Sastera dan Kepercayaan di Minangkabau

Hubungan Sastera dan Kepercayaan


di Minangkabau


Oleh H Mas’oed Abidin

Masalah bahasa dan kepercayaan yang berasimilasi dalam kesusastraan di Minangkabau adalah satu dari mutiara kebudayaan yang amat berguna di dalam menguntai satu kesusastraan nasional yang berkeperibadian sendiri, keperibadian Indonesia.

Keperibadian Minangkabau tidak dapat dipisahkan dari pemurnian pemahaman dan pengamalan agama Islam oleh masyarakat Minangkabau khusus dan masyarakat bangsa Indonesia secara umum.

Masyarakat Minangkabau telah mengakui Islam sebagai agamanya dan pedoman hidupnya, yang tentu saja amat menentukan di dalam hasil karya kesusastraan yang dicipta mereka.

subuh-di-masjid-nabawi

KEPERCAYAAN DI DALAM MASYARAKAT MINANGKABAU

Salah satu tuntutan naluriah manusia adalah mempercayai adanya kekuasaan gaib yang bersifat Maha Sempurna yang dihayati sebagai rasa keagamaan.

Kepercayaan kepada kekuasaan alam di luar lahiriah seperti makhluk gaib, roh-roh dan kekuatan alam, adalah penyimpangan dan mengaburkan hakekat kepercayaan kepada Keesaan Yang Maha Sempurna yang bersifat naluriah dan fitrah insaniah itu.

Kepercayaan terhadap hal yang mistis tumbuh karena tipuan setan yang membonceng bersama ketidak-sanggupan manusia mengadapi tantangan alam dalam memenuhi kebutuhan jasmaniahnya. Kepercayaan ini pernah ada di dalam masyarakat Minangkabau masa lalu.

Islam mengembalikan kepercayaan masyarakat Minangkabau kepada fitrahnya semula Namun, beberapa peninggalan kepercayaan lama masih melekat dan dalam beberapa cara dan upacara bahkan saling bermesraan dengan Islam.

Pengakuan bahwa manusia adalah alam kecil yang susunannya berimbangan dengan alam luas, menuntut perilaku manusia untuk menjaga dan memelihara keseimbangan itu. Dalam bahasa di Minangkabau tampak pengaruhnya pada penggunaan kata “pantang”, “sumbang” dan “cando” atau sesuatu yang salah dan terlarang.

MASYARAKAT MINANGKABAU

Pola hubungan bermasyarakat dalam tatanan kekerabatan di Minangkabau mempertahankan garis keturunan keibuannya. Hal ini dapat juga bersumber dari atau didasarkan pada penghormatan yang timbul karena penderitaan alamiah ibu melahirkan manusia.

Kesadaran untuk menjaga ketinggian moral ini sesungguhnya sesuai dengan tuntutan agama Islam. Di samping hubungan manusia dengan ibu adalah hubungan awal yang paling erat.

Garis keturunan ibu yang dipertahankan ini tidak menghalangi masyarakat Minangkabau melaksanakan ketentuan agama mereka (Islam) dalam hubungan-hubungan muamalah.

Dalam bahasa Minangkabau garis keturunan keibuan ini membayang pada kata-kata, ungkapan-ungkapan dan kesusastraan yang mengedepankan aspek rasa (emosional) daripada aspek pikiran (rasional) semata. Rasa itu juga dibentuk oleh kepercayaan yang dianutnya.

Bahasa dan kesusastraan Minangkabau mempunyai peranan penting dalam pembentukan moral penduduknya dalam kaitan moral (akhlak) yang timbul antara hubungan makhluk dan khalik dan moral yang timbul antara hubungan manusia sesama manusia dan sesama makhluk.

Konsep-konsep yang merupakan pedoman hidup yang diatur dalam adat dan lembaga masyarakat Minangkabau juga ditetapkan dengan bahasa.

Sifat pembawaan masyarakat bahasa Minangkabau yang menghindari berkata tepat dan kebiasaan berkata kias, bermisal dan memakai pertimbangan-pertimbangan yang tepat, membayangkan pengakuan terhadap adanya suatu kekuasaan diluar diri mereka. Kekuasaan tersebut mereka kagumi.

KESUSASTERAAN MINANGKABAU

Permulaan timbulnya kesusastraan Minangkabau karena dirasakan perlu berhubungan dengan makhluk-makhluk dan kekuatan-kekuatan alam yang mempengaruhi kehidupan.

Puisi mantra adalah bentuk-bentuk tertua kesusastraan Minangkabau yang bersifat religius, sedangkan bentuk puisi lama dan prosa berirama merupakan bentuk turunan dari puisi mantra. Puisi dan prosa berirama adalah suatu bentuk keharusan kesusastraan Minangkabau.

Dalam puisi mantra terdapat asimilasi yang kuat antara bahasa dan keper-cayaan, baik dengan kepercayaan yang menyimpang maupun dengan kepercayaan yang hakiki.

Irama, mimik dan pantio mimik dalam puisi mantra memperkuat kedalam rasa dan penyatuan itikad serta menentukan subyek kepercayaan.

Bunyi-bunyi alam dan suasana alamiah lainnya menambah keseimbangan irama dan karena itu pemesraan antara bahasa dan kepercayaan bertambah kuat.

Dipandang dari sudut Islam, memakai mantra dengan itikad memohon se suatu kepada makhluk gaib adalah perbuatan sesat dan dikategorikan kedalam hukum memperserikatkan Tuhan (musyrik).

Makhluk gaib adalah juga ciptaan Tuhan, karena itu permohonan kepada yang gaib hanya ditujukan kepada-Nya semata. Dia Esa.

Pemilik kesusatraan Minangkabau (lama) dan pencipta pertamanya adalah golongan penghulu atau para ninik mamak.

Hakikat pelisanan kesusastraan Minangkabau bertujuan untuk menjaga agar jangan kepandaian (keahlian) itu meluas, karena itu iramanya tidak terpelihara yang akan mengakibatkan kemakbulannya lenyap. Juga berhakekat sebagai suatu keistimewaan golongan yang bekuasa yang dapat dibanggakan.

MASA DEPAN KESUSASTRAAN

MINANGKABAU

Bagaimana semestinya sikap pendukung kesusastraan Minangkabau dalam menatap masa depan kesusastraan daerah Sumatera Barat untuk dapat disumbangkan pada pemupukan kesusastraan nasional Indonesia diperlukan beberapa tindakan nyata.

Untuk mendapatkan kemurnian daya cipta masyarakat (perseorangan) yang juga bersumber kepada rahmat Ilahi, maka perlu diluruskan jalan ketauhidan terhadap ke-Esa-an Tuhan, sehingga kemusyrikan lenyap sama sekali.

Cara yang mungkin dapat ditempuh adalah di samping memberikan pengertian kepada pendukung kepercayaan berganda itu, juga dengan melalui ciptaan sastra dan buku-buku yang mempertegas ketauhidan terhadap Ilahi.

Karena kesusastraan digunakan untuk mengabdi kepada yang gaib, maka dalam ciptaan mantra di Minangkabau harus mengarah kepada pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian materi atau unsur yang terdapat pada kesusastraan Minangkabau itu dipaterikan kembali ke arah yang benar, yaitu menuju redha Allah Swt. Arah yang sesat menuju kemuysrikan dan kemurtadan pada arah kesusastraan Indonesia seperti pernah terjadi pada zaman dominasi politik komunis dengan LEKRA terhadap kesusatraan Indonesia tidak boleh terulang lagi.

Dasar yang kuat bagi perkembangan kebudayaan (kesusastraan) yaitu “agama” yang semestinya tumbuh menjadi kepribadian bangsa. Agama haruslah di pupuk suburkan dan menjadi cerminan perilaku agar tidak menyeleweng ke arah yang salah. Menghapus dasar keagamaan pada karya sastra Indonesia adalah suatu penafian terhadap peribadi bangsa sendiri.

Pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusastraan di Minangkabau, berfungsi sebagai pembentukan moral. Materi kepercayaan atau agama dalam adagium syarak mangato adaik mamakai harus dipertahankan selalu ada dalam penciptaan kesusastraan Minangkabau sekarang ini. Materi kepercayaan atau agama ini akan menjadi kekuatan membentuk moral dalam hubungan dengan khalik maupun pembentukan moral dalam pergaulan manusia bersama atau makhluk.

Setiap pendukung kebudayaan dan kesusastraan daerah di Minangkabau semestinya berbahagia dengan milik lama yang berharga ini (mantra, adat, tata pergaulan) yang dipagari oleh Islam. Masa kini terpikul beban tanggung jawab untuk menjaga dan memperkaya serta membetulkan mana yang tidak cocok dengan dasar keagamaan yang benar, yakni menurut agama Islam.

Hanyalah dengan menghargai hasil kebudayaan/kesusastraan lama sebagai pancaran masyarakat pada masanya, kita dapat menilai hasil kebudayaan/kesusastraan yang kita ciptakan dan kita hayati dewasa ini. Dari paduan yang lama dan sekarang dapat dipungut mutiara-mutiara hikmah dari dalamnya untuk memperkaya khazanah kesusastraan dan kebudayaan daerah Sumatera Barat berbasis adat Minangkabau yang indah itu. Bila usaha ini dapat dijaga dan dikembangkan barulah kita dapat mengatakan bahwa daerah kita ini mempunyai kesusastraan dan kebudayaan yang bercorak keperibadian sendiri.

“Inna ma`al yusri yusran

fa iza faraghta fanshab

wa ila rabbika farghab”

(Sesunguhnya akan datang disamping

kesulitan itu kemudahan

sebab itu

kapan engkau mempunyai waktu

bekerja keraslah

dan kepada Tuhan engkau

hadapkanlah semua tujuan dan harapanmu)

(Al-Quran Surat Al Insyirah, ayat 6-8.)

Semoga Tuhan selalu bersama kita. Amien.

Iklan

membentengi ancaman terhadap kaum Perempuan terutama di Minangkabau selalu menjadi sasaran pemurtadan dan pendangkalan akidah

Membentengi ancaman terhadap kaum Perempuan terutama di Minangkabau, yang selalu menjadi sasaran pemurtadan dan pendangkalan akidah

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Pendahuluan

pengertian yang di kandung oleh kata-kata Perempuan (Kawi) menyimpan arti pemimpin (raja), orang pilihan, ahli, yang pandai, pintar dengan segala sifat keutamaan yang lain (lihat:KUBI).[1] Dari sini, banyak fihak berkeinginan menguasainya, sejak dulu hingga kini.

Alquran menyebut perempuan dengan Annisa’ atau Ummahat sama dengan ibu, atau “Ikutan Bagi Umat” dan tiang suatu negeri.[2]

Sunnah Nabi menyebutkan khair mata’iha al mar’ah shalihah artinya perhiasan paling indah adalah perempuan saleh (artinya perempuan yang tetap pada peran dan konsekwen dengan citranya). Tafsir Islam tentang kedudukan perempuan menjadi konsep utama keyakinan Muslim bermu’amalah. Alquran mendudukkan perempuan pada derajat sama dengan jenis laki‑laki di posisi azwajan atau pasangan hidup (lihat Q.S.16:72, 30:21, 42:11).

Mande Rubiah, Profil Bundo Kanduang dari Lunang

Mande Rubiah, Profil Bundo Kanduang dari Lunang

Perempuan dalam budaya Minangkabau

Dalam adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah” menempatkan perempuan pada posisi peran. Kadangkala dijuluki dengan sebutan;

orang rumah (hiduik batampek, mati bakubua, kuburan hiduik dirumah gadang, kuburan mati ditangah padang),

induak bareh (nan lamah di tueh, nan condong di tungkek, ayam barinduak, siriah bajunjuang),

pemimpin (tahu di mudharat jo manfaat, mangana labo jo rugi, mangatahui sumbang jo salah, tahu di unak kamanyangkuik, tahu di rantiang ka mancucuak, ingek di dahan ka mahimpok, tahu di angin nan basiruik, arih di ombak nan basabuang, tahu di alamat kato sampai),

Pemahaman lebih jauh sesungguhnya berarti bahwa perempuan Minangkabau, semestinya sangat arif, mengerti dan tahu dengan yang pantas dan patut, menjadi asas utama kepemipinan ditengah masyarakat.

Anak Minangkabau memanggil ibunya dengan bundo karena perempuan Minangkabau umumnya menjaga martabat,

1. Hati-hati (watak Islam khauf), ingek dan jago pado adat, ingek di adat nan ka rusak, jago limbago nan kasumbiang,

2. Yakin kepada Allah (iman bertauhid), jantaruah bak katidiang, jan baserak bak amjalai, kok ado rundiang ba nan batin, patuik baduo jan batigo, nak jan lahie di danga urang.

3. Perangai berpatutan (uswah istiqamah), maha tak dapek di bali, murah tak dapek dimintak, takuik di paham ka tagadai, takuik di budi katajua,

4. Kaya hati (Ghinaun nafs), sopan santun hemat dan khidmat,

5. Tabah (redha), haniang ulu bicaro, naniang saribu aka, dek saba bana mandatang,

6. Jimek (hemat tidak mubazir), dikana labo jo rugi, dalam awal akia membayang, ingek di paham katagadai, ingek di budi katajua, mamakai malu dengan sopan.

KEARIFAN PEREMPUAN MINANGKABAU

Dalam ungkapan sehari-hari, perempuan Minang disebut pula padusi artinya padu isi dengan lima sifat utama; (a). benar, (b).jujur lahir batin, (c). cerdik pandai, (d). fasih mendidik dan terdidik, (e). bersifat malu (Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek.

Selanjutnya Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso), artinya didalam kebenaran Islam, al hayak nisful iman = malu adalah paruhan dari Iman.

Falsafah hidup beradat mendudukkan perempuan Minang pada sebutan bundo kandung menjadi limpapeh rumah nan gadang, umbun puro pegangan kunci, umbun puruak aluang bunian, hiasan di dalam kampuang, sumarak dalam nagari, nan gadang basa batauah, kok hiduik tampek ba nasa, kalau mati tampek ba niaik, ka unduang-unduang ka madinah, ka payuang panji ka sarugo.

Ungkapan ini sesungguhnya amat jelas mendudukkan betapa kokohnya perempuan Minang pada posisi sentral, menjadi pemilik seluruh kekayaan, rumah, anak, suku bahkan kaum, dan kalangan awam di nagari dan taratak menggelarinya dengan “biaiy, mandeh”, menempatkan laki-laki pada peran pelindung, pemelihara dan penjaga harta dari perempuan-nya dan anak turunannya.

Dalam siklus ini generasi Minangkabau lahir bernasab ayah (laki-laki), bersuku ibu (perempuan), bergelar mamak (garis matrilineal), memperlihatkan egaliternya suatu persenyawaan budaya dan syarak yang indah.(2)

Kebenaran Agama Islam

Islam menempatkan perempuan (ibu) mitra setara (partisipatif) dan lelaki menjadi pelindung wanita (qawwamuuna ‘alan‑nisaa’), karena kelebihan pada kekuatan, badan, fikiran, keluasaan, penalaran, kemampuan, ekonomi, kecerdasan, ketabahan, kesigapan dan anugerah (QS. An Nisa’ 34).

Perempuan dibina menjadi mar’ah shalihah (= perempuan shaleh yang ceria (hangat/warm) dan lembut, menjaga diri, memelihara kehormatan, patuh (qanitaat) kepada Allah, hafidzaatun lil ghaibi bimaa hafidzallahu (= memelihara kesucian faraj di belakang pasangannya, karena Allah menempatkan faraj dan rahim perempuan terjaga, maka tidak ada keindahan yang bisa melebihi perhiasan atau tampilan “indahnya wanita shaleh” (Al Hadist).

Kodrat wanita memiliki peran ganda; penyejuk hati dan pendidik utama, menempatkan sorga terhampar dibawah telapak kaki perempuan (ibu, ummahat).

Di bawah naungan konsep Islam, perempuan berkepribadian sempurna, bergaul ma’ruf dan ihsan, kasih sayang dan cinta, lembut dan lindung, berkehormatan, berpadu hak dan kewajiban.

Tidak punya arti sesuatu kalau pasangannya tidak ada dan tidak jelas eksistensi sesuatu kalau tidak ada yang setara di sampingnya, inilah kata yang lebih tepat untuk azwajan itu.[3]

IKUTAN BAGI UMAT

Secara moral, perempuan punya hak utuh menjadi Ikutan Bagi Umat.

Masyarakat baik lahir dari relasi kemasyarakatan pemelihara tetangga, perekat silaturrahim dan tumbuh dengan pribadi kokoh (exist), karakter teguh (istiqamah, konsisten) dan tegar (shabar, optimis) menapak hidup. Rohaninya (rasa, fikiran, dan kemauan) dibimbing keyakinan hidayah iman. Jasmaninya (gerak, amal perbuatan) dibina oleh aturan syari’at Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

شَرَعَ لَكُمْ مِنْ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِه إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ِأَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهَِ

“Allah telah menyari’atkan dasar hidup “ad-din” bagi kamu seperti telah diwasiatkanNya kepada Nuh, dan telah dipesankan kepadamu (Muhammad). Agama yang telah dipesankan kepada Ibrahim, Musa, Isa dengan perintah agar kalian semua mendaulatkan agama ini dan jangan kalian berpecah dari mengikutinya…” (QS.Syura : 13).

Perilaku kehidupan menurut mabda’ (konsep) Alquran, bahwa makhluk diciptakan dalam rangka pengabdian kepada Khaliq (QS. 51, Adz Dzariyaat : 56), memberi warning peringatan agar tidak terperangkap kebodohan dan kelalaian sepanjang masa. Manusia adalah makhluk pelupa (Al Hadist).[4]

Tegasnya, seorang Muslim berkewajiban untuk menda’wahkan Islam, menerapkan amar ma’ruf dan nahi munkar (QS. Ali ‘Imran :104), dimulai dari diri sendiri, agar terhindar dari celaan (QS. Al Baqarah :44 dan QS. Ash‑Shaf :3).

Amar ma’ruf nahi munkar adalah tiang kemashlahatan hidup umat manusia, di dasari dengan Iman billah (QS. Ali ‘Imran :110) agar tercipta satu bangunan umat yang berkualitas (khaira ummah).

Maka posisi perempuan didalam Islam ada dalam bingkai (frame) ini.

Busana Pelindung Dan Sarana Pendidikan Utama

Perubahan zaman disertai penetrasi budaya seringkali menampilkan ketimpangan didalam meraih kesempatan yang sangat menyolok pada fasilitas pendidikan, lapangan kerja, hiburan, penyiaran mass‑media, antara di kota dan kampung, akhirnya mengganggu pertumbuhan masyarakat.

Apabila kearifan dan keseimbangan peranan memelihara budaya dan generasi tercerabut pula, maka tidak dapat tidak akan ikut menyum­bang lahirnya “Generasi Rapuh Budaya”.[5]

Generasi berbudaya memiliki prinsip teguh, elastis dan toleran bergaul, lemah lembut bertutur kata, tegas dan keras melawan kejahatan, kokoh menghadapi setiap percabaran budaya, tegar menghadapi percaturan kehidupan, sanggup menghindari ekses buruk, membuat lingkungan sehat, bijak menata pergaulan baik, penuh kenyamanan, tahu diri, hemat, dan tidak malas, akan terbentuk dengan keteladanan.

Konsepsi Rasulullah SAW;”Jauhilah hidup ber-senang-senang (foya-foya), karena hamba-hamba Allah bukanlah orang yang hidup bermewah-mewah (malas dan lalai)” (HR.Ahmad).

Tidak dapat dimungkiri bahwa kaum perempuan harus memaksimalkan perannya menjadi pendidik di tengah bangsa menampilkan citra perempuan mandiri, memastikan terpenuhi hak dan terlaksananya kewajiban, salah satunya melalui cara berbusana. Dari pandangan Islam disimpulkan bahwa tidak mengindahkan hak-hak kaum perempuan sebenarnya kurang mengamalkan ajaran agama Islam.

Di Minangkabau perempuan berada pada lini materilineal akan hilang marwahnya tersebab menipisnya kepatuhan orang beradat, karena hakikat adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah adalah aplikatif, bukan simbolis.

Khulasah Gerakan Pemurtadan

1. Renungkanlah kalimat seorang penginjil “Terdapat sikap permusuhan yang tajam antara Kristen dan Islam. Sebab ketika Islam tersebar pada abad pertengahan, agama ini telah membangun sebuah benteng pertahanan yang kokoh ditengah-tengah upaya penyebaran Kristen. Kemudian Islam tersebar keberbagai negara yang sebelumnya pernah bertekuk lutut di bawah kekuasaan Kristen” (orientalis Jerman dan pendeta Kristen Mibez).

2. Kristenisasi pada hakekatnya bertujuan memantapkan pengaruh Kristen barat di negara Islam. Kristenisasi merupakan awal dan landasan kokoh bagi penjajahan.

3. Penyebab langsung terhadap lumpuh dan lemahnya potensi umat Islam.

4. Kristenisasi tersiar dinegara ketiga. Kristenisasi mendapat dukungan internasional yang melimpah.

5. Kristenisasi mengerahkan segala daya dan kemampuannya secara intensif di dunia Islam.

6. Kristenisasi saat ini terfokus di Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Pakistan dan Afrika Selatan.

KESIMPULAN :

Setiap orang yang beriman semestinya mampu memanfaatkan segala perubahan yang berhu­bungan dengan kehidupan dunia luar dan disekitarnya.

Sikap dinamik sangat diperlukan untuk mengantisipasi selemah‑lemah iman, dan sikap dinamik pula yang menjadi kata‑kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi.

Dinamika hidup sebagai buah ajaran Islam itu tampak dalam tiga cara hidup yakni,

· bantu dirimu sendiri (self help),

· bantu orang lain (self less help),

· saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help),

Ketiga konsep hidup ini mengandung ajaran untuk setiap orang supaya tidak selalu tergantung kepada orang lain.

Bahaya pemurtadan selalu mengancam setiap gerak kaum perempuan terutama di Minangkabau, maka usaha untuk menghambatnya adalah dengan penerapan nilai-nilai agama Islam di dalam kehidupan serta penguatan adat istiadat Minangkabau di dalam tatanan pergaulan.

Ketergantungan menempat­kan orang terbawa kemana‑mana Tujuan yang jelas mesti berada dalam kerangka ibadah dan pembentengan aqidah.

Ketika berada dalam jihad menghadapi rongrongan gerakan kelompok Salibiyah yang kian hari terasa makin pesat, maka “Jangan berhenti tangan mendayung, supaya arus tidak membawa hanyut” (Pesan Pak M. Natsir, yang menuntut setiap diri dari Islamic Youth di manapun senantiasa berperan aktif dengan giat berjihad membentengi diri dan umat kelilingnya).

“Jangan di ganggu identitas kami !!!.” Begitu pesan DR. Mohammad Natsir yang kedua kalinya. Apakah kalimat ini masih berlaku kalau identitas kita sudah tiada ???

Konsekwensinya, setiap mujahid Islam berpegang kuat dengan peringatan Firman Allah, “walan tardha ‘anka al yahudu wa lan-nshara hatta tatabi’a millatahum”.

Satu peringatan keras supaya selalu menjaga keutuhan, akidah Imaniyah tauhidiyah yang benar, ukhuwah Islamiyah risalah Rasulullah SAW setiap saat.

Objektifitas keyakinan Islam, mampu memberikan jalan keluar (solu­si) problematika sosial umat manusia.

Ajaran Islam tertanamkan dalam hati manusia yang mampu menangkap tanda‑tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi di sekitarnya. Mereka yang mampu menangkap tanda tanda‑tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut, adalah orang‑orang yang beriman.

Apatisme politik, menjadi “pengamat diam” , tanpa ada keinginan dan usaha berperan aktif dalam setiap perubahan sosial, politik dan ekonomi adalah mereka yang memiliki selemah‑lemah iman (adh’aful iman).

Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi hanya dihilangkan dengan sikap jelas, mengerjakan segala sesuatu yang bisa dikerjakan, dan jangan fikirkan sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan, mulai dengan apa yang ada dan jangan berpangku tangan dan menghitung orang yang lalu.

Keempat kata‑kata kunci ini adalah amanat ajaran agama Islam untuk tidak menunggu setiap perubahan, baik bidang sosial, politik dan ekonomi dalam hidup Karena itu berbuatlah.

Akbar, wallahu a’lamu bis-shawaab.


Catatan Akhir

[1] Pada masa dahulu memang sangat banyak penulisan cerita (dongeng) tentang wanita yang melahirkan anggapan bahwa perempuan hanya seje­nis komoditi penggembira, penghibur, teman bercanda, pengisi harem, peramaikan istana dan pesta, sehingga peran perempuan disepelekan seakan segelas air pelepas dahaga. Akan tetapi, kehadiran Islam memberikan kepada perempuan kedudukan mulia.

[2] Bila Annisa’‑nya baik, baiklah negeri itu, dan kalau sudah rusak, celakalah negeri itu (Al Hadits). Kaidah Alqurani menyebutkan, Nisa’‑nisa’ kamu adalah perladangan (persemaian) untukmu, kamupun (para lelaki) menjadi benih bagi Nisa’‑nisa’ kamu. Kamu dapat mendatan­gi ladang‑ladangmu darimana (kapan saja). Karena itu kamu berkew­ajiban menjaga anfus (diri, eksistensi dan identitas) sesuai perintah Qaddimu li anfusikum, dengan selalu bertaqwa kepada Allah (Q.S.2:23).

[3] Dalam Ajaran Islam, penghormatan kepada Ibu menempati urutan kedua sesudah iman kepada Allah (konsep tauhidullah). Bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Ibu, diwasiatkan sejalan untuk seluruh manusia. Penghormatan kepada Ibu (perempuan) menjadi disiplin hidup yang tidak boleh diabaikan. Disiplin ini tidak dibatas oleh adanya perbedaan anutan keyakinan. Hubungan hidup duniawi wajib dipelihara baik dengan jalinan ihsan (lihat QS. 31, Luqman : 14-15). Universalitas (syumuliyah) Alquran menjawab tantangan zaman (QS. Al Baqarah, 2 dan 23) dengan menerima petunjuk berasas taqwa (memelihara diri), tidak ragu kepada Alquran menjiwai hidayah, karena Allahul Khaliqul ‘alam telah menciptakan alam semesta amat sempurna, tidak ditemui mislijk kesiasiaan (QS. 3, Ali ‘Imran, ayat 191), diatur dengan lurus (hanif) sesuai fithrah yang tetap (QS. 30, Ar Rum, ayat 30) dalam perangkat natuur‑wet atau sunnatullah yang tidak berjalan sendiri, saling terkait agar satu sama lain tidak berbenturan. Kandungan nilai pendidikan dan filosofi ini terikat kokoh kasih sayang, hakikinya semua datang dan terjadi karena Rahman dan RahimNya dan akan berakhir dengan menghadapNya, maka kewajiban asasi insani menjaga diri dan keluarga dari bencana (QS. At Tahrim :6) dengan memakai hidayah religi Alqurani.

[4]Ibu (an-Nisak) adalah tiang negeri” (al Hadist). Jika kaum perempuan suatu negeri (bangsa) berkelakuan baik (shalihah), niscaya akan sejahtera negeri itu. Sebaliknya, bila berperangai fasad akibatnya negeri itu akan binasa seluruhnya. Banyak hadist Nabi menyatakan pentingnya pemeliharaan hubungan bertetangga, menanamkan sikap peduli, berprilaku mulia, solidaritas tinggi dalam kehidupan keliling dan memelihara citra diri. “Demi Allah, dia tidak beriman”, “Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”. (Hadist diriwayatkan Asy-Syaikhan). Pentingnya pendidikan akhlak Islam, “Satu bangsa akan tegak kokoh dengan akhlak (moralitas budaya dan ajaran agama yang benar)”. Tata krama pergaulan dimulai dari penghormatan kepada perempuan (ibu) dan rumah tangga, dikembangkan kelingkungan tetangga dan ketengah pergaulan warga masyarakat (bangsa), sesuai QS.41, Fush-shilat, ayat 34.

[5] Generasi yang tumbuh tanpa aturan, jauh dari moralitas, cendrung meninggalkan tamaddun budayanya. Disinilah pentingnya peran bebusana untuk memelihara pertumbuhan budaya dan mendidik generasi bangsa. Inilah dharma bakti yang sebenarnya.

Di Depan Kantor BAZ Sumbar, Masjid Agung Nurul Iman Padang

Di Depan Kantor BAZ Sumbar, Masjid Agung Nurul Iman Padang

RIWAYAT DIRI dari H. Mas’oed Abidin ,

TEMPAT/TANGGAL LAHIR: Koto Gadang Bukittinggi, 11 Agustus 1935.

AYAH dan IBU: H.Zainal Abidin bin Abdul Jabbar Imam Mudo dan Khadijah binti Idriss.

RIWAYAT PENDIDIKAN : Surau (madrasah) Rahmatun Niswan Koto Gadang, Sumatra Thawalib dipimpin oleh Syeikh H. Abdul Mu’in Lambah, Thawalib Parabek, SR Kotogadang, SMP II Neg. Bukittinggi, SMA A/C Bukittinggi (1957), dan FKIP UNITA Padangsidempuan, IKIP Medan (1963).

Pengalaman Organisasi : Sekum Komda PII Tapsel (1961-1963), Ketua Cabang HMI Sidempuan (1963-1966) dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (1967- sekarang). Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar (2000-2008), Ketua MUI Sumbar Membidangi Dakwah (2001-2007), Sekretaris Dewan Pembina ICMI Orwil Sumbar (sd.2007), Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM) (2001-2007).

JABATAN SEKARANG : Ketua Dewan Pembina MUI Simbar (2008-sekarang), Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Prov.Sumbar (2007-2012).

ALAMAT SEKARANG :

§ Jalan Pesisir Selatan V/496 Siteba Padang (KP – 25146), Fax/Telepon 0751 7052898, Tel: 0751 7058401.

LAIN-LAIN:

Personal Web-site : http://masoedabidin.wordpress.com

Grup diskusi di Mailinglist  : http://groups.yahoo.com/group/buyamasoedabidin/files

Email: buyamasoedabidin@gmail.com

masoedabidin@yahoo.com

Pandai Bergaul sesama Manusia.

Pandai Bergaul sesama Manusia.

Oleh Buya H Mas’oed Abidin


Di antara sifat Ibadurrahman adalah Murah Hati dan Kaya Kalbu ketika bergaul sesama manusia. Tidak pernah menganggap rendah orang jahil dan bodoh. Sifat itu disebutkan Allah SWT dalam firmanNya,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا

“… dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, maka mereka mengucapkan kata-kata yang baik (yang mengandung keselamatan),” (Q.S. Al Furqan: 63)

Mengucapkan kata-kata yang baik artinya membebaskan diri dari kata-kata yang mengandung dosa Kata-kata yang baik tidak mengandung celaan, fitnah dan rasa dendam. Seseorang yang mempunyai murah hati, tidak mudah membalas keburukan dengan keburukan yang sama, meskipun itu sanggup dia lakukan Walaupun dia sebenarnya mempunyai hak untuk membalasnya. Allah SWT memuji sikap itu di dalam firman Nya,

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling dari padanya dan mereka berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang jahil.” (Q.S Al-Qashash: 55)

Ketika orang-orang jahil menyapa, maka Ibadurrahman mengucapkan perkataan yang baik Ibadurrahman tidak melumuri lidahnya dengan kata-kata yang sia-sia Mereka tidak meladeni dengan kata-kata carut marut dan selalu menghindar darinya.


Ibadurrahman tidak mau waktu mereka terbuang untuk melayani sesuatu yang tidak bermanfaat. Ibadarurrahman senantiasa menjaga lidah, waktu dan umur Mereka melindungi catatan kebaikan yang sudah ada dan menambah selalu dengan kebaikan-kebaikan yang lain.

Hamba Allah yang terpuji selalu menghindari keburukan di mana jua mereka berada. Memang tidaklah sama yang buruk dengan yang baik. Begitu Allah SWT menyebut di dalam firman Nya.

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Q.S. Fushilat: 34)

Nabi Isa alahis-salam pernah berjalan melewati sekumpulan orang-orang Yahudi yang melontarkan kata-kata tidak senonoh kepada beliau. Beliau berupaya menanggapi perkataan mereka dengan kebaikan.

Ketika itu, ada beberapa bertanya kepada beliau, “Orang-orang itu telah melontarkan kata-kata tidak senonoh kepadamu, namun engkau justru mengatakan yang baik kepada mereka.” Beliau menjawab, “Segala sesuatu keluar dari apa yang ada di dalamnya.” Kalimat hikmah ini memiliki arti yang cukup dalam. Bahwa kalimat yang diucapkan seseorang memberi gambaran tentang kualitas diri orang yang berkata itu.

Anas bin Malik radhiallahu-anhu pernah berkata; “Jika ada yang mengucapkan kata-kata kasar kepadamu, misalnya dengan ungkapan, “Wahai orang zalim, fasik, pendusta, pembohong”, atau kata-kata lain yang tidak senonoh, maka hadapilah ia dengan berkata, “Kalau memang engkau berkata bahwa aku ini seperti yang engkau katakan, semoga Allah mengampuni kesalahanku. Jika engkau dusta atau mengada-ada atau memfitnah dengan kata-katamu itu, semoga Allah mengampuni kedustaanmu.”

Sebuah ungkapan bijak, bagaimana perkataan dapat meredam terjadinya pertengkaran. Di saat sekarang ini, rasanya sudah semakin langka didapai orang yang mampu berkata lemah lembut, dengan kaya perbendaharaan kalbu dan murah hati.

Beriktikaf pada Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan, Meraih Redha Allah Menjemput Lailatul Qadar

I’tikaf di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan,

Meraih Redha Allah, Menjemput Lailatul Qadar

Oleh Buya H Mas’oed Abidin

“Diriwayatkan dari Anas ra ,ia berkata Rasulullah SAW biasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan. Kemudian beliau pernah tidak beri’tikaf pada suatu tahun, lalu pada tahun berikutnya beliau beri’tikaf selama dua puluh hari“ (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Bulan Ramadhan adalah bulan ibadah. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah didasari dengan iman kepada Allah semata. Maka Allah SWT akan mengampuninya.

I’tikaf adalah salah satu ibadah yang dapat dilakukan pada bulan Ramadhan. I’tikaf adalah salah satu sistem peribadatan dalam Islam, dengan berdiam diri di Masjid untuk sementara waktu dengan niat ibadah.

I’tikaf biasanya diisi dengan ibadah sunah, misalnya memperbanyak shalat sunah, membaca Al Quran dan berzikir Dapat juga dimanfaatkan untuk memperdalam tsaqafah (wawasan) keislaman.

Hakikatnya, I’tikaf adalah memisahkan diri untuk sementara waktu dari hiru biru kemelut kehidupan beragam di tengah masyarakat dan membenamkan diri dalam kehidupan beragama yang focus, dan dilakukan dengan berdiam diri di Masjid. Intinya adalah konsentrasi meningkatkan ketaqwaan.

Ketika ketaqwaan umat Islam mulai lemah dan sirna oleh peristiwa yang menekan atau himpitan jiwa yang tak terpenuhi dalam kehidupan berbagai tuntutan dalam sosial masyarakat, maka salah satu solusinya adalah i’tikaf. Lamanya waktu i’tikaf tergantung pada pengembalian taqwa itu. Minimal masa yang diperlukan dalam berdiam diri di masjid itu selama waktu tuma’ninah (waktu selama ruku’ dalam raka’at).

Bagaimana Rasulullah beri’tikaf? Siti Aisyah berkata. “Nabi Muhammad SAW. apabila hendak beri’tikaf beliau shalat subuh lalu masuk ke tempat i’tikaf” (Muttafaqunlaih).

Rasulullah SAW. tidak pulang pergi ketika beri’tikaf kecuali apabila ada keperluan. Siti Aisyah r.a mengatakan, “Rasulullah SAW. mengulurkan kepalanya kepada saya, sedang beliau berada di masjid, kemudian saya menyisir rambutnya, dan beliau tidak masuk rumah apabila sedang beri’tikaf, kecuali beliau ada keperluan”. (HR. Bukhari)

Mengenai bila masa i’tikaf itu dilaksanakan, sebaik-baik waktunya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, berdasarkan contoh tauladan yang telah diberikan oleh Rasulullah SAW. Merujuk penuturan Aisyah Radhiallahu ‘anha, beliau berkata, “adalah Rasulultah SAW. apabila telah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dibangunkanlah keluarganya dan senantiasa mengencangkan ikat pinggang” (Muttafaqunalaih).

Pada bulan Ramadhan yang penuh berkah mari kita kunjungi Masjid untuk beri’tikaf. Meluangkan sedikit waktu dalam hidup kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Khaliq. Memuji kebesaran-Nya dan merenungi ke mahakuasaan-Nya. Memohon ampunan atas segala aktivitas kita yang telah banyak melalaikan sebagian seruan-seruan-Nya. Berdo’a agar umat Islam di manapun berada diberi kesabaran, ketabahan, serta kekuatan dalam memecahkan segala permasalahan hidupnya yang sangat kompleks.

I’tikaf pada dasarnya dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu berapa lama yang disediakan. Imam Syafi’i menyebutkan bahwa i’tikaf sudah tercapai dengan cara berdiam di Masjid beberapa saat dengan niat yang suci dan tulus ikhlas karena Allah SWT.

Di dalam peri hidup Rasulullah SAW. diceritakan bahwa baginda Rasulullah SAW selalu melakukan i’tikaf pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan Ramadhan. Ketika itu baginda Rasulullah SAW memperbanyak membaca Alquran, serta berdoa kepada Allah SWT.

Anjuran i’tikaf di malam-malam akhir Ramadhan ini berkaitan erat dengan datangnya Lailatulqadar yaitu malam kemuliaan, karena beribadah pada malam itu dinilai lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah SAW bersabda: “Carilah (malam qadar) itu pada sepuluh akhir dari bulan Ramadhan” (HR. Ahmad dan Bukhari)

Malam qadar itu wajar saja di tunggu-tunggu oleh setiap muslim yang mendambakan kebaikan dan kebahagiaan dalam hidup di dunia dan akhirat. Namun perlu diingat bahwa Lailatulqadar hanya akan datang mengunjungi seseorang pada tingkat kesucian akhlak dan spritualitas yang terjaga baik.

Di lihat dari waktu datangnya lailatul qadar itu bukan di awal, melainkan di akhir Ramadhan. Didapat pelajaran besar bagi umat Islam bahwa menjelang berakhirnya puasa Ramadhan, tentu umat akan mencapai tingkat kematangan dan kesempurnaan jiwa, melalui ibadah puasa yang telah dilakukan. Umat muslim memiliki kesiapan mental untuk menerima kehadiran malam kemuliaan yang agung itu.

Dari sisi tempat penyambutannya adalah di Masjid dengan melakukan i’tikaf sebagai kegiatan ibadah menyambut datangnya lailatul qadar itu. Masjid adalah tempat suci yang diungkap dengan sebutan Bait Allah (rumah Allah) sebagai tempat dilakukan berbagai kebajikan. Masjid adalah tempat melepaskan diri dari berbagai hiruk-pikuk kehidupan dunia yang menyesakkan, dan meraih pencerahan iman dan rohani umat muslimin.

Sesungguhnya ibadah puasa dengan i’tikaf yang intensif pada sepuluh hari terakhir Ramadhan akan dapat mengantar umat Islam meraih lailatul qadar itu. Makna terkandung dalam lailatul qadar adalah perubahan hidup dari kegelapan menuju kehidupan yang terang-benderang di bawah petunjuk hidayah Allah SWT.

Melaksanakan i’tikaf adalah suatu ibadah sangat terpuji. Rasulullah SAW. bersabda: “Siapa yang beri’tikaf sehari demi mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala semata, maka Allah benkenan membuat antara dia dan api (neraka) tiga buah parit, tiap parit lebih jauh dari masyriq dan maghrib” (HR. Thabrani).

Semoga kita diberi peluang untuk melaksanakan i’tikaf di bulan suci Ramadhan penuh berkah ini, dengan harapan semoga Allah SWT memasukkan kita ke dalam golongan para muttaqien.

Amin ya mujiib as-sa iliina.

Busana Minangkabau dalam Bimbingan Islam

busana Perempuan Minang dalam kebenaran Islam

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

Pendahuluan

Perempuan (Kawi) menyimpan arti pemimpin (raja), orang pilihan, ahli, yang pandai, pintar dengan segala sifat keutamaan yang lain (lihat:KUBI).[1] Alquran menyebut perempuan dengan Annisa’ atau Ummahat sama dengan ibu, atau Ikutan Bagi Umat” dan tiang suatu negeri.[2] Sunnah Nabi menyebutkan khair mata’iha al mar’ah shalihah artinya perhiasan paling indah adalah perempuan saleh (artinya perempuan yang tetap pada peran dan konsekwen dengan citranya). Tafsir Islam tentang kedudukan perempuan menjadi konsep utama keyakinan Muslim bermu’amalah. Alquran mendudukkan perempuan pada derajat sama dengan jenis laki‑laki di posisi azwajan atau pasangan hidup (lihat Q.S.16:72, 30:21, 42:11).

budaya Minangkabau dalam adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah” menempatkan perempuan pada posisi peran. Kadangkala dijuluki dengan sebutan;

orang rumah  (hiduik batampek,  mati bakubua, kuburan hiduik dirumah gadang,  kuburan mati   ditangah padang),

induak bareh  (nan lamah di tueh, nan condong di tungkek,    ayam barinduak, siriah bajunjuang),

pemimpin  (tahu di mudharat jo manfaat,  mangana labo jo rugi,  mangatahui sumbang jo salah, tahu di unak kamanyangkuik, tahu di rantiang ka mancucuak, ingek di dahan ka mahimpok, tahu di angin nan basiruik, arih di ombak nan basabuang, tahu di alamat kato sampai),

Pemahamannya berarti perempuan Minang sangat arif, mengerti dan tahu dengan yang pantas dan patut, menjadi asas utama kepemipinan ditengah masyarakat. Anak Minangkabau memanggil ibunya dengan bundo karena perempuan Minangkabau umumnya menjaga martabat,

(1). Hati-hati (watak Islam khauf), ingek dan jago pado adat, ingek di adat nan ka rusak, jago limbago nan kasumbiang,

(2). Yakin kepada Allah (iman bertauhid), jantaruah bak katidiang,  jan baserak bak amjalai, kok ado rundiang ba nan batin, patuik baduo jan batigo,  nak jan lahie di danga urang.

(3). Perangai berpatutan (uswah istiqamah), maha tak dapek di bali, murah tak dapek dimintak, takuik di paham ka tagadai, takuik di budi katajua,

(4). Kaya hati (Ghinaun nafs), sopan santun hemat dan khidmat,

(5). Tabah (redha), haniang ulu bicaro, naniang saribu aka, dek saba bana mandatang,

(6). Jimek (hemat tidak mubazir), dikana labo jo rugi, dalam awal akia membayang, ingek di paham katagadai, ingek di budi katajua,  mamakai malu dengan sopan.

        Dalam ungkapan sehari-hari, perempuan Minang disebut pula padusi artinya padu isi dengan lima sifat utama; (a). benar, (b).jujur lahir batin, (c). cerdik pandai, (d). fasih mendidik dan terdidik, (e). bersifat malu (Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek. Selanjutnya Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso,                          malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso), artinya didalam kebenaran Islam,  al hayak nisful iman = malu adalah paruhan dari Iman. 

       Falsafah hidup beradat mendudukkan perempuan Minang pada sebutan bundo kandung menjadi limpapeh rumah nan gadang, umbun puro pegangan kunci, umbun puruak aluang bunian, hiasan di dalam kampuang, sumarak dalam nagari, nan gadang basa batauah, kok hiduik tampek ba nasa, kalau mati tampek ba niaik, ka unduang-unduang ka madinah, ka payuang panji ka sarugo.

       Ungkapan ini sesungguhnya amat jelas mendudukkan betapa kokohnya perempuan Minang pada posisi sentral, menjadi pemilik seluruh kekayaan, rumah, anak, suku bahkan kaum, dan kalangan awam di nagari dan taratak menggelarinya dengan “biaiy, mandeh”, menempatkan laki-laki pada peran pelindung, pemelihara dan penjaga harta dari perempuan-nya dan anak turunannya. Dalam siklus ini generasi Minangkabau  lahir bernasab ayah (laki-laki), bersuku ibu (perempuan), bergelar mamak (garis matrilineal), memperlihatkan egaliternya suatu persenyawaan budaya dan syarak yang indah.(2)

Kebenaran Agama Islam menempatkan perempuan (ibu) mitra setara (partisipatif) dan lelaki menjadi pelindung wanita (qawwamuuna ‘alan‑nisaa’), karena kelebihan pada kekuatan, badan, fikiran, keluasaan, penalaran, kemampuan, ekonomi, kecerdasan, ketabahan, kesigapan dan anugerah (QS. An Nisa’ 34). Wanita dibina menjadi mar’ah shalihah (= perempuan shaleh yang ceria (hangat/warm) dan lembut, menjaga diri, memelihara kehormatan, patuh (qanitaat) kepada Allah, hafidzaatun lil ghaibi bimaa hafidzallahu (= memelihara kesucian faraj di belakang pasangannya, karena Allah menempatkan faraj dan rahim perempuan terjaga, maka tidak ada keindahan yang bisa melebihi perhiasan atau tampilan “indahnya wanita shaleh” (Al Hadist).

Kodrat wanita memiliki peran ganda; penyejuk hati dan pendidik utama,  menempatkan sorga terhampar dibawah telapak kaki perempuan (ibu, ummahat). Dibawah naungan konsep Islam, perempuan berkepribadian sempurna, bergaul ma’ruf dan ihsan, kasih sayang dan cinta, lembut dan lindung, berkehormatan, berpadu hak dan kewajiban. Terpatri pada tidak punya arti sesuatu kalau pasangannya tidak ada dan tidak jelas eksistensi sesuatu kalau tidak ada yang setara di sampingnya, inilah kata yang lebih tepat untuk azwajan itu.[3]

Secara moral, perempuan punya hak utuh menjadi Ikutan Bagi Umat. Masyarakat baik lahir dari relasi kemasyarakatan pemelihara tetangga, perekat silaturrahim dan tumbuh dengan pribadi kokoh (exist), karakter teguh (istiqamah, konsisten) dan tegar (shabar, optimis) menapak hidup. Rohaninya (rasa, fikiran, dan kemauan) dibimbing keyakinan hidayah iman. Jasmaninya (gerak, amal perbuatan) dibina oleh aturan syari’at Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

شَرَعَ لَكُمْ مِنْ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِه إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ِأَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهَِ

 “Allah telah menyari’atkan dasar hidup “ad-din” bagi kamu seperti telah diwasiatkanNya kepada Nuh, dan telah dipesankan kepadamu (Muhammad). Agama yang telah dipesankan kepada Ibrahim, Musa, Isa dengan perintah agar kalian semua mendaulatkan agama ini dan jangan kalian berpecah dari mengikutinya…” (QS.Syura : 13).

Perilaku kehidupan menurut mabda’ (konsep) Alquran, bahwa makhluk diciptakan dalam rangka pengabdian kepada Khaliq (QS. 51, Adz Dzariyaat : 56), memberi warning peringatan agar tidak terperangkap kebodohan dan kelalaian sepanjang masa. Manusia adalah makhluk pelupa (Al Hadist).[4] Tegasnya, seorang Muslim wajib menda’wahkan Islam, menerapkan amar ma’ruf dan nahi munkar (QS. Ali ‘Imran :104), dimulai dari diri sendiri, agar terhindar dari celaan (QS. Al Baqarah :44 dan QS. Ash‑Shaf :3). Amar ma’ruf nahi munkar adalah tiang kemashlahatan hidup umat manusia, di dasari dengan Iman billah (QS. Ali ‘Imran :110) agar tercipta satu bangunan umat yang berkualitas (khaira ummah). Maka posisi perempuan didalam Islam ada dalam bingkai (frame) ini.

 

Busana Adalah Pelindung Dan Sarana Pendidikan Utama

        Perubahan zaman disertai penetrasi budaya seringkali menampilkan ketimpangan didalam meraih kesempatan yang sangat menyolok pada fasilitas pendidikan, lapangan kerja, hiburan, penyiaran mass‑media, antara di kota dan kampung, akhirnya mengganggu pertumbuhan masyarakat. Apabila kearifan dan keseimbangan peranan memelihara budaya dan generasi tercerabut pula, maka tidak dapat tidak akan ikut menyum­bang lahirnya “Generasi Rapuh Budaya”.[5]

       Generasi berbudaya memiliki prinsip teguh, elastis dan toleran bergaul, lemah lembut bertutur kata, tegas dan keras melawan kejahatan, kokoh menghadapi setiap percabaran budaya, tegar menghadapi percaturan kehidupan, sanggup menghindari ekses buruk, membuat lingkungan sehat, bijak menata pergaulan baik, penuh kenyamanan, tahu diri, hemat, dan tidak malas, akan terbentuk dengan keteladanan. Konsepsi Rasulullah SAW;”Jauhilah hidup ber-senang-senang (foya-foya), karena hamba-hamba Allah bukanlah orang yang hidup bermewah-mewah (malas dan lalai)” (HR.Ahmad). Tidak dapat dimungkiri bahwa kaum perempuan harus memaksimalkan perannya menjadi pendidik di tengah bangsa menampilkan citra perempuan mandiri, memastikan terpenuhi hak dan terlaksananya kewajiban, salah satunya melalui cara berbusana.

        Dari pandangan agama Islam ini, bisa disimpulkan bahwa yang tidak mau mengindahkan hak-hak perempuan, sebenarnya adalah mereka yang tidak beriman atau kurang mengamalkan ajaran agama Islam. Di Minangkabau perempuan berada pada lini materilineal akan hilang marwahnya tersebab menipisnya kepatuhan orang beradat, karena hakikat adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah adalah aplikatif, bukan simbolis.

                Padang, 25 Agustus  2001.

 

 

 

 

 

RIWAYAT DIRI

 

H. Mas’oed Abidin

 

TEMPAT/TANGGAL LAHIR: Koto Gadang Bukittinggi, 11 Agustus 1935

AYAH dan IBU: H.Zainal Abidin bin Abdul Jabbar Imam Mudo dan Khadijah binti Idriss.

RIWAYAT PENDIDIKAN : Surau   (madrasah) Rahmatun Niswan Koto Gadang, Sumatra Thawalib dipimpin oleh Syeikh  H. Abdul Mu’in Lambah, Thawalib Parabek, SR Kotogadang,  SMP II Neg. Bukittinggi,  SMA A/C Bukittinggi (1957), dan FKIP UNITA Padangsidempuan, IKIP Medan (1963).

Pengalaman Organisasi : Sekum Komda PII Tapsel (1961-1963), Ketua Cabang HMI Sidempuan (1963-1966) dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (1967-sekarang).

JABATAN SEKARANG : Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Perwakilan Sumbar di Padang (2000-2005) dan Ketua MUI Sumbar Membidangi Dakwah (2001-2005), Sekretaris Dewan Pembina ICMI Orwil Sumbar.

ALAMAT SEKARANG  : 

§  Jalan Pesisir Selatan V/496 Siteba Padang (KP – 25146), Fax/Telepon 52898,  Tel: 58401.

§  Kantor DDII Sumbar, Jl.Srigunting No.2 ATB Padang, Tel: 0751-53072.

§  Kantor MUI Sumbar, Masjid Nurul Iman, Jl. Imam Bonjol Padang.

LAIN-LAIN:

q  Personal Web-site                 : http://www.masoedabidin.web.id

q  Grup diskusi di Mailinglist : http://abssbkranahnagaribundo@yahoogroups.com

q  Email:

v  masoedabidin@mimbarminang.com

v  masoedabidin@yahoo.com

v  masoedabidin@hotmail.com

 


[1] Pada masa dahulu memang sangat banyak penulisan cerita (dongeng) tentang wanita yang melahirkan anggapan bahwa perempuan hanya seje­nis komoditi penggembira, penghibur, teman bercanda, pengisi harem, peramaikan istana dan pesta, sehingga peran perempuan disepelekan seakan segelas air pelepas dahaga. Akan tetapi, kehadiran Islam memberikan kepada perempuan kedudukan mulia.  

[2] Bila Annisa’‑nya baik, baiklah negeri itu, dan kalau sudah rusak, celakalah negeri itu (Al Hadits). Kaidah Alqurani menyebutkan, Nisa’‑nisa’ kamu adalah perladangan (persemaian) untukmu, kamupun (para lelaki) menjadi benih bagi Nisa’‑nisa’ kamu. Kamu dapat mendatan­gi ladang‑ladangmu darimana (kapan saja). Karena itu kamu berkew­ajiban menjaga anfus (diri, eksistensi dan identitas) sesuai perintah Qaddimu li anfusikum, dengan selalu bertaqwa kepada Allah (Q.S.2:23).

[3] Dalam Ajaran Islam, penghormatan kepada Ibu menempati urutan kedua sesudah iman kepada Allah (konsep tauhidullah). Bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Ibu, diwasiatkan sejalan untuk seluruh manusia. Penghormatan kepada Ibu (perempuan) menjadi disiplin hidup yang tidak boleh diabaikan. Disiplin ini tidak dibatas oleh adanya perbedaan anutan keyakinan. Hubungan hidup duniawi wajib dipelihara baik dengan jalinan ihsan (lihat QS. 31, Luqman : 14-15). Universalitas (syumuliyah) Alquran menjawab  tantangan zaman (QS. Al Baqarah, 2 dan 23) dengan menerima petunjuk berasas taqwa (memelihara diri), tidak ragu kepada Alquran menjiwai hidayah, karena Allahul Khaliqul ‘alam telah menciptakan alam semesta amat sempurna, tidak ditemui mislijk kesiasiaan (QS. 3, Ali ‘Imran, ayat 191), diatur dengan lurus (hanif) sesuai fithrah  yang tetap (QS. 30, Ar Rum, ayat 30) dalam perangkat natuur‑wet atau sunnatullah yang tidak berjalan sendiri, saling terkait agar satu sama lain tidak berbenturan. Kandungan nilai pendidikan dan filosofi ini terikat kokoh kasih sayang, hakikinya semua datang dan terjadi karena Rahman dan RahimNya dan akan berakhir dengan menghadapNya, maka kewajiban asasi insani menjaga diri dan keluarga dari bencana (QS. At Tahrim :6) dengan memakai hidayah religi Alqurani.

 

[4]Ibu (an-Nisak) adalah tiang negeri” (al Hadist). Jika kaum perempuan suatu negeri (bangsa) berkelakuan baik (shalihah), niscaya akan sejahtera negeri itu. Sebaliknya, bila berperangai fasad akibatnya negeri itu akan binasa seluruhnya. Banyak hadist Nabi menyatakan pentingnya pemeliharaan hubungan bertetangga, menanamkan sikap peduli, berprilaku mulia, solidaritas tinggi dalam kehidupan keliling dan memelihara citra diri. “Demi Allah, dia tidak beriman”, “Siapakah dia wahai Rasulullah?”  Beliau menjawab, “Yaitu, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”. (Hadist diriwayatkan Asy-Syaikhan). Pentingnya pendidikan akhlak Islam, “Satu bangsa akan tegak kokoh dengan akhlak (moralitas budaya dan ajaran agama yang benar)”. Tata krama pergaulan dimulai dari penghormatan kepada perempuan (ibu) dan rumah tangga, dikembangkan kelingkungan tetangga dan ketengah pergaulan warga masyarakat (bangsa), sesuai QS.41, Fush-shilat, ayat 34. 

[5] Generasi yang tumbuh tanpa aturan, jauh dari moralitas, cendrung meninggalkan tamaddun budayanya. Disinilah pentingnya peran bebusana untuk memelihara pertumbuhan budaya dan mendidik generasi bangsa. Inilah dharma bakti yang sebenarnya.

Leonardy Datuak Bandaharo : “Rang Minang Baralek Gadang” jo rang kampuang rapek balapak

Senin, 21 Juli 2008
Padang, Padek– Rakyat Sumbar akan menyelenggarakan iven akbar bertajuk “Rang Minang Baralek Gadang” di Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam pada akhir Agustus mendatang.  Acara yang melibatkan seluruh tokoh dan komponen masyarakat Sumbar di tingkat nasional sampai nagari itu, menurut rencana dibuka Wapres RI Jusuf Kalla
serta dihadiri CEO Jawa Pos Dahlan Iskan dan Dirut PT Telkom Tbk Rinaldi Firmansyah. Ketua panitia pelaksana Syaharman Zanhar mengatakan, pihaknya sudah melakukan survei terhadap lokasi yang akan dijadikan lokasi acara yang bakal dihadiri 1.500 undangan dari ranah dan rantau serta ribuan masyarakat Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi itu.

Pada iven tersebut, kata Syaharman, di antaranya digelar Kongres I Rang Minang, Musyawarah Duduak Barapak, launching Padang TV dan Padang Today (Grup Padang Ekspres), Nagari Cyber, Manggulai 1001 Itiak Hijau, Cerdas Cermat tingkat SMA, pameran dan promosi produk nagari serta bursa tenaga kerja.

“Pada acara ini juga direncanakan peresmian rumah pahlawan H Agus Salim di Koto Gadang menjadi museum, dan rumah Rohana Kudus sebagai museum pers nasional,” tambah Syaharman. Ketua DPRD Sumbar yang juga Ketua Umum Acara Rang Minang Baralek Gadang Leonardy Harmainy didampingi Sekretaris Umum St Zaili Asril menyebutkan, kegiatan kerakyatan tersebut merupakan gagasan besar yang perlu didukung secara penuh seluruh masyarakat Sumbar.

“Yang baralek gadang ini rakyat. Sebagai Ketua DPRD Sumbar, saya mendukung gagasan besar dan bagus ini,” ungkap Leonardy saat menghadiri ekspos persiapan panitia pelaksana acara ”Rang Minang Baralek Gadang” di rumah dinasnya, Sabtu (19/7).

Pada kesempatan yang dihadiri Pemred Padang Ekspres Oktaveri itu, Leonardy menambahkan, pada acara ini yang tampil adalah rakyat bersama DPRD dan pemerintah kabupaten/kota didukung stakeholders serta komponen warga rantau.Sample Image

Acara memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional ini, kata Leonardy sangat tepat dijadikan sarana untuk memotivasi putra-putri Sumbar di ranah dan rantau agar kembali bangkit dan mencintai Minangkabau. Punya orientasi ke depan, menyumbangkan pemikiran, tenaga dan materi untuk pembangunan daerahnya ke arah yang lebih baik.

 

Ekspos : Ketua pelaksana Syaharman Zanhar (berdiri) saat melaksanakan ekspos acara “Rang Minang Baralek Gadang” di rumah dinas DPRD Sumbar, Sabtu (19/7). Tampak hadir, Pemimpin Umum Harian Pagi Padang Ekspres, Sutan Zaili Asril (dua kiri)

Leonardy juga menekankan pentingnya kegiatan ini dijadikan momentum kebangkitan pendidikan dan pemuda Sumbar, yang sejak abad ke-19 sudah memiliki kemampuan SDM teruji. Berjuang dengan pemikiran dan pena mereka sehingga menjadi tokoh (intelektual) di tingkat nasional dan internasional.

“Jadi, tokoh-tokoh dari Sumbar tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi mereka berjuang dengan pemikiran dan pena mereka sehingga mampu menjadi yang terbaik. Ini yang perlu kita bangkitkan kembali,” tegas Leonardy. Pada kesempatan yang sama, St Zaili Asril St Zaili Asril mengatakan, Kongres I Rang Minang yang diadakan pada kegiatan ”Rang Minang Baralek Gadang” ini merupakan silaturahmi besar rakyat Minang di ranah dan rantau. (esg)

Barang Peninggalan Sejarah Damasraya sudah banyak yang di jual.

SEJARAH…….
Oleh: Syofiardi Bachyul Jb/PadangKini.com 

LOKASI bekas Kerajaan Dharmasraya yang eksis pada 1286 hingga 1347 Masehi di daerah aliran sungai Batang Hari di sekitar Kenagarian Siguntur, Kabupaten Dharmasraya sekarang meninggalkan banyak benda purbakala.

Benda-benda tersebut selain terkubur di situs candi, juga di dalam sungai Batang Hari, dan tersimpan secara turun-temurun di beberapa pewaris kerajaan, salah satunya Kerajaan Siguntur. Namun benda-benda itu tanpa perlindungan dan sebagian jatuh ke tangan penadah barang antik.

“Dulu banyak dari keluarga kami yang tidak sadar arti benda bersejarah, kalau datang penadah barang antik dirayu dengan sehelei atau sekodi kain saja, mereka jual apa saja barang lama yang ada di rumah, seperti keramik dan barang-barang tembaga,” kata Tuan Putri Marhasnida, salah seorang pewaris Kerajaan Siguntur.

Apalagi ada anggota keluarga Kerajaan yang suka menjual barang. Intan penghias gagang keris Gajah Menong yang gagang dan sarungnya berbalut emas murni yang diduga berasal dari zaman Dharmasraya (Zaman Majapahit), pun dicopoti untuk dijual, sehingga tinggal sebagian.

“Ada pula mahkota tanduk yang dijual salah seorang raja Kerajaan Siguntur yang juga waktu itu menjadi wali nagari zaman Kolonial Belanda karena terbelit utang,” katanya.

Masyarakat di sana pun banyak yang tidak sadar arti penting peninggalan bersejarah. Pada 1998 seorang pemukat menemukan sebuah patung seorang wanita bertangan tiga pasang dari kuningan sebesar paha. Patung itu sudah diperiksa ahli purbakala dan ternyata bernama Patung Maisasuri Mahdini.

“Tapi ketika petugas Museum Kepurbakalaan berpesan agar patung itu disimpan, ternyata orang yang menemukan sudah menjualnya ke orang lain seharga tak lebih Rp1 juta, kami melacaknya namun sia-sia, kabarnya dijual ke Malaysia,” kata Marhasnida.

Tiga Stempel Kerajaan

Kini Kerajaan Siguntur menyimpan sejumlah benda kuno, termasuk tiga stempel yang satu diduga dari Kerajaan Dharmasraya dan dua lainnya dari Kerajaan Siguntur setelah Islam.

“Dengan surat berstempel Kerajaan Siguntur kami bisa masuk tanpa paspor ke Malaysia, karena raja Malaysia dulunya berasal dari Dharmasraya,” kata Marhasnida.

Benda lainnya yang baru ditemukan di Situs Pulau Sawah adalah bagian bawah patung emas sebesar balpoin. Patung emas ini mirip dengan arca emas Awalokiteswara bergaya India yang juga ditemukan utuh di bekas Kerajaan Malayu Muara Jambi di muara sungai Batang Hari, Provinsi Jambi.

Namun, benda-benda peninggalan banyak hilang ketika rumah penyimpan sementara ketika rumah gadang dipugar pada 1974.

Kini Marhasnida yang juga guru kesenian di SMP Negeri 2 Pulau Punjung, Dharmasraya sedang melobi pemerintah membangun sebuah museum mini untuk menyimpan benda-benda tersebut dan sekaligus sebagai pusat informasi peninggalan Kerajaan Dharmasraya dan Kerajaan Siguntur.

“Kami juga mengusulkan kepada pemerintah untuk membuat duplikat Patung Bhairawa dan Patung Amoghapasa dan memindahkan semua penemuan di Dharmasraya yang kini tersimpan di Museum Adityawarman Padang dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, Batusangkar ke museum mini yang baru kalau sudah terwujud,” katanya.

Nurmatias, Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang yang membawahi Sumatra Barat, Bengkulu, dan Sumatra Selatan setuju dengan rencana pihak Kerajaan Siguntur.

“Dharmasraya tak hanya kekayaan arkeologis Sumatra Barat, tapi Indonesia, pendirian museum di Kabupaten Dharmasraya ini bagus agar harta kerajaan yang tersimpan di masing-masing kerajaan tidak hilang, sebab dikhawatirkan kalau disimpan sendiri-sendiri lama-lama hilang,” ujarnya.

Selain Kerajaan Siguntur, juga ada kerajaan kecil setelah Islam yang juga mengaku berhubungan dengan Kerajaan Dharmasraya pra-Islam. Kerajaan-kerajaan itu adalah Kerajaan Koto Besar, Kerajaan Pulau Punjung, Kerajaan Padang Laweh, dan Kerajaan Sungai Kambut yang masing-masing juga memiliki sejumlah peninggalan kuno.**