi dan peran tungku tigo sajarangan, melalui keteladanan, terutama dalam pelaksananan agama dan adat. Satu bentuk otonomi penuh pada Nagari untuk mengatur rumah tangga Nagari dengan berpedoman pada peraturan yang ada.

Wali Nagari bersama tokoh masyarakat dalam BAMUS akan menyusun program-program pembangunan Nagari

b)  Keberadaan Kerapatan Adat Nagari haruslah jelas.

KAN di tingkat Nagari adalah badan otonom yang ditetapkan oleh anak Nagari, terikat kaum dalam Nagari, dan memegang asal usul serta kewenangan ulayat Nagari. Keanggotaan KAN seluruhnya terdiri dari penghulu di Nagari, bagian dari tungku tigo sajarangan, dimuliakan oleh anak Nagari, disebut nan gadang basa batuah.

Pertanyaan mengemuka, apakah semua anggota KAN terikat dengan LKAAM (satu organisasi masyarakat yang berjenjang dari tingkat provinsi)?

Apakah KAN menjadi bagian dari BAMUS Nagari atau berdiri sendiri ?. Jalan terbaik adalah menjadikan KAN sebagai bagian dari BAMUS Nagari. Sewajarnya, tampak nyata hubungan antara adat dan pemerintahan di tingkat Nagari. Saling topang menopang dan serasi.

Melalui BAMUS Nagari, diharapkan dapat menggerakkan kembali peran dan fungsi ninik mamak, yang selama ini tidak optimal berperan membangun Nagari, yang disebabkan :

Ø  Kurangnya figure penghulu dan pemangku adat yang sudah banyak merantau.

Ø  Kurangnya pengkaderan ninik mamak untuk memimpin Nagari.

Semestinya, BAMUS Nagari menjadi upaya mambangkik batang tarandam di tengah pesatnya kemajuan bidang teknologi. Masalah asal usul dari keanggotaan BAMUS di Nagari, adalah hal yang perlu dipertimbangkan. Termasuk menginventarisir asset, dan permasalahan Nagari dengan data base Nagari. Kalau bisa dipertajam, inilah prinsip demokrasi yang murni dan otoritas masyarakat yang sangat independen.

Langkah Penting adalah,

1.        Menguasai informasi substansial

2.       Mendukung pemerintahan yang menerapkan low-enforcment

3.       Memperkuat kesatuan dan Persatuan di nagari-nagari

4.       Muaranya adalah ketahanan masyarakat dan ketahanan diri.

Dimulai dengan apa yang ada. Yang ada ialah kekayaan alam dan potensi yang terpendam dalam unsur manusia. Selangkah demi selangkah. Karena itu masyarakat  Minangkabau yang beradat dan beragama selalu dalam hidupnya diingatkan untuk mengenang hidup sebelum mati dan hidup sesudah hidup ini (dibalik mati) itu. Sesuai dengan peringatan Ilahi, “ bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”  (QS.13, Ar Ra’du : 11).

Tugas kembali kenagari, sesungguhnya adalah, menggali kembali potensi dan asset nagari, dengan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia di nagari, untuk kemudian observasinya dipertajam, daya pikirnya ditingkatkan, daya geraknya didinamiskan , daya ciptanya  diperhalus, daya kemauannya dibangkitkan, dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri. Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja. Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju, Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo manjadi.

C.    Diperlukan kerja keras,

1.        Meningkatkan Mutu SDM anak nagari,

2.       Memperkuat Potensi yang sudah ada melalui program utama,

a.      menumbuhkan SDM Negari yang sehat dengan gizi cukup,

b.      meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama terapan),

c.        mengokohkan pemahaman agama, sehingga anak negari menjadi sehat rohani,

d.      menjaga terlaksananya dengan baik norma-norma adat, sehingga anak nagari menjadi masyarakat beradat yang beragama (Islam).

3.       Menggali potensi SDA yang ada di nagari, yang diselaraskan dengan perkembangan global yang tengah berlaku,

4.       Memperkuat ketahanan ekonomi rakyat.

Membangun kesejahteraan bertitik tolak pada pembinaan unsur manusianya.

Dari self help (menolong diri sendiri) kepada mutual help, tolong-menolong, sebagai puncak budaya adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Dalam rangka pembagian pekerjaan, ber-ta’awun sesuai dengan anjuran Islam, “Bantu membantu, ta’awun, mutual help dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses produksi, dan mempertinggi mutu, yang dihasilkan. Itulah taraf ihsan yang hendak di capai.

5.       Memperindah nagari dengan menumbuhkan percontohan-percontohan di nagari, yang tidak hanya bercirikan ekonomi tetapi indikator lebih utama kepada moral adat “nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”

6.       Mengefisienkan organisasi pemerintahan nagari dengan reposisi (dudukkan kembali komponen masyarakat pada posisinya sebagai subyek di nagari) dan refungsionisasi (pemeranan fungsi-fungsi elemen masyarakat).

7.       Memperkuat SDM bertujuan membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu identitas yang tidak dapat ditolak dalam kembali kenagari.

Satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam “iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah”, dalam rangka pembinan negara dan bangsa kita keseluruhannya. Yakni untuk melaksanakan Firman Ilahi; “Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan). (QS.28, Al Qashash : 77)

Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri anak nagari, “Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.”

 Teranglah sudah, bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat nagari pasti akan menemui disini iklim yang subur, bila pandai menggunakannya dengan tepat. Mengabaikan adat dan syarak ini, adalah satu kerugian, karena berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat nagari dan negara.

 

 


[1]     QS.4, An Nisak : 97.

[2]     Ucapan Khalifah Umar bin Khattab, yang ditujukan kepada seorang pemuda yang hanya berdoa tanpa berusaha.

[3]       Atsar dari Shahabat.

[4]     Ibid. QS.16 : 17 dan QS.14,Ibrahim : 33.

[5]    Penghulu pada setiap suku, yang sering juga disebut ninik mamak nan gadang basa batuah, atau nan di amba gadang, nan di junjung tinggi, sebagai suatu legitimasi masyarakat nan di lewakan.

[6]   Bisa juga disebut dengan panggilan urang siak, tuanku, bilal, katib nagari atau imam suku, dll dalam peran dan fungsinya sebagai urang surau pemimpin agama Islam. Gelaran ini lebih menekankan kepada pemeranan fungsi ditengah denyut nadi kehidupan masyarakat (anak nagari). 

[7]   Bisa saja terdiri dari anak nagari yang menjabat jabatan pemerintahan, para ilmuan, perguruan tinggi, hartawan, dermawan.

[8]    Para remaja, angkatan muda, yang dijuluki dengan nan capek kaki ringan tangan, nan ka disuruah di sarayo.

[9]   Kalangan ibu-ibu, yang sesungguhnya ditangan mereka terletak garis keturunan dalam sistim matrilinineal dan masih berlaku hingga saat ini.

[10]  Bukti kecintaan kenagari ini banyak terbaca dalam ungkapan-ungkapan pepatah hujan ameh dirantau urang hujang batu dinagari awak, tatungkuik samo makan tanah tatilantang samo mahiruik ambun.

Kekuatan Budaya Adat Basandi Syarak membangun Nagari

Reposisi Peran Dan Fungsi

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Bagi Masyarakat Nagari Dewasa Ini

 

(‘Musyawarat’ – asas demokrasi -,  Sebagai Dasar  Mengembangkan

‘Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah’)

 

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumatera Barat

 

Pengantar

Kehidupan bermasyarakat di Sumatra Barat sudah lama direkat oleh kentalnya hubungan kebersamaan (ta’awun) di dalam tataran budaya berat sepikul ringan sejinjing sebagai perwujudan nyata nilai-nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Tataran budaya sedemikian telah terbukti dalam masa sangat panjang mampu memberikan dorongan-dorongan beralasan (motivasi) bagi semua gerak perubahan (reformasi) dari satu generasi ke generasi berikut di Ranah Bundo ini. Bahkan telah pula terbukti menjadi modal sangat besar untuk meraih kemajuan di berbagai bidang pembangunan di daerah dan nagari, di dusun dan taratak. Serta memberikan sumbangan yang tidak kecil dalam mewujudkan persatuan bangsa dan kesatuan wilayah di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.

Kehidupan masyarakat Sumatra Barat kedepan di Alaf Baru ini, mesti di pacu dengan ajakan agar selalu menanam kebaikan-kebaikan yang makruf. Mesti pula dipagar rapat-rapat dengan pencegahan dari hal-hal yang merusak dan mungkara., Didalamnya ditanamkan upaya berguna yang dapat menumbuhkan harga diri dengan sikap mental mau berusaha sendiri, giat bekerja (enterprising). Yang dituju adalah masyarakat baru Sumatra Barat yang dapat menolong diri sendiri (independent) serta mampu mereposisi kondisinya dalam mengatasi kemiskinan dan ketertinggalan diberbagai bidang.

Insya Allah masyarakat kita di Sumatra Barat akan mendapatkan hak asasinya yang setara dengan kewajiban asasi yang telah ditunaikan. Sesungguhnya bimbingan aqidah kita bersendikan Kitabullah telah  mengajarkan bahwa tidak pantas bagi satu masyarakat yang hanya selalu menuntut hak tanpa dibebani keharusan menunaikan kewajiban.

Martabat satu kaum akan hilang bila yang ada hanya memiliki kewajiban-kewajiban tetapi tidak dapat menentukankan hak apa-apa. Karena itu, hak asasi manusia tidak akan pernah ujud tanpa didahului oleh kewajiban asasi manusia. Hal ini sangatlah penting ditanamkan kembali dalam upaya mambangkik batang tarandam.

Kandungan Kitabullah mewajibkan kita untuk memelihara hubungan yang langgeng dan akrab dengan karib dan daerah tetangga, sebagai kewajiban iman dan taqwa kita kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, sesuai Firman-Nya, “ Sembahlah Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak. Berhubungan baiklah kepada karib kerabat. Berbuat ihsan kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, dan tetangga yang hampir, tetangga yang jauh, dan teman sejawat serta terhadap orang-orang yang keputusan belanja diperjalanan (yaitu orang-orang yang berjalan dijalan Allah) dan terhadap pembantu-pembantu di rumah tanggamu. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS.4, An-Nisak ayat 36). 

Menumbuhkan harga diri, dan memperbaiki nasib secara keseluruhan dalam berbagai bidang, diyakini akan terwujud melalui ikhtiar yang terus menerus, sustainable disertai akhlak sabar tanpa kesombongan serta mampu melawan sikap mudah menyerah dan tidak mudah berputus asa. Sikap jiwa masyarakat seperti inilah yang sangat dituntut mengedepan dalam menyambut Otonomi Daerah di Sumatra Barat pada awal abad ini.

 

( I )

Firman Allah menyatakan,

$pkš‰r¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu‘$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& y‰YÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz  

“ Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13).

Nabi Muhammad SAW memesankan bahwa “Perbedaan ditengah-tengah umatku adalah rahmat” (Al Hadist). Dan sebuah lagi, “innaz-zaman qad istadara”, bahwa sesungguhnya zaman berubah masa berganti (Al Hadist).

Petatah petitih (kata hikmah) di Minangkabau mengungkapkan  Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Disinan api mangko hiduik”.

Kembali ke Nagari semestinya lebih dititik beratkan kepada kembali banagari.

Perubahan cepat yang sedang terjadi, apakah karena sebab derasnya gelombang arus globalisasi, atau penetrasi budaya luar (asing) telah membawa akibat bahwa perilaku masyarakat, praktek pemerintahan, pengelolaan wilayah dan asset, serta perkembangan norma dan adat istiadat di banyak nagari di Sumatera Barat mulai tertinggalkan. Perubahan perilaku tersebut tampak dari lebih mengedepannya perebutan prestise yang berbalut materialistis dan individualis. Akibatnya, perilaku yang kerap tersua adalah kepentingan bersama dan masyarakat sering di abaikan.

Menyikapi perubahan-perubahan  sedemikian itu, acapkali idealisme kebudayaan Minangkabau menjadi sasaran cercaan. Indikasinya terlihat sangat pada setiap upaya pencapaian hasil kebersamaan (kolektif dan bermasyarakat) menjadi kurang diacuhkan dibanding pencapaian hasil perorangan (individual).

Sesungguhnya nagari di Minangkabau (Sumatera Barat) seakan sebuah republik kecil, ada wilayah (ulayat/pusako), ada rakyat (suku), ada pemerintahan (sako), ada kedaulatan (adaik salingka nagari). Republik Mini ini memiliki sistim demokrasi murni, pemerintahan sendiri, asset sendiri, wilayah sendiri, perangkat masyarakat sendiri, sumber penghasilan sendiri, bahkan hukum dan norma-norma adat sendiri.

(II)

Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pula pelajaran-pelajaran antara lain,

1.      Mengutamakan prinsip hidup seimbang. 

Ketahuilah bahwa ni’mat Allah, sangat banyak.

bÎ)ur (#r‘‰ãès? spyJ÷èÏR «!$# Ÿw !$ydqÝÁøtéB 3 žcÎ) ©!$# ֑qàÿtós9 ÒO‹Ïm§‘

Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS.16, An Nahl : 18).

            Hukum Islam menghendaki keseimbangan antara  perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani ; “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist).

Keseimbangan tampak jelas dalam menjaga kemakmuran di ranah ini,   “Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

            Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya  (Hadist).

2.     Kesadaran kepada luasnya bumi Allah.

Dianjurkan, jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil.[1] Karena, kalau dihitung segala ni’mat Allah, tak akan mampu manusia menghitungnya.

bÎ)ur (#r‘‰ãès? spyJ÷èÏR «!$# Ÿw !$ydqÝÁøtéB 3 žcÎ) ©!$# ֑qàÿtós9 ÒO‹Ïm§‘

”Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak dapat m,enentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS.16, An Nahl : 18).

Diajarkan, bahwa Allah SWT telah menjadikan bumi mudah untuk digunakan. Maka, berjalanlah di atas permukaan bumi, makanlah dari rezekiNya, kepadaNya lah tempat kamu kembali.

(#rãÏ±tFR$$sù ’Îû ÇÚö‘F{$# (#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$# (#rãä.øŒ$#ur ©!$# #ZŽÏWx. ö/ä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè?  

“Maka berpencarlah kamu di atas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”.  (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

Karatau madang dihulu babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu dirumah paguno balun.

Ditanamkan pentingnya kehati-hatian Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”.

3.      Mencari nafkah dengan “usaha sendiri”.

            Memiliki jati diri, self help, mandiri dengan modal tulang delapan kerat, dengan cara yang amat sederhana sekalipun, “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain ; Kamu ambil seutas tali, dan  dengan itu kamu pergi kehutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual pencukupan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta”.  (Hadist).

              Membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalah salah. “Kefakiran (kemiskinan)  membawa orang kepada kekufuran (keingkaran)”  (Hadist).

4.      Tawakkal dan bekerja dengan tidak boros.

Kerja merupakan unsur utama produksi untuk memenuhi hak hidup, hak keluarga, dan masyarakat guna mendorong fungsi produksi dalam mengoptimalkan sumberdaya insani yang mengacu full employment.

Syarak (agama Islam) menghargai kerja sebelum menghargai produknya, sehingga aktivitas produksi yang padat karya lebih disenangi daripada padat modal, karena model ini lebih memberdayakan produsen. Menjadi pengemis sangat dibenci. Mencari dan berproduksi selalu diiringkan dengan tawakal. Tawakkal bukan berarti “hanya menyerahkan nasib” kepada Tuhan, dengan tidak berbuat apa-apa. Menjadikan diri menunggu datangnya rezki dan takdir, tanpa mau berusaha, atau bersikap fatalis, adalah satu kesalahan besar.

Jangan kamu menadahkan tangan dan berharap, “Wahai Tuhanku, berilah aku rezeki, berilah aku rezeki”, sedang kamu tidak berikhtiar apa-apa. Langit tidak menurunkan hujan emas ataupun perak.[2] Dan, “Bertawakkallah kamu, seperti burung itu bertawakkal”. Tak ada kebun tempat ia bertanam, tak ada pasar tempat ia berdagang. Tetapi tak kurang, setiap pagi dia terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan setiap sore dia kembali dalam keadaan “kenyang”.[3]

5.     Kesadaran kepada ruang dan waktu,

Dorongan berproduksi dan menghasilkan sesuai syarak (Islam) memiliki nilai tambah dengan adanya fungsi sosial. Produksi yang Islami lebih mempertimbangkan keperluan (needs) orang banyak, dibanding dengan mendapatkan keinginan (wants), yang menjadi kesenangan bagi orang berdaya beli kuat.

Agama Islam membangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu (space and time consciousness), kepada peredaran bumi, bulan dan matahari, yang menyebabkan pertukaran malam dan siang, dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun.

Menyia-nyiakan waktu, dengan pasti akan merugi. Maka, kehidupan mesti diisi dengan amal berguna.[4]

$uZù=yèy_ur Ÿ@ø‹©9$# $U™$t7Ï9       $uZù=yèy_ur u‘$pk¨]9$# $V©$yètB  

” dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan ” (QS.78, An Naba’ : 10-11).

Malam itu disebut sebagai pakaian, karena malam itu gelap menutupi jagat sebagai aian menutupi tubuh manusia.

6.     Harus pandai mengendalikan diri.

 Jangan melewati batas, dan berlebihan. Jangan boros.

ûÓÍ_t6»tƒ tPyŠ#uä (#rä‹è{ ö/ä3tGt^ƒÎ— y‰ZÏã Èe@ä. 7‰Éfó¡tB (#qè=à2ur (#qç/uŽõ°$#ur Ÿwur (#þqèùΎô£è@ 4 ¼çm¯RÎ) Ÿw =Ïtä† tûüÏùΎô£ßJø9$#  

“Wahai Bani Adam, ailah perhiasanmu, pada tiap-tiap (kamu pergi) ke masjid (melakukan ibadah); dan makanlah dan minumlah, dan jangan melampaui batas; sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS..7, Al A’raf : 31)

Kalau disimpulkan, alam di tengah-tengah mana manusia berada, tidak diciptakan dengan sia-sia. Di dalamnya terkandung faedah-faedah kekuatan, dan khasiat-khasiat yang diperlukan manusia untuk memperkembang dan mempertinggi mutu hidup jasmaninya. Manusia diharuskan berusaha membanting tulang dan memeras otak, untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya, dan menikmatinya sambil mensyukurinya. Tuntutan syar’i (syarak mangato adaik mamakai) adalah, beribadah kepada Ilahi.

Manusia harus menjaga diri dari perbuatan yang melanggar batas-batas kepatutan dan kepantasan, agar jangan terbawa hanyut oleh materi dan hawa nafsu yang merusak. Semua ini adalah suatu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, yang menghendaki keseimbangan antara kemajuan di bidang rohani dan jasmani. Sikap hidup (attitude towards life) yang demikian, menjadi sumber motivasi bagi kegiatan di bidang ekonomi. Tujuan terutama untuk keperluan-keperluan jasmani (material needs).  Hasil nyata tergantung kepada dalam dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa, serta tingkat kecerdasan yang dicapai, dan keadaan umum di mana mereka berada.

Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri, agar jangan melewati batas, dan berlebihan.        “Ka lauik riak mahampeh, Ka karang rancam ma-aruih, Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh, Jiko mencancang, putuih – putuih, Lah salasai mangko-nyo sudah”.

Artinya bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada. Bila mengerjakan sesuatu tidak menyisakan kelalaian ataupun ke-engganan. Tidak berhenti sebelum sampai, dan tidak berakhir sebelum benar-benar sudah. 

 

(III)

 

Nagari tumbuh dengan konsep tata ruang yang jelas.

Ba-balerong (balai adat) tempat musyawarah, ba-surau (musajik) tempat beribadah, ba-gelanggang lapangan tempat rang mudo bermain, ba-tapian tempat mandi, ba-pandam pekuburan, ba-sawah bapamatang, ba-ladang babintalak, ba-korong bakampung, sesuai dengan istilah-istilah yang lazim dan mungkin berbeda penyebutannya pada setiap nagari.

Konsep tata-ruang ini adalah salah satu asset yang sangat berharga dalam nagari dan menjadi idealisme nilai budaya di Minangkabau.

Nan lorong tanami tabu,  Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek kaparak, Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan,  Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak.

Tata ruang dalam masyarakat yang jelas itu memberikan posisi kepada peran pengatur, pemelihara dan pendukung sistim banagari.

Pemeran itu telah disepakati terdiri dari orang ampek jinih, yakni ninik mamak[5], alim ulama[6], cerdik pandai[7], urang mudo[8], bundo kanduang[9].

Dengan demikian, terlihat bahwa nagari di Minangkabau tidak hanya sebatas pengertian ulayat hukum adat namun yang lebih mengedepan dan paling utama adalah wilayah kesepakatan antar berbagai komponen masyarakat didalam nagari itu. Spiritnya adalah

a.      kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi), ditemukan dalam pepatah “Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito.”

b.      keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang) atau “Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang”. Basalang tenggang, artinya saling meringankan dengan kesediaan memberikan pinjaman atau dukungan terhadap kehidupan dan “Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an”.

c.       musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo”

d.      keimanan kepada Allah SWT sebagai pengikat spirit tersebut dengan menjiwai sunnatullah dalam setiap gerak melalui pengenalan kepada alam keliling.

“Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”.

  1. kecintaan kenagari adalah perekat yang sudah dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman sejarah [10].

Menjaga dari pada melewati batas-batas yang patut dan pantas, jangan terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak. Suatu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, menghendaki keseimbangan antara kemajuan dibidang rohani dan jasmani. “Jiko mangaji dari alif, Jiko babilang dari aso, Jiko naiak dari janjang, Jiko turun dari tango”.

 

(IV)

 

Semestinya kembali kenagari harus dipahami peran lembaga tungku tigo sajarangan yang tampak dalam badan musyawarah nagari dan kerapatan negari. Prinsip musyawarah adalah pondasi mendasar dan utama dari adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Kembali kenagari haruslah bermula dengan kesediaan untuk rujuk kepada hukum adat (norma yang berlaku di nagari) dan kesetiaan melaksanakan hukum positf (undang-undang negara).

Muara pertama terdapat pada supra struktur pemerintahan nagari, dimana kepala pemerintahan negari (kepala negari) akan berperan sebagai kepala pemerintahan di nagari dan juga pimpinan adat. Sebagai kepala pemerintahan terendah dinagari memiliki hirarki yang jelas dengan pemerintahan diatasnya (kecamatan atau kabupaten). Sebagai kepala adat harus berurat kebawah yakni berada ditengah komunitas dan pemahaman serta perilaku adat istiadat yang dijunjung tinggi anak nagari (adat salingka nagari). Minangkabau tetap bersatu, tetapi tidak bisa disatukan.

Muara kedua, dukungan masyarakat adat (kesepakatan tungku tigo sajarangan yang terdiri dari ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan kalangan rang mudo), dan mendapat dukungan dalam satu tatanan sistim pemerintahan (perundang-undangan).

Anak nagari sangat berkepentingan dalam merumuskan nagarinya. Konsepnya tumbuh dari akar nagari itu sendiri, bukanlah suatu pemberian dari luar. “ Lah masak padi ‘rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo, Kabek sabalik buhus sintak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo.” Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap perubahan peradaban yang tengah berlaku. Hal ini perlu dipahami supaya jangan tersua seperti kata orang “ibarat mengajar kuda memakan dedak”.

 

Masyarakat nagari sesungguhnya tidak terdiri dari satu keturunan (suku) saja tetapi terdiri dari beberapa suku yang pada asal muasalnya berdatangan dari berbagai daerah asal di sekeliling ranah bundo.

Sungguhpun berbeda, namun mereka dapat bersatu dalam satu kaedah hinggok mancangkam tabang basitumpu atau hinggok mencari suku dan tabang mencari ibu. Hiyu bali balanak bali, ikan panjang bali dahulu. Ibu cari dunsanak cari, induak samang cari dahulu.

Yang datang  dihargai dan masyarakat yang menanti sangat pula di hormati. Dima bumi di pijak, di  sinan langik di junjuang, di situ adaik bapakai. 

Disini tampak satu bentuk perilaku duduk samo randah tagak samo tinggi, sebagai prinsip egaliter di Minangkabau.

Kalau bisa dipertajam, inilah prinsip demokrasi yang murni dan otoritas masyarakat yang sangat independen.

 

Langkah Penting adalah,

1.      Menguasai informasi substansial

2.      Mendukung pemerintahan yang menerapkan low-enforcment

3.      Memperkuat kesatuan dan Persatuan di nagari-nagari

4.      Muaranya adalah ketahanan masyarakat dan ketahanan diri.

 

Dimulai dengan apa yang ada. Yang ada ialah kekayaan alam dan potensi yang terpendam dalam unsur manusia. Selangkah demi selangkah – step by step -.

 

Melaksanakan idea self help semestinya di iringi dengan sikap berhati-hati. Kesadaran tinggi bahwa setiap gerak di awasi, dan kesungguhan diri ditumbuhkan dari dalam dengan keyakinan bahwa Allah SWT satu-satunya pelindung dalam kehidupan disini (here and now) dan disana (hereafter).

Karena itu masyarakat  Minangkabau yang beradat dan beragama selalu dalam hidupnya diingatkan untuk mengenang hidup sebelum mati dan hidup sesudah hidup ini (dibalik mati) itu.

Sesuai dengan peringatan Ilahi.“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak merobah keadan sesuatu kaum, kecuali mereka mau merubah keadaan  yang ada dalam dirinya masing-masing ….

Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap satu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”(QS.13, Ar Ra’du : 11).

(V)

 

Tugas kembali kenagari, sesungguhnya adalah, menggali kembali potensi dan asset nagari.

Bila tidak digali, akan mendatangkan kesengsaraan baru bagi masyarakat nagari itu.

Dimulai dengan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia, masyarakat nagari.

Kesadaran akan benih-benih kekuatan yang ada dalam diri masing-masing, untuk kemudian observasinya dipertajam, daya pikirnya ditingkatkan, daya geraknya didinamiskan , daya ciptanya  diperhalus, daya kemauannya dibangkitkan, dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri.

Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja. Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju, Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo manjadi.

Tujuannya sampai kepada taraf yang memungkinkan untuk mampu berdiri sendiri dan membantu nagari tetangga secara selfless help, dengan memberikan bantuan dari rezeki yang telah kita dapatkan tanpa mengharapkan balas jasa. “Pada hal tidak ada padanya budi seseorang yang patut dibalas, tetapi karena hendak mencapai keredhaan Tuhan-Nya Yang Maha Tinggi”. (Q.S. Al Lail, 19 – 20).

Walaupun didepan terpampang kendala-kendala, namun optimisme banagari  mesti selalu dipelihara. Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.

 

Diperlukan kerja keras,

1.      Meningkatkan Mutu SDM anak nagari,

2.      Memperkuat Potensi yang sudah ada melalui program utama,

a.      menumbuhkan SDM Negari yang sehat dengan gizi cukup,

b.      meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama terapan),

c.       mengokohkan pemahaman agama, sehingga anak negari menjadi sehat rohani,

d.     menjaga terlaksananya dengan baik norma-norma adat, sehingga anak nagari menjadi masyarakat beradat yang beragama (Islam).

3.      Menggali potensi SDA yang ada di nagari, yang diselaraskan dengan perkembangan global yang tengah berlaku,

4.      Memperkuat ketahanan ekonomi rakyat.

Membangun kesejahteraan bertitik tolak pada pembinaan unsur manusianya.

Dari self help (menolong diri sendiri) kepada mutual help, tolong-menolong, sebagai puncak budaya adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Dalam rangka pembagian pekerjaan, ber-ta’awun sesuai dengan anjuran Islam, “Bantu membantu, ta’awun, mutual help dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses produksi, dan mempertinggi mutu, yang dihasilkan. Itulah taraf ihsan yang hendak di capai.

5.      Memperindah nagari dengan menumbuhkan percontohan-percontohan di nagari, yang tidak hanya bercirikan ekonomi tetapi indikator lebih utama kepada moral adat “nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”

6.      Mengefisienkan organisasi pemerintahan nagari dengan reposisi (dudukkan kembali komponen masyarakat pada posisinya sebagai subyek di nagari) dan refungsionisasi (pemeranan fungsi-fungsi elemen masyarakat).

7.      Memperkuat SDM bertujuan membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu identitas yang tidak dapat ditolak dalam kembali kenagari.

 

Satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam “iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah”, dalam rangka pembinan negara dan bangsa kita keseluruhannya. Yakni untuk melaksanakan Firman Ilahi; “Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan). (QS.28, Al Qashash : 77)

Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing. Untuk membina umat dalam masyarakat desa harus di ketahui pula kekuatan. Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.

 

Teranglah sudah, bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat nagari lahir dan batin, material dan spiritual pasti akan menemui disini iklim (mental climate) yang subur, bila pandai menggunakannya dengan tepat akan banyak sekali membantu dalam usaha pembangunan itu.

Melupakan atau mengabaikan ini, adalah satu kerugian, karena berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Riwayat Hidup

 

 

 

Nama                                      :  H. Mas’oed Abidin bergelar Majo Kayo.

 

Lahir tanggal                           :  11 Agustus 1936 di Nagari Kotogadang, Bukittinggi

 

Dari pasangan ayah ibu                 :  H.Zainal Abidin bin Abdul Jabbar bergelar Imam Mudo dan Khadijah binti Idriss.

 

Pendidikan                                       :  Rahmatun Niswan Koto Gadang, Thawalib Syeikh  H.Abdul Mu’in Lambah, Thawalib Parabek (1950).

SR., SMP II,  SMA A/C Bukittinggi (1957),

FKIP UNITA, IKIP Medan (1963),

 

Organisasi                                  : 1961-1963       Komda PII Tapanuli Selatan,

1963-1967       Ketua HMI Cabang Padangsidempuan,

1967- sekarang, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar.

 

Jabatan sekarang                              : Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Perwakilan Sumbar di Padang (2000-2005).

 

Alamat sekarang                       :  Jalan Pesisir Selatan V/496 Siteba Padang (25146),

                                            Telepon 52898 – 58401. 

 



[1]       QS.4, An Nisak : 97.

[2]       Ucapan Khalifah Umar bin Khattab, yang ditujukan kepada seorang pemuda yang hanya berdoa tanpa berusaha.

[3]       Atsar dari Shahabat.

[4]       Ibid. QS.16 : 17 dan QS.14,Ibrahim : 33.

[5] Penghulu pada setiap suku, yang sering juga disebut ninik mamak nan gadang basa batuah, atau nan di amba gadang, nan di junjung tinggi, sebagai suatu legitimasi masyarakat nan di lewakan.

[6] Bisa juga disebut dengan panggilan urang siak, tuanku, bilal, katib nagari atau imam suku, dll dalam peran dan fungsinya sebagai urang surau pemimpin agama Islam. Gelaran ini lebih menekankan kepada pemeranan fungsi ditengah denyut nadi kehidupan masyarakat (anak nagari). 

[7] Bisa saja terdiri dari anak nagari yang menjabat jabatan pemerintahan, para ilmuan, perguruan tinggi, hartawan, dermawan.

[8] Para remaja, angkatan muda, yang dijuluki dengan nan capek kaki ringan tangan, nan ka disuruah di sarayo.

[9] Kalangan ibu-ibu, yang sesungguhnya ditangan mereka terletak garis keturunan dalam sistim matrilinineal dan masih berlaku hingga saat ini.

[10] Bukti kecintaan kenagari ini banyak terbaca dalam ungkapan-ungkapan pepatah hujan ameh dirantau urang hujang batu dinagari awak, tatungkuik samo makan tanah tatilantang samo mahiruik ambun.

Tim Kompilasi ABS SBK

Adat Tergerus, Pemprov Bentuk Tim, Suhermanto: Butuh Arah Baru Maknai
ABS-SBK
Rabu, 21 Mei 2008

Padang, Padek– Kian tergerusnya nilai Adat Basandi Sarak Sarak
Basandi Kitabullah (ABS-SBK), Pemprov Sumbar membentuk tim perumus
penjabaran, operasional, kompilasi hukum ABS-SBK. Pasalnya, selama ini
ABS-SBK hanya tertuang dalam slogan-slogan tanpa ada aplikasinya di
kehidupan sehari-hari. Terlebih lagi, generasi muda Minang saat ini
tidak lagi menggunakan dan memahami prinsip-prinsip filosofis ABS-SBK.

Jika ini dibiarkan berlarut-larut berpengaruh terhadap masa depan
Minangkabau, akhirnya menjadi ancaman bagi jati diri Minang. Persoalan
ini sudah ini menjadi kerisauan di banyak kalangan, karena filosofis
ABS-SBK tidak lagi menjadi acuan dalam penyelesaian persoalan. Padahal
filosofis tersebut yang berdekatan dengan agama Islam, mampu menjawab
persoalan kekinian.

Beranjak dari kerisauan dan persoalan globalisasi, saatnya masyarakat
Minangkabau bangkit. Apalagi bertepatan dengan satu abad kebangkitan
nasional, sudah saatnya filosopis ABS-SBK betul-betul menjadi domain
terhadap nilai-nilai kehidupan sehingga dapat menjadi acuan dan
pedoman hidup baik untuk saat ini maupun untuk masa depan.

Hal ini terungkap dalam rapat bersama tim perumus dan louncing
dimulainya pembahasan butir-butir penjabaran ABS-SBK di Kantor LKAAM
Sumbar, kemarin. Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Biro
Pemerintahan Nagari Setprov Sumbar Suhermanto Raza, Ketua Tim Perumus
Muchtiar Muchtar,  Sekretaris Edi Pratama, Sekretaris LKAAM Yuzirwan
Rasyid, ulama Mas’oed Abidin, anggota tim perumus lainnya Basir
Basyar.

Menurut Suhermanto, pembentukan tim perumus ini sesuai dengan
keputusan gubernur Sumbar untuk memberikan rekomendasi pada kebijakan
pemerintah daerah yang nantinya bisa dibuatkan dalam bentuk peraturan
daerah (Perda) dan peraturan gubernur. Ditargetkan, kata Suhermanto
akhir Desember mendatang sudah ada kesepakatan bersama setelah
dilakukan tahapan-tahapan pembahasan seperti seminar dan menerima
masukkan dari semua pihak.

”Perlu arah dan inspirasi baru untuk menjadikan ABS-SBK sebagai
pedoman dan tuntutan hidup yang betul-betul mampu diimplementasikan.
Kesepakatan ini nantinya untuk mendorong pelaksanaan ABS-SBK tersebut.
Pemerintah tidak berbicara sanksi yang akan dikenakan jika penjabaran
tersebut tidak dilaksanakan di lapangan,” kata Suhermanto.

Sementara itu Ketua Tim Perumus Muchtiar Muchtar menambahkan semua
unsur masyarakat boleh memberikan masukan untuk pembahasan ini.
Masyarakat juga bisa mengakses www.timperumus_ ABSSBK.multiply.com
untuk memberikan masukan terhadap pembahasan kompilasi hu kum ABS-SBK
nantinya. Tim yang terdiri dari tim adat, tim sarak dan tim editor
nantinya juga akan membahas 100 butir point yang terkandung dalam ABS-
SBK.

Sekretaris tim perumus Edi menambahkan, tiga yang akan dirumuskan tim
nantinya akan ada kesepakatan bersama, penjabaran filosofis ABS-SBK
dan operasional pelaksanaan pembahasan tersebut. Terkait pelaksanaan
dari kesepakatan bersama ini, ditambahkan Mas’oed tergantung
sosialisasi dan pemahaman bersama yang disesuaikan dengan kondisi
kekiniaan. Karena implementasinya tidak sesederhana apa yang telah
dirumuskan. (Afrianingsih Putri)

Sumber: http://www.padangekspres.co.id/content/view/6518/104/

PENGARUH KEPERCAYAAN DALAM MASYARAKAT MINANGKABAU

Catatan : H. Mas’oed Abidin

umrah-cairo-al-haram-077

1. Berkepercayaan = Tuntutan Naluriah

Masalah kepercayaan adalah masalah manusia yang banyak berkaitan dengan kehidpannya. Sejarah kehidupan awal dari masyarakat manusia memberi pengetahuan kepada kita bahwa tiada suatu bangsapun yang hidup atau kelompok manusia yang tingghal pada suatu tempat yang tidak mengenal kepercayaan.

Kepercayaan adalah naluriah hidup yang vital, sebab ia timbul bersama dorongan-dorongan lain sebagai perlengkapan hidup manusia umumnya. Semua itu merupakan dorongan rohaniah manusia, yang selalu mengajar mereka untuk berbuat dan menyelesaikannya. Bahkan dari dorongan-dorongan itu timbul masalah demi masalah yang tidak akan henti-hentinya dalam hidup manusia, sehingga hidup pernah diartikan dengan menimbulkan dan menyelesaikan masalah demi masalah. Demikian pula dengan kepercayaan, yaitu sebagai salah satu tuntutan naluri manusia.

Istilah naluri diartikan dengan dorongan hati atau nafsu yang berasal dari pembawaan yang menggerakkan untuk berbuat sesuatu.1) Jadi ekivalen dengan pengertian instink atau fitrah. Karena itu sifatnya tidak dapat tidak akan merupakan suatu keharusan. Dalam ilmu jiwa dorongan hati manusia itu dibedakan antara yang bersifat perasaan biologis dan yang bersifat perasaan rohaniah. Dengan demikian, berkepercayaan adalah salah satu dari perasaan erohaniah yang dalam hal ini disebut juga dengan “perasaan keagamaan”. 2)

Umumnya pengertian naluri diperuntukkan orang bagi dorongan-dorongan atau perasaan-perasaan yang bersifat biologis saja, yaitu berupa dorongan untuk makan, mempertahankan diri, dan untuk melangsungkan keturunan. 3) Dengan istilah lain, adalah kebutuhan jasmani, akan tetapi untuk keperca- yaan di sini, kita memakai pengertian naluri, sebagai dorongan hati yang secara fitrah manusia lebih mutlak adanya daripada yang lain.

Berdasarkan terminologi dan pengertian, maka antara kepercayaan dan keagamaan dapat dibedakan agak nyata, sehingga keduanya mempunyai kedudukan dan daerah masing-masing. Istilah agama berasal dari bahasa Sanskerta (a + gama) yang berati “tidak kacau”, atau “sesuatu yang teratur”. Agama merupakan tuntutan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan dan ketakutan. 4). Dalam agama terdapat suatu ikatan antara manusia dengan kekuatan gaib. Sebab itu agama ekivalen dengan religi (dari kata religius, bahasa Latin yang berarti “mengikat”) yang menuntut adanya pengabdian kepada tenaga gaib itu, baik dalam bentuk kultus maupun dalam sikap hidup keagamaan. 5)

Kepercayaan menyatakan diri sebagai alas dasar dari keagamaan itu, dan ini adalah ekivalen pula dengan “rasa keagamaan” yang dalam diri manusia meminta suatu penghayatan, sehingga berwadah sebagai agama. Sumber utama kepercayaan atau rasa keagamaan ini adalah fitrah manusia yang merupakan anugerah Ilahi, yang akan melengkapi batin manusia dalam melakukan kegiatan hidupnya sebagai makhluk yang lemah.

Dengan demikian betapapun bersahajanya manusia atau kelompok manusia, ternyata kepercayaan itu merupakan kebutuhan naluri manusia. Di satu pihak kepercayaan merupakan salah satu dari perasaan manusia, sedangkan di pihak lain dia meminta bentuk-bentuk nyata pada tindakan manusia itu sendiri. Pada tingkat inilah dia merupakan agama yang dengan sadar manusia mengakui adanya keterikatan dengan tenaga di luar dirinya, di luar alam dan kenyataannya.

Fungsi naluri dari kepercayaan manusia kepada tenaga gaib itu terletak pada keharusan menyatakan diri menjadi bentuk-bentuk pengabdian yang akan mengangkat kepercayaan itu dari statusnya sebagai rasa rohaniah menjadi suatu dorongan yang memerlukan penghayatan dalam berbagai cara keagamaan. Oleh sebab itu, setiap agama adalah kepercayaan, dan tidak ada suatu macam agama yang tidak dimulai dengan kepercayaan.

Di dalam agama Islam, dasar keagamaan disimpulkan atas enam pokok yang harus dipercayai, yang disebut dengan Rukun Iman, yaitu mempecayai adanya Allah, Malaikat, Kitab Suci, Pesuruh Tuhan, Hari Kemudian, dan mempercayai adanya kadar Tuan atas yang baik atau yang buruk.6)

Dengan adanya agama yang mengambil pola dari rasa rohaniah manusia, maka berkepercayaan atau dengan kata lain beragama itu sebenarnya adalah kebutuhan manusia yang harus dipenuhi, disamping kebutuhan pokok lainnya yang bersifat naluri.

Apakah benar bahwa berkepercayaan itu merupakan kebutuhan manusia? Dengan sifat psikologis dari contoh dalam kehidupan sehari-hari agaknya kita dapat menjawab “ya”, dengan mengemukakan contoh seperti berikut:

Kita memperlihatkan semacam benda baru kepada seorang anak kecil, Dia akan menanyakan tentang nama atau guna barang tersebut kepada kita. Sikap anak ini amat mengesankan, dan tentulah didorong oleh rasa ingin tahu, yang nantinya akan berakhir setelah dia mendengar jawaban kita. Masalahnya adalah kenapa anak kecil itu menerima begitu saja keterangan atau penjelasan kita tentang benda tadi? Pertanyaan seperti itu dan selanjutnya akan berhadapan dengan jawaban yang tersedia. Seorang mahasiswa misalnya, menerima penjelasan dosennya. Bila ia tidak puas, maka timbullah usaha untuk mencari lagi, yang akhirnya sampai juga kepada sikap menerima seperti anak kecil tadi.

Bila ia masih belum puas, atau ternyata nanti tidak juga puas, usaha pencarian (keterangan atau informasi) akan diteruskan sampai akhirnya ia menyerah kepada suatu penerimaan. Makin jauh titik akhirnya makin tinggilah kemajuan yang dicapai. Namun pada proses maksimal dan terakhir, kita akan menyerah atau menerima sebagaimana adanya. Hal ini disebabkan pada hakekatnya manusia itu mempunyai dorongan atau naluri berkepercayaan, dan telah merupakan sebagian dari fitrahnya untuk mempercayai apa yang tidak diketahuinya.

Tentang kita sendiri, misalnya pertanyaan: apa betul ibu kita ini yang melahirkan kita? Sebenarnyakah si A itu ayah kita? Sebenarnyakah kita lahir tanggal sekian tahun sekian dan di tempat anu? Semuanya itu hanya kita terima dari orang lain dari diri kita sendiri. Demikianlah kita pada akhirnya tahu dan mengaminkan diri untuk menerimanya saja. Oleh karena kita mempunyai dorongan kepercayaan. Dorongan mempercayai itu selalu timbul sehingga kita sampai pada suatu penerimaan.

Pada alam yang lahir ini unsur kepercayaan tersebut secara sekuler dapat ditandingi oleh usaha pembuktian, sehingga dihayati sebagai kenyataan. Namun pada hakekatnya di ujung pembuktian itu terdapat penerimaan atau kepercayaan. Hal yang demikian disebabkan oleh karena alat perlengkapan kita secara lahiriah dapat dengan mudah berintegrasi dengan dunia lahir. Akan tetapi terhadap alam yang diluar kenyataan dan terhadap hakekat itu sendiri, perlengkapan kita semata-mata bersifat rohaniah, dan pencapaiannya oleh kita baru disadari setelah kita dihadapkan pada keterbenturan.

Bila kegagalan telah datang, maka pada waktu itulah kita banyak menyadari adanya naluri berkepercayaan itu, sehingga jalan keluar dari kesulitan itu kita pasrahkan kepada sesuatu yang sesungguhnya pada awalnya belum kita ketahui. Hal ini dalam bagian lain akan kita perbincangkan lebih lanjut.

Demikianlah bila sejenak kita memikiri, maka naluriah kita terhadap kepercayaan itu semakin nyata, dan karena itulah maka sukar diterima alasan tentang tidak adanya perasaan keagamaan atau naluri berkepercayaan itu bagi manusia. Tidak mempunyai kepercayaan kepada kekuatan gaib dalam pengertian kepada suatu tenaga yang mengatur kehidupan manusia, merupakan suatu pengingkaran terhadap fitrah manusia itu sendiri, yang oleh Tuhan sudah dikaruniai-Nya sebagai suatu alat dalam menempuh kehidupan. Akan tetapi bahwa ada manusia yang mengingkari kefitrahannya ini oleh Tuhan juga sudah diperingatkan dalam Al-Quran: “… Sesungguhnya kami tunjukkan kepadamu (manusia itu) jalan, tetapi adakalanya ia tahu berterima kasih, dan adakalanya ia mengingkarinya…..” 7)

Jalan yang dimaksud itu adalah kesadaran batin, rasa agama atau kepercayaan, akal, pikiran dan perasaan lainnya. 8) Akan tetapi mengingkari adanya perasaan rohaniah itu bukanlah berarti tidak ada pada dirinya, sebab memang tidak seluruh alat perlengkapan dirinya dapat diketahuinya. Namun bagi manusia yang menyadari kemanusiaannya dan kemakhlukan dirinya, tidaklah akan terlanjur mengatakan bahwa dia tidak mempercayai adanya tenaga dan alam gaib itu, apalagi untuk mengatakan tidak adanya Tuhan.

2. Kepercayaan kepada Luar Lahiriah

Istilah luar lahiriah itu adalah pengertian lain dari alam gaib yang secara langsung dianggap mempunyai hubungan dengan kehidupan manusia, sebab diantara alam gaib itu ada juga yang mempunyai pengaruh kepada kehidupan. Seperti sudah disinggung di muka bahwa kepercayaan kepada alam gaib itu sudah merupakan perasaan rohaniah manusia. Dengan demikian bagi masyarakat Minangkabau hal itu tidaklah terkecuali.

Mengapa timbul kepercayaan orang Minangkabau kepada alam gaib, dan kenapa sampai saat ini masih tetap berlangsung? Niettzzsche seorang filosof Jerman menyatakan bahwa kelahiran manusia itu sebagai “insan kekurangan” atau “a shortage animal”, atau binatang yang tidak ditentukan tugasnya lebih dahulu. Datangnya ke alam dunia adalah sebagai binatang yang belum tuntas, dan ia laksana makhluk yang tetap dalam keadaan embrional. 9) Kandatipun demikian, dia diberi alat perlengkapan agar dapat hidup terus dan melakukan daya upaya untuk menghadapi tantangan alam.

Secara garis besar alat perlengkapan manusia itu dibedakan atas dua hal, yaitu yang bersifat jasmaniah dan yang bersifat rohaniah atau batiniah. Dengan mengembangkan kedua jenis alat itu manusia secara berangsur-angsur dapat menaklukkan alam sehingga fungsinya sebagai subyek dari alam dapat dicapainya.

Fungsi manusia sebagai subyek dari alam, oleh Allah telah difirmankan dalam Al-Quran: “Dialah yang menjadikan kamu (manusia) sebagai penguasa di muka bumi dan sebagian kamu ditinggikan beberapa tingkatan dari yang lain, karena Tuhan hendak menguji kamu tentang apa yang telah diberikan-Nya kepadamu sekalian”. 10)

Tentang tugas pokok manusia telah disebut dalam firman-Nya: “Aku ciptakan jin dan manusia itu agar mereka mengabdi kepadaku….” 11). Karena tugasnya yang begitu besarlah, maka manusia itu diberi perlengkapan yang jauh melebihi dari apa yang diberikan kepada makhluk lain. Namun manusia dengan fitrahnya tetaplah merupakan manusia yang kurang, apalagi bila kesadarannya untuk menggunakan alat-alat yang dianugerahkan Tuhan itu belum mampu digunakannya dengan baik.

Semenjak dari nenek moyangnya, semenjak dari purbanya, manusia telah belajar untuk melatih diri menggunakan alat-alat perlengkapan tersebut agar dapat dipakai guna menegakkan kekuasaannya terhadap alam. Apa yang dicapai oleh hasil belajar itu telah kita kenal sebagai kebudayaan. Bila dia telah berhasil dengan sesuatu laku perbuatannya, maka diharapkan oleh Tuhan agar tugas pokoknya dapat terlaksana dengan baik, yaitu mengabdi kepada-Nya.

Namun pengalaman manusia menunjukkan bahwa dia tidaklah sekaligus dapat mengenal tugas pokoknya itu. Kadang-kadang fungsinya untuk menguasai alam lebih menonjol dari pelaksanaan tugas pokok mengabdi. Disinilah manusia itu pada lahirnya kurang melihat dan menghayati alam dalam segala kelebihannya. Hal ini adalah akibat dari kebebasan musuh manusia yaitu “iblis”, sejenis makhluk Tuhan untuk memperdayakan manusia dari tugas pokok tadi, seperti perdayaan yang dilakukan iblis terhadap nenek moyang manusia (Adam dan Hawa).

Iblis berhasil menyesatkan manusia, sehingga akalnya menjadi tumpul ketika berhadapan dengan alam. Allah Subhanahu Watala telah memperingatkan manusia dalam Al-Quran tentang kehendak iblis atau syaitan itu: “Syaitan (iblis) itu hanyalah menyuruh kamu mengerjakan kejahatan dan perbuatan keji dan mengada-adakan hal Tuhan yang tidak kamu ketahui” 12) Demikianlah syaitan itu melalui alam berusaha menjauhkan manusia dari Tuhan sebagai yang harus diabdiinya.

Semuanya itu menghadapkan tantangan kepada manusia dan segalanya itu seakan-akan raksasa yang menghadang. Akan tetapi manusia itu harus hidup, mereka harus pula mengadakan perlawanan terhadap tantangan itu dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Dengan perlengkapan jasmaniah dimulailah usaha mengatasi tantangan itu. Perlengkapan rohaniah yang mungkin dapat membantu jasmani dipakai dengan sebisa-bisanya. Akan tetapi karena alam yang dihadapinya dalam keadaan siap, maka sering kali pula timbul kegagalan dalam usaha untuk menjadikan alam itu guna memenuhi kebutuhannya.

Apa yang dilihatnya hari ini besoknya berubah dan pada saat lain berubah lagi. Matahari yang pagi ini terbit di Timur (di Minangkabau), nanti setelah beberapa waktu lenyap di tempat yang berlawanan. (sebelah Barat). Sungai tempat mereka mandi dan minum kadang-kadang banjir dan kadang-kadang kering. Bahan makanan yang ada di sekitar mereka habis dimakan binatang, atau dilanda banjir, atapun hancur dimakan waktu. Demikianlah kenyataan yang dihadapi mereka, sekaligus alat-alat perlengkapan rohaniah yang belum terlatih itu (akal) tidaka sanggup melakukan tugasnya.

Bukan ini saja tantangan hidup yang dihadapi mereka. Peristiwa-peristiwa alam seperti angin keras, gunung meletus, kematian, sakit dan lain sebagainya merangsang mereka dalam melakukan perjuangan hidup untuk memenuhi kebutuhan lahirnya. Akibatnya timbullah rasa takut dan rasa kesusahan untuk menghadapi segala-galanya itu. Untuk itu maka dicobanyalah menghindarkan diri dengan jalan menenteramkan tubuh dan jiwanya. 13) Karena rasa takut, rasa susah dan kekurang-mampuan untuk mengatasi kenyataan itu membangkitkan perasaan-perasaan rohaniah mereka untuk melakukan usaha, agar alam itu dapat ditundukkan atau setidak-tidaknya jangan sampai membahayakan.

Namun demikian, seluruh upaya rasa rohaniah itu terbentur dan tidak berhasil mengatasi ketakutan, kesusahan dan ketidakmampuan itu. Pada waktu inilah timbul alat yang paling utama bagi manusia yaitu rasa kepercayaan atau rasa keagamaan yang menginformasikan kepadanya bahwa disamping alam lahir ini ada lagi alam di luar lahiriah yang mempunyai hubungan erat dengan alam nyata. Merangkaklah fitrah kepercayaan itu dari sedikit ke sedikit, sehingga setiap dijumpai kedahsyatan alam atau rasa ketakutan dan setiap dijalani kegagalan, maka kepercayaan itu muncul menentramkan tubuh dan jiwa manusia itu.

Demikianlah bermulanya kepercayaan masyarakat kepada luar lahiriah itu, atau tegasnya mulai mereka menyadari akan adanya naluri kepercayaan atau rasa keagamaan yang disebabkan mereka selalu diburu-buru oleh rasa takut dan susah. Dalam banyak hal, kemunculannya disertai bahkan disebabkan oleh ketidak-mampuan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Bagi masyarakat Minangkabau hal ini tidaklah terkecuali, bahkan sampai sekarang dihayati terus menerus, baik yang telah meningkat kepada bentuk agama maupun yang masih berada pada tingkat awal.

Dalam penghayatan kepada luar lahiriah ini, sebagai usaha untuk mendapatkan ketentraman, dibutuhkan pula usaha pemikiran untuk memperolehnya. Hal ini didapatkannya dengan jalan mengadakan hubungan atau kontak dengan luar lahiriah itu sendiri. Karena itu status seseorang atau kelompok masyarakat ini menjadi orang yang meminta, sedangkan kekuatan luar lahiriah tadi menduduki tempat sebagai sipemberi. Si peminta tentulah tidak akan lebih tinggi kedudukannya daripada si pemberi, karena itu si peminta akan bersikap memohon dan bukan memaksa.

Oleh sebab itu, lahiriah bentuk-bentuk perhubungan yang ada kalanya berupa ritus, dengan upacara dan bahasa. Perhubungan yang dilakukan baik bersifat perorangan ataupun kolektif pada masa ini, tidak saja disebabkan oleh kegagalan, tetapi juga karena takut pada kegagalan itu sendiri. Dengan demikian setiap perbuatan yang ada sangkut pautnya dengan alam, selalu dimulai dengan mengadakan kontak terlebih dulu antara perseorangan atau pun kolektif tadi secara bersama-sama dengan alam gaib tersebut.

Kendatipun masyarakat Minangkabau sudah memeluk agama Islam yang pola kepercayaannya menetapkan ke Esa an Yang Maha Penguasa, dan alam gaib yang dipercayainya itu tidak lebih dari makhluk Allah juga yang tidak mungkin berbuat kecuali dengan izin-Nya.14) Namun kepercayaan kepada sifat menentukan kepada alam gaib itu masih ada, sekalipun dalam jumlah yang tidak besar.

3. Kepercayaan dalam Bentuk Agama

Kepercayaan kepada yang gaib (baik alam maupun Penciptanya yang keduanya sama-sama gaib) merupakan pengalas dasar dari agama. Dalam kepercayaan masih belum dituntut keharusan tindakan atau aktifitas jasmani baik berupa upacara ataupun sikap dan perhambaan. Ia baru merupakan embrio yang menunggu campur tangan jasmani. Dalam agama kepercayaan ini telah dirumuskan dan telah ditentukan bagaimana kedudukan manusia terhadap yang dipercayai iiu, dan apa yang harus diperbuat serta bagaimana cara yang seharusnya dilakukan.

Meneliti kembali tentang rasa keagamaan sebagai fitrah manusia, maka timbullah beberapa teori tentang perkembangan agama, sehingga terdapat keaneka-ragaman pendapat. Dalam buku Kuntuaraningrat 15) dapat dilihat beberapa teori tentang asal mula agama itu. K.B Taylor seorang ahli antropologi budaya menjelaskan bahwa agama itu berkembang dari tingkat rendah menurut evolusi tertentu. Pada tingkat pertama berupa animisme, yaitu kepercayaan pada makhluk halus dan roh-roh yang menempati seluruh alam. Kemudian meningkat sesuai dengan perkembangan berpikir manusia, sehingga sampai pada tingkat tertinggi, yaitu monotheisme.

Lepas dari setuju atau tidak setuju dengan teori evolusi agama ini, maka dalam masyarakat Minangkabau (terutama di desa-desa) dapat dikatakan bahwa kepercayaan terhadap makhluk halus itu tetap ada, disamping mereka telah memeluk agama yang menurut teori evolusi telah berada pada tingkat tertinggi, yaitu Islam. Kebenaran ini, akan dijelaskan lagi berdasarkan fakta yang diperoleh dalam penelitian. Namun terlebih dulu akan kita ikuti pandangan Gazalba tentang agama, yang membaginya atas dua jenis, yaitu:

a. Agama sebagai produk manusia yang dapat dimasukkan ke dalam lapangan kebudayaan. Yang masuk kategori ini misalnya agama bersahaja, animisme, dinamisme dan sebagainya. Dia merupakan suatu penjelmaan cara berpikir manusia dalam berhubungan dengan Yang Maha Pencipta.

b. Agama, yang diturunkan oleh Tuhan dengan wahyu kepada Rasul, yang disebut dengan “addinus samawi” atau “agama langit” , tidak termasuk lapangan kebudayaan….”16)

Kedalam kriteria kedua ini termasuk agama yang meng-Esakan Tuhan yang diterima oleh para Rasul Ilahi, seperti Islam, Kristen-murni, dan Yahudi-murni.

Mengenai perbedaan kedua kategori ini, Drs.Moh.Sjafaat mengemukakan bahwa agama jenis pertama yang disebutnya sebagai “agama dunia”, membayangkan pengertian yang serba gaib, pengertian mistik, misrteri, magi, fantasi dan takhyul. Karena itu ia tidak tahan uji, bila pengetahuan manusia telah dapat menyingkapkan tabir kerahasiaannya atau sudah tampak cela dan kekurangannya.

Berbeda dengan agama dunia itu, maka agama langit cocok dengan penalaran (akal) manusia, sebab ia datang dari Yang Maha Pencipta. Kita tentu merasa aneh, karena di kalangan rakyat masih demikian kuatnya berakar kepercayaan pada agama jenis pertama itu, sehingga kendati pun mereka telah memeluk agama Islam, sebagai agama yang benar, namun mereka tetap mempertahankan agama dunia itu. Peresapan yang telah berakar itu disebabkan oleh pengaruh tempat mereka hidup, pendidikan, keturunan, pengalaman masa kecil, dan sebagainya. 17)

Disamping pengaruh lingkungan tempat mereka hidup, pendidikan, dan keturunan yang menyebabkan masyarakat berpegang teguh kepada paham-paham agama produk manusia itu, faktor utamanya adalah perkembangan manusia itu pada tempat tinggal mereka sendiri.

Rasa keagamaan yang mengesakan Tuhan, telah dirahmatkan oleh Ilahi melalui fitrah manusia, sehingga dengan demikian mereka telah menemukan fitrah mereka sendiri sebagai makhluk, kendatipun penemuan fitrah keagamaan ini dibentengi juga oleh syaitan sehingga pengenalan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu masih tetap dikaburkan. Dipandang dari segi agama dan ketaqwaan kita sendiri, sebagai seorang muslim, kepercayaan mereka ini jelas salah, bahkan Islam menghukumkan penganut kepercayaan seperti ini dengan “musyrik” (orang yang memperserikatkan Tuhan). Namun demikian halnya, bila dilihat dari sudut fitrah manusia yang lain, manusia itu memang diciptakan dari bahan-bahan alamiah dan datangnya paling muda dibandingkan dengan terciptanya alam lain. 18) Dengan adanya kepercayaan kepada kekuatan gaib itu yang menurut evolusi K.B Taylor, disebut animisme, dan menurut Gazalba termasuk agama produk manusia atau agama dunia, juga merupakan suatu bukti bahwa manusia itu kodratnya mempunyai naluriah kepercayaan atau rasa keagamaan.

Kendatipun seperti demikian, bagaimana kedudukan kepercayaan berganda, seperti yang dipraktekkan oleh sebagian masyarakat Minangkabau itu? Apakah Tuhan memang memberikan jenjang pertama dengan kepercayaan animisme, baru kemudian dengan agama Tauhid? Agaknya dalam hal ini soal waktu, tempat dan suasanalah yang menimbulkan pengaburan itu. Tuhan sebagai Yang Maha Tahu dan Maha Adil, cukup memberi kemungkinan bagi manusia untuk mendapatkan-Nya. Tetapi oleh karena pengaruh luar, ternyata sebelum agama (yang benar didatangkan) maka di kalangan masyarakat telah menebar kepercayaan yang kabur itu lebih dulu.

Dalam masyarakat Minangkabau, kepercayaan pada kekuatan gaib itu disebabkan juga oleh pandangan mereka kepada alam. Faktor tempat mempengaruhi pula berakar tidaknya kepercayaan itu bagi mereka. Begitu pun cara masuknya agama Islam yang cenderung bersifat kompromi, memungkinkan kepercayaan lama tetap hidup dan tidak dimusnahkan. Lagi pula para penyebar agama Islam waktu itu tidak merasa perlu untuk mengikis habis pola kepercayaan musyrik itu.

Dibalik predikat Islam, kepercayaan itu ternyata masih dapat berlindung pada kebiasaan-kebiasaan lama yang sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat.

Kebernaran tentang agama wahyu juga dipengaruhi oleh waktu dan tempat. Pemeluk agama Islam tidak lagi mengakui kebenaran Agama Kristen dan Yahudi dan lain-lain agama wahyu, oleh karena agama itu sudah dirusak oleh tangan-tangan manusia sendiri. Lagi pula menurut kepercayaan Islam, agama-agama tersebut hanya berlaku pada tempat dan golongan masyarakat serta waktu tertentu saja. Mengenai pendirian Islam bahwa hanya agama Islam lah yang benar di sisi Tuhan, seperti yang dilukiskan dalam firman Ilahi:

“Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Tuhan adalah Islam. Hanyalah orang-orang keturunan Kitab yang berselisih paham sesudah pengetahuan itu datang kepada mereka, disebagkan kedengkian diantara sesama mereka. Dan siapa yang tidak perdcaya kepada keterangan Tuhan itu, sesungguhnya Tuhan amat cepat sekali membuat perhitungan” 19)

Pengertian keturunan Kitab disini adalah pengikut agama wahyu selain Islam. Selanjutnya agama langit atau agama wahyu, tidaklah sama obyeknya. Agama Yahudi misalnya yang dibawa oleh Musa a.s dan a- gama Masehi yang dibawa oleh oleh Isa a.s hanya diperuntukkan bagi “anak-anak (bangsa) Israil” saja. Baik Al-Quran maupun Injil telah menjelaskan hal itu secara gamblang: “Dan sesunguhnya telah Kami berikan kepada Musa, Kitab yang memberi pimpinan dan Kami pusakakan Kitab itu untuk anak-anak Israil”.20)

“Dan dia (Isa a.s) menjadi Rasul bagi anak-anak Israil” 21) Didalam Injil pun ditemui penjelasan Yesus menjawab, katanya “Saya tidak diutus melainkan kepada kambing-ka bing Bani Israil yang sesat”. 22)

Akan tetapi agama Islam ditujukan kepada/untuk seluruh umat manusia, jadi sifatnya universal. Tidaklah terkecuali orang-orang keturunan Kitab sendiri, mereka juga berkewajiban untuk menuruti agama Islam. Hal ini dijelaskan dalam firman Ilahi:

“Dan tidaklah Kami mengurtus engkau (Muhammad) kecuali untuk seluruh manusia.23)

“Dialah yang mnengutus Rasul-Nya (Muhammad) membawa pimpinan yang benar dengan kebenaran, supaya dapat mengatasi agama seluruh nya, biarpun orang-orang yang mempersekutuhan Tuhan itu tidak merasa senang”.24)

Kendatipun agama wahyu yang terdahulu dari Islam itu adalah a- gama tauhid yang mutlak dan benar, namun lantaran tangan beberapa orang manusia menjadi bernoda. Begitulah orang Islam tidak lagi mengakui kebenaran agama Masehi, yaitu setelah wafatnya Isa a.s, te- rutama sesudah Paulus (salah seorang pengikut Isa) memasuki dan memeluk agama ini. Dialah yang menhancurkan haluan-haluan yang benar dari agama itu. 25), sehingga dapatlah kita berkata bahwa hanyalah Islam yang masih terjamin kebenarannya di antara agama wahyu itu.

Faktor akal merupakan hal yang penting bagi kewajiban terhadap agama yang benar ini. Orang yang tidak berakal atau yang belum dewasa (balig), orang gila, orang mabuk dan anak-anak, tiadalah dituntut oleh kewajiban menjalankan agama Islam. Seperti disabdakan oleh Nabi Mu- hammad s.a.w: “Agama itu adalah akal, tiadalah beragama bagi orang yang tidak mempunai akal” (hadist).

Karena keras amalannya itulah maka Islam merupakan penyempurna agama-agama wahyu yang terdahulu. Dan karena pola ke-Tuhan-annya yang jelas serta masuk akal, mengakibatkan batalnya segala agama dan segala bentuk kepercayaan manusia selain dari Islam itu sendiri. Pola kepercayaan Islam adalah meng Esa-kan Tuhan, dan tidak sesuatupun kekuatan yang dapat mengatasi-Nya. Hanya Allah saja yang berhak dipuji dan hanya kepada-Nya saja segala permintaan, permohonan doa dan upacara diperuntukkan:

“Katakanlah (Ya Muhammad)

Tuhan Allah itu Esa

Allah itu tempat meminta

Dia tidak mempunyai putra

Dan Dia tidak dilahirkan

Tidak ada sesuatupun (di antara maakhluk ini, alam lair atau alam gaib)

Yang menyerupai-Nya dalam segala hal” 26)

Memuja saja kekuatan alam yang merupakan hasil renungan manusia, seharusnya sudah hapus dan praktek-praktek mantra yang menuju suatu roh atau jiwa seharusnya tidak ada lagi apabila Islam telah diakui: “Engkau saja yang kami sembah, dan kepada Engkau lah hanya kami minta pertolongan”.27)

Jadi dengan adanya agama Islam, bukanlah berarti bahwa sebelumnya tidak ada kepercayaan yang dianut oleh kelompok-kelompok manusia. Banyak teori mengatakan bahwa sebelum agama Islam datang, mereka telah mempunyai bentuk-bentuk agama, agaknya tidaklah perlu kita sangsikan, sebab kalau sekiranya tidak demikian, tentulah agama (Islam) ini tidak datang untuk membetulkan tauhid yang telah sesat itu.

4. Dari Animisme ke Monotheisme

Telah dijelaskan bahwa kepercayaan pada kekuatan gaib yang dianggap mempunyai kekuasaan pada manusia adalah kemusyrikan yang menyesatkan manusia itu sendiri. Demikian merasuknya kesesatan itu, sehingga tidak dianggap sebagai suatu kesalahan, malah dianggap sebagai suatu hal yang biasa saja dan dapat berkompromi dengan agama Islam.

Memercayai adanya alam gaib tidak bertentangan dengan agama Islam. Akan tetapi menyangka alam gaib itu dapat menentukan hidup manusia, karena itu mereka harus dipuja, berarti mereka sudah dijadikan subyek kepercayaan. Dengan demikian kedudukannya sama dengan Tuhan Yang Maha Esa. Pada tahap inilah hukum kemusyrikan itu jatuh kepada pemeluk agama dunia itu termasuk di dalamnya animisme dan dinamisme. Untuk menghilangkan kemusyrikan itu yang di dalam masyarakat tidak dirasakan atau disadari, termasuk juga tugas agama Islam, yaitu tugas pemeluknya yang mengetahui.

Dalam masyarakat Minangkabau unsur-unsur kepercayaan lama yang bersahaja seperti animis dan dinamisme dengan upacara-upacaranya masih kelihatan sisa-sisanya. Hal ini masih ktia dapat pada sebagian masyarakat di desa-desa. Keadan alam Minangkabau yang umumnya bersifat agraris itu agaknya mempersukar hilangnya kepercayaan itu, kendatipun agama Islam sudah berakar kuat di sini. Kepercayaan animisme, dinamisme dan kini kepercayaan berganda, memang lebih erat hubungannya dengan kehidupan masyarakat agraris itu.

Dalam masyarakat Dobu misalnya di pantai Irian Selatan, mempercayai bahwa ubi sebagai makanan pokok mereka sanggup mempunyai sifat-sifat seperti manusia. Tanaman ubi itu bisa berpindah-pindah dari satu kebun ke kebun lain. Mereka beranggapan bila kebun ubi orang lain kelihatan subur dan hasilnya banyak, maka hal itu disebabkan oleh pencurian magis, bukan karena tanahnya yang subur atau rawatannya yang lebih baik oleh pemiliknya. Mereka tidak hendak memikirkannya sehingga mengerti bahwa orang lain akan sanggup menanam ibi lebih banyak dari pada mereka sendiri. 28)

Demikianlah, setiap benda alam ini, mempunyai sifat atau jiwa seperti manusia dan perbuatan personifikasi semacam itu bagi masyarakat Minangkabau tidaklah terkecuali. Bila sebuah biji padi terpelanting di tengah jalan dan terinjak-injak oleh kaki manusia, maka padi itu dianggap akan sedih dan bukanlah suatu kemustahilan ia akan mengadukan halnya kepada induknya. Akibatnya bagaimana? Boleh jadi sipenganiaya padi tersebut akan mengalami kelaparan terus menerus atau padi yang ada di rumahnya meungkin akan lenyap. Karena itu setiap tampak ada padi yang tercecer kalau tidak akan dipungut, ditegur dengan manis. Bila akan menginjaknya misalnya di dalam lumbung, terlebih dulu haruslah menyebut sesuatu yang merupakan permohonan izin kepadanya, misalnya “Hai si Lansari, bari maoh aku lalu” (Hai si Lansari, beri maaf aku lewat).

Akibat dari anggapan bahwa setiap benda mempunyai jiwa (animisme) maka segala sifat yang ada pada manusia berlaku juga bagi benda-benda itu, yaitu roh halus yang berada padanya. Mereka dapat melihat, mendengar, mencium, merasa, berkata dan sifat-sifat lain dari manusia Karena kepercayaan yang demikian, maka tidaklah aneh, bila kepada padi yang terpelanting tadi diucapkan sesuatu. Bila melakukan sesuatu pekerjaan pada tempat tertentu diminta lebih dulu restu dari roh halus penghuni tempat atau yang menjaga tempat tersebut.

Perbuatan-perbuatan seperti di atas, dalam masyarakat Minangkabau masih dapat kita lihat pada upacara-upacara, misalnya mendirikan rumah menebang kayu di rimba, pergi berburu, turun ke sawah, membuka hutan atau ladang baru, melahirkan, kematian, ketika sakit serta keadaan yang berlaku dalam kegiatan hidup lainnya. Semua itu perlulah di dahului oleh semacam permohonan keselamatan. Bentuk permohonan yang merupakan bahasa kita kenal dengan istilah “mantra” yang didalam masyarakat di sebut “du`a” (Bahasa Arab).

Kepercayaan masyarakat yang semacam itu lebih diperkuat pula oleh pengaruh ajaran Hindu-Budha yang pernah singgah di Minangkabau, sebelum datangnya agama Islam. Hal ini dapat ktia lihat pada bekas-bekas kepercayaan reinkarnasi atau penjelmaan kembali sesudah seseorang meninggal dunia. Penjelmaan tersebut sering di sebut orang dengan “jadi-jadian”, yaitu binatang atau sejenisnya yang disangka berasal dari seorang manusia yang telah meninggal dunia. Dengan demikian dikenal dalam masyarakat istilah, misalnya “harimau jadi-jadian”, atau “kucing jadi-jadian”, bila penjelmaan itu merupakan binatang binatang itu. Begitupun semacam kepercayaan yang masih erat melekat pada masyarakat di desa-desa adalah kepercayaan akan adanya “hantu”. 29) bagi setiap orang yang mati yang merupakan pendekatan terhadap jadi-jadian itu. Dalam percakapan sehari-hari untuk sekadar membedakan antara orang hidup dengan orang mati terdapat pameo (ungkapan) “Urang iduik banyak aka, urang mati banyak hantu” (Orang hidup banyak akal, orang mati banyak hantu).

Dengan masuknya agama Islam paham penjelmaan ini menjadi bercampur aduk, sehingga setiap orang yang telah meninggal dunia, dianggap arwahnya turun ke rumah pada setiap bulan suci. Bulan yang sering dikunjungi oleh arwah-arwah tua (keluarga) itu adalah Rabiul Awal, Rajab, Sya`ban, Ramadhan serta Zulhijah, disamping petang Kamis atau malam Jumat. Oleh karena itu menjadi lumrah di desa-desa orang mengadakan pembacaan doa-doa secara Islam dengan menjamu “urang siak” 30) untuk memintakan atau memanjatkan doa tersebut kepada …… Tuhan.

Cara memanggil bukan menurut Islam, hanyalah doanya yang secara Islam. Memanggil seseorang untuk membacakan doa, agaknya bukan kelaziman agama Islam, karena mendoakan atau memohonkan sesuatu kepada Tuhan lebih afdal atau lebih baik dilakukan oleh kita sendiri daripada dimintakan oleh orang lain.

Memanggil orang berdoa pada setiap petang Kamis itu terkenal dengan istilah “badu`a patang Kamih” (berdo` petang Kamis). Di sini bercampurlah ajaran agama Budha dengan Islam. Pencampuradukkan kedua ajaran itu terletak pada pensublimasian ruh yang hidup itu menurut Islam dengan a- danya penjelmaan kembali menurut Hindu-Budha pada setiap bulan tertentu, kendatipun tidak terlihat. Malah dikatakan bahwa roh si mati itu datang, untuk melihat dari dekat keadaan anak cucu atau keluarga yang ditinggalkannya.

Dewasa ini masih dilakukan cara-cara menghitung hari orang yang telah meninggal, oleh keluarganya yang masih hidup. Yaitu mulai sejak dia meninggal dunia sampai seratus hari. Pada tanggal tertentu, misalnya setiap kelipatan sepuluh hari matinya atau setiap kelipatan tujuh, diadakan upacara mendoa dengan “urang siak” tadi untuk membacakan doa selamat bagi almarhum.

Waktu upacara itu para pamili yang berjauhan datang membawa makanan ke rumah pamili yang menghitung hari mati tadi. Hal ini disebut dengan “maliek kaji”, atau “du`a” (melihat orang mengajikan atau melihat orang mendoakan). Setelah sampai seratrus hari, diadakan ucpacara besar yaitu dengan menjamu seluruh isi kampung dan kembali membacar do`a selamat. Dalam upacara yang terakhir ini, pidato-pidato persembehan, mulai dari permulaan upacara sampai akhirnya memegang peranan penting.

Ketika ini keluarga almarhum biasanya memberikan sedekah kain sarung, kepada seseorang yang disebut “urang manggantian” (orang yang menggantikan) yaitu orang lain yang disenangi oleh pamilinya, yang telah ditetapkan juga dengan mupakat sewaktu kematian, dan ketika “manyaratuih hari” (menyeratus hari, upacara ketika cukup seratus hari almarhum meninggal dunia). Kadang-kadang juga diberi hadiah kain sarung atau handuk mandi. Biasanya diringi pula dengna sebuah payung hujan.

Di sini kelihatan lagi bercampur aduknya kepercayaan yang dianut oleh masyarakat. Pada satu pihak tata cara Islam akan menyelenggakan si mati mulai dari memandikan, mengafani, menyembahyangkan, menguburkan dan mendoakan. Tetapi di pihak lain paham lama (yang telah terpadu dalam kebiasaan) menyelenggarakan pula tata cara sesudah si mati itu ditanamkan. Pembacaan doa setiap tanggal tertentu mungkin dimaksudkan agar jangan orang yang meninggal itu mengalami sebagai sesuatu yang kurang baik. Akan tetapi karena Islam telah memegang peranan dalam hidup mereka, maka diberi judul permohoan langsung *yang dilakukan oleh orang lain” atas kesalahan dan kekhilafannya dapat diampuni Tuhan dan agar dilindungi-Nya di akhirat.

Demikianlah paham kepercayaan masyarakat Minangkabau setelah memeluk agama Islam, mereka amalkan ajaran Islam, tetapi masih enggan melepaskan milik lama yang tampaknya disenangi. Sifat dan gelagat seperti demikian masih dipegang juga sampai sekarang. Mereka tidak memiliki ketegasan dalam kepercayaan, apalagi kepercayaan menurut ajaran Islam yang murni.

Dalam adat Minangkabau yang dijalin dengan kepercayaan itu tampak juga ketidaktegasan mengikuti apa yang dikonsepkan oleh adat itu sendiri. Misalnya dasar: “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato adaik mamakai”. Pada bidang harta warisan misalnya tampak ketidak tegasan itu. Kita tidak menjalankan hal ini karena harta warisan di Minangkabau itu terdapat istilah “panjang bakarek, kok bunta bakapiang” (bila panjang dipotong, bundar dikeping), antara pihak kemenakan dengan pihak anak dari seorang almarhum (laki-laki ) yang ada meninggalkan harta pencaharian.

Cara yang sepeti demikian memperlihatkan juga ketidak tegasan mengikuti ajaran agama yang benar itu. Namun demikian, kita masih dapat berbangga diri, karena adat Minangkabau yang disusun jauh sebelum Islam masuk (yaitu pada masa jayanya kepercayaan animisme, dinamisme dan Budhisme), dapat cocok dengan ajaran Islam sebagai pelurus kepercayaan dan cara bermasyarakat. Kendatipun beberapa hal dari adat itu masih perlu mendapat penelaahan, pemikiran kita bersama.

Memang sebelum Islam, pengaruh Budhisme amat besar di Minangkabau. Hal ini dibuktikan dengan terdapatnya peninggalan-peninggalan kuno di Muara Takus dan beberapa tempat lainnya. Untuk hal ini dijelaskan oleh Drs.Zuber Usman:

“…. Di sini akan kita pakai saja nama Minangkabau purba atau Minangkabau Budha, seperti telah kita kenal dalam sejarah Sriwijaya bahwa Budisme yang lebih berpengaruh atau lebih kuat di Sumatera sebelum ada pengaruh Islam“. 31)

Tentulah dalam pembentukan adat Miangkabau pengaruh animsme dan Budhisme ini tidak dapat ditiadakan, sehingga dalam pencocokan adat dengan ajaran Islam itu ada beberapa hal yang dilenyapkan. Tetapi masih ada juga beberapa hal yang dibiarkan sebagaimana semula seperti yang disebutkan diatas.

Tengang nama “adat” itu sendiri telah mendapat revisi pula. Kata Rudolf berasal dari bahasa Arab “adatun”, artinya “kebiasaan, tata cara atau undang-undang hidup”. Dalam istilah Minangkabau asli disebut dengan istilah “buek” (buat) yang merupakan nama asli dari adat itu. Dari kata “buek” itu saja, ternyatalah bahwa undang-undang hidup itu tidak ditentukan, tetapi dirumuskan bersama dengan mufakat. Itulah sebabnya diberi predikat dengan “tak lapuak dek ujan, indak lakang dek paneh” (tidak lapuk oleh hujan tidak lekang oleh panas), oleh karena adat itu adalah “buek” yang dimufakati.

Kecocokan adat Minangkabau yang telah disusun jauh sebelum Islam masuk, kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam sesuai dengan fungsinya sebagai penyempurna budi pekerti manusia dan memperlurus ketauhidan dalam beragama. Hal ini dijelaskan oleh Prof.Mr.Nasroen:

“Tetapi lain halnya waktu agama Islam masuk masyarakat Minangkabau , adat Minangkabau tidak hancur, sebab sebagaimana telah diterangkan, adat Minangkaau itu adalah berdasarkan pada ketentuan-ketentuan yang terdapat pada alam, yang disabdakan oleh Tuhan dalam Al-Quranul Karim dan oleh sebab itu agama Islam menerima kenyataan adat Minangkabau itu. Malahan kedatangan agama Islam itu masyarakat Minangkabau merupakan sebuah rahmat Allah bagi masyarakat Minangkabau, sebab agama itu telah menyempurnakan adat itu”.32)

Oleh karena sifat menyempurnakan ini, tentulah unsur-unsur lama tidak hilang seluruhnya oleh agama Islam itu. Dengan demikian beberapa materi adat yang merupakan tatacara hidup masyarakat Minangkabau menggambarkan juga unsur-unsur lama, kendatipun unsur-unsur itu bertolak belakang dengan ajaran Islam sendiri.

Adalah tugas generasi sekarang untuk membersihkan semua unsur-unsur yang bertentangan dengan ajaran agama yang hendak ditupangi baik dalam hidup di dunia maupun di akhirat. Terlebih lebih di sektor kepercayaan yang merupakan pandangan hidup bagi seorang Muslim. Unsur-unsur kepercayaan sesat yang telah bebaur dengan bahasa dalam kesusastraan misalnya, dapatlah dianggap seba gai hasil kebudayaan lama untuk dijadikan cermin pemantul untuk melihat keadaan masyarakat lama kita. Bolehlah kita ambil mutiaranya dan kita pupuk mana yang tidak mengganggu kepada ketauhidan dan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu Wataala. Ketauhidan inilah yang menurut hemat kita, rasa dari rasa rohaniah (kepercayaan) itu, yang karena pengaruh kesesatan bervolume sebagai bentuk “s e r b a” dan kita anggap sebagai awal.

Demikianlah pandangan kita sekadarnya tentang kepercayaan masyarakat Minangkabau, dan kalau selanjutnya kita memasuki persoalan bahasa yang berkaitan dengan kepercayaan, maka yang kita maksud adalah kepercayaan yang terdapat di Minangkabau.

5. Monisme sebagai Pengaruh Kepercayaan

Istilah “monisme” berasal dari bahasa Latin “monos” satu atau tunggal. Jadi monisme adalah paham yang serba tunggal, merupakan aliran filsafat yang berpendirian bahwa realitas yang sebenarnya itu hanyalah satu. Lawan dari monisme adala dualisme, yaitu yang menganggap realistas itu dua, atau paham yang serba dua. Misalnya dualisme ini adalah adanya baik dan buruk, hina dan mulia, jasmani dan rohani, alam dan Tuhan atau makhluk dan Khaliknya.

Hubungan monisme dengan kebudayaan manusia dijelaskan oleh Dra.Sabarti Achadiah:

“Di dalam alam yang lama ini atau mikrokosmos manusia adalah termasuk ke dalam susunan mikrokosmos. Pandangan atau pendapat yang mengutarakan bahwa susunan mikrokosmos bersesuaian dengan timbangan susunan makrokosmos sehingga kedua hal ini merupakan suatu keseimbangan, disebut monisme. Segala sesuatu terikat kepada alam, manusia pun merasa terikat dengan alam itu. Alam merupakan segala-galanya. Semuanya yang ada ini masuk kedalam suatu ikatan suci yang maha besar, yaitu makrokosmos. Pandangan seperti ini sudah barang tentu sangat erat hubungannya dengan kepercayaan, sebab di sini manusia hanya dianggap sebagai penjaga keseimbangan dalam dia berbuat, atau bertingkah laku.33).

Masyarakat Minangkabau juga terpengaruh oleh monisme ini. Di daerah Solok misalnya, dahulu menjadi kebiasan kalau hari panas panjang dan lama sekali tidak turun hujan, maka mereka mandi-mandi ke kolam-kolam atau ke sungai atau mata air. Di sana dilakukan simbur-menyimbur dengan menggunakan semacam pompa bambu yang disebut gacik-gacik. Air dipercikkan dengan pompa itu ke atas meniru jatuhnya hujan. Perbuatan ini dilakukan dengan harapan agar alam menurunkan hujan.

Kalau seseorang melakukan perjalanan, misalnya ke luar daerah atau pergi berjualan ke pasar, mereka akan mempunyai perhitungan empat, atau mereka sebut langkah nan ampek (langkah yang empat), yaitu:

* palangkahan = langkah perlangkahan (tepat pekiraan)

* rasaki = langkah rezeki (keberuntungan)

* patamuan = langkah jodoh, dan

* mauik = langkah muat (kesialan)

Keempat langkah ini berlaku menurut peredaran hari yang mereka nilai pada hari Jum`at. Mereka beranggapan, pada langkah maut dilarang berjalan, karena penguasa atau alam gaib ketika itu menetapkan kematian Bila hal ini dilanggar, maka maksud tidak akan sampai. Demikian pula kepercayaan, misalnya kelahiran pada hari-hari Selasa, dianggap kelahiran yang panas, akibatnya si anak yang lahir nanti akan penaik darah dan suka berkelahi kalau sudah dewasa. Berjalan pada hari Jum`at di anggap akan mendapat kegagalan karena melangkahi waktu shalat Jum`at.

Di bidang bahasa pun juga monisme timbul akibat pengaruh kepercayaan. bahwa merupakan jembatan penghubung pada kosmos. Dalam bahasa Minangkabau beberapa kata identik sekali dengan pengertiannya. Bila kita hubungkan dengan monisme maka dapat dikatakan pengertian dari sebuah kata akan merupakan makrokosmos terhadap mikrokosmosnya kata-kata. Hal ini menimbulkan kata pantang, atau tabu terhadap beberapa buah kata.

Nama orang tua atau orang yang telah tua, melambangkan person orang itu baik karerna ketuaannya, maupun karena kekuasaannya. Nama itu terlarang menyebutnya baik berhadapan dengan orangnya, maupun di belakangnya. Kalau ada sesuatu keperluan untuk menyebut nama itu dihikmatkan terlebih dulu dengan suatu pemaafan kepadanya kala dia masih hidup. Dan dimintakan maaf dengan menyebut secara langsung bila ia sudah meingggal dunia. Misalnya dengan perkataan “maaf malaikat beliau akan mendengar”, atau “arwah beliau akan memaafkan”.

Anak-anak terutama kalau ditanyakan kepadanya nama orang tuanya, guna sesuatu kepentingan, mereka tidak berani menyebutkannya. Hanyalah dengan pertolongan orang lain, kita dapat mengetahui nama orang tuanya itu. Teman mereka sendiripun juga merasa enggan menyebutnya, karena di samping terasa kecanggungan karena mengetahui ketabuan, juga takut akan dimarahi oleh teman yang punya orang tua itu.

Tidak jarang sampai anak berumur 7 tahun, mereka belum lagi mengenal nama orang tuanya, apalagi nama kakeknya, kecuali kalau mereka terlibat dalam pertengkaran dengan temannya se usia oleh karena suatu sebab.

Dalam perkelahian atau pertengkaran itu, seringkali mereka saling menyebut nama orang tua, karena menyebut nama orang tua seperti itu dalam suasana perkelahian dianggap sebagai makian. Menyebut nama orang tua seseorang tidak dengan maksud memperoleh keterangan terpenting, di sebuat “mamaki” (memaki).

Panggilan nama orang tua di belakang nama seseorang seperti sekarang umumnya kita lihat, bagi masyarakat Minangkabau jelas merupakan pengaruh asing atau dari luar Minangkabau.

Kelaziman itu barulah muncul ketika banyak pemuda-pemuda memasuki sekolah atau memperluas lingkungan pergaulannya. Bagi beberapa orang tua masih tetap tidak senang dengan penampilan namanya di balakang nama anakanya, apalagi kalau orang tua kita itu digolongkan dengan apa yang disebut “kolot” atau “kuno”.

Hal tersebut memang beralasan, karena orang yang seharusnya menjaga nama baik orang tuanya, sekarang sengaja menghilangkan ketabuan itu, Ini berarti menghilangkan keseimbangan yang harmonis antara mikrokosmos dengan makrokosmos.

Sebagai bawaan dari agama Islam sendiri yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Arab dalam pandangan telah memasuki pula bidang nama ini. Banyak diantara kita yang memakai nama-nama bangsa Arab, atau yang lazim bagi bangsa itu. Tetapi satu hal yang tidak ingin diambil adalah penampilan “anak si….” Atau dalam ungkapan Arab “… bin…” atau “… ibnu…” sesudah nama sendiri. Misalnya seperti nama Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khatab, Amr bin Ash, dan sebagainya. Penyebutan seperti itu dilakukan baik dalam memberitakan maupun dalam berhadapan dengan orangnya.

Tetapi masyarakat Minangkabau tidak meniru hal ini, kecuali kalau diperlukan dalam memberi sesuatu keterangan, seperti untuk surat Nikah, dan sebagainya. Hal ini juga memperlihatkan pengaruh monisme dalam bahasa mereka sendiri.

Panggilan terhadap seseorang yang lebih tua selalu dipilih yang bersifat menghormati atau membesarkan (dengan memakai kata pengganti). Hal ini dilazimkan dengan memberi gelar yang merupakan pusaka turun temurun juga.

Kehadiran gelar bagi seseorang yang telah akil balig atau dewasa, adalah karena namanya telah mulai tabu untuk disebut, terutama oleh orang yang lebih muda dari usianya.

Karena itu bagi seorang laki-laki yang sudah dewasa di Minangkabau merupakan kehormatan memakai gelar bahkan merupakan keharusan pula. Pepatah adatnya menyebutkan: “ketek banamo gadang bagala” (kecil dipanggil nama, bila sudah dewasa dipanggil gelarnya).

Gelar-gelar itu biasanya terdiri dari kata-kata atau ungkapan yang bernilai tinggi dan dianggap mempunyai daya kekuatan, misalnya Datuak Bandaro Putiah, Datuak Sinaro Panjang, Marah Sutan, Malin Batuah, Sutan Malintang Alam, Rajo Indo Bumi, dan sebagainya.

Semuanya itu melambangkan kebesaran serta mempunyai tingkat pemakaian dalam kaum. Karena itu ada yang disebut dengan istilah “gala tuo” (gelar tua), atau “gala mudo” (gelar muda) dan gala sahari-hari (gelar sehari-hari).

Gelar tua dipakai oleh keluarga yang telah tua atau dituakan, biasanya setelah dia memakai gelar kebesaran dalam adat, setelah dipindahkan kepada yang lebih muda dari yang bersangkutan, dipakaikan gelar tua. Gelar muda adalah gelar menjelang gelar kebesaran dan biasanya disesuaikan dengan sikap dan gelagat seseorang.

Misalnya kalau kelihatan ia agak ta`at, maka gelarnya dimulai dengan Malin atau Pakiah. Kalau agak lincah diberi gelar Sutan. Gelar-gelar muda itu adalah merupakan gelar rangkaian dari gelar kebesaran, begitu pula dengan gelar tuanya.

Bagi kaum ibu Minangkabau, bila sudah dewasa juga memakai gelar, lebih-lebih setelah dia berumah tangga, apalagi kalau telah memiliki anak. Oleh karena kegunaan gelar seorang kaum ibu tidak sebanyak kaum bapak, maka gelar itu tidak dikhususkan.

Biasanya dengan panggilan tua kemudian menyertakan nama anak atau cucunya di belakang panggilan itu. Jika seseorang belum mempunyai anak, biasanya digelari dengan panggilan kebiasaan belaka yang sudah tentu untuk setiap daerah berlain-lain., Misalnya digelari dengan ungkapan Nik Kari (kalau nama anaknya Kari atau Bakri). Nik Limbak (jika nama anaknya Limbak). Nde Ani (kalau nama anaknya si Ani dan perempuan ini belum begitu tua). Gelar-gelar dengan panggilan seperti “Kak Udo (kakak muda), Kak Tangah (kakak tengah), Kak Uo (kakak yang lebih tua), Cik Elok (kakak yang baik), Cik Uniang (kakak yang tua berkulit kuning langsat), dan sebagainya.

Akibat dari monisme ini pula, kirana dalam pembicaraan sehari-hari dengan orang yang lebih tua, terselip nilai-nilai kesopanan yang tinggi. Dalam percakapan waktu berhadapan, misalnya adalah kurang sopan bila menyebutkan nama atau gelar orang yang lebih tua dari kita secara langsung, kendati pun dengan menyertainya dengan panggilan kehormatan atau kata ganti kehormatan. Misalnya Pak Amir, Mak Datuak Batuah, Kak Fatimah. Yang dianggap sopan misalnya panggilan: Pak, Bu, Mak, Kak, Nak, Bujang, Cik Elok, yang semuanya itu mengandung unsur pendidikan di bidang sopan santun atau budi pekerti.

Panggilan nama atau panggilan gelar hanya dilakukan bila kita sebaya dalam umur atau tugas kehormatan. Bila kesopanan itu dilanggar, kita dianggap sebagai orang yang lancang, dalam bahasa sehari-hari disebut: “cipeh” atau indak tahu di ampek (tidak tahu pada yang empat), atau dianggap sebagai orang yang kurang.

Dalam hal ini pendapat yang mengemukakan bahwa “guna nama untuk disebut”, dalam masyarakat Minangkabau sebenarnya tidaklah berlaku. Nama merupakan lambang yang mewakili pengertian yang tinggi di luar penghayatan ini. Karena itu adalah kewajiban untuk menghormatinya.

Selain daripada itu, pada beberapa nama binatang juga terdapat kebesaran, keganasan atau bahaya yang akan ditimbulkannya. Karena kita kurang mampu untuk berhadapan dengan tindakannya yang membahayakan itu, maka nama-nama binatang tersebut juga pantang atau tabu untuk disebutkan.

Kalau nama mereka kita sebut secara langsung, atau pun dalam pemberitaan, akan menyebabkan ketidak tentraman. Anggapan yang begini memerlukan pula gelar-gelar kehormatan untuk dihadiahkan kepada binatang-binatang tersebut.

Gelar itu merupakan kata-kata pelembut (eufisme) yang diperkirakan bahwa dengan sebutan itu, binatang-binatang tertentu itu akan senang dan berlalu baik kepada kita.

Demikianlah untuk binatang-binatang: harimau, dupanggil “inyiak, atau rang tuo“. Buaya, dianggap “raja sungai, palimo“, singa dengan panggilan “raja hutan” ular dengan sebutan: aka, rotan, babi dengan sebutan “rang parimbo“, tikus dengan panggilan “puti” dan lain sebagainya.

Dengan penyebutan demikian diharapkan agar binatang itu tidak merusak, atau kalau binatang itu sudah mulai merusak atau bersalah, dia tidak mengulanginya lagi.

Di bidang lain pengaruh monisme dalam bahasa Minankabau ini adalah dengan banyaknya penampilan ungkapan kiasan dalam percakapan. Masyarakat dapat memberikan predikat nilai kurang kepada seseorang yang menyebutkan keadaannya dengan bahasa yang terus terang.

Penyebutan terus terang akan dianggap putusnya hubungan antara kata yang diucapkan itu dengan pengertian yang seharusnya dipupuk dan dijaga terus oleh si pemakainya.

Karena itu bila seseorang tidak mengerti dengan kiasan dan ujung kata yang ditujukan kepadanya, maka ia dipandang sebagai orang “kurang” atau orang yang rendah pikir, sehingga digambarkan dengan ungkapan berikut:

“tak tahu di rundiang kato putuih

tak tahu di kieh kato sampai”

(tak tahu pada rundingan kata putus

tak tahu pada kiasan kata sampai).

Bila kita lihat dari sudut pendidikan, maka agaknya pemakaian gahasa seperti diata adalahgiak, Anak-anak akan terdidik menjadi orang yang pandai dan mengerti cara-cara bergaul dengan orang dewasa dan sanggup menghormati orang tua dalam pergaulan sehari-hari.

Di samping itu anak-anak akan diarahkan pada suatu sikap hidup yang dapat menempatkan diri dalam segala macam pergaulan serta menjadi orang yang arif serta sanggup menyelami isi yang terkandung dalam ucapan orang lain.

Demikianlah secara selintas tentang monisme dalam bahasa Minangkabau sebagai akibat dari pengaruh kepercayaan masyarakat kepada luar lahiriah ini.

Dalam dunia pendidikan sebagai suatu proses yang harus kita kembangkan juga membawa nilai-nilai atau pengaruh positif terhadap anak didik serta masyarakat luas.**

Catatan Kaki

1) W.J.S.Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta 1985, hal.676

2) Jaka, Ringkasan Ilmu Mendidik 1, Mutiara, Jakarta, 1953, hal,42;

3) Dr.P.J.Booman, Sosiologi, Yayasan Kanisius, Semarang, 1960, hal.30

4) Drs.Mohd.Sjafaat, Mengapa Anda Beragama Islam, Wijaya, Jakarta, hal.2;

5) Drs.Sidi Gazalba, Masdjid Pusat Iabadah dan Kebudayan Islam, Antara, Jakarta, 1962, hal.18;

6) Al-Quran, Surat An Nisa`, ayat 146, dan Hadist, Riwayat Muslim;

7) Al-Quran, Surat Al Dahr, ayat 3;

8) H.Zainuddin Hamidy cs, Tafsir Al-Quran, Wijaya, Jakarta 1961, hal.676;

9) Drs.Moh.Sjafaat, op.cit, hal 21;

10) I b I d, Surat Al-Quran, ayat 165;

11) I b I d, Surat Ath Thur, ayat 36;

12) I b I d, Surat Al-Baqarah, ayat 169,

13) Drs.Moh.Sjafaat, Op.cit, hal 2;

14) Al-Quran, Surat Al-Baqarah ayat 102;

15) Dr.Koentjaraningrat, Metode-Metode Antropologi, Univ.Jakarta, 1952, hal.148-158;

16) Drs.Sidi Gazalba, Kebudayaan Sebagai Ilmu, Pustaka Antara, Jakarta, 1963, hal.47-48;

17) Drs.Moh.Sjafaat, Op.cit, hal.11;

18) Dr.Hamka, Revolusi Agama, Pustaka Islam, Jakarta, 1963, hal.28,

19) Al-Quran, Surat Ali Imran, ayat 19;

20) I b I d, Surat Al Mu`min, ayat 49;

21) I b I d, Surat Ali Imran, ayat 49;

22) Injil Matius, Fasal 15, ayat 24;

23) Al-Quran, Surat Saba, ayat 28;

24) I b I d, Surat As Shaf, ayat 0;

25) Prof.Dr.Ahmad Sjalabi, Perbandingan Agama, Bagian Agama Masehi, Djajamurni, Jakarta, 1964, hal.25;

26) Al-Quran, Surat Al-Ikhlas, ayat 1-5;

27) I b I d, Surat Al-Fatihah, ayat 5;

28) Ruth Benedit, Pola-pola Kebudayaan, Pustaka Rakyat, Jakarta, 1960,hal1.31;

29) Istilah hantu, mungkin berasal dari ucapa seruan “ha…tu“, atau “ha …itu“, yang mendapat penyelipan nasal seperti lazimnya terdapat dalam bahasa Nusantara;

30) Sebutan untuk setia orang yang alim dalam agama Islam. Berasal darikata yang menujukkan tempat, uaitu Siak Indragiri yang mungkin orang-orang tersebut berdatangan dari sana;

31) Drs.Zuber Usman, Bahasa Persatuan, Fa Noor, Jakarta, 1964, hal.53;

32) Prof.Mr.Moh.Nasroen, Dasar Falsafah Adat Minangkabau, Pasaman, Jakarta, hal.22 dan 25;

33) Dra.Sabarti Achadiah, Kuliah Ilmu Perbandingan Bahasa, pada IKIP Padang, tgl 24 Oktober 1963;

H Baroen bin Ja’koeb, oleh A Ikhdan Nizar Sutan Diateh, http://www.kotogadang-pusako.com/

Haji Baroen bin Ja’koeb Pendiri surau pengajian pertama dan terakhir di Kotogadang?
Minggu, 24 Februari 08 – oleh : A. Ikhdan Nizar St Diateh

 

Haji Baroen bin Ja’koeb
Dengan surat bertanggal 3 Mei 2007, e.A.R Dt Tan Muhammad selaku Ketua Panitia Pembangunan Mesjid Tapi dan Rehabilitasi Instalasi Air Bersih (PPMTRIAB) Kotogadang menulis surat kepada uniang saya, rky. Erna E. Alzahir. Dalam surat itu, dalam rangka membangun kembali mesjid Tapi yang roboh karena gempa Maret 2007 yang lalu, diminta kesediaan memberi izin memindahkan makam yang ada dihalaman mesjid. Permintaan ini diajukan kepada uniang Erna karena dia adalah keluarga dari almarhum yang dikuburkan di makam itu. Surat itu dibalasnya dengan isi mengingatkan agar PPMTRIAB menelusurilah terlebih dahulu siapa yang berkubur ditempat yang diakui sebagai halaman mesjid itu dan siapa kaum keluarganya. Disamping itu jelaskan pulalah duduk tegaknya pemilik tanah.tempat pusaro itu berada sebelum memutuskan menggusur pusaro itu.

Hal ini menyadarkan saya betapa keinginan menjadikan nagari awak tu sebagai cagar budaya dengan istilah Kotogadang Pusako, atau lebih gagahnya lagi heritage village, perlu pemahaman dan dukungan semua warga Kotogadang.

Pusaro yang dimaksud oleh Ketua PPMTRIAB itu adalah pusaro almarhum Haji Baroen, suku Sikumbang ak. Dt Rajo Naando. Saya akan mencoba menuliskan siapa beliau dan kenapa pusaro beliau disitu.

Beliau adalah salah satu dari enam bersaudara anak tuo Djairah, suku Sikumbang ak Dt Rajo Naando. Saudara-saudaranya adalah tuo Azizah, tuo Hadisah, tuo Muzuna, tuo Latifah dan inyik Halim Dt Radjo Naando. Pada awal abad ke -20 beliau pergi ke Mekah untuk belajar mengaji. Sesudah lebih kurang empat tahun beliau disana belum ada tanda-tanda kapan akan pulang. Maka ditulislah surat oleh keluarganya yang meminta beliau untuk segera pulang karena biainya sakit-sakitan. Ini sebetulnya hanya taktik untuk mengakali agar beliau mau pulang. Ibunda beliau dan semua sanak saudara di kampung khawatir beliau kawin di Mekah dan tidak pernah pulang lagi. Mungkin karena ingat akan Syekh Ahmad Khatib, yang babako ka Kotogadang, cucu Tuanku Nan Renceh ulama kaum Paderi, yang pergi belajar ke Mekah lalu tidak pernah pulang lagi. Syekh Ahmad Khatib ini ahli fikih dan hukum Islam dan mencapai kedudukan Imam Besar Masjidilharam dalam Mazhab Syafi’i. Beliau menikah dengan puteri gurunya Syekh Saleh Kurdi dan tidak pernah lagi pulang ke Indonesia.

 

Ketika Haji Baroen pulang ke Kotogadang, ternyata ibunda beliau sehat wal afiat saja. Kemudian beliau dikawinkan dengan seorang gadis suku Piliang ak. Dt Kayo bernama Fatoemah. Inyik Haji Baroen pada waktu itu berusia menjelang 30 tahun.

 
Entah apa pertimbangannya beliau tidak kembali lagi ke Mekah melanjutkan pelajarannya. Mungkin karena masalah jauh dan biaya, mungkin pula karena ilmu yang diperolehnya dianggap sudah memadai, akan tetapi lebih mungkin lagi karena tidak diizinkan oleh kaum keluarga.

Beliau mempunyai putera 6 orang, yang tertua adalah Mazia, mama saya. Oleh karena itu kepada isteri beliau Fatoemah kami menyebutnya tuo, walaupun kemudian hampir seluruh orang di Kotogadang, generasi saya, menyebutnya tuo umi. Kepada beliau Haji Baroen kami disuruh menyebut inyik buya. Ini karena kami cucu-cucu beliau tidak ada yang sempat bertemu dengan beliau, kalau bertemu tentunya kami akan menyebut beliau inyik saja.

Karena beliau tidak lagi kembali ke tanah suci Mekah, maka beliau membuka surau pengajian di Kotogadang. Surau pengajian ini memberikan pelajaran serupa pengajian di Mekah, pesantren tradisional di Jawapun memakai cara seperti itu, tidak ada kelas-kelas. Semua murid duduk dilantai mengelilingi gurunya.

Surau inyik buya ini dibangun di tanah kaumnya yang bersebelahan dengan mesjid Tapi. Surau ini dibangun oleh isteri beliau dan ipar2 beliau suku Piliang ak. Dt Kayo. Saya mendengar dari e. P.R. Zakir St Mangkuto, bahwa ibunya yang kemanakan langsung inyik buya pernah berkata: “ Surau tu dibangun di tanah awak”. Menurut pendapat saya pesan beliau: “walaupun surau dibangun orang Piliang, tanahnya itu milik kita orang Sikumbang Dt Radjo Naando”.

Menurut mamak saya M. Amin Pamuncak Marajo, anak kandung inyik buya, pada waktu itu murid yang belajar mengaji ke surau inyik buya sangat banyak. Namanya murid-murid beliau itu mengaji, akan tetapi bukan belajar membaca Al-Quran, yang dimaksud adalah belajar ilmu keislaman yang lebih dalam. Murid yang banyak itu sebahagian besar berasal dari luar Kotogadang, bahkan ada yang dari daerah yang jauh seperti Aceh dan Tapanuli. Murid-murid mengaji itu, (sekarang lebih dikenal dengan istilah santri, suatu istilah dari Jawa ) mengurus diri sendiri, seperti memasak, mencuci pakaian dsbnya. Ketika muridnya makin banyak, sehingga tidak tertampung lagi di surau beliau, maka murid2 itu tidur di surau Lakuak dan surau Mudiak. Ketika kemudian murid2 itu semakin bertambah banyak juga, maka isteri beliau membangunkan surau yang disebut surau Gadang di tanahnya di sawahan. Sekarang surau Gadang itu sudah tidak ada lagi, disitu dibangun gilingan padi pada tahun 40-an oleh e. M. Jasin Dt Kayo. Sekarang gilingan padi itu diteruskan oleh mamak saya M. Amin Pamuncak Maharajo.

Inyik buya ini usianya tidak panjang, beliau meninggal pada tahun 1923 pada usia sekitar 39 tahun. Jadi surau pengajian beliau hanya berlangsung sekitar 10 tahun. Tidak diketahui apakah ada murid beliau yang berasal dari Kotogadang, sehingga tidak banyak diketahui apa ilmu yang diajarkan beliau sehingga muridnya banyak, bahkan berasal dari daerah yang jauh. Karena itu justru menjadi menarik untuk dibahas.

Tidak ada satu sumberpun yang bisa menyatakan apakah inyik Haji Baroen pernah belajar kepada Syech Ahmad Khatib. Menurut Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru van Hoeve, Syekh Ahmad Khatib (1855-1916) walaupun bermukim sampai akhir hayatnya di Mekah, beliau tetap punya perhatian besar terhadap murid-murid yang berasal dari Minangkabau dan Indonesia. Murid-muridnya dari Minangkabau antara lain Syekh Jamil Jambek (inyik Jambek), Syekh Ibrahim Musa (inyik Parabek), Syekh Sulaiman ar-Rasuli (inyik Canduang), Dr H. Karim Amrullah (ayah buya HAMKA).. Kemungkinan besar salah satu dari guru inyik buya adalah Syekh Ahmad Khatib ini.
Syekh Ahmad Khatib melihat dua hal di Minangkabau yang sangat bertentangan dengan Islam, yang pertama masalah garis keturunan matrilineal dan kedua masalah tarekat naqsyabandiah. Pembagian harta kepada kemanakan dianggapnya harta rampasan, sedangkan tarekat dipermasalahkannya dasar syariahnya. Soal harta ini, kaum adat menjawab dengan membedakan pusaka tinggi yang berupa harta kaum diwarisi oleh kemanakan dan pusaka rendah yang berupa hasil pencarian, diwariskan sesuai hukum Islam.

Masalah tarekat yang menarik adalah tulisan Prof. DR Azyumardi Azra, mantan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah di Harian Republika 21 Juni 2007.
Saya kutipkan sebahagian sbb:
“Sebahagian kalangan Muslim sering meremehkan kekuatan dan keberlangsungan tasawuf. Tasawuf yang sering diamalkan dalam kerangka ‘organisasi’ yang dikenal sebagai ‘tarekat’ bagi kalangan ini, lebih banyak dianggap sebagai sumber bid’ah dan khurafat, yang berpusat pada pemujaan terhadap syekh-syekh tarekat”
“Memang pengamalan tasawuf sering mengandung ekses-ekses tertentu. Boleh jadi hal itu terlihat dalam bentuk ibadah dan amalan lainnya yang cenderung eksesif, ekstravagan dan berbunga-bunga. Atau, pemujaan yang sangat berlebihan kepada syekh sufi ….”
“ … karena tasawuf dan tarekat punya dinamika internal untuk memperbaharui dirinya agar lebih sesuai dengan syariah; pendekatan dan rekonsiliasi tasawuf dengan syariah bahkan menjadi gejala historis yang berkelanjut.”

Ketika inyik buya meninggal, tahun 1923, tidak diketahui apa pertimbangan keluarga pada waktu itu, beliau dimakamkan di halaman suraunya. Walaupun tanahnya milik kaumnya juga, pandam pekuburan kaum Sikumbang Dt Rajo Naando sebetulnya tidak jauh, berada disebelah Surau Gadang.

Saya tidak mau mengatakan bahwa yang diajarkan oleh inyik buya adalah tasawuf, karena tidak ada muridnya yang diketahui untuk dimintai keterangan, begitu pula tidak ada keterangan tertulis yang bisa mendukung. Ketika beliau meninggal, mama sebagai anaknya yang tertua baru berusia 8 tahun.

Ada beberapa cerita yang menarik yang diceritakan dari mulut kemulut sesudah inyik buya meninggal.

Pada hari beliau meninggal ada orang mau datang manjanguak kerumah biainya, kemudian tidak jadi naik kerumah karena melihat banyak orang (laki-laki) berjubah dan sorban serba putih yang memenuhi rumah sampai ke pintu, duduk serupa orang melayat. Ketika kemudian ditanyakan kepada isi rumah, ternyata yang dirumah tidak mengetahui ataupun melihat orang-orang serba putih itu..

Ketika mayat beliau yang sudah dikafani diturunkan ke liang kubur, yang manjawek atau yang menyambut didalam kubur hanya dua orang, yaitu engku guru Sukan dan engku Kahat. Hal ini karena inyik buya badannya kecil sehingga cukup dua orang saja yang menyambut jenazah beliau.
Ketika diterima ternyata bungkusan itu ringan sekali. Ketika buhul ikatan kafan dibuka rupanya kosong, tidak ada mayat didalamnya. Walaupun begitu deletakkan juga dalam liang lahat lalu ditimbun.

Versi lain lagi, ketika akan diletakkan dalam liang lahat mendadak menjadi ringan dan seperti ada kilat yang menembak keatas yang hanya dirasakan oleh orang yang dua orang itu. Katanya ada orang di Koto Tuo yang waktu itu melihat seperti kilat yang keluar dari bumi dan menembak kearah langit, terjadinya seperti di Kotogadang.

Kedua orang ini bersepakat agar tidal diceritakan kepada orang lain, agar kuburan ini tidak dikeramatkan. Kalau sempat dikeramatkan tentu akan sangat banyak orang berziarah ke Kotogadang yang tentu akan merepotkan kampung juga.

Cerita-cerita ini beberapa tahun kemudian keluar juga dan itu mungkin ada beberapa versi. Apakah benar atau tidak tentu tidak bisa lagi dibuktikan. Wallahu ‘alam.

Ada hal lain yang menarik lagi untuk dibahas mengenai satu-satunya suarau pengajian yang pernah ada di Kotogadang ini.

Dalam buku ‘Tuanku Rao” karangan M.O. Parlindungan disebut bahwa Kotogadang adalah desa yang dibangun Belanda untuk melawan kaum Paderi. Jelas ini tidak benar, karena ranji yang ada di masing-masing kaum pasti bisa menunjukkan bahwa jauh sebelum perang Paderi, Kotogadang sudah ada.

Dalam buku “Sumatera Barat, Plakat Panjang” yang ditulis Rusli Amran, pada halaman 173 diceritakan kenapa Kotogadang lebih dahulu maju dibandingkan nagari atau kampung-kampung lain. Ketika komandan militer Belanda di Sumatera Barat, De Steurs, berada dalam kejaran kaum Paderi seorang dari Kotogadang membantunya menyelamatkan diri. Sebagai balas budi dikemudian hari warga Kotogadang diberi kesempatan untuk mendapat pendidikan dan kemudian untuk menjadi pegawai Belanda. Warga Kotogadang memanfaatkan peluang ini dengan baik.

Tulisan tulisan diatas tidak bisa dibuktikan kebenarannya seratus persen, akan tetapi tulisan itu mengindikasikan bahwa dalam pertentangan kaum ulama yang didominasi penganut paham Wahabi dan kaum adat yang melahirkan perang Paderi, orang Kotogadang berpihak kepada kaum adat, sekurang-kurangnya bersimpati kepada kaum adat.

Akan tetapi hal ini bisa terbantahkan oleh kenyataan seorang bernama Abdul Latif berasal dari Kotogadang menjadi menantu Tuanku Nan Renceh, seorang ulama Paderi terkemuka, dan anaknya adalah Syekh Ahmad Khatib yang sangat kritis terhadap adat Minangkabau.
Disisi lain, di Kotogadang hampir tidak ada rumah bagonjong. Kalau dilihat kampung ini dibangun dengan tata planologi yang baik. Rumah-rumah terkelompok dengan baik, jalan menuju ke rumah-rumah itu jelas dan lebar. Tidak ada jalan menuju sebuah rumah yang perlu lewat disamping dapur orang lain, atau menyelip diemper rumah lain. Hal seperti ini banyak ditemui di kampng-kampung lain, akan tetapi tidak di Kotogadang.
Walaupun ini mencerminkan bahwa Kotogadang yang sekarang ini adalah kampung yang baru, model rumahpun ada kesan model Eropa, akan tetapi kebutuhan acara adat tetap terjaga. Semua rumah punya ruang tengah rumah yang panjang dan luas. Ini jelas untuk mengakomodasi kebutuhan acara-acara adat.

Kalau masing-masing kaum memeriksa ranji keluarganya, saya yakin akan menemukan bahwa semenjak pertengahan abad ke 19 banyak yang menjadi pegawai, baik itu jaksa, penjaga gudang hasil bumi (angku pakuih), guru, mantri hewan dan belakangan awal abad ke 20 dokter, sarjana hukum dan sebagainya. Walaupun begitu, apabila diperiksa ke generasi yang lebih awal, sebelum perang Bonjol, pasti diketemukan juga yang ber predikat haji. Hal ini menunjukkan bahwa sebetulnya Kotogadang bukan sepenuhnya berpihak kepada kaum adat pada waktu perang Paderi. Terlebih lagi bila jika diingat menunai ibadah haji pada masa itu bukan sesuatu yang mudah dan murah.
Surau pengajian inyik Haji Baroen menunjukkan bahwa pada awal abad ke 20 dimana warga Kotogadang berbondong-bondong pergi kesekolah Belanda, dan kalau kita mau jujur (agak) melupakan agama, masih ada juga yang mendalami agama Islam.

Hal yang menarik lainnya dari makam beliau adalah namanya yang tertulis dengan huruf arab gundul di marmer yang terpasang disitu, Al Haj Muhammad Baril Ya’qubi. Nama beliau adalah Baroen dan nama bapaknya Ya’koeb. Kalau menurut kebiasaan disini nama beliau tentulah Baroen Ja’koeb atau Baroen bin Ja’koeb. Kelihatannya menurut versi arab nama beliau seharusnya adalah Baril Ya’qubi, dan ejaan itulah yang dipasang di kuburannya. Saya tidak bisa membaca keseluruhan yang tertulis di batu nisan itu. Disana tertulis 27 Rabi’ulawal 1342 dan 7 Nofember 1923. Tentulah itu adalah hari beliau meninggal. Ada juga tertulis angka 39 dalam huruf arab, saya duga itu adalah usia beliau ketika meninggal.

Hal yang saya sampaikan diatas menurut saya adalah alasan yang cukup kuat untuk mempertahankan surau dan makam inyik Haji Baroen tetap berada ditempatnya yang sekarang. Ini adalah bukti sejarah bahwa di Kotogadang pernah ada surau pengajian yang terkenal. Gedung suraunya sebaiknya diperbaiki dan dirawat sebagai salah satu aset heritage village, bukannya digusur ataupun dirubuhkan dan diganti dengan bangunan baru sebagaimana keinginan PPMTRIAB yang saya singgung pada awal tulisan ini.

Surau inyik Haji Baroen dan surau Lakuak adalah peninggalan yang masih ada yang menunjukkan surau pengajian pernah ada di Kotogadang. Surau Gadang sudah tidak ada lagi, sedangkan surau Mudiak sekarang merupakan bangunan baru yang sama sekali tidak menyisakan bentuk yang aslinya..

Terlepas apakah kaum Sikumbang mengizinkan surau itu digusur atau tidak, kami cucu-cucu inyik Haji Baroen yang di Piliang tidak menyetujui pusaro beliau dipindahkan.
Kotogadang, 28 Juni 2007.