PERSPEKTIF dakwah ILAA ALLAH MEMBANGUN MASYARAKAT DENGAN BIMBINGAN SYARIAT AGAMA ISLAM “RAHMATAN LIL – ‘ALAMIN”

PERSPEKTIF dakwah ILAA ALLAH MEMBANGUN MASYARAKAT DENGAN BIMBINGAN SYARIAT AGAMA ISLAM “RAHMATAN LIL – ‘ALAMIN”
oleh Masoed Abidin Za Jabbar pada 11 Desember 2012 pukul 8:04 ·

 

        I.            Membangun masyarakat dakwah dimulai dari penyiapan sarana ta’lim (surau) dan lembaga pendidikan yang dititik beratkan kepada membentuk masyarakat berperilaku dengan akhlaq karimah sesuai pemahaman syariat Islam yang dilaksanakan secara terpadu dimulai dari lingkaran rumah tangga dan lingkungan dengan gerakan mencerdaskan umat dan menanamkan akidah  tauhid yang benar. [1]

Pembinaan terpadu masyarakat ini diawali dari Wahyu Allah di dalam Al Quranul Karim yang menjadi landasan pembentukan masyarakat yang Rahmatan Lil ‘Alamin.  Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13).

 Masyarakat yang menjadi obyek dakwah ilaa Allah atau mad’u semestinya dibawa kepada memahami kaedah  kehidupan yang dipertajam makna dan fungsinya  oleh peran syariat arama Islam.  Sudah menjadi kenyataan bahwa nilai dinul Islam melahirkan masyarakat proaktif  menghadapi perubahan sebagai suatu realitas yang mendorong melakukan perbaikan kearah peningkatan mutu dengan basis ilmu pengetahuan (knowledge base society), basis budaya (culture base sociaty) dan  basis gama (religious base society)  yang kuat. Ajaran Islam berdasar Alquran “mengeluarkan manusia dari sisi gelap kealam terang cahaya (nur).” [2] 

 Pergerakan Dakwah senantiasa berhadapan dengan Kehidupan padat Tantangan, ekonomi (iqtishadiy),  politik (assiyasiy),  pendidikan dan kemasyarakatan (ijtima’iy).

 

سَيَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ، لاَ يَكُوْنُ فِيْهِ شَيْءٌ أَعَزُّ مِنْ ثَلاَثَةٍ دِرْهَمٍ حَلاَلٍ أَوْ أَخٍ يُسْتَأْنَسُ بِهِ أَوْ سُنَّةٍ يُعْمَلُ بِهَا) رواه الطبراني عن خذيفة(

“Akan datang padamu suatu masa yang di masa itu tidak akan lebih sulit dari tiga perkara: Dirham (uang) yang halal, teman yang dipercayai kejujurannya, dan kebiasaan baik (sunnah) yang dikerjakan orang”

      II.            Tantangan dakwah sangat banyak, uluran tangan yang di dapat hanya sedikit. Diperlukan pembuatan kekuatan dakwah dengan membina hubungan kekerabatan (ukhuwwah) yang mesti  berlangsung harmonis dan baik.

 

Masyarakat dakwah mesti memiliki perasaan malu, bila tidak mampu membina hubungan dengan baik. Seseorang akan dihargai, apabila ia berhasil menyatu dengan linkungan kaumnya, yang akan menjadi audiensnya dalam setiap komunikasi dakwah. Hubungan kekerabatan ditengah masyarakat itu amat kompleks. Hubungan yang kompleks itu akan selalu terjaga dengan, ”nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang”.

 Nilai-nilai ideal kehidupan bermasyarakat selalu akan terjaga dengan ;

a). adanya rasa memiliki bersama, kesadaran terhadap hak milik,  

b).kesadaran  dan  kesediaan untuk pengabdian. Ada kiat adat pergaulan untuk meraih keberhasilan ; Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju, dek ameh sagalo kameh, dek padi  mangko jadi. Artinya perlu kesepakatan  untuk membangun kebersamaa dalam meraih kemakmuran dunia akhirat.

 

Masyarakat  dakwah Rahmatan lil’alamien mememiliki ciri-ciri khas (yang terkandung dalam kata maddana al-madaina  itu)[3], diantaranya ;

a. Mudun = maju atau modern,

b. Giat membangun (banaa-ha), baik fisik atau non fisik,

c. Melakukan kegiatan yang beradab/memperadabkan ( hadhdhara ),

d. Mempunyai ciri khas peradaban  (tamaddana ) artinya menjadi beradab – tampak dalam kehidupan masyarakatnya berilmu (periksa,rasio), memiliki rasa (emosi) secara individu maupun secara kelompok serta memiliki kemandirian (kedaulatan) dalam tata ruang dan peraturan-peraturan yang saling berkaitan.

 Disimpulkan bahwa Masyarakat Dakwah yang  “al hadhariyyu “ adalah masyarakat berbudaya dan al-madaniyyah (tamaddun) yang maju, modern, berakhlaq dan memiliki peradaban melaksanakan ajaran agama (syari’at ) dengan benar, karena agama (Islam) menata gerak kehidupan riil, tatanan politik pemerintahan, sosial ekonomi, seni budaya, hak asasi manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi  yang bertujuan mewujudkan  masyarakat yang hidup senang, tenteram dan makmur = tana’ama  dengan aturan  = qanun madaniy  atau syarak mangato, adaik mamakai yang melindungi hak-hak privacy, kepemilikan (perdata, ulayat) dan hak-hak sipil masyarakatnya. Masyarakat dakwah yang madani adalah masyarakat kuat berpendidikan dan berpandangan kota (urban) meskipun mereka mendiami daerah nagari dan taratak (rural) seperti nampak jelas dalam tatanan masyarakat Madinah el Munawwarah di masa hayat Nabi Muhammad SAW.

 Dalam Islam, setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya dan tidak seorangpun yang bertanggung jawab atas kewajiban dan tanggung jawab orang lain. Al Qur’an menyatakan : Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain. Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.“ (Q.S Al-Israa’: 15).

 Di dalam Al-Quran kita temukan kisah tentang Luqman yang menasehati anaknya tentang kewajiban-kewajiban utama manusia yang harus ia penuhi.

1. Kewajiban manusia kepada Allah . (Q.S Luqman: 13).

2. Kewajiban anak kepada orang tua (Q.S. Luqman: 14). 

3. Kewajiban manusia kepada sesamanya (Q.S. Luqman: 18 – 19), serta mampu memanfaatkan waktu dengan baik dan produktif. Dalam hubungan ini, Sayidina Ali bin Ahi Thalib pernah berkata: “Rezki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan  perolehannya lebih banyak di hari esok, Tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin kembali esok  …… ,

 

    III.            Masyarakat Muslim mesti paham dengan agamanya. Mereka mesti memelihara perinsip hidup berakidah dan istiqamah, tetaplah berdiri sebagai pembela yang benar. Jangan cemas darah tertumpah. Terbujur lalu terbelintang patah. Esa hilang dua terbilang. …). [4]

Bimbingan TAUHID mendorong untuk merakit masa depan sejak kini, “Berbuatlah untuk hidup akhirat mu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selamanya.”  (Hadist). Hukum Syara’ menghendaki keseimbangan antara  hidup rohani dan jasmani.  Kemakmuran tidak semata untuk putra asli di Nagari[5]. Ide bahwa kepentingan bersama berada pada tingkat paling utama dibanding kepentingan sendiri. Dapat di maknai bahwa individualistic sangat tidak diminati dalam tatanan masyarakat adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah . Inilah gambaran masyarakat Madani yang bertauhid.

 

    IV.            Pranata sosial budaya (”social and cultural institution”)  adalah batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan dalam menata kehidupan bersama (rules of the game). Agama Islam membentuk pranata sosial berpedoman  kepada Syari’at (sunnah dan Kitabullah).  Ukhuwwah akan menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

Nilai-nilai ajaran Islam mengajarkan agar setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

  اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan …. (Al-Baqarah, 257). Adalah pokok akidah tauhid setiap peribadi muslim.

 

Pemantapan tamaddun tauhidik yang sesuai dengan ajaran Islam menjadi landasan dasar pengkaderan umat mewujudkan masyarakat Rahmatan Lil Alamin, diantaranya ;   

a). Memelihara dan menjaga generasi pengganti yang lebih sempurna,

b). Mengupayakan berlangsungnya timbang terima kepemimpinan berkesinambungan secara alamiah,

c). Teguh dan setia melaksanakan pembinaan dan mengajarkan adat istiadat kepada  anak kemenakan dan menjaga lingkungan dengan baik,  

d). Rajin, disiplin dan tidak mubadzir, karena segala perbuatan disaksikan oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman. [6]

 

      V.            Kegiatan hidup masyarakat dipengaruhi oleh berbagai lingkaran tatanan (”system”) pada berbagai tataran (”structural levels”), yang paling mendasar tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya yang membentuk  Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) yang memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan masyarakat.

Kemudian PDPH ini pula yang menjadi  landasan pembentukan pranata sosial budaya yang melahirkan berbagai  lembaga formal maupun informal. Selanjutnya,  PDPH masyarakat itu akan menjadi petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakatnya di dalam kehidupan sendiri-sendiri, maupun bersama-sama. Lazimlah, bahwa PDPH memberikan ruang (dan batasan-batasan) bagi pengembangan kreatif potensi manusiawi dalam menghasilkan buah karya sosial, budaya dan ekonomi, serta karya-karya pemikiran intelektual, yang merupakan mesin perkembangan dan pertumbuhan masyarakat di segala bidang kehidupan.

 

Umumnya, Pergeseran budaya yang terjadi adalah ketika mengabaikan nilai-nilai agama.  Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi, aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Ajaran  Islam mendorong sikap untuk maju. Kemajuan materi dipacu oleh akhlak manusia yang baik. Tatanan yang baik dapat berubah karena pengaruh zaman, dan juga oleh sebab longgar menjaga tatanan nilai luhur serta  lemahnya ibadah. Rapuhnya akhlak dapat merusak bangunan  kehidupan. Akhlak mulia mendorong kemajuan dan martabat dengan minat  terarah memelihara sumber kehidupan dan terbimbing pandai bersyukur. Budaya Islam yang Rahmatan Lil Alamin membentuk generasi berakhlak

 

    VI.            Kita memahami, Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah iqra (bacalah) , menjadi langkah awal pembentukan masyarakat « rahmatan lil-’Alamin »  yang menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif  dan dari diam kepada bergerak. Tersimpan padanya makna mendalam, yaitu; “Bacalah yang tertulis, sehingga pengetahuan dan keahlian bertambah. Bacalah yang didiktekan, diajarkan oleh utusan Tuhan. Sampai kamu sendiri mengerti, dan yang mendengar memahami. Bacalah yang termaktub dalam rahasia alam yang beraneka warna, agar kamu jadi sadar dan mendapat sinar iman.”Jadi membaca itu ada proses timbal balik antara individu secara total dengan informasi simbolik yang dibaca. Artinya. seseorang yang membaca akan memperoleh ilmu. Membaca Al-Qur’an berarti menimba ilmu  dari Al Qur’an. Membaca alam berarti menggali pengetahuan dan alam. Jadi, membaca tidak sekedar melihat atau mengeja bacaan tanpa mengetahui arti. 

Makna perintah iqra’ dapatlah disimpulkan mengandung beberapa pengertian;  Pertama membaca ayat-ayat Allah sebagai kalamullah yang termaktub dalam Al Qur’anul Karim (al Aayaat al Qauliyyah). Kedua, membaca ayat Allah yang tercipta dan terbentang di alam luas alam semesta (al  Aayaat al Kauniyah), atau « Alam dijadikan guru ». Berkembangnya budaya dan peradaban manusia di semua zaman (modern dan era globalisasi), berada pada kondisi perubahan drastis. Tuntutan hidup dalam segala aspek makin tinggi. Keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan menjadi prasyarat imperatif  bagi perkembangan zaman dan inovasi peradaban.

 

Maka PENDIDIKAN dan BELAJAR yang dapat mengantarkan manusia pada pengetahuan dan penguasaan IPTEK itu, menjadi rencana pengembangan SDM Berkualitas di masa mendatang tidak dapat dielakkan. Maka masyarakat pengemban amanah Rahmatan lil ‘Alamien mestilah mempunyai Iman, menguasai Ilmu dan disiplin menunaikan Ibadah.

 

VII.               Khulasahnya ;  Bimbingan ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN menekankan akan perlindungan hak dan kewajiban dan tujuannya membentuk ikatan yang tenteram, bahagia dan berkekalan (sustainability) dalam aturan ketentuan agama (etika religi) menurut syariat Islam.

Semua orang berkeinginan untuk hidup bahagia dan langgeng dalam kebersamaan. Dengan  berhimpun (ijtima’iy) dapat dicapai kesatuan, kekompakan  dan kebahagiaan.

  1. Saling Mengerti  dalam menjalin komunikasi masing-masing. Perbedaan adalah karunia Allah. Menghormati kebiasaan, kesukaan masing masing. Mengedepankan pendidikan karakter secara proporsional (baik pada diri masing-masing, maupun orang-orang terdekat yang relevan dengan ketentuan yang dibenarkan syari’at.
  2. Saling Menerima,  dalam satu team work (ta’awun), saling membantu satu sama lain. Satu kesatuan kelompok adalah ibarat satu tubuh dengan beragam peran kehendak. Dengan saling pengertian, beragam warna akan menampilkan keindahan.
  3. Saling Menghargai dalam perkataan dan perasaan, bakat dan keinginan. Bersikap saling menghargai adalah jembatan menuju kuatnya satu team work.
  4. Saling Memercayai, melahirkan kemerdekaan berfikir, inovasi dan kreasi mencapai kemajuan dan keselarasan yang lebih meningkat. Hal ini mesti disadari merupakan amanah Allâh.
  5. e.       Saling Menyintai,  memunculkan sikap lemah lembut dalam bicara, bijaksana dalam pergaulan, tidak mudah tersinggung, dan perasaan selalu tenteram, menjadi modal besar untuk kegiatan “public speaking” dengan budi bahasa yang baik membangun misi keumatan. Satu realita objektif  adalah ;  Siapa yang paling banyak menyelesaikan persoalan masyarakat akan berpeluang banyak mengatur masyarakat.

Perlu program yang jelas ;

a)       Mengokohkan pegangan umat dengan keyakinan dasar Islam sebagai suatu cara hidup yang komprehensif.

b)      Menyebarkan budaya berlandasan wahyu di atas kemampuan akal.

c)       Memperluas penyampaian cara-cara dan aturan hidup dalam tatanan kehidupan sesuai tuntunan agama Islam, mencakup aspek-aspek sosio politik, ekonomi, komunikasi, pendidikan dan lain-lain, sebagai ciri khas masyarakat Madani.

 

Wallahu’alamu bis-shawaab.

 

Lubuk Lintah, Padang, Muharram 1434H / Desember 2012 M

 

 

Catatan kaki ;

 

[1] Dalam petuah hidup di Ranah ini ada pepatah menyebutkan ; “Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek, dan Nak urang Koto Hilalang, nak lalu ka Pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso.”

 

[2] Lihat QS.14, Ibrahim : 1.

 

[3]  Lihat Kamus Arab-Indonesia, Al Munawwir, Cet.XIV, Pustaka Progressif Surabaya, 1997, hal.1320. Lihat juga Al-Munjid fi al-Lughah al-‘Arabi’ah al-Mu’ashirah, Cet. I, Daarul Musyrif Bairut, 2000, hal. 1326-1327.).

 

 

[4]  Ada identitas  sebagai izzah martabat diri dalam ungkapan di Ranah Minang, ” Jikok di anjak urang banda sawah, jikok di aliah urang batu pasupadanan, jikok di ubah urang kato pusako, jikok di anjak urang kato nan bana, Busuangkan dado padek-padek, paliek-kan tando laki-laki, ja-an takuik nyawo malayang, ja-an cameh darah taserak, tabujua lalu tabulintang patah, aso hilang duo tabilang, Arti mamangan ini adalah ada batas sepadanan (batas tanah hak milik), ada kata pusaka (adat budaya yang sudah diakui sejak lama), ada kata yang benar (artinya  hilang prinsip musyawarah dan saling menghargai, atau law-enforcment yang tidak boleh dianggap remeh

 

[5] Di dalam pepatah Minangkabau tampil dalam cita-cita kemakmuran ranah seperti diungkapkan; “Rumah gadang gajah maharam,lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu,  Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang”. Artinya, perhatian terhadap kemakmuran sangat tinggi.

 

[6] “ Handak kayo badikik-dikik,  Handak mulie tapek i janji, Handak tuah ba tabue urai, Handak  namo tinggakan jaso,  Handak luruih rantangkan tali, Handak pandai rajin baraja, Handak bulieh kuek mancari, Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek ka parak, Nan munggu ka pandam pakuburan, Nan rawang  ranangan  itiek, Nan padang kubangan kabau, Nan bancah jadikan sawah, Nan gauang ka tabek ikan, yang artinya, melakukan perubahan serta memanfaatkan alam sesuai tata ruang yang jelas

 

2 comments on “PERSPEKTIF dakwah ILAA ALLAH MEMBANGUN MASYARAKAT DENGAN BIMBINGAN SYARIAT AGAMA ISLAM “RAHMATAN LIL – ‘ALAMIN”

  1. adeh wisnu satria wan mengatakan:

    saya pingin ketemu ayah saya nama nya arwes caniago tolong bantu sayah yah….

  2. adeh wisnu satria wan mengatakan:

    suda 20 thun sayah gk bertemu,
    ayah saya kerja nya pemborong bagunan tolong saya..
    ini alamt saya,
    jawa timur.-kecamatan pagelaran- desa kanigoro-
    08996014297

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s