

































































































DIA DATANG KE SIDANG PBB DENGAN JAS LUSUH DAN SEPATU BUTUT DAN MEMBUAT SELURUH DELEGASI DUNIA TERDIAM KAGUM
Ada pemandangan yang tidak biasa di Gedung PBB di Lake Success, New York, pada 12 Agustus 1947.

Di antara para diplomat berpakaian mahal dari negara-negara besar dunia, berdiri seorang pria kecil bertubuh kurus dengan jenggot panjang, mengenakan jas yang sudah lusuh dan sepatu yang sudah butut. Ia datang mewakili sebuah republik yang baru berusia dua tahun, yang sedang terancam oleh serangan militer dari bekas penjajahnya. Ia datang tanpa sumber daya, tanpa kekuatan militer untuk diancamkan, tanpa uang untuk melobi siapa pun.
Yang ia bawa hanya kepalanya.
Dan kepala itulah yang membuat seluruh ruangan terdiam.
Namanya Haji Agus Salim. Dan dalam sejarah diplomasi Indonesia, tidak ada yang seperti dia.

Agus Salim terlahir dengan nama Masjhoedoelhaq Salim — yang dalam bahasa Arab berarti Pembela Kebenaran — pada 8 Oktober 1884 di Koto Gadang, Sumatera Barat. Ayahnya Soetan Salim adalah jaksa di Pengadilan Tinggi Riau — jabatan yang memberikan akses pendidikan kepada anaknya di sekolah-sekolah terbaik zaman kolonial. Dan anak itu memanfaatkan akses itu dengan cara yang melebihi semua yang bisa dibayangkan ayahnya.
Agus Salim dilaporkan fasih dalam setidaknya sembilan bahasa, termasuk bahasa aslinya yaitu Minangkabau dan Melayu, serta bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jepang, Jerman, Latin, dan Turki. Bukan hanya bisa berkomunikasi — ia fasih secara sastra dan filosofis dalam setiap bahasa itu. Kemampuan itu mengantarnya menjadi delegasi Belanda untuk Konferensi Buruh Internasional di Jenewa pada 1929 — sebuah ironi yang ia nikmati sepenuhnya: penjajah mengutus seorang nasionalis Minang sebagai wakilnya ke forum internasional.
Di sana ia belajar cara dunia bekerja. Di sana ia mengasah cara berbicara kepada dunia.
Perjalanan politiknya dimulai jauh sebelum itu. Ia masuk Sarekat Islam pada 1915, bergabung dengan HOS Tjokroaminoto dan kelompok pemikir Islam progresif yang percaya bahwa kemerdekaan Indonesia harus diperjuangkan melalui organisasi massa yang terstruktur. Agus Salim bukan jenis orang yang diam di belakang — ia naik ke podium, berdebat, menulis, dan memimpin. Julukan “Singa Podium” ia dapat bukan karena suaranya keras, tapi karena tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam debat.

Dengan jenggot panjangnya, ia pernah diolok-olok sebagai “mirip kambing” di sebuah pertemuan Sarekat Islam. Namun, dengan tenang dan penuh humor, Agus Salim menjawab: “Lebih baik berjenggot seperti kambing daripada tidak memiliki prinsip seperti kerbau yang dicocok hidungnya.”
Satu kalimat. Seluruh ruangan tertawa. Dan tidak ada yang berani mengolok-oloknya lagi.

Ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, Agus Salim tidak merayakannya terlalu lama. Ia tahu perjuangan sesungguhnya baru dimulai — bukan di medan perang, tapi di meja-meja diplomasi yang akan menentukan apakah dunia mau mengakui Indonesia sebagai negara yang sah.

Ia diangkat sebagai Menteri Muda Luar Negeri dalam Kabinet Sjahrir I dan II, kemudian Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Amir Sjarifuddin dan Kabinet Hatta. Dalam kapasitas itu, ia melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan diplomat Indonesia sebelumnya: ia memimpin delegasi keliling negara-negara Arab untuk melobi pengakuan kemerdekaan Indonesia.
Pada 10 Juni 1947, Indonesia dan Mesir menandatangani perjanjian persahabatan yang sekaligus menandai pengakuan de jure pertama atas kemerdekaan Indonesia. Pengakuan ini disusul oleh negara Timur Tengah lainnya. Indonesia menjalin perjanjian persahabatan dengan negara-negara Arab lainnya, termasuk Lebanon pada 29 Juni 1947, Suriah pada 2 Juli 1947, Irak pada 16 Juli 1947, Arab Saudi pada 24 November 1947, dan Yaman pada 3 Mei 1948.

Satu diplomat. Enam pengakuan kedaulatan dari enam negara. Dalam satu tahun.
Kemudian datanglah sidang PBB di Lake Success, New York. Belanda melancarkan Agresi Militer I pada 21 Juli 1947 dan membawa konflik ke forum internasional, yakin bahwa tidak ada yang akan membela republik kecil yang baru lahir dan sudah terserang dari segala penjuru.

Di tahun 1947, Agus Salim menghadiri sidang PBB dengan jas yang lusuh dan sepatu bututnya. Ia tidak membawa tim besar. Tidak membawa amplop. Tidak membawa ancaman. Yang ia bawa adalah argumentasi yang dibangun di atas pengetahuan hukum internasional, sejarah kolonialisme, dan kemampuan berbahasa yang membuat ia bisa berbicara kepada setiap delegasi dalam bahasa mereka sendiri.

Dalam sidang tersebut, ia berhasil menggalang simpati dan dukungan internasional, yang pada akhirnya menghasilkan pembentukan Komisi Tiga Negara (KTN), sebuah langkah strategis untuk menginternasionalisasi masalah Indonesia-Belanda.

Misi ke PBB sukses karena PBB atas dukungan Amerika Serikat membentuk Komisi Jasa Baik yang bisa memaksa Belanda duduk kembali di meja perundingan. Dalam proses ini Amerika Serikat bersikap tegas kepada Belanda karena kesal. Pengucuran pertama dana Marshall Plan yang dimaksudkan untuk membangun kembali Eropa pasca Perang Dunia Kedua, justru digunakan Belanda untuk membiayai aksi-aksi militernya di Indonesia.
Agus Salim membalikkan meja tanpa mengangkat senjata.
Di luar panggung diplomasi, ada sisi kehidupan Agus Salim yang tidak kalah mengesankan — dan tidak kalah mengajarkan. Sepanjang hidupnya ia memilih miskin. Bukan karena tidak mampu kaya: seorang diplomat dengan kemampuan sembilan bahasa dan jaringan internasional seluasnya bisa dengan mudah menjual kemampuannya kepada perusahaan Belanda, kepada pemerintah kolonial, kepada siapa pun yang mau membayar. Tapi ia memilih Sarekat Islam, memilih jurnalisme, memilih pergerakan. Ia pernah beberapa kali pindah rumah kontrakan di sekitaran Jakarta. Petuah yang ia pegang seumur hidup: “Leiden is Lijden” — memimpin adalah menderita.

Dan ia membuktikan petuah itu dengan seluruh hidupnya.
Haji Agus Salim wafat pada 4 November 1954 di Jakarta dalam usia 70 tahun. Presiden Soekarno menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Namanya diabadikan sebagai nama jalan di hampir setiap kota besar Indonesia — sebuah kehormatan yang terasa ironis sekaligus tepat: jalan yang setiap hari dilalui jutaan orang, tapi sedikit yang tahu bahwa nama itu mewakili seorang pria yang menghabiskan hidupnya berpindah dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lain, demi sebuah republik yang ia percaya layak diperjuangkan.

Agus Salim membuktikan bahwa kemiskinan bukan penghalang untuk menjadi besar, dan kekayaan bukan jaminan untuk menjadi berguna. Tujuh puluh tahun setelah Agus Salim berdiri di PBB dengan jas lusuhnya, Indonesia mencatat data yang perlu direnungkan: menurut laporan KPK, negara mengalami kerugian akibat tindak pidana korupsi sebesar lebih dari Rp 238 triliun sepanjang 2004–2023. Seorang diplomat tanpa uang bisa menggerakkan enam negara untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Pertanyaan untuk kita hari ini: apa yang dikerjakan oleh mereka yang mengelola uang sebanyak itu — dan untuk siapa?

HajiAgusSalim #DiplomacyKemerdekaan #SejarahIndonesia #TheGrandOldMan #AgustusKemerdekaan



YENDRA FAHMI, MEMULIAKAN IBUNDA
(Kisah inspiratif buat Anak Cucu Kita)
Kisah tentang Uda Yendra Fahmi adalah cerminan nyata dari pepatah lama: “Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua.” Di tengah gemerlapnya dunia bisnis, sosok pengusaha muda asal Minangkabau yang kini mengemban amanah sebagai Bendahara Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ini, berhasil menyentuh nurani umat melalui jalan baktinya yang luar biasa kepada sang ibu.
Gurita bisnis Uda Yendra Fahmi bernaung di bawah sebuah induk perusahaan (holding company) bernama Indobagus Group (PT Indobagus Investama) yang didirikan sejak tahun 2010. Kombinasi antara ketajaman melihat peluang di sektor komoditas (energi, pertambangan & perkebunan), pasar retail premium (Mercedes-Benz), serta manajemen aset properti, menjadikan Indobagus Group salah satu konglomerasi lokal yang kokoh secara finansial dan luas secara dampak sosial.
Berikut adalah kisah ringkas nan inspiratif dari beliau yang patut menjadi teladan bagi generasi muda.
A. Memuliakan Ibu di Setiap Jengkal Langkah
Bagi Yendra Fahmi, kesuksesan finansial bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk memuliakan orang tua, khususnya sang ibu, Hj. Yuliana. Beliau meyakini bahwa setiap tetes rezeki dan keberhasilan yang diraihnya hari ini adalah buah dari doa malam ibundanya yang menembus langit.
Sebagai wujud bakti yang tak bertepi (birrul walidain), Uda Yendra Fahmi mengabadikan nama sang ibu pada berbagai amal usaha raksasa yang beliau bangun dan wakafkan untuk umat. Nama “Yuliana” kini bergaung di berbagai belahan dunia melalui sarana ibadah, pendidikan, dan kesehatan:
B. Mengapa Kisah Ini Menyentuh Nurani?
“Uang bisa dicari, namun kesempatan memuliakan ibu adalah tiket menuju keberkahan hidup yang sesungguhnya.”
Di zaman modern ini, tidak sedikit generasi muda yang sukses kemudian lupa pada akar keberhasilannya. Namun, Uda Yendra Fahmi membalikkan narasi itu. Beliau membuktikan bahwa:
C. Pesan untuk Generasi Muda
Kisah Uda Yendra Fahmi adalah tamparan lembut sekaligus motivasi besar bagi kita semua, terutama generasi muda:
Semoga kisah ringkas ini mampu menggerakkan hati kita untuk kembali bersujud, memeluk orang tua kita, dan bertekad memberikan yang terbaik untuk mereka. Kesuksesan sejati tidak diukur dari seberapa banyak harta yang kita miliki di rekening, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan untuk umat atas nama cinta kepada orang tua.
Semoga Bermanfaat dan Terinspirasi…
Jakarta, 27 Juni 2026
Dr. Iramady Irdja
MENIKMATI CANTON DI WAKTU MALAM … Menelusuri Canton (Guangzhou), Guangdong (Kwantung) di waktu malam lain pula serunya …. Ya, menikmati pemandangan malam yang gemerlap di megacity Canton dengan berlayar naik kapal cruise di Sungai Mutiara (Pearl River) yang beberapa kali disebut dalam buku “Dari Penjara ke Penjara” oleh Tan Malaka.
Ketika tinggal di kota inilah (1923-1925) Tan Malaka menulis karyanya yang paling visioner “Naar de Republiek Indonesia“. Tan di usia 27/28 tahun sudah menggagas sebuah Negara Republik Indonesia yang harus diperjuangkan sebagai negara merdeka. Visi Tan Malaka tentang Republik Indonesia 20 tahun mendahului Proklamasi 17 Agutus 1946, 3 tahun sebelum Sumpah Pemuda dan “Indonesia Vrij” Bung Hatta, dan 5 tahun mendahului “Indonesia Menggugat” Sukarno. Inilah alasan Muhammad Yamin menyebut Tan Malaka sebagai “Bapak Republik Indonesia“. Dan tak terbantahkan.
Canton dewasa ini tentulah bukan Canton seabad lalu ketika Tan Malaka tinggal di kota ini. Waktu itu, tulis Tan, Canton baru berpenduduk 2 juta jiwa, dan banyak sekali becak yang ditarik tenaga manusia sebagai alat transportasi. Kini, Canton yang lebih sering disebut Guangzhou berpenduduk lk. 20 juta jiwa, memiliki Canton Tower setinggi 600 meter lebih (struktur tertinggi seluruh Tiongkok), dan puluhan ribu becak kayu telah digantikan jutaan mobil dan motor listrik.Hebatnya lagi pengalaman mengarungi Sungai Mutiara, tiket kapalnya bisa dicetak dengan gambar kita sendiri.
ZAINOEL ABIDIN SYOE’AIB (ZAS) … Zainoel Abidin Syoe’aib atau yang dikenal dengan Buya ZAS adalah anggota Konstituante dari Fraksi Masyumi yang terpilih pada Pemilu 1955. Sebelum duduk di parlemen, ZAS berkiprah sebagai Konsul Muhammadiyah di Bengkulu. Setelah meninggalkan politik praktis pasca dibubarkannya Masyumi oleh rezim Soekarno, ZAS kembali ke Sumatera Barat dan terpilih sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Barat. Selain itu, ZAS juga dikenal sebagai pendakwah dan penulis handal baik di media massa lokal maupun nasional.
ZAS dilahirkan tahun 1913 di Galapung, Kenagarian Tanjung Sani, Tanjung Raya, Agam. Ayahnya bernama Sjoe’aib St Mangkuto (Suku Malayu) sedangkan ibunya Aisyah (Suku Chaniago dibawah payung Datuk Sinaro Panjang). Kedua orang tuanya berasal dari Jorong Galapung di tepian Danau Maninjau.
Ayah Sjoe’aib bekerja sebagai petani. Tidak lama kemudian, dia berpindah profesi sebagai pedagang kain yang berdagang sampai ke Lampung. ZAS merupakan anak ke-3 dari 8 bersaudara yaitu: 1) Abdurrahim Sjoe’aib, 2) Burhanuddin Sjoe’aib, 3) Zainoel Abidin Sjoe’aib (ZAS), 4) Siti Aisyah Sjoe’aib, 5) Dalipah Sjoe’aib, 6) Syarikam Sjoe’aib, 7) Intan Zaman Sjoe’aib, dan 8) Bakhtiar Sjoe’aib.
Pada tahun 1928, ZAS meninggalkan Galapung ke Padang Panjang untuk menimba ilmu di Thawalib dan melanjutkan ke “Tabligh School” yang dipimpin HAMKA. Dalam perkembangannya, sekolah ini bermetamorfosis menjadi “Kulliyatul Mubalighien”. Di sekolah berasrama inilah ZAS menimba pengetahuan agama sekaligus dididik sebagai kader Muhammadiyah. Di asrama itu pula, dia sekamar dengan HAMKA sehingga hubungan mereka tidak hanya sebatas guru dengan murid tapi juga sebagai sahabat karib.
Tidak hanya itu, atas anjuran HAMKA tahun 1928, ZAS juga bergabung dengan Muhammadiyah Afdelling Padang Panjang sehingga terlibat aktif dalam gerakan dakwah Muhammadiyah bersama dengan HAMKA.
Setelah menimba ilmu di “Kulliyatul Mubalighien”, ZAS diminta mengajar di sekolah tersebut sekaligus sebagai aktivis Muhammadiyah yang militan.
Sejak siswa, ZAS banyak terlibat dalam berbagai kegiatan Kepanduan dan Kelasykaran. Pada tahun 1939, dia terpilih sebagai Menteri Daerah Hizbul Wathan (HW) Minangkabau yang setara dengan Kwartir Daerah HW Sumatera Barat. Kepanduan HW yang didirikan oleh HR Hadjid di Yogyakarta tersebut merupakan organisasi di bawah Muhammadiyah. Selama kepemimpinannya, ZAS menyelenggarakan Jambore HW Minangkabau di Ngarai Sianok (Anai Gloofd) selama seminggu.
Pada tahun 1940, bersama dengan HAMKA, ZAS diutus Muhammadiyah Afdelling Padang Panjang mengikuti Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta. Pada tahun 1950, ZAS diutus oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke Bengkulu untuk mengembangkan Muhammadiyah. ZAS berstatus sebagai guru yang beralamat di Kampung Tionghoa, Bengkulu. Dua tahun kemudian, ZAS terpilih sebagai Konsul Muhammadiyah Bengkulu tahun 1952, menggantikan Oey Tjeng Hien atau Abdul Karim Oey.
ZAS menikah pertama kali dengan Aisyah yang berasal dari Pandan, Sungai Batang tahun 1940. Dalam pernikahan ini mereka dikaruniai 2 orang anak laki-laki, bernama Hisyam dan Fahmi. Anak bungsu mereka meninggal dunia pada saat masih kecil. Sang isteri, Aisyah kemudian meninggal dunia tahun 1948. Tidak lama ditinggal isteri, ZAS menikah bulan November 1952 dengan Latifah Hanum yang berasal dari Batuhampar, dekat Payakumbuh. Dari perkawinan ini mereka dikaruniai 6 orang anak yaitu: Rahmi, Muhammad Saqid, Muhammad Sabir, Maisarah, Evawafda, dan Muhammad Luthfi.
Pada Pemilu pertama tahun 1955, ZAS terpilih sebagai anggota Konstituante mewakili Masyumi (KTA Nomor: 109). Usai dewan ini dibubarkan, ZAS pulang kampung, terjun sebagai penggerak Muhammadiyah. ZAS didapuk menerajui “kapal” Muhammadiyah Sumatera Barat selama 12 tahun sejak terpilih sebagai Ketua PWM Sumatera Barat pada bulan Januari 1972, menggantikan HAK Dt. Gunung Hijau. Usai periode pertama berakhir pada bulan Januari 1982, ZAS masih diberikan kepercayaan memimpin Muhammadiyah sampai wafatnya. Kepemimpinannya dilanjutkan oleh H. Hasan Ahmad tahun 1983 sampai 1984.
Sebagai seorang penulis, ZAS pernah menerbitkan buku berjudul “Salaam Rahmat dan Barakat” yang diterbitkan oleh Penerbit Umar Hasan Mansoor di Bandung tahun 1962. Tulisannya banyak dimuat di koran lokal seperti “Haluan” dan “Singgalang” maupun media nasional seperti “Panji Masyarakat” dan “Suara Muhammadiyah”.
Sebagai kader Muhammadiyah yang militan, ZAS aktif menjadi motor penggerak Muhammadiyah ke berbagai daerah di Indonesia. Selama menakhodai Muhammadiyah, ZAS dan keluarganya berpindah-pindah domisili. Sebut diantaranya Padang Panjang, Maninjau, Pilubang Pariaman, Belawan (Sumatera Utara), Kerinci (Jambi), Muara Enim (Sumatera Selatan), Bengkulu, Bandung (Jawa Barat), terakhir kembali ke kampung halamannya di Sumatera Barat.
Salah satu jasa besarnya adalah memimpin penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ke-39 tahun 1975 di Padang. Kesuksesan perhelatan akbar ini seolah mengulang kesuksesan Kongres Muhammadiyah ke-19 tahun 1930 di Bukittinggi. Padahal menjelang muktamar, Masjid Taqwa tempat lokasi sekretariat panitia tiba-tiba runtuh tanggal 6 Januari 1975.
Usai Muktamar, ZAS segera bergerak untuk membangun kembali Masjid Taqwa Padang melalui penggalangan dana dari berbagai lapisan masyarakat. Dalam setiap kesempatan dakwahnya, ZAS dikenal lihai mengetuk pintu hati kaum Muslimin untuk mengeluarkan infak, sadakah guna menyelesaikan pembangunan masjid.
Sebelumnya, ZAS juga memelopori berdirinya Masjid “Ansharullah Muhammadiyah“ yang terletak di pusat Kota Payakumbuh. Pendirian masjid ini diawali tahun 1965, saat itu Muhammadiyah di kabupaten ini berusia 40 tahun.
Buya ZAS meninggal dunia tanggal 10 Maret 1983, dalam usia 70 tahun dan dikebumikan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta (EYB).
**
Referensi:
Dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah,
Pahlawan Nasional Pertama RI Ternyata Seorang Minangkabau! Inilah Kisah Abdoel Moeis Sang Pejuang Pena
Nama Abdoel Moeis (Abdul Muis) menempati posisi sakral dalam sejarah Indonesia. Lahir di Sungai Puar, Minangkabau pada 3 Juli 1886, putra pasangan Soelaiman Dt Toemanggoeng dan Siti Djariah ini adalah sosok pertama yang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno. Ia membuktikan bahwa pena dan surat kabar bisa menjadi senjata yang tak kalah mematikan dari peluru.
Gagal Jadi Dokter, Melejit di Dunia Pers
Moeis sempat merantau ke Jakarta untuk kuliah di sekolah kedokteran STOVIA. Namun, karena didera sakit, ia terpaksa putus sekolah. Ia lalu bekerja sebagai juru tulis pemerintah kolonial, tetapi keluar karena tidak tahan dengan diskriminasi pegawai Belanda.
Moeis kemudian membanting setir ke dunia jurnalistik di Bandung. Berkat kemampuan bahasa Belandanya yang mumpuni, ia melejit dari korektor biasa menjadi hoofdcorector (korektor kepala) di surat kabar Preanger Bode hanya dalam waktu tiga bulan.
Singa Podium Sarekat Islam dan Pendiri ITB
Tahun 1913, Moeis bergabung dengan Sarekat Islam (SI) dan memimpin Harian Kaoem Moeda, koran pergerakan yang memelopori rubrik “Pojok”. Bersama Ki Hadjar Dewantara di Komite Bumiputera, ia dengan berani menentang rencana Belanda merayakan kemerdekaannya di atas tanah jajahan Indonesia.
Kecerdasannya membuat Moeis diutus ke Belanda pada 1917 untuk misi diplomasi. Di sana, ia melobi tokoh-tokoh elit Belanda hingga berhasil mendorong berdirinya Technische Hooge School yang kini kita kenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Setahun berselang, ia diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat).
Jeruji Besi, Hukum Buang, dan Lahirnya ‘Salah Asuhan’
Kritik tajam Moeis kerap membuat kuping penjajah merah. Akibat pidato politiknya di Toli-Toli (Sulawesi Utara) yang memicu penolakan kerja rodi, ia dijebloskan ke dalam penjara. Tak kapok, setelah bebas ia memimpin pemogokan buruh pegadaian di Yogyakarta (1921) dan menggalang aksi menolak pajak Belanda di Padang (1923).
Gerah dengan aksinya, Belanda menjatuhkan hukuman passentelsel. Moeis dilarang berpolitik, diusir dari tanah kelahirannya di Minangkabau, dan diasingkan ke Garut, Jawa Barat.
Di tanah pembuangan inilah kreativitasnya mendobrak batas. Pada tahun 1928, ia menerbitkan novel Salah Asuhan, sebuah mahakarya sastra terbesar Indonesia yang menyoroti benturan budaya Barat-Timur. Novel ini kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris (Never the Twain) dan diangkat ke layar lebar pada 1972.
Setia pada Republik Hingga Akhir Hayat
Meski memasuki usia senja, gelora pergerakan Moeis tidak padam pasca-Proklamasi 1945. Ia aktif memimpin Persatuan Perjuangan Priangan untuk pembangunan Jawa Barat dan sempat diminta memperkuat Dewan Pertimbangan Agung (DPA).
Dalam kehidupan pribadinya, Moeis sempat mengalami beberapa kali pernikahan hingga akhirnya melabuhkan hati pada Soenarsih pada 1925 dan dikaruniai 12 anak.
Sang pejuang pena ini mengembuskan napas terakhirnya di Kota Bandung pada 17 Juni 1959. Jasad sang putra Minangkabau kini bersemayam dengan tenang di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Bandung, meninggalkan warisan abadi berupa keberanian yang terpahat di ujung pena.
Sumber: Wikipedia

Abdoel Moeis juga punya andil dlm melobi ratu belanda utk disetujuinya keberadaan ITB di awal mula
Sebagai orang Soengai Poear, bang Yani mesti memperjuangkan nama Abdoel Moeis ini eksis dalam Museum ITB yg launching sekarang ini
Bahkan, sebelum era kolonial, masyarakat Sungai Pua terkenal dengan keahlian menempa logam. Sampai tahun 1942, keahlian ini digunakan untuk memproduksi alat-alat pertahanan diri, kunci senapan, hingga menjadi pemasok peluru bagi perlawanan rakyat terhadap serdadu Belanda.

Keretapi sawah Lunto ke Indarung di bangun kerjasama Angku Lareh (orang tua dari Abdul Moeis) dengan Belanda.
Ado yang meragukan kalau Abdoel Moeis terlibat aktif dalam menginisiasi pendirian TH/ITB 1920
1917 memang Abdoel Moeis ado kegiatan di Belanda….tapi bukan utk urusan terkait pendirian THS/ITB

Kenapa Atap Aula Barat/Timur ITB Bergaya Gonjong Rumah Gadang? (d/h Abdoel Moeis Penggagas ITB)
| Catatanku https://share.google/HqWbqNPv906vb2vBa

Abdul Muis (Pahlawan Nasional pertama) memiliki peran krusial dalam pendirian ITB. Pada 1917, ia melakukan misi diplomasi ke Belanda, melobi tokoh elit hingga Ratu Belanda (Ratu Wilhelmina).
Lobi tersebut sukses mewujudkan berdirinya Technische Hoogeschool te Bandoeng (cikal bakal ITB), dengan mengusulkan lokasinya di Bandung.
Peran penting Abdul Muis dalam sejarah pendirian kampus tersebut mencakup:
Lobi Kerajaan Belanda: Selama kunjungannya ke Belanda, Abdul Muis berpidato dan berdialog meyakinkan tokoh elit serta Kerajaan Belanda akan pentingnya pendidikan tinggi teknik di tanah air.
Pengusul Lokasi Bandung: Abdul Muis adalah sosok yang mengusulkan agar lembaga pendidikan tinggi teknik (kini ITB) didirikan di Bandung, Jawa Barat.
Arsitektur Atap Bagonjong: Sebagai bentuk penghormatan atas usul dan peran Abdul Muis yang berasal dari Sumatra Barat, bentuk atap beberapa gedung di kampus ITB dirancang menyerupai atap gonjong khas rumah adat Minangkabau.

Abdoel Moeis Pahlawan Nasional Pertama. Komplit kemampuan nya
Sastrawan
Wartawan
Pengusaha
Politisi
Pendidikan

Abdul Moeis Pahlawan Nasional pertama dan Mentor dari 2 (dua) Proklamator Soekarno Hatta

Abdul Moeis tetap Eksis sebagai andil dalam sejarah awal mula ITB nya itu jangan sampai tak masuk pula.
Jl. Abdoel Moeis masih ada, terminal Abdoel Moeis sudah tidak ada lagi, jangan sampai dalam sejarah ITB lupa pula kepada Abdul Moeis ini

Kunjungan Abdoel Moeis ke Belanda pada tahun 1917 merupakan misi resmi dari Sarekat Islam (SI) untuk mempropagandakan komite Indie Weerbaar (pembentukan milisi pertahanan pribumi).
Meskipun dalam beberapa narasi sejarah populer ia sering dikaitkan dengan pelobian pendirian Technische Hooge School (THS/ITB), peran utamanya dalam misi tersebut memang murni untuk urusan politik pergerakan, yaitu mendesak pemerintah kolonial memberikan hak politik dan militer kepada bangsa pribumi.


Singa Pergerakan Islam dari Pitalah Tanah Datar, Inilah Rekam Jejak Saalah Yusuf Sutan Mangkuto Pelopor Muhammadiyah dan Bupati Solok Pertama.
Keteguhan prinsip seorang tokoh pergerakan dalam memperjuangkan pembaruan pemikiran Islam sering kali menuntutnya untuk melewati jalan sunyi yang penuh dengan tantangan politik dan dinamika zaman.

Dilahirkan di Nagari Pitalah, Tanah Datar pada tahun 1901, Saalah Yusuf Sutan Mangkuto tumbuh besar dalam lingkungan religius yang kuat sebagai putra dari seorang pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah.
Titik awal perjuangan profesional Saalah Yusuf Sutan Mangkuto dimulai ketika beliau merantau ke Padang untuk mengabdi sebagai penasihat politik dan membantu penerbitan surat kabar milik Abdul Muis.
Langkah awal Saalah Yusuf Sutan Mangkuto sempat menemui fase titik rendah ketika usaha beliau mendirikan Perkumpulan Tani di kampung halaman mengalami kegagalan total hingga memaksanya pindah ke Padang Panjang.
Titik balik agung dalam garis kehidupan Saalah Yusuf Sutan Mangkuto tercipta pada tahun 1925 setelah beliau menghadiri Kongres Al-Islam di Yogyakarta dan mendalami ideologi Muhammadiyah dari Fachruddin.
Sekembalinya ke ranah Minang, Saalah Yusuf Sutan Mangkuto bergerak cepat memelopori pendirian cabang Muhammadiyah di Padang Panjang pada 2 Juni 1926 sebagai motor pembaruan Islam.
Keberhasilan memimpin organisasi tersebut membuat reputasi Saalah Yusuf Sutan Mangkuto melejit hingga dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah Sumatra Tengah.
Pasca-proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, kapasitas kepemimpinan Saalah Yusuf Sutan Mangkuto diakui oleh pemerintah pusat hingga beliau resmi ditunjuk sebagai Bupati Solok yang pertama.
Meskipun sempat terlibat dalam gejolak politik lokal Peristiwa Tiga Maret pada tahun 1947, ketokohan Saalah Yusuf Sutan Mangkuto tetap dihormati secara luas oleh para petinggi militer.
Residen Mr. Rasjid kemudian mempercayakan amanah strategis kepada Saalah Yusuf Sutan Mangkuto untuk menjabat sebagai Bupati Militer Lima Puluh Kota pada masa perang kemerdekaan tahun 1949.
Memasuki era pemerintahan sipil, Saalah Yusuf Sutan Mangkuto turut memberikan sumbangsih besar bagi dunia pendidikan dengan menjadi panitia pembentukan Balai Perguruan Tinggi Hukum Pancasila yang menjadi cikal bakal Universitas Andalas.
Puncak karir politik legislatif diraih secara gemilang ketika Saalah Yusuf Sutan Mangkuto sukses terpilih menjadi Anggota DPR Republik Indonesia mewakili rakyat Sumatra Tengah dalam Pemilu 1955.
Langkah perjuangan politik Saalah Yusuf Sutan Mangkuto kembali memasuki masa-masa senyap setelah beliau dengan tegas menjatuhkan pilihan untuk mendukung gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia pada tahun 1958.
Setelah mengarungi seluruh samudera pengabdian yang berliku di panggung agama, birokrasi, dan parlemen negara, Saalah Yusuf Sutan Mangkuto menghembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada Februari 1974.
Sumber: Wikipedia – “S.Y. Sutan Mangkuto”

Dua Presiden Indonesia yang Kerap Terlupakan, tetapi Berjasa Menyelamatkan Republik
Sejarah Indonesia tidak hanya mencatat nama Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, dan Prabowo Subianto sebagai pemimpin bangsa. Di balik perjalanan panjang Republik Indonesia, terdapat dua tokoh yang pernah memegang tampuk kepemimpinan negara pada masa-masa paling genting, namun sering terlupakan dalam catatan sejarah. Mereka adalah Syafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat.

Meski masa kepemimpinan keduanya berlangsung singkat, jasa mereka sangat besar dalam menjaga keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia ketika menghadapi ancaman yang dapat menghilangkan eksistensi bangsa.

Syafruddin Prawiranegara: Presiden Darurat Penyelamat Republik
Syafruddin Prawiranegara lahir pada 28 Februari 1911 dan dikenal sebagai seorang negarawan, ekonom, sekaligus pejuang kemerdekaan Indonesia. Sebelum memimpin pemerintahan darurat, ia menjabat sebagai Menteri Keuangan dan berperan penting dalam penerbitan serta peredaran Oeang Republik Indonesia (ORI), mata uang pertama Republik Indonesia.

Peran terbesarnya muncul ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948. Dalam agresi tersebut, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap serta diasingkan. Sebelum ditawan, keduanya memberikan mandat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintahan darurat apabila komunikasi dengan pemerintah pusat terputus.
Menjalankan amanat tersebut, pada 22 Desember 1948 Syafruddin mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi, Sumatera Barat. Pemerintahan darurat ini menjadi bukti kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih berdiri dan tetap memiliki pemerintahan yang sah.

Selama hampir tujuh bulan, Syafruddin memimpin perjuangan melalui pemerintahan bergerilya di pedalaman Sumatra. Berkat kepemimpinannya, eksistensi Republik Indonesia tetap terjaga hingga akhirnya Belanda bersedia kembali ke meja perundingan.
Setelah Soekarno dan Hatta dibebaskan, Syafruddin secara sukarela mengembalikan mandat kepemimpinan kepada Presiden Soekarno pada 13 Juli 1949. Sikap tersebut menjadi contoh nyata bahwa kepentingan bangsa berada di atas kepentingan pribadi.

Mr. Assaat: Pemangku Jabatan Presiden di Masa Republik Indonesia Serikat
Tokoh kedua adalah Mr. Assaat, lahir pada 18 September 1904. Ia merupakan pejuang kemerdekaan, politisi, dan pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia.
Setelah Konferensi Meja Bundar pada akhir 1949, Indonesia berubah menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) yang terdiri atas beberapa negara bagian. Dalam struktur pemerintahan RIS, Soekarno diangkat menjadi Presiden RIS, sedangkan Mohammad Hatta menjabat sebagai Perdana Menteri RIS.
Akibat perubahan tersebut, jabatan Presiden Republik Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta menjadi kosong. Berdasarkan ketentuan konstitusi saat itu, Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), yaitu Mr. Assaat, ditunjuk sebagai Pemangku Sementara Jabatan Presiden Republik Indonesia.
Selama menjabat, Assaat dikenal sebagai sosok yang sederhana, rendah hati, dan mengutamakan kepentingan rakyat. Ia bahkan menolak dipanggil dengan gelar kebesaran seperti “Yang Mulia Paduka”. Salah satu jasanya yang dikenang adalah turut menandatangani pendirian Universitas Gadjah Mada (UGM), yang kemudian berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
Ketika Republik Indonesia Serikat dibubarkan dan Indonesia kembali menjadi negara kesatuan pada 17 Agustus 1950, Assaat menyerahkan kembali jabatan Presiden kepada Soekarno. Setelah itu, ia tetap mengabdi kepada negara sebagai anggota parlemen dan Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Natsir.
Jasa Besar yang Tak Boleh Dilupakan

Syafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat mungkin tidak tercatat sebagai Presiden Republik Indonesia dalam daftar resmi yang diajarkan di sekolah. Namun, keduanya pernah menjalankan fungsi kepala negara pada masa yang sangat menentukan bagi kelangsungan Republik.
Syafruddin menyelamatkan eksistensi Indonesia melalui Pemerintah Darurat Republik Indonesia ketika para pemimpin bangsa ditawan Belanda. Sementara itu, Mr. Assaat menjaga kesinambungan pemerintahan Republik Indonesia di tengah masa transisi Republik Indonesia Serikat.

Tanpa dedikasi, keberanian, dan pengabdian kedua tokoh tersebut, perjalanan sejarah bangsa Indonesia mungkin akan berlangsung dengan cara yang berbeda. Karena itu, nama Syafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat layak dikenang sebagai bagian penting dari sejarah perjuangan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia.
Sumber : persfe.com


Bung Sjahrir. Sosok Sutan Syahrir, salah seorang tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia tentu tak bisa diabaikan.

Keuletan diplomasi bung Sjahrir membuat dia begitu dikenal di Negeri Belanda. Di pinggiran Kota Leiden ada nama jalan yang dikenal dengan Sjahrir Straat.

Tokoh yang lahir di Padang Panjang, Sumbar, 5 Maret 1909 saling membahu dgn tokoh lain semisal Bung Hatta, Tan Malaka, Moh. Natsir, Bung Karno dll utk merebut kemerdekaan negeri ini. Bahkan pernah mendapat amanah sebagai Perdana Menteri, Menlu, Perwakilan Indonesia di markas PBB dll.
Namun kasus PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) tahun 1958, hubungan Sjahrir dengan Bung Karno memburuk, hingga partainya dibubarkan oleh Bung Karno dan dituduh terlibat dalam PRRI bersama partai Masyumi.

Akhirnya Sjahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili hingga menderita stroke. Sjahrir diizinkan berobat ke Zurich, Swiss. Pada tanggal 9 April 1966 tokoh ini wafat dan jenazahnya dibawa ke tanah air untuk dikebumikan di TMP Kalibata, Jakarta.
Hatta berpidato dengan mata berkaca-kaca melepas almarhum menuju liang lahat yang diikuti oleh seluruh pengantar. Hatta iberujar : Sutan Sjahrir berjuang demi bangsanya, tetapi wafat dalam status tahanan politik.

Barangkali untuk mengobati penyesalan, Bung Karno menganugerahi Sjahrir sebagai Pahlawan Nasional tanggal 15 April 1966…

Note : disarikan dari buku Pengaruh Budaya Minangkabau terhadap tokoh2 pejuang Sumatera Barat, oleh: Muh. Resky & Djoharly Chaniago
Penerbit : Deepublish, Yogyakarta, 2023.