STRATEGI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS DAN MADANI

Oleh ; H. Mas’oed Abidin

Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan Suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (UUD-45)

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, dan

“Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab, serta

berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.

(UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional)

 Mukaddimah

Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya (‘aaliman), atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an), dan jangan menjadi kelompok keempat (rabi’an), yakni tidak tersentuh proses belajar mengajar dan enggan pula untuk mendengar. Kemulian pengabdian seorang pendidik terpancar dari keikhlasan membentuk anak manusia menjadi pintar, berilmu, berakhlak dan pengamal  ilmu yang menjelmakan kebaikan pada diri, kerluarga, dan di tengah umat kelilingnya.

Namun sekarang, kita menatap fenomena mencemaskan. Penetrasi bahkan infiltrasi budaya asing ternyata berkembang pesat. Pengaruhnya tampak pada perilaku  pengagungan materia secara berlebihan (materialistik) dan kecenderungan memisah kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik). Kemudian berkembang pula pemujaan kesenangan indera dengan mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Hakekatnya, telah terjadi penyimpangan perilaku yang sangat jauh dari budaya luhur – adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah-. Kesudahannya, rela atau tidak, pasti mengundang kriminalitas, sadisme, dan krisis secara meluas.

Pergeseran paradigma materialistic acapkali menjadikan para pendidik (murabbi) tidak berdaya menampilkan model keteladanan. Ketidakberdayaan itu, menjadi penghalang pencapaian hasil membentuk watak anak nagari. Sekaligus, menjadi titik lemah penilaian terhadap murabbi bersangkutan.[1] Tantangan berat ini hanya mungkin dihadapi  dengan menampilkan keterpaduan dalam proses pembelajaran  dan pengulangan contoh baik (uswah) terus menerus. Jati diri bangsa terletak pada peran maksimal ibu bapa – yang menjadi kekuatan inti masyarakat – dalam rumah tangga.[2] Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dengan semangat dan cita-cita yang besar ditopang kearifan. Kedalaman pengertian serta pengalaman di dalam membaca situasi dan upaya menggerakkan masyarakat sekitar yang mendukung proses pendidikan. Usaha berkesinambungan mesti sejalan dengan,

  1. pengokohan lembaga keluarga (extended family), 
  2. pemeranan peran serta masyarakat secara pro aktif,
  3. menjaga kelestarian adat budaya (hidup beradat).

Setiap generasi yang dilahirkan dalam satu rumpun bangsa (daerah) wajib tumbuh menjadi,

  1. Kekuatan yang peduli dan pro-aktif dalam menopang pembangunan bangsanya.
  2. Mempunyai tujuan  yang jelas, menciptakan kesejahteraan yang adil merata melalui program-program pembangunan.
  3. Sadar manfaat pembangunan merata dengan,
    1. prinsip-prinsip jelas,
    2. equiti yang berkesinambungan,
    3. partisipasi tumbuh dari bawah dan datang dari atas,
    4. setiap individu di dorong maju
    5. merasa aman yang menjamin kesejahteraan.[3]

Menghadapi Arus Kesejagatan

Kesejagatan (global) yang deras secara dinamik perlu dihadapi dengan penyesuaian kadar apa yang di kehendaki. Artinya, arus kesejagatan tidak boleh mencabut generasi dari akar budaya bangsanya. Sebaliknya, arus kesejagatan itu mesti dirancang dapat ditolak mana yang tidak sesuai.[4]

Abad keduapuluhsatu (alaf baru) ini ditandai mobilitas serba cepat dan modern.  Persaingan keras dan kompetitif seiring dengan laju informasi dan komunikasi serba efektif tanpa batas. Bahkan, tidak jarang membawa pula limbah budaya ke barat-baratan, menjadi tantangan  yang tidak mudah dicegah. Menjadi pertanyaan, apakah siap mengha­dapi perubahan cepat penuh tantangan, tanpa kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM)  berkualitas yang berani  melawan terjangan globalisasi itu?”

Semua elemen masyarakat berkewajiban menyiapkan generasi yang mampu bersaing di era tantangan sosial budaya, ekonomi, politik, menyangkut semua aspek kehidupan manusia. Globalisasi membawa perubahan perilaku, terutama terhadap generasi muda. Jika tidak mempunyai kekuatan ilmu, akidah dan budaya luhur, akan terancam menjadi generasi buih, sewaktu-waktu terhempas di karang dzurriyatan dhi’afan, menjadi “X-G” atau the loses generation.

Membiarkan diri terbawa arus deras perubahan sejagat tanpa memperhitungkan jati diri akhirnya menyisakan malapetaka.[5] Pemahaman ini, perlu ditanamkan dikala   melangkah ke alaf baru. Kelemahan mendasar terdapat pada melemahnya jati diri. Dapat terjadi karena kurangnya komitmen kepada nilai luhur agama (syarak) yang menjadi anutan bangsa.[6]

Lemahnya jati diri akan dipertajam oleh tindakan isolasi diri lantaran kurang kemampuan dalam penguasaan “bahasa dunia” (politik, ekonomi, sosial, budaya). Ujungnya, generasi bangsa menjadi terjajah di negerinya sendiri. Mau tidak mau, tertutup peluang berperan serta dalam kesejagatan.[7] Kurang percaya diri lebih banyak disebabkan oleh,

  1. Lemah penguasaan teknologi dasar yang menopang perekonomian bangsa,
  2. Lemah minat menuntut ilmu.

Hilangnya Akhlak Menjadikan SDM Lemah

Penyimpangan perilaku menjadi ukuran moral dan akhlak. Hilang kendali menjadi salah satu penyebab lemahnya ketahanan bangsa. Yang merasakan akibatnya, terutama tentulah generasi muda, lantaran rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan.

Gambar

Hapusnya panutan dan impotensi tokoh pemangku adat dalam mengawal budaya syarak, dan pupusnya wibawa ulama menjaga syariat agama, memperlemah daya saing anak nagari. Lemahnya tanggung jawab masyarakat, akan berdampak dengan terbiarkan kejahatan meruyak secara meluas. Interaksi nilai budaya asing yang bergerak kencang tanpa kendali, akan melumpuhkan kekuatan budaya luhur anak nagari. Bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis. Akibatnya,  profesi guru (murabbi) mulai dilecehkan.

Hilang keseimbangan telah mendatangkan frustrasi sosial yang parah. Tatanan bermasyarakat tampil dengan berbagai kemelut. Krisis nilai akan menggeser akhlak dan tanggungjawab moral sosial ke arah tidak acuh (permisiveness). Dan bahkan, terkesan toleran terhadap perlakuan maksiat, aniaya dan durjana. Konsep kehidupan juga mengalami krisis dengan pergeseran pandang (view) terhadap ukuran nilai. Sehingga, tampil pula krisis kridebilitas dalam bentuk erosi kepercayaan. Peran orang tua, guru dan pengajar di mimbar kehidupan  mengalami kegoncangan wibawa. Giliran berikutnya, lembaga-lembaga masyarakat berhadapan dengan krisis tanggung jawab kultural yang terkekang sistim dan membelenggu dinamika. Orientasi kepentingan elitis sering tidak populis dan tidak demokratis. Dinamika perilaku mempertahankan prestasi menjadi satu keniscayaan beralih ke orientasi prestise dan keijazahan. Tampillah krisis solidaritas.

Kesenjangan sosial, telah mempersempit kesempatan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan secara merata. Idealisme pada generasi muda tentang masa datang mereka, mulai kabur.

Perjalanan budaya (adat) terkesan mengabaikan nilai agama (syarak). Pengabaian ini pula yang mendatangkan penyakit sosial yang kronis, di antaranya kegemaran berkorupsi. Adalah suatu keniscayaan belaka, bahwa masa depan sangat banyak ditentukan oleh kekuatan budaya yang dominan. Sisi lain dari era kesejagatan adalah perlombaan mengejar kemajuan seperti pertumbuhan ekonomi dan komunikasi untuk menciptakan kemakmuran. Lemahnya syarak (aqidah tauhid) di tengah mesyarakat serta merta mencerminkan perilaku tidak Islami yang senang melalaikan ibadah.

Generasi Penyumbang

  Membentuk generasi penyumbang dalam bidang pemikiran (aqliyah), ataupun pembaharuan (inovator) harus menjadi sasaran perioritas.[8]

Keberhasilan akan selalu ditentukan oleh adanya keunggulan pada institusi di bidang pendidikan. Pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan dengan kemampuan dan pemahaman mengidentifikasi masalah yang dihadapi. Seterusnya, mengarah kepada kaderisasi diiringi oleh penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada.[9] Generasi baru yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Kekuatan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi muda harus menjadi aktor utama dalam pentas kesejagatan. Mereka mesti dibina dengan budaya kuat yang berintikan nilai-nilai dinamik” dan relevan dalam kemajuan di zaman itu. Generasi masa depan yang diminati, lahir dengan budaya luhur (tamaddun) berlandaskan tauhidik, kreatif dan dinamik. Maka, strategi pendidikan mesti mempunyai utilitarian ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas. Sasarannya, untuk membentuk generasi yang tumbuh dengan tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya. Artinya, generasi yang bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan. Generasi sedemikian hanya dapat dikembangkan melalui pendidikan akhlak, budi pekerti dan penguasaan ilmu pengetahuan. Maka akhlak karimah adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah diri dalam menerima ilmu-ilmu lainnya, karena pada akhirnya ilmu yang benar, akan membimbing umat ke arah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang baik (shaleh). Dengan demikian, diyakini bahwa akhlak adalah jiwa pendidikan, inti ajaran agama, buah dari keimanan.

Generasi penerus harus taat hukum. Upaya ini dilakukan dengan memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga. Mengokohkan peran orang tua, ibu bapak, dan memungsikan peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif. Memperkaya warisan budaya dilakukan dengan menanamkan sikap setia, cinta dan rasa tanggung jawab, sehingga patah tumbuh hilang berganti. Menanamkan aqidah shahih (tauhid) dengan istiqamah pada agama Islam yang dianut. Menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur. Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, niscaya yang akan lahir saintis tak bermoral agama. Kesudahannya, ilmu banyak dengan iman yang tipis, berujung dengan sedikit kepedulian di tengah bermasyarakat.

Gambar

Langkah-langkah ke arah pembentukan generasi mendatang sesuai bimbingan Kitabullah QS.3:102 mesti dipandu pada jalur pendidikan, formal atau non formal. Mencetak anak bangsa yang pintar dan bertaqwa (QS.49:13), oleh para pendidik (murabbi) yang berkualitas pula. Keberhasilan gerakan dengan pengorganisasian (nidzam) yang rapi. Menyiapkan orang-orang (SDM) yang kompeten, dengan peralatan memadai. Penguasaan kondisi umat, dengan mengenali permasaalahan keumatan. Mengenali tingkat sosial dan  budaya daerah, hanya dapat di baca dalam peta dakwah yang bagaimanapun kecilnya, memuat data-data tentang keadaan umat yang akan diajak berperan tersebut. Disini terpampang langkah pendidikan yang strategis itu.

Di samping itu perlu pula menanamkan kesadaran serta tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah. Sikap penyayang dan adil, akan dapat  memelihara hubungan harmonis dengan alam, sehingga lingkungan ulayat dan ekosistim dapat terpelihara. Melazimkan musyawarah dengan disiplin, akan menjadikan masyarakat teguh politik dan kuat dalam menetapkan posisi tawar. Kukuh ekonomi serta bijak memilih prioritas pada yang hak, menjadi identitas generasi yang menjaga nilai puncak budaya Islami  yang benar. Sesuatu akan selalu indah selama benar. Semestinya disadari bahwa budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.

Penguatan Nilai Budaya (tamaddun)

Madani mengandung kata maddana al-madaina atau banaa-ha, artinya membangun atau hadhdhara, maknanya memperadabkan dan tamaddana artinya menjadi beradab dengan hidup berilmu (rasio), mempunyai rasa (arif, emosi) secara individu dan kelompok mempunyai kemandirian (kekuatan dan kedaulatan) dalam tata ruang, peraturan dan perundangan yang saling berkaitan.(Al Munawwir, 1997:1320, dan Al-Munjid, al-Mu’ashirah, 2000:1326-1327). Masyarakat  madani (al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya yang maju, modern, berakhlak dan mempunyai peradaban melaksanakan ajaran agama (syarak) dengan benar. Masyarakat  madani (tamaddun) adalah masyarakat berbudaya dan berakhlaq. Akhlaq adalah melaksanakan ajaran agama (Islam). Memerankan nilai-nilai tamaddun — agama dan adat budaya — di dalam tatanan kehidupan masyarakat, menjadi landasan kokoh meletakkan dasar pengkaderan (re-generasi) agar tidak terlahir generasi yang lemah. Kegiatan utama diarahkan kepada kehidupan sehari-hari. [10]

Keterlibatan generasi muda pada aktifitas-aktifitas lembaga agama dan budaya, dan penjalinan hubungan erat yang timbal balik antara badan-badan kebudayaan di dalam maupun di luar daerah , menjadi pendorong lahirnya generasi penyumbang yang bertanggung jawab.[11] Generasi penyumbang (inovator) sangat perlu dibentuk dalam kerangka pembangunan berjangka panjang. Bila terlupakan, yang akan lahir adalah generasi pengguna (konsumptif) yang tidak bersikap produktif, dan akan menjadi benalu bagi bangsa dan negara.[12]

Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus didalam membentuk SDM, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu dirancang kualita pendidik (murabbi) yang sejak awal mendapatkan pembinaan terpadu. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik, dan bukan utopis.

Keberhasilan perkembangan generasi penerus ditentukan dalam  menumbuhkan sumber daya manusia yang handal. Mereka, mesti mempunyai daya kreatif dan ino­vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis. Mempunyai vitalitas tinggi, dan tidak mudah terbawa arus. Generasi yang sanggup menghadapi realita baru, dengan memahami nilai‑nilai budaya luhur. Selalu siap bersaing dalam basis ilmu pengetahuan dengan jati diri yang jelas dan sanggup menjaga destiny, mempunyai perilaku berakhlak. Berpegang teguh kepada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, mempunyai motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama. Mereka, akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan. Memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan. Semestinya dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Karena itu, perlulah domein ruhiyah itu dibangun dengan sungguh-sungguh;  

  1. pemantapan metodologi,
  2. pengembangan program pendidikan,
  3. pembinaan keluarga, institusi, dan  lingkungan,
  4. pemantapan aqidah (pemahaman aktif ajaran Agama)

 

Membentuk Sumber Daya Manusia  berkualitas

Kita berkewajiban membentuk SDM menjadi sumber daya umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong”, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas. Beberapa model dapat dikembangkan di kalangan para pendidik. Antara lain, pemurnian wawasan fikir disertai  kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan. Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi serta menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur.  “Nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Akhirnya, intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Gambar

Para pendidik (murabbi) adalah bagian dari suluah bendang dengan uswah hidup mempunyai sahsiah[13] (شخصية) bermakna pribadi yang melukiskan sifat individu mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan,  budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak akan mampu menghadirkan kesan positif masyarakat Nagari. Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap perilaku anak didik yang mencerminkan  watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang.[14] Ciri kepribadian syarak yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat,

  1. Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup ;
    1. keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna,
    2. keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan
    3. kepercayaan kepada seluruh asas keimanan (arkan al iman) yang lain.
  2. Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku;
    1. Benar, jujur, menepati janji dan amanah.
    2. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan,
    3. Tawadhu’, sabar, tabah dan cekatan,
    4. Lapang dada – hilm –, pemaaf dan toleransi.
    5. Bersikap ramah, pemurah, zuhud dan berani bertindak.

3.    Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi,

  3.1. Sikap Mental,

  1. Cerdas — pintar teori, amali dan sosial –, menguasai spesialisasi (takhassus),
  2. Mencintai bidang  akliah yang sehat, fasih,  bijak penyampaian.
  3. Mengenali ciri, watak, kecenderungan masyarakat Nagari

3.2. Sifat Kejiwaan,

  1. emosi terkendali, optimis dalam hidup, harap kepada Allah,
  2. Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat.
  3. Lemah lembut dan baik dalam pergaulan dengan masyarakat.

3.3. Sifat Fisik,

  1. mencakup sehat tubuh,
  2. berpembawaan menarik, bersih,
  3. rapi (kemas) dan menyejukkan.

Satu daftar senarai panjang menerangkan sikap pendidik adalah berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), berdisiplin baik, adil dalam menerapkan aturan. Memahami masalah dengan amanah dan mampu memilah intan dari kaca. Mempunyai kemauan yang kuat serta bersedia memperbaiki kesalahan  dengan sadar. Selanjutnya tidak menyimpang dari ruh syari’at. Maknanya, mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah. Para murabbi dapat mewujudkan delapan tanggung jawab dalam hidup;

  1. Tanggungjawab terhadap Allah, dengan keyakinan iman dan kukuh ibadah bersifat istiqamah, iltizam beramal soleh dengan rasa khusyuk dalam mencapai derajat taqwa dan mengagungkan syiar Islam dengan perilaku beradat dan beradab.
  2. Tanggungjawab terhadap Diri, mengupayakan keselamatan diri sendiri, baik aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih dan mampu berkhidmat kepada Allah, masyarakat dan negara.
  3. Tanggungjawab terhadap Ilmu, menguasai ilmu takhassus secara mendalam dan menelusuri dimensi spiritualitas Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan untuk tujuan kemanusiaan dan kesejahteraan umat manusia.
  4. Tanggungjawab terhadap Profesi, tidak bertingkah laku yang menghilangkan kepercayaan orang ramai dan dapat memelihara maruah diri dengan amanah.
  5. Tanggungjawab terhadap Nagari, mengutamakan keselamatan anak Nagari dan memfungsikan lembaga-lembaga pendidikan (surau) dengan ikhlas.
  6. Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari tindakan yang mencemarkan sejawat dengan berusaha sepenuh hati mengedepankan kemajuan social hanya karena Allah.
  7. Tanggungjawab terhadap Masyarakat dan Negara, tidak merusak kepentingan masyarakat atau negara dan selalu menjaga kerukunan bernegara di bawah syari’at Allah.
  8. Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa, dengan menghormati tanggungjawab utama ibu bapa dengan mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

Menghidupkan Partisipasi Umat 

Umat mesti mengantisipasi berbagai krisis dengan kekuatan agama dan budaya (adat dan syarak) agar tidak menjadi kalah di tengah era persaingan. Memantapkan watak terbuka dan pendidikan akhlak berlandaskan ajaran tauhid. Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar seperti tertera dalam QS.31, Lukman:13-17.  Menghadapi degradasi akhlak dapat dilakukan berbagai program, antara lain ;

  1. Integrasi Akhlak yang kuat dengan menanamkan penghormatan terhadap orang tua. Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan, serta pendalaman ajaran agama (tafaqquh fid-diin). Berpijak kepada nilai-nilai Islam yang universal (tafaqquh fin-naas), akan membawa masyarakat memperhatikan masalah sosial (umatisasi) dengan teguh. Menetapkan kepentingan bersama dengan ukuran taqwa, responsif dan kritis dalam mengenali kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan. Tahap selanjutnya mendorong kepada penguasaan ilmu pengetahuan. Kaya dimensi dalam pergaulan bersama mencercahkan rahmatan lil ‘alamin pada seluruh aspek kehidupan.
  2. Kekuatan Ruhiyah. Ketahanan umat, bangsa dan daerah terletak pada kekuatan ruhiyah dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan. Intinya adalah tauhid. Implementasinya akhlak. Umat kini akan menjadi baik dan berjaya, apabila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu dikembalikan. Bertindak atas dasar anutan yang kuat, yakni “memulai dari diri sendiri, mencontohkannya kepada masyarakat lain“, (Al Hadist).
  3. Jalinan Kerjasama yang kuat rapi – network, nidzam– antara lembaga perguruan secara akademik  dengan meningkatkan pengadaan pengguna fasilitas.
    1. Mendorong pemilikan jati diri berbangsa dan bernegara.
    2. Memperkokoh interaksi kesejagatan dengan melakukan penelitian bersama, penelaahan perubahan-perubahan di desa dan kota, antisipasi arus kesejagatan dengan  penguatan jati diri generasi.
    3. Pengoperasionalan hasil-hasil penelitian,
    4. Meningkatkan kerja sama berbagai instansi yang dapat menopang peningkatan kesejahteraan.[15]

Menggali ekoteknologi dengan kearifan yang ramah lingkungan. Menanam keyakinan actual, bahwa yang ada sekarang adalah milik generasi mendatang. Keyakinan ini menumbuhkan penyadaran bahwa beban kewajiban generasi  adalah memelihara dan menjaga untuk diwariskan kepada gererasi pengganti, secara berkesinambungan, lebih baik dan lebih sempurna.[16] Aktifitas ini akan memacu peningkatan daya kinerja di berbagai bidang garapan melalui,

  1. rancangan pembangunan pendidikan arus bawah,
  2. mempertajam alur pemikiran melalui pendidikan dengan pendekatan holistik (holistic approach) menurut cara yang tepat.

Allah mengingatkan, apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi (QS.7,al-A’raf:96). Artinya, mengajak Umat mempelajari dan mengamalkan iman dan taqwa (tuntutan syarak sesuai ajaran Islam). Selanjutnya, menggiatkan penyebaran dan penyiaran dakwah, untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

Di bawah Konsep Redha Allah

Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) pada dua sisi. Dimulai dengan, ishlah an-nafsi, yaitu perbaikan kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah, “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu” (Al Hadist), selanjutnya islah al-ghairi yaitu perbaikan kualitas lingkungan menyangkut masalah hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang dikenal sebagai sustainable development atau pengembangan berkesinambungan.

Gambar

Langkah awal yang harus ditempuh adalah menanamkan kesadaran tinggi tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Penggarapan secara sistematik dengan pendekatan proaktif, untuk mendorong terbangunnya proses  pengupayaan (the process of empowerment), umat membangun dan memelihara akhlak.

Melaksanakan tugas dakwah terus menerus dengan petunjuk yang lurus (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-46) dibuktikan dengan beribadah kepada Allah. Mengawal generasi Agam tetap beragama, dan tidak musyrik. Mengingatkan selalu untuk bersiap kembali kepada-Nya (QS.Al Qashash, 28 : 87). Setiap muslim hakikinya adalah umat dakwah pelanjut Risalah Rasul yakni Islam. Dari sini, berawal gerakan syarak mangato adat memakai, artinya hidup dan bergaul dengan meniru watak pendakwah pertama, Muhammad Rasulullah SAW. Meneladani pribadi Muhammad SAW untuk membentuk effectif leader di medan dakwah dalam menuju inti agama Islam (QS. Al Ahzab, 33 : 21). Dakwah selalu akan berkembang sesuai variasi zaman yang senantiasa berubah.

Tahapan berikutnya perencanaan terarah, untuk mewujudkan keseimbangan antara  minat dan keterampilan dengan strategi (siyasah) yang jelas. Aspek pelatihan menjadi faktor utama pengupayaan. Konsep-konsep visi, misi, memang sering terbentur oleh lemahnya metodologi dalam operasional (pencapaian). Maka dalam tahap pelaksanaan  mesti diupayakan secara sistematis (the level of actualization).

Menetapkan langkah ke depan pembinaan human capital dengan keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan. Pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualitas wajib mempunyai jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif. Langkah yang dapat dilakukan adalah mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan. Langkah drastik berikutnya mencetak ilmuan beriman taqwa seiring dengan pembinaan minat dan wawasan. Generasi muda ke depan mesti menyatukan akidah, budaya dan bahasa bangsa, untuk dapat mewujudkan masyarakat madani yang berteras keadilan sosial yang terang. Strategi pendidikan yang madani (maju, dan berperadaban) menjadi satu nikmat yang wajib dipelihara, agar selalu bertambah.

Perlu ada kepastian dari pemerintah daerah  satu political action yang mendorong pengamalan ajaran Agama (syarak) Islam, melalui jalur pendidikan formal dan non-formal secara nyata, akan sangat menentukan dalam membentuk generasi muda masa datang. Ajaran tauhid mengajarkan agar kita menguatkan hati, karena Allah selalu beserta orang yang beriman.

Dengan bermodal keyakinan tauhid ini, niscaya generasi terpelajar akan bangkit dengan pasti dan sikap yang positif.

  1. Menjadi sumber kekuatan dalam proses pembangunan
  2. Menggerakkan  integrasi aktif,
  3. Menjadi subjek dan penggerak pembangunan nagari dan daerahnya sendiri.[17]

Semoga Allah memberi kekuatan memelihara amanah bangsa ini dan senantiasa meredhai. Amin.

Catatan Kaki

[1]    Pepatah Arab meyebutkan     لا تنه عن خلق وتأتي مثله عار عليك اذا فعلت عظيم     artinya,  Jangan lakukan perbuatan yang anda tegah, karena perbuatan demikian aibnya amatlah parah.

[2]   Lihat QS.66:6 bandingkan dengan QS.5:105.            

[3]    Lihat QS.4:58, selanjutnya dasar equiti (keadilan) adalah bukti ketaqwaan (QS.5:8)

[4]    Lihat QS.3:145 dan 148, lihat juga QS.4:134, dan bandingkan QS.28:80.

[5]    Lihat QS.30:41

[6]    Melemahnya jati diri tersebab lupa kepada Allah atau hilangnya aqidah tauhid, lihat QS.9:67, lihat juga QS:59:19.

[7]    Lihat QS.9:122, supaya mendalami ilmu pengetahuan dan menyampaikan peringatan kepada umat supaya dapat menjaga diri (antisipatif).

[8]    QS.3:139 menyiratkan optimisme besar untuk penguasaan masa depan. Masa depan – al akhirah – ditentukan oleh aktifitas amaliyah (QS.6:135) bandingkan dengan QS.11:93 dan QS.11:121, bahwa kemuliaan (darjah) sesuai dengan sumbangan hasil usaha.

[9]    Lihat QS.9:105, amaliyah khairiyah akan menjadi bukti ditengah kehidupan manusia (dunia).  

[10]   Lihat QS.4:9, mengingatkan penanaman budaya taqwa dan perkataan (perbuatan) benar.

[11]   Generasi yang tumbuh dalam persatuan yang kokoh kuat dengan I’tisham kepada Allah dan menjauhi  setiap perpecahan (lihat QS.3:103, perbandingkan QS.4:145-146, sesuai QS.22:78).

[12]   Lihat QS.28:83.

[13]  Syakhshiyah didifinisikan sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psyikofisikal di dalam diri seorang yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus.  Sistem psyikofisikal merangkum segala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh, saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang (G.W Allport, dalam ”Pattern and Growth in Personality”, lihat juga, Mok Soon Sang, 1994:1).

[14]   Syakhshiyah mempunyai tiga ciri keunikan dengan arti kebolehan  atau kemampuan untuk berubah dan di ubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman dan organisasi. Maka syakhshiyah bukan  sekadar himpunan tingkahlaku, tetapi melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

[15]  Lihat QS.6:54 dan QS.16:97, bandingkan QS.25:70-71.

[16]  Lihat QS.19:40, dan QS.21:105, pewaris bumi adalah hamba Allah yang shaleh (baik), bandingkan dengan QS.7:128.

[17]  “wa man yattaqillaha yaj’allahuu makhrajan”(QS.65:2-3) Lihat pula QS.3:160, dan QS.47:7.

Iklan

Kewajiban Muslim terhadap sesama Muslim

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain ada enam.” Lalu ada yang bertanya, “Apa itu ya Rasulullah.” 

Maka beliau menjawab,

  1. “Apabila kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya,
  2.  apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya,
  3.  apabila dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat kepadanya,
  4.  apabila dia bersin lalu memuji Allah maka doakanlah dia  — dengan bacaan yarhamukallah —,
  5.  apabila dia sakit maka jenguklah dia, dan
  6.  apabila dia meninggal maka iringilah jenazahnya.”

(HR. Muslim).

Gambar 

Berkenaan dengan penyelenggaraan janazah, maka Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda ; “Barangsiapa mengiringi jenazah lalu ia (ikut) menshalatkannya, maka ia mendapatkan (pahala) satu qirath, dan jika ia menyaksikan penguburannya, maka ia mendapatkan (pahala) dua qirath.”   (Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (2/302), at Tirmidzi dalam Jami’-nya (13/226) secara ringkas, dan Al Hakim dalam Mustadrak-nya (3/510-511) Ia berkata “Sanadnya shahih”).

Pengertian ukuran Satu qirath itu lebih besar daripada Gunung Uhud.
Itulah keutamaannya, dan pelajaran yang dapat kita ambil adalah :
Kita semuanya akan mati.

Kematian tidak memilih siapa kita dan tak peduli berapa umur kita dan juga tidak membedakan pangkat dan kedudukan kita.

Mari kita tingkatkan ketaatan kita kepada Allah, agar di akhirat kelak kita tak menyesal.

 

Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?”

Mereka menjawab : “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.”  

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 6522)

 


Penjelasan dari Hadits di atas ini, bahwa bangkrut di akhirat tidaklah sama dengan bangkrut di dunia. Jika di dunia, bangkrut identik dengan harta, maka bangkrut di akhirat berkaitan dengan amalan kita, entah itu kebajikan atau keburukan.

Seseorang akan dinyatakan bangkrut di akhirat jika amal kebajikannya tidak hanya habis untuk ‘membayar’ kejahatan yang dia lakukan, namun dia harus mendapat ’sumbangan’ amal keburukan dari orang2 yang pernah dia aniaya/perlakukan tidak baik.

Hal yang bisa kita pelajari dari hadits di atas, hendaknya kita berhati-hati dalam bersikap, jangan sampai menyengsarakan/merugikan orang lain. Karena di akhirat kelak, kebajikan bisa berkurang dan yang lebih repot jika malah amal keburukan yang bertambah. dan tak terbayang berapa juta manusia yang kita dzolimi bila kita kurupsi uang rakyat. Naudzubillah.

Karena itu, mari kita hidup mulia dengan mentaati Allah dan juga menjalankan sunnah nabi-Nya. karena hanya dengan taat pada Allah dan mengikuti sunnah nabi-Nya maka hidup kita akan bahagia dan mulia.

Semoga Allah memberkati kita semua ….

Amin

 

Amalkanlah bimbingan Rasulullah Shallalahu’alaihi wa Sallam diantaranya dalamilah ilmu agama

1.      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda:

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan jadikan orang itu fakih terhadap dien (agama islam).” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Yufaqqihu (يُفَقِّهْهُ ), maknanya: menganugerahkan kecerdasan, pengetahuan, dan kefahaman terhadap urusan Islam (hukum-hukum syar’i).

 Faham di sini adalah faham yang membuahkan amal shalih agar kefahaman dan ilmunya tersebut tidak menjadi bumerang bagi dirinya. Karena siapa yang tidak mengamalkan ilmu yang telah dipahaminya, ia termasuk orang yang mendapat murka.

Syarat utama untuk jadi orang yang baik disisi Allah adalah faham agama, karena orang yang faham agama dan mengamalkannya adalah orang yang Allah kehendaki baik. .

Belajarlah Islam dengan sungguh-sungguh dan amalkan dengan istiqomah, semoga Allah merahmati kita semua.

2.      Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ;  

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya (kepada Allah seperti menjaga sholat dan amalan lainnya), laki-laki dan perempuan yang benar (menjauhi maksiat/dosa-dosa), laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab:35)

3.      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda:

“Janganlah kamu menjadi orang yg ikut-ikutan dengan mengatakan, ‘Kalau orang lain berbuat kebaikan, kami pun akan berbuat baik, dan kalau mereka berbuat zalim, kami pun akan berbuat zalim.’ Akan tetapi, teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, ‘Kalau orang lain berbuat kebaikan, kami berbuat kebaikan pula, dan kalau orang lain berbuat kejahatan, Maka kami tidak melakukannya.” (HR. At-Tirmidzi)

Mari jadi orang baik .
Jaga iman jaga shalat jaga akhlak

Abdullah bin al-Mu’taz rahimahullah berkata, “Ilmu seorang munafik itu terletak pada ucapannya, sedangkan ilmunya seorang mukmin terletak pada amalnya.”

Sufyan rahimahullah pernah ditanya, “Menuntut ilmu yang lebih kau sukai ataukah beramal?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya ilmu itu dimaksudkan untuk beramal, maka jangan kau tinggalkan menuntut ilmu dengan alasan beramal, dan jangan kau tinggalkan amal dengan alasan menuntut ilmu.” (lihat Tsamrat al-’Ilmi al-’Amal, hal. 44-45).

Selanjutnya, “Siapa yang tidak mau tahan lelahnya belajar, maka dia akan merasakan hinanya jadi orang bodoh sepanjang hidupnya.“(Diwan Imam Syafi’i).

Maka belajarlah ilmu islam dan beramallah, beramallah sambil menuntut ilmu islam. amalkanlah ilmu, tuntutlah ilmu.

4.      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda:

“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu…” (HR. Al-Baihaqi).

Tetaplah rendah hati, dan jauhi sikap sombong.

 Tujuh kalimat yang harus dibiasakan oleh seorang hamba Allah.

 بِــــــــــسْمِ الَّلهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـم
Bismillahirrohmanirrohiim..
Setiap hendak melakukan sesuatu.

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْـعَالَمِيْـن
Alhamdulillahirobbil’alamiin…
Setiap habis melakukan sesuatu.

 اَسْتَغْفِرُاللَهَ الْعَظِيْمِ
Astagfirullahal’adziim..
jika melakukan sesuatu yg buruk.

 اِنْشَاءَ اللَّه
Insyaa’allah ..
jika ingin melakukan sesuatu pada masa yang akan datang.

 لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَاِلاَّبِاللَّه
Laahawlawalaaquwwataillabiillah..
bila tidak bisa melakukan sesuatu yang agak berat/melihat hal yang buruk.

 اِنَّالِلَه وَاِنَّااِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
Innalillahiwaainnaailayhirooji’un ..
jika melihat/menghadapi musibah.

 لاَاِلَهَ اِلاَّاللَه مُحَمَّدَالرَّسُوْلُ اللَه
Laailahailaallah muhammadarrosuwlullah..
bacalah siang dan malam sebanyak-banyaknya.

 

Dokumen surat Pak Natsir kepada Buya Fachruddin Hs. Datuk Majo Indo pada 20 Januari 1968, yang mengingatkan agar berhatihati menghadapi gerakan pemurtadan oleh pihak Salibiyah.

Dokumen surat Pak Natsir kepada Buya Fachruddin Hs. Datuk Majo Indo pada 20 Januari 1968, yang mengingatkan agar berhatihati menghadapi gerakan pemurtadan oleh pihak Salibiyah.

 

Djakarta, 20 Djanuari 1968.

Jth.

Saudara Fachruddin H.S.Dt. Madjo Indo

 

Assalamu’alaikum w.w.

            Dalam perdjalanan saja berkeliling di Sumbar ada satu hal jang menarik perhatian saja, tetapi waktu itu tak ada kesempatan bagi saja  untuk memikirkannja lebih mendalam, apalagi untuk membitjarakannja dengan taman-teman kita secara bertenang.

            Oleh karena itu baiklah saja tuliskan, agar dapat dipikirkan bersama diantara teman-teman kita jang akrab, jang bertanggung jawab  (“bakorong-ketek”).

  1. Ada persoalan rumah-rumah rakjat, jang sedang ditempati oleh anggota tentara. Rakjat meminta rumah-rumah mereka kembali. Terutama di Agam.
  2. Fihak Pemerintah bukan tidak mau mengembalikan akan tetapi, kemana anggota tentara akan ditempatkan, oleh karena belum ada asrama. Bukan pula tidak mau mendirikan asrama, akan tetapi beaja pembangunan tidak ada.
  3. Akibatnja : fihak masjarakat merasa tidak puas oleh karena didesak oleh soal-soal sosial, seperti soal keluarga jang hendak pulang dari rantau, soal anak kemanakan jang hendak dikawinkan, dan hal-hal semacam itu jang menghendaki perumahan”.
  4. Di Bukittinggi ada agen dari missie asing (Baptis), jang mempunyai banjak uang. Bisa mendirikan sekolah, rumah sakit, geredja, asrama, apa sadja. Dan taktik-srategi jang mereka tempuh sekarang ini, dalam kampanje Kristianisasi mereka dimana-mana, tentu djuga di Sumbar ini, ialah menggunakan keunggulan mereka dibidang materie dan alat-alat modern itu, untuk mendapatkan satu basis operasi mereka ditengah-tengah ummat Islam.Apalagi di tempat jang “strategis”, seperti ditengah-tengah masjarakat Aceh, masjarakat Bugis, masjarakat Kalimantan, masjarakat Pasundan dan masjarakat Minang  “nan basandi sjara’- basandi adat”itu.

Dalam rangka ini mereka melakukan segala matjam daja upaja, setjara gigih. Tidak bosan-bosan, dan tidak malu-malu.

5.    Apabila mereka mengetahui bahwa ada suatu kesulitan sosial ekonomis seperti jang dikemukan tadi itu, maka mereka tidak akan ragu-ragu “mengulurkan tangan” untuk “memetjahkannja”. Asal dengan itu mereka mendapat basis jang permanen, untuk operasi mereka dalam djangka pandjang. (Bak Ulando minta tanah !). Untuk ini mau sadja apa jang dikehendaki. Mau rumah sakit? –Mereka bikinkan rumah sakit jang up-to-date. Mau asrama? – Mereka bikinkan. Mau kontrak atau perdjandjian jang bagaimana? – Mereka bersedia teken…

Dipulau Sumba rakjat memerlukan air, pemerintah belum sanggup mengadakan djaringan irigasi dan saluran air minum?- Mereka bangun djaringan irigasi dan saluran air minum itu.

Di Flores rakjat menghadjatkan benar hubungan antara pantai ke pantai, sedangkan pemerintah belum sanggup memenuhi keperluan rakjat itu? – Mereka adakan hubungan itu dengan kapal motor-motor ketjil.

Memang Flores, Sumba dan Timor (Kupang) merupakan satu mata rantai jang penting sekali dan satu rantai jang membelit dari Pilipina (Katholik).

Manado, Toraja, Ambon, dan Nusatenggara Timur. Dan disebelah Barat rentetan pulau-pulau di Lautan India sebelah Barat Sumatera Barat sampai Lampung.

Akan tetapi semua kegiatan mereka dalam menjempurnakan rantai ini dan menumbuhkan basis-basis di tengah-tengah kepulauan Sumatera, Djawa, Kalimantan mereka lakukan atas nama perikemanusiaan semata-mata dan membantu membangun “Indonesia jang modern”.

6.    Saja kuatir, kalau-kalau mereka sudah berpikir kearah itu, dalam rangka mentjari djalan lain, setelah rentjana jang semula sudah terbentur. Kalau mereka berfikir dan melangkah kearah itu maka mereka akan dengan sekaligus bisa memperoleh posisi jang lebih kuat dari jang telah sudah. Mereka akan dapat meng-adu golongan-golongan jang tidak setudju dengan :

      a.   Keluarga-keluarga jang ingin lekas rumahnja dikembalikan.

      b.   Fihak Tentara (Pemerintah) jang ingin lekas memetjahkan soal asrama.

      c.   Golongan-golongan dalam masjarakat jang ingin mendapat tempat berobat jang moden, lebih modern dan rapi, daripada rumah sakit pemerintah jang sudah ada di Bukittinggi sendiri. Mereka ini akan bertanja-tanja kenapa kita harus menolak satu amal dari Baptis itu, jang ingin membantu kita secara cuma-cuma? Bukankah itu fanatik namanja?

Akibat-akibatnja akan timbul lagi pergolakan antara pro dan kontra dalam masjarakat minang. Ini akan mengakibatkan lumpuh kembali semangat-pembangunan jang sudah ada sekarang ini, semangat keseluruhan.

7.    Keputusan Menteri Agama No. 54 tahun 1968 itu, mendasar sikap tidak-setudjunja tidak-setudjunja  terhadap pendirian rumah sakit Baptis itu, atas kekuatiran akan timbul pertentangan-pertentangan antara golongan-golongan agama di Sumbar, jang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan, apabila rumah sakit Baptis itu diteruskan mendidirikannja. Akan tetapi sebenarnja, sebelum itupun, pertengkaran antara pro dan kontra sudah akan bisa mengganggu apa jang disebut ketertiban dan keamanan itu, sekurang-kurangnja banjak jang bertubrukan, banjak perasaan jang akan tersinggung, banjak emosi jang akan berkobar. Sekali lagi.

Ini semua akan melumpuhkan semangat pembangunan Minang kabau setjara keseluruhan jang berkehendak kepada ketenteraman djiwa dan kebulatan hati.

Alangkah sajangnja ! Baru melangkah, ka-tataruang pulo !….

8.    Bagai mana tjaranja, mengelakkan musibah ini?

Saja pikir-pikir ini bisa, apabila kita menghadapi ketiga-tiga persoalan itu setjara integral, jaitu soal:

       a.  Rumah masjarakat jang sedang ditempati oleh anggota tentara,
       b.  Soal asrama untuk tentara,
       c.  Soal kekurangan rumah sakit jang bermutu lebih baik.

 

Jaitu dengan mendjadikan pembangunan asrama tentara, dan mendirikan rumah sakit Islam atau setidak-tidaknja peningkatan mutu rumah sakit Bukittinggi sebagai “projek bersama antara pemerintah dengan masjarakat”.

Sepintas lalu memang “aneh” kedengarannja. Tapi apabila jang aneh ini kita laksanakan akan besar sekali mamfaatnja.

Dalam arti politis kita dapat menundjukkan bahwa kita dapat mempererat hubungan antara pemerintah dengan rakjat atas dasar jang sehat dan menghilangkan kesan bahwa kita hanja bisa menolak sadja akan tetapi djuga sanggup menundjukkan djalan alternatif jang lebih baik.

Dari sudut sosial kita dapat mengatasi kesulitan daripada sebagian masjarakat kita jang memerlukan sangat rumah mereka kembali.

Dari sudut membentengi Agama dengan itu kita dapat lebih tegas dan radikal mengatakan kepada missie-missie asing itu :

            “Kami orang Islam tidak memerlukan tuan-tuan datang kesini”.

Haraplah hal ini kita tjoba-tjoba sama-sama pikirkan. Mungkin move jang “aneh” ini tidak akan begitu aneh, bila kita memperhatikan, bagaimana Dandim Padang umpamanja dapat membuka kunci hati dan kekuatan rakjat untuk meringankan beban pembuatan parit pantai laut, dengan bantuan batu dan pasir, dan bagaimana viaduct Saruoso dapat dibangun dengan ongkos jang  djauh lebih murah daripada kalkulasi secara modern, dan bagaimana Bupati Pasaman bisa menjelenggarakan kurang lebih 80 projek irigasi dsb, dsb…

Bisakah, sekarang umpamanja kita meminta kepada Penguasa (Militer dan Sipil) di Sumbar, untuk merentjanakan berapa biaja jang diperlukan untuk asrama tentara itu menurut kalkulasi jang normal. Jakni asrama jang mentjukupi sjarat (kalaupun tidak semewah jang mungkin akan ditawarkan oleh Baptis itu).

Berapa prosenkah kiranja jang dapat ditjarikan oleh Pak Gubernur Sumbar sebagai sumbangannja Pemerintah Tk. I untuk maksud tersebut.

Sesudah itu berapakah kiranja jang dapat dikumpulkan setjara suka rela dari masjarakat, berupa sumbangan bahan-bahan dan tenaga?

Kemudian restan kekurangannja, dipintakan dari Hankam (Pusat di Djakarta. Kata dari orang jang tangannja sudah berisi lebih tadjam.

Adapun panitia projek rumah sakit diteruskan djuga. Projek ini lebih “flexible”. Bagi kami di Djakarta akan lebih mudah membantu projek rumah sakit dari pada merintiskan djalan untuk asrama.

Apalagi dengan didjadikannja Bukittinggi sekarang ini sebagai salah satu pusat pemberantasan T.B.C, dengan alat-alat jang modern, dan tambahan tenaga-tenaga dokter, maka dalam soal perawatan orang sakit kita akan dapat bernafas agak lega.

Pendeknja, harapan kami, ialah tjobalah saudara-saudara kita di Sumbar mempertimbangkan dan mendjeladjahi persoalan ini dengan teliti dan bidjaksana.

Saja ingin sekali mendengar pertimbangan-pertimbangan Saudara tentang ini. Walaupun sekedar akan melepaskan was-was………..

 

W a s s a l a m,

dto

Mohammad Natsir

Kristenisasi dalam Realita

“ibarat duri dalam daging”.

Semenjak tahun 1953 Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Tengah telah mengatur penempatan para transmigrasi. Kedatangan warga transmigrasi dari luar Sumatera, umumnya dari Pulau Jawa dan Suriname, ditempatkan didaerah Kecamatan Pasaman dalam Kabupaten Pasaman. Sejak awal telah diterima oleh penduduk Pasaman sebagai saudara dalam sesuku. Berat akan sepikul ringan akan sejinjing. 

Penempatan mereka diatas tanah-tanah ulayat penduduk Kecamatan Pasaman, berdasarkan penyerahan hak tanah oleh Ninik Mamak negeri yang bersangkutan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman. “Inggok mancangkam, tabang basitumpu. Dima bumi di pijak di sinan langik di junjung”.

Artinya menerima, mengikuti dan mematuhi semua ketentuan adat secara kulturis yang berlaku di daerah Pasaman tersebut. Persyaratan-persyaratan tertentu (tertulis), diantaranya dicantumkan,

  1. Penyerahan tanah diperuntukkan sebagai penampungan bagi warga negara Indonesia, yang berasal dari daerah lain (transmigrasi).[1]
  2. Bahwa mereka yang datang (para-transmigrasi) itu tunduk kepada ketentuan adat-istiadat yang berlaku ditempat mereka ditempatkan, dengan  pengertian bahwa mereka yang datang (para-transmigrasi) itu dianggap sebagai kemenakan (dalam hubungan hukum adat yang berlaku, yang tentu saja adat Minangkabau yang beragama Islam).

      Semua surat-surat penyerahan tanah-tanah disebutkan :

      A.Untuk transmigrasi

      B.Pendatang-pendatang (transmigrasi) tersebut menjadi kemenakan (dalam hubungan adat-istiadat), dengan menuruti adat-istiadat setempat, (Untuk kasus Pasaman, Sitiung, Lunang di Sumatera Barat, tentu saja beradat Minangkabau yang bersendi syara’ – agama ISLAM ). [2]

Realitanya, gerakan kristenisasi tetap berjalan dengan perlindungan dan kekuatan pendukungnya dijajaran kekuasaan, dimanapun diseluruh penjuru tanah air.

Coraknya bermacam, hakekatnya sama: Riak pemurtadan menumpangi gelombang pembangunan.

 

  • 1966 – 1970 Di Bukittinggi ada agen dari missie asing Baptis, yang mempunyai banyak uang. Bisa mendirikan sekolah, rumah sakit, gereja, asrama, apa saja.

Dan taktik-strategi yang mereka tempuh sekarang ini, dalam kampanye Kristianisasi mereka dimana-mana, tentu juga di Sumbar ini, ialah menggunakan keunggulan mereka dibidang materie dan alat-alat modern itu, untuk mendapatkan satu basis operasi mereka ditengah-tengah ummat Islam.

Apalagi di tempat yang “strategis”, seperti ditengah-tengah masyarakat Aceh, masyarakat Bugis, masyarakat Kalimantan, masyarakat Pasundan dan masyarakat Minang “nan basandi syara’- basandi adat, dan basandi Kitabullah ” itu.

Dalam rangka ini mereka melakukan segala macam daja upaya, secara gigih.

Tidak bosan-bosan, dan tidak malu-malu.

 

  • Apabila mereka mengetahui bahwa ada suatu kesulitan sosial ekonomis seperti yang dikemukan tadi itu, maka mereka tidak akan ragu-ragu “mengulurkan tangan” untuk “memecahkannya”.

Asal dengan itu mereka mendapat basis yang permanen, untuk operasi mereka dalam jangka panjang. Bak Ulando minta tanah !.

Untuk ini mau saja apa yang dikehendaki. Mau rumah sakit? –Mereka bikinkan rumah sakit yang up-to-date. Mau asrama? – Mereka bikinkan. Mau kontrak atau perjanjian yang bagaimana? Mereka bersedia teken…

 

Di pulau Sumba rakyat memerlukan air, pemerintah belum sanggup mengadakan jaringan irigasi dan saluran air minum?- Mereka bangun jaringan irigasi dan saluran air minum itu.

 

Di Flores rakyat menghajatkan benar hubungan antara pantai ke pantai, sedangkan pemerintah belum sanggup memenuhi keperluan rakyat itu? Mereka adakan hubungan itu dengan kapal motor-motor kecil.

Memang Flores, Sumba dan Timor (Kupang) merupakan satu mata rantai yang penting sekali dan satu rantai yang membelit dari Pilipina (Katholik), Manado, Toraja, Ambon, dan Nusatenggara Timur.

 

  • Disebelah Barat rentetan pulau-pulau di Lautan India sebelah Barat Sumatera Barat sampai Lampung. Akan tetapi semua kegiatan mereka dalam menyempurnakan rantai ini dan menumbuhkan basis-basis ditengah-tengah kepulauan Sumatera, Jawa, Kalimantan mereka lakukan atas nama perikemanusiaan semata-mata dan membantu membangun “Indonesia yang modern”.[3]

 

Akibat-akibatnya akan timbul lagi pergolakan antara pro dan kontra dalam masyarakat Minang.[4]

Ini akan mengakibatkan lumpuh kembali semangat-pembangunan yang sudah ada sekarang ini, semangat keseluruhan. Sekali lagi. Ini semua akan melumpuhkan semangat pembangunan Minangkabau secara keseluruhan yang berkehendak kepada ketenteraman jiwa dan kebulatan hati. Alangkah sayangnya ! Baru melangkah, ka-tataruang pulo !….

 

Bagi kita ummat Islam, sebenarnya hal ini sudah berulang kali diperingatkan oleh Allah S.W.T, antara lain sebagaimana yang tercantum dalam Surat al-Baqarah 109, Artinya : “Sudah menjadi keinginan dari kebanyakan ahli kitab mengembalikan kamu kepada kekufuran sesudah kamu beriman.” (QS.2, Al-baqarah : 109).

 

Dan surat Al-Baqarah 120, Artinya: “Dan tidaklah akan senang kaum Yahudi dan Nashara kepadamu sebelum engkau menurut agama mereka” (Al-Baqarah 120).

 

Kewajiban kita ialah supaya masing-masing kita tanpa kecuali benar-benar memelihara diri dan keluarga kita daripada terjerumus dalam kekufuran. sebagaimana peringatan Ilahi dalam Surat At-Tahrim ayat 6 , Artinya: “Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan     keluargamu dari api neraka” (At-Tahrim 6).

 

Tiap-tiap rumah tangga Islam harus menjadi benteng dari agama dan keimanan, untuk kita dan keturunan selanjutnya.

 

  1. Kepada pihak missi dan zending yang berdatangan dari luar negeri ke Indonesia ini dengan kekayaan materi yang melimpah-limpah, dengan bekerjasama yang rapat dengan missi dan zending dalam negeri untuk melakukan expansi agamanya tanpa pilih bulu, rasanya tidak ada kata-kata yang dapat kita ucapkan lagi.

 

Pada “Musyawarah Antar Agama” tanggal 30 November 1967 DR. Mohammad Natsir, Ketua Dewan Dakwah beserta pemuka umat Islam telah menawarkan satu tata cara hidup antar agama (modus vivendi) yang dapat menjamin kesatuan bangsa dan tanah air dalam Negara yang mempunyai bermacam-macam agama (multi Religius) ini.

Intisarinya ialah supaya “agama yang satu jangan menjadikan agama   lain menjadi sasaran propagandanya.”

Akan tetapi modus-vivendi ini tegas-tegas ditolak, baik oleh pihak Protestan ataupun Khatolik.

Khulasah

  1. Renungkanlah kalimat seorang penginjil “Terdapat sikap permusuhan yang tajam antara Kristen dan Islam. Sebab ketika Islam tersebar pada abad pertengahan, agama ini telah membangun sebuah benteng pertahanan yang kokoh ditengah-tengah upaya penyebaran Kristen. Kemudian Islam tersebar keberbagai negara yang sebelumnya pernah bertekuk lutut di bawah kekuasaan Kristen” (orientalis Jerman dan pendeta Kristen Mibez).
  2. Kristenisasi pada hakekatnya bertujuan memantapkan pengaruh Kristen barat di negara Islam. Kristenisasi merupakan awal dan landasan kokoh bagi penjajahan.
  3. Penyebab langsung terhadap lumpuh dan lemahnya potensi umat Islam.
  4. Kristenisasi tersiar dinegara ketiga. Kristenisasi mendapat dukungan internasional yang melimpah.
  5. Kristenisasi mengerahkan segala daya dan kemampuannya secara intensif di dunia Islam.
  6. Kristenisasi saat ini terfokus di Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Pakistan dan Afrika Selatan.
  7. Setiap mujahid Islam mesti berpegang kuat dengan peringatan Islam sesuai Firman Allah, “walan tardha ‘anka al yahudu wa lan-nshara hatta tatabi’a millatahum”, Satu  peringatan keras supaya umat Islam selalu menjaga keutuhan, akidah Imaniyah tauhidiyah yang benar, ukhuwah Islamiyah risalah Rasulullah SAW setiap saat.
  8. Objektifitas keyakinan terhadap ajaran Islam, pasti mampu memberikan jalan keluar (solu­si) terhadap problematika sosial umat manusia. Ajaran Islam tertanamkan dalam hati manusia yang mampu menangkap tanda‑tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi di sekitarnya. Mereka yang mampu menangkap tanda tanda‑tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut,  adalah orang‑orang yang beriman.
  9. Apatisme politik, bersikap menjadi “pengamat diam” , tanpa ada keinginan dan usaha untuk ikut berperan aktif dalam setiap perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut adalah mereka yang memiliki selemah‑lemah iman (adh’aful iman). Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi yang selalu mengalami perubahan hanya bisa diatasi dan dihilangkan dengan sikap yang jelas, antaranya ;
  • mengerjakan segala sesuatu yang bisa dikerjakan,
  • jangan fikirkan sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan,
  • apa yang ada sudah cukup untuk memulai sesuatu, 
  • jangan berpangku tangan dan menghitung orang yang lalu.

Keempat kata‑kata kunci tersebut merupakan amanat dari ajaran agama Islam untuk tidak menunggu saja setiap perubahan, baik itu bidang sosial, politik dan ekonomi dalam hidup ini.

 

Setiap orang yang beriman semestinya mampu memanfaatkan segala perubahan yang berhu­bungan dengan kehidupan dunia luar dan disekitarnya. Sikap hidup menjemput bola, bukan menunggu bola merupakan sikap hidup yang sangat didorongkan untuk dilaksanakan sesuai dengan ajaran Islam. Sikap dinamik sangat diperlukan untuk mengantisipasi selemah‑lemah iman, dan sikap dinamik pula yang menjadi kata‑kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi.

Dinamika hidup sebagai buah ajaran Islam itu tampak dalam tiga cara hidup  yakni,

  • bantu dirimu sendiri (self help),
  • bantu orang lain (self less help),
  • saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help),

Ketiga konsep hidup ini mengandung ajaran untuk setiap orang supaya tidak selalu tergantung kepada orang lain.

 

  • Ketergantungan akan menempat­kan orang terbawa kemana‑mana oleh mereka yang menjadi tempat bergantung. Tujuan yang jelas mesti berada dalam kerangka ibadah dan pembentengan aqidah. Apalagi tatkala umat tengah berada dalam jihad menghadapi rongrongan gerakan kelompok Salibiyah yang kian hari terasa makin pesat.

“Jangan berhenti tangan mendayung, supaya arus tidak membawa hanyut” (Demikian inti pesan Allahyarham DR. Mohammad Natsir, yang menuntut setiap diri dari Islamic Youth dimanapun senantiasa berperan aktif dengan giat berjihad membentengi diri dan umat kelilingnya).

“Jangan di ganggu identitas kami !!!.” Begitu pesan DR. Mohammad Natsir yang kedua kalinya. Apakah kalimat ini masih berlaku kalau identitas kita sudah tiada ???

Allahu Akbar, wallahu a’lamu bis-shawaab.

Padang, 2 Juli 2000.

 

 

 Catatan Kaki :

[1] Diatas dasar perpegangan ini, Ninik Mamak dalam Nagari-nagari di Kecamatan Pasaman, secara berturut-turut telah menyerahkan tanah ulayat mereka dengan kerelaan membangun bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia melalui Pemerintah Daerah. Sejak tahun 1953 tercatat penyerahan tanah ulayat masyarakat, antara lain pada bulan Mei 1953 sebagian Ulayat TONGAR AIR GADANG, Ulayat KAPAR (PD. LAWAS), dan tanggal 9 Mei 1953 Ulayat KOTO BARU (MAHAKARYA). Tahun 1961 – 26 September 1961 dari Ulayat KINALI BUNUT Alamanda, Kecamatan PASAMAN. Tahun 1964 – 25 April 1964, sebagian Ulayat KINALI LEPAU TEMPURUNG, Kecamatan PASAMAN. Tahun 1965, AIR RUNDING, Kenegarian PARIT Kecamatan SUNGAI BERAMAS. Tahun 1957, KOTA RAJA, Kenegarian PARIT Kecamatan SUNGAI BERAMAS. Terdahulu dari ini, yaitu di tahun 1953 telah terjadi pula penyerahan tanah DESA BARU sebagai daerah kolonisasi (transmigrasi) dalam kenegarian BATAHAN Kecamatan Sungai Beremaas”.

[2] 1974, PERWAKILAN DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA SUMATERA BARAT menerbitkan dokumentasi yang menggambarkan sebagian kecil daripada kegiatan missi dan zending tersebut, khusus melalui saluran transmigrasi. Memperhatikan cara apa yang mereka gunakan dan jalan-jalan apa yang mereka tempuh dalam melakukan pemurtadan itu dikalangan ummat Islam yang dalam keadaan ekonomi lemah,  dan apa akibat-akibatnya terhadap pergaulan hidup dalam daerah yang bersangkutan, yakni di Kabupaten  Pasaman Sumatera Barat, yang sudah bertahun-tahun menjadi sasaran missi Khatolik, ke-Uskupan Padang. Disamping itu ada lagi kegiatan serupa di Kalimantan Selatan/Tengah, Sulawesi Tenggara (Kendari) dll yang tidak disebut-sebut disini.

[3] Sehubungan dengan kondisi Gerakan Baptis di Bukittinggi ini, Bapak DR. Mohammad Natsir berkata, “Saya kuatir, kalau-kalau mereka sudah berpikir kearah itu, dalam rangka mencari jalan lain, setelah rencana yang semula sudah terbentur. Kalau mereka berfikir dan melangkah kearah itu maka mereka akan dengan sekaligus bisa memperoleh posisi yang lebih kuat dari yang telah sudah. Mereka akan dapat meng-adu golongan-golongan yang tidak setuju dengan : Keluarga-keluarga yang ingin lekas rumahnya dikembalikan, Fihak Tentara (Pemerintah) yang ingin lekas memecahkan soal asrama. Golongan-golongan dalam masyarakat yang ingin mendapat tempat berobat yang moden, lebih modern dan rapi, daripada rumah sakit pemerintah yang sudah ada di Bukittinggi sendiri”. Mereka ini akan bertanya-tanya kenapa kita harus menolak satu amal dari Baptis itu, yang ingin membantu kita secara cuma-cuma? Bukankah itu fanatik namanya?

[4] Keputusan Menteri Agama No. 54 tahun 1968 itu, mendasari sikap tidak-setujunya  terhadap pendirian rumah sakit Baptis itu. Atas kekuatiran akan timbul pertentangan-pertentangan antara golongan-golongan agama di Sumbar, yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan, apabila rumah sakit Baptis itu diteruskan mendirikannya. Akan tetapi sebenarnya, sebelum itupun, pertengkaran antara pro dan kontra sudah akan bisa mengganggu apa yang disebut ketertiban dan keamanan itu, sekurang-kurangnya banyak yang bertubrukan, banyak perasaan yang akan tersinggung, banyak emosi yang akan berkobar.

Bahan Pendalaman / Maraji’

  1. Dairatul Ma’arif al Islamiyah, The Encyclopedia of Islam,
  2. Dairatul Ma’arif ad Dien wal akhlaq, Encyclopedia of Religion and Ethics,
  3. 3.   Focus on Christian – Muslim Religions,
  4. 4.   Al Fikr al Islamy al Hadist, DR. Mohammad al Bahiy, Kairo, 1975.
  5. At Tabsyir wal Isti’mar, Mustasyar, DR.Mohammed “Izzat Ismail at Thahthawiy, Kairo.
  6. Al Gharah ‘Ala al “Alam al Islamiy, Translator DR. Muhibuddin al Khatib, al Mathba’ah As Salafiyah, 1385 H.
  7. At Tabsyir wal Isti’mar, DR. Musthafa al Khalidy dan DR. Umar Faruch, Kairo.
  8. Ma’awil al Hadami wat Tadmir fii an Nashraniyah wat Tabsyir, DR. Ibrahim Sulaiman al Jibhan, Jil.IV, Riyadh, 1981.
  9. Adhwak ‘Ala al Istisyraq, DR. Mohammed Abd. Fattah ‘Ulyan, Jld.I, Darul Buhuts, 14/2/1979.
  10. Taushiyah DR. Mohammad Natsir, H. Mas’oed Abidin, Dewan Dakwah Jakarta, 2000,  dalam penerbitan.

 11. Dokumentasi Transmigrasi dan Kristenisasi di Pasaman Barat, H.Mas’oed Abidin, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Perwakilan Sumbar, 1974.

 

Minangkabau (Sumatera Barat) dalam incaran Salibiyah (pemurtadan)

1. BEBERAPA DATA POKOK (tahun 2005) TENTANG
GERAKAN KRISTENISASI DI MINANGKABAU.

2. MENYAYAT HATI DAN MENCIDERAI HARGA DIRI
ORANG SUKU BANGSA MINANGKABAU.
____________________________________________

1. Sudah ada 30-an orang lebih Pendeta Kristen orang ASLI MINANGKABAU. Diantaranya, kita sebut empat orang saja, sebagai berikut:

i. Pdt. AKMAL SANI, asal Kotobaru Pangkalan, Payakumbuh.
Dia tokoh dibalik INJIL berbahasa Minang. Pendiri dan Ketua PKSB, yaitu: Persekutuan Kristen Sumatera Barat.

ii. Pdt. YANUARDI KOTO, asal Lubukbasung, AGAM.
Ketua YAYASAN SUMATERA BARAT berkantor di Jakarta, sebagai lembaga pencari dana dari Luar Negeri dan pengartur MISI/ manajemen pemurtadan. Tokoh yang berada di balik PERISTIWA WAWAH pada tahun 2001. Wawah putri Minang usia 18 tahun, Siswi MAN 2 Padang, diculik, dibius, diperkosa lalu dibaptis.

iii. Pdt. SYOFYAN, asal LINTAU, Batusangkar, Tanah Datar. Pimpinan Sekolah Tinggi Teologia (STT) milik *DWM* Amerika, berada di desa terpencil di bilangan Majalengka, Jawa Barat. Merupakan pusat pendidkan dan pembinaan Pendeta untuk Minangkabau abad ke 21. Paling tidak (DATA 2005) sudah 623 orang anak Minang yang sudah dikristenkan sejak tahun 2000. Mereka disebar di Pulau Jawa, diasramakan, disekolahkan, dikuliahkan, dimodali berdagang, dihidupi, dst.

iv. Pdt. MARDJOHAN RASYID, asal Sawahlunto. Pimpinan PKSB, yaitu: Persekutuan Kristen Sumatera Barat.
___________________________________

2. Pemurtadan atau kristenisasi di Sumatera Barat itu menurut Prof Dr M Din Syamsuddin, Sekjen DPP MUI Pusat, yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah, — bahwa Sumatera Barat menduduki tempat PERTAMA sebagai PENYUMBANG terbanyak para MURTADIN di Indonesia; dan sesudahnya baru: Jawa Barat, Banten, dan Lampung. Pernyataan itu disebut Pak Din Syamsuddin tatkala acara HALAL BI HALAL di Gedung Bagindo Aziz Chan, Padang, pada hari Sabtu tanggal 18 Desember 2004/ 1424 H.

3. Dari 500 orang Minang yang murtad itu (data 2005), termasuk di Jabodetabek, satunya bernama ANITA, mahasiswi IPB Bogor, asal Batusangkar. Terkejutnya kita, bahwa adalah Anita yang lahir dan besar serta tinggal dengan keluarganya di Jakarta itu tak lain CUCU KANDUNG seorang ulama NASIONAL, dan Wakil Ketua PP Muhammadiyah tahun 1960-1985.

4. KASUS WAWAH tahun 2001.
Kita tak akan lupa dengan KASUS WAWAH. Adalah Wawah, putri belia cantik 18 tahun, Siswi MAN 2 Padang itu diculik, dibius, DIPERKOSA, dan dbaptis !! Wawah dikurung di SMA KALAM KUDUS Padang. Lalu dibawa ke Salatiga, Jawa Tengah; dan kemudian ke Malang, Jawa Timur. Dapat dibaca koran: PADANG EKSPRES, 3 April 2001.

5. Kita tak akan lupa, ada 123 orang anak miskin dari pedalaman Minangkabau, dengan iming2 hidup yang sejahtera, disekolahkan, dst., lalu dibawa dengan kapal laut ke Pulau Jawa. Artinya dari data tahun 2005 (lha, 7 tahun yl), sudah ada 623 orang CALON2 Pendeta dan Pembantu Pendeta untuk Minangkabau pada abad ke 21 ini.

6. KASUS PERKOSAAN OLEH DOKTER TerHADAP PASIEN putri belia Minang di RS Yos Sudarso, Padang. Dokter akan bertanggung-jawab kalok si pasien mau masuk kristen. Lha si pasien mauuu !!!

7. Salah satu lembaga ZENDING/ Misionaris ASING yang bekerja untuk proyek kristenisasi di Indonesia bernama *DOULOS WORLD MISSION* (= DWM) yang berpusat di Amerika Serikat.

8. DWM merancang gerakannya yang mereka namakan sebagai PROYEK JERICHO 2000 (untuk Indonesia). Untuk Sumatera mereka menyebut PROYEK ANDALAS.

9. Ada ratusan kasus kristenisasi di Sumatera Barat. Kasus2 itu SANGAT MENYAYAT HATI dan MENCIDERAI HARGA DIRI ORANG SUKU BANGSA MINANGKABAU..!!
__________________________________________________________

Telah banyak buku2 yang membicarakan tentang gerakan kristenisasi atau pemurtadan di Minangkabau atau Sumatera Barat. Satunya adalah buku berikut:

RANAH MINANG DI TENGAH CENGKERAMAN KRISTENISASI

Pangarang: Bakhtiar – Nurman Agus — Murisal.
Penerbit: PT Bumi Aksara bekerjasama dengan
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat.
Kata Pengantar: Dr Mochtar Naim dan DPW MUI Sumbar.
Tahun terbit: Cetakan pertama, — 2005.
__

Untuk mendapatkan/ membeli buku, dapat dihubungi:
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat,
Jalan Bundokanduang No.1. Padang.

C.P.:
1. Bapak HRB Khatib Pahlawan Kayo — Hp. 0812 6764 966
2. Bapak HA Adrian Muis — Hp. 0812 6718 418
3. Bapak HA Syahruji Tanjung — Hp. 0812 8035 822
______________________________________________

## GERAKAN ATEIS MINANG ITU KRISTEN !! ##.
________________________________________________
1. GERAKAN ATEIS MINANG corong nya THE JUSFIQ HADJAR GANG, yang diketuai oleh JusfiQ Hadjar Sutan Maradjo LelO yang mukim di Leiden Negeri Belanda, — adalah kaki tangan asing dalam upaya PERMURTADAN atau KRISTENISASI masyarakat Suku Bangsa Minangkabau, baik yang tinggal di kampuang halaman RANAH Minangabau atau Provinsi Sumatera Barat (5 Juta orang), maupun yang mukim di PERANTAUAN yang mereka menyebar di pelosOk Nusantara, pula Mancanegara (10 Juta orang). Jadi, Orang Suku Bangsa Minangkabau itu SAAT INI berjumlah 15 JUTA ORANG.

2. ATEIS hanya sebagai kedok. ASLI -nya KRISTEN..!!

3. JusfiQ Hadjar gelar SUTAN MARADJO LELO coba melakukan dua hal secara SIMULTAN/ serentak:

PERTAMA:
Gerakan atau upaya PENDANGKALAN AQIDA ISLAMIYYA (keimanan/ kepercayaan Islam) ummat ISLAM Minangkabau, terutama kaum Belia Generasi Muda Minangkabau, dan serentak sebagai LANGKAH *PEMBUKA JALAN* bagi gerakan Kristenisasi asing di IndOnesia, khususnya di Provinsi Sumatera Barat. Salah satu funding/ penyandang dana adalah lembaga Zending/ Missionaris *DOULOS WORLD MISSION* (DWM) yang berpusat di Amerika Serikat. Pula lembaga yang serupa di Eropa sana.

KEDUA:
Page Ateis Minang dan gerakan2 yang mengikuti, a.l. KINI hadir Page/ Group JARINGAN ATEIS MINANG (JAM), — adalah merupakan “tampek mancari pitih” (tempat mencari uang), atau lembaga yang dijadikan alat pengumpul dana dari ‘funding’2/ penyandang2 dana, tak saja untuk memenuhi biaya gerakan, pula biaya hidup para THE JUSFIQ HADJAR GANG itu.

4. Jadi semakin mengerti lah KITA bahwa THE JUSFIQ HADJAR GANG tak akan bakal berani menghina agama KRISTEN, baik Kristen Katolik Roma, maupun Kristen Protestan. Lha wong TITIK SASAR -nya adalah ISLAM dan MINANGKABAU atau Provinsi Sumatera Barat yang penduduknya memeluk AGAMA ISLAM..!!

___________________________________________________

1. ALEX AAN AKAN BEBAS !!

2. SELAMAT DATANG *GERAKAN ATEIS MINANG* DI INDONESIA
PADA DEKADE KEDUA (tahun 2012) ABAD KE 21 INI !!

3. => (SEPULUH BUTIR PERNYATAAN KITA MUSLIM MINANG)
___________________________________________________

Hadirnya JARINGAN ATEIS MINANG (JAM) — setelah page Ateis Minang ini — yang anggotanya langsung banyak itu, dan lalu di PROMOSIKAN pada saat2 PUNCAK perlawanan kita Muslim Minangkabau kepada mereka, menimbulkan banyak TANYA.TERNYATA:

@PERTAMA:
GERAKAN ATEIS MINANG itu *sangat* serius dengan gerakan mereka.

@KEDUA:
Sebagai UJIAN:

1. UJIAN KEPADA Pengadilan Negeri Kabupaten Dharmasraya di MuarO Sijunjung itu.

2. Ujian kepada AJUN KOMISARIS BESAR POLISI (AKBP) CHAIRUL AZIZ, sebagai Kepala Kepolisian RI Resor (KAPOLRES) Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat.

3. Ujian kepada JAKSA PENUNTUT UMUM (JPU) — aku ‘sengaja’ kagak akan sebut nama beliau2 — serta Kejaksaan Negeri Dharmasraya, Sumatera Barat.

4. Ujian kepada Pimpinan MUI, Majelis Ulama Indonesia, Provinsi Sumatera Barat.

5. Ujian kepada Pimpinan LKAAM, Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau, Sumatera Barat.

6. Ujian kepada Pimpinan dan Anggota DPRD Tingkat I dan II Se Sumatera Barat.

7. Ujian kepada Masyarakat Madani, atau Masyarakat Sipil — CIVIL SOCIETY — seperti DDII, Muhammadiyah, ICMI, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Sumatera Barat dan Lembaga2 Advocat yang ada, PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA (PWI) Sumatera Barat dengan jajarannya, MEDIA MASSA (cetak dan elektronik), di Sumatera Barat.

8. Ujian kepada Oom-ku PROF DR HAJI IRWAN PRAYITNO gelar DATUAK RAJO BANDARO BASA sebagai GUBERNUR PROVINSI SUMATERA BARAT.

9. Ujian kepada Bapak HAJI IRMAN GUSMAN, MBA,, — yang beliau SENATOR asal Sumatera Barat yang sekaligus sebagai KETUA SENAT RI atau Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.

@KETIGA:
Bahwa masalah ini (menjadi) masalah internasional iiyaaa..!!
Kita semua sepakat !!

@KEEMPAT:
Kalau pengadilan ini berujung kepada PEMBEBASAN ALEX AAN, maka tamatlah sudah PERJUANGAN dan IBADAH SOSIAL yang kita lakukan dalam setahun terakhir — UNTUK MEMBERIKAN PERLAWANAN — di page ATEIS MINANG ini.

@KELIMA:
ALEX AAN BEBAS ??
Maka kita serentak berucap::
# SELAMAT DATANG *GERAKAN ATEIS MINANG* di INDONESIA !!

@KEENAM:
Sebagai putri BELIA MINANG, aku hanya PASRAH & MENANGIS !!
TAPI aku yakin dengan Allah yang berfirman: Tatkala kita MENOLONG agamaNYA, maka Allah SWT akan menolong KITA.

@KETUJUH:
Jadi ingat apa yang menjadi *TESIS* LEOPOLD WEISS, seorang ORIENTALIS Eropa — yang terkenal itu — yang memeluk agama ISLAM dengan RIANG dan memakai nama baru MOHAMMAD ASSAD itu, halmana pernah menyebut dalam bukunya ROAD TO MECCA (1979).

@KEDELAPAN:
Kata Leopod Weiss alias MOHAMMAD ASSAD:
i. Bahwa kalok tak hati-hati, kalok umat Islam tak berpegang kepada konsep-konsep/ ajaran-ajaran Tuhan dalam al-Qur’an al-Karim untuk menata DUNIA ini, maka ummat Islam akan HANCUR.ii. Islam memang tak akan hilang dari MUKA BUMI ini. Tapi Agama Islam bakal hilang dan lenyap dari wilayah dan negara Anda.

@KESEMBILAN:
Seturut dengan LEOPOLD WEISS alias MOHAMMAD ASSAD itu, aku yakin, ISLAM TAK AKAN PERNAH HILANG DARI MUKA BUMI.
# TAPI (pada waktunya, 30 atau 75 tahun yang akan datang) AGAMA ISLAM AKAN LENYAP DAN HILANG DARI WILAYAH MINANGKABAU.

@KESEPULUH:
Minangkabau yang INDAH,
Minangkabau yang PERMAI,
Minangkabau yang ELOK,
Minangkabau yang BERBUDAYA TINGGI,
Minangkabau yang BERAGAMA ISLAM,
Minangkabau yang merupakan TANAH LELUHUR (motherland) -ku,,
# Memang SANGAT MANIS untuk DIHANCURKAN !!

______________________________________.
INYIK JUSFiQ HADJAR SUTAN MARADJO LELO

DAN *THE JUSFIQ HADJAR GANG*
______________________________________
Sekedar tambahan tentang Inyik kita JusfiQ Hadjar Sutan Maradjo LelO.

1. JUSFIQ HADJAR SUTAN MARADJO LELO, kelahiran tahun 1940 (usia 72 tahun), asal Cingkariang, Sungaipua, Bukittinggi. Tahun 1963 dalam usia 33 tahun beroleh besasiswa dari Presiden Sukarno dan DN Aidit (Waperdam RI), dan Ketua CC PKI. Bersamaan dengan mahasiswa lain yang dikirim ke Eropa Barat dan Eropa Timur, juga Sovyet Rusia. Pula RRT (Republik Rakyat Tiongkok).

2. Inyik JusfiQ kuliah disebuah Universitas di Paris Prancis, Tapi DO (drop oput). Konon tak beroleh gelar Doktor (PhD). Akhirnya menjadi pengangguran dan frustrasi atau kecewa. Paris yang kota megapolitan seperti kita tahu memerlukan biaya hidup yang tinggi, bukankah disana serba mahal?

3. Konon untuk biaya hidup di Paris itu, Sang Inyik kita JusfiQ Hadjar itu aktiv di NGO’s/ LSM2 KIRI. Melanglangbua ke seantero Eropa untuk melakukan kegiatannya sebagai aktivis kiri itu.

4. Terakhir beliau mukim di Leiden dengan isteri (?) nya MARLENE VAN DORN, pegawai LEPAS Universiteit LEIDEN, Negeri Belanda.

5. Lha sebagai AKTIVIS KIRI, dan kaitannya dengan ‘booming’ nya ‘internet’ pada tahun 2011, beliau sangat aktiv di Diunia Maya. Sebagaimana kita tahu, beliau aktiv dan membuka serentak memimpin page/ group PROLETAR dengan teman2nya yang seide yang asal Sumatera Barat/ Minang.

6. Pada tanggal 1 JUNI 2001 lahirlah GERAKAN ATEIS MINANG yang beliau pimpin. Corongnya page ATEIS MINANG, page/ group ATEIS MINANGKABAU, dan (sekarang, baru lahir) page/ group JARINGAN ATEIS MINANG (JAM), Yang anehnya anggota JAM itu langsung menjadi banyak.

7. Organisasinya sering disebut sebagai *THE JUSFIQ HADJAR GANG*. Kaki tangannya di Indonesia dan Sumatera Barat — sekedar menyebut beberapa nama — adalah ‘orang2’ yang menamakan dirinya:

i. IMAM BONJOL alias ZAL BATAM alias ‘Ateis Minang’.

ii. DHA THUTU, pendiri/ admin page JARINGAN ATEIS MINANG.

iii. ALEXANDER AAN, PNS Bappeda Dharmasraya yang sekarang sedang disidang di Pengadilan Negeri MuarO, Sijunjung.

iv. TOMMY CHANIAGO, alias Deni Ajah, alias ULAMA MINANG.

v. Dan banyak lagi.
______

Moga tambahan pOst ini memberikan CLARITY atau kejelasan atas pembuatan/ pemuatan pOst2 aku di page kita ini.

Mohon MAAF,, dan moga bermanfaat..
__________________________
SALAM MINANGKABAU..!!
___________________________
Hillary Lenggo-Geni
~ Aussie.