MENGGALI POTENSI SURAU menjadi/sebagai ISLAMIC CENTER oleh : Taufik Ahmad Taudjidi – Imam Basa Nagari Gunuang

MENGGALI POTENSI SURAU menjadi/sebagai ISLAMIC CENTER
oleh : Taufik Ahmad Taudjidi – Imam Basa Nagari Gunuang

(Kutipan Khutbah Idul Fitri 1433 H, 19 Agustus 2012, di Lapangan SMPN 3 Padang Panjang)

Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil

-Hamd
Kaum Muslimin yang berbahagia,

Saat ini, dalam rangka membangun kemandarian bangsa guna menghadapi persaingan di era globalisasi, tengah digulirkan konsep pembangunan berbasis kearifan lokal atau local wisdom. Yaitu, konsep pembangunan berbasis pada kondisi budaya lokal, termasuk mengacu pada pesan-pesan moral dan motivasi yang hidup di masyarakat.

Salah satu”kearifan lokal” yang ada di Ranah Minang, adalah berlakunya SISTEM MATRILINEAL, yaitu sistem waris harta pusaka tinggi yang berpuncak dan turun temurun pada garis ibu.
Saat ini, di seluruh dunia, hanya terdapat 4 (empat) suku bangsa yang menganut sistem Matrilineal, yaitu sebuah suku bangsa di benua Afrika, sebuah suku Indian di benua Amerika , sebuah suku di India dan satu-satunya suku di Indonesia, yaitu Minangkabau.
Sistem matrilineal dengan segala sub-sistemnya adalah “Tiang Agung Minangkabau” kata alm Buya Hamka. Hak Waris Harta pusaka tinggi sebagai sub sistem dari sistem Matrilineal, hendaknya harus tetap dijaga keberadaannya. Harta pusaka tinggi adalah harta bersama sebuah kaum, adalah harta bersama untuk dinikmati, bukan harta untuk dibagi-bagi. Pewarisan harta pusaka tinggi adalah hanya sekedar peralihan peran, bukan peralihan milik. Harta pusaka tinggi turun dari niniek ka mamak, dari mamak ka kamanakan dan seterusnya ka bawah menurut garis ibu.
Harta pusako tinggi tak boleh berpindah tangan karena diperjual-belikan. Harta Pusako tinggi adalah sebagai bukti “asal-usul” seseorang atau kaum. Seseorang dapat dikatakan adalah keturunan Minang, hanya apabila masih mempunyai harta pusako tinggi. Dalam adat, ini dikatakan:
“Nan ba pandam ba pakuburan, nan basasok bajarami, kok dakek dapek dikakok, kok jauah dapek diantakan”
Apabila sebuah keluarga atau kaum tak lagi punya harta pusako tinggi, orang atau keluarga itu tidaklah lengkap keminangkabauannya, bahkan sudah dianggap punah. Mereka tak perlu lagi punya panghulu, karena adat berdiri diatas pusako tinggi.

Dari uraian ringkas diatas, dimensi kearifan lokal yang menyertainya adalah:

Bahwa sejauh manapun anak-cucu orang Minang pergi merantau, bahkan sampai ke Australia atau ke Amerika, selama mereka masih punya harato pusako tinggi, mereka dan anak keturunannya akan tetap punya
kampung halaman di Ranah Minang, dan mereka tetap bangga dengan RanahMinang.

Kondisi emosional itulah tampaknya yang terpancar dari gegap gempitasetiap acara “pulang Basamo”, seperti yang tampak pada setiap lebaran saat ini.

Kaum Muslimin yang berbahagia,

Keunikan lain dari alam minangkabau yang mencerminkan kearifan lokal adalah adanya Falsafah Hidup yang sangat terkenal:
“ ADAT BERSANDI SYARA’, SYARA’ BERSANDI KITABULLAH”.

Nilai-nilai Agama Islam, yang menganut sistem patrilineal, secara arif diterima oleh adat dan budaya Minangkabau tanpa mengorbankan adat budaya yang berlaku. Bahkan Nilai-nilai agama dan adat saling memperkuat, kokoh dalam keserasian dan keharmonisan, menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Saling isi mengisi. Kaum adat dan kaum agama bekerjasama saling bahu membahu membangun masyarakat.
Perpaduan ini telah melahirkan harmoni sosial di bawah sistem kepemimpinan tripartit yang disebut TTS (Tungku nan Tigo Sajarangan) yang terdiri dari – Ninik Mamak , Alim Ulama, dan Cerdik Pandai. Mereka bersinergi menjaga dan menjalankan TTS yang lain pula, Tali nan Tigo Sapilin, yaitu Adat, Syari’at dan Peraturan/perundangan)

Kesesuaian dan keserasian hubungan ini tak lain karena nilai-nilai adat Minang, yang digali dan dijalankan sebelum kedatangan Agama Islam, memiliki landasan yang sama dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis. Misalnya, ketika, ayat Al-Qur’an yang pertama turun pada tanggal 17 Ramadhan di kota mekkah:
Iqra bismirabbikallazi khalaq # Khalaqal insanamin ‘alaq # Iqra’ warabbukal akram # Allazi ‘allama bil qalam # ‘Alamal insaa namaa lam ya’lam.
• Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan * Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah # Yang mengajar manusia dengan pena # Yang mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.

Jauh sebelum itu, para ninik mamak di ranah minang telah memberi petuah agar masyarakat Minang memahami dan mengikuti hakekat hukum alam (sunatullah), seperti petuah dibawah ini:
Api, paneh dan mambaka,
Aie, mambasahi dan manyuburkan,
Kayu, bapokok,
Ayam, bakokok,
Kambiang, mangambiak,
harimau mangaum
Gunuang, bakabuik, dan sebagainya.

Dipertegas pula dengan petatah lain:
Panakiak pisau sirauik,
ambiak galah batang lintabuang,
silodang ambiak kanyiru,
Nan satitiak jadikan lauik,
Nan sakapa jadikan gunuang,
Alam takambang jadi guru.

Falsafah “alam takambang jadi guru”, adalah falsafah hidup yang sangat berkesesuaian dengan banyak firman Allah dalam Al-Qur’an, diantaranya pada surat ‘ Ar-Ra’d ayat 3, yang artinya:
“Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.

Atau firman Allah dalam surat al-Ankabut <29>: ayat 44:
“Khalaqallahus samaa waa ti wal ardha bilhaq* innafii zalika la aayatal lilmu’ miniin
” Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang jelas. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang percaya.”

Itulah sebuah kearifan lokal di Ranah Minang, sebuah falsafah hidup yang berlandaskan akal dan iman, yang berpijak pada sunatullah dan tuntunan Al-Qur’an. “Alam takambang jadi guru”.. “Indak lakang di paneh, indak lapuak di hujan”. Dari dahulu sampai kini, tak henti, berlaku turun temurun.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Bapak-bapak, ibu-ibu, angku-angku, anak dan kamanakan yang berhadir di tanah lapang ini.
Lihatlah sekeliling kita, Nagari Gunuang yang indah ini, mancaliak ka mudiak, tampak puncak gunuang Marapi. Mancaliak ka arah Barat ado Gunuang Singgalang nan manjulang. Mancaliak dari sabalah ateh tampak danau Singkarak yang menyimpan ikan bilih, yang hanya satu-satunya di dunia, endemik di danau Singkarak.
Ini lah kampuang kito, Gunuang Sajati, gunuang sansai bakuliliang, jo hutan badaun rimbun, dari mudiak ka ilie tak berhenti aie mangalie. Tahampa sawah-sawah, dari bukik ka lambah-lambah, bapamatang- bajanjang-janjang.
Ado mato aie bula’an di Sigando, ado mato air di ikue lubuak dan tempat lain. Airnya bersih bening tak perlu disaring.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd

Subhanallah, demikian besar anugerah Allah yang tercurah bagi kita urang nagari Gunuang. Dibandingkan dengan wilayah di belahan lain di muka bumi, yang kering kerontang, Nagari Gunuang tak lain adalah sebuah Surga yang terhampar di muka bumi, yang diperuntukkan oleh Allah bagi kita urang nagari Gunuang. Allah telah memelihara kesuburan tanah kita dengan muntahan abu vulkanik Gunung Marapi. Hutan-hutan lebat di lereng gunung Marapi berjasa menyimpan air tanah bagi kehidupan kita dan sawah kita.

Kalau pun ada sesekali gempa vulkanik, tak lain agar kita selalu mengingat Allah, bahwa Allah lah pemilik alam semesta, kita diingatkan agar selalu menjalankan perintahNya dan menghindari larangan-Nya, agar supaya kita terhindar dari kemurkaan-Nya. Jadi, sangat beralasan bagi kita untuk selalu merenungkan firman Allah dalam surat Ar-rahman yang berulang-ulang dikatakan-Nya::

Fabiayalaa irabbikumaa tukazibaan
(Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd
Hadirin yang rahima kumullah
Kehadiran surau di ranah Minang adalah suatu kearifan lokal lain, yang diwariskan oleh niniek mamak kita, yang perlu kita pelihara. Di Nagari Gunuang kita mengetahui, ada surau di Sigando, ada surau di Gantiang, ada surau di simpang Lubuak, ada di surau Ngalau atau ditempat lainnya.

Dahulu, beberapa puluh tahun yang lalu, tidak ada seorang anakpun disuatu kampung yang tidak belajar mengaji di surau. Semua anak-anak, siang hari belajar di sekolah umum, malam hari belajar mengaji di surau. 7 hari dalam seminggu tanpa hari libur. Pada setiap akhir minggu mengadakan panggung gembira, dengan bernyanyi dan latihan berpidato. Anak-anak laki-laki yang sudah baliq, oleh ibunya diperintahkan untuk tidur di surau. Bersama dengan teman sebaya.

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Dari perjalanan sejarah, kita mengetahui bahwa sejak tempo dulu di Ranah Minang, Surau memiliki peran penting dalam mendidik generasi muda, surau terbukti sukses menjadi instrumen pembentuk karakter masyarakat minang.

Di surau inilah anak-anak remaja memulai PERJALANAN untuk memperoleh bekal kecakapan hidup. Di surau inilah mereka memantapkan eksistensi diri dan kepercayaan diri. Di surau lah mereka mendapat kecakapan membaca, menulis dan berpidato. Di surau lah mereka mengasah kecakapan berkomunikasi, berdiplomasi dan bersilat lidah, berpantun, ber petatah-petitih. Di surau lah mereka memperoleh keterampilan personal seperti bersilat untuk membela diri. Di surau lah mereka memperoleh kecakapan sosial – bermasyarakat,Dan Salah satu kecakapan yang penting adalah kecakapan bermusyawarah untuk mengambil keputusan yang bersandar pada falsafah:

“Bulek air karano pambuluah, bulek kato karano mufakaek”.

Sejarah mencatat, bahwa surau adalah tempat para tokoh atau cendekiawan asal Minang Kabau tempo dulu, sebut saja seperti Buya Hamka, Moh. Natsir, A.R. Sutan Mansyur, dan banyak lagi yang lain,yang memulai “perjalanan” hidup mereka melalui surau, guna memperoleh kecakapan hidup atau apa yang sekarang sangat popular dengan istilah “LIFE SKILL”.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Konsep pendidikan yang bernama “LIFE SKILL” atau “Kecakapan Hidup” itu dicetuskan oleh pakar pendidikan Barat, baru pada awal tahun 2000 lalu. Konsep ini diamini dan oleh para Pakar Pendidikan Indonesia yang kuliah di Amerika untuk di gulirkan sebagai konsep unggulan di Indonesia. Konsep pendidikan “life skill” ala Barat tersebut, menurut pakarnya meliputi: i)kecakapan adaptasi diri, ii) kecakapan komunikasi, iii) kecakapan memilih dan memilah masalah, iv)kecakapan mengambil keputusan, v) kecakapan personal dan sosial.

Hadirin yang dimuliakan Allah
Ternyata konsep pendidikan “life skill” yang digagas oleh pakar pendidikan Barat 10 tahun yang lalu itu, telah dilaksanakan di Ranah Minang oleh para jenius cendekiawan-cadiak pandai, ninik mamak kita beberapa abad yang lalu, yaitu melalui pendidikan di Surau.
Dengan perkataan lain, kita boleh berbangga hati bahwa pendidikan “life skill” melalui Surau ternyata telah ada 3 abad lebih, mendahului konsep pendidikan ala barat yang disebut dengan “life skill education” yang baru digagas di tahun 2000-an itu.

Oleh karena itu, rasanya sangat beralasan, bila kita mempertanyakan, bagaimanakah kini eksistensi SURAU sebagai lembaga pendidikan yang sudah terbukti berhasil pada jamannya. Bagaimanakah kondisinya kini ditengah era globalisasi, ditengah adanya penetrasi budaya Barat yang hadir begitu jauh dalam kehidupan kita melalui kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi.
Timbul sebuah pertanyaan yang mergelitik, Apakah iya ? fungsi surau sebagai sentra pendidikan yang juga berbasis pada “TIGO TUNGKU SAJARANGAN”, yaitu berbasis pada “OTAK (akademik), HATI (akhlak mulia) dan TANGAN (keterampilan), seperti yang pernah digagas dan dijalankan oleh Angku Muhammad Syafei di INS Kayutanam tahun pada 1926, telah hilang kiprahnya di dunia pendidikan di Ranah Minang.

Hadirin yang dimuliakan Allah
Saat sekarang ini sedang digulir Gerakan Kembali ke Surau, tujuannya adalah untuk membangkitkan atau menggiatkan lagi atau merevitalisasi fungsi surau sebagai pusat keislaman (Islamic Center), seperti tempo dulu, dengan maksud agar generasi muda mampu menghadapi penetrasi budaya asing yang demikian besar dampak buruknya terhadap kehidupan Islami yang menjadi ciri masyarakat Minang.

Hadirin yang dimuliakan Allah
Gagasan kembali ke Surau, ditengah kegamangan kita menghadapi era globasi yang ditandai dengan mudahnya teknologi komunikasi dan informasi masuk ke rumah kita, dengan dampak baik dan buruknya, sangat perlu kiranya kita dukung. Kita perlu menggali kembali keunggulan pendidikan berciri Surau. Yaitu sebuah konsep pendidikan keislaman yang berbasis kearifan lokal ala Alam Minangkabau, yang telah terbukti mampu membekali keterampilan hidup atau life skill bagi lulusannya.
Untuk itu beberapa langkah yang bisa, kita lakukan adalah:

• Pertama: Menginventarisir jumlah surau -surau yang masih ada di setiap kampung di setiap nagari
• Kedua: Membuat kajian atas kondisi surau-surau yang ada, dilihat dari kondisi fisik, pengelolaan, guru dan peserta didik yang ada.
• Ketiga: Membentuk dan Meningkatkan forum koordinasi atau majelis quro antara surau di dalam suatu nagari, sampai terbentuk koordinasi setingkat Propinsi.
• Ke empat :Mengikutsertakan peran Pengurus Masjid (DKM), Ninik Mamak (KAN), Majelis Ulama (MUI), para tokoh pendidik, tokoh orpol dan ormas Islam dalam rencana pengembangan SURAU MODERN di Ranah Minang.
• Kelima : Sesuai dengan UUD 1945 bahwa pendidikan adalah menjadi tugas negara, maka program pengembangan dan pengelolaan SURAU MODERN mestinya tercermin dalam APBN dalam APBD Kabupaten/ Kota.

Foto: MENGGALI POTENSI  SURAU  menjadi/sebagai ISLAMIC  CENTER<br />
oleh : Taufik Ahmad Taudjidi – Imam Basa Nagari Gunuang</p>
<p>(Kutipan Khutbah Idul Fitri 1433 H, 19 Agustus 2012, di Lapangan SMPN 3 Padang Panjang)</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd<br />
Kaum Muslimin yang berbahagia, </p>
<p>Saat ini, dalam rangka membangun kemandarian bangsa guna menghadapi persaingan di era globalisasi, tengah digulirkan konsep pembangunan berbasis kearifan lokal atau local wisdom. Yaitu, konsep pembangunan berbasis pada kondisi budaya lokal, termasuk mengacu pada pesan-pesan moral dan motivasi yang hidup di masyarakat.</p>
<p>Salah satu”kearifan lokal” yang ada di Ranah Minang,  adalah  berlakunya  SISTEM MATRILINEAL, yaitu sistem waris harta pusaka tinggi yang berpuncak dan turun temurun pada garis ibu.<br />
Saat ini, di seluruh dunia,  hanya terdapat  4 (empat) suku bangsa  yang menganut sistem Matrilineal, yaitu sebuah suku bangsa di benua Afrika, sebuah suku Indian di benua Amerika , sebuah suku di India dan satu-satunya  suku di Indonesia, yaitu Minangkabau.<br />
Sistem matrilineal dengan segala sub-sistemnya  adalah “Tiang Agung Minangkabau” kata alm Buya Hamka. Hak Waris Harta pusaka tinggi sebagai sub sistem dari sistem Matrilineal, hendaknya harus tetap dijaga keberadaannya. Harta pusaka tinggi adalah harta bersama sebuah kaum, adalah harta bersama untuk dinikmati, bukan harta untuk dibagi-bagi. Pewarisan harta pusaka tinggi adalah hanya sekedar peralihan peran, bukan peralihan milik. Harta pusaka tinggi turun dari niniek ka mamak, dari mamak ka kamanakan dan seterusnya  ka bawah menurut garis ibu.<br />
Harta pusako tinggi  tak boleh berpindah tangan karena diperjual-belikan.  Harta Pusako tinggi adalah sebagai bukti “asal-usul” seseorang atau kaum. Seseorang dapat dikatakan adalah keturunan Minang, hanya apabila masih mempunyai harta pusako tinggi. Dalam adat, ini dikatakan:<br />
“Nan ba pandam ba pakuburan, nan basasok bajarami, kok dakek dapek dikakok, kok jauah dapek diantakan”<br />
Apabila sebuah keluarga atau kaum tak lagi punya harta pusako tinggi, orang atau keluarga itu tidaklah lengkap keminangkabauannya, bahkan sudah dianggap punah. Mereka tak perlu lagi punya panghulu, karena adat berdiri diatas pusako tinggi.</p>
<p>Dari uraian ringkas diatas, dimensi  kearifan lokal yang menyertainya adalah:</p>
<p>Bahwa sejauh manapun anak-cucu orang Minang pergi merantau, bahkan sampai  ke Australia atau ke Amerika, selama mereka masih punya harato pusako tinggi, mereka dan anak keturunannya akan tetap punya<br />
kampung halaman di Ranah Minang, dan mereka tetap  bangga dengan RanahMinang.</p>
<p>Kondisi emosional itulah tampaknya yang terpancar dari gegap gempitasetiap  acara “pulang Basamo”, seperti yang tampak pada setiap lebaran  saat ini.</p>
<p>Kaum Muslimin yang berbahagia, </p>
<p>Keunikan lain dari alam minangkabau yang mencerminkan kearifan lokal adalah adanya Falsafah Hidup yang sangat terkenal:<br />
“ ADAT BERSANDI SYARA’, SYARA’ BERSANDI KITABULLAH”.</p>
<p>Nilai-nilai Agama Islam, yang menganut sistem patrilineal, secara arif diterima oleh adat dan budaya Minangkabau tanpa mengorbankan adat budaya yang berlaku. Bahkan Nilai-nilai agama dan adat saling memperkuat, kokoh dalam keserasian dan keharmonisan, menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Saling isi mengisi. Kaum adat dan kaum agama bekerjasama saling bahu membahu membangun masyarakat.<br />
Perpaduan ini telah melahirkan harmoni  sosial  di bawah sistem kepemimpinan tripartit yang disebut TTS (Tungku nan Tigo Sajarangan) yang terdiri dari – Ninik Mamak , Alim Ulama, dan Cerdik Pandai. Mereka bersinergi menjaga dan menjalankan  TTS yang lain pula, Tali nan Tigo Sapilin, yaitu Adat, Syari’at  dan Peraturan/perundangan)</p>
<p>Kesesuaian dan keserasian hubungan ini tak lain karena nilai-nilai adat Minang, yang digali dan dijalankan  sebelum kedatangan Agama Islam, memiliki landasan yang sama dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis. Misalnya, ketika, ayat  Al-Qur’an yang pertama turun pada tanggal 17 Ramadhan di kota mekkah:<br />
Iqra bismirabbikallazi khalaq # Khalaqal insanamin ‘alaq # Iqra’ warabbukal akram # Allazi ‘allama bil qalam # ‘Alamal insaa namaa lam ya’lam.<br />
•	Bacalah dengan menyebut  nama Tuhanmu yang menciptakan * Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah # Yang mengajar manusia dengan pena # Yang mengajar manusia  apa yang tidak diketahuinya. </p>
<p>Jauh sebelum itu, para ninik mamak di ranah minang telah memberi petuah agar  masyarakat Minang memahami dan mengikuti hakekat hukum alam (sunatullah), seperti petuah  dibawah ini:<br />
Api, paneh dan mambaka,<br />
Aie, mambasahi dan manyuburkan,<br />
Kayu, bapokok,<br />
Ayam, bakokok,<br />
Kambiang, mangambiak,<br />
harimau mangaum<br />
Gunuang, bakabuik, dan sebagainya.</p>
<p>Dipertegas pula dengan petatah lain:<br />
Panakiak pisau sirauik,<br />
ambiak galah batang lintabuang,<br />
silodang ambiak kanyiru,<br />
Nan satitiak jadikan lauik,<br />
Nan sakapa jadikan gunuang,<br />
Alam takambang jadi guru.</p>
<p>Falsafah “alam takambang jadi guru”, adalah falsafah hidup yang   sangat berkesesuaian  dengan banyak firman Allah dalam Al-Qur’an, diantaranya pada surat ‘ Ar-Ra’d ayat 3, yang artinya:<br />
"Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan".</p>
<p>Atau  firman Allah dalam surat al-Ankabut <29>: ayat 44:<br />
“Khalaqallahus samaa waa ti wal ardha bilhaq* innafii zalika la aayatal lilmu’ miniin<br />
" Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan  yang jelas. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat  tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang percaya."</p>
<p>Itulah sebuah kearifan lokal di Ranah Minang, sebuah falsafah hidup yang berlandaskan akal dan iman, yang berpijak  pada sunatullah dan tuntunan Al-Qur’an. “Alam takambang jadi guru”.. “Indak lakang di paneh, indak lapuak di hujan”. Dari dahulu sampai kini, tak henti, berlaku turun temurun. </p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd<br />
Hadirin yang dimuliakan Allah,<br />
Bapak-bapak, ibu-ibu, angku-angku, anak dan kamanakan yang berhadir di tanah lapang ini.<br />
Lihatlah sekeliling kita, Nagari Gunuang yang indah ini, mancaliak ka  mudiak, tampak puncak gunuang Marapi. Mancaliak ka arah Barat  ado Gunuang Singgalang nan manjulang. Mancaliak dari sabalah ateh tampak danau Singkarak yang menyimpan ikan bilih, yang hanya  satu-satunya di dunia,  endemik di danau Singkarak.<br />
Ini lah kampuang kito, Gunuang Sajati, gunuang sansai bakuliliang, jo hutan badaun rimbun, dari mudiak ka ilie tak berhenti aie mangalie. Tahampa sawah-sawah, dari bukik ka lambah-lambah,  bapamatang- bajanjang-janjang.<br />
 Ado mato aie bula’an di Sigando, ado mato air di ikue lubuak dan tempat lain. Airnya bersih bening tak perlu disaring.</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd</p>
<p>Subhanallah, demikian besar anugerah Allah  yang tercurah bagi kita urang nagari Gunuang. Dibandingkan dengan wilayah di belahan lain di muka bumi, yang kering kerontang, Nagari Gunuang tak lain adalah sebuah Surga yang terhampar di muka bumi, yang  diperuntukkan oleh Allah bagi kita urang nagari Gunuang. Allah telah memelihara kesuburan tanah kita dengan muntahan abu vulkanik Gunung Marapi. Hutan-hutan lebat di lereng gunung Marapi berjasa  menyimpan air tanah bagi kehidupan kita dan sawah kita. </p>
<p>Kalau pun ada sesekali gempa vulkanik, tak lain agar kita selalu mengingat  Allah, bahwa Allah lah pemilik alam semesta, kita diingatkan  agar selalu menjalankan perintahNya dan menghindari larangan-Nya, agar supaya kita terhindar dari kemurkaan-Nya. Jadi, sangat beralasan bagi kita untuk selalu merenungkan firman Allah dalam surat  Ar-rahman yang berulang-ulang dikatakan-Nya::</p>
<p>Fabiayalaa irabbikumaa tukazibaan<br />
(Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd<br />
Hadirin yang rahima kumullah<br />
Kehadiran surau di ranah Minang adalah suatu kearifan lokal  lain, yang diwariskan oleh niniek mamak kita, yang perlu kita pelihara. Di Nagari Gunuang kita mengetahui, ada surau di Sigando, ada surau di Gantiang, ada surau di  simpang Lubuak, ada di surau Ngalau atau ditempat lainnya. </p>
<p>Dahulu, beberapa puluh tahun yang lalu, tidak ada seorang anakpun disuatu kampung  yang tidak belajar mengaji di surau. Semua anak-anak, siang hari  belajar  di sekolah umum, malam hari belajar mengaji di surau. 7 hari dalam seminggu tanpa hari libur. Pada setiap akhir minggu mengadakan panggung gembira, dengan bernyanyi dan latihan berpidato.  Anak-anak laki-laki yang sudah baliq, oleh ibunya diperintahkan untuk tidur di surau. Bersama dengan teman sebaya.</p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah.</p>
<p>Dari perjalanan sejarah,  kita mengetahui bahwa sejak tempo dulu di Ranah Minang, Surau  memiliki peran penting dalam mendidik generasi muda, surau terbukti sukses menjadi instrumen pembentuk karakter masyarakat minang. </p>
<p>Di surau inilah anak-anak remaja memulai PERJALANAN untuk memperoleh bekal kecakapan hidup.   Di surau inilah mereka memantapkan eksistensi diri dan kepercayaan diri. Di surau lah mereka  mendapat kecakapan membaca, menulis dan berpidato. Di surau lah mereka  mengasah kecakapan berkomunikasi, berdiplomasi dan bersilat lidah, berpantun, ber petatah-petitih.  Di surau lah mereka memperoleh keterampilan personal seperti bersilat untuk membela diri. Di surau lah mereka memperoleh kecakapan sosial – bermasyarakat,Dan Salah satu kecakapan yang penting adalah kecakapan bermusyawarah untuk mengambil keputusan yang bersandar pada falsafah:</p>
<p>“Bulek air karano pambuluah, bulek kato karano mufakaek”.</p>
<p>Sejarah mencatat, bahwa surau adalah tempat para tokoh  atau cendekiawan asal Minang Kabau tempo dulu, sebut saja seperti  Buya Hamka, Moh. Natsir, A.R. Sutan Mansyur,   dan banyak lagi yang lain,yang memulai “perjalanan” hidup mereka melalui surau, guna  memperoleh kecakapan hidup atau apa yang sekarang sangat popular dengan istilah “LIFE SKILL”.</p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah</p>
<p>Konsep pendidikan yang bernama “LIFE SKILL” atau “Kecakapan Hidup” itu  dicetuskan oleh pakar pendidikan Barat, baru pada awal tahun 2000 lalu. Konsep ini  diamini dan oleh para Pakar Pendidikan Indonesia yang kuliah di Amerika untuk di gulirkan sebagai konsep unggulan di Indonesia. Konsep pendidikan “life skill” ala Barat tersebut, menurut pakarnya  meliputi: i)kecakapan adaptasi diri, ii) kecakapan komunikasi, iii) kecakapan memilih dan memilah masalah, iv)kecakapan mengambil keputusan, v) kecakapan personal dan sosial.</p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah<br />
Ternyata konsep pendidikan “life skill” yang digagas oleh pakar pendidikan Barat 10 tahun yang lalu itu, telah dilaksanakan di Ranah Minang oleh para jenius cendekiawan-cadiak pandai,  ninik mamak kita beberapa abad yang lalu, yaitu melalui pendidikan di Surau.<br />
Dengan perkataan lain, kita boleh berbangga hati bahwa pendidikan “life skill” melalui Surau ternyata telah ada  3 abad lebih, mendahului konsep pendidikan ala barat yang disebut dengan “life skill education” yang baru digagas di tahun 2000-an itu.</p>
<p>Oleh karena itu, rasanya sangat beralasan, bila  kita mempertanyakan, bagaimanakah kini eksistensi SURAU sebagai lembaga pendidikan yang sudah terbukti  berhasil pada jamannya. Bagaimanakah kondisinya kini ditengah era globalisasi, ditengah adanya penetrasi  budaya  Barat yang hadir begitu jauh dalam kehidupan kita melalui kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi.<br />
Timbul sebuah pertanyaan yang mergelitik, Apakah iya ? fungsi surau sebagai sentra pendidikan yang  juga berbasis pada  “TIGO TUNGKU SAJARANGAN”, yaitu berbasis pada “OTAK (akademik), HATI (akhlak mulia) dan  TANGAN (keterampilan), seperti yang pernah digagas dan dijalankan oleh Angku Muhammad Syafei di INS Kayutanam tahun pada 1926, telah hilang kiprahnya  di dunia pendidikan di Ranah Minang.</p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah<br />
Saat sekarang ini sedang digulir Gerakan Kembali ke Surau, tujuannya adalah untuk membangkitkan atau menggiatkan lagi atau merevitalisasi  fungsi surau sebagai pusat keislaman (Islamic Center), seperti tempo dulu, dengan maksud agar generasi muda mampu menghadapi  penetrasi budaya asing yang demikian besar dampak buruknya terhadap kehidupan Islami yang menjadi ciri masyarakat Minang. </p>
<p>Hadirin yang dimuliakan Allah<br />
Gagasan kembali ke Surau, ditengah kegamangan kita menghadapi era globasi yang ditandai dengan mudahnya teknologi komunikasi dan informasi masuk ke rumah kita, dengan dampak baik dan buruknya,  sangat perlu kiranya kita dukung.  Kita perlu menggali kembali keunggulan pendidikan berciri  Surau. Yaitu sebuah konsep pendidikan keislaman yang berbasis kearifan lokal ala Alam Minangkabau, yang telah terbukti mampu membekali keterampilan hidup atau life skill bagi lulusannya.<br />
Untuk itu beberapa langkah yang bisa, kita lakukan adalah:</p>
<p>•	Pertama: Menginventarisir jumlah surau -surau yang masih ada di setiap kampung di setiap  nagari<br />
•	Kedua: Membuat kajian atas kondisi surau-surau yang ada, dilihat dari kondisi fisik, pengelolaan, guru dan peserta  didik  yang ada.<br />
•	Ketiga: Membentuk dan Meningkatkan forum koordinasi atau majelis quro antara surau di dalam suatu nagari, sampai terbentuk koordinasi setingkat Propinsi.<br />
•	Ke empat :Mengikutsertakan peran Pengurus Masjid (DKM), Ninik Mamak (KAN), Majelis Ulama (MUI), para tokoh pendidik, tokoh orpol dan ormas Islam dalam rencana pengembangan SURAU MODERN di Ranah Minang.<br />
•	Kelima : Sesuai dengan UUD 1945 bahwa pendidikan adalah menjadi tugas negara, maka program  pengembangan dan pengelolaan SURAU MODERN mestinya tercermin dalam APBN  dalam APBD Kabupaten/ Kota.” src=”<a href=https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc7/c0.0.403.403/p403x403/481494_4970941831147_743086159_n.jpg&#8221; height=”403″ width=”403″ />

Minangkabau dan Sistim Kekerabatan .. Sumbangan Pikiran untuk Kompilasi ABSSBK, oleh BuyaHMA (Bagian Pertama)

MINANGKABAU DAN SISTIM KEKERABATAN
Hubungan Kekeluargaan Minangkabau, bersuku ke ibu, bersako ke mamak, dan bernasab ke ayah

Oleh : H Mas’oed Abidin

MINANGKABAU DALAM SEJARAH DAN TAMBO
1. Asal usul manusia Minangkabau

Kata Minangkabau mengandung banyak pengertian. Minangkabau dipahamkan sebagai sebuah kawasan budaya, di mana penduduk dan masyarakatnya menganut budaya Minangkabau. Kawasan budaya Minangkabau mempunyai daerah yang luas. Batasan untuk kawasan budaya tidak dibatasi oleh batasan sebuah propinsi. Berarti kawasan budaya Minangkabau berbeda dengan kawasan administratif Sumatera Barat.

Minangkabau dipahamkan pula sebagai sebuah nama dari sebuah suku bangsa, suku Minangkabau. Mempunyai daerah sendiri, bahasa sendiri dan penduduk sendiri.

Minangkabau dipahamkan juga sebagai sebuah nama kerajaan masa lalu, Kerajaan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung.  Sering disebut juga kerajaan Pagaruyung, yang mempunyai masa pemerintahan yang cukup lama, dan bahkan telah mengirim utusan-utusannya sampai ke negeri Cina. Banyaknya pengertian yang dikandung kata Minangkabau, maka tidak mungkin melihat Minangkabau dari satu pemahaman saja.

Membicarakan Minangkabau secara umum mendalami sebuah suku bangsa dengan latar belakang sejarah, adat, budaya, agama, dan segala aspek kehidupan masyarakatnya. Mengingat hal seperti itu, ada dua sumber yang dapat dijadikan rujukan dalam mengkaji Minangkabau, yaitu sumber dari sejarah dan sumber dari tambo. Kedua sumber ini sama penting, walaupun di sana sini, pada keduanya ditemui kelebihan dan kekurangan, namun dapat pula saling melengkapi.

Menelusuri sejarah tentang Minangkabau, sebagai satu cabang dari ilmu pengetahuan, maka mesti didasarkan bukti-bukti yang jelas dan otentik. Dapat berupa peninggalan-peninggalan masa lalu, prasasti-prasasti, batu tagak (menhir), batu bersurat, naskah-naskah dan catatan tertulis lainnya. Dalam hal ini, ternyata bukti sejarah lokal Minangkabau termasuk
sedikit.

Banyak catatan dibuat oleh pemerintahan Hindia Belanda (Nederlandsche Indie), tentang Minaangkabau atau Sumatera West Kunde, yang amat memerlukan kejelian di dalam meneliti. Hal ini disebabkan, catatan-catatan dimaksud dibuat untuk kepentingan pemerintahan Belanda, atau keperluan dagang oleh Maatschappij Koningkliyke VOC.

Tambo atau uraian mengenai asal usul orang Minangkabau dan menerakan hukum-hukum adatnya, termasuk sumber yang mulai langka di wilayah Minangkabau sekarang. Sungguhpun, penelusuran tambo sulit untuk dicarikan rujukan seperti sejarah, namun apa yang disebut dalam tambo masih dapat dibuktikan ada dan bertemu di dalam kehidupan masyarakat
Minangkabau.

Tambo diyakini oleh orang Minangkabau sebagai peninggalan orangorang tua. Bagi orang Minangkabau, tambo dianggap sebagai sejarah kaum. Walaupun, di dalam catatan dan penulisan sejarah sangat diperhatikan penanggalan atau tarikh dari sebuah peristiwa, serta di mana kejadian, bagaimana terjadinya, bila masanya, dan siapa pelakunya, menjadikan penulisan sejarah otentik. Sementara tambo tidak terlalu mengutamakan penanggalan, akan tetapi menilik kepada peristiwanya. Tambo lebih bersifat sebuah kisah, sesuatu yang pernah terjadi dan berlaku. Tentu saja, bila kita mempelajari tambo kemudian mencoba mencari rujukannya sebagaimana sejarah, kita akan mengalami kesulitan dan bahkan dapat membingungkan. Sebagai contoh; dalam tambo Minangkabau tidak ditemukan secara jelas nama Adhytiawarman, tetapi dalam sejarah nama itu adalah nama raja Minangkabau yang pertama berdasarkan buktibukti prasasti.

Dalam hal ini sebaiknya sikap kita tidak memihak, artinya kita tidak menyalahkan tambo atau sejarah. Sejarah adalah sesuatu yang dipercaya berdasarkan bukti-bukti yang ada, sedangkan tambo adalah sesuatu yang diyakini berdasarkan ajaran-ajaran yang terus diturunkan kepada anak kemenakan.

Minangkabau menurut sejarah

Banyak ahli telah meniliti dan menulis tentang sejarah Minangkabau, dengan pendapat, analisa dan pandangan yang berbeda. Tetapi pada umumnya mereka membagi beberapa periode kesejarahan; Minangkabau zaman sebelum Masehi, zaman Minangkabau Timur dan zaman kerajaan Pagaruyung. Seperti yang ditulis MD Mansur dkk dalam Sejarah Minangkabau, bahwa zaman sejarah Minangkabau pada zaman sebelum Masehi dan pada zaman Minangkabau Timur hanya dua persen saja yang punya nilai sejarah, selebihnya adalah mitologi, cerita-cerita yang diyakini sebagai tambo.

Prof. Slamet Mulyana dalam Kuntala, Swarnabhumi dan Sriwijaya mengatakan bahwa kerajaan Minangkabau itu sudah ada sejak abad pertama Masehi. Kerajaan itu muncul silih berganti dengan nama yang berbeda-beda. Pada mulanya muncul kerjaan Kuntala dengan lokasi sekitar daerah Jambi pedalaman. Kerajaan ini hidup sampai abad ke empat. Kerajaan ini
kemudian berganti dengan kerajaan Swarnabhumi pada abad ke lima sampai ke tujuh sebagai kelanjutan kerajaan sebelumnya. Setelah itu berganti dengan kerajaan Sriwijaya abad ke tujuh sampai 14. Mengenai lokasi kerajaan ini belum terdapat kesamaan pendapat para ahli. Ada yang mengatakan sekitar Palembang sekarang, tetapi ada juga yang mengatakan antara Batang Batang Hari dan Batang Kampar. Candi Muara Takus merupakan peninggalan kerajaan Kuntala yang kemudian diperbaiki dan diperluas sampai masa kerajaan Sriwijaya. Setelah itu muncul kerajaan Malayapura (kerajaan Melayu) di daerah yang bernama Darmasyraya (daerah Sitiung dan sekitarnya sekarang). Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari kerajaan Sriwijaya. Kerajaan ini kemudian dipindahkan oleh Adhytiawarman ke Pagaruyung. Sejak itulah kerajaan itu dikenal dengan kerajaan Pagaruyung.

Menurut Jean Drakar dari Monash University Australia mengatakan bahwa kerajaan Pagaruyung adalah kerajaan yang besar, setaraf dengan kerajaan Mataram dan kerajaan Melaka. Itu dibuktikannya dengan banyaknya negeri-negeri di Nusantara ini yang meminta raja ke Pagaruyung, seperti Deli, Siak, Negeri Sembilan dan negeri-negeri lainnya.

Minangkabau menurut tambo

Dalam bentuk lain, tambo menjelaskan pula tentang asal muasal orang Minangkabau. Tambo adalah satu-satunya keterangan mengenai sejarah Minangkabau. Bagi masyarakat Minangkabau, tambo mempunyai arti penting, karena di dalamtambo terdapat dua hal;

(1) Tambo alam, suatu kisah yang menerangkan asal usul orang Minangkabau semenjak raja pertama datang sampai kepada masa kejayaan kerajaan Pagaruyung.

(2) Tambo adat, uraian tentang hukum-hukum adat Minangkabau. Dari sumber inilah hukum-hukum, aturan-aturan adat, dan juga berawalnya sistem matrilineal dikembangkan.

Di dalam Tambo alam diterangkan bahwa raja pertama yang datang ke Minangkabau bernama Suri Maharajo Dirajo. Anak bungsu dari Iskandar Zulkarnain. Sedangkan dua saudaranya, Sultan Maharaja Alif menjadi raja di benua Rum dan Sultan Maharajo Dipang menjadi raja di benua Cina. Secara tersirat tambo telah menempatkan kerajaan Minangkabau setaraf dengan kerajaan di benua Eropa dan Cina. Suri Maharajo Dirajo datang ke Minangkabau ini, di dalam Tambo disebut pulau paco lengkap dengan pengiring yang yang disebut; Kucing Siam, Harimau Campo, Anjiang Mualim, Kambiang Hutan.

Masing-masing nama itu kemudian dijadikan “lambang” dari setiap luhak di Minangkabau. Kucing Siam untuk lambang luhak Tanah Data, Harimau Campo untuk lambang luhak Agam dan Kambiang hutan untuk lambang luhak Limo Puluah. Suri Maharajo Dirajo mempunya seorang penasehat ahli yang bernama Cati Bilang Pandai.

Suri Maharajo Dirajo meninggalkan seorang putra bernama Sutan Maharajo Basa yang kemudian dikenal dengan Datuk Katumanggungan pendiri sistem kelarasan Koto Piliang. Puti Indo Jalito, isteri Suri Maharajo Dirajo sepeninggalnya kawin dengan Cati Bilang Pandai dan melahirkan tiga orang anak, Sutan Balun, Sutan Bakilap Alam dan Puti Jamilan. Sutan Balun
kemudian dikenal dengan gelar Datuk Perpatih Nan Sabatang pendiri kelarasan Bodi Caniago.

Datuk Katumanggungan meneruskan pemerintahannya berpusat di Pariangan Padang Panjang kemudian mengalihkannya ke Bungo Sitangkai di Sungai Tarab sekarang, dan menguasai daerah sampai ke Bukit Batu Patah dan terus ke Pagaruyung.

Maka urutan kerajaan di dalam Tambo Alam Minangkabau adalah;
(1)Kerajaan Pasumayan Koto Batu,
(2)Kerajaan Pariangan Padang Panjang
(3)Kerajaan Dusun Tuo yang dibangun oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang
(4)Kerajaan Bungo Sitangkai
(5)Kerajaan Bukit Batu Patah dan terakhir
(6)Kerajaan Pagaruyung.

Menurut Tambo Minangkabau, kerajaan yang satu adalah kelanjutan dari kerajaan sebelumnya. Karena itu, setelah adanya kerajaan Pagaruyung, semuanya melebur diri menjadi kawasan kerajaan Pagaruyung.
Kerajaan Dusun Tuo yang didirikan oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang, karena terjadi perselisihan paham antara Datuk Ketumanggungan dengan Datuk Perpatih nan Sabatang, maka kerajaan itu tidak diteruskan, sehingga hanya ada satu kerajaan saja yaitu kerajaan Pagaruyung. Perbedaan paham antara kedua kakak beradik satu ibu ini yang menjadikan sistem
pemerintahan dan kemasyarakatan Minangkabau dibagi atas dua kelarasan, Koto Piliang dan Bodi Caniago.

Dari uraian tambo dapat dilihat, bahwa awal dari sistem matrilineal telah dimulai sejak awal, yaitu dari “induknya” Puti Indo Jalito. Dari Puti Indo Jalito inilah yang melahirkan Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang. Namun, apa yang diuraikan setiap tambo punya berbagai variasi, karena setiap nagari punya tambo.

Dr. Edward Jamaris yang membuat disertasinya tentang tambo, sangat sulit menenyukan pilihan. Untuk keperluan itu, dia harus memilih salah satu tambo dari 64 buah tambo yang diselidikinya. Namun pada umumnya tambo menguraikan tentang asal usul orang Minangkabau sampai terbentuknya kerajaan Pagaruyung.

ASAL KATA MINANGKABAU

Kata Minangkabau mempunyai banyak arti. Merujuk kepada penelitian kesejarahan, beberapa ilmuan telah mengemukakan pendapatnya tentang asal kata Minangkabau.

a. Purbacaraka (dalam buku Riwayat Indonesia I) Minangkabau berasal dari kata Minanga Kabawa atau Minanga Tamwan yang maksudnya adalah daerah-daerah disekitar pertemuan dua sungai; Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Hal ini dikaitkannya dengan adanya candi Muara Takus yang didirikan abad ke 12.

b. Van der Tuuk mengatakan kata Minangkabau berasal dari kata Phinang Khabu yang artinya tanah asal.
c. Sutan Mhd Zain mengatakan kata Minangkabau berasal dari Binanga Kamvar maksudnya muara Batang Kampar.
d. M.Hussein Naimar mengatakan kata Minangkabau berasal dari kata Menon Khabu yang artinya tanah pangkal, tanah yang mulya.
e. Slamet Mulyana mengatakan kata Minangkabau berasal dari kata Minang Kabau. Artinya, daerah-daerah yang berada disekitar pinggiran sungaisungai yang ditumbuhi batang kabau (jengkol).

Dari berbagai pendapat itu dapat disimpulkan bahwa Minangkabau itu adalah suatu wilayah yang berada di sekitar muara sungai yang didiami oleh orang Minangkabau.

Namun dari Tambo, kata Minangkabau berasal dari kata Manang Kabau. Menang dalam adu kerbau antara kerbau yang dibawa oleh tentara Majapahit dari Jawa dengan kerbau orang Minang.

WILAYAH ASAL MINANGKABAU

Membicarakan tentang wilayah Minangkabau, seperti yang dijelaskan di atas, harus dilihat dalam dua pengertian yang masing-masingnya berbeda;
1. Pengertian budaya
2. Pengertian geografis
Dalam pengertian budaya, wilayah Minangkabau itu itu adalah suatu wilayah yang didukung oleh suatu masyarakat yang kompleks, yang bersatu bersamaan persamaan asal usul, adat, dan falsafah hidup.
Menurut tambo, wilayah Minangkabau disebutkan saedaran gunuang Marapi, salareh batang Bangkaweh, sajak Sikilang Aie Bangih, lalu ka gunuang Mahalintang, sampai ka Rokan Pandalian, sajak di Pintu Rayo Hilie, sampai Si Alang Balantak Basi, sajak Durian Ditakuak Rajo, lalu ka Taratak Aie Hitam, sampai ka Ombak Nan Badabua.

Mengenai batas-batas yang disebutkan di atas, berbagai penafsiran terjadi.
Ada yang mengatakan bahwa batas-batas itu adalah simbol-simbol saja tetapi wilayah itu tidak ada yang jelas dan tepat, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa batas-batas itu adalah benar dan nagari-nagari yang disebutkan itu ada sampai sekarang. Dalam hal ini tentu kita tidak perlu melihat perbedaan-perbedaan pendapat tersebut, karena kedua-dua
pendapat itu ada benarnya.

Dalam pengertian geografis, wilayah Minangkabau terbagi atas wilayah inti yang disebut darek dan wilayah perkembangannya yang disebut rantau dan pesisir.

a. Darek
Daerah dataran tinggi di antara pegunungan Bukit Barisan; di sekitar gunung Singgalang, sekitar gunung Tandikek, sekitar gunung Merapi dan sekitar gunung Sago. Daerah darek ini dibagi dalam tiga luhak;

(1) Luhak Tanah Data sebagai luhak nan tuo, buminyo nyaman, aienyo janiah ikannyo banyak,

(2) Luhak Agam sebagai luhak nan tangah, buminyo anegk, aienyo karuah, ikannyo lia,

(3) dan Luhak Limo Puluah Koto sebagai luhak nan bongsu, buminyo sajuak, aienyo janiah, ikannyo jinak.

Nagari-nagari yang termasuk ke dalam luhak Tanah Data adalah; Pagaruyung, Sungai tarab, Limo Kaum, Sungayang, Saruaso, Sumanik, Padang Gantiang, Batusangka, Batipuh 10 koto, Lintau Buo, Sumpur Kuduih, Duo puluah koto, Koto Nan Sambilan, Kubuang Tigobaleh, Koto Tujuah, Supayang, Alahan Panjang, Ranah Sungai Pagu.

Nagari-nagari yang termasuk ke dalam luhak Agam adalah; Agam tuo, Tujuah lurah salapan koto, Maninjau, Lawang, Matua, Ampek Koto, Anam Koto, Bonjol, Kumpulan, Suliki.

Nagari-nagari yang termasuk ke dalam luhak Limo Puluah Koto adalah; luhak terdiri dari Buaiyan Sungai Balantik, Sarik Jambu Ijuak, Koto Tangah, Batuhampa, Durian gadang, Limbukan, Padang Karambie, Sicincin, Aur Kuniang, Tiakar, Payobasuang, Bukik Limbuku, Batu Balang Payokumbuah, Koto Nan Gadang (dari Simalanggang sampai Taram); ranah terdiri dari Gantiang, Koto Laweh, Sungai Rimbang, Tiakar, Balai Mansiro, Taeh Simalanggang, Piobang, Sungai Baringin, Gurun, Lubuk Batingkok, Tarantang, Selo Padang Laweh (Sajak dari Simalanggang sampai Tebing Tinggi, Mungkar); Lareh terdiri dari Gaduik, Tebing Tinggi, Sitanang, Muaro Lakin, Halaban, Ampalu, Surau, Labuah Gurun ( dari taram taruih ka Pauh Tinggi, Luhak 50, taruih ka Kuok, Bangkinang, Salo, Aie Tirih dan Rumbio)

b. Rantau.
Daerah pantai timur Sumatera. Ke utara luhak Agam; Pasaman, Lubuk Sikaping dan Rao. Ke selatan dan tenggara luhak Tanah Data; Solok Silayo, Muaro Paneh, Alahan Panjang, Muaro Labuah, Alam Surambi Sungai Pagu, Sawah lunto Sijunjung, sampai perbatasan Riau dan Jambi. Daerah ini disebut sebagai ikue rantau.
Kemudian rantau sepanjang iliran sungai sungai besar; Rokan, Siak, Tapung, Kampar, Kuantan/Indragiri dan Batang Hari. Daerah ini disebut Minangkabau Timur yang terdiri dari;
a) Rantau 12 koto (sepanjang Batang Sangir); Nagari Cati nan Batigo (sepanjang Batang Hari sampai ke Batas Jambi), Siguntue (Sungai Dareh), Sitiuang, Koto Basa.

b) Rantau Nan Kurang Aso Duopuluah (rantau Kuantan)

c) Rantau Bandaro nan 44 (sekitar Sungai Tapuang dengan Batang Kampar)

d) Rantau Juduhan (rantau Y.D.Rajo Bungsu anak Rajo Pagaruyung; Koto Ubi, Koto Ilalang, Batu Tabaka)

e) NegeriSembilan


c. Pesisir
Daerah sepanjang pantai barat Sumatera. Dari utara ke selatan; Meulaboh, Tapak Tuan, Singkil, Sibolga, Sikilang, Aie Bangih, Tiku, Pariaman, Padang, Bandar Sapuluah, terdiri dari; Air Haji, Balai Salasa, Sungai Tunu, Punggasan, Lakitan, Kambang, Ampiang Parak, Surantiah, Batang kapeh, Painan (Bungo Pasang), seterusnya Bayang nan Tujuah, Indrapura,Kerinci,Muko-muko,Bengkulu.


SISTIM KEMASAYARAKATAN/KELARASAN

Sistim kemasyarakatan atau yang dikenal sebagai sistem kelarasan merupakan dua instisusi adat yang dibentuk semenjak zaman kerajaan Minangkabau/Pagaruyung dalam mengatur pemerintahannya. Bahkan ada juga pendapat yang mengatakan, penyusunan itu dilakukan sebelum berdirinya kerajaan Pagaruyung.

Kedua institusi tersebut masih tetap dijalankan oleh masyarakat adat Minangkabau sampai sekarang. Keberadaan dan peranannya sudah menjadi bakuan sosial atau semacam tatanan budaya yang diakui dan menjadi rujukan dalam menjalankan dan membicarakan tatanan adat alam Minangkabau.

Kedua institusi itu tidak berdiri keduanya begitu saja. Dalam sebuah tatanan pemerintahan, kedua institusi tersebut berjalan searah dengan instisuti lainnya atau lembaga-lembaga lainnya. Lembaga-lembaga tersebut terdiri dari: Rajo Tigo Selo; yang terdiri dari Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat.

Rajo Tigo Selo berasal dari keturunan yang sama. Hanya penempatan, tugas serta kedudukannya yang berbeda.


KEDUDUKAN/TEMPAT TINGGAL

Raja Alam di Pagaruyung, Raja Adat di Buo dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus.
Daerah-daerah rantau barat dan timur merupakan daerah yang berada langsung di bawah raja, dengan mengangkat “urang gadang” atau “rajo kaciak” pada setiap daerah. Mereka setiap tahun menyerahkan “ameh manah” kepada raja.

Daerah-daerah yang langsung berada di bawah pengawasan raja Daerah-daerah rantau tersebut adalah:

Rantau pantai timur
1. Rantau nan kurang aso duo puluah (di sepanjang Batang Kuantan) disebut juga Rantau Tuan Gadih.
2. Rantau duo baleh koto (sepanjang batang Sangir) disebut juga Nagari Cati Nan Batigo.
3. Rantau Juduhan (kawasan Lubuk Gadang dan sekitarnya) disebut juga Rantau Yang Dipertuan Rajo Bungsu
4. Rantau Bandaro nan 44 (sekitar Sei.Tapung dan Kampar)
5. Negeri Sembilan

Rantau pantai barat:
1. Bayang nan 7, Tiku Pariaman, Singkil Tapak Tuan disebut juga Rantau Rajo
2. Bandar X disebut juga Rantau Rajo Alam Surambi Sungai Pagu.

PERANGKAT RAJA
Basa Ampek Balai.
Dalam menjalankan pemerintahan, raja dibantu oleh 4 orang menterinya yang disebut Basa Ampek Balai dan seorang Panglima Perang, Tuan Gadang Batipuh.

Datuk Nan Batujuh
Di daerah kedudukan (tempat raja menetap/tinggal), setiap raja mempunyai perangkat penghulu tersendiri untuk mengurus masalah masalah daerah kedudukan dan kerumah tanggaan. Datuk Nan Batujuh, yang mengurus segala
hal tentang wilayah raja (Pagaruyung). Datuk Nan Barampek di Balai Janggo yang mengurus segala hal tentang kerumahtanggaan.

Pada mulanya, datuk-datuk ini diangkat oleh raja. Jadi, datuk-datuk ini berbeda dengan datuk-datuk di nagari-nagari lainnya. Datuk di nagari lainnya merupakan pimpinan kaum, sedangkan datuk-datuk ini perangkat raja.

Datuk-datuk tepatan raja pada wilayah atau nagari-nagari tertentu ada datuk-datuk yang ditunjuk untuk perpanjangan tangan raja, tempat tepatan raja.

SISTEM SISTEM KELARASAN KELARASAN

1. Kelarasan Koto Piliang (yang menjalankan pemerintahan) yang dipimpin oleh Datuk Bandaro Putih Pamuncak Koto Piliang berkedudukan di Sungai Tarab. Hirarki dalam kelarasan Koto Piliang mempunyai susunan seperti di atas yang disebut; bajanjang naiak batanggo turun, dengan prinsip pengangkatan penghulu-penghulunya; patah tumbuah.

2. Kelarasan Bodi Caniago (yang menjalankan persidangan) yang dipimpin oleh Datuk Bandaro Kuniang, Gajah Gadang Patah Gadiang berkedudukan di Limo Kaum. Hirarki dalam kelarasan Bodi Caniago mempunyai susunan yang disebut;
duduak samo randah tagak samo tinggi.

Kedudukan raja terhadap kedua kelarasan
Kedudukan raja berada di atas dua kelarasan; Koto Piliang dan Bodi Caniago.
Bagi kelarasan Koto Piliang, kedudukan raja di atas segalanya. Sedangkan bagi Kelarasan Bodi Caniago kedudukan raja adalah symbolik sebagai pemersatu.


TEMPAT EMPAT PERSIDANGAN PERSIDANGAN

1. Balai Panjang.
Tempat persidangan untuk semua lembaga; Raja, Koto Piliang, Bodi Caniago, Rajo-rajo di rantau berada di Balai Panjang, Tabek Sawah Tangah.

2. Balairung
Tempat persidangan raja dengan basa-basa disebut Balairung. Medan nan bapaneh Tempat persidangan kelarasan koto piliang disebut Medan Nan Bapaneh dipimpin Pamuncak Koto Piliang, Datuk Bandaro Putih

4. Medan nan Balinduang
Tempat persidangan kelarasan bodi caniago disebut Medan Nan Balinduang dipimpin oleh Pucuak Bulek Bodi Caniago, Datuk Bandaro Kuniang.

5. Balai Nan Saruang
Tempat persidangan Datuk Badaro Kayo di Pariangan disebut Balai Nan Saruang

LAREH NAN DUO

Lareh atau sistem, di dalam adat dikenal dengan dua; Lareh Nan Bunta dan Lareh nan Panjang. Lareh nan Bunta lazim juga disebut Lareh Nan Duo, yang dimaksudkan adalah Kelarasan Koto Piliang yang disusun oleh Datuk Ketumanggungan dan Kelarasan Bodi Caniago oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang.

Sedangkan Lareh nan Panjang di sebut; Bodi Caniago inyo bukan, Koto Piliang inyo antah disusun oleh Datuk Suri Nan Banego-nego.(disebut juga Datuk Sikalab Dunia Nan Banego-nego) Namun yang lazim dikenal hanyalah dua saja, Koto Piliang dan Bodi Caniago.

Kedua sistem (kelarasan) Koto Piliang dan Bodi Caniago adalah dua sistem yang saling melengkapi dan memperkuat. Hal ini sesuai dengan sejarah berdirinya kedua kelarasan itu. Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang kakak adik lain ayah, sedangkan Datuk Suri Nan Banego-nego adalah adik dari Datuk Perpatih Nan Sabatang.

Di dalam tambo disebutkan;
Malu urang koto piliang, malu urang bodi caniago.

Di dalam mamangan lain dikatakan:
Tanah sabingah lah bapunyo, rumpuik sahalai lah bauntuak
Malu nan alun kababagi.

A. KELARASAN KOTO PILIANG

Dipimpin oleh Datuk Bandaro Putiah
Roda pemerintahan dijalankan dalam sistem Koto Piliang, yang dalam hal ini dijalankan oleh Basa Ampek Balai:
1. Panitiahan – berkedudukan di Sungai Tarab – Pamuncak Koto Piliang
2. Makhudum – berkedudukan di Sumanik – Aluang bunian Koto Piliang
3. Indomo – berkedudukan di Saruaso – Payung Panji Koto Piliang
4. Tuan Khadi – berkedudukan di Padang Ganting – Suluah Bendang Koto Piliang (Ditambah seorang lagi yang kedudukannya sama dengan Basa Ampek Balai)
5. Tuan Gadang – berkedudukan di Batipuh – Harimau Campo Koto Piliang.

Setiap Basa, mempunyai perangkat sendiri untuk mengurus masalah masalah daerah kedudukannya.
Setiap basa membawahi beberapa orang datuk di daerah tempat kedudukannya, tergantung kawasannya masing-masing. (Ada yang 9 datuk seperti Sungai Tarab, 7 datuk seperti di Saruaso dll).

Setiap Basa diberi wewenang oleh raja untuk mengurus wilayah-wilayah tertentu, untuk memungut ameh manah, cukai, pengaturan wilayah dan sebagainya. Misalnya;
a) Datuk Bandaro untuk daerah pesisir sampai ke Bengkulu
b) Makhudum untuk daerah pesisir timur sampai ke Negeri Sembilan
c) Indomo untuk daerah pesisir barat utara.
d) Tuan Kadi untuk daerah Minangkabau bagian selatan.

Pada setiap nagari, ada beberapa penghulu yang berada di bawah setiap basa yang mengepalai nagari-nagari tersebut. Masing-masing unsur (elemen) dari perangkat adat ini banyak diubah dan berubah akibat ekspansi pemerintahan Belanda dalam mencampuri urusan hukum adat. Namun “batang” dari sistem ini tetap diikuti sampai sekarang.

LANGGAM NAN TUJUAH  (7 daerah istimewa)

Di dalam sistem pemerintahan itu, ada daerah-daerah istimewa yang dipimpin oleh seorang penghulu yang langsung berada di bawah kuasa raja. Dia tidak berada di bawah Basa 4 Balai.

Daerah-daerah istimewa ini mempunyai fungsi dan kedudukan tersendiri dan sampai sekarang masih dijalankan.

Langgam nan tujuh itu terdiri dari tujuh daerah/wilayah dengan gelar kebesarannya masing-masing:
1. Pamuncak Koto Piliang. Daerahnya Sungai Tarab salapan batu

2. Gajah Tongga Koto Piliang. Daerahnya Silingkang & Padang Sibusuak

3. Camin Taruih Koto Piliang. Daerahnya Singkarak & Saningbaka

4. Cumati Koto Piliang. Daerahnya Sulik Aie & Tanjuang Balik

5. Perdamaian Koto Piliang. Daerahnya Simawang & Bukik Kanduang

6. Harimau Campo Koto Piliang. Daerahnya Batipuh 10 Koto

7. Pasak kungkuang Koto Piliang. Daerahnya Sungai Jambu & Labu Atan

SISTEM  YANG  DIPAKAI  DALAM  KELARASAN  KOTO  PILIANG


Memakai sistem cucua nan datang dari langik, kaputusan indak buliah dibandiang. Maksudnya; segala keputusan datang dari raja. Raja yang menentukan.

Bila persoalan timbul pada suatu kaum, kaum itu membawa persoalan kepada Basa Ampek Balai. Jika persoalan tidak putus oleh Basa Ampek Balai, diteruskan kepada Rajo Duo Selo. Urusan adat kepada Rajo Adat, dan urusan keagamaan kepada Rajo Ibadat.  Bila kedua rajo tidak dapat memutuskan, diteruskan kepada Rajo Alam. Maka Rajo Alamlah yang memutuskan.

Karena itu dalam kelarasan ini hirarkinya adalah sebagai berikut; kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka Basa Ampek Balai, Basa Ampek Balai ka Rajo Duo Selo.

KELARASAN BODI CANIAGO

Dipimpin oleh Datuk Bandaro Kuniang, Gajah Gadang Patah Gadiang di Limo Kaum.
Di bawahnya disebut Datuak Nan Batigo; Datuk nan di Dusun Tuo, Datuk nan di Paliang, Datuk nan Kubu Rajo. (Nama-nama Datuk tak disebutkan, karena mereka memakai sistem “gadang balega”, pimpinan dipilih berdasarkan kemufakatan (Hilang Baganti).

Kelarasan Bodi Caniago, juga mempunyai daerah setaraf Langgam Nan Tujuh dalam kelarasan Koto Piliang, yang disebut Tanjuang nan ampek, lubuak nan tigo (juga tujuh daerah khusus dengan tujuh penghulu/pucuak buleknyo)

  1. Tanjuang Bingkuang (Limo kaum dan sekitarnya).
  2. Tanjung Sungayang,
  3. Tanjuang Alam,
  4. Tanjuang Barulak,
  5. Lubuk Sikarah,
  6. Lubuk Sipunai,
  7. Lubuk Simawang

 

SISTEM  YANG  DIPAKAI  DALAM  KELARASAN BODI CANIAGO

Memakai sistem nan mambusek dari tanah, nan tumbuah dari bawah. Kaputusan buliah dibandiang. Nan luruih buliah ditenok, nan bungkuak buliah dikadang. Maksudnya; segala keputusan ditentukan oleh sidang kerapatan para penghulu. Keputusan boleh dibanding, dipertanyakan dan diuji kebenarannya.

Bila persoalan timbul pada suatu kaum, kaum itu membawa persoalan kepada Datuak nan Batigo di Limo Kaum. Karena itu dalam kelarasan ini hirarkinya adalah sebagai berikut; kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka mupakaik, nan bana badiri sandirinyo.

LAREH NAN PANJANG

Dipimpin oleh Datuk Bandaro Kayo. Selain itu pula, ada satu lembaga lain yang dipimpin oleh Datuk Badaro Kayo yang berkedudukan di Pariangan Padang Panjang. Tugasnya menjadi juru damai sekiranya terjadi pertikaian antara Datuk Badaro Putiah di Sungai Tarab (Koto Piliang) dengan Datuk Bandaro Kuniang (Bodi Caniago). Dia bukan dari kelarasan Koto Piliang atau Bodi Caniago, tetapi berada antara keduanya. Di dalam pepatah adat disebutkan:
Pisang sikalek-kalek utan
Pisang simbatu nan bagatah
Bodi Caniago inyo bukan
Koto piliang inyo antah

Daerah kawasannya disebut : 8 Koto Di ateh, 7 Koto Di bawah, batasan wilayahnya disebutkan Sajak dari guguak Sikaladi Hilie, sampai ka Bukik Tumasu Mudiak, Salilik Batang Bangkaweh.

8 Koto Di ateh terdiri dari; Guguak, Sikaladi, Pariangan, Pd.Panjang, Koto Baru, Sialahan, Koto Tuo, Batu Taba.

7 Koto Di bawah terdiri dari; Galogandang, Padang Lua, Turawan, Balimbiang, Kinawai, Sawah Laweh, Bukik Tumasu.
Dengan demikian, ada tiga Datuk Bandaro di dalam daerah kerajaan itu.

Kemudian disusul dengan adanya Datuk Bandaro Hitam yang juga punya fungsi sama seperti Datuk Bandaro Putiah, dengan kedudukan di wilayah Minangkabau bagian selatan (Jambu Limpo dllnya).

PENGHULU

Penghulu pada setiap kaum yang ada di nagari-nagari masing-masingnya punya perangkat tersendiri pula dalam mengatur kaumnya. Perangkat itu terdiri dari: Manti, Malin, Dubalang. Mereka berempat disebut pula Urang nan ampek jinih.

Setiap rumah gadang, punya seorang mamak yang mengatur. Mamak yang mengatur rumah gadang tersebut Tungganai, atau mamak rumah. Dia juga bergelar datuk.

Nama Gelar Penghulu.
Nama gelar penghulu yang mula-mula hanya terdiri satu kata; Bandaro. Misalnya. Datuk Bandaro.

Pada lapis kedua, atau sibaran baju, nama datuk menjadi dua kata, untuk memisahkan sibaran yang satu dengan sibaran yang lain; Datuk Bandaro Putih, Datuk Badaro Kuniang, Datuk Bandaro Kayo dan Datuk Bandaro Hitam.

Apabila kemenakan Datuk Bandaro ini sudah semakin banyak, dan memerlukan seorang penghulu untuk mengatur mereka, maka mereka memecah lagi gelaran itu; Datuk Bandaro Lubuak Bonta misalnya, adalah sibaran pada peringkat ke empat dari gelar asalnya. Begitu seterusnya. Semakin panjang gelar Datuk itu, itu pertanda bahwa gelar itu adalah
sibaran dalam tingkat ke sekian.


SISTIM KEKELUARGAAN MATRILINEAL

Sistem matrilineal adalah suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu. Seorang anak laki-laki atau perempuan merupakan klen dari perkauman ibu. Ayah tidak dapat memasukkan anaknya ke dalam klennya sebagaimana yang berlaku dalam sistem patrilineal. Oleh karena itu, waris dan pusaka diturunkan menurut garis ibu pula.

Menurut Muhammad Radjab (1969) sistem matrilineal mempunyai ciricirinya sebagai berikut;
1. Keturunan dihitung menurut garis ibu.
2. Suku terbentuk menurut garis ibu
3. Tiap orang diharuskan kawin dengan orang luar sukunya (exogami)
4. Pembalasan dendam merupakan satu kewajiban bagi seluruh suku
5. Kekuasaan di dalam suku, menurut teori, terletak di tangan “ibu”, tetapi jarang sekali dipergunakan, sedangkan
6. Yang sebenarnya berkuasa adalah saudara laki-lakinya
7. Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami mengunjungi rumah istrinya
8. Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak kepada kemenakannya dan dari saudara laki-laki ibu kepada anak dari saudara perempuan.

Sistem kekerabatan ini tetap dipertahankan masyarakat Minangkabau sampai sekarang. Bahkan selalu disempurnakan sejalan dengan usaha menyempurnakan sistem adatnya. Terutama dalam mekanisme penerapannya di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu peranan seorang penghulu ataupun ninik mamak dalam kaitan bermamak berkemanakan sangatlah penting.

Bahkan peranan penghulu dan ninik mamak itu boleh dikatakan sebagai faktor penentu dan juga sebagai indikator, apakah mekanisme sistem matrilineal itu berjalan dengan semestinya atau tidak.

Jadi keberadaan sistem ini tidak hanya terletak pada kedudukan dan peranan kaum perempuan saja, tetapi punya hubungkait yang sangat kuat dengan institusi ninik mamaknya di dalam sebuah kaum, suku atau klen.
Sebagai sebuah sistem, matrilineal dijalankan berdasarkan kemampuan dan berbagai penafsiran oleh pelakunya; ninik-mamak, kaum perempuan dan anak kemenakan. Akan tetapi sebuah uraian atau perincian yang jelas dari pelaksanaan dari sistem ini, misalnya ketentuan-ketentuan yang pasti dan jelas tentang peranan seorang perempuan dan sanksi hukumnya kalau terjadi pelanggaran, ternyata sampai sekarang belum ada. Artinya tidak dijelaskan secara tegas tentang hukuman jika seorang Minang tidak menjalankan sistem matrilineal tersebut.

Sistem itu hanya diajarkan secara turun temurun kemudian disepakati dan dipatuhi, tidak ada buku rujukan atau kitab undang-undangnya. Namun begitu, sejauh manapun sebuah penafsiran dilakukan atasnya, pada hakekatnya tetap dan tidak beranjak dari fungsi dan peranan perempuan itu sendiri. Hal seperti dapat dianggap sebagai sebuah kekuatan sistem
tersebut yang tetap terjaga sampai sekarang.

Pada dasarnya sistem matrilineal bukanlah untuk mengangkat atau memperkuat peranan perempuan, tetapi sistem itu dikukuhkan untuk menjaga, melindungi harta pusaka suatu kaum dari kepunahan, baik rumah gadang, tanah pusaka dan sawah ladang.

Bahkan dengan adanya hukum faraidh dalam pembagian harta menurut Islam, harta pusaka kaum tetap dilindungi dengan istilah “pusako tinggi”, sedangkan harta yang boleh dibagi dimasukkan sebagai “pusako randah”.

Dalam sistem matrilineal perempuan diposisikan sebagai pengikat, pemelihara dan penyimpan, sebagaimana diungkapkan pepatah adatnya amban puruak atau tempat penyimpanan. Itulah sebabnya dalam penentuan peraturan dan perundang-undangan adat, perempuan tidak diikut sertakan. Perempuan menerima bersih tentang hak dan kewajiban di dalam adat yang telah diputuskan sebelumnya oleh pihak ninik mamak.

Perempuan menerima hak dan kewajibannya tanpa harus melalui sebuah prosedur apalagi bantahan. Hal ini disebabkan hak dan kewajiban perempuan itu begitu dapat menjamin keselamatan hidup mereka dalam kondisi bagaimanapun juga. Semua harta pusaka menjadi milik perempuan, sedangkan laki-laki diberi hak untuk mengatur dan mempertahankannya.
Perempuan tidak perlu berperan aktif seperti ninik mamak. Perempuan Minangkabau yang memahami konstelasi seperti ini tidak memerlukan lagi atau menuntut lagi suatu prosedur lain atas hak-haknya. Mereka tidak memerlukan emansipasi lagi, mereka tidak perlu dengan perjuangan gender, karena sistem matrilineal telah menyediakan apa yang sesungguhnya diperlukan perempuan.

Para ninik-mamak telah membuatkan suatu “aturan main” antara laki-laki dan perempuan dengan hak dan kewajiban yang berimbang antar sesamanya.

Oleh karena itulah institusi ninik-mamak menjadi penting dan bahkan sakral bagi kemenakan dan sangat penting dalam menjaga hak dan kewajiban perempuan. Keadaan seperti ini sudah berlangsung lama, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dengan segala plus minusnya.

Keunggulan dari sistem ini adalah, dia tetap bertahan walau sistem patrilineal juga diperkenalkan oleh Islam sebagai sebuah sistem kekerabatan yang lain pula. Sistim matrilieal tidak hanya jadi sebuah “aturan” saja, tetapi telah menjadi semakin kuat menjadi suatu budaya, way of live, kecenderungan yang paling dalam diri dari setiap orang Minangkabau.

Sampai sekarang, pada setiap individu laki-laki Minang misalnya, kecenderungan mereka menyerahkan harta pusaka, warisan dari hasil pencahariannya sendiri, yang seharusnya dibagi menurut hukum faraidh kepada anak-anaknya, mereka lebih condong untuk menyerahkannya kepada anak perempuannya.

Anak perempuan itu nanti menyerahkan pula kepada anak perempuannya pula. Begitu seterusnya. Sehingga Tsuyoshi Kato dalam disertasinya menyebutkan bahwa sistem matrilineal akan semakin menguat dalam diri orang-orang Minang walaupun mereka telah menetap di kota-kota di luar Minang sekalipun. Sistem matrilineal tampaknya belum akan meluntur sama sekali, walau kondisi-kondisi sosial lainnya sudah banyak yang berubah.

Untuk dapat menjalankan sistem itu dengan baik, maka mereka yang akan menjalankan sistem itu haruslah orang Minangkakabu itu sendiri. Untuk dapat menentukan seseorang itu orang Minangkabau atau tidak, ada beberapa ketentuannya, atau syarat-syarat seseorang dapat dikatakan sebagai orang Minangkabau.

Syarat-syarat seseorang dapat dikatakan orang Minangkabau;
1. Basuku (bamamak bakamanakan)
2. Barumah gadang
3. Basasok bajarami
4. Basawah baladang
5. Bapandan pakuburan
6. Batapian tampek mandi

Seseorang yang tidak memenuhi ketentuan tersebut di dalam berkaum bernagari, dianggap “orang kurang” atau tidak sempurna. Bagi seseorang yang ingin menjadi orang Minang juga dibuka pintunya dengan memenuhi berbagai persyaratan pula. Dalam istilah inggok mancangkam tabang basitumpu. Artinya, orang itu harus masuk ke dalam sebuah kaum atau suku, mengikuti seluruh aturan-aturannya.

Ada empat aspek penting yang diatur dalam sistem matrilienal;

A. PENGATURAN HARTA PUSAKA

Harta pusaka yang dalam terminologi Minangkabau disebut harato jo pusako. Harato adalah sesuatu milik kaum yang tampak dan ujud secara material seperti sawah, ladang, rumah gadang, ternak dan sebagainya.
Pusako adalah sesuatu milik kaum yang diwarisi turun temurun baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Oleh karena itu di Minangkabau dikenal pula dua kata kembar yang artinya sangat jauh berbeda; sako dan pusako.

1. Sako
Sako adalah milik kaum secara turun temurun menurut sistem matrilineal yang tidak berbentuk material, seperti gelar penghulu, kebesaran kaum, tuah dan penghormatan yang diberikan masyarakat kepadanya.
Sako merupakan hak bagi laki-laki di dalam kaumnya. Gelar demikian tidak dapat diberikan kepada perempuan walau dalam keadaan apapun juga. Pengaturan pewarisan gelar itu tertakluk kepada sistem kelarasan yang dianut suku atau kaum itu.
Jika menganut sistim kelarasan Koto Piliang, maka sistem pewarisan sakonya berdasarkan; patah tumbuah. Artinya, gelar berikutnya harus diberikan kepada kemenakan langsung dari si penghulu yang memegang gelar itu. Gelar demikian tidak dapat diwariskan kepada orang lain dengan alasan papun juga.
Jika tidak ada laki-laki yang akan mewarisi, gelar itu digantuang atau dilipek atau disimpan sampai nanti kaum itu mempunyai laki-laki pewaris.
Jika menganut sistem kelarasan Bodi Caniago, maka sistem pewarisan sakonya berdasarkan hilang baganti. Artinya, jika seorang penghulu pemegang gelar kebesaran itu meninggal, dia dapat diwariskan kepada lelaki di dalam kaum berdasarkan kesepakatan bersama anggota kaum itu. Pergantian demikian disebut secara adatnya gadang balega.

Di dalam halnya gelar kehormatan atau gelar kepenghuluan (datuk) dapat diberikan dalam tiga tingkatan:

a. Gelar yang diwariskan dari mamak ke kemenakan. Gelar ini merupakan gelar pusaka kaum sebagaimana yang diterangkan di atas. Gelar ini disebut sebagai gelar yang mengikuti kepada perkauman yang batali darah.

b. Gelar yang diberikan oleh pihak keluarga ayah (bako) kepada anak pisangnya, karena anak pisang tersebut memerlukan gelar itu untuk menaikkan status sosialnya atau untuk keperluan lainnya. Gelar ini hanya gelar panggilan, tetapi tidak mempengaruhi konstelasi dan mekanisme kepenghuluan yang telah ada di dalam kaum. Gelar ini hanya boleh dipakai untuk dirinya sendiri, seumur hidup dan tidak boleh diwariskan kepada yang lain; anak apalagi kemenakan. Bila si
penerima gelar meninggal, gelar itu akan dijemput kembali oleh bako dalam sebuah upacara adat. Gelar ini disebut sebagai gelar yang berdasarkan batali adat.

c. Gelar yang diberikan oleh raja Pagaruyung kepada seseorang yang dianggap telah berjasa menurut ukuran-ukuran tertentu. Gelar ini bukan gelar untuk mengfungsinya sebagai penghulu di dalam kaumnya sendiri, karena gelar penghulu sudah dipakai oleh pengulu kaum itu, tetapi gelaran itu adalah merupakan balasan terhadap jasa-jasanya. Gelaran ini disebut secara adat disebabkan karena batali suto. Gelar ini hanya boleh dipakai seumur hidupnya dan tidak boleh diwariskan. Bila terjadi sesuatu yang luar biasa, yang dapat merusakkan nama raja, kaum, dan nagari, maka gelaran itu dapat dicabut kembali.

2. Pusako
Pusako adalah milik kaum secara turun temurun menurut sistem matrilineal yang berbentuk material, seperti sawah, ladang, rumah gadang dan lainnya.

Pusako dimanfaatkan oleh perempuan di dalam kaumnya.
Hasil sawah, ladang menjadi bekal hidup perempuan dengan anakanaknya.
Rumah gadang menjadi tempat tinggalnya.
Laki-laki berhak mengatur tetapi tidak berhak untuk memiliki.
Karena itu di Minangkabau kata hak milik bukanlah merupakan kata
kembar, tetapi dua kata yang satu sama lain artinya tetapi berada dalam
konteks yang sama.

Hak dan milik.
Laki-laki punya hak terhadap pusako kaum, tetapi dia bukan pemilik pusako kaumnya.

Dalam pengaturan pewarisan pusako, semua harta yang akan diwariskan harus ditentukan dulu kedudukannya.
Kedudukan harta pusaka itu terbagi dalam;

a. Pusako tinggi.
Harta pusaka kaum yang diwariskan secara turun temurun berdasarkan garis ibu. Pusaka tinggi hanya boleh digadaikan bila keadaan sangat mendesak sekali hanya untuk tiga hal saja; pertama, gadih gadang indak balaki, kedua, maik tabujua tangah rumah, ketiga, rumah gadang katirisan.
Selain dari ketiga hal di atas harta pusaka tidak boleh digadaikan apalagi dijual.

b. Pusako randah.
Harta pusaka yang didapat selama perkawinan antara suami dan istri.
Pusaka ini disebut juga harta bawaan, artinya modal dasarnya berasal dari masing-masing kaum. Pusako randah diwariskan kepada anak, istri dan saudara laki-laki berdasarkan hukum faraidh, atau hukum Islam.
Namun dalam berbagai kasus di Minangkabau, umumnya, pusako randah ini juga diserahkan oleh laki-laki pewaris kepada adik perempuannya. Tidak dibaginya menurut hukum faraidh tersebut.

Inilah mungkin yang dimaksudkan Tsuyoshi Kato bahwa sistem matrilineal akan menguat dengan adanya keluarga batih. Karena setiap laki-laki pewaris pusako randah akan selalu menyerahkan harta itu kepada saudara perempuannya. Selanjutanya saudara perempuan itu mewariskan pula kepada anak perempuannya. Begitu seterusnya. Akibatnya, pusako randah pada mulanya, dalam dua atau tiga generasi berikutnya menjadi pusako tinggi pula.

(Bersambung .. PERAN LELAKI DI MINANGKABAU)

Tigo Tungku Sajarangan sebagai Sistim Kepemimpinan di Minangkabau

Tigo Tungku Sajarangan sebagai Sistim

Kepemimpinan di Minangkabau

Oleh Buya H.Mas’oed Abidin

1. Mukaddimah

Bekal utama dalam hidup, adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT dan hidup beradat.
Mesti diajarkan adat dan syarak.
Nilai-nilai tamadun budaya Minangkabau – ABS-SBK — terikat kuat dengan penghayatan Islam.

Sikap jiwa (mental attitude) dari masyarakat Minangkabau, masih tertuntun oleh akhlak, sesuai bimbingan ajaran Islam, dalam adagium “Adat basandi Syara’, syara’ basandi Kitabullah “,
dan “syara’ mamutuih, Adat memakai !”.
Nilai-nilai budaya ini, menjadi pegangan hidup yang positif, mendorong dan merangsang, force of motivation, penggerak mendinamiseer satu kegiatan masyarakat bernagari

Sifat dan kebiasaan-kebiasaan untuk mengembangkan kegiatan ekonomis seperti menghindarkan pemborosan, kebiasaan menyimpan, hidup berhemat, memelihara modal supaya jangan hancur, melihat jauh kedepan.

Sikap jiwa yang lahir dari pemahaman syarak dalam budaya Minangkabau, kekuatan besar dari kekayaan budaya masyarakat yang tidak ternilai besarnya.

2. Adat Minangkabau Unik

Di tengah keunikan adat budaya Minangkabau itu, kita menghadapi ada beberapa kendala — dalam implementasi penerapan nilai-nilai budaya adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK), dan syarak mangato adaik mamakaikan, di antaranya ;

a). Generasi mudaterabaikan dalam pewarisan nilai budaya Minangkabau,
b). hubungan kekerabatan keluarga mulai menipis,
c). peran ninik mamak kini, sebatas seremonial,
d). peran substantif dari ulama mulai kehilangan wibawa,

3. Hubungan Kekerabatan Harmonis.

Keunikan dengan Nilai-nilai ideal kehidupan ini, mesti dihidupkan terus dalam kehidupan bernagari.

a. rasa memiliki bersama,
b. kesadaran terhadap hak milik,
c. kesadaran terhadap suatu ikatan,
d. kesediaan untuk pengabdian,
e. menjaga hubungan positif pernikahan.

Pembangunan Nagari harus memakai pola keseimbangan dan pemerataan.
Nilai kepemimpinan di dalam Nagari, adalah keteladanan .

Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap; berakhlak, berpegang pada nilai-nilai iman dan taqwa, memiliki daya kreatif dan innovatif, menjalin kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.
Memahami nilai nilai budaya luhur, punya makna jati diri yang jelas, menjaga martabat, patuh dan taat beragama, menjadi agen perubahan, dengan motivasi yang bergantung kepada Allah, mengamalkan nilai nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, dinamis dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik material, tanpa harus mengorbankan nilai nilai kemanusiaan.

4. Sedang Terjadi Perubahan.

Pergeseran budaya itu terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi, aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Kelemahan tumbuh disebabkan pembinaan akhlak anak nagari sering tercecerkan, pendidikan surau hampir tiada lagi, atau peran pendidikan surau di rumah tangga juga melemah, dan peran pendidikan akhlak berdasarkan prinsip budaya ABS-SBK menjadi kabur.

Janji Allah SWT sangat tepat, ” apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi “,

5. Masyarakat Mandiri Berprestasi

Pengendali kemajuan sebenarnya adalah agama dan budaya, yakni budaya tamaddun (ABS-SBK) yang telah berlaku turun temurun dalam masyarakat Minangkabau..

Tercerabutnya agama dari diri masyarakat Sumatera Barat –Minangkabau –, berakibat besar kepada perubahan prilaku dan tatanan masyarakatnya, karena “adatnya bersendi syarak, syaraknya bersendi kitabullah” dan “syarak mangato (=memerintahkan) maka adat mamakai (=melaksanakan)” – sungguhpun dalam pengamatan sehari-hari sudah sulit ditemui.

Akibatnya, ditemui maraknya penyakit masyarakat (pekat, tuak, arak, judi, dadah, pergaulan bebas di kalangan kaula muda, narkoba, tindakan kriminal dan anarkis), yang merusak tatanan keamanan, maka akibat yang dirasakan adalah prinsip ABS-SBK menjadi kabur.

Peranan suluah bendang di Minangkabau atau yang disebut Tungku Tigo Sajarangan sejak dulu adalah membawa umat dengan informasi dan aktifitas — kepada keadaan yang lebih baik, kokoh aqidah, qanaah, istiqamah, berilmu pengetahuan, mencintai nagari, matang dengan visi dan misi bernagari, kebersamaan dan gotong royong, berkualitas dengan iman dan hikmah, amar maktruf dan nahyun ‘anil munkar, research oriented, professional, berteraskan iman dan ilmu pengetahuan, mengedepankan prinsip musyawarah dan mufakat.

Jiko mangaji dari alif, Jiko naiak dari janjang, Jikok turun dari tango, Jiko babilang dari aso, artinya hidup berperaturan.

6. Suku Sako Pusako.

Tiga Unsur Sistim Banagari di Minangkabau didukung oleh Suku, Sako dan Pusako.
Ketiganya berjalin berkulindan di dalam satu Nagari.
Ketiga unsur ini tidak dapat dipisahkan.

KONSEP PEMERINTAHAN HARUS MAMPU MENAUNGI MASYARAKATNYA.
Pemerintahan Nagari dibingkai undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Implementasinya, Perda tentang Pemerintahan Nagari.

Hubungan berpemerintahan di tingkat Nagari, hubungan harus berdasarkan adat. Adat harus benar-benar dikuasai oleh semua aparat pemerintahan Nagari. Adat tidak semata sebagai kekayaan sains (ilmu pengetahuan) ke-Minangkabau-an. Adat harus dapat dilaksanakan dalam kehidupan dan hubungan bermasyarakat.
Ka lauik riak ma hampeh, ka karang rancam ma aruih, ka pantai ombak ma mamacah.
Kini memang terasa, Rakyat di nagari-nagari mulai mengalami pergeseran pola hidup di bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya, mulai menjadi sasaran dari budaya westernisasi. Hal ini terjadi, ketiadaan bekal dalam pemahaman adat dan syarak.

7. Tungku Tigo Sajarangan

Menata pemerintahan nagari, dengan perinsip ABS-SBK, dituntut adanya peribadi yang beriman dan bertaqwa, berilmu pengetahuan, berjiwa wiraswasta, menguasai manajemen, beradat dan beragama, menguasai teknologi terapan, berilmu pengetahuan, “hidup modern dan maju dengan keimanan yang kokoh”.

Mereka adalah urang nan 4 Jinih (Ninik Mamak, Alim Ulama, Cadiek Pandai, Para Pemuda dan Bundo Kanduang), yang semuanya merupakan tali tigo sapilin, didalam susunan bernagari dan menjadi tungku tigo sajarangan sebagai salah satu struktur masyarakat adat di Minangkabau.

Di dalam menata pemerintahan dan kehidupan beradat di tengan Masyarakat Hukum Adat Minangkabau saat ini, memang tantangannya sangat banyak, uluran tangan yang di dapat hanya sedikit.

Makanya, mesti dijaga hubungan kekerabatan di Nagari berlangsung harmonis dan baik.
Ada perasaan malu, bila tidak membina hubungan dengan baik.
Seseorang akan dihargai, apabila ia berhasil menyatu dengan kaumnya.
Hubungan kekerabatan Minangkabau kompleks, akan selalu terjaga dengan,
”nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang”.

Nilai-nilai ideal kehidupan bernagari karena ;
adanya rasa memiliki bersama, kesadaran terhadap hak milik, kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku, kesediaan untuk pengabdian, terjaga hubungan positif pernikahan (semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan ).

Ada kiat adat untuk meraih keberhasilan ;
Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju,
dek ameh sagalo kameh, dek padi mangko jadi.
Artinya perlu kesepakatan dan kemakmuran di tengah masyarakatnya.

Dalam melihat tatanan dan tataran masyarakat ini dapat tampak Bentuk Budaya sebenarnya, di antaranya pada tata karma bahasa (kato nan ampek), yang dikenal dengan ‘kato pusako’ dan tatanan (struktur masyarakat), pakaian, makanan, seni (tari, lagu, ukiran), peralatan, dan ritual (seremonial dan situs-situs).

8. Peran Tungku Tigo Sajarangan.

Bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat nagari, pasti akan menemui di nagari satu iklim (mental climate) yang subur bila pandai menggunakan dengan tepat .
Ada kekuatan agama, tamadun, budaya, adat istiadat, dan budi bahasa yang baik.

Lah masak padi rang Singkarak, masaknyo ba tangkai-tangkai, sa tangkai jarang nan mudo. Kabek sa balik buhue sintak, payahlah urang nak ma ungkai, tibo nan punyo rarak sajo.

Diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku dalam adaik salingka nagari.

Alah bakarih samparono, bingkisan rajo Majopaik,
Tuah ba sabab ba karano, pandai ba tenggang di nan rumik.

Satu realita objektif adalah ;
Siapa yang paling banyak menyelesaikan persoalan masyarakat ,
pasti akan berpeluang banyak mengatur masyarakat.

Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para pendidik masyarakat yang disebut Tungku Tigo Sajarangan dan Tali Tigo Sapilin, seperti ; pemurnian wawasan fikir, mempertajam kekuatan zikir, penajaman visi adat banagari, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang, pendalaman spiritual religi.

9. Mengedepankan Persaudaraan

Dalam gerakan “membangun nagari“, setiap fungsionaris di nagari akan menjadi pengikat anak nagari, dalam membentuk masyarakat yang lebih kuat, sehingga merupakan kekuatan sosial yang efektif, dengan kekuatan persaudaraan.

Tukang nan indak mambuang kayu,
Nan luruih ka tangkai sapu,
Nan bengkok ka singka bajak,
nan ketek ka pasak suntiang,
sa tangkok ka papan tuai ( ka ani-ani).

Pemasyarakatan budaya adat dan syarak sangat Islami,
sesuai prinsip “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah“.
Maka anak nagari mesti dibina mencapai derajat pribadi taqwa,
dalam hubungan hidup bermasyarakat sesuai tuntunan syarak (Agama Islam).

Mamutieh cando riak danau, tampak nan dari muko-muko,
Batahun-tahun dalam lunau, namun nan intan bakilek juo.

Menguatkan solidaritas beralaspijak kepada iman dan adat istiadat luhur,
“nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”.

Intensif menjauhi kehidupan materialistis,
“dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo,
dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.
Hendaknya bida;l ini jangan bertemu di dalam kehidupan bernagari di Minangkabau.

10. Mengakarkan Nilai Islam kedalam

Budaya Minangkabau

Dalam Masyarakat Adat Minangkabau selalu diingatkan supaya,
Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah,
padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak bulieh barubah.

Generasi Minangkabau mesti memiliki ilmu dengan akidah tauhid yang jelas.
Generasi Minangkabau mestinya dinamik yang tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti.

“Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,
Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo basi.

Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi,
Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiak-kan budi.

11. Kualitas generasi Muda Minangkabau

Mengutamakan manhaj-ukhuwah ;
“bulek aie dek pambuluah bulek kato ka mupakaik.”

Mengamalkan budaya amal jama’i ;
“kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua,
tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan.

Manyuruah babuek baik, Malarang babuek jahek,
Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari.
Managua manyapo, Tadorong mahelo, talompek manyentak,
Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana.
Tak ado karuah nan tak janieh.
Tak ado kusuik nan tak salasai.

Generasi muda mesti meniru kehidupan lebah; kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, baik hasil usahanya, dapat dinikmati oleh lingkungannya.

12. Sembilan Watak Kepemimpinan

Rasulullah SAW

Filosofi Hidup Nagari-nagari di Minangkabau bersumber dari alam.
Alam takambang jadi guru dan diberi ruh oleh Islam.
Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat.


Hubungan ruhaniyah, lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.
Keutuhan budaya bertumpu kepada masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada, terutama dengan meniru dan menerapkan watak kepemimpinan Rasulullah SAW. antara lain,
1. Fathanah (ilmiah),
2. Amanah (jujur),
3. Amaliah (teguh dan istiqamah/transparan),
4. Shiddiq (lurus dan dipercaya),
5. Shaleh (teguh ibadah dan berakhlak mulia),
6. Setia (ukhuwwah mendalam),
7. Tabligh (dialogis),
8. Tauhid (memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah dan hari akhirat),
9. Thaat (disiplin).

Prinsip-prinsip Kepemimpinan Rasulullah tersebut diatas, sangat diperlukan di dalam mengimplementasikan ABS-SBK di nagari-nagari dan harus masuk ke dalam seluruh kehidupan secara komprehensif, kebudayaan Minangkabau akan berlaku universal, yang dijabarkan dengan kebersamaan, gotong royong, sahino samalu, kekerabatan, dan penghormatan sesama, atau barek sapikue ringan sajinijing, yang menjadi kekuatan di dalam incorporated social responsibility.

Kekusutan dalam masyarakat Minangkabau, diatasi dengan komunikasi.
Persoalan perilaku harus mendapatkan porsi yang besar.
Diperlukan sosialisasi nilai-nilai budaya Minangkabau,
membentuk kembali struktur masyarakat adat di Nagari-nagari.

Menata pemerintahan nagari, dengan perinsip ABS-SBK, dituntut adanya peribadi yang beriman dan bertaqwa, berilmu pengetahuan, berjiwa wiraswasta, menguasai manajemen, beradat dan beragama, menguasai teknologi terapan, berilmu pengetahuan, “hidup modern dan maju dengan keimanan yang kokoh”.


Konsep pemerintahan harus mampu menaungi masyarakatnya.

Diperlukan penata yang memiliki sikap perilaku Madani, yang FAST (Fathanah, Amanah, Shiddiq dan Tabligh-dialogis) itu.

Rakyat di nagari-nagari kini, memang mulai mengalami pergeseran pola hidup di bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya, mulai menjadi sasaran dari budaya westernisasi.

Hal ini terjadi, ketiadaan bekal dalam pemahaman adat dan syarak. Lebih kentara karena pengamalan agama Islam mulai melemah, maka kehidupan beradat sopan santun pun menjadi terabaikan.


Pemerintahan Nagari dibingkai undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Implementasinya di nagari-nagari sebenarnya diperkuat oleh Perda tentang Pemerintahan Nagari. Maka di nagari-nagari juga dapat dibuatkan Peraturan Nagari (Perna), sehingga adat dan syarak di nagari terlaksana dengan baik.


Hubungan berpemerintahan di tingkat Nagari, adalah hubungan pemerintahan dan masyarakat yang timbal balik, dan semestinya berbasis kepada adat istiadat setempat, atau adanya perinsip “adat selingkar nagari, pusako selingkar kaum”.


Adat harus benar-benar dikuasai oleh semua aparat pemerintahan Nagari.Adat tidak semata sebagai kekayaan sains (ilmu pengetahuan) ke-Minangkabau-an.


Adat harus dapat dilaksanakan dalam kehidupan dan hubungan bermasyarakat.

Ka lauik riak ma hampeh, ka  karang  rancam ma aruih, ka pantai ombak ma mamacah.

Jiko ma ngauik kameh-kameh, jiko mancancang putuih-putuih, Alah salasai mangkonyo sudah.


Kekekrabatan dijaga oleh ninik mamak dan penghulu yang dihimpun dalam KAN, dengan satu sistem pandangan banagari, cinta kepada Nagari dan kegiatan dalam membangun yang dipersamakan.

13. Harapan untuk Generasi Minangkabau

Generasi Minangkabau harus dibina memiliki budaya yang kuat, dinamik, relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi, mengamalkan nilai-nilai agama Islam.

Konsep Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah kristalisasi dari ajaran hukum alam yang bersumber dari Islam. Generasi penerus harus taat hukum.

Beberapa langkah dapat dilakukan ;
1. memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga,
2. memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ,
3. fungsionalisasi peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif,
4. memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung jawab patah tumbuh hilang berganti .
5. menanamkan aqidah shahih (tauhid),
6. istiqamah pada agama yang dianut,
7. menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.
8. menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah.
9. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam .
10. melazimkan musyawarah dengan disiplin, teguh politik, kukuh ekonomi.
11. bijak memilih prioritas , sesuai puncak budaya Islam yang benar.

14. Khulasah

Pemberdayaan kekuatan dakwah ; dengan manajemen pendidikan berbasis umat yang lebih accountable, baik dari sisi pertanggungan jawab keuangan maupun organisasi, sehingga menjadi viable (dapat hidup terus, berjalan, bergairah, aktif dan Giat), dan juga durable (dapat tahan lama) sesuai perubahan dan tantangan zaman.

Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya menjadi landasan dasar pengkaderan di nagari-nagari di Minangkabau dengan kewajiban,

a). Memelihara dan menjaga generasi pengganti yang lebih sempurna,
kaluak paku kacang balimbiang, sayak timpuruang lengang-lenggangkan,
anak di pangku kamanakan di bimbiang, urang kampuang di patenggangkan.

b). Mengupayakan berlangsungnya timbang terima kepemimpinan dalam kaum dan nagari secara alamiah,
Ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih,
Agak-agak nan ka pai, ingek-ingek nan ka tingga,
Patah tumbuah hilang ba ganti.

c). Teguh dan setia melaksanakan pembinaan dan mengajarkan adat istiadat kepada anak kemenakan dan menjaga lingkungan dengan baik.
‘ Handak kayo badikik-dikik, Handak mulie tapek i janji,
Handak tuah ba tabue urai, Handak namo tinggakan jaso,
Handak luruih rantangkan tali, Handak pandai rajin baraja,
Handak bulieh kuek mancari,

Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu,
Nan gurun buek ka parak, Nan munggu ka pandam pakuburan,
Nan rawang ranangan itiek, Nan padang kubangan kabau,
Nan bancah jadikan sawah, Nan gauang ka tabek ikan,

Artinya ada kemauan kuat melakukan perubahan, dan memanfaatkan alam sesuai dengan tata ruang yang jelas, karena segala tindakan dan perbuatan akan disaksikan oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman.

Moga ini dapat berguna di dalam menyongsong KKM2010 yang hendaak digelar pada Agustus 2010 yang akan datang.

Hendaknya pula pada Generasi muda di UI mampu menjadi pendorong untuk menjadikan Minangkabau maju dengan berbasis adat budayanya yang unik dan mampu duduk sama rendah serta tegak sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di persada bumi ini.

Insyaallah.

Wassalam

Pemahaman Adat Minangkabau Terhadap Nilai-Nilai ABSSBK.


Nilai-nilai Adat Basandi Syarak di kelompokkan menjadi enam kelompok yaitu:

(1)   Nilai ketuhanan Yang Maha Esa,

(2)   Nilai kemanusiaan,

(3)   Nilai persatuan dan kesatuan,

(4)   Nilai demokrasi dan musyawarah,

(5)   Nilai budi pekerti dan raso pareso,

(6)   Nilai sosial kemasyarakatan.

Dasar pikiran yang berhubungan dengan nilai-nilai, yaitu nilai ketuhanan,  kemanusiaan, kesatuan dan persatuan, musyawarah dan demokrasi, serta nilai-nilai sosial kemasyarakatan di antaranya adalah :

  1. 1. Nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa

Nilai-nilai ketuhanan dalam adat dikategorikan dalam bidal yang meliputi:

  1. a. Si Amat mandi di luhak, parigi bapaga bilah, samo dipaga kaduonyo, adat basandi syarak, syarak basandi kitabbullah, sanda manyanda kaduonyo.

“ menjaga adat yang Islami”

  1. b. Pangulu tagak di pintu adat, malin tagak di pintu syarak, manti tagak di pintu susah, dubalang tagak di pintu mati.

“ pembagian tugas yang baik, sesuai fungsi masing-masing, mesti bekerja dengan professional.”

  1. c. Indak dapek sarimpang padi, batuang dibalah ka paraku, indak dapek bakandak hati, kandak Allah nan balaku.

“selalu berusaha, dinamis, tidak berputus asa, (rencana di tangan  manusia keputusan di  tangan Allah SWT).”

  1. d. Limbago jalan batampuah, itu nan hutang ninik mamak, sarugo dek iman taguah, narako dek laku awak.

“kuat beramal karya yang baik, jauhi maksiyat.”

  1. e. Jiko bilal alah maimbau, sado karajo dibarantian, sumbahyang bakaum kito daulu.

“menghidupkan surau, menjaga ibadah masyarakat, jamaah yang kuat dan memajukan pendidikan agama dengan baik,”

  1. f. Jiko urang Islam indak bazakat, harato kumuah diri sansaro.

“zakat kekuatan membangun umat, menghindar dari harta yang kotor, menjauhi korupsi.”

  1. g. Kasudahan adat ka balairung, kasudahan dunia ka akhirat, salah ka Tuhan minta taubat, salah ka manusia minta maaf.

“(menyesali kesahalan, mohon ampunan atas kesahalan, dan berjanji tidak akan melakukan lagi)”

  1. h. Tadorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki. Adat jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi.

“ menjaga pelaksanaan adat dan agama selalu berjalan seiring”.

Nilai-nilai Adat dalam Syarak

Nilai-nilai ketuhanan dalam syarak meliputi beberapa aspek nilai di antaranya ;

  1. a. Mengabdi hanya kepada Allah

Allah Swt. berfirman:

وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون   (الذريت: 57)

“Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (adz-Zariyat: 56)

وما امر الاليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقموا الصلوة ويؤتوا الذكوة وذلك دين القيمة   (البينة: 5)

“Pada hal tidak diperintahkan mereka, melainkan supaya mereka menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama karena-Nya dengan menjauhi kesesatan, dan (supaya) mereka mendirikan shalat dan memberi zakat, karena yang demikian itulah agama yang lurus”. (al-Bayinah: 5)

  1. b. Tunduk dan patuh hanya kepada Allah.

Allah berfirman:

يايها الذين امنوا اطيعوا الله ورسوله ولاتولوا عنه وانتم تسمعون (الانفال: 20)

“Wahai ummat yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berpaling dari padanya, padahal kamu mendengar”. (al-Anfal: 20)

ومن يطع الله والرسول فاولئك مع الذين انعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن اولئك رفيقا (الناس: 6)

“Karena siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka itu adalah beserta ummat yang Allah beri nikmat atasnya, dari Nabi-Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin dan alangkah baiknya mereka ini sebagai sahabat karib”. (an-Nisa: 69)

  1. c. Berserah diri kepada ketentuan Allah.

Allah berfirman:

وعسى ان تكرهوا شيئا خيرلكم وعسى ان تحبوا شيئا وهو شر لكم والله يعلم وانتم لاتعلمون    (البقرة: 216)

“ Mungkin kamu benci kepada sesuatu, padahal ia itu satu kebaikan bagi kamu, dan mungkin kamu suka akan sesuatu tapi ia tidak baik kamu, dan Allah itu Maha Mengetahui dan kamu tidak mengetahuinya”. (al-Baqarah: 216)

الذين إذا اصابتهم مصيبة قالوا انا الله وانا اليه راجعون      (البقرة: 157)

“Yang apabila terjadi terhadap mereka suatu kesusahan, mereka berkata: Sesungguhnya kami ini milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami akan kembali”. (al-Baqarah: 156)

  1. d. Bersyukur kepada Allah

Allah berfirman

واذا تأذن ربكم لئن شكرتم لازيدنكم ولئن كفرتم ان عذابى لشديد  (ابراهيم: 7)

“Dan (ingatlah) tatkala Tuhan kamu memberi tahu jika kamu berterima kasih niscaya Aku akan tambah nikmat bagi kamu, bila kamu tidak bersyukur akan nikmat maka azab-Ku itu sangat pedih”. (Ibrahim: 6-7)

  1. e. Ikhlas menerima keputusan Allah.

ولو انهم رضوا ما اتهم الله ورسوله وقالوا حسبنا الله سيؤتينا الله من فضله ورسوله انا إلى الله راغبون    (التوبة: 59)

“Dan alangkah baiknya jika mereka ridha dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya berikan kepada mereka, sambil mereka berkata: cukuplah Allah bagi kami, sesungguhnya Allah dan rasul-Nya akan beri kepada kamu karunia-Nya, sesungguhnya kami mencintai Allah”. (al-Taubah: 59)

كتب الله مقاد ير الخلا ئق قبل ان يخلق السموات والارض بخمسين الف سنه (رواه مسلم)

“Allah telah menentukan kepastian/ketetapan terhadap semua makhluk-Nya sebelum Allah menciptakan langit dan bumi 50.000 tahun”. (HR. Muslim)

  1. f. Penuh harap kepada Allah

Allah berfirman:

وا ما تعرضن عنهم ابتعاء رحمة من ربك ترجوها فقل لهم قولاميسورا    (بني اسرائيل: 28)

“Dan jika engkau berpaling dari mereka, karena mengharapkan (menunggu) rahmat dari Tuhanmu, yang engkau harapkan, maka berkatalah kepada mereka dengan ucapan yang lemah lembut”. (bani Isra’il: 28)

من كان يرجوا لقاء الله فان اجل الله رات وهو السميع عليم   (العنكبوت: 5)

“Siapa saja yang mengharapkan pertemuan (dengan) Allah, maka sesungguhnya waktu (perjanjian) Allah akan datang, dan Dia yang Mendengar, yang Mengetahui”. (al-Ankabut: 5)

ان الذين امنوا والذين هاجروا وجاهدوا فى سبيل الله اولئك يرجون رحمت  الله  والله غفور رحيم   (البقرة: 218)

“Sesungguhnya ummat yang beriman dan berhijrah serta bekerja keras (berjihad) di jalan Allah, mereka itu (ummat yang) berharap rahmat Allah dan Allah itu Pengampun, Penyayang”. (al-Baqarah: 218)

  1. g. Takut dengan rasa tunduk dan patuh

انما يعمر مساجد الله  من أ من بالله واليوم الأ خر واقام الصلوة  واتى الزكوة  ولم يخسى الا الله  فعسى اولئك ان يكونوا من المهتدين      (الاتوبة: 18)

“Sesungguhnya ummat yang memakmurkan masjid Allah ummat yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dan mendirikan shalat dan membayarkan zakat. Maka Allahlah yang lebih berhak kamu takuti, jika memang kamu ummat yang beriman”. (al-Taubah: 13

فلا تخشوا الناس واخشون ولاتشتروا  بأ يا تي ثمنا قليلا (المائدة: 44)

“Janganlah kamu takut kepada manusia tetapi takutlah kepada-Ku (Allah) dan janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah (sedikit)”. (al-Maidah: 44)

امنا يخشى الله من عباده العلماؤا … (فاطر: 28)

“Tidak ada yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya kecuali ulama (berilmu)”. (Fathir: 28)

  1. h. Takut terhadap siksaan Allah

Allah Berfirman:

ان في ذلك لاية لمن خاف عذاب الاخرة ذلك يوم تجموع له الناس وذلك يوم مشهود … (هود: 103)

“Sesungguhnya di dalam itu ada tanda bagi orang yang takut kepada azab akhirat: ialah hari yang dikumpulkan padanya manusia dan ialah hari yang akan disaksikan”. (Hud: 103)

كمثل الشيطن اذ قال للا نسان اكفر فلما كفر قال اني بريء منك  انى اخاف الله رب العالمين … (الحشر: 16)

(Mereka adalah) seperti syetan tatkala berkata kepada mereka: kufurlah setelah manusia itu kufur, ia berkata: Aku berlepas diri dari padamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan bagi alam semesta”. (al-Hasyr: 16)

  1. i. Berdo’a memohon pertolongan Allah.

Allah berfirman:

واذا سألك عبادي عنى فانى قريب أ جيب دعوة الداع إذا دعان فليستجبوا لى وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون       (البقرة: 186)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka katakanlah bahwa Aku dekat (hampir), Aku akan …

وقال ربكم ادعونى استجب لكم          (المؤمن: 60)

“Dan telah berkata Tuhan kamu: berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doa untukmu”. (al-mukmin: 60)

ولله الاسماء الحسنى فادعوه بها        (الاعراف: 180)

“Dan bagi Allah nama-nama yang baik, oleh karena itu berdo’alah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu”. (al-A’raf: 180)

ولا تدع من دون الله مالا ينفعك ولا يضرك         (يونس: 106)

“Jangan kamu berdo’a kepada selain Allah, yang tidak bisa memberi manfaat kepadamu dan tidak bisa memudarakan (membahayakan)”. (Yunus: 106)

  1. j. Cinta dengan penuh harap kepada Allah.

Allah berfirman:

فإ ذا   فرغت فانصب    وإ لى ربك فارغب         (الانشراح: 7-8)

“Lantaran itu, apabila kamu telah selesai mengerjakan sesuatu tugas maka kerjakanlah tugas baru dengan baik. Dan kepada Tuhanmu maka hendaklah kamu berharap dengan rasa cinta”. (al-Insyirah: 7-8)

عسى ربنا أ ن يبدلنا خيرا منها  إ نا إلى ربنا راغبون      (القلم: 32)

“Mudah-mudahan Tuhan kita mengganti untuk kita (kebun) yang lebih baik dari pada itu. Sesungguhnya kepada Tuhan kitalah kita berpegang baik”. (al-Qarim: 32)

Dalam adat diungkapkan “indak dapek salendang pagi, ambiak galah ka paraku, indak dapek bakandak hati, kandak Allah juo nan balaku”.

Bahwa bimbingan syarak berlaku dalam adat, disebutkan: “kasudahan dunia ka akhirat, kasudahan adat ka balairung, syarak ka ganti nyawa, adat ka ganti tubuah”.

  1. 2. Nilai-nilai Kemanusiaan

Nilai-nilai kemanusiaan ini dinyatakan dalam adat meliputi:

a) Duduak samo randah, tagak samo tinggi, duduak sahamparan, tagak sapamatang.

“menjaga kesetaraan dalam bermasyarakat.”

b) Sasakik sasanang, sahino samalu, sabarek sapikua.

peduli dan solidaritas mesti dipelihara.

c) Kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan.

“setia kawan, dengan pengertian membagi berita baik kepada semua orang.”

d) Nan ketek dikasihi, nan samo gadang lawan baiyo, nan tuo dihormati. Nan bungkuak ka tangkai bajak, nan luruih ka tangkai sapu, satampok ka papan tuai, nan ketek ka pasak suntiang, panarahan ka kayu api.

santun dan hormat terhadap orang yang lebih tua, memungsikan semua elemen masyarakat yang ada.”

e) Kok gadang jan malendo, panjang jan malindih, cadiak jan manjua.

“berbuat sesuai dengan aturan yang berlaku, cerdik tidak memakan lawan.”

f) Nan buto paambuih lasuang, nan pakak palapeh badia, nan lumpuah pangajuik ayam, nan binguang pangakok karajo, nan cadiak lawan baiyo, nan pandai tampek batanyo, nan tahu tampek baguru, nan kayo tampek batenggang, nan bagak ka parik paga dalam nagari.

“memberikan tugas sesuai dengan kemampuan, menghargai sesama.”

Nilai-nilai kemanusiaan dinyatakan dalam syarak :

  1. a. Kewajiban untuk menghargai  persamaan (egaliter)

Allah berfirman:

يايها الناس إ نا خلفناكم من ذكر وأ نثى وجعلنكم شعوبا وقبا ئل لتعارفوا إ ن أ كرمكم عند الله أ تقاكم، إ ن الله عليم خبير.         الحجرات: 13)

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal”. (al-Hujurat: 12)

  1. b. Menghormati persamaan manusia lain.

Sabda rasulullah

ليس المسلم بالطعان ولا اللعان ولا الفاحش ولا البذئ      (رواه الترمذي)

Tidaklah termasuk muslim apabila bersikap penohok, pelaknat, sikap kejam dan pencaci (HR. Tirmidzi)

  1. c. Mencintai sesama saudara muslim

لا يؤمن  أ حدكم  حتى يحب لأ خيه ما يحب لنفسه   (رواه البخارى ومسلم)

Tidaklah dikatakan seorang muslim, sehingga dia menyenangi apa yang disenangi oleh saudaranya, sebagaimana dia menyenangi apa yang disenanginya (HR. Bukari Muslim)

  1. d. Pandai berterima kasih

Sabda rasulullah

لا يشكر الله  من لا يشكر الناس                (ابو داود واحمد)

Tidak dapat bersukur kepada Allah orang yang tidak pernah berterima kasih atas kebaikan orang lain (HR. Abu Daud dan Ahmad

  1. e. Memenuhi janji

Allah berfirman

وأ فوا بعهد الله إذا عاهدتم ولا تنقضوا الأيمان بعد توكيدها وقد جعلتم الله عليكم كفيلا  إ ن الله يعلم ما تفعلون       (النحل: 91)

Dan penuhilah janji-janji tatkala kamu berjanji, dan janganlah kamu mengingkari itu sebab kamu telah menjadikan Allah sebagai pemelihara. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (al-Nahl: 91).

  1. f. Tidak boleh mengejek dan meremehkan orang lain

Firman Allah:

يأ يها الذين أ منوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيرا منهم          (الحجرات: 11)

Janganlah kamu mengejek atau merendahkan diri orang lain, saudara atau teman dekatmu dengan membicarakan kekurangan atau membuka aib dan cacatnya, atau menjulukinya sampai menyakitkan hatinya, sesungguhnya perbuatan demikian adalah sikap yang tercela.

  1. g. Tidak mencari kesalahan

Allah berfirman:

ولا يغتب بعضكم بعضا أيحب  أ حدكم  أن يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه (الحجرات: 12)

Dan janganlah mengumpat atau menceritakan kesalahan sebagian dari kamu terhadap sebagian yang lain, sukakah kamu memakan daging saudaramu yang sudah menjadi bangkai, sedangkan kamu membencinya (al-Hujurat: 12)

  1. h. Bergaul baik dengan menjaga persaudaraan dan persatuan

Allah berfirman

إ نما المؤمنون  إ خوة  فأ صلحوا بين أخويكم واتقوا الله لعلكم ترحمون    (الحجرات: 10).

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (al-Hujurat: 10).

  1. i. Tidak boleh sombong

ولا تمشى  في الأ رض  مرحا … (لقمان: 19)

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong (Lukman: 18)

  1. 3. Nilai-nilai Persatuan dan Kesatuan

Nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam adat

  1. a. Tagak kampuang paga kampuang, tagak suku paga suku, tagak banagari paga nagari

“ menjaga persatuan dan bersama membangun nagari, sesuatu itu harus dimunculkan dari bawah. “

  1. b. Satinggi-tinggi tabang bangau, kumbalinyo ka kubangan juo, hujan ameh di rantau urang, hujan batu di kampuang awak, kampuang halaman tatap dikana juo

“ ada tempat kembali, semua akan kembali ke asal ”

  1. c. Jauh bajalan banyak diliek, lamo hiduik banyak dirasoi

“ cari pengalaman yang baik “

  1. d. Malu tak dapek dibagi, suku tak dapek diasak, raso ayia ka pamatang, raso minyak ka kuali

“ suku tidak dapat ditukar “

  1. e. Takajuik urang tagampa awak, kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauwan

“ selalu berbuat baik menyatu dengan lingkungan di mana berada “

  1. f. Banabu-nabu bak cubadak, baruang-ruang bak durian, nan tangkainyo hanya sabuah, nan batangnyo hanyo satu, saikek umpamo lidi, sarumpun umpamo sarai, satandan umpamo pinang, sakabek umpamo siriah.

“ tidak boleh berpecah belah, jauhi silang sengketa “

  1. g. elok di ambiak jo mupakat, buruak di buang jo etongan

“ utamakan musyawarah “

  1. h. randah tak dapek dilangkahi tinggi tak dapek dipanjek.

“ keputusan musyawarah mengikat “

  1. i. bersilang kayu dalam tungku sinan nasi mangko masak, dengan tepat dan benar.

“ perbedaan pendapat tidak boleh membawa perpecahan “

Nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam syarat meliputi:

  1. a. Bersatu tidak boleh bercerai-cerai

يأ يها الذين أمنوا إ تقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون. واعتصموا بحيبل الله جميعا ولا تفرقوا، واذكروا نعمت الله عليكم إذ كنتم أعداء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخوانا، وكنتم على شفا حفرة من النار فأنقذكم منها، كذلك يبين الله لكم أ ياته لعلكم تهتدون         (ال عمران: 102-103).

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri kepada Allah dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-cerai dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kamu dulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kamu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara (QS. Ali Imran; 102-103).

b. Orang yang beriman ibarat sebuat bangunan

Sabda Rasulullah saw

أ لمؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا       (رواه البخارى ومسلم)

Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya, bagi suatu bangunan yang menopang satu bagian terhadap bagian lainnya (HR. Bukhri dan Muslim.

Firman Allah SWT

ضربت عليهم الذلة أ ين ما ثقفوا  إلا بحبل من الله وحبل من الناس وبأؤ بغضب من الله وضربت عليهم المسكنة، ذلك بأ انهم كانوا يكفرون بأ يات الله ويقتلون الأ ابياء بغير حق، ذلك بما عصوا وكانوا يعتدون   (ال عمران: 112).

Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tlai (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas (QS. Ali Imran: 112).

  1. 4. Nilai-nilai Demokrasi dan Musyawarah

Nilai-nilai demokrasi dan musyawarah dalam adat meliputi beberapa aspek

  1. a. Bulek aia ka pambuluah, bulek kato ka mufakek, bulek dapek digolongkan, pipiah buliah dilayangkan.

“Taat pada kesepakatan hasil musyawarah”

  1. b. Kato nan banyak dari bawah, banyak indak buliah dibuang, saketek indak buliah disimpan.

“ Peranan masyarakat berpatisipasi, mulai dari lapisan terendah, kedudukannya sama dalam hukum “

  1. d. Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka mufakek, mufakek barajo ka nan bana, bana badiri sandirinya, manuruik alua jo patuik.

” taati hukum dan aturan yang berlaku “

  1. e. Pikia palito hati, tanang hulu bicaro, aniang saribu aka, dek saba bana mandating

“ sebelum berbuat lakukan penelitian dan kaji segala kemungkinan, sebab dan akibat dari satu perbuatan “

  1. f. Suri tagantuang batanuni, luak taganang nan basawuak, kayu batakuak barabahkan, janji babuek batapati.

“tetapi janji, lakukan sesuatu menurut patut dan pantas “

  1. g. Duduak basamo balapang-lapang, duduak surang basampik-sampik, kato surang babulati, kato basamo dipaiyokan

“ bina kerukunan bersama “

  1. h. Baiyo-iyo jo adiak, batido-tido jo kakak, elok diambiak jo mufakek, buruak dibuang jo etongan.

“ teguhkan persaudaraan, kembangkan dialog “

  1. i. Sabalik bapaga kawek, randah tak dapek dilangkahi, tinggi tak dapek dipanjek.

“ hidup mesti berperaturan, tidak boleh berbuat seenak diri sendiri “

  1. j. Galugua buah galugua, tumbuah sarumpun jo puluik-puluik, badampiang jo batang jarak, basilang kayu dalam tungku, sinan nasi nasi mangko masak.

“tidak perlu cemas untuk berbeda pendapat, perbedaan tidak menimbulkan perselisihan, di sini terdapat dinamika hidup”

  1. k. Saukua mangko manjadi, sasuai mangko takana, nan bana kato saiyo, nan rajo kato mufakek

“ permusyawaratan perwakilan, teguh melaksanakan kesepakatan “

Nilai-nilai demokrasi dan musyawarah di dalam syarak meliputi beberapa aspek yang jelas dalam tata cara melaksanakan musyawarah serta perilaku ini, akan menguatkan pelaksanaan ABS-SBK, di antaranya ;

Firman Allah SWT

فبما رحمة من الله لنت لهم، ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك، فاعف عنهم واستغفرلهم وشاورهم فى الامر فإذاعزمت فتوكل على الله، إن الله يحب المتوكلين         (ال عمران: 159).

Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah ia menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (QS. Ali Imran: 159).

Firman Allah SWT

… وأمرهم شورى بينهم ومما رزقناهم ينفقون   (الشورى: 38).               

“…Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka” (QS. Al-Syura: 38).

Sabda Rasulullah SAW

ما خاب من اتخار ولا ندم من اشتشار

Tidak akan gagal orang yang mengerjakan istikharah dan tidak pula menyesal orang yang melakukan musyawarah

Sabda Rasulullah

المستشار مؤتمن

“Orang-orang yang melakukan musyawarah akan tentram (aman)”

  1. 5. Nilai-nilai Akhlak / Budi Pekerti

Nilai-nilai budi pekerti / akhlak dalam adat meliputi:

  1. a. Nan kuriak kundi, nan merah sago, nan bayiak budi, nan indah baso

“Budi pekerti dan bahasa sopan santun diperlukan “

  1. b. Satali pambali kumayan, sakupang pambali katayo, sakali lancuang ka ujian, salamo hiduik urang tak picayo

“jangan pernah berbuat salah, selalu menjaga diri”

  1. c. Batanyo lapeh arak, barundiang sudah makan
  2. d. Raso dibaok nayiak, pareso dibaok turun

“memikirkan akibat sebelum berbuat”

  1. e. Sulaman manjalo todak, naiak sampan turun parahu, punyo padoman ambo tidak, angin bakisa ambo tau

“ selalu mempergunakan akal sehat sebelum berbuat “

  1. f. Bajalan paliharo kaki, bakato paliharo lidah

“hati-hati selalu”

  1. g. Pisang ameh baok balayia, masak sabuah di dalam peti, utang ameh dapek dibayia, utang budi dibaok mati.

“selalu berbuat baik, hidup dengan berjasa dan pandai membalas jasa“

  1. h. Dek ribuik rabahlah padi, dicupak Datuak Tumangguang, jikok hiduik indak babudi, duduak tagak ka mari tangguang.

“ tidak melupakan tata kerama bergaul menurut adat dan agama “

Nilai-nilai budi pekerti dan  akhlak dalam syarak sangat banyak ditemukan:

Firman Allah SWT

لا إ كراه في الدين، قد تبين الرشد من الغي، فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد إ ستمسك بالعروة الوثقى لا انفصام لها، والله سميع عليم     (البقرة: 256)

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Baqarah: 256)

Firman Allah SWT

هو الذي خلقكم فمنكم كا فر  ومنكم  مؤمن  والله بما تعملون بصير    (التغابون: 2)

Dialah yang menciptakan kamu, maka diantara kamu ada yang kafir dan diantaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Taghabun: 2)

Firman Allah SWT

لا يكلف الله نفسا إ لا وسعها، لها ما كسبت وعليها ما ا كتسبت، ربنا لا تؤخذنا إ ن نسينا أو اخطأنا، ربنا ولا تحمل علينا إ صرا كما حملته على الذين من قبلنا، ربنا ولا تحملنا ما لا طقة لنا به، واعف عنا، واغفرلنا، وارحمنا، انت مولنا فانصرنا على القوم الكفرين  (البقرة: 286).

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya, (mereka berdoa): ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir (QS. Al-Baqarah: 286).

Sabda Rasulullah SAW

يسروا ولا تعسروا وبشروا ولا تنفروا      (رواه البخارى)

Permudahlah jangan mempersulit dan gembirakanlah jangan menakut-nakuti (HR. Bukari).

  1. 6. Nilai-nilai Sosial Kemasyarakatan

Nilai-nilai sosial kemasyarakatan adat dan syarak meliputi antara lain

  1. a. Nan buto pahambuih lasuang, nan lumpuah pengajuik ayam, nan pakak palatuih badia

“ fungsi ham asasi manusia “

  1. b. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang, nan barek makanan bahu, nan ringan makanan jinjiang.

“ suka bergotong royong, memelihara kerja sama “

  1. c. Takajuik urang tagampa awak, kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan.

“sifat tolong menolong “

  1. d. Bungka ameh manahan asah, ameh batua manahan uji, kato batua manahan sudi, hukum batuah manahan bandiang.

“ kualitas, ekonomi, professional, menegakkan nilai-nilai keadilan “

  1. e. Nan tak untuak jan diambiak, nan bakeh yo diunyi, turuik alua nan luruih, tampuah jalan nan pasa

“menjaga keseimbangn antara hak dan kewajiban “

  1. f. Sawahlah diagiah pamatang, ladanglah diagiah bamintalak, lah tantu hinggo jo batehnya, lah tahu rueh jo buku

“mematuhi aturan yang ada “

  1. g. Ketek taraja-raja, gadang tarubah tidak, lah tuo jadi parangai.

“ Pendidikan di rumah tangga tentang perilaku dan budi pekerti

sangat penting. Menanamkan perilaku bertanggung jawab

sejak kecil ”

  1. h. Kato sapatah dipikiri, jalan salangkah ma adok suruik

“ Hati-hati dalam berucap dan bertindak memikirkan hal yang akan disampaikan sebelum berbicara “

  1. i. Syarak mangato, adat mamakai, syarak mandaki, adat manurun

“ Ketetapan syarak dipakai dalam adat, perjalanan adat penghulu seiring dengan ulama “

  1. j. Sasakik sasanang, sahino samalu, nan ado samo dimakan, kok indak samo ditahan, barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun, tatilungkuik samo makan tanah, talilantang samo makan angin.

“ Rasa kebersamaan, gotong royong wajib ditumbuhkan di tengah masyarakat Minangkabau (Sumbar), menggerakkan potensi moril materil, untuk membangun nagari, dan menghapus kemiskinan”

Nilai-nilai sosial kemasyarakatan dalam syarak sebagai berikut:

  1. a. Saling tolong menolong

Firman Allah SWT

تعاونوا على البر واتقوا ولا تعاونوا على الاثم والعدوان (المائدة: 2)

Saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kamu tolong menolong berbuat dosa dan permusuhan (QS. Al-Maidah: 2).

Sabda Rasulullah SAW

انصر اخاك ظالما أو مظلوما          (رواه البخارى)

Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi (HR. Bukari)

Sabda Rasulullah

ليس منا من لم يرحم صغيرنا ولم يعرف حق كبيرنا (رواه ابو داود وترمذى)

Tidak termasuk umatku orang yang tidak mengasihi generasi muda dan tidak menghormati orang tua (HR. Abu Daud dan Tirmizi).

Sabda Rasulullah

تحجزة من ظلمه فذلك نصره

Hindarkanlah atau cegahlah dia dari bertindak aniaya itulah cara menolongnya

  1. b. Tidak boleh memisahkan diri dari masyarakat (jama’ah)

وعليكم بالجمعة فمن شذ شذ في النار         (رواه ترميذ)

Kamu harus hidup dalam jama’ah siapa saja yang mengasingkan diri dari jama’ah, dia akan menyendiri masuk ke dalam api neraka (HR. Tirmizi).

  1. c. Waspada dan menjaga keselamatan bersama

Allah berfirman

وتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة        (الانفال: 25).

Takutlah kamu kepada fitnah yang tidak hanya menimpa kepada orang yang zalim saja (QS. al-Anfal: 25)

Allah SWT berfirman

وتواصوا بالحق وتواصو بالصبر        (العصر: 3)

Saling menasehatilah tentang kebenaran dan saling menasehatilah dengan kesabaran (al-Ashr: 3)

Sabda Rasulullah SAW

إذا استنصح احدكم اخاه فالينصح له      (رواه البخارى)

Jika kamu dimintai nasehat oleh salah seorang saudaramu, maka berikanlah nasehatmu kepadanya (HR. Bukhari)

Sabda Rasulullah SAW:

الدين النصيحة سئل لمن؟ فقال: فقال: لله ولكتابه ولرسوله ولامة المسلمين عامتهم

Agama itu nasehat, kemudian ditanyakan kepada beliau, bagi siapa nasehat itu? Rasulullah menjawab: bagi Allah, bagi kitab-kitabnya, bagi rasulnya, bagi para pemimpin muslim, dan jama’ah pada umumnya (HR. Muslim)

  1. d. Berlomba mencapai kebaikan

Allah SWT berfirman

فاستبقوا الخيرات … (البقرة: 146)

Dan saling berlombalah kamu untuk berbuat kebaikan di mana kamu berada (QS. al-Baqarah: 146)

Sabda Rasulullah SAW

اتق الله حيث ما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن (رواه الحاكم والترمذي)

Bertakwalah selalu kepada Allah dimana saja kamu berada, dan iringilah selalu perbuatan salahmu dengan kebaikan, semoga dapat terhapus kesalahan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan selalu bersikap ikhlas (terpuji). (HR. Hakim dan Tarmizi).

  1. e. Tidak boleh mencela dan menghina

Allah SWT berfirman

يايها الذين امنوا لا يسخر قوم من قوم عسى ان يكونوا خيرا منهم

ولا نساء من نساء عسى ان يكن خيرا منهن ولا تلمزوا انفسكم  ولا تنابزوا  بالالقاب بئس الاسم الفسوق بعد الايمان ومن لم يتب فاولئك هم الظلمون          (الحجرات: 11).

Wahai umat yang beriman, janganlah hendaknya terjadi suatu kaum menghina kaum yang lainnya, boleh jadi yang dihina ternyata lebih baik keadaannya daripada yang menghina. Demikian juga janganlah para wanita itu menghina kelompok wanita yang lainnya, karena boleh jadi wanita yang dicela itu lebih baik dari yang mencela. Janganlah saling mencerca dan janganlah berolok-olok dengan sebutan-sebutan yang jelek. Seburuk-buruk sebutan fasik sesudah orang itu beriman (al-Hujurat: 11).

  1. f. Menepati janji

Firman Allah SWT:

يايها الذين امنوا اوفوا بالعقود                    (المائدة: 1)

Wahai umat yang beriman, penuhilah selalu janji-janjimu (QS. al-Maidah: 1)

Firman Allah SWT:

والموفون بعهدهم إذا عاهدوا        البقرة: 177)

Dan orang-orang yang selalu menyempurnakan janji-janjinya, jika ia membuat perjanjian (QS. al-Baqarah: 177)

  1. g. Bersikap adil

Allah SWT berfirman:

قل امر ربي بالقسط    (البقرة: 29)

Katakanlah: telah memerintahkan Tuhanku agar berbuat adil (QS. al-A’raf: 29)

Allah SWT berfirman:

يايها الذين امنوا كونوا قوامين لله شهداء بالقسط ولا يجرمنكم شنان قوم على الا تعدلوا اعدلوا هو اقرب للتقوى ان الله خبير بما تعملون (المائدة: 8).

Wahai umat yang beriman, hendaklah kamu menjadi manusia yang lurus karena Allah dan menjadi saksi, dan janganlah kebencian atas suatu kaum menyebabkan kamu tidak adil. Berlaku adilah kamu, karena adil itu lebih dekat kepada takwa (kebaktian). Bertakwalah kamu kepada Allah, karena sesungguhnya Allah amat mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Maidah: 8).

Allah SWT berfirman:

خذ العفو وأمر بالمعرف واعرض عن الجاهلين  (الاعراف: 199)

Berilah maaf dan anjurkanlah orang untuk berbuat adil dan hindarilah pergaulan dengan orang-orang bodoh (kecuali untuk mendidik mereka). (QS. al-A’raf: 199)

Sabda Rasulullah SAW:

اتق الله حيث ما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن    (رواه الحاكم والترمذي)

Bertakwalah selalu kepada Allah dimana saja kamu berada, dan iringilah selalu perbuatan salahmu dengan kebaikan, semoga dapat terhapus kesalahan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan selalu bersikap ikhlas (terpuji) (HR. al-Hakim dan Tirmizi).

  1. h. Tidak boleh bermusuh-musuhan

Rasulullah SAW bersabda:

عن ابى هريرة رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا تجسسوا ولا تسسو ولا تناجشوا وكونوا عبد الله اخوانا   (متفق عليه).

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda; janganlah kamu saling mendengki, saling membenci, saling mencari kesalahan yang lain, saling mengumpat dan jangan pula saling menipu. Tetapi jadilah kam hamba-hamba Allah penuh persaudaraan (HR. Bukhari dan Muslim).

Sabda Rasulullah SAW

سباب المسلم لسوق وقتاله كفر      (رواه بخارى ومسلم)

Mencerca seorang muslim adalah fasiq, dan membunuh seorang muslim adalah kufur (HR. Bukhri dan Muslim)

Sabda Rasulullah SAW:

انصر اخاك ظالما أو مظلوما         (رواه البخارى)

Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi (HR. Bukhari).

Sabda Rasulullah:

ليس منا من لم يرحم صغيرنا ولم يعرف حق كبيرنا        (رواه ابو داود وترميذي).

Tidak termasuk umatku orang yang tidak mengasihi generasi muda dan tidak menghormati orang tua (HR. Abu Daud dan Tirmizi)

Sabda Rasulullah:

تحجزه من ظلمه فذلك نصره

Hindarkanlah atau cegahlah dia dari bertindak aniaya itulah cara menolongnya.

Sabda Rasulullah:

المسلم اخو المسلم لا يظلمه ولا يخذ له (رواه ابو داود)

Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, karena itu tidak menganiaya saudaranya, tidak merendahkan derajatnya dan tidak menanggapinya sepele dan hina (HR. Abu Daud).

  1. i. Tidak boleh bermarahan.

Rasulullah SAW bersabda:

لا يحل لمسلم ان يهجر اخاه فوق ثلاث

Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari (HR. Bukari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Muwatha’ dan Ahmad).

Allah SWT berfirman:

يايها الذين امنوا كونوا قوامين لله شهداء بالقسط ولا تجر منكم شنان قوم على الا تعدلوا اعدلوا هو اقرب للتقوى ان الله خير بما تعملون           (المائدة: 8)

Wahai umat yang beriman, hendaklah kamu menjadi manusia yang lurus karena Allah dan menjadi saksi dan janganlah kebencian atas suatu kaum menyebabkan kamu tidak adil. Berlaku adillah kamu, karena adil itu lebih dekat kepada takwa (kebaktian). Bertakwalah kamu kepada Allah, karena sesungguhnya Allah amat mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Maidah: 8).

Allah SWT berfirman:

خذ العفو وأمر بالعرف واعرض عن الجاهلين      (الاعراف: 199).

Berilah maaf dan anjurkanlah orang untuk berbuat adil dan hindarilah pergaulan dengan orang-orang bodoh (kecuali untuk mendidik mereka).

Karena itu masyarakat  Minangkabau yang beradat dan beragama selalu dalam hidupnya diingatkan untuk mengenang hidup sebelum mati dan hidup sesudah hidup ini (dibalik mati) itu. Sesuai dengan peringatan Ilahi.

“ bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS.13, Ar Ra’du : 11).

Satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam “iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah”, dalam rangka pembinan negara dan bangsa keseluruhannya, semata untuk melaksanakan Firman Ilahi;

“Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan). (QS.28, Al Qashash : 77)

Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri anak nagari,

Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.”

Ketahuilah bahwa ni’mat Allah, sangat banyak.

Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS.16, An Nahl : 18).

Hukum Islam menghendaki keseimbangan antara  perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani ; “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist).

Keseimbangan tampak jelas dalam menjaga kemakmuran di ranah ini,   “Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

Hal ini seiring dengan bimbingan hadist Rasul SAW, Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”  (Hadist).

Dianjurkan, jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil.[1]

Diajarkan, bahwa Allah SWT telah menjadikan bumi mudah untuk digunakan. Maka, berjalanlah di atas permukaan bumi, makanlah dari rezekiNya, kepadaNya lah tempat kamu kembali.

Maka berpencarlah kamu di atas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”. (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

Karatau madang dihulu babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu dirumah paguno balun. Ditanamkan pentingnya kehati-hatian “Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”.

Agama Islam membangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu (space and time consciousness), kepada peredaran bumi, bulan dan matahari, yang menyebabkan pertukaran malam dan siang, dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun.

Menyia-nyiakan waktu, dengan pasti akan merugi. Maka, kehidupan mesti diisi dengan amal berguna.[2]

dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan ” (QS.78, An Naba’ : 10-11).

Malam itu disebut sebagai pakaian, karena malam itu gelap menutupi jagat sebagai pakaian menutupi tubuh manusia.

Jangan melewati batas, dan berlebihan. Jangan boros.

“Wahai Bani Adam, ailah perhiasanmu, pada tiap-tiap (kamu pergi) ke masjid (melakukan ibadah); dan makanlah dan minumlah, dan jangan melampaui batas; sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS..7, Al A’raf : 31)

Manusia diharuskan berusaha membanting tulang dan memeras otak, untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya, dan menikmatinya sambil mensyukurinya. Tuntutan syar’i (syarak mangato adaik mamakai) adalah, beribadah kepada Ilahi.

A. PENGERTIAN ‘URF DAN ‘ADAT

Ahli fiqh telah lama merangkum di dalam kajian mereka, pembahasan tentang tradisi manusia dan posisinya dalam syari’at Islam. Istilah yang mereka pergunakan untuk itu berkisar anatara ‘urf dan ‘adat. Dua term itu dianggap memiliki makna yang sama dalam pemahaman sebagian fuqaha’, namun ada yang melihatnya sebagai dua kata yang berbeda.

Terlepas dari perbedaan pendapat dalam melihat makna kata ‘urf dan ‘adat, Ahli fiqh telah merumuskan definisi ‘urf dalam posisinya sebagai suatu alternatif dalil dalam melahirkan hukum Islam. Majlis Majma’ al-Fiqh al-Islamiy mendefinisikan ‘urf

Segala yang dibiasakan oleh manusia dan mereka jadikan sebagai cara kehidupan baik dalam bentuk ucapan, tindakan maupun sesuatu yang mesti ditinggalkan, dimana adakalanya dipandang benar oleh syara’ dan adakalanya dipandang tidak benar.

Dari definisi di atas, dapat difahami bahwa ‘urf atau yang dikenal oleh masyarakat sebagai adat bukan hanya sekedar pepatah atau peribahasa. Dalam tinjauan hukum Islam, adat yang dipandang sebagai adat bukan hanya dalam tataran filosofis. Namun Fiqh Islam melihatnya dalam suatu keutuhan tradisi baik dari sisi falsafah maupun dari sisi penerapan falsafah itu.

Klasifikasi mu’tabar dan ghairu mu’tabar atau shahih dan fasid yang telah digariskan oleh fuqaha` berdasarkan petunjuk Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah saw, menjadi landasan kuat dalam menilai adat apapun yang ditemukan dalam masyarakat muslim tanpa mempersoalkan apakah kemunculan adat itu setelah diterimanya hidayah Islam atau belum.

Adat yang dipandang tidak benar dalam syari’at Islam merupakan sesuatu yang harus ditinggalkan seorang muslim sebagai konsekwensi kebenaran syahadatnya. Apabila seorang muslim berkeberatan meninggikan ketentuan Allah swt dari segala ciptaan nenek moyang yang diwarisinya secara turun temurun, tentu keyakinannya akan kesempurnaan Allah swt dan kesempurnaan syari’at yang diturunkannya menjadi ternoda.

B.  ADAT MINANGKABAU

Masyarakat Minangkabau dengan segala kelapangan berfikirnya, sangat sangat mengerti dengan adat sebagaimana penjelasan di atas.  Suatu langkah awal telah dicanangkan melalui semboyan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Syara’ Mangato Adat Mamakai. Ini merupakan pernyataan tulus masyarakat Minang untuk menerima Islam secara utuh(Kaffah).

Langkah awal yang baik apabila tidak dilanjutkan, tentu hanya akan menjadi kebanggaan kenangan. Dan tidak jarang dijumpai langkah awal dianggap sebagai langkah akhir.  Pencanangan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Syara’ Mangato Adat Mamakai merupakan landasan perjuangan bersama masyarakat Minang dalam memasuki Islam secara kaffah. Kenyataan seperti di atas perlu disadari dan tidak ada lagi dari masyarakat minang yang menganggap ini merupakan akhir dari suatu proses ketundukan kepada Allah.

Kata adat berasal dari bahasa Sangskerta, dibentuk dari kata “a” dan “dato”. “A” artinya tidak. “Dato” artinya sesuatu yang bersifat kebendaan. Jadi “adat” pada hakikatnya adalah segala sesuatu yang tidak bersifat kebendaan. Hal ini merupakan lanjutan dari kesempurnaan hidup, di mana nilai kehidupan tidak terpaku kepada nilai-nilai benda atau kekayaan yang dimiliki.

Menurut latar belakang sejarahnya, kesadaran tentang adat muncul semasa masyarakat hidup makmur, penduduk sedikit sedangkan kekayaan alam berlimpah ruah. Pada saat itu manusia sampai kepada kesadaran akan adat, yakni kesadaran bahwa nilai sesuatu bukan diukur dengan benda. Selagi manusia masih diperhamba harta-benda, pada saat itu pula manusia dapat dikatakan belum beradat.

Adat Minangkabau terbentuk sejak orang Minang mengenal pandangan hidup yang berpangkal pada budi. Budi dihayati berdasarkan pengamatan yang berguru kepada alam takambang, artinya berdasarkan ketentuan-ketentuan yang nyata yang terlihat pada alam semesta. Alam memberi contoh dan inspirasi kepada umat manusia tentang budi, yang ikhlas memberi tanpa mengharap balas. Matahari dan bulan misalnya, memberi contoh dalam menerangi alam, tanpa mengharap balasan dari manusia atas nikmat terang yang diberikannya.

Bagi orang Minangkabau, adat adalah sebagian dari jiwanya. Segala perbuatan baik harus disertai dengan kata-kata adat; berkata beradat, duduk beradat, berjalan beradat, makan-minum beradat dan bergaul beradat. Mereka yang tidak mengindahkannya, dikatakan tidak beradat.

Di Minangkabau, adat itu awalnya tunggal. Tetapi mengingat terjadi perkembangan di tengah masyarakat, maka untuk meresponi perkembangan tersebut adat yang tunggal itu dikembangkan menjadi empat, yakni : Adat Nan Sabana Adat, Adat nan Diadatkan, Adat nan Teradat, dan Adat-istiadat.

Pertama, Adat Nan Sabana Adat, adalah aturan pokok dan falsafah yang mendasari kehidupan suku Minang yang berlaku turun temurun tanpa terpengaruh tempat, waktu dan keadaan sebagaimana dikiaskan dalam kata-kata adat: Nan tak lakang oleh panas, Nan tak lapuk oleh hujan. Di antara Adat nan sabana Adat tersebut adalah aturan Syara’ (agama Islam), berdasarkan al-Qur’an al Karim dan hadits Nabi saw., serta hukum adat yang dilegitimasi oleh hukum Islam atau hukum Islam yang dalam pelaksanaannya mengikuti keadaan dan perkembangan kehidupan masyarakat. Dari sumber-sumber inilah diambil prinsip adat, yang dikenal dengan ungkapan Adat bersendi Syara’, Syara’ bersendi Kitabullah.

Dalam perkembangan pengamalan prinsip tersebut, muncul pepatah mengiringinya: Syara’ mengata, adat memakai, artinya landasan suatu pekerjaan itu diambilkan dari syara’, dari Al-Qur’an dan Sunnah. Lalu dipakai atau dibudayakan di tengah masyarakat menurut ketentuan adat. Dalam pemaparan Syara’ dan Adat kepada masyarakat, dikenal ungkapan, Syara’ bertelanjang, adat bersesamping, maksudnya: apa yang dikatakan oleh Syara’ bersifat tegas dan terang, akan tetapi setelah diamalkan dalam bentuk adat, ia diatur dalam prosedur sebaik-baiknya. Sedangkan dalam upaya pembudayaannya dikenal pepatah, Adat yang kawi, Syara’ yang lazim, maksudnya, adat tidaklah berdiri kokoh kalau tidak di-kawi-kan (berasal dari kata  qawwiyun = kuat). Syara’ tidak akan berjalan kalau tidak dilazimkan (diwajibkan).

Perlu dicatat bahwa Adat bersendi Syara’, Syarak bersendi Kitabullah ini adalah merupakan periode ketiga dalam hubungan adat dan agama Islam di Minangkabau, yakni setelah terjadi Perjanjian Bukit Marapalam (sekitar l833) mengakhiri perseteruan antara kaum Paderi dengan kaum Adat.

Pada periode pertama, menurut Amir Syarifuddin, adat dan hukum Islam berjalan sendiri-sendiri dalam batasan yang tidak saling mempengaruhi, yang dimunculkan dalam pepatah adat, Adat bersendi Alur dan Patut, dan Syara’ bersendi Dalil. Hal ini terjadi pada masa awal Islam di Minangkabau, di mana dominasi adat begitu kuat dan Islam belum lagi masuk dalam sistem masyarakat.

Periode Kedua, adalah periode adat dan Islam telah masuk dalam sistem sosial masyarakat, namun pengaruh Islam belum kuat. Pada waktu ini nilai-nilai moral yang dibawa Islam sejalan dengan adat Minangkabau, sehingga melahirkan pepatah adat, Adat bersendi Syara’, Syara’ bersendi Adat. Baru pada Periode Ketiga, setelah perjanjian Bukit Marapalam, ditetapkan Adat bersendi Syara’, Syarak bersendi Kitabullah.

Kedua, Adat nan  Diadatkan, adalah hukum-hukum adat yang diterima dari Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih nan Sabatang, yang pokoknya adalah : Cupak nan dua, Kato nan empat, Nagari nan empat dan Undang-undang nan empat. Adapun yang dimaksud Cupak nan dua, adalah cupak usali dan cupak buatan, (lebih lanjut tentang Cupak nan duo, lihat entri  Cupak).

Kato Nan Empat disebut juga Kato Adat, yaitu: Kato Pusako, Kato Mufakat, Kato Dahulu ditepati dan Kato Kemudian Kato dicari. Yang dikatakan Kato Pusako, adalah : Kato Rajo malimpahkan, kato panghulu manyalasaikan, kato malim kato hakekat, kato manti kato manghubung, kato dubalang kato mandareh, kato rang banyak kato babaluak (Kata raja Kata mendelegasikan, Kata penghulu Kata untuk menyelesaikan masalah, Kata alim-ulama Kata hikmah, Kata manti Kata menghubungkan, Kata dubalang bernada keras, Kata orang banyak beragam pendapat).

Selanjutnya Kato Dahulu ditepati, artinya suatu kata yang sudah disepakati harus ditepati. Kato kemudian Kato dicari, adalah sesuatu yang belum ada permufakatannya, atau telah ada kemufakatannya, tapi tidak cocok lagi dengan kondisi yang berkembang, lalu dicarikan kemufakatan baru.

Nagari nan Empat : pertama dusun, kedua taratak, ketiga koto, keempat nagari. Sedangkan Undang-ndang nan Empat adalah ; Undang-Undang Nagari, Undang-Undang dalam Nagari, Undang-Undang Orang Luhak dan Undang-Undang nan Dua Puluh.

Undang-Undang Nagari, pada prinsipnya memuat dasar-dasar kekeluargaan dan persyaratan suatu nagari sehingga dianggap syah ia menjadi nagari. Menurut Datuk Sangguno Dirajo, nagari sekurang-kurangnya harus memiliki lima syarat:

1.Balabuah, jalan tempat orang keluar masuk dalam negari,

2.Batapian, tempat penduduk mengambil air, mandi dan buang air,

3.Babalai, tempat penghulu duduk dan memperkatakan adat,

4.Bamusajik, tempat orang bersidang Jumat dalam negari menurut syara’,

5.Bagalanggang, suatu tanah lapang pamedanan yang dijadikan oleh anak negari, tempat berkumpul pagi dan petang.

Undang-Undang dalam nagari, merupakan etika perhubungan anak dalam nagari, yang terangkum dalam untaian kata-kata adat berikut:

Salah cencang memberi pampas, salah bunuh memberi diat, salah makan memuntahkan, Salah ambil mengembalikan, salah kepada Allah minta taubat, gawa mengubah, cabul membuang, adil yang dipakai, berbenturan berbayaran, bersalahan yang berpatut, gaib berkalam Allah, berebut diketengahkan, suarang diagih sekutu dibelah, mengambil mengembalikan, meminjam mengantarkan, utang dibayar piutang diteriama, jauh berhimbauan dekat bertarikan.

Adapun Undang-undang luhak adalah merupakan pakai segala raja dan penghulu di alam Minangkabau, yang terangkum dalam kata-kata adat berikut:

Luhak yang perpenghulu, rantau yang mempunyai raja, tegak yang tidak tersundak, Melenggang yang tidak terpampas, terbujur lalu terbelintang patah, begitu permainan segala penghulu

Sedangkan Undang-Undang nan Dua Puluh, diklasifikasikan atas dua bagian, yakni: Undang-Undang nan Delapan untuk menyatakan perbuatan kejahatan, dan Undang-Undang nan Dua Belas untuk menyatakan tanda bukti melanggar undang-undang. Yang termasuk Undang-undang yang delapan adalah:

l. Tikam–bunuh (menikam dengan senjata tajam hingga melukai, bunuh  mengakibatkan korban mati)

2. Upas–racun (upas memberi racun tapi tidak mati, racun mengakibatkan mati).

3. Samun–sakar (samun mengambil barang orang dengan kekerasan, tapi tidak membunuh.  Sakar, merampas dengan membunuh korban)

4. Siar–bakar (membakar ladang, rumah tidak hangus semua, bakar sampai   hangus semua)

5. Maling–curi (maling, mengambil barang di rumah orang malam hari, curi mengambil barang orang siang hari)

6. Rebut–rampas (rebut mengambil barang orang dengan menariknya secara kekerasan. Rampas mengambil barang orang dengan menodong / bahkan membunuhnya)

7. Dago–dagi (dago membantah adat yang biasa, dagi membatah adat yang kawi sampai membuat kekacauan)

8. Sumbang–salah (Sumbang, perbuatan yang menyalahi pandangan umum, umpanya berduaan perempuan dengan laki-laki. Salah, perbuatan berduaan dengan perempuan yang melangar adat / agama, umpamanya tertangkap berzina).

Selanjutnya Undang-undang Dua Belas dibagi dua. Undang-undang Pertama, Menjadi induk bagi yang kedua. Bagian pertama ialah: (1) Terlelah terkejar, (2) Tercencang teretas, (3) Terlecut terpukul, (4) Putus tali, (5) Tambang ciak, (6) Enggang lalu antah jatuh, itulah tanda bukti namanya.

Bagian kedua ialah: (1) Siang bersuluh matahari, Bergelanggang mata orang banyak, (2) Berjalan bergegas-gegas, (3) Pulang-pergi berbasah-basah, (4) Menjual murah-murah, (5) Dibawa pikat dibawa langau (lalat), (6) Terbayang tertebar, cenderung mata orang dalam negeri, semuanya adalah tanda bukti.

Barang siapa melalui atau melanggar pekerjaan demikian; “aniaya” namanya. Sedangkan yang dilalui atau yang terlanggar “teraniaya” namanya. Orang yang menganiaya itu menjadi lawan orang banyak dalam negeri.

Ketiga, Adat nan Teradatkan, Adalah kebiasaan yang boleh ditambah atau dikurangi, dan boleh juga ditinggalkan, jadi dapat berubah-ubah berdasarkan permufakatan para penghulu dalam suatu suku atau nagari atau suatu luhak. Karena itu bisa terjadi lain nagari lain adatnya, lain padang lain belalangnya, lain lubuk lain ikannya. Di sinilah berlaku ungkapan, cupak nan sapanjang batuang, adat nan salingka nagari. Bagi mereka yang pindah nagari atau merantau, berlaku ketentuan : di mana sumur digali di situ ranting dipatahkan, di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung, di mana negeri dihuni di sana adat dipakai

Contoh lain nagari lain adatnya : ada beberapa suku yang anggotanya tidak boleh kawin-mengawini, seperti suku Jambak, Patapang, Sumpu dan Kuti Anyie, tidak boleh kawin dengan salah satu suku yang empat itu. Jika orang-orang suku itu akan kawin, harus di luar suku yang empat tersebut. Sebaliknya ada pula orang dalam satu suku boleh saling kawin-mengawini, seperti orang suku Sumagek, boleh kawin dengan orang sama-sama suku Sumagek. Namun dalam hal-hal yang menyangkut dengan penghulu dan pewarisan, berlaku nan sabana adat. Oleh sebab itu Adat nan Teradatkan tidak boleh berlawanan dengan Nan sabana Adat.

Keempat, Adat Istiadat, adalah suatu kelaziman dalam suatu nagari, baik antara sesama masyarakat, antara orang perorang, di mana orang yang berhak meminta akan haknya, seperti : alam diperintah raja, Agama diperintah malin, nagari di perintah penghulu. Kampung diperintah tua kampung, rumah diperintah mamak, isteri seperintah suami. Tegasnya, memberikan legitimasi kepada orang sesuai dengan fungsi dan keberadaannya masing-masing.

Semua harus sesuai prosudur dan pembahagian kerjanya, namun tetap dalam suatu kerangka kerjasama yang utuh. Inilah suatu prinsip yang sangat membantu orang Minang bisa menerima keadaan sosial politik yang berkembang, karena adat-istiadat yang sudah menjadi kultur baginya telah menempatkan orang sesuai fungsi dan posisinya masing.

Adat istiadat merupakan satu sistem sosial kemasyarakatan yang dikembangkan sesuai dengan masa, tempat dan aturan sosial yang berlaku di zamannya, ia tidak tetap seperti itu saja dari masa ke masa. Sebagaimana kata pepatah: “Sekali aie gadang, sekali tapian baralih. Sakali musim batuka, sakali caro baganti ( Sekali air besar/banjir/meluap, sekali tepian beranjak/ bergeser. Sekali musim bertukar, sekali cara berganti). Dapat juga dikatakan Adat Istiadat itu adalah kreasi budaya masyarakat Minang yang dapat berubah  sesuai keadaan dan tempat serta perkembangan yang terjadi, namun semuanya dalam batasan Adat nan Sabana Adat.

  1. A. ADAT BASANDI SYARAK

Adat bagi masyarakat telah terbentuk sejak orang Minang mengenal dirinya dalam bentukan masyarakat, yang dimulai dari Taratak, Koto dan Nagari.adat berdasarkan alur dan patut Adat pada tahap awal ini disandarkan atau didasarkan pada apa yang disebut “, alur bersandarkan patut dan mungkin”.

Alur artinya jalan yang benar,

Patut dan mungkin artinya  yang layak, senonoh, baik, pantas, selaras. Patut merupakan perkiraan keadaan ( etimasi ) pertimbangan rasa dan daya pikir atau nalar.

Berkelindannya adat dengan agama Islam telah berlangsung sejak Islam itu menjadi pegangan hidup bagi orang minang disamping adatnya sendiri. Sejalannya dua pandangan hidup ini sangat munkin sekali terjadi, karena Islam sebagi ajaran yang sempurna membawa tatanan tentang apa yang harus diyakini oleh pemeluknya yang disebut aqidah dan tatanan yang harus dilakukan (diamalkan) yang disebut dengan syari’ah atau syara’. Yang berhubungan dengan aqidah, khususnya masalah ketuhanan tidak jelas ujudnya dalam adat Minangkabau, hanya sekadar falsafah alam nyata saja. Tidak ditemukan bagaimana ajaran adat minang tentang kehidupan setelah kematian atau kehidupan alam akhirat.

Maka dalam pepatah adat disebutkan:

Si Amat mandi ke luhak,Luak perigi paga bilah, Bilah bapilah kasadonyo,Adat basandi syara’ Syara’ basandi kitabulallah,Sanda manyanda kaduonyo. Pinang masak bungo bakarang, Timpo-batimpo saleronyo, Jatuh baserak daun sungkai,Tiang tagak sandi datang, Kokoh mangokoh kaduonyo, Adat jo syara’ takkan bacarai.

Prinsipnya ajaran adat lebih memberikan panduan pada tatanan bagaimana orang harus menjalani kehidupan dialam nyata ini. Ajaran adat Minangkabau lebih memberikan bimbingan tentang moralitas bagi masyarakatnya.

Seperti yang dapat dipahami dari pepatah adat: Gajah mati meninggakan gading, Harimau mati maninggakan balang, Manusia mati maninggakan jaso.

Disamping itu ajaran Islam yang bersifat kemasyarakatan banyak sekali sesuai dengan semangat adat Minang, maka tidak perlu adanya perseteruan antara adat dan agama sebagai contoh dapat ditemukan pada pepatah adat : Ado katomandaki, koto manurun, kato malereang, kato mandata. Artinya ada kata yang mesti ditempatkan pada kondisi siapa lawan bicara, jika dengan anak kecil disebut kata menurun, mestilah dengan cara lemah lembut, sedangkan dengan orang lebih besar kato mandaki haruslah dengan penuh hormat dan sopan santun, dengan orang yang sama besar mak disebut kata mendatar artinya saling menghargai, kata melereng adalah bahasa sindiran bagi orang yang hubungan kekerabatan dalam bentuk ipar-bisan.

Ajaran adat basyandi syarak pada hakikatnya dirumuskan dalam satu sistem yang mudah, sederhana namun memiliki makna yang dalam mendasar. Sistem itu diungkap dalam satu konvensi (kesepakatan umum) yang dikenal dengan tahu di Nan Ampek, yaitu:

  1. Adat terdiri atas empat jenis:
    1. Adat nan sabana adat (Prinsip dasar adat, yaitu Ajarah Islam)
    2. Adat nan diadatkan (Pelaksanaan adat hasil kesepakatan)
    3. Adat nan teradat (kebiasaan yang berlaku daaerah setempat)
    4. Adat istiadat (sistim seni, budaya dan peradaban)
    5. Nagari terdiri atas empat dasar:
      1. Taratak ( lingkungan yang dihuni satu keluarga sa-paruik)
      2. Dusun( lingkungan yang dihuni satu keluarga sa-jurai)
      3. Koto ( lingkungan yang dihuni satu suku)
      4. Nagari ( lingkungan yang dihuni beberapa suku)
      5. Kato-kato adat sebagai dasar hukum adat ada empat macam:

a.  Kato pusako (konsep dasar adat Minangkabau yang ada dalam  bahasa)

b. Kato mufakat (keputusan yang diambil dalam satu permusyawaratan)

  1. Kato dahulu patapati (janji yang sudah disetujui harus dipenuhi).
  2. Kato kamudian kato bacari (perubahan harus disepakati bersama)
    1. Undang-undang terdiri atas empat macam:
      1. Undang-undang luhak (peraturan mengikat seluruh alam Minangkabau).
      2. Undang-undang nagari (perauran pokok tentang seluruh nagari).
      3. Undang-undang dalam nagari (paraturan pada nagari tertentu),
      4. Undang-undang Duo Puluah( peraturan pidana adat)
  1. Hukum adat ada empat macam:
  1. Hukum ilmu ( hukum berdasarkan fakta ilmiah dan alamiah).
  2. Hukum bainah (hukum yang dtegakkan berdasarkan sumpah).
  3. Hukum kurenah(hukum  yang ditetapkan berdasarkan indikasi).
  4. Hukum perdamaian (hukum yang didasarkan peramaian)
      • Cupak terdiri atas empat macam:
      1. Cupak asli (usali),
      2. Cupak Buatan,
      3. Cupak Tiruan,
      4. Cupak nan Piawai.
          1. Asal suku di Minangkabau ada empat:
          1. Bodi,
          2. Caniago,
          3. Koto,
          4. Piliang.

          Hakikat ajaran adat Minangkabau ada empat macam

          1. Raso.
          2. Pariso,
          3. Malu
          4. Sopan

        Sifat seorang pimpinan dalam adat Minangkabau empat macam:

      1. 1.  Bana,
      2. Cadiek (cerdik dan cerdas),
      3. Dpercaya lahir dan bathin
      4. Pandai berbicara (arif mengungkapkan pikiran).

10.  Tugas pimpinan dalam masyarakat ada empat macam:

  1. Manuruik alua nan lurui
  2. Manuruik jalan nan pasa
  3. Mamaliharo anak-kamanakan
  4. Mempunyai tangan/memelihara harta pusaka.

11.  Larangan bagi pimpinan ada empat macam:

  1. Mamakai cabua sio-sio
  2. Maninggakan siddiq dan tabliq
  3. Mahariak mahantam tanah
  4. Bataratak bakato asiang.

12.  Ilmu terdiri atas empat macam:

  1. Tahu pada diri
  2. Tahu pada orang
  3. Tahu pada alam
  4. Tahu pada Allah SWT.

13.  Paham terdiri atas empat macam:

  1. Wakatu bungo kambang
  2. Wakatu angin lunak
  3. Wakatu parantaraan
  4. Wakatu tampek tumbuah.

14.  Asal kebenaran ada empat macam:

  1. Dari dalil kato Allah
  2. Dari hadits kato Nabi
  3. Dari kato pusako
  4. Dari kato mufakat.

15.  Penerbitan kebenaran/cara berpikir ada empat macam:

  1. Pikia palito hati
  2. Nanang ulu bicaro
  3. Aniang saribu aka
  4. Sabar bana mandatang.

16.  Yang menjauhkan sifat kebenaran ada empat macam:

  1. Dek takuik sarato malu
  2. Dek kasiah sarato sayang
  3. Dek labo sarato rugi
  4. Dek puji sarato sanjuang.

17.  Yang menghilangkan kebenaran ada empat macam:

  1. Dek banyak kato-kato
  2. Dek kurenah kato-kato
  3. Dek simanih kato-kato
  4. Dek lengah kato-kato.

18.  Jalan yang akan dilalui dalam pergaulan ada empat macam:

  1. Jalan mandata
  2. Jalan mandaki
  3. Jalan manurun
  4. Jalan malereang.

19.  Jalan dunia menurut adat Minangkabau ada empat macam:

  1. Ba-adat
  2. Balimbago
  3. Bacupak
  4. Bagantang.

20.  Jalan untuk mencapai akhirat yang baik ada empat macam:

  1. Beriman
  2. Bertauhid
  3. Islam
  4. Berma’rifat.

D. POKOK-POKOK ADAT

  1. Makna Adat
  2. Nilai-Nilai dasar ABS-SBK.
  3. Empirik (Alam Takambang Jadi Guru).
  4. Egaliter.( Di dahulukan salangkah).
  5. 5.Musyawarah.
  6. (Bulek kato jo mufakat)).
  7. Kekerabatan (Materilinial/garis ibu).
  8. Komunal.( Duduk surang basampik).
  9. Fungsional (Nan Buto Pahambuih lasung).
  10. Etika Sosial (Batanyo Lapeh Arak).
  11. Arif bijaksana (Alun takilek dan taraso).
  12. Piawai(Kato Bajawek Gayung Basambuik).
  13. Silogisme (Lantai ditembak hidung kanai).
  14. Hermenutika (Membaca yang tersirat).
  15. Imanjener ( Spekulasi Berfikir).
  16. Inovatif ( Sekali air gadang).
  17. Kreatif(Usang-usang diperbaharui).
  18. Dinamis (Karatau Madang dihulu).

17. Apresiatif  (Inggok basicakam, tabang basitumbu).

18. Adaptasi (Dimana langit dijunjug).

19.  Merantau (Induk Samang cari dahulu).

E. STRUKTUR

DEMOGRAFI:

TARATAK, DUSUN, KOTO,NAGARI DAN ALAM.

KEKERABATAN:

SAPARUIK, SAJURAI, SAKAUM, SASUKU, SA NAGARI, SA ALAM

WILAYAH BUDAYA:

KALARASAN BUDI CHANIAGO, KALARASAN KOTO PILIANG.

KEPEMIMPINAN :

URANG 4 JENIS ;

PENGHULU, MANTI, MALIN DAN DUBALANG. TUNGKU TIGO SAJARANGAN (NINIKMAMAK, ALIM ULAMA CARDIK PANDAI.

URANG JENIS NAN 4 ;

IMAM, KHATIB, BILAL DAN QADHI.

POLITIK:

DAERAH ASLI(DAREK), PINGGIRAN (RANTAU)

F. PRINSIP DASAR ADAT

ADAT SA SUKU, MEMELIHARA SISTIM SOSIAL

SAKO, MEMILIKI HAK GELAR ADAT

PUSAKO, HAK PENGUASAN HARTA PUSAKA

FALSAFAH, ALAM TAKAMBANG JADI GURU

NORMA, ALUA, PATUIK, MALU JO SOPAN

BUDAYA, RUMAH GADANG, LUMBUNG, KESEJAHTERAAN

AGAMA, SURAU, AGAMA, ADAT, KEPATUTAN

TAPIAN, SARANA JALAN DAN SUMBER HIDUP.

PANDAM PAKUBURAN, KEMATIAN DAN ADATNYA.

  1. Hubungan Sosial

MATRILIAL, MAMAK, ETEK, MANDE, KEMANAKAN,

PATRILINIAL, BAKO,  ANAK PISANG, ANAK MAMAK, ETEK.

TALI BUDI, SA SUKU, SUKU MALAKOK,

INGOK MANCAKAM, TABANG BASITUMPU.

MENGISI ADAIK JO LIMBAGO.

DAGING DI LAPAH, DARAH DI CACAH, SAHINO, SA MULIA.


[1] QS.4, An Nisak : 97.

[2] QS.16 : 17 dan QS.14,Ibrahim : 33.

Ciloteh Lapau antara Dilaektika dan Dinamika Minangkabau

CILOTEH LAPAU ANTARA DIALEKTIKA DAN DINAMIKA MINANGKABAU

Oleh : H.Mas’oed Abidin

WILAYAH MINANGKABAU

Masyarakat Minangkabau adalah salah satu suku bangsa di antara puluhan suku bangsa yang membentuk bangsa Indonesia. Masyarakat Minangkabau hidup di sekitar wilayah Sumatera Bagian Tengah, atau yang dalam Tambo Minangkabau disebutkan wilayah Minangkabau itu meliputi kawasan, “… dari Sikilang Aia Bangih sampai ka Taratak Aia Itam. Dari Sipisok-pisok pisau anyuik sampai ka Sialang Balantak basi. Dari Riak nan Badabua sampai ke Durian ditakiak (ditakuak)past-photo-masoed-abidin Rajo”, (artinya, dari Sikilang Air Bangis sampai ke Taratak Air Hitam, dari Sipisok-pisok Pisau Hanyut sampai ke Sialang Belantak Besi, dari Riak yang berdebur sampai ke Durian Ditekuk Raja).

Orang Minangkabau menamakan tumpah darahnya dengan Alam Minangkabau, yang secara geografis wilayahnya berpusat di selingkar Gunung Merapi, di Sumatera Barat. Wilayah itu meluas menjadi Luhak dan Rantau. Wilayah Luhak terletak di nagari-nagari yang berada di sekitar Gunung Merapi, sedangkan wilayah Rantau berada di luarnya, yaitu di sekitar wilayah pantai bagian Barat dan Timur Minangkabau.

Dalam Tambo dikisahkan bahwa Alam Minangkabau mempunyai tiga buah Luhak yang disebut dengan Luhak Nan Tigo (Luhak yang Tiga). Terbagi kepada Luhak Tanah Datar, Luhak Agam dan Luhak Lima Puluh Kota. Dari Luhak tersebut, kemudian berkembang menjadi Luhak Kubang Tigobaleh, yang terletak di sekitar Gunung Talang, Kabupaten Solok sekarang.

Wilayah Rantau terletak di luar Luhak-luhak tadi. Semula rantau adalah tempat mencarikan hidup para penduduk, terutama dalam bidang perdagangan. Wilayah rantau, berubah menjadi tempat menetap turun temurun dari para perantau Minangkabau. Terjadilah pembauran dan pemesraan (asimilasi) antara nan datang mencengkam hinggap bersitumpu. Kemudian berkembang menjadi bagian dari pusat pemerintahan di Minangkabau dulu, yakni Kerajaan Pagaruyuang, yang mempunyai Basa Ampek Balai, berninik bermamak, berdatuk dan berpenghulu. Berlakukah pula di wilayah rantau itu, adat istiadat Minangkabau.

ISTILAH MINANGKABAU

Minangkabau lebih dikenal sebagai satu bentuk pusat kebudayaan dengan masyarakatnya yang berstatus matrilineal – atau keturunan menurut garis keibuan. Hubungan kekerabatan ini, adalah perpaduan dan pemesraan antara istiadat (urf) dan syariat agama Islam.

Garis matrilineal yang dianut adalah, bahwa anak yang dilahirkan bernasab kepada ayahnya, bersuku kepada ibunya, dan bersako terhadap mamaknya.

 Hubungan kekerabatan seperti ini, mungkin tidak ada duanya di Indonesia. Sistem kekerabatan Minangkabau satu hal yang nyata, dan masih berlaku, walau perubahan terjadi di masa global ini. Kekuatan yang mengikat sistim kekerabatan Minangkabau, terlihat dari berbagai arah dan sudut pandang. Berpengaruh pada semua sisi kehidupan masyarakat Minangkabau.

Kekuatan kekerabatan itu misalnya, berpengaruh kuat pada aspek jiwa dagang masyarakatnya, mobilitas penduduknya, dengan kesukaan merantau ke negeri lain untuk mencari ilmu, mencari rezeki.

Sistim kekerabatan sedemikian itu pula, yang telah mendorong lajunya mobilitas horizontal dalam bentuk imigrasi, dan mobilitas vertical yang menuju kepada peningkatan kualitas.

JALINAN BAHASA DAN KEPERCAYAAN DI MINANGKABAU

Dari sisi kebudayaan dan berbagai hubungan perilaku, terbentuk hubungan jalin berkelindan antara Bahasa dan Kepercayaan orang Minangkabau. Pembauran dengan makna asimilasi adalah pemesraan antara dua unsur atau lebih dalam suatu wadah tertentu. Unsur yang satu menjadi bagian dari unsur yang lain, saling isi mengisi timbal balik. Salah satu bentuk pemesraan itu adalah bahasa dan kepercayaan dalam wadah kesusasteraan di Minangkabau. Penjiwaan dari kehidupan keseharian masyarakat Minangkabau, terasa ada pemesraan antara Bahasa dan Kepercayaan rakyat di Minangkabau. Perasaan itu terbawa kemana saja. Ada di ranah, dan terpakai di rantau. Di mana bumi dipijak di sana adat dipakai. Kaidah hidup ini adalah satu keniscayaan yang lahir dari keyakinan dari generasi berbudaya Minangkabau, di mana saja. Kata “percaya” berarti pendapat, itikad, kepastian dan keyakinan. Kepercayaan diartikan sebagai kebenaran yang diperoleh pikiran. Keyakinan adalah suatu kebenaran yang diperoleh jiwa, dikuatkan oleh pikiran. Kebenaran agama adalah keyakinan. Selanjutnya, kebenaran ilmu pengetahuan, filsafat dan intelektual adalah kepercayaan. Masalah kepercayaan adalah masalah manusia yang banyak berkaitan dengan kehidupannya. Sejarah kehidupan awal dari masyarakat manusia memberi pengetahuan kepada kita bahwa tiada suatu bangsapun yang hidup atau kelompok manusia yang tinggal pada suatu tempat yang tidak mengenal kepercayaan sebagai satu naluriah hidup yang vital. Kepercayaan timbul bersama dorongan-dorongan lain sebagai perlengkapan hidup manusia umumnya, seperti dorongan rohaniah manusia, yang selalu mengajar mereka untuk berbuat dan menyelesaikannya. Dorongan-dorongan dari dalam jiwa itu berkembang tiada hentinya (dinamis) pada setiap masalah demi masalah yang tidak akan henti-hentinya dalam hidup manusia. Naluri juga diartikan dengan dorongan hati atau keinginan yang berasal dari pembawaan yang menggerakkan untuk berbuat sesuatu. Naluri itu dapat pula disebut instink atau fitrah. Dorongan hati manusia dibedakan antara yang bersifat perasaan biologis dan yang bersifat perasaan rohaniah. Dengan demikian, berkepercayaan adalah salah satu dari perasaan rohaniah yang dapat juga disebut “perasaan keagamaan”. Maka dorongan-dorongan atau perasaan-perasaan yang bersifat biologis seperti dorongan untuk makan, mempertahankan diri, dan melangsungkan keturunan adalah keperluan jasmani. Selanjutnya kepercayaan adalah naluri atau dorongan hati secara fitrah lebih mutlak daripada yang lainnya. Agama adalah tuntunan dan tuntutan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan dan ketakutan. Dalam agama ada suatu ikatan antara manusia dengan kekuatan gaib. Agama dimaknai dengan aturan yang mengikat manusia atau ad-din atau syari’at (syarak). Kata religious dalam bahasa Latin berarti “mengikat”. Perilaku manusia terikat dengan pengabdian kepada kekuatan besar yang maha dahsyat atau kekuatan ghaib, baik dalam bentuk kultus maupun dalam sikap hidup keagamaan. Sumber utama kepercayaan atau rasa keagamaan ini adalah fitrah manusia yang merupakan anugerah Ilahi, dan melengkapi batin manusia melakukan kegiatan hidup sebagai makhluk yang lemah. Betapapun bersahajanya manusia ternyata kepercayaan membentuk tuntutan naluriahnya. Kepercayaan adalah salah satu dari kekuatan yang mengendalikan perasaan manusia. Kepercayaan menuntut adanya bentuk perbuatan nyata (amal) pada semua tindakan manusia. Pada tingkat ini dapat dirasa hubungan agama dengan kesadaran manusia ada keterikatan erat dengan tenaga di luar diri manusia itu, yang membuat alam nyata manusia, atau syarak mangato adaik mamakaikan. Fungsi naluri dari kepercayaan manusia kepada tenaga gaib itu membentuk keharusan menyatakan diri menjadi pengabdi dengan rasa rohaniah lahir dalam bentuk penghayatan pada berbagai tindakan dan ucapan. Tidak ada suatu macam agama yang tidak dimulai dengan kepercayaan. Di dalam agama Islam, dasar keagamaan disimpulkan atas enam pokok yang disebut dengan Rukun Iman, yaitu mempecayai adanya Allah, Malaikat, Kitab Suci, Pesuruh Tuhan, Hari Kemudian, dan mempercayai adanya kadar Tuhan atas yang baik atau yang buruk. Mengikuti pola rasa rohaniah manusia, maka berkepercayaan atau beragama adalah keperluan manusia yang harus dipenuhi, disamping keperluan pokok lainnya yang bersifat naluri. Kepercayaan bermula dalam tingkat penerimaan dari ilmu pengetahuan. Keyakinan berada pada taraf intensitas dari kepercayaan. Keyakinan selanjutnya meminta keharusan untuk melakukan aktivitas, sedangkan pada kepercayaan belum mempunyai keharusan untuk itu. Kepercayaan (syarak) itulah yang berasimilasi dengan bahasa dalam kesusasteraan Minangkabau.

ASIMILASI ANTARA TUTUR BAHASA DAN KEPERCAYAAN

Pemesraan antara bahasa dan kepercayaan, telah memperkaya Kesusasteraan Minangkabau, terutama kesusasteraan lama atau khazanah kesusasteraan lisannya.

Kesusasteraan Minangkabau sesungguhnya mempunyai pengertian yang dalam, yaitu “hasil bahasa Minangkabau yang indah”. Titik berat kesusasteraan Minangkabau bersifat lisan, terungkap dalam puisi dan prosa berirama. Tidak sedikit khazanah kesusateraan Minangkabau telah ditulis dalam tulisan-tulisan lama memakai huruf arab melayu.

Pemakaian huruf hijaiyah tersebut dalam mengungkapkan kosa kata melayu, adalah bagian dari pemesraan antara bahasa dan kepercayaan masyarakat Minangkabau yang beragama Islam.

Kesusasteraan tidak hanya sekadar hasil seni bahasa belaka. Kesusateraan adalah juga hasil pemikiran, hasil pengalaman, hasil merasa, bahkan hasil dari kehidupan seseorang atau masyarakat dan lingkungannya.

Kesusateraan adalah pula hasil bertutur kata, berciloteh dengan sadar, bukan dengan mimpi. Hasil sastera dapat disimak dalam kehidupan masyarakat pada suatu waktu, menjadi kebudayaan satu suku bangsa atau suatu bangsa.

Salah satu aspek yang amat berpengaruh membentuk kehidupan masyarakat adalah hubungannya dengan sesama, dan hubungannya dengan Penciptanya. Hubungan-hubungan itu tampak nyata di dalam bentuk kesusasteraan.

Kesusasteraan Minangkabau juga memberi jawaban pengaruh hubungan itu. Seperti tersua dalam ungkapan, “Kanan jalan ka Kurai, sasimpang jalan ka Ampek Angkek. Kok iyo pangulu ganti lantai, kok bapijak jan manjongkek. Adaik taluak timbunan kapa, Adaik lurah timbunan aie. Kok bukik timbunan angin, biaso gunuang timbunan kabuik. Adaik pamimpin tahan upek.”

Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, selalu diperhatikan antara dua kekuatan, yang satu secara lahiriah sikap dalam diri insan bernyawa, dan yang kedua adalah kekuatan keyakinan theis (agama) yang mengatur nyawa itu.

Kesusasteraan lahir dan dibentuk oleh dua unsur, yakni unsur nyawa yang memiliki rasa dan periksa, dan unsur agama yang membimbing rasa dan periksa itu.

Budaya kehidupan yang dibimbing oleh keyakinan agama, melahirkan sikap malu. Budaya malu, membentuk masyarakatnya hidup dengan kehati-hatian, serta ingat dan hemat dalam bertindak. Selanjutnya sikap-sikap budaya seperti ini menumbuhkan dinamika dalam kehidupan. Tampak jelas dalam cara bertutur, berciloteh sampai ke lapau-lapau ataupun di surau-surau.

JIWA BAHASA DI MINANGKABAU

Keindahan akan tercipta, ketika hasrat timbul untuk mengembalikan keindahan yang abadi dengan ajaran agama dan keagungan nama Ilahi, ke dalam bentuk-bentuk karya sastera. Asimilasi antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan Minangkabau terasa kental sekali.

Mempersoalkan hubungan yang mesra antara bahasa sastera dan kepercayaan kepada kekuasaan Allah Subhanu wa Ta’ala, menjadikan karya sastera itu indah abadi.

Menggali mutiara milik bangsa yang kaya dengan pemesraan antara agama dan adat istiadat etnik, yang akan memperkuat ke tunggal-ikaan dari puncak-puncak kebudayaan bangsa Indonesia.

Mutiara terpendam yang dapat diselami adalah bahwa kesusasteraan yang hakiki membentuk keperibadian satu bangsa, amat terkait dengan keyakinan pencipta sastera dan pendukungnya, yang keduanya mengabdi kepada Ilahi.

Kesusasteraan Minangkabau adalah pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam satu ungkapan, adaik basandi syarak, menjadi kekuatan besar untuk meraih keberhasilan di setiap masa.

Pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan sudah tercipta. Kepercayaan adalah fungsi jiwa manusia, dan kemajuan ilmu pengetahuan, telah membawa perubahan-perubahan terhadap jiwa manusia yang kompleks, namun satu keniscayaan belaka bahwa konsepsi kehidupan manusia tergantung pada alat-alat yang ada pada manusia itu sendiri.

Pada masyarakat Minangkabau, fungsi jiwa dibangun oleh kepercayaan kepada Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Esa itu tampak nyata dalam setiap aspek kehidupan kebudayaannya dan riak kehidupan sasteranya. Terutama dalam sastera bertutur dan berciloteh.

Sifat umum masyarakat tradisional Minangkabau di masa ini masih terasa, dan sukar untuk melepaskan kepercayaan dalam kehidupan tradisi mereka.

Pada dasarnya manusia itu bersifat konservatif. Sukar melepaskan perhiasan hidup lama, ingin menyimpan pusaka lama. Di antara pusaka lama itu, banyak di antara kita yang ingin memeliharanya dalam keasliannya”.

Pengukuhan adat bersendi syariat menjadi sangat penting. Jika hal ini dapat tetap ujud dan terpelihara baik, akan banyak manfaatnya menyalurkan nilai-nilai yang berharga dari satu budaya daerah, hasil masa lampau ke dalam kebudayaan Indonesia modern.

Menggali khazanah kebudayaan lama Minangkabau, yang banyak tersimpan di dalam bahasa lisan, serta dan menaikkannya ke atas permukaan kehidupan, menjadi bahasa tulisan, niscaya akan memberi sumbangan besar di dalam memupuk kebudayaan nasional, sesuai dengan keperibadian bangsa Indonesia.

Untuk melakukan kompilasi dari nilai-nilai pusaka Minangkabau yang menjadi mutiara kehidupan berbudaya dengan adat bersendi syari’at, perlu dilakukan observasi yang dipertajam untuk menapak Minangkabau yang kuat di masa depan. Menuntut keharusan pula adanya penelitian historis, terutama diarahkan kepada penyelidikan bentuk-bentuk sastera lisan yang banyak terdapat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, seperti pidato-pidato adat yang masih dihayati dalam kehidupan nyata, serta sopan santun dan kearifan dalam berciloteh baik di lapau atau di surau.

Memang amat sukar untuk menentukan berapa jumlah pendukung kesusasteraan lisan Minangkabau itu. Berapa banyak yang masih tersisa di dalam khazanah golongan terkemuka dalam adat atau penghulu (ninik mamak). Serta berapa banyak yang sudah diidentifikasi kembali oleh golongan cerdik pandai, suluah bendang di nagari, atau mereka yang dapat dianggap mengetahui bentuk-bentuk kesusasteraan lisan itu.

Berlakunya adaik istiadat nan salingka nagari, telah memberi warna perlakuan pribadi dan masyarakatnya, di dalam berinteraksi sesama. Adat istiadat yang menjadi kebiasaan pada setiap nagari dan luhak, menjadi kekayaan amat berharga, terutama di nagari-nagari yang masih menjaga nilai-nilai utama yang luhur. Termasuk di dalam berciloteh bersama di lapau dan di mana saja.

PERILAKU BERBUDAYA DAN BERAKHLAK DALAM PENGGUNAAN BAHASA

Perilaku berbudaya dan berakhlak masih dihayati dalam keseharian mereka, disebabkan tetap berlakunya ketentuan syariat agama Islam dengan kuat. Dan terjaganya dengan baik fungsi-fungsi urang ampek jinih dalam lingkungan kekerabatan di nagari-nagari.

Faktor penghayatan lahiriah dalam melaksanakan adat bersendi syariat, akan lebih banyak berbicara daripada konsep-konsep yang bersifat teoritis. Kearah ini kompilasi harus mengarah.

Kehidupan bermasyarakat di Sumatera Barat sudah lama direkat oleh kentalnya hubungan kebersamaan (ta’awun) di dalam tataran budaya berat sepikul ringan sejinjing sebagai perwujudan nyata nilai-nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Tataran budaya sedemikian telah terbukti dalam masa sangat panjang mampu memberikan dorongan-dorongan beralasan (motivasi) bagi semua gerak perubahan (reformasi) dari satu generasi ke generasi berikut di Ranah Bundo ini.

Bahkan telah pula terbukti menjadi modal sangat besar untuk meraih kemajuan di berbagai bidang pembangunan di daerah dan nagari, di dusun dan taratak. Serta memberikan sumbangan yang tidak kecil dalam mewujudkan persatuan bangsa dan kesatuan wilayah di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.

Adat Minangkabau yang disebut sebagai adat lama pusaka usang, artinya adatnya bukan baru dibuat atau baru disusun, tapi adat itu memang sudah lama dengan sifatnya yang luhur. Kemudian pusakanya yang usang berarti suatu peninggalan lama dari nenek moyang yang diwariskan kepada yang hidup sekarang.

Dari pelajaran adat dikatakan bahwa nenek moyang orang Minang membagi adat itu atas empat kategori, yakni : Adat nan sabananyo adat (Adat yang sebenarnya adat), Adat nan diadatkan (Adat yang diadatkan), Adat nan taradat (Adat yang teradat) dan Adat Istiadat.

Dari empat bagian adat tersebut ada adat yang berbuhul mati dan ada adat yang berbuhul sentak. Berbuhul mati artinya tidak dapat dibuka atau dicabut, sedangkan yang berbuhul sentak artinya dapat dibuka atau dicabut.

Adat yang berbuhul mati adalah adat yang sebenarnya adat yang tak akan berubah disebut tak lekang oleh panas, tak lapuk karena hujan, karena dia adalah undang-undang alam (natuurwet), natural law dan sunnatullah. Keyakinan bahwa Yang Maha Kuasa menciptakan alam raya dengan aturan nyata. Tak pernah berubah selamanya. Contoh nyata adat api menghanguskan, adat air membasahi. Tak pernah pula di antara keduanya yang bertukar peran atau bertimbang.

Adat nan Diadatkan yakni adat yang digariskan oleh nenek moyang orang Minang, seperti tokoh legendaris Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih nan Sabatang misalnya aturan-aturan yang dibuat orang dahulu dalam sistem kekerabatan menurut garis ibu (matrilineal). Pusaka turun ke kemenakan (maksudnya pusaka tinggi-sako dan pusako). Aturan nikah kawin (eksogami dan matrilokal), yang dalam fatwa adat disebut “sigai mencari enau. Enau tetap, sigai beranjak. Tepatan tinggal, bawaan kembali, suarang babagi, sekutu dibalah, kerbau tegak kubangan tinggal. Nikah dengan si perempuan, kawin dengan ninik mamak, sumando pada korong kampung”.

Adat nan teradat adalah hasil mufakat di dalam kaum, suku atau nagari tentang sesuatu masalah. Misalnya mufakat turun ke sawah, upacara nikah kawin dan lompat pagar (antar nagari), cara atau tata tertib penobatan Penghulu (Datuk), aturan sangsako, dan sebagainya.

Sedangkan yang dikatakan Adat istiadat adalah kebiasaaan yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Misalnya adat istiadat masuk puasa Ramadhan, Idul Fitri, kunjung berkunjung di hari baik bulan baik, jalang menjalang ketika ada musibah, baralek (pesta), membangun rumah gadang, menghela tonggak (tiang rumah gadang) dan sebagainya.

Pada dasarnya dalam empat kategori adat itu hanya Adat nan sabana adat yang tak akan berubah sedangkan yang lainnya dapat berubah dengan kata mufakat.

Hanya saja pada kategori Adat nan Diadatkan meski boleh berubah, namun Adat nan Diadatkan harus dilestarikan, dipelihara dan dilindungi agar tetap seperti sedia kala seperti adat Islami (adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Syarak mangato, adat mamakai, disebut juga adat sebatang panjang).

Sedangkan adat nan teradat dan adat istiadat lebih bersifat adat nan salingka nagari (selingkar nagari).

Terlihatlah di sini kearifan nenek moyang orang Minang bahwa dalam menghadapi putaran zaman yang akan berubah di masa datang maka adat Minang bersifat terbuka.

Berubahlah apa yang mestinya berubah, tapi ada yang tak akan berubah yakni Adat nan sabana adat yang sunnatullah, wet alam yakni yang datang dari Yang Maha Kuasa.

Dalam adagium adat disebutkan : “sakali aie gadang, sakali tapian baraliah” (sekali air bah datang, sekali pula tepian berubah). Yang berubah itu adalah lokasi tepian yang tadinya berlokasi di sebelah atas, kini beralih ke sebelah bawah. Namun yang tepian tidak berubah, sementara nilai dukung boleh berubah dengan kesepakatan bersama melalui musyawarah.

Tutur kata dalam budaya di Minangkabau menjadi bagian tak terelakkan di dalam mempertahankan budaya lama sekaligus juga menggali dan menampilkan ajaran tradisional yang relevan dengan tuntutan zaman yang sedang berubah.

Ungkapan tradisional itu dapat berarti pepatah, kato pusako, mamang, pituah, andai-andai, dan lain-lain.

Ungkapan tradisional tersebut ada yang berbentuk pantun, seloka, gurindam, dan sebagainya yang kadangkala dengan kalimat metafora sebagai bandingan atau kebalikannya. Semuanya bernilai nasehat, hukum, arahan dan ketentuan-ketentuan (norma).

Tapi ungkapan semata ada juga yang tidak bermuatan pepatah, pituah, dan lain-lain. Hanya kata melereng (kiasan) semata.

Ungkapan-ungkapan tradisional di Minangkabau ribuan banyaknya, berisi kearifan yang disindirkan, mencakup budi pekerti, seperti “Nan kuriak iyolah kundi. Nan sirah iyolah sago, Nan baiak iyolah budi, Nan indah iyolah bahaso”. Dalam ungkapan bahasa Indonesia berarti “yang kurik ialah kundi, yang merah ialah saga, yang baik ialah budi, yang indah ialah bahasa”.

Para tetua leluhur orang Minangkabau telah mengambil contoh pada buah kundi dan buah saga yang warnanya kurik (rintik) dan merah yang sifatnya tetap tidak berubah dalam warna merahnya dan kurik rintiknya.

Ungkapan tradisional ini mengiaskan bahwa budi baik dan keindahan bahasa tidak boleh tanggal dari diri pribadi anak turunan Minangkabau di manapun kita berada.

Sikap mulia akan menjadi buah tutur orang di mana saja. Talangkang karando kaco / Badarai carano kendi / Itu nan urang canggangkan./ Bacanggang karano baso / Bacarai karano budi / Itu nan urang pantangkan. Bila di turunkan di dalam bahasa nasional Telengkang keranda kaca, berderai cerana kendi, itu yang orang canggangkan, bercenggang karena bahasa, bercerai karena budi, itu yang orang pantangkan.

Fatwa adat ini menasehatkan pandai-pandai menggunakan bahasa. Karena ucapan berbahasa yang mungkin dinilai kasar atau tak sepantasnya dapat berakibat persahabatan jadi bercanggang atau berjarak. Begitu pula halnya budi atau kelakuan (perangai) yang tak senonoh dan tidak pantas, dapat berakibat persahabatan atau hubungan pergaulan akan rusak dan bahkan perceraian satu sama lain.

Mengikat sebuah dinamika di dalam pergaulan tidak semata ada pada alur tutur kata. Juga pada tindak laku perbuatan. Di antaranya tepat janji. Tentang janji disebutkan dalam tutur ungkapan yang amat berarti, bahwa “indak nan taguah dari janji, indak nan kokoh dari buek” (tidak yang teguh selain janji, tiada yang kokoh selain dari buatan).

Selalu dalam ciloteh seharian dinasehatkan supaya teguh memegang janji, kokoh tak tergoyahkan terhadap apa yang sudah dibuat dan disepakati.

Di dalam ungkapan seharian disebutkan ; Nak luruih rantangkan tali Nak mulia tapati janji Nak kuek paham dikunci Nak tinggi paelok budi Nak kayo kuek mancari, dan sebagainya (Supaya lurus rentangkan tali Supaya mulia tepati janji Supaya kuat paham dikunci Supaya tinggi perbaiki budi Supaya kaya kuatlah berusaha/ mencari)

Di sebalik itu dituntut dialektika Arif dan Bijak seperti ; Diagak mako diagiah (buatlah perkiraan, baru dibagi) Diukua mako dikabuang (memotong sesuatu atau mengerat, membagi, hendaklah setelah diukur, tidak berlaku sembrono memotong/membagi begitu saja . Dianjurkan diukur dulu).

Kemudian dalam satu ciloteh semestinya dipakai satu kearifan dialektis, Malantiang manuju tampuak, Dima buah ka rareh, dan Mamahek manuju barih, Dima lubang ka tabuak, Barundiang manuju bana, Dima mufakat ka dibulati. Artinya dalam bahasa nasional, “melempar menuju tampuak, kira-kira di mana buah itu jatuhnya”, dan “memahat menurut baris, kira-kira di mana lobang itu tembusnya”, atau “berunding berdasarkan kebenaran, sehingga rundingan membuahkan mufakat bulat”.

Kearifan di dalam bertutur kata, baik itu di dalam ungkapan di lingkungan beradat, di balairung, di surau, di mana saja, ada satu kewajiban berhati-hati. Ungkapan petatah petitih mengingatkan itu semua. “Gabak dahulu makonyo hujan, Cewang di langik tando akan paneh, Ingek sabalun kanai, Kulimek sabalun habih”, atau “Ingek urang nan di ateh, Nan di bawah kok datang malimpok, Bajalan paliharo kaki, Bakato paliharo lidah”.

Dapat dicermati dari ungkapan berbahasa dan bertutur ada banyak mendapatkan pelajaran dari alam takambang jadi guru. Di antaranya “mendung dahulu baru akan hujan, cerah di langit tanda hari akan panas”. Atau ungkapan selanjutnya, “ingatlah sebelum kena, berhemat sebelum habis” sebagai satu dinamika kearifan. Kemudian di dalamnya tertera pula nasehat, “ingat dan waspadalah orang yang sedang berkuasa di atas, karena yang di bawah dapat datang menimpa”, serta “kalau berjalan peliharalah kaki, kalau berucap kata pelihara lidah”.

Di sini dapat dirasakan dialektika dan dinamika berucap atau berceloteh itu. Di samping dialektika ada dinamika kehidupan dengan mengedepankan kebersamaan seperti ungkapan, “Ka bukik samo mandaki, Ka lurah samo manurun” (ke bukit sama mendaki, ke kurah sama menurun), atau “Barek sapikua, Ringan sajinjiang” (Berat sepikul, Ringan sejinjing), dan “Malompek samo patah, Manyaruduak samo bungkuak” (Melompat sama patah, Menyeruduk sama bungkuk), serta “Talungkuik samo makan tanah, Tatilantang samo makan angin, Tarandam samo basah, Tarapuang samo hanyuik” (Tertelungkup sama makan tanah, Tertelentang sama makan angin, Terendam sama basah, Terapung sama hanyut).

Sebuah nilai keberadatan masyarakat adat yang dapat menumbuhkan dinamika di tengah pergaulan hidup.

Kehidupan masyarakat Sumatera Barat ke depan di Alaf Baru abad ke duapuluh satu dan seterusnya ini, mesti memacu dirinya dengan ajakan agar selalu menanam kebaikan-kebaikan yang makruf. Ajakan tersebut mesti pula dipagari rapat-rapat dari hal-hal yang merusak atau mungkarat.

Di dalam diri masyarakatnya semestinya ditanamkan kesadaran yang dapat menumbuhkan harga diri dengan sikap mental mau berusaha dengan giat bekerja (enterprising). Hal tersebut akan lebih mudah terbangunkan karena dialog yang santun, arif dan dinamis.

Pembangunan manusia Minangkabau sesungguhnya adalah mencetak insan yang dapat menolong diri sendiri (independent) serta mampu mereposisi kondisinya dalam mengatasi kemelut, kemiskinan dan ketertinggalan di berbagai bidang. Insya Allah masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat atau di perantauan akan selalu mendapatkan hak asasinya yang setara dengan kewajiban asasi yang telah ditunaikannya.

Sesungguhnya bimbingan aqidah bersendikan Kitabullah, atau kebiasaan adat telah mengajarkan bahwa tidak pantas bagi satu masyarakat yang hanya selalu menuntut hak tanpa dibebani keharusan menunaikan kewajiban.

Martabat satu kaum akan hilang bila yang ada hanya memiliki kewajiban-kewajiban tetapi tidak dapat menentukankan hak apa-apa. Karena itu, hak asasi manusia tidak akan pernah ujud tanpa di dahului oleh kewajiban asasi manusia. Hal ini sangatlah penting ditanamkan kembali dalam upaya mambangkik batang tarandam.

Kandungan Kitabullah mewajibkan kita untuk memelihara hubungan yang langgeng dan akrab dengan karib, baik terhadap tetangga maupun kerabat, sebagai kewajiban iman dan taqwa kita kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Firman Allah di dalam Kitabullah (Al Quran) menyebutkan, “Sembahlah Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak. Berhubungan baiklah kepada karib kerabat. Berbuat ihsan kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, dan tetangga yang hampir, tetangga yang jauh, dan teman sejawat serta terhadap orang-orang yang keputusan belanja diperjalanan (yaitu orang-orang yang berjalan dijalan Allah) dan terhadap pembantu-pembantu di rumah tanggamu. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS.4, An-Nisak ayat 36).

Menumbuhkan harga diri, dan memperbaiki nasib secara keseluruhan dalam berbagai bidang, diyakini akan terwujud melalui ikhtiar yang terus menerus, disertai akhlak sabar tanpa kesombongan serta mampu melawan sikap mudah menyerah dan tidak mudah berputus asa.

Sikap jiwa masyarakat seperti ini seringkali dapat ditempa melalui dialog atau celoteh yang penuh dialektika dan dinamis, di antaranya di surau dan di lapau di Minangkabau, masa laloe. ***

Ciloteh Lapau Antara Dialektika dan Dinamika Minangkabau


Ciloteh Lapau Antara Dialektika dan Dinamika Minangkabau


Oleh : H.Mas’oed Abidin


Buya Masoed Abidin

Wilayah Minangkabau

Masyarakat Minangkabau adalah salah satu suku bangsa di antara puluhan suku bangsa yang membentuk bangsa Indonesia. Masyarakat Minangkabau hidup di sekitar wilayah Sumatera Bagian Tengah, atau yang dalam Tambo Minangkabau disebutkan wilayah Minangkabau itu meliputi kawasan, “… dari Sikilang Aia Bangih sampai ka Taratak Aia Itam. Dari Sipisok-pisok pisau anyuik sampai ka Sialang Balantak basi. Dari Riak nan Badabua sampai ke Durian ditakiak (ditakuak) Rajo”, (artinya, dari Sikilang Air Bangis sampai ke Taratak Air Hitam, dari Sipisok-pisok Pisau Hanyut sampai ke Sialang Belantak Besi, dari Riak yang berdebur sampai ke Durian Ditekuk Raja).

Orang Minangkabau menamakan tumpah darahnya dengan Alam Minangkabau, yang secara geografis wilayahnya berpusat di selingkar Gunung Merapi, di Sumatera Barat. Wilayah itu

Buya Masoed Abidin

meluas menjadi Luhak dan Rantau. Wilayah Luhak terletak di nagari-nagari yang berada di sekitar Gunung Merapi, sedangkan wilayah Rantau berada di luarnya, yaitu di sekitar wilayah pantai bagian Barat dan Timur Minangkabau.

Dalam Tambo dikisahkan bahwa Alam Minangkabau mempunyai tiga buah Luhak yang disebut dengan Luhak Nan Tigo (Luhak yang Tiga). Terbagi kepada Luhak Tanah Datar, Luhak Agam dan Luhak Lima Puluh Kota. Dari Luhak tersebut, kemudian berkembang menjadi Luhak Kubang Tigobaleh, yang terletak di sekitar Gunung Talang, Kabupaten Solok sekarang.

Wilayah Rantau terletak di luar Luhak-luhak tadi. Semula rantau adalah tempat mencarikan hidup para penduduk, terutama dalam bidang perdagangan. Wilayah rantau, berubah menjadi tempat menetap turun temurun dari para perantau Minangkabau. Terjadilah pembauran dan pemesraan (asimilasi) antara nan datang mencengkam hinggap bersitumpu. Kemudian berkembang menjadi bagian dari pusat pemerintahan di Minangkabau dulu, yakni Kerajaan Pagaruyuang, yang mempunyai Basa Ampek Balai, berninik bermamak, berdatuk dan berpenghulu. Berlakukah pula di wilayah rantau itu, adat istiadat Minangkabau.

Istilah Minangkabau

Minangkabau lebih dikenal sebagai satu bentuk pusat kebudayaan dengan masyarakatnya yang berstatus matrilineal – atau keturunan menurut garis keibuan Hubungan kekerabatan ini, adalah perpaduan dan pemesraan[1] antara istiadat (urf) dan syariat agama Islam. Garis matrilineal yang dianut adalah, bahwa anak yang dilahirkan bernasab kepada ayahnya, bersuku kepada ibunya, dan bersako terhadap mamaknya. Hubungan kekerabatan seperti ini, mungkin tidak ada duanya di Indonesia.

Sistim kekerabatan Minangkabau satu hal yang nyata, dan masih berlaku, walau perubahan terjadi di masa global ini. Kekuatan yang mengikat sistim kekerabatan Minangkabau, terlihat dari berbagai arah dan sudut pandang. Berpengaruh pada semua sisi kehidupan masyarakat Minangkabau.

Kekuatan kekerabatan itu misalnya, berpengaruh kuat pada aspek jiwa dagang masyarakatnya, mobilitas penduduknya, dengan kesukaan merantau ke negeri lain untuk mencari ilmu, mencari rezeki. Sistim kekerabatan sedemikian itu pula, yang telah mendorong lajunya mobilitas horizontal dalam bentuk imigrasi, dan mobilitas vertical yang menuju kepada peningkatan kualitas.

Jalinan Bahasa dan Kepercayaan di Minangkabau

Dari sisi kebudayaan dan berbagai hubungan perilaku, terbentuk hubungan jalin berkelindan antara Bahasa dan Kepercayaan orang Minangkabau. Pembauran dengan makna asimilasi[2] adalah pemesraan antara dua unsur atau lebih dalam suatu wadah tertentu. Unsur yang satu menjadi bagian dari unsur yang lain, saling isi mengisi timbal balik. Salah satu bentuk pemesraan itu adalah bahasa dan kepercayaan dalam wadah kesusasteraan di Minangkabau.

Penjiwaan dari kehidupan keseharian masyarakat Minangkabau, terasa ada pemesraan antara Bahasa dan Kepercayaan rakyat di Minangkabau. Perasaan itu terbawa kemana saja. Ada di ranah, dan terpakai di rantau. Di mana bumi dipijak di sana adat dipakai. Kaidah hidup ini adalah satu keniscayaan yang lahir dari keyakinan dari generasi berbudaya Minangkabau, di mana saja.

Kata “percaya” berarti pendapat, itikad, kepastian dan keyakinan. Kepercayaan diartikan sebagai kebenaran yang diperoleh pikiran. Keyakinan adalah suatu kebenaran yang diperoleh jiwa, dikuatkan oleh pikiran. Kebenaran agama adalah keyakinan. Selanjutnya, kebenaran ilmu pengetahuan, filsafat dan intelektual adalah kepercayaan.[3] Masalah kepercayaan adalah masalah manusia yang banyak berkaitan dengan kehidupannya.

Sejarah kehidupan awal dari masyarakat manusia memberi pengetahuan kepada kita bahwa tiada suatu bangsapun yang hidup atau kelompok manusia yang tinggal pada suatu tempat yang tidak mengenal kepercayaan sebagai satu naluriah hidup yang vital. Kepercayaan timbul bersama dorongan-dorongan lain sebagai perlengkapan hidup manusia umumnya, seperti dorongan rohaniah manusia, yang selalu mengajar mereka untuk berbuat dan menyelesaikannya.

Dorongan-dorongan dari dalam jiwa itu berkembang tiada hentinnya (dinamis) pada setiap masalah demi masalah yang tidak akan henti-hentinya dalam hidup manusia. Naluri juga diartikan dengan dorongan hati atau keinginan yang berasal dari pembawaan yang menggerakkan untuk berbuat sesuatu.[4] Naluri itu dapat pula disebut instink atau fitrah.

Dorongan hati manusia dibedakan antara yang bersifat perasaan biologis dan yang bersifat perasaan rohaniah. Dengan demikian, berkepercayaan adalah salah satu dari perasaan rohaniah yang dapat juga disebut “perasaan keagamaan”.[5] Maka dorongan-dorongan atau perasaan-perasaan yang bersifat biologis seperti dorongan untuk makan, mempertahankan diri, dan melangsungkan keturunan adalah keperluan jasmani. Selanjutnya kepercayaan adalah naluri atau dorongan hati secara fitrah lebih mutlak daripada yang lainnya.

Agama adalah tuntunan dan tuntutan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan dan ketakutan.[6] Dalam agama ada suatu ikatan antara manusia dengan kekuatan gaib.

Agama dimaknai dengan aturan yang mengikat manusia atau ad-din atau syari’at (syarak). Kata religious dalam bahasa Latin berarti “mengikat”. Perilaku manusia terikat dengan pengabdian kepada kekuatan besar yang maha dahsyat atau kekuatan ghaib, baik dalam bentuk kultus maupun dalam sikap hidup keagamaan.

Sumber utama kepercayaan atau rasa keagamaan ini adalah fitrah manusia yang merupakan anugerah Ilahi, dan melengkapi batin manusia melakukan kegiatan hidup sebagai makhluk yang lemah. Betapapun bersahajanya manusia ternyata kepercayaan membentuk tuntutan naluriahnya. Kepercayaan adalah salah satu dari kekuatan yang mengendalikan perasaan manusia.

Kepercayaan menuntut adanya bentuk perbuatan nyata (amal) pada semua tindakan manusia. Pada tingkat ini dapat dirasa hubungan agama dengan kesadaran manusia ada keterikatan erat dengan tenaga di luar diri manusia itu, yang membuat alam nyata manusia, atau syarak mangato adaik mamakaikan.

Fungsi naluri dari kepercayaan manusia kepada tenaga gaib itu membentuk keharusan menyatakan diri menjadi pengabdi dengan rasa rohaniah lahir dalam bentuk penghayatan pada berbagai tindakan dan ucapan. Tidak ada suatu macam agama yang tidak dimulai dengan kepercayaan. Di dalam agama Islam, dasar keagamaan disimpulkan atas enam pokok yang disebut dengan Rukun Iman, yaitu mempecayai adanya Allah, Malaikat, Kitab Suci, Pesuruh Tuhan, Hari Kemudian, dan mempercayai adanya kadar Tuan atas yang baik atau yang buruk.[7]

Mengikuti pola rasa rohaniah manusia, maka berkepercayaan atau beragama adalah keperluan manusia yang harus dipenuhi, disamping keperluan pokok lainnya yang bersifat naluri. Kepercayaan bermula dalam tingkat penerimaan dari ilmu pengetahuan. Keyakinan berada pada taraf intensitas dari kepercayaan. Keyakinan selanjutnya meminta keharusan untuk melakukan aktivitas, sedangkan pada kepercayaan belum mempunyai keharusan untuk itu. Kepercayaan (syarak) itulah yang berasimilasi dengan bahasa dalam kesusasteraan Minangkabau.

Asimilasi antara tutur Bahasa dan Kepercayaan

Pemesraan antara bahasa dan kepercayaan, telah memperkaya Kesusasteraan Minangkabau, terutama kesusasteraan lama atau khazanah kesusasteraan lisannya. Kesusasteraan Minangkabau sesungguhnya mempunyai pengertian yang dalam, yaitu “hasil bahasa Minangkabau yang indah“.

Titik berat kesusasteraan Minangkabau bersifat lisan, terungkap dalam puisi dan prosa berirama. Tidak sedikit khazanah kesusateraan Minangkabau telah ditulis dalam tulisan-tulisan lama memakai huruf arab melayu. Pemakaian huruf hijaiyah tersebut dalam mengungkapkan kosa kata melayu, adalah bagian dari pemesraan antara bahasa dan kepercayaan masyarakat Minangkabau yang beragama Islam.

Kesusasteraan tidak hanya sekadar hasil seni bahasa belaka. Kesusateraan adalah juga hasil pemikiran, hasil pengalaman, hasil merasa, bahkan hasil dari kehidupan seseorang atau masyarakat dan lingkungannya. Kesusateraan adalah pula hasil bertuitur kata, berciloteh dengan sadar, bukan dengan mimpi. Hasil sastera dapat disimak dalam kehidupan masyarakat pada suatu waktu, menjadi kebudayaan satu suku bangsa atau suatu bangsa. Salah satu aspek yang amat berpengaruh membentuk kehidupan masyarakat adalah hubungannya dengan sesama, dan hubungannya dengan Penciptanya. Hubungan-hubungan itu tampak nyata di dalam bentuk kesusasteraan.

Kesusasteraan Minangkabau juga memberi jawaban pengaruh hubungan itu. Seperti tersua dalam ungkapan, “ Kanan jalan ka Kurai, sasimpang jalan ka Ampek Angkek. Kok iyo pangulu ganti lantai, kok bapijak jan manjongkek. Adaik taluak timbunan kapa, Adaik lurah timbunan aie. Kok bukik timbunan angin, biaso gunuang timbunan kabuik. Adaik pamimpin tahan upek.” [8]

Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, selalu diperhatikan antara dua kekuatan, yang satu secara lahiriah sikap dalam diri insan bernyawa, dan yang kedua adalah kekuatan keyakinan theis (agama) yang mengatur nyawa itu.

Kesusasteraan lahir dan dibentuk oleh dua unsur, yakni unsur nyawa yang memiliki rasa dan periksa, dan unsur agama yang membimbing rasa dan periksa itu. Budaya kehidupan yang dibimbing oleh keyakinan agama, melahirkan sikap malu. Budaya malu, membentuk masyarakatnya hidup dengan kehati-hatian, serta ingat dan hemat dalam bertindak. Selanjutnya sikap-sikap budaya seperti ini menumbuhkan dinamika dalam kehidupan. Tampak jelas dalam cara bertutur, berciloteh sampai ke lapau-lapau ataupun di surau-surau.

Jiwa Bahasa di Minangkabau

Keindahan akan tercipta, ketika hasrat timbul untuk mengembalikan keindahan yang abadi dengan ajaran agama dan keagungan nama Ilahi, ke dalam bentuk-bentuk karya sastera. Asimilasi antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan Minangkabau terasa kental sekali. Mempersoalkan hubungan yang mesra antara bahasa sastera dan kepercayaan kepada kekuasaan Allah Subhanu wa Ta’ala, menjadikan karya sastera itu indah abadi.

Menggali mutiara milik bangsa yang kaya dengan pemesraan antara agama dan adat istiadat etnik, yang akan memperkuat ke tunggal-ikaan dari puncak-puncak kebudayaan bangsa Indonesia. Mutiara terpendam yang dapat diselami adalah bahwa kesusasteraan yang hakiki membentuk keperibadian satu bangsa, amat terkait dengan keyakinan pencipta sastera dan pendukungnya, yang keduanya mengabdi kepada Ilahi.

Kesusasteraan Minangkabau adalah pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam satu ungkapan, adaik basandi syarak, menjadi kekuatan besar untuk meraih keberhasilan di setiap masa. Pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan sudah tercipta. Kepercayaan adalah fungsi jiwa manusia, dan kemajuan ilmu pengetahuan, telah membawa perubahan-perubahan terhadap jiwa manusia yang kompleks, namun satu keniscayaan belaka bahwa konsepsi kehidupan manusia tergantung pada alat-alat yang ada pada manusia itu sendiri.[9]

Pada masyarakat Minangkabau, fungsi jiwa dibangun oleh kepercayaan kepada Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Esa itu tampak nyata dalam setiap aspek kehidupan kebudayannya dan riak kehidupan sasteranya. Terutama dalam sastera bertutur dan berciloteh.

Sifat umum masyarakat tradisional Minangkabau di masa ini masih terasa, dan sukar untuk melepaskan kepercayaan dalam kehidupan tradisi mereka. Pada dasarnya manusia itu bersifat konservatif. Sukar melepaskan perhiasan hidup lama, ingin menyimpan pusaka lama. Di antara pusaka lama itu, banyak di antara kita yang ingin memeliharanya dalam keasliannya”.[10]

Pengukuhan adat bersendi syariat menjadi sangat penting. Jika hal ini dapat tetap ujud dan terpelihara baik, akan banyak manfaatnya menyalurkan nilai-nilai yang berharga dari satu budaya daerah, hasil masa lampau ke dalam kebudayaan Indonesia modern. Menggali khazanah kebudayaan lama Minangkabau, yang banyak tersimpan di dalam bahasa lisan, serta dan menaikkannya ke atas permukaan kehidupan, menjadi bahasa tulisan, niscaya akan memberi sumbangan besar di dalam memupuk kebudayaan nasional, sesuai dengan keperibadian bangsa Indonesia.

Untuk melakukan kompilasi dari nilai-nilai pusaka Minangkabau yang menjadi mutiara kehidupan berbudaya dengan adat bersendi syari’at, perlu dilakukan observasi yang dipertajam untuk menapak Minangkabau yang kuat di masa depan. Menuntut keharusan pula adanya penelitian historis, terutama diarahkan kepada penyelidikan bentuk-bentuk sastera lisan yang banyak terdapat dalam kehidupan masyrakat Minangkabau, seperti pidato-pidato adat yang masih dihayati dalam kehidupan nyata, serta sopan santun dan karifan dalam berciloteh baik di lapau ataau di surau.

Memang amat sukar untuk menentukan berapa jumlah pendukung kesusasteraan lisan Minangkabau itu. Berapa banyak yang masih tersisa di dalam khazanah golongan terkemuka dalam adat atau penghulu (ninik mamak) Serta berapa banyak yang sudah diidentifikasi kembali oleh golongan cerdik pandai, suluah bendang di nagari,atau mereka yang dapat dianggap mengetahui bentuk-bentuk kesusasteraan lisan itu.

Berlakunya adaik istiadat nan salingka nagari, telah memberi warna perlakuan peribadi dan masyarakatnya, di dalam berinteraksi sesama. Adat istiadat yang menjadi kebiasaan pada setiap nagari dan luhak, menjadi kekayaan amat berharga, terutama di nagari-nagari yang masih menjaga nilai-nilai utama yang luhur. Termasuk di dalam berciloteh bersama di lapau dan di mana saja.

Perilaku Berbudaya dan Berakhlak dalam penggunaan bahasa

Perilaku berbudaya dan berakhlak masih dihayati dalam keseharian mereka, disebabkan tetap berlakunya ketentuan syariat agama Islam dengan kuat. Dan terjaganya dengan baik fungsi-fungsi urang ampek jinih dalam lingkungan kekerabatan di nagari-nagari.

Faktor penghayatan lahiriah dalam melaksanakan adat bersendi syariat, akan lebih banyak berbicara daripada konsep-konsep yang bersifat teoritis. Kearah ini kompilasi harus mengarah.

Kehidupan bermasyarakat di Sumatra Barat sudah lama direkat oleh kentalnya hubungan kebersamaan (ta’awun) di dalam tataran budaya berat sepikul ringan sejinjing sebagai perwujudan nyata nilai-nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Tataran budaya sedemikian telah terbukti dalam masa sangat panjang mampu memberikan dorongan-dorongan beralasan (motivasi) bagi semua gerak perubahan (reformasi) dari satu generasi ke generasi berikut di Ranah Bundo ini. Bahkan telah pula terbukti menjadi modal sangat besar untuk meraih kemajuan di berbagai bidang pembangunan di daerah dan nagari, di dusun dan taratak. Serta memberikan sumbangan yang tidak kecil dalam mewujudkan persatuan bangsa dan kesatuan wilayah di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.

Adat Minangkabau yang disebut sebagai adat lama pusaka usang, artinya adatnya bukan baru dibuat atau baru disusun, tapi adat itu memang sudah lama dengan sifatnya yang luhur. Kemudian pusakanya yang usang berarti suatu peninggalan lama dari nenek moyang yang diwariskan kepada yang hidup sekarang. Dari palajaran adat dikatakan bahwa nenek moyang orang Minang membagi adat itu atas empat kategori, yakni : Adat nan sabananyo adat (Adat yang sebenarnya adat), Adat nan diadatkan (Adat yang diadatkan), Adat nan taradat (Adat yang teradat) dan Adat Istiadat.

Dari empat bagian adat tersebut ada adat yang berbuhul mati dan ada adat yang berbuhul sentak. Berbuhul mati artinya tidak dapat dibuka atau dicabut, sedangkan yang berbuhul sentak artinya dapat dibuka atau dicabut. Adat yang berbuhul mati adalah adat yang sebenarnya adat yang tak akan berubah disebut tak lekang oleh panas, tak lapuk karena hujan, karena dia adalah undang-undang alam (natuurwet), natural law dan sunnatullah. Keyakinan bahwa Yang Maha Kuasa menciptakan alam raya dengan aturan nyata. Tak pernah berubah selamanya. Contoh nyata adat api menghanguskan, adat air membasahi. Tak pernah pula di antara keduanya yang bertukar peran atau bertimbang.

Adat nan Diadatkan yakni adat yang digariskan oleh nenek moyang orang Minang, seperti tokoh legendaris Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih nan Sabatang misalnya aturan-aturan yang dibuat orang dahulu dalam sistem kekerabatan menurut garis ibu (matrilineal). Pusaka turun ke kemenakan (maksudnya pusaka tinggi-sako dan pusako). Aturan nikah kawin (eksogami dan matrilokal), yang dalam fatwa adat disebut “sigai mencari enau. Enau tetap, sigai beranjak. Tepatan tinggal, bawaan kembali, suarang babagi, sekutu dibalah, kerbau tegak kubangan tinggal. Nikah dengan si perempuan, kawin dengan ninik mamak, sumando pada korong kampung”.

Adat nan teradat adalah hasil mufakat di dalam kaum, suku atau nagari tentang sesuatu masalah. Misalnya mufakat turun ke sawah, upacara nikah kawin dan lompat pagar (antar nagari), cara atau tata tertib penobatan Penghulu (Datuk), aturan sangsako, dan sebagainya.

Sedangkan yang dikatakan Adat istiadat adalah kebiasaaan yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Misalnya adat istiadat masuk puasa Ramadhan, Idul Fitri, kunjung berkunjung di hari baik bulan baik, jalang menjalang ketika ada musibah, baralek (pesta), membangun rumah gadang, menghela tonggak (tiang rumah gadang) dan sebagainya. Pada dasarnya dalam empat kategori adat itu hanya Adat nan sabana adat yang tak akan berubah sedangkan yang lainnya dapat berubah dengan kata mufakat.

Cuma saja pada kategori Adat nan diadatkan meski boleh berubah, namun Adat nan diadatkan harus dilestarikan, dipelihara dan dilindungi agar tetap seperti sedia kala seperti adat Islami (adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Syarak mangato, adat mamakai, disebut juga adat sebatang panjang). Sedangkan adat nan teradat dan adat istiadat lebih bersifat adat nan salingka nagari (selingka nagari). Terlihatlah di sini kearifan nenek moyang orang Minang bahwa dalam menghadapi putaran zaman yang akan berubah di masa datang maka adat Minang bersifat terbuka. Berubahlah apa yang mestinya berubah, tapi ada yang tak akan berubah yakni Adat nan sabana adat yang sunnatullah, wet alam yakni yang datang dari Yang Maha Kuasa. Dalam adagium adat disebutkan : “sakali aie gadang, sakali tapian baraliah” (sekali air bah datang, sekali pula tepian berubah). Yang berubah itu adalah lokasi tepian yang tadinya berlokasi di sebelah atas, kini beralih ke sebelah bawah. Namun yang tepian tidak berubah, sementara nilai dukung boleh berubah dengan kesepakatan bersama melalui musyawarah.

Tutur kata dalam budaya di Minangkabau menjadi bagian tak terelakkan di dalam mempertahankan budaya lama sekaligus juga menggali dan menampilkan ajaran tradisional yang relevan dengan tuntutan zaman yang sedang berubah. Ungkapan tradisional itu dapat berarti pepatah, kato pusako, mamang, pituah, andai-andai, dan lain-lain. Ungkapan tradisional tersebut ada yang berbentuk pantun, seloka, gurindam, dan sebagainya yang kadangkala dengan kalimat metafora sebagai bandingan atau kebalikannya. Semuanya bernilai nasehat, hukum, arahan dan ketentuan-ketentuan (norma). Tapi ungkapan semata ada juga yang tidak bermuatan pepatah, pituah, dan lain-lain. Hanya kata melereng (kiasan) semata.

Ungkapan-ungkapan tradisional di Minangkabau ribuan banyaknya, berisi kearifan yang disindirkan, mencakup budi pekerti, seperti “Nan kuriak iyolah kundi. Nan sirah iyolah sago, Nan baiak iyolah budi, Nan indah iyolah bahaso”. Dalam ungkapan bahasa Indonesia berarti “yang kurik ialah kundi, yang merah ialah saga, yang baik ialah budi, yang indah ialah bahasa”. Para tetua leluhur orang Minangkabau telah mengambil contoh pada buah kundi dan buah saga yang warnanya kurik(rintik) dan merah yang sifatnya tetap tidak berubah dalam warna merahnya dan kurik rintiknya. Ungkapan tradisional ini mengiaskan bahwa budi baik dan keindahan bahasa tidak boleh tanggal dari dari diri peribadi anak turunan Minangkabau di manapun kita berada.

Sikap mulia akan menjadi buah tutur orang di mana saja. Talangkang karando kaco / Badarai carano kendi / Itu nan urang canggangkan./ Bacanggang karano baso / Bacarai karano budi / Itu nan urang pantangkan. Bila di turukan di dalam bahasa nasional Telengkang keranda kaca, berderai cerana kendi, itu yang orang canggangkan, bercenggang karena bahasa, bercerai karena budi, itu yang orang pantangkan. Fatwa adat ini menasehatkan pandai-pandai menggunakan bahasa. Karena ucapan berbahasa yang mungkin dinilai kasar atau tak sepantasnyadapat berakibat persahabatan jadi bercanggang atau berjarak.

Begitu pula halnya budi atau kelakuan (perangai) yang tak senonoh dan tidak pantas, dapat berakibat persahabatan atau hubungan pergaulan akan rusak dan bahkan perceraian satu sama lain. Mengikat sebuah dinamika di dalam pergaulan tidak semata ada pada alur tutur kata. Juga pada tindak laku perbuatan. Di antaranya tepat janji. Tentang janji disebutkan dalam tutur ungkapan yang amat berarti, bahwa “indak nan taguah dari janji, indak nan kokoh dari buek” (tidak yang teguh selain janji, tiada yang kokoh selain dari buatan).

Selalu dalam ciloteh seharian dinasehatkan supaya teguh memegang janji, kokoh tak tergoyahkan terhadap apa yang sudah dibuat dan disepakati. Di dalam ungkapan seharian disebutkan ;

Nak luruih rantangkan tali

Nak mulia tapati janji

Nak kuek paham dikunci

Nak tinggi paelok budi

Nak kayo kuek mancari, dan sebagainya

(Supaya lurus rentangkan tali

Supaya mulia tepati janji

Supaya kuat paham dikunci

Supaya tinggi perbaiki budi

Supaya kaya kuatlah berusaha /mencari)

Disebalik itu dituntut dialektika Arif dan Bijak seperti ;

Diagak mako diagiah (buatlah perkiraan, baru dibagi)

Diukua mako dikabuang (memotong sesuatu atau mengerat, membagi, hendaklah setelah diukur, tidak berlaku sembrono memotong/membagi begitu saja . dianjurkan diukur dulu).

Kemudian dalam satu ciloteh semestinya dipakai satu kearifan dialektis, Malantiang manuju tampuak, Di ma buah ka rareh, dan Mamahek manuju barih, Di ma lubang ka tabuak, Barundiang manuju bana, Dima mufakat ka dibulati. Artinya dalam bahasa nasional, “melempar menuju tampuak, kira-kira di mana buah itu jatuhnya”, dan “memahat menurut baris, kira-kira di mana lobang itu tembusnya”, atau “berunding berdasarkan kebenaran, sehingga rundingan membuahkan mufakat bulat”.

Kearifan di dalam bertutur kata, baik itu di dalam ungkapan di lingkungan beradat, di balairung, di surau, di mana saja, ada satu kewajiban berhati-hati.

Ungkapan petatah petitih mengingatkan itu semua. “Gabak dahulu makonya hujan, Cewang di langik tando akan paneh, Ingek sabalun kanai, Kulimek sabalun habih”, atau “Ingek urang nan di ateh, Nan di bawah kok datang malimpok, Bajalan paliharo kaki, Bakato paliharo lidah”. Dapat dicermati dari ungkapan berbahasa dan bertutur adabanyak mendapatkan pelajaran dari alam takambang jadi guru. Di antaranya “ mendung dahulu baru akan hujan, cerah di langit tanda hari akan panas”. Atau ungkapan selanjutnya, “ingatlah sebelum kena, berhemat sebelum habis” sebagai satu dinamika kearifan. Kemudian di dalamnya tertera pula nasehat, “ingat dan waspadalah orang yang sedang berkuasa di atas, karena yang di bawah dapat datang menimpa”, serta “kalau berjalan peliharalah kaki, kalau berucap kata pelihara lidah”. Di sini dapat dirasakan dilaektika dan dinamika berucap atau berceloteh itu.

Di samping dialektika ada dinamika kehidupan dengan mengedepankan kebersamaan seperti ungkapan, “Ka bukik samo mandaki, Ka lurah samo manurun” (ke bukit sama mendaki, ke kurah sama menurun), atau “Barek sapikua, Ringan sajinjiang” (Berat sepikul, Ringan sejinjing), dan “Malompek samo patah, Manyaruduak samo bungkuak” (Melompat sama patah, Menyeruduk sama bungkuk), serta “Talungkuik samo makan tanah, Tatilantang samo makan angin, Tarandam samo basah, Tarapuang samo hanyuik” (Tertelungkup sama makan tanah, Tertelentang sama makan angin, Terendam sama basah, Terapung sama hanyut). Sebuah nilai keberadatan masyarakat adat yang dapat menumbuhkan dinamika di tengah pergaulan hidup.

Kehidupan masyarakat Sumatra Barat kedepan di Alaf Baru abad ke duapuluh satu dan seterusnya ini, mesti memacu dirinya dengan ajakan agar selalu menanam kebaikan-kebaikan yang makruf. Ajakan tersebut mesti pula dipagari rapat-rapat dari hal-hal yang merusak atau mungkarat. Di dalam diri masyarakatnya semestinya ditanamkan kesadaran yang dapat menumbuhkan harga diri dengan sikap mental mau berusaha dengan giat bekerja (enterprising). Hal tersebut akan lebih mudah terbanagunkan karena dialog yang santun, arif dan dinamis.

Pembangunan manusia Minangkabau sesungguhnya adalah mencetak insan yang dapat menolong diri sendiri (independent) serta mampu mereposisi kondisinya dalam mengatasi kemelut, kemiskinan dan ketertinggalan di berbagai bidang.

Insya Allah masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat atau di perantauan akan selalu mendapatkan hak asasinya yang setara dengan kewajiban asasi yang telah ditunaikannya. Sesungguhnya bimbingan aqidah bersendikan Kitabullah, atau kebiasaan adat telah mengajarkan bahwa tidak pantas bagi satu masyarakat yang hanya selalu menuntut hak tanpa dibebani keharusan menunaikan kewajiban.

Martabat satu kaum akan hilang bila yang ada hanya memiliki kewajiban-kewajiban tetapi tidak dapat menentukankan hak apa-apa. Karena itu, hak asasi manusia tidak akan pernah ujud tanpa di dahului oleh kewajiban asasi manusia. Hal ini sangatlah penting ditanamkan kembali dalam upaya mambangkik batang tarandam.

Kandungan Kitabullah mewajibkan kita untuk memelihara hubungan yang langgeng dan akrab dengan karib, baik terhadap tetangga maupun kerabat, sebagai kewajiban iman dan taqwa kita kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Firman Allah di dalam Kitabullah (Al Quran) menyebutkan, “ Sembahlah Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak. Berhubungan baiklah kepada karib kerabat. Berbuat ihsan kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, dan tetangga yang hampir, tetangga yang jauh, dan teman sejawat serta terhadap orang-orang yang keputusan belanja diperjalanan (yaitu orang-orang yang berjalan dijalan Allah) dan terhadap pembantu-pembantu di rumah tanggamu. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS.4, An-Nisak ayat 36).

Menumbuhkan harga diri, dan memperbaiki nasib secara keseluruhan dalam berbagai bidang, diyakini akan terwujud melalui ikhtiar yang terus menerus, disertai akhlak sabar tanpa kesombongan serta mampu melawan sikap mudah menyerah dan tidak mudah berputus asa. Sikap jiwa masyarakat seperti ini seringkali dapaat ditempa melalui dialog atau celoteh yang penuh dialektika dan dinamis, di antaranya di surau dan di lapau di Minangkabau, masa laloe. ***


Catatan Akhir

[1] Di dalam buku “Webster`s New World Dictionary” dijelaskan bahwa kata asimilasi berasal dari kata “assmilatus” (Latin), yang berarrti “to take up and make part of itself, or in self” atau sebagai “absorb and incorporate” dan sebagai “digest” (mengambil dan menciptakan unsur menjadi sebagian dari unsur lain, atau meresapkan lagi mempersatukan atau memcernakan), dalam Webster`s, New World Dictionary of the American Language, Encyclopedie, Edition I,

[2] E.Pino dan T.Wittermans dalam Kamusnya juga menulis arti asimilasi dengan “pencernaan, persamaan dan pemesraan”, (E.Pino and T.Wittermans, English-Indonesian Dictionary, J.B.Wolters, Jakarta). Demikian pula dalam Kamus Indonesia Kecik susunan K.St.Harahap mengatakan asimilasi sebagai “pemesraan” (E.St.Harahap, Kamus Indonesia Ketjik, IBOCO, Jakarta).

[3] W.J.S.Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta 1985, hal.676

[4] Drs.Sidi Gazalba, Mesjid Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam, Pustaka Antara, Jakarta.

[5] Jaka, Ringkasan Ilmu Mendidik 1, Mutiara, Jakarta, 1953, hal,42;

[6] Drs.Mohd.Sjafaat, Mengapa Anda Beragama Islam, Wijaya, Jakarta, hal.2;

[7] Al-Quran, Surat An Nisa`, ayat 146, dan Hadist, Riwayat Muslim;

[8] Dalam bahasa Indonesia, “kanan jalan ke Kurai, sesimpang jalan ke Ampek Angkek. Jika penghulu akan menjadi lantai, kalau berpijak jangan menjungkat (maknanya istiqamah). Adat teluk timbunan kapal, adat lurah timbunan air. Kalau bukit timbunan angin, biasa gunung timbunan kabut. Adat pemimpin tahan umpatan”. Hasil kesusateraan Minangkabau, yang mengungkapkan kerilaku pemimpin agar tidak cepat patah hati, selalu konsisten ini, dinyatakan bersajak dengan mengambil contoh kepada alam, sebagai satu kepercayaan yang kokoh terhadap sunnatullah.

[9] Drs.Sidi Gazalba, Tebaran Pikiran dalam Rangkaian Ketuhanan Yang Maha Esa, Penerbit Agus Salim, Jakarta, yang di dalamnya juga mengutip ucapan dari Prof.Dr.Sumantri Harjoprakoso, bahwa kepercayaan adalah factor pembentuk kejiwaan manusia.

[10] Mohammad Hatta, Kumpulan Karangan IV, Balai Buku Indonesia, Jakarta,

Barih Balabeh Minangkabau

BARIH BALABEH MINANGKABAU

Oleh : H Mas’oed Abidin

Barieh (barih) artinya garis, atau baris

Kata-kata “barieh” di antaranya kita temui di dalam kata petatah yang berbunyi, “nan ba barih nan ba paek” atau “tibo di barih makan paek“, artinya yang di garis yang dipahat, atau tepat pada garis makankan pahat.

Ungkapan ini bermakna melakukan sesuatu sesuai dengan aturan, sesuai dengan acuan, sesuai dengan garisnya.

Umi dan Buya

Umi dan Buya

Barieh balabeh Minangkabau

- sanitiak tiado hilang – sabarih bapantang lipua – nan salilik gunuang Marapi – sa edaran Sago jo Singgalang – salingka Talang jo Kurinci – sampai kalauik nan sabideh – warih nan samo kito jawek – kato pusako nan diganggam – ka ateh ta ambun jantan – kabawah ta kasik bulan – niniak moyang punyo hulayaik – hak nyato bapunyo – ganggam nyato ba untuak

- salaruik salamo nangko – namo nyo kito urang minang – dek ketek kurang pangana – lah gadang aka pailang – jalanlah dialiah urang lalu – cupak dipapek rang panggaleh – dek elok kilek loyang datang – intan tasangko kilek kaco – disangko bulek daun nipah – kiro nyo picak ba pasagi – diliek lipek ndak barubah – dikambang tabuak tiok ragi

- pado wakatu iko kini – lalok sakalok ba rasian – pikia nan palito hati – nanang nan baribu aka – dalam tanang bana mandatang – paham tibo aka baranti – bana lah timbua sandiri nyo – asah kamudi disamoan – jikok padoman dibatua an – samo mancinto ka nan baiak – kok indak tajajak tanah tapi – indak kudaraik dari kito – hanyo kuaso dari tuhan – sasek suruik talangkah kumbali – pulang nyo ka balabeh juo – baitu adaik nan bapakai

- kok sasek diujuang jalan – ba baliak ka pangka jalan – kito pilin aka nan tigo – suatu nan jahia janyo aka – kaduo mustahia janyo aka – katigo nan wajib janyo aka – baiyo iyo jo adi – ba tido tido jo kako – barundiang jo niniak mamak – sarato nan tuo cadiak pandai – langkok jo imam jo tuangku – nan mudo arih budiman -bundo kanduang samo di dalam – asah lai duduak jo mupakaik – nak dapek bulek nan sagoloang – nak buliah picak nan salayang – saukua kito nan basamo – kito babaliak ba nagari.

Melah nyo barih dek pangulu
Nan mudo utang mamakai
Kok lah janiah aia di ulu
Tando muaro kasalasai

Kasuri Tuladan Kain

Kasuri Tuladan Kain, Kacupak Tuladan Batuang

Falsafah Pakaian Pangulu

Untua Dipakai Hiduik Banagari

 

 

 

Sakapua Siriah, Pengantar kata

Kaganti siriah nan sakapua –

umpamo rokok nan sabatang –

tacinto bajawek tangan –

jo diri dunsanak nan basamo –

kok untuang pambari Allah –

kasuri tuladan kain –

kacupak taladan batuang –

Akan ganti sekapur sirih, umpama rokok yang sebatang, maksud hendak berjabatan tangan, dengan masing-masing diri dunsanak bersama Jika ada untung pemberian Allah, akan menjadi suri teladan kain, menjadi cupak teladan acuan bersama.

 

Tulisan nan ambo buekko –

sabab ba alah dek baitu –

aluran badan diri ambo –

tantangan tulih manulih –

aka singkek pandapek kurang –

ilimu di tuhan tasimpan nyo –

tapi samantangpun baitu –

bapalun paham nan haluih –

dek ujuik manantang bana –

jan kalah sabalun parang –

dipabulek hati nurani –

untuang tasarah bagian –

walau ka angok angok ikan –

bogo ka nyawo nyawo patuang –

patah kapak batungkek paruah –

namun nan niaik dalam hati –

mungkasuik tatap basampaian –

 

Jika di ungkapkan dalam bahasa Indonesia, isinya kira-kira sebagai berikut ; (Tulisan yang hamba bikin ini, sebab karenanya, setentang badan diri, sehubungan tulis menulis, akal masih pendek dan pendapat masih kurang, ilmu di Tuhan tersimpannya. Tapi, sungguhpun demikian, bersimpul keinginan yang halus, karena ingin mengujudkan yang benar, agar jangan kalah sebelum perang, di bulatkan hati nurani, untuang terserah pada bagian (nasib), walau sangat susak sebagai ikan bernafas, walau dalam keadaan sulit bernafas sekalipun, patah sayap bertongkat paruh, namun yang tersirat di dalam hati, maksud tetap akan disampaikan).

 

Dalam ungkapan bahasa budaya Minangkabau ini, tampak jelas bahwa ada ada pengakuan dan sekaligus rasa tawadhu’ atau tidak menyombongkan diri, bahwa sebagai manusia ilmu tetap kurang. Yang maha berilmu itu hanya Allah semata sebagai di ungkapkan “aka singkek pandapek kurang – ilimu di tuhan tasimpan nyo – artinya, akal masih pendek dan pendapat masih kurang, ilmu di Tuhan tersimpannya.”

 

Pengakuan terhadap kekurangan diri ini menjadikan seseorang tetap berupaya untuk maju. Dorongan untuk berbuat lebih baik itu, terungkap di dalam kalimat “tapi samantangpun baitu – bapalun paham nan haluih – dek ujuik manantang bana – jan kalah sabalun parang jan kalah sabalun parang – dipabulek hati nurani – untuang tasarah bagian –.

Maknanya sungguhpun banyak kekuarangan dan keterbatasan yang dipunyai, ada bersimpul keinginan yang halus yang ternukil dalam nurani, karena ingin mengujudkan yang benar, agar jangan kalah sebelum perang, di bulatkan hati nurani, untung terserah pada bagian (nasib)”.

Di sini kita lihat ada pemahaman dan tekad yang bulat hendak meraih keberhasilan mesti diikuti oleh tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kesadaran akan kekurangan diri, manakala memiliki tekad kuat di dalam hati, diiringi dengan usaha sekuat tenaga untuk meujudkan keinginan hati tersebut, serta dipandu oleh tawakkal kepada Allah, adalah modal utama untuk maju.

Di sini terletak nilai kearifan lokal Minangkabau, agar setiap generasi itu memikili cita-cita tinggi, rajin bekerja, dan bertawakkal kepada Allah.

 

Di cubo juo bagulambek –

hanyo harapan dari ambo –

kapado dunsanak bakuliliang –

kok basuo kalimaik nan ndak jaleh –

titiak jo koma nan salah latak –

usah dicacek langkah sumbang –

sabab baitu kato ambo –

dalam diri ambolah yakin –

sadonyo dunsanak nan datangko –

tantu bakandak tabu nan manih –

kok tabu tibarau tasuo –

itu nan ado diambo –

pado manjadi upek puji –

jan jatuah dihimpok janjang –

 nak jan mambarek ka akiraik –

ambo nak mintak di ma’afkan.

           

Indonesianya (Dicoba pelan-pelan berangsur-angsur, menjadi harapan dari hamba, kepada dunsanak sekeliling, jika bertemu kalimat yang tidak jelas, titik dan koma salah letak, janganlah di cari langkah yang sumbang letaknya. Sebab demikian harapan hamba, dalam diri hamba ada keyakinan, bahwa semua dunsanak yang datang ini, tentu semua berkehendak tebu yang manis. Kalau tebu tibarau, yang tersua, karena itulah yang ada pada hamba. Daripada menjadi umpat puji, agar jangan jatuh ditimpa tangga, agar jangan memberati di akhirat, hamba lebih dahulu hendak meminta dimaafkan).

            Dalam bertutur kata ada kaidah di Minangkabau “bakato di bawah-bawah”yang mengandung makna ada keharusan tidak boleh membanggakan diri.

Kearifan ini adalah termasuk ajaran syarak, yaitu “kullu dzi ‘ilmin ‘alimun” artinya setiap yang berilmu, masih ada yang lebih berilmu.

Dalam ungkapan keseharian kini disebutkan, di atas langit masih ada langit.

Takabur dan menyombongkan diri satu sikap tercela di dalam tata pergaulan Masyarakat Adat.

Sikap tawadhu’ atau tidak menyombongkan diri itu, terlihat dari cara berucap dan menyampaikan maksud tujuan. Di sini kita melihat kekuatan kata di Minangkabau itu.

 

Seperti di ungkapkan di atas, kita belum tentu dapat memenuhi kehendak semua orang. Walau semua orang yang datang mengharapkan sesuatu yang menyenangkan dan memuaskan hatinya.

Seperti di ungkapan “sadonyo dunsanak nan datangko – tantu bakandak tabu nan manih” – Adalah satu keniscayaan bahwa semua semua berkehendak tebu yang manis.

Namun dalam realita kehidupan, tidak semuanya manis. Ada juga yang hambar tidak berasa. Di sinilah terletak kearifan itu, bahwa “ kok tabu tibarau tasuo – itu nan ado diambo –. Kalau tebu tibarau, yang tersua, karena itulah yang ada pada hamba.

Agar tida terjadi umpatan, yang dapat berakibat kepada putusnya hubungan atau rusaknya kekeluargaan dan kekerabatan, maka rela dan maaf sangat diperlukan.

Umumnya orang akan memulai pembicaraannya dengan kalimat seperti di ungkapan ini, “pado manjadi upek puji – jan jatuah dihimpok janjang – nak jan mambarek ka akiraik – ambo nak mintak di ma’afkan”. Kemaafan berkaitan dengan kebahagiaan di dunia, karena hubungan silaturahim tetap baik, dan di akhirat juga mendapatkan pahala. Kalimat ini, menjadi bukti bahwa di dalam bertutur kata, orang Minangkabau tidak semata memikirkan wujud duniawi semata, tapi juga berfikir untuk kehidupan akhiratnya.

 

 

Barieh balabeh minangkabau – sanitiak tiado hilang – sabarih bapantang lipua – nan salilik gunuang Marapi – sa edaran Sago jo Singgalang – salingka Talang jo Kurinci – sampai kalauik nan sabideh – warih nan samo kito jawek – kato pusako nan diganggam – ka ateh ta ambun jantan – kabawah ta kasik bulan – niniak moyang punyo hulayaik – hak nyato bapunyo – ganggam nyato ba untuak – salaruik salamo nangko – namo nyo kito urang minang – dek ketek kurang pangana – lah gadang aka pailang – jalanlah dialiah urang lalu – cupak dipapek rang panggaleh – dek elok kilek loyang datang – intan tasangko kilek kaco – disangko bulek daun nipah – kiro nyo picak ba pasagi – diliek lipek ndak barubah - dikambang tabuak tiok ragi – pado wakatu iko kini – lalok sakalok ba rasian – pikia nan palito hati – nanang nan baribu aka – dalam tanang bana mandatang – paham tibo aka baranti – bana lah timbua sandiri nyo – asah kamudi disamoan – jikok padoman dibatua an – samo mancinto ka nan baiak – kok indak tajajak tanah tapi – indak kudaraik dari kito – hanyo kuaso dari tuhan – sasek suruik talangkah kumbali – pulang nyo ka balabeh juo – baitu adaik nan bapakai – kok sasek diujuang jalan – ba baliak ka pangka jalan – kito pilin aka nan tigo – suatu nan jahia janyo aka – kaduo mustahia janyo aka – katigo nan wajib janyo aka – baiyo iyo jo adi – ba tido tido jo kako – barundiang jo niniak mamak – sarato nan tuo cadiak pandai – langkok jo imam jo tuangku – nan mudo arih budiman -bundo kanduang samo di dalam – asah lai duduak jo mupakaik – nak dapek bulek nan sagoloang – nak buliah picak nan salayang – saukua kito nan basamo – kito babaliak ba nagari.

 

Melah nyo barih dek pangulu

Nan mudo utang mamakai

Kok lah janiah aia di ulu

Tando muaro kasalasai

 

Manuruik pitua minangkabau – kalau rang mudo tanah minang – tantu sajo tabagi duo – nan partamo namo nyo anak bujang – nan kaduo namo nyo anak gadih – kalau di gabuang kaduonyo – jo caro bahaso ibu – sabutan nyo uda jo uni – surang bujang nan surang gadih – imbauan sarupo itu – bapakai sajak lahia kadunia – sampai kapado nyo lah kawin – kutiko lubuak alah bapancang – nan padang alah barajok – nan bujang lai pai ka rumah urang – nan gadih lah naiak rang sumando – kalau nan sipaik anak bujang – paliang indak tabagi tigo – partamo bujang Parisau – nan kaduo bujang Pangusau – nan katigo bujang Pusako – buliah dipiliah salah satu – bujang nan ma kakito pakai. Kalau nan untuak anak gadih – buliah dibagi tigo pulo – nan partamo gadih Alang alang – nan kaduo gadih Bungo malua – nan katigo gadih Bungo cangkeh – kok dicaliak mamangan minangkabau – nan tapakai di anak gadih – mancaliak batihnyo sajo lai sulik – apo lai mancaliak muko – kok diambiak arati kato – gadih pusako tanah minang – tasimpan di kasah rumin – nan diam di ateh anjuang – umpamo padi ranik jintan – nan tumbuah dilereang bukik – sacotok usah dek ayam – satangkai usah dek pipik – pandai manjaik manarawang – kok tanun nan inyo kacak – sarik lah kain tabangkalai – kok dicaliak masak kamasak – lah cukuik sadonyo ragam gulai – jokok dicaliak salampih lai – di zaman maso saisuak – niniak mamak mambuek rumah – asah banamo rumah gadang – labiah banyak marusuak jalan – kok indak mambalakang bana – ka jalan gadang nan lah ado – indak sarupo maso kini – dicaliak urang mambuek rumah – basasak an katapi jalan – dek sabab karano itu. Dicaliak ma’ana kato – dirunuik kato nan tadi – anak gadih di minangkabau – indak buliah manjadi cover - samisa iyasan sampul majalah – nan banyak kito caliak kini – sabab ba alah dek baitu – padusi di minang kabau – nan di imbau jo bundokanduang – bamulia an sapanjang adaik – lah rintang duduak jo sukatan – dek sabutan untuak baliau – ambun puro ganggaman kunci – kok harato lah tibo ateh rumah – padi lah naiak kateh lumbuang – kunci baliau nan mamacik – pasak baliau nan mangungkuang – pandai mambagi samo banyak – bijak manimbang samo barek – mahia maukua samo panjang – walau dicaliak maso kini – dek laku satangah niniak mamak – bakato kareh tiok hari – ma hariak ma antam tanah – batampuak buliah nyo jinjiang – batali buliah nyo irik – buliah nyo itam nyo putiahan – bulek sagolek kato inyo – dek sabab karano itu – lah banyak sawah nan tagadai – baiak tasando jo tajua – lah tandeh sawah jo ladang – gurun caia taruko tandeh – itu pulo pangka bala nyo – lah banyak padusi nan marasai – langkah lah banyak nan takabek – nan indak untuak nan nyo tariak – nan indak baban nan inyo pikua – lah pai manjawek upah – baiak manumbuak jamua urang – atau pai basiang parak – ado nan pai batanam – komah lah samo kito caliak – dek harato lah licin tandeh – kutiko badan lah gaek – pai ma unyi panti jompo – anak indaklo ma acuahan – kok lai juo bapusako – tantu indak co itu bana.

            Sabuah lai nan takana – ka uda jo uni maso kini – falsafah pakaian lah nyo tuka – nan lai manuruik adaik – falsafah pakaian minangkabau – pakaian palampok tubuah – pakaian pandindiang tubuah – pakaian panutuik malu – pakaian panutuik auraik – kok pakaian palampok tubuah – tantu lah bisa kito caliak – apobilo barang nan dilampok – jaleh ndak bisa kito caliak – dari subaliak nan malampok – kok pakaian pandindiang tubuah – tantu sajo baitu pulo – barang nan kito dindiang – lah jaleh indak kanampak – dari baliak nan mandindiang – kok pakaian panutuik malu – nan kamambuek kito malu – paralu ditutuik rancak rancak – agak saketek buliah mewah – nak tatutuik malu dari kaum – indak kamungkin do raso nyo – kalau kito pai baralek – jo pakaian nan alah cabiak – kaum kito sato dapek malu – tapi kini dek uni jo uda – guno pakaian pambungkuih tubuah – lah bisa kito bayangan – kalau barang nan kito bungkuih – lah jaleh samo bantuak nyo – jo bantuak bungkuih nan dilua – kok dapek uni jo uda – nan ado diranah minang – ijan tabao rendoang pulo – nan sasuai jo bunyi pantun.

Barakik rakik ka hulu

Baranang ranang katapian

Basakik sakik daulu

Basanang sanang kamudian

 

Elok nagari dek pangulu

Rancak nyo kampuang dek nan tuo

Elok musajik dek tuanku

Rancak tapian dek nan mudo

 

Falsafah Pakaian Pangulu Dalam Pantun Adaik

 

Saluak :

 

Takanak saluak palangai

Bayangan isi dalam kulik

Panjang ndak dapek kito ukua

 Nan sipaik baliau cadiak pandai

 – Walau batenggang di nan rumik

 – Bapantang langkah ka talanjua

 

Leba ndak dapek kito bidai

Tiok karuik aka manjala

Tiok katuak budi marangkak

 Jadi pangulu kok lai pandai

 – Pandai bacupak di nan data

 – Indak namuah bakisa tagak

 

Dalam lilik baundang-undang

Salilik lingkaran kaniang

Ikek santuang dikapalo

 Kalau nyo langkah nan lah sumbang

 – Tando nyo paham lah bapaliang

 – Dunia akiraik kabinaso

 

Tampuak dek paham tiok lipek

Lebanyo pandindiang kampuang

Panjang pandukuang anak kamanakan

 Suko pangasiah ka nan ketek

 – Batu ketek acok manaruang

 – Ukua lah langkah ka bajalan

 

Hamparan rumah nan gadang

Paraok gonjoang nan ampek

Payuang panji marawa basa

 Kok tumbuah bana basilang

 – Kok datang sudi jo siasek

 – Indak bakisa di nan bana

 

Tampek bataduah kahujanan

Tampek balinduang kapanasan

Iyo dek anak kamanakan

 Tibo dimato indak bapiciangan

 – Tibo diparuik indak bakampihan

 – Nan bana samo ditagak-an

 

Nan sapayuang sapatagak

Dibawah payuang dilingkuang cupak

Manjala masuak nagari

 Tapijak dibaro hitam tapak

 – Tapijak didarah sirah tapak

 – Warih nan samo dironggohi

 

Kapa-i tampek batanyo

Kapulang bakeh babarito

Kusuik nan kamanyalasai

 Walau ba-a coba an tibo

 – Baiman taguah didado

 – Bapantang kusuik ndak salasai

 

Karuah nan kamanjaniahi

Hukum adia katonyo bana

Sapakaik warih mandiri-an

 Nak aman koto jo nagari

 – Lahia jo batin jan batuka

 – Indak manampuah rusuak jalan

 

Baju :

 

Babaju hitam gadang langan

Langan tasenseang ndak pambangih

Pa apuih miang dalam kampuang

 Kalau mambimbiang kamanakan

 – Mamahek jan dilua garih

 – Nak jan bacacek dalam kampuang

 

Pangipeh hangek nak nyo dingin

Siba batanti baliak balah

Baturap jo banang makau

 Indak bakucak lahia batin

 – Kok tasuo gadang baralah

 – Ukua jo jangko ndak talampau

 

Basuji jo banang ameh

Panutuik jahik pangka langan

Tando mambuhua ndak mambuku

 Pangulu kok lai tangkeh

 – Tantu santoso kamanakan

 – Nagari nan indak dapek malu

 

Langan balilik suok kida

Basisiak makau ka amasan

Gadang basalo jo nan ketek

 Pangulu paham kok caia

 – Uleh jo buhua kok mangasan

 – Bak kayu lungga pangabek

 

Tando rang gadang bapangiriang

Tagak ba apuang jo aturan

Ba ukua jangko jo jangkau

 Tagak pangulu kok bapaliang

 – Unjuak kok indak babarian

 – Pantangan adaik Minangkabau

 

Unjuak ba agak ba inggoan

Lihia nyo lapeh ndak bakatuak

Babalah sa hinggo dado

 Indak namuah bapangku tangan

 – Walau kurang dapek ditukuak

 – Taserak dikampuangan nyo

 

Rang gadang alam nyo leba

Rang cadiak padang nyo lapang

Indak karuah aia dek ikan

 Indak bakisa di nan bana

 – Walau ba a coba an datang

 – Bapantang guyah sandi iman

 

Indak rusak gunuang dek kabuik

Paik manih pandai malulua

 Jan takuik ma elo suruik

 – Kalau nyo langkah lah talanjua

 

Tagang nyo bajelo-jelo

Kanduanyo badantiang-dantiang

Hati lapang paham saleso

Pasiah lidah pandai barundiang

 

Sarawa :

 

Sarawa hitam gadang kaki

Kapanuruik labuah nan luruih

Panampuah jalan nan pasa

 Nan sipaik pangulu di nagari

 – Malu kok indak katahapuih

 – Tando nyo budi lah tajua

 

Kadalam koroang jo kampuang

Sampai ka koto jo nagari

Langkah salangkah baliak suruik

 Tagak pangulu kok nyo tangguang

 – Tando bamain aka budi

 – Bak gunuang dilampok kabuik

 

Pado pai suruik nan labiah

Langkah salasai baukuran

Ma agak kuku jan tataruang

 Pakai lah paham tulak raiah

 – Simpai nan taguah diganggaman

 – Itu pitua bundokanduang

 

Mangko sarawa kain hitam

Paham hakikaik tahan tapo

Manahan sudi jo siasek

 Buruak baiak pandai mangganggam

 – Ba iman taguah didado

 – Curiang barih dapek diliek

 

Mananti bandiang kok tibo

Kumuah bapantang kalihatan

 Tando nyo kapa banankodo

 – Mangko nyo turun kalautan

 

Walau sagadang bijo bayam

Jadi pantangan salamonyo

 Saciok bak anak ayam

 – Tandonyo pangulu lah sakato

 

Sisampiang :

 

Basisampiang sahinggo lutuik

Kayo jo mikin alamaik nyo

Patuik dalam ndak buliah senteang

 Malu kok indak katatutuik

 – Ka runtuah adaik jo pusako

 – Lah ilang ereang jo gendeang

 

Kok senteang ndak buliah dalam

Mungkin jo patuik ka ukuran

Lakeknyo impik kakida

 Cadiak pandai kok ndak bapaham

 – Budi kok nyampang kalihatan

 – Jadi sampik alam nan leba

 

Satantang jo ampu kaki

Tandonyo lurih batujuan

Suduik seroang manikam jajak

 Tando nyo kito lai babudi

 – Kok tumbuah silang jo bantahan

 – Pandai manimbang jo manggamak

 

Langkah bak cando bapatingkek

Alam satapak bakeh diam

 Kok bak kayu lungga pangabek

 – Kamanakan ka andam karam

 

Alun bakilek alah takalam

Bulan disangko tigo puluah

 –Alun diliyek lah tapaham

 –Lah tantu tampek bakeh tumbuah

 

Cawek :

 

Caweknyo suto bajumbaian

Jumbai nan tangah tigo tampok

Kapalilik anak kamanakan

 Walau bak mano pasakitan

 – Nan buruak samo dipaelok

 – Taserak namuah mangampuangan

 

Kapangabek sako jo sangsako

Nak kokoh lua jo dalam

Guyahnyo bapantang tangga

 Paham guyah iman ndak ado

 – Ibaraik bajalan di nan kalam

 – Tando nyo budi lah tajua

 

Kokohnyo murah diungkai

Kabek sabaliak buhua sentak

 Jadi pangulu kok ndak pandai

 – Dalam aia jajak lah nampak

 

Rapek nagari nak ma ungkai

Tibo nan punyo tangga sajo

Rasio buhua dek pangulu

 Nan bak katidiang rarak bingkai

 – Tangga ciek larak sado nyo

 – Pantangannyo bana dek pangulu

 

Karih :

 

Tasisik karih di pinggang

Sisik nyo tanaman tabu

Latak nyo condoang kakida

 Kalau lah tagak mangupalang

 – Runuik lah kato nan daulu

 – Muluik jo hati jan batuka

 

Dikesoang mangko dicabuik

Gambonyo tumpuan puntiang

Tunangan ulu kayu kamaik

 Jan takuik maelo suruik

 – Dalam bulek usah basandiang

 – Bogo kamati dalam niaik

 

Kokohnyo indak dek ambalau

Guyahnyo bapantang tangga

Tagoknyo murah dicabuik

 Kalau nan adaik minangkabau

 – Asah bacupak di nan data

 – Malu kasamo kito japuik

 

Bengkok nan tangah tigo patah

Luruihnyo manahan tiliak

Bantuak dimakan siku-siku

 Nyampang ratak mambao pacah

 – Batin tasimpan jan tabatiak

 – Runuik lah paham jo ilimu

 

Raso nan dibawo naiak

Pareso nan dibawo turun

Alua patuik jalan batampuah

 Batin tasimpan kok tabatiak

 – Alua patuik sinan bahimpun

 – Pasak kungkuang paham nan taguah

 

Bamato baliak batimba

Sanyawa pulo jo gombanyo

Tajam nan indak mangalupang

 Kalau barasak dinan bana

 – Suok kida badai manimpo

 – Tando nyo langkah nan lah sumbang

 

Kok tajam indak maluko-i

Jajak ditikam kanai juo

 Nan salah samo di ubahi

 – Pulang nyo kabalabeh juo

 

Alah bakarih samporono

Pakirin rajo majopahik

 –Tuah basabab bakarano

 –Pandai batenggang di nan rumik

 

Tarompa :

 

Takanak tarompa kulik kalaf

Kapananai sangsako nak nyo tagok

Sako nak tatap jo enggeran

 Bogo manusia basipaik kilaf

 – Nan buruak samo dipaelok

 – Usah manguntiang dilipatan

 

Kapanuruik labuah nan goloang

Panampuah jalan nan pasa

Sampai ka koto jo nagari

 Walau didunia toloang manoloang

 – Usah barasak di nan bana

 – Pado tacemo dinagari

 

Panuruik anak kamanakan

Mancaliak parik nan ta-ampa

Adokoh rando dapek malu

 Nyampang tatampuah di nan bukan

 – Tando nyo budi lah tajua

 – Babaliak ka kato nan daulu

 

Kok jauah kamancaliak-caliak

Jikok ampiang manyilau-nyilau

Jikok malam danga-danga an

 Kok lai mancinto ka nan baiak

 – Indak baniaik nak mangacau

 – Samo mancari ridha tuhan

 

Bajalan ba aleh tapak

Malenggang babuah tangan

Manuruik adaik jo limbago

 Bogo kamalah ka di asak

 – Kato bana jadi padoman

 – Baitu adaik nan biaso

 

Tungkek :

 

Tungkeknyo dari kayu kamaik

Ujuang tanduak kapalo perak

Kapanupang sako jo sangsako

 Walau kamati dalam niaik

 – Indak namuah bakisa tagak

 – Itu pakaian salamonyo

 

Kapanahan sako nak jan rabah

Panueh sangsako nak jan lipua

Sako nak tatap jo enggeran

 Jiko tapijak di nan salah

 – Tando nyo langkah lah talanjua

 – Bak rumah gadang katirihan

 

Ingek samantaro balun kanai

Kulimek sabalun habih

 Walau tatungkuik tagulampai

 – Nan miang samo kito kikih

 

Malantai sabalun lapuak

Maminteh sabalun hanyuik

 Kok nyampang bakisa duduak

 – Kato nan bana ka disabuik

 

Gantang tatagak jo lanjuangnyo

Sumpik tatagak jo isinyo

Adaik tatagak jo limbago

 Kok nyampang paham basangketo

 – Nak jan tumbuah cacek binaso

 – Cari lah ujuang jo pangka nyo

 

Adaik nan batalago buek

Cupak nan tarang samato

Taga dek sipaik nan badiri

 Warih nan samo kito jawek

 – Pusako samo ditarimo

 – Baitu adaik nan usali

 

Undang Duo Puluah :

 

Undang undang nan duo puluah

Yaitu tabagi duo

 –Mintak didanga sungguah sungguah

 –Nak dapek paham ma’ananyo

 

Duo baleh untuak panuduah

Salapan untuak pancemo

 –Hiduik didunia kok ndak sungguah

 –Di akiraik antah bak mano

 

Anggang lalu atah pun jatuah

Pulang pagi babasah basah

 –Pangulu kok lai satubuah

 –Tantu rakyaik jadi sabingkah

 

Bajalan bagageh gageh

Bajua bamurah bamurah

 –Tungganai nagari kok lai tangkeh

 –Gunuang nan tinggi jadi randah

 

Talacuik tapakuak mati

Talalah takaja pulo

 –Nan mudo kok lai barani

 –Mungkasuik sampai kasadonyo

 

Putuih tali ditangah jalan

Batimbang kato dek manjawok

 –Alim ulama kok sapaham

 –Apo dibuek jadi tagok

 

Tacancang bariang lah luko

Tabayang batubuah nampak

 –Pangulu kok lai sakato

 –Manuruik rakyaik nan banyak

 

Kacondoangan mato rang banyak

Tibo pikek langau tabao

 –Parik paga kok lai bijak

 –Nagari aman jo santoso

 

Itulah undang duo baleh

Nak samo kito mamahami

 –Pakailah rundiang nan bakieh

 –Kito tapuji dinagari

 

Kok hanyo undang nan salapan

Mari nak samo kito liek

 –Nak jan tatampuah di nan bukan

 –Salah tampuah buliah di ambek

 

Dago dagi mambari malu

Sumbang salah laku parangai

 –Tapati kato nan daulu

 –Mangkonyo kusuik kasalasai

 

Maliang curi ka liang lantai

Tikam bunuah padang badarah

 –Walau tatungkuik tagulampai

 –Usah bakisa di nan bana

 

Sia baka sapotoang suluah

Upeh racun tabang basayok

 –Bogo hancua bogo kaluluah

 –Nan buruak samo dipaelok

 

Samun saka tagak dibateh

Umbuak umbi budi marangkak

 –Suok kida ombak ma ampeh

 –Usah bakisa tampek tagak

 

Itulah undang nan salapan

Nak samo kito mamahami

 –Kunci lah biliak kaimanan

 –Nak jan tacemo dinagari

 

Falsafah Pakaian Bundo Kanduang

 

Tingkuluak :

 

Takanak tingkuluak dikapalo

Bantuak lahia bayangan isi

Panjang ndak dapek kito ukua

Leba ndak dapek kito bidai

Tiok lipek akak manjala

Tiok katuak budi marangkak

Gonjoang ateh baliak batimba

Lambang nareco bayang adaik

Adaik nan basandi syarak

Syarak nan basandi kitabullah

Walau kabek buliah dibukak

Nan buhua ndak buliah guyah

Ujuangnyo duo bajumbai

Sajumbai dimuko kaniang

Jadi sumandan dalam kampuang

Sajumbai jatuah kabalakang

Panampin niniak jo mamak

Salilik lingkaran kaniang

Ikek santuang dikapalo

Tampuak dek paham tiok lipek

Lebanyo pandindiang kampuang

Panjang pandukuang anak katurunan

Hamparan rumah nan gadang

Paraok gonjoang nan ampek

Bakeh bataduah kahujanan

Bakeh balinduang kapanasan

Iyo dek anak katurunan

Nan sapayuang sapatagak

Dibawah payuang lingkungan cupak

Manjala masuak nagari

Kapai tampek batanyo

Kapulang tampek babarito

Kusuik nan ka manyalasai

Karuah nan kamanyaniahi

Hukum adia katonyo bana

Sapakaik warih mandiri an

 

Baju :

 

Babaju kuruang gadang langan

Pa apuih miang dalam kampuang

Pa ngipeh angek nak nyo dingin

Siba batanti timba baliak

Batabua perak ba ukia

Baturap jo banang ameh

Basuji jo banang makau

Panutuik jahik pangka langan

Tando mambuhua ndak mambuku

Ma uleh indak mangasan

Langan balilik suok kida

Basisiak makau ka amasan

Gadang basalo jo nan ketek

Tandonyo bundo bapangiriang

Tagak ba apuang jo aturan

Ba ukua jangko jo jangkau

Unjuak ba agak bainggokan

Lihianyo lapeh tak bakatuak

Babalah sahinggo dado

Bundo kanduang alamnyo leba

Bundo kanduang padangnyo lapang

Ndak kruah aia dek ikan

Ndak rusak gunung dek kabuik

Pahik manih pandai malulua

 

Dukuah :

 

Takanak dukuah dilihia

Dukuah pinyaram bungo inai

Bagalang salingkaran tangan

Ba cincin sa ukuran jari

Tumpuan subang ka talingo

Tumpuan canggai ka kalingkiang

Alua patuik sinan bahimpun

Latakan suatu di tampeknyo

Didalam cupak jo gantang

Ma hawai jan sapanjang tangan

Unjuak ba agak bahinggokan

Kalau malabiahi ancak ancak

Jikok manurangi sio sio

 

Kokdek :

 

Bakodek kain balambak

Ba ukia ba mego mego

Ukia basalo pucuak rabuang

Kaluak paku galuang galuangan

Aka cino jangkau jangkau an

Saiak ajik mamacah ragi

Dibawah itiak pulang patang

Basalo jo bada mudiak

Di tangah bungo kiambang

Dalamnyo diateh tumik

Patuik dalam ndak buliah senteang

Kok senteang tak buliah dalam

Mungkin jo patuik ka ukuran

Lakeknyo impik ka kida

Tandonyo luruih batujuan

Suduik seroang manikan jajak

Langkah bak cando bapatingkek

Alam satapak bakeh diam

Mamakai raso jo pareso

Raso nan dibawo naiak

Pareso nan dibawo turun

Alua patuik jalan ditampuah

Bajalan si ganjua lalai

Pado pai suruik nan labiah

Samuik tapijak indak mati

Alu tataruang patah tigo

Tibo di lasuang ramuak rampak

Alun bakilek lah bakalam

Bulan disangko tigo puluah

Alun diliek lah tapaham

Lah tantu tampek tumbuah

 

Salempang :

 

Salempang suto bajumbaian

Panjangnyo tangah tigo kaco

Bajumbai perak baukia

Baukia bapucuak rabuang

Basuji jo banang ameh

Baturap jo banang makau

Pucuak paku galuang galuangan

Aka cino jangkau jangkauan

Kapalilik anak kamanakan

Pangabek sako jo pusako

Nak kokoh lua jo dalam

Kabek sabalik buhua sentak

Rapek nagari nak maungkai

Tibo nan punyo tangga sajo

 

Tarompa :

 

Takanak tarompa kulik kalaf

Kapananai sako jo sangsako

Kapanuruik labuah nan luruih

Panampuah jalan nan pasa

Baiak ka dalam koroang kampuang

Sampai ka koto jo nagari

Bajalan ba aleh tapak

Malenggang babuah tangan

Malangkah jan salelo kaki

Ma agak kuku jan tataruang

Ingek sabalun kanai

Kulimek sabalun habih

Maminteh sabalun hanyuik

Malantai sabalun lapuak

Padang, Juni 2007.

Maaf alun sudah

Alun dikoreksi.

 

Adaik nan Sabana Adaik

  1. Adalah kaedah alam, sifatnya sudah “given” tidak berubah sepanjang masa – sebagai rahmat dari Allah Yang Maha Kuasa –, yang disebut dalam istilah hokum “ indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan “, inilah yang disebut “Sunnatullah”, yaitu ketentuan Allah Pencipta Alam semesta, yang telah diterima oleh manusia secara menyeluruh (universal), yang dalam istilah ilmu disebut “fenomena alam”.
  2. Dipakai sebagai timbangan asli (cupak usali) karena begitulah sifat alam (manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, air, tanah, api, angin) diciptakan oleh Allah SWT. Sifat ini tidak akan berubah, dalam tubuh manusia/hewan/tumbuhan dibawa oleh “gen” yang berupa struktur RNA dan DNA yang nyatanya tidak sama pada setiap individu.
  3. Cupak usali dalam bahasa hokum disebut yurisprudensi, yaitu pedoman untuk memepat atau menorah cupak buatan (yakni hokum yang di buat oleh manusia), yang oleh kita dikenal selama ini dengan istilah “alam takambang jadi guru”, dalam bahasa filsafat ilmu disebut “analogi”, pengungkapannya dilafatkan dalam pahatan “kato” (yaitu kalimat pendek yang luas maknanya), itulah “kato dahulu”, nilainya berada pada domein hakikat.

 

Pasan Rang Gaek (3), Tau di nan Ampek

Pasan Rang Gaek

Tau di nan ampek

Diulang-ulang baliek dek :

Buya H.Mas’oed Abidin

(JPEG Image, 227×269 pixels) BuyaDi ranah bundo Minangkabau ko ado ampek macam kato-kato, atau caro manyampaikan parundiangan.

Ado namonyo kato mandaki, dari bawah ka ateh, aratinyo dari anak-anak  ka urang tuo, dari  kamanakan  ka mamak, nan samustino mamakai caro-caro sopan santun.

Talabiah-labiah bakeh urang tuo (bapak mandeh) nan alah malahiakan kito, manggadangkan jo maaja awak.

Sasuai bana jo ajaran agamo Islam, kok mangecek ka mandeh nantun bapakaikan qaulan kariman, aratino kato-kato nan lamah lambuik, kato-kato nan panuah ka muliaan.

Ado pulo namono kato malereang, nan panuah ba isi kieh jo bandiang, baisi patunjuak jo pangaja, biasonyo di pakai dalam pambicaraan antaro urang arih bijaksano.

Ado lo tampek malatakkanno.

Indak hanyo sakadar mambaco apo nan tampak, tu.

Inyo indak mangecek apo nan takana, tapi labiah dahulu mangana-ngana apo nan ka di kecekkan.

Buah tutua nyo [anuah baisi hikmah pangaja.

Kadang-kadang batingkah jo pituah jo papatah.

Aluih tasamek di dalam bana, ta latak di dalam hati, sajuak di kiro-kiro.

Ado lo namono kato mandata, kato bajawab gayuang basambuik samo gadang.

Kadang baisi galuik jo garah, paningkah lamakno pagaulan.

Indak manyingguang suok kida, panguek buhua rang mudo-mudo, abih tingkah dalam garah, kato palanta dek rang saisuk, nan elok ka pangaja, nan buruak samo di tingga-an.

Ingek-maingekkan adaik hiduik dek nan mudo, indak mampabia kawan tatungkuik, indak manuhuak kawan sairing, indak mangguntiang dalam lipatan.

Baitu adaik samo gadang, disinan iduik  mangkono sero.

Ado lo namono  kato manurun.

Dari nan gadang ka nan ketek, baisi nasihaik jo pitunjuak, ka jadi padoman dek nan ketek.

Panuah ba isi kasih jo sayang, manjadi suri jo tauladan.

Jarang ba-isi kato bangih, jauh nan dari hariak  jo berang, indak pulo mahantak kaki, jauh dari manampiak dado.

Baitulah, kalau kato nan ampek ko lai tatap jadi paratian kito, Insya Allah di dalam hiduik di dunia nan fana ko kito ka salamaik, dan di akiraik tantu kita ka bahagia pulo.

Salanjuikno kito bisa pulo maninggakan katurunan (genrerasi, kato rang kini) nan arih-bijaksano, nan bisa manjadi pamimpin di tangah-tangah kahidupan urang banyak.

Buruak sabuik di ranah bundo, kalau rang minang indak tau lai di nan ampek ko. Indak tau di nan bana, indak lo tau di nan salah. Indak tau di nan di suruah. Indak lo tau jo nan di tagah.

Alamaik sansaro badan jadino.

Urang nan bijaksano, hanyolah nan tau di alamaik maso lalu, tau di tujuan maso datang, tau di jalan nan sadang batampuah, tau lo di tampek parantian.

Baitulah handakno hiduik nangko.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala salalu mambimbiang kito kapado ka arifan nan alah di ajakan dek alam ta kambang nan jadi guru ko.

Insya Allah.

Pasan Rang Gaek (2), Hidup beradat dan beragama

Pituah Rang Gaek (5).

 

Hiduik ba-radaik jo ba-ugamo

Diulang-ulang baliek dek :

Buya H.Mas’oed Abidin

 

 

 

Indak salah urang tuo-tuo kita mangecek-an bahaso tando urang Minang tu baradaik, dan tando urang baradaik tu ba-agamo.

Memang sanyatonyo, sa jaek-jaek urang Minang tu lai kajadi indak mangarajokan syariat agak sakali, tapi kalau di ingekkan padonyo tantang iduik ko kamati, capek inyo babaliak ka nan baik.

 

Kecerdasan hati (raso) itu talatak pado duo hal nan sangaik jaleh.

 

Nan Paratamo, iyolah pandai “ba syukur nikmat”.

Taraso bahaso nan ado di tangan awak ko adolah pambarian (nikmat anugerah) dari Allah nan Maha Menjadikan kito. Indak mungkin kito sampai pado tingkek saroman kini ko kalau indak ateh izin dari Allah.

Karano tu sangat paralu bana kito mamaliharo apo nan kita punyo kiniko (apo itu kesehatan, ukatu nan baiak, kasampatan nan ado, harato nan kito punyo, umua nan tasiso kiniko) di pakaikan kapado nan sabana-bana di sukoi Nyo.

 

Insya Allah, kito kana bana janji Allah tuh, “lain syakartum la-azidan-nakum, wa lain kafartum, inna ‘adzaabi lasyadiid” aratino, “kalau lai pandai mansyukuri nikmaik Allah ka di tambah-tambah nikmaik tu, tapi kalau di kufuri (aratino di pagunokan ka pado nan indak di katujui), sungguah azab den (kato Allah) padiah sakali.  

 

Sahubuangan jo ayaik Allah ko, ado pasan Rang Gaek awak,

ingek-ingek sabalum kanai, kulimek sabalun abih.

Sasa dahulu pandapatan, sasa kudian yo indak adoh kaguno-nyo.

 

Nan kaduo, adolah “sanggup atau bisa ba-saba”, atau kato urang kini adolah tabah, kuek pandirian, indak takuik dilamun ombak, pandai batenggang di nan susah, pandai bahemat kutiko lai, indak basipaik cando (sarupo)  caciang kapanehan,  indak pulo gaduak saroman kacang di abuih ciek, tahu pabilo masonyo galak, tau pulo bilo kutiko baranti manangih, dan indak laruik dek kaadaan.

 

Ado papatah urang tuo-tuo awak saisuak.

Bapadi si jintan-jintan, kok ujan kaka-kakakan,

kok paneh lingkuik-lingkuikkan.

Padi ditanam beko patang, kadi sabik kalamari,

sacotok haram dek ayam, lah habih baru dimakan.

 

Baitulah pituah  Rang Gaek kito.

 

Ado palajaran agamo di surau-surau dulu, mak kito ingek-kan baliak “man lam yardhaa bi qadhaa-i , walam yashbir ‘alaa balaa-i, fal yath-lub rabban si waa-i” aratino “kalau indak karedha kabakeh katantuan Allah, kalau indak kasaba  kabakeh cubaan Allah, co lah cari Tuhan nan lain salain Allah tu”. 

 

Tantu indak ka dapek dek awak tuhan nan lain, nan sa panyayang, sa baik pambarian Allah ka bakeh awak tu doh.

 

Kaji ko sabana nyo indak kaji baru bagai doh. 

Tapi paralu kito ingek-ingek baliak, karena dek lamo lupo.

Lanca kaji dek lai ba-ulang, pasa jalan dek batampuah.

 

Kini, sakitu sajo dahulu. Kalau ado wakatu, nanti kito sambuang pulo.

Marilah kito samo-samo mandoa, samoga Allah salalu maagiahkan rahmat nan balipek gando, sehat nan ka paguno, harato nan ka panopang hiduik, panjalin hari isuak, jan hanyo di agiahkan dek Tuhan harato nan hanyo ka abih kini, atau hanyo sakadar nan ka busuak, nan ka lapuak.

 

Mudah-mudahan pulo kito mandapekan  harato banyak nan paguno pulo dek awak untuk hari isuak. Pintak buliah , ka-andak balaku , mukasuik sampai , nan di ama pacah, umua panjang, rasaki murah, bala pun takuak handakno.

 

Biaitulah pintak jo pinto kiti basamo. Amin Ya Rabbal Alamin.