Kristenisasi dalam Realita

“ibarat duri dalam daging”.

Semenjak tahun 1953 Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Tengah telah mengatur penempatan para transmigrasi. Kedatangan warga transmigrasi dari luar Sumatera, umumnya dari Pulau Jawa dan Suriname, ditempatkan didaerah Kecamatan Pasaman dalam Kabupaten Pasaman. Sejak awal telah diterima oleh penduduk Pasaman sebagai saudara dalam sesuku. Berat akan sepikul ringan akan sejinjing. 

Penempatan mereka diatas tanah-tanah ulayat penduduk Kecamatan Pasaman, berdasarkan penyerahan hak tanah oleh Ninik Mamak negeri yang bersangkutan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman. “Inggok mancangkam, tabang basitumpu. Dima bumi di pijak di sinan langik di junjung”.

Artinya menerima, mengikuti dan mematuhi semua ketentuan adat secara kulturis yang berlaku di daerah Pasaman tersebut. Persyaratan-persyaratan tertentu (tertulis), diantaranya dicantumkan,

  1. Penyerahan tanah diperuntukkan sebagai penampungan bagi warga negara Indonesia, yang berasal dari daerah lain (transmigrasi).[1]
  2. Bahwa mereka yang datang (para-transmigrasi) itu tunduk kepada ketentuan adat-istiadat yang berlaku ditempat mereka ditempatkan, dengan  pengertian bahwa mereka yang datang (para-transmigrasi) itu dianggap sebagai kemenakan (dalam hubungan hukum adat yang berlaku, yang tentu saja adat Minangkabau yang beragama Islam).

      Semua surat-surat penyerahan tanah-tanah disebutkan :

      A.Untuk transmigrasi

      B.Pendatang-pendatang (transmigrasi) tersebut menjadi kemenakan (dalam hubungan adat-istiadat), dengan menuruti adat-istiadat setempat, (Untuk kasus Pasaman, Sitiung, Lunang di Sumatera Barat, tentu saja beradat Minangkabau yang bersendi syara’ – agama ISLAM ). [2]

Realitanya, gerakan kristenisasi tetap berjalan dengan perlindungan dan kekuatan pendukungnya dijajaran kekuasaan, dimanapun diseluruh penjuru tanah air.

Coraknya bermacam, hakekatnya sama: Riak pemurtadan menumpangi gelombang pembangunan.

 

  • 1966 – 1970 Di Bukittinggi ada agen dari missie asing Baptis, yang mempunyai banyak uang. Bisa mendirikan sekolah, rumah sakit, gereja, asrama, apa saja.

Dan taktik-strategi yang mereka tempuh sekarang ini, dalam kampanye Kristianisasi mereka dimana-mana, tentu juga di Sumbar ini, ialah menggunakan keunggulan mereka dibidang materie dan alat-alat modern itu, untuk mendapatkan satu basis operasi mereka ditengah-tengah ummat Islam.

Apalagi di tempat yang “strategis”, seperti ditengah-tengah masyarakat Aceh, masyarakat Bugis, masyarakat Kalimantan, masyarakat Pasundan dan masyarakat Minang “nan basandi syara’- basandi adat, dan basandi Kitabullah ” itu.

Dalam rangka ini mereka melakukan segala macam daja upaya, secara gigih.

Tidak bosan-bosan, dan tidak malu-malu.

 

  • Apabila mereka mengetahui bahwa ada suatu kesulitan sosial ekonomis seperti yang dikemukan tadi itu, maka mereka tidak akan ragu-ragu “mengulurkan tangan” untuk “memecahkannya”.

Asal dengan itu mereka mendapat basis yang permanen, untuk operasi mereka dalam jangka panjang. Bak Ulando minta tanah !.

Untuk ini mau saja apa yang dikehendaki. Mau rumah sakit? –Mereka bikinkan rumah sakit yang up-to-date. Mau asrama? – Mereka bikinkan. Mau kontrak atau perjanjian yang bagaimana? Mereka bersedia teken…

 

Di pulau Sumba rakyat memerlukan air, pemerintah belum sanggup mengadakan jaringan irigasi dan saluran air minum?- Mereka bangun jaringan irigasi dan saluran air minum itu.

 

Di Flores rakyat menghajatkan benar hubungan antara pantai ke pantai, sedangkan pemerintah belum sanggup memenuhi keperluan rakyat itu? Mereka adakan hubungan itu dengan kapal motor-motor kecil.

Memang Flores, Sumba dan Timor (Kupang) merupakan satu mata rantai yang penting sekali dan satu rantai yang membelit dari Pilipina (Katholik), Manado, Toraja, Ambon, dan Nusatenggara Timur.

 

  • Disebelah Barat rentetan pulau-pulau di Lautan India sebelah Barat Sumatera Barat sampai Lampung. Akan tetapi semua kegiatan mereka dalam menyempurnakan rantai ini dan menumbuhkan basis-basis ditengah-tengah kepulauan Sumatera, Jawa, Kalimantan mereka lakukan atas nama perikemanusiaan semata-mata dan membantu membangun “Indonesia yang modern”.[3]

 

Akibat-akibatnya akan timbul lagi pergolakan antara pro dan kontra dalam masyarakat Minang.[4]

Ini akan mengakibatkan lumpuh kembali semangat-pembangunan yang sudah ada sekarang ini, semangat keseluruhan. Sekali lagi. Ini semua akan melumpuhkan semangat pembangunan Minangkabau secara keseluruhan yang berkehendak kepada ketenteraman jiwa dan kebulatan hati. Alangkah sayangnya ! Baru melangkah, ka-tataruang pulo !….

 

Bagi kita ummat Islam, sebenarnya hal ini sudah berulang kali diperingatkan oleh Allah S.W.T, antara lain sebagaimana yang tercantum dalam Surat al-Baqarah 109, Artinya : “Sudah menjadi keinginan dari kebanyakan ahli kitab mengembalikan kamu kepada kekufuran sesudah kamu beriman.” (QS.2, Al-baqarah : 109).

 

Dan surat Al-Baqarah 120, Artinya: “Dan tidaklah akan senang kaum Yahudi dan Nashara kepadamu sebelum engkau menurut agama mereka” (Al-Baqarah 120).

 

Kewajiban kita ialah supaya masing-masing kita tanpa kecuali benar-benar memelihara diri dan keluarga kita daripada terjerumus dalam kekufuran. sebagaimana peringatan Ilahi dalam Surat At-Tahrim ayat 6 , Artinya: “Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan     keluargamu dari api neraka” (At-Tahrim 6).

 

Tiap-tiap rumah tangga Islam harus menjadi benteng dari agama dan keimanan, untuk kita dan keturunan selanjutnya.

 

  1. Kepada pihak missi dan zending yang berdatangan dari luar negeri ke Indonesia ini dengan kekayaan materi yang melimpah-limpah, dengan bekerjasama yang rapat dengan missi dan zending dalam negeri untuk melakukan expansi agamanya tanpa pilih bulu, rasanya tidak ada kata-kata yang dapat kita ucapkan lagi.

 

Pada “Musyawarah Antar Agama” tanggal 30 November 1967 DR. Mohammad Natsir, Ketua Dewan Dakwah beserta pemuka umat Islam telah menawarkan satu tata cara hidup antar agama (modus vivendi) yang dapat menjamin kesatuan bangsa dan tanah air dalam Negara yang mempunyai bermacam-macam agama (multi Religius) ini.

Intisarinya ialah supaya “agama yang satu jangan menjadikan agama   lain menjadi sasaran propagandanya.”

Akan tetapi modus-vivendi ini tegas-tegas ditolak, baik oleh pihak Protestan ataupun Khatolik.

Khulasah

  1. Renungkanlah kalimat seorang penginjil “Terdapat sikap permusuhan yang tajam antara Kristen dan Islam. Sebab ketika Islam tersebar pada abad pertengahan, agama ini telah membangun sebuah benteng pertahanan yang kokoh ditengah-tengah upaya penyebaran Kristen. Kemudian Islam tersebar keberbagai negara yang sebelumnya pernah bertekuk lutut di bawah kekuasaan Kristen” (orientalis Jerman dan pendeta Kristen Mibez).
  2. Kristenisasi pada hakekatnya bertujuan memantapkan pengaruh Kristen barat di negara Islam. Kristenisasi merupakan awal dan landasan kokoh bagi penjajahan.
  3. Penyebab langsung terhadap lumpuh dan lemahnya potensi umat Islam.
  4. Kristenisasi tersiar dinegara ketiga. Kristenisasi mendapat dukungan internasional yang melimpah.
  5. Kristenisasi mengerahkan segala daya dan kemampuannya secara intensif di dunia Islam.
  6. Kristenisasi saat ini terfokus di Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Pakistan dan Afrika Selatan.
  7. Setiap mujahid Islam mesti berpegang kuat dengan peringatan Islam sesuai Firman Allah, “walan tardha ‘anka al yahudu wa lan-nshara hatta tatabi’a millatahum”, Satu  peringatan keras supaya umat Islam selalu menjaga keutuhan, akidah Imaniyah tauhidiyah yang benar, ukhuwah Islamiyah risalah Rasulullah SAW setiap saat.
  8. Objektifitas keyakinan terhadap ajaran Islam, pasti mampu memberikan jalan keluar (solu­si) terhadap problematika sosial umat manusia. Ajaran Islam tertanamkan dalam hati manusia yang mampu menangkap tanda‑tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi di sekitarnya. Mereka yang mampu menangkap tanda tanda‑tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut,  adalah orang‑orang yang beriman.
  9. Apatisme politik, bersikap menjadi “pengamat diam” , tanpa ada keinginan dan usaha untuk ikut berperan aktif dalam setiap perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut adalah mereka yang memiliki selemah‑lemah iman (adh’aful iman). Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi yang selalu mengalami perubahan hanya bisa diatasi dan dihilangkan dengan sikap yang jelas, antaranya ;
  • mengerjakan segala sesuatu yang bisa dikerjakan,
  • jangan fikirkan sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan,
  • apa yang ada sudah cukup untuk memulai sesuatu, 
  • jangan berpangku tangan dan menghitung orang yang lalu.

Keempat kata‑kata kunci tersebut merupakan amanat dari ajaran agama Islam untuk tidak menunggu saja setiap perubahan, baik itu bidang sosial, politik dan ekonomi dalam hidup ini.

 

Setiap orang yang beriman semestinya mampu memanfaatkan segala perubahan yang berhu­bungan dengan kehidupan dunia luar dan disekitarnya. Sikap hidup menjemput bola, bukan menunggu bola merupakan sikap hidup yang sangat didorongkan untuk dilaksanakan sesuai dengan ajaran Islam. Sikap dinamik sangat diperlukan untuk mengantisipasi selemah‑lemah iman, dan sikap dinamik pula yang menjadi kata‑kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi.

Dinamika hidup sebagai buah ajaran Islam itu tampak dalam tiga cara hidup  yakni,

  • bantu dirimu sendiri (self help),
  • bantu orang lain (self less help),
  • saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help),

Ketiga konsep hidup ini mengandung ajaran untuk setiap orang supaya tidak selalu tergantung kepada orang lain.

 

  • Ketergantungan akan menempat­kan orang terbawa kemana‑mana oleh mereka yang menjadi tempat bergantung. Tujuan yang jelas mesti berada dalam kerangka ibadah dan pembentengan aqidah. Apalagi tatkala umat tengah berada dalam jihad menghadapi rongrongan gerakan kelompok Salibiyah yang kian hari terasa makin pesat.

“Jangan berhenti tangan mendayung, supaya arus tidak membawa hanyut” (Demikian inti pesan Allahyarham DR. Mohammad Natsir, yang menuntut setiap diri dari Islamic Youth dimanapun senantiasa berperan aktif dengan giat berjihad membentengi diri dan umat kelilingnya).

“Jangan di ganggu identitas kami !!!.” Begitu pesan DR. Mohammad Natsir yang kedua kalinya. Apakah kalimat ini masih berlaku kalau identitas kita sudah tiada ???

Allahu Akbar, wallahu a’lamu bis-shawaab.

Padang, 2 Juli 2000.

 

 

 Catatan Kaki :

[1] Diatas dasar perpegangan ini, Ninik Mamak dalam Nagari-nagari di Kecamatan Pasaman, secara berturut-turut telah menyerahkan tanah ulayat mereka dengan kerelaan membangun bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia melalui Pemerintah Daerah. Sejak tahun 1953 tercatat penyerahan tanah ulayat masyarakat, antara lain pada bulan Mei 1953 sebagian Ulayat TONGAR AIR GADANG, Ulayat KAPAR (PD. LAWAS), dan tanggal 9 Mei 1953 Ulayat KOTO BARU (MAHAKARYA). Tahun 1961 – 26 September 1961 dari Ulayat KINALI BUNUT Alamanda, Kecamatan PASAMAN. Tahun 1964 – 25 April 1964, sebagian Ulayat KINALI LEPAU TEMPURUNG, Kecamatan PASAMAN. Tahun 1965, AIR RUNDING, Kenegarian PARIT Kecamatan SUNGAI BERAMAS. Tahun 1957, KOTA RAJA, Kenegarian PARIT Kecamatan SUNGAI BERAMAS. Terdahulu dari ini, yaitu di tahun 1953 telah terjadi pula penyerahan tanah DESA BARU sebagai daerah kolonisasi (transmigrasi) dalam kenegarian BATAHAN Kecamatan Sungai Beremaas”.

[2] 1974, PERWAKILAN DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA SUMATERA BARAT menerbitkan dokumentasi yang menggambarkan sebagian kecil daripada kegiatan missi dan zending tersebut, khusus melalui saluran transmigrasi. Memperhatikan cara apa yang mereka gunakan dan jalan-jalan apa yang mereka tempuh dalam melakukan pemurtadan itu dikalangan ummat Islam yang dalam keadaan ekonomi lemah,  dan apa akibat-akibatnya terhadap pergaulan hidup dalam daerah yang bersangkutan, yakni di Kabupaten  Pasaman Sumatera Barat, yang sudah bertahun-tahun menjadi sasaran missi Khatolik, ke-Uskupan Padang. Disamping itu ada lagi kegiatan serupa di Kalimantan Selatan/Tengah, Sulawesi Tenggara (Kendari) dll yang tidak disebut-sebut disini.

[3] Sehubungan dengan kondisi Gerakan Baptis di Bukittinggi ini, Bapak DR. Mohammad Natsir berkata, “Saya kuatir, kalau-kalau mereka sudah berpikir kearah itu, dalam rangka mencari jalan lain, setelah rencana yang semula sudah terbentur. Kalau mereka berfikir dan melangkah kearah itu maka mereka akan dengan sekaligus bisa memperoleh posisi yang lebih kuat dari yang telah sudah. Mereka akan dapat meng-adu golongan-golongan yang tidak setuju dengan : Keluarga-keluarga yang ingin lekas rumahnya dikembalikan, Fihak Tentara (Pemerintah) yang ingin lekas memecahkan soal asrama. Golongan-golongan dalam masyarakat yang ingin mendapat tempat berobat yang moden, lebih modern dan rapi, daripada rumah sakit pemerintah yang sudah ada di Bukittinggi sendiri”. Mereka ini akan bertanya-tanya kenapa kita harus menolak satu amal dari Baptis itu, yang ingin membantu kita secara cuma-cuma? Bukankah itu fanatik namanya?

[4] Keputusan Menteri Agama No. 54 tahun 1968 itu, mendasari sikap tidak-setujunya  terhadap pendirian rumah sakit Baptis itu. Atas kekuatiran akan timbul pertentangan-pertentangan antara golongan-golongan agama di Sumbar, yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan, apabila rumah sakit Baptis itu diteruskan mendirikannya. Akan tetapi sebenarnya, sebelum itupun, pertengkaran antara pro dan kontra sudah akan bisa mengganggu apa yang disebut ketertiban dan keamanan itu, sekurang-kurangnya banyak yang bertubrukan, banyak perasaan yang akan tersinggung, banyak emosi yang akan berkobar.

Bahan Pendalaman / Maraji’

  1. Dairatul Ma’arif al Islamiyah, The Encyclopedia of Islam,
  2. Dairatul Ma’arif ad Dien wal akhlaq, Encyclopedia of Religion and Ethics,
  3. 3.   Focus on Christian – Muslim Religions,
  4. 4.   Al Fikr al Islamy al Hadist, DR. Mohammad al Bahiy, Kairo, 1975.
  5. At Tabsyir wal Isti’mar, Mustasyar, DR.Mohammed “Izzat Ismail at Thahthawiy, Kairo.
  6. Al Gharah ‘Ala al “Alam al Islamiy, Translator DR. Muhibuddin al Khatib, al Mathba’ah As Salafiyah, 1385 H.
  7. At Tabsyir wal Isti’mar, DR. Musthafa al Khalidy dan DR. Umar Faruch, Kairo.
  8. Ma’awil al Hadami wat Tadmir fii an Nashraniyah wat Tabsyir, DR. Ibrahim Sulaiman al Jibhan, Jil.IV, Riyadh, 1981.
  9. Adhwak ‘Ala al Istisyraq, DR. Mohammed Abd. Fattah ‘Ulyan, Jld.I, Darul Buhuts, 14/2/1979.
  10. Taushiyah DR. Mohammad Natsir, H. Mas’oed Abidin, Dewan Dakwah Jakarta, 2000,  dalam penerbitan.

 11. Dokumentasi Transmigrasi dan Kristenisasi di Pasaman Barat, H.Mas’oed Abidin, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Perwakilan Sumbar, 1974.

 

One comment on “Kristenisasi dalam Realita

  1. ALAM mengatakan:

    ADATBASANDI SYARAK. SYARAK BASANDI KITABULLAH.
    KITABULLAH ADA 4 YAITU AL QUR’AN, INJIL, TAURAT, ZABUR.
    MAKA MOHON KIRONYO DIUBAH MANJADI ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI ALQUR’AN JO SUNNAH.
    BIA JAAN ADO PULO URANG KRISTEN MANGATOAN INJILTU KITABULAH JUOMAH.
    MAKO APABILO ADO URANG MINANG MASUAK KRISTEN, DIBUANG DARI URANG MINANG MANJADI URANG INDAK BASUKU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s