Sastera dan Kepercayaan di Minangkabau

Hubungan Sastera dan Kepercayaan


di Minangkabau


Oleh H Mas’oed Abidin

Masalah bahasa dan kepercayaan yang berasimilasi dalam kesusastraan di Minangkabau adalah satu dari mutiara kebudayaan yang amat berguna di dalam menguntai satu kesusastraan nasional yang berkeperibadian sendiri, keperibadian Indonesia.

Keperibadian Minangkabau tidak dapat dipisahkan dari pemurnian pemahaman dan pengamalan agama Islam oleh masyarakat Minangkabau khusus dan masyarakat bangsa Indonesia secara umum.

Masyarakat Minangkabau telah mengakui Islam sebagai agamanya dan pedoman hidupnya, yang tentu saja amat menentukan di dalam hasil karya kesusastraan yang dicipta mereka.

subuh-di-masjid-nabawi

KEPERCAYAAN DI DALAM MASYARAKAT MINANGKABAU

Salah satu tuntutan naluriah manusia adalah mempercayai adanya kekuasaan gaib yang bersifat Maha Sempurna yang dihayati sebagai rasa keagamaan.

Kepercayaan kepada kekuasaan alam di luar lahiriah seperti makhluk gaib, roh-roh dan kekuatan alam, adalah penyimpangan dan mengaburkan hakekat kepercayaan kepada Keesaan Yang Maha Sempurna yang bersifat naluriah dan fitrah insaniah itu.

Kepercayaan terhadap hal yang mistis tumbuh karena tipuan setan yang membonceng bersama ketidak-sanggupan manusia mengadapi tantangan alam dalam memenuhi kebutuhan jasmaniahnya. Kepercayaan ini pernah ada di dalam masyarakat Minangkabau masa lalu.

Islam mengembalikan kepercayaan masyarakat Minangkabau kepada fitrahnya semula Namun, beberapa peninggalan kepercayaan lama masih melekat dan dalam beberapa cara dan upacara bahkan saling bermesraan dengan Islam.

Pengakuan bahwa manusia adalah alam kecil yang susunannya berimbangan dengan alam luas, menuntut perilaku manusia untuk menjaga dan memelihara keseimbangan itu. Dalam bahasa di Minangkabau tampak pengaruhnya pada penggunaan kata “pantang”, “sumbang” dan “cando” atau sesuatu yang salah dan terlarang.

MASYARAKAT MINANGKABAU

Pola hubungan bermasyarakat dalam tatanan kekerabatan di Minangkabau mempertahankan garis keturunan keibuannya. Hal ini dapat juga bersumber dari atau didasarkan pada penghormatan yang timbul karena penderitaan alamiah ibu melahirkan manusia.

Kesadaran untuk menjaga ketinggian moral ini sesungguhnya sesuai dengan tuntutan agama Islam. Di samping hubungan manusia dengan ibu adalah hubungan awal yang paling erat.

Garis keturunan ibu yang dipertahankan ini tidak menghalangi masyarakat Minangkabau melaksanakan ketentuan agama mereka (Islam) dalam hubungan-hubungan muamalah.

Dalam bahasa Minangkabau garis keturunan keibuan ini membayang pada kata-kata, ungkapan-ungkapan dan kesusastraan yang mengedepankan aspek rasa (emosional) daripada aspek pikiran (rasional) semata. Rasa itu juga dibentuk oleh kepercayaan yang dianutnya.

Bahasa dan kesusastraan Minangkabau mempunyai peranan penting dalam pembentukan moral penduduknya dalam kaitan moral (akhlak) yang timbul antara hubungan makhluk dan khalik dan moral yang timbul antara hubungan manusia sesama manusia dan sesama makhluk.

Konsep-konsep yang merupakan pedoman hidup yang diatur dalam adat dan lembaga masyarakat Minangkabau juga ditetapkan dengan bahasa.

Sifat pembawaan masyarakat bahasa Minangkabau yang menghindari berkata tepat dan kebiasaan berkata kias, bermisal dan memakai pertimbangan-pertimbangan yang tepat, membayangkan pengakuan terhadap adanya suatu kekuasaan diluar diri mereka. Kekuasaan tersebut mereka kagumi.

KESUSASTERAAN MINANGKABAU

Permulaan timbulnya kesusastraan Minangkabau karena dirasakan perlu berhubungan dengan makhluk-makhluk dan kekuatan-kekuatan alam yang mempengaruhi kehidupan.

Puisi mantra adalah bentuk-bentuk tertua kesusastraan Minangkabau yang bersifat religius, sedangkan bentuk puisi lama dan prosa berirama merupakan bentuk turunan dari puisi mantra. Puisi dan prosa berirama adalah suatu bentuk keharusan kesusastraan Minangkabau.

Dalam puisi mantra terdapat asimilasi yang kuat antara bahasa dan keper-cayaan, baik dengan kepercayaan yang menyimpang maupun dengan kepercayaan yang hakiki.

Irama, mimik dan pantio mimik dalam puisi mantra memperkuat kedalam rasa dan penyatuan itikad serta menentukan subyek kepercayaan.

Bunyi-bunyi alam dan suasana alamiah lainnya menambah keseimbangan irama dan karena itu pemesraan antara bahasa dan kepercayaan bertambah kuat.

Dipandang dari sudut Islam, memakai mantra dengan itikad memohon se suatu kepada makhluk gaib adalah perbuatan sesat dan dikategorikan kedalam hukum memperserikatkan Tuhan (musyrik).

Makhluk gaib adalah juga ciptaan Tuhan, karena itu permohonan kepada yang gaib hanya ditujukan kepada-Nya semata. Dia Esa.

Pemilik kesusatraan Minangkabau (lama) dan pencipta pertamanya adalah golongan penghulu atau para ninik mamak.

Hakikat pelisanan kesusastraan Minangkabau bertujuan untuk menjaga agar jangan kepandaian (keahlian) itu meluas, karena itu iramanya tidak terpelihara yang akan mengakibatkan kemakbulannya lenyap. Juga berhakekat sebagai suatu keistimewaan golongan yang bekuasa yang dapat dibanggakan.

MASA DEPAN KESUSASTRAAN

MINANGKABAU

Bagaimana semestinya sikap pendukung kesusastraan Minangkabau dalam menatap masa depan kesusastraan daerah Sumatera Barat untuk dapat disumbangkan pada pemupukan kesusastraan nasional Indonesia diperlukan beberapa tindakan nyata.

Untuk mendapatkan kemurnian daya cipta masyarakat (perseorangan) yang juga bersumber kepada rahmat Ilahi, maka perlu diluruskan jalan ketauhidan terhadap ke-Esa-an Tuhan, sehingga kemusyrikan lenyap sama sekali.

Cara yang mungkin dapat ditempuh adalah di samping memberikan pengertian kepada pendukung kepercayaan berganda itu, juga dengan melalui ciptaan sastra dan buku-buku yang mempertegas ketauhidan terhadap Ilahi.

Karena kesusastraan digunakan untuk mengabdi kepada yang gaib, maka dalam ciptaan mantra di Minangkabau harus mengarah kepada pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian materi atau unsur yang terdapat pada kesusastraan Minangkabau itu dipaterikan kembali ke arah yang benar, yaitu menuju redha Allah Swt. Arah yang sesat menuju kemuysrikan dan kemurtadan pada arah kesusastraan Indonesia seperti pernah terjadi pada zaman dominasi politik komunis dengan LEKRA terhadap kesusatraan Indonesia tidak boleh terulang lagi.

Dasar yang kuat bagi perkembangan kebudayaan (kesusastraan) yaitu “agama” yang semestinya tumbuh menjadi kepribadian bangsa. Agama haruslah di pupuk suburkan dan menjadi cerminan perilaku agar tidak menyeleweng ke arah yang salah. Menghapus dasar keagamaan pada karya sastra Indonesia adalah suatu penafian terhadap peribadi bangsa sendiri.

Pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusastraan di Minangkabau, berfungsi sebagai pembentukan moral. Materi kepercayaan atau agama dalam adagium syarak mangato adaik mamakai harus dipertahankan selalu ada dalam penciptaan kesusastraan Minangkabau sekarang ini. Materi kepercayaan atau agama ini akan menjadi kekuatan membentuk moral dalam hubungan dengan khalik maupun pembentukan moral dalam pergaulan manusia bersama atau makhluk.

Setiap pendukung kebudayaan dan kesusastraan daerah di Minangkabau semestinya berbahagia dengan milik lama yang berharga ini (mantra, adat, tata pergaulan) yang dipagari oleh Islam. Masa kini terpikul beban tanggung jawab untuk menjaga dan memperkaya serta membetulkan mana yang tidak cocok dengan dasar keagamaan yang benar, yakni menurut agama Islam.

Hanyalah dengan menghargai hasil kebudayaan/kesusastraan lama sebagai pancaran masyarakat pada masanya, kita dapat menilai hasil kebudayaan/kesusastraan yang kita ciptakan dan kita hayati dewasa ini. Dari paduan yang lama dan sekarang dapat dipungut mutiara-mutiara hikmah dari dalamnya untuk memperkaya khazanah kesusastraan dan kebudayaan daerah Sumatera Barat berbasis adat Minangkabau yang indah itu. Bila usaha ini dapat dijaga dan dikembangkan barulah kita dapat mengatakan bahwa daerah kita ini mempunyai kesusastraan dan kebudayaan yang bercorak keperibadian sendiri.

“Inna ma`al yusri yusran

fa iza faraghta fanshab

wa ila rabbika farghab”

(Sesunguhnya akan datang disamping

kesulitan itu kemudahan

sebab itu

kapan engkau mempunyai waktu

bekerja keraslah

dan kepada Tuhan engkau

hadapkanlah semua tujuan dan harapanmu)

(Al-Quran Surat Al Insyirah, ayat 6-8.)

Semoga Tuhan selalu bersama kita. Amien.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s