Sukalah Untuk Menghindarkan Diri dari Neraka dengan Selalu Munajah Kepada Allah Azza wa Jalla

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ

“Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan?,

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ

Banyak muka pada hari itu tunduk terhina,

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ

bekerja keras lagi kepayahan,

تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً

memasuki api yang sangat panas (neraka),

   تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ ءَانِيَةٍ

diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas.

لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إلاَّ مِنْ ضَرِيعٍ

Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri,

لاَ يُسْمِنُ وَلاَ يُغْنِي مِنْ جُوعٍ

yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (Q.S Al Ghasyiyah: 1-7)

 

Salah satu tabi’at Ibad ur-Rahman adalah melalui waktu malam mereka dengan sujud dan berdiri menghadap Rabb mereka. Ini merupakan sifat ketiga Ibad ur-Rahman dalam keadaan mereka bersama Allah.

Di kala orang lain lalai dan tertidur pulas, di saat itu mereka bangun dan mendirikan shalatullail, bermujahadah dan bermunajah menghadap Allah.

Hamba-hamba yang disifati Ibad ur-Rahman ini, melakukan semuanya karena ada rasa takut (Khauf) dan harap (Raja’) di dalam diri mereka, terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla.

Mereka memiliki rasa takut yang besar kepada Allah, kepada azab-Nya, seakan-akan mereka menyaksikan neraka terpampang nyata di hadapan mereka.

Mereka memiliki rasa harap akan maghfirah Allah, ampunan dan ridha-Nya, hidayah dan rahmat-Nya serta harapan akan dijauhkan dari jilatan api neraka yang sangat dahsyat.

Mereka menyadari bahwa mereka hidup di dunia nyata ini, dilingkungi berbagai ragam kewajiban dan tuntutan kehidupan. Meskipun demikian, mereka tidak bisa menolak bahwa suatu hari kematian pasti datang menjemput.

Setelah kematian pasti ada kebangkitan. Setelah kebangkitan ada pengumpulan. Setelah itu ada hisab/perhitungan, mizan /timbangan, ada penyerahan kitab. Tak seorang pun mengetahui dengan tangan apa ia akan menerimanya, tangan kanan (ash-habul yamin) atau dengan tangan kiri (ash-habul syimal)? Tidak ada yang mengetahui ke sisi mana timbangan amalnya, ke sisi kebaikan atau keburukan?.

Lebih menggetarkan lagi, kemana ia akan di antar, apakah ke dalam syurga atau di lempar ke dalam neraka?

Maka tidak heran, jika para Ibad ur-Rahman merasa seakan-akan jahannam terpampang dengan nyata di hadapan mereka, seolah-olah neraka itu hendak meluluh lantakkan diri mereka dan lidah-lidah apinya seakan hendak menjilati kulit mereka dan menembus ubun-ubun mereka. Karena itu mereka selalu berdoa.

Setiap orang akan melewati shirah (jembatan) yang di bawahnya api neraka yang menganga. Tiada yang tahu apakah dia selamat melintasi/menyeberangi jembatan yang ada di atas neraka itu ataukah akan jatuh ke dalamnya? Apakah ia dapat melewatinya secara cepat ataukah dengan tertatih-tatih dan akhirnya jatuh ke dalamnya? Allah SWT berfirman:

وَإِنْ مِنْكُمْ إلاَّ وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

“Dan tidak ada seorang pun dari kamu sekalian melainkan melewati neraka itu. Hal itu bagi Rabb-mu adalah suatu kepastian yang sudah di tetapkan.

ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (Q.S. Maryam: 71-72)

Setiap individu muslim dan keluarga muslim wajib menanam keimanan dalam diri dan keluarganya serta menjaganya dari jilatan api neraka. Diriwayatkan bahwa Nabi Daud pernah berkata: “Ya Ilahi, aku tak pernah sabar (tahan) akan panasnya terik matahari. Lantas, bagaimana mungkin aku bisa sabar akan panasnya api neraka-Mu?”

Nabi Isa a.s pernah berkata: “Beberapa banyak badan yang bagus, lisan yang fasih, wajah yang berseri, kelak berada di atas api neraka sambil berteriak-teriak kesakitan.”

Syeikh Yusuf Al Qardhawy mengatakan: “Kematian merupakan pintu. Dan setiap orang akan memasukinya. Tempat tinggal macam apakah yang ada di balik pintu itu? Tempat tinggal engkau adalah sorga, selagi engkau mengerjakan hal-hal yang diridhai Allah. Jika tidak, maka nerakalah tempat tinggal engkau. Keduanya merupakan tempat tinggal yang berbeda. Maka pilihlah tempat tinggal engkau mulai dari kini.”

Allah dan Rasul-Nya telah mengingatkan dan menggambarkan keadaan neraka sedemikian rupa. Sangat jelas, sehingga tanda-tandanya seakan tampak di depan mata. Peringatan ini, agar kelak kita tidak lagi berhujjah di hadapan Allah.

Kita manusia, seharusnya berada di antara takut dan harap. Tidak boleh terlalu dikuasai harapan sehingga mereka merasa aman dari tipu daya Allah. Dan, tidak pula boleh terlalu dikuasai rasa takut, sehingga putus asa terhadap rahmat Allah.

Manakala seseorang merasa dosa terlalu banyak, kedurhakaan nya menumpuk, kitab amal dipenuhi dengan kesalahan-kesalahan, maka dia harus lebih banyak merasa takut dari berharap, selalu mengingat dosa-dosanya dan tidak lalai dengan amalannya.

Menghisab (menghitung) dirinya sebelum dihisab, menimbang amalnya sebelum ditimbang, bertanya kepada dirinya sebelum ditanya. Dia harus mengingat neraka dan bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Apa yang telah engkau lakukan? Apa yang telah engkau abaikan? Apa yang telah engkau langgar?” Siapa tahu yang demikian ini dapat meluruskan, membuat diri menyadari apa yang telah luput darinya, lalu memperbaiki yang telah terabaikan sehingga hari ini lebih baik dari kemaren, dan besok lebih baik dari pada hari ini. Begitu semestinya sikap dan keadaan setiap diri orang-orang mukmin itu.

Allahu A’lam bi Ash Shawab

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s