Posisi Sentral Perempuan Minangkabau, Bundo kanduang, Pendidik Utama

Renungan kita bersama tentang “Kaum Perempuan” yang di Minangkabau di sebut “Bundo Kanduang” sesungguhnya memiliki posisi yang kuat.

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Mukaddamah Perjalanan Perempuan

1. Perempuan sering disebut dengan panggilan ‘wanita’. Panggilan ini lazim dipakai di negeri kita. Seperti darma wanita, karya wanita, wanita karir, korp wanita, wanita Islam dsb. Kata-kata “wanita” (bhs.Sans), berarti lawan dari jenis laki-laki, juga diartikan perempuan (lihat :KUBI).[1]

2. Ada lagi yang memanggil wanita dengan sebutan ‘perempuan.’ (bhs.kawi,KUBI). Kata “empu” berasal dari Jawa kuno, berarti pemimpin (raja), orang pilihan, ahli, yang pandai, pintar dengan segala sifat keutamaan yang lain. Bila istilah ini yang lebih mendekati kebenaran, saya lebih cen­derung memakai kata perempuan selain wanita. Karena di dalamnya tergambar banyak peran.[2]

3. Di masa jahiliyah berlaku pelecehan gender yang terbukti dengan kelahirannya di sambut kematian.
Keberadaannya pada zaman jahiliyah sangat tidak diterima, ada paham bahwa wanita pembawa aib keluarga. Jabang-jabang bayi itu mesti dibunuh, begitu kesaksian Kitab suci tentang perangai orang-orang jahiliyah.[3]

4. Kondisi ini sama dengan masa Fir’aun, terhadap anak lelaki yang di lahirkan kaum Musa (keluarga ‘Imran) harus dibunuh, yang pada masa sekarang mirip rasilalisme, atau ethnic cleansing.

5. Kitab suci Al Qur’an menyebutkan perempuan dengan sebutan Annisa’ atau Ummahat. Konotasinya adalah ibu. “Ibu” bisa berakronim “Ikutan Bagi Ummat.” Annisa’ adalah tiang bagi suatu negeri [4].

Dalam bagian lain Nabi saw meungkapkan, dunia ini indah berisikan pelbagai perhiasan (mata’un), perhiasan yang paling indah adalah isteri-isteri yang saleh (perempuan atau ibu yang tetap pada perannya dan konsekwen dengan citranya) (Al Hadits).

Begitu penafsiran Islam tentang kedudukan perempuan, yang diyakini seorang Muslim.

6. Sejak hampir dua ribu tahun berlalu, menurut Al Qur’anul Karim, perempuan telah ditetapkan dalam derajat yang sama dengan jenis laki-laki dengan penamaan azwajan atau pasangan hidup (Q.S.16:72, 30:21, 42:11). Dahulu memang penilaian terhadap perempuan sangat rendah, di zaman jahiliyah kisahnya diceritakan, apakah makhluk perempuan tergolong jenis manusia yang punya hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki. Atau hanya sekedar benda yang boleh dipindah-tangankan sewaktu-waktu atau untuk diperjual-belikan sebagai komoditi budak yang menjadi sumber pendapatan bagi pemiliknya. Bahkan disiksa, dihadiahkan atau mungkin dibunuh sesuka pemiliknya.

Kata woman dalam bahasa Inggris berasal dari “womb man”, atau manusia berkantong, sebuah pemahaman Eropa klasik tentang suatu makhluk setengah manusia yang mempunyai kantong dan bertugas menjadi tempat tumbuh calon manusia. Ah “dia” kan hanya womb man atau manusia kantong (“manusia” yang hanya kantong tempat manusia).

7. Dalam kebudayaan Minangkabau sejak lama yang kemudian berkembang menjadi “adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah” menempatkan wanita sebagai ‘orang rumah’ dan ‘pemimpin’ masyarakatnya dengan sebutan “bundo kandung”, menyiratkan kokohnya kedudukan perempuan Minangkabau pada posisi sentral.

Dalam budaya Minangkabau perempuanlah pemilik seluruh kekayaan, rumah, anak, suku bahkan kaumnya.

Namun, laki-laki dalam oposisi-biner perannya adalah sebagai pelindung dan pemelihara harta untuk
‘perempuan’-nya dan ‘anak turunan’-nya.

Maka generasi Minangkabau yang dilahirkan senantiasa bernasab ayahnya (laki-laki) dan bersuku ibunya
(perempuan), suatu persenyawaan budaya yang sangat indah.

Hak asasi perempuan

Hak asasi perempuan dalam rangkuman Hak Asasi Manusia yang diper­juangkan hingga hari ini, sudah
diperlakukan sangat sempurna sejak 15 abad dalam ajaran Islam. Itu berarti delapan abad mendahului pandangan ragu-ragu mengakui perempuan.

Agama Islam melihat perempuan (ibu) sebagai mitra yang setara (partisipatif) bagi jenis laki-laki.

Dalam konteks Islam ini, sesungguhnya tak perlu ada emansipasi bila emansipasi diartikan perjuangan untuk persamaan derajat tugasnya. Yang diperlukan adalah pengamalan sepenuhnya peran perempuan sebagai mitra, yang satu dan lainnya saling terkait, saling memerlukan, dan bukan untuk eksploatasi. Sebagai pemahaman azwaajan, pasangan atau kesetaraan.

Tidak punya arti sesuatu kalau pasangannya tidak ada.
Tidak jelas eksistensi sesuatu kalau tidak ada yang setara di sampingnya.
“Pasangan”, mungkin tidak ada kata yang lebih tepat dari itu.

Di barat, selama ini memang ada gejala kecenderungan penguasaan hak-hak wanita itu, bahkan paling akhir adalah hi­langnya wewenang “ibu” dalam rumah tangga sebagai salah satu unit inti dalam keluarga besar (extended family).

a). Secara moral utuh, perempuan punya hak sebagai IBU, adalah Ikutan Bagi Umat.
Masyarakat yang baik terlahir dari Ibu yang baik.
Kaum Ibu pemelihara tetangga, dan perekat silaturrahim.
Walaupun tidak jarang, kaum Ibu bisa menjadi perusak rumah tangga tetangganya.[5]

b). Penghormatan kepada Ibu menempati urutan kedua sesudah iman kepada Allah.
Bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Ibu, diwasiatkan sejalan untuk seluruh manusia.
Penghormatan kepada Ibu (kedua orang tua), merupakan disiplin hidup yang tak boleh diabaikan.

Disiplin ini tidak terbatas kepada adanya perbedaan dari keyakinan yang di anut. Bahkan, dalam hubungan pergaulan duniawi sangat ditekankan harus dipelihara jalinan yang baik (ihsan).[6]

c). Ibu menjadi pembentuk generasi berdisiplin dan memiliki sikap mensyukuri segala nikmat Allah.

Dari rahim dalam Ibu dilahirkan manusia yang bersih (menurut fithrah, beragama tauhid).

Maka, pembinaan sektor agama merupakan faktor terpenting membantu keberhasilan pendidikan anak yang didasarkan kepada akhlaq Islami.

Di bawah telapak kakinya terbentang jalan kepada keselamatan (Sorga)

Kebahagiaan menanti setiap insan yang berhasil meniti jalan keselamatan yang di ajarkannya dengan baik, penuh kepatuhan dan rasa hormat yang tinggi.[7]

Dari dalam lubuk hatinya yang tulus dan dengan tangannya yang terampil dicetak generasi bertauhid yang berwatak taqwa, selalu khusyuk dalam berkarya (amal) dan kaya dengan rasa malu.

Watak (karakter) yang manusiawi akan menjadi inti masyarakat yang hidup dengan tamaddun (budaya).

Posisi perempuan dalam Al Quran sebagai yang di-wahyyukan kepada Muhammad SAW, Al-Quran telah menempatkan perempuan pada posisi azwajan (pasangan hidup kaum lelaki), mitra sejajar/setara (QS.16:72), berperan menciptakan sakinah (kebahagiaan), mewujudkan rahmah yang tenteram, melalui mawaddah berupa kasih sayang (QS.30:21).

Citra perempuan ini diperankan secara sempurna dengan posisi sentral sebagai IBU (Ikutan Bagi Ummat),
salah satu unit inti dalam keluarga besar (extended family, bundo kanduang di Minangkabau).

Perempuan adalah “tiang negeri” (al Hadist).
Posisi ini adalah penghormatan mulia, “sorga terletak di bawah telapak kaki ibu” (al Hadist).[8]

Tuntutan ekono­mi atau mengumpulkan materi menjadi perhatian utama yang perlu dise­gerakan, sehingga
seorang wanita tidak lagi mampu mengangkat wajahnya jika ia tidak memiliki pekerjaan di luar rumah.

Perempuan sekar­ang mestinya tidak bergelimang dalam dapur, sumur dan kasur. Tapi dia harus keluar dari rotasi ini, dan masuk ke dalam lingkaran kantor, mandor dan kontraktor.[9]. Bila tidak dibarengi dengan pendidikan di rumah tangga, dan pemeranan serius dari hak dan kewajiban antara ayah dan bunda terhadap anak turunannya, maka kondisi ini dapat menyum­bang lahirnya “X Generation”, generasi yang sangat dicemasi masuk kelingkungan Asia dimasa depan.[10]

Pemelihara budaya dan Generasi

Generasi berbudaya memiliki prinsip yang teguh, elastis dan toleran bergaul, lemah lembut bertutur kata, tegas dan keras melawan kejahatan, kokoh menghadapi setiap percabaran budaya dan tegar menghadapi percaturan kehidupan dunia.

Generasi yang siap menghadapi pergolakan dan pertarungan budaya kesejagatan (global), hanyalah yang mampu menghindari teman buruk, sanggup membuat lingkungan sehat serta bijak menata pergaulan baik, penuh kenyamanan, tahu diri, hemat, dan tidak malas. Sesuai pesan Rasulullah SAW;”Jauhilah hidup ber-senang-senang (foya-foya), karena hamba-hamba Allah bukanlah orang
yang hidup bermewah-mewah (malas dan lalai)” (HR.Ahmad).

Generasi yang memiliki kemampuan tinggi menghadapi setiap perubahan dalam upaya mewujudkan kebaikan tanpa harus mengabaikan nilai-nilai moral dan tatanan pergaulan. Maka, kedua orang tua wajib melakukan pengawasan melekat terhadap anak-anaknya sepanjang masa. Terutama terhadap tiga prilaku tercela (buruk), yaitu dusta (bohong), mencuri dan mencela (caci maki). Sesuai sabda Rasulullah SAW; “Jauhilah dusta, karena dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka” (Hadist Shahih).

Perempuan Pendidik Utama Bangsa

Peran Perempuan sebagai Ibu adalah inti di tengah rumah tangga dan masyarakat (negara). Ibu merupakan guru pertama dalam perkataan, pergaulan dan penularan tauladan cinta kasih terhadap anak-anaknya.

Anak adalah amanah Allah, yang tumbuh melalui belajar dari lingkungannya. Melalui pendidikan keteladanan. Teladan yang baik adalah landasan paling fundamental bagi pembentukan watak generasi.[11]

Dalam perkembangan masa yang mengikuti gerak globalisasi terjadi perubahan cuaca budaya. Perubahan yang seringkali melahirkan ketimpangan-ketimpangan. Bahkan kepincangan yang diperbesar oleh tidak adanya keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan kesempatan serta terdapatnya perbedaan kesempatan yang sangat mencolok (fasilitas, pendidikan, lapangan kerja, hiburan, penyiaran mass media,) antara kota dan kampung. Akibat nyatanya adalah mobilitas terpaksa
yang pada akhirnya sangat mengganggu pertumbuhan masyarakat (social growth).

Perpindahan penduduk secara besar-besaran ke kota sebenarnya merupakan penyakit menular di tengah-tengah kemajuan negeri yang tengah berkembang. Dusun-dusun mulai ditinggalkan, kota-kota menjadi sempit untuk tempat tinggal pendatang baru. Kehidupan yang keras menyebabkan orang terpaksa menjual diri. Dasar-dasar kehidupan menjadi rapuh, akhlak karimahpun hilang.[12]

Materi dan uang sudah menjadi buruan. Kehidupan terancam bahaya, karena kesinambungannya berubah oleh meluasnya keluarga nomaden modern. Beban resikonya tidak mudah diperhitungkan lagi. Kerusa­kan yang sulit menghindarinya adalah hilangnya jati diri. Menta­litas mengarah pada materialistik, permisivistik, bahkan hedonis­tik. Biaya untuk perbaikannya niscaya lebih besar dari biaya yang telah dikeluarkan untuk pertumbuhan ekonomi.

Perempuan Minangkabau Profil Perempuan Mandiri

Dalam keadaan seperti itu, kaum perempuan harus memaksimalkan peran keperempuanannya, sebagai ibu di rumahtangganya dan pendidik di tengah bangsanya. Peran dan citra perempuan mandiri terlihat jika pembedaan jenis kelamin berlaku secara jelas dan pasti. Perbedaan kewajiban dan hak serta kedudukan itu, memastikan berlakunya dual-sex.[13]

“Pendidikan formal yang dapat membuat wanita sejajar dengan laki?laki berpeluang menjadikan wanita
kehilangan jati dirinya sebagai wanita. Secara tidak sadar wanita yang terpelajar itu menjadi lebih maskulin daripada laki-laki. Ujung dari proses itu adalah ancaman kehidupan rumah tangganya”, kata Hani’ah.

Selanjutnya, “Sifat feminim yang merupakan sumber kasih sayang, kelembutan, keindahan, dan sumber
cahaya ilahi mempunyai potensi untuk menyerap dan mengubah kekuatan kasar menjadi sensitivitas, rasionalitas menjadi intuisi, dan dorongan seksual menjadi spir­itualitas sehingga memiliki daya tahan terhadap kesakitan, pen­deritaan dan kegagalan.”[14]

Sebenarnya tidak hanya ajaran Agama Islam yang mengungkapkan secara jelas peran dan citra perempuan itu.

Para penulis sastera juga mengungkapkan peran perempuan Melayu (Timur) dengan pendir­ian yang kokoh, seperti terungkapkan dalam Syair Siti Zubaidah Perang China ; “Daripada masuk agama itu, baiklah mati supaya tentu, menyembah berhala bertuhankan batu, kafir laknat agama tak tentu,”[15]

Perempuan Melayu dengan sifat-sifat mulia diantaranya lembut hatinya, penyabar, penyayang kepada sesama, keras dalam mempertahankan harga diri, tegas, teguh dan kuat iman dalam melaksanakan suruhan Allah, pendamai, suka memaafkan dan mampu menjadi pemimpin masyarakatnya.

Wanita Melayu juga memper­gunakan akal di dalam berbuat dan bertindak, bahkan terkadang terlalu keras dan berani, seperti ditunjukkan dalam syair Siti Zubaidah itu, kata H. Ahmad Samin Siregar. [16]

Kepemilikan Perempuan menurut Islam

1). Menjadi pemilik dari apa yang dimiliki pasangannya.
2). Apa yang sudah diberikan kepadanya secara ikhlas (nihlah) tidak boleh dirampas kembali.
3). Perempuan mempunyai hak perlindungan dari pasangannya.
4). Perempuan mempunyai kewajiban menjaga kepemilikan dibelakang pasangannya.
Dan semuanya terlihat dalam hukum perkawinan menurut Islam.

Kepemilikan tanah ulayat

Sebagai pusako tinggi, sesuai hukum adat dikuasai oleh lini materilineal, hukum garis keibuan. Kadang ditemui kerancuan dalam pelaksanaannya. Bahwa gender lelaki dari garis ibu menjadi penguasa dari harta pusaka, baik dalam penyerahan kepada pihak lain, menjualnya, menggadainya, tanpa mengindahkan hak-hak kaum perempuan.

Kenapa ini terjadi. Jawabannya terserah kepada kepatuhan orang beradat. Dari pandangan agama Islam, bisa disimpulkan bahwa yang tidak mau mengindahkan hak-hak perempuan, sebenarnya adalah mereka yang tidak beriman atau lebih halus lagi, kurang mengamalkan ajaran agama Islam.

Sebenar hakikat dari adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah itu, adalah aplikatif, bukan simbolis.

Catatan-Catatan

[1] Pada masa dahulu banyak penulisan cerita tentang wanita yang dianggap hanya seje­nis komoditi penggembira, penghibur, teman bercanda.

[2] Antara lain pemimpin, pandai, pintar, dan memiliki segala sifat keutamaan rahim, penuh kasih sayang, juga dengan jelas mengungkapkan citra perempuan sebagai makhluk pili­han, pendamping jenis kelamin lain (laki?laki). Lak-laki yang kebanyakannya, dalam pandangan sebagian wanita, memiliki sifat pantang kerendahan, pantang kalongkahan, superiority complex, tak mau disalahkan dan tak mau dikalahkan, tidak sedikit yang akhirnya bisa bertekuk lutut dihadapan perempuan.

[3] (QS.QS.16,an-Nahl :57-60).

[4] Bila Annisa’ -nya baik, baiklah negeri itu, dan bila Annisa’ -nya rusak, celakalah negeri itu (Al Hadits). Sorga di bawah telapak kaki ibu (Umma­hat) sesuai ajaran Islam. Kaidah Al-Qurani menyebutkan, Nisa’-nisa’ kamu adalah perladangan (persemaian) untukmu, kamupun (para lelaki) menjadi benih bagi Nisa’-nisa’ kamu. Kamu dapat mendatan­gi ladang?ladangmu darimana (kapan saja). Karena itu kamu berkew­ajiban memelihara eksistensi atau identitas (Qaddimu li anfusikum) dengan senantiasa bertaqwa
kepada Allah (Q.S.2:23).

[5] “Ibu (an-Nisak) adalah tiang negeri” (al Hadist). Jika kaum Ibu dalam suatu negeri (bangsa) berkelakuan baik (shalihah), niscaya akan sejahtera negeri itu. Sebaliknya, bila kaum Ibu disuatu negeri berperangai buruk (fasad) akibatnya negeri itu akan binasa seluruhnya.
Banyak sekali hadist Nabi menyatakan pentingnya pemeliharaan hubungan bertetangga, serta menanamkan sikap peduli dengan berprilaku solidaritas tinggi dalam kehidupan keliling.
Diantaranya Rasulullah SAW bersabda; “Demi Allah, dia tidak beriman”, “Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”. (Hadist diriwayatkan Asy-Syaikhan).
Dalam Hadist lainnya disebutkan ;“Tidaklah beriman kepadaku orang yang perutnya kenyang, sedangkan tetangganya (dibiarkan) kelaparan disampingnya, sementara dia juga mengetahui (keadaan)nya” (HR.Ath-Thabarani dan Al Bazzar).
Bimbingan Risalah ini menekankan pentingnya pendidikan akhlaq Islam Satu bangsa akan tegak kokoh dengan akhlak (moralitas budaya dan ajaran agama yang benar).
Tata krama pergaulan dimulai dari penghormatan di rumah tangga dan dikembangkan kelingkungan tetangga dan ketengah pergaulan warga masyarakat (bangsa). Sesuai bimbingan Al Quran (QS.41, Fush-shilat, ayat 34).

[6] Tuntunan Al Quran menjelaskan; (QS. 31, Luqman; ayat 14-15).

[7] Rasulullah SAW menyebutkan bahwa; “Sorga terletak dibawah telapak kaki Ibu”(al Hadist). Sahabat Abu Hurairah RA., meriwayatkan ada seseorang bertanya kepada Rasulullah;
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku pergauli dengan cara yang baik?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. (sampai tiga kali), baru terakhir Beliau menjawab, “Bapakmu”. (HR.Asy-Syaikhan).

Dalam hadist lainnya ditemui pula; Shahabat Abdullah Ibn ‘Umar menceritakan, “Berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya”. (HR.Asy-Syaikhan).

Disiplin tumbuh melalui pendidikan akhlak, teladan paling ideal dimata anak (generasi), Menanamkan ajaran agama yang benar (syari’at). Jangan berbuat kedurhakaan. Memperkenalkan hari akhirat, sebagai tempat kembali terakhir. Dalam rangka berbakti kepada dua orang tua (birrul walidaini) diajarkan supaya jangan berkata keras. Harus bergaul dengan lemah lembut, dan menyimak perintah kedua orang tua dengan cermat. Jangan bermuka masam (cemberut) kepada keduanya, tidak memotong perkataan keduanya, serta mengajarkan dialog (mujadalah) dengan cara baik (ihsan). Bimbingan Kitabullah menyebutkan dengan sangat jelas sekali. (QS.17, al-Israk; ayat 234-24). Dalam wahyu lainnya, (QS.46, al Ahqaaf; ayat 15-16). Generasi yang menolak kebenaran (al-haq) dari Allah, akan berkembang menjadi generasi permissif (berbuat sekehendak hati) dan menjadi mangsa dari perilaku anarkisme dan hedonisme sepanjang masa. Inilah generasi yang lemah (loss generation), yang tercerabut dari
akar budaya dan agama. Allah SWT memperingatkan (QS: 46, al-Ahqaaf, ayat 17-18).

Maka birrul walidaini (berbakti kepada dua orang tua), merupakan pelajaran dasar satu generasi, yang harus di turunkan turun temurun. Nabi Muhammad SAW, bersabda; “Berbaktilah kepada bapak-bapak (orang tua) kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbakti pula kepada kalian. Dan tahanlah diri kalian (dari hal-hal yang hina), niscaya istri-istri kalian juga akan menahan diri (dari hal-hal yang hina)”.(HR. Ath-Thabarani).

[8] Walaupun tidak jarang terjadi, kalangan liberal seringkali merendahkan atau menolak peran perempuan sebagai ibu di dalam rumah tangga. Melahirkan dan menga­suh anak dilihat sebagai suatu peran yang out of date. Bila seseorang memerlukan anak bisa ditempuh jalan pintas melalui adop­si atau mungkin satu ketika dengan teknologi kloning (?).

[9] Akibat nyata adalah anak-anak dirawat baby-sitter, paling-paling dititipkan di TPA (tempat penitipan anak), atau dikurung di rumahnya sen­diri sampai orang tua kembali ke rumah.

[10] Satu generasi yang bertumbuh tanpa aturan, jauh dari moralitas, berkecendrungan meninggalkan tamaddun budayanya. Tercermin pada perbuatan suka bolos sekolah, memadat, menenggak minuman keras, pergaulan bebas, morfinis, dan perbuatan tak berakhlak. “X”, mereka hilang dari akar budaya masyarakat yang melahirkannya. Disinilah pentingnya peran ibu. Semestinya para perempuan (ibu) yang memelihara perannya sebagai ibu berhak mendapatkan “medali” sebagai pengatur rumahtangga dan ibu pendidik bangsa. Inilah darma ibu yang sesungguhnya, yang sebenar-benar darma.

[11] Anak-anaknya (generasi pelanjutnya) senantiasa akan berkembang menyerupai ibu dan bapaknya. Peran pendidikan amat menentukan, karena pendidikan adalah teladan paling ideal dimata anak (lihat Nashih ‘Ulwan, dalam Tarbiyatul Aulaad). Jika ibu menegakkan hukum-hukum Allah, begitu pula generasi yang di lahirkannya. Urgensi pelatihan ibadah untuk anak sedari kecil dengan membiasakan mengerjakan shalat dan ibadah (puasa, shadaqah, mendatangi masjid, menghafal al-Quran) akan menjadi
alat bantu utama melatih disiplin anak dari dini. Sabda Rasulullah SAW. membimbingkan; “Suruhlah anak-anak kamu mengerjakan shalat, selagi mereka berumur tujuh tahun, dan pukulllah mereka (dengan tidak mencederai) karena meninggalkan shalat ini, sedang mereka telah berumur sepuluh tahun, dan
pisahkanlah tempat tidur mereka” (HR.Abu Daud dan Al Hakim).

[12] Peran orangtua menjadi tumpul karena ketegangan?ketegangan antara ayah dan ibu yang umumnya timbul karena tekanan ekonomi dan desakan materi. Ujungnya, anak?anak terlantar dan keluarga menjadi berantakan. Efisiensi sebagai kaidah produktifitas mulai diterapkan secara salah dalam kehidupan keluarga modern. Orangtua lanjut usia (Lansia) mulai tak dihiraukan, dan tempat mereka adalah Panti Jompo. Suatu tempat yang tak memungkinkan para lansia mewariskan nilai?nilai luhur pada anak dan cucunya.

[13] Gejala yang mulai meruyak dalam kehidupan modern sekarang, atau seti­daknya dalam masyarakat liberal, adalah keinginan diterap­kannya uni-sex (terlihat pada pakaian, asessories, pergaulan, kesempatan, pekerjaan dan jamahan keseharian sosial budaya).

[14] (Hani’ah, “Wanita Karir dalam Karya Sastra: Ada Apa Dengan Mereka?”, makalah Munas IV dan Pertemuan Ilmiah Nasional VIII, HISKI 12?14 Desember 1997 di Padang).

[15] (Syair Siti Zubaidah Perang China, Edisi Abdul Muthalib Abdul Ghani, hal. 230).

[16] Ibid. Pendapatnya diketengahkan pada Munas PIN VIII, HISKI 12-14 Desember 1997 di Padang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s