Madaniyah dan Hadhariy

KONSEP BRILIAN SYAIKH TAQIYUDDIN AN-NABHANI TENTANG HADHARAH DAN MADANIYAH

Seorang teman pernah melontarkan satu pertanyaan “Katanya menentang Cina, tapi kok pakai produk-produk Cina?” Pertanyaan semacam ini dulu juga pernah dilontarkan orang dengan pertanyaan yang mirip. Misalnya, “Katanya memusuhi Yahudi, kok memakai produk Yahudi?”. Atau yang lain misalnya, “Katanya menolak segala sesuatu yang berasal dari Barat, kok malah pakai produknya orang-orang Barat?” Bahkan, ada yang lebih “parah” yang bertanya dengan sinis, “Katanya segala sesuatu yang baru itu bid’ah, tapi kok pakai barang-barang yang ditemukan orang kafir?” Nah, yang terakhir ini bahkan dihubungkan dengan bid’ah.

Pertanyaannya: Apakah semua benda-benda produk orang-orang kafir harus ditolak? Jika tidak, mana hal-hal yang harus ditolak dan mana yang boleh untuk diambil? Pertanyaan ini dijawab dengan sangat baik oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam bukunya Peraturan Hidup dalam Islam. Di sana ada satu bab yang membahas tentang hadharah dan madaniyah. Pembahasan bab tersebut mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan di atas. Sebagai tambahan, akan dijelaskan sedikit dalam tulisan ini tentang bid’ah dan sikap politik.

PERBEDAAN HADHARAH DAN MADANIYAH

Di kala begitu banyak orang mengalami kebingungan untuk menjawab berbagai pertanyaan di atas dan yang sejenisnya, ada sebuah kajian menarik dari Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani. Dalam buku Peraturan Hidup dalam Islam, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani membedakan antara hadharah dan madaniyah.

Hadharah adalah sekumpulan mafahim (pemahaman, pandangan hidup) yang dianut dan mempunyai fakta (realitas) tentang kehidupan. Sedangkan madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera (bisa dilihat, didengar, dan diraba) yang digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Hadharah memiliki sifat khas. Sedangkan madaniyah adalah berkaitan benda-benda hasil teknologi atau hasil peradaban suatu umat tertentu. Karena itu, madaniyah bersifat ‘aam (umum), walau ada juga madaniyah yang bersifat khas.

Bagi seorang muslim, seluruh hadharah (pandangan hidup) yang berasal dari paham-paham selain Islam, hukumnya haram untuk diambil. Mengapa demikian? Sebab, ada perbedaan mendasar antara hadharah (pandangan hidup) Islam dan hadharah selain Islam. Hadharah Islam berpijak dari Al-Quran dan As-Sunah. Sedangkan hadharah Barat, bersumber dari selain Al-Quran dan As-Sunah. Artinya, hadharah selain Islam bersumber dari pemikiran manusia; atau semata-mata karena bersumber dari akal semata. Yang jelas tidak berasal dari Al-Quran dan As-Sunah.

Banyak orang menyatakan bahwa demokrasi itu termasuk hadharah Islam, sebab juga ‘diambil’ dari Al-Quran dan As-Sunah. Mereka menyatakan bahwa Islam mensyariatkan musyawarah, maka demokrasi pun boleh diambil oleh kaum muslim. Artinya, demokrasi disamakan dengan musyawarah. Pernyataan ini jelas kurang tepat.

Pernyataan semacam ini terkesan tidak melihat realitas (fakta) demokrasi dan musyawarah secara menyeluruh. Atau, melihat demokrasi dan musyawarah secara setengah-setengah. Pernyataan ini dikokohkan dengan mengutip ayat Al-Quran, yaitu Surah Asy Syura ayat 37-38. Dalam ayat tersebut terdapat penggalan ayat: Wa amruhum syuuraa bainahum (sedangkan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka). Syura yang dimaksud di sini, disamakan dengan demokrasi. Dengan anggapan, dalam demokrasi aktivitas utamanya adalah syura atau bermusyawarah.

Jika ditelusur, demokrasi (kadang-kadang) memang menggunakan musyawarah sebagai teknis pengambilan keputusan. Tetapi harus dilihat, asas demokrasi adalah sekulerisme (ide yang memisahkan agama dari kehidupan). Inilah yang menjadi permasalahannya.

Artinya, asas ‘musyawarah’ demokrasi memang sekulerisme. Jadi, untuk menentukan halal atau haram, dilakukan atau tidak dilakukan, diputuskan atau tidak diputuskan, dilegalkan atau tidak dilegalkan; semuanya berdasarkan akal pikiran manusia, bukan Al-Quran dan As-Sunah. Inilah fakta demokrasi.

Ini jelas tidak sama dengan konsep musyawarah dalam Islam. Sebab, yang menentukan halal-haram, diputuskan atau tidaknya sebuah kebijakan, tetap harus berdasarkan Al-Quran dan As-Sunah, bukan akal manusia. Terlebih lagi jika melihat fakta sejarah, lahirnya demokrasi adalah di Eropa, bukan di masa Nabi Muhammad saw. Otomatis, pandangan-pandangan hidup yang mendasarinya juga berasal dari pandangan hidup-pandangan hidup orang-orang Eropa.

Dengan demikian, demokrasi bukanlah hadharah Islam, tetapi demokrasi adalah hadharah Barat yang bertentangan dengan Islam. Sebab, musyawarah tetap harus berasaskan pada Al-Quran dan As-Sunah, bukan berasaskan pada kehendak manusia sendiri.

Satu contoh. Islam telah menyatakan, untuk menentukan apakah riba itu halal atau haram, jelas tidak bisa dilakukan dengan musyawarah. Tetapi dengan dalil-dalil syariah yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunah. Tetapi di negara demokrasi, boleh tidaknya riba ditentukan berdasarkan musyawarah parlemen.

Padahal, Allah telah menegaskan: wa ahalallaahul bai’a wa harramar ribaa (dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba). Demikian juga sabda Rasulullah: Ar ribaa tsalaatsatun wa sab’uuna baaban, aisaruhaa mitslu an yankiha rajulu ummahu (Riba itu memiliki 73 pintu. Yang paling ringan dosanya adalah seperti seseorang yang mengawini ibunya), hadis riwayat Hakim dan Baihaqi. Jadi, sesuatu yang sudah diharamkan Allah, tidak perlu dimusyawarahkan lagi. Tetapi dalam demokrasi, tetap harus dimusyawarahkan terlebih dahulu.

Contoh lain, di negara demokrasi, untuk menentukan apakah perusahaan-perusahaan asing boleh mengelola kekayaan alam ataukah tidak, selama ini ditentukan oleh kebijakan penguasa (eksekutif) dan disetujui parlemen. Artinya, eksekutif dan legislatif bermusyawarah untuk melegalkan perusahaan-perusahaan asing itu mengelola kekayaan milik rakyat.

Berdasarkan pandangan Islam, model seperti ini tidak tepat. Sebab menurut hukum Islam, kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak adalah milik umum, bukan milik pemerintah (negara) sehingga negara bisa dengan seenaknya menyerahkan ke pihak asing.

Rasulullah bersabda: Al muslimuuna syurakaa-u fii tsalaatsin, fil maa-i, wal kala-i, wannaari (kaum muslimin berserikat dalam tiga hal, air padang rumput dan api), hadis riwayat Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Majah. ‘Illat (sebab ditetapkannya hukum) kepemilikan umum tersebut adalah sesuatu yang berjumlah besar/banyak (dalam hadis lain dikatakan seperti sesuatu yang bersifat bagaikan air mengalir).

Berdasarkan hadis di atas, maka sumber daya energi termasuk dalam kepemilikan umum karena dua aspek: yaitu termasuk dalam frasa ‘api’ sebagai sumber energi serta ‘tersedia dalam jumlah yang besar’. Karena milik umum, maka negara tidak memiliki hak apa pun untuk mengambilnya, apalagi menjualnya kepada pihak asing. Justru karena dikelola pihak asing itulah kemudian kekayaan alam di negeri ini tidak pernah dirasakan oleh rakyat. Ini akibat dari penerapan hadharah selain Islam.

Jadi, hadharah adalah sebuah pandangan atau pedoman hidup manusia, yang dengannya manusia bertindak, bersikap, berbuat. Karena itu, seorang muslim wajib terikat dengan hadharah Islam. Sedangkan hadharah Islam sendiri bertentangan dengan hadharah selain Islam.

Sedangkan madaniyah adalah berbagai benda-benda hasil olah akal manusia yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kadang-kadang madaniyah juga dipengaruhi pandangan hidup tertentu. Karena itulah, madaniyah ada dua jenis, yaitu yang bersifat umum dan yang bersifat khas (khusus).

Yang bersifat umum seperti hasil kemajuan teknologi, hukumnya boleh untuk diambil, sebab tidak mengandung pandangan hidup tertentu yang berlawanan dengan Al-Quran dan As-Sunah.

Sebagai contoh komputer. Komputer memang dihasilkan oleh teknologi orang Barat. Akan tetapi mengambilnya, mempergunakannya, tetap diperbolehkan. Sebab komputer tidak mengandung pandangan hidup tertentu. Demikian pula mobil, kendaraan, handphone, teknik industri, teknik bangunan, pemrograman, atau aplikasi-aplikasi android; apa pun mereknya, dari mana pun sumbernya.

Dasar dari pemahaman ini adalah apa yang pernah dilakukan Rasulullah dan para sahabat ketika mengambil hasil teknologi dan hasil budaya orang-orang kafir, sebab tidak mengandung pandangan hidup tertentu. Rasulullah pernah menggunakan senjata Dababah dan Manjaniq buatan orang kafir.

Dababah adalah sebuah alat tempur yang memiliki moncong berupa kayu besar yang digunakan untuk menggempur pintu benteng musuh. Rasulullah saw. juga pernah menggunakan senjata Manjaniq dalam Perang Khaibar ketika menggempur benteng An-Nizar milik Yahudi Bani Khaibar. Manjaniq adalah sebuah ketapel raksasa yang biasa digunakan oleh orang Romawi dalam menyerang musuh dari jarak jauh.

Demikian pula Rasulullah pernah membuat parit di sekitar kota Madinah dalam Perang Khandaq. Salman Al-Farisi, sahabat Rasulullah saw. yang berasal dari Parsi mengusulkan agar di sekeliling kota Madinah digali parit sebagaimana dulu dia pernah membuatnya bersama orang-orang Parsi.

Umar bin Khathab, juga pernah mengadopsi sistem administrasi orang-orang Romawi dan Parsi untuk mengurus sistem administrasi daulah Islamiyah. Berbagai fakta di atas menunjukkan bahwa hasil peradaban selain umat Islam boleh untuk diambil dan dimanfaatkan selama tidak mengandung pemahaman dan pandangan hidup tertentu.

Sedangkan madaniyah yang bersifat khas, tidak boleh diambil dan dimanfaatkan. Madaniyah khas adalah segala hasil karya manusia yang mengandung pandangan hidup tertentu. Contohnya adalah benda salib. Kaum muslimin tidak boleh mengambilnya atau memakainya dalam keadaan apa pun, sebab memiliki pandangan hidup tertentu, yaitu pandangan tentang konsep ketuhanan orang-orang Nasrani.

Contoh lain adalah candi dan patung dewa-dewa. Kaum muslim juga tidak diperkenankan untuk mengambil patung-patung dewa Yunani atau Hindu, sekalipun hanya untuk perhiasan. Sebab hal itu mengandung pandangan hidup tertentu, yaitu konsep kepercayaan. Atau seni lukis yang mengandung kepornoan dengan alasan seni. Ini juga tidak boleh diambil dan dimanfaatkan karena bertentangan dengan pandangan hidup Islam.

Inilah pembahasan tentang madaniyah atau berbagai peralatan kehidupan yang digunakan orang dalam kehidupan sehari-hari. Jika madaniyah tersebut mengandung pandangan hidup atau hadharah selain Islam, kita tidak boleh menggunakan atau memanfaatkannya. Tetapi jika bersifat umum, maka boleh kita ambil atau kita gunakan.

APA ITU BID’AH?

Ada satu lagi pembahasan yang seringkali membuat orang terjebak, apakah ini disebut bid’ah atau bukan. Bid’ah memiliki arti menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Sedangkan menurut istilah bid’ah adalah setiap perbuatan yang tidak didatangkan oleh syariat, atau setiap perbuatan yang menyalahi syariat. Perbuatan semacam ini termasuk dalam sabda Rasulullah saw.: Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa raddun (Siapa saja yang melakukan suatu perbuatan yang tidak ada ketentuannya dalam agama kami adalah tertolak), hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

Hanya saja tidak semua perbuatan yang “tidak didatangkan oleh syariat atau tidak ada pada masa Rasulullah saw.” pasti disebut bid’ah. Sebab, terdapat banyak sekali perbuatan-perbuatan yang sebenarnya didasarkan pada dalil-dalil yang bersifat umum. Perbuatan-perbuatan semacam ini tidak disebut sebagai bid’ah. Misalnya belajar matematika, belajar IPA, mempelajari nuklir, mempelajari sel-sel makhluk hidup dan tumbuhan, dan sebagainya. Perbuatan-perbuatan ini berangkat dari dalil-dalil yang sifatnya umum, yaitu dalil menuntut ilmu. Padahal, semua perbuatan tersebut tergolong baru, belum ada pada masa Rasulullah saw.

Demikian pula, pergi rekreasi, menetapkan mahar berupa seperangkat alat salat, cincin, atau Al-Quran, membangun tempat azan, menyalakan listrik di dalam masjid, memakai pengeras suara ketika azan dan iqamat, dan sebagainya, juga bukan merupakan bid’ah.

Semua perbuatan di atas memang tidak dijelaskan secara detail dan terinci, baik pada masa Rasul maupun pada masa sahabat. Tetapi semuanya mencakup dalil-dalil yang sifatnya umum.

Jadi, bid’ah adalah perbuatan yang menyalahi syariat. Ini tidak berlaku untuk semua jenis perbuatan, tetapi hanya berlaku pada perbuatan-perbuatan yang telah ditentukan tata cara (kaifiyah) pelaksanaannya oleh syariat.

Sebenarnya, syariat tidak membatasi tata cara (kaifiyah) pelaksanaan perbuatan kecuali dalam masalah ibadah (di luar jihad). Selain dalam masalah ibadah, syariat tidak membatasi tata cara, melainkan hanya menentukan tata cara pengelolaannya (tasharruf)-nya. Menyalahi tasharruf yang telah ditentukan syariat, tidak disebut bid’ah, tetapi bisa haram atau makruh’ atau bisa fasad atau bathil.

Misalnya mendirikan Perseroan Terbatas (PT) atau perusahaan saham, tidak termasuk kategori bid’ah, hanya saja hukumnya haram. Memerangi orang kafir yang belum tersentuh dakwah Islam, bukan disebut bid’ah, tetapi hukumnya tidak boleh. Melukis wanita telanjang, tidak termasuk bid’ah tetapi hukumnya juga tetap tidak boleh alias aharam. Menganut demokrasi, tidak terkategori bid’ah, hanya saja hukumnya haram.

Lain halnya dengan ibadah mahdhah. Azan adalah ibadah. Tata caranya telah ditentukan oleh syariat. Menambah satu kata atau kalimat di dalam azan, termasuk bid’ah. Salat subuh itu dua rekaat. Menambah satu rekaat dengan alasan cinta kepada Allah, termasuk bid’ah. Berdoa itu adalah ibadah. Ada dalil yang menyatakan bahwa berdoa itu dengan mengangkat tangan. Ini adalah tata cara spesifik (kaifiyah makhshushah) dalam berdoa. Oleh karena itu, siapa saja yang menyalahinya, misal berdoa dengan mengepalkan tangan atau dengan tangan di pinggang, jelas ini adalah bid’ah.

SIKAP POLITIK

Yang terakhir adalah sikap politik. Pembahasan ini juga tidak kalah penting, dan masih sangat terkait dengan pertanyaan-pertanyaan teman saya di atas. Sikap politik adalah sebuah sikap yang ditunjukkan dalam rangka merespon sikap politik pihak lain.

Sikap semacam ini penting dimiliki setiap muslim agar tidak mudah ditunggangi pihak lain. Rasulullah saw adalah teladan terbaik dalam segala hal, termasuk dalam berpolitik. Pada saat Rasulullah didatangi para pemuka Quraisy, melalui paman beliau yaitu Abu Thalib, para pemuka Quraisy ini membujuk Rasulullah saw agar menghentikan dakwahnya. Para pemuka Quraisy tidak segan-segan akan memberikan harta dan kedudukan untuk Muhammad.

Mereka berkata, ‘Wahai Muhammad, kami mengirim utusan untuk menyudahi perselisihan denganmu. Demi Allah, selama ini kami belum pernah melihat adanya satu orang Arab yang bisa menimbulkan kesulitan bagi kaumnya sebagaimana yang telah engkau lakukan. Engkau mencerca nenek moyang kami, mencaci maki agama kami, mencela nilai-nilai anutan kami, memburukkan tuhan-tuhan kami, dan memecah belah kesatuan kami. Jika semua ini engkau lakukan karena mencari kekayaan, kami akan mengumpulkan harta kekayaan kami dan membuatmu menjadi orang terkaya di antara kami. Jika yang engkau inginkan adalah kedudukan, kami akan menjadikanmu sebagai pemimpin kami. Jika engkau menghendaki kekuasaan, kami akan menjadikanmu raja atas diri kami.’

Tetapi Rasulullah saw. menjawab, ‘Tawaran kalian tidak berlaku untukku. Aku datang membawa risalah ini bukan karena mencari kekayaan, kedudukan di antara kalian, ataupun kekuasaan.'”

Apa yang ditunjukkan Rasulullah saw merupakan sebuah sikap politik yang jelas. Beliau tidak ingin kekuasaan yang beliau miliki adalah hasil pemberian pihak lain, yang itu akan membuatnya tidak memiliki kuasa untuk menjadikan Islam sebagai qiyadah fikriyyah (kepemimpinan berpikir) bagi kepemimpinan beliau.

Namun, ketika Rasulullah saw menerima kekuasaan dari orang-orang Aus dan Khazraj, beliau pun menerimanya. Sebab, beliau yakin, kepasrahan suku Aus dan Khazraj dalam mengangkat beliau sebagai pemimpin, adalah benar-benar kekuasaan yang tulus, dan independen.

Begitulah sikap politik. Sikap politik ditunjukkan semata-mata untuk menunjukkan sikap atas sikap politik pihak lain, yang dengan begitu maka kita tidak akan mudah ditunggangi atau dibajak oleh pihak lain.

Sikap serupa juga pernah ditunjukkan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah, penulis buku Peraturan Hidup dalam Islam yang di dalamnya terdapat pembahasan tentang hadharah dan madaniyah. Beliau pernah beberapa kali bekerja di pemerintahan Kerajaan Yordania, sebagai qadhi di mahkamah isti’naf (mahkamah banding), menjadi sekretaris qadhi, menjadi pengajar, dan sebagainya.

Namun setelah terjadinya peristiwa antara beliau dengan Raja Abdullah (Raja Yordania pada saat itu, tahun 1950-an), beliau pun berkata kepada dirinya sendiri, “Sesungguhnya orang seperti saya, tidak layak mengampu jabatan apa pun dari sebuah pemerintahan.”

Ya, beliau menolakkan dirinya sendiri dari jabatan-jabatan pemerintahan (pegawai negeri), namun beliau tidak pernah mengharamkannya. Inilah sikap politik, sikap yang ditunjukkan karena sikap atau peristiwa politik tertentu.

Berdasarkan pemahaman tersebut, maka harus dipahami bahwa sikap politik umat Islam saat ini terhadap madaniyah produk-produk Cina dan Barat, atau produk Yahudi, bukanlah bentuk pengharaman atas berbagai madaniyah tersebut.

Maksudnya, sebagai sebuah sikap politik, boleh-boleh saja kaum muslim melakukan boikot terhadap madaniyah produk-produk Cina atau Barat (dalam hal ini produk Yahudi). Tetapi, sikap politik semacam ini tidak boleh dipahami sebagai bentuk pengharaman. Sebab, keharaman berbagai benda-benda, sangat ditentukan oleh zat penyusunnya, bukan dari negara mana benda tersebut diproduksi.

Lantas, sikap politik ini apakah wajib dilakukan kaum muslim? Sekali lagi, ini adalah sebuah sikap politik. Sikap politik seorang muslim sangat dipengaruhi hukum syara’. Karena itu, sikap politik seorang muslim terhadap madaniyah produk-produk Cina atau produk Barat atau produk Yahudi, juga tetap harus didasarkan pada hukum syara’ mengenai hukum asal benda.

Bagi kaum muslim yang “tidak” memboikot produk Cina, apakah hal tersebut bisa dikatakan tidak memiliki sikap politik? Jawabannya, belum tentu. Sebab, sikap politik terhadap Cina atau Yahudi, bukan ditentukan oleh pemakaian madaniyah produk-produk mereka. Namun, sikap politik bisa ditunjukkan dengan beragam sikap.

Jadi, memboikot madaniyah Cina atau Yahudi, bukanlah satu-satunya sikap politik yang bisa ditunjukkan. Sikap politik bisa ditunjukkan dengan cara apa pun, selama dalam batas-batas hukum syara’. Justru menjadi salah kaprah dan kurang produktif dan solutif jika menganggap bahwa: 1) Satu-satunya sikap politik terhadap Cina dan Yahudi adalah dengan memboikot produk-produk madaniyah mereka, dan 2) Menganggap bahwa pemboikotan terhadap madaniyah produk mereka adalah bentuk pengharaman.

Inilah yang harus dipahami oleh seorang muslim terkait hadharah, madaniyah, bid’ah, dan sikap politik. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Sumpah Setia ABSSBK di Bukik Marapalam

SUMPAH SATIE BUKIK MARAPALAM

Pesan khusus tentang Dokumen Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam… Inyiak Canduang ….,

Ingin kami jelaskan agar sejarah tidak diputar balikan izinkan saya mengoreksi catatan diatas tentang Sari Pati Sumpah Satir Bukit Marapalam… Inyiak Canduang tersebut bahwa yang menulisnya bukan Inyiak Canduang

Beliau (Inyiak Canduang) hanya mengimlakkan atau mendiktekan dan menanda tanganinya

Dokumen itu ditulis berdasarkan diktean Inyiak Canduang tersebut oleh almarhum H.Muhammad Said Datuak Tan Kabasaran yang waktu itu menjabat Sekretaris Majelis Ulama Sumatera Barat (belum ada MUI mada itu)….

Tulisan itu diminta dituliskan kembali dari catatan pikiran Inyiak Canduang atas permintaan Buya H. Mansur Daud Datuak Palimo Kajo Ketua MUSB ….

Disebabkan ketika itu Ranah Minang Sumatera Barat sedang dalam inceran Gerakan Salibiyah Baptis yang berpusat di Bukittinggi dipimpin oleh Pendeta Dr. Owen dan istrinya dari Amerika Serikat …

Kertas zegel itu mungkin tahun 1964 tetapi peristiwa penulisannya adalah awal tahun 1966 ….

Sedemikianlah kami jelaskan agar sejarah tidak salah.
Mohon maaf…
Terimakasih banyak…

Wassalam Buya HMA
Buya Hma Majo Kayo
Buya Masoed Abidin Za Jabbar
Buya MAbidin Jabbar
Buya HMAbidin Jabbar

Perpaduan Adat MINANGKABAU dengan SYARIAT ISLAM mesti terus dipeliharakuatkan

*TANTANGAN TERHADAP ADAT MINANGKABAU DAN PELAKSANAAN SYARIAT ISLAM DI DALAM PERPADUAN ADAT MINANGKABAU  ITU*

*Sudah sangat banyak usaha untuk menghapus Minang ini*.
Karena *Minang anti pemurtadan*.
Minang *konsekwen dengan NKRI* sejak *Mosi Integral Natsir*.
Minang *anti komunis* dan sangat mendukung *keadilan pemerataan pembangunan antara pusat dan daerah* sampai dibuktikan dgn PRRI.
Minang pendukung kepemimpinan *Dwitunggal*.
Minang *penjaga UUD1945 secara murni*.
Minang *beradat dengan Syariat Islam*.
Minang *bersyariat Islam berdasar AlQuranul Karim Kitabullah*.
Begitu tegasnya Minang maka banyak orang yang benci.
Maka janganlah heran bila banyak usaha untuk meniadakan Minang. 
Baik itu melalui kaderisasi kepemimpinan maupun peran.

Suatu budaya, adat maupun Agama akan tergerus dari dalam lingkungannya sendiri, dikarenakan: Yang menegakkan budaya, adat juga Agama telah meninggalkan budaya adat maupun Agama itu.

Waktu/masa sangat berperan penting atas perubahan cara pandang si pemakai, yang mempunyai budaya, adat, Agama untuk tidal lagi menegakkannya.

*Jadi bukan pihak lain/luar yang berperan penting untuk pembusukan suatu budaya, adat maupun Agama, namun datangnya dari pelaku adat yang mulai tidak acuh dengan aturan adatnya serta penganut agama yang mengabaikan syariat agamanya itu.*

*Amat perlu ada dan lahir tokoh kharismatik yang bisa memberikan suri tauladan kepada generesi milenial MINANGKABAU saat ini. Kalau tidak maka _untuk memperbaiki pelaksanaan adat dan syariat Agama Islam di dalam  adat MINANGKABAU saat ini mesti mengacu kepada upaya tiga hal, yaitu mengubah kesalahan yang ada dengan tanganmu, dan nasehat melalui mulutmu atau paling tidak selalu berdoa agar adat MINANGKABAU tetap dipandu oleh syariat agama Islam._*.

*Bersiaplah untuk bertahan tetap maju*.

*_Hiduik bakarilaan, putuih nan ka ma uleh, urang nan punyo nan malakek an_*, artinyo bana tagak gala bukan wajib sapakek organisasi KAN, LKAAM apolai urang kampuang.

Jan pernah gala SAKO kito urang minang pejabat pemerintah atau pihak lain yang malakek an, *_murah indak dimakan jua, rancak indak dimakan bali_* …

*_” Biriek biriek tabang ka samak, dari samak ma elo pandan, dari ninik turun ka mamak, dari mamak turun ka kamanakan “_*

Moga bermanfaat dan menjadi pikiran kita bersama.

Wassalaam
Buya Hma Majo Kayo
Buya Masoed Abidin Za Jabbar
Buya HMAbidin Jabbar
Buya MAbidin Jabbar

Paralu ko …. ???

PERLUKAH PERLINDUNGAN ULAMA ??? …

Assalamu’alaykum wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Alhamdulillah, selama ini (nangko) di Sumbar (Minangkabau) para ulama (ustadz, buya, guru agamo, tuanku, bilal, khatib, imam. Muballigh, muallim, atau apapun gelarnya di nagari nagari) sangat dihormati dan dilindungi oleh umatnya dan ditempatkan dalam rangkaian urang nan ampek jinih (orang 4 jenisnya itu, ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai dan bundo kanduang) … atau dimasuakkan dalam sebutan urang nan bajinih (orang yang berjenis memperoleh kemuliaan) dan digelari suluah bendang di nagar (suluh penerang dalam negeri) …

Mereka semua mendapat perlindungan dan penghormatan nan tinggi oleh anak nagari mereka tanpa diminta …

Sehingga penjajah Belanda pun tak mampu menjamahnya, kecuali menangkapnya dan memasukkannya ke Digul karena para ulama tersebut menjadi pejuang kemerdekaan.

Setelah Indonesia merdeka posisi ulama cukup baik bahkan ada yang menjabat Gubernur dan Kepala Daerah.

Maka posisi ulama tetap sebagai du’at ilaa Allah dan InsyaAllah Allah pula yang menjaganya. Yang jelas adalah ulama suluah bendang selalu berdiri menjaga keutuhan serta kejayaan bangsa dan negara maka tentu tidak ada alasan untuk mencelakakannya

Kemudian perlu pula kita pahami bahwa ulama suluah bendang dinagari itu bukanlah pegawai pemerintah, walau sebagian dari mereka berprofesi sebagai pegawai negeri

Ulama diangkat dan diakui oleh umatnya walau kadangkala instansi pemerintahan tidak memasukkannya kedalam daftar ulama yang bisa di suruh di seraya.

Kita ulang lagi menjawabnya

ingek ingek nan ka pai agak agak nan katingga kulimek sabalun abih ingek banai sabalun kanai ….

Dek karano lai tagak maninjau arah kok duduak lai ma rauik ranjau, mako …

*Ulama di Minangkabau adalah *Suluah Bendang dalam Nagari* ….

Pengakuan bagi mereka adalah dari anak Nagari sendiri. Imdak paralu SK dari ateh doh.

Kalau mereka masih berjalan dijalan Allah anak Nagari tetap akan merima mereka.

Gelar mereka macam macam, sajak dari tuanku, muallim, ustadz, tuan guru, engku faqih, engku imam, engku kadhi, inyiek syekh, Buya, engku Katik, Malim, bermacam gelar lain yang dianugerahkan oleh anak Nagari, bukan diminta oleh mereka, maka katanya akan didengar, langkahnya akan diikuti, larangannya akan ditinggalkan itulah dia ulama di Sumatera Barat menjadi Suluah Bendang dalam Nagari yang menjaga dan menerangi seluruh anak Nagari.

Mereka semua berurat ke hati umatnya dan tidak memerlukan SK sertifikat hitam di atas putih, tetapi mereka benar benar berpucuk keatas kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata ….

Demikian supaya jelas dimengerti.

Mohon maaf
Terimakasih banyak.
Wassalam
BuyaHMA
Buya Hma Majo Kayo
Buya Masoed Abidin Za Jabbar
Buya MAbidin Jabbar

Inyiek Parabek

SHEIKH IBRAHIM MUSA

Di Haul wafatnya Inyiak Parabek yang ke 57 (25 Juli 1963 – 25 Juli 2020) kembali sedikit kita bincang semula mengenai beliau terutamanya biografi paling awal sesuai iklan dalam Leerplan (Manhaj) Kulijah Dijanah Parabek tahun 1940 ini bahwa dalam Buku Tamar Djaja, “Poesaka Indonesia, Orang2 Besar Tanah Air” penulis prolifik awal kemerdekaan ini, asal Sungai Jariang alumni Thawalib Parabek juga dinyatakan bahwa akan dimuat biografi Inyiak Parabek.

TAPI setelah saya dapatkan bukunya, baik itu cetakan keempat tahun 1951 oleh G. Kolff & Co ketika masih 1 Jilid dan tahun 1966 terakhir dicetak oleh Bulan Bintang 2 jilid, saya tidak jumpai biografi Inyiak Parabek. Sejauh ini saya belum temukan apa sebabnya, padahal ulama se zaman dengan beliau seperti Inyiak Rasul bapaknya Prof Hamka, Dr Abdullah Ahmad, dll ada disana.

Kemungkinan jika tetap dimuat adalah di jilid ke 3 terbitan Bulan Bintang, karena di daftar isi jilid ke 2 disebutkan akan menyusul di jilid ke 3 Hanya saja setelah saya tanya kesana kemari, terutama penjual buku lawas, jilid ke 3 tersebut tidak ada, bisa jadi belum dicetak atau alasan lainnya. Saya juga tanyakan kepada pak Dr Surya Suryadi di Belanda, siapa tau ada simpanannya di Leiden TAPI infonya juga sama hanya ada 2 jilid saja buku Poesaka Indonesia tsb diterbitkan.

Biografi Inyiak Parabek yang ditulis oleh Tamar Djaja ini sangat penting karena ditulis saat inyiak Parabek masih hidup dan jadi sangat aneh dan jadi pertanyaan besar jika tidak masuk sebab Tamar Djaja adalah murid Inyiak ketika beliau sekolah di Parabek tahun 1934 apalagi telah di war-warkan pula dalam Leerplan Kulijah Dijanah Parabek asuhan Inyiak Parabek seperti di foto.

Jika ada yang punya informasi terkait isu ini, sangat dialu-alukan infonya.. Terima kasih

Kejayaan Masa Lalu adalah Islam

SIMBOL KEJAYAAN MASA LALU ITU ADALAH ISLAM.

Percobaan memutarbalik sejarah yang mengatakan bahwa Majapahit runtuh karena diserang Islam adalah kesalahan yang disengaja terhadap sejarah. Inilah cita-cita yang tertanam dari Prof. Snouck Hourgronye, yang telah mengetahui bahwa teguhnya urat keislaman di Indonesia, memberikan saran kepada pemerintah Belanda, supaya ditanamkan rasa kebangsaan yang meruncing pada bangsa Indonesia.

Maksud ini berhasil. Hilangnya penghargaan kepada Sunan Ampel dan Sunan Giri, tetonjolah kedepan nama Gajah Mada. Turunlah Nilai Raden Patah dan Patih Unus yang mencoba mengusir Portugis dari Malaka dan tertonjollah kedepan Raja Air Langga.

Padahal rasa kebangsaan dengan warna yang demikian itu tidaklah memperteguh rasa kebangsaan yang kita bina di saat sekarang, bahkan akan memecahkannya.

Sebab jika orang masih mengasihi dan memimpikan zaman kehinduan, merasa kecil hati melihat runtuhnya Majapahit Hindu, tidaklah kurang dari itu, rasa iba hati bangsa Indonesia yang lebih besar pengaruh Islam pada jiwanya, mengingat sejarah runtuhnya Kerajaan Islam Pasai dan Kerajaan Islam Trenggano, oleh senjata Majapahit.

Marilah kita jadikan saja segala kejadian itu, menjadi kekayaan sejarah kita, dan jangan coba memutar balik keadaan agar kukuh kesatuan bangsa Indonesia, di bawah lambaian Merah Putih.

Membusungkan dada tuan menyebut Gajah Mada, orang di Sriwijaya akan berkata bahwa yang mendirikan Candi Borobudur itu ialah seorang Raja Buda dari Sumatra yang pernah menduduki Pulau Jawa.

Tuan membanggakan Majapahit, orang Melayu akan membuka isi tambo lamanya pula, yang menyatakan bahwa Hang Tuah pernah mengamuk dalam keraton sang Prabu Majapahitbdan tidak ada satria Jawa yang berani menangkapnya.

Memang di zaman Jahiliyah kita bermusuhan, kita berdendam dan kita tidak bersatu. Islam kemudian datang sebagai penanam pertama dari jiwa persatuan.

Kompeni Belanda kembali memakai alat perpecahan untuk menguatkan kekuasaannya.

Tahukan Tuan bahwa tatkala Pangeran Diponegoro, Amirul Mukminin Tanah Jawa telah ditipu dan perangnya dikalahkan.

Belanda membawa Pangeran Sentot Ali Basya ke Minangkabau untuk mengalahkan Paderi?

Tahukan tuan bahwa setelah Sentot merasa dirinya tertipu, sebab yang diperangi adalah kawan yang sepaham dalam Islam, setelah kaum Paderi dan raja-raja Minangkabau memperhatikan ikatan serbannya sama dengan ikatan serban ulama Minangkabau, sudi menerima Sentot sebagai Amin Islam di Minangkabau?.

Teringatkah tuan bahwa lantaran rahasia bocor dan Belanda tau, Sentot pun dia singkirkan ke Bengkulu dan disana beliau berkubur untuk selama-lamanya?.

Dengan memakai paham Islam, dengan sendirinya kebangsaan dan kesatuan Indonesia terjamin.

Tetapi dengan mengemukakan kebangsaan saja, tanpa Islam, orang harus kembali mengeruk, mengorek tambo (sejarah) lama, dan itulah pangkal bala bencana.

*HAMKA Dalam Perbendaharaan Lama.*