Amal Shaleh yang Kaffah

Senin, 2008 September 22

Amal Saleh yang Kaffah

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Q.S. Al Bayyinah: 7).

Ayat Al Qur’an yang mendekatkan kata-kata iman dengan kata amal shaleh, sering dijumpai.

Penggandengan kosa iman dan kata amal saleh sudah pasti mengandung pengertian amat dalam. Bahwa iman tidak dapat dipisah dari perilaku amal shaleh.

Orang-orang yang sungguh beriman akan selalu mengerjakan amal shaleh, dan selanjutnya amal saleh akan lahir dengan mudah karena adanya iman.

Dalam beberapa hadis Rasulullah SAW menerangkan amal saleh dari orang yang beriman di antaranya ;

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menghormati tamunya”. (H.R. Muslim)

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya (HR. Bukhari dan Muslim)

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik-baik atau diam (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga peringatan Rasulullah SAW ini mengungkapkan bahwa tanpa amal shaleh, iman seseorang tidak sempurna. Iman tidak hanya ucapan lisan sahaja, akan tetapi mesti diyakini dalam hati, serta diujudkan dengan perbuatan amal shaleh.

Pada ayat ke 2 dan 3 dari Surat Al Baqarah dijelaskan bahwa orang yang bertaqwa adalah mereka yang beriman kepada Yang Ghaib (Allah), mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Allah berikan kepada mereka.

Perbuatan amal shaleh seperti shalat sebagai hubungan persembahan kepada Allah, dan menafkahkan harta sebagai bentuk hubungan dengan sesama manusia,akan terlaksana dengan sempurna ketika seseorang beriman kepada Yang Ghaib yakni Allah SWT.

Iman adalah landasan pertama dari amal shaleh. Baik itu menyangkut amal saleh yang bentuknya ibadah mahdhah atau hablun minallah, seperti shalat, puasa dan haji.

Begitu pula amal shaleh yang menyangkut mu‘amalah sesama manusia atau hablun minannas, seperti kepedulian sosial, menyantuni anak yatim dan fakir miskin, suka menolong, mengayomi masyarakat dan sebagainya.

Kedua bentuk ibadah ini lahir semata karena iman kepada Allah SWT.

Sesungguhnya Allah SWT tidak membedakan dengan tegas tentang hablum minallah dengan hablun minannas ini. Karena kedua amal shaleh ini sesungguhnya amat perlu dijaga keseimbangan antara keduanya.

Agama Islam tidak menyenangi sekelompok orang yang tekun beribadah serta hidup dalam kezuhudan semata, tetapi tidak peduli akan keadaan masyarakat dan nasib saudara sesama muslim yang ada di sekelilingnya, atau mengabaikan amar ma’ruf-nahi munkar.

Sebaliknya, agama Islam tidaak menyukai sekelompok orang yang memiliki kepedulian yang besar terhadap masalah umat, bahkan selalu memperhatikan hak-hak sesamanya, serta berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan sosial, tetapi mengabaikan ibadah mahdhah (ritual) nya.

Keharmonisan sikap kedua bentuk ibadah ini yakni antara hablum minannas dan hablum minallah mesti sejalan dan seiring.

Tidak bermakna hablum minannas yang tidak didasari oleh hamblum minallah.

Demikian juga ibadah hablum minallah tidak bermakna manakala tiodak memperhatikan hubungan sesama manusia.

Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam bukunya I’dad al Shabirin wa dzakirat al Syakirin, mengingatkan suatu kelompok jangan terlalu berbangga dengan ibadah dan amal shaleh yang mereka kerjakan, serta menggaggap diri mereka paling utama dalam menjalankan sunnah Nabi ketimbang kelompok lain yang dianggap lebih rendah dari diri mereka.

“Jika para mujahid dan orang-orang yang terjun ke medan perang berhujjah bahwa merekalah kelompok yang paling utama, maka kelompok orang-orang yang berilmu juga berhak untuk berhujjah seperti itu.

Jika orang-orang yang berzuhud dan meninggalkan keduniawian berhujjah bahwa inilah kelebihan Rasul yang mereka teladani, maka orang-orang yang aktif menekuni keduniaan, mengurusi masyarakat dan pemerintahan, memimpin rakyat dengan melaksanakan perintah Allah dalam menegakkan agama-Nya juga berhak untuk berhujjah yang sama.

Jika orang miskin yang sabar berhujjah bahwa mereka mengikuti sifat mulia Nabi Muhammad SAW, maka orang kaya yang bersyukur juga berhak untuk berhujjah seperti itu…”

Sehingga Ibnu Qayyim berkata. “Yang paling berhak atas diri Rasulullah dalam meneladaninya adalah orang yang paling mengetahui sunnah beliau dan kemudian mengamalkannya”.

Ungkapan Ibnu Qayyim ini amat jelas, bahwa ibadah dan amal shaleh bukan sekedar mu‘amalah ma‘al Khaliq semata, tetapi mesti dibarengi dengan mu’amalah ma‘an-nas.

Amaliah yang totalitas (kaaffah) penyembahan terhadap Allah dan pengabdian kepada sesama makhluk terjalin komplit, meliputi keshalehan ritual (Hablun Minallah) dan keshalehan sosial (Hablun Minannas).

Contoh nyata dari keshalehan yang kaaffah tampak pada ibadah shalat yang dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar. Demikian pula dengan ibadah puasa yang mendidik seseorang untuk bersikap toleran dan peduli terhadap sesama.

Maka Shalat dan shaum (puasa) mengandung kedua aspek keshalehan baik ritual maupun sosial.

Selayaknya setiap muslim meraih keshalehan yang kaffah ini. Tidak semata shaleh secara ritual, dalam artian taat beribadah mahdah kepada Allah saja. Tetapi juga shaleh secara sosial, mampu menciptakan kemaslahatan bagi sesama manusia.

Seorang mukmin yang baik mampu menasehati diri sendiri dengan berperipekerti terpuji dan juga mampu menasehati orang lain dengan beramar makruf nahi munkar. ­

Allah SWT berfirman: “Mereka diliputi kehinaan di mana saja rnereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah (Hablun Minallah) dan tali perjanjian dengan manusia (Hablun Minannas)…”
(Q.S. Ali Imran: 112).

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua kepada hidayah-Nya.

Amin.

Iklan

Sifat Sifat Terpuji Hamba Allah yang terpilih atau IBADURRAHMAN, pokok-pokok akhlak Qurani….

Sabtu, 2008 September 20

IBADURRAHMAN

Ibadurrahman, Hamba Allah yang Rahman

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

Allah SWT berfirman ;
“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang (Ibadurrahman) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (mengandung) keselamatan.
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.
Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami …Anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami, penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.
Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam sorga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan-ucapan selamat di dalamnya.”

(Q.S. Al Furqan: 63-75)

Ibadurrahman adalah hamba-hamba Allah yang selalu berada dalam lingkup rahmat Allah. Mereka adalah orang-orang yang menyadari kekuasaan Allah dan memenuhi hak-hak Allah dan memurnikan agama karena Allah. Mereka dinisbatkan kepada Allah Yang Maha Rahman.

Ibadurrahman mempunyai sifat dan tanda-tanda yang disebutkan Allah di dalam ayat-ayat di atas, dengan jelas memiliki sifat-sifat seperti ;

1. Tawadhu’ dan rendah hati

2. Pemurah dan lembut hati,

3. Suka mendirikan shalat malam (Qiyamullail),

4. Sangat takut akan bahaya neraka,

5. Sederhana dalam membelanjakan harta,

6. Memiliki Tauhid yang istiqamah,

7. Menjauhi tindak pembunuhan dengan memuliakan kehidupan,

8. Menjauhi perbuatan zina, dan suka bertaubat Nasuha,

9. Tidak mau bersumpah palsu,

10. Meninggalkan pekerjaan yang tidak bermanfaat,

11. Mendalami ayat-ayat Allah, dan

12. Memohon kebaikan bagi istri dan keluarganya

Dengan demikian dapat dipahami bahwa selain hamba Allah yang Rahman, tentu akan ada golongan-golongan hamba-hamba atau budak-budak yang lainnya. Seperti hamba (budak) syeitan, hamba taghut, hamba syahwat, hamba uang, hamba khamar, hamba narkoba, hamba birahi, hamba harta, hamba tahta, hamba wanita. Mereka pasti tidak mempunyai keduabelas sifat utama ini.

Moga kita semua dapat memiliki keduabelas sifat utama ini untuk meraih predikat Ibadur-Rahman. Amin.

Jauhilah Perangai Sombong

Manusia  Taqwa  Tidak Sombong

 

            PENDIDIKAN rohani adalah penanaman aqidah imaniyah sedari dini. Pertalian antara Khaliq dengan makhluk‑Nya. Aqidah Tauhid, mempercayai hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada yang berhak disembah selain dari pada‑Nya.            

Buya Selesai Melontar Jamarat

 

Kalimat Tauhid adalah kalimat thayyibah, yang bersemi di dalam kalbu mukmin, “ ibarat sebuah pohon yang baik dan subur. Uratnya menghujam bumi, dan pucuknya melambai awan. Dari setiap rantingnya muncul buah yang ranum setiap masa. Melahirkan amalan‑amalan yang baik dengan izin (bimbingan) Tuhannya. Begitulah perumpamaan yang diberikan Allah terhadap manusia, supaya mereka memikirkan.”. (QS.Ibrahim, 14 : 24‑25).

 

        Taqwa, artinya terpelihara. Taqwa itu adalah, “mengerjakan yang disuruhkan dan meninggalkan yang dilarangkan oleh Allah.” Artinya ada unsur taatkepada Allah semata. Setiap yang dikerjakan, dan semua yang ditinggalkan, adalah karena Allah, dan semata mengharapkan redha Allah.    

 

         Taqwa adalah buah dari iman, firman Allah menyebutkan, bahwa orang bertaqwa itu, “Tidak suka berbuat kerusakan dan kebencanaan dalam hidup (QS.28:83), dan muttaqin itu, “Menjadi panutan di tengah kehidupan”. (QS.25:74), Juga sikap orang muttaqin itu, mewarisi kesuksesan dalam hidup di bumi. Dan memiliki peluang akhir yang lebih baik (QS.7:128). Inilah sikap jiwa yang mantap dan mengakar dari iman.  Dalam perjalanan hidupnya orang‑orang bertaqwa selalu memilih yang terbaik. Senantiasa bertindak dengan perangai terpuji. Tidak pernah terhalang dirinya untuk berbuat kebaikan. Segera menyambut amal baik dengan ikhlas. Begitulah sikap yang menonjol yang selalu dikenal oleh Allah (QS. 3 :115, 9 : 44).

         

           Taqwa letaknya di shuduur yakni di dada, sambil Rasulullah menunjuk ke dada beliau, yang diucapkan sampai tiga kali. Firman Allah, “Manusia bertaqwa memiliki sikap‑sikap perbuatan yang terpuji. Diantaranya, memiliki kesabaran yang tinggi. Tidak angkuh dan tidak sombong. Tidak diperbudak oleh benda tetapi mampu menguasai benda/materi.” (QS. 11:49).

Kesetiaan Manusia Hanya untuk Allah. Pengakuan terhadap eksistensi Allah, Maha Pencipta, Yang Maha Agung, pemilik segala jagadraya beserta segala isinya. Bahkan seluruh mekanisme alam ini tunduk kepada hukum‑hukum menurut ketentuan Allah semata, Dialah Yang Maha Besar. Allahu Akbar. Laailaaha Ilallah. Tiada Tuhan selain Allah. Pengakuan yang menggambarkan pengabdian tanpa reserve.

Hubungan manusia dengan Khaliq (hablum minallah)  rela mengorbankan apa jua, yang diminta oleh Tuhannya dengan dasar mahabbah. Seorang insan yang berikrar dengan kalimat tauhid bersedia mematuhi kehendak Allah, di mana dan kapan saja. Firman Allah, “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, dan ibadahku, dan hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah, Penguasa semesta Alam. Tiada sekutu bagi Nya. Dan demikian itulah diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama‑ tama menyerahkan diri kepada Allah.” (QS. Al An’am, 6: 162‑163).

            Allah, Rabbul ‘Alamin, pengatur, pemelihara, pengasih, serta menyempurnakan seluruh alam, dan yang berhak mendapatkan pujian. Bahwa ketaatan, kepasrahan, ketundukan, dan kesetiaan manusia‑sebagai makhluk, hanya teruntuk kepada Allah.

 

         Semua aturan tentang alam ini ada pada kuasa Allah semata. Karena itu, kepada Allah semata, mestinya makhluk manusia berserah diri, atau bertawakkal. Rasul Allah datang ke tengah kehidupan manusia, membawa Risalah tauhid. Kalimat tauhid yang dipunyai bersama-sama memerangi musuh besar yang bernama kemiskinan, karena kefakiran itu yang sering menyeret seseorang menjadi kufur.

       

         Semoga Ramadhan tahun ini menguatkan lagi kalimat tauhid yang sudah terhunjam di dada kita masing-masing. Amin.

 

         Wassalamu ‘alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh,

         Buya H. Masoed Abidin

Melatih untuk Hidup Penuh Makna

Ramadhan Melatih untuk Hidup Penuh Arti

 

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan Dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”  (Q.S.Ali Imran:185)

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Sedangkan Kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (Q.S.Al A’la: 17)

Generasi demi generasi telah lahir dan tumbuh dalam mengisi panggung kehidupan ini. Umur dari hari ke hari telah bertambah dalam bilangan, tetapi dalam jarak terus berkurang menuju pintu keabadian yang kemudian akan mengantarkan kita ke dalam kebahagiaan atau ke dalam kesengsaraan, sesuai pilihan masing dalam kehidupan kini. Kematian sudah pasti menjemput setiap yang bernyawa. “Di mana saja kamu berada, kematian akan menjemput kamu. Kendatipun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. (Q.S. An Nisa :78) Ini adalah satu kenyataan dan kepastian dalam rentang perjalanan kehidupan.

Ajal adalah batas hidup di dalam dunia fana ini. Tidak seorangpun  tahu,  bila ajal akan menjemputnya. “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.  (Q.S. Luqman :34)

Tanpa di sadari masa hidup untuk beramal semakin hari semakin sempit dan berangsur-angsur habis, sedangkan dosa terus bertambah.

Kadangkala, kesempatan emas untuk bertaubat selalu pula ditunda. Banyak juga orang yang  lupa bahkan tidak mau menyesali akan perbuatan dosanya. Banyak yang senang dalam kemaksiatan. Seakan kealpaan adalah hal biasa.  Seakan, engkau tetap dalam kelengahan dan hatimu Alpa. Hilang umurmu  padahal dosa-dosamu tetap seperti keadaannya semula, tiada  pernah berkurang, tetapi malah selalu bertambah.” Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna.

Al Qur’an menceritakan orang yang semasa hidup tidak mau menyesali perbuatannya ketika masih hidup.  Tetapi penyesalan datang ketika semua masa telah  lenyap untuk memperbaikinya. “Dia mengatakan; “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal sholeh) untuk hidupku ini”. (Q.S. A1 Fajr: 24). Semestinya, siapapun wajib memanfaatkan kesempatan yang ada, sebelum kesempatan itu habis direnggut maut.

Ramadhan adalah anugerah untuk setiap mukmin yang mau mengubah diri dan kehidupan menjadi lebih berarti.

Jangan menunda lagi kesempatan untuk berbuat baik. Maut tidak pernah menunda untuk menjemput. Selalu persiapkan diri setiap masa bahkan setiap detik yang ada,  dalam penantian  panggilan Allah yang pasti tiba. Sebagaimana ungkapan bijak penuh hikmah, “… siapa mengetahui jauhnya sebuah perjalanan, semestinya ia bersiap-siap sebelum menapak perjalanan itu…”.

Perjalanan menuju kehidupan akhirat yang abadi, semestinya dipersiapkan dengan  “bekal’ yang cukup. Karena kematian datang sekali, tidak dapat berulang lagi. Maka taqwa adalah sebaik-baik bekal. Berbekallah dan sebaik-baik bekal adalah taqwa. (Q.S. Al Baqarah:197).

Sangat beruntung orang yang mampu menggunakan  kesempatan yang telah Allah berikan padanya dengan menyukuri nikmat umur dan menggunakannya untuk beribadah dan beramal sholeh. Dan Allah tidak pernah menganggap remeh setiap amal perbuatan seorang hamba., baik ataupn buruk perbuatan seseorang niscaya Allah SWT akan menampilkan nanti di yaumil hisab.

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula“. (Q.S. Az Zalzalah : 7-8)

Bagi yang memiliki kelebihan harta benda, maka banyak berzakat, bersedekah,  melakukan haji atau umrah merupakan amalan yang  menuntut pengorbanan materi . Dan bagi yang tidak mempunyai materi yang cukup, dapat  melakukannya dengan mengamalkan sikap dan perilaku yang baik lagi bermanfaat buat orang banyak. Bimbingan Rasullah SAW. menyebutkan, “Sebaik-baik manusia adalah yang lebih baik akhlaqnya”.  (H.R. Thabarani dan Ibnu Umar r.a).

Di dalam hadist lainnya disebutkan,“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. (H.R. Al Qadha’i dari Jabir r.a)

Hakikatnya semua amalan tidaklah berarti apa-apa jikalau akhlaq telah rusak dan jika  tidak dapat membuktikan nilai-nilai ibadah yang  dilakukan ke dalam kenyataan  pergaulan kehidupan atau ke dalam berinteraksi sosial di tengah masyarakatnya.

Ibadah dan amal sholeh haruslah dilandasi dengan keikhlasan semata­-mata mencari redha Allah atau Lillahi ta‘ala.

Sia-sialah amal seseorang yang masih dilandasi oleh sifat riya‘, ujub dan takabbur.

Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya pada surat Al Maa’un ayat 1-7 yang berbunyi, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama ?. Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya. Orang-orang yang berbuat riya’. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.

Semoga Ramadhan dengan ibadah puasa yang kita lakukan dapat membentuk sikap ikhlas mengejar redha Allah dan dapat pula membentuk kehidupan kita yang penuh arti di dunia serta mampu meraih Jannah Allah dengan amal ibadah yang terpelihara baik sesuai Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW.

Wassalamu ‘alaikum,

Buya H.Masoed Abidin

Berbakti kepada Ayah dan Bunda (Birrul Walidaini), satu akhlak Islam sebagai aplikasi dari penerapan Hak Asasi Manusia yang seutuhnya

Berbuat Baiklah kepada Ayah dan Bunda

(Birrul Walidain)

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan Kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yanq bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu” (Q.S. Luqman: 14)

Buya di Cairo

Buya di Cairo

Istilah birrul walidain adalah istilah yang dipakai Rasulullah SAW sebagai disebutkan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud ketika seorang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang amalan apa yang paling disukai oleh Allah SWT. “Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman Abdullah ibnu Mas’ud r.a.,dia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi SAW, “apa amalan yang paling disukai oleh Allah SWT ?” Beliau menjawab, “shalat tepat pada waktunya”, Aku bertanya lagi, “kemudian apa ?” Beliau menjawab, “birrul walidain”. Kemudian aku bertanya lagi, “seterusnya apa ?” Beliau menjawab, “jihad fi sabilillah” (Muttat’aqun ‘Alaih)

Birrul walidain terdiri dan kata al birrul artinya kebajikan dan al walidain artinya dua orang tua atau ayah bunda. Maka, birrul walidain maknanya berbuat kebajikan kepada kedua orangtua atau berbuat ihsan sesuai dengan diperintahkan Allah SWT di dalam surah Al Ahqaf ayat 15 : “Kami wajibkan kepada umat manusia supaya berbuat kebaikan (ihsan) kepada dua orang ayah bundanya”.

Sahabat Abu Umamah r.a. mengisahkan, bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW. mengenai peranan kedua orang tua, yang dijawab oleh Rasulullah SAW, “Mereka (kedua orang tua) adalah yang menyebabkan surgamu atau nerakamu” (HR. Ibnu Majah).

Sebuah riwayat yang shahih ketika Muawiyah ibnu Jahimah suatu ketika mendatangi Rasulullah SAW memohonkan agar dapat ikut berjihad bersama beliau ke medan juang, maka Rasulullah SAW bertanya kepadanya apakah ibunya masih hidup. Muawiyah rnenjawab bahwa ibunya masih hidup. Rasulullah SAW kemudian bersabda, “kembalilah ke rumah dan layani ibumu, karena sorga berada di bawah telapak kakinya” (HR. lbnu Majah dan Nasa’i)

Di antara perintah Allah mengenai birrul walidain terdapat di dalam surah Al Isra’ ayat 23 –24. Manakala diperhatikan firman Allah dalam ayat ini dapat diambil beberapa hal pokok. Pertama, hak dan kedudukan orang tua (ayah bunda) di dalam Islam memiliki kedudukan yang mulia, langsung berada di bawah hak-hak Allah SWT. Alquran berulang kali memerintahkan berperilaku menyenangkan, patuh berbakti kepada ayah bunda.

Selanjutnya, apabila kedua ayah bunda sudah berusia lanjut, sikap dan perasaan mereka cepat berubah, seperti menjadi mudah tersinggung, suka marah dan cepat bersedih hati, karena ketuaan usia mereka. Maka kepada anak-anak mereka diperintahkan agar melihat perubahan perilaku ayah bunda yang sudah tua renta itu sebagai suatu yang lumrah dan mesti diterima dengan selalu menampakkan rasa kasih sayang yang tulus sebagai buah dari keluhuran budi mukmin yang bertaqwa.

Dalam usia lanjut itu, kedua orang tua (ayah bunda) amat mengharapkan kasih dari anak-anak mereka yang sudah mereka besarkan sedari kecil. Maka anak-anak mereka dituntut patuh dan senantiasa menyayangi kedua ayah bunda sebagaimana kasinh sayang kedua orang tua mereka ketika mereka masih anak-kecil.

Kepada anak-anak dituntut bersikap rendah hati, sopan, dan patuh terhadap orang tua. Dalam usia ayah bunda sudah lanjut, hendaknya anak-anak rnelayaninya dengan penuh kepatuhan, semata-mata bersyukur kepada Allah SWT karena mendapatkan kesempatan melayani orangtua di usia lanjut. Mestinya disadari bahwa perjalanan hidup anak banyak bergantung kepada kedua orangtua, walaupun kedua ayah bunda telah merawatnya penuh perhatian dengan menanggung berbagai penderitaan.

Maka birrul walidain menempati kedudukan istemewa dalam ajaran Islam. Perintah ihsan kepada ayah bunda ditempatkan oleh Allah SWT di dalam Alquran sesudah perintah beribadah kepada Allah dan sesudah larangan menyekutukan-Nya. “Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan esuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak wabil waalidaini ihsanan… (Q.S. An Al Isra’: 36)

Allah telah menetapkan perintah berterima kasih kepada ayah bunda sesudah perintah bersyukur kepada Allah SWT. “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. (Q.S. Luqman:14)

Kemudian, Baginda Rasulullah SAW mengaitkan keridhaan Allah SWT bertalian dengan keridhaan ayah bunda, sesuai sabda beliau, “Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orangtua, dan kemarahan Rabb (Allah) ada pada kemarahan orang tua” (HR. At Tirmidzi). Demikian pula, Rasulullah SAW meletakkan ‘uququl walidain (durhaka kepada dua orang ibu bapak) sebagai dosa besar sesudah al isyraaku billah (syirik).

Maka di dalam mengamalkan ibadah-ibadah di dalam bulan Ramadhan khususnya, dan juga pada setiap saat, janganlah dilalaikan untuk berdoa bagi keselamatan dan kesejahteraan kedua ayah bunda, agar Allah SWT menurunkan rahmatnya untuk kita semua.

Wassalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh,

Buya H.Masoed Abidin

Selamat Datang Ramadhan

 

Selamat Datang Ramadhan Pembawa nikmat Allah.

 

Kesempatan untuk bisa menunaikan ibadah secara khusyuk dan tertib, merupakan nikmat Allah yang besar. Ibadah bernilai spiritual menjadi akar pembentukan sikap terpuji seperti; disiplin waktu, cinta kebersihan, sehat fisik, taat aturan, tuma’ninah (teratur), memiliki kesadaran prima (kontroling), bersikap hati-hati, tabah dan setia. Sikap-sikap yang diperlukan mengarungi kehidupan kini dan menatap keberhasilan masa depan (dunia dan akhirat).

Teranglah orang yang lalai dalam ibadahnya, cenderung akan melalaikan tugas-tugas yang ada didepannya, dan amat mudah untuk mengkhianati amanah yang dipetaruhkan padanya.

Ramadhan adalah bulan mulia yang selalu dinanti secara khusus dan penuh kegembiraan. Bulan ibadah dan bulan pengampunan. Penyambutannya membekas pada adat kebiasaan anak negeri, khususnya di beberapa daerah yang masih kokoh dengan budayanya di Minangkabau.


Ramadhan adalah penghulu sekalian bulan. Orang Minang menyebutnya bulan basaha” (saha = sahur, satu bentuk Sunnah Rasul yang diujudkan dalam makan parak siang sebelum terbitnya fajar, menurut bimbingan ibadah shaum (puasa) mendahului imsak).


Tatkala Ramadhan datang menjelang, Rasulullah SAW menyambut dengan ucapan marhaban bil-muthahhir, artinya, “selamat datang wahai pembersih”. Sahabat bertanya,”Wa mal muthahhiru ya Rasulullah?, (siapa yang di maksud pembersih itu, wahai Rasulullah?)”. Rasulullah SAW menjawab “al-muthahhiru syahru Ramadhana, yuthahhiruna min dzunubii wal ma’ashiy (pembersih itu adalah Ramadhan, dia membersihkan kita dari dosa dan ma’shiyat)”.


Marhaban adalah kata yang kerap dipakai untuk menyambut dan menghormat tamu yang mulia. Bermakna ungkapan selamat datang. Ucapan itu tersirat makna yang dalam Kegembiraan menyambut bulan basaha itu, diiringi kesiapan dan kelapangan waktu, keluasan tempat untuk melakukan tindakan yang berkaitan dengan mengasuh dan mengasah jiwa menuju kebersihan bersamanya.


Bersihnya diri adalah bukti ketaqwaan seseorang. Puasa (shaum) sebagai satu ibadah khusus di bulan Ramadhan, berperan membersihkan diri pelakunya. Sesuai firman Allah :”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu (pengikut Taurat dan Injil) agar kamu bertaqwa (tetap terpelihara, bersih dari dosa dan makshiayat)”. (QS.2, al Baqarah,ayat 183).

Ramadhan adalah bulan turunnya Al Quran yang berisi petunjuk, bimbingan, pembeda antara benar dan salah, penjelasan tentang paradigma hidup manusia. Memasuki bulan Ramadhan wajib melaksanakan ibadah shaum (puasa). Meski sakit sekalipun, kewajiban puasa tidak gugur. Allah memberikan keringanan( rukhsah), berupa keizinan untuk mengganti puasa Ramadhan dengan berpuasa dihari (bulan) lainnya. Kalaupun masih tidak sanggup, karena sakit menahun, yang menyebabkan tidak bisa berpuasa, maka dapat digantikan dengan membayar fidyah (memberi makan orang miskin). Kondisi ini berlaku terhadap orang sakit (tua),yang tidak sanggup untuk berpuasa. Ketentuan Allah ini merupakan kemudahan bagi manusia.


Ajaran agama (Islam) sama sekali tidak memberatkan. Sehingga tidak ada alasan seseorang menolak melaksanakannya jika ia sebenar-benar mempercayai (mukmin). Pada hakekatnya puasa adalah ibadah khas yang membuktikan seorang benar-benar beriman (mukmin) serta mampu bersyukur (berterima kasih) kepada Allah yang telah menjadikan dirinya dan memberikan segala sesuatu keperluan yang diperoleh dalam hidup ini (jelasnya baca: Al Quran,Surat Al Baqarah (2) ayat 184-187).

Selamat menunaikan ibadah Ramadhan.

Wassalam Buya H. Masoed Abidin

 

Balimau Menyambut Ramadhan Tidak berasal dari Ajaran Islam

Ulama Sumbar: Tinggalkan Tradisi “Balimau”

Hidayatulllah.com–Ulama Sumbar, Buya Masoed Abidin, mengatakan, ‘budaya balimau’, yakni tradisi masyarakat Sumbar mandi bersama-sama di tempat wisata pemandian di sungai-sungai atau lubuk sehari menjelang puasa datang, sebaiknya ditinggalkan karena tidak diajarkan agama Islam.
“Balimau menyambut Ramadhan dengan mandi berbuka aurat laki-laki atau perempuan tidak pernah diajarkan agama, dan tak perlu berwisata ke lubuk-lubuk pemandian dan sungai-sungai yang akan merusak adat dan akhlak,” katanya.

Ia mengatakan itu terkait ‘balimau’, yakni satu tradisi masyarakat Kota Padang selalu menyambut bulan suci Ramadhan dengan kegiatan mandi bersama di tempat-tempat wisata pemandian yang ada di Kota Padang, Lubuk Paraku, Lubuk Minturun, Lubuk Tempurung Aie Dingin dan lainnya.
Tradisi ini dilakukan sehari menjelang puasa datang.

Menurut dia, balimau merupakan kegiatan yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. “Islam tidak mengizinkan kaum laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim mandi bersama dalam satu tempat,” kata buya yang juga salah seorang ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar itu.
Ia mengatakan, Islam mengajarkan umatnya beramal untuk menyempurnakan ibadah dan membersihkan diri lahir batin, bukan mengotorinya.

Umat Islam, ajaknya lagi, berwisatalah ke dalam lubuk hati dengan merenungi nikmat Allah Swt, bertauhid dan tak perlu berwisata ke lubuk-lubuk pemandain dan sungai-sungai yang pada akhirnya akan merusak adat dan akhlak itu.

“Kegiatan itu sebaiknya diganti dengan kegiatan yang bermanfaat lainnya seperti berkunjung ke sanak famili, kerabat dekat dan handai taulan lainnya. Atau menggantinya dengan kegiatan syukuran, doa bersama. Kegiatan ini jauh lebih bermanfaat dan diridhai Tuhan,” katanya.
Ia menjelaskan, Ramadhan adalah bulan terpilih, bulan berpuasa, bulan Al-Quran dan bulan ibadah, serta latihan takwa dan lainnya untuk memupuk syukur. [ant/
www.hidayatullah.com]

BALIMAU: SISA RITUAL HINDU
Oleh: Azhari

Tradisi Balimau biasanya diadakan sehari menjelang memasuki puasa bulan Ramadhan, sebelum senja menjelang masyarakat berduyun-duyun menuju sungai dan danau dengan mengadakan mandi massal. Laki-laki dan wanita, tua dan muda semua tumpah ruah di berbagai sungai dan danau di Sumbar, tempat yang biasanya dijadikan tradisi balimau adalah Batang Kalawi, Lubuk Minturun, Lubuk Paraku, Lubuk Hitam dan Kayu Gadang. Tradisi yang mirip balimau juga diadakan di luar Sumbar, seperti di Sungai Kampar (Riau) dengan istilah “Balimau Kasai” Tidak ada riwayat yang sahih sejak kapan tradisi balimau ini dimulai.

Tidak afdhal balimau jika tidak keramas dengan harum-haruman yang terdiri dari jeruk purut dan bunga rampai. Sehingga disinyalir kata “Balimau” ini muncul dari bahan untuk keramas yang menggunakan jeruk purut (limau).

Tujuan balimau untuk menyucikan diri sebelum memasuki bulan Ramadhan, wujud penyucian diri ini dengan mandi di sungai dan danau, keramas dengan jeruk dan bunga rampai yang wangi. Setelah balimau kemudian bermaaf-maafan karena akan memasuki bulan Ramadhan, malamnya shalat tarawih dan besoknya berpuasa.

Bukan dari Ajaran Islam

Islam sama sekali tidak pernah mengajarkan ketika memasuki bulan Ramadhan agar mandi dengan menyiram sekujur tubuh (mirip mandi junub), dalam Islam dianjurkan sebelum memasuki puasa agar saling memaafkan karena Ramadhan adalah bulan untuk bertaubat, sementara ampunan Allah swt terhalang jika urusan sesama manusia belum diselesaikan. Disamping itu, kaum muslimin dianjurkan mempersiapkan diri sebaik mungkin secara fisik dan rohani agar memperoleh hasil optimal dalam menjalankan ibadah Ramadhan.

Persiapan sebelum memasuki Ramadhan yang diajarkan Islam, antara lain: 1) Persiapan nafsiyah, yakni menyucikan jiwa (tazkiyatun nafsi) sehingga mempunyai sifat ikhlas, sabar dan tawakal. 2) Persiapan tsaqafiyah, yakni mendalami fiqih puasa sehingga paham bagaimana berpuasa sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw dan paham apa saja yang membatalkan puasa. 3) Persiapan jasadiyah, karena aktifitas Ramadhan memerlukan kekuatan fisik seperti melakukan puasa, shalat tarawih dan ibadah lainnya, fisik yang lemah/tidak sehat tentu akan mengurangi kekhusyukan dalam beribadah.Lihat 1, hal 11

Berasal dari Ajaran Hindu

Kaum Paderi yang baru pulang dari Mekah menjadi penggerak di tanah Minang untuk membersihkan ajaran Islam yang masih bercampur dengan ajaran Hindu, di bawah pimpinan Haji Miskin di Pandai Sikek. Kaum Paderi melihat contoh ketegasan kaum Wahabi dalam menjalankan Islam di tanah Arab. Menurut keyakinan mereka , agama Islam harus dibersihkan dari pengaruh agama lain seperti Hindu.Lihat 2, hal 10-13

Setidaknya ada 3 hari raya Hindu yang mengadakan ritual menyucikan diri dengan mandi di Sungai Gangga; 1) Makara Sankranti, berlangsung pada pertengahan Januari,  umat Hindu menyucikan diri di sungai Gangga sebagai bentuk pemujaan kepada dewa Surya. 2) Raksabandha, berlangsung pada bulan purnama antara  Juli-Agustus,  pagi hari umat Hindu menyucikan diri ke sungai Gangga untuk menguatkan tali kasih sayang diantara mereka. 3) Vasanta Panchami, berlangsung bulan Januari-Februari,  umat Hindu menyucikan diri di sungai Gangga untuk menyambut musim semi.Lihat 3

Sehingga diyakini tradisi balimau merupakan asimilasi antara ajaran Islam dengan Hindu, Islam mengajarkan untuk mempersiapkan diri sebelum memasuki bulan Ramadhan baik fisik maupun rohani, tetapi persiapan diri menggunakan cara Hindu menyucikan diri dengan mandi massal di sungai dan danau.

Mengotori Kesucian Ramadhan

Ramadhan bulan suci dimana umat Islam berlomba-lomba memperbanyak ibadah karena nilai pahalanya berlipat-ganda, mereka berpuasa di siang hari, shalat tarawih di malam hari, memperbanyak dzikir, baca Al-Quran, mengkaji Islam, bersedekah dan ibadah lainnya. Tetapi sebelum memasuki Ramadhan terlebih dahulu dikotori dengan perbuatan maksiat yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam, seperti balimau. Amalan ini sama sekali tidak bernilai pahala di sisi Allah swt karena tidak ada tuntunan dari Allah dan rasul-Nya, malah dosa yang akan diperoleh.

Acara balimau banyak mudharat daripada manfaatnya. Balimau merupakan kesempatan bagi para muda-mudi untuk berpacaran dan mencari jodoh, ajang cuci mata bagi mereka yang iseng karena ketika mandi dan pakaian menjadi basah akan memperlihatkan lekuk tubuh, campur baur (ikhtilath) antara laki-laki dan wanita di sungai dan danau yang tidak dibenarkan oleh ajaran Islam.

Islam mengharamkan pacaran (khalwat) sebelum menikah, ajaran Islam sebelum memasuki jenjang pernikahan adalah ta’aruf (berkenalan), khitbah (meminang) dan kemudian menikah (aqad nikah). Islam juga mengajarkan mandi di tempat tertutup untuk melindungi kehormatan, bukan di tempat umum seperti tradisi balimau. Islam mewajibkan muslim dan muslimah untuk menutup aurat, aurat laki-laki antara pusar dan bahwa lutut, sedangkan aurat wanita yang boleh tampak adalah muka dan telapak tangan, berjilbab tetapi berpakaian ketat dianggap masih membuka aurat karena masih memperlihatkan lekuk tubuh. Islam mengatur kehidupan laki-laki dan wanita secara terpisah, campur baur (ikhtilath) tidak dibenarkan oleh Islam.

Begitu mulia ajaran Islam agar kehidupan ini lebih baik, kenapa kita masih mengabaikan aturan Allah swt dengan alasan tradisi atau pariwisata? Untuk apa memperoleh keuntungan dari pariwisata tetapi dengan melakukan perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah swt?

Wallahua’lam.

Sumber Bacaan:

1. Ramadhan Bulan Istimewa bagi Kaum Muslmin, Muhammad Ramadhan al-Mutashib (e-book).
2.  Islam dan Adat Minangkabau, Hamka, Pustaka Panjimas, cetakan II, Agustus 1985.
3.  http://www.parisada.org/: Hari Raya Hindu di Indonesia dan India : Sebuah perbandingan Pintas, I Made Titib.