H Baroen bin Ja’koeb, oleh A Ikhdan Nizar Sutan Diateh, http://www.kotogadang-pusako.com/

Haji Baroen bin Ja’koeb Pendiri surau pengajian pertama dan terakhir di Kotogadang?
Minggu, 24 Februari 08 – oleh : A. Ikhdan Nizar St Diateh

 

Haji Baroen bin Ja’koeb
Dengan surat bertanggal 3 Mei 2007, e.A.R Dt Tan Muhammad selaku Ketua Panitia Pembangunan Mesjid Tapi dan Rehabilitasi Instalasi Air Bersih (PPMTRIAB) Kotogadang menulis surat kepada uniang saya, rky. Erna E. Alzahir. Dalam surat itu, dalam rangka membangun kembali mesjid Tapi yang roboh karena gempa Maret 2007 yang lalu, diminta kesediaan memberi izin memindahkan makam yang ada dihalaman mesjid. Permintaan ini diajukan kepada uniang Erna karena dia adalah keluarga dari almarhum yang dikuburkan di makam itu. Surat itu dibalasnya dengan isi mengingatkan agar PPMTRIAB menelusurilah terlebih dahulu siapa yang berkubur ditempat yang diakui sebagai halaman mesjid itu dan siapa kaum keluarganya. Disamping itu jelaskan pulalah duduk tegaknya pemilik tanah.tempat pusaro itu berada sebelum memutuskan menggusur pusaro itu.

Hal ini menyadarkan saya betapa keinginan menjadikan nagari awak tu sebagai cagar budaya dengan istilah Kotogadang Pusako, atau lebih gagahnya lagi heritage village, perlu pemahaman dan dukungan semua warga Kotogadang.

Pusaro yang dimaksud oleh Ketua PPMTRIAB itu adalah pusaro almarhum Haji Baroen, suku Sikumbang ak. Dt Rajo Naando. Saya akan mencoba menuliskan siapa beliau dan kenapa pusaro beliau disitu.

Beliau adalah salah satu dari enam bersaudara anak tuo Djairah, suku Sikumbang ak Dt Rajo Naando. Saudara-saudaranya adalah tuo Azizah, tuo Hadisah, tuo Muzuna, tuo Latifah dan inyik Halim Dt Radjo Naando. Pada awal abad ke -20 beliau pergi ke Mekah untuk belajar mengaji. Sesudah lebih kurang empat tahun beliau disana belum ada tanda-tanda kapan akan pulang. Maka ditulislah surat oleh keluarganya yang meminta beliau untuk segera pulang karena biainya sakit-sakitan. Ini sebetulnya hanya taktik untuk mengakali agar beliau mau pulang. Ibunda beliau dan semua sanak saudara di kampung khawatir beliau kawin di Mekah dan tidak pernah pulang lagi. Mungkin karena ingat akan Syekh Ahmad Khatib, yang babako ka Kotogadang, cucu Tuanku Nan Renceh ulama kaum Paderi, yang pergi belajar ke Mekah lalu tidak pernah pulang lagi. Syekh Ahmad Khatib ini ahli fikih dan hukum Islam dan mencapai kedudukan Imam Besar Masjidilharam dalam Mazhab Syafi’i. Beliau menikah dengan puteri gurunya Syekh Saleh Kurdi dan tidak pernah lagi pulang ke Indonesia.

 

Ketika Haji Baroen pulang ke Kotogadang, ternyata ibunda beliau sehat wal afiat saja. Kemudian beliau dikawinkan dengan seorang gadis suku Piliang ak. Dt Kayo bernama Fatoemah. Inyik Haji Baroen pada waktu itu berusia menjelang 30 tahun.

 
Entah apa pertimbangannya beliau tidak kembali lagi ke Mekah melanjutkan pelajarannya. Mungkin karena masalah jauh dan biaya, mungkin pula karena ilmu yang diperolehnya dianggap sudah memadai, akan tetapi lebih mungkin lagi karena tidak diizinkan oleh kaum keluarga.

Beliau mempunyai putera 6 orang, yang tertua adalah Mazia, mama saya. Oleh karena itu kepada isteri beliau Fatoemah kami menyebutnya tuo, walaupun kemudian hampir seluruh orang di Kotogadang, generasi saya, menyebutnya tuo umi. Kepada beliau Haji Baroen kami disuruh menyebut inyik buya. Ini karena kami cucu-cucu beliau tidak ada yang sempat bertemu dengan beliau, kalau bertemu tentunya kami akan menyebut beliau inyik saja.

Karena beliau tidak lagi kembali ke tanah suci Mekah, maka beliau membuka surau pengajian di Kotogadang. Surau pengajian ini memberikan pelajaran serupa pengajian di Mekah, pesantren tradisional di Jawapun memakai cara seperti itu, tidak ada kelas-kelas. Semua murid duduk dilantai mengelilingi gurunya.

Surau inyik buya ini dibangun di tanah kaumnya yang bersebelahan dengan mesjid Tapi. Surau ini dibangun oleh isteri beliau dan ipar2 beliau suku Piliang ak. Dt Kayo. Saya mendengar dari e. P.R. Zakir St Mangkuto, bahwa ibunya yang kemanakan langsung inyik buya pernah berkata: “ Surau tu dibangun di tanah awak”. Menurut pendapat saya pesan beliau: “walaupun surau dibangun orang Piliang, tanahnya itu milik kita orang Sikumbang Dt Radjo Naando”.

Menurut mamak saya M. Amin Pamuncak Marajo, anak kandung inyik buya, pada waktu itu murid yang belajar mengaji ke surau inyik buya sangat banyak. Namanya murid-murid beliau itu mengaji, akan tetapi bukan belajar membaca Al-Quran, yang dimaksud adalah belajar ilmu keislaman yang lebih dalam. Murid yang banyak itu sebahagian besar berasal dari luar Kotogadang, bahkan ada yang dari daerah yang jauh seperti Aceh dan Tapanuli. Murid-murid mengaji itu, (sekarang lebih dikenal dengan istilah santri, suatu istilah dari Jawa ) mengurus diri sendiri, seperti memasak, mencuci pakaian dsbnya. Ketika muridnya makin banyak, sehingga tidak tertampung lagi di surau beliau, maka murid2 itu tidur di surau Lakuak dan surau Mudiak. Ketika kemudian murid2 itu semakin bertambah banyak juga, maka isteri beliau membangunkan surau yang disebut surau Gadang di tanahnya di sawahan. Sekarang surau Gadang itu sudah tidak ada lagi, disitu dibangun gilingan padi pada tahun 40-an oleh e. M. Jasin Dt Kayo. Sekarang gilingan padi itu diteruskan oleh mamak saya M. Amin Pamuncak Maharajo.

Inyik buya ini usianya tidak panjang, beliau meninggal pada tahun 1923 pada usia sekitar 39 tahun. Jadi surau pengajian beliau hanya berlangsung sekitar 10 tahun. Tidak diketahui apakah ada murid beliau yang berasal dari Kotogadang, sehingga tidak banyak diketahui apa ilmu yang diajarkan beliau sehingga muridnya banyak, bahkan berasal dari daerah yang jauh. Karena itu justru menjadi menarik untuk dibahas.

Tidak ada satu sumberpun yang bisa menyatakan apakah inyik Haji Baroen pernah belajar kepada Syech Ahmad Khatib. Menurut Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru van Hoeve, Syekh Ahmad Khatib (1855-1916) walaupun bermukim sampai akhir hayatnya di Mekah, beliau tetap punya perhatian besar terhadap murid-murid yang berasal dari Minangkabau dan Indonesia. Murid-muridnya dari Minangkabau antara lain Syekh Jamil Jambek (inyik Jambek), Syekh Ibrahim Musa (inyik Parabek), Syekh Sulaiman ar-Rasuli (inyik Canduang), Dr H. Karim Amrullah (ayah buya HAMKA).. Kemungkinan besar salah satu dari guru inyik buya adalah Syekh Ahmad Khatib ini.
Syekh Ahmad Khatib melihat dua hal di Minangkabau yang sangat bertentangan dengan Islam, yang pertama masalah garis keturunan matrilineal dan kedua masalah tarekat naqsyabandiah. Pembagian harta kepada kemanakan dianggapnya harta rampasan, sedangkan tarekat dipermasalahkannya dasar syariahnya. Soal harta ini, kaum adat menjawab dengan membedakan pusaka tinggi yang berupa harta kaum diwarisi oleh kemanakan dan pusaka rendah yang berupa hasil pencarian, diwariskan sesuai hukum Islam.

Masalah tarekat yang menarik adalah tulisan Prof. DR Azyumardi Azra, mantan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah di Harian Republika 21 Juni 2007.
Saya kutipkan sebahagian sbb:
“Sebahagian kalangan Muslim sering meremehkan kekuatan dan keberlangsungan tasawuf. Tasawuf yang sering diamalkan dalam kerangka ‘organisasi’ yang dikenal sebagai ‘tarekat’ bagi kalangan ini, lebih banyak dianggap sebagai sumber bid’ah dan khurafat, yang berpusat pada pemujaan terhadap syekh-syekh tarekat”
“Memang pengamalan tasawuf sering mengandung ekses-ekses tertentu. Boleh jadi hal itu terlihat dalam bentuk ibadah dan amalan lainnya yang cenderung eksesif, ekstravagan dan berbunga-bunga. Atau, pemujaan yang sangat berlebihan kepada syekh sufi ….”
“ … karena tasawuf dan tarekat punya dinamika internal untuk memperbaharui dirinya agar lebih sesuai dengan syariah; pendekatan dan rekonsiliasi tasawuf dengan syariah bahkan menjadi gejala historis yang berkelanjut.”

Ketika inyik buya meninggal, tahun 1923, tidak diketahui apa pertimbangan keluarga pada waktu itu, beliau dimakamkan di halaman suraunya. Walaupun tanahnya milik kaumnya juga, pandam pekuburan kaum Sikumbang Dt Rajo Naando sebetulnya tidak jauh, berada disebelah Surau Gadang.

Saya tidak mau mengatakan bahwa yang diajarkan oleh inyik buya adalah tasawuf, karena tidak ada muridnya yang diketahui untuk dimintai keterangan, begitu pula tidak ada keterangan tertulis yang bisa mendukung. Ketika beliau meninggal, mama sebagai anaknya yang tertua baru berusia 8 tahun.

Ada beberapa cerita yang menarik yang diceritakan dari mulut kemulut sesudah inyik buya meninggal.

Pada hari beliau meninggal ada orang mau datang manjanguak kerumah biainya, kemudian tidak jadi naik kerumah karena melihat banyak orang (laki-laki) berjubah dan sorban serba putih yang memenuhi rumah sampai ke pintu, duduk serupa orang melayat. Ketika kemudian ditanyakan kepada isi rumah, ternyata yang dirumah tidak mengetahui ataupun melihat orang-orang serba putih itu..

Ketika mayat beliau yang sudah dikafani diturunkan ke liang kubur, yang manjawek atau yang menyambut didalam kubur hanya dua orang, yaitu engku guru Sukan dan engku Kahat. Hal ini karena inyik buya badannya kecil sehingga cukup dua orang saja yang menyambut jenazah beliau.
Ketika diterima ternyata bungkusan itu ringan sekali. Ketika buhul ikatan kafan dibuka rupanya kosong, tidak ada mayat didalamnya. Walaupun begitu deletakkan juga dalam liang lahat lalu ditimbun.

Versi lain lagi, ketika akan diletakkan dalam liang lahat mendadak menjadi ringan dan seperti ada kilat yang menembak keatas yang hanya dirasakan oleh orang yang dua orang itu. Katanya ada orang di Koto Tuo yang waktu itu melihat seperti kilat yang keluar dari bumi dan menembak kearah langit, terjadinya seperti di Kotogadang.

Kedua orang ini bersepakat agar tidal diceritakan kepada orang lain, agar kuburan ini tidak dikeramatkan. Kalau sempat dikeramatkan tentu akan sangat banyak orang berziarah ke Kotogadang yang tentu akan merepotkan kampung juga.

Cerita-cerita ini beberapa tahun kemudian keluar juga dan itu mungkin ada beberapa versi. Apakah benar atau tidak tentu tidak bisa lagi dibuktikan. Wallahu ‘alam.

Ada hal lain yang menarik lagi untuk dibahas mengenai satu-satunya suarau pengajian yang pernah ada di Kotogadang ini.

Dalam buku ‘Tuanku Rao” karangan M.O. Parlindungan disebut bahwa Kotogadang adalah desa yang dibangun Belanda untuk melawan kaum Paderi. Jelas ini tidak benar, karena ranji yang ada di masing-masing kaum pasti bisa menunjukkan bahwa jauh sebelum perang Paderi, Kotogadang sudah ada.

Dalam buku “Sumatera Barat, Plakat Panjang” yang ditulis Rusli Amran, pada halaman 173 diceritakan kenapa Kotogadang lebih dahulu maju dibandingkan nagari atau kampung-kampung lain. Ketika komandan militer Belanda di Sumatera Barat, De Steurs, berada dalam kejaran kaum Paderi seorang dari Kotogadang membantunya menyelamatkan diri. Sebagai balas budi dikemudian hari warga Kotogadang diberi kesempatan untuk mendapat pendidikan dan kemudian untuk menjadi pegawai Belanda. Warga Kotogadang memanfaatkan peluang ini dengan baik.

Tulisan tulisan diatas tidak bisa dibuktikan kebenarannya seratus persen, akan tetapi tulisan itu mengindikasikan bahwa dalam pertentangan kaum ulama yang didominasi penganut paham Wahabi dan kaum adat yang melahirkan perang Paderi, orang Kotogadang berpihak kepada kaum adat, sekurang-kurangnya bersimpati kepada kaum adat.

Akan tetapi hal ini bisa terbantahkan oleh kenyataan seorang bernama Abdul Latif berasal dari Kotogadang menjadi menantu Tuanku Nan Renceh, seorang ulama Paderi terkemuka, dan anaknya adalah Syekh Ahmad Khatib yang sangat kritis terhadap adat Minangkabau.
Disisi lain, di Kotogadang hampir tidak ada rumah bagonjong. Kalau dilihat kampung ini dibangun dengan tata planologi yang baik. Rumah-rumah terkelompok dengan baik, jalan menuju ke rumah-rumah itu jelas dan lebar. Tidak ada jalan menuju sebuah rumah yang perlu lewat disamping dapur orang lain, atau menyelip diemper rumah lain. Hal seperti ini banyak ditemui di kampng-kampung lain, akan tetapi tidak di Kotogadang.
Walaupun ini mencerminkan bahwa Kotogadang yang sekarang ini adalah kampung yang baru, model rumahpun ada kesan model Eropa, akan tetapi kebutuhan acara adat tetap terjaga. Semua rumah punya ruang tengah rumah yang panjang dan luas. Ini jelas untuk mengakomodasi kebutuhan acara-acara adat.

Kalau masing-masing kaum memeriksa ranji keluarganya, saya yakin akan menemukan bahwa semenjak pertengahan abad ke 19 banyak yang menjadi pegawai, baik itu jaksa, penjaga gudang hasil bumi (angku pakuih), guru, mantri hewan dan belakangan awal abad ke 20 dokter, sarjana hukum dan sebagainya. Walaupun begitu, apabila diperiksa ke generasi yang lebih awal, sebelum perang Bonjol, pasti diketemukan juga yang ber predikat haji. Hal ini menunjukkan bahwa sebetulnya Kotogadang bukan sepenuhnya berpihak kepada kaum adat pada waktu perang Paderi. Terlebih lagi bila jika diingat menunai ibadah haji pada masa itu bukan sesuatu yang mudah dan murah.
Surau pengajian inyik Haji Baroen menunjukkan bahwa pada awal abad ke 20 dimana warga Kotogadang berbondong-bondong pergi kesekolah Belanda, dan kalau kita mau jujur (agak) melupakan agama, masih ada juga yang mendalami agama Islam.

Hal yang menarik lainnya dari makam beliau adalah namanya yang tertulis dengan huruf arab gundul di marmer yang terpasang disitu, Al Haj Muhammad Baril Ya’qubi. Nama beliau adalah Baroen dan nama bapaknya Ya’koeb. Kalau menurut kebiasaan disini nama beliau tentulah Baroen Ja’koeb atau Baroen bin Ja’koeb. Kelihatannya menurut versi arab nama beliau seharusnya adalah Baril Ya’qubi, dan ejaan itulah yang dipasang di kuburannya. Saya tidak bisa membaca keseluruhan yang tertulis di batu nisan itu. Disana tertulis 27 Rabi’ulawal 1342 dan 7 Nofember 1923. Tentulah itu adalah hari beliau meninggal. Ada juga tertulis angka 39 dalam huruf arab, saya duga itu adalah usia beliau ketika meninggal.

Hal yang saya sampaikan diatas menurut saya adalah alasan yang cukup kuat untuk mempertahankan surau dan makam inyik Haji Baroen tetap berada ditempatnya yang sekarang. Ini adalah bukti sejarah bahwa di Kotogadang pernah ada surau pengajian yang terkenal. Gedung suraunya sebaiknya diperbaiki dan dirawat sebagai salah satu aset heritage village, bukannya digusur ataupun dirubuhkan dan diganti dengan bangunan baru sebagaimana keinginan PPMTRIAB yang saya singgung pada awal tulisan ini.

Surau inyik Haji Baroen dan surau Lakuak adalah peninggalan yang masih ada yang menunjukkan surau pengajian pernah ada di Kotogadang. Surau Gadang sudah tidak ada lagi, sedangkan surau Mudiak sekarang merupakan bangunan baru yang sama sekali tidak menyisakan bentuk yang aslinya..

Terlepas apakah kaum Sikumbang mengizinkan surau itu digusur atau tidak, kami cucu-cucu inyik Haji Baroen yang di Piliang tidak menyetujui pusaro beliau dipindahkan.
Kotogadang, 28 Juni 2007.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s